Pretend [9th Part]

Pretend

Author  : Ima

Casts     : 

  • Shin Seo Yoon
  • Shin Yun Min
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

 [Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part][5thPart] [6th Part] [7thPart] [8th Part] [9th Part]

Seo Yoon terbangun dengan kepala yang terasa sudah hampir meledak esok paginya. Sangat berat dan pusing. Ia bahkan tidak ingat apa yang dilakukan semalam setelah meneguk beberapa gelas Gin di bar. Ia hanya ingat seseorang menolongnya dari seorang laki-laki hidung belang dan kemudian entahlah. Ia bahkan heran kenapa bisa sampai di dalam kamar di apartemennya. Seingatnya ia tidak membawa ponsel atau alat komunikasi lainnya untuk menghubungi orang lain.

Tatapan Seo Yoon tertuju pada pintu yang terbuka. Jinki tersenyum ramah padanya. Sebuah sambutan hangat di pagi hari bagi Seo Yoon tentu saja. Ia selalu suka senyuman manis Jinki sejak dulu. Selalu bisa membuat perasaannya menghangat.

“Dimana Yun Min ?” tanya Seo Yoon, sesaat setelah Jinki duduk di sisi tempat tidurnya dan menaruh nampan berisi segelas susu serta sepotong toast breaddiatas nakas.

“Kau tidak lihat jam ? Dia sudah berangkat sekolah dan malah sudah mau pulang sebentar lagi,” jawab Jinki seraya mengendikkan kepala kearah jam weker diatas nakas. Seo Yoon terkekeh pelan lalu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Maaf aku tidak bisa datang kemarin. Urusan ini benar-benar penting,” lanjut Jinki. Tangan Seo Yoon yang tengah memegang toast bread dan sebentar lagi memasuki mulut itu pun terhenti di udara. Ia mengangguk pelan menjawab permintaan maaf Jinki.

“Yun Min tidak marah, jadi kenapa aku harus marah ? Gwenchana. Beruntung Baekhyun tiba-tiba datang dan menggantikanmu,” ucapan Seo Yoon membuat Jinki menoleh dengan cepat.

“Baekhyun ?”

Seo Yoon mengangguk dengan mulut yang penuh dengan roti. Wanita itu segera meneguk susu yang sudah disediakan, untuk membantu menelan padatan roti di mulutnya.

“Baekhyun sudah tahu semuanya, Jinki-ya,” ujar Seo Yoon setelah mengusap sudut bibirnya yang kotor dengan tissue.

“Tentang apa ?” tanya Jinki polos dan sukses mendapat tatapan mematikan dari Seo Yoon.

“Kau itu bodoh atau apa. Tentu saja tentang Yun Min. Aku kan sudah pernah mengatakannya dulu,” jawab Seo Yoon gemas, “Dia sudah tahu bahwa Yun Min anak kandungnya. Tapi kemarin aku masih mengelak. Untuk saat ini aku masih belum yakin,”

Waeyo ? Kenapa kau belum percaya padanya ?” tanya Jinki lagi, merasa penasaran dengan jawaban Seo Yoon –yang mungkin menyangkut dirinya juga.

“Yun Min belum menyukai Baekhyun. Itu saja sebenarnya. Kalau anakku tidak suka, aku juga akan berpikir dua kali untuk menyatukan keduanya,” jawab Seo Yoon, membuat wajah Jinki memanas seketika. Well, secara tidak langsung Seo Yoon memujinya bukan ?

“Ah iya. Aku akan pergi sampai malam hari ini,” ujar Jinki –mencoba mengalihkan pembicaraan. Seo Yoon yang tengah meneguk sisa susu didalam gelas pun mengangguk.

“Kau bisa menjemput Yun Min ‘kan ? Aku harus berangkat sekarang,” lanjut Jinki seraya bangkit dari sisi tempat tidur Seo Yoon. Namun kemudian tangan Seo Yoon mencegah pergelangan tangannya.

“Kita pergi bersama,” Seo Yoon menyunggingkan seulas senyum sebelum melangkah meninggalkan tempat tidur menuju kamar mandi. Jinki mengusap dadanya –yang mulai menghentak keras. Senyuman Seo Yoon –terlihat sangat manis tadi.

***

Pintu ruang rawat itu ditutup dengan sangat hati-hati oleh Jinki. Seketika langkahnya terhenti saat melihat Ri An tengah tertidur di sofa. Mendampingi kedua orangtuanya yang masih terbaring lemah diatas tempat tidur. Jinki melebarkan senyum, setidaknya Ri An sudah sedikit berubah setelah 5 tahun tidak bertemu. Wanita itu menjadi sedikit lebih peduli pada orangtuanya.

Jinki berbalik saat mendengar pintu ruang rawat itu kembali terbuka. Ia segera membungkuk dalam pada nenek –angkatnya lalu tersenyum lebar. Mencoba memberi kesan –bahwa ia memang selalu ramah.

