Pretend [5th Part]

Author  : Ima (@bling0320)

Casts     : 

  • Shin Seo Yoon
  • Shin Yun Min
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

[Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part] [5thPart]

Ketika terbangun esok paginya, rasa sakit di kaki Seo Yoon semakin menjadi-jadi. Wanita itu hanya bisa terduduk diatas tempat tidur, bahkan untuk menurunkan kakinya ke lantai saja tidak bisa. Dengan terpaksa ia tidak bisa masuk kerja hari itu. Atau mungkin hingga beberapa hari kedepan, sampai sakit di kaki kirinya sedikit membaik. Seo Yoon mengambil ponsel di dekatnya, menghubungi Jinki untuk segera datang ke kamarnya. Sangat lucu, mengingat Jinki tertidur hanya berjarak beberapa meter saja dari kamarnya.

Beberapa saat kemudian pintu kamar itu terbuka. Seo Yoon tersenyum samar dan kemudian membiarkan Jinki duduk di sisi tempat tidurnya.

“Kakimu masih sakit ?” tanya Jinki khawatir. Seo Yoon mengangguk pelan.

“Aku tidak bisa turun dari tempat tidur. Kukira tidak akan separah ini, tapi sepertinya aku tidak akan bisa berjalan sampai beberapa hari kedepan,” jawab Seo Yoon seraya menghembuskan napasnya. Merasa pasrah atas apa yang terjadi.

“Kau tidak akan bekerja ‘kan ?” tanya Jinki lagi. Seo Yoon mendelik ke arah laki-laki itu.

“Jalan saja tidak bisa, apalagi ke kantor, Lee Jinki,” jawab Seo Yoon gemas. Sesaat kemudian Seo Yoon berdehem pelan dan menatap Jinki –dengan tatapanpuppy eyesnya.

Ara ara. Jangan menatapku seperti itu, Shin Seo Yoon !! Aku akan membuat sarapan, mengurus Yun Min seharian, dan membereskan apartemenmu juga. Puas ?” Jinki tersenyum lebar –yang tentu saja dipaksakan dan membuat Seo Yoon terkekeh pelan.

“Waa, gomawoyo, Jinki-ya !” sahut Seo Yoon seraya mencubit kedua pipi Jinki, “Boleh aku minta satu hal lagi ?”

“Apa ?” jawab Jinki ketus, mengusap kedua pipinya yang terasa panas karena cubitan Seo Yoon.

“Temani aku dirumah seharian ini, ne ? Jangan bekerja dulu, sehari saja.Chebal,” mohon Seo Yoon, dan kembali mengeluarkan tatapan puppy eyes nya pada laki-laki itu. Jinki menghela napas panjang lalu mengangguk pelan.

“Ah, jinjja. Kau teman terbaik yang pernah kukenal, Lee Jinki,”

Jinki tersenyum samar lalu beranjak dari sisi tempat tidur Seo Yoon. Berjalan keluar dan hanya berdiri di depan pintu kamar Seo Yoon yang sudah tertutup. Hanya teman ? Jinki berdecak pelan. Kenapa ia malah mengharapkan lebih dari sekedar teman. Seo Yoon tidak mungkin menyukai laki-laki sepertinya. Yang hanya bekerja sebagai seorang pelayan café. Ia hanya seorang laki-laki yang tinggal sementara di apartemen wanita itu.

***

Entah sudah keberapa kalinya Minho membuka pintu ruang kerja Seo Yoon dan tidak menemukan wanita itu disana. Hanya satu hari tidak masuk kerja saja, ia merasa sudah sangat merindukan Seo Yoon. Tidak melihat senyuman ceria wanita itu –yang selalu bisa membuatnya semangat. Minho kembali menutup pintu ruang kerja Seo Yoon. Ia tidak bisa konsentrasi bekerja ketika mengingat keadaan Seo Yoon kemarin.

Minho melangkah memasuki ruang kerjanya kembali. Dan ia sedikit kaget ketika melihat Baek Hyun sudah duduk di atas sofa. Minho membungkuk singkat, ia ikut duduk di salah satu sofa di hadapan laki-laki itu.

“Ada apa, Baek Hyun-ssi ?” tanya Minho ramah –seperti biasanya.

“Tentang proyek hotel perusahaanku. Aku ingin menundanya,” jawaban Baek Hyun sontak membuat senyuman Minho sedikit memudar.

Waeyo ? Apa kau tidak suka dengan pelayanan perusahaanku ?”

“Aaah, tidak. Aku hanya ingin tinggal di Korea untuk sementara. Jadi mungkin, akan aku tunda sampai dua bulan lagi,” jawab Baek Hyun. Laki-laki itu menautkan jari-jarinya lalu memperhatikan penampilan Minho, “Tentang wanita yang kemarin kau perkenalkan,”

“Ah, Shin Seo Yoon ? Kenapa ?” potong Minho, bahkan sebelum Baek Hyun menyelesaikan ucapannya.

“Apa dia bekerja disini juga ?” tanya Baek Hyun menyelidiki.

“Dia seorang manajer disini. Hanya satu tingkat di bawahku. Apa kau pernah mengenalnya ?” tanya Minho lagi. Baek Hyun tertawa hambar kemudian menggeleng.

