Pretend [8th Part]

Author  : Ima

Casts     : 

  • Shin Seo Yoon
  • Shin Yun Min
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

[Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part][5thPart] [6th Part] [7thPart] [8th Part]

Baekhyun mendorong pintu apartemennya –dengan sekali hentakan. Ia bergegas masuk dan menemukan Hana tengah duduk di sofa ruang tengah dengan pandangan kosong. Ia menaruh tas kerjanya diatas meja lalu duduk di dekat gadis itu. Hana menoleh ketika merasakan sofa yang tengah di dudukinya berguncang. Dan entah kenapa rasanya, Hana masih tidak percaya dengan informasi yang baru saja di dapatnya tadi.

Eomma menyembunyikan hal ini darimu, oppa,” ujar Hana. Baekhyun mengerutkan keningnya tidak mengerti.

“Hal apa ?”

Hana menghela napas panjang. Ia mengambil amplop cokelat yang berada diatas meja, mengeluarkan beberapa lembar kertas di dalamnya lalu menyerahkannya pada Baekhyun.

“Ahn ahjussi,” ucapan Hana yang menyebutkan nama –supir pribadi keluarga mereka selama puluhan tahun itu sontak membuat Baekhyun mengangkat kepalanya sejenak namun kemudian kembali membaca kertas yang berada di tangannya, “Dia menemukan amplop cokelat ini dikamar eomma,”

“I-ini hasil tes kehamilan ?” tanya Baekhyun heran. Hana mengangguk lemah.

“Milik Seo Yoon eonni,” jawab Hana lemah. Baekhyun kembali mengangkat kepalanya lalu menatap gadis itu.

“Apa maksudnya, Hana-ya ?”

“Seo Yoon eonni sedang hamil, saat kalian bercerai dulu, oppa,”

Jantung laki-laki itu berhenti berdetak beberapa saat. Kedua matanya membulat dan kertas yang berada di genggamannya terjatuh begitu saja. Seluruh dugaannya benar. Anak laki-laki itu ternyata anak kandungnya. Dan tanpa bisa dicegah, senyuman lebar sudah menghiasi bibirnya saat itu. Ia merasa sangat senang. Entah bagaimana mengungkapkan perasaannya –ketika mengetahui ternyata pernikahannya dan Seo Yoon membuahkan hasil. Namun kemudian senyumannya kembali memudar. Kenapa ia tidak diberitahu hal ini oleh ibunya dulu ? Kenapa ibunya masih saja tega memisahkannya dengan Seo Yoon –yangnotabene tengah mengandung anaknya ?

***

Pagi harinya –sebelum Yun Min terjaga, Jinki dan Seo Yoon sudah selesai menghias seluruh bagian apartemen dan juga menyiapkan makanan. Kue ulang tahun berhiaskan pororo itu pun menjadi yang paling bersinar diantara berbagai macam makanan itu. Seo Yoon mulai menyalakan lilin diatas kue ulang tahun itu. Baru saja tangannya terulur untuk mengangkat kue itu, namun tangan Jinki sudah lebih dulu mencegahnya. Laki-laki itu sedikit menggeser tubuh Seo Yoon lalu mengangkat kue berdiameter 20 cm itu di tangannya.

Seo Yoon tersenyum lebar lalu memakaikan topi kerucut –untuk perayaan ulang tahun pada kepala Jinki. Dan kemudian ia mendorong Jinki untuk segera melangkah menuju kamar anak laki-lakinya. Keduanya melangkah dengan hati-hati menuju kamar Yun Min. Mencoba untuk tidak membuat suara sedikit pun. Seo Yoon perlahan membuka pintu kamar Yun Min, mengintip sejenak sebelum akhirnya melangkah ke dalam kamar itu bersama Jinki.

Dan ketika hanya tinggal beberapa langkah lagi, Yun Min tiba-tiba berbalik dan duduk diatas tempat tidurnya. Jinki dan Seo Yoon terkesiap, namun kemudian segera menyanyikan lagu ulang tahun. Yun Min menggosok kedua matanya lalu menatap Jinki dan Seo Yoon heran.

“Saranghaneun uri Yun Min, saengil chukhahamnida,” Jinki mengakhiri nyanyiannya lalu duduk di sisi tempat tidur anak itu. Mendekatkan kue pororoitu ke hadapan Yun Min, disusul nyanyian ulang tahun lagi oleh Seo Yoon.

Yun Min tersenyum lebar saat menyadari ternyata –Jinki dan Seo Yoon memberikan kejutan ulang tahun untuknya. Ia segera menutup mata, mengucapkan permohonan dalam hatinya kemudian meniup lilin-lilin kecil diatas kue itu hanya dengan satu kali hembusan. Ia kembali tersenyum saat Seo Yoon memakaikan topi pesta ulang tahun ke kepalanya.

