Pretend [11th Part]

Pretend

Author  : Ima

Casts     : 

  • Shin Seo Yoon
  • Shin Yun Min
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

 [Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part][5thPart] [6th Part] [7thPart] [8th Part] [9th Part] [10th Part] [11thPart]

Matahari sudah lebih dari setengah perjalanan menuju persembunyiannya, ketika Seo Yoon terbangun di atas sofa karena suara gumaman anak kecil. Wanita itu terkesiap kemudian segera beranjak mendekati tempat tidur Yun Min. Seulas senyum bahagia muncul di bibirnya saat melihat kedua mata bulat itu perlahan terbuka. Ia bergegas menekan tombol di dekat kepala Yun Min, memanggil dokter Kim untuk segera memeriksa keadaan anak laki-lakinya.

Seo Yoon mengelus puncak kepala Yun Min dengan lembut. Ketika tatapannya bertemu dengan Yun Min, anak itu hanya tersenyum lemah.

Mian eomma,” ucapan Yun Min malah membuat air mata Seo Yoon mengalir.

Eomma yang harusnya minta maaf, sayang,” balas Seo Yoon lalu mengecup kening Yun Min.

Tak butuh waktu lama untuk dokter Kim dan dua perawat lainnya memasuki kamar rawat Yun Min. Sementara Seo Yoon menunggu pemeriksaan, ia memutuskan untuk membuka ponsel dan menghubungi seseorang. Ia bahkan bingung harus menelepon siapa untuk memberitahu kabar bahagia ini. Setelah menaik-turunkan deretan nama kontak di ponselnya, Seo Yoon memutuskan untuk menelepon Jinki. Laki-laki itu pasti akan datang jika ia memberitahunya.

“Jinki-ya, kau harus datang. Yun Min sudah sadar,” ujar Seo Yoon bersemangat.

‘Ah, jinjja ? Tapi aku masih di Yeosu sekarang. Aku akan kesana secepat mungkin, Seo Yoon-ah,”

Seo Yoon menutup sambungan telepon itu lalu menatap dokter Kim –yang sepertinya sudah selesai memeriksa keadaan Yun Min. Dokter Kim tersenyum ramah kemudian menepuk ringan pundak Seo Yoon.

“Dia anak yang kuat,” dokter Kim kembali tersenyum sebelum melangkah keluar bersama dua perawat lainnya.

Seo Yoon segera berdiri di sisi Yun Min. Ia menggenggam tangan anak itu dengan erat. Dan lagi-lagi Yun Min tersenyum lemah kearahnya. Tatapan bersalah yang dilontarkan Yun Min, membuat Seo Yoon merasa sedih. Tidak seharusnya Yun Min yang merasa bersalah seperti itu.

Appa dimana ?” tanya Yun Min –masih dengan suara serak dan sedikit terbata. Seo Yoon sedikit mengerutkan keningnya. Appa yang mana ?

“Aah, Jinki appa masih di Yeosu. Sebentar lagi dia akan datang,” jawab Seo Yoon cepat. Namun Yun Min menjawabnya dengan sebuah gelengan pelan.

Nae appa,

Jantung Seo Yoon berhenti berdetak sejenak saat itu. Sebelum marah dan masuk rumah sakit, Yun Min bahkan membenci kenyataan bahwa Baekhyun adalah ayah kandungnya. Namun sekarang, anak itu malah bertanya keberadaan Baekhyun. Kenapa disaat ia memutuskan untuk mulai mundur dari kehidupan laki-laki itu ?

“Kenapa tiba-tiba –kau –Yun Min-ah ?”

“Aku mau bertemu Baekhyun-ie appa,” potong Yun Min.

Seo Yoon tidak bisa melakukan apapun selain kembali mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor ponsel Baekhyun. Dengan ragu Seo Yoon menekan tanda telepon pada layar ponselnya. Ia memejamkan mata dan menghela napas sejenak sebelum menempelkan ponsel itu ke telinganya. Jika saja Yun Min tidak meminta hal ini, maka ia sama sekali –akan berusaha untuk tidak berhubungan lagi dengan laki-laki itu.

***

Dengan senyuman lebar di bibirnya, Jinki mulai melangkah keluar dari liftrumah sakit. Ia sesekali menatap keranjang berisi buah-buahan yang berada di tangannya. Perasaannya membuncah senang ketika Seo Yoon menghubunginya dan memberitahu keadaan Yun Min. Yang membuatnya senang adalah, karena ia orang pertama yang mendapat telepon dari Seo Yoon dan mendengar keadaan Yun Min. Ia yakin Seo Yoon belum menghubungi siapapun sebelumnya.

Tepat ketika sebelah kakinya sudah memasuki kamar rawat Yun Min, Jinki malah menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan Baekhyun yang tengah menyuapi Yun Min. Melihat ekspresi anak laki-laki itu, entah kenapa membuatnya merasa sedih. Yun Min terlihat sangat bahagia ketika menatap Baekhyun dan Jinki tahu itu. Harusnya ia tidak terlalu banyak berharap bahwa Seo Yoon akan tetap menganggapnya sebagai ayah dari Yun Min.

