Pretend [3rd Part]

\Author  : Ima (@bling0320)

Casts     : Shin Seo Yoon, Shin Yun Min, Lee Jinki, Choi Minho

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

[Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part]

Tepat ketika membuka pintu apartemennya, Seo Yoon menahan napasnya sejenak. Seluruh isi apartemennya lebih tepat disebut sebagai –kapal pecah saat itu. Berbagai macam mainan Yun Min tergeletak hampir di setiap sudut ruang tamu. Dan beberapa bungkus snack kosong juga tergeletak diatas meja. Seo Yoon melangkah ke dapur dan menemukan beberapa Teflon kotor beserta piring-piring kotor di tempat cuci piring. Bahkan Shin Young ahjumma tidak pernah membuat apartemennya berantakan seperti itu.

“Oh, kau sudah pulang ?” sebuah suara mengagetkan Seo Yoon. Wanita itu berbalik, menghadap Jinki yang tengah menggosok kedua matanya dan bediri tepat di depan pintu kamar.

“Apartemenku terlihat seperti kapal pecah, Jinki-ya,” keluh Seo Yoon seraya berjalan meninggalkan dapur menuju ruang tengah dan menghempaskan tubuhnya –yang sudah hampir remuk ke atas sofa.

“Mian. Tapi anakmu …. Ya kau tahu seperti apa. Dia sangat-sangat tidak bisa diam,” balas Jinki, berjalan menghampiri meja dan membereskan beberapa bungkus snack lalu membuangnya ke tempat sampah di dapur.

“Mungkin dia terlalu excited karena kehadiranmu. Dia tidak pernah membuat berantakan apartemen dengan mainannya,” Seo Yoon melepas blazer yang masih melilit tubuhnya lalu meletakkannya di sandaran sofa. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa juga, menatap langit-langit apartemennya yang berwarna putih bersih. Tubuhnya sangat lelah. Namun ia tidak mengantuk sedikit pun.

Seo Yoon malah kembali mengingat harinya yang dipenuhi oleh seseorang bernama Choi Minho. Laki-laki itu terlihat sangat keren di matanya. Dalam melakukan hal apapun, termasuk ketika memimpin rapat tadi pagi. Ketika Minho datang dengan penuh keringat, namun tetap saja berwibawa. Dan ia semakin menyukai laki-laki itu.

“Cepat tidur. Kau pasti lelah ‘kan ?” ujar Jinki, membuyarkan semua lamunan Seo Yoon.

Seo Yoon menurunkan kepalanya, tersenyum samar pada laki-laki itu dan kemudian beranjak dari sofa. Membawa blazer, dan juga tas kerjanya. Ia kembali menoleh ke belakang –tepat sebelum membuka pintu kamar. Memandangi Jinki yang tengah membereskan seluruh mainan Yun Min.

Gwenchana, Jinki-ya. Sekarang sudah jam 12, kau juga harus tidur. Biarkan saja apartemenku berantakan,” serunya kemudian menghilang di balik pintu kamar.

Jinki mengangguk pelan –tanpa melihat Seo Yoon dan tetap membereskan seluruh mainan yang berserakan itu ke dalam tempatnya. Ia juga mencuci seluruh perabotan dapur yang kotor. Karena terlalu sibuk bekerja di café tadi siang, ia hampir lupa untuk menjemput Yun Min di sekolahnya. Dan ketika sampai di apartemen, anak laki-laki itu malah mengeluarkan seluruh mainannya. Bermain secara acak –sementara ia mengejarnya untuk memberi makan dan kehabisan tenaga pada akhirnya karena terlalu lelah. Dan ia baru menyadari seluruh apartemen Seo Yoon sudah seperti kapal pecah karena ulah Yun Min.

***

Seperti biasanya ketika terbangun di pagi hari, Jinki menemukan Seo Yoon sedang kesusahan karena terlambat. Kali ini ia ikut membantu wanita itu mencari berkas penting perusahaannya di dalam laptop –yang entah dimana menyimpannya. Jinki terus membuka setiap folder yang ada, sementara search bar yang digunakannya juga ikut mencari. Seo Yoon duduk di sampingnya dengan gelisah, saling menautkan kedua tangannya. Pandangan wanita itu terus tertuju pada layar laptop, memerhatikan setiap deretan tulisan berkas Microsoft word yang berada dalam setiap folder.

“Apa kau tidak punya back up datanya ?” tanya Jinki, ketika sudah merasa lelah karena matanya –yang masih perih karena baru saja bangun tidur diharuskan membantu Seo Yoon mencari satu file diantara ribuan file lainnya.

“Aku lupa nama file nya. Mungkin ada, tapi aku benar-benar lupa. Karena file ini rahasia perusahaan, aku memakai nama yang aneh. Aaah, kenapa aku tidak ingat sama sekali ?” gerutu Seo Yoon pada dirinya sendiri. Ia mengalihkan pandangannya pada Jinki –yang tengah menatap aneh ke arahnya.

“Memangnya file itu sudah lama ? Lebih dari satu tahun ?” tanya Jinki lagi memastikan. Seo Yoon menggeleng pelan.

File itu aku buat saat pertama kali bekerja di perusahaan. Bagaimana ini ? Minho membutuhkannya unduk me-recap data perusahaan,” Seo Yoon mulai menggigiti ujung-ujung jemarinya –menandakan bahwa ia sangat panik. Ia mengacak rambutnya frustasi.

This ! Why I never want to work in a company,” gumam Jinki pelan lalu kembali menyentuh mouse, membantu Seo Yoon untuk mencari berkas itu lagi.

Seo Yoon terdiam. Ia berusaha memutar ingatannya 2 tahun ke belakang. Saat pertama kali dirinya bekerja di perusahaan Minho –menjadi seorang akunting biasa dan jauh sebelum ia menjadi manajer seperti sekarang. Minho memberikannya sebuah tugas dulu untuk membuat data keuangan perusahaan –yang sangat rahasia itu dan ia pun menyimpannya dengan nama lain. Tubuh Seo Yoon menegang saat mengingat semuanya. Ia ingat nama berkas itu kali ini. Dengan cepat Seo Yoon menghadap Jinki, menggumamkan satu nama yang bahkan membuat dadanya terasa sangat sesak.

