Pretend [4th Part]

Author  : Ima (@kaihyun0320)

Casts     : 

  • Shin Seo Yoon
  • Shin Yun Min
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

[Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part]

Malam sudah semakin larut. Namun kedua mata Seo Yoon belum bisa menutup sama sekali. Wajah laki-laki itu masih teringat jelas di kepalanya. Wajah yang sama dan –pernah sangat dicintai olehnya. Seo Yoon menghela napas panjang. Dadanya terasa sangat sesak saat menatap kedua mata Baek Hyun tadi. Rasanya masih sama. Ia masih bisa merasakan hentakan keras itu menggema dalam dadanya. Masih ada sedikit perasaannya pada Baek Hyun yang tersisa.

Seo Yoon memiringkan tubuhnya, menghadap nakas di dekat tempat tidurnya. Terdapat foto Yun Min yang tengah tersenyum lebar di atasnya. Seo Yoon ikut tersenyum. Ketika melihat senyuman malaikat Yun Min, seluruh rasa lelahnya bisa menghilang begitu saja. Dan entah kenapa ia merasa, senyuman Yun Min sangat mirip dengan senyuman Baek Hyun. Senyuman yang bisa membuatnya luluh dan jatuh cinta seketika.

“Seo Yoon-ah, kau sudah tidur ?” suara seseorang dibalik pintu membuat Seo Yoon sedikit terkesiap. Ia membuka selimut yang melilit tubuhnya, beranjak turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju pintu. Ia membukanya sedikit, menatap Jinki yang sudah berdiri disana dengan tatapan khawatir.

“Aku tidak apa-apa, Jinki-ya. Kenapa belum tidur ?” tanya Seo Yoon seraya membuka pintu kamarnya lebih lebar lagi.

“Mungkin kau butuh teman untuk bercerita. Tentang dia,” Jinki menarik napasnya sejenak lalu menatap Seo Yoon, “Byun Baek Hyun, mantan suamimu,”

Seo Yoon tersenyum samar. Mungkin ia memang harus bercerita mengenai kisah hidupnya pada Jinki. Hanya laki-laki itu yang paling dekat dengannya saat ini. Dan hanya laki-laki itu juga yang bisa membuatnya tenang. Seo Yoon berjalan keluar kamar, menutup pintu kamarnya kemudian duduk di sofa ruang tengah. Ia menyalakan TV dan mengecilkan volumenya. Hanya sebagai syarat saja agar suasana apartemennya tidak terlalu sepi.

“Aku melihat tulisanmu, di sebuah foto didalam kamar Yun Min. Tentang Baek Hyun –yang merupakan ayah kandung Yun Min,” ujar Jinki sesaat setelah pergi ke dapur dan kembali ke ruang tengah dengan membawa dua gelas teh hangat di tangannya. Ia meletakkan satu gelas lainnya diatas meja, kemudian mengambil tempat duduk di sebelah wanita itu.

“Kau yakin mau dengar ceritaku ? Kisah hidupku sangat miris, Lee Jinki,” balas Seo Yoon seraya menyesap teh hangat buatan Jinki.

“Aku siap mendengarkannya. Sampai besok pagi pun, aku akan mendengarkan semuanya,” Jinki tersenyum lebar, membuat Seo Yoon semakin percaya pada ketulusan hati laki-laki itu.

“Baiklah. Aku harus memulainya darimana ?”

Jinki menyilangkan kedua kakinya diatas sofa. Menopang dagunya dengan tangan dan menatap wajah serius Seo Yoon. Ia hanya mengendikkan bahu acuh, menjawab pertanyaan wanita itu. Ia sendiri bahkan tidak pernah tahu kisah hidup Seo Yoon.

– – — –

_FLASHBACK_

Gadis itu menangis sendirian di dalam kelas. Ia meratapi nasibnya –sebagai seorang murid baru dan mendapat berbagai macam bully dari teman-teman barunya. Seluruh seragam yang dipakainya sudah basah karena tersiram air dan terlempar telur. Ia menyeka kedua air mata –yang terus keluar dari kedua matanya dengan kasar. Tidak mungkin ia pulang dalam keadaan basah kuyup dan bau seperti itu. Apalagi ia harus naik bis dan tidak diperbolehkan naik taksi.

Tatapan Seo Yoon tertuju pada ambang pintu kelasnya. Dimana seorang laki-laki tampan berdiri dan menatap iba ke arahnya. Seo Yoon mendecak pelan dan hanya menundukkan kepala. Pasrah jika saja laki-laki itu akan kembali membullynya.

“Ada apa, sunbaenim ?” tanya Seo Yoon ragu. Laki-laki itu melangkah memasuki kelas, melepas blazer musim dingin seragamnya kemudian menyelimuti pundak Seo Yoon dengan lembut.

“Aku membawa mobil dan bisa mengantarmu pulang,” ujar laki-laki itu, membuat hati Seo Yoon sedikit lega. Seo Yoon mendongak, menatap laki-laki yang tengah berdiri itu.

