Pretend [13th Part-END]

Pretend

Author  : Ima

Casts     : 

  • Shin Seo Yoon
  • Shin Yun Min
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

[Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part] [5thPart] [6th Part] [7thPart] [8th Part] [9th Part] [10th Part] [11th Part] [12thPart] [Last Part]

Sesaat setelah pintu lift tertutup, Jinki merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Ri An. Namun kemudian sebuah kerutan muncul di keningnya karena tidak menemukan benda berbentuk persegi itu dimana pun di dalam saku celananya. Jinki bergegas menuju lantai atas lagi –dimana letak apartemen Seo Yoon berada. Langkah Jinki terhenti tepat ketika baru saja melangkah keluar dari lift. Ia menoleh ke kiri, melihat sosok wanita berbalut dress selutut yang sangat dikenalinya tengah berlari ke ujung lorong dan berbelok menuju tangga darurat.

“Seo Yoon ? Apa yang – Kenapa dia – ?”

Banyak pendapat yang berkecamuk di dalam pikirannya. Ketika ia mencoba untuk tidak peduli, tapi bahkan rasa khawatirnya lebih mendominasi. Ia mengacak rambutnya frustasi kemudian mengejar sosok Seo Yoon. Yang menjadi pertanyaan di dalam benaknya kini adalah, kenapa wanita itu berlari menuju tangga darurat, padahal masih ada lift yang berfungsi disini. Well, jika boleh berharap, mungkin Seo Yoon mengejarnya. Hanya kemungkinan.

Jinki melirik ke bawah, melihat Seo Yoon menuruni setiap anak tangga dengan sangat cepat dan ia pun hampir tidak bisa menyamai langkah wanita itu. Bahkan ketika ia masih di lantai 4, Seo Yoon sudah melangkah keluar di pintu darurat lantai 1. Jinki berhenti sejenak, mencoba mengatur napasnya yang terengah dan kembali mengejar Seo Yoon sedetik kemudian. Ada apa dengan Seo Yoon sebenarnya ?

Jinki segera membuka pintu darurat lantai 1 dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Ia melangkah cepat mengikuti petunjuk arah, menuju lobi dan satu-satunya tempat kemungkinan Seo Yoon berada. Langkah Jinki terhenti beberapa meter di belakang Seo Yoon, saat melihat wanita itu tiba-tiba jatuh terduduk di depan pintu lift.Beberapa orang tampak melihat ke arah Seo Yoon yang tengah menangis dan kemudian meneriakkan sesuatu yang berhasil membuat aliran darah Jinki berhenti seketika.

“Aku mohon, Jinki-ya. Gajima,

Perlahan Jinki melangkahkan kakinya mendekati wanita itu. Ia berdiri tepat di belakang Seo Yoon kali ini dengan sebuah tatapan tidak percaya di kedua matanya. Ia baru saja akan bertanya pada Seo Yoon, ketika tubuh wanita itu tiba-tiba terkulai lemas. Ia segera menangkapnya dan memeluk Seo Yoon ke dalam dekapannya. Jantung laki-laki itu berdetak semakin cepat saat tangan halus Seo Yoon menyentuh wajahnya, meraba setiap inchi wajahnya dan kemudian ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Seo Yoon tersenyum lemah.

“Aku mencintaimu, Jinki-ya,”

Kedua mata Jinki membulat sempurna. Ia semakin mengeratkan tubuh Seo Yoon, saat kesadaran wanita itu sudah benar-benar menghilang. Tatapan Jinki tertuju pada baju di bagian dada Seo Yoon yang sedikit kusut. Sebuah dugaan terburuk muncul di dalam pikirannya. Seo Yoon mungkin mengidap kelainan jantung juga, sama seperti Yun Min. Dan masih dengan sebuah pertanyaan besar mengenai ucapan terakhir Seo Yoon, ia bergegas mengangkat tubuh wanita itu.

***

Dengan membungkuk sopan, Jinki mengantar kepergian dokter pribadi keluarga Lee dari apartemen Seo Yoon. Ia menutup pintu apartemen wanita itu kemudian berbalik, berjalan menuju kamar Seo Yoon untuk menemani. Tidak terlalu parah menurut dokter, Seo Yoon hanya membutuhkan istirahat saja karena terlalu kelelahan. Namun tetap saja, ia merasa sangat khawatir mengingat apa yang pernah dialami Yun Min kemarin. Penyakit yang diderita ibu dan anak, biasanya tidak jauh berbeda.

Jinki memperhatikan Yun Min yang setia menemani ibunya. Berbaring tepat di sebelah Seo Yoon, sambil terus menggenggam tangan wanita itu. Seolah memberikan kekuatan pada Seo Yoon. Seulas senyum muncul di bibir Jinki saat tatapan Yun Min tertuju ke arahnya.

“Jinki appa. Eomma tidak apa-apa ‘kan ?” tanya anak itu khawatir. Jinki beringsut duduk di sisi tempat tidur lalu mengangguk pelan.

