[FanFict] Believe in Love (2nd Part – End)

 

 

Title    : Believe in Love

Author  : Ima Shineeworld (@bling0320)

Cast       : Kim Jonghyun, Song Hyo Jin

Genre   : Sad, Romance, Friendship

Rating   : Teen

Length  : Two Shots

[Believe in Love] [1st Part] [2nd Part – End]

Awal tahun 2012 yang menyibukkan bagi para setiap member SHINee. Jonghyun baru saja kembali dari kantor SM untuk mengurusi beberapa lagu yang diciptakannya untuk dimasukkan ke dalam album baru mereka. Sedangkan Taemin tengah sibuk mengurus kelulusannya. Dan Onew, laki-laki bermata sipit itu pasti tengah membicarakan konsep album dengan Sooman. Untuk Minho, laki-laki itu tengah mengurusi sitcom yang akan dibintangi olehnya.

Jonghyun membuka pintu dorm dengan senyuman lebar. Ia membawa sebuah tas plastic kecil di tangannya berisi samgyupsal yang dibelinya di sebuah kedai tadi. Makanan kesukaan Hyo Jin. Sudah saatnya jam makan siang, dan Hyo Jin pasti belum memakan apapun sehabis sarapan. Baru saja Jonghyun akan mengganti sepatunya dengan sandal ketika menyadari sesuatu. Ia melirik rak sepatu yang berada di dekatnya, tempat dimana ia meletakkan sepatu Hyo Jin semalam. Dan ia tidak menemukan sepatu gadis itu disana.

Dear me,” gumamnya kemudian dengan setengah berlari memasuki dorm. Dengan cepat ia memeriksa semua sudut apartemen itu untuk mencari Hyo Jin. Dan hasilnya pun nihil. Ia bahkan tidak menemukan scrapbook buatannya yang diletakkan di perpustakaan. Hyo Jin  menghilang.

Jonghyun terduduk di sofa. Ia menaruh tas plastic itu ke meja di depannya lalu menghela napas panjang. Dadanya kembali menjadi sesak. Kedua matanya sudah berkaca-kaca mengingat kejadian semalam yang berlalu sangat cepat meurutnya. Lagi-lagi ia kehilangan Hyo Jin. Harusnya ia tahu, seorang Song Hyo Jin adalah wanita yang selalu menepati janjinya. Ketika ia memutuskan untuk pergi, maka gadis itu akan pergi. Walaupun mereka belum berbicara apapun semalam.

Tidak ada yang bisa dilakukan Jonghyun selain menangis sekarang. Ia tetap menangis dalam diam. Mengingat semua yang sudah dilaluinya bersama Hyo Jin selama dua tahun ini. Sangat banyak kenangan yang melekat di otaknya, walaupun frekuensi pertemuan mereka semakin berkurang akhir-akhir ini. Ia tidak bisa melupakan semuanya.

Jonghyun menyadari sesuatu. Ia mengingat kembali kejadian ketika Youngmin mengancamnya dua bulan yang lalu. Tentang Hyo Jin.

‘Kalau kau masih mencintai SHINee, kau harus meninggalkan gadis itu. Kau kira aku tidak pernah tahu kau selalu kabur dari latihan untuk bertemu dengannya ? Aku bisa melakukan apapun untuk membuat gadis itu jauh darimu, Kim Jonghyun. Termasuk mengancammu atau mungkin gadis itu,’

Jonghyun membuka kedua matanya. Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon Minho. Laki-laki itu adalah orang yang terakhir kali berada di dorm sebelum Hyo Jin pergi. Mungkin Minho mengetahui sesuatu.

– — – –

Hyo Jin POV

Dan pada akhirnya disinilah aku berada sekarang. Suara dengungan pesawat memenuhi rongga pendengaranku. Bandara Incheon. Ya, aku berada di sebuah bandara international terindah di dunia. Bukan hanya untuk melihat pemandangan tentu saja. Aku akan benar-benar pergi menyusul appa dan eomma ke Rusia. Meninggalkan semuanya dan melupakan semua yang menyangkut Jonghyun. Aku akan berusaha melupakan laki-laki itu.

Aku duduk di sebuah coffee shop untuk menunggu seseorang sebelum benar-benar terbang ke Rusia. Aku hanya bisa menghela napas saat ingat semua perkataan Minho tadi. Sedikit menyakitkan. Tapi memang itu kenyataannya. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi bayangan Jonghyun. Suatu saat nanti pasti aku akan melepaskan gelar ‘kekasih Jonghyun’ dan menjalani kehidupan normal. Walaupun keputusan itu akan sangat menyakiti hatiku sendiri, aku harus siap melakukannya.

Haruskah aku menceritakan bagaimana kami bertemu ?

Pertemuan yang tidak disengaja. Aku hanya seorang staff salah satu acara TV dan dia tentu saja seorang idola, member SHINee. Awalnya kami saling membentak satu sama lain karena dia –Kim Jonghyun sangat keras kepala dan aku yang tidak mau mengalah. Beberapa pendapat orang mengenainya yang baik, lembut, dan romantis langsung terhapus dalam benakku begitu saja. Ia bukan laki-laki seperti itu. Sangat bertolak belakang bahkan.