“Dia di Korea dan aku di Jerman. Bagaimana bisa aku mengenalnya ? Aku hanya bertanya saja,”

Minho melipat senyumnya. Ia menatap tidak percaya ke arah Baek Hyun yang masih saja tertawa hambar. Ada apa dengan Seo Yoon dan Baek Hyun sebenarnya ? Kedua orang itu bahkan menjawab dengan kata-kata yang sama. Dan diakhiri dengan tawaan –yang bahkan terdengar tidak lucu di telinganya. Minho menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ada sesuatu yang aneh diantara Seo Yoon dan Baek Hyun.

***

Seo Yoon berjalan dengan susah payah menuju ruang tengah. Karena merasa bosan didalam kamar, ia memutuskan untuk berjalan-jalan. Untuk melatih kakinya dan juga agar mulai terbiasa untuk berjalan lagi. Jinki sedang keluar untuk menjemput Yun Min dan ia terpaksa harus berada sendirian dirumah. Seo Yoon menyalakan TV lalu membuka toples snack yang memang selalu berada diatas meja. Namun belum beberapa menit duduk disana, Seo Yoon mendengar bel apartemennya berbunyi.

Dan lagi-lagi, dengan susah payah Seo Yoon berjalan menuju pintu. Tanpa berniat melihat siapa yang datang, Seo Yoon membuka pintu apartemennya. Wanita itu membulatkan kedua matanya. Sangat shock ketika melihat laki-laki –yang sangat tidak ingin ditemuinya itu berada disana. Ia segera menutup pintu itu kembali, namun kemudian sebuah tangan mendorong pintu apartemennya dengan lebih kuat.

“Seo Yoon-ah, kita perlu bicara,” seru seorang laki-laki –yang berada dibalik pintu apartemennya itu.

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kita sudah bercerai sejak 5 tahun yang lalu. Pergi sekarang atau aku akan –ah !” Seo Yoon memekik ketika pintu apartemennya terdorong dengan kuat. Ia berjalan mundur, menjauh dari pintu dan membiarkan Baek Hyun membukanya.

“Hanya kali ini saja. Terserah kalau memang kau akan mengusirku setelahnya,” pinta Baek Hyun.

Seo Yoon menatap laki-laki itu sejenak. Ia menghela napas panjang, berbalik dan meninggalkan Baek Hyun menuju ruang tengah, “Masuklah,”

Baek Hyun kembali menutup pintu apartemen Seo Yoon dan mengikuti langkah wanita itu. Seketika dadanya terasa sesak saat melihat foto-foto bayi yang menghiasi hampir setiap sudut apartemen Seo Yoon. Ia menatap foto itu satu persatu. Foto Seo Yoon yang tengah tertawa bahagia bersama seorang anak laki-laki. Baek Hyun memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba untuk mensugesti dirinya sendiri agar mengabaikan foto-foto itu.

“Kakimu kenapa ?” tanya Baek Hyun mencoba berbasa-basi lalu duduk–tepat di sebelah Seo Yoon di sofa ruang tengah.

“Hanya terkilir,” jawab Seo Yoon acuh –tanpa mengalihkan tatapannya dari TV, “Ada perlu apa ? Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran,”

Mianhae,” tangan Seo Yoon terhenti diudara saat ucapan –yang sangat-sangat ditunggunya itu terucap dari bibir Baek Hyun.

“Maaf karena aku meninggalkanmu waktu itu,” lanjut Baek Hyun.  Seo Yoon menggigit bagian dalam bibirnya kuat-kuat. Berusaha agar tidak mengeluarkan air matanya. Ia sangat tidak mau terlihat lemah di hadapan Baek Hyun.

“Kau bahkan tidak datang di sidang perceraian kita,” potong Seo Yoon sebelum Baek Hyun melanjutkan ucapannya.

“Ibuku yang merencanakan semuanya. Perceraian kita, kehamilan wanita –yang bahkan tidak pernah kukenal sebelumnya, dan aku yang dikirim ke Jerman untuk meneruskan perusahaan,” ucapan Baek Hyun membuat Seo Yoon menoleh dengan cepat. Wanita itu berdecak pelan.

“Kau membuat eomoni seolah-olah bersalah sekarang ?” tanya Seo Yoon tidak percaya.

Eomma mengancam akan menghapus namaku dari daftar waris kalau aku menolak semua permintaannya. Ia memintaku untuk pergi ke Jerman dan meninggalkanmu. Sementara ia berusaha membuat kita bercerai dengan cara apapun,”

Seo Yoon mengusap pelan pipi –yang sudah dialiri air mata dari kedua matanya. Ia mengalihkan wajahnya kearah lain. Ada sesuatu yang memenuhi rongga dadanya saat itu. Sangat membuat napasnya terasa sesak.

“Kalau memang eomoni yang melakukannya, kenapa kau baru mengatakannya sekarang ? Kenapa ?” tanya Seo Yoon dan semakin terisak saat rasa sesak itu keluar begitu saja. Ia menatap Baek Hyun –dengan kedua mata yang penuh air mata.

“Kita sama-sama masih sangat muda waktu itu, Seo Yoon-ah. Aku hanya seorang laki-laki muda yang membutuhkan uang dan jabatan. Kau tidak tahu bagaimana hidupku ketika di Jerman. Eomma terus mengancamku untuk tidak berhubungan denganmu lagi, atau kau akan dapat masalah. Maaf sekali lagiaku baru bisa kembali ke Korea sekarang,” Baek Hyun mengusap pelan puncak kepala Seo Yoon dan kemudian menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya.