“Kenapa berdiri disini ?” suara Seo Yoon sontak membuat Jinki berbalik. Jinki segera menutup kembali pintu kamar rawat Yun Min lalu menyingkir sedikit agar bisa lebih leluasa berbicara dengan Seo Yoon –yang entah kenapa tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.

“Kukira kau di dalam,” Jinki menggaruk bagian belakang kepalanya kemudian menyerahkan keranjang buah-buahan yang dibawanya pada Seo Yoon.

Gomawo,” Seo Yoon tersenyum lebar lalu menerima keranjang buah-buahan itu, “Aku simpan dulu ke dalam. Kau tunggu disini saja,”

Jinki mengangguk pelan kemudian memilih untuk duduk di deretan kursi tepat di dekatnya. Ia mendongakkan kepala, menatap langit-langit koridor rumah sakit yang selalu terlihat bersih. Perasaannya sangat bercampur aduk sekarang. Yun Min tidak menyukainya lagi seperti dulu dan hal itu membuatnya sedih tentu saja.

“Mau berjalan-jalan keluar ? Kau terlihat tidak baik,” ujar Seo Yoon membuat Jinki menurunkan kepalanya, ia menatap Seo Yoon sekilas kemudian mengangguk pelan.

Sebuah taman di bagian samping rumah sakit, menjadi tempat Seo Yoon dan Jinki berhenti akhirnya, setelah berjalan-jalan mengitari koridor rumah sakit. Jinki menghela napas panjang lalu menghempaskan tubuhnya pada kursi taman. Angin sore yang terasa sejuk, membuat rasa lelahnya sedikit berkurang. Berkutat dengan computer, angka, dan rapat seharian membuat tengkuknya terasa hampir patah. Dan ia tentu saja harus melakukan hal itu setiap harinya –entah sampai kapan.

Otte ? Bagaimana rasanya menjadi seorang direktur utama, tuan Lee ?” tanya Seo Yoon seraya menepuk pundak laki-laki itu. Jinki hanya tersenyum samar.

“Sangat buruk. Aku tetap benci bekerja di perusahaan,” jawab Jinki acuh, “Melelahkan. Harus duduk di depan computer selama berjam-jam, harus menjaga sikap, harus ini-itu, dan semuanya. Aaah, molla,

Seo Yoon terbahak dan membuat Jinki mendelik kesal pada wanita itu. Setelah bisa mengendalikan suara tawanya, Seo Yoon beranjak dari kursi taman lalu melangkah ke bagian belakang tubuh Jinki. Ia meletakkan kedua tangannya pada setiap pundak laki-laki itu lalu mulai memijatnya perlahan.

“Kau terlalu serius, Jinki-ya. Aku tahu kau bisa melakukannya dengan baik. Kau hanya perlu banyak belajar dan jangan pernah menganggap tanggung jawabmu itu sebuah beban. Seorang Lee Jinki pasti bisa melewatinya,” ujar Seo Yoon menyemangati.

Jinki merasakan wajahnya memanas karena sentuhan dan ucapan wanita itu. Entah kenapa, ia merasa kembali bersemangat karena ucapan Seo Yoon. Ia harus mengurus perusahaan dengan baik, agar bisa meraih kesuksesannya nanti. Dan dengan kesuksesan yang diraihnya, ia tidak akan merasa malu pada Seo Yoon –jika menikahi wanita itu nanti.

“Boleh aku bercerita sedikit ?” tanya Seo Yoon –masih sambil memijat kedua pundak Jinki. Jinki hanya mengangguk lalu memejamkan mata, menikmati pijatan yang diberikan wanita itu.

Eomonim –ah tidak, maksudku nyonya Byun,” Seo Yoon menarik napas sejenak, “Dia mengancamku untuk tidak mendekati Baekhyun lagi. Dan kalau itu tetap terjadi, nyonya Byun akan mengambil hak asuh Yun Min dariku,”

Jinki segera membuka kedua matanya kemudian sedikit menoleh ke belakang. Ia menyentuh tangan Seo Yoon, menyuruhnya menghentikan kegiatan –memijat itu sejenak. Sorot mata Seo Yoon terlihat sedikit meredup.

“Kau sedih karena tidak bisa bersamanya lagi ?” tanya Jinki kemudian. Seo Yoon tersenyum simpul lalu kembali duduk di kursi taman –tepat di sebelah Jinki.

“Yun Min pantas mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya, Jinki-ya. Aku ingin memberikan kesempatan itu pada Yun Min –walaupun tidak menikah lagi dengannya. Tapi dengan ancaman nyonya Byun… Aku tidak bisa melakukannya,” jelas Seo Yoon.

Araseo. Aku mengerti bagaimana perasaanmu,” Jinki mengusap pelan puncak kepala Seo Yoon lalu tersenyum lebar. Membuat kedua matanya semakin menyipit dan hal itu membuat Seo Yoon ikut tersenyum juga.