“Cepat bangun. Eomma sudah menyiapkan sarapan special untukmu,” ajak Seo Yoon seraya menarik tangan Yun Min. Namun anak laki-laki itu malah melepaskan tangannya, merengek lalu beralih memeluk leher Jinki.

“Aku mau digendong appa,” pintanya, membuat Jinki sedikit salah tingkah. Jinki menaruh kue yang masih berada di tangannya keatas nakas lalu beralih menggendong Yun Min.

“Aish, dasar manja,” Seo Yoon memukul pelan kepala Yun Min dengan tangannya kemudian bergantian membawa kue ulang tahun itu.

Jinki perlahan menurunkan Yun Min ke atas kursi meja makan. Sebelum duduk di sebelah Yun Min, Seo Yoon sudah lebih dulu menariknya untuk duduk tepat di sebelah wanita itu. Wajah Jinki memanas seketika. Ia tidak mengerti kenapa Seo Yoon tiba-tiba menariknya.

“Mana kado dari appa dan eomma ?” tanya Yun Min polos. Seo Yoon tersenyum lebar lalu mengambil sesuatu di dekat kakinya. Ia mengangkat tas karton berukuran sedang itu lalu memberikannya pada Yun Min.

Jinki berdehem pelan. Ia merasa tidak enak karena tidak membeli hadiah apapun untuk Yun Min. Apalagi saat melihat Yun Min menatap penuh harap ke arahnya, “Bagaimana kalau jalan-jalan ke kebun binatang ?” tawar Jinki.

Yun Min mengangguk dengan semangat, “NE !! Aku belum pernah ke kebun binatang, appa !!”

“Kau tidak kerja hari ini ?” tanya Seo Yoon.

“Aku bisa bolos untuk hari ulang tahun anakku,” jawab Jinki seraya tersenyum manis, dan sempat membuat jantung Seo Yoon berdetak semakin cepat. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah makanan diatas meja.

“A-ayo makan,” Seo Yoon mengambilkan sup rumput laut ke dalam mangkuk sarapan Yun Min, kemudian ia mulai sibuk dengan kegiatan sarapannya sendiri. Anakku ? Ucapan Jinki terus terngiang di dalam pikiran Seo Yoon. Jantungnya sempat berhenti sejenak saat kata-kata itu terlontar dari bibir Jinki. Kenapa ia merasa sedikit …. Tidak rela ?

***

Mobil Porsche hitam itu berhenti tepat di depan sebuah gedung apartemen mewah. Wanita yang berada di dalamnya membuka kaca jendela mobil, sedikit menundukkan kepalanya untuk sekedar melihat bagian luar gedung itu. Sesaat kemudian tatapannya tertuju pada secarik kertas yang berada di genggamannya. Ia mengangguk yakin kemudian membelokkan mobilnya memasuki pelataran parkir gedung apartemen itu.

Wanita itu melangkah menyusuri basement menuju lift terdekat. Secarik kertas –berisi alamat seseorang itu masih tetap berada di genggamannya. Ia kembali melirik kertas itu sebelum menekan tombol lantai –dimana apartemen yang dicarinya itu berada.

“Hebat juga dia bisa tinggal di apartemen mewah seperti ini,” gumamnya pelan.

Suara dentingan lift membuyarkan lamunannya. Wanita itu baru saja melangkah keluar lift ketika berpapasan dengan orang yang tengah dicarinya. Ia menurunkan kacamata hitam yang dipakainya lalu memerhatikan seorang laki-laki –bersama seorang wanita dan anak kecil yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Atau mungkin lebih tepatnya berjalan ke arah lift.

“Lee Jinki,” panggil wanita itu –membuat langkah Jinki terhenti seketika.

Jinki membulatkan kedua matanya. Ia melepaskan genggaman tangan Yun Min kemudian meneguk ludah. Masih merasa tidak percaya –dengan siapa yang dilihatnya saat itu.

“Ri An noona,” Jinki bergumam pelan, sontak membuat Seo Yoon menoleh. Seo Yoon memperhatikan Jinki dan wanita itu bergantian lalu berdehem pelan.

Jinki tersadar dari lamunannya lalu menoleh ke arah Seo Yoon dan Yun Min, “Kalian bisa pergi lebih dulu ke kebun binatang. Aku akan menyusul nanti,” titahnya.

Appa akan datang ‘kan ?” tanya Yun Min dan dibalas sebuah anggukan ringan oleh Jinki.

“Jangan terlalu siang, eh ?” Seo Yoon memperhatikan wanita itu sekali lagi kemudian –bersama Yun Min memasuki lift yang saat itu terbuka.

