Pretend [12th Part]

Pretend

Author  : Ima

Casts     : 

  • Shin Seo Yoon
  • Shin Yun Min
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

 [Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part][5thPart] [6th Part] [7thPart] [8th Part] [9th Part] [10th Part] [11thPart] [12th Part]

Pada akhirnya Jinki terpaksa harus menyentuh kembali minuman beralkohol. Jika tidak mencari pelarian seperti itu, mungkin ia akan merasa lebih frustasi. Ia tidak bisa membiarkan perasaannya terhanyut hanya karena Seo Yoon. Mendapati sebuah kenyataan bahwa Seo Yoon sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya. Bahkan rela memanfaatkannya –untuk menjauhi orang lain. Ia akan dibuang begitu saja setelahnya, tanpa mendapat apapun dari wanita itu.

Tidak. Jinki tidak meminta imbalan apapun sebenarnya. Hanya saja, ia merasa sangat rendah jika saja Seo Yoon terus memperlakukannya seperti itu. Terus membawanya ke dalam cerita yang dibuat sendiri oleh wanita itu. Penuh kepura-puraan dan kebohongan. Seharusnya ia tahu sejak awal, bahwa Seo Yoon sama saja dengan wanita lainnya.

Jinki menyeringai pelan kemudian kembali meneguk gin miliknya hanya dalam satu kali tegukan. Ia menaruh kembali gelas itu ke atas meja bar dan meminta gelas berikutnya. Tidak peduli sang bartender menatap heran kearahnya karena –mungkin sudah lebih dari 10 gelas gin yang memasuki perutnya.

“Kau tidak bisa menambah gin lagi, tuan,” ujar sang bartender pada Jinki yang masih menyodorkan gelas.

“Cepat berikan aku ginnya, pelayan bodoh ! Aku akan bayar dua kali lipat !” pekik Jinki.

“Ini bukan masalah uang, tuan. Tapi ini menyangkut kesehatan. Hatimu akan rusak kalau meminum lebih dari 15 gelas gin,” jelas sang bartender.

Jinki menyeringai pelan, “Hatiku memang sudah rusak karena seorang wanita. Bahkan aku sudah menjadi laki-laki paling bodoh di dunia, karena wanita itu juga. Aku tidak peduli kalau nanti harus mati karena gin ini,”

“Tapi ini peraturan bar kami, tuan. Tidak ada gin lebih dari 10 gelas,” sang bartender tetap pada pendiriannya dan membuat Jinki jengah. Jinki segera bangkit dari kursi lalu menjatuhkan gelas itu ke lantai. Ia mengeluarkan uang ratusan ribu won ke atas meja lalu berjalan keluar dari bar dengan sempoyongan.

Well, dalam keadaan mabuk Jinki tidak mungkin melajukan mobilnya sendirian di jalanan. Ia memilih diam di dalam mobil, dengan kepala bersandar pada kemudi. Bayangan Seo Yoon terus berputar di kepalanya. Ketika bagaimana wanita itu membuat sebuah kebohongan –yang membuat hatinya terasa hancur.

Jinki membuka ponselnya lalu mencari nama Ri An –untuk menjemputnya. Namun ia mengurungkan niatnya kembali ketika mengingat Ri An tengah berlibur di luar negeri bersama kekasihnya.  Ia tidak bisa menelepon siapapun dan mungkin akan tertidur di mobil saja, sampai rasa pusing di kepalanya hilang besok pagi.

Namun kemudian Jinki merasakan ponsel yang berada di genggamannya itu bergetar. Ia tidak berniat untuk melihat nama yang tertera dan segera mengangkat telepon itu.

“Annyeong,” sapa Jinki saat ponsel itu menempel di telinganya.

‘Kau dimana, Jinki-ya ?

Terdengar suara nenek Lee yang khawatir di ujung sana. Jinki tersenyum lebar, “Nenek~,” rengeknya manja.

‘Kau mabuk ? Astaga, Lee Jinki. Katakan dimana kau sekarang,’ tebak nenek Lee, bahkan tanpa berpikir panjang lagi. Jinki tidak akan pernah mau merengek manja padanya sejak kecil.

“Aku tidak mabuk, nenek,” Jinki tertawa pelan sejenak lalu melanjutkan kembali ucapannya, “Apa ada supir di rumah ? Tolong suruh salah satu supir untuk menjemputku di X-Night bar, nek,”

‘Sudah mabuk, masih mengelak juga. Nenek akan kirim supir kesana, kau jangan pergi kemana pun,’

Jinki mengangguk malas lalu melempar ponselnya ke jok belakang. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran jok lalu kembali tertawa. Ia sudah hampir gila sekarang hanya karena seorang wanita. Terakhir kali menyentuh minuman beralkohol, Jinki tidak mengingatnya sama sekali. Ia sudah bersumpah tidak akan pernah lagi meminum alcohol apapun yang terjadi. Namun kenyataannya sekarang, ia malah melarikan diri dari kenyataan pada alcohol lagi.

***

Suasana di dalam ruang tamu itu terlihat menegangkan. Baekhyun dan Hana hanya diam, menundukkan kepala dan membiarkan pertengkaran –kedua orangtuanya terjadi. Akhirnya semua terbongkar. Kejadian dimana Yun Jae –ayahnya, menjelaskan hal terlarang yang pernah dilakukannya 5 tahun lalu. Hal terlarang yang membuat pernikahannya hancur begitu saja. Sungguh. Baekhyun sangat ingin berdiri dan memukul pria itu sekarang.

“Dasar brengs*k !” pekik nyonya Byun seraya menampar wajah Yun Jae –lagi.

“Aku tahu ini salah, yeobo. Mianhae, mianhae,” balas Yun Jae lemah. Nyonya Byun kembali menangis dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tidak sanggup lagi menatap kedua mata suaminya.

“Seharusnya aku mempercayai Chaeyeon dari dulu ! Persahabatan kami terputus hanya karena kau ! Aku selalu menuduhnya sudah menggodamu selama ini. Dan membuatku memisahkan Baekhyun dengan Seo Yoon waktu itu. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu ? Sedih dan kecewa ! Aku kecewa padamu, Byun Yun Jae,” ujar nyonya Byun masih sambil terisak.

