Pretend [1st Part]

Title       : Pretend

Author  : Ima (@bling0320)

Casts     : Shin Seo Yoon, Shin Yun Min, Lee Jinki, Choi Minho

Length  : Series

Genre   : Romance, Family (as always)

Rating   : PG-15

[Pretend] [Prologue] [1st Part]

Seo Yoon menatap keluar jendela di ruangan tempatnya bekerja. Hujan turun cukup deras dan ia harus menjemput Yun Min. Ia tidak mungkin meminta tolong pada ahjumma –tetangga di sebelah apartemennya untuk menjemput Yun Min lagi. Ia sudah terlalu sering meminta tolong dan sudah terlalu sering juga membuat anak laki-lakinya marah karena ia tidak menepati janji untuk menjemput setiap hari.

“Apapun yang terjadi,” gumamnya kemudian bangkit dari kursi kerjanya. Ia mengambil mantel tebal miliknya yang tergantung di dekat pintu lalu melangkah keluar ruangan itu.

“Oh, Seo Yoon-ssi. Kau mau kemana ?”

Suara itu membuat langkah Seo Yoon terhenti. Ia berbalik, menatap sosok laki-laki bertubuh tinggi yang tengah berdiri di dekat pintu ruangannya. Seo Yoon mengusap tengkuknya, merasakan gugup yang amat sangat lalu tersenyum kaku.

“Aku harus keluar sebentar, sajangnim,” jawab Seo Yoon sedikit gugup.

“Apa perlu diantar ? Diluar sedang badai,” tawar laki-laki itu lagi. Seo Yoon menggeleng cepat.

“Tidak. Aku naik bis saja, haltenya tidak jauh dari sini. Kalau begitu, aku pergi dulu,” Seo Yoon membungkuk singkat kemudian dengan cepat berjalan meninggalkan tempat itu. Ia segera memasuki lift yang kebetulan terbuka dan menekan angka lantai terbawah.

Perlahan tangannya terangkat, mengelus dadanya yang menghentak-hentak. Setiap kali ia menatap kedua mata itu, rasanya seluruh jantungnya akan melompat keluar. Dan setiap kali melihat senyuman –laki-laki itu, ia merasa sudah hampir pingsan. Berlebihan memang. Tapi itulah kenyataan yang ia rasakan saat bertatapan langsung dengan pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu.

***

Dengan tangan kanan yang menggenggam payung, Seo Yoon sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia sudah berdiri di depan gerbang –taman kanak-kanak, menunggu jam sekolah selesai. Namun setelah 15 menit berdiri, bel pulang belum berbunyi sama sekali. Dan yang membuatnya kesal, orangtua murid dilarang masuk saat jam pelajaran berlangsung. Jadi disanalah ia sekarang, berdiri diterpa angin dan hujan di depan pagar. Hanya sendirian. Entah pergi kemana para orangtua murid lainnya, ia tidak mengerti.

Seo Yoon merogoh tas kerjanya, ia mencari ponsel untuk menghubungi salah satu guru yang berada di dalam taman kanak-kanak itu. Namun belum sempat ia mengeluarkan ponsel, seseorang sudah mengambil tasnya secara paksa kemudian lari begitu saja. Wanita itu hanya diam, sesaat kemudian ia malah berteriak histeris karena tasnya menghilang.

“YAAA !” pekik Seo Yoon seraya berlari mengejar seorang pria –mungkin yang telah mencuri tasnya. Ia tidak peduli lagi dengan payung dan membiarkan tubuhnya terkena air hujan. Yang terpenting adalah dompet yang berada dalam tas itu.

“Oh, astaga. Kemana orang itu ?” tanyanya heran. Ia melihat ke kanan-kiri, mencoba mencari seseorang yang terlihat mencurigakan. Dan hasilnya nihil. Ia tidak menemukan apapun selain dirinya yang terkena air hujan di jalanan sepi itu.

“Dompetku. Cincinnya,” suara Seo Yoon mulai bergetar. Kedua matanya mulai kabur karena air mata dan akhirnya ia menangis di bawah hujan. Ia hanya mau cincin itu saja. Biarkan pencuri itu mengambil semua barang-barangnya, asalkan bukan cincin pernikahannya.