Jinki mengepal erat kedua tangannya ketika tatapannya bertemu dengan kedua mata tajam milik wanita itu. Wanita bernama Ri An itu menyeringai pelan kemudian melangkah mendekati Jinki. Dan Jinki tahu, ada yang tidak beres dengan kedatangan wanita itu padanya. Selama bertahun-tahun ia hidup dan tidak pernah mendengar kabar keluarga angkatnya lagi. Namun sekarang, ia tiba-tiba bertemu dengan Ri An –noona yang selalu membuatnya tersiksa – saat masih tinggal di rumah keluarga angkatnya dulu.

***

Café yang terletak di seberang gedung apartemen pun menjadi tempat pembicaraan Jinki dan kakak angkatnya itu. Kepulan asap yang muncul dari cangkir kopi mereka pun menjadi saksi bisu keduanya. Belum ada yang membuka pembicaraan sejak keduanya duduk disana. Jinki hanya menatap bagian dalam cangkir kopinya –tanpa berniat sedikit pun untuk berbicara dengan wanita itu.

“Aku bukan mau memintamu kembali, Jinki-ya. Ini tentang eomma, appa, dan nenekMereka semua akan mengadakan makan bersama nanti malam, dan kau diharuskan hadir disana,” ujar Ri An datar. Jinki mengangkat kepalanya sejenak lalu menyeringai pelan.

“Apa kalian merasa kehilangan sekarang ?” tanya Jinki sarkastik. Ri An tertawa hambar, ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu bersandar pada sandaran kursi. Menatap Jinki meremehkan.

“Merasa kehilanganmu ? Mereka bahkan merasa bersyukur karena kau keluar dari rumah, Jinki-ya. Tidak ada lagi sang pembuat masalah yang berkeliaran dirumah,” jawabnya. Jinki memutar bola matanya kesal. Mengalihkan tatapannya pada pemandangan diluar jendela yang lebih menarik dari wanita itu. Gelar ‘sang pembuat masalah’ bahkan lebih pantas disandang oleh wanita itu.

“Jadi kenapa aku harus datang ke acara makan malam itu ?” tanya Jinki lagi akhirnya, setelah terdiam cukup lama. Ri An berdecak pelan, lalu menatap Jinki jengah.

“Aku tidak tahu. Yang jelas kau harus hadir disana. Nenek yang memintanya. Mungkin dia mau menyampaikan pesan terakhir sebelum meninggal. Kau tahu ? Penyakit kanker hati yang diderita nenek sudah semakin parah,” jawab gadis itu acuh seraya memperhatikan kuku-kuku jari tangannya.

Dan seperti biasa. Seorang Lee Ri An tidak pernah memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Gadis itu tetap urakan dan tidak peka dengan perasaan orang lain. Bagaimana bisa Ri An mengatakan hal yang menyangkut kematian dengan sangat mudah ?

“Aku tidak janji. Apa ada yang harus dibicarakan lagi ? Aku harus pergi sekarang,” Jinki melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 10. Seo Yoon dan Yun Min sudah menunggu selama hampir satu jam di kebun binatang mungkin.

“Aah, yang tadi itu istri dan anakmu ? Kau bisa ajak mereka juga makan malam di rumah nenek. Eomma dan appa pasti senang saat tahu kau sudah menikah, Jinki-ya,” Ri An tersenyum ramah kemudian kembali menyesap kopi hangatnya.

“Terserah. Aku pergi sekarang,” Jinki baru saja bangkit dari kursinya ketika mendengar suara dering ponsel di dekatnya. Ia menoleh ke arah Ri An dan melihat gadis itu dengan tergesa mengangkat telepon di ponselnya. Ia mengendikkan bahu acuh lalu berjalan keluar dari café itu.

Namun belum sempat langkahnya mencapai pintu, tangannya sudah dicegah oleh seseorang. Jinki membalikkan tubuhnya kemudian mengernyit heran saat melihat Ri An berdiri disana dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Apa Jinki baru saja melihat Ri An hampir menangis ? Astaga. Dunia sudah hampir kiamat rupanya. Kecuali jika gadis itu tengah berpura-pura sekarang.

Waeyo ?” tanya Jinki heran.

Eomma dan appa mengalami kecelakaan. Mereka kritis,”

Dan Jinki hanya bisa membulatkan kedua matanya. Ia tidak bisa melakukan apapun ketika Ri An membawanya pergi keluar café, menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di bagian depan café itu. Entah kenapa perasaannya mengatakan, bahwa ia memang harus ikut Ri An untuk menjenguk kedua orangtua –angkatnya.