Mianhae yeobo, mianhae,” balas Yun Jae lagi dengan nada lebih keras dari sebelumnya sembari memegang kedua tangan nyonya Byun.

Baekhyun segera mengangkat kepalanya, ia menoleh sekilas pada Hana yang ternyata menangis juga. Ia menghela napas dalam-dalam kemudian beranjak dari duduknya.

“Kalian berdua sama-sama egois. Appa yang selalu memikirkan kesenangan dirinya dan eomma yang selalu terbawa emosi, sampai melampiaskannya pada orang lain,” Baekhyun menatap tiga pasang mata yang menatap ke arahnya lalu tersenyum sinis.

“Jangan menatapku seperti itu,” sahut Baekhyun, kemudian berjalan meninggalkan ruang tamu rumah keluarga Byun.

Namun langkahnya terhenti saat mendengar panggilan nyonya Byun. Ia tetap diam di dekat pintu keluar, tanpa mau berbalik dan menatap kedua mata ibunya. Karena kedua matanya sudah mulai memanas sekarang. Dan mungkin sebentar lagi akan mengeluarkan air mata.

“Maafkan eomma, Baekhyun-ie. Eomma tidak akan melakukan hal itu, kalau saja appa tidak memulainya,” ucapan nyonya Byun –malah membuat air mata Baekhyun perlahan mengalir, “Maaf karena eomma egois selama ini. Aku akan menceraikan dia secepatnya. Ini sebagai pengganti, karena aku pernah memisahkanmu dengan Seo Yoon dulu,”

“Tidak, yeobo. Kita tidak bisa bercerai, kau tahu –,”

Eomma tidak perlu melakukannya,” ucap Baekhyun memotong ucapan Yun Jae, “Tolong izinkan aku untuk bisa bersama Seo Yoon lagi. Itu sudah cukup,”

“Kita bisa membicarakan hal itu nanti, Baekhyun-ah,” ujar nyonya Byun lalu melangkahkan kakinya menuju lantai dua rumah keluarga Byun –dimana kamarnya berada.

Hanya terdengar desahan napas panjang yang keluar dari bibir Yun Jae. Pria paruh baya itu beranjak dari duduknya, menatap Hana –yang masih tertunduk kemudian melangkah menghampiri Baekhyun. Ia sedikit memeluk laki-laki itu lalu kembali terisak.

Mianhae. Maafkan appamu yang sangat bodoh ini,” ujar Yun Jae seraya menepuk pundak Baekhyun dengan lembut, “Appa akan mengembalikan semuanya seperti semula. Termasuk pernikahanmu dengan Seo Yoon,”

Baekhyun hanya tersenyum simpul kemudian melangkah keluar rumah. Meninggalkan Yun Jae yang masih terpaku di dekat pintu. Ia memasuki mobil, menyalakan mesinnya kemudian melajukannya di jalanan dengan kecepatan tinggi. Rasa kesalnya sangat membuncah. Ia tidak pernah menyangka bahwa sosok ayah –yang selalu dikaguminya itu ternyata tidak lebih dari seorang laki-laki brengs*k. Yang selalu mempermainkan wanita. Dan yang membuatnya lebih kesal adalah keputusan sepihak nyonya Byun yang menceraikannya dengan Seo Yoon dulu –hanya karena masalah kecemburuan. Kedua orangtuanya bersikap sangat kekanakkan.

***

Seo Yoon bergegas menyelimuti Yun Min yang sudah tertidur lelap diatas tempat tidur. Anak laki-laki itu baru saja pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama dua minggu dan dokter Kim menganjurkan untuk tetap memberikan istirahat yang cukup untuk Yun Min. Tidak membuat anak itu tertekan dengan masalah apapun agar penyakit kelainan jantungnya tidak kambuh lagi.

Tatapan Seo Yoon beralih pada seluruh sudut apartemennya –setelah melangkah keluar dari kamar Yun Min. Apartemennya terasa sangat sepi karena kepergian Jinki. Ia baru merasakannya karena sejak hari pertama Jinki meninggalkan apartemennya, ia selalu berada di rumah sakit untuk merawat Yun Min. Ia tidak pernah tahu bahwa rasanya akan sesunyi ini.

Seo Yoon menjatuhkan tubuhnya di sofa lalu mendongakkan kepala, menatap langit-langit ruang tengah apartemennya. Ia masih sangat ingat bagaimana ekspresi kecewa Jinki ketika meninggalkannya dua hari yang lalu. Ucapan laki-laki itu benar-benar menohok perasaannya. Ia tidak pernah tahu, perasaannya akan sangat terluka saat Jinki melangkah jauh meninggalkannya. Dan ia tidak pernah mengerti, kenapa air matanya selalu saja menetes ketika mengingat Jinki. Mungkin ia memang sudah sangat keterlaluan, sudah mempermainkan Jinki selama ini.

Tangan Seo Yoon terangkat, menghapus aliran air mata yang –lagi-lagi mengaliri pipinya. Dadanya terasa sangat sesak. Ia tidak pernah mau dibenci oleh Jinki seperti sekarang. Ia telah membuat sahabat terbaiknya pergi begitu saja karena kecerobohannya sendiri.

Suara bel membuat Seo Yoon kembali menundukkan kepalanya. Wanita itu membersihkan sisa air matanya lalu melangkah dengan gontai menuju pintu. Ia melihat layar di dekat pintu apartemennya kemudian menghela napas panjang. Dengan ragu Seo Yoon membuka pintu apartemennya dan menatap wanita paruh baya bergaya high class yang tengah berdiri di depannya.

Waeyo eomma ?” tanya Seo Yoon malas.

“Apa eomma boleh masuk ?” tanya Chaeyeon, menghiraukan pertanyaan Seo Yoon sebelumnya. Seo Yoon mengangguk kemudian melebarkan pintu apartemennya, membiarkan ibunya itu masuk ke dalam.