Seo Yoon membulatkan kedua matanya saat melihat tangan seseorang yang terjulur ke hadapannya –bersama tas miliknya. Ia segera mengambil tas itu, merogoh isinya dan mencari dompet. Sebuah helaan napas keluar dari bibirnya saat melihat benda persegi berwarna cokelat itu masih tetap berada di dalam tas. Dan saat membukanya, ia masih menemukan cincin itu. Semuanya masih tetap utuh.

“Kamsahamnida,” gumam Seo Yoon seraya membungkuk dalam. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum samar pada seorang laki-laki –yang cukup tinggi itu.

“Hat-hati, eh ? Disini banyak pencuri,” laki-laki itu melengos pergi, meninggalkan Seo Yoon yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia menyampirkan tali tas itu ke bahunya kemudian berjalan kembali menuju sekolah Yun Min. Dengan seluruh tubuh yang sudah terlanjur basah karena air hujan.

***

Karena keadaan tubuh yang kurang fit, Seo Yoon memutuskan untuk tidak masuk kerja. Tidak ada salahnya ia membolos sehari saja untuk menemani Yun Min seharian. Lagipula, selama 2 tahun bekerja baru kali ini ia tidak masuk karena alasan sakit. Biasanya ia selalu masuk, walaupun dalam keadaan sakit. Bahkan ia pernah pingsan di kantor karena penyakit demam berdarah dan ia tidak menyadarinya.

Setelah mengantar Yun Min ke sekolahnya, Seo Yoon berjalan-jalan di sekitar sana untuk mencari apotek. Membeli obat flu agar keadaan tubuhnya sedikit membaik. Ia memasuki sebuah apotek yang terletak di persimpangan jalan, berdiri tepat di depan kasir dan meminta salah satu apoteker untuk mengambilkan obat. Sementara menunggu obat yang dipesannya datang, Seo Yoon mengitarkan pandangannya ke seluruh apotek itu. Seluruh ingatannya tentang pria itu pun kembali muncul. Disanalah keduanya bertemu, saling bertengkar karena memperebutkan obat dan kemudian harus mengganti bersama-sama karena obat yang diperebutkan rusak. Sangat konyol mengingat ia dan pria itu selalu bertengkar dulu.

“Ini obatnya, nona,” suara apoteker itu membuyarkan lamunan Seo Yoon. Ia segera mengeluarkan dompet, menyerahkan beberapa lembar uang ribuan won kemudian menerima obat itu.

“Oh, kau wanita yang dulu bertengkar dengan seorang laki-laki itu ‘kan ?” tanya apoteker itu, membuat Seo Yoon terhenyak. Ia mengangkat kepalanya, tersenyum kaku pada wanita paruh baya itu lalu mengangguk lemah.

“Kau masih ingat, ahjumma ?” tanyanya.

“Keurae. Aku pasti akan ingat kejadian itu, belum pernah ada yang bertengkar lagi seperti kalian selama 5 tahun terakhir. Tentu saja aku ingat,” jawab ahjumma itu dan sedetik kemudian malah tertawa. Seo Yoon tersenyum, ia menunduk, menatap lantai apotek itu untuk menyembunyikan ekspresi sedihnya. Ia tidak mau mengingat kejadian itu lagi. Ia tidak bisa terus-menerus terpuruk dalam lingkaran pria itu.

“Aku permisi dulu, ahjumma,” Seo Yoon membungkuk singkat kemudian dengan setengah berlari keluar dari tempat itu. Tempat yang sangat berkesan namun juga menyedihkan baginya.

Ia memutuskan untuk duduk di sebuah café yang tepat berseberangan dengan sekolah Yun Min. Taman kanak-kanak itu akan membubarkan muridnya sekitar pukul 11 siang, dan ia harus menunggu selama 2 jam lagi. Semoga saja ia tidak diusir oleh pemilik café itu karena terlalu lama duduk disana.

Kedua mata Seo Yoon melebar saat melihat laki-laki –yang telah menolongnya kemarin tengah berjalan memasuki café itu. Dengan cepat ia berdiri, melambaikan tangan dan berhasil membuat laki-laki itu menoleh. Laki-laki itu mengernyit, menoleh ke kanan-kiri lalu menunjuk dirinya sendiri. Dan masih dalam keadaan heran, ia berjalan mendekati Seo Yoon yang masih tersenyum.

“Kau masih ingat aku ?” tanya Seo Yoon antusias. Laki-laki itu memperhatikan Seo Yoon dari bawah hingga atas kemudian menggeleng.

