Pretend [2nd Part]

Author  : Ima (@bling0320)

Casts     : Shin Seo Yoon, Shin Yun Min, Lee Jinki, Choi Minho

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

[Pretend] [Prologue] [1st Part] [2nd Part]

Sudah lebih dari 2 jam Seo Yoon berada di dalam ruang rapat itu. Minho yang tengah duduk di sampingnya –terlihat sangat keren baginya ketika mendiskusikan tentang proyek perusahaan mereka. Namun ia tetap berusaha untuk terlihat tenang. Tidak terlalu menunjukkan perasaannya –yang sangat meluap-luap. Baru kali ini ia mendampingi Minho rapat bersama beberapa perusahaan lain. Biasanya ia hanya duduk berseberangan dengan laki-laki itu. Itupun ketika rapat intern perusahaan saja. Dan karena sekretaris Minho –yang sedang tidak masuk hari itu, Minho mengajaknya untuk datang ke rapat besar saat makan siang kemarin. Tanpa berpikir lagi pun ia pasti akan menjawab ‘iya’.

Lamunan Seo Yoon pun buyar ketika keadaan yang tadinya hening berubah menjadi riuh. Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya, orang-orang yang berada di dalam ruangan rapat itu sudah berdiri dan membereskan seluruh kertas berserakan milik mereka. Seo Yoon menoleh ke samping kiri –tempat dimana Minho duduk dan melihat laki-laki itu sudah berdiri juga.

“Rapatnya sudah selesai ?” tanya Seo Yoon heran. Minho hanya mengangguk pelan lalu membereskan berkas-berkas perusahaan yang masih tergeletak diatas meja.

“Sekarang jam berapa ?” tanya Minho, refleks membuat Seo Yoon melirik jam tangannya.

“Jam 5,” Seo Yoon terdiam dalam posisinya yang masih melihat jam. Ia teringat pada Yun Min. Setelah meminta tolong pada Jinki, ia bahkan belum menelepon untuk menanyakan keadaan anak laki-lakinya.

“Mungkin kita akan sampai di Seoul sekitar jam 9 malam. Kau mau langsung pulang ?” tanya Minho lagi. Seo Yoon mengangguk dengan cepat.

Seo Yoon beranjak dari kursinya saat melihat Minho mulai melangkah menuju pintu ruang rapat itu. Diam-diam ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, menelepon ke apartemen –sementara kedua matanya masih siaga mengawasi Minho yang berjalan cukup jauh di depannya.

“Yun Min-ah, kau sudah makan ?”

‘Ne~. Mmm, gomawo eomma,’ ucapan Yun Min membuat kedua alis Seo Yoon bertaut heran.

“Untuk apa ?”

‘Karena eomma sudah membawa appa pulang,’

Langkah Seo Yoon sedikit terseok. Ia hampir saja kehilangan keseimbangan karena ucapan anak laki-lakinya, “Appa ?”

“Shin Seo Yoon, jalannya cepat sedikit kalau kau tidak mau pulang semakin malam,” seru Minho dari dalam lift –yang cukup jauh berada di depannya. Seo Yoon segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Ia terus berjalan, memasuki lift begitu saja dan membuat Minho mengernyit heran. Seo Yoon masih merasa bingung dengan semua ucapan Yun Min tadi. Dan seketika Seo Yoon melebarkan kedua matanya.

Apa pria itu kembali lagi dalam kehidupannya ? Untuk apa pria itu menemui Yun Min ?

Beribu pertanyaan diiringi rasa takut itu dengan cepat menjalari seluruh tubuhnya. Seo Yoon segera menekan tombol lantai terbawah lift. Tempat dimana mobil Minho terparkir. Ia tidak peduli lagi dengan Minho yang melontarkan berbagai pertanyaan padanya saat itu. Ia hanya ingin bertemu Yun Min secepat mungkin. Dan memastikan bahwa tidak ada pria itu lagi di sekitar kehidupannya.

***

Jinki melirik jam dinding yang tergantung di ruang tamu apartemen Seo Yoon. Sudah hampir menunjuk angka 10. Ia sudah menyuruh Yun Min tidur beberapa saat yang lalu. Walaupun sempat bertengkar juga karena Yun Min bersikeras ingin ditemani tidur olehnya, sementara ia sendiri berusaha menjaga jarak dengan anak kecil. Tapi pada akhirnya pun Jinki tidak mengaku bahwa ia –bukan ayah anak laki-laki itu. Ia benar-benar tidak bisa mengatakan hal itu saat kedua mata Yun Min menatapnya.