“Percaya atau tidak. Tapi aku sangat merindukanmu, Lee Jinki,” sahut Seo Yoon lalu segera memeluk Jinki dengan erat. Jinki tertawa –kaku sementara jantungnya sudah hampir lepas karena berdetak dengan sangat cepat. Ia tidak pernah menduga bahwa Seo Yoon akan memeluknya secara tiba-tiba seperti itu.

Selama beberapa saat, Jinki tetap membiarkan Seo Yoon memeluknya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Jinki sendiri sangat merindukan wanita itu. Mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk bisa saling bertukar pikiran lagi. Biasanya ketika Jinki masih tinggal di apartemen Seo Yoon, setiap malam mereka selalu meluangkan waktu dengan meminum secangkir kopi dan bercerita banyak hal. Namun Jinki kini bahkan lebih sibuk dengan pekerjaan –barunya. Jinki bersyukur pernah menjadi bagian hidup wanita itu walaupun hanya sementara.

***

Seo Yoon mendesah napas pelan saat membuka amplop –berisi rincian biaya perawatan Yun Min. Uang tabungannya sudah semakin menipis akhir-akhir ini. Ia belum mendapat pekerjaan dan seluruh uang tabungannya sudah hampir habis untuk membayar uang sewa apartemen dan juga kebutuhan sehari-hari. Jika membayar biaya perawatan Yun Min, maka uang tabungannya mungkin hanya akan cukup untuk sebulan saja. Mungkin ia harus pindah dari apartemen mewahnya dalam waktu dekat.

Seo Yoon meletakkan amplop putih itu diatas meja kemudian memandangi Yun Min yang tengah mencorat-coret buku gambar. Seo Yoon beranjak dari sofa lalu beralih duduk tepat di sebelah anak laki-lakinya. Ia mengusap puncak kepala anak itu dan memperhatikan setiap goresan pensil warna yang ditorehkan Yun Min. Kedua alis Seo Yoon bertaut, saat melihat Yun Min menggambar dua orang laki-laki disana. Laki-laki pertama, memakai setelan jas lengkap dengan tatanan rambut berdiri. Sedangkan laki-laki di sebelahnya, terlihat hanya memakai kaus biasa dengan kedua mata segaris dan senyuman yang dihiasi gigi kelinci. Dan Seo Yoon tahu bahwa kedua laki-laki di dalam gambar itu adalah Baekhyun dan Jinki.

“Kau menggambar keduanya, Yun Min-ah ?” gumam Seo Yoon, lebih dengan nada bertanya pada anak laki-laki itu.

Ne. Aku suka Jinki appa dan Baekhyun appa,” jawab Yun Min seraya tersenyum lebar. Dan Seo Yoon bisa sedikit merasa lega, karena ternyata Yun Min tidak membenci Jinki setelah kejadian –menjadi ayah pura-pura kemarin.

“Ah, eomma suka siapa ? Jinki appa ? Baekhyun-ie appa ?” tanya Yun Min tiba-tiba.

Seo Yoon terdiam. Ia hanya menatap buku gambar Yun Min dengan tatapan kosong. Berbagai kenangan di otaknya berputar dengan sangat cepat. Ketika Jinki yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Dan ketika Baekhyun, yang selalu bisa membuatnya terhanyut dengan perlakuan dan ucapan laki-laki itu. Namun kemudian ia juga bisa melihat sekelebat ingatan tentang Minho di pikirannya. Seo Yoon segera memijat pelipisnya. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing karena semua pemikiran itu.

“Eomma gwenchana ?” tanya Yun Min seraya memegangi tangan Seo Yoon yang masih memegangi pelipis. Seo Yoon mengangguk pelan kemudian mengusap puncak kepala Yun Min.

Eomma keluar dulu. Kau jangan kemana-mana, arachi ?”

Seo Yoon segera turun dari tempat tidur Yun Min, ia mengambil amplop putih –berisi rincian biaya perawatan Yun Min –itu kemudian melangkah keluar dari kamar rawat anaknya. Ia melangkah melewati koridor dengan kepala yang tertunduk. Ia menjadi bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa harus ada tiga laki-laki –yang jelas-jelas sangat berarti di kehidupannya ? Apa ia harus memilih diantara ketiganya ?

“Aah, jinjja. Michigetda,” rutuk Seo Yoon seraya menggelengkan kepalanya. Ia baru saja berbelok di koridor ketika tidak sengaja menabrak seseorang –hingga tubuhnya sendiri sedikit terpelanting ke belakang. Namun Seo Yoon bisa dengan cepat mengembalikan keseimbangan tubuhnya lalu segera membungkuk maaf pada laki-laki itu.

“Apa yang kau pikirkan, sampai lupa melihat jalan, Shin Seo Yoon ?” suara baritone khas milik Minho menyahut dan membuat tubuh Seo Yoon membeku seketika. Seo Yoon mengangkat kepalanya lalu tersenyum kaku pada laki-laki itu.