“Aish sudahlah. Karena sudah menolongku kemarin, kau akan kutraktir hari ini,” seru Seo Yoon. Wanita itu kembali duduk di kursinya kemudian mengangkat tangan, memanggil seorang pelayan. Tatapan Seo Yoon kembali tertuju pada laki-laki berambut coklat yang masih berdiri di depannya, “Ayo duduk. Shin Seo Yoon, kau ?”

“Oh, Lee Jinki. Kau bisa panggil aku Onew, Jinki, atau apapun itu,” jawaban laki-laki itu membuat Seo Yoon terkekeh.

“Baiklah, Jinki-ssi. Kau mau pesan apa?” tanya Seo Yoon saat melihat Jinki sudah duduk di kursi.

“Kau yang traktir ‘kan ? Baiklah. Aku mau cabbana, cheese-burger, rose-tea, fettucini carbonara, Italian pizza, satu paket sushi, bogembap, dan  –,”

“Ya! Kau yakin bisa makan semuanya sendirian ? Makan secukupnya, sayang kalau makanannya tidak habis nanti,” potong Seo Yoon, merasa pesanan Jinki sudah sangat banyak –dan bisa membuat seluruh gajinya bulan itu habis.

“Ah, keurae. Aku pesan itu saja,” ujar Jinki ramah pada pelayan yang berdiri di samping tempat duduknya.

“Aku bibimbap dan teh ginseng saja,” sahut Seo Yoon kemudian. Pelayan itu membungkuk singkat lalu berjalan menuju bagian kasir untuk memberikan pesanan keduanya.

Seo Yoon menyelipkan rambut ke belakang telinga, ia menatap keluar jendela café kemudian menghela napas panjang. Rasanya ia bingung harus membuka pembicaraan apa.

“Apa adikmu bersekolah disana ?” tanya Jinki saat menyadari tatapan Seo Yoon hanya tertuju pada pagar taman kanak-kanak di seberang jalan. Seo Yoon menoleh dengan cepat lalu tertawa pelan.

“Apa aku semuda itu ? Anakku yang bersekolah disana, Jinki-ssi,”

Jinki sedikit terkesiap mendengar jawaban wanita itu. Ia sangat yakin wanita yang berada di hadapannya itu masih berusia di awal usia 20-an dan mungkin hampir menginjak 25 tahun. Ia sedikit tidak percaya bahwa wanita itu, ternyata sudah memiliki seorang anak. Hanya dua kemungkinan jika wanita itu benar-benar sudah mempunyai anak. Karena sudah menikah, atau mungkin Seo Yoon seorang wanita ….

“Dia Shin Yun Min, anak laki-lakiku. Tapi aku bukan wanita ‘seperti yang kau bayangkan’. Masalah klasik sebenarnya, karena menikah terlalu muda kemudian bercerai. Dan pria itu menghilang entah kemana,” jelas Seo Yoon mempersingkat kisah hidupnya. Sedetik kemudian ia malah menutup mulut, merasa sudah membuka seluruh masalah keluarganya pada seseorang yang bahkan baru ia ketahui namanya beberapa menit yang lalu.

“Kau terlalu blak-blakan, tahu ? Bagaimana kalau aku ini orang jahat ? Kau sudah membuka semua aib keluargamu sendiri,” balas Jinki seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

“Yeah, aku tahu. Tapi aku yakin kau bukan orang jahat. Kalau kau memang jahat, kau tidak mungkin menolongku kemarin,” jawab Seo Yoon acuh. Ya, ia yakin bahwa laki-laki itu bukan orang jahat.

Obrolan keduanya terhenti saat pesanan mereka datang. Seo Yoon menahan napasnya sejenak ketika melihat deretan piring di atas meja. Sangat penuh. Bahkan beberapa makanan pesanan Jinki lainnya harus ditaruh di meja lain karena tidak cukup. Dan ia harus menelan ludahnya kuat-kuat ketika melihat kertas tagihan di tangannya. Apakah Jinki tidak pernah makan seperti ini sebelumnya ? Sepertinya ia harus menekan keinginannya untuk membeli satu set peralatan belajar untuk Yun Min hingga bulan depan.