Tatapan Jinki segera tertuju pada pintu yang tiba-tiba terbuka. Ia melihat Seo Yoon masuk dengan tergesa dan langkah wanita itu pun terhenti begitu saja saat melihatnya.

“Kau masih disini ?” tanyanya heran. Dan tentu saja itu pertanyaan bodoh menurut Jinki.

“Kau kira aku tega meninggalkan anakmu sendirian ?” tanya Jinki lagi dan berhasil membuat Seo Yoon menutup mulutnya.

Seketika Seo Yoon ingat apa tujuannya terburu-buru pulang ke apartemen. Ia kembali mengangkat kepalanya dan menatap Jinki.

“Apa ada seorang laki-laki datang mendekati Yun Min ? Atau mungkin mengobrol dengannya ?” nada pertanyaan Seo Yoon yang terdengar panik membuat Jinki tidak mengerti. Ia yang selama seharian itu bersama Yun Min.

“Tidak. Kenapa ?” Jinki melihat Seo Yoon menghela napas lega.

“Aku takut, laki-laki itu datang lagi. Sudahlah, tidak usah dipikirkan,” balas Seo Yoon seraya mengibaskan tangan di depan wajahnya, “Kau sudah makan malam ?”

“Tadi aku memesan makanan untuk Yun Min dari restoran. Masih tersisa, jadi aku makan saja. Ah iya, biayanya aku masukkan ke tagihan apartemenmu,” jawab Jinki dan Seo Yoon hanya menjawab dengan sebuah anggukan, “Kalau begitu aku pulang dulu,”

“Ne, kamsahamnida Jinki-ssi,” ujar Seo Yoon. Jinki tersenyum manis seraya memakai mantelnya yang tersampir di sandaran sofa.

Jinki melangkah keluar dari apartemen Seo Yoon diikuti wanita itu di belakangnya. Ia memakai sepatu sneakers miliknya lalu mulai membuka pintu. Namun sesaat kemudian ia kembali berbalik, menatap Seo Yoon yang sudah menaikkan sebelah alisnya.

“Ada yang tertinggal ?” tanya Seo Yoon, tepat seperti apa yang diduga Jinki sebelumnya.

“Sebaiknya kau jelaskan pada Yun Min siapa aku sebenarnya. Dia tiba-tiba memanggilku ‘appa’ tadi dan terdengar …. Sangat aneh menurutku,” ucap Jinki sebelum melangkah keluar dan menutup pintu apartemen Seo Yoon.

Seo Yoon mematung di tempatnya berdiri. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya lalu mengerang pelan. Ternyata ia sudah salah menduga. Bukan pria itu yang disebut ‘appa’ oleh Yun Min. Namun ternyata Jinki. Seo Yoon menggeleng pelan kemudian dengan setengah berlari menuju kamar anak laki-lakinya. Membuka dengan cepat pintu yang ditempeli berbagai macam gambar pororo itu dan memperhatikan tempat tidur Yun Min.

Anak laki-laki itu tengah tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Seulas senyum muncul di bibir Seo Yoon. Perlahan ia melangkah mendekat, duduk di sisi tempat tidur lalu mengusap rambut Yun Min dengan lembut. Ia melepaskan blazer yang masih membalut tubuhnya, hanya menyisakan kemeja saja dan kemudian berbaring tepat di sebelah Yun Min. Melihat wajah Yun Min yang bahagia –bahkan saat tidur seperti itu pun membuat Seo Yoon tersentuh. Ia tidak akan bisa mengatakan siapa Jinki sebenarnya dalam waktu dekat ini. Ia hanya mau melihat senyuman itu kembali menghiasi wajah Yun Min.

***

Akhirnya hari minggu kembali mendatangi hari-hari sibuk Seo Yoon. Ia menggeliat pelan diatas tempat tidurnya setelah tertidur dengan sangat nyenyak semalam. Karena Yun Min tentu saja. Sudah dua hari sejak Yun Min kembali berbicara dengannya dan membuat tidurnya kembali nyenyak. Entah bagaimana hidupnya jika ia tidak menyuruh Jinki untuk menjemput Yun Min dan anak itu masih tetap marah padanya sampai hari itu. Ia mungkin bahkan tidak akan sanggup untuk makan.

Teriakan Yun Min yang berasal dari luar kamar berhasil mengganggu tidur Seo Yoon. Wanita itu membuka kedua matanya, mengerang pelan sebelum bangkit duduk di atas tempat tidur. Ia melihat jam di nakas dekat tempat tidurnya yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Seo Yoon menghela napas panjang. Ia masih saja lupa sudah ada seorang malaikat kecil yang menemaninya selama ini.