Gomawoyo. Aku Shin Seo Yoon,”

“Byun Baek Hyun,”

***

Dan semuanya pun berawal begitu saja. Sejak perkenalan itu terjadi, hidup Seo Yoon tidak jauh lebih baik. Karena kepopuleran Baek Hyun dan ia yang selalu berada di dekat laki-laki itu, membuat para murid –fans Baek Hyun marah padanya. Namun yang membuat Seo Yoon senang adalah, karena hanya ada satu orang yang berada didalam hati Baek Hyun. Dan itu adalah dirinya.

Tepat ketika kelulusan, beberapa murid wanita menyeret Seo Yoon secara paksa menuju gudang kosong. Menyiksa Seo Yoon, hingga membuat gadis itu hampir meninggal karena kehabisan banyak darah. Dan disaat Seo Yoon berdoa di dalam hati, Baek Hyun datang menolongnya. Membentak seluruh para murid wanita itu dan berteriak secara lantang, bahwa laki-laki itu akan menikahinya. Hati Seo Yoon tersentuh. Ia sangat berterima kasih pada Tuhan saat itu.

Hari penikahan pun tiba. Hanya selang satu tahun sejak hari kelulusan SMA dan hari pernikahannya dengan Baek Hyun terjadi. Hari bahagia itu diadakan di sebuah gereja kecil, dan dihadiri anggota keluarga saja. Tidak butuh waktu lama untuk membuat semua cita-citanya tercapai. Menjadi seorang istri dan mungkin ibu yang baik nantinya. Ia sangat ingin melakukan ikrar pernikahan sejak kecil. Dan akhirnya bisa terwujud. Menikah dengan seseorang yang amat sangat dicintainya.

Ia bersyukur ketika Baek Hyun tetap tidak berubah dan tetap seorang laki-laki yang sangat baik. Menghormati dan memperlakukan Seo Yoon layaknya seorang ratu. Tidak pernah menyakitinya barang sedikit pun. Bahkan ketika Seo Yoon belum siap untuk melakukan hubungan suami-istri, Baek Hyun tetap tersenyum dan bersabar. Laki-laki itu selalu berada di sampingnya apapun yang terjadi, menuruti hampir semua keinginannya, dan mencintainya tentu saja.

Namun kebahagiaan pernikahan itu, dirasakan Seo Yoon tidak lebih dari 6 bulan. Tepat beberapa hari setelah ia dan Baek Hyun menjalani kehidupan pernikahan yang ‘sebenarnya’, berbagai masalah datang. Kedua orangtua Baek Hyun tiba-tiba datang. Berdiri tepat di hadapan Seo Yoon dan melemparkan berkas-berkas perceraian ke hadapannya. Dengan alasan klasik. Karena Seo Yoon tidak juga memberikan mereka cucu.

Seo Yoon tahu ia memang bukan seorang wanita sempurna. Ia hanya seorang wanita muda berumur 19 tahun yang menjalani kehidupan pernikahan. Apa salahnya jika ia memang belum siap untuk memiliki anak ? Ia bahkan terlalu muda untuk merawat sebuah janin di dalam perutnya. Dan Seo Yoon menyadari, Baek Hyun tidak sebaik apa yang selalu dipikirkannya. Laki-laki itu tiba-tiba menghilang. Tidak pulang kerumah selama hampir dua minggu. Sejak saat itu, Seo Yoon berpikir bahwa ia mungkin memang harus melepas Baek Hyun. Membiarkan laki-laki itu hidup bahagia bersama wanita lain dan mempunyai keluarga yang utuh.

Baru saja Seo Yoon berpikir untuk terus mempertahankan pernikahannya dengan Baek Hyun. Tapi kemudian ia menemukan fakta yang sangat menyakitkan. Bahwa Baek Hyun telah menghamili seorang wanita diluar sana. Dan tanpa memikirkan apapun lagi, seorang Shin Seo Yoon menandatangani surat cerai yang pernah diberikan ibu mertuanya. Tidak peduli bagaimana Baek Hyun kembali ke rumah, berlutut meminta maaf, mengatakan semua fakta itu hanya rekayasa belaka, dan memaksa Seo Yoon untuk tetap mempertahankan pernikahan itu. Ia sudah terlalu sakit. Seorang Byun Baek Hyun telah mengkhianatinya.

Palu pengadilan sudah diketuk tiga kali dan menandakan pernikahannya dengan Baek Hyun telah berakhir. Seo Yoon merasa sedih ketika Baek Hyun kembali tidak hadir di sidang terakhir –penentuan nasib status pernikahan mereka. Namun Seo Yoon merasa sangat kuat karena seseorang yang berada didalam perutnya. Janin yang sudah berkembang selama hampir tiga minggu di dalam sana.