***

Dengan langkah gontai Seo Yoon memasuki ruang kerjanya. Setelah  rapat hampir selama 3 jam tadi, rasanya ia hampir ambruk sekarang. Ia memijat keningnya yang terasa pusing karena bekerja hingga larut semalam. Tidak masuk satu hari saja, seluruh pekerjaannya dikirim melalui e-mail ­dan sangat lebih banyak dari hari biasanya. Ia tidak habis pikir kenapa perusahaan tempatnya bekerja itu bahkan tidak memberikan libur walau hanya satu hari. Memang akhir-akhir ini perusahaan itu tengah mendapat beberapa proyek besar, namun ia tidak bisa terus-terusan bekerja dan mengurangi waktu bermainnya bersama Yun Min.

Suara ketukan pintu membuat Seo Yoon mengangkat kepalanya. Ia membetulkan posisi duduknya lalu bergumam untuk mempersilakan –orang yang berada di belakang pintu ruangannya untuk segera masuk. Jantung Seo Yoon sontak memompa lebih cepat ketika senyum –yang seperti malaikat itu menyambutnya ketika pintu itu terbuka. Seo Yoon tersenyum kaku, berdiri dari kursi lalu menyapa laki-laki itu.

“Bagaimana hari liburmu kemarin, Seo Yoon-ssi ?” tanya laki-laki itu seraya duduk di sebuah sofa yang berada di dalam ruangan Seo Yoon.

“Yang membuat hari liburku buruk adalah pekerjaan yang menumpuk dan harus bekerja semalaman untuk menyelesaikannya. Aku tidak bisa bersama –,” Seo Yoon segera memotong ucapannya.

Hampir terbongkar. Perusahaan tempatnya bekerja itu tidak menerima pegawai yang sudah menikah dan apalagi yang memiliki seorang anak. Ia berbohong saat melamar pekerjaan dulu agar bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Dengan resiko, jika ia ketahuan mempunyai seorang anak nantinya, perusahaan akan bertindak tegas dan memecatnya. Seo Yoon berdehem pelan, mencoba meredakan suara gugupnya.

“Aku tidak bisa bersama Choco, anjing kesayanganku,” ucapan Seo Yoon membuat laki-laki itu tertawa pelan, “Apa ada hal yang sangat penting, Choi sajangnim ?”

“Apa aku harus mempunyai alasan untuk datang ke ruanganmu ?” tanya laki-laki bermata besar itu, kembali membuat Seo Yoon salah tingkah.

“Ah, ahni,” seluruh saraf dalam tubuh Seo Yoon tiba-tiba menegang ketika laki-laki itu mendekat, berdiri tepat berhadapan dengannya kemudian tersenyum.

“Kau bisa panggil Minho, kalau kita sedang berdua seperti ini. Kau tahu ? Aku kurang suka dengan panggilan formal. Aku direktur dan kau manajer, tidak terlalu jauh perbedaannya ‘kan ?” ujar Minho. Seo Yoon mengangguk pelan, ia sebisa mungkin tidak menatap kedua mata Minho sekarang.

“Kau sudah makan siang ? Ayo makan bersama,” tanya Minho lagi, dan membuat Seo Yoon mengangkat kepalanya. Menatap Minho heran. Apa karena rasa sukanya yang besar, ia sampai berhalusinasi Minho mengajaknya makan siang ?

“Shin Seo Yoon ? Kau mendengarku ?” Seo Yoon terkesiap saat wajah Minho malah semakin mendekat. Ia segera meraih tas kerjanya lalu mengangguk.

“A-ayo berangkat sekarang,”

Minho tertawa pelan melihat wajah Seo Yoon yang sudah seperti kepiting rebus. Berwarna merah padam. Walaupun wanita itu mencoba menghindar, ia tetap bisa melihat semburat merah itu. Ia beranjak keluar dari ruangan itu, diikuti Seo Yoon di belakangnya. Beberapa pegawai pun tampak berbisik-bisik melihat kedekatan keduanya. Sedangkan Seo Yoon, hanya bisa menundukkan kepala. Tidak berani menatap kedepan untuk melihat keadaan di sekitarnya.

DUK

“Aww !” Seo Yoon meringis saat kepalanya membentur pintu kaca. Ia mengusap keningnya lalu menoleh ke belakang, menatap beberapa pegawainya yang malah tertawa. Sial. Saat bersama Minho saja, ia masih tetap ceroboh.