Chaeyeon mengitarkan pandangannya ke seluruh bagian apartemen Seo Yoon. Tidak ada yang berubah sejak ia terakhir kali datang –ketika ia memaksa Seo Yoon untuk menerima perjodohan yang sudah dibuatnya. Ia yang beberapa bulan lalu masih sangat membenci kenyataan bahwa Seo Yoon masih mencintai Baekhyun. Ia sadar bagaimana rasa cinta yang dalam itu hingga Seo Yoon tidak mau menikah lagi –seperti tawarannya, karena perasaan cinta pada suami barunya sekarang pun tidak pernah menyamai perasaan cinta pada mantan suaminya.

“Apa kau masih mengharapkan Baekhyun, Seo Yoon-ah ?” tanya Chaeyeon sontak menghentikan kegiatan Seo Yoon yang tengah menyiapkan minum di dapur.

“Kenapa eomma tiba-tiba bertanya seperti itu ? Apa eomma mau menjodohkanku lagi ?” tanya Seo Yoon sarkastik. Chaeyeon tersenyum lemah lalu meremas jari-jari tangannya sendiri.

“Kalau kau memang masih mencintai Baekhyun, eomma akan berusaha,”

“Apa maksud eomma ? Berusaha apa ?” tanya Seo Yoon seraya berbalik, menatap Chaeyeon yang tengah menatap ke arahnya.

“Membuat kalian bersatu lagi,” Chaeyeon menghela napas panjang dan memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap Seo Yoon, “Secara tidak langsung, eomma yang sudah membuat kalian bercerai dulu, Seo Yoon-ah,”

Seo Yoon mengerjapkan kedua matanya. Merasa heran dengan ucapan Chaeyeon yang tiba-tiba berubah menjadi lembut dan tidak sombong seperti saat pertemuan terakhir mereka. Dan Seo Yoon segera menghentikan kegiatan membuat minumnya –lagi ketika menyadari ucapan terakhir wanita paruh baya itu.

Mwo ?”

“Yun Jae –ayah mertuamu, selalu menggoda eomma dulu. Ibu mertuamu mengetahuinya. Dia marah besar dan kemudian melampiaskannya pada pernikahanmu,”

Seo Yoon merasakan kepalanya seolah tertimpa sebuah benda berat. Ia merasakan pusing di kepalanya ketika mendengar penjelasan Chaeyeon. Jadi para orang tua mereka membuat ia yang menjadi korbannya ? Dengan membuat alasan bahwa ia –seorang wanita muda yang tidak bisa hamil dan membuat hatinya hancur berkeping-keping ketika seorang wanita datang padanya dan mengaku bahwa telah menjalin hubungan dengan Baekhyun. Membuat seluruh hatinya tertutup pada Baekhyun karena keegoisan para orangtua mereka. Dan kenapa, Chaeyeon bahkan baru memberitahunya sekarang ?

Wae ? Kenapa eomma baru memberitahunya sekarang ? Kenapa tidak di saat pernikahanku hampir hancur karena masalah ini ?” tanya Seo Yoon, dengan sebulir air mata yang mengalir membasahi pipinya.

Chaeyeon beranjak dari sofa lalu berjalan mendekat Seo Yoon, menarik tubuh anak perempuannya ke dalam pelukannya. Rasanya sudah lama sekali ketika terakhir kali ia memeluk anaknya seperti itu.

Mian. Maafkan eomma, Seo Yoon-ah. Eomma terlalu pengecut karena tidak memberitahumu dari awal,”

Seo Yoon semakin terisak. Ia tidak berusaha melepaskan pelukan Chaeyeon dan tetap menumpahkan air matanya di baju wanita itu. Rasa cintanya pada Baekhyun harus dikorbankan karena masalah percintaan Chaeyeon. Walaupun mungkin hanya Yun Jae yang menggoda ibunya, namun tidak seharusnya Chaeyeon ikut mendorongnya untuk segera menceraikan Baekhyun dulu. Kenapa disaat perasaannya sedang goyah, seluruh kesalahpahaman 5 tahun yang lalu malah terbuka ? Bahkan ketika ia sendiri bingung menentukan pilihan, sementara laki-laki yang ‘sempat’ menjadi bagian hidupnya itu kembali denganimage tanpa dosa. Dan laki-laki itu –Byun Baekhyun, masih mencintainya tanpa berubah sedikit pun.

***

Entah sudah keberapa kalinya nenek Lee mengintip ruang kerja Jinki melalui celah pintu. Sejak kepergiannya ke Jepang dua hari yang lalu, dan kepulangannya lagi ke Korea tadi pagi, ia melihat Jinki masih duduk di kursi kerja. Dengan pakaian yang sama dilengkapi lingkaran hitam di sekitar matanya. Ia tahu Jinki belum beranjak dari sana sejak dua hari yang lalu. Biasanya Jinki akan keluar walau sekedar berganti baju dan mengambil makanan. Namun menurut keterangan para pelayan di rumahnya, Jinki bahkan tidak melangkah sedikit pun dari ruang kerjanya.

Nenek Lee baru saja berbalik untuk menuruni tangga, ketika matanya menatap sosok Ri An yang baru memasuki pintu rumah. Dengan tergopoh, nenek Lee menuruni tangga, menghampiri cucu perempuannya yang tengah menarik sebuah koper besar dan memakai kacamata hitam.

“Ah, nenek !” pekik Ri An lalu memeluk nenek Lee dengan erat.

“Ya ! Kau mau membunuhku hah ?!” sahut nenek Lee seraya mendorong tubuh Ri An menjauh.

Ri An hanya terkekeh pelan lalu menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepala, “Dimana Jinki ? Tumben dia tidak meledekku seperti biasanya,”

Nenek Lee melipat kedua tangannya di depan dada, mengendikkan bahu –tdak tahu kemudian menunjuk lantai dua rumahnya dengan dagu.

“Dia tidak keluar dari ruang kerja selama dua hari. Tidak mandi, ganti pakaian, ataupun makan. Mungkin dia sedang mendapat masalah diluar sana. Aku khawatir dengan keadaannya, Ri An-ah,” ujar nenek Lee lemah. Ri An mengangguk mengerti lalu ikut melempar pandangannya menuju lantai dua.