“Aku membencimu, Byun Baek Hyun ! Lepas !!” seru Seo Yoon seraya mendorong Baek Hyun dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Namun tetap tidak berhasil.

“Ayo kita ulang lagi semuanya. Shin Seo Yoon dan Byun Baek Hyun. Aku masih sangat mencintaimu, Seo Yoon-ah,”

Seo Yoon memperkeras tangisannya. Tangannya perlahan naik, balas memeluk Baek Hyun dengan sangat erat. Rasanya sudah sangat lama ia tidak merasakan pelukan hangat seperti itu. Sebenci apapun perasaannya pada Baek Hyun, seluruh tubuhnya tidak bisa menolak apa yang diberikan laki-laki itu.

Entah bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu. Bahagia. Namun perasaan sedih dan kecewa yang lebih mendominasi. Ia kecewa dan sedih saat menyadari ternyata Baek Hyun tidak lebih dari seorang laki-laki pengecut yang kabur hanya karena ancaman ibunya. Dan sedikit merasa bahagia ketika tahu, Baek Hyun ternyata masih mencintainya.

Namun pikiran Seo Yoon dipenuhi oleh Yun Min dan Jinki. Entah kenapa ingatan saat keduanya tertawa bersama membuat Seo Yoon kembali ragu. Dan hal terakhir yang membuatnya semakin ragu adalah, Choi Minho. Laki-laki yang disukainya selama dua tahun terakhir. Ketika Baek Hyun memintanya untuk mengulang kembali, Seo Yoon merasa bahwa orang-orang di sekitarnya akan banyak yang tersakiti. Termasuk dirinya yang harus merelakan perasaan sukanya pada Minho untuk kembali pada Baek Hyun.

“Kau bisa menunggu ?” tanya Seo Yoon, setelah berpikir secara singkat tentang kehidupannya.

“Aku tahu kau sudah menikah dan mempunyai seorang anak sekarang. Tapi aku tidak main-main, Seo Yoon-ah,” Baek Hyun kembali mengusap puncak kepala Seo Yoon, sama seperti yang dilakukannya beberapa tahun lalu –ketika mereka masih bersama.

Ahni. Kau salah –,”

“Aku akan menunggu, Seo Yoon-ah,”

“Dengarkan dulu. Ini bukan –,”

Eomma !! Kami datang !” ucapan Seo Yoon terpotong saat teriakan Yun Min memenuhi apartemennya.

“Seo Yoon-ah, kenapa pintunya –,” Jinki menghentikan langkah dan ucapannya. Ia melepaskan genggaman tangan Yun Min dan hanya menatap pemandangan di depannya dengan nanar.

Seo Yoon melepaskan pelukan itu dengan cepat. Ia segera menghapus air mata –yang masih membasahi pipinya kemudian berdiri dari sofa. Memperhatikan Yun Min dan Jinki yang masih berdiri di dekat pintu masuk.

Eomma. Apa yang kau lakukan dengan ahjussi itu ?” tanya Yun Min polos. Jinki berjongkok tepat di sebelah anak laki-laki itu lalu mengacak rambutnya.

“Tolong ke apartemen Shin Young ahjumma sebentar. Nanti appamenjemputmu,” seru Jinki dan Yun Min hanya menurutinya saja. Ia mengerti apa yang akan terjadi diantara kedua orangtuanya nanti.

Setelah memastikan Yun Min memasuki apartemen Shin Young, Jinki berdiri menghadap kedua orang yang berdiri di dekat sofa. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan memandangi Seo Yoon. Meminta penjelasan pada wanita itu dengan apa yang terjadi.

“Aku pulang dulu, Seo Yoon-ah,” Baek Hyun tersenyum samar pada Seo Yoon dan Jinki kemudian melangkah menuju pintu, “Maaf sudah memeluk istrimu,” ucapan Baek Hyun membuat Jinki mengepalkan kedua tangannya.

Jinki menghela napas panjang lalu menghampiri Seo Yoon. Ia mengambil tempat duduk di sebelah wanita itu dan memperhatikan air mata Seo Yoon –yang juga belum berhenti mengaliri pipinya. Jinki hanya terdiam. Menunggu hingga Seo Yoon selesai menumpahkan kesedihannya. Ia bahkan tidak berniat untuk memeluk Seo Yoon lagi seperti beberapa hari yang lalu.

“Kau tidak takut Yun Min membencimu ? Dia hanya tahu aku ini ayahnya dan kita sudah menikah. Dia pasti akan berpikir, bahwa kau tidak sebaik apa yang ia pikir. Berdua dan berpelukan bersama laki-laki lain di dalam apartemen,” ujar Jinki, setelah tangisan Seo Yoon sudah sedikit mereda.

“Entahlah. Baek Hyun tiba-tiba datang, menjelaskan alasan kenapa ia meninggalkan dulu. Aku tidak bisa menolak pelukannya, Jinki-ya. Percaya atau tidak, walaupun membenci laki-laki itu, aku tetap merindukannya,” Seo Yoon menghela napasnya sejenak kemudian beranjak dari sofa, “Ingat juga. Kau hanya sebagai ayah pura-pura Yun Min, bukan suamiku,”

“Kau masih mencintainya ?” tanya Jinki, menghentikan langkah Seo Yoon. Wanita itu memejamkan kedua matanya rapat-rapat.