“Kedua orangtuamu belum sadar ?” tanya wanita itu, dijawab sebuah anggukan oleh Jinki, “Sepertinya akan lama kalau harus menunggu mereka sadar. Aku akan mengatakannya sekarang. Tolong bangunkan Ri An,”

Jinki mengangguk patuh kemudian dengan setengah berlari menghampiri Ri An yang masih tertidur di sofa. Ia mengguncang tubuh gadis itu dengan perlahan. Tidak butuh waktu lama hingga Ri An membuka kedua matanya, menggeliat pelan sebelum merubah posisi tidurnya menjadi duduk diatas sofa. Nenek Lee beranjak duduk di sebelah Ri An, sedangkan Jinki mengambil kursi lain dan duduk tepat dihadapan keduanya.

“Aku tidak akan berbasa-basi, karena setelah ini aku harus pergi,” nenek Lee merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengeluarkan dua buah amplop cokelat lalu menyerahkannya pada Jinki dan Ri An.

“Ini apa, nek ?” tanya Ri An –yang masih belum sepenuhnya sadar dari alam mimpinya itu. Jinki tidak bertanya dan lebih memilih membuka amplop itu. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas di dalamnya lalu membacanya dengan seksama.

“Aku akan mewariskan semua yang kupunya pada kalian berdua. Termasuk beberapa cabang mall yang sudah dibuka,”

“MWO ?!”

“NE ?!”

Jinki dan Ri An bertanya bersamaan. Keduanya saling melirik satu sama lain dan kemudian Ri An malah menyeringai pelan. Wanita itu melempar kertas-kertas –berisi penjelasan tentang mall keluarganya lalu melipat tangan di depan dada.

“Aku belum mau mengurus perusahaan, nenek. Aku masih mau bersenang-senang, dan mencari calon suami,” kilah Ri An.

“Nenek. Tapi aku –,” ucapan Jinki terpotong saat nenek Lee mengacungkan tangan kanannya.

“Aku tidak peduli kau baru saja datang setelah 5 tahun pergi dari rumahku. Kau tetap cucu keluarga Lee dan pantas mendapat hak yang sama. Dan ingat, mulai besok kau harus tinggal di rumahku,” nenek Lee melemparkan pandangannya pada Ri An yang masih saja terlihat tidak peduli, “Kau tidak bisa mengelak, Ri An. Kalau memang kau mau mencari calon suami, aku bisa mencarikannya untukmu,”

“Nenek ! Aku tidak mau dijodohkan !” pekik Ri An, merasa kesal karena pikiran kuno nenek Lee.

“Aku percaya kau bisa melakukannya, Jinki,” nenek Lee menghiraukan teriakan Ri An, ia menepuk pundak cucu laki-lakinya sekilas kemudian berdiri dari sofa. Meninggalkan Jinki dan Ri An keluar ruang rawat itu.

Jinki menatap kertas yang berada di genggamannya dengan nanar. Jika boleh jujur, ia sangat ingin meneruskan perusahaan keluarga angkatnya sejak kecil. Menjadi yang tertinggi dan membuat bangga keluarga Lee. Namun entah kenapa ia malah tidak ingin semua impiannya itu terjadi. Ia tidak mau meninggalkan Seo Yoon dan Yun Min. Ia belum mau keluar dari apartemen yang sangat dicintainya itu. Ia masih sangat ingin menikmati perannya sebagai seorang ayah.

“Mau makan siang bersama ?” tanya Ri An –menarik kembali Jinki ke dunia nyata. Jinki memasukkan kertas-kertas itu kembali ke dalam amplop kemudian mengangguk pelan. Menyetujui ajakan Ri An untuk makan siang bersama.

***

Entah sudah perusahaan keberapa yang Seo Yoon kunjungi hari itu untuk mencari kesempatan kerja. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam 2 siang dan Yun Min sudah hampir pulang. Ia beranjak dari kursi taman yang didudukinya kemudian melangkah menuju halte bis terdekat. Sungguh. Ia merasa lelah karena harus mengunjungi setiap perusahaan hanya untuk melamar pekerjaan.

Lamunan Seo Yoon kembali ditarik, saat mendengar suara klakson mobil yang cukup keras di telinganya. Ia mengangkat kepalanya lalu sedikit membungkuk untuk melihat seseorang dibalik kemudi itu. Sesaat kemudian Seo Yoon mendengus pelan. Ia segera berdiri dari kursi halte dan berjalan menjauhi mobil itu. Disaat mau menghindar, ia malah selalu bertemu laki-laki itu.

“Seo Yoon-ah, tunggu sebentar,”

Langkah Seo Yoon terhenti saat lengan Baekhyun menahannya. Dengan enggan, Seo Yoon berbalik menghadap laki-laki itu. Namun ia tetap berusaha untuk tidak membuat kontak mata dengan laki-laki di depannya.