Dan Seo Yoon memutuskan untuk hidup sendiri. Meninggalkan semua kehidupan masa lalunya yang kelam di Busan dan kemudian pindah ke Seoul. Mencari kerja sekaligus meneruskan kuliahnya yang sempat terputus. Ia tidak peduli cemoohan orang-orang tentang kehamilannya –yang tanpa seorang suami. Ia tetap menjalani hidupnya. Dengan bantuan Shin Young ahjumma –tetangga di sebelah apartemennya, ia bisa melewati masa-masa sulit kehamilan.

Waktu terus berlalu dan keberadaan Baek Hyun tidak pernah ada yang mengetahuinya. Seo Yoon sempat merasa bersalah dan ingin memberitahu tentang kelahiran anak –mereka pada laki-laki itu. Namun ternyata ia tetap tidak bisa menemukan Baek Hyun di seluruh penjuru korea. Ia hanya ingin memberitahu keberadaan Yun Min di hidupnya –tanpa berniat sama sekali untuk kembali ke dalam pelukan laki-laki itu. Namun itu semua hanya harapannya saja. Baek Hyun tetap tidak ada.

Selama  4 tahun ia hanya hidup bersama Yun Min. Bekerja keras untuk membayar uang sewa apartemen, menyekolahkan Yun Min, dan membeli kebutuhan sehari-hari lainnya. Terkadang ibu Seo Yoon datang menjenguk. Namun itu pun hanya satu tahun sekali, karena ibunya tengah berada di Jepang untuk menemani –suami barunya. Dan Seo Yoon memang harus menerima kenyataan bahwa ia hanya tinggal bersama Yun Min saja di Korea.

_END OF FLASHBACK_

– — – –

***

“Dan aku beruntung karena bisa bertemu denganmu, Jinki-ya,” ucap Seo Yoon, mengakhiri cerita kehidupannya yang menyedihkan. Ia mengusap air mata yang sudah mengaliri pipinya kemudian tertawa pelan, “Sudah bertahun-tahun yang lalu. Tapi aku tetap saja menangis saat mengingatnya,”

“Itu wajar, Seo Yoon-ah. Laki-laki itu sudah menyakitimu dan kau pantas menangis untuk itu. Lebih baik menangis daripada depresi, bukan ?” tanya Jinki seraya tersenyum lebar dan mengacak rambut Seo Yoon.

“Tapi saat bertemu dengannya tadi … Entahlah. Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Kecewa, sedih, dan bahagia juga. Karena pada akhirnya aku bisa bertemu dengan Baek Hyun lagi. Ayah kandung Yun Min,” balas Seo Yoon seraya menyesap teh hangat miliknya.

“Kau masih mencintainya ?” tanya Jinki lagi dan berhasil membuat Seo Yoon membeku seketika.

Masih mencintai Baek Hyun ? Seo Yoon bertanya pada hatinya sendiri. Ia memegangi dadanya yang berdetak cukup kencang ketika mengingat wajah Baek Hyun tadi. Tidak ada yang berubah dari setiap lekuk wajah laki-laki itu. Setiap lekuk wajah –yang sangat dikaguminya.

Molla. Mungkin karena sudah lama tidak melihat wajahnya, aku sedikit kaget saja,” jawab Seo Yoon, berusaha bersikap acuh pada pertanyaan Jinki. Ia menghabiskan tegukan terakhir teh hangat itu lalu meletakkan gelas yang sudah kosong diatas meja, “Sudah jam 3 pagi. Kau tidak tid –eh ?”

Seo Yoon memotong ucapannya ketika tiba-tiba saja sesuatu yang berat menimpa pundaknya. Ia menoleh ke kiri dan melihat kepala Jinki sudah tergeletak di pundaknya dengan kedua mata terpejam. Wanita itu terkekeh lalu memukul pelan kepala Jinki.

“Eish, ireon ! Katanya mau mendengar ceritaku sampai pagi, dasar bodoh,” gumam Seo Yoon pelan kemudian menyandarkan kepalanya pada kepala Jinki. Perlahan kedua mata Seo Yoon terpejam. Dan sesaat kemudian Seo Yoon sudah ikut memasuki alam mimpinya.

***

Suara dentuman musik terdengar memenuhi bar yang terletak di distrikGangnam, Seoul itu. Seorang laki-laki muda terlihat tengah duduk di mejabartender, memandangi gelas berisi tequila miliknya yang sudah habis setengah. Ia menyeringai pelan, mengangkat kepalanya yang terasa berat kemudian meminta pada sang bartender untuk kembali memenuhi gelasnya. Namun kemudian sebuah tangan lain mengambil gelas itu dari tangannya. Laki-laki itu menoleh, menatap seorang wanita yang tengah menatap kesal ke arahnya.

“Kau mabuk-mabukan lagi, oppa ? Kenapa kebiasaan lamamu kambuh lagi ?” tanya wanita itu lalu duduk tepat di sebelah laki-laki –yang dipanggil oppaolehnya itu.

“Aku hanya menenangkan pikiran, Hana-ya,” jawab laki-laki itu seraya mengambil gelas berisi minuman beralkohol itu dari tangan Hana.