“Coba cari dengan nama …. Byun Baek Hyun,” ujar Seo Yoon, dan tanpa disadari suaranya bergetar. Membuat Jinki menoleh dan menatap Seo Yoon heran.

“Ada apa dengan –,” Jinki memotong ucapannya saat melihat kedua mata Seo Yoon mulai memerah dan berkaca-kaca. Laki-laki itu kembali mengalihkan pandangannya pada layar laptop. Melaksanakan perintah Seo Yoon untuk mencari berkas itu dengan nama Byun Baek Hyun dan berpura-pura tidak tahu dengan reaksi Seo Yoon tadi.

Tepat seperti apa yang dikatakan Seo Yoon. Berkas itu tersembunyi di bagian dalam folder –yang entah berada dimana dan memiliki nama Byun Baek Hyun. Baru saja Jinki akan memberitahu hal itu, ketika suara Yun Min menghentikannya. Ia melihat anak laki-laki itu berjalan menghampirinya dengan sedikit terisak. Dan tanpa bisa menghindar, Yun Min sudah duduk di atas pangkuannya dan memeluknya dengan erat. Tubuh Jinki menegang seketika. Ia tetap takut, namun tidak berniat mendorong Yun Min dari pangkuannya.

Appa tidak akan meninggalkanku ‘kan ? Aku bermimpi appa pergi lagi,” gumam Yun Min. Jinki menoleh menghadap Seo Yoon dan melihat wanita itu tersenyum padanya. Seolah memberi isyarat bahwa ia harus menjawab ‘iya’ saja untuk pertanyaan anak laki-laki itu.

“N-ne,” jawab Jinki ragu lalu perlahan melepas pelukan itu. Jinki menurunkan Yun Min kemudian menatap Seo Yoon, “Berkasnya sudah kutemukan. Aku harus berangkat pagi hari ini, jadi kau yang mengantar Yun Min ke sekolah,”

“Ne~, gomawo Jinki-ya,” balas Seo Yoon seraya menggendong Yun Min ke dalam pelukannya dan kemudian beranjak dari sofa. Jinki memejamkan matanya sejenak, mencoba menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Mungkin ia memang harus lebih banyak beristirahat sekarang. Tenaganya akan terkuras dua kali lipat. Untuk kerja, membantu Seo Yoon, dan mengurus Yun Min.

***

Jinki membungkuk singkat pada Seo Hyun yang sudah mengantar para muridnya ke depan pagar taman kanak-kanak itu saat jam pulang tiba. Ia melambai singkat pada Yun Min –yang ternyata tengah melambai padanya juga. Setelah berpamitan pada Seo Hyun, ia segera menuntun tangan mungil Yun Min ke dalam genggamannya –dengan ragu. Sembari menunggu bis datang, Jinki berusaha mencari pembicaraan dengan anak itu. Untuk pendekatan dan juga untuk mengurangi rasa takutnya pada anak kecil.

Kedua mata bulat Yun Min tiba-tiba saja menatap Jinki dengan intens. Membuat laki-laki berusia di pertengahan dua puluhan itu salah tingkah. Baru saja ia akan bertanya, menatap mata itu rasanya seluruh pertanyaan dalam benaknya hilang entah kemana.

Appa, aku lapar,” gumam Yun Min pelan. Jinki membulatkan kedua matanya dan sedikit tersentuh juga saat wajah anak itu terlihat sangat lemah.

“Kau mau makan apa ?” tanya Jinki seraya tersenyum lebar dan kembali menatap kedua mata Yun Min.

Eomma pernah mengajakku makan di restoran. Tapi aku lupa dimana tempatnya, appa,” jawab anak itu lalu melebarkan senyum polosnya. Jinki menghela napas panjang. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya kemudian menelepon Seo Yoon.

Yeoboseyo. Seo Yoon-ah,  dimana restoran biasanya kau dan Yun Min makan ? …. Apgujeong ?… Kau mau ikut ? Ini jamnya makan siang ‘kan ? … Baiklah, gomawo,” Jinki menurunkan ponselnya, mematikan telepon Seo Yoon lalu segera menarik tangan Yun Min menaiki bis yang baru saja berhenti.

Eomma ikut juga ?” tanya Yun Min, setelah keduanya duduk di dalam bis menuju Apgujeong. Jinki mengangguk singkat dan membuat seulas senyum muncul di bibir Yun Min.

Akhirnya ia bisa merasakan keluarga yang utuh. Selama 4 tahun tumbuh –hanya dengan kasih sayang seorang ibu dan hanya berdua bersama Seo Yoon saja. Namun kali ini ia bisa merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga. Lengkap dengan ayah dan ibu. Ia sudah bisa merasakan kasih sayang Jinki –walaupun tidak terlalu ditunjukkan, namun ia tahu Jinki juga menyayanginya. Dan ia sangat bersyukur pada Tuhan, karena telah membuat keluarganya utuh kembali.

***

Yun Min tidak bisa berhenti tersenyum saat sepasang pria dan wanita itu duduk di hadapannya. Terlihat sibuk menyantap makan siangnya masing-masing tanpa membuka pembicaraan apapun. Sementara dirinya sendiri mencoba makan tanpa mau disuapi ibunya seperti biasa. Ia lebih suka melihat pemandangan –ayah dan ibunya yang saling diam satu sama lain itu.

“Kau kembali lagi ke kantor setelah ini ?” tanya Jinki, mencoba membuka pembicaraan. Seo Yoon menghentikan kegiatan makan siangnya sejenak, ia menatap Jinki yang duduk di sebelahnya kemudian mengangguk pelan.

“Pekerjaanku masih sangat banyak. Dan mungkin pulang lebih malam,” jawab Seo Yoon lalu melanjutkan makan siangnya.

Terdengar helaan napas berat dari Yun Min, sontak membuat Jinki dan Seo Yoon menoleh bersamaan ke arah anak laki-laki itu, “Kalau eomma sibuk terus, kapan aku bisa punya adik ?”