Mianhae. Aku sedang terburu-buru tadi,” elak Seo Yoon kemudian terkekeh pelan –menutupi rasa gugup yang menyerangnya secara tiba-tiba, “Kau mau menjenguk Yun Min ?”

“Err, tidak juga. Tapi aku memang mau melihatnya,” jawab Minho, membuat Seo Yoon sedikit mengerutkan kening heran.

“Kau masuk saja ke kamarnya. Aku harus ke bawah dulu,” balas Seo Yoon, ia membungkuk singkat kemudian melangkah dengan cepat meninggalkan Minho untuk memasuki lift menuju lantai satu rumah sakit –dimana lobi dan loket administrasi berada.

Dengan ragu Seo Yoon mengeluarkan dompet miliknya dari dalam saku mantel setelah berdiri di depan loket. Ia membuka dompetnya lalu mengeluarkan kartu kredit untuk membayar semua biaya perawatan Yun Min. Namun kemudian sesaat setelah Seo Yoon memberitahu nama Shin Yun Min pada perawat –yang berjaga di loket administrasi, perawat itu malah terdiam.

“Sudah ada yang membayarnya, nona,” jawab perawat itu, membuat Seo Yoon kembali memundurkan kartu di tangannya seraya mengernyit heran.

“Kau tahu siapa orangnya ?” tanya Seo Yoon. Perawat itu terlihat berpikir keras karena pertanyaannya.

“Seingatku dia seorang laki-laki yang memakai setelan jas rapi. Aku tidak memperhatikan wajahnya karena sibuk melayani,” jawab perawat itu lagi.

Jawaban yang sangat tidak memberi petunjuk sama sekali. Jika laki-laki bersetelan jas rapi, bisa saja Jinki, Minho, dan ataupun Baekhyun. Ketiganya sama-sama memimpin perusahaan dan pasti akan selalu memakai setelan jas. Seo Yoon memasukkan kembali kartu kredit itu ke dalam dompetnya lalu berbicara pada perawat itu lagi.

“Kapan laki-laki itu membayarnya ?”

“Tidak lama. Mungkin sekitar 15 menit yang lalu,” jawaban perawat itu, membuat pikiran Seo Yoon berputar dengan cepat. Sekitar 15 menit yang lalu dan hanya Minho yang berada di rumah sakit sekarang serta bertemu dengannya tadi. Apa mungkin Minho yang membayar semuanya ?

***

Nyonya Byun melangkah memasuki ruang VIP –di sebuah restoran ternama di daerah pinggiran Tokyo. Ia tersenyum sinis ketika melihat seseorang yang mengajaknya bertemu –dengan mengaku sebagai relasi bisnis –namun ternyata, seorang wanita yang sangat dihindarinya. Baru saja nyonya Byun kembali berbalik untuk melangkah keluar dari ruangan itu, ketika suara Chaeyeon menghentikan langkahnya sejenak.

“Kumohon. Hanya kali ini, biarkan aku menjelaskan semua kesalahpahaman 5 tahun yang lalu,” sahut Chaeyeon. Nyonya Byun menyeringai pelan seraya menatap pintu bercat putih yang berjarak beberapa langkah di depannya. Ia sama sekali tidak berniat untuk berbalik dan menatap wanita itu.

“Apa yang harus dijelaskan lagi ? Semuanya sudah jelas. Kau menggoda suamiku dan membuatnya pernah berniat untuk menceraikanku dulu,” balas nyonya Byun dingin. Tidak terdengar jawaban apapun. Nyonya Byun tersenyum meremehkan lalu kembali melangkah menuju pintu keluar.

“Apa kau pernah bertanya pada suamimu sendiri ?” tanya Chaeyeon –dan lagi-lagi menghentikan langkah nyonya Byun.

“Jadi, kau menuduh Yun Jae yang melakukannya ?” nyonya Byun kali ini berbalik, menatap kedua mata Chaeyeon yang terlihat menatap tajam ke arahnya.

“Aku tidak menuduh. Kau yang sudah hidup lama dengannya, pasti tahu saat yunjae tengah berbohong,” Chaeyeon menyesap teh hijaunya lalu kembali menatap nyonya Byun –yang masih terlihat shock dengan ucapannya, “Keegoisan kita sudah menghancurkan semuanya. Termasuk pernikahan Baekhyun dan Seo Yoon. Kau harusnya sadar bahwa mereka masih saling mencintai, dan kita juga tidak bisa terus seperti ini,”

Nyonya Byun terdiam. Ya, ia tahu bahwa pernikahan anaknya hancur karena keegoisannya dulu. Ia merasa cemburu pada Chaeyeon lalu membuat Baekhyun dan Seo Yoon bercerai untuk melampiaskannya. Bahkan sekarang, ia masih memiliki rasa cemburu itu dan tidak membiarkan Baekhyun kembali bersama Seo Yoon.

