Pretend [6th Part]

Author  : Ima (@bling0320)

Casts     : 

  • Shin Seo Yoon
  • Shin Yun Min
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

[Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part][5thPart] [6th Part]

Hujan yang mengguyur kota Seoul belum juga berhenti sejak pagi. Jalanan kota Seoul tampak dipenuhi berbagai warna payung –yang melindungi manusia di bawahnya. Jinki memperhatikan bagaimana payung-payung itu bergerak –dari koridor lantai teratas gedung apartemen Seo Yoon yang dibatasi kaca besar.Well, banyak sekali hal yang di pikirkannya saat itu. Mengenai dirinya sendiri, Seo Yoon, Yun Min, dan perasaan sukanya pada Seo Yoon yang semakin berkembang. Sekeras apapun ia mencoba menahan, pada akhirnya perasaan itu akan berkembang juga.

Mungkin ia akan keluar dari apartemen Seo Yoon dalam waktu dekat. Mengingat wanita itu sudah dipecat dari kantor dan ia tidak bisa terus menumpang di sana. Mengenai Yun Min, secepatnya Jinki akan menjelaskan hal yang sebenarnya pada anak laki-laki itu. Ia tidak perlu bersusah-payah berpura-pura lagi karena Baek Hyun sudah kembali. Ia juga akan mengubur seluruh perasaannya pada Seo Yoon. Mencoba melupakan Seo Yoon dan membiarkan wanita itu bahagia bersama pilihannya sendiri.

Munafik. Jinki bahkan menggumamkan hal itu pada dirinya sendiri saat menyusun semua rencana hidupnya. Ia tidak bisa meninggalkan apartemen Seo Yoon dan sangat ingin menghibur wanita itu. Ia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Yun Min –karena percaya atau tidak, ia sangat menyayangi anak itu dan mulai menyukai figure seorang ayah yang dijalaninya. Dan terakhir, ia mungkin tidak bisa melepas Seo Yoon dan mengubur perasaannya begitu saja.

Jinki menghela napas panjang lalu beralih duduk pada kusen kaca besar itu. Kenapa hidupnya menjadi sangat sulit ? Atau mungkin ia yang mempersulit, hanya karena perasaannya pada wanita itu ?

“Jinki-ya ? Apa yang kau lakukan disini ?”

Jinki terkesiap saat suara seorang wanita –yang baru saja di pikirkannya itu muncul. Ia memandang Seo Yoon yang berjalan ke arahnya dengan sebuah senyuman tipis.

“Pemandangan Seoul terlihat bagus dari sini,” jawab Jinki seraya menggeser duduknya dan membiarkan Seo Yoon duduk tepat di sebelahnya, “Dimana Yun Min ?”

“Dia sedang tidur,” jawab Seo Yoon singkat. Sesaat kemudian Jinki bisa mendengar wanita itu menghela napas panjang. Seolah wanita itu tengah menjalani sebuah masalah yang berat.

“Kau belum bertemu Minho lagi ?” tanya Jinki dan tepat menyentuh bagian tersensitif di hati Seo Yoon. Wanita itu menelan ludahnya kemudian tersenyum –sangat samar ke arah Jinki.

“Entahlah,” jawabnya lirih.

Jinki mengangguk pelan kemudian mencoba menyibukkan diri dengan melakukan sesuatu. Astaga. Kenapa ia menjadi bingung harus melakukan apa ? Setelah menyadari perasaannya sendiri, Jinki tidak bisa bersikap dengan normal di hadapan wanita itu.

“Aww!” Jinki meringis pelan saat kepalanya terbentur bagian atas kusen pembatas kaca itu. Seo Yoon menoleh dengan cepat dan kemudian tertawa –menyadari tingkah konyol laki-laki itu. Jinki ikut tersenyum saat melihat tawaan Seo Yoon. Setidaknya walaupun kesakitan, ia berhasil membuat Seo Yoon kembali tertawa.

“Kau tetap ceroboh, eh ?” tanya Seo Yoon –masih sambil tertawa lalu memukul lengan atas Jinki dengan kepalan tangannya. Jinki kembali meringis saat lengannya cukup terasa ngilu karena pukulan Seo Yoon.

Keadaan tiba-tiba menjadi hening, setelah tawaan Seo Yoon berhenti. Jinki berdehem pelan lalu mengalihkan tatapannya pada bagian koridor yang sangat sepi. Tidak terlihat orang lain lagi selain mereka. Mungkin karena keadaan koridor –yang hanya diterangi cahaya matahari melalui kaca besar dan karena koridor itu berada di lantai teratas sebelum menaiki tangga menuju atap gedung.

“Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, Jinki-ya,” ujar Seo Yoon, membuat Jinki kembali menoleh ke arah wanita itu. Menatap Seo Yoon dari samping yang sepertinya tengah berpikir keras.

“Aku siap mendengarnya,” seru Jinki –walaupun sangat bertolak belakang dengan hatinya. Pasti wanita itu akan menceritakan tentang Baek Hyun ataupun Minho. Dan ia harus bersiap-siap –menelan pil pahit tentu saja.