“UHUK ! UHUK !” Seo Yoon menepuk dadanya yang terasa sesak –karena tersedak nasi yang bahkan belum sempat dikunyahnya. Begitu pun Jinki yang tersedak air putih dan segera menghabiskan gelas lainnya yang berada di atas meja.

Jinki mengumpat dalam hati. Ternyata Yun Min sudah sampai berpikir sejauh itu tentang hubungannya dan Seo Yoon. Meminta adik ? Astaga, bahkan ia dan wanita itu baru berkenalan sekitar dua minggu yang lalu. Ia tidak memiliki hubungan apapun denganSeo Yoon. Dan ia hanya seorang laki-laki –miskin yang menumpang di apartemen wanita itu.

“Yun Min-ah, dengarkan eomma baik-baik,” Seo Yoon kembali mengusap dadanya –yang masih terasa sesak sebelum bangkit dan berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Yun Min, “Tidak ada adik, araseo ? Kalau kau sayang eomma, kau harus mengerti,”

“Tapi aku –,”

“Sebaiknya kau kembali ke kantor, Seo Yoon-ah,” potong Jinki, sebelum Yun Min mengatakan hal-hal aneh lagi. Karena ia tahu seorang Shin Seo Yoon, pasti tidak akan bisa menolak keinginan anak satu-satunya itu.

Seo Yoon mulai beranjak dari kursi, mengambil tas kerja miliknya di kursi dekat Jinki kemudian memakai kembali blazer yang tadi sempat dilepas olehnya. Ia mengecup kening Yun Min kemudian berjalan meninggalkan kedua orang itu di dalam restoran. Jinki bisa bernapas lega ketika Seo Yoon sudah menghilang dibalik pintu.

“Selalu seperti itu. Apa salahnya aku mau seorang adik,” cibir Yun Min, namun masih bisa didengar jelas oleh Jinki.

“Sudah selesai ? Ayo kita pulang ke apartemen,” ajak Jinki, membuat Yun Min kembali menoleh ke arahnya. Yun Min segera turun dari kursi, berjalan meninggalkan Jinki menuju pintu restoran. Jinki hanya tersenyum geli melihatnya dan kemudian berlari menyusul anak itu. Sekeras apapun ia memberitahu tentang hubungannya dengan Seo Yoon, seorang anak kecil seperti Yun Min pasti akan tetap bersikeras dengan pendapatnya.

***

Matahari baru saja kembali ke peraduannya, saat Seo Yoon selesai menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Ternyata ia bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih awal dan bisa pulang lebih cepat. Tidak ada lembur untuknya hari itu. Ia bisa menghabiskan waktu bersama Yun Min dan akan mencoba membuat Yun Min melupakan keinginannya –untuk mempunyai seorang adik. Seulas senyum geli muncul di bibir Seo Yoon. Betapa polosnya Yun Min ketika meminta hal itu padanya.

Perhatian Seo Yoon teralihkan saat mendengar pintu ruangannya terbuka. Seo Yoon mengerjapkan kedua matanya kemudian dengan cepat memberi sebuah bungkukan singkat pada Minho. Minho tersenyum lembut lalu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Mau pulang bersama ?” tawar Minho.

Baru saja Seo Yoon akan menjawab ketika mendengar dering ponsel miliknya dari dalam tas. Ia menggumam maaf pada Minho kemudian merogoh bagian dalam tasnya. Kedua alis Seo Yoon bertaut saat melihat nama Jinki tertera disana.

Yeoboseyo,” sapa Seo Yoon.

‘Yun Min tidak mau makan karena kau belum pulang. Ah iya, dan satu lagi. Dia masih marah pada kita karena kejadian tadi siang,’

“Aku akan segera pulang,” jawab Seo Yoon singkat seraya melirik ekspresi laki-laki –yang masih tetap berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.

‘Lebih baik begitu. Baiklah, kkeutna,”

Seo Yoon menurunkan ponselnya lalu kembali menatap Minho, “Kalau kau tidak keberatan,”

Hanya sebuah senyuman yang diberikan Minho dan Seo Yoon menganggapnya sebagai jawaban ‘iya’. Seo Yoon membereskan seluruh pekerjaannya ke dalam laci meja, dan segera menyusul langkah Minho. Ia berjalan tepat di samping laki-laki itu sekarang –karena sudah tidak ada lagi karyawan lain disana. Sejak pertama kali masuk ke perusahaan itu, ia memang sudah menyukai Minho. Namun yang membuatnya senang adalah hubungannya dengan Minho yang akhir-akhir ini mengalami kemajuan. Bukan hanya seorang atasan dan bawahan saja.

Seo Yoon mengangkat tangannya untuk membuka pintu mobil, namun ternyata tangan Minho sudah meraih pegangan pintu mobil lebih dulu. Ia bisa merasakan bagaimana wajahnya memanas seketika karena perlakukan laki-laki itu. Tanpa bisa mengucapkan apapun, Seo Yoon segera masuk ke dalam mobil.

“Kau mau langsung pulang atau makan malam dulu ?” tanya Minho ketika mulai melajukan mobilnya keluar area parkir kantor. Seo Yoon berdehem pelan –mencoba mengontrol kembali nada suaranya agar terdengar tidak bergetar.

“Langsung pulang saja,” jawab Seo Yoon dan lebih memilih melihat keluar jendela mobil Minho.

“Ah, aku hampir lupa,” ucapan Minho membuat Seo Yoon menoleh, “Minggu depan kita harus pergi ke Hawaii untuk mengurus proyek baru. Kau tahu perusahaan Weilhamm ? Perusahaan Jerman yang pemimpinnya orang Korea. Dia mempercayakan proyek hotelnya pada perusahaan kita,”

“Hawaii ? Berapa lama ?” tanya Seo Yoon ragu.

“Hanya seminggu. Dan kalau dia puas dengan hasil kerjanya, kita harus tinggal sampai proyek itu beres,”

“M-mwo ?” pekikan Seo Yoon sontak membuat Minho menoleh ke arahnya.