“Baek Hyun oppa ! Jangan minum lagi, atau aku akan meninggalkanmu sekarang !” seru Hana kesal lalu kembali merebut gelas itu. Ia menjauhkan gelas itu jauh dari jangkauan Baek Hyun.

Saengi, hanya malam ini saja. Aku sedang banyak pikiran sekarang,” balas Baek Hyun seraya tersenyum lembut, mencoba memohon pada Hana –adik kandungnya.

“Kau bisa cerita padaku, ‘kan ? Ayo pulang, sekarang sudah hampir pagi, oppa,” Hana segera mengeluarkan beberapa lembar cek dari dalam dompetnya, meletakkannya diatas meja dan kemudian menarik tangan Baek Hyun agar turun dari kursi. Ia membantu Baek Hyun –yang sudah setengah mabuk itu keluar daribar.

Hana mendudukkan Baek Hyun di kursi penumpang, sementara dirinya yang mengendarai mobil. Sesekali gadis itu melirik Baek Hyun yang tengah memejamkan mata. Wajahnya terlihat sangat lelah. Ya, ia tahu bagaimana lelahnya menjadi seorang pemimpin perusahaan keluarga. Sejak beberapa tahun terakhir, kakak laki-lakinya itu menjadi seorang workerholic. Selalu bekerja tanpa henti dan bahkan sempat masuk rumah sakit karena terlalu kelelahan.

“Byun Hana,” panggil Baek Hyun, membuat Hana menoleh ke arah laki-laki itu, “Jangan melihatku. Kau tetap lihat jalanan dan dengarkan saja,”

Araseo,” balas Hana lalu kembali melihat ke jalanan malam kota Seoul.

“Shin Seo Yoon,” gumam Baek Hyun pelan, namun berhasil membuat Hana terkesiap dan menginjak pedal rem secara mendadak.

Oppa, kau masih mengingatnya ?” tanya Hana kaget. Baek Hyun membuka kedua matanya, menatap kedua mata Hana secara intens. Dan Hana bisa melihat kepedihan itu terpancar dari kedua mata kakaknya.

“Aku bertemu lagi dengannya, Hana-ya. Dia masih sama seperti dulu,” jawab laki-laki itu. Hana menghela napas panjang. Setelah sedikit tenang, ia kembali menjalankan mobil Baek Hyun.

“Dia sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak. Aku kira dia masih mencintaiku. Aku masih mengharapkannya selama ini. Tapi ternyata dia tidak menginginkan kehadiranku lagi,” Baek Hyun menyeringai lalu tertawa pelan. Menertawakan kebodohannya sendiri.

Hana membelokkan mobil Baek Hyun memasuki bagian depan lobby. Ia membiarkan valet yang memarkirkan mobil kemudian membantu Baek Hyun berjalan memasuki gedung apartemen itu. Menaiki lift menuju lantai teratas. Dimana tempat tinggal Baek Hyun selama di Korea berada. Penthouse.

Baek Hyun melepaskan lengannya yang melingkar di leher Hana ketika sudah memasuki pintu apartemennya. Ia berjalan menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana, sementara Hana beranjak ke dapur. Mengambil segelas air untuk menetralkan alcohol yang sudah diminum oleh kakaknya. Hana meletakkan segelas air itu diatas meja kemudian membangunkan Baek Hyun –yang sudah kembali memejamkan kedua mata.

“Ayo minum dulu, oppa,” titah Hana seraya menyerahkan gelas itu ke genggaman Baek Hyun. Laki-laki itu menegakkan tubuhnya, meminum air didalam gelas itu hingga habis hanya dalam beberapa kali tegukan.

“Tapi oppa. Tentang dia. Kau tidak boleh –,”

“Aku tahu. Kau tidak perlu mengingatkannya lagi,” Baek Hyun tersenyum samar lalu berjalan dengan gontai menuju kamar. Meninggalkan Hana yang masih terpaku di sofa. Ia hanya memundungi punggung Baek Hyun hingga menghilang di balik pintu. Rasanya ia merasakan sakit yang sama, ketika melihat kakaknya bernasib seperti itu.

***

Hampir dua jam Seo Yoon terus memandangi pantulan dirinya sendiri di sebuah cermin di dalam kamarnya. Akhir pekan –yang lagi-lagi dipenuhi kesibukan. Ia bahkan hampir lupa, nanti malam harus menghadiri pesta ulang tahun perusahaan –tempatnya bekerja. Jadi, selama dua jam ia memilih gaun yang pantas, mencoba berbagai macam make up, dan mencoba berbagai macam model rambut. Ia tidak mungkin datang dengan penampilan biasa saja. Well,karena Minho memintanya untuk mendampingi tentu saja.

Seo Yoon –yang tengah menata rambut bergelombangnya menoleh begitu mendengar pintu kamarnya terbuka. Ia hanya tersenyum samar pada Yun Min. Anak laki-laki itu melangkah masuk kemudian duduk di sebuah kursi dekat meja rias Seo Yoon. Ia memandangi Seo Yoon yang –masih kerepotan menata rambut.

