Pretend [10th Part]

Pretend

Author  : Ima

Casts     : 

  • Shin Seo Yoon
  • Shin Yun Min
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

 [Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part][5thPart] [6th Part] [7thPart] [8th Part] [9th Part] [10th Part]

Ketika Seo Yoon hanya duduk di sofa. Menunggu anak laki-lakinya keluar dari dalam kamar. Ia sudah hampir selama satu jam mengetuk dan memohon pada anak itu hanya untuk sekedar membuka pintu. Namun hasilnya nol besar. Karena ia sama sekali tidak mendapat jawaban apapun. Yun Min masih tetap marah padanya dan Seo Yoon sudah hampir putus asa untuk memohon pada anak itu lagi.

Percuma saja jika ia menelepon Jinki sekarang, karena laki-laki itu pasti sedang sibuk bekerja di café. Dan jika Yun Min tidak marah juga pada Jinki. Pasti Yun Min akan marah juga pada Jinki, mengingat ia dan laki-laki itu yang sudah merencanakan semua ini.

Suara berdebum yang cukup keras membuat Seo Yoon terkesiap. Ia segera beranjak dari sofa kemudian berjalan cepat menuju kamar –tempat Baekhyun tertidur, dimana asal suara itu berasal. Seo Yoon memekik saat menemukan Baekhyun tengah terduduk di sisi tempat tidur dengan kepalan tangan yang sudah sedikit mengeluarkan darah. Ia juga melihat sedikit bercak darah di tembok –dekat tempat duduk laki-laki itu.

“Baekhyun-ah, gwenchana ?” tanya Seo Yoon khawatir seraya berjalan mendekati laki-laki itu. Baekhyun menoleh dengan lemah lalu tersenyum samar.

“Aku tidak apa-apa, Yoon-ie,” jawab Baekhyun, lalu berdiri dan melangkah mendekati Seo Yoon. Ia menatap kedua mata wanita itu sebelum akhirnya memeluk Seo Yoon dengan sangat erat.

Seo Yoon merasakan jantungnya –kembali berdegup kencang. Karena panggilan yang dilontarkan laki-laki itu dan juga pelukan erat yang didapatkannya. Ia merasa tengah bersama Baekhyun yang sama saat 5 tahun yang lalu. Ketika pertemuan romantisnya dengan Baekhyun, sebelum nyonya Byun memisahkan keduanya.

“Kau masih mabuk,” gumam Seo Yoon pelan. Baekhyun semakin menenggelamkan kepalanya pada lekukan leher Seo Yoon kemudian menggeleng.

“Aku tidak mabuk. Aku hanya merindukanmu,” balas laki-laki itu dan semakin mempererat pelukannya.

Pelukan Baekhyun terasa sangat sesak, sampai membuat Seo Yoon kesulitan untuk menghirup udara. Dan dengan sekuat tenaga, ia segera mendorong tubuh Baekhyun menjauh. Rasanya ia hampir mati kehabisan napas –dan jantung yang hampir melompat keluar dari rongga dadanya.

“Kau mempunyai masalah, Baekhyun-ah ?” Seo Yoon mencoba bertanya sebagai seorang teman –yang khawatir pada keadaan laki-laki itu.

“Masalah hati,” Baekhyun kembali tersenyum lalu menaruh kedua tangannya pada tiap sisi bahu Seo Yoon kemudian sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya, “Aku bertengkar dengan eomma karena membelamu, Shin Seo Yoon,”

Pernyataan baekhun, membuat perasaan Seo Yoon sedikit banyak merasa bersalah, “Kau tidak perlu bertengkar dengan eomonim. Kalau memang dia tidak setuju, jangan memaksa,”

“Aku pasti bisa memaksa eomma. Tolong tunggu sebentar lagi,”

“Jangan memaksa eomonim. Karena aku … takut tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk bersama lagi, Baekhyun-ah,”

Seo Yoon kembali ragu dengan perasaannya. Kedua tangan Baekhyun pun perlahan turun dari kedua pundaknya dengan lemah. Ia melihat sorot mata laki-laki itu sedikit meredup. Seolah kebahagiannya tersedot begitu saja karena ucapan Seo Yoon.

Mianhae,” gumam Baekhyun pelan, “Aku terlalu egois, eh ?”

Aniyo. Aku hanya sedikit takut,” tatapan Seo Yoon kembali pada kepalan tangan Baekhyun yang semakin banyak mengeluarkan darah, “Tunggu disini. Aku akan mengambil kotak obat,”

Baekhyun memandangi punggung Seo Yoon yang menghilang dibalik pintu. Ia tersenyum miris. Perasaan Seo Yoon sudah bukan miliknya lagi. Ketika mengatakan ‘takut’ tadi, entah kenapa ia malah tidak yakin bahwa Seo Yoon akan menerimanya kembali. Untuk mengulang kembali pernikahan yang terputus dulu dan hidup bahagia bersama anak laki-lakinya. Namun bukan seorang Byun Baekhyun, jika laki-laki itu mudah menyerah begitu saja. Ia harus berusaha untuk kembali merebut hati Seo Yoon.