Eomma tidak apa-apa. Mungkin akan sadar sebentar lagi,” Jinki mengusap puncak kepala Yun Min lalu matanya beralih memperhatikan Seo Yoon.

Wajah yang pucat itu tetap terlihat mempesona baginya. Ia masih sangat tidak percaya, bahwa Seo Yoon baru saja mengatakan satu hal –yang mampu membuat dunianya berhenti berputar seketika. Wanita itu mencintainya. Well, walaupun Seo Yoon mengatakannya dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, namun hal itu sudah membuat hatinya membuncah senang. Ia tidak pernah menduga bahwa Seo Yoon –akhirnya bisa mencintainya juga. Ia tidak perlu meragukan perasaan Seo Yoon lagi kali ini.

“Oh, eomma,” suara Yun Min berhasil menarik kembali lamunan Jinki. Laki-laki itu sedikit memiringkan tubuhnya dan menatap kedua kelopak mata Seo Yoon yang perlahan terbuka.

Keadaan yang mengabur, membuat kepala Seo Yoon sedikit berdenyut pusing. Ia memicingkan matanya, ketika lampu-lampu di atap kamarnya terlihat sangat menyilaukan. Perlahan Seo Yoon menolehkan kepalanya ke kanan, dimana telapak tangannya terasa sangat hangat karena genggaman Yun Min. Dan kemudian ia menoleh ke kiri, dimana sosok seorang laki-laki yang baru disadari –bahwa ia mencintainya tengah duduk. Menatap ke arahnya dengan tatapan dingin.

“Kau disini, Jinki-ya ?” tanya Seo Yoon lemah.

“Karena kau sudah sadar, aku akan pulang,” Jinki baru saja beranjak dari sisi tempat tidur, ketika Seo Yoon menahannya. Mencegah pergelangan tangannya dengan sangat lemah.

“Aduuh, aku sakit perut,” Yun Min meringis memegangi perutnya kemudian berlari keluar kamar Seo Yoon. Tidak benar-benar sakit perut sebenarnya. Ia hanya ingin memberikan waktu untuk Jinki dan ibunya, membicarakan masalah mereka.

Seo Yoon bangkit dengan susah payah untuk merubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Ia kembali mencengkeram pergelangan tangan Jinki, setelah mendapat sedikit tenaga. Ia tidak mau melihat Jinki menjauh darinya walau satu langkah pun.

Jinki masih berdiri membelakangi Seo Yoon. Tidak mau berbalik dan menatap kedua mata wanita itu, padahal seulas senyum sudah muncul di bibirnya.

“Jangan pergi. Aku membutuhkanmu,” Seo Yoon menelan air liurnya dengan susah payah, mendorong kembali rasa sesak di kerongkongannya, “Kau tidak mencintaiku, Jinki-ya. Aku tahu ini terdengar murahan. Tapi kumohon, jangan pergi lagi atau aku akan benar-benar mati karena tidak bisa bernapas dengan baik,”

Jinki perlahan membalikkan tubuhnya. Menatap kedua mata Seo Yoon yang sudah berkaca-kaca dan hanya menatap nanar ke arahnya. Ia kembali duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangan kiri Seo Yoon kemudian tersenyum simpul.

Saranghae,” ujarnya singkat dan berhasil membuat darah Seo Yoon semakin berdesir hebat. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu, disaat Baekhyun menyatakan cinta padanya. Namun kali ini berbeda. Karena hatinya telah menjadi milik seorang laki-laki bermata sipit dan bergigi kelinci yang ada di hadapannya.

“Kau tahu apa jawabanku,”  Seo Yoon balas tersenyum pada Jinki yang mulai menunjukkan deretan gigi kelinci –yang entah sejak kapan mulai disukainya. Ia bahkan tidak menolak ketika bibir Jinki mulai menyapu lembut bibirnya. Memberikan sensasi yang berbeda, karena ia mencium seseorang yang jelas-jelas dicintainya untuk sekarang. Dan bahkan ia sudah mulai melingkarkan tangannya pada leher Jinki ketika sebuah suara mengagetkannya.

Eomma, tissue toiletnya – ………….. AAAA !!”

***

Baekhyun tahu dirinya tidak lebih dari seorang laki-laki pengecut. Yang hanya bisa memandangi wanita yang dicintainya dari jauh dan merasa tersakiti ketika wanita itu ternyata mencintai laki-laki lain. Dan mungkin apa yang dibilang orang sebagai kelebihan dirinya, ia bahkan menganggapnya sebagai sebuah kelemahan. Karena ia tidak bisa meluapkan kemarahannya dan memendamnya sendirian. Saat melihat Seo Yoon berteriak memanggil Jinki, menghiraukannya yang berdiri di hadapan wanita itu, rasanya ia sangat ingin memukul apapun yang berada di sekitarnya.