Eomma mau kemana ?” tanya Yun Min seraya memperhatikan Seo Yoon dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Oh ? Eomma harus pergi ke acara kantor, sayang,” jawab Seo Yoon lalu menyelesaikan tatanan rambutnya dengan menyemprotkan sedikit hairspray. Ia memutar kursinya menghadap Yun Min, memegang kedua bahu anak itu kemudian tersenyum lebar.

Otte ? Bagaimana penampilan eomma ?” tanya Seo Yoon bersemangat.

Yun Min memperhatikan penampilan Seo Yoon sekali lagi. Tube dress berwarna ungu gelap diatas lutut, make up yang tidak terlalu tebal, dan juga tatanan rambut yang sangat elegan. Seo Yoon yang memiliki rambut bergelombang, bisa menatanya dengan baik sehingga terlihat sangat cantik. Bahkan tanpa berpikir, Yun Min mengangkat kedua ibu jarinya ke udara.

Eomma yang terbaik !! Aaah, aku yakin orang-orang di acara kantor eommananti pasti akan terpesona. Eomma neomu yeppeo !” seru Yun Min seraya mengangkat kedua ibu jarinya –lagi. Seo Yoon terkekeh geli. Ia beranjak menuju tempat tidur, mengambil mantel berwarna hitam yang tergeletak disana kemudian memakainya. Untuk menutupi tubuhnya –yang hanya terbalut tube dress itu hingga tempat acara nanti. Lagi pula cuaca malam kota Seoul sangat dingin saat menjelang masuk musim semi.

Seo Yoon segera memakai high heels 9 senti yang juga berwarna senada dengan tas yang akan dibawanya nanti. Setelah memastikan penampilannya sekali lagi di cermin, ia melangkah keluar kamar bersama Yun Min. Ia memperhatikan Jinki –yang terlihat tengah sibuk membereskan mainan Yun Min yang lagi-lagi tergeletak begitu saja diruang tamu.

“Yun Min-ah, bereskan mainanmu sendiri atau kau akan dapat hukuman,” ancam Seo Yoon dan membuat Yun Min segera berlari menghampiri Jinki.

Jinki menoleh saat mendengar suara langkah cepat Yun Min. Dan seketika itu juga matanya menangkap sosok Seo Yoon yang masih berdiri di depan pintu kamar. Sejenak Jinki bahkan tidak mengedipkan kedua matanya. Terlalu kagum dengan penampilan Seo Yoon yang sangat berbeda dari hari biasanya. Wanita itu terlihat sangat dewasa dan ….. cantik. Ya, Jinki mengakuinya malam itu. Ia bahkan terlalu sayang untuk melewatkan waktunya jika tidak melihat Seo Yoon.

“Jinki-ya ? Kau tidak apa-apa ? Aku harus berangkat sekarang. Minho sudah menungguku di depan gedung apartemen,” ujar Seo Yoon, membuat Jinki akhirnya kembali bernapas dan mengedipkan kedua matanya. Laki-laki itu berdehem pelan kemudian kembali ke kegiatannya semula. Membereskan mainan Yun Min.

N-ne, kau bisa pergi sekarang,” jawab Jinki gugup.

Uri eommafighting !” pekik Yun Min seraya mengepalkan sebelah tangannya ke udara.

Seo Yoon hanya tersenyum melihatnya. Ia bergegas melangkah keluar apartemen. Memasuki lift menuju lantai satu. Ia merasakan seluruh tubuhnya mulai berkeringat. Terlalu gugup untuk bertemu Minho beberapa saat lagi. Ia takut Minho tidak akan menyukai penampilannya yang seperti itu. Seorang Shin Seo Yoon, yang biasanya hanya berbalut pakaian kerja biasa, tiba-tiba berubah menjadi wanita anggun seperti itu. Dan ia menyesal karena tidak pernah datang ke pesta ulangtahun perusahaan di tahun-tahun sebelumnya. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di pesta nanti.

Suara dentingan lift kembali membawa Seo Yoon ke dunia nyata. Wanita itu menghela napas panjang sebelum melangkah dengan mantap menyusuri lobbygedung apartemen. Ia merapatkan mantel yang melilit tubuhnya saat keluar dari pintu. Seo Yoon berjalan menuju bagian depan gedung apartemen dan menemukan mobil Minho disana. Dengan langkah yang sedikit dipercepat, Seo Yoon mendekati mobil laki-laki itu. Semakin dekat dan Seo Yoon bisa melihat dengan jelas bahwa Minho tengah duduk diatas kap mobilnya sendiri.

“Maaf terlambat. Aku bingung harus memakai baju apa,” seru Seo Yoon seraya tersenyum samar.

“Pakai baju apapun, kau tetap terlihat cantik, Seo Yoon-ssi,” balas Minho, berhasil membuat wajah Seo Yoon memanas seketika. Beruntung langit sudah gelap dan Minho tidak akan bisa melihat semburat merah di pipinya.