Seo Yoon turun dari tempat tidur, berjalan menuju pintu sembari merapikan rambutnya. Tangannya perlahan membuka kenop pintu kamar. Dan dengan langkah gontai ia menghampiri asal suara Yun Min di pintu depan.

“Eomma !! Appa datang !!” pekikan Yun Min sontak membuka Seo Yoon membuka lebar kedua matanya.

Baiklah. Ia tidak tahu bagaimana bentuk wajahnya saat itu. Dengan wajah yang baru saja bangun tidur, ia berhadapan dengan Jinki sekarang. Entah sejak kapan Yun Min sudah membawa masuk laki-laki itu. Seo Yoon segera menutup wajah dengan kedua tangannya dan hanya melihat Jinki dari celah-celah jemarinya.

“Masuk saja. Aku harus ke kamar mandi dulu,” ujar Seo Yoon sebelum berlari kembali ke dalam kamarnya.

Jinki hanya tersenyum simpul lalu menatap Yun Min yang berdiri di sampingnya –ditambah menggenggam tangan kanannya. Yun Min kembali menariknya menuju meja makan lalu anak itu sendiri mengambil tempat duduk tepat di sebelahnya.

“Appa mau menemaniku hari ini ‘kan ?” tanya Yun Min antusias. Jinki hanya menggaruk bagian belakang kepalanya. Ternyata panggilan ‘appa’ masih melekat pada dirinya. Mungkin Seo Yoon lupa untuk menjelaskannya pada Yun Min.

“Ada apa sepagi ini datang ke apartemenku ?” potong Seo Yoon, yang sudah selesai mencuci muka dan memotong pembicaraan Yun Min dengan Jinki. Wanita itu beranjak menuju dapur, mengambil dua gelas air lalu membawanya ke meja makan. Yang satu untuk ia minum, sementara yang lainnya ia serahkan pada Jinki.

“Sebenarnya aku butuh bantuanmu,” jawab Jinki. Seo Yoon menatap Yun Min yang duduk tepat di sebelah Jinki.

“Yun Min-ah, kau bisa ke apartemen Shin Young ahjumma ? Tolong ambilkan beberapa bumbu masak disana. Kau mau sarapan dengan appa ‘kan ?” tanya Seo Yoon, mencoba mengalihkan Yun Min sementara ke apartemen Shin Young –yang berada di sebelah apartemennya. Karena ia yakin Jinki akan membahas sesuatu yang menyangkut panggilan ‘appa’ itu.

“Ne !!” sahut Yun Min seraya tersenyum lebar dan kemudian berlari keluar apartemen.

Seo Yoon kembali mengalihkan tatapannya pada Jinki. Ia menghela napas panjang sebelum memulai pembicaraan dengan laki-laki itu. Rasanya sedikit canggung juga saat tahu Yun Min memanggil Jinki dengan panggilan ‘appa’.

“Maaf, Jinki-ssi. Aku belum bisa memberitahu Yun Min,” ujar Seo Yoon mengawali pembicaraan mereka.

“Gwenchana,” Jinki mengusap tengkuknya seraya menatap gelas berisi air yang berada di hadapannya, “Aku diusir dari apartemen yang kutinggali sekarang. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan ?”

Seo Yoon menautkan kedua alisnya, “Kesepakatan ?”

“Aku tahu kau tidak bisa memberitahu tentangku, karena Yun Min pasti akan marah. Yun Min sangat ingin bertemu ayahnya, bukan ? Tapi kau tidak bisa memanggil –mantan suamimu untuk datang dan menghibur Yun Min. Jadi mungkin –,”

“Langsung intinya saja,” potong Seo Yoon.

“Aku akan tetap menjadi ayah Yun Min untuk sementara. Tapi aku juga ikut tinggal di apartemenmu. Hanya sampai uang tabunganku cukup untuk membeli apartemen baru. Please ?” Jinki mengatupkan kedua tangannya, memejamkan mata dan sedikit menundukkan kepala untuk memohon pada Seo Yoon.

Bukan kesepakatan yang buruk, pikir Seo Yoon. Jinki dengan senang hati menjadi ayah ‘palsu’ Yun Min, dan hanya dibayar dengan tinggal sementara di apartemennya. Ia akan selalu melihat senyuman bahagia Yun Min setiap harinya dengan kehadiran Jinki. Ia juga tidak perlu susah payah setiap harinya –kabur dari kantor untuk sekedar menjemput Yun Min. Dengan adanya Jinki, Yun Min bisa dijemput setiap hari oleh laki-laki itu. Tidak ada yang dirugikan di dalam kesepakatan itu.