***

Minho menghela napas panjang saat menyadari grafik perkembangan perusahaannya menurun secara drastis. Tidak ada yang bisa mendukungnya dan membantunya –sebaik Seo Yoon tentu saja. Dan sejak ia mengerjakan sendiri semuanya, ia menjadi tahu pekerjaan Seo Yoon sebagai seorang manager ternyata sangat berat. Saat Seo Yoon masih menjadi manager, ia sebagai direktur hanya bertugas memeriksa dan menandatangani saja. Seo Yoon yang selalu memeriksa laporan para karyawan dan mengetik laporan bulanan –yang terkadang ia langsung tanda tangani begitu saja tanpa memeriksanya.

Minho memijat keningnya kemudian menyesap Americano pesanannya. Setidaknya duduk di sebuah coffee shop serta diputarnya berbagai macam lagu klasik, membuat pikirannya sedikit rileks. Sungguh. Rasanya ia sudah hampir meledak memikirkan bagaimana keadaan perusahaannya sekarang.

Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Minho. Laki-laki itu meraih ponselnya yang berada diatas meja kemudian menghela napas panjang saat nama –calon istrinya tertera disana. Ia kembali meletakkan ponsel itu, tidak berniat sama sekali untuk mendengar suara wanita itu. Ia malas ketika harus mendengar rentetan ucapan wanita itu –yang selalu saja menasehatinya.

“Aku mau vanilla latte satu. Ah iya, apa aku bisa pakai kupon ?” tanya seorang wanita yang berdiri di depan meja kasir. Minho memperhatikan wanita yang tengah berdiri membelakanginya itu.

“Kupon ? Boleh kulihat kuponnya ?” tanya sang wanita yang tengah berdiri di belakang kasir itu seraya menyodorkan tangannya, meminta sesuatu yang baru saja di keluarkan wanita itu dari dalam tasnya. Ia memperhatikan kupon yang baru saja diterimanya kemudian menggeleng pelan, “Maaf nona. Tapi kupon ini sudah tidak berlaku lagi,”

Minho memasukkan ponselnya kedalam saku jas kemudian melangkah mendekati meja kasir. Ia merasa iba pada wanita yang tengah berusaha mendapatkan vanilla latte itu. Ia segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya lalu berdiri tepat di sebelah wanita itu, seraya menyerahkan uang yang sudah dikeluarkannya pada penjaga kasir.

“Ini uangnya. Tolong berikan pesanan wanita ini sekarang,” seru Minho seraya tersenyum simpul. Ia kemudian menatap wanita yang berdiri di sebelahnya.Well, ia tidak bisa menyembunyikan kekagetannya saat melihat wajah wanita itu.

“Aku tidak butuh bantuanmu, Minho-ssi,” Seo Yoon menghela napas panjang lalu kembali menatap kedua mata Minho, “Tapi terima kasih. Aku akan mengganti uangmu segera. Aku hanya lupa membawa dompet hari ini,”

Minho masih saja terpaku. Ia malah tersenyum lebar, mengingat bahwa wanita yang sangat dirindukannya itu berdiri disana. Berada tepat di hadapannya, “Tidak perlu diganti,” jawabnya dingin.

“Tapi aku akan tetap menggantinya. Maaf sudah merepotkanmu, Minho-ssi,” ucapan Seo Yoon terhenti ketika melihat vanilla latte miliknya diletakkan di sebuah nampan dekat mesin kasir. Ia segera mengambil gelas karton itu, membungkuk singkat pada Minho lalu mulai melangkah menuju pintu coffee shop.

“Tidak. Tunggu Seo Yoon !” Minho melangkah lebih cepat kemudian meraih pergelangan tangan wanita itu. membuat Seo Yoon berbalik dan menatap ke arahnya, “Ada yang harus kubicarakan denganmu,”

Seo Yoon merasakan aliran listrik menjalari tubuhnya ketika bersentuhan dengan Minho –yang entah sudah berapa lama tidak ditemuinya. Saat menatap kedua mata laki-laki itu, rasanya ia sangat ingin bersikap seperti dulu. Yang selalu terlihat ceria didepan laki-laki –yang dicintainya itu. Namun ia sudah lebih dulu merasa malu –atas apa yang pernah dilakukannya.

***

Entah bagaimana menjelaskan perasaannya, ketika Seo Yoon kembali melangkah memasuki perusahaan Choi. Ia menatap Minho yang berjalan beberapa langkah di depannya. Tiba-tiba saja laki-laki itu menariknya memasuki mobil dan membawanya kembali ke perusahaan Choi. Ya memang, walaupun Minho belum mengatakan apapun sejak bertemu tadi. Ia hanya merasa senang karena bisa kembali memasuki lobi gedung –mantan tempatnya bekerja.

Seo Yoon masih bisa merasakan tatapan dingin dari beberapa karyawan disana. Namun ia mencoba menghiraukannya dan tetap melangkah mengikuti Minho. Dan seketika napas Seo Yoon tercekat ketika Minho membuka sebuah ruangan yang bertuliskan –manager di pintunya. Jangan katakan kalau ….

“Ada beberapa file yang tidak aku mengerti. Kau bisa membantuku ?” tanya Minho –masih dengan nada dinginnya. Seo Yoon mengerucutkan bibirnya. Ia terlalu berharap bahwa Minho akan menerimanya kembali di kantor. Minho bukan mengajaknya berbicara. Hanya meminta bantuan.

“Tentang apa ?” tanya Seo Yoon seraya melangkah mendekati Minho yang tengah menyalakan notebook diatas meja kerja.

“Tentang masalah advertasi. Aku sedikit belum mengerti,” jawab laki-laki itu lalu menunjuk kursi kerja di dekatnya, menyuruh Seo Yoon untuk duduk disana. Seo Yoon menghela napas panjang sebelum beranjak duduk diatas kursi.