“Ayo naik mobilku saja. Kau mau menjemput Yun Min ‘kan ?” tanyanya seraya tersenyum simpul. Seo Yoon menggeleng pelan.

“Aku bisa naik bis,” elak Seo Yoon, masih sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Baekhyun di pergelangan tangannya.

“Maaf soal kemarin,” Baekhyun melepaskan cengkeramannya lalu menghela napas panjang, “Aku ingin tahu lebih banyak tentang anak kita, Seo Yoon-ah,”

Seo Yoon mendecak pelan, “Anak kita ? Demi apapun yang ada di dunia ini, Byun Baekhyun. Shin Yun Min hanya anakku. Bukan anakmu atau anak kita,”

“Kita bahas ini di mobilku,” Baekhyun segera meraih pergelangan tangan Seo Yoon  –lagi dan membawa wanita itu memasuki mobilnya. Walaupun Seo Yoon meronta, tenaga Baekhyun masih jauh mendominasi tentu saja.

Baekhyun melajukan mobilnya di jalanan dengan kecepatan sedang. Ia kembali melirik pada Seo Yoon yang masih diam –tanpa mau membuka mulut sama sekali. Helaan napas keluar dari bibir laki-laki itu. Apalagi yang harus dilakukan agar Seo Yoon bisa memaafkannya ?

“Terserah kalau memang kau mau mengakui Yun Min hanya sebagai anakmu saja. Tapi hubungan darah tidak bisa disangkal, Seo Yoon. Dia tetap anak kandungku,” ujar Baekhyun akhirnya. Seo Yoon kembali mendengus.

“Apa kau peduli pada Yun Min –kalau kau memang menganggapnya sebagai anak kandungmu selama 5 tahun ini ?” tanya Seo Yoon sarkastik.

“Aku peduli kalau aku tahu tentang hal ini, Shin Seo Yoon. Aku sangat menyayangi kalian berdua,” jawab Baekhyun seraya mengusap puncak kepala Seo Yoon dengan lembut. Seo Yoon segera menepis tangan itu.

“Berhenti memberikan harapan kosong padaku, Baekhyun-ah,” Seo Yoon merapikan kembali rambutnya –yang sedikit berantakan. Ia lebih memilih memalingkan wajah keluar jendela.

“Ini bukan hanya harapan kosong. Aku serius ingin membangun semuanya seperti dulu lagi, Seo Yoon-ah,”

Seo Yoon memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Ia tidak mau kembali terjerumus kedalam kehidupan Baekhyun. Ia belum siap jika nanti harus mendapat berbagai macam makian dari tuan dan nyonya Byun. Bukankah nyonya Byun yang memisahkannya dengan Baekhyun dulu ? Jadi kenapa ia harus kembali pada Baekhyun, jika pada akhirnya dipisahkan lagi ?

Eomonim. Apa dia sudah mau menerimaku ? Itu masalah terbesarnya, Byun Baekhyun. Kita tidak akan pernah bisa bersama lagi, kalau eomonim masih membenciku,” ujar Seo Yoon seraya meremas jari-jari tangannya.

“Aku akan berusaha. Aku pasti akan berusaha untuk membuat eomma merestui kita, Shin Seo Yoon. Pegang janjiku,” balas Baekhyun –dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa membuncah bahagia di dadanya saat itu. Secara tidak langsung, Seo Yoon telah menerimanya kembali bukan ?

***

Seo Yoon segera menarik Yun Min ke dalam pelukannya. Ia mengacak rambut anak itu lalu kembali berdiri, menuntun Yun Min keluar dari area taman kanak-kanak menuju mobil Baekhyun yang terparkir di halaman depan. Tepat ketika Yun Min dan Seo Yoon melangkah keluar gerbang, Baekhyun menyambutnya. Laki-laki itu berjongkok lalu mengacak rambut Yun Min –seperti apa yang dilakukan Seo Yoon tadi.

Yun Min mengangkat kepalanya, menatap Seo Yoon heran. Tidak biasanya ia dijemput oleh laki-laki manapun selain Jinki. Padahal Yun Min sedang sangat ingin bertemu Jinki –setelah kemarin tidak jadi berjalan-jalan di kebun binatang bersama laki-laki itu.

“Kau harus memanggilku appa mulai sekarang, arachi ?” titah Baekhyun, membuat Yun Min semakin tidak mengerti. Anak laki-laki itu kembali menatap Seo Yoon dengan tatapan heran. Kenapa tiba-tiba ahjussi yang dikenalnya kembali mengaku menjadi ayahnya.

“Terserah kau mau memanggilnya apa, Yun Min-ah,” pasrah Seo Yoon –menanggapi sifat Baekhyun yang tetap keras kepala.

“Bagaimana kalau kita makan siang bersama ? Walaupun sudah sedikit telat dari jamnya. Otte ?” tawar Baekhyun dan Seo Yoon baru saja akan menjawab tidak ketika laki-laki itu sudah mengangkat Yun Min ke dalam gendongannya dan membawa anak itu kedalam mobil. Lagi-lagi Baekhyun bertindak seenaknya.

