Believe in Love (1st Part)

Title    : Believe in Love

Author  : Ima Shineewolrd (@bling0320)

Cast       : Kim Jonghyun, Song Hyo Jin

Genre   : Sad, Romance, Friendship

Rating   : Teen

Length  : Two Shots

[Believe in Love] [1st Part]

Entah sudah ke berapa kalinya gadis itu menaik-turunkan slide ponselnya. Ia, Song Hyo Jin, menggerutu kesal ketika seluruh pesan yang dikirim tidak mendapat balasan apapun. Begitu juga dengan panggilan yang dilakukannya, tidak dijawab sama sekali. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya yang sudah terasa hampir beku karena terlalu lama menunggu. Haruskah ia menunggu selama 2 jam lagi disana, setelah hampir satu jam duduk di tengah taman dengan udara sedingin itu ?

Kepulan asap yang keluar dari mulut Hyo Jin sangat terlihat jelas. Langit malam yang gelap benar-benar menemani kesendiriannya saat itu.

Hanya tinggal menghitung menit sebelum hari ulang tahunnya. Dan ia tidak mau tahun ini, melewatkan hari ulang tahun dengan sendirian ‘lagi’. Laki-laki itu sudah berjanji untuk menemani ia melewati detik-detik menuju kedewasaannya. Namun sepertinya laki-laki itu sangat tidak tertarik dengan apa yang diinginkannya dan sibuk dengan dunianya sendiri.

Mungkin harusnya Hyo Jin tidak pernah berharap pada seorang laki-laki seperti itu. Seorang laki-laki yang pasti tidak akan bisa menemani atau bahkan hanya mengirim pesan padanya. Yang selalu sibuk dengan dunia ‘gemerlap’nya dan dikelilingi ribuan wanita. Berkali-kali Hyo Jin harus menghela napas karena melihat berita, gossip, atau video kekasihnya itu. Helaan napas yang menandakan kesal, cemburu, dan juga kerinduan.

Kim Jonghyun.

Terkadang Hyo Jin merasa lelah dengan semua hal itu. Ia sangat ingin mundur dari permainan cinta bersama seorang idola seperti itu. Namun bukan seharusnya gadis itu yang kalah. Jonghyun yang akan merasa kalah jika nanti Hyo Jin benar-benar meninggalkannya. Mencari satu diantara ribuan fansnya, Jonghyun tidak akan pernah bisa menemukan wanita seperti Hyo Jin lagi.

Entah Jonghyun menyadarinya atau tidak. Hyo Jin merasa laki-laki itu semakin berubah akhir-akhir ini. Komunikasi yang terjadi hanya sekedar mengirim pesan. Tidak ada saling menelepon dan mengungkapkan rasa rindu seperti biasanya. Apa Jonghyun tidak pernah tahu bagaimana perasaannya ? Mendengar suara laki-laki itu saja sudah seperti oksigen baginya. Waktu yang sempit dan terbatas, membuat keduanya sangat jarang bertemu. Satu bulan sekali pun Hyo Jin sudah merasa sangat beruntung.

***

Suara dering ponsel membuyarkan lamunan gadis itu. Hyo Jin menatap layar ponselnya seraya tersenyum lebar. Setelah menunggu lama, akhirnya laki-laki itu memberi kabar juga. Sekarang ia hanya berdoa semoga itu bukan sebuah kabar buruk.

“Ya ! Kau dimana ?” pekik Hyo Jin setelah ponsel itu menyentuh daun telinganya, tanpa mengucapkan salam basa-basi.

Hyo Jin-ah, maaf. Sepertinya aku tidak bisa datang,

Ucapan laki-laki itu benar-benar membuat jantung Hyo Jin berhenti berdetak beberapa saat. Sudah hampir dua jam ia menunggu dan Jonghyun baru memberinya kabar sekarang ? Namun bukan hal itu yang terpenting. Hyo Jin paling benci pada seseorang yang selalu mengingkari janji. Dan ini bukan pertama kalinya Jonghyun mengingkari janji yang sudah dibuat.

Hyo Jin berusaha menahan rasa kesal yang mengganjal kerongkongannya saat ini. Jika berbicara sedikit saja, rasa kesal itu akan berubah menjadi air mata yang sulit untuk diberhentikan. Ia hanya diam dan tidak membalas sahutan Jonghyun di seberang sana.

Chagiya ? Kau masih disana ?

“Berhenti memanggilku seperti itu, Kim Jonghyun. Mulai malam ini aku bukan milikmu lagi,”

Song Hyo Jin ?! Kau . . .