Tapi entah kenapa, selama dua bulan masa promosi mini album SHINee itu terasa sangat cepat. Kami semakin jarang meneriaki satu sama lain lagi dan malah semakin dekat. Entah kenapa, aku malah tidak rela promosi lagu itu berakhir. SHINee tidak akan pernah datang lagi ke stasiun TV –tempat aku bekerja. Dan yang terpenting, aku tidak bisa melihat wajahnya lagi. Mata sayu dan rahang dinosaurus seorang Kim Jonghyun.

Hal terbodoh yang kulakukan saat itu adalah, mengundurkan diri dari stasiun TV itu. Keluar dari pekerjaan yang sangat susah payah kudapatkan hanya karena laki-laki itu. Untuk apa aku masih bekerja disana kalau tidak bisa melihat Jonghyun. Sangat bodoh bukan ? Bahkan sebelum bertemu dengannya saja, aku sudah bekerja selama hampir tiga bulan disana. Dan entah kenapa aku baru menyesalinya dua hari kemudian setelah berhasil keluar. Jonghyun mungkin tidak memikirkanku sama sekali.

Tapi kejutan lainnya datang seminggu kemudian. Jonghyun tiba-tiba datang ke apartemenku dalam keadaan setengah mabuk. Ia meracau tidak jelas, mengatakan bahwa ia merasa pusing dengan pekerjaannya dan merasa semakin pusing ketika tidak bisa menemukanku di stasiun TV itu. Ia merasa hampir gila karena tidak melihat wajahku lagi. Pada awalnya aku tidak percaya dan menganggap ucapan Jonghyun hanya angin lalu. Tapi saat bangun esok paginya, ia tiba-tiba saja menyatakan perasaannya. Tanpa berpikir dua kali, aku menerimanya. Yeah, aku tidak memikirkan semua konsekuensi menjadi kekasih seorang idola.

Semua hal yang kami lalui selama dua tahun terasa sangat cepat juga. Dia tidak seburuk apa yang kupikirkan di awal. Ternyata Jonghyun memang baik, lembut, dan romantis. Seperti apa yang dikatakan orang banyak. Aku merasa beruntung pernah bisa menjadi bagian dalam hidupnya, walaupun tidak banyak meninggalkan kesan. Tapi sungguh, Jonghyun pasti bisa melupakanku dan mencari wanita lainnya yang lebih baik.

Aish, kenapa aku malah mengingatnya lagi ?

Kepalaku tiba-tiba berdenyut mengingat semua hal itu. Tidak. Aku harus ingat semua janjiku pada Youngmin sajangnim. Untuk tidak mengganggu Jonghyun lagi demi kelancaran karirnya.

“Hyo Jin-ssi,”

Aku segera mengangkat kepala ketika mendengar suara itu. Dengan cepat aku bangkit, memberi bungkukan singkat pada laki-laki paruh baya itu kemudian kembali duduk di kursi. Laki-laki itu pun ikut duduk, menaruh kedua sikunya di atas meja dan menatapku sambil tersenyum. Dan aku tidak bisa menebak apa arti senyuman itu.

“Terima kasih atas semuanya,” ucapnya seraya tersenyum lebar. Aku hanya bisa bersandar pada sandaran kursi dan menatap ke arah lain.

Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Mungkin ini adalah keputusan terbodoh yang pernah kuperbuat. Memutuskan hubungan dengan seorang laki-laki –yang bahkan ketika aku tidak bisa melihat wajahnya sehari pun akan membuatku tidak bisa bernapas. Melepaskan seorang laki-laki yang sudah menjadi bagian hidupku dan sangat mencintaiku tentu saja. Hanya karena ancaman laki-laki yang tengah duduk di hadapanku sekarang.

“Youngmin sajangnim, aku –,”

“Aku akan transfer uangnya ke rekeningmu secepat mungkin. Dan aku akan sangat senang kalau kau segera pergi dari Korea,” ucapnya memotong ucapanku.

Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Laki-laki ini –Kim Youngmin, benar-benar memperlakukanku seenaknya. Well, mungkin aku tidak bisa melawan untuk saat ini untuk semua ancaman yang telah ia lontarkan. Tapi lain kali, ia akan merasakan sakit yang lebih dalam lagi. Melebihi rasa sakitku karena sudah meninggalkan Jonghyun.

“Aku tidak butuh uangnya. Aku akan pergi sendiri, meninggalkan Jonghyun seperti apa yang kau inginkan. Hanya untuk kelancaran karir Jonghyun dan kedua orangtuaku. Tidak lebih,” jawabku seraya meremas gelas karton kopi yang sudah kuhabiskan isinya. Youngmin lagi-lagi menatapku dengan sebuah senyuman –yang tidak bisa diartikan.