“Aku akan coba mengobrol dengannya. Nenek jangan khawatir, ne ?” Ri An mencoba tersenyum lebar seraya menepuk pundak nyonya Lee, kemudian segera mengitarkan pandangannya ke seluruh rumah –yang sangat luas itu, “YuiAhjumma !! Tolong bawakan tasku !!” teriaknya lalu melangkah begitu saja meninggalkan koper-koper besar miliknya di dekat nenek Lee.

Dengan sekali hentakan, Ri An membuka pintu ruang kerja adiknya. Ia melihat laki-laki itu sedikit terkesiap lalu menatap heran ke arahnya. Ri An mendecak kesal ketika melihat lingkaran hitam di sekitar mata Jinki, mata yang hanya segaris itu semakin tidak terlihat karena mata yang sembap dan lingkaran hitam itu.

“Masalah apa ? Wanita ?” tanya Ri An to the point seraya berjalan mendekati meja kerja Jinki, lalu duduk berhadapan dengan laki-laki itu.

“Apa maksud noona ?” tanya Jinki, kembali memeriksa berkas-berkas perusahaan Lee di tangannya.

Aigoo~, uri Jinki berubah jadi dingin seperti ini,” rajuk Ri An kemudian terkekeh pelan saat tatapan tajam Jinki tertuju ke arahnya, “Aku tahu kau melarikan diri dari masalah sekarang. Kau bukan seorang workerholic yang selalu berkutat dengan hal-hal yang menyangkut perusahaan. Kau benci bekerja di perusahaan, aku tahu itu,”

Jinki menaruh berkas-berkas itu ke atas meja kemudian memijat pelipisnya. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali beranjak dari kursi yang tengah di dudukinya sekarang. Tidak ada sedikit pun rasa lapar, kantuk, atau apapun yang menyerangnya dalam dua hari terakhir. Ia hanya mengerjakan semua yang bisa di kerjakannya. Melampiaskan semua kekesalannya pada Seo Yoon dengan bekerja.

“Jadi, siapa wanita itu ? Apa dia menyakitimu ?” tanya Ri An, menarik kembali lamunan Jinki ke dunia nyata. Jinki hanya tersenyum simpul lalu menggeleng pelan.

Dwaesseo, noona. Kau tidak perlu memikirkannya. Ini masalahku sendiri,” Jinki kembali tersenyum sebelum beranjak dari kursi kerjanya. Ia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, meregangkan otot-otot yang terasa kaku karena tidak bergerak selama dua hari.

“Kau harus lihat cermin sekarang. Wajahmu …. Terlihat sangat menyeramkan, Jinki-ya,” Ri An tertawa pelan lalu berjalan meninggalkan ruang kerja Jinki. Meninggalkan laki-laki berumur 24 tahun yang masih terpaku di tempatnya berdiri itu.

Jinki menyeringai pelan menyadari perubahan dirinya sendiri. Dalam tiga hari dan hanya dikarenakan oleh seorang wanita. Rasanya ia sudah hampir gila ketika mengingat bahkan Seo Yoon tidak mencintainya sama sekali. Untuk selamanya ia hanya seorang sosok ayah palsu bagi Yun Min dan tidak akan pernah berkembang menjadi apapun. Awalnya ia tidak pernah menduga, rasa kagum yang dirasakannya saat pertama kali bertemu dengan Seo Yoon, kini malah berubah menjadi sebuah rasa cinta.

***

Seo Yoon terus memerhatikan anak laki-lakinya yang berada di dalam kelas melalui kaca jendela. Ia tersenyum simpul ketika melihat Yun Min sudah kembali seperti semula. Tidak terlihat tanda-tanda anak itu baru saja sembuh sakit. Melihat perkembangan Yun Min setelah masuk rumah sakit kemarin, ia yakin anak itu akan tumbuh menjadi lebih kuat nantinya. Ia hanya berharap semoga penyakit itu tidak lagi menyerang anaknya.

Seo Yoon baru saja berbalik saat melihat Baekhyun tengah berjalan dari ujung lorong menuju ke arahnya. Ia mendesah napas pelan kemudian kembali berbalik, mencoba menghindari Baekhyun dengan memutari koridor tanpa harus berpapasan dengan laki-laki itu.

“Shin Seo Yoon !!” panggilan Baekhyun terpaksa membuat Seo Yoon menghentikan langkahnya. Ia –lagi-lagi harus membalikkan tubuhnya, menghadap Baekhyun yang sudah berjarak beberapa langkah di depannya.

“Kenapa kau bisa ada disini ?” tanya Seo Yoon.

“Menjemput anakku,” Baekhyun tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya pada jendela yang terhubung dengan bagian dalam kelas Yun Min. Ia melambai singkat pada Yun Min yang tiba-tiba tersenyum lebar ke arahnya.

“Kau sudah makan siang ?” tanya Baekhyun tiba-tiba.

Seo Yoon menggeleng pelan, “Belum. Aku berencana untuk makan siang dirumah bersama Yun Min,”

“Bersama Jinki juga ?” tanya Baekhyun lagi sontak membuat tubuh Seo Yoon menegang seketika.

Jinki ? Rasanya sudah sangat lama ia tidak melihat sang pemilik nama itu. Baru seminggu Jinki meninggalkannya dan ia merasa seluruh hidupnya hampa. Tidak ada lagi senyuman khas dan seruan menyemangati dari laki-laki itu lagi. Tidak ada yang menanyai kabarnya setiap malam melalui telepon. Dan bahkan tidak ada lagi pelukan yang selalu bisa menenangkannya.

“Yoon-ie ? Kau melamun ?” tanya Baekhyun seraya melambaikan tangannya di depan wajah Seo Yoon. Seo Yoon terkesiap kemudian tersenyum simpul.

Ahni. Aku hanya bingung harus memasak apa nanti,” jawab Seo Yoon lalu menunduk dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Ada sebagian hatinya yang terasa hilang karena kepergian Jinki. Entah perasaan apa itu.