Hanya tatapan nanar yang bisa diberikannya, ketika Jinki datang dan mengangkat tubuh lemah Seo Yoon. Ia mengepalkan kedua tangannya kemudian mendengus pelan. Ternyata benar semua dugaannya selama ini. Seo Yoon tidak mencintainya lagi. Baekhyun berbalik, berjalan meninggalkan lobi dengan perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

Setelah membasuh wajahnya berkali-kali di wastafel, Baekhyun menatap pantulan dirinya sendiri di cermin kamar mandi –apartemennya. Ia menyeringai pelan ketika malah melihat sosok Seo Yoon berdiri di belakangnya. Menatapnya dengan lembut dan ia sangat membenci tatapan itu.

“Jangan menatapku seperti itu !”

PRAANG

Cermin besar itu hancur, tepat setelah kepalan tangan laki-laki itu mendarat dengan sangat keras disana. Baekhyun menurunkan tangannya, menatap retakan besar cermin yang membuat bayangan dirinya semakin banyak tercetak. Ia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa membawa Seo Yoon kembali. Ia membenci kenyataan bahwa rasa cinta itu masih bertahan di dalam dadanya dan tidak bisa merelakan Seo Yoon untuk orang lain.

Baekhyun oppa ! Gwenchanayo ?!” teriak Hana panik dari luar seraya mengetuk dengan keras pintu kamar mandinya. Baekhyun menggeleng pelan lalu mencuci luka di kepalan tangan –yang sudah sangat banyak mengeluarkan darah itu –melalui aliran air di wastafel. Bahkan rasa perih itu tidak bisa menandingi rasa sakit di hatinya.

“Ada eomma. Kau harus cepat keluar, oppa,

Baekhyun mematikan kran wastafel itu kemudian berjalan keluar. Melewati kamarnya lebih dulu sebelum sampai di ruang tengah. Tatapannya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di sofa. Ia melangkah mendekat, duduk berseberangan dengan nyonya Byun dan bersebelahan dengan Hana. Ia menyembunyikan luka di tangannya dengan melipat tangan di depan dada.

Eomma sudah membicarakannya dengan nyonya Shin,” ujar nyonya Byun seraya menatap Baekhyun dan Hana bergantian, “Kau dan Seo Yoon harus mengucap janji pernikahan lagi. Kami akan membuat pesta pernikahan kalian lagi, Baekhyun-ah,”

Baekhyun menyeringai pelan, “Terserah eomma saja. Aku tidak peduli,”

Wae ? Kau tidak senang, bisa menikah lagi dengan Seo Yoon ?” tanya nyonya Byun, membuat Hana ikut menatap kakak laki-lakinya.

“Seo Yoon bebas memilih hidupnya sendiri. Apa eomma yakin dia masih mencintaiku sekarang ?” pertanyaan Baekhyun, tidak mendapat jawaban apapun dari wanita paruh baya itu, “Jangan paksa Seo Yoon. Dia … mencintai orang lain,”

Baekhyun bisa mendengar suaranya sendiri bergetar ketika mengatakannya. Tidak. Ia tidak akan menangis untuk wanita itu. Ia merasa pantas untuk mendapatkan semuanya, setelah apa yang pernah dilakukannya dulu. Meninggalkan Seo Yoon begitu saja dan mungkin rasa sakit yang dirasakan wanita itu jauh lebih perih dari apa yang dirasakannya sekarang. Sudah terlalu banyak air mata yang dikeluarkan Seo Yoon untuk dirinya selama ini.

“Kau yakin, Baekhyun-ah ?” tanya nyonya Byun meyakinkan.

Baekhyun melirik Hana yang duduk di sebelahnya dan menatapnya dengan iba. Seolah gadis itu merasakan apa yang dirasakannya juga. Ia mengelus puncak kepala adiknya lalu mengangguk pelan, “Aku akan merelakan Seo Yoon untuk Jinki,”

Oppa ! Tanganmu berdarah,” pekik Hana, melihat aliran darah dari punggung tangan kiri Baekhyun yang belum berhenti. Baekhyun tersenyum miris lalu melihat tangannya sendiri. Luka di tangannya tidak akan pernah sebanding dengan luka yang pernah ditorehkannya pada hati Seo Yoon.

***

Minho menatap wanita berambut pendek yang duduk di hadapannya. Sudah hampir satu jam ia berada disana, menemani tunangan –sekaligus calon istrinya itu untuk makan malam. Dan gadis itu tidak pernah berhenti berbicara. Membuat Minho jengah dan bosan secara bersamaan.

Eomonim bilang, kita harus membuat list nama orang-orang yang akan diundang ke pernikahan kita bulan depan, oppa,” ujar wanita itu mengakhiri pembicaraannya.

“Sudah ? Kau mau mengatakan apalagi ? Aku harus pulang sekarang,” balas Minho seraya melirik jam di pergelangan tangannya.