Seo Yoon naik ke dalam mobil ketika Minho membukakan pintu untuknya. Ia menepuk wajahnya sendiri –yang masih saja terasa panas. Baru saja dipuji Minho ia sudah merasa terbang ke langit ke tujuh. Berlebihan memang. Tapi sungguh, ia merasa sangat bahagia saat ucapan itu keluar dari mulut Minho.

***

Hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu restoran mewah –di dalam hotel bintang lima itu. Namun Seo Yoon merasakan gugup yang amat sangat. Minho yang berjalan di sebelah Seo Yoon pun menatap heran ke arahnya. Seo Yoon tiba-tiba merasa tidak percaya diri saat melepas mantel yang menutupi tubuh berbalut dressnya. Apalagi ia datang bersama Minho. Entah orang-orang akan melihatnya seperti apa nanti.

“Jangan gugup. Kau datang bersamaku, tenang saja,” bisik Minho dan membuat kepercayaan diri Seo Yoon sedikit bertambah.

Tatapan Seo Yoon tertuju pada Minho yang tiba-tiba berhenti melangkah. Laki-laki itu menekuk sikunya hingga 90 derajat yang bertumpu pada pinggang. Dan Seo Yoon mengerti apa yang harus dilakukannya. Seperti drama-drama yang pernah ia tonton sebelumnya, sang wanita pasti akan menaruh lengannya diantara lekukan siku pasangannya.

“Kenapa diam saja ? Karena kau pasanganku, kita harus jalan bersama,” Minho tersenyum manis seraya mengendikkan kepalanya, menyuruh Seo Yoon untuk segera menyambut lengannya. Seo Yoon tidak bisa melakukan apapun dan mengikuti perintah Minho. Mengaitkan lengan satu sama lain.

Pintu restoran mewah itu dibuka ketika Minho –sang pemilik perusahaan memasuki tempat acara. Suasana yang tadinya riuh pun hening seketika. Seo Yoon menelan ludahnya kuat-kuat ketika melihat beberapa wanita –karyawan di kantor berbisik-bisik dan melirik sinis ke arahnya. Namun tiba-tiba saja Minho melepaskan kaitan lengan itu dan malah merangkul pinggalnya. Jantung Seo Yoon berhenti seketika. Ia menatap Minho heran, sedangkan laki-laki itu bahkan tidak melihatnya sama sekali dan malah semakin berjalan masuk ke bagian dalam restoran.

Seo Yoon berusaha mengatur napasnya –yang mulai tidak beraturan. Suasana kembali riuh dan kembali seperti semula. Dengan cepat Seo Yoon melepaskan diri dari rangkulan Minho. Jika tidak, ia bisa pingsan di tempat pesta itu karena terlalu bahagia.

“A-apa pemimpin perusahaan Weilhamm datang kesini ?” tanya Seo Yoon berusaha membuka pembicaraan. Minho meneguk wine –yang baru saja diambilnya dari pelayan yang lewat kemudian mengangguk pelan.

“Dia janji akan datang. Aah, kau tahu ? Ternyata dia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kukira pemimpin perusahaan Weilhamm sudah tua seperti appa. Ternyata dia masih muda dan tampan juga,” jawab Minho.

“Apa aku bisa bertemu dengannya ? Aku mau minta maaf karena kemarin tidak bisa hadir di rapat pertemuan,” ujar Seo Yoon, mengingat kejadian yang menimpa Yun Min beberapa hari yang lalu.

Tiba-tiba saja wajah Baek Hyun terlintas di kepalanya ketika mengingat kejadian kemarin. Dimana ia harus pergi untuk menemui yunmin dan malah bertemu laki-laki itu. Seo Yoon menggeleng dengan kuat. Ia harus melupakan laki-laki itu. Jangan hanya karena bertemu lagi, ia kembali terpuruk seperti dulu. Ia –harusnya tidak memiliki perasaan apapun pada Baek Hyun.

“Dia belum datang sepertinya,” Minho memutar tubuhnya, mengitarkan pandangannya ke setiap sudut tempat acara dan tetap tidak menemukan sang pemimpin perusahaan Weilhamm.

“Minho-ssi,” panggil Seo Yoon, membuat Minho menoleh ke arahnya, “Aku harus ke toilet sebentar. Kau berkeliling saja dulu,”

Seo Yoon membungkuk singkat sebelum berjalan cepat meninggalkan Minho. Menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya. Setelah berusaha dan bertanya pada beberapa pelayan, akhirnya ia bisa menemukan letak toiletnya. Seo Yoon melangkah masuk, berdiri di depan wastafel untuk mencuci tangan dan menatap pantulan dirinya di cermin. Seo Yoon menyelesaikan kegiatan –mencuci tangannya lalu merapikan beberapa helai rambut yang sedikit berantakan. Ia harus terlihat rapi ketika bertemu pemimpin perusahaan Weilhamm nanti.