***

Seo Yoon meremas ponsel yang berada di dalam genggamannya. Ia menoleh ke samping –tempat dimana Yun Min tengah duduk sambil memakan permen kapas. Baru saja Jinki menghubunginya dan mengatakan bahwa rencana jalan-jalan ke kebun binatang harus dibatalkan karena laki-laki itu tiba-tiba ada urusan mendadak. Melihat Yun Min yang sangat bahagia seperti itu, Seo Yoon bahkan tidak tega untuk mengatakan gagalnya rencana jalan-jalan mereka.

“Yun Min-ah. Appa tidak bisa datang. Bagaimana kalau kita jalan-jalan berdua saja ?” tanya Seo Yoon, sontak membuat Yun Min menoleh dan menautkan kedua alisnya.

Appa bohong lagi ?” tanya Yun Min polos. Seo Yoon mengusap rambut anak itu kemudian menggeleng pelan.

Appa tidak bisa pergi dengan kita hari ini karena ada urusan penting.Gwenchana ?”

“Kita ‘kan sudah sampai di kebun binatang,” Yun Min menghela napas panjang lalu menurunkan permen kapas yang berada di depan wajahnya, “Gwenchana.Kita pergi berdua saja, eomma,

Seo Yoon bisa tersenyum lega saat Yun Min tidak marah karena –ketidakhadiran Jinki. Sepertinya anak laki-laki itu sudah mulai mengerti dengan tidak meledak-ledak lagi seperti biasanya. Seo Yoon baru saja akan beranjak ketika sebuah tangan menutupi kedua matanya.

“Jinki-ya, ini tidak lucu. Cepat turunkan tanganmu,” gumam Seo Yoon dan kedua tangan itu turun begitu saja. Seo Yoon tersenyum simpul pelan lalu berbalik untuk melihat Jinki –menurut perkiraannya. Namun kemudian senyuman itu menghilang begitu saja.

“Baekhyun ? Apa yang kau lakukan disini ?” tanya Seo Yoon heran. Baekhyun hanya tersenyum lebar lalu mengacak rambut Yun Min lembut.

“Kebetulan kalian ada disini, bagaimana kalau kita jalan-jalan ?” tanyanya, menghiraukan pertanyaan Seo Yoon sebelumnya.

Ekspresi sedih Yun Min pun berubah seketika. Anak laki-laki itu mengangguk semangat lalu menoleh ke arah Seo Yoon –memberikan tatapan meminta persetujuan pada wanita itu. Tidak ada yang bisa dilakukan Seo Yoon selain menyetujui tatapan Yun Min. Lagipula ia tidak akan bisa membawa Yun Min sendirian berkeliling kebun binatang karena –kau tahu selincah apa anak laki-laki itu.

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, ketika mereka –Seo Yoon, Yun Min, dan Baekhyun telah mengelilingi seluruh bagian kebun binatang itu. Ketiganya terlihat tengah makan di meja berbentuk lingkaran di sebuah restoran yang berada di bagian luar kebun binatang. Seo Yoon hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa selera. Ia membenci semua yang dilakukan Baekhyun selama berkeliling kebun binatang tadi. Baekhyun dengan seenaknya menggendong Yun Min dan bahkan tidak membiarkan ia bercengkerama dengan anak laki-laki itu. Sikap Baekhyun sangat memuakkan –menurutnya.

“Kau mau langsung pulang setelah ini ?” tanya Baekhyun memecah keheningan yang ada. Seo Yoon hanya menggumam malas. Sungguh. Ia sangat tidak ingin berbicara dengan laki-laki itu sekarang.

Eomma, apa appa tidak menelepon lagi ?” tanya Yun Min, sontak membuat Baekhyun menghentikan lengannya di udara –yang sebentar lagi meraih gelas berisi air putih. Ia malah mengepalkan tangannya lalu menoleh ke arah Yun Min.

Appamu ada disini, ara ?” ujarnya. Seo Yoon mengangkat kepalanya, menatap Baekhyun heran sekaligus kesal.

Jinjja Appa ada disini ?” Yun Min mengitarkan pandangannya ke seluruh bagian restoran itu. Namun kemudian tangan Baekhyun mengalihkan wajahnya.

“Aku appamu yang sebenarnya, Shin Yun Min. Bukan Lee Jinki atau siapapun yang lainnya,”

Kedua mata Seo Yoon membulat. Ia segera menyingkirkan kedua tangan Baekhyun yang memegangi wajah Yun Min kemudian mengangkat tubuh anak laki-laki itu ke dalam gendongannya. Seo Yoon baru saja akan beranjak dari kursi, ketika lengan Baekhyun menahannya.

“Kenapa pergi ? Itu kenyataannya ‘kan ?” tanya Baekhyun, membuat Seo Yoon berbalik dan menatap tajam pada laki-laki itu.

“Jangan pernah mengakuinya sebagai anakmu, Byun Baekhyun. Sampai kapan pun dia anakku. Hanya anakku,” tegas Seo Yoon lalu menghempaskan lengan Baekhyun dengan kasar. Ia segera menautkan tali tas slempang miliknya ke bahu lalu berjalan cepat meninggalkan restoran itu.