Seo Yoon baru saja melangkah memasuki restoran ketika matanya menangkap seseorang yang tidak asing lagi. Ia menyipitkan mata, mencoba memperjelas pandangannya untuk memastikan wajah laki-laki itu. Seo Yoon tersenyum lebar lalu bersiap melambaikan tangan ketika melihat pemandangan –yang entah kenapa membuat wajahnya memanas seketika.

“Dasar Jinki bodoh. Kenapa dia bisa ada disini,” gerutu Seo Yoon seraya menarik tempat duduk di dekat Yun Min. Sesekali ia kembali melirik Jinki bersama seorang wanita –yang Seo Yoon bahkan lupa namanya. Seingatnya, wanita itu juga yang bertemu Jinki sebelum mereka pergi ke kebun binatang kemarin.

“Shin Seo Yoon. Kau dengar aku ?” tanya Baekhyun, membuyarkan lamunan Seo Yoon.

“Ne ?”

“Kau mau pesan apa ?” ulang Baekhyun. Karena melihat Jinki, Seo Yoon bahkan tidak berselera untuk makan.

“Teh ginseng saja. Aku tidak ingin makan,” tepat setelah mengatakan itu, Seo Yoon kembali melirik Jinki. Kedua pipinya menggembung kesal. Jinki beralasan sibuk, padahal sebenarnya berduaan dengan wanita itu.

Tatapan Seo Yoon kini beralih pada kedua orang yang duduk di dekatnya. Ia memperhatikan bagaimana Baekhyun selalu mencoba menarik perhatian Yun Min. Ketika melihat keduanya, Seo Yoon merasa bahwa ia memang harus benar-benar menerima tawaran Baekhyun untuk mengulang kembali pernikahannya. Ia ingin memberikan Yun Min kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok ayah kandungnya. Bukan mengenal sosok ayah palsu –yang tengah dilakoni Jinki saat ini. Karena ia tahu, cepat atau lambat Yun Min pasti akan mengetahui kebohongan besar yang dibuatnya.

***

Baekhyun beranjak dari meja kerjanya lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Ia merasa sesak karena seharian hanya bekerja dan duduk di kursi saja. Tangan Baekhyun yang sebentar lagi memutar kenop pintu tiba-tiba terhenti. Ia mendengar suara yang amat sangat dikenalinya tengah berada di ruang tengah apartemennya bersama Hana. Dan tubuhnya tiba-tiba menegang saat panggilan ‘eomma’ meluncur dari bibir adik kandungnya.

“Apa Baekhyun bertemu wanita itu lagi disini ?” tanya nyonya Byun –yang bisa didengar Baekhyun sejauh ini.

“Kurasa tidak. Baekhyun oppa lebih sering menghabiskan waktu di kantor, atau di apartemen saja,” jawab Hana dan Baekhyun bisa menghela napas lega saat itu juga. Ia sangat mencintai Hana tentu saja.

“Jadi.. Kalian bekerjasama untuk berbohong padaku ? Katakan yang sejujurnya, Byun Hana,” pekikan nyonya Byun sontak membuat Baekhyun terkesiap kaget. Ia segera membuka pintu ruang kerjanya dan menghampiri ibu serta adiknya yang tengah duduk di sofa.

Well, kau keluar juga akhirnya,” nyonya Byun menyeringai pelan, wanita berumur akhir 40 tahunan itu segera beranjak dari sofa dan menghampiri anak laki-lakinya, “Kenapa kau masih berani membantahku ?” tanyanya dingin seraya melempar beberapa foto pada Baekhyun.

Baekhyun segera memunguti foto-foto itu dan mengamatinya dengan seksama. Foto dirinya bersama Seo Yoon dan Yun Min ketika berkunjung ke kebun binatang kemarin. Ia mengangkat kepalanya untuk menatap nyonya Byun, namun kemudian sebuah tamparan sudah lebih dulu mendarat di pipi kirinya.

“Aku kecewa, Baekhyun-ie. Kau tidak menepati janjimu untuk tidak berhubungan dengan wanita itu lagi,” ujar nyonya Byun seraya mengusap dadanya, mencoba memberi ketenangan.

Eomma juga tidak menepati janji. Eomma bilang aku bisa bebas setelah mampu memimpin perusahaan dengan baik. Tapi kenapa sekarang eomma masih melarangku untuk berhubungan dengan Seo Yoon lagi ?”

PLAK

“Jangan pernah menyebut nama wanita itu lagi didepanku. Aku membencinya,” nyonya Byun kembali mengusap dadanya yang tiba-tiba terasa sedikit sesak.

Eomma membencinya ? Apa karena alasan benci juga, eomma tidak memberitahuku Seo Yoon sedang hamil ketika kami bercerai dulu ?” pertanyaan Baekhyun, membuat tubuh nyonya Byun menegang seketika. Ia menoleh dengan cepat dan menatap Baekhyun heran.