“Baiklah. Itu pilihanmu sendiri,” Youngmin beranjak dari kursinya, mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di atas meja, “Aku yang traktir. Semoga hidupmu di Rusia menyenangkan, Hyo Jin-ssi,”

Tidak ada yang bisa kulakukan selain meremas gelas karton itu dengan semakin keras. Ada sesuatu yang mengganjal di dadaku sekarang. Tentang Jonghyun. Tidak. Aku tidak boleh menyesali ini. Perjanjian yang sudah kutandatangani harus ditepati. Untuk memutuskan semua yang berhubungan dengan Jonghyun agar karir SHINee semakin membaik. Entahlah. Aku merasa sangat berat untuk meninggalkan Korea. Atau mungkin, meninggalkan Jonghyun.

– — – –

AUTHOR POV

Jonghyun membuka pintu van kemudian dengan berlari memasuki bandara Incheon. Ia mengitarkan pandangannya ke sekeliling lalu berlari lagi menuju tempat keberangkatan luar negeri. Ia tidak peduli dengan umpatan orang-orang –karena tertabrak olehnya. Ia hanya membutuhkan Hyo Jin sekarang. Gadis itu tidak boleh pergi selangkah pun dari kehidupannya.

Lutut Jonghyun terasa lemas, bersamaan dengan napas yang hampir habis juga. Ia benar-benar berlari dari pintu masuk menuju pintu keberangkatan ke luar negeri. Ia mengangkat kepala dan memandangi papan jadwal keberangkatan. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat ketika melihat tulisan di deretan kedua dari terakhir. Pesawat menuju Rusia baru saja berangkat 15 menit yang lalu. Ia terlambat untuk menjemput cintanya kembali.

“Waeyo ?” tanya Jonghyun, lebih pada dirinya sendiri. Ia duduk di salah satu deretan bangku yang ada lalu menundukkan kepala, menopangkan kedua sikunya pada lutut kemudian menghela napas panjang. Ia merasa menjadi manusia paling bodoh sekarang.

Harusnya ia sadar Hyo Jin tidak akan memutuskan hubungan mereka begitu saja hanya karena masalah kecil seperti itu. Selama 2 tahun bersama, Hyo Jin tidak pernah sekali pun mengeluh tentang hubungan –rahasia mereka. Masalah dirinya yang sering terlambat atau tiba-tiba membatalkan janji, Hyo Jin tidak pernah mempermasalahkannya. Hyo Jin seorang yang tidak peduli dan akan menganggap semua yang buruk sebagai angin lalu saja. Minho baru saja memberitahu bahwa Youngmin juga ikut mengancam gadis itu.

“Ah, sial. Kenapa aku bisa terlambat ? Apa aku selama itu di kamar mandi ?”

Jonghyun mengangkat kepalanya sesaat setelah mendengar suara wanita –yang sangat dikenalnya. Langkah wanita itu terhenti, kedua matanya balas menatap kedua mata Jonghyun yang sudah mulai berkaca-kaca. Waktu seakan berputar sangat lambat. Jonghyun hanya melihat gadis itu. Ia menghiraukan semua orang yang berlalu lalang di sekitarnya dan hanya melihat ke satu arah.

“Song Hyo Jin,” gumam Jonghyun pelan, ia menyeka kedua matanya dan berdiri dari bangku itu. Berjalan menghampiri Hyo Jin yang masih diam mematung.

“Aku akan kejar penerbangan berikutnya,” ujar Hyo Jin seraya berbalik memunggungi Jonghyun. Namun belum sempat ia melangkah untuk pergi dari sana, sebuah tangan besar sudah melingkari lehernya.

“Gajima,”

Satu kata itu berhasil membuat kedua kaki Hyo Jin melemas. Ia hanya bisa menunduk, menatap sebuah tiket pesawat dan paspor yang berada di tangannya. Dan entah karena hal apa, air mata tiba-tiba sudah menggenangi pelupuk matanya. Ia memejamkan mata sejenak kemudian menyingkirkan lengan Jonghyun dari lehernya.

“Aku harus pergi,” Hyo Jin kembali berjalan tanpa mau berbalik menatap Jonghyun. Ia takut benteng pertahanan yang sudah sangat susah dibuat akan hancur begitu saja ketika menatap mata laki-laki itu.

“Jangan pedulikan ancaman Kim Youngmin –si brengsek itu. Aku tahu dia juga mengancammu. Dan kalau kau pergi untuk membuat karirku semakin baik, kau salah besar. Aku akan keluar dari SHINee dan tidak melanjutkan semua impianku,”  ucapan Jonghyun membuat langkah Hyo Jin kembali terhenti.

Gadis itu berbalik, menatap Jonghyun dengan heran sambil mencoba mencari ketidakseriusan ucapan laki-laki itu dari sana. Jonghyun pasti tidak serius dengan ucapannya. Menjadi seorang penyanyi adalah impiannya sejak kecil.