“Apa menurutmu, aku harus menerima tawaran Baek Hyun ?” tanya Seo Yoon, tepat seperti dugaan Jinki sebelumnya.

“Memangnya dia menawarkan apa ?” Jinki memiringkan posisi duduknya menghadap wanita itu. Begitu juga dengan Seo Yoon yang ikut memiringkan tubuhnya, saling berhadapan dengan Jinki.

“Dia menawarkan, untuk mengulangi lagi semuanya dari awal,” Seo Yoon menghela napas panjang. Merasa bingung dengan apa yang berada di pikirannya tentang Baek Hyun.

“Apa dia sudah tahu tentang Yun Min ?” tanya Jinki lagi. Seo Yoon menggeleng pelan.

“Aku belum bisa memberitahunya. Entahlah, untuk sekarang aku masih mempercayaimu untuk menjadi ayahnya Yun Min,” jawab Seo Yoon, sontak membuat wajah Jinki memanas seketika. Laki-laki itu berdehem pelan kemudian kembali menghadap ke depan. Berusaha menghindari kontak mata dengan Seo Yoon.

Seo Yoon beranjak dari duduknya, membuat Jinki menoleh ke arah wanita itu, “Kau mau kemana ?”

“Ke apartemen. Aku takut Yun Min kabur lagi karena ditinggal sendiran,” jawab Seo Yoon lalu menjulurkan lidahnya ke arah Jinki. Mengejek laki-laki itu –mengingat kejadian Yun Min menghilang karena Jinki meninggalkan anak itu sendirian di apartemen.

Ya! Neo jinjja !” pekik Jinki seraya berdiri dan berlari mengejar Seo Yoon yang ternyata sudah berada cukup jauh di depannya. Ketika melihat tawaan Seo Yoon, ia yakin wanita itu pasti akan lebih mudah melupakan kejadian menyakitkan –saat Minho membuangnya begitu saja.

***

Tidak ada yang terlibat pembicaraan didalam ruang pertemuan itu. Minho memejamkan kedua matanya rapat-rapat –saat melihat manajer baru yang dipilihkan ayahnya ternyata seseorang yang sangat ceroboh. Bagaimana bisa wanita itu meninggalkan bahan presentasi dan bahkan Minho pun tidak tahu harus berbuat apa. Seluruh pemegang saham di dalam ruangan itu hanya menatap ke arahnya –seolah meminta penjelasan bagaimana bisa manajer perusahaan tidak mempersiapkan dengan baik jalannya rapat.

Minho segera berdiri dari kursi lalu membungkuk dalam-dalam kepada orang-orang yang berada disana, “Jwesonghamnida. Rapat intern bulan ini akan ditunda sampai minggu depan. Mohon pengertiannya,”

Suara riuh memenuhi ruang pertemuan itu. Beberapa orang terlihat mendecak kesal, berbisik pada seseorang di sebelahnya, hingga memukul meja dengan cukup keras. Minho kembali membungkuk. Meminta maaf atas kesalahan perusahaannya.

“Minho sajangnim, aku tidak –,”

“Kau dipecat,” Minho mendorong kursinya menjauh kemudian melangkah begitu saja meninggalkan wanita itu.

Baru saja Minho keluar dari ruang pertemuan ketika seseorang menghampiri dan berjalan tepat di sebelahnya. Seorang laki-laki –yang Minho tidak ingat namanya, namun salah satu pemegang saham perusahaannya juga.

“Dimana manajer perusahaanmu yang lama, Minho-ssi ? Dia jauh lebih baik dari manajer barumu,” tanya pria paruh baya itu. Minho menghentikan langkahnya, menoleh ke arah pria itu lalu tersenyum samar.

“Dia sudah dipecat beberapa hari yang lalu. Maaf, aku harus pergi sekarang,” Minho membungkuk singkat kemudian berjalan meninggalkan pria itu. Sungguh, perasaannya sangat sensitif ketika orang lain mulai menanyakan tentang wanita itu.

Langkah Minho terhenti tepat beberapa meter di dekat pintu ruang kerjanya. Ia menghela napas panjang saat melihat wanita yang dijodohkan oleh ibunya –sekaligus pilihannya sendiri tengah berdiri disana. Gadis itu terlihat ragu untuk mengetuk pintu. Sangat terlihat jelas dari bahasa tubuhnya. Minho menyeringai pelan kemudian melangkah mendekat gadis itu.

“Ada apa ?” tanya Minho, dengan merendahkan nada suaranya sehingga terdengar lebih berat. Gadis itu sedikit tersentak kemudian segera berbalik.

“Aah, itu. Aku mau menyampaikan pesan eomonim. Dia mengundangku makan malam, tapi dia bilang aku harus mengajakmu pulang bersama juga. Kau sudah selesai rapat ‘kan ? Ayo kita pulang sekarang,” ujar gadis itu –tanpa koma seperti biasanya. Bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjawab sekali pun.