“Baiklah. Aku melakukannya untuk Yun Min, arachi ?” seru Seo Yoon. Jinki membulatkan kedua matanya –yang hanya segaris itu kemudian tersenyum lebar.

“Kamsahamnida, Seo Yoon-ssi !! Atau aku harus memanggilmu Seo Yoon-ah dari sekarang ? Yeobo ? Chagiya ?” tanya Jinki sontak mendapat sebuan tatapan dingin dari Seo Yoon.

“Hanya ayah Yun Min, bukan suami atau pacarku, Lee Jinki,”

***

Matahari baru saja menunjukkan sedikit cahayanya ketika Seo Yoon terjaga dari tidurnya. Wanita itu mengerang pelan, menggeliat sejenak sebelum membuka kedua matanya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia kembali tertidur di sofa karena menyelesaikan pekerjaannya yang dikirim melewati e-mail oleh –salah satu pegawai kantor. Karena ada meeting penting pagi itu, ia harus bisa menyelesaikannya dalam waktu semalam.

Seo Yoon terkesiap saat mengingat meeting yang harus dihadirinya pagi itu. Ia segera bangkit dari tidurnya, melirik jam yang berada disana dan kemudian berlari menuju kamar mandi. Ia terlambat bangun. Hanya tinggal 1 jam lagi menuju meeting penting dan ia belum menyiapkan apapun. Termasuk pekerjaan yang baru saja diselesaikannya semalam. Ia belum mem-printnya.

Jinki yang merasa terganggu dengan suara ribut-ribut dari luar kamar, terpaksa membuka kedua matanya. Sesaat kemudian Jinki menghela napas panjang. Ia hampir saja lupa sudah tinggal di apartemen orang lain. Dengan malas laki-laki itu menurunkan kakinya, berjalan gontai dan membuka pintu kamar. Ia sempat mengernyit ketika melihat meja ruang tengah yang dipenuhi kertas, dan juga sebuah laptop yang masih menyala.

“Dia bekerja semalaman ?” tanya Jinki heran. Ia berjalan mengitari ruang tengah untuk menuju dapur, mengambil segelas air dan meneguknya sampai habis.

“Jinki-ya !! Kau sudah bangun ?”

Suara yang berasal dari belakang membuat Jinki berbalik. Ia melihat kepala Seo Yoon menyembul dari balik pintu kamar.

“Apa ?”

“Tolong print pekerjaanku yang masih terbuka di laptop. Tolong ya !!” dan sesaat kemudian pintu kamar itu kembali tertutup. Jinki terkekeh pelan. Ia melangkah mendekati laptop milik Seo Yoon dan malah melihat keadaan di sekitarnya. Bahkan tidak ada printer disana.

Printernya ada di lemari dekat TV !” teriak Seo Yoon dari dalam kamarnya, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Jinki saat itu. Jinki menggeleng pelan dan beranjak dari sofa menuju lemari di dekat TV.

Jinki membereskan seluruh kertas –yang baru saja selesai di print olehnya. Ia mematikan kembali printer itu dan mematikan laptop Seo Yoon. Ia juga membereskan seluruh kertas-kertas yang berserakan, menyusunnya dengan rapi di dekat laptop Seo Yoon. Tidak lama kemudian Seo Yoon keluar dari kamar, sudah lengkap dengan pakaian kerjanya. Wanita itu melirik Jinki sekilas lalu melangkah dengan tergesa menuju dapur.

“Astaga, aku belum sempat membuat sarapan dan bekal untuk Yun Min,” gerutu Seo Yoon.

“Kau ada meeting penting ‘kan ? Gwenchana, aku yang akan membuatnya nanti,” jawab Jinki dan sontak wajah Seo Yoon berubah menjadi lebih lega.

“Gomawo, Jinki-ya. Aku harus berangkat sekarang,” Seo Yoon bergegas membereskan laptop miliknya dan juga pekerjaannya ke dalam tas. Ia merapikan blazer dan rok bahan selutut yang dipakainya sebelum benar-benar melangkah keluar. Namun Seo Yoon kembali berbalik pada Jinki –yang masih berdiri di dekat sofa.

“Yun Min masuk jam 8 dan pulang jam 1 siang. Sarapan jam 7, makan siang di sekolahnya, snack jam 3 sore, dan makan malam jam 7 malam. Aku mohon bantuannya, Jinki-ya. Annyeong,” suara Seo Yoon semakin menghilang seiring dengan pintu apartemen yang tertutup.