“Ah ! Tentang konsepnya juga. Kau mau hall pernikahannya berwarna putih, biru, atau merah mar –,”

Ucapan gadis itu seperti tertelan bumi ketika Minho tidak sengaja menangkap sosok Seo Yoon di luar kaca restoran –tempatnya duduk sekarang. Ia melihat wanita itu berjalan memasuki sebuah toko pakaian anak-anak bersama Yun Min. Rasanya sudah sangat lama, sejak ia bertemu terakhir kali dengan wanita itu di rumah sakit. Ketika ia merasa seluruh hidupnya hancur, karena ternyata Seo Yoon lebih memilih Jinki.

“Jadi, kau mau warna apa ?”

Minho kembali menatap tunangannya. Pipi chubby dengan potongan rambut pendek sebahu, membuat gadis itu terlihat sangat manis. Perpaduan antara mata yang besar, hidung tidak terlalu mancung, dan bibir yang sangat tipis, membuat gadis itu semakin terlihat sempurna. Sebenarnya ia tidak pernah menyesal, telah memilih gadis itu untuk menjadi calon istrinya. Ia hanya belum bisa membuka perasaannya pada wanita lain setelah meninggalkan Seo Yoon. Ia hanya butuh waktu sedikit lagi.

“Apapun yang kau suka,” jawab Minho seraya tersenyum manis.

Gadis itu merasakan wajahnya memanas seketika. Minho yang selalu bersikap dingin, kini tiba-tiba malah berubah menjadi manis. Ia tidak pernah melihat senyum Minho yang setulus itu padanya. Dan baru kali ini, Minho berkata dengan suara yang sangat lembut. Tidak biasanya, yang selalu terdengar dingin dan ketus. Mungkin ini sebuah kemajuan pesat untuk hubungannya dan Minho selama dua bulan terakhir.

“Merah marun ya ? Sepertinya bagus,” lanjut gadis itu.

Minho mengangguk yakin, “Sudah selesai ? Ayo kita pulang. Orangtuamu pasti khawatir,”

Mungkin dengan mengambil keputusan ini, akan membuat hatinya menjadi lebih mudah untuk melupakan Seo Yoon. Ia akan berusaha keras untuk membuat tunangannya itu tidak tersakiti lagi. Ia akan benar-benar membuka lebar-lebar celah hatinya untuk orang lain.

***

Langkah Seo Yoon melambat yang hanya tinggal beberapa langkah lagi mencapai gerbang rumah keluarga Lee. Ia melihat Jinki yang sudah berjalan duluan tiba-tiba sedikit berbalik padanya. Jinki tertawa pelan lalu berjalan menghampiri Seo Yoon yang tertinggal di belakangnya. Ia menggenggam tangan wanita itu dengan erat. Seolah memberikan kekuatan pada Seo Yoon.

“Mereka tidak makan manusia, Seo Yoon-ah. Gwenchana,” gurau Jinki membuat Seo Yoon semakin kesal.

“Jangan bercanda ! Kau tidak lihat penampilanku sekarang ? Hanya blus dan celana jeans panjang dengan sepatu flat biasa. Kenapa tidak bilang dulu ?” gerutu Seo Yoon. Jinki mengulum senyumnya kemudian mengacak rambut wanita itu.

“Ayo masuk saja. Eomma dan appaku baru sembuh, mereka pasti senang bisa melihat calon istriku,” jawab Jinki seraya menarik tangan Seo Yoon memasuki gerbang rumahnya.

“Calon istri mwoya ?!!!”  pekik Seo Yoon tidak terima.

Jinki menghiraukannya lalu tetap menarik tangan Seo Yoon. Ia membuka pintu depan rumahnya, namun tidak disambut dengan suara apapun. Ia menghentikan langkahnya kemudian menghela napas. Kejutan konyol macam apalagi yang disiapkan Ri An ? Bukannya ia sudah mengatakan untuk tidak berbuat macam-macam ? Hanya menyambut dengan hangat kedatangan Seo Yoon. Sudah bisa ditebak apa yang akan dilakukan Ri An setelah ini.

DUARR

“Welcome !!” seru Ri An seraya berjalan menuruni tangga menghampirinya. Jinki mengibas-ngibaskan confetti yang berterbangan di sekitarnya lalu melirik Seo Yoon yang terlihat –sangat kaget di sebelahnya.

“Apa semua keluargamu selalu sangtae seperti ini ?” gumam Seo Yoon pelan. Jinki mendesah napas panjang.

“Dimana nenek, eomma, dan appa ?” tanya Jinki malas, semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Seo Yoon.

“Mereka menunggumu di ruang keluarga,” Ri An tersenyum simpul lalu melirik Seo Yoon, “Annyeong. Aku Ri An, kakak angkatnya Jinki. Tenang saja, keluarga kami tidak makan manusia,” gurau Ri An –sama seperti gurauan Jinki beberapa saat lalu –ketika melihat wajah Seo Yoon yang sangat tegang.

Annyeonghaseyo, Ri An-ssi. Aku Shin Seo Yoon,” Seo Yoon membungkuk singkat pada Ri An –masih tidak melepaskan genggaman tangan Jinki.