***

Selama berada didalam bis menuju jalan pulang, Seo Yoon hanya diam. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa pusing pada kaca jendela bis. Memikirkan semua perkataan Baekhyun tadi. Laki-laki itu sudah mengetahui semuanya. Seo Yoon tersenyum miris. Kenapa disaat Yun Min sudah sebesar itu, Baekhyun baru menyadarinya. Kenapa tidak disaat ia sedang jatuh-bangun karena kekurangan biaya perawatan Yun Min. Dan kenapa tidak disaat ia sedang merasadown karena pada kenyataannya, Yun Min tidak sesehat yang orang lain lihat.

Seo Yoon merasakan kedua matanya memanas saat mengingat kenyataan yang didengarnya dari dokter saat Yun Min berusia satu tahun dulu. Anak laki-laki itu mengalami kelainan jantung. Karena usia Seo Yoon yang terlalu muda saat mengandung, perkembangan janin belum bisa dikatakan sempurna. Ia belum bisa memberi kesempurnaan pada Yun Min, seperti orang lain pada umumnya. Ia hanya seorang single-parent yang tidak bisa dibanggakan oleh anak itu. Dan ia bukan seorang ibu yang pantas menjadi panutan.

Eomma kenapa menangis ?” tanya Yun Min polos yang berada dalam dekapannya. Seo Yoon dengan cepat menyeka air matanya lalu tersenyum lebar pada anak laki-laki itu.

Ahni. Sepertinya ada debu yang masuk,” kilahnya dan Yun Min hanya mengangguk polos kemudian kembali memeluk Seo Yoon dengan erat.

“Kenapa ahjussi tadi mengaku jadi appa ?” pertanyaan Yun Min membuat Seo Yoon sedikit tersentak kaget. Namun kemudian Seo Yoon bisa mengendalikan kembali perasaannya.

“Jangan pikirkan perkataan ahjussi tadi. Sekarang kau tidur saja,” Seo Yoon menepuk pelan punggung Seo Yoon, berusaha membuat anak itu senyaman mungkin dan bisa tertidur.

Sekelebat kenangannya bersama Baekhyun lima tahun yang lalu kembali berputar di kepala Seo Yoon. Dulu ia sangat mengagumi dengan semua yang dilakukan laki-laki itu. Namun entah kenapa, ia merasa tidak yakin dengan perasaannya. Ia tidak lagi merasakan ketertarikan atau dentuman-dentuman lagi dalam dadanya ketika berhadapan dengan Baekhyun. Yang berada di dalam pikirannya sekarang, hanya Yun Min, Minho, dan ….. Jinki.

Perasaannya masih terus memilih Minho yang berada di urutan kedua setelah Yun Min. Ia masih belum bisa melupakan dan membenci laki-laki itu bagaimana pun caranya. Ia merasa sangat bodoh karena masih saja mencintai seorang laki-laki –yang bahkan mungkin tidak memikirkannya lagi.

Seo Yoon memijat keningnya. Ia membutuhkan sedikit hiburan untuk membuat pusing di kepalanya itu menghilang. Dan mungkin dengan sedikit alcohol, ia bisa menyegarkan pikirannya yang dipenuhi berbagai masalah.

***

Suara roda tempat tidur dorong yang bergesekan dengan lantai koridor rumah sakit kembali memenuhi rongga pendengaran Jinki. Jinki mengangkat tangan kirinya –yang baru saja ia gunakan untuk mendonorkan darah. Rasanya ia seperti bermimpi saat melihat wajah kedua orangtua –angkatnya lagi. Wajah yang masih terlihat sama walaupun sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya. Entah setan apa yang merasukinya, sehingga ia rela mendonorkan darah untuk ibu –angkatnya.

Tatapan Jinki tertuju pada langkah lemah seseorang yang berhenti tepat didepannya. Ia mengangkat kepala dan sedikit tersentak saat melihat wanita tua berambut putih tengah menatap dingin ke arahnya. Jinki segera berdiri dari kursi ruang tunggu lalu membungkuk dalam pada wanita itu.

“Kenapa kau datang ?” tanyanya. Jinki kembali menegakkan tubuhnya kemudian tersenyum simpul.

“Aku hanya ingin melihat keadaan appa dan eomma. Ri An noona yang mengajakku kesini. Kalau nenek tidak suka, aku bisa pergi sekarang,” Jinki membungkuk lalu mulai melangkah pergi ketika sebuah panggilan kembali menghentikan langkahnya.