Suara teriakan anak kecil membuat Seo Yoon kembali membuka kedua matanya. Ia segera berjongkok, menghambur memeluk Yun Min yang berlari ke arahnya. Anak laki-laki itu melepas pelukannya kemudian mengangkat kepalanya, menatap Baekhyun.

Appa wasseo ?” tanya Yun Min senang. Baekhyun mengangguk mantap lalu mengacak rambut Yun Min.

“Ayo pulang,” Baekhyun mengulurkan tangannya dan disambut dengan antusias oleh Yun Min. Keduanya menatap Seo Yoon sekilas sebelum melangkah bersama di koridor.

Seo Yoon menatap punggung keduanya yang sudah berjalan cukup jauh. Tidak. Bukan pemandangan seperti itu yang disukainya. Ia merasa lebih suka saat melihat sosok Jinki yang berjalan berdampingan dengan Yun Min. Dan entah hanya perasaannya saja atau tidak, tapi tatapan Yun Min seolah mengisyaratkan sesuatu. Anak itu tetap melangkah, namun sedikit menoleh dan memberikan sebuah senyuman –yang Seo Yoon tidak tahu apa artinya. Dengan ragu Seo Yoon mulai melangkah menyusul Baekhyun dan Yun Min. Mungkin ia benar-benar harus memikirkan keputusannya lagi.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika Baekhyun sudah pulang dari apartemennya. Seo Yoon memasukkan kembali seluruh mainan Yun Min ke dalam kotak kemudian merapikan meja ruang tamu yang terlihat penuh dengan berbagai potongan kertas warna. Yun Min dan Baekhyun membuat miniatur kebun binatang menggunakan kertas warna tadi. Melihat senyuman keduanya, lagi-lagi perasaannya kembali bingung. Ia tidak pernah melihat Baekhyun sebahagia itu sebelumnya.

Tangan Seo Yoon terhenti di udara ketika Yun Min tiba-tiba memeluk kakinya. Ia segera berjongkok, menyetarakan tingginya dengan Yun Min. Ia mengusap puncak kepala Yun Min, lalu memberikan tatapan heran pada anak laki-laki itu –yang tiba-tiba menjadi manja.

“Jinki appa dimana ? Aku merindukannya, eomma,” ujar Yun Min tiba-tiba.

Seluruh tubuh Seo Yoon terasa seperti di sengat listrik karena pertanyaan Yun Min. Jinki bahkan tidak pernah menghubunginya lagi. Dan ia sendiri tidak mempunyai keberanian untuk menelepon laki-laki itu lebih dulu. Ya, mungkin seharusnya ia menghubungi Jinki dan meminta maaf. Namun ia belum mempunyai keberanian itu sampai sekarang.

“Dia sedang sibuk, Yun Min-ah,” elak Seo Yoon. Yun Min terlihat mengerucutkan bibirnya kesal kemudian menghempas ke atas sofa.

“Sibuk apa ? Jinki appa hanya bekerja di café, jadi kenapa harus sibuk,” protes Yun Min seraya melipat kedua tangannya di depan dada –masih dengan mengerucutkan bibir.

“Kau masih ingin bertemu Jinki appa, padahal jelas-jelas Baekhyun appa selalu bersamamu selama seminggu ini ?” tanya Seo Yoon seraya mendudukkan tubuhnya tepat di samping Yun Min. Anak itu tiba-tiba mengendikkan bahunya.

Mollayo. Aku merindukannya, eomma,” suara Yun Min tiba-tiba bergetar dan malah tergantikan dengan suara isakan kecil, “Neomo bogosipeo,”

“Ya~, kenapa anak eomma malah menangis ? Ulljima…,” Seo Yoon segera mengangkat tubuh Yun Min ke dalam dekapannya. Ia mengusap punggung Yun Min dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan.

Jika boleh jujur, ia juga sangat merindukan Jinki. Jinki mungkin membencinya sekarang, dan hal itu membuatnya sangat terpukul tentu saja. Tidak mencintai, belum tentu ia tidak merindukan Jinki. Tidak bertemu saja sudah membuat Seo Yoon frustasi. Ditambah kenyataan bahwa Jinki tengah membencinya saat ini. Apa ada hal yang lebih buruk lagi ?

Eomma, aku ingin bertemu Jinki appa. Chebalyo~,”

***

Hari sudah semakin larut ketika Jinki masih sibuk merapikan susunan map-map perusahaan Lee di dalam ruang kerjanya di kantor. Ia berencana untuk pulang lebih larut ke rumah, menghindari Ri An dan nenek Lee –yang selalu bertanya tentang masalah pribadinya. Ada alasan kenapa ia tidak menjelaskan masalah Seo Yoon pada kakak dan neneknya. Ia hanya tidak ingin kedua orang itu mencampuri urusan pribadinya. Ia takut keduanya akan melakukan sesuatu pada Seo Yoon. Walaupun bukan sesuatu yang kasar, namun ia yakin bisa cukup membuat Seo Yoon dan Yun Min semakin jauh.

Jinki bergegas membereskan tas kerjanya saat bunyi dentang jam menyadarkannya. Sudah jam 11 malam, dan sepertinya ia sudah bisa pulang. Ri An dan nenek Lee mungkin sudah memasuki kamarnya masing-masing setelah jam 10. Setelah mematikan lampu, Jinki beranjak keluar dan berjalan di koridor lantai 8 yang sepi. Tidak ada siapapun selain dirinya disana, kecuali parasecurity. Beruntung ia sempat berpapasan dengan security yang tengah berpatroli.

Jinki bergegas memasuki mobilnya yang terparkir di basement. Tanpa menunggu apapun lagi, ia melajukan mobil Porsche berwarna hitam itu meninggalkan pelataran parkir. Namun beberapa meter setelah ia meninggalkan area kantor, Jinki kembali menghentikan mobilnya. Ia memicingkan mata, mencoba memperjelas pandangannya di malam hari. Melihat seorang wanita duduk di sebuah halte. Dan jika dugaannya tidak salah, wanita itu terlihat seperti Seo Yoon.