Jinki menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Memikirkan seluruh harinya yang akan dilewati –bersama Yun Min tanpa Seo Yoon. Ia harus berpura-pura menjadi ayah anak laki-laki itu, sementara dirinya sendiri sangat –kurang suka dengan anak kecil. Bahkan ia berusaha untuk tidak berada dalam jarak dekat dengan seorang anak kecil. Dan kini ia harus bersikap seolah dirinya adalah ayah yang baik, dengan mengantar, menjemput, mengatur jadwal makan, dan juga memandikan anak laki-laki ‘nya’. Tunggu !! Memandikan ?

***

Akhirnya Seo Yoon bisa bernapas lega saat ruang meeting itu belum terisi hampir setengahnya. Ia mengambil tempat duduk di sebuah meja –yang sudah bertuliskan namanya. Tepat di sebelah Minho lagi. Namun laki-laki itu belum terlihat batang hidungnya sama sekali. Seo Yoon duduk di kursinya seraya meletakkan tas di dekat kaki. Ia mengeluarkan seluruh berkas-berkas pekerjaannya dan meletakkannya di atas meja.

Tiba-tiba ponsel Seo Yoon bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku blazer, melihat sebuah nama yang sontak membuat darahnya berdesir hebat. Disaat seperti itu bahkan seorang Choi Minho masih sempat menghubunginya.

“Minho sajangnim, kau dimana ?” tanya Seo Yoon, tepat setelah telepon itu terangkat dan ponsel itu menempel di telinganya.

‘Aku terjebak macet, Seo Yoon-ssi. Mungkin sedikit terlambat sampai disana,’

Jawaban Minho berhasil membuat tubuh Seo Yoon lemas seketika. Bagaimana bisa rapat dimulai tanpa kehadiran Minho ?

“Jadi bagaimana ? Kita tunda rapatnya ?”

‘Ahni. Kasihan para pemegang saham yang sudah datang. Kau yang pimpin rapatnya,”

“Mwo ? Tapi, sajangnim aku –,”

‘Aku percaya kau bisa melakukannya. Kira-kira 15 menit lagi aku sampai disana, tolong ya,’

Seo Yoon menurunkan ponsel itu dari telinganya ketika telepon Minho terputus. Ia mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruangan –yang sudah dipenuhi beberapa pemegang saham terbesar perusahaan –tempatnya bekerja itu. Baiklah. Karena Minho yang mempercayainya, ia harus bisa memimpin rapat itu untuk sementara.

Keadaan menjadi hening ketika Seo Yoon berdiri sambil memegang sebuah microphone di tangannya. Ia membungkuk singkat sebelum memulai pembicaraan tentang alasan Minho terlambat dan juga dirinya sendiri yang menjadi pemimpin rapat. Ia sudah tidak peduli lagi bagaimana keringat dingin itu mengalir di telapak tangannya. Yang terpenting adalah, ia bisa memimpin rapat sampai Minho datang.

***

Suasana di apartemen, tidak kalah heningnya dari suasana rapat di kantor Seo Yoon. Jinki hanya diam memandangi Yun Min yang tengah menyantap toast bread buatannya. Saat anak itu terbangun dengan menangis tadi, ia sangat bingung bagaimana cara menenangkannya. Setelah bertanya –beribu-ribu pertanyaan pada anak laki-laki itu, pada akhirnya ia hanya harus memberi segelas air putih. Karena kerongkongan yang kering saat bangun tidur, Yun Min sedikit kesulitan untuk menelan air liurnya sendiri. Jadi ia akan menangis dan harus meminum air putih.

Jinki sedikit terkesiap saat Yun Min tiba-tiba menarik-narik ujung bajunya. Menatap dengan kedua mata bulatnya dan Jinki sempat terhipnotis dengan hal itu. Namun ia segera menyingkirkan tangan mungil itu.

“Ada apa ?” tanya Jinki, berusaha terlihat lembut di hadapan Yun Min.

“Aku mau mandi, appa. Sebentar lagi aku pergi sekolah,” jawab Yun Min. Jinki menatap toast bread miliknya sendiri –yang belum tersentuh sama sekali. Ia tersenyum samar saat mendapat ide bagaimana caranya mengelak dari acara –memandikan Yun Min pagi itu, “Kau bisa mandi sendiri ?”