“Panggil aku eonni,” sergahnya, “Ja ! Sekarang kau harus menemui keluarga kami,”

Jinki mengangguk pelan dan segera menarik Seo Yoon menjauhi kakak angkatnya yang sedikit aneh. Menaiki tangga menuju lantai dua lalu berbelok ke kiri, hingga langkah keduanya terhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna hitam. Sama seperti pintu lainnya. Seo Yoon menatap Jinki ragu, sedangkan laki-laki itu malah membuka pintu di depannya dengan cepat. Seo Yoon hanya berdoa semoga ia bisa diterima dengan baik di keluarga Lee.

***

Seo Yoon meremas jari-jarinya saat tiga pasang mata di ruang keluarga itu menatap ke arahnya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, menatap nenek, ayah, dan ibu Jinki secara bergantian. Hingga kemudian tatapannya terhenti pada Jinki yang duduk di sebelahnya. Keadaan yang hening membuatnya sangat gugup. Ia merasa seperti berada di sebuah pengadilan dan ia lah yang menjadi terdakwanya.

“Jadi, siapa namamu ?” tanya nyonya Lee, membuat Seo Yoon menatap ke arah wanita paruh baya –yang masih terdapat sedikit luka kecil di wajahnya.

“Shin Seo Yoon,” jawab Seo Yoon ragu. Jinki mengangguk seraya tersenyum lebar.

“Dia calon istriku. Aku akan menikahinya eomma, appa, nenek,” jelasnya. Wajah Seo Yoon memanas seketika. Ia tidak tahu sudah semerah apa sekarang karena ucapan Jinki. Calon istri ?

Ayah angkat Jinki –Lee Kwang Soo, memperhatikan penampilan Seo Yoon sekali lagi, “Apa orangtuanya punya perusahaan juga, Jinki-ya ?”

Jinki merasakan Seo Yoon menggenggam tangannya dengan erat di bawah meja. Seolah memberi isyarat bahwa ia tidak boleh memberitahu tentang ibu dan ayah tirinya –yang memang tengah mengurus sebuah perusahaan di Jepang. Jinki hanya tersenyum kemudian menggeleng.

“Dia wanita biasa, appa. Aku mengaguminya, karena dia seorang single-parent yang hebat. Dia bisa melewati setiap harinya dengan senyuman tanpa mengeluh. Aku mencintai Seo Yoon apa adanya,” jawab Jinki lalu kembali menatap Seo Yoon.

Nyonya Lee tersedak air liurnya sendiri, “Tadi, kau bilang apa, Jinki-ya ? Seo Yoon-ssi, seorang single-parent ? Dia pernah menikah sebelumnya ?” tanyanya kaget.

Seo Yoon kembali melipat senyum. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, ketika keluarga Jinki tahu mengenai dirinya. Seorang wanita –yang pernah menikah dan mempunyai seorang anak. Orangtua laki-laki manapun pasti akan berpikir dua kali untuk menerimanya.

Waeyo ? Apa ada yang salah dengan Seo Yoon ? Aku mencintainya, eomma,” tanya Jinki heran. Nyonya Lee berdehem pelan kemudian menatap Kwang Soo yang duduk di sebelahnya.

Jinki yakin nenek Lee tidak akan menentang semua keputusannya untuk menikahi Seo Yoon. Namun kemudian semua keyakinannya runtuh saat ia melihat nenek Lee beranjak keluar ruangan. Meninggalkannya bersama kedua orangtuanya. Bahkan nenek Lee yang notabene sangat menyayanginya itu pun –belum bisa menerima Seo Yoon.

“Kau lihat ? Ini yang kutakutkan sejak tadi, Jinki-ya. Keluargamu tidak bisa menerimaku. Kau seorang yang terpandang dengan gelar pewaris perusahaan Lee. Siapa yang tidak tahu dirimu di Korea sekarang ? Orang-orang pasti akan mencibir perusahaan keluargamu, hanya karena kau menikah dengan wanita sepertiku. Apalagi aku membawa Yun Min kalau menikah denganmu nanti,” gumam Seo Yoon dengan suara sedikit bergetar. Ya, ia sedang berusaha menahan tangisannya sekarang. Ia tidak mau terlihat menangis di hadapan kedua orangtua Jinki.

Jinki mengusap puncak kepala Seo Yoon dengan lembut, “Aku tidak peduli kalau memang mereka tidak menyetujuinya. Aku akan tetap menikah denganmu apapun yang terjadi,”

“Nanti kita bicarakan lagi, Jinki-ya. Eomma dan appa ada urusan mendadak,” ujar nyonya Lee seraya beranjak dari kursi diikuti Kwang Soo. Keduanya berjalan keluar dibantu dengan beberapa pelayan –karena keadaan yang belum benar-benar pulih.