Molla,” jawabnya singkat seraya mengendikkan bahu lalu berjalan keluar apartemen dengan langkah timpang.

Jinki mengusap wajahnya frustasi. Mungkin ia tidak akan mencampuri urusan Seo Yoon sementara ini. Tapi sungguh, ia merasa –sangat sesak saat melihat Seo Yoon menangis karena seorang laki-laki. Apalagi saat melihat Baek Hyun memeluk wanita itu dengan sangat erat tadi. Jinki mengacak rambutnya kemudian beranjak keluar dari apartemen Seo Yoon. Menuju apartemen Shin Young, menyusul Seo Yoon  dan menjemput Yun Min disana.

***

Minho menaruh sebuket bunga dan sekantung buah-buahan yang baru saja dibelinya ke atas jok mobil. Ia memutar mobilnya di jalanan itu menuju jalan Yundae. Dimana gedung apartemen Seo Yoon berada. Ia berencana untuk menjenguk wanita itu. Bagaimana pun juga, ia yang sudah membuat kaki wanita itu terkilir karena mengajaknya ke pesta perusahaan.

Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Minho melangkah keluar dari mobilnya. Baru saja pintu lift yang dinaikinya akan tertutup ketika melihat seseorang yang sangat dikenalinya keluar dari lift yang lain. Sebelum sempat memanggil, pintu lift yang dinaikinya itu benar-benar tertutup. Selama perjalanan menuju lantai yang ditujunya, Minho berspekulasi sendiri dengan pikirannya. Kenapa ia bisa melihat Baek Hyun di gedung apartemen yang sama dengan Seo Yoon.

“Mungkin mereka tinggal di gedung apartemen yang sama. Karena itu mereka terlihat aneh kemarin,” batinnya seraya mengendikkan bahu acuh.

Minho melangkah melewati koridor menuju apartemen Seo Yoon. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ada dua belokan setelah melewati koridor dan ia lupa dimana letak apartemen Seo Yoon. Dan seketika seulas senyum muncul di bibirnya ketika melihat Seo Yoon keluar dari sebuah pintu –yang ia yakini sebagai apartemen wanita itu. Ia mulai berbelok dan melangkah menuju apartemen Seo Yoon. Namun kemudian langkahnya terhenti saat melihat Seo Yoon berbelok memasuki apartemen sebelah diikuti seorang laki-laki –yang juga keluar dari dalam apartemen wanita itu.

Perlahan Minho melangkah mendekati apartemen –yang baru saja dimasuki Seo Yoon dan seorang laki-laki itu. Ia berdiri di tembok –tepat di sebelah pintu dan kemudian mendengar percakapan dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.

Eomma, kenapa ahjussi yang menolongku waktu itu bisa ada di apartemen kita ?” tanya sebuah suara –yang Minho yakini seorang anak kecil.

“Dia teman lama eomma, sayang,” jawab suara lainnya dan Minho sangat mengenal suara itu. Suara –yang selalu menarik perhatiannya akhir-akhir ini. Shin Seo Yoon.

“Tapi kenapa dia memeluk eomma Nan sirho,

“Yun Min-ah, kau tidak akan mengerti. Sekarang ayo kita pulang. Appa akan memasak makan siang untuk kita semua,”

Suara seorang laki-laki –yang menyebut dirinya appa itu berhasil membuat dunia Minho berhenti berputar seketika. Laki-laki itu menatap sebuket bunga dan sekantung buah-buahan di kedua tangannya. Ia mengintip melalui celah pintu, melihat seorang anak kecil berada di gendongan Seo Yoon dan seorang laki-laki yang berdiri tepat dihadapan wanita itu. Setelah menghela napas panjang, Minho berbalik kembali dan meninggalkan tujuannya semula untuk menjenguk Seo Yoon.

Minho memasukkan buket bunga dan buah yang dibawanya itu ke dalam tong sampah di dekat lift. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah lalu membukanya. Memandangi sebuah cincin berlian –yang tadinya akan diberikan pada Seo Yoon. Tangan Minho terangkat. Menyentuh bagian dadanya yang terasa sesak disana. Kepercayaannya pada wanita itu menghilang begitu saja. Seorang Shin Seo Yoon yang dicintainya ternyata tidak lebih dari seorang pembohong besar. Membohongi perusahaan tentang statusnya dan yang terpenting, wanita itu sudah membohongi dirinya.

***

Laki-laki itu memasuki apartemennya dengan malas. Ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa dan hanya menatap langit-langit penthouse nya. Ketika sedang diam seperti itu saja, bayang-bayang Seo Yoon masih terus berputar di dalam kepalanya. Laki-laki itu menghela napas panjang. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat lalu berteriak. Merasa frustasi dengan apa yang terjadi pada hidupnya.

Oppa ? Kau sudah pulang ?” tanya Hana seraya melangkah masuk dan menghampiri Baek Hyun yang sudah duduk disofa.

“Kau darimana ?” tanya Baek Hyun lalu memperhatikan dua tas plastic yang berada di kedua tangan gadis itu.

“Membeli makanan kecil didepan,” jawab Hana acuh, mengeluarkan beberapa bungkus makanan kecil dan dua botol soju keatas meja ruang tamu.