“Waeyo ? Kau tidak bisa ?” tanya Minho lagi.

“Kenapa aku ? Kau tidak pergi bersama sekretarismu ?” Seo Yoon meremas jari-jari tangannya, berharap bahwa Minho tidak jadi mengajaknya.

“Kau tidak tahu ? Sekretarisku dipecat oleh ayahku saat ketahuan ternyata dia sudah menikah sejak sebulan yang lalu. Dan karena kau satu-satunya orang yang berpotensi untuk membantuku di proyek ini, Seo Yoon,” jawaban Minho membuat dada Seo Yoon berhenti berdetak. Ternyata perusahaan itu memang tidak main-main dengan peraturannya –tentang salah satu karyawannya yang tidak boleh menikah.

“Minho-ssi, tapi aku…,” Seo Yoon memotong ucapannya.

Bagaimana dengan Yun Min dan Jinki ? Bagaimana kehidupan kedua orang itu saat ia harus pergi ke Hawaii mengurus proyek itu ? Ia tidak bisa meninggalkan Yun Min sendirian bersama Jinki –karena ia tahu laki-laki itu tidak bisa mengurus apartemennya. Ditinggal satu hari saja, apartemennya sudah seperti kapal pecah. Dan yang terpenting, ia tidak bisa melihat Yun Min dalam kurun waktu yang sangat lama. Sebuah proyek pembangunan hotel pasti akan lebih dari tiga bulan. Ia tidak akan bisa melihat wajah orang yang sangat disayanginya.

Mungkin Seo Yoon tidak bisa egois lagi kali ini. Sudah setiap hari ia selalu sibuk berkutat dengan pekerjaan dan mengabaikan Yun Min. Apalagi ketika ia harus pergi ke Hawaii –karena pekerjaan juga. Namun ia memiliki tanggung jawab yang besar sebagai seorang manajer dan tidak bisa kabur begitu saja dari proyek yang sudah dijalaninya.

“Seo Yoon, kau tidak apa-apa ?” ucapan Minho membuyarkan pemikiran Seo Yoon. Wanita itu menatap laki-laki di depannya kemudian memperhatikan keadaan di sekitar mobil Minho yang sudah tidak bergerak lagi. Dan ia sedikit terkejut saat menemukan gedung apartemennya sudah berada di seberang jalan.

“Aku turun sekarang. Kamsahamnida, Minho-ssi,” ujar Seo Yoon seraya membungkuk sedikit lalu membuka pintu mobil Minho. Ia kembali membungkuk sebelum mobil Minho melesat pergi dari hadapannya.

***

Seo Yoon berjalan gontai memasuki apartemennya. Ia melepas sepatu berhak 5 senti yang dipakainya, menggantinya dengan sandal rumah kemudian melangkah masuk menuju ruang tamu. Rasa lelahnya tiba-tiba saja menguap saat melihat Yun Min. Ia segera menaruh tas kerjanya di sofa ruang tamu lalu menghampiri Yun Min dan Jinki yang berada di meja makan. Sebuah kecupan sayang ia berikan pada Yun Min sebelum benar-benar duduk di kursi.

Dan seperti dugaannya, Yun Min masih tetap bersikap dingin. Bahkan anak itu berpura-pura menghapus bekas kecupan Seo Yoon di keningnya. Seo Yoon tertawa geli kemudian mulai mengambil beberapa lauk pauk yang tersedia diatas meja dengan sumpit.

Appa, eomma, tolong buatkan aku satu adik saja, ya ? Aku sangat ingin punya adik,” rajuk Yun Min dan membuat tangan Seo Yoon terhenti di udara. Seo Yoon melirik Jinki –yang duduk tepat di hadapannya dan melihat ekspresi laki-laki itu berubah seketika. Walaupun tetap menyantap makanannya, namun sangat terlihat kecanggungan dari setiap gerak-gerik yang dilakukan Jinki.

“Yun Min-ah, eomma tidak bisa. Kau harus mengerti,” balas Seo Yoon setengah membentak, membuat pandangan Jinki tertuju pada ibu dan anak itu.

Kedua mata Yun Min mulai berkaca-kaca, Seo Yoon menutup mulutnya sendiri lalu mencoba mengusap pelan puncak kepala anak itu. Merasa bersalah karena sudah membentak anak kesayangannya. Namun Yun Min sudah terlebih dulu menepis lengannya.

“Kenapa aku yang harus mengerti, eomma ? Aku selalu mengerti kalau eomma sibuk bekerja setiap hari. Aku selalu mengerti kalau eomma tidak bisa tidur denganku karena bekerja juga. Aku selalu mengerti kalau eomma tidak bisa menjemputku setiap hari seperti anak-anak lainnya. Aku selalu mengerti, eomma !” bentak Yun Min, membanting sumpit besi miliknya ke atas piring kemudian berlari memasuki kamar.

Jinki ikut menaruh sumpitnya ke atas meja. Nafsu makannya tiba-tiba menghilang. Ia merasa bersalah dengan masalah yang menimpa Seo Yoon dan Yun Min. Karena ia berada disana dan mengaku sebagai ayahnya, Yun Min semakin salah paham dengan semua yang terjadi. Ia merasa sedih ketika melihat kedua mata Yun Min berkaca-kaca. Begitu juga saat melihat Seo Yoon tengah terisak pelan sekarang.

Mianhae, karena aku, kau dan Yun Min bertengkar,” gumam Jinki. Seo Yoon menghapus aliran air mata di pipinya lalu menggeleng pelan.

Ahni. Ini bukan salahmu, Jinki-ya,” Seo Yoon tersenyum samar lalu beranjak dari kursi, melewati Jinki untuk masuk ke dalam kamarnya.

Langkah Seo Yoon terhenti. Ia kembali berbalik pada Jinki –yang ternyata sudah berdiri dari kursi juga. Jinki berjalan ke arah Seo Yoon, semakin dekat dan sedetik kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Seo Yoon tidak bisa membendung air matanya lagi saat Jinki memeluknya dengan hangat seperti itu. Ia mulai membasahi sweater rajut yang dipakai laki-laki itu.