“Kau harus tetap disini,” Jinki berbalik ke belakang, menatap wanita tua itu dengan tatapan heran, “Ada hal penting yang harus kubicarakan, setelah kedua orangtuamu sadar,”

Jinki melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian menghela napas panjang. Ia bahkan tidak tahu kapan kedua orangtua angkatnya akan sadar setelah selesai menjalani operasi satu jam yang lalu. Ia juga mempunyai tanggung jawab yang lain.

Jinki baru saja menghempaskan tubuhnya kembali ke atas kursi ruang tunggu ketika mendengar ponsel miliknya berdering. Ia mengeluarkan ponselnya lalu tersenyum samar saat melihat nama Seo Yoon tertera disana. Setelah berdehem pelan –untuk menormalkan suaranya, Jinki segera mengangkat telepon itu.

“Ada apa Seo Yoon-ah ?” tanya Jinki to the point.

‘Ini Yun Min, appa,’

“Oh, Yun Min-ah. Waeyo ?”

‘Apa eomma ada disana ?’ Jinki menegakkan tubuhnya seraya melirik wanita tua yang duduk berjarak beberapa meter di dekatnya. Ia hanya memastikan bahwa neneknya itu tidak mendengar pembicaraannya dengan Yun Min.

Ahni. Eomma ‘kan pergi denganmu tadi. Memangnya eomma pergi kemana ?” tanya Jinki, mulai merasa khawatir.

Molla. Setelah mengantarku ke apartemen Shin Young ahjumma, eomma pergi lagi. Aku kira eomma menyusul appa,

Jinki mengusap tengkuknya, merasa bingung dengan kepergian Seo Yoon. Wanita itu tidak biasanya keluar malam seperti itu. Apalagi tidak membawa ponsel. Seo Yoon pasti akan selalu menghubunginya jika memang akan pergi. Karena Yun Min pasti sendirian di apartemen.

Appa akan mencari eomma. Kau jangan khawatir, ne ?” Jinki segera memutuskan sambungan teleponnya dengan Yun Min. Ia masih berpikir keras mengenai tempat yang mungkin akan dikunjungi Seo Yoon saat malam. Jinki mengerang pelan ketika tidak bisa menemukan satu kemungkinan pun di kepalanya. Seo Yoon mungkin kecewa ketika ia tidak bisa menepati janji tadi siang dan karena hal itu Seo Yoon bahkan tidak menghubunginya sama sekali. Jinki hanya bisa berdoa, semoga Seo Yoon baik-baik saja diluar sana.

***

Musik yang menghentak keras, memenuhi ruangan yang dipenuhi berbagai kerlap-kerlip lampu itu. Beberapa orang terlihat tengah menggerakkan tubuhnya di lantai dansa, mengikuti irama lagu yang diputar. Namun tidak dengan seorang wanita yang hanya duduk di meja bartender dan memainkan jarinya di bibir gelas berisi vodka miliknya itu. Ia menatap kosong ke dalam bagian gelas lalu tersenyum sendiri.

Seo Yoon kembali meneguk Calvert yang sudah disediakan bartender hanya dalam satu kali tegukan. Ia sedikit mengernyit saat rasa panas menyengat tenggorokannya. Entah sudah gelas keberapa yang ia teguk hanya dalam waktu satu jam. Kepalanya sudah benar-benar pusing. Namun ia sama sekali belum mau pergi dari sana. Ia masih butuh ketenangan.

Seo Yoon menoleh tepat ketika seorang laki-laki duduk di dekatnya. Ia mendesah malas lalu kembali menatap ke bagian dalam gelasnya yang sudah kembali terisi Calvert.

“Sendirian, nona ?” tanya laki-laki itu seraya mengusap pelan punggung Seo Yoon. Berusaha menggoda. Seo Yoon menyeringai pelan lalu menyingkirkan lengan itu dari punggungnya.

“Menjauhlah dariku. Aku sedang tidak ingin diganggu,” jawab Seo Yoon lalu kembali meneguk Calvert miliknya. Ia baru saja menaruh gelas yang sudah kosong ke atas meja ketika merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya. Seo Yoon tersentak kaget kemudian berusaha melepaskan lengan laki-laki muda itu.

“Singkirkan tangan kotormu sekarang !” seru Seo Yoon, merasa risih saat lengan laki-laki itu belum juga terlepas. Dengan sekali gerakan cepat Seo Yoon mendaratkan sebuah tamparan di pipi kanan laki-laki berambut cepak itu. Dan Seo Yoon bisa sedikit merasa lega saat lengan itu terlepas dari pinggangnya.

“Kau berani menamparku ! Dasar wanita jalang !” laki-laki itu mengangkat tangannya, bersiap membalas tamparan Seo Yoon.