“Ahni. Uri eomma yang selalu memandikanku setiap pagi,”

Jinki mengumpat dalam hati. Jika mendapat jawaban seperti itu, maka tidak ada pilihan lain lagi. Ia harus tetap memandikan anak itu dengan tangannya sendiri. Ia hanya berdoa, semoga saja Yun Min tidak terluka karena dimandikan olehnya. Karena ia sendiri belum pernah menyentuh anak kecil secara langsung, apalagi harus memandikannya.

“Araseo. Ayo mandi,” Jinki tersenyum lembut lalu mulai bangkit dari kursi. Tangan mungil Yun Min masih setia menggenggam ujung bajunya saat melangkah menuju kamar mandi utama apartemen itu.

Jinki menelan ludahnya kuat-kuat saat berusaha membuka baju Yun Min. Perlahan-lahan ia menyalakan shower, mengecek suhunya terlebih dahulu dengan tangannya sebelum membawa Yun Min ke bawah pancuran air itu. Dengan ragu Jinki menuangkan beberapa tetes sabun cair lalu mengusapkannya pada tubuh Yun Min. Kakinya bergetar hebat ketika tangannya menyentuh setiap inchi tubuh Yun Min. Ia sangat takut melukai anak itu. Sangat takut.

Sementara Jinki melawan ketakutan dalam dirinya, Yun Min tampak senang bermain air. Anak laki-laki itu bernyanyi sambil memainkan sepasang mainan bebek –yang memang ditaruh di dalam kamar mandi untuknya. Ia juga sedikit membuat cipratan air ke arah Jinki.

“Aaah ! Andwae ! Berhenti, Yun Min-ah !” teriakan Jinki malah membuat Yun Min tertawa. Anak itu malah semakin membuat baju Jinki basah karena cipratan air.

“Shin Yun Min ! berhenti sekarang atau aku keluar dari sini,” ancam Jinki. Yun Min segera menghentikan tawanya dan menurunkan tangannya yang tengah menampung air untuk menyiram Jinki.

Araseo, mianhae appa,” Yun Min kembali diam dan membiarkan Jinki membasuh tubuhnya yang masih penuh dengan sabun.

Jinki melangkah keluar kamar mandi, menggosokkan kakinya pada lap di depan kamar mandi lalu segera mengambil handuk tepat di sebelahnya. Ia hanya mengambil asal salah satu handuk dari jemurannya dan kemudian melilitkannya ke tubuh Yun Min. Ia berjalan lebih dulu menuju kamar anak itu, sementara Yun Min mengikuti di belakangnya.

“Kau pakai baju apa hari ini ?” tanya Jinki seraya membuka lemari di dalam kamar Yun Min, memeriksa beberapa seragam –bermacam-macam model yang tergantung di dalamnya.

“Aku tidak tahu. Uri eomma yang biasa mengatur semuanya,”

Jinki menepuk keningnya. Ia memutar tubuhnya, menghadap Yun Min yang malah meloncat-loncat diatas tempat tidur. Terlihat tidak mempunyai beban sama sekali. Ia melangkah keluar dari kamar Yun Min, mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja ruang tengah dan segera menghubungi Seo Yoon. Ia tidak mungkin mengambil secara asal seragam dari dalam lemari Yun Min.

“Ah, aku lupa dia ada meeting penting hari ini,” gumam Jinki lalu kembali menurunkan ponselnya.

Appa !! Cepaaaat, aku kedinginan !” pekik Yun Min dari dalam kamarnya. Jinki menggeleng lalu memijat pelan kaningnya yang terasa berdenyut. Baru saja beberapa jam dengan anak itu, membuatnya pusing setengah mati. Apalagi harus seharian bersamanya.

Tanpa berniat bertanya lagi, Jinki mengecek label di bagian dalam setiap seragam yang tergantung di lemari Yun Min. Seulas senyum muncul di bibirnya ketika melihat tulisan yang menandakan nama-nama musim yang tepat untuk memakai seragam itu. Ia mengambil seragam untuk musim semi dan kemudian memakaikannya pada Yun Min. Dengan penuh ketakutan tentu saja.

Jinki bisa menghela napas lega ketika seragam itu sudah terpakai lengkap di tubuh Yun Min. Ia melirik jam weker pororo yang terletak di atas meja belajar Yun Min dan sedikit terkesiap saat melihat hanya 15 menit waktu yang tersisa hingga jam 8 pagi. Dan Jinki pun segera memakaikan sepatu pada Yun Min, memasukkan sisa toast bread untuk bekal, lalu menuntun anak itu –dengan ragu melangkah keluar apartemen. Memasuki lift dan setengah berlari melewati lobby, untuk segera menuju halte bis terdekat.