“Berjalan itu harus lihat ke depan, Shin Seo Yoon,” goda Minho kemudian ikut tertawa. Seo Yoon mengumpat dalam hati. Ia segera berjalan mendahului Minho dan memasuki lift yang saat itu pintunya terbuka.

***

Suasana dalam kelas di sebuah taman kanak-kanak itu semakin riuh saat guru pengajar mereka keluar. Beberapa anak menaiki meja, melompat-lompat diatasnya sambil bernyanyi. Dan beberapa anak lainnya sibuk menggambar –apa yang sudah ditugaskan guru mereka beberapa saat yang lalu. Yun Min hanya duduk di pojok kelas, menggambar apa yang berada di pikirkannya saat itu pada sebuah kertas gambar. Ekspresi wajahnya terlihat sedih. Ia tidak memedulikan keadaan riuh di sekitarnya dan tetap focus menggambar.

Suara bel membuyarkan kegiatan Yun Min. Anak laki-laki itu segera memasukkan kertas gambarnya ke dalam tas kemudian berlari keluar kelas. Ia berdesak-desakkan dengan anak lainnya untuk keluar gerbang. Ia menoleh ke kenan-kiri, mencari sosok ibunya diantara orang-orang disana. Senyum bahagianya memudar begitu saja saat tidak menemukan Seo Yoon. Ia kembali berbalik, memasuki gerbang sekolahnya dan memutuskan untuk duduk di sebuah ayunan.

“Yun Min-ah, kau tidak pulang ?” suara lembut seorang wanita membuat Yun Min mengangkat kepalanya. Ia hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan gurunya.

“Eomma belum datang, Seo Hyun sonsaengnim,” jawabnya, “Aku tidak mau pulang kalau bukan eomma yang jemput,”

“Sonsaengnim yang antar pulang, ya ?” tanya wanita itu lagi. Yun Min menggeleng dengan kuat.

“Ahni ! Aku mau dijemput eomma !” seru Yun Min, membuat Seo Hyun sedikit terkesiap. Ia sudah sangat tahu bagaimana sifat keras kepala Yun Min, walaupun merayu dengan cara apapun, keinginan anak itu tidak akan berubah.

“Ayo tunggu didalam. Sebentar lagi hujan,” Seo Hyun menyentuh kedua pundak Yun Min, membantunya turun dari ayunan dan mengantarnya ke bagian dalam sekolah.

Ia membawa Yun Min duduk di dalam kelas lalu memberinya sebuah selimut tebal. Dan beberapa saat kemudian hujan pun turun. Seo Hyun menoleh ke arah Yun Min yang mulai terisak kecil. Perlahan ia mendekat dan memeluk anak laki-laki itu.

“Aku benci eomma,” gumamnya pelan.

“Yun Min-ah, kau tidak boleh seperti itu. Tanpa seorang ibu, kau tidak akan lahir ke dunia,” ujar Seo Hyun memperingati.

Beberapa menit kemudian, tidak terdengar lagi suara isakan Yun Min. Suara isakan itu kini berubah menjadi sebuah dengkuran halus. Anak laki-laki itu tertidur. Seo Hyun tersenyum kecil, ia melepaskan pelukannya lalu menggendong tubuh mungil Yun Min. Membawanya ke ruang kesehatan dan menidurkannya di atas tempat tidur. Setelahnya, ia beralih membereskan tas sekolah Yun Min kemudian membukanya. Memeriksa semua isi tas milik anak itu. Ia merasa tersentuh saat melihat gambar yang dibuat Yun Min. Hanya gambar acak sepasang pria dan wanita, lalu seorang anak kecil di tengahnya. Sebuah tulisan hangul –yang tidak terlalu jelas pun menjelaskan suasana gambar itu.

‘Appa, eomma, dan aku. Semoga appa cepat pulang dan kami bisa berkumpul bersama lagi. Saranghaeyo uri appa,”

Seo Hyun sedikit terkesiap saat pintu ruang kesehatan itu terbuka. Ia memasukkan kertas gambar itu kembali ke dalam tas Yun Min lalu menoleh ke arah pintu. Seulas senyum muncul di bibirnya, melihat Shin Seo Yoon akhirnya datang untuk menjemput anaknya.

“Mianhae, sonsaengnim. Aku ada keperluan mendadak tadi,” sahut Seo Yoon seraya beranjak mendekati Seo Hyun dan Yun Min.