“Persahabatan kita jauh lebih berharga. Dan demi apapun yang ada di dunia ini, aku tidak pernah menggoda suamimu. Kau tahu aku sangat mencintai mantan suamiku, bahkan sampai aku menikah dengan Donghae sekarang,” papar Chaeyeon seraya melangkah mendekati nyonya Byun yang masih terpaku di dekat pintu.

“Jangan coba mempengaruhiku, Chaeyeon. Persahabatan kita sudah berakhir 5 tahun yang lalu,” balas nyonya Byun dingin.

“Pikirkanlah baik-baik. Aku minta maaf kalau memang pernah berbuat salah padamu. Tapi sungguh, aku tidak pernah berniat membuat Yun Jae menyukaiku,”

Chaeyeon tersenyum samar kemudian menepuk pundak nyonya Byun. Ia menatap kedua mata nyonya Byun sejenak sebelum melangkah keluar dari ruangan VIP restoran itu. Nyonya Byun tertawa pelan lalu berbalik, menatap punggung Chaeyeon yang semakin menjauh.

***

Tidak ada suara apapun selain suara helaan napas di ruangan itu. Seorang laki-laki terlihat tengah duduk di kursi kerja, memutar-mutarnya perlahan kemudian kembali menghela napas. Merasa frustasi dengan semua angka dan huruf yang berbaur di dalam tabel penjualan. Laki-laki itu –Lee Jinki, semakin mengerti kenapa ia sendiri sangat membenci bekerja di perusahaan.

Jinki mengerang frustasi lalu menjauhkan kursi kerjanya dari komputer. Ia memutar balik kursi kerjanya menghadap dinding. Dan pandangannya pun kini tertuju pada sebuah frame foto berisi foto keluarga Lee. Jinki tersenyum samar. Ia sangat mengingat bagaimana momen foto bersama itu. Seorang Lee Jinki yang masih berumur 10 tahun dan terlihat masih sangat polos. Atau mungkin, di umurnya yang sudah menginjak 24 tahun, ia masih terlihat polos ?

Lamunan Jinki kembali ditarik ke dunia nyata, ketika mendengar dering ponsel miliknya sendiri. Ia memundurkan kembali kursi kerjanya lalu segera mematikan dering ponsel –yang terdengar sangat nyaring itu. Sebuah kerutan muncul di kening Jinki saat tidak melihat nama kontak dan hanya terlihat deretan angka saja disana. Dengan menyingkirkan rasa herannya, ia segera membuka pesan itu.

Datanglah ke taman kota sekarang.

Jinki melirik jam yang tergantung di ruang kerjanya –yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk mengikuti perintah pesan itu. Lagipula, tidak ada salahnya berjalan-jalan ke sekitar taman kota. Mungkin rasa jenuh pada –tabel penjualan di mall keluarga Lee itu, akan sedikit hilang nantinya.

Setelah memastikan mobil miliknya terparkir sempurna, Jinki bergegas turun dari mobil. Ia melangkah memasuki taman kota, melewati jalan setapak yang hanya diterangi beberapa lampu. Dan Jinki merutuk dalam hati saat melihat seorang laki-laki tengah duduk di sebuah kursi di dalam taman kota itu. Ia tidak bisa kembali berbalik dan pulang, karena tatapan laki-laki itu kini tertuju padanya.

“Kau datang,” ucap laki-laki itu, sementara Jinki beranjak duduk tepat di sebelahnya. Jinki hanya tersenyum samar lalu menatap lurus ke depan.

“Ada apa, Baekhyun-ssi ?” tanya Jinki, berusaha untuk tidak menghabiskan waktu yang lama dengan Baekhyun.

“Kau pasti tahu,” Baekhyun menghela napas sejenak kemudian sedikit menoleh ke arah Jinki yang duduk berjarak satu meter darinya, “Ini tentang Seo Yoon,”

Jinki kembali tersenyum. Sudah bisa ditebak tentu saja. Siapa lagi wanita yang kini tengah berada di antara mereka selain Shin Seo Yoon.

“Aku ingin menitipkan Seo Yoon padamu,” ucapan Baekhyun sontak membuat Jinki menoleh dengan cepat.

“Kau …. Menyerah ?” tanya Jinki heran. Baekhyun tertawa pelan kemudian menggeleng.

Ahni. Sudah cukup eomma menyakitinya dulu, aku tidak mau dia disakiti lagi, Jinki-ssi. Aku yang akan mengalah dan mundur sekarang,” jawabnya.

Jinki memutar bola matanya, “Kau masih saja takut pada ibumu ? Ayolah Baekhyun-ssi, kau tidak bisa meninggalkan Seo Yoon begitu saja hanya karena alasan klasik seperti itu. Yun Min membutuhkanmu sebagai ayah kandungnya, bukan aku,”

“Aku tahu kau pasti bisa lebih baik dariku,” jawab Baekhyun singkat.