“Pergi saja duluan. Katakan pada eomma, aku masih banyak pekerjaan. Jangan memaksa, karena aku tetap tidak akan pergi. Arachi ?” Minho sedikit menggeser tubuh gadis itu kemudian melangkah memasuki ruang kerjanya. Ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa, merebahkan seluruh tubuhnya yang terasa lelah karena bekerja dua kali lipat akhir-akhir ini.

Sejak Seo Yoon dipecat, seluruh pekerjaan manajer dilimpahkan padanya. Dan walaupun posisi manajer itu sudah terisi kembali, ia tetap bekerja lebih keras. Tidak pernah ada yang bekerja sebaik Seo Yoon. Ia mengakui itu. Namun peraturan tetaplah peraturan. Ketika salah satu karyawannya ada yang menikah, maka tuan Choi –ayah sekaligus pemilik perusahaan itu akan segera mengeluarkannya. Lagipula, Minho sedang menghindari Seo Yoon dan sangat tidak ingin bertemu wanita itu. Masih ada sebuah luka besar yang menganga di hatinya karena wanita itu.

Tatapan Minho tertuju pada sebuah frame foto yang terpajang di sudut ruangannya. Seulas senyum pahit muncul di bibirnya saat mengingat kenangan yang tergambar di dalam foto itu. Ketika dirinya bersama seorang wanita –yang amat sangat dicintainya. Namun kemudian semua kenangan indah itu berubah menjad sebuah mimpi buruk. Karena ternyata wanita yang sangat dicintainya itu seorang ‘penghibur’ di sebuah bar. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berpisah ketika mengetahui bahwa gadisnya sudah memiliki laki-laki lain.

Dan disaat ia sudah sedikit melupakan kejadian pahit itu karena kehadiran Seo Yoon, ia kembali harus merasakan sakit yang sama. Bahkan mungkin lebih sakit. Karena ia sudah dibohongi selama bertahun-tahun.

Minho beranjak dari sofa, merapikan jas yang dipakainya lalu mengambil tas kerjanya di atas meja. Ia bergegas keluar dari ruang kerja menuju lift. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya –yang menunjukkan pukul 8 malam. Mungkin dengan sedikit alcohol, ia bisa menghilangkan beban pikirannya. Dan mungkin bisa menghilangkan perasaan sakitnya pada wanita itu.

***

Berbagai hidangan makan malam sudah dihidangkan diatas meja. Seo Yoon menepukkan kedua tangannya lalu menatap Yun Min yang sudah terduduk di kursi meja makan sambil tersenyum lebar. Tidak ada yang istimewa. Ia hanya ingin merayakan kedatangan Jinki –yang sudah menjadi appa Yun Min selama dua bulan. Laki-laki itu belum pulang kerja dan ia ingin memberikan sedikit kejutan dengan memasak berbagai macam makanan.

Seo Yoon segera menggendong Yun Min, mengambil tabung confetti diatas meja lalu berjalan menuju ruang tamu. Ia mematikan beberapa lampu di area ruang tengah dan hanya menyisakan lilin yang menyala diatas kue saja di meja makan. Yun Min sudah terkekeh geli didalam pelukannya –sementara Seo Yoon merasa sangat gugup. Takut jika ternyata Jinki tidak menyukai kejutan yang sudah dibuatnya.

Suara pintu terbuka membuat Seo Yoon terkesiap. Ia merapatkan tubuhnya ke tembok dan bergegas menyiapkan tembakan confetti jika Jinki melewati mereka nanti.

“Kenapa gelap ? Seo Yoon-ah !!” seru Jinki seraya melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia melangkah melewati tempat penyimpanan sepatu menuju ruang tengah sembari mengitarkan pandangannya ke seluruh apartemen Seo Yoon. Dan langkahnya terhenti begitu saja saat melihat kue beserta lilin yang menyala diatas meja makan.

DORR

Jinki terlonjak saat suara tembakan confetti itu mengagetkannya. Tak lama kemudian lampu kembali menyala, Jinki menoleh ke kiri dan menemukan pasangan ibu-anak itu tengah berdiri disana. Jinki tersenyum lebar lalu menyambut Yun Min yang tiba-tiba berlari kearahnya. Ia mengusap pelan puncak kepala anak itu.

“Aku tidak berulang tahun hari ini,” ujar Jinki pada Seo Yoon yang sudah berdiri di sebelahnya.

“Yun Min yang membuat kejutan ini. Hari ini tepat dua bulan sejak kau datang dan tinggal bersama kami disini. Dia ingin merayakannya dan merengek padaku,” balas Seo Yoon seraya tersenyum ke arah Yun Min. Anak laki-laki itu mengerutkan keningnya.

Ahni. Eomma yang memaksaku menyiapkan kejutan untuk appa,” sahut Yun Min, sontak membuat wajah Seo Yoon memanas seketika. Wanita itu berdehem pelan kemudian meninggalkan kedua orang itu menuju meja makan.

Cha, sekarang  ayo tiup lilinnya, Lee Jinki,” seru Seo Yoon berusaha mengalihkan keadaan.