“Dimana manajer barumu memang ? Kau harusnya meminta bantuan padanya, Minho-ssi,” balas Seo Yoon, mulai menggerakkan pointer melihat-lihat isi laporan tentang permasalahan advertasi itu, “Harus dimulai darimana ?”

Seo Yoon merutuk dirinya sendiri karena menoleh setelah bertanya saat itu. Karena jarak wajah Minho hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Ia kembali mengalihkan wajahnya menghadap notebook. Astaga, batin Seo Yoon sambil mencoba bersikap tenang. Perlahan ia kembali menggerakkan pointer ke bagian bawah laporan itu. Dan mulai menjelaskan bagian yang tidak di mengerti oleh Minho. Seo Yoon hanya berdoa, semoga jantungnya cepat kembali berdetak normal agar tidak terlihat gugup.

***

Langit siang yang terlihat gelap oleh awan hitam, menjadi pemandangan yang bagus bagi Yun Min. Anak laki-laki itu duduk di ayunan taman sekolahnya, menengadahkan kepala dan memperhatikan bagaimana awan-awan hitam itu bergerak. Hujan akan segera turun. Yun Min tahu itu, namun ia sama sekali tidak ingin beranjak dari sana. Hatinya masih terasa sakit ketika mengetahui kenyataan bahwa –ibu kandungnya sendiri telah mempermainkannya.

Yun Min menunduk, memperhatikan ujung sepatunya yang beradu dengan tanah. Ia mulai membenci Jinki entah kenapa. Laki-laki itu juga telah membohongi dan memberi harapan kosong padanya. Selama ini ia hanya menjadi anak yang bodoh karena percaya begitu saja bahwa Jinki adalah ayah kandungnya.

“Shin Yun Min ! Cepat masuk, sebentar lagi hujan !” teriak Seo Hyun dari dalam kelas melalui jendela. Yun Min menoleh sekilas kemudian menggeleng pelan.

“Nanti kalau hujan aku masuk, saem !” balas Yun Min setengah berteriak juga.

Yun Min merasakan setetes air menyentuh bagian belakang kepalanya. Ia kembali mendongak, merasakan butiran-butiran air yang sedikit demi sedikit membasahi wajahnya. Hujan turun dengan cukup deras. Walaupun udara dingin cukup menusuk, tidak ada sedikit pun dorongan untuk beranjak dari ayunan itu.

“Shin Yun Min ! Cepat masuk !” Seo Hyun kembali berteriak, namun Yun Min berpura-pura tidak mendengar. Ia tetap menikmati tetesan hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhnya.

“Ah !” Yun Min sedikit meringis ketika merasakan sedikit sakit di bagian dadanya. Ia meremas seragam sekolahnya dengan kuat, mencoba menghilangkan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi itu.

Neomu apha !” pekiknya –berharap seseorang menolongnya saat itu juga. Yun Min jatuh terduduk diatas tanah yang sudah digenangi air. Semakin lama, rasa sakit itu malah membuat napasnya semakin terasa sesak.

Eomma….,” Yun Min melepaskan cengkeramannya pada seragam –di bagian dada itu kemudian memejamkan matanya ketika tidak bisa lagi menahan rasa sakit itu. Dan kemudian kesadarannya ikut menghilang. Ia kembali mengingat bagaimana wajah Seo Yoon saat terakhir kali tersenyum lembut ke arahnya.

***

Seo Yoon berlari melewati setiap koridor rumah sakit dengan panik. Yang berada di pikirannya hanya Yun Min sekarang. Ia harus segera memastikan bahwa anaknya baik-baik saja. Bahkan saat tengah berlari, Seo Yoon tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Terlalu takut jika hal buruk benar-benar terjadi pada anak laki-laki semata wayangnya itu.

Langkah Seo Yoon terhenti tepat di depan pintu ruang ICU. Ia hanya menatap pintu itu dalam diam kemudian kembali menangis. Ia bahkan tidak peduli bagaimana tatapan orang-orang ketika ia berlutut tepat di hadapan pintu dengan tangisan yang cukup keras. Ia terus berdoa untuk keselamatan Yun Min. Bahkan jika perlu, ia rela menukar nyawanya agar Yun Min bisa hidup saat itu juga.

“Seo Yoon. Kau tidak apa-apa ?”

Seo Yoon menoleh perlahan ketika mendengar suara berat itu memanggilnya. Ia melihat Minho tengah berdiri di dekatnya dengan napas terengah. Dan Seo Yoon sadar bahwa ia terus berlari setelah keluar dari mobil laki-laki itu tadi. Mungkin Minho juga berlari mengejarnya.

“Minho-ssi. Anakku….,”

Minho mengangguk mengerti kemudian membantu Seo Yoon berdiri. Menuntun wanita itu duduk di kursi tunggu yang sudah disediakan di dekat ruang ICU. Seo Yoon masih belum bisa berhenti menangis, dan Minho menjadi sedih karena hal itu. Ia belum pernah melihat Seo Yoon dalam keadaan panik dan menangis terisak hingga melupakan apapun yang dilewatinya saat berlari tadi. Dan semua itu karena anak laki-lakinya.