“Ini tidak ada hubungannya denganku, Jonghyun-ssi. Kenapa kau sangat keras kepala ? Kau harus tetap bersama SHINee dan tetap bernyanyi. Dan tentang Kim Youngmin, aku tidak kenal siapa dia. Aku pergi ke Rusia, karena keinginanku sendiri,”

“Kau salah besar, Song Hyo Jin. Semua hidupku sudah menyangkut dengan hidupmu sekarang. Dan berhenti menganggap diriku seseorang yang bodoh dan mudah dibohongi. Minho sudah menjelaskan semuanya, ia tahu tentang Youngmin yang mengancam kita berdua, dan juga SHINee,” Jonghyun menarik napas sejenak lalu melangkah mendekati Hyo Jin, “Kau yakin ini karena keinginanmu sendiri ? Hyo Jin-ah, dengarkan aku baik-baik,”

Jonghyun meletakkan kedua tangannya pada pundak gadis itu, sedikit menundukkan kepala dan menatap tepat ke dalam manik mata Hyo Jin, “Saranghae,”

Hyo Jin hanya bisa menundukkan kepalanya. Tidak berani untuk balas menatap Jonghyun. Jangan tanya bagaimana perasaan Hyo Jin sekarang, ia masih sangat mencintai Jonghyun. Sangat. Tapi perjanjian dengan Youngmin yang sudah ia tanda tangani tidak bisa diubah lagi. Jika ia melanggar, maka perusahaan kedua orangtuanya yang akan hancur. Ia tidak seegois itu untuk tetap mempertahankan cintanya bersama Jonghyun, sedangkan kedua orangtuanya dalam masalah besar.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku, Kim Jonghyun. Kumohon. Jangan mempersulit ini semua,” balas Hyo Jin seraya menurunkan kedua tangan Jonghyun dari pundaknya.

“Tatap aku,” seru Jonghyun, mengangkat dagu Hyo Jin dengan telunjuknya, “Katakan kau tidak mencintaiku lagi. Setelah kau mengatakan itu, aku akan membiarkanmu pergi ke Rusia,”

Hyo Jin menatap nanar kedua mata Jonghyun. Ia mulai membuka mulut untuk mengucapkan hal itu, namun sesaat kemudian malah kembali mengatupkan mulutnya. Ia tidak bisa. Suaranya tidak bisa keluar untuk mengucapkan kata-kata itu. Ia tidak bisa mengkhinati hatinya sendiri dengan mengatakan tidak mencintai laki-laki di depannya.

“Aku tidak . .” ucapan Hyo Jin terpotong ketika tiba-tiba saja Jonghyun mendekapnya dengan sangat erat. Debaran jantung Jonghyun yang sangat cepat terdengar jelas di telinganya.

“Jangan katakan apapun. Aku tarik kata-kataku lagi tadi. Kau tidak boleh pergi ke Rusia dan ini perintah !”  tutur Jonghyun setengah berteriak, membuat perhatian beberapa orang terarah pada keduanya.

Tangisan Hyo Jin kembali pecah. Pada akhirnya seluruh benteng pertahanan yang ia buat hancur juga. Ia balas memeluk Jonghyun dan membenamkan kepalanya di dada bidang milik laki-laki itu. Tidak. Ia tidak bisa terus berpura-pura seperti ini. Ia bisa menjadi gila karena memikirkan semua hal tentang masalahnya sendirian. Bagaimana pun nasib keluarganya dan dirinya sendiri nanti, ia tidak bisa berpisah dengan Jonghyun untuk saat ini.

“Aku mencintaimu. Mianhae,” gumam Hyo Jin pelan.

“Araseo,” Jonghyun mengangguk seraya mengusap puncak kepala gadis itu. Ia tahu Hyo Jin masih mencintainya. Tidak mungkin gadis itu memutuskan berpisah hanya dengan alasan seperti kemarin. Walaupun memang sepenuhnya alasan perpisahan yang diucapkan gadis itu benar, ia tetap tidak bisa melepas Hyo Jin.

“Kau tidak boleh pergi kemana pun,” lanjut Jonghyun, masih tidak melepaskan pelukan yang sangat erat itu. Hyo Jin menjauhkan tubuhnya sejenak, ia menghapus air mata di kedua pipinya kemudian menatap kedua mata Jonghyun.

“Mianhae,”

“Ahni. Aku memang terlalu egois selama ini. Kau tidak perlu meminta maaf,” Jonghyun mengacak rambut gadis di depannya lalu tersenyum, “Mianhae, Song  Hyo Jin. Karena aku, kau ikut terjebak dalam masalah ini,”

“Ini masalah kita berdua, Jonghyun-ah. Bukan dirimu sendiri,”

Jonghyun tertawa pelan. Ia menggandeng lengan gadis itu dan dengan sedikit menariknya untuk melangkah keluar dari bandara, “Karena kau berpikiran seperti itu, jadi kita harus menyelesaikan masalahnya berdua,”

***

Sebuah meja bundar yang terletak di ruangan rapat itu tampak terisi oleh tiga manusia yang tengah bersitegang. Salah satu wanita yang duduk disana hanya bisa menundukkan kepala, meremas kedua tangannya karena merasakan kegugupan yang amat sangat. Sesekali ia melirik laki-laki paruh baya yang duduk berhadapan dengannya. Ia tidak bisa melakukan apapun sekarang, selain mendengar perselisihan antara dua orang laki-laki di ruangan itu.

“Aku mencintai Hyo Jin. Kenapa kau masih tetap bersikeras memisahkan kami ?” tanya Jonghyun, masih sedikit menjaga kesopanan dalam bicaranya. Bagaimana pun, ia tengah berhadapan dengan salah satu CEO SM Entertainment dan sudah membantu karirnya selama ini.