Setelah memastikan penampilannya, Seo Yoon melangkah keluar dari toilet seraya memasukkan bedak compact yang baru saja dipakainya kedalam tas. Namun kemudian langkah Seo Yoon terhenti ketika menabrak seseorang secara tidak sengaja, membuat seluruh isi di dalam tas tangannya keluar dan terjatuh ke lantai. Seo Yoon membungkuk berkali-kali kemudian membereskan kembali –peralatan make upnya. Laki-laki –yang baru saja ditabraknya pun ikut membantu. Seo Yoon menggumam terima kasih lalu berjalan meninggalkan laki-laki itu.

“Shin Seo Yoon ?” panggil laki-laki –yang baru saja ditabraknya itu. Seo Yoon menghentikan langkahnya lalu kembali berbalik ke belakang. Dan seketika Seo Yoon menutup mulutnya tidak percaya.

Tanpa berniat berbicara dengan laki-laki itu –Byun Baek Hyun, Seo Yoon dengan cepat berbalik dan berjalan kembali memasuki kerumunan orang-orang. Yang menjadi pertanyaan di dalam kepalanya adalah, mengapa Baek Hyun bisa berada disana ? Di dalam pesta perusahaan Minho dan hanya berisi tamu-tamu dari relasi perusahaan atau para pemegang saham saja.

“Kenapa lama ?” tanya Minho, seraya meraih pergelangan tangan Seo Yoon dan membuat wanita itu sedikit terkesiap, “Pemimpin perusahaan Weilhamm nya sudah datang. Tadi aku baru bertemu dengannya,”

Seo Yoon tidak terlalu mendengarkan perkataan Minho, karena pandangannya kini tertuju pada sosok laki-laki yang tiba-tiba muncul dari kerumunan dan berdiri hanya beberapa langkah di belakang Minho. Baek Hyun mengejarnya. Dan ia tahu bahwa akan ada masalah sebentar lagi, ketika Baek Hyun mendekat dan berbicara padanya.

“Oh, Baek Hyun-ssi,” sapa Minho tiba-tiba pada sosok laki-laki itu dan berhasil membuat tubuh Seo Yoon lemas seketika. Minho bahkan mengenal Baek Hyun ?

Tatapan Baek Hyun tertuju pada Minho dan Seo Yoon. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana tangan Seo Yoon digenggam dengan sangat erat oleh tangan Minho. Ia merasa bingung setelah kemarin melihat Seo Yoon bersama seorang anak kecil dan seorang laki-laki –yang ia yakini sebagai suami barunya. Namun sekarang ia malah melihat Seo Yoon bersama laki-laki lain.

“Seo Yoon-ssi, ini Byun Baek Hyun. Pemimpin perusahaan Weilhamm,” jelas Minho seraya menatap Seo Yoon dan Baek Hyun bergantian. Seo Yoon membungkukkan badan singkat. Namun tatapan Seo Yoon masih kosong dan hanya bisa menunduk. Menatap lantai restoran itu tanpa mau menatap laki-laki di depannya. Ia malah mengeratkan genggaman tangannya pada Minho,

“Maaf aku tidak bisa datang ke rapat pertemuan kemarin,” ujar Seo Yoon sesingkat mungkin.

Tidak terdengar suara apapun lagi setelahnya. Baek Hyun hanya menghela napas ketika menyadari Seo Yoon bahkan tidak mau melihat ke arahnya. Ia tersenyum lebar pada Minho lalu mencoba menghangatkan suasana dengan sedikit berbincang.

“Minho-ssi, aku mau berkeliling sebentar,” sahut Seo Yoon, setelah cukup lama berdiri dan mendengar perbincangan Minho dengan Baek Hyun. Ia mulai merasa tidak nyaman disana. Tanpa melihat pun, Seo Yoon tahu Baek Hyun sering meliriknya.

“Baiklah. Nanti kalau sudah selesai, telepon aku, ne ?” Seo Yoon tidak menjawab dan hanya berlalu dari sana. Ia tidak akan bisa terus berdiri jika berada di dekat Baek Hyun. Pikirannya terlalu kacau dan ia sama sekali tidak berniat terlibat di dalam pembicaraan itu.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika Seo Yoon duduk di sebuah taman sisi kanan hotel bintang lima –tempat pesta itu berlangsung. Setelah berkeliling tempat pesta tadi, ia memutuskan untuk mencari udara segar di sekitar hotel. Walaupun udara dingin cukup menusuk, namun Seo Yoon tidak ingin masuk kembali ke dalam restoran. Ia tidak mau berada satu ruangan dengan laki-laki itu. Karena ketika menyadari Baek Hyun berada di dekatnya, kejadian menyakitkan beberapa tahun yang lalu kembali terkuak di dalam ingatannya.

Angin masih terus berhembus, menerpa tubuh Seo Yoon yang hanya dibalutdress tipis itu. Seo Yoon menggosok kedua lengannya, mencoba mencari sedikit kehangatan. Pestanya hanya akan berlangsung beberapa saat lagi. Jadi ia lebih baik menunggu diluar hingga pesta selesai dan pulang bersama Minho. Ia tidak mungkin menelepon Minho, mengatakan bahwa ia ingin pulang padahal pesta ulang tahun perusahaan sangat bergantung pada laki-laki itu.