Suara pintu terbuka, disusul tempat tidur dorong yang juga keluar dari dalam ruang ICU, membuat Seo Yoon segera berdiri. Wanita itu baru saja akan mengejar tempat tidur dorong yang membawa Yun Min, ketika melihat dokter Kim –dokter yang selalu menangani Yun Min sejak bayi –keluar dari dalam  ruang ICU. Seo Yoon menghentikan langkahnya lalu menatap dokter Kim dengan khawatir.

“Sudah kubilang ‘kan ? Dia tidak boleh hujan-hujanan, apalagi sampai kedinginan seperti itu. Jantungnya sangat lemah, Seo Yoon. Jika hal seperti ini terjadi lagi, aku tidak janji Yun Min akan selamat,” dokter Kim menggeleng pelan sebelum melangkah meninggalkan Seo Yoon.

“Hujan-hujanan ?” tanya Seo Yoon heran, lebih pada dirinya sendiri.

“Lebih baik lihat anakmu dulu, Seo Yoon. Kau harus memastikan keadaannya,” ujar Minho seraya berdiri tepat di samping Seo Yoon. Seo Yoon segera menghapus sisa air mata di pipinya lalu dengan setengah berlari menuju kamar rawat Yun Min.

Seo Yoon merasa sesak saat melihat tubuh mungil Yun Min terbaring tidak berdaya diatas tempat tidur rumah sakit. Ia berdiri tepat di samping Yun Min lalu mengelus puncak kepala anak itu dengan lembut. Dan lagi-lagi, walaupun ia menahannya, air mata itu tetap saja menetes. Ia merasa telah menjadi ibu paling buruk didunia.

“Siapa nama anakmu ?” tanya Minho seraya memperhatikan wajah pucat Yun Min yang sedikit tertutup oleh alat bantu pernapasan. Ia berdiri di sisi lain tempat tidur, berseberangan dengan Seo Yoon. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas bahwa Seo Yoon kembali menangis.

“Shin Yun Min,” Seo Yoon tersenyum simpul kemudian mengusap kembali puncak kepala anak itu, “Aku sangat menyayanginya melebihi apapun di dunia ini. Bahkan aku rela mati, kalau hal itu bisa membuatnya hidup,”

Minho ikut tersenyum. Sungguh. Kali ini ia merasa sangat kagum pada sosok seorang Shin Seo Yoon. Bukan sebagai karyawan di kantornya, namun sebagai seorang ibu. Dan ia malah semakin jatuh cinta pada wanita itu.

Mianhae,”

Seo Yoon menghentikan tangannya yang masih mengelus puncak kepala Yun Min. Ia mengangkat kepalanya, menatap Minho heran dengan kening yang berkerut. Bukankah harusnya ia yang meminta maaf ?

“Maaf karena aku pernah menyebutmu wanita murahan. Aku hanya salah paham waktu itu dan harusnya mendengarkan semua penjelasanmu,” ucapan Minho semakin membuat Seo Yoon heran. Seingatnya, ia belum pernah memberi penjelasan pada laki-laki itu.

“Kau sudah tahu semuanya ?” tanya Seo Yoon kemudian. Minho mengangguk pelan.

“Kau menikah sekaligus bercerai 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang kau belum pernah menikah lagi dan membesarkan Yun Min sendirian,” jawab Minho. Well,kedua mata Seo Yoon sudah membulat sempurna sekarang. Ia masih tidak mengerti kenapa Minho bisa mengetahui tentang dirinya.

“Kau mengatakannya saat sedang mabuk. Jadi mungkin, kau tidak ingat apapun,” lanjut Minho, seolah mengerti apa yang tengah dipikirkan Seo Yoon saat itu. Dan termasuk pernyataan bahwa kau mencintaiku, batin Minho seraya tersenyum samar.

Dan Seo Yoon hanya ingat samar-samar –saat terakhir kali merasa mabuk. Hanya ketika ia ditolong seseorang karena telah diganggu oleh seorang laki-laki –hidung belang. Seo Yoon mengerjapkan kedua matanya. Merasa tidak percaya atas kejadian sebelum ia jatuh tertidur –dan tidak ada apapun lagi yang diingatnya setelah itu.

“Aah, jadi kau yang waktu itu menolongku ? Gomawoyo Minho-ssi,” ujar Seo Yoon seraya membungkuk singkat.

“Dan bahkan mengantarmu sampai apartemen, Shin Seo Yoon,” lanjut Minho, membenarkan ucapan terima kasih Seo Yoon.

Wanita itu bisa merasakan kedua wajahnya mulai memanas. Mengantarnya ke apartemen dan itu berarti, ia digendong bukan ? Seo Yoon mencoba mencairkan suasana panas didalam kamar rawat itu –menurutnya. Ia tidak bisa bernapas dengan baik sekarang. Untuk yang kedua kalinya ia digendong oleh laki-laki itu. Dan kali ini Seo Yoon merasa malu karena digendong dalam keadaan mabuk. Pasti ia meracau tidak jelas dan malah mempermalukan diri sendiri.

***

Sebuket bunga mawar merah, baru saja Jinki taruh di nakas diantara tempat tidur kedua orangtuanya. Kedua orangtua –angkatnya masih belum sadar dan Jinki bahkan kini sudah memulai kegiatannya sebagai seorang direktur mall keluarga Lee bersama Ri An. Dan sayangnya, ia tidak bisa menepati janjinya pada Seo Yoon untuk sering berkunjung ke apartemen. Ia tengah disibukkan dengan proyek pembangunan cabang mall baru.