“Apa peduliku ?” tanya Jinki acuh kemudian kembali melajukan mobilnya.

Bahkan otak dan tubuhnya tidak bisa bisa berkoordinasi dengan baik sekarang. Dengan kecepatan tinggi, sesekali Jinki melirik melalui kaca spion. Membiarkan seorang wanita duduk sendirian di halte pada tengah malam. Rasanya orang yang tidak mengenal pun akan menolong wanita itu untuk pulang. Jinki mendecak kesal kemudian memutar setirnya ke arah berlawanan. Kembali ke tempat dimana ia melihat Seo Yoon.

Sementara itu, Seo Yoon kembali merapatkan jaket yang dipakainya. Ia sudah menunggu Jinki pulang sejak 3 jam yang lalu. Sejak Yun Min tertidur dengan masih menangis karena ingin bertemu laki-laki itu. Seo Yoon kembali menghela napas panjang. Ketika Yun Min meminta sesuatu dengan menangis, ia tidak bisa menolaknya. Hingga pada akhirnya ia rela menunggu berjam-jam hanya untuk bertemu Jinki. Mungkin jika 10 menit lagi tidak melihat Jinki, ia akan segera pulang dan mengubur dalam-dalam keinginan Yun Min untuk bertemu laki-laki itu.

“Apa yang kau lakukan disini ?” suara Jinki sontak membuat Seo Yoon mengangkat kepalanya. Seo Yoon segera berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Jinki yang berdiri di dekat pintu mobil.

“Aku menunggumu,” jawab Seo Yoon seraya menunjukkan seulas senyum. Jinki memalingkan wajahnya ke arah lain lalu berdehem pelan.

Waeyo ?” tanyanya dingin.

Seo Yoon meneguk ludahnya saat melihat Jinki bahkan tidak mau menatapnya sama sekali. Terasa sesak di bagian dadanya.

“Kau bisa datang ke apartemenku besok ? Yun Min ingin bertemu denganmu, Jinki-ya,” ujar Seo Yoon, dengan nada seramah mungkin. Jinki hanya menggaruk hidungnya kemudian melirik ke kanan-kiri.

“Aku sibuk,” jawabnya singkat. Seo Yoon tersenyum pahit.

“Tolong jangan hubungkan ini dengan masalah kita. Kalau kau masih marah denganku, anggap saja aku manusia transparan yang tidak penting. Dan tolong sekali lagi. Kau hanya perlu bertemu dengan Yun Min. Lakukan ini untuknya,” Seo Yoon melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya lalu berdehem pelan, “Aku harus pulang sekarang. Jangan lupa datang besok,”

Seo Yoon berusaha menahan rasa sesak di kerongkongannya –dengan memberikan seulas senyum pada laki-laki di hadapannya. Ia segera berjalan meninggalkan halte bis, berlawanan arah dengan posisi Jinki berdiri saat ini. Rasanya ia sangat ingin menangis. Namun entah kenapa, ia tidak bisa mengeluarkannya di hadapan Jinki. Ia pasti akan terlihat sangat lemah di hadapan laki-laki itu.

Jinki sedikit menolehkan kepalanya, memperhatikan Seo Yoon yang baru saja menyeberang jalan dan memasuki taksi. Ia menumpukan kedua tangannya pada pinggang lalu menatap langit malam. Sejahat itukah ia, bahkan sampai tidak sedikit pun melihat Seo Yoon ? Jika tidak bisa menahan perasaannya, mungkin ia sudah memeluk Seo Yoon dengan sangat erat tadi. Ia sangat merindukan wanita itu.

***

Karena suara ribut-ribut dari arah ruang tengah, Baekhyun terpaksa membuka kedua matanya. Ia beringsut malas dari tempat tidur, membuka pintu kamarnya lalu memperhatikan seseorang yang tengah memeriksa setiap sudut apartemennya. Ia menguap lebar kemudian melangkah menghampiri Hana yang sepertinya tengah mencari sesuatu. Kegiatan gadis itu pun terhenti, tatapannya tertuju pada Baekhyun –yang terlihat masih berantakan dan kembali menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

Hana menghiraukan tingkah kakak laki-lakinya kemudian kembali mengaduk-aduk rak buku di sudut ruang tengah itu. Jika tidak bisa menemukan benda yang dicarinya itu, maka ia tidak bisa mengikuti hari terakhir ujian negara. Dan bodohnya, ia bisa sampai lupa menyimpannya semalam.

“Ah igeo !” pekik Hana saat menemukan benda yang dicarinya terselip di salah satu buku pelajaran. Kartu pelajar. Gadis itu melangkah dengan semangat menghampiri Baekhyun.

Oppa, ayo antar aku ke sekolah,” serunya seraya mengguncang tubuh Baekhyun.

“Aah, ini hari Sabtu saengi. Jangan ganggu aku,” balas Baekhyun setengah merajuk. Hana menghela napas panjang, ia mengeratkan tali tas punggungnya di pundak kemudian mendengus pelan.

Oppa !!!” pekiknya.

Baekhyun mendesah malas lalu membuka kedua matanya. Ia segera duduk di atas sofa, menatap Hana yang tengah mengerucutkan bibirnya. Dengan melihat Hana ber-aegyo seperti itu, ia tidak bisa menolak tentu saja. Ia mengacak rambut adiknya dengan gemas kemudian beranjak menuju kamar mandi.

Tidak ada yang membuka pembicaraan selama perjalanan menuju sekolah Hana. Baekhyun hanya bersenandung mengikuti lagu yang keluar dari tape. Begitu juga dengan Hana yang terlihat sibuk memeriksa isi tasnya.

“Oh, ini foto siapa, oppa ?” tanya Hana ketika matanya tidak sengaja menangkap selembar foto yang tergeletak di dekat kakinya. Ia segera mengambil foto itu, memperhatikan sosok wanita bersama seorang anak kecil yang tengah tersenyum bahagia.