“Ya ! Kau melarangku mabuk, tapi kau sendiri malah membeli soju !” pekik Baek Hyun tidak terima. Hana terkekeh pelan kemudian menyerahkan satu botol sojupada kakaknya itu.

“Karena sekarang kita minum berdua, jadi aku tidak akan marah,” balas Hana, melebarkan senyumnya –yang polos.

Baek Hyun berdecak pelan lalu segera membuka tutup botol soju itu. Menuangkannya pada gelas karton yang sudah disediakan Hana dan menghabiskannya dalam sekali tegukan. Ia menatap Hana yang meminum sojuitu dengan perlahan-lahan. Dan lagi-lagi bayangan Seo Yoon kembali muncul di kepalanya.

“Bagaimana kalau aku melawan eomma kali ini,” ujar Baek Hyun tiba-tiba, membuat Hana menoleh dan menatap heran kearahnya.

“Melawan tentang apa ?” tanya Hana penasaran.

“Shin Seo Yoon,”

Tangan Hana yang tengah memegang gelas karton itu terhenti diudara, “Jangan katakan kalau oppa …

“Aku akan merebutnya kembali. Mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak dulu. Aku tidak peduli dia sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak sekarang. Aku masih sangat mencintainya, Byun Hana. Aku tidak bisa melihatnya bahagia bersama orang lain,” jawab Baek Hyun panjang lebar. Hana membulatkan kedua matanya tidak percaya.

“Tapi eomma serius dengan ancamannya. Kau mau melihat Seo Yoon eonnimenderita karena keegoisanmu, oppa ? Akan ada banyak orang yang tersakiti kalau kalian bersama lagi,” balas Hana, berusaha menyadarkan laki-laki itu.

“Aku tidak butuh jabatan di perusahaan dan tidak mau mempedulikan orang lain. Hanya Seo Yoon. Aku hanya membutuhkan Seo Yoon,”

Oppa, kenapa kau jadi egois seperti ini ?” tanya Hana, dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak bisa melihat kakaknya menjadi orang jahat hanya karena seorang wanita.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya, Hana-ya. Kau tidak akan pernah mengerti,” Baek Hyun menjauhkan botol soju miliknya yang sudah kosong kemudian beranjak dari sofa. Memasuki kamar dan meninggalkan Hana yang tiba-tiba terisak pelan. Gadis itu meremas kuat gelas karton yang berada di genggamannya. Bahkan seorang Byun Baek Hyun yang selalu bersabar pun pada akhirnya meledak juga.

***

Cuaca malam yang dingin membuat Seo Yoon semakin mengeratkan Yun Min didalam dekapannya. Setelah bertemu dengan Baek Hyun kemarin, Seo Yoon sadar bahwa Yun Min harus segera mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Tentang Jinki yang hanya sebagai ayah pura-pura dan Baek Hyun yang merupakan ayah kandung anak laki-laki itu. Ia hanya tidak ingin Yun Min semakin terlarut dalam asuhan Jinki. Dan ia akan segera membuat keputusan tentang hubungannya dan Baek Hyun.

Perhatian Seo Yoon teralihkan ketika mendengar dering ponsel. Ia melepaskan Yun Min yang sudah tertidur lalu duduk diatas tempat tidur. Mengambil ponselnya yang berada diatas nakas dan melihat nama yang tertera disana. Seulas senyum muncul di bibirnya ketika melihat nama seseorang yang sudah tidak ditemuinya dalam beberapa hari terakhir. Mengingat insiden yang terjadi pada pergelangan kaki kirinya.

Yeoboseyo,” sapa Seo Yoon ramah. Namun tidak terdengar jawaban apapun di seberang sana. Baru saja Seo Yoon akan kembali membuka mulut, ketika suara berat milik laki-laki itu menyela.

‘Aku tunggu di taman gedung apartemenmu. Sekarang,’

“Minho-ssi, ada ap –,”

Seo Yoon mengernyit heran saat Minho tiba-tiba memutuskan teleponnya. Ia memperhatikan Yun Min yang sudah tertidur pulas kemudian beranjak keluar dari kamar anak itu. Ia mengambil mantel yang tergantung didekat pintu lalu memakainya. Namun kemudian Seo Yoon menoleh ke arah pintu kamar Jinki, saat sang pemilik kamar melangkah keluar.

“Kau mau kemana ?” tanya Jinki seraya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam.

“Keluar sebentar,” jawab Seo Yoon singkat, tersenyum samar pada Jinki lalu membuka pintu apartemennya. Masih dengan sedikit timpang, Seo Yoon mencoba menahan rasa sakit yang tersisa di pergelangan kakinya. Dengan bantuan dinding, akhirnya ia berhasil mencapai lift.

Seo Yoon mengitarkan pandangan ke setiap sudut taman gedung apartemennya. Dan ia bisa bernapas lega, melihat Minho tengah duduk di sebuah kursi didekat danau. Seo Yoon berjalan mendekat kemudian mengambil tempat duduk tepat di sebelah laki-laki itu.

“Aah, akhirnya sampai juga,” gumam Seo Yoon seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi taman.