“Yun Min sempat menangis tadi,” balas Seo Hyun, menyerahkan tas sekolah Yun Min pada Seo Yoon.

“Jinjja ? Kenapa menangis ?” tanya Seo Yoon sementara ia berusaha mengangkat tubuh Yun Min dari tempat tidur. Ia menggendongnya secara perlahan dan kemudian menepuk-nepuk punggungnya ketika anak laki-laki itu mulai merengek.

“Sebaiknya kau mulai menyisihkan sedikit waktu untuk bersama Yun Min. Dia merasa sangat kesepian dan sedih karena orangtuanya sendiri selalu sibuk dengan urusan kerja,” jelas Seo Hyun, membuat Seo Yoon kembali merasa bersalah. Ia tersenyum kaku kemudian membungkuk singkat.

“Terima kasih atas sarannya, sonsaengnim. Aku pulang dulu,” sahut Seo Yoon dan mulai berjalan meninggalkan wanita hampir berumur 30 tahunan itu.

“Dan terakhir. Tolong buka tas Yun Min saat sampai dirumah nanti,”

Seo Yoon berbalik sekilas dan hanya memberikan seulas senyum. Dengan setengah berlari ia menerobos hujan untuk memasuki taksi. Setelah berada di dalam taksi, Seo Yoon tidak melonggarkan pelukannya sedikit pun. Ia membuka tas sekolah Yun Min, mengambil kertas gambar yang sedikit menyembul keluar lalu membukanya.

Seo Yoon hanya menatap gambar itu dalam diam. Sekeras apapun ia mencoba menahan air mata, pada akhirnya tetap keluar. Cepat atau lambat Yun Min pasti akan merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Dan sekarang keinginan Yun Min sudah mencapai puncaknya. Selama hampir 4 tahun tumbuh hanya dengan seorang ibu –yang bahkan lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja dan bukan bersama anaknya sendiri. Seo Yoon mengecup puncak kepala Yun Min dan kemudian kembali menangis. Merenungkan semua kesalahan yang sudah dilakukannya selama ini.

***

Suara ribut dari arah dapur membuat Yun Min terjaga. Anak laki-laki itu mengucek pelan kedua matanya, menatap jam di dekat tempat tidurnya yang menunjukkan pukul 7 malam. Kedua alisnya bertautan heran saat menyadari bahwa ia sudah berada di dalam kamar. Seingatanya, ia tertidur di dalam pelukan Seo Hyun tadi sore.

Yun Min menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Ia berjalan menuju pintu kamarnya, membukanya dan sedikit menyembulkan kepala keluar. Bibirnya langsung mengerucut saat melihat sosok Seo Yoon yang tengah memasak di dapur. Ia kembali menutup pintu kamar –dengan sedikit keras dan kemudian kembali melompat ke atas tempat tidur. Ia tidak akan berbicara dengan Seo Yoon apapun yang terjadi. Seo Yoon sudah membuatnya kesal karena lagi-lagi tidak menepati janji dan hanya sibuk dengan pekerjaan.

Suara pintu kamar yang terbuka membuka Yun Min terkesiap. Dengan cepat ia memasuki selimut, menyembunyikan diri dari Seo Yoon. Ia hanya diam saja saat Seo Yoon terus bertanya padanya.

“Yun Min-ah, ayo makan dulu,” seru  Seo Yoon seraya menarik ujung selimut Yun Min. Namun anak itu malah mengeratkan selimut itu dan membuat Seo Yoon sedikit kesulitan untuk menariknya.

“Tadi eomma ada keperluan mendadak, jadi tidak bisa menjemputmu tepat waktu, Yun Min-ah. Sampai kapan kau akan marah pada eomma ?” tanya Seo Yoon. Tiba-tiba Yun Min membuka selimut, duduk bersila di atas tempat tidur seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku tidak akan marah lagi kalau appa datang kesini,” jawab Yun Min lalu kembali masuk kedalam selimut.

Seo Yoon menarik napas dalam-dalam. Kenapa ia tidak bisa marah pada anaknya sendiri ? Bisa saja ia marah dengan mengatakan bahwa tidak pernah ada kata ‘ayah’ dalam kamus hidup Yun Min. Ia tidak mau menghubungkan pria itu lagi dalam kehidupan anaknya. Dan mengatakan bahwa ayahnya itu pergi tanpa memberikan kabar sedikit pun dan mungkin sudah menikah lagi dengan wanita lain. Entahlah, ia tidak peduli. Namun sayangnya ia bukan seorang ibu yang tega melakukan hal itu. Lebih baik ia berbohong untuk membuat Yun Min bahagia.