“Kau … Bagaimana .. ?”

Baekhyun menyeringai pelan saat menyadari nyonya Byun tidak bisa mengelak, “Biarkan aku bertanggung jawab pada mereka sekarang, eomma. Aku masih mencintai Seo Yoon,”

“Kau tidak akan bisa kembali bersama wanita itu selama aku masih hidup, Byun Baekhyun. Kau tidak akan pernah bisa,” nyonya Byun mengambil tas miliknya lalu melangkah pergi meninggalkan kedua anaknya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Baekhyun jatuh berlutut dan menatap kepergian ibunya itu dengan pasrah. Semuanya terasa menyakitkan. Ia tidak pernah menuntut apapun pada nyonya Byun selama ini. Ia hanya ingin kembali bersama Seo Yoon dan Yun Min. Membentuk kembali keluarga –yang sempat terpecah karena keegoisan dirinya. Ia hanya menginginkan itu saja.

Oppa,” Hana menggumam pelan lalu mengusap air mata yang mengaliri pipinya. Ia beranjak dari sofa, melangkah mendekat lalu memeluk Baekhyun dengan lembut. Ia kembali menangis ketika merasakan baju yang dipakainya saat itu menjadi basah karena air mata kakaknya. Ia bisa merasakan sakit yang sama. Ya. Ia bisa merasakan bagaimana pedihnya tidak bisa bersama seseorang yang dicintai.

***

Malam sudah sangat larut ketika Jinki baru saja memasuki apartemen Seo Yoon. Laki-laki itu melepas sepatu kets miliknya sebelum menggantinya dengan sandal rumah. Beberapa lampu ruang tengah sudah dimatikan dan hanya tersisa lampu kecil di dekat TV. Jinki beranjak ke dapur, mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas dan menghabiskannya dalam beberapa kali tegukan saja. Ia merasa lelah karena seharian itu harus melihat rumah nenek Lee dan juga melihat beberapa mall keluarga angkatnya yang berada di Seoul. Dan sebelum pulang, ia menyempatkan diri untuk menjenguk kedua orangtua angkatnya di rumah sakit.

Jinki baru saja berbalik, ketika ia tersentak kaget karena kehadiran Seo Yoon yang tiba-tiba. Kepalanya sukses terbentur lemari cabinet karena berusaha menghindar. Jinki meringis pelan lalu mengusap bagian belakang kepalanya yang terasa cukup ngilu.

“Oh, gwenchana ?” tanya Seo Yoon panik seraya melangkah maju dan mengusap bagian belakang kepala Jinki dengan tangan kanannya.

Jinki menahan napasnya. Jantungnya yang berdetak cepat –karena kaget, kini semakin bertambah cepat karena jarak tubuhnya dan tubuh Seo Yoon yang terlalu dekat. Sentuhan Seo Yoon membuat seluruh aliran darah seolah berhenti di wajahnya. Terasa sangat panas, dan Jinki yakin wajahnya sudah semerah tomat sekarang. Kenapa wajah Seo Yoon, berada tepat di depan wajahnya ?

“Darimana saja ?” tanya Seo Yoon dingin, setelah menurunkan tangannya dari kepala Jinki lalu mundur selangkah untuk membuat jarak diantara mereka.

“Ada hal penting yang harus kuselesaikan,” jawab Jinki santai kemudian berjalan meninggalkan dapur, menyalakan lampu ruang tengah lalu menghempaskan tubuhnya diatas sofa.

“Termasuk makan siang romantis dengan wanita itu ?” nada bicara Seo Yoon yang menyindir, membuat Jinki kembali duduk diatas sofa. Seo Yoon tengah berjalan ke arahnya sembari melipat kedua tangan di depan dada. Jinki tertawa pelan saat melihat tatapan tajam dari wanita itu.

“Kau cemburu, Seo Yoon,” tebaknya dan berhasil membuat langkah Seo Yoon terhenti.

“Ish, kau percaya diri sekali, tuan Lee,” kilah Seo Yoon.

“Lalu apa ? Wajahmu memerah, nona Shin,” goda Jinki, membuat Seo Yoon kembali salah tingkah.

“Terserah ! Aku mau tidur !” pekik Seo Yoon lalu berjalan cepat meninggalkan Jinki, memasuki kamarnya. Jinki terbahak. Ia belum pernah melihat Seo Yoon marah –dengan wajah memerah karena malu seperti itu.

Jinki bangkit dari sofa lalu mendekati pintu kamar Seo Yoon. Ia lupa memberitahu tentang kepindahan mendadaknya besok. Setelah menghela napas panjang, tangan Jinki beralih mengetuk pintu kamar bercat putih itu. Tidak terdengar jawaban apapun dari dalam.