***

Akhirnya Seo Yoon bisa kembali duduk lega diatas kursi kerjanya setelah melewati rapat yang cukup menegangkan tadi. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya yang empuk. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan sempat heran ketika melihat terdapat satu panggilan tidak terjawab. Dari Jinki. Seulas senyum geli muncul di bibirnya. Jinki pasti hampir putus asa mengurus Yun Min –yang hampir tidak bisa diam itu.

Seo Yoon segera menegakkan duduknya saat mendengar pintu ruangannya terbuka. Ia melihat tubuh tinggi dan wajah malaikat itu melangkah masuk. Dengan ragu Seo Yoon berdiri, membungkuk singkat kemudian mempersilakan laki-laki itu untuk duduk di sofa. Namun Minho malah menggeleng, menolak tawarannya.

“Kau hebat, Seo Yoon-ssi,” puji Minho dan berhasil membuat pipi Seo Yoon bersemu merah seketika. Seo Yoon hanya menundukkan kepala dan mengulum senyumnya.

Kamsahamnida, Minho-ssi. Ini semua karena bantuanmu juga,” balas Seo Yoon. Minho memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian berdehem pelan.

“Kau ada acara nanti malam ?” tanya Minho, membuat Seo Yoon mengangkat kepalanya. Mengerutkan kening heran –mendengar pertanyaan laki-laki itu. Sesaat kemudian Seo Yoon menggeleng.

“Para pemegang saham akan mengadakan pesta kecil-kecilan di sebuah karaoke. Dan mereka mengundang kita untuk datang. Kau bisa ‘kan ?”

Seo Yoon menyelipkan rambut ke belakang telinganya, merasa bingung dengan jawaban yang harus di berikannya. Ia sangat ingin datang ke pesta itu –bersama Minho tentu saja. Namun ia harus memikirkan Yun Min juga. Walaupun sudah ada Jinki –yang bisa mengurus Yun Min untuk sementara, namun ia tidak bisa seenaknya pergi dengan seorang laki-laki sampai malam.

“Atau aku yang akan meminta izin pada kedua orangtuamu ? Kau tidak boleh keluar malam ?” tanya Minho lagi. Seo Yoon kembali menggeleng.

“Aku bisa pergi. Jam berapa pestanya ?” ucap Seo Yoon akhirnya, setelah berspekulasi dengan seluruh pikirannya. Mungkin tidak apa-apa jika ia keluar sampai malam untuk hari itu saja. Meninggalkan Yun Min bersama Jinki, mungkin bukan keputusan yang buruk.

***

Suasana di dalam ruang karaoke itu tampak penuh dengan asap rokok dan juga bau alcohol yang menyengat. Seo Yoon terduduk di sudut ruangan, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Jinki bahwa ia akan pulang lebih telat. Tatapan Seo Yoon tertuju pada Minho yang sudah setengah mabuk di sebelahnya. Laki-laki itu terlihat lucu, bernyanyi dengan hampir membuat kesalahan di setiap lirik. Seo Yoon tertawa pelan ketika mengetahui, ternyata para pemegang saham –yang tidak terlalu jauh perbedaan umurnya dengan Minho itu sama saja saat sedang mabuk. Tidak terkendali.

Seo Yoon terkesiap ketika sesuatu yang berat menimpa pundaknya. Ia menoleh dan mendapati Minho tertidur di pundaknya. Darah Seo Yoon berdesir dengan hebat. Jantungnya hampir saja melompat dari rongganya saat melihat wajah malaikat yang tengah tertidur di pundaknya itu.

“Minho-ssi,” panggil Seo Yoon seraya mengguncang bahu laki-laki itu.

“Aku mau pulang,” gumam Minho pelan, menggosok kedua matanya dan kemudian membukanya sedikit untuk menatap Seo Yoon. Seo Yoon sedikit memundurkan wajahnya saat jarak wajah Minho terlalu dekat –menurutnya.

“K-kau mabuk, Minho-ssi,” ujar Seo Yoon gugup.

“Ayo pulang,” ajak Minho lagi. Seo Yoon memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas kemudian berdiri dari kursi.

Tatapan para pemegang saham itu kini tertuju ke arahnya. Seo Yoon membantu Minho berdiri, menggamit lengan laki-laki itu lalu berpamitan pada lima orang laki-laki di dalam ruangan karaoke itu. Ia melangkah keluar bersama Minho, dengan sedikit terseok karena laki-laki itu sudah setengah sadar sepertinya. Ia berkali-kali harus meminta maaf pada beberapa orang yang lewat karena tertabrak oleh Minho.