“Karena gadis ini selalu mengganggu konsentrasimu, Kim Jonghyun. Kau tidak pernah sadar ? Setiap latihan kau selalu mencuri waktu dan kabur untuk bertemu dengannya. Atau ketika rapat besar dengan semua artis SM, kau satu-satunya yang tidak hadir karena merawat –kekasih tercintamu yang tengah sakit. Ah iya satu lagi. Saat Gayo Daejun kemarin, bisa-bisanya kau pergi tepat sebelum naik ke atas panggung hanya karena gadis ini. Masih banyak kesalahan dan pelanggaran yang kau buat karena gadis ini bukan ?” tutur Youngmin sontak membuat Hyo Jin mengangkat kepalanya dan menatap Jonghyun heran.

Hyo Jin tidak pernah tahu Jonghyun rela melakukan hal seperti itu untuknya. Ketika mereka bertemu, atau bahkan ketika Jonghyun datang ke apartemennya karena ia sakit waktu itu, Jonghyun hanya mengatakan sedang mendapat waktu libur. Dan sesekali beralasan tidak ada schedule. Sungguh. Ia tidak pernah tahu Jonghyun banyak berkorban untuknya selama ini. Bahkan ketika Youngmin mendatanginya seminggu yang lalu untuk membahas perjanjian –yang paling dibencinya itu, ia hanya mengatakan agar karir Jonghyun semakin membaik dan tidak mengatakan apapun tentang hal ini.

“Hyo Jin tidak pernah tahu tentang hal ini. Semua yang kulakukan bukan salah Hyo Jin sama sekali. Aku yang terlalu mencintainya dan rela melakukan apapun agar bisa bertemu dengannya walau hanya sebentar. Dan tentang ancamanmu waktu itu, Youngmin sajangnim. Kalau aku keluar dari SHINee adalah satu-satunya jalan untuk bersama Hyo Jin, aku akan melakukan itu semua,” balas Jonghyun lebih kepada mengancam Youngmin.

Fine. Itu keputusanmu sendiri, Jonghyun-ssi. Aku jadi tahu kau ternyata tidak lebih dari seorang laki-laki pengecut yang lari dari tanggung jawab. Jangan lupa kontrak yang kau tanda tangani sebelum debut bersama SHINee. Tanggung jawabmu sangat besar disini,” ujar Youngmin seraya menatap Hyo Jin dengan penuh penekanan. Seolah-olah keputusan berada di tangan gadis itu sekarang.

Hyo Jin kembali menundukkan kepalanya. Ia seperti menjadi tersangka utama dari semua permasalahan Jonghyun sekarang. Atau mungkin ia memang menjadi tersangka dari semuanya. Ia yang sudah membuat Jonghyun selalu kabur dari latihan, tidak pernah menghadiri rapat, berbohong pada SM, dan sekarang akan keluar dari SHINee karena dirinya juga. Ia tidak bisa mementingkan keegoisannya sekarang. Ia sangat ingin tetap berada di samping Jonghyun. Namun dengan kehadirannya disana, sama saja ia membawa kehancuran pada karir laki-laki itu. Dan juga membawa kehancuran untuk keluarganya sendiri.

“Hyo Jin-ah,” gumam Jonghyun pelan seraya menggenggam tangan Hyo Jin dengan erat.

“Aku yang akan mundur dari masalah ini. Jonghyun akan tetap di SHINee dan aku akan pergi dari kehidupannya. Apa semua masalah ini selesai ?” tanya Hyo Jin, melepaskan genggaman tangan Jonghyun dan mengangkat kepalanya untuk menatap Youngmin.

“Ya~, neo wae irae ?” tanya Jonghyun merasa tidak terima dengan semua keputusan Hyo Jin, “Youngmin sajangnim, apa tidak ada solusi lain ?”

“Kau sudah pernah berjanji sebelumnya tentang masalah ini. Tapi kau tetap melakukannya dan menghiraukan semua peringatan dariku. Aku tidak bisa memegang janjimu lagi kali ini, Jonghyun-ssi,” balas Youngmin membuat Jonghyun menahan napasnya sejenak. Ia telah membuat kesalahan dulu, dan sekarang berimbas padanya sendiri. Ia harusnya dulu menepati janji untuk tidak kabur lagi dari latihan hanya untuk menemui Hyo Jin. Dan sekarang Jonghyun tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia tidak mungkin bisa melepas Hyo Jin.

Tiba-tiba saja Jonghyun berdiri dari duduknya. Ia mengitari meja itu untuk berdiri di dekat Youngmin. Hyo Jin sempat membulatkan kedua matanya ketika Jonghyun mengepalkan kedua tangannya. Jonghyun tidak mungkin memukul Youngmin bukan ?

“Jonghyun-ah, kau – Astaga !” Hyo Jin menutup mulutnya sesaat setelah melihat kejadian di depannya. Jonghyun tengah berlutut di samping Youngmin sekarang. Laki-laki itu menundukkan kepalanya dan menggumamkan sesuatu yang tidak terlalu bisa didengar Hyo Jin.