Perasaan Jinki ikut tertohok juga sebenarnya. Ia tahu bagaimana perasaan Seo Yoon saat ini. Sungguh. Ia bisa saja kembali kabur dari keluarga Lee seperti 5 tahun yang lalu dan langsung menikah dengan Seo Yoon. Namun ia tidak bisa melakukan hal itu begitu saja. Ia harus menghidupi keluarganya bukan ? Jika dengan bekerja di café saja, ia tidak akan bisa membayar biaya sewa apartemen, biaya kehidupan sehari-hari, dan biaya sekolah Yun Min hingga perguruan tinggi nanti. Tetap saja ia harus memiliki Seo Yoon dan jabatan di perusahaan Lee sekaligus. Tidak bisa memilih diantaranya. Dan Jinki pun hanya bisa memeluk Seo Yoon untuk memberinya kekuatan.

***

Baekhyun memutuskan untuk menunggu Seo Yoon di apartemen wanita itu bersama Yun Min. Setelah menjemput anak itu ke sekolah tadi, ia bergegas mengantarnya pulang ke apartemen. Dan beruntung Yun Min mengetahui password apartemen Seo Yoon, sehingga ia pun bisa menunggu di dalam. Ia tidak bisa meninggalkan dan melepas Seo Yoon begitu saja seperti dulu. Ia sangat ingin menghabiskan waktu-waktunya bersama Seo Yoon dan Yun Min, sebelum wanita itu menjadi milik orang lain.

Yun Min baru saja tertidur beberapa saat lalu dan Baekhyun mencoba menghabiskan waktu dengan berkeliling apartemen Seo Yoon. Ia melihat beberapa album fotonya bersama Seo Yoon dulu yang tersembunyi di laci. Terdapat foto-foto Yun Min juga ketika masih bayi yang dipasangkan dengan fotonya di dalam album itu. Jika saja Seo Yoon masih mencintainya sekarang, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi dan segera menyatukan kembali keluarga kecilnya. Bolehkah ia berharap bahwa Seo Yoon masih sedikit mencintainya ?

“Baekhyun-ah, apa yang kau lakukan disini ?” suara Seo Yoon membuyarkan semua lamunan Baekhyun. Laki-laki itu bergegas memasukkan kembali album foto itu ke dalam laci di dekat TV lalu berbalik menghadap Seo Yoon. Ia bisa tersenyum lega ketika tidak melihat Jinki disana.

“Tadi gurunya meneleponku, Yun Min sudah pulang tapi tidak ada yang menjemput. Jadi aku menjemput kemudian mengantarnya ke sini. Kau darimana ?” tanya Baekhyun seraya menghampiri Seo Yoon yang baru saja menghempaskan tubuhnya di sofa.

“Jalan-jalan di sekitar sini,” Seo Yoon mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit apartemennya lalu menghela napas panjang.

Seo Yoon tersentak ketika tiba-tiba saja Baekhyun mengusap rambutnya. Ia menurunkan kembali kepalanya lalu menatap Baekhyun heran. Rasa heran wanita itu semakin bertambah, ketika Baekhyun –lagi-lagi –secara  tiba-tiba memeluknya. Dengan sangat erat, hingga ia pun sulit untuk mengambil napas.

“Apa yang –,”

“Biarkan seperti ini. Untuk yang terakhir kalinya,” potong Baekhyun.

Seo Yoon mengangguk mengerti. Ia menyandarkan kepalanya pada pundak Baekhyun lalu ikut membalas pelukan hangat itu. Tidak bisa dipungkiri, ia memang merindukan pelukan hangat Baekhyun yang seperti ini. Namun jantungnya tidak berdebar cepat lagi. Ia lebih merasa bahwa Baekhyun lebih cocok menjadi kakak laki-lakinya. Yang bisa menenangkannya ketika ia berada dalam masalah. Sejenak ia bisa melupakan penatnya karena sikap keluarga Lee tadi. Ya, pelukan Baekhyun selalu bisa menenangkannya.

“Kau mencintai Jinki ‘kan ?” tanya Baekhyun –masih sambil memeluk Seo Yoon dengan erat.

Mianhae,” jawab Seo Yoon pelan seraya menggigit bibir bawahnya.

Ahni. Harusnya aku yang meminta maaf. Aku terlalu egois selama ini, berharap kau masih mencintaiku dan bisa kembali bersama seperti dulu lagi. Kau memilih laki-laki yang tepat, Yoon-ie. Jinki bukan laki-laki sepertiku yang hanya bisa menyakitimu dan meninggalkanmu begitu saja. Walaupun masalah itu sudah berlalu dan dibuat-buat, aku tetap seorang laki-laki brengs*k yang tidak bisa bertanggung jawab,” jelas Baekhyun dengan suara sedikit bergetar karena menahan rasa sesak di kerongkongannya. Ia tidak bisa membuat Seo Yoon tersakiti lagi dengan memaksakan kehendaknya untuk kembali menikah.

Mianhae,” ucap Seo Yoon lagi lalu mulai terisak kecil, “Kau jauh lebih baik dari Jinki menurutku, Baekhyun-ah. Dan kau akan mendapat wanita yang jauh lebih baik dariku juga. Perasaan tidak bisa berbohong. Aku lebih mencintai Jinki sekarang, karena dia yang membantuku selama ini,”

Gomawo,

“Untuk ?” tanya Seo Yoon heran.