“Ini pertama kalinya Yun Min membentakku, Jinki-ya. Dadaku sangat sesak. Aku bukan seorang ibu yang baik untuknya,” lirih Seo Yoon seraya mencengkeram baju Jinki.

“Yun Min tidak akan mengerti kalau pun kita menjelaskannya. Besok dia tidak akan marah lagi, tenang saja. Aku akan membujuknya,” balas Jinki, mencoba menghibur wanita yang masih berada dalam pelukannya itu.

Seo Yoon mencoba menghentikan isak tangisnya dan semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Jinki. Ia merasa beruntung, bisa memiliki teman seperti Jinki ketika merasa down seperti saat itu. Seluruh tubuhnya terasa sangat hangat karena pelukan Jinki. Ia semakin terisak saat wajah kecewa Yun Min kembali muncul di kepalanya.

***

Suasana sarapan tidak lebih baik dari sebelumnya. Yun Min –yang sudah lengkap memakai seragam sekolah hanya diam seraya menyantap toast bread buatan Jinki. Seo Yoon memperhatikan anak laki-laki berumur 4 tahun itu dengan sedih. Ia tidak berselera makan sama sekali saat menyadari Yun Min masih sangat marah padanya. Bahkan ketika mandi dan memakai baju saja, anak itu lebih memilih melakukannya sendiran, walaupun terlihat sangat kerepotan. Dan ia tetap melakukannya, tanpa bantuannya maupun Jinki.

Yun Min mengusap mulutnya dengan tissue, meraih tas sekolahnya di dekat kaki kursi kemudian berjalan begitu saja meninggalkan Seo Yoon dan Jinki. Seo Yoon segera bangkit dari kursi, ikut meraih tas kerjanya dan menyusul anak itu. Seo Yoon meraih tangan mungil Yun Min dan menuntunnya keluar dari pintu apartemen. Namun Yun Min tiba-tiba menepis tangannya.

“Aku masih marah dengan eomma dan appa. Aku bisa berangkat sendiri ke sekolah,” ujar Yun Min seraya melirik Jinki yang sudah berdiri tepat di sebelah Seo Yoon.

Ahni, Yun Min-ah. Biarkan eomma mengantarmu, ya ?” tanya Seo Yoon, mencoba tersenyum pada Yun Min yang tengah menatap tajam ke arahnya. Jinki ikut tersenyum pada Yun Min lalu berjongkok tepat di hadapan anak itu.

“Terserah kalau kau masih marah pada kami. Tapi kau belum bisa berangkat sendiri, kami akan tetap mengantarmu ke sekolah. Arachi ?” jelas Jinki. Yun Min menghela napas panjang, mengendikkan bahu acuh lalu berjalan meninggalkan Jinki dan Seo Yoon. Sebelum Seo Yoon berlari mengejar, Jinki sudah lebih dulu mencegah tangannya.

“Biarkan dia duluan, kita ikuti di belakang saja,” serunya. Seo Yoon melepaskan tangan Jinki yang masih memegangi pergelangan tangannya lalu mengangguk pelan.

Rasanya separuh jiwa Seo Yoon menghilang saat Yun Min marah dan melangkah menjauh darinya. Ia tidak bisa menjadi ibu yang baik. Bahkan ia lebih sering membuat anak itu marah, bukan tersenyum ataupun bahagia bersamanya. Dan mungkin Shin Young ahjumma yang lebih pantas menjadi ibu Yun Min. Karena sejak Yun Min lahir dan tumbuh, frekuensi pertemuan dengan Shin Young lebih banyak daripada dengannya sendiri.

***

Seulas senyum muncul di bibir Minho saat melihat wanita itu baru saja turun di halte bis dekat kantor. Minho segera menepikan mobilnya, membunyikan klakson agar Seo Yoon menoleh ke arahnya. Namun sudah berkali-kali ia membunyikan klakson, Seo Yoon bahkan tidak menoleh dan tetap berjalan. Minho menghentikan mobilnya, ia segera keluar dari mobil dan berlari menghampiri Seo Yoon. Ia menyentuh pundak wanita itu dan membuat Seo Yoon menoleh –akhirnya.

Seo Yoon tersenyum samar, “Oh, kau tidak naik mobil, Minho-ssi ?”

“Kau melamun, eh ? Kau tidak dengar berapa kali klakson mobilku berbunyi untuk memanggilmu ? Orang-orang saja sudah menatap kesal ke arah mobilku karena terus membunyikan klakson,” gerutu Minho, membuat Seo Yoon terkekeh geli. Ekspresi laki-laki itu terlihat lucu saat menggerutu.

Mianhae. Aku benar-benar tidak mendengarnya,” balas Seo Yoon.

“Ayo naik mobilku saja. Kau pasti akan terlambat kalau berjalan ke kantor sekarang,” ajak Minho seraya menarik lengan wanita itu. Seo Yoon terkesiap. Ia menatap tangannya sendiri yang tengah digenggam oleh Minho.

Astaga, jantungku ! batin Seo Yoon saat Minho tersenyum lembut dan membukakan pintu mobil untuknya. Rasanya ia sudah lama tidak merasakan –perlakuan istimewa dari seorang laki-laki setelah bercerai dari suaminya dulu. Tatapan Seo Yoon tiba-tiba tertuju pada beberapa bingkisan yang tergeletak di bagian jok belakang mobil Minho. Ia mengerutkan kening heran dan dengan cepat kembali menghadapkan tubuhnya ke depan. Mungkin Minho sudah punya kekasih diluar sana. Seo Yoon hanya memerosotkan kedua bahunya dan tidak bermaksud bertanya lebih jauh lagi.

“Pemimpin perusahaan Weilhamm akan datang ke perusahaan kita nanti sore. Aku membeli beberapa bingkisan untuk diberikan padanya nanti,” ujar Minho, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Seo Yoon.