“Aku akan melakukan apapun untuk menebus semuanya. Tapi tolong, jangan suruh Hyo Jin untuk pergi dan jangan melibatkan keluarga Hyo Jin juga. Chebalyo, sajangnim-i,” mohon Jonghyun.

Youngmin menghela napasnya sejenak. Mungkin ia sedikit keterlaluan karena memperlakukan Jonghyun seperti ini. Tapi sungguh, Jonghyun adalah salah satu ‘anak emas’nya. Dan ia harus tetap mempertahankan itu, agar prestasi Jonghyun tidak turun dan tetap menurutinya seperti dulu lagi. Karir Jonghyun benar-benar berada di ujung tanduk sekarang karena kecerobohannya sendiri. Ia berpikir, mungkin dengan menyingkirkan Hyo Jin  yang selalu menjadi beban pikiran Jonghyun, laki-laki itu akan kembali focus pada pekerjaannya. Namun sepertinya ia salah besar. Jonghyun bukannya semakin focus, malah semakin hancur akhir-akhir ini.

“Kurasa ada hal yang harus kau lakukan. Aku harap ini yang terbaik untukmu,”

***

Langit kota Moscow belum juga berhenti menumpahkan persediaan airnya sejak tadi pagi. Seorang wanita tampak mengerucutkan bibirnya dengan kesal karena menunggu hujan yang tak kunjung berhenti, ia sudah di dalam perpustakaan kota sekarang dan tidak bisa pergi kemanapun. Seharusnya ia menuruti apa saran ibunya untuk membawa payung. Dan sekarang ia yang menyesal karena menghiraukan perkataan ibunya.

Tatapan gadis itu kini tertuju pada layar TV plasma yang terpampang di sebuah toko elektronik di seberang jalan. Dari tempatnya duduk dekat jendela perpustakaan, ia bisa melihat dengan jelas semua yang diputar dalam TV plasma itu. Samar-samar –dari sela-sela headset yang tengah dipakainya, ia bisa mendengar bisikan sekumpulan wanita yang duduk di belakangnya. Walaupun tidak terlalu mahir berbahasa Rusia, ia tahu apa yang tengah dibicarakan sekumpulan wanita itu.

“Aigoo~, apa mereka sangat terkenal di seluruh dunia sekarang? Video klip mereka sudah diputar di setiap siaran TV Rusia sekarang,” gumam Hyo Jin seraya menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum simpul kemudian kembali menatap TV plasma besar itu diluar sana. Rasanya ia ingin lari ke Korea sekarang juga karena melihat wajah itu.

Hyo Jin menutup buku yang tengah dibacanya –sejak tadi pagi lalu berjalan menuju sebuah rak untuk mengembalikan buku itu ke dalam tempatnya. Ia merogoh sebuah tas slempang kecil yang dipakainya, mengambil ponsel Galaxy S2 miliknya kemudian melihat beberapa pesan masuk dan juga panggilan tidak terjawab. Baru saja ia akan menggerutu, namun niatnya itu terhenti ketika melihat sebuah panggilan masuk. Hyo Jin tersenyum lebar kemudian mengangkat video call itu.

“Oh, Jonghyun-ah,” pekik Hyo Jin, melambaikan tangannya pada video Jonghyun di seberang sana. Jonghyun tersenyum lebar lalu ikut melambaikan tangan pada kamera.

“Aah, jinjja bogoshipeo, chagiya~,” ujar Jonghyun dengan nada merajuk membuat Hyo Jin memutar bola matanya karena geli. Hyo Jin membetulkan letak headset di telinganya lalu kembali menatap layar ponselnya, menatap Jonghyun yang juga tengah menatapnya sekarang.

“Kau tidak merindukanku, eh ?” tanya Jonghyun balik. Hyo Jin menggelengkan kepalanya, sontak membuat Jonghyun memajukan bibirnya kesal.

“Tidak salah lagi, tuan Kim Jonghyun. Kau tidak tahu bagaimana aku disini huh ?! Kupingku panas mendengar mereka semua memujimu di video klip terbaru SHINee,” gerutunya. Hyo Jin bisa melihat dengan jelas bagaimana Jonghyun terkiki geli disana.

“Kapan kau pulang ke Korea ? Aku ingin memelukmu, nae Hyo Jin-ah,”

“Molla. Eomma dan appa masih membutuhkanku untuk mengurus perusahaan,” Hyo Jin terdiam sesaat kemudian berdehem pelan, “Aku juga,”

“Wooah, kau ingin dipeluk juga ? Apa aku perlu terbang ke Rusia sekarang juga ?” gurau Jonghyun membuat sebuah kekehan keluar dari mulut Hyo Jin.

“Aniyo. Aku khawatir tentang perjanjian kita dengan Youngmin sajangnim setahun yang lalu. Apa kau baik-baik saja ?” tanya gadis itu. Rasa senangnya itu tiba-tiba saja berubah ketika melihat perubahan ekspresi Jonghyun.