“Ah, itu foto Seo Yoon dan Shin Yun Min. Anak laki-laki itu keponakanmu, Hana-ya,” jawab Baekhyun seraya tersenyum lebar. Membayangkan bagaimana keadaan keluarga kecilnya –walaupun belum kembali mengikat tali pernikahan.

Jinjja ?” tanya Hana memastikan.

“Kau tidak lihat wajahnya sangat mirip denganku, ha ?”

Tangan Hana kembali turun ke atas paha, ia meletakkan foto itu di atasdashboard lalu menoleh, memperhatikan Baekhyun yang terlihat sangat bahagia. Ia ikut merasa bahagia juga saat melihat kakaknya bisa kembali tersenyum seperti dulu lagi. Namun ia merasakan sesuatu yang janggal. Jika memang Seo Yoon masih mencintai Baekhyun, kenapa mereka tidak secepatnya menikah lagi ? Well, mungkin karena kebencian nyonya Byun menjadi penghalangnya kemarin. Dan jika tahu Baekhyun sudah kembali ke kehidupan Seo Yoon, wanita itu seharusnya segera mengganti nama belakang Yun Min menjadi Byun bukan ?

“Oppa, apa Seo Yoon eonni pernah punya pacar ?” tanya Hana tiba-tiba. Baekhyun menoleh dengan cepat kemudian tersenyum samar.

“Tidak. Waeyo ?” tanya Baekhyun lagi seraya membelokkan mobilnya memasuki pelataran parkir sekolah Hana.

“Apa kau yakin …. Seo Yoon eonni masih mencintaimu, oppa ?” tanya Hana ragu.

Pertanyaan Hana sontak membuat Baekhyun menginjak pedal rem secara tiba-tiba. Laki-laki itu malah tertawa pelan lalu mengacak rambut adiknya, “Ini bukan urusan anak kecil. Sudah masuk sana, kau sudah terlambat,”

“Cish~, araseo,” Hana mendengus pelan kemudian segera keluar dari mobil Baekhyun.

Ucapan gadis itu kembali terngiang. Tentang Seo Yoon yang mungkin masih mencintainya. Ya, mungkin. Selama ini ia merasa bahwa Seo Yoon tidak memiliki perasaan yang sama seperti 5 tahun yang lalu. Selain Minho, ia tahu Seo Yoon juga mempunyai perasaan lain pada Jinki. Sejak Yun Min pulang dari rumah sakit, dan sejak ia tidak pernah melihat Seo Yoon berhubungan lagi dengan Jinki, ada perubahan besar dalam diri wanita itu. Seo Yoon selalu terlihat murung dan melamun ketika secara tidak sengaja nama Jinki terlontar dari mulutnya. Apakah ia terlalu berharap pada Seo Yoon selama ini ?

***

Setelah menyiapkan beberapa hidangan diatas meja, Seo Yoon bergegas menemani Yun Min yang tengah tidur-tiduran di sofa. Ia terus mengusap-ngusap puncak kepala anak itu sambil sesekali melirik jam yang tergantung di ruang tengah. Sudah lebih dari jam makan siang dan belum ada tanda-tanda bahwa Jinki akan datang. Ia menghela napas panjang. Jinki masih marah padanya dan mungkin memang benar-benar tidak akan datang.

“Jinki appa eodiya ?

Seo Yoon tersenyum simpul saat mendengar pertanyaan Yun Min. Anak itu sangat merindukan sosok Jinki, bahkan terus saja bertanya sejak semalam. Namun sepertinya ia tidak bisa berharap banyak akan kedatangan Jinki sekarang. Ia harus tetap bersiap pada kenyataan terburuk nantinya bahwa Jinki tidak akan pernah menginjak apartemennya lagi.

Yun Min kembali terisak. Seo Yoon baru saja akan menggendong Yun Min ketika suara bel mengagetkannya. Dengan cepat Seo Yoon melangkah menuju pintu, dan membukanya hanya dengan satu kali hentakan. Senyuman di bibirnya semakin melebar saat melihat laki-laki yang berdiri di depannya sekarang adalah Jinki. Lee Jinki. Entah bagaimana meluapkan perasaan senangnya, bisa melihat laki-laki itu lagi secara jelas.

Appa !!” pekik Yun Min dari dalam apartemen kemudian berlari menerobos Seo Yoon untuk segera mendarat di dalam pelukan Jinki.

Aigoo~, kau semakin berat, Shin Yun Min,” gerutu Jinki seraya mengangkat tubuh mungil Yun Min lalu berjalan memasuki apartemen. Melewati Seo Yoon begitu saja tanpa menyapa.

Ah ya, ia hanya seorang manusia transparan yang tidak penting. Harusnya ia ingat kata-katanya sendiri kemarin. Jinki benar-benar menganggapnya tidak ada dan entah kenapa malah membuat dadanya terasa semakin sesak.

Seo Yoon memperhatikan dari meja makan, setiap kegiatan yang dilakukan Yun Min bersama Jinki. Keduanya tidak pernah berhenti mengeluarkan tawa dan selalu bisa membuat Seo Yoon tersenyum juga. Hanya Jinki yang bisa membuat Yun Min menangis sekaligus tertawa bahagia selama ini. Lee Yun Min. Sepertinya nama itu sangat cocok jika Jinki benar-benar menjadi ayah resmi anak laki-laki itu.

Saat merasakan ponselnya bergetar, Seo Yoon bergegas mengeluarkannya dari dalam saku celana. Ia melihat nama yang tertera di layar, menghela napas sejenak sebelum menjawab panggilan masuk dari Baekhyun itu.

Yeoboseyo…. Ah, aku ada di rumah…. Makan siang ? Aah, keurae. Aku akan tunggu di lobi sekarang…. Mmm, kkeutna,

Seo Yoon memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Berganti baju untuk memenuhi ajakan makan siang dari Baekhyun. Karena ia sudah menyiapkan makanan untuk Jinki dan Yun Min, ia bisa bebas berada di luar seharian. Lagipula tidak ada gunanya jika ia terus berada di sana. Jinki tidak akan menganggapnya dan ia memang membiarkan Yun Min bermain sepuasnya bersama laki-laki itu.