“Karena pernah menjadi bagian hidupku,” Baekhyun menghirup dalam-dalam aroma tubuh Seo Yoon untuk mengingatnya. Karena mungkin di lain kesempatan, ia tidak akan bisa memeluk dan menghirup wangi Seo Yoon lagi. Perlahan ia memejamkan matanya. Mencoba mengingat momen terakhir kebersamaannya dengan Seo Yoon dan Yun Min. Ia pasti akan sangat merindukan anak laki-laki itu nanti.

***

Keadaan di ruang keluarga Lee terlihat cukup menegangkan. Jinki mengepalkan kedua tangannya saat mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir nyonya dan tuan Lee. Mereka terus mengatakan bahwa Seo Yoon bukan seorang yang baik hanya karena menyandang status single-parent dan sudah pernah menikah. Oh ayolah, ia yang tahu bagaimana kehidupan Seo Yoon selama ini. Ia bahkan mengagumi seorang Shin Seo Yoon yang mampu bertahan hidup, merawat anaknya sendirian tanpa bantuan siapa pun.

“Ri An noona,” panggil Jinki membuat wanita itu menoleh padanya, “Kau mendukungku ‘kan ? Aku mendukung hubunganmu dengan Joong Ki,”

“Err, tapi masalahnya, Jinki-ya. Sebelumnya aku tidak tahu kalau dia bukan istrimu dan seorang single-parent. Mungkin aku akan berpikir dua kali untuk menerimanya jadi adik iparku,” jawab Ri An seraya tersenyum polos.

Jinki mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak pernah menduga bahwa ternyata keluarganya masih sama saja seperti dulu. Mementingkan ‘apa kata orang lain’ dan tidak melihat bagaimana perjuangan Seo Yoon selama ini.

“Lebih baik mana. Seorang wanita pilihan eomma dan appa yang jelas-jelas sangat suka menghamburkan uang, atau wanita pilihanku yang sangat menghargai setiap peser uang yang didapatnya. Dia bahkan merawat anaknya sendirian sejak bayi dengan bekerja,” jelas Jinki –meninggikan nada bicaranya. Ia mengacak rambutnya frustasi.

“Tapi Jinki-ya, bagaimana dengan media diluar sana ? Kau mau keluarga Lee tercoreng karena kau menikah dengannya ?” tanya Kwang Soo masih tetap pada pendiriannya.

Eomma….,” Jinki menggeleng lemah kemudian berdiri dari kursi. Berjalan menghampiri wanita paruh baya itu lalu berlutut di hadapannya, “Kumohon. Aku tidak pernah meminta apapun sebelumnya. Ini permintaan pertama dan terakhirku. Eomma, appa, nenek, dan Ri An noona. Tolong terima Seo Yoon, setujui hubungan kami,”

Nyonya Lee menatap seluruh anggota keluarga Lee. Saat melihat kesungguhan Jinki, ia semakin yakin bahwa Seo Yoon memang seorang wanita yang baik. Ia tidak pernah melihat kesungguhan Jinki yang seperti ini sebelumnya. Dan mungkin ia harus menyingkirkan semua rasa gengsinya demi Jinki. Anak angkat yang sangat disayanginya sejak dulu. Ia menepuk kedua pundak anak laki-lakinya lalu membantunya berdiri.

“Kau pasti tahu yang terbaik,”

***

Sudah satu minggu sejak Jinki mengajaknya ke rumah keluarga Lee dan terakhir kali ia berkomunikasi dengan laki-laki itu. Tidak ada telepon atau pun pesan dari Jinki. Membuat Seo Yoon khawatir setengah mati. Bagaimana jika Jinki tetap bersikeras menentang keluarganya ? Dan bagaimana jika Jinki meninggalkannya begitu saja sama seperti Baekhyun ? Mungkin ia seharusnya tidak terlalu banyak berharap bahwa keluarga Lee akan menerimanya begitu saja.

Seo Yoon segera memeluk Yun Min yang berlari ke arahnya setelah keluar dari kelas. Ia mengacak rambut anak itu kemudian menggandeng tangannya, berjalan keluar menuju gerbang. Namun kemudian langkahnya terhenti. Ia menatap laki-laki –yang tengah bersandar pada mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sebelum suaranya keluar untuk memanggil laki-laki itu, Yun Min sudah lebih dulu berteriak.

“Jinki appa !” pekiknya seraya melepaskan genggaman tangan ibunya dan berlari ke arah Jinki. Seo Yoon mengerucutkan bibirnya lalu melangkah dengan cepat menghampiri laki-laki itu.

“Oh, Seo Yoon – YA ! Aww ! Kenapa memukulku, Shin Seo Yoon !” seru Jinki saat kepalan tangan Seo Yoon bertubi-tubi mendarat di lengan atasnya.