Jinki tertawa pelan. Melihat semburat merah di wajah Seo Yoon membuatnya geli. Wanita itu tetap tidak mau mengakuinya. Padahal jika memang Seo Yoon yang membuat kejutan itu, ia akan merasa sangat senang. Jinki menuntun tangan mungil Yun Min menuju meja makan dan kemudian duduk bersebelahan, sementara Seo Yoon duduk di hadapan mereka. Seo Yoon dan Yun Min sudah mulai bernyanyi, Jinki menutup kedua matanya dan memohon dalam hati sebelum meniup seluruh lilin diatas kue itu.

“Kau yang memasak semuanya ?” tanya Jinki tidak percaya, melihat berbagai macam makanan diatas meja.

Keurae. Memangnya ada orang lain lagi selain aku dan Yun Min disini ?” tanya Seo Yoon lagi. Jinki menggaruk tengkuknya lalu mulai mencoba sup rumput laut. Seulas senyum muncul di bibirnya. Makanan yang dibuat Seo Yoon selalu enak menurutnya.

“Kenapa diam ? Kalian tidak ikut makan ?” tanya Jinki heran, saat melihat Yun Min dan Seo Yoon hanya memandanginya. Seo Yoon bergumam pelan dan kemudian mengikuti Jinki, mengambil samgyetang kedalam mangkuk makan malamnya.

Jinki tersenyum lebar. Ia menyukai momen –dimana ia, Seo Yoon, dan Yun Min duduk bersama di meja makan seperti itu. Rasanya seperti mempunyai sebuah keluarga kecil. Jinki tidak pernah berharap banyak pada kenyataan bahwa memang Seo Yoon tidak mencintainya. Namun ia masih tetap bisa berkhayal bukan ? Membayangkan bahwa Seo Yoon adalah istrinya dan Yun Min adalah anak kandungnya. Ia hanya membayangkan hal itu saja.

***

Suara ketukan pintu apartemen di pagi hari membuat Seo Yoon terpaksa harus membuka kedua matanya. Dengan malas ia melangkah meninggalkan tempat tidurnya, menuju pintu depan dan sebelum membuka pintu, ia terlebih dulu melihat melalui intercom. Ia tidak mau kejadian –ketika Jinki datang dulu dan ia baru saja bangun tidur kembali terulang. Dan seketika Seo Yoon membulatkan kedua matanya saat melihat wanita paruh baya –dengan tampilan high classberdiri di depan pintu apartemennya. Tanpa perlu berpikir, Seo Yoon tahu bahwa wanita dengan mantel bulu, topi lebar untuk musim panas, dan kacamata hitam itu adalah ibu kandungnya.

Seo Yoon menggumam malas. Ia menatap ke sekeliling apartemennya dan menyadari bahwa Jinki sudah mengantar Yun Min ke sekolah. Ia mendecak pelan saat melihat jam dinding di ruang tengah. Jinki tidak membangunkannya dan ia harus terlambat bangun hingga jam 9 pagi.

Setelah mengambil napas dalam-dalam, Seo Yoon mulai membuka pintu apartemennya. Seulas senyum kecil –namun terpaksa itu berhasil ia lontarkan pada wanita paruh baya itu. Bahkan tanpa menunggunya menyapa, wanita itu sudah menerobos masuk. Menabrak bahu Seo Yoon dengan cukup keras. Seo Yoon mengacak rambutnya frustasi. Sikap sombong itu masih saja tetap ada di dalam diri ibunya.

“Apa kabar ?” tanya wanita itu seraya melepas mantel bulunya dan menaruhnya di sandaran sofa. Seo Yoon memutar bola matanya. Haruskah wanita itu memamerkan merek terkenal mantel itu padanya ?

“Cukup baik. Eomma sendiri ?” tanya Seo Yoon, berjalan ke dapur lalu menuangkan sirup buah dari dalam kulkas ke sebuah gelas. Ia membawa gelas itu ke ruang tengah, menaruhnya di atas meja lalu mengambil tempat duduk tepat di sebelah wanita itu.

“Baik. Bagaimana dengan Yun Min ?” tanya wanita itu lagi.

“Dia juga baik. Ada apa eomma tiba-tiba datang dari Jepang ? Ini belum setahun sejak eomma terakhir kali datang,”

Wanita berambut pendek sebahu itu menyesap minumannya –dengan gerakan yang sangat anggun. Seo Yoon kembali memutar bola matanya. Ia merasa mual saat melihat tingkah ibu kandungnya sendiri. Bahkan pertanyaannya harus tertunda beberapa saat hanya karena cara minum ibunya –yang sangat lama itu. Seolah tidak mau merusak lipstick –yang Seo Yoon tahu harganya pasti sangat mahal.

Nyonya Shin atau mungkin sekarang telah berganti menjadi nyonya Lee –karena telah menikah dengan pemilik perusahaan Lee –itu menaruh kembali gelas berisi sirup buahnya keatas meja. Ia menatap Seo Yoon lalu tersenyum simpul.

“Ini tentang masa depanmu,” jawabnya kemudian. Seo Yoon menelan ludahnya lalu menghela napas panjang.