Namun kemudian, kejadian selanjutnya terjadi begitu cepat di mata Seo Yoon. Ia melihat laki-laki itu tersungkur setelah mendapat pukulan telak dari seseorang. Seo Yoon menyipitkan matanya, berusaha melihat wajah seorang laki-laki yang baru saja menolongnya.

“Kau yang jalang,” suara berat laki-laki itu terdengar menyahuti laki-laki hidung belang yang masih tergeletak di lantai bar. Seo Yoon menggeleng lemah, mencoba memperjelas pandangannya. Namun itu semua sia-sia, karena pandangannya malah semakin mengabur. Sungguh. Ia sangat mengenal pemilik suara itu.

“Minho-ssi ?” tebak Seo Yoon sebelum pandangannya semakin gelap dan kesadarannya menghilang begitu saja.

***

Minho segera menopang tubuh Seo Yoon yang hampir terjatuh dari kursi. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu won keatas meja bartender lalu mengangkat tubuh Seo Yoon ala bridal keluar dari pub itu. Ia kembali memperhatikan wajah Seo Yoon yang tertidur didalam pelukannya. Sekeras apapun ia berusaha membenci wanita itu, pada akhirnya ia tidak akan bisa melakukannya. Semakin berusaha ia membenci, maka ia semakin merasakan sakit. Ia malah akan menyiksa dirinya sendiri dengan meneguk berbotol-botolgin di bar.

Minho membawa Seo Yoon ke dalam mobil Nissan March miliknya. Ia memasangkan seatbelt pada wanita itu kemudian dengan setengah berlari menuju bagian kemudi. Minho hanya diam di dalam mobil, tidak menyalakan mesin dan menatap kedepan dengan pandangan kosong. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Kenapa ia mau menolong Seo Yoon ? Dan kenapa ia bisa membawa Seo Yoon ke dalam mobilnya, padahal jelas-jelas ia tengah menghindari wanita itu ?

Tatapan Minho kini tertuju pada Seo Yoon yang masih tertidur dengan pulas. Seulas senyum tiba-tiba muncul di bibirnya. Tidak. Ia tidak akan pernah bisa membenci Seo Yoon. Ia bahkan sangat merindukan wanita itu. Ia harusnya berusaha untuk mempertahankan Seo Yoon tetap berada di sisinya. Namun ia tidak mungkin memiliki Seo Yoon –yang notabene sudah menikah dan mempunyai seorang anak.

“Apa masalah yang sedang kau hadapi sekarang, sampai kau mabuk seperti ini ?” tanya Minho, lebih pada udara kosong di sekitarnya.

Minho menggelengkan kepalanya kemudian segera menyalakan mesin dan melajukan mobilnya keluar area parkir pub. Dalam perjalanan menuju apartemen Seo Yoon, sesekali pandangan Minho tertuju pada wanita itu.

“Aku membencimu,” gumaman Seo Yoon membuat Minho dengan cepat menoleh. Minho menghela napas panjang lalu tangan kanannya beralih menggenggam tangan wanita itu.

“Aku tahu, Seo Yoon. Kau pasti sangat membenciku,” Minho semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Seo Yoon. Ia selalu ingin menggenggam tangan itu sejak dulu.

Seo Yoon terbatuk pelan lalu perlahan membuka kedua matanya, mencoba melihat siapa laki-laki yang duduk tepat di hadapannya. Namun pandangannya masih saja buram, tidak bisa melihat jelas keadaan di sekitarnya, “Baekhyun ? … Jinki ? ….. Minho ?”

Karena tidak mendapat sahutan apapun, Seo Yoon mencoba merasakan tangan hangat yang masih menggenggam tangan kirinya. Ia tidak pernah merasakan kehangatan itu sebelumnya. Dan ia tahu itu bukan tangan Baekhyun ataupun tangan Jinki.

“Kau tahu siapa aku, Shin Seo Yoon,”

Jantung Seo Yoon berdetak cepat saat mendengar suara baritone yang selalu dikaguminya sejak dulu. Seo Yoon tersenyum samar, “Kau memaafkanku ?”

“Tidak juga. Aku hanya menolongmu,” balas Minho dingin lalu melepaskan genggaman tangannya. Ia kembali menatap focus ke jalanan, mencoba menghiraukan Seo Yoon yang belum sepenuhnya sadar itu.

“Aah, jinjja. Aku mencintaimu, Minho-ssi. Apa kau tidak pernah sadar ? Aku, seorang Shin Seo Yoon, mencintai seorang Choi Minho sejak dua tahun yang lalu. Kenapa kau malah membuangku seperti sekarang !!” seru Seo Yoon seraya memukul pelan lengan atas Minho dengan sisa tenaganya. Ia bisa merasakan kedua matanya mulai memanas karena hal itu.