Tidak ada suara apapun selain suara lalu lalang mobil di jalanan. Keadaan sangat hening dan membuat Seo Yoon sedikit heran. Biasanya laki-laki itu selalu membuat topic pembicaraan dengannya. Seo Yoon memajukan tubuhnya dan memperhatikan wajah Minho dari samping. Bahkan hanya memandangi seperti itu saja, jantungnya sudah berdetak lebih cepat.

“Apa kabar ?” tanya Seo Yoon, mencoba membuka pembicaraan. Terdengar helaan napas panjang dari Minho sebelum menjawab pertanyaan Seo Yoon.

“Sangat tidak baik,” jawaban Minho membuat Seo Yoon panik.

Wae ? Kau sedang sakit ?” tanya Seo Yoon khawatir.

“Tidak juga,”

Seo Yoon menghela napas lega. Wanita itu berdehem pelan kemudian menggosokkan kedua tangannya yang terasa dingin. Entah kenapa ia merasa sangat kikuk dengan Minho kali ini. Sesaat kemudian Seo Yoon tersentak ketika lengan Minho tiba-tiba saja melingkari pundaknya. Ia menoleh dengan cepat, memandang wajah Minho yang berjarak sangat dekat. Dan ia bisa merasakan jantungnya semakin cepat memompa darah, bahkan cuaca dingin pun kini terasa hangat di tubuhnya.

Seo Yoon tidak bisa mengelak ketika Minho mulai mendekatkan wajahnya. Perlahan Seo Yoon menutup kedua matanya hingga kemudian bibir Minho pun menyapu bibirnya dengan lembut. Lengan Minho semakin erat memeluknya. Tidak ada yang bisa dilakukan Seo Yoon selain mencengkeram jas yang dikenakan laki-laki itu. Seo Yoon bahkan tidak ingat kapan terakhir kali merasakan ciuman lembut –setelah perceraiannya dengan Baek Hyun. Dan Seo Yoon tahu bahwa hanya Minho yang bisa membuatnya tersentuh seperti saat itu.

Beberapa saat kemudian Minho menjauhkan wajahnya. Laki-laki itu tertawa pelan seraya mengusap bibirnya. Seo Yoon –yang belum sadar sepenuhnya akan kejadian tadi hanya bisa menatap kosong ke arah Minho.

“Sudah kuduga. Kau ternyata seorang wanita murahan, Seo Yoon-ssi,”

Seo Yoon segera mengerjapkan kedua matanya saat kata-kata kotor itu meluncur dari bibir Minho, “NE ?!”

“Wanita murahan,”

PLAK

Kedua mata Seo Yoon mulai memanas. Ia segera berdiri dari kursi lalu mendorong tubuh laki-laki itu dengan sisa tenaganya. Ia bahkan tidak pernah habis pikir kenapa Minho tiba-tiba menyebutnya wanita murahan. Apa ia sudah membuat kesalahan selama ini ?

“Kau tetap mau dicium olehku, padahal suami dan anakmu tengah tertidur pulas di dalam sana, Seo Yoon-ssi,” seru Minho seraya menunjuk gedung apartemen Seo Yoon dengan dagunya

Jantung Seo Yoon berhenti berdetak seketika. Ia mengangkat wajahnya, menatap kedua mata Minho yang menunjukkan kilatan kemarahan. Darimana laki-laki itu tahu tentang dirinya ?  Atau mungkin Baek Hyun yang memberitahunya ? Seo Yoon segera menutup mulutnya. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh kedua lengan Minho, namun laki-laki itu sudah melangkah mundur. Menghindarinya.

“Lalu apa sebutannya untuk wanita seperti itu selain murahan ?”

Rasa panas menyengat di sekitar matanya pun kini berubah menjadi genangan air mata. Seo Yoon menurunkan kedua lengannya kembali. Ia merasa kecewa. Sangat kecewa terhadap apa yang telah didengarnya dari mulut seorang Choi Minho.

“Sebaiknya besok bereskan barang-barang kotormu di kantor. Aku tidak mau mempekerjakan seorang pembohong besar sepertimu di perusahaan keluargaku, Shin Seo Yoon,” potong Minho, merogoh saku celananya lalu melemparkan sebuah amplop coklat –berisi uang pesangon Seo Yoon ke atas kursi taman yang mereka duduk beberapa saat yang lalu.

“Aku bisa jelaskan semuanya,” isak Seo Yoon.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan, Seo Yoon-ssi. Kau dipecat,”

Seo Yoon menggeleng tidak percaya. Pekerjaannya. Pekerjaan yang sangat dicintainya itu menghilang begitu saja. Dan kemudian isakan kecil itu pun berubah menjadi sebuah tangisan. Ia hanya menatap punggung Minho yang sudah berjalan menjauhinya. Kenapa semuanya terasa begitu menyakitkan ? Saat Minho menyebutnya seorang wanita murahan, rasanya ada sebuah batu besar yang menghantam kepalanya. Ternyata ucapan dari seseorang yang dicintai, terasa lebih menyakitkan. Ia bahkan kesulitan bernapas sekarang. Seo Yoon memukul-mukul dadanya sendiri. Rasa sesak itu sangat menghalangi saluran pernapasannya.

Wae irae ?” tanya Seo Yoon.

Sesaat kemudian Seo Yoon bisa merasakan sebuah lengan menarik tubuhnya ke dalam sebuah pelukan hangat. Seo Yoon memperkeras tangisannya dan balas memeluk Jinki. Lagi dan lagi. Pada akhirnya ia akan kembali membasahi baju Jinki dengan tangisannya. Selalu saja, ketika ia sedang merasa down, Jinki selalu datang di waktu yang tepat. Disaat dirinya bahkan tidak mampu untuk berdiri.