“Keurae !” teriakan antusias Jonghyun berhasil membuat Jonghyun sedikit terlonjak, “Dia lebih memperhatikanku dan SHINee sekarang. Dia membuat SHINee lebih banyak promosi diluar Korea. Walaupun sangat melelahkan, tapi impianku sudah hampir tercapai Hyo Jin-ah,”

“Jinjja ? Aku senang mendengarnya,” Hyo Jin tersenyum simpul lalu menghapus air mata –yang entah sejak kapan sudah mengalir dari kedua matanya.

Entah bagaimana mengungkapkan perasaan Hyo Jin kali ini. Ia sangat senang dan juga sedih dalam waktu yang hampir bersamaan. Senang karena Jonghyun hampir meraih impiannya bersama SHINee. Dan sedih karena ia harus berpisah dengan Jonghyun untuk sementara.

Ya, setahun yang lalu ketika membicarakan tentang masa depan Jonghyun, Youngmin memutuskan untuk mengirim Hyo Jin sementara ke Rusia. Hanya untuk membuat Jonghyun semakin focus untuk comeback SHINee dan juga tour asia pertama mereka.  Walaupun Jonghyun sempat menolak, Hyo Jin tetap memaksa laki-laki itu untuk menerima perjanjiannya. Setidaknya hanya itu yang bisa mereka lakukan, agar keduanya tidak dirugikan. Lagipula hanya berpisah untuk sementara.

“Chagiya ? Kau melamun ?” tanya Jonghyun, membuyarkan seluruh lamunan masa lalu Hyo Jin. Gadis itu kembali menatap layar ponselnya kemudian menggeleng.

“Ah, sudah dulu. Aku harus keluar dari perpustakaan sekarang, hujannya sudah berhenti,” ujar Hyo Jin. Tanpa menunggu balasan dari Jonghyun, ia segera menekan tombol merah –untuk mematikan telepon. Hyo Jin menghela napas sejenak sebelum beranjak keluar dari perpustakaan itu.

***

Hyo Jin mulai melangkah memasuki halaman rumahnya, melewati sebuah pagar kecil dan menelusuri jalan setapak menuju pintu rumah. Ia menghentakkan kakinya untuk menghilangkan air di bawah sepatunya kemudian sedikit menaiki tangga untuk sampai di teras. Ia memutar kenop pintu lalu melangkah masuk. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat seluruh rumahnya dalam keadaan gelap. Seluruh lampu dimatikan, jendela pun di tutup dan membuat keadaan di rumahnya sangat gelap.

“Ah, kemana para pelayan itu ?” gerutu Hyo Jin seraya meraba tembok di dekat tempatnya berdiri untuk mencari saklar lampu.

CKLEK

Nae sarangi jerariro oji mothago

Heulin nunmul mankeum molli ganeyo

Naneun ijoya hajyeo, geudae neomu geuriwo

Nareul apeuge haljineun mollado, ijoyo

 

Lagu Miss You milik S.M. The Ballad itu tiba-tiba saja memenuhi rongga pendengaran Hyo Jin. Entah hanya halusinasinya saja atau tidak, tapi ia melihat Jonghyun berdiri di hadapannya sekarang. Suara menghanyutkan –yang sudah tidak lama didengarnya berasal dari pita suara milik laki-laki itu. Hyo Jin hanya bisa mengerjapkan kedua matanya saat Jonghyun semakin mendekat dan berdiri di depannya.

“Saengil chukhahamnida, Song Hyo Jin,” gumam Jonghyun seraya mengusap pelan puncak kepala Hyo Jin.

“Jonghyun ?” tanya Hyo Jin masih tidak percaya dengan kehadiran laki-laki itu. Ia masih saja sibuk berpikir ketika Jonghyun tiba-tiba memeluknya.

“Ini bukan khayalanmu, Hyo Jin-ah. Happy Birthday. Sebuah kejutan untuk kado ulangtahunmu hari ini,” balas Jonghyun membuat seulas senyum muncul di bibir Hyo Jin. Gadis itu mengeratkan pelukannya, sambil berusaha menahan air mata yang siap meluncur keluar. Ia tidak tahu bagaimana cara mengutarakan perasaannya sekarang.

Beberapa saat kemudian keduanya sudah duduk di sofa. Duduk bersebelahan dan saling menatap satu sama lain. Jonghyun tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain menelusuri setiap lekuk wajah –wanita yang sangat dirindukannya itu. Ia hanya mau melihat wajah itu untuk sekarang ini.

“Kenapa kau tidak bilang saat menelepon tadi ? Aku kan bisa siapkan sesuatu untuk menyambutmu, bodoh,” ujar Hyo Jin.

“Kau yang bodoh. Hari ulang tahun sendiri tidak ingat. Kalau aku memberitahunya, tidak jadi kejutan, Song Hyo Jin,” balas Jonghyun sedikit mengejek.

“Ah ne,”

Jonghyun menyeringai pelan lalu mengacak rambut gadis itu. Selama satu tahun berpisah ternyata tidak mengubah Hyo Jin menjadi lebih dewasa. Seorang Song Hyo Jin tetap sama seperti dulu. Dan yang membuat Jonghyun semakin senang, gadis itu tetap mempertahankan hubungan mereka walaupun dipisahkan jarak yang sangat jauh.