Tanpa menunggu ucapan Jonghyun selesai, Hyo Jin segera melepas baterai ponselnya lalu memasukkan ponsel –yang sudah mati itu ke dalam tas. Dadanya sungguh terasa sesak sekarang. Air mata sudah keluar dari kedua matanya dan sudah berubah semakin deras hanya dalam waktu beberapa waktu saja.

“Dasar bodoh. Kenapa kau menangis karena laki-laki seperti itu ? Masih banyak laki-laki yang lebih baik darinya, Song Hyo Jin,” gadis itu menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan-lahan, “Ini kado terindah ulang tahunmu bukan ? Bisa terbebas dari predikat kekasih seorang idola dan ancaman fans-fansnya,”

Tepat setelah mengatakan hal itu, setitik salju jatuh mengenai hidung Hyo Jin. Gadis itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya lalu tersenyum samar. Ia menghapus sisa air mata di pipinya dengan lembut dan menatap langit yang semakin banyak menurunkan butiran-butiran salju.

“Selamat ulang tahun, Song Hyo Jin,”

Salju pertama tepat di hari ulang tahunnya. Hyo Jin memejamkan mata rapat-rapat, mengatupkan kedua tangannya dan membuat sebuah permohonan. Ia hanya berharap yang terbaik untuk hidupnya nanti.

***

Suara kicauan burung membangunkan tidur lelap Hyo Jin pagi itu. Dengan malas, Hyo Jin membuka kedua matanya yang masih saling melekat satu sama lain. Menangis semalaman berhasil membuat kedua matanya sudah seperti lem sekarang. Menangisi seorang laki-laki –yang mungkin bahkan tidak memikirkannya sama sekali.

Dengan gontai Hyo Jin menuruni tempat tidur lalu berjalan keluar kamar. Ia membuka kulkas dan meneguk sebotol air dingin untuk membasahi kerongkongannya. Sungguh, kerongkongannya terasa sangat kering akibat menangis semalam.

Tepat saat menutup kulkas, Hyo Jin terpaku pada foto-foto yang tertempel di pintunya. Ia menurunkan bagian atas botol yang masih menempel di mulutnya kemudian tersenyum samar. Seluruh foto-foto polaroidnya bersama Jonghyun selama hampir 2 tahun ini. Ia segera menaruh botol minumnya ke atas counter dapur lalu mencabuti semua foto itu. Meremasnya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, hidup harus tetap berjalan dan ia akan melupakan kenangan buruk itu secepat mungkin.

“Baiklah, lupakan semuanya Song Hyo Jin,”

Hyo Jin menatap ke seluruh sudut apartemennya. Sendirian tentu saja. Ia tinggal hanya seorang diri di Seoul, berpisah dari kedua orangtuanya yang bekerja di luar negeri. Ia memutuskan untuk hidup mandiri di tanah kelahirannya. Dan yang membuatnya sedih adalah, kedua orangtuanya bahkan tidak mengucapkan apapun di hari ulangtahunnya itu. Atau sepertinya, mereka tidak ingat mempunyai anak yang tinggal di Korea.

“Hidupmu sangat menyedihkan,”

Hyo Jin beralih menuju ruang TV, mengambil remote dan menyalakan TV plasma berukuran besar di hadapannya. Baru saja ia memindahkan channel, moodnya benar-benar berubah secara drastis ketika melihat sebuah acara. Tanpa berniat menontonnya, Hyo Jin segera mematikan TV itu kembali.

“Dia ada dimana-mana, eh ?”

Hyo Jin mendengus kesal saat sadar tidak ada yang bisa dilakukannya. Biasanya ia akan menyalakan TV dan mencari acara yang menampilkan Jonghyun. Karena tidak bisa bertemu setiap hari, ia hanya bisa memandangi dari kejauhan, memantau dan hanya bisa mengetahui keadaan laki-laki itu dari internet.

Hyo Jin baru saja akan melangkah memasuki kamar ketika mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia kembali menutup pintu yang sudah sedikit terbuka itu dan beralih menuju pintu depan. Tanpa melihat siapa yang datang melalui layar didekat pintu, ia sudah membuka pintunya dalam satu kali tarikan.

Tidak ada yang bisa dilakukan Hyo Jin sekarang . Ia hanya diam terpaku di depan pintu seraya menatap seorang laki-laki di hadapannya. Setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Hyo Jin membungkuk pada laki-laki itu.

“Jinki-ssi, silakan masuk,”

Laki-laki yang dipanggil Jinki olehnya itu tersenyum kecil kemudian melangkah masuk ke dalam apartemen. Hyo Jin menghela napas panjang sebelum menutup pintu apartemennya kembali. Jika seorang Lee Jinki –sang leader itu datang ke apartemennya, pasti ada hubungannya dengan Jonghyun.