Seo Yoon menghela napas lega dengan sangat pelan –berusaha agar tidak terdengar oleh Minho. Weilhamm. Nama perusahaan itu kembali mengingatkannya pada Yun Min. Ia baru ingat Minho mengajaknya untuk mengurus proyek perusahaan itu di Hawaii. Dalam keadaan Yun Min yang masih marah padanya, ia tidak mungkin pergi begitu saja. Bagaimana bisa ia bekerja dengan tenang ketika perasaannya masih terkoyak karena kemarahan anak kandungnya sendiri.

“Tentang proyek Weilhamm,” gumam Seo Yoon, membuat Minho menoleh sekilas lalu kembali menatap ke arah jalanan, “Aku tidak bisa pergi untuk mengurus proyek itu,”

“Oh, waeyo?” tanya Minho, seraya membelokkan mobilnya memasuki pelataran parkir kantor.

“Aku … tidak bisa. Ada masalah yang sedang menimpa keluargaku sekarang, dan aku tidak mungkin pergi dari masalah ini,” jawab Seo Yoon.

Minho terdiam. Laki-laki itu mematikan mesin, namun tidak keluar dari mobil. Ia tetap duduk dan menatap lurus pada tangannya yang masih memegang kemudi.

Keurae. Kau lebih baik menyelesaikan masalah itu, daripada pergi denganku ke Hawaii,” jawab Minho akhirnya setelah terdiam cukup lama. Minho bergegas keluar dari mobil dan kembali membukakan pintu untuk Seo Yoon. Tidak lupa untuk menyunggingkan seulas senyum.

Laki-laki itu sangat bijaksana dalam menentukan keputusan. Dan itulah salah satu alasan Seo Yoon menyukainya. Walaupun ia telah berbohong tentang alasannya karena tidak bisa pergi ke Hawaii. Memang tidak sepenuhnya berbohong. Namun Minho hanya tahu tentang keluarga –ayah dan ibunya saja. Bukan keluarga –miliknya sendiri yang menyangkut Shin Yun Min.

***

Seo Yoon semakin sibuk mempersiapkan ruang pertemuan untuk kedatangan pemimpin perusahaan Weilhamm. Masih 3 jam lagi menuju pertemuan itu, namun ia harus tetap mempersiapkannya dengan baik. Sebagai penebus karena ia tidak bisa pergi ke Hawaii untuk mengurus langsung proyek itu. Ia harus membuat kesan baik pada perusahaan Weilhamm dan membuat Minho bangga. Setidaknya, ia sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaan –tempatnya bekerja.

Dengan dibantu oleh beberapa office boy, Seo Yoon menata setiap kursi yang mengelilingi meja bundar besar itu. Pertemuan yang bersamaan dengan jam makan malam itu akan dihadiri beberapa pemegang saham lainnya dan juga pemimpin perusahaan Weilhamm tentu saja. Seo Yoon menepuk keningnya sendiri saat memperhatikan tidak ada hiasan apapun diatas meja. Ia harusnya membeli bunga segar untuk menghias dan membuat suasana di dalam ruangan tetap hidup.

“Kalian tetap bekerja. Aku harus membeli bunga dulu,” ujar Seo Yoon pada seorang pekerja yang membantunya.

Dengan langkah mantap Seo Yoon menelusuri koridor, memasuki ruang kerjanya untuk mengambil tas dan kemudian segera keluar lagi. Langkah Seo Yoon terhenti ketika berpapasan dengan Minho –tepat di depan pintu ruang kerjanya.

“Kau mau kemana ?” tanya Minho, memperhatikan Seo Yoon yang tengah menjinjing tas kerjanya.

“Aku mau membeli bunga untuk ruang pertemuan,” jawab wanita itu.

“Perlu kuantar ? Kau membeli banyak bunga ‘kan ?” tawar Minho dan dengan cepat Seo Yoon menggeleng.

“Aku akan minta pegawai toko bunga untuk mengantarnya. Kau tenang saja, Minho-ssi. Aku hanya memilih bunganya saja,”

“Tapi, Seo Yoon-ssi –,”

“Aku pergi dulu. Annyeong,” Seo Yoon tersenyum lebar, membungkuk singkat kemudian melangkah meninggalkan Minho. Tepat ketika memasuki lift,  Seo Yoon mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon Jinki. Menanyakan keadaan Yun Min.

“Baguslah dia tetap mau makan. Aku percaya kau bisa mengurusnya, Jinki-ya. Salam untuk Yun Min, eh ?” Seo Yoon mematikan teleponnya ketika lift sudah sampai di lantai 1. Ia menghela napas panjang sebelum melengkah keluar lift dan melewati lobby yang dipenuhi beberapa karyawan. Ia harus kembali berakting sebagai seorang manajer yang ramah pada setiap karyawan dan menyembunyikan seluruh masalahnya dengan Yun Min.

***

Jinki menatap layar ponselnya –setelah Seo Yoon mematikan telepon itu. Ia memperhatikan Yun Min yang tengah sibuk bermain mobil-mobilan –dan bersikap seolah tidak ada dirinya disana. Lebih melelahkan lagi ketika Yun Min tengah marah seperti itu. Yun Min akan lebih merepotkan –karena ia tidak bisa berjarak dekat dengan anak itu. Apalagi Yun Min sangat suka membuat berantakan apartemen Seo Yoon.

Jinki menautkan kedua alisnya ketika melihat Yun Min tiba-tiba sudah tertidur –dengan kepala bersandar pada meja. Laki-laki itu tertawa pelan. Ternyata ketika sedang tertidur, wajah Yun Min yang sangat dingin ketika marah berubah menjadi wajah seorang malaikat. Dan tidak bisa dipungkiri, Jinki menyukai wajah Yun Min saat tengah tidur seperti itu.

Dengan ragu Jinki memindahkan tubuh mungil Yun Min ke dalam pelukannya. Menggendong anak itu dengan hati-hati dan membawanya ke kamar. Perlahan ia menaruh tubuh Yun Min ke atas tempat tidur. Berusaha tidak membuat gerakan yang akan membuat anak itu terbangun. Jinki bernapas lega saat Yun Min hanya menggeliat pelan diatas tempat tidur dan kemudian kembali terlelap ke alam tidurnya.