Jinki baru saja melangkah keluar dari kamar rawat kedua orangtuanya, ketika ponsel yang berada di genggamannya tiba-tiba berdering. Ia melihat nama yang tertera di layar lalu tersenyum simpul. Seorang Shin Seo Yoon meneleponnya.

Waeyo ?” tanya Jinki sesaat setelah menempelkan ponsel ke telinganya seraya berjalan menyusuri koridor rumah sakit.

‘Kau ada dimana, Jinki-ya ?’ tanya Seo Yoon membuat seulas senyum kembali muncul di bibir Jinki.

“Hanya jalan-jalan biasa. Apa aku bisa datang ke apartemenmu sekarang ?”

‘Yun Min…. Masuk rumah sakit. Aku sedang menjaganya,”

Jinki menghentikan langkahnya setelah berbelok di koridor rumah sakit. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk di kursi tunggu –tepat di dekat sebuah pintu kamar rawat, “Kau terdengar menyedihkan, Seo Yoon-ah. Aku akan kesana sekarang juga. Hitung 1, 2, 3 dan aku akan muncul di hadapanmu,” ujar Jinki dan terdengar kekehan pelan dari Seo Yoon.

‘Baiklah. Aku tutup teleponnya sekarang. Tapi, kau memang tahu dimana –,’

“Hitung saja !” Jinki mematikan sambungan teleponnya dengan Seo Yoon. Ia melihat wanita –yang tengah menjadi pusat perhatiannya itu –mendengus kesal. Sesaat kemudian Seo Yoon memejamkan mata, terlihat seperti menghitung dalam hati. Dan Jinki pun dengan setengah berlari segera menghampiri wanita itu.

“Bagaimana keadaan Yun Min ?”

“Astaga !” Seo Yoon terlonjak kaget. Ia segera berdiri lalu memukul lengan Jinki dengan kuat, “Kau mengagetkanku, Lee Jinki !”

“Aku ‘kan sudah bilang akan datang dalam hitungan ketiga,” balas Jinki gemas seraya mengusap lengan atasnya yang terasa ngilu.

Seo Yoon tidak menjawab dan malah memperhatikan penampilan Jinki. Laki-laki itu memakai jas dan berpenampilan sangat rapi, seperti seorang pengusaha muda. Well, dan entah kenapa ia menyukai penampilan Jinki yang seperti itu.

“Aku ingin melihat Yun Min, Seo Yoon-ah. Kenapa kau malah diam ? Nanti saja mengaguminya, aku masih akan disini sampai nanti sore,” ucapan Jinki, lagi-lagi mendapat balasan sebuah pukulan ringan oleh Seo Yoon.

“Kau percaya diri sekali, tuan Lee,” elak Seo Yoon kemudian melangkah meninggalkan Jinki, memasuki sebuah pintu tepat di sebelah kursi tunggu –tempatnya duduk beberapa saat yang lalu. Jinki tersenyum sendiri lalu mengikuti langkah Seo Yoon memasuki kamar rawat Yun Min.

Jinki memperhatikan Yun Min –yang terlihat tidak berdaya diatas tempat tidur. Kedua mata bulatnya masih terpejam rapat, begitu juga dengan bibir mungilnya yang terlihat pucat. Tangannya beralih mengusap puncak kepala anak laki-laki itu. Ia merasa sedih melihat anak –pura-puranya terbaring lemah seperti itu. Bagaimana pun, ia pernah menjadi bagian hidup anak itu bukan ?

“Aku belum memberitahumu tentang hal ini, Jinki-ya,” ucapan Seo Yoon membuat Jinki menoleh, menatap wanita yang berdiri di sampingnya, “Yun Min mempunyai kelainan jantung sejak kecil. Dia tidak bisa kelelahan dan kedinginan. Tapi kemarin dia hujan-hujanan, sampai keadaannya seperti sekarang ini,”

Jinki segera menepuk puncak kepala Seo Yoon, mencoba memberikan semangat. Ia tidak mau Seo Yoon menangis disaat pertemuan mereka –yang pasti akan sangat jarang nantinya. Senyuman wanita itu jauh lebih baik. Walaupun mungkin sekarang, ia tidak bisa melihat senyuman tulus Seo Yoon karena keadaan Yun Min.

“Kau bekerja dimana sekarang ?” tanya Seo Yoon. Jinki memperhatikan penampilannya sendiri lalu mengusap tengkuknya bingung.

“Aku masih ingat ucapanmu, yang membenci bekerja di perusahaan,” tambah Seo Yoon kemudian. Jinki menghela napas panjang.

“Ini terpaksa, Seo Yoon. Aku terpaksa harus bekerja di perusahaan. Menjadi seorang direktur yang mengawasi perkembangan mall keluarga Lee,”  jelas Jinki, membuat kedua mata Seo Yoon membulat. Seo Yoon mengerjapkan kedua matanya –merasa tidak percaya bahwa Jinki yang dikenalnya selama ini tiba-tiba menjadi seorang direktur.

“Keluarga angkatku. Kau pasti tahu mall terbesar di Korea yang hanya dipegang oleh keluarga Lee,” lanjut laki-laki itu. Seo Yoon menggeleng pelan.

“Aku bingung. Sebentar,” Seo Yoon berdehem pelan kemudian memutar kepalanya menghadap Jinki, “Kau anak angkat keluarga Lee ? Lee Kwang Soo ?Jinjja ?”