“Kau mau minum apa ?” tanya Hyo Jin berusaha mencairkan suasana seraya merapikan sofa yang baru saja didudukinya tadi.

“Tidak perlu. Aku tidak akan lama-lama,” Jinki kembali tersenyum lembut dan duduk di sofa setelah dipersilakan oleh gadis itu.

Hyo Jin mengangguk lemah kemudian duduk di bagian sofa lainnya. Ia mencoba mengalihkan pandangan pada suatu benda –daripada harus balas menatap Jinki.

“Kau bisa datang ke dorm kami ?” tanya Jinki tiba-tiba, membuat Hyo Jin sontak menoleh dan mengernyit.

“Dorm SHINee ? Waeyo ?” balas Hyo Jin. Sepertinya hal ini benar-benar menyangkut Jonghyun.

“Jonghyun tidak mau bangkit dari kasurnya. Kami harus rehersal untuk Gayo Daejun nanti malam,”

“Apa hubungannya denganku ?” tanya Hyo Jin heran.

“Semalaman dia menangis karena putusnya hubungan kalian dan sekarang masih tidak mau bangkit dari tempat tidur. Aku pikir hanya kau yang bisa membuatnya lebih baik,” jelas Jinki. Hyo Jin menghela napas panjang. Sikap Jonghyun masih saja sama seperti seorang anak berumur 5 tahun yang baru saja kehilangan mainan.

“Tidak ada pilihan lain bukan ?”

Hyo Jin hanya akan menjelaskan kenapa ia memutuskan hubungan itu. Hanya akan menjelaskan dan memberitahu semua alasan kenapa hubungan mereka harus berakhir. Jonghyun harus mulai hidup tanpanya.

***

Suasana dorm yang hangat akhirnya bisa Hyo Jin rasakan kembali. Sudah beberapa bulan terakhir ia tidak pernah memasuki asrama berisi lima laki-laki itu. Key masih sama seperti sebelumnya –menjadi seorang umma yang sibuk mengurusi 4 laki-laki lainnya. Taemin yang masih bersikap polos, namun sudah berubah menjadi sedikit manly dan tampan tentu saja. Minho yang masih sama tampan –seperti saat ia bertemu pertama kali atau mungkin bertambah tampan.

“Kau harus hati-hati, noona. Jonghyun hyung selalu melempar barang-barang ke arah pintu kalau tahu kami masuk ke dalam kamarnya,” seru Taemin memperingati sebelum Hyo Jin meraih gagang pintu kamar Jonghyun.

“Aku mau mengambil baju tadi, tapi melihatnya seperti itu aku akan berpikir dua kali,” sahut Key –yang notabene teman satu kamar Jonghyun. Hyo Jin memperhatikan ekspresi Jinki dan Minho yang sama khawatirnya.

“Semoga saja dia tidak melempar botol parfumnya padaku,” balas Hyo Jin sedikit bergurau. Tapi tidak ada yang menunjukkan sedikit senyum pun atas gurauannya tadi, “Kalian tidak perlu tegang seperti itu. Aku masuk sekarang,”

Hyo Jin memutar gagang pintu itu kemudian membuka pintunya sedikit. Mengintip melalui celah dan melihat apa yang tengah dilakukan Jonghyun. Beruntung laki-laki itu sedang memakai headset, bersandar pada punggung tempat tidur, memejamkan mata, dan terlihat sangat menyedihkan jika boleh jujur. Hyo Jin bisa melihat bagaimana sisa air mata di pipi Jonghyun dan kedua mata yang membengkak.

Perlahan Hyo Jin mulai melangkah masuk ke dalam kamar Jonghyun. Ia berdehem sebentar sebelum menutup pintu kamar itu dengan sangat keras. Terdengar suara ringisan kecil dari Jonghyun.

“Pergi dari kamarku sebelum i-pod yang kupegang terbang ke arah kalian,” seru Jonghyun masih sambil memejamkan matanya.

“Ada yang harus kita selesaikan,”

Jonghyun segera membuka headset dan kedua matanya. Ia menatap tidak percaya ke arah Hyo Jin yang masih berdiri di belakang pintu. Laki-laki itu beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah dengan sangat pelan ke hadapan Hyo Jin. Sebuah senyuman lembut muncul di bibir Jonghyun. Sesaat kemudian tubuh Hyo Jin sudah berada dalam dekapannya.

“Kau hanya bercanda semalam, ‘kan ?” tanya Jonghyun, berusaha mengubah kenyataan yang ada. Walaupun Hyo Jin berontak dalam pelukannya, Jonghyun tetap tidak melepaskan kedua tangannya yang melingkari tubuh mungil gadis itu.