***

Barang-barang yang berada di dalam ruang kerjanya pun menjadi pelampiasan kemarahan Minho malam itu. Ia menjatuhkan semua benda yang berada diatas meja kerjanya. Merasa frustasi dengan keadaan yang ada. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerja lalu mengepalkan kedua tangannya. Ia membenci Seo Yoon. Sangat membenci wanita itu. Selama dua tahun ia mempercayai seorang Shin Seo Yoon. Dan selama dua tahun juga wanita itu ternyata telah memberi harapan kosong padanya.

Minho membuka laci meja kerjanya, mengambil sebuah kotak beludru berwarna merah –berisi cincin berlian yang diberikan oleh ibunya secara turun-temurun. Ibunya bahkan sudah memberikan cincin itu padanya untuk segera mencari pendamping hidup. Dan ia baru saja akan melamar Seo Yoon, ketika mendengar semua kenyataan pahit itu. Sebuah kenyataan bahwa wanita yang dicintainya, ternyata sudah menikah dan bahkan mempunyai seorang anak yang sudah cukup besar.

“Tuan muda. Nyonya besar menunggu anda dibawah,” sebuah suara membuyarkan lamunan Minho. Laki-laki itu kembali memasukkan kotak itu kedalam laci kerjanya lalu beranjak dari kursi. Ia melewati wanita paruh baya –yang merupakan salah satu pelayan di rumahnya itu.

Ahjumma, tolong bereskan ruang kerjaku,” titah Minho seraya tersenyum samar. Ia segera menuruni tangga, menghampiri ibunya yang tengah duduk di meja makan. Hanya sendirian tentu saja.

Minho menarik kursi di salah satu bagian meja makan –tepat berseberangan dengan ibunya. Ia meneguk segelas air putih yang berada di dekatnya, lalu menatap kedua mata nyonya Choi. Tatapan wanita itu seolah mendesak dan Minho mengerti apa yang akan dibicarakan oleh ibu kandungnya itu.

“Aku… tidak jadi melamarnya, eomma,” jelas Minho akhirnya. Nyonya Choi menghela napas panjang. Ia merogoh tas tangan yang selalu dibawanya dan mengeluarkan beberapa lembar foto wanita tepat ke hadapan anak laki-lakinya.

“Itu semua foto anak teman-teman eomma. Mungkin kau tertarik dengan salah satunya. Terpaksa, eomma harus menjodohkanmu, Minho-ya,” nyonya Choi tersenyum simpul, berharap jika anak laki-laki satu-satunya itu bisa memilih diantara wanita-wanita itu.

Minho menatap semua foto itu dengan tidak berselera. Ia harus membayar atas apa yang sudah dijanjikan pada ibunya –namun tidak bisa ditepati. Sebuah perjanjian dimana jika ia tidak bisa membawa wanita pilihannya sendiri, maka nyonya Choi yang akan memilihkan wanita untuknya. Minho tersenyum miris. Ia hanya mengambil salah satu foto dengan asal lalu menyerahkannya pada nyonya Choi. Mungkin dengan menikahi wanita lain, ia akan lebih mudah melupakan rasa sakit hatinya pada Seo Yoon. Dan laki-laki itu tidak harus terpuruk di dalam lubang yang sudah ia buat sendiri.

***

Sangat menyedihkan ketika mengingat perusahaan –tempatnya bekerja itu sudah tidak bisa didatangi lagi olehnya. Seo Yoon memandangi bagian dalam ruang kerja yang sudah ditempatinya dalam satu tahun terakhir. Sebuah ruangan dimana ia dan Minho sering mengobrol dan sebuah ruangan dimana Seo Yoon bisa sangat nyaman berada di dalamnya. Ia bahkan sudah menganggap ruang kerjanya itu sebagai rumah kedua. Namun takdir sepertinya memang sudah menggariskan kehidupan Seo Yoon seperti itu. Perusahaan pasti akan tahu tentang statusnya, cepat atau lambat.

Seo Yoon segera mengangkat sekotak kardus berisi barang-barang pribadinya setelah puas mengenang seluruh kejadian yang terjadi didalam ruangan itu. Ia takut akan menangis nantinya jika terus-terusan berada didalam sana. Seo Yoon melangkah di koridor –tanpa melepaskan tatapan sinis para karyawan di kantor itu tentu saja. Bahkan ia terlalu malu untuk mengangkat kepala dan hanya berjalan dengan menundukkan kepala.

‘Sudah kubilang, dia hanya menggoda Minho sajangnim saja’

‘Cih, dasar wanita murahan,’

‘Lihat gayanya. Apa dia tidak merasa bersalah sudah membuat Minho sajangnimterluka ?’

‘Selama ini dia membohongi kita dengan kepolosannya. Ternyata dia sudah menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki berumur 4 tahun,’

Telinga Seo Yoon terasa semakin memanas ketika mendengar setiap hinaan dari para karyawan di kantornya. Air mata sudah mulai menggenang dan Seo Yoon berusaha sekuat tenaga agar tidak meneteskannya di sana. Ia akan menangis jika telah melangkah keluar dari kantor itu.