“Appa masih sibuk kerja diluar negeri. Kalau appa datangnya tahun depan, kau akan tetap marah ?” tanya Seo Yoon mencoba bernegosiasi dengan ancaman Yun Min.

Tidak ada jawaban dari dalam selimut. Yun Min tetap mengunci rapat-rapat mulutnya, menepati janji pada dirinya sendiri untuk tidak membuka mulut dan menjawab pertanyaan Seo Yoon. Sudah jelas bahwa ia akan tetap marah sampai sosok ayah itu datang.

“Terserah. Tapi walaupun marah, kau harus tetap makan. Sekarang ayo makan malam dulu,”

Tanpa menjawabnya, Yun Min segera membuka selimut lalu berlari keluar kamar. Seo Yoon menggeleng pelan. Ia bahkan tidak pernah berpikir sama sekali untuk mencari ayah baru untuk Yun Min. Ia belum siap untuk berumah tangga lagi. Umurnya baru akan menginjak 24 tahun dan ia hanya ingin focus pada pekerjaan untuk sementara ini.

***

Seperti hari biasanya, sebelum berangkat kerja Seo Yoon mengantar Yun Min ke sekolah terlebih dahulu. Baru saja ia berjongkok untuk mengecup kening anak laki-laki itu –seperti biasanya, tapi Yun Min sudah pergi begitu saja. Seo Yoon menghela napas –lagi. Yun Min benar-benar marah padanya.

Seo Yoon segera menaiki bis dari halte yang berada tepat di sebelah sekolah Yun Min. Ia berjalan menuju bagian dalam bis dan sedikit mengeluh saat tidak menemukan tempat duduk. Seo Yoon sedikit tersentak ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ia menoleh, menatap seorang laki-laki tinggi berambut coklat yang tengah tersenyum samar ke arahnya.

“Oh, Jinki-ssi. Annyeong,” sapa Seo Yoon seraya membungkuk singkat. Laki-laki itu balas membungkuk lalu menunjuk bagian depan bis.

“Semua tempat duduk pasti sudah penuh, kau duduk di tempatku saja,” seru Jinki, membuat seulas senyum muncul di bibir Seo Yoon. Ia segera mengikuti langkah Jinki ke bagian depan, menuju sebuah tempat duduk kosong tepat di dekat pintu.

“Kau duduk dimana ?” tanya Seo Yoon heran setelah menghempaskan tubuhnya di tempat duduk itu.

“Aku akan turun sebentar lagi,” jawab Jinki ramah seraya berpegangan pada hanger diatas kepalanya.

“Kau bekerja juga ?” tanya Seo Yoon lagi, mencoba mengetahui lebih jauh lagi tentang laki-laki itu.

“Hanya pelayan café. Aku tidak suka bekerja di perusahaan yang terikat banyak peraturan dan juga tanggung jawab yang besar,” jawaban Jinki membuat Seo Yoon sedikit tersinggung sebenarnya. Ia sudah bekerja di perusahaan selama 2 tahun lebih dan baru kali ini mendengar seseorang yang tidak suka bekerja seperti itu.

Seo Yoon berdehem pelan, mencoba menghilangkan rasa tidak enak yang mengganjal di tenggorokannya, “Jinki-ssi, aku bisa minta tolong tidak ?”

“Asalkan tidak menganggu pekerjaanku,” jawab Jinki kemudian tersenyum lebar.

“Kau bisa jemput anakku nanti siang ? Aku ada rapat penting di Busan sampai sore dan tidak bisa menjemputnya hari ini,” balas Seo Yoon, dengan membulatkan kedua matanya –menatap Jinki penuh harap.

“Cish~, baiklah. Kau berikan saja fotonya,”

“Assa. Gomawo Jinki-ssi,” Seo Yoon merogoh tas kerjanya dan kemudian mengeluarkan foto Yun Min dari dompet –yang baru saja dicetaknya beberapa hari yang lalu, “Kau bisa tanya ke salah satu guru. Namanya Shin Yun Min. Aku akan kirim alamat apartemenku nanti,”

Jinki menerima foto itu, memperhatikan wajah Yun Min lalu membandingkannya dengan wajah Seo Yoon, “Dia tidak mirip denganmu,”

“Banyak yang bilang dia lebih mirip ayahnya. Ah sudahlah, jangan bahas hal itu lagi,” sahut Seo Yoon seraya mendengus pelan. Selalu saja seperti itu, ketika orang lain melihat Yun Min dan dirinya.