“Kenapa eomma harus ikut campur ? Aku yang akan menentukan masa depanku sendiri,” tukas Seo Yoon. Nyonya Lee melepas kacamata hitam yang masih dipakainya kemudian menggenggam kedua tangan Seo Yoon dengan erat.

“Kau masih sangat muda, Seo Yoon. Hidupmu masih sangat panjang. Apa kau tidak mau menikah lagi ?” ucapan nyonya Lee hanya ditanggapi sebuah senyuman oleh Seo Yoon. Seo Yoon melepaskan genggaman tangan wanita itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Aku tidak pernah berpikir akan menikah lagi, eomma. Kenapa eomma tiba-tiba menanyakan hal itu ?” dan Seo Yoon sudah mulai merasa jengah ketika nyonya Lee mulai memasuki kehidupan pribadinya. Pasti ada sesuatu dibalik semua rasa keingintahuan wanita itu.

Eomma ingin menjodohkanmu,”

Seo Yoon tersedak air liurnya sendiri saat ucapan itu terlontar dari bibir nyonya Lee. Ia menoleh dengan cepat, mengerjapkan kedua matanya kemudian tertawa pelan. Merasa lucu dengan ucapan ibunya sendiri.

“Menjodohkanku ? Astaga, eomma. Kau tidak ingat aku sudah punya Yun Min ? Bagaimana bisa kau berpikir untuk menjodohkanku ?” tanya Seo Yoon kesal.

“Kalau memang Yun Min yang menjadi pemberat hidupmu, aku akan mengurusnya. Kau bisa menikah lagi dan biarkan Yun Min tinggal bersamaku. Ini semua demi kebaikanmu, Shin Seo Yoon. Eomma ingin menjodohkanmu dengan salah satu anak pemilik relasi perusahaan Donghae. Pikirkan masa depanmu juga,” jawab nyonya Lee seraya tersenyum –dan tanpa merasa bersalah sedikit pun atas ucapannya.

Dan tanpa bisa dicegah, setetes air mata meluncur dari kedua mata Seo Yoon. Ia tidak pernah habis pikir kenapa nyonya Lee bisa berpikir bahwa Yun Min menjadi pemberat kehidupannya. Ia bahkan selalu merasa bersyukur karena kehadiran anak laki-lakinya. Ia tidak pernah berpikir seperti itu, apalagi menyesal telah melahirkan Yun Min. Dengan seenaknya, nyonya Lee ingin menjodohkannya dengan membawa-bawa nama Donghae –suami baru wanita itu.

“Tidak. Terima kasih atas tawaranmu, eomma. Dengan adanya Yun Min saja, aku sudah merasa cukup. Aku tidak butuh orang lain lagi. Dan kurasa, perjodohan itu bukan yang terbaik untukku. Tapi yang terbaik untuk Donghaeahjussi dan eomma” Seo Yoon menarik napas dalam-dalam lalu menyeka aliran air mata di pipinya, “Hal penting yang harus kau ketahui, eomma. Yun Min sama sekali bukan pemberat dalam hidupku. Dia adalah hadiah terindah yang pernah diberikan Tuhan untukku,”

“Seo Yoon-ssi. Kenapa kau tidak bisa berpikir tentang masa depanmu sendiri ? Ah, atau mungkin kau masih memikirkan Baek Hyun ? Laki-laki brengsek yang menghamilimu lalu pergi menghilang begitu saja ?” tanya nyonya Lee lagi dan tepat menyentuh bagian tersensitif di dalam hati Seo Yoon.

“Baek Hyun bukan laki-laki brengsek, eomma. Sebutan itu lebih cocok untuk seorang wanita yang tiba-tiba datang, mengolok-olok anakku dan tiba-tiba ingin menjodohkanku hanya karena kesenangan dirinya dan suami barunya,”

PLAK

Nyonya Lee merasakan kedua matanya memanas. Ia mengambil kembali kacamata hitam miliknya yang diletakkan diatas meja lalu memakainya. Mencoba menutupi gumpalan air mata di pelupuk matanya.

“Kau berani menghina eomma sekarang ? Sejak kapan kau menjadi anak kurang ajar seperti ini hah ?!” pekik nyonya Lee.

Seo Yoon mengusap pipinya yang terasa perih. Ia menyeringai pelan kemudian menatap nyonya Lee jengah.

“Apa ada yang salah dengan ucapanku ? Kau tidak pernah peduli denganku sebelumnya. Bahkan ketika aku hidup sendirian –setelah perceraianku dengan Baek Hyun, eomma lebih memilih tinggal bersama Donghae –yang notabenememiliki banyak uang. Meninggalkanku tanpa uang sepeser pun dan hanya menjenguk sesekali saja. Itupun hanya duduk selama 5 menit di apartemenku dan sisa hari lainnya, eomma habiskan untuk berbelanja,” ujar Seo Yoon panjang lebar hanya dengan satu kali tarikan napas. Tangan nyonya Lee kembali terangkat untuk menampar anaknya, Seo Yoon memejamkan kedua matanya bersiap untuk menerima tamparan itu. Namun kemudian sebuah suara membuat Seo Yoon kembali membuka matanya.