BRAK

Tubuh Seo Yoon terpelanting dan kardus berisi barang-barangnya itu terjatuh ketika seseorang menabraknya. Ia menatap langkah besar wanita –yang baru saja menabraknya. Dan pada akhirnya air mata itu menetes keluar. Seo Yoon segera menghapusnya kembali lalu membereskan seluruh barang-barang itu kembali ke dalam kardus. Namun kemudian Seo Yoon terkesiap saat sebuah tangan ikut membantunya membereskan barang-barang itu.

“Kau terlihat menyedihkan, Seo Yoon-ah,” ujar laki-laki itu. Seo Yoon menghentikan lengannya yang tengah membereskan barang-barang itu lalu memandang Baek Hyun.

“Kenapa kau bisa ada disini ?” tanya Seo Yoon dingin.

Laki-laki itu tidak menjawab apapun. Baek Hyun mengangkat kardus itu ke dalam gendongannya kemudian menatap Seo Yoon yang masih saja terduduk dilantai dan tengah melihat ke arahnya.

“Kau lupa aku ini salah satu relasi perusahaan Minho ? Dan aku kesini karena harus mengurus proyek pembangunan hotel di Hawaii. Ayo bangun, aku akan mengantarmu,” Baek Hyun tersenyum lebar –mencoba memberikan semangat pada Seo Yoon.

Seo Yoon balas tersenyum kemudian berdiri. Menyetarakan tingginya dengan Baek Hyun lalu berjalan bersamaan menuju lift. Dan lagi-lagi Seo Yoon merasa tatapan para karyawan itu kembali terarah padanya. Entah bagaimana tatapan orang-orang mengenai dirinya, yang kini bahkan sudah berjalan bersama Baek Hyun.

“Kau yang memberitahu Minho ?” tanya Seo Yoon tiba-tiba –ketika keduanya sudah berada di basement dan berjalan menuju mobil Baek Hyun.

“Tentang apa ? Aku tidak pernah membicarakan apapun selain proyek hotel dengannya,” jawab Baek Hyun seraya menaruh kardus itu di bagasi. Seo Yoon menghela napas panjang. Ternyata bukan Baek Hyun yang memberitahu Minho.

Baek Hyun menutup kembali bagasi mobil. Ia segera membukakan pintu untuk Seo Yoon dan kemudian dengan setengah berlari menuju ke bagian kemudi.

Baek Hyun mulai melajukan mobilnya di jalanan. Ia menyalakan tape yang berada di mobil dan kemudian memilih lagu dari playlist yang sudah dibuat. Seulas senyum muncul di bibirnya saat lagu milik Super Junior berjudulMemories terputar disana. Ia melirik sekilas ke arah Seo Yoon dan memperhatikan ekspresi wanita itu yang sedikit berubah.

“Kenapa kau tiba-tiba baik padaku ?” tanya Seo Yoon.

Baek Hyun tertawa pelan lalu menoleh ke arah Seo Yoon yang masih saja menundukkan kepala, “Anggap saja ini tebusan, karena dulu aku tidak bisa memperlakukanmu dengan baik. Ini juga salah satu cara untuk membuatmu segera membuat keputusan tentang tawaranku kemarin,”

“Kau tidak perlu repot-repot melakukannya, Baek Hyun-ah. Dan tentang tawaranmu, aku belum bisa memutuskannya dalam waktu dekat,” balas Seo Yoon seraya menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Merasa canggung ketika berbicara –mengenai masa lalu mereka.

“Apa laki-laki itu memperlakukanmu dengan baik ?” tanya Baek Hyun, membuat Seo Yoon mengernyit heran. Apa Baek Hyun tengah menanyakan tentang Jinki sekarang ?

“Kau tidak mau mendengar penjelasanku tentang laki-laki itu ?” Seo Yoon menatap Baek Hyun yang tiba-tiba saja mengatupkan kedua mulutnya. Sangat terlihat jelas bahwa laki-laki itu tengah mengeraskan rahangnya.

Dwaesseo. Lupakan saja pertanyaanku tadi,” Baek Hyun memacu lebih cepat mobilnya di jalanan. Dengan bodohnya ia melontarkan pertanyaan –yang akan menjadi boomerang sendiri baginya. Secara tidak langsung, ia telah melukai dirinya sendiri jika mendengar jawaban Seo Yoon tentang laki-laki lain.

Seo Yoon mengalihkan tatapannya keluar jendela. Laki-laki itu memang sudah meminta maaf dan menjelaskan semua alasan pernikahan mereka harus berakhir dulu. Namun tetap saja ia merasa belum sepenuhnya percaya. Ada satu hal yang membuatnya belum bisa memberitahu Baek Hyun tentang Jinki dan Yun Min. Mungkin ia akan mencari waktu yang tepat untuk menceritakan Yun Min. Anak mereka.

[Pretend Continued]

One thought on “Pretend [5th Part]

  1. kok greget ya:( minho dengerin penjelasannya seoyoon dulu kek, jahat banget sih:( yah masa minho dijodohin:( sama seoyoon aja #readerpemaksa. tapi aku sama sekali ga setuju kalo baekhyun yang akhirnya sama seoyoon. itu sama aja kan seoyoon mengulangi kesalahan yang sama-_- menurutku sih mending sama minho/onew aja hahay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s