Nappeun ! Kenapa tidak memberiku kabar hah ?! Aku khawatir, bodoh !” pekik Seo Yoon –masih sambil memukul lengan Jinki dengan keras. Jinki kembali meringis kemudian dengan segera menarik Seo Yoon ke dalam pelukannya.

Mian,” gumamnya pelan lalu melepas pelukan itu sedetik kemudian karena suara batuk Yun Min –yang dibuat-buat.

“Kalian harus ikut denganku. Ayo naik,” Jinki tersenyum lebar. Ia membukakan pintu bagian belakang untuk Yun Min lalu pintu bagian depan –disampingnya untuk Seo Yoon.

Kening Seo Yoon berkerut heran ketika mobil Jinki berhenti tepat di depan sebuah boutique gaun pengantin. Ia baru saja menoleh dan akan bertanya pada Jinki, ketika melihat laki-laki itu sudah keluar dan membantu Yun Min turun di pintu belakang. Dengan ragu Seo Yoon membuka pintu mobil. Ikut melangkah mengikuti Jinki memasuki pintu kaca yang di samping kanan-kirinya terpajang beberapa gaun pengantin. Tiba-tiba ia merasa gugup.

“Waah, jadi ini calon cucu eomma ? Ya ! Dia mirip denganmu, Jinki-ya,” suara hangat nyonya Lee menyeruak masuk ke dalam pendengaran Seo Yoon. Ia melihat nyonya Lee tengah mengambil alih Yun Min dari tangan Jinki dan mengajak anak itu mengobrol.

“Kenapa diam ? Ayo pilih gaun untuk pernikahan kita minggu depan,” seru Jinki seraya menarik tangan Seo Yoon menuju deretan gaun pengantin di sudut boutiqueyang di dominasi warna putih itu.

Mwo ?” tanya Seo Yoon tidak mengerti, “Kita ? Menikah minggu depan ? Kau gila ?! Aku bahkan bel – hmmph,”

Jinki segera membekap mulut Seo Yoon dengan tangannya lalu membalikkan tubuh wanita itu lagi ke arah deretan gaun pengantin, “Jangan protes. Aku tahu kau tidak akan menolak,”

Wajah Seo Yoon bersemu. Ia menurunkan telapak tangan Jinki dari mulutnya lalu kembali berbalik untuk memeluk laki-laki itu. Ia sangat merindukan sosok Jinki setelah satu minggu tidak bertemu dan malah diberi kejutan seperti itu. Ia merasa seperti menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Gomawo. Saranghae,” gumam Seo Yoon pelan.

“Iya, aku tahu. Sekarang cepat pilih atau Ri An noona yang akan memilihkannya untukmu,”

Seo Yoon mendengus pelan lalu melepas pelukan itu dengan cepat. Terkadang ia ragu, Jinki benar-benar mencintainya atau tidak. Suara tirai terbuka membuat Seo Yoon menoleh. Kedua mata Seo Yoon membulat saat seorang wanita berbalut gaun pengantin muncul dari balik tirai fitting room. Model gaun yang sangat indah, dengan panjang menyentuh mata kaki dan potongan rendah di dada namun tetap terpaut pada pundaknya. Sangat simple. Namun entah kenapa terlihat sangat indah.

“Baiklah. Kita ambil gaun itu. Tatapanmu seperti ingin memakan gaun itu, Shin Seo Yoon,” ujar Jinki memecahkan lamunan Seo Yoon. Wanita itu mengangguk mantap kemudian mengikuti langkah Jinki untuk mencari salah satu pegawai yang ada.

Seo Yoon tersenyum lebar ketika bisa memakai gaun pengantin itu –walaupun hanya di dalam fitting room sekarang. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar di hadapannya. Tubuh rampingnya terbalut gaun pengantin yang sangat indah. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ia bisa memakai pakaian seperti itu lagi dan akan kembali mengucap janji pernikahan –setelah merasa trauma karena pernikahannya dengan Baekhyun dulu. Ia bahkan pernah berpikir, bahwa ia mungkin akan menikah lagi dengan Baekhyun. Namun Tuhan menggariskan cerita yang lain untuk hidupnya. Ia bertemu Jinki dan pada akhirnya menikah dengan laki-laki itu.

Seulas senyum muncul di bibir Seo Yoon. Seorang Lee Jinki –yang pada awalnya hanya seorang ayah pura-pura dari anak laki-lakinya, kini malah menjadi ayah sungguhan. Merangkap menjadi suaminya juga. Seo Yoon semakin melebarkan senyumnya kemudian mulai membuka tirai fitting room. Menatap Jinki yang sudah memakai tuxedo berwarna putih gading –yang senada dengan warna gaunnya. Jinki melemparkan seulas senyum manis padanya.

“He brighten my world like no one else in my life would. He make me smile and warm my heart like no one else. He make me feel that I’m in love again. It’s like he came to steal my love for ‘him’, just come to me and tell that its only me. He bring the light to my world like no one else in this life will,”

[Pretend End]

One thought on “Pretend [13th Part-END]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s