“Maaf baru memberitahumu sekarang. sudah 5 tahun aku pergi dari keluarga Lee sebenarnya, tapi kemarin mereka menemukanku dan memaksaku mengurus perusahaan,” jelas Jinki. Seo Yoon masih tidak mengerti sebenarnya. Pengakuan Jinki terlalu mendadak dan ia masih sedikit bingung.

“Aku masih tidak percaya, Jinki-ya. Keluarga Lee sangat terkenal di Korea, tapi aku tidak pernah mendengar mereka mengangkat seorang anak. Aku hanya tahu mereka mempunyai dua anak kandung saja,” balas Seo Yoon. Jinki mengendikkan bahu. Tidak tahu jika memang kenyataan diluar sana –tentang dirinya seperti itu.

“Kau pikir keluargaku mau membeberkan semuanya ? Mungkin mereka mengakuiku sebagai anak kandung. Mollayo. Dan wanita yang kau cemburui waktu itu –,” ucapan Jinki membuat Seo Yoon menoleh dengan cepat.

“Aku tidak pernah cemburu !”

“Terserah. Tapi wanita itu kakak angkatku. Namanya Lee Ri An,”

Seo Yoon mendengus pelan lalu mengerucutkan bibirnya. Merasa kesal karena Jinki –masih menggodanya tentang kejadian itu. Lagipula ia memang tidak cemburu. Kesal dan cemburu sangat berbeda bukan ?

“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Nenek pasti sudah marah-marah di kantor, karena aku belum juga pulang dari rumah sakit,” Jinki mengusap puncak kepala Yun Min sekali lagi kemudian beralih menghadap Seo Yoon –yang masih saja mengerucutkan bibir, “Waeyo ? Kau masih cemburu ?”

“Oh, astaga, Lee Jinki. Aku tidak cemburu sama sekali,” balas Seo Yoon gemas. Jinki terkekeh pelan kemudian mengacak rambut wanita itu.

Araseo. Aku pergi sekarang, ne ? Jaga Yun Min baik-baik,” Jinki tersenyum manis kemudian melangkah keluar kamar rawat Yun Min. Dan Seo Yoon hanya menatap kepergian Jinki dengan sedih. Laki-laki itu pasti akan lebih sibuk dengan pekerjaan dan akan sangat jarang bertemu dengannya. Tapi tunggu, kenapa ia harus sedih ?

***

Seo Yoon baru saja keluar dari apartemennya –setelah mengambil beberapa pakaian Yun Min untuk dibawa ke rumah sakit –ketika langkahnya terhenti karena melihat seorang wanita paruh baya menghalangi langkahnya. Ia mengangkat kepalanya lalu sedikit tersentak ketika –kedua mata tajam itu tepat menatap kedalam matanya. Sepasang mata yang dilihatnya terakhir kali sekitar 5 tahun yang lalu.

“Ah, eomonim. Annyeong haseyo,” ucap Seo Yoon sopan seraya membungkukkan badannya.

“Berhenti memanggilku eomonim. Kau bukan menantuku lagi, Shin Seo Yoon,” balas nyonya Byun dingin. Seo Yoon meneguk ludahnya lalu mengangguk pelan.

“Aku hanya ingin memperingatimu saja,” ujar nyonya Byun sontak membuat Seo Yoon mengangkat kepalanya, “Menjauhlah dari Baekhyun. Sebelum orang terdekatmu mendapat masalah karena hal ini,”

“Apa maksudmu ?” tanya Seo Yoon jengah. Nyonya Byun tertawa pelan lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya, ia menyerahkan amplop –berisi uang itu pada Seo Yoon.

“Kuharap dengan uang ini, kau mau menjauhi Baekhyun,” jelas nyonya Byun. Seo Yoon berdecak pelan kemudian mendorong kembali uang itu kehadapan nyonya Byun.

“Aku bukan wanita yang bisa kau beli dengan uang. Aku akan pergi dari hadapan Baekhyun secepatnya. Dan maaf kalau ini terdengar tidak sopan. Tapi aku harus segera pergi ke rumah sakit sekarang,” Seo Yoon berusaha menghindar dari pembicaraan –yang pasti tidak akan berujung jika membahas tentang Baekhyun. Ia membungkuk dalam kemudian berjalan cepat meninggalkan wanita paruh baya itu.

“Baik kalau itu maumu, Shin Seo Yoon. Kalau kau tetap mendekati Baekhyun, anakmu yang akan menjadi bayarannya. Ingat juga, dia anak kandung Baekhyun dan keluarga kami berhak atas hak asuhnya,”

Langkah Seo Yoon terhenti tepat ketika sebelum mencapai pintu lift. Ia kembali berbalik, menghadap punggung nyonya Byun –yang masih berdiri di tempatnya. Berani sekali wanita itu membawa-bawa Yun Min dalam perjanjian sepihak –yang bahkan belum diseutujui Seo Yoon itu. Hak asuh ? Astaga… Ia bahkan tidak pernah menyentuh sedikit pun harta milik keluarga Baekhyun ketika membesarkan Yun Min.

“Jangan pernah bermimpi untuk membawa Yun Min dari hidupku, nyonya Byun yang terhormat. Karena sampai mati pun, aku tidak akan pernah mau menyerahkan Yun Min,” Seo Yoon segera menghindar dari pembicaraan lainnya kemudian memasuki lift yang saat itu terbuka. Dan tanpa bisa dicegah, setetes air mata meluncur dari sudut matanya. Harusnya ia sadar bahwa nyonya Byun selalu membencinya dan tidak akan mungkin menyetujui kembali hubungannya dengan Baekhyun.