Setelah sampai di lantai basement, ia merogoh setiap saku jas dan celana yang digunakan Minho untuk mencari kunci mobil. Ia tersenyum saat menemukan kunci mobil Minho berada di saku depan jas. Tanpa menunggu lagi, Seo Yoon segera mematikan alarm mobil Minho dan kemudian mendudukkan sang pemilik mobil di kursi penumpang. Sementara ia duduk di belakang kemudi. Sebelum menyalakan mesin, Seo Yoon menoleh ke samping –dimana Minho duduk dengan kedua mata terpejam.

“Apartemenmu dimana ?” tanya Seo Yoon dan kedua mata bulat laki-laki itu terbuka. Minho menoleh, menatap Seo Yoon untuk beberapa saat lalu tersenyum.

“Sudah aku tandai di GPS. Jalankan saja mobilnya,” jawab Minho kemudian kembali menutup kedua matanya.

Seo Yoon mengangguk pelan. Mulai memundurkan mobil, melajukannya keluar basement hingga akhirnya melaju di jalanan. Sesekali Seo Yoon melirik Minho –yang tengah menggumam tidak jelas itu. Ia tersenyum sendiri saat melihat sisi lain Minho untuk pertama kalinya. Dibalik sikap kharismatik dan keren yang dimilikinya, ternyata Minho bisa bersikap aegyo juga. Saat menggosok kedua matanya tadi, Seo Yoon merasa Minho bahkan terlihat lebih lucu dari Yun Min.

Seo Yoon kembali menoleh, ia mengerutkan keningnya saat melihat setetes air mata keluar dari mata laki-laki itu. Entah apa yang membuat Minho menangis –dalam keadaan mabuk seperti itu. Namun Seo Yoon tahu, masalah yang tengah dialami laki-laki itu pasti cukup berat. Ia mengusap puncak kepala laki-laki itu, mencoba menenangkan –sama seperti halnya ketika ia berusaha untuk menenangkan Yun Min.

“Kita sudah sampai,” ujar Seo Yoon setelah memarkirkan mobil, di lantai basement gedung apartemen laki-laki itu.

Tidak ada jawaban apapun. Seo Yoon bergegas keluar dari mobil. Membukakan pintu di dekat Minho dan membantunya turun. Ia kembali memapahnya seperti tadi. Bahkan kali ini tubuh Minho sedikit memeluknya dan membuat Seo Yoon tidak bisa berpikir jernih. Ketika berada di dalam lift, tanpa diduga oleh Seo Yoon, Minho tiba-tiba memeluknya. Dengan sangat erat dan membuat Seo Yoon hampir saja pingsan. Ia tidak mengerti kenapa Minho tiba-tiba bertindak seperti itu. Mungkin karena pengaruh alcohol. Namun ia berharap Minho yang tengah memeluknya itu mempunyai sedikit kesadaran.

“M-Minho, tolong lepaskan,” seru Seo Yoon.

Minho menggeleng pelan dan semakin menenggelamkan wajahnya pada pundak wanita itu. Karena perbedaan tinggi yang cukup jauh, tubuh Seo Yoon dapat dengan mudah dipeluk olehnya.

“Aku sangat butuh pelukan untuk sekarang. Kau satu-satunya orang yang bisa kupeluk, Seo Yoon-ssi,” ucapan Minho, lagi-lagi membuat pipi Seo Yoon bersemu merah. Seo Yoon tidak berusaha untuk melepaskan pelukan itu. Ia membiarkan Minho memeluknya untuk sementara.

Minho perlahan melonggarkan pelukannya, Seo Yoon melepaskan pelukan itu dan kembali memapah laki-laki itu seperti tadi. Suara dentingan di dalam lift –pertanda telah sampai dilantai tujuan membuat Seo Yoon tersadar. Baru saja ia akan melangkah keluar ketika Minho menahan langkahnya.

“Aku bisa sendiri. Kau turun dan pulang saja. Gomawo,” Minho menyunggingkan seulas senyum kemudian melangkah keluar dari dalam lift. Seo Yoon balas tersenyum dan memandangi punggung Minho, hingga menghilang terhalangi oleh pintu lift yang tertutup. Perlahan tangan Seo Yoon terangkat, menyentuh bagian dalam dadanya yang menghentak keras.

[Pretend Continued]

2 thoughts on “Pretend [2nd Part]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s