Seo Yoon sedikit tersentak ketika sebuah jas menyelimuti tubuhnya. Dengan cepat Seo Yoon menoleh ke belakang, dan bisa bernapas lega saat melihat Minho yang ternyata berdiri disana. Laki-laki itu tersenyum kemudian mengambil tempat duduk tepat di sebelah Seo Yoon.

“Kau tidak kedinginan ?” tanya Minho. Seo Yoon menggeleng pelan.

“Tidak salah lagi, Minho-ssi,” jawab Seo Yoon dan membuat Minho terkekeh mendengarnya.

“Apa kau kenal Baek Hyun sebelumnya ? Kalian terlihat sangat aneh tadi,” ucap Minho. Tubuh Seo Yoon menegang. Ia tertawa hambar lalu memukul lengan Minho –dengan sangat pelan. Mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit canggung.

“Bagaimana bisa ? Dia berasal dari Jerman, dan aku di Korea. Astaga, kau lucu sekali, Minho-ssi,” sahut Seo Yoon –masih sambil tertawa hambar.

Minho mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan perubahan sikap Seo Yoon yang tiba-tiba. Apa ia baru saja mengatakan hal yang lucu ? Ia hanya bertanya apakah wanita itu pernah berkenalan dengan Baek Hyun sebelumnya atau tidak.

“Aah, aku harus pulang sekarang,” gumam Seo Yoon seraya bangkit dari kursi taman itu. Namun entah apa yang terjadi, high heels 9 senti yang dipakainya tiba-tiba tidak bertumpu dengan baik dan berhasil membuat kaki Seo Yoon sakit seketika. Wanita itu meringis dan kembali duduk di kursi. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya ketika rasa sakit di kaki kirinya semakin menjadi-jadi.

“Astaga ! Kau tidak apa-apa, Seo Yoon-ssi ?” tanya Minho panik seraya berjongkok dan melihat keadaan pergelangan kaki Seo Yoon yang sedikit membiru. Perlahan Minho mengangkat tangannya, mengelus bagian yang membiru itu dan membuat Seo Yoon memekik keras.

“Aaah, neomu apha,” pekik Seo Yoon.

Minho ikut meringis ketika melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Seo Yoon sudah mengalir dengan deras. Dengan sangat hati-hati Minho membuka high heels yang dipakai Seo Yoon. Ia menyerahkan sepasang sepatu itu pada Seo Yoon dan kemudian berjongkok membelakangi wanita itu.

“K-kau kenapa ?” tanya Seo Yoon gugup.

“Ayo naik ke punggungku. Kau tidak akan bisa berjalan sampai tempat parkir,”

Wajah Seo Yoon memanas seketika. Wanita itu berdehem pelan lalu mulai melingkarkan kedua tangannya pada leher Minho. Sesaat kemudian Seo Yoon bisa merasakan tubuhnya terangkat dan kakinya sudah tidak menginjak rerumputan lagi. Minho bahkan mengangkatnya dengan sangat mudah. Astaga ! Jantungku !, pekik Seo Yoon dalam hati.

“Apa aku berat ?” tanya Seo Yoon berbasa-basi, mencoba membuka pembicaraan.

“Kau mau aku jujur atau tidak ?” tanya Minho lagi. Seo Yoon tertawa pelan kemudian mengangguk –walaupun mungkin tidak bisa terlihat oleh laki-laki itu.

“Bohongnya, tubuhmu ringan. Dan jujurnya, tubuhmu sangat ringan, Shin Seo Yoon,” ucapan Minho membuat jantung Seo Yoon berdetak lebih cepat lagi. Beruntung ia tengah membelakangi laki-laki itu dan Minho tidak akan bisa melihat wajahnya yang sudah sangat merah.

Perlakuan Minho membuat Seo Yoon melupakan pertemuannya dengan Baek Hyun tadi. Wanita itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Minho –dari jas yang masih menutupi bahunya. Aroma maskulin itu semakin tercium ketika ia berada di punggung laki-laki itu. Seo Yoon hanya berdoa, semoga tempat parkir di dalam hotel itu pindah ke lain tempat yang lebih jauh. Karena ia merasa ingin lebih lama lagi berada dalam posisi seperti itu. Ayolah, kapan lagi ia bisa merasakan hangatnya punggung Minho ? Ia merasa telah menjadi wanita paling beruntung di Korea karena bisa merasakan bagaimana digendong oleh seorang Choi Minho. Pemimpin perusahaan terbesar di Korea.

[Pretend Continued]

One thought on “Pretend [4th Part]

  1. aaah minho sweet:( tapi sayangnya dia belum tau ya kalo seoyoon punya anak hu. sebelumnya aku udah prekdisiin kalau baekhyun itu perusahaan weilhamm nya._. plotnya keren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s