“Seo Yoon masih mencintaimu, kalau kau mau tahu. Dia sangat ingin Yun Min mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Dan kalian pasti bisa bersama lagi,”

Jinki tersenyum pahit lalu meneguk ludahnya. Ia bahkan mendukung hubungan Baekhyun dan Seo Yoon tanpa memikirkan perasaannya sendiri. Ia telah masuk ke dalam lubang –yang telah ia buat sebelumnya.

“Seo Yoon hanya mencintamu dan Minho,” lanjut Jinki kemudian, “Kalau kau masih sangat mencintainya, kau harus tetap berusaha untuk meraihnya lagi, Baekhyun-ssi,”

Baekhyun masih terdiam dan berspekulasi dengan pikirannya sendiri. Ia tahu bahwa Jinki mencintai Seo Yoon, dan ia sengaja meminta bantuan laki-laki itu untuk menjaga Seo Yoon serta Yun Min. Namun mungkin, apa yang dikatakan Jinki benar. Ia harus tetap berusaha untuk meraih Seo Yoon lagi ke dalam pelukannya. Tidak peduli ada ratusan rintangan yang lebih sulit nantinya. Dan malah, ia harusnya melindungi Seo Yoon dari ancaman ibunya sendiri.

“Terima kasih,”

Jinki hanya tersenyum simpul. Ia merasa telah menjadi pria paling bodoh di dunia. Menyerahkan wanita yang dicintainya pada orang lain. Namun akan lebih baik jika ia bisa melihat Seo Yoon tersenyum dan bahagia bersama orang lain. Karena ia tahu, sampai kapan pun Seo Yoon tidak akan pernah melihat ke arahnya. Wanita itu tidak akan pernah mencintainya, seperti Baekhyun dan Minho.

***

Seo Yoon merasakan seluruh tubuhnya berhenti bekerja saat itu juga ketika mendengar berita  tentang Minho di televisi. Minho bukan seorang artis idola, namun berita pesta pertunangan laki-laki itu muncul di hampir semua berita local. Pesta pertunangan yang akan dilaksanakan dua hari lagi, dan kemungkinan akan menjadi pesta termeriah –dalam sejarah pertunangan anak-anak para pemilik perusahaan besar di Korea.

Eomma, kenapa diam ? Ayo suapi aku lagi,” rajuk Yun Min pada Seo Yoon yang malah terdiam, “Oh, Minho ahjussi. Dia ada di TV, eomma !” pekiknya saat melihat berita di TV yang menampilkan gambar-gambar Minho –bersama tunangannya.

Yun Min menggelengkan kepalanya ketika melihat Seo Yoon bahkan tetap bergeming. Terlarut dalam pikirannya sendiri. Dan Yun Min semakin merasa heran karena tiba-tiba Seo Yoon bangkit dari kursi –di sisi tempat tidurnya, meletakkan mangkuk berisi bubur miliknya kemudian melangkah keluar dari kamar rawat tanpa mengucapkan apapun.

Seo Yoon beringsut duduk di kursi tunggu, kemudian menertawai diri sendiri –karena air mata yang tiba-tiba mengaliri pipinya. Ia tidak mengerti, kenapa harus menangisi laki-laki itu. Minho bertunangan dengan orang yang tepat tentu saja. Seharusnya ia sadar, Minho tidak mungkin mencintai wanita ‘biasa’ sepertinya dan jelas-jelas tidak akan membawa keuntungan apapun pada perusahaan Choi.

“Seo Yoon-ah ?”

Dengan cepat Seo Yoon menghapus bulir air mata di pipinya. Ia mengangkat kepala kemudian berusaha tersenyum pada Jinki –yang entah sejak kapan sudah berdiri disana. Dan bukannya berhenti menangis, ia malah semakin ingin menumpahkan semua rasa sesaknya saat itu juga di hadapan Jinki. Namun rasanya, ia sudah terlalu sering menangis di dalam pelukan laki-laki itu karena laki-laki lain. Dan ia merasa malu jika harus melakukan hal itu untuk yang kesekian kalinya.

“Kau menangis ? Waeyo ? Apa penyakit Yun Min kambuh lagi ? Kau sakit ? Atau kenapa ?” deretan pertanyaan dari Jinki membuat Seo Yoon malah tertawa.

Seorang Lee Jinki selalu dan akan selalu mengkhawatirkannya. Ekspresi khawatir laki-laki itu terlihat sangat lucu di mata Seo Yoon. Rasa sesak karena berita Minho tadi pun, sedikit menghilang karena kehadiran Jinki.

“Kenapa tertawa ? Kau mengagetkanku, Seo Yoon,” sahut Jinki –dengan memasang ekspresi datarnya pada Seo Yoon yang masih saja tertawa.

Ahni,” Seo Yoon beranjak dari kursi lalu menatap Jinki lekat. Membuat seluruh tubuh laki-laki itu –Lee Jinki tidak mampu bekerja dengan baik. Jinki meneguk ludahnya gugup kemudian memundurkan sedikit tubuhnya saat menyadari tubuh Seo Yoon yang semakin mendekat.

“Kau –kau mau apa ?” tanya Jinki panik.