“Ya~, kau yakin akan marah  ?” tanya Jinki meyakinkan. Ia kembali menghela napas, “Aku akan pindah dari apartemenmu besok, Seo Yoon-ah,”

Tak lama kemudian, pintu di hadapannya itu terbuka. Seo Yoon membulatkan kedua matanya, menatap Jinki penuh tanda tanya, “Jangan bercanda, Lee Jinki,” serunya.

“Aku harus pindah besok,”

Waeyo ? Kenapa mendadak ? Aku janji tidak akan marah lagi,” potong Seo Yoon seraya mencengkeram pinggang Jinki dengan kedua tangannya. Jinki tersenyum samar kemudian menggeleng pelan.

“Ini masalahku, Seo Yoon. Aku harus kembali ke rumah mulai besok,” Jinki semakin melebarkan senyumnya saat melihat ekspresi wajah Seo Yoon yang berubah menjadi sedih.

“Bagaimana dengan Yun Min ?” tanya Seo Yoon seraya menundukkan kepalanya. Jinki mengacak rambut wanita itu.

“Cepat atau lambat dia akan tahu tentang ayah palsunya. Kau tega membohonginya terus, Seo Yoon-ah ? Baekhyun pasti jauh lebih baik dariku –,” Jinki  menghentikan ucapannya saat terdengar suara isak tangis yang berasal dari Seo Yoon.

Jinki terkekeh pelan dan kemudian menarik Seo Yoon masuk ke dalam pelukan hangatnya. Ia mengusap puncak kepala, hingga punggung wanita itu. Namun apa yang dilakukannya itu malah membuat isak tangis Seo Yoon semakin menjadi-jadi. Well, Jinki tidak mengerti kenapa Seo Yoon bisa menangis sekencang itu hanya karena kepergiannya.

“Aku akan sering berkunjung, Shin Seo Yoon. Geuman,” Jinki masih terus mengusap punggung Seo Yoon dengan lembut. Kenapa rasanya sangat menyedihkan ketika berpisah dengan Seo Yoon?

Seo Yoon bahkan tidak mengerti kenapa ia bisa menangis –hanya karena Jinki harus keluar dari apartemennya. Kenyataannya, Jinki masih bisa mengunjungi apartemennya bukan ? Tapi sungguh. Seo Yoon merasa akan kehilangan teman terbaiknya. Teman yang selalu bisa menenangkan dengan cara memeluk seperti saat itu. Atau entahlah. Seo Yoon semakin bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tidak pernah sesedih itu –bahkan ketika Minho meninggalkannya.

***

Jinki sudah tidak ada di apartemen, ketika Seo Yoon terbangun esok paginya. Sesuai perjanjiannya dengan laki-laki itu semalam. Jinki akan pergi sebelum ia atau Yun Min terjaga, agar tidak ada adegan perpisahan yang dipenuhi isak tangis seperti di dalam drama. Seo Yoon saja menangis semalam, apalagi Yun Min –yang notabene selalu bersama Jinki setiap saatnya.

Suara isak tangis Yun Min, membuat Seo Yoon menghentikan kegiatan memasak sarapannya. Ia mematikan kompor, membawa panci berisi sup kacang merah itu ke atas meja kemudian segera berlari menghampiri kamar Yun Min. Ia duduk di sisi tempat tidur lalu menggendong anak laki-laki itu keluar kamar.

Appa dimana ?” tanya Yun Min, setelah duduk di salah satu kursi meja makan dan memperhatikan kursi di sebelahnya –yang selalu diisi Jinki.

“Berhenti memanggilnya appa, Yun Min. Dia bukan ayahmu,” jawab Seo Yoon seraya menuangkan sup kacang merah kedalam mangkuk sarapan Yun Min.

“Kenapa tiba-tiba aku tidak boleh memanggil appa ?” tanya Yun Min polos. Seo Yoon menaruh sumpitnya keatas meja lalu menatap anak itu.

“Karena dia bukan ayahmu, Shin Yun Min. Jangan terus berfantasi Jinki adalah ayahmu, arachi ?” jelas Seo Yoon kemudian kembali menyantap sarapannya. Tanpa memedulikan tatapan heran dari Yun Min yang terus terarah padanya.

“Jinki appa dimana ?” tanya Yun Min lagi. Seo Yoon menghela napas panjang. Mungkin Yun Min masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan tidak menambahkan embel-embel appa.

“Jinki harus pulang ke rumahnya, Yun Min-ah. Dia tidak akan tinggal disini lagi bersama kita,” sesaat setelah menyelesaikan ucapannya, Seo Yoon sadar bahwa Yun Min tidak menyentuh makannya sama sekali. Anak itu hanya menatap piring sarapannya dengan tatapan kosong.

Eomma, aku janji akan selalu membereskan mainan. Apa aku nakal selama ini ? Kenapa appa pergi lagi ?” Yun Min mulai terisak pelan dan Seo Yoon sudah tahu hal itu pasti akan terjadi.