Jinki ?

“Siapa kau ?” tanya nyonya Lee, pada Jinki yang masih memegangi pergelangan tangannya. Jinki hanya tersenyum lalu perlahan melepaskan cengkeraman tangannya pada wanita itu.

“Mungkin ini terdengar tidak sopan. Tapi lebih baik kau pergi dari sini untuk sementara. Seo Yoon tidak akan bisa berdiskusi, dalam keadaan seperti ini,” tutur Jinki –masih tidak menghilangkan senyum manisnya.

Nyonya Lee berdiri dari sofa, memakai kembali mantel bulu miliknya dengan tergesa. Dan tanpa mengucapkan apapun, wanita itu beranjak keluar dari sana. Meninggalkan Seo Yoon yang masih menangis dan Jinki yang masih berdiri mematung didekat sofa.

“Aku membencinya,” gumam Seo Yoon pelan. Jinki tersenyum samar lalu mengambil tempat duduk tepat di sebelah wanita itu.

“Apa yang harus kulakukan sekarang agar kau berhenti menangis ?” tanya Jinki polos. Seo Yoon mengusap kedua pipinya kemudian menoleh, menatap Jinki seraya tersenyum simpul.

“Kau tidak perlu melakukan apapun, karena aku akan berhenti menangis sebentar lagi. Aku hanya terbawa emosi karena ucapan eomma tadi,” balas Seo Yoon, lalu menatap Jinki dengan kedua mata bulatnya. Jinki memalingkan wajah dengan cepat.

“Berhenti menatapku seperti itu,”

Dan bahkan tanpa Jinki melakukan apapun, Seo Yoon sudah bisa kembali tersenyum. Mood buruknya menguap begitu saja saat melihat Jinki tengah tersenyum padanya. Perlahan kedua tangan Seo Yoon terangkat, melingkarkannya pada tubuh Jinki dan memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu laki-laki itu, mencoba mencari kenyamanan yang selalu ia dapatkan sebelumnya.

“Boleh aku mengatakannya sekali lagi ? Kau teman terbaik yang pernah kukenal, Lee Jinki,”

Jinki tidak bisa menyembunyikan kegugupannya saat itu dan malah menggaruk tengkuknya, bingung harus melakukan apa ketika Seo Yoon tiba-tiba memeluknya. Setidaknya, walaupun Seo Yoon hanya menganggapnya sebagai seorang teman, ia masih tetap bisa memeluk wanita itu.

***

Bel istirahat baru saja berbunyi beberapa saat yang lalu. Yun Min membereskan kembali plastisin –yang telah dimainkan olehnya ke dalam kotak lalu berlari menuju kamar mandi yang berada didalam ruang kelasnya. Mencuci tangan sebelum memakan bekal –karena tangannya lengket, penuh dengan sisa plastisin. Dan baru saja ia melangkah keluar dari kamar mandi, ketika telinganya tidak sengaja mendengar pembicaraan beberapa teman sekelasnya. Karena suasana tidak terlalu riuh, ia bisa sedikit mendengar pembicaraan beberapa anak itu. Dan hal itu menyangkut dirinya.

“Kemarin aku dan eomma pergi ke sebuah café di ujung jalan ini. Dan kalian tahu ? Aku melihat appanya Yun Min yang menjadi salah satu pelayan disana. Kukira Yun Min termasuk keluarga kaya karena bisa sekolah disini,” ucapan salah satu anak laki-laki itu membuat Yun Min mengepalkan kedua tangannya. Merasa kesal karena anak laki-laki itu sudah mengejek keluarganya.

“YA !” pekik Yun Min seraya berlari menghampiri kerumunan teman sekelasnya itu.

“Waa, ada anak seorang pelayan disini,” kekeh salah satu anak perempuan. Yun Min mendengus pelan kemudian berdiri tepat di hadapan anak laki-laki –yang baru saja membicarakan keluarganya itu.

“Jangan sok tahu, Jong In ! Appaku seorang pengusaha yang baru pulang dari tugas luar negerinya. Dia tidak mungkin bekerja di café !” seru Yun Min kesal. Anak laki-laki itu turun dari meja –tempat duduknya beberapa saat yang lalu dan kemudian menggeleng dengan polosnya.

“Aku melihatnya sendiri. Dia yang sering menjemputmu kesini ‘kan ? Kau yang jangan sok tahu, Yun Min. Tanya ke appamu dulu tentang pekerjaannya. Aku tidak berbohong,” anak laki-laki bernama Jong In itu menjulurkan lidahnya lalu berjalan melewati Yun Min –dengan sedikit menabrak bahu anak itu.

“YA !”

BRAK

“Shin Yun Min !” seorang wanita –salah satu guru di taman kanak-kanak itu refleks memekik ketika memasuki kelas dan melihat Yun Min mendorong Jong In hingga menabrak kursi. Jong In mulai terisak dan kemudian menangis kencang –karena kepalanya berhasil membentur pinggiran kursi kayu. Tidak berdarah. Namun terlihat sedikit kemerahan.