***

Seo Yoon memperhatikan Baekhyun yang tengah tertidur di kursi, dengan kepala yang bersandar pada tempat tidur Yun Min. Ketika tiba dirumah sakit beberapa saat yang lalu, ia sudah mendapati laki-laki itu berada disana. Memang semalam ia sudah terlanjur memberi tahu Baekhyun tentang keadaan Yun Min. Bagaimana pun, Baekhyun tetap ayah kandung anak laki-lakinya.

Dan entah kenapa Seo Yoon semakin bingung dengan perasaannya sendiri. Sebenarnya ia tidak pernah berpikir untuk menikah lagi dengan laki-laki manapun. Namun ia tidak bisa membiarkan Yun Min tumbuh hanya dengan kasih sayang seorang ibu sepertinya. Di umur Yun Min yang masih sangat muda, harusnya anak laki-laki itu mendapat kasih sayang seorang ayah juga. Ia tidak boleh egois dan harus memikirkan perkembangan Yun Min nantinya.

Jika egois, mungkin Seo Yoon akan memilih Minho –yang notabene ia cintai tentu saja. Dan jika mengaitkan dengan masa lalu dan juga kehidupan Yun Min, mungkin ia harus memilih Baekhyun –yang notabene memiliki ikatan darah dengan Yun Min, namun penuh ancaman dari nyonya Byun. Dan atau jika memikirkan rasa cinta Yun Min ada sosok Jinki, ia mungkin akan memilih laki-laki –bermata sipit itu. Seo Yoon segera duduk di sofa saat merasakan kepalanya sedikit berdenyut karena memikirkan itu semua. Ia bahkan mungkin tidak akan memilih ketiganya.

“Kau sudah datang, Seo Yoon-ah ?” suara Baekhyun membuat Seo Yoon mengangkat kepalanya. Ia menatap laki-laki yang sudah berdiri dan tengah berjalan menghampirinya itu. Jika melihat wajah Baekhyun, Seo Yoon sadar bahwa ia masih memiliki sedikit perasaan pada laki-laki itu.

“Kau sakit ? Wajahmu pucat,” tanya Baekhyun seraya duduk tepat di sebelah Seo Yoon lalu memegang kening wanita itu dengan punggung tangannya.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Seo Yoon cepat lalu segera menepis tangan laki-laki itu.

Keadaan berubah menjadi hening. Seo Yoon berdehem pelan kemudian beranjak dari sofa, ia mulai menyibukkan diri dengan membereskan pakaian Yun Min ke dalam lemari kecil di sudut kamar rawat. Ia mencoba untuk tidak terlibat pembicaraan apapun dengan Baekhyun.

“Aku sudah menemukan beberapa gedung untuk pesta pernikahan kita nanti. Kau tinggal memilihnya saja, Yoon-ie,” ucapan Baekhyun sontak menghentikan kegiatan Seo Yoon. Seo Yoon memejamkan kedua matanya rapat-rapat lalu menggeleng pelan.

“Kita tidak akan pernah bisa menikah lagi, Byun Baekhyun. Kau tahu itu,” balasnya.

Waeyo ? Karena eomma ? Tenang saja, aku akan terus membujuknya, Seo Yoon-ah,” ujar Baekhyun, masih tetap pada pendiriannya.

“Karena aku tidak mencintaimu lagi. Dan karena Yun Min tidak bisa menerimamu sebagai ayahnya,” Seo Yoon baru saja akan berdiri ketika sebuah tangan melingkari lehernya. Ia terkesiap kaget dan segera berusaha melepaskan pelukan Baekhyun itu.

“Bohong. Aku tahu kau bohong, Seo Yoon-ah. Apa eomma mengancammu ?” bisik Baekhyun lembut, membuat tubuh Seo Yoon sedikit bergidik. Seo Yoon kembali memejamkan matanya. Mencoba meyakinkan perasaannya sendiri –yang entah kenapa tergoyahkan ketika Baekhyun memeluknya.

“Aku tidak berbohong. Tolong jangan memaksa, Baekhyun-ah. Aku tidak bisa,”

Dan perlahan kedua tangan itu pun terlepas. Seo Yoon merasakan kedua matanya memanas. Ia tahu ada sedikit bagian di hatinya yang masih mengharapkan Baekhyun. Hatinya yang tidak akan rela melepas laki-laki itu tentu saja. Namun hidup selalu mempunyai pilihan dan ia harus memilih jawaban yang tepat dari semua pilihan itu. Ia tidak mau memberikan harapan kosong pada Baekhyun.

“Aku akan memberikanmu kesempatan untuk berpikir. Tolong pikirkan baik-baik, Yoon-ie,” Baekhyun tersenyum samar kemudian mengacak rambut Seo Yoon sebelum melangkah keluar dari kamar rawat Yun Min. Ia berusaha untuk tidak membawa Baekhyun ke dalam keadaan yang sulit ataupun membuat Yun Min terpisahkan darinya.