Setelah memastikan penampilannya sekali lagi, Seo Yoon segera meraih tas kemudian melangkah keluar kamar. Namun kemudian langkahnya terhenti saat melihat Yun Min sudah tertidur pulas di sofa dengan paha Jinki yang menjadi alas kepalanya. Kedua matanya tepat menatap manik mata Jinki dan entah kenapa malah membuatnya sedih. Belum sampai 3 detik, laki-laki itu sudah kembali memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Aku harus pulang sekarang,” ujar Jinki tiba-tiba seraya mengganti alas kepala Yun Min dengan bantal sofa secara perlahan.

“Tidak makan siang dulu ? Aku sudah masak untukmu,” balas Seo Yoon, memerhatikan Jinki yang sudah memakai jaket dan merapikan penampilannya.

“Tidak perlu. Aku akan makan siang dengan nenek dan Ri An noona dirumah, ada hal penting yang harus dibicarakan disana,” ucapan Jinki, membuat Seo Yoon kembali melipat senyumnya. Jinki sudah harus pergi lagi ?

“Ah ya, jangan cari aku lagi apapun alasannya. Harusnya Yun Min sudah bisa menerima kenyataan kalau aku bukan ayahnya. Yun Min harus mulai menerima Baekhyun, Seo Yoon-ssi. Ditambah lagi, aku akan semakin sibuk,” lanjutnya. Laki-laki itu mengusap puncak kepala Yun Min sejenak, menatap Seo Yoon kemudian mulai melangkah keluar dari apartemennya.

Jantung Seo Yoon mencelos. Wanita itu tidak bisa menahan bulir-bulir air mata yang menetes keluar dari kedua matanya. Ucapan Jinki terasa menyakitkan. Mungkin Yun Min bisa menerima bahwa Jinki memang bukan ayah kandungnya. Namun kini ia yang merasa sangat sulit untuk melepas Jinki. Ia tidak mau ditinggalkan Jinki dalam keadaan di benci. Ia tidak mau dibenci oleh laki-laki itu, karena rasanya jauh lebih sakit daripada ketika Minho ataupun Baekhyun meninggalkannya.

Apa mungkin ia menyukai Jinki ?

Seo Yoon membulatkan kedua matanya lalu menghapus sisa air mata di pipinya dengan cepat. Ia meraba jantungnya sendiri yang berdetak cepat. Saat pintu apartemen tertutup dan sosok Jinki menghilang, ia tidak bisa bernapas dengan baik. Seolah oksigennya terbawa bersama laki-laki itu. Tiba-tiba saja ucapan Chaeyeon beberapa hari lalu kembali terngiang di kepalanya.

‘Hiduplah dengan seseorang yang kau tidak akan bisa hidup, jika seseorang itu tidak ada di sampingmu. Bukan dengan seseorang yang kau bisa hidup, jika seseorang itu di sampingmu. Kau akan tahu maknanya nanti, Seo Yoon-ah,’

Seo Yoon harusnya sadar dirinya tidak akan bisa hidup dengan baik tanpa kehadiran Jinki. Sangat berbeda dengan tanpa kehadiran Baekhyun yang bisa dilewatinya selama 5 tahun lebih. Hidupnya baik-baik saja dan ia masih bisa bernapas dengan baik. Tapi ketika Jinki pergi, hidupnya seolah berantakan dengan perasaan yang ia sendiri bahkan tidak mengerti.

“Lee Jinki !” pekik Seo Yoon seraya melempar tas slempang dan sepatu berhak 5 senti miliknya ke arah karpet ruang tengah kemudian segera menyusul Jinki keluar apartemen. Tidak peduli ia tidak memakai alas kaki sekali pun.

Pintu lift baru saja tertutup dan sosok Jinki menghilang dibalik pintu berlapis alumunium itu. Seo Yoon menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu berlari menuju tangga darurat. Menuruni 9 lantai dengan tangga, sepertinya tidak terlalu buruk. Ia harus mendahului Jinki untuk sampai di lobi.

Napas yang mulai tidak beraturan sedikit mengganggu penglihatannya. Wanita itu membuka pintu tangga darurat di lantai satu lalu dengan setengah berlari menuju lobi. Menatap angka yang tertera pada samping pintu lift yang masih menunjukkan angka 2. Ia berhasil sampai lebih dulu. Namun harapannya hilang begitu saja ketika tidak melihat Jinki diantara kerumunan orang-orang yang baru saja keluar lift. Ia segera mengitarkan pandangannya ke seluruh lobi –yang cukup luas itu kemudian berjengit saat menemukan Jinki sudah berjalan menuju pintu depan. Bagaimana bisa laki-laki itu sampai lebih dulu darinya ?

“Lee Jinki !”

BRAK

Seo Yoon meremas bagian dadanya dengan kuat ketika rasa sakit itu tiba-tiba menyerang organ penopang hidup di dalam dadanya. Jantung. Seo Yoon hanya bisa terduduk dan tidak mampu untuk berdiri lagi. Ia terlalu kelelahan menuruni tangga, hingga lupa bahwa dirinya juga mempunyai sedikit kelainan jantung –yang sudah diwariskannya pada Yun Min. Ia menatap punggung Jinki yang semakin menjauh dengan mata yang buram karena air mata dan karena rasa sakit di dadanya.

“Aku mohon, Jinki-ya. Gajima,

Kesadaran Seo Yoon perlahan menghilang. Namun sebelum tubuhnya terjatuh ke lantai lobi, ia bisa melihat samar-samar sosok seorang laki-laki yang menopang tubuhnya. Sebelum benar-benar memejamkan mata, Seo Yoon mengangkat tangannya. Meraba setiap inchi wajah laki-laki itu. Mata yang hanya satu garis, hidung mancung, dan bibir tebal yang hanya dimiliki oleh satu orang. Lee Jinki.

Seulas senyum lemah muncul di bibir wanita itu, “Aku mencintaimu, Jinki-ya,”

 [Pretend Continued]

One thought on “Pretend [12th Part]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s