“Astaga. Kenapa kau mendorongnya, Shin Yun Min ?!” tanya wanita itu setengah berteriak seraya mengangkat tubuh Jong In ke dalam gendongannya. Yun Min memalingkan wajahnya ke samping lalu mendengus pelan.

“Dia menghina orangtuaku, saem,” jawab Yun Min acuh.

“Aku-aku tidak menghina. Itu memang kenyataan, sonsaengnim,” lirih Jong In manja. Yun Min memutar bola matanya. Ternyata Jong In masih bisa mencari simpati dalam keadaan seperti itu.

“Tapi dia menghina appaku, sonsaengnim !!” pekik Yun Min lagi, merasa tidak terima. Dan pekikan Yun Min malah membuat tangisan Jong In semakin keras.

“Sudah ! Jong In, ayo obati lukamu di ruang kesehatan. Dan kau, Yun Min. Tunggu di ruang kepala sekolah. Sonsaengnim akan menelepon kedua orangtuamu,” ujar wanita itu lalu berjalan dengan tergesa keluar ruang kelas.

“Kau jahat,” gumam beberapa anak perempuan didekatnya. Yun Min merasakan kedua matanya mulai memanas. Bagaimana pun juga ia hanya seorang anak kecil –yang sangat sensitif dengan bentakan seperti tadi. Seo Yoon bahkan jarang sekali membentaknya. Dan ia merasa malu ketika Jinki memang benar bekerja menjadi seorang pelayan café.

***

Seo Yoon mendesah napas pelan saat melangkah keluar dari ruang kepala sekolah. Ia segera menghampiri Jinki dan Yun Min yang tengah duduk di ayunan. Well, penjelasan dari kepala sekolah tadi cukup membuatnya kaget juga. Mendengar ucapan salah satu guru –yang menjadi saksi dan seorang anak –laki-laki yang menjadi korban itu, membuat Seo Yoon sedikit kesal juga sebenarnya. Karena ia tahu Yun Min tidak akan berlaku kasar pada anak laki-laki itu tanpa alasan yang kuat.

Langkah Seo Yoon terhenti tepat di hadapan anak laki-lakinya. Ia berjongkok tepat dihadapan Yun Min yang masih saja terisak kecil sambil menundukkan kepalanya. Dengan lembut ia mengusap puncak kepala anak itu.

“Jadi, kenapa kau mendorongnya tadi ?” tanya Seo Yoon, mencoba mendengar cerita dari sisi anaknya –yang menjadi tersangka. Yun Min menggeleng pelan dan masih tetap menundukkan kepalanya.

“Katakan saja, Yun Min-ah,” timpal Jinki kemudian. Yun Min segera mengangkat kepalanya, menoleh pada Jinki dan menatap kedua mata laki-laki itu.

Appa bohong ! Eomma bilang appa sibuk bekerja diluar negeri karena mengurus perusahaan. Tapi Jong In melihat appa jadi pelayan di café  ! Aku malu,” seru Yun Min. Jinki terlihat bingung. Ia tidak pernah tahu-menahu atas ucapan Seo Yoon tentang pekerjaannya. Seo Yoon berdehem pelan lalu kembali mengusap puncak kepala anak itu.

“Yun Min-ah, eomma akan –,”

Molla ! Aku tidak peduli lagi !” Yun Min menggelengkan kepala dengan cepat, melompat turun dari ayunan kemudian berlari memasuki kelasnya.

Seo Yoon memijat keningnya yang terasa berdenyut. Ia sudah terlalu banyak membohongi Yun Min. Tidak bisa disebutkan lagi berapa macam kebohongan yang sudah ia katakan pada anak laki-lakinya. Dan ia menjadi merasa bersalah pada Jinki. Karena dirinya, Jinki selalu mendapat bentakan dari Yun Min.

Mian. Sejak Yun Min kecil, aku selalu mengatakan seperti itu kalau dia menanyakan tentang ayahnya. Kau tidak tahu apapun, tapi Yun Min selalu melimpahkan kebenciannya padamu,” Seo Yoon tersenyum samar lalu beralih duduk di ayunan –yang baru saja ditempati Yun Min beberapa saat yang lalu.

“Yun Min tidak salah. Dia benar, Seo Yoon-ah. Yun Min pasti malu mempunyai seorang ayah yang bekerja menjadi pelayan. Ya, walaupun aku bukan ayah –yang sebenarnya. Tapi untuk sekarang aku sedang berperan menjadi ayahnya bukan ? Gwenchana, dia tidak mengerti apa-apa,” balas Jinki seraya tersenyum manis –seperti biasanya. Seo Yoon menghela napas panjang lalu memukul pelan lengan Jinki.

“Kenapa kau sangat baik, sih ? Aku kira kau akan marah karena Yun Min membentakmu,” ucapan Seo Yoon, membuat Jinki melipat senyumnya lalu memasang ekspresi datar.