***

Minho tengah menyusun berkas-berkas penting proyek perusahannya, ketika tatapannya tidak sengaja menangkap salah satu berkas –rencana proyek pembangunan hotel perusahaan Weilhamm. Ia terakhir kali rapat dengan Baekhyun –membahas proyek hotel itu, sekitar dua minggu yang lalu. Sebelum ia mengetahui kenyataan bahwa Baekhyun ternyata mantan suami Seo Yoon. Dan sebelum mereka –ia, Jinki, dan Baekhyun –memperebutkan Seo Yoon di lobby apartemen.

Minho baru saja kembali menyusun berkas-berkas itu, lalu kembali terhenti saat selembar foto jatuh dari dalam tumpukan kertas –yang tengah dirapikannya. Ia sedikit membungkuk, mengambil foto yang tergeletak di dekat kakinya. Dan kemudian Minho malah tersenyum karena menyadari bahwa foto itu adalah foto Seo Yoon –yang hilang dan selalu dicarinya akhir-akhir ini.

Suara ketukan pintu, membuat Minho mengangkat kepalanya. Ia menatap heran pada seorang wanita –yang menjabat sebagai sekretaris barunya itu –yang tengah melangkah masuk. Wanita itu membungkuk dalam.

“Pemilik perusahaan Weilhamm, ingin bertemu dengan anda,” ujar wanita itu. Minho segera menyelipkan foto Seo Yoon kembali ke dalam tumpukuan berkas-berkas itu kemudian meletakkannya diatas meja, ia menegakkan tubuhnya lalu menyetujui ucapan sekretarisnya itu.

Tak lama kemudian, Minho melihat sosok sang pemilik perusahaan Weilhamm memasuki ruang kerjanya. Namun kening Minho berkerut ketika tidak melihat Baekhyun diantara –ketiga orang yang memasuki ruangannya saat itu.

Annyeonghaseyo. Aku Byun Yun Jae, pemilik perusahaan Weilhamm. Anakku tidak bisa hadir hari ini, jadi untuk sementara aku yang akan menggantikannya,” papar Yun Jae seraya menjabat tangan Minho. Minho hanya tersenyum simpul kemudian mempersilakan pria itu untuk duduk di sofa.

Tatapan Minho tertuju pada dua pria bertubuh besar yang ikut berdiri di samping Yun Jae. Jika boleh jujur, ia merasa risih ketika gerak-geriknya selalu diawasi seperti itu.

“Jadi, bagaimana perkembangan kerjasama perusahaan kita ?” tanya Yun Jae, memulai pembicaraan –proyek antara perusahaan Weilhamm dan perusahaan Choi tentu saja.

“Aku baru menyimpannya tadi. Tunggu sebentar, Yun Jae-ssi,” Minho beranjak dari sofa, melangkah menuju meja kerjanya –dimana ia baru saja meletakkan tumpukan berkas-berkas perusahaannya. Ia membawa map tebal itu keatas meja tamu lalu kembali duduk di sofa dan mulai mencari letak berkas milik perusahaan Weilhamm.

Yun Jae hanya tersenyum melihat tingkah Minho –yang sedikit ceroboh menurutnya. Bagaimana bisa, seorang tamu sepertinya dibiarkan menunggu. Namun ia memaklumi, karena mungkin anak muda seperti Minho dan Baekhyun masih butuh bimbingan dalam menjadi seorang pemimpin. Tatapan Yun Jae pun tiba-tiba tertuju pada selembar kertas kecil yang jatuh dari dalam tumpukan kertas –yang tengah Minho rapikan kembali. Ia segera memungut kertas kecil itu kemudian memandanginya sejenak. Dugannya pun salah mengenai hanya sepotong kertas biasa. Yang berada di genggamannya kini adalah selembar foto yang berukuran tidak lebih dari 4R. Dan yang membuatnya hampir terkena serangan jantung adalah, ia melihat sosok Chaeyeon disana.

“Siapa wanita yang ada didalam foto ini ?” tanya Yun Jae dengan nada sedikit bergetar. Minho mengangkat kepalanya lalu memperhatikan foto yang berada di genggaman Yun Jae.

“Ah, dia Shin Seo Yoon. Manajerku yang lama,” Minho tersenyum simpul lalu segera meraih foto Seo Yoon dari tangan Yun Jae. Ia memasukkan foto Seo Yoon ke dalam saku jasnya kemudian mulai membahas tentang proyek perusahaan Weilhamm.

Namun pikiran Yun Jae kini melayang entah kemana. Ia tidak pernah habis pikir bahwa hidupnya akan kembali berhubungan dengan Shin Seo Yoon dan Ahn Chaeyeon. Ibu dan anak –yang selalu menjadi ‘kambing hitam’ dalam setiap hal yang dilakukannya. Seulas senyum mengembang di bibir pria itu. Jika dulu saja –ketika Baekhyun dan Seo Yoon masih mengikat janji pernikahan –ia bisa dengan mudah berhubungan dengan Chaeyeon. Maka sekarang –ketika tidak ada ikatan apapun diantara keduanya –Yun Jae yakin, bahwa ia bisa semakin mudah mendekati Chaeyeon. Ia tidak perlu takut lagi dengan semua ancaman istrinya tentang kehidupan pernikahan Baekhyun. Mulai saat ini ia akan kembali mendekati wanita itu. Ahn Chaeyeon.

[Pretend Continued]

One thought on “Pretend [10th Part]

  1. yang udah tua aja juga ada masalah percintaannya ya._. minho gantengggg #lho? wkwk jinki skrg udh kerja di perusahaan, yunmin gabakal malu lagi ‘kan? xD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s