“Matamu berkantung. Sudah berapa hari tidak tidur ?” tanya Seo Yoon seraya memundurkan kembali tubuhnya dan membuat Jinki kembali bisa bernapas.

“Baru dua hari. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, karena Ri An noonasedang liburan dengan calon suaminya,” jawab Jinki acuh.

“Dua hari ? Astaga… Kau pikir dirimu itu apa hah ? Robot ? Kau harus tetap tidur walaupun banyak pekerjaan, Lee Jinki,” seru Seo Yoon, dengan sebelah tangan terangkat dan segera mendaratkan pukulan di puncak kepala laki-laki itu.

Jinki mengusap puncak kepalanya seraya tersenyum –polos, “Aku janji akan tidur nanti malam,”

Seo Yoon mengangguk puas lalu malah mengacak rambut Jinki. Ia baru menurunkan tangannya, ketika pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok laki-laki yang tengah berdiri mematung beberapa langkah di depannya –dan yang membuat moodnya hancur beberapa saat lalu. Ia hanya menatap lurus pada laki-laki itu.

“Sepertinya kalian memang mempunyai hubungan khusus,” ujar Minho tiba-tiba. Jinki melipat senyum –bahagianya kemudian menoleh dengan cepat ke arah suara berat itu.

“Oh, Minho-ssi. Ah-ahni, kami hanya –,”

“Ini bukan urusanmu sama sekali, Minho-ssi. Aku bahkan tidak pernah mencampuri urusan pertunanganmu. Tapi aku berterima kasih karena kau sudah mau membayar biaya perawatan Yun Min kemarin,” potong Seo Yoon sarkastik, sangat terdengar nada tidak suka di dalamnya.

Minho membulatkan kedua matanya lalu segera melempar tatapannya pada Jinki –yang terlihat shock juga. Baru saja Minho akan membalas ucapan Seo Yoon, Jinki sudah lebih dulu memotongnya.

“Kau tahu darimana ? Kau yakin dia sudah bertunangan ?” tanya Jinki meyakinkan.

“Haruskah kita membahasnya ? Kau hanya perlu melihat TV, semua berita pertunangan Minho ada di setiap acara berita,” Seo Yoon melipat kedua tangannya di depan dada, mencoba terlihat kuat –padahal sungguh, ia sangat ingin menumpahkan semuanya dengan menangis sekarang.

“Tapi aku tidak pernah suka dengan pertunangan ini, Seo Yoon. Ini semua rencana kedua orangtuaku,” tukas Minho seraya berjalan mendekati Seo Yoon.

Jinki tahu ia berada di posisi yang salah saat itu. Ia harusnya bisa membela Minho agar Seo Yoon masih bisa mempertahankan rasa cintanya. Namun ia kembali berpikir, melihat Seo Yoon yang tengah bersedih karena laki-laki di hadapannya.

Seo Yoon segera menggenggam tangan Jinki, mencoba mendapatkan sedikit kekuatan. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak akan mengeluarkan air mata di hadapan Minho sekarang.

“Pesta pertunanganmu hanya tinggal dua hari lagi, jadi lebih baik kau pergi,” Seo Yoon semakin menggenggam erat tangan kiri Jinki, “Jinki-ya, sudah waktunya Yun Min makan,” elak Seo Yoon –masih sambil mencoba tersenyum pada Jinki.

Jinki tidak bisa melakukan apapun selain mengangguk dan menyetujui ajakan Seo Yoon untuk pergi dari sana. Ia menatap Minho sejenak. Laki-laki itu masih saja terpaku dan terlihat masih kaget dengan ucapan Seo Yoon mungkin. Jinki segera berbalik –mengikuti langkah Seo Yoon yang sudah berjalan mendahuluinya.

“Tapi aku hanya mencintaimu, Shin Seo Yoon,”

Jantung Jinki berhenti berdetak dan ia pun reflek menghentikan langkahnya. Ia menatap langkah Seo Yoon yang juga terhenti di depannya. Ucapan Minho benar-benar membuat seluruh saraf ditubuh Jinki berhenti bekerja. Tidak. Tolong jangan katakan hal itu pada Seo Yoon.

Dan sebulir air mata pun dengan sukses mengalir di pipi wanita itu. Ia kembali membalikkan badannya, menghadap Minho yang sedikit terhalangi oleh tubuh Jinki. Hatinya tidak bergetar ketika Minho mengucapkan hal itu padanya. Ia tidak merasa tersentuh –atau bahkan merasa ingin berlari ke dalam pelukan laki-laki itu.

“Apa yang harus kulakukan sekarang ? Kau pikir aku mencintaimu ? Lalu memohon agar kau membatalkan acara pertunanganmu itu ?” tanya Seo Yoon bertubi.

“Kau mencintaiku, Seo Yoon. Kau sendiri yang mengatakannya saat mabuk waktu itu. Dan aku akan membatalkan acara pertunangan ini, kalau kau mengatakannya sekali lagi,” Minho menatap kedua mata Seo Yoon dengan mata bulatnya yang terlihat redup.