Tatapan Jinki tertuju pada bingkai-bingkai foto yang terpajang di setiap sudut kamar Yun Min. Hampir semua bingkai itu berisi foto Yun Min bersama Seo Yoon. Hanya ada satu foto Yun Min saja disana. Foto ketika anak itu masih bayi dan menjadi foto paling besar disana. Ia tidak pernah memperhatikan keadaan kamar Yun Min sebelumnya –karena hanya selewat saja memasuki kamar anak itu. Namun kali ini ia bisa melihat setiap sudut kamar Yun Min yang lebih didominasi warna biru dan tertata sangat rapi.

Jinki berjalan menuju foto Yun Min saat masih bayi yang terpajang di dinding –dekat rak buku. Ia tersenyum sendiri melihatnya. Kedua mata Jinki memicing ketika melihat sederet tulisan –yang sangat kecil di bagian bawah foto itu. Ia mendekatkan wajahnya dan berusaha membaca tulisan itu.

‘Finally, Shin Yun Min born !! He is a beautiful gift I ever received from God. Thanks God !  And also thanks to Byun Baek Hyun, even though he leave me before Yun Min was born. He always become Yun Min’s father,’

“Aah, jadi Byun Baek Hyun itu mantan suaminya ?” tanya Jinki lebih pada dirinya sendiri. Ia mengendikkan bahu acuh kemudian berjalan keluar dari kamar Yun Min.

Dan entah kenapa Jinki ingin tahu lebih jauh tentang seorang Byun Baek Hyun. Apa masalah yang membuat Seo Yoon bercerai dengan laki-laki itu. Jinki melirik jam tangan yang tergantung di dinding. Mungkin tidak masalah jika ia pergi sebentar untuk membeli makan malam. Yun Min baru saja tertidur dan mungkin akan bangun sekitar 2 jam lagi. Seperti biasanya. Jinki meraih sweater rajutnya yang tergeletak di sofa kemudian berjalan keluar apartemen.

***

Sudah hampir lewat 1 jam dari waktu yang ditentukan. Pemimpin perusahaan Weilhamm bahkan belum terlihat sama sekali. Seo Yoon memperhatikan ekspresi seluruh pemegang saham yang sudah duduk di dalam ruang pertemuan itu. Terlihat sangat tidak suka dan seolah bersiap pergi jika pemimpin perusahaan Weilhamm itu tidak juga datang. Seo Yoon beralih memandang Minho yang duduk tepat di sebelahnya.

“Dia terkena macet di jalan karena ada kecelakaan,” bisik salah seorang karyawan pada Minho, namun masih bisa didengar jelas oleh Seo Yoon.

“Kecelakaan ?” Seo Yoon bergumam sendiri seraya memegangi dadanya. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Bukan karena Minho berada di dekatnya. Ia tahu bukan hal itu penyebabnya. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.

Seo Yoon terkesiap ketika merasakan ponselnya bergetar. Ia merogoh saku blazernya kemudian mengernyit saat melihat nama Jinki tertera disana. Ia melihat keadaan di sekeliling dan juga Minho yang duduk di sebelahnya. Dengan cepat Seo Yoon mematikan telepon Jinki. Sangat tidak sopan jika ia mengangkat telepon di dalam sana.

Sesaat kemudian Seo Yoon merasakan ponselnya kembali bergetar. Bukan telepon, melainkan sebuah pesan masuk. Ia membaca siapa pengirim pesan itu. Lee Jinki.

‘Yun Min tidak ada di apartemen !! Dia menghilang, Shin Seo Yoon !’

Tubuh Seo Yoon menegang. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku blazer. Dan tanpa peduli tatapan orang-orang, Seo Yoon segera beranjak dari kursi. Berlari keluar ruang pertemuan itu, menuju lift terdekat yang bisa dicapainya.

“Shin Seo Yoon !” teriak Minho, membuat Seo Yoon menghentikan langkahnya. Ia berbalik pada laki-laki –yang juga tengah berlari ke arahnya.

“Ada apa ? Apa ada sesuatu yang terjadi ?” tanya Minho bertubi.

“Aku. .. aku harus pulang sekarang, Minho-ssi. Ini penting,” jawab Seo Yoon panik. Minho melirik jam tangannya lalu menoleh ke belakang, dimana beberapa petugas keamanan berdiri tepat di depan pintu ruang pertemuan.

“Perlu kuantar ? Sepertinya masalah keluargamu sangat mendesak,” tawar Minho. Seo Yoon menggeleng cepat.

“Tidak perlu. Kau tunggu pemimpin perusahaan itu saja. Kau seorang direktur utama di kantor ini, jadi kau harus tetap hadir. Maaf aku harus pulang duluan,” Seo Yoon membungkuk singkat dan segera memasuki lift yang baru saja terbuka. Ia menekan lantai terbawah gedung perkantoran itu dengan tidak sabar.

Shin Yun Min. Hanya nama itu yang terus berputar di kepala Seo Yoon. Tanpa terasa air mata sudah mengalir di kedua pipinya. Entah kenapa ia malah terpikir tentang kecelakaan yang baru saja di dengarnya. Tidak. Ia belum siap untuk melihat Yun Min mengalami kecelakaan dan penuh luka di seluruh tubuhnya. Semoga bukan Yun Min yang mengalami kecelakaan itu. Semoga.

***

Entah sudah keberapa kalinya Jinki mendapat umpatan dari orang-orang. Ia terlalu panik mencari keberadaan Yun Min sampai menabrak orang-orang yang tengah berjalan kaki di jalan Cheongdam. Saat pulang ke apartemen, ia sudah tidak menemukan anak itu di kamarnya. Begitu juga di apartemen Shin Young. Maka tanpa berpikir panjang Jinki segera menghubungi Seo Yoon, untuk membantunya mencari anak itu juga. Walaupun ia hanya sebagai ayah pura-pura, namun Jinki mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menjaga Yun Min. Harusnya ia tidak meninggalkan anak itu sendirian ketika dalam keadaan marah.