Minho menghentikan laju mobilnya lalu dengan cepat menoleh ke arah wanita itu. Apa ia tidak salah dengar ? Seo Yoon mencintainya ? Minho dengan cepat menggelengkan kepalanya. Mencoba untuk mengabaikan ucapan Seo Yoon yang sedang mabuk seperti itu. Mungkin Seo Yoon hanya mengigau saja. Namun kemudian Minho menyadari sesuatu.

“Apa kau tadi menyebut nama Baekhyun ? Kau mengenalnya ?” tanya Minho, dengan kedua mata yang membulat sempurna. Seo Yoon tertawa hambar kemudian mengangguk pelan.

Keurae ! Dia mantan suamiku. Dia yang sudah menikahi sekaligus meninggalkanku begitu saja 5 tahun yang lalu,” Seo Yoon bergerak menegakkan tubuhnya yang sudah semakin merosot diatas jok mobil Minho, “Aku tidak pernah menikah lagi, arachi ? Aku memang sudah mempunyai seorang anak karena pernikahanku dengan Baekhyun dulu. Tapi sungguh, aku tidak pernah menikah lagi, Minho-ssi,”

Minho berdecak pelan lalu kembali menjalankan mobilnya, “Kau mabuk, Seo Yoon,” gumamnya pelan.

Minho menoleh ke arah Seo Yoon, ketika wanita itu tidak bersuara lagi. Seo Yoon mabuk berat dan Minho tahu, tadi Seo Yoon hanya mengigau saja. Tidak sungguh-sungguh mengatakannya karena pengaruh alcohol. Kenapa ia terlalu berharap banyak pada wanita itu ?

Mobil Minho terparkir dengan sempurna di depan gedung apartemen Seo Yoon. Ia bergegas keluar dari mobil, berjalan menuju pintu mobil di dekat Seo Yoon dan kembali mengangkat tubuh wanita itu ala bridal memasuki lobi. Namun kemudian langkahnya terhenti saat seorang laki-laki bermata sipit –yang baru saja keluar dari dalam lift berdiri tepat dihadapannya.

“Kenapa kau bisa bersama Seo Yoon ?” tanya Jinki sarkastik. Minho menyeringai pelan menanggapi ucapan laki-laki itu.

“Bukan urusanmu,”

“Berikan Seo Yoon padaku. Aku yang lebih berhak,” Jinki kembali berbicara, membuat Minho sedikit tertohok. Minho tertawa pelan dan malah semakin mengeratkan Seo Yoon ke dalam dekapannya.

“Kau bukan siapa-siapa. Jadi biarkan aku yang membawanya,” jawab Minho seraya menyeringai pelan.

“Kalian tidak tahu apapun tentang Seo Yoon,”

Jinki memiringkan kepalanya, mencoba melihat suara seorang laki-laki lainnya yang muncul dari belakang tubuh Minho. Sedetik kemudian Jinki tertawa hambar. Ternyata seorang Byun Baekhyun pun hadir diantara mereka. Look like a drama.

Baekhyun melangkah mendekati Minho dan Jinki. Ia memperhatikan Seo Yoon yang berada di dalam gendongan Minho, “Aku yang akan membawanya sampai apartemen,”

“Kau hanya mantan suaminya, Baekhyun-ssi. Aku saja yang membawanya,” balas Minho lagi.

Tatapan Jinki tertuju pada Minho dan Baekhyun. Begitupun dengan Minho yang menatap Jinki dan Baekhyun secara bergantian. Ketiganya tengah berdiri di tengah lobi malam itu. Membuat beberapa orang yang tengah lewat, menatap heran pada ketiga laki-laki itu.

“Jinki-ya,” gumam Seo Yoon pelan, membuat seulas senyum muncul di bibir Jinki, “Lee Jinki,”

“Dia memilihku,”

Tanpa menunggu perkataan dari kedua laki-laki lainnya, Jinki segera meraih Seo Yoon dari dekapan Minho ke dalam gendongannya. Ia kembali menatap kedua laki-laki itu sebelum melangkah meninggalkan lobi. Jinki tersenyum puas saat Seo Yoon semakin mengeratkan diri kedalam pelukannya. Dan pada akhirnya wanita itu memilihnya bukan ? Walaupun dalam keadaan mabuk, Jinki tahu bahwa Seo Yoon akan selalu memilihnya jika dibandingkan dengan semua hal yang menyangkut Yun Min. Dan jika boleh berharap, Jinki sangat ingin Seo Yoon mulai melihatnya mulai sekarang.

[Pretend Continued]

One thought on “Pretend [8th Part]

  1. aduh enaknya ya jadi seoyoon xD jinki pantes dapetin itu semua, dia selalu baik sama seoyoon. minho sama seoyoon mau dijodohin ‘kan? atau perkiraanku salah(?) wkwk. get out from seoyoon’s life, byun baekhyun. #FANSLAKNAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s