“Ayo pulang,” ajak Jonghyun tiba-tiba. Hyo Jin mengernyit dan siap membuka mulut untuk bertanya, tapi Jonghyun sudah kembali memotongnya, “Youngmin sajangnim sudah mengizinkannya,”

“Aniya,” Hyo Jin menundukkan kepala seraya meremas tangannya, “Appa dan eomma. Aku belum bisa meninggalkan mereka,”

“Aku sudah meminta izin pada mereka tadi. Kau boleh pulang ke korea lagi,” jawaban Jonghyun sontak membuat Hyo Jin kembali mengangkat kepalanya.

“Jinjja ?”

“Ne. Tapi mereka memberiku satu syarat untuk bisa membawamu kesana,” Jonghyun melebarkan senyum lalu mendekatkan wajahnya.

“Ya~, mwohae ?!” seru Hyo Jin seraya mendorong kepala Jonghyun menjauh. Jantungnya hampir saja meloncat keluar karena hal itu. Ia paling benci ketika jantungnya berdetak tidak karuan karena ditatap Jonghyun dalam jarak yang sedekat itu.

“Kita harus menikah,”

“NE ?!”

“Ah, jinjja. Kenapa ekspresimu berlebihan, chagiya. Apa salahnya kita menikah ?” tanya Jonghyun, mengusap kupingnya yang tiba-tiba berdengung karena teriakan gadisnya.

“S-sirho. A-aku belum siap. Kau gila ? Aku juga belum mau berurusan dengan Kim Youngmin lagi,” jawab Hyo Jin, melipat tangannya di depan dada dan memalingkan wajahnya ke arah lain.

Sedetik kemudian Jonghyun malah terbahak. Laki-laki itu tertawa dengan sangat keras sembari memegangi perutnya. Ia tidak tahan melihat ekspresi Hyo Jin yang sangat panik seperti tadi. Ia segera mengacak rambut gadis itu.

“Wajahmu memerah. Waeyo ? Kau pasti membayangkan hal yang aneh-aneh ‘kan ?” goda Jonghyun. Hyo Jin menoleh dengan cepat kemudian memukul kepala Jonghyun dengan bantal sofa yang berada di dalam pelukannya.

“Neo jinjja !”

“Ya! Hyo Jin-ah. Aku hanya bercanda,” ucapan Jonghyun berhasil memberhentikan pukulan Hyo Jin  yang semakin mem-babibuta itu. Hyo Jin mengerutkan keningnya lalu mencubit lengan Jonghyun dengan sangat keras.

“YAA~! appoyo,” pekik Jonghyun seraya mengusap lengannya yang berdenyut.

“Itu tidak lucu, Kim Jonghyun,” balas Hyo Jin dengan memasang ekspresi datarnya.

“Tapi orangtuamu benar-benar memberikan syarat. Tidak sampai menikah sih, tapi aku harus menjagamu disana. Apa bedanya dengan menikah ?” tanya Jonghyun lagi dan membuat wajah Hyo Jin kembali memerah.

“Berhenti menggodaku ! Aku tidak akan pulang ke Korea kalau kau tetap seperti ini,”

“Baiklah, aku berhenti. Jadi sekarang, bereskan bajumu dan kita pulang,” ajak Jonghyun, menarik lengan Hyo Jin untuk berdiri dari sofa.

Dengan sedikit enggan Hyo Jin bangkit dari sofa. Ia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua dengan Jonghyun mengikuti di belakangnya. Hyo Jin tiba-tiba berbalik, membuat Jonghyun menghentikan langkahnya.

“Tunggu di ruang tamu,”

“Baiklah,”

Hyo Jin dengan setengah berlari memasuki kamarnya. Segera setelah menutup pintu kamar, Hyo Jin terduduk di belakang pintu. Ia memegangi dadanya yang berdetak tidak karuan sejak bersama Jonghyun tadi. Laki-laki itu berhasil membuat darahnya berdesir tidak karuan. Satu tahun tidak bertemu membuat jantung Hyo Jin tidak bisa menyesuaikan lagi dengan semua tingkah pervert Jonghyun.

Tapi sungguh, Hyo Jin merasa sudah hampir mati karena bahagia saat itu. Ia tidak menduga bahwa Jonghyun akan datang ke Rusia hanya untuk memberi kejutan ulang tahun dan menjemputnya. Ia merasa beruntung bisa memiliki Jonghyun. Laki-laki itu sangat sempurna bagi Hyo Jin. Terlalu sempurna bahkan. Seorang Kim Jonghyun pasti memiliki banyak fans dan selalu dikelilingi wanita cantik. Tapi Tuhan sudah menuliskan takdir, bahwa Jonghyun akan bersamanya. Entah kebersamaan itu akan berlangsung selamanya atau tidak. Tapi Hyo Jin hanya berharap, semua kebahagiaan yang diterimanya ketika bersama Jonghyun tidak akan berakhir. Ia sangat ingin tetap bersama Jonghyun sampai akhir hidupnya.

[Believe in Love End]

5 thoughts on “[FanFict] Believe in Love (2nd Part – End)

  1. Waaaaaaw ..
    Endingnya bagus banget unnie😀
    Ak suka kkkkk ~
    Gak biasa banget endingnya wkwkwkwk ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s