Tatapan Jinki tertuju pada kerumunan orang-orang di dekat belokan menuju jalan Yundae dan membuat jalanan sangat macet. Ia berlari menghampiri kerumunan itu, menyelinap ke barisan terdepan dan melihat korban kecelakaan itu. Jinki menghela napas lega saat kekhawatirannya tidak terjadi. Bukan Yun Min yang menjadi korban kecelakaannya.

Jinki bergegas keluar dari kerumunan itu dan kembali mencari Yun Min. Dan seketika seluruh rasa paniknya buyar ketika melihat anak laki-laki yang dicarinya itu tengah duduk di dalam café –didekat sana bersama seseorang. Jinki juga memperhatikan dua orang laki-laki –yang terlihat seperti bodyguard berdiri di dekat meja –tempat Yun Min dan seorang lainnya itu duduk. Yun Min terlihat habis menangis, dan seseorang yang tengah duduk disana mencoba menenangkan dengan mengusap puncak kepala Yun Min.

Sebelum menyeberang jalan menuju café itu, Jinki lebih dulu menghubungi Seo Yoon. Memberitahunya bahwa Yun Min sudah ditemukan di sebuah café dan tidak perlu panik lagi. Jinki segera memasuki café itu dan menghampiri meja –dimana Yun Min duduk. Tatapannya tertuju pada seorang laki-laki yang tengah duduk bersama Yun Min. Jinki membungkuk singkat pada laki-laki –yang lebih terlihat seperti eksekutif muda itu.

“Yun Min-ah,” panggil Jinki, membuat Yun Min menoleh ke arahnya.

Appa !” seru anak itu lalu menghambur ke dalam pelukan Jinki, “Aku tersesat, appa.Hiks. Tadinya aku mau main keluar sebentar, tapi aku lupa jalan pulangnya. Hiks,”

Jinki mengusap punggung Yun Min dengan lembut, mencoba menenangkan. Ia tersenyum samar pada laki-laki yang masih duduk di depannya.

Sajangnim, kita harus berangkat sekarang. Korban kecelakaannya sudah diangkut, dan jalanan sudah lancar kembali. Pertemuannya sudah dimulai satu jam yang lalu,” laki-laki yang dipanggil direktur itu mengangguk pelan kemudian berdiri dari kursi.

Appa. Ahjussi itu yang menolongku tadi. Dia sangat baik,” ujar Yun Min seraya melepas pelukan itu dan menunjuk laki-laki yang sudah bersiap pergi dari sana. Jinki berdiri dengan cepat lalu membungkuk pada laki-laki itu.

“Kamsahamnida. Maaf anakku membuatmu repot,” ucapnya. Laki-laki tampan itu hanya tersenyum lalu mengacak rambut Yun Min.

“Anakmu sangat lucu. Aku senang bisa berkenalan dengannya,” balas laki-laki itu, membuat seulas  senyum muncul di bibir Yun Min, “Aku harus pergi sekarang. Mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi,”

Laki-laki berusia sekitar pertengahan dua puluhan itu kembali mengacak rambut Yun Min lalu melangkah menuju pintu café diikuti kedua bodyguard nya. Dan disaat yang bersamaan Jinki melihat Seo Yoon tengah berlari memasuki café. Tanpa bisa dicegah, Seo Yoon menabrak laki-laki itu dan membuat Jinki maupun Yun Min memekik kaget.

Eomma !

Yun Min melepas tangan Jinki dari pundaknya dan segera berlari menghampiri Seo Yoon. Disusul Jinki yang juga berlari menghampiri wanita itu, membantu Seo Yoon berdiri dan meminta maaf pada laki-laki itu. Kedua bodyguard nya menatap Jinki tajam dan menjaga laki-laki itu lebih rapat lagi.

“Astaga, Yun Min-ah. Kau tidak apa-apa ?” tanya Seo Yoon panik seraya menarik Yun Min ke dalam pelukannya.

Laki-laki itu mendorong tubuh kedua bodyguard nya. Ia menatap Jinki heran dan juga wanita yang masih memeluk Yun Min dengan erat. Napas laki-laki itu tertahan saat Seo Yoon menoleh ke arahnya. Ia merasakan seluruh dunianya berhenti berputar, dan hanya ada Seo Yoon di hadapannya.

“Shin Seo Yoon,” gumam laki-laki itu tanpa sadar.

Seo Yoon membulatkan kedua matanya. Ia menyembunyikan Yun Min di belakang tubuhnya lalu berdiri menghadap laki-laki itu. Katakan semuanya hanya mimpi. Tidak mungkin laki-laki itu berada di hadapannya sekarang. Katakan ia hanya berhalusinasi saja.

“Byun Baek Hyun,” gumam Seo Yoon pelan namun cukup bisa didengar Jinki.

“Ayo pulang sekarang, Jinki-ya, Yun Min-ah,” ajak Seo Yoon tiba-tiba, mengangkat Yun Min ke dalam gendongannya dan segera menarik tangan Jinki keluar dari café itu. Kedua kakinya bergetar hebat. Namun Seo Yoon berusaha tetap tenang seraya memberhentikan taksi yang lewat. Bahkan ia sudah tidak sanggup lagi jika harus berjalan menuju halte bis dan menunggu bis disana.

“Shin Seo Yoon !”

Seo Yoon tidak memedulikan lagi teriakan di belakangnya. Ia bergegas masuk ke dalam taksi bersama Yun Min, diikuti Jinki di belakangnya. Taksi itu bahkan melesat begitu saja, seolah tahu apa yang tengah di pikirkan Seo Yoon. Untuk tidak bertemu dengan laki-laki itu. Seo Yoon menoleh, menatap Jinki yang tiba-tiba mengambil Yun Min dari dalam gendongannya. Seo Yoon tersenyum samar kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Jinki. Pada akhirnya ia kembali bertemu dengan laki-laki itu setelah lebih dari 4 tahun berpisah. Byun Baek Hyun.

[Pretend Continued]

4 thoughts on “Pretend [3rd Part]

  1. ini knapa belum dlanjut? cerita bagus banget, aku sukaaa..
    Dtunggu next chap.nya ya! Jangan lama2, penasaran setengah hidup ini aduh… Baek hyun comeback oww bgaimana nantinya kalo dia tau yun min itu anaknya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s