“Aku kan hanya berpendapat –astaga ! Halte bisnya sudah lewat. Ya! Ahjussi aku turun disini !” Jinki segera berlari menuju pintu, meninggalkan Seo Yoon yang tengah terbahak karena hal itu. Salah satu sifat Jinki yang baru saja diketahuinya. Ceroboh.

***

Suasana di taman kanak-kanak itu sudah sepi sejak satu jam yang lalu. Hanya tersisa seorang anak laki-laki yang tengah bermain sendirian di dalam kelas –bersama beberapa lembar kertas dan juga alat gambar. Rasa bosan dan kesal sudah menjalari seluruh tubuhnya. Ia hanya mencorat-coret tidak jelas diatas kertas dengan pensil warna, bahkan sampai membuat kertas itu robek. Lagi-lagi Seo Yoon terlambat untuk menjemputnya pulang.

Suara pintu terbuka membuat Yun Min mengangkat kepalanya. Ia menatap Seo Hyun yang tengah tersenyum lembut dan tanpa mengatakan apapun wanita itu sudah berjalan mendekat ke arahnya. Yun Min hanya mengernyit heran ketika Seo Hyun malah membereskan seluruh peralatan menggambar itu ke dalam tasnya.

“Waeyo sonsaengnim ?” tanya Yun Min heran.

“Kau sudah dijemput. Ayo keluar sekarang,” ajak Seo Hyun seraya membawa tas Yun Min di tangan kirinya, sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk menggandeng anak laki-laki itu.

Yun Min kembali mengerucutkan bibirnya. Ia sudah siap untuk melakukan aksi –mogok bicara lagi. Hari itu Seo Yoon bahkan hampir terlambat dua jam. Atau mungkin setelah ini, ia akan melakukan aksi –tidak mau sekolah. Lebih baik ia tidak berangkat ke sekolah daripada harus terlambat dijemput seperti itu.

“Sonsaengnim, kenapa kita masuk ruang guru ? Dimana eomma ?” tanya Yun Min semakin heran.

Seo Hyun tidak menjawab apapun. Tatapan Yun Min kini tertuju pada seorang laki-laki berambut coklat yang tengah duduk membelakanginya. Yun Min berhenti melangkah. Ia hanya diam saja saat Seo Hyun memanggil nama laki-laki itu dan bahkan saat laki-laki itu menoleh ke arahnya. Yun Min mengerjapkan kedua matanya, tidak percaya dengan kehadiran laki-laki itu.

“Appa ?”

Kata-kata yang meluncur dari mulut Yun Min sontak membuat laki-laki itu mematung seketika. Laki-laki itu –Lee Jinki menunjuk dirinya sendiri dan baru saja akan menggeleng ketika Seo Hyun memotongnya.

“Ne. Appa datang untuk menjemputmu, Yun Min-ah,” ujar Seo Hyun. Jinki masih saja bingung. Ia menatap kedua mata Yun Min yang sudah mulai berkaca-kaca dengan seulas senyum –yang cukup lebar. Baiklah. Ia tidak tega untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Anak laki-laki itu terlihat sangat bahagia.

“Uri appa !!!” pekik Yun Min dan kemudian berlari memeluk Jinki. Tanpa mengatakan apapun lagi, Yun Min sudah menumpahkan seluruh air matanya. Menangis terisak dalam pelukan Jinki. Dan dengan Yun Min yang menangis terisak seperti itu, membuat Jinki semakin canggung. Mungkin sementara ini Jinki akan membiarkan Yun Min menganggap ia sebagai ayahnya. Hanya sampai di apartemen Seo Yoon saja.

[Pretend Continued]

2 thoughts on “Pretend [1st Part]

  1. woahhh~~ aku baru bca dri prolog.y tdi smpe d part ini…bneran ni ff ada samting bkin orng penasaran buat bcanya..aku suka alur critanya,,gk trllu ribet tpi kerennn… next part d tnggu chingu :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s