Jinki berharap ia ditelan bumi saat itu juga. Ia tidak mau mendengar ataupun melihat Seo Yoon menerima pernyataan cinta Minho. Karena ia tahu bagaimana dalamnya perasaan Seo Yoon pada laki-laki itu. Ia yakin Seo Yoon pasti akan mengatakan tentang perasaannya –dengan lantang.

“Perasaan bisa berubah dalam waktu dua minggu, Minho-ssi,” balas Seo Yoon, membuat kedua mata Jinki dan Minho membulat sempurna. Dan Jinki semakin merasa heran ketika Seo Yoon tiba-tiba kembali menggenggam tangannya.

“Jinki yang bisa membuatku nyaman akhir-akhir ini. Dan aku pikir, aku sudah mulai mencintainya,” lanjut Seo Yoon kemudian.

Apa ? Jinki mengerjapkan kedua matanya dengan cepat. Ia menatap Seo Yoon dengan heran, sementara wanita itu hanya tersenyum –dengan kedua mata yang masih sedikit berlinang air mata. Senyuman Seo Yoon terlihat sangat tulus, dan Jinki sangat sulit mencari kebohongan di dalamnya. Haruskah ia memeluk wanita itu sekarang ?

“Baik kalau itu memang keputusanmu, Seo Yoon-ssi. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Aku sudah merasa senang karena kau pernah mencintaiku,” ucapan Minho terdengar sangat menyedihkan di telinga Jinki. Jinki masih –sangat tidak percaya dengan kejadian beberapa saat yang lalu. Karena ia sangat tahu bagaimana perasaan Seo Yoon selama ini. Wanita itu hanya mencintai Baekhyun dan Minho tentu saja.

***

Tidak ada pembicaraan yang terjadi, setelah Minho pergi dan setelah mereka –Seo Yoon dan Jinki kembali memasuki kamar rawat Yun Min. Jinki berusaha menjauh dari Seo Yoon dengan duduk di kursi dekat tempat tidur yunmin, sementara wanita itu memilih duduk di sofa. Ia juga masih tidak berani bertanya –tentang ucapan Seo Yoon tadi.

“Seo Yoon-ah, tentang ucapanmu tadi. Apa –,”

“Maaf sudah membawamu ke dalam masalah ini, Jinki-ya,” potong Seo Yoon seraya mengangkat kepala dan menatap Jinki ragu, “Aku hanya tidak mau Minho meninggalkan pertunangannya untukku. Lupakan saja kata-kataku tadi,”

Jinki terdiam. Ia mengepal erat kedua tangannya kemudian menggeleng pelan. Ia tidak bisa menahan lagi perasaannya –yang secara tidak langsung selalu disakiti oleh Seo Yoon.

“Kau tahu, Seo Yoon-ah ? Ada saat dimana aku akan merasa lelah dengan semua ini. Dan kupikir sekarang waktunya,” Jinki beranjak dari kursinya, “Aku tidak bisa membantumu lagi dan aku sudah merasa lelah karena selalu masuk ke dalam daftar –kepura-puraanmu. Aku ….. kecewa,”

Seo Yoon menatap nanar pada Jinki. Dimana sifat sabar dan lembut Jinki sekarang ? Tatapan laki-laki itu terlihat tajam dan menusuknya. Seo Yoon tidak mengerti dengan keadaan –yang malah berbalik menyalahkannya saat ini.

“Jinki-ya, tolong jangan bercanda. Aku minta maaf kalau memang –,”

“Jangan minta maaf padaku, Seo Yoon. Kau harusnya minta maaf pada dirimu sendiri. Karena sadar atau tidak, kau sudah menyakiti ‘banyak orang’,” balas Jinki seraya meraih jas kerjanya di sandaran kursi lalu memakainya. Ia mengusap kepala Yun Min –yang tengah tertidur kemudian keluar dari kamar rawat itu tanpa mengucapkan apapun pada Seo Yoon.

“Ah, dan satu hal lagi,” Jinki menghentikan langkahnya sejenak lalu sedikit berbalik ke arah Seo Yoon, “Aku yang membayar biaya perawatan Yun Min. Bukan Minho,”

Shock. Itulah kata yang tepat untuk menjelaskan bagaimana perasaan Seo Yoon saat ini. Ia mengusap pipinya yang sudah dialiri air mata –entah sejak kapan dan hanya bisa menatap pintu kamar rawat Yun Min yang baru saja tertutup. Rasanya jauh lebih sesak ketika Jinki, teman terbaik –menurutnya –meninggalkannya begitu saja. Tidak. Bahkan jauh lebih sesak dari saat mengetahui berita Minho tadi.

Kenapa air matanya tidak juga berhenti mengalir ? Apa ucapannya benar-benar menyakiti laki-laki itu ? Sungguh, ia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Jinki seperti itu. Ia hanya ingin membuat Minho menjauh dengan berpura-pura -mencintai Jinki.

[Pretend Continued]

One thought on “Pretend [11th Part]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s