“Jinki bukan ayahmu, Yun Min. Dia tidak seharusnya tinggal disini,” jelas Seo Yoon. Namun sepertinya, ia mengatakan hal yang sia-sia. Karena tangisan Yun Min malah semakin keras. Ia beranjak dari kursi kemudian kembali duduk tepat di sebelah Yun Min –dimana biasanya Jinki yang selalu duduk disana. Ia beringsut menggendong anak laki-lakinya.

“Jangan menangis. Jinki akan sering mengunjungi kita, tenang saja,” ujar Seo Yoon mencoba menghibur. Tangisan Yun Min sedikit mereda.

Seo Yoon kembali mendudukkan Yun Min di kursinya. Ia baru saja akan kembali duduk juga, ketika mendengar suara bel yang cukup memekakkan telinga karena ditekan dengan cukup lama. Ia bergegas menuju pintu dan sedikit berharap –bahwa Jinki yang ada dibalik pintu. Namun semua harapannya menghilang begitu saja, ketika membuka pintu dan disambut dengan sebuah tubuh yang tiba-tiba terjatuh kedalam pelukannya.

“Baekhyun ? Kenapa kau –oh, astaga. Kau mabuk berat,” gumam Seo Yoon seraya membetulkan posisi berdirinya yang hampir terjatuh. Seo Yoon melingkarkan lengan kanan Baekhyun ke lehernya, lalu mulai melangkah memasuki apartemen. Ia menghiraukan tatapan heran Yun Min dan lebih memilih untuk menidurkan Baekhyun di kamar –yang semalam masih ditempati Jinki.

Seo Yoon menghempaskan tubuh Baekhyun ke atas tempat tidur. Ia bergegas melepaskan jas dan sepatu milik laki-laki itu kemudian segera menyelimutinya. Tatapan Seo Yoon beralih pada luka di sudut bibir Baekhyun. Sekelebat pikiran bahwa laki-laki itu habis saja berkelahi sempat terpikir oleh Seo Yoon. Namun ia kembali menepis pikiran itu. Baekhyun bukan tipe seseorang yang suka berkelahi.

Eomma. Apa ahjussi ini, ayahku ?” tanya Yun Min, sontak membuat Seo Yoon berbalik ke arah pintu. Ia melihat Yun Min hanya menyembulkan sebagian tubuhnya dan menatapnya –dengan kedua mata yang masih berkaca-kaca. Mungkin memang tidak ada gunanya lagi ia menyembunyikan kenyataan tentang kehidupan anak laki-lakinya.

Ne, dia ayahmu, Shin Yun Min,” ucap Seo Yoon dengan nada sepelan mungkin.

Raut wajah Yun Min berubah seketika. Anak laki-laki itu menggeleng pelan lalu berlari meninggalkan Seo Yoon begitu saja. Sedetik kemudian, Seo Yoon bisa mendengar suara bantingan pintu yang cukup keras –untuk tenaga seorang anak yang masih berusia 4 tahun. Ia mengerti bagaimana perasaan Yun Min sekarang. Perasaan yang sudah dipermainkan –oleh ibu kandungnya sendiri. Seo Yoon tahu bahwa ia sudah membuat sebuah kesalahan besar dengan menyuruh Jinki menjadi ayah pura-pura Yun Min. Karena ia sendiri sekarang, terjebak dalam situasi yang cukup sulit karena dibenci oleh anak kandungnya.

***

Café yang berada di pusat kota Tokyo itu terlihat hanya dipenuhi beberapa tamu saja. Di pojok café terlihat seorang wanita paruh baya tengah menyesap kopi hangatnya dalam diam. Sesekali pandangannya tertuju pada jalanan diluar sana. Hatinya sangat gelisah. Ia merasa sangat bersalah karena telah menelantarkan anak perempuan semata wayangnya dulu. Ketika anaknya itu tengah merasakan sakit –karena ditinggal laki-laki yang dicintainya, sementara ia sendiri malah bersenang-senang dengan laki-laki –yang kini sudah berstatus sebagai suaminya.

Wanita itu mengakui bahwa dirinya masih banyak kekurangan sebagai seorang ibu. Ia tidak lebih dari seorang pengecut yang meninggalkan anak perempuannya –demi bersenang-senang dengan harta. Hingga sekarang, anaknya sendiri bahkan berani membakangnya.

“Oh, nyonya Shin ?” suara seorang laki-laki, membuat wanita itu mengangkat kepala dan menoleh ke sumber suara. Nyonya Shin berdiri kemudian membungkuk pada pria paruh baya –yang umurnya tidak terlalu jauh dengannya itu.

“Kau tinggal di Jepang sekarang ? Kebetulan sekali kita bertemu disini,” tanya pria itu lagi seraya duduk di meja yang sama dengan nyonya Shin. Nyonya Shin kembali duduk di kursinya kemudian mengangguk pelan.

“Apa kabar, Yun Jae-ssi ?” tanya nyonya Shin berbasa-basi. Laki-laki bernama Yun Jae itu tersenyum simpul menjawab pertanyaan wanita itu.

“Baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Chaeyeon-ssi ?” tanya Yun Jae dan lagi-lagi hanya dibalas sebuah senyuman tipis oleh nyonya Shin.

“Baik,” jawabnya singkat. Chaeyeon kembali menyesap kopinya. Sungguh. Ia merasa tidak enak dengan keadaan seperti itu. Dimana hanya berdua bersama pria itu saja.

“Rasanya sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini. Kira-kira 5 tahun yang lalu, terakhir kali kita bertemu bukan ? Di sidang perceraian anak-anak kita,” ucapan Yun Jae membuat tubuh Chaeyeon menegang seketika. Ia merutuk dalam hati ketika pria di depannya kembali mengingatkannya pada kejadian mengerikan itu.

“Bagaimana kabar Baekhyun sekarang ? Sepertinya dia semakin tampan,” dan Chaeyeon kembali berbasa-basi dengan pria itu. Mencoba mengalihkan pembicaraan mengenai ‘kejadian 5 tahun lalu’ yang sangat ingin dilupakannya.

Yun Jae tersenyum tipis saat menyadari bahwa Chaeyeon tengah berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia sangat tahu bagaimana sifat wanita itu ketika sedang terdesak seperti sekarang, “Baekhyun hidup dengan sangat baik. Tentu saja dia semakin tampan, Chaeyeon-ssi,”

Wanita bernama lengkap Ahn Chaeyeon itu hanya mengangguk pelan lalu kembali menatap bagian dalam gelas kopinya yang sudah habis setengah, sebelum suara pria itu kembali mengalihkan perhatiannya.

“Dan kurasa Shin Seo Yoon semakin bertambah cantik bukan ? Dia pasti sangat mirip dengan ibunya,” ujar Yun Jae, membuat Chaeyeon sedikit tersedak mendengarnya. Walaupun sudah 5 tahun berlalu, pria itu masih saja senang merayunya. Dan demi apapun yang ada di dunia ini, Chaeyeon sangat membenci momen-momen seperti itu.

“Kudengar kau sudah menikah lagi dengan seorang pengusaha bernama Lee Donghae. Selamat atas pernikahanmu, Ahn Chaeyeon-ssi. Aku turut senang mendengarnya,”

Chaeyeon meremas jari-jari tangannya. Rasanya ia ingin berdiri dan memberi pelajaran pada pria itu. 5 tahun yang lalu ketika ia diperlakukan dengan seenaknya, ia tidak pernah memberontak atau melawan. Ia hanya pasrah saja, mendengar semua hinaan dari nyonya Byun yang menyebut dirinya seorang wanita murahan. Ketika pria di depannya selalu berusaha menggodanya dengan berbagai cara, sementara ia menjadi korban dan malah dituduh sebaliknya. Ia malah dituduh telah menggoda pria itu dan membuat nyonya Byun berpikiran, bahwa suaminya selingkuh karena godaan dirinya. Sangat miris saat mengingat, hal itu yang menjadi alasan utama Seo Yoon dipisahkan dari Baekhyun.

“Sepertinya aku harus pulang sekarang,” Chaeyeon lebih memilih untuk menghindar, daripada harus berlama-lama dengan pria itu tentu saja. Sebelum masalah 5 tahun yang lalu, kembali menimpa dirinya.

“Aku bahkan belum duduk selama 10 menit disini,” sergah Yun Jae, melihat Chaeyeon sudah berdiri dari duduknya.

“Aku harus menemani Donghae ke acara kantornya nanti malam. Jadi aku harus pulang sekarang, maaf harus meninggalkanmu sendirian, Yun Jae-ssi. Aku pamit,” Chaeyeon membungkuk singkat kemudian bergegas keluar dari café itu sebelum semakin terperangkap didalam situasi yang sulit. Ia tidak mau dituduh telah menggoda suami orang lagi –padahal kenyataannya ia bahkan sangat membenci pria itu.

Dan tanpa disadari, kepergian Chaeyeon itu dipandangi sepasang mata dibalik kaca mobil yang terparkir tepat di seberang café. Kedua tangannya mengepal erat stir mobil. Ia tahu semuanya belum berakhir saat 5 tahun yang lalu. Perang baru saja dimulai lagi, pikirnya. Sangat kebetulan ketika Baekhyun baru saja bertemu kembali dengan Seo Yoon. Ia tidak akan pernah menyetujui anaknya untuk kembali menikahi Seo Yoon. Apapun yang terjadi.

[Pretend Continued]

One thought on “Pretend [9th Part]

  1. ya ampun ternyata hubungan keluarga shin sama keluarga byun puyeng bgt=.= minho kapan muncul? yah jinki pergi:( skrg aku setuju bgt deh kalo seoyoon sama jinki, aku ga rela bacanya waktu bagian baekhyun-yunmin moment=.=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s