“Kau mau aku marah ?” tanya Jinki, sontak membuat Seo Yoon menoleh dengan cepat. Wanita itu malah tertawa melihat wajah Jinki yang dibuat seram –padahal sebenarnya terlihat sangat menggemaskan di mata Seo Yoon. Ia mencubit kedua pipi Jinki dengan keras.

“Baiklah. Kau memang tidak cocok menjadi seorang pemarah,” sahut Seo Yoon setelah berhasil menghentikan tawanya. Ia kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, “Aku mau menyiapkan kejutan untuk Yun Min. Kau mau ikut berbelanja ? Atau kau ada shift kerja hari ini ?”

Jinki mengernyit heran, “Kejutan ?”

“Besok Yun Min ulang tahun. Aku akan membuat pesta kecil-kecilan untuknya,” jawab Seo Yoon. Jinki mengangguk pelan. Ia mengingat kembali jadwal kerjanya dan berharap bisa menemani Seo Yoon berbelanja. Well, walaupun tidak libur ia akan meminta izin tidak masuk saja.

“Tidak ada, aku libur hari ini. Jadi, aku bisa ikut berbelanja,” balas Jinki –bersemangat.

Seo Yoon beranjak dari ayunan diikuti Jinki beberapa detik setelahnya. Keduanya berjalan keluar dari area taman kanak-kanak itu. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum Yun Min pulang. Tatapan Seo Yoon beralih pada Jinki yang berjalan tepat di sebelahnya. Tiba-tiba saja seulas senyum muncul di bibirnya. Ia merasa bahwa kehadiran Jinki, membuat hidupnya sedikit banyak mengalami perubahan.

***

Dengan langkah malas, Baek Hyun berjalan memasuki ruang kerjanya. Ia melempar tas kerjanya ke atas sofa disusul tubuhnya sesaat kemudian. Ia merasa tubuhnya hampir ambruk –setelah menjalani rapat selama berjam-jam. Sementara ia hanya sempat tertidur selama dua jam semalam karena menyelesaikan pekerjaan juga. Rasanya ia ingin melarikan diri saja dari semuanya. Ia tidak ingin terlahir menjadi seorang Byun –yang harus menjalani perusahaan ayahnya. Dan seorang Byun –yang harus dipisahkan dari wanita yang sangat dicintainya.

Baek Hyun tersenyum miris saat mengingat apa yang sudah dilakukan ibunya dulu. Memisahkan dirinya secara paksa dari Seo Yoon. Ia tidak pernah menduga bahwa ibunya ternyata bisa membuat pernikahannya hancur. Perceraian –yang sangat tidak diinginkan olehnya itu terjadi begitu saja. Dan bahkan ia tidak diperbolehkan hadir ke persidangan perceraiannya sendiri. Ia sempat berpikir untuk melawan perintah ibunya. Namun, apa yang bisa dilakukannya ketika ibunya malah mengancam keselamatan Seo Yoon ? Ia lebih memilih menghindar, daripada melihat Seo Yoon tersiksa hanya karena keegoisannya.

Dering ponsel membuyarkan seluruh lamunan masa lalu laki-laki itu. Baek Hyun meraih ponselnya yang berada di dalam saku jas dan melihat nama yang tertera disana. Byun Hana.

“Ada apa, Hana-ya ?” tanya Baek Hyun, saat ponsel itu menempel di telinganya.

‘Aku sudah mendapatkan semua yang kau mau, oppa,

Baek Hyun segera menegakkan posisi duduknya. Ia mencoba memperjelas lagi seluruh saraf pendengarannya.

‘Dia tidak pernah menikah dengan laki-laki manapun,”

Jinjja ?”

‘Sepertinya kau harus cepat pulang. Ada kabar yang pasti akan membuatmu terkejut, oppa,’

Baek Hyun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Ia segera mengambil kembali tas kerjanya, melangkah keluar dengan langkah besar kemudian memasuki lift menuju basement –tempat dimana mobilnya terparkir. Ia tidak bisa menyembunyikan seluruh rasa penasarannya tentang kabar yang akan mengejutkan menurut adiknya itu. Well, ia sudah bisa cukup bernapas lega karena ternyata laki-laki –yang pernah ditemuinya ternyata bukan suami Seo Yoon. Pikiran Baek Hyun berputar dengan cepat –saat mengingat seorang anak laki-laki yang memanggil laki-laki –bermata sipit itu dengan panggilan appa.Jika laki-laki itu bukan suami Seo Yoon, maka kemungkinan besar bukan ayah anak laki-laki itu. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya. Bisa saja anak laki-laki itu adalah anaknya bukan ?

[Pretend Continued]

One thought on “Pretend [6th Part]

  1. itu memang anakmu baek xD sebentarrr, kayaknya yang mau dijodohin sama seoyoon itu minho deh. yakan yakan yakan? tebakanku bener kan? semoga aja iya #eh. tapi please seoyoon gausa balik lagi sama baekhyun meskipun yunmin itu anak kandungnya-_- #ditabokbaekhyun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s