“Lepaskan aku, Jonghyun-ssi,”

Ucapan formal yang dikeluarkan oleh Hyo Jin membuat Jonghyun melepaskan pelukannya. Panggilan sayang yang biasa digunakan gadis itu sudah berubah.

“Kita sudah berakhir. Kenapa kau tidak bisa menerimanya ?” tanya Hyo Jin seraya menatap kedua mata sayu milik Jonghyun.

“Karena aku mencintaimu, Song Hyo Jin,” jawab Jonghyun tegas. Hyo Jin mendecak meremehkan lalu memalingkan wajah ke arah lain.

“Apa kau tega membiarkan –orang yang kau cintai itu menunggu di bawah udara dingin selama 2 jam ? Itu yang kau sebut cinta ?” tanya Hyo Jin dengan suara sedikit bergetar. Sebenarnya, ia sangat tidak ingin menangis di depan Jonghyun saat ini. Jika ia menangis sekarang, Jonghyun hanya akan menganggapnya sebagai seorang wanita lemah.

“Mianhae. Aku benar-benar tidak bisa datang,”

“Ini bukan pertama kalinya. Kau hampir tidak pernah menepati janji yang kau buat sendiri. Membuatku menunggu lama diluar sana dan pada akhirnya berakhir seperti tadi malam. Aku paling benci dengan orang yang tidak pernah menepati janjinya,” Hyo Jin mengangkat kepalanya lalu melihat ke langit-langit kamar Jonghyun agar air matanya tidak tumpah.

“Aku sudah mulai terbiasa dengan ponselmu yang tidak pernah bisa dihubungi. Seorang idola yang selalu mendapat job sepertimu pasti akan sangat sibuk dan sulit mendapat kesempatan hanya untuk membalas pesan dari kekasihnya,” tambah Hyo Jin, semakin menyudutkan Jonghyun. Gadis itu menarik napas dalam-dalam kemudian mengusap sudut matanya yang berair, “Aku hanya seorang gadis biasa, Jonghyun-ssi. Aku butuh seorang laki-laki yang bisa melindungiku. Bukan malah terancam karena fans-fansnya,”

Jonghyun merasakan kedua matanya kembali memanas ketika setetes air mata meluncur dari kedua mata gadisnya. Ia seharusnya tidak memaksakan Hyo Jin untuk tetap berada di sisinya. Ia tidak bisa memperhatikan dan melindungi gadis itu –seperti pasangan kekasih pada umumnya. Ia tidak bisa dipamerkan pada teman-teman Hyo Jin sebagai seorang kekasih. Ia tidak bisa menepati janji. Dan hal terpenting, hidup Hyo Jin terancam jika para fansnya tahu mengenai hubungan mereka.

“Masih banyak yang mencintaimu diluar sana. Teman-teman dan juga para fansmu.  Kehilangan satu orang yang mencintaimu tidak akan memberikan efek apapun,” lanjut Hyo Jin setelah terdiam beberapa saat.

Jonghyun memejamkan matanya kuat-kuat, ia segera mengenyahkan pikiran egoisnya yang kembali muncul, “Tapi kehilangan satu orang yang dicintai akan merubah sebagian hidupku,”  balas Jonghyun –sama seperti apa yang dipikirkan Hyo Jin saat itu.

“Masih banyak wanita yang lebih baik dariku. Berhenti bersikap kenak-kanakkan seperti ini. Kau harus bangkit, para fansmu pasti ingin melihat seorang Kim Jonghyun selalu tersenyum. Jangan karena masalah ini kau jadi menyedihkan seperti ini,”  Hyo Jin tersenyum ragu seraya menepuk kedua bahu Jonghyun.

“Bisa aku minta satu hal terakhir sebelum kau benar-benar pargi ?” tanya laki-laki itu. Hyo Jin berpikir sejenak, namun pada akhirnya mengangguk.

Tanpa mengucapkan apapun Jonghyun segera menarik Hyo Jin ke dalam pelukannya. Ia masih menangis terisak dan memeluk Hyo Jin dengan sangat erat.

“Maaf aku terlalu egois selama ini. Sangat sulit melepaskan seseorang yang sudah bersamaku selama dua tahun. Kalau tahu kau menderita bersamaku sejak awal, aku akan melepasmu. Jangan membenciku karena hal ini. Kita harus tetap berteman sampai kapan pun,” ujar Jonghyun, membuat setetes air mata kembali meluncur dari kedua mata Hyo Jin. Tidak. Jonghyun salah besar. Ia tidak pernah merasa menderita selama berpacaran dengan laki-laki itu.

“Aku . . . harus pergi sekarang, Jonghyun-ssi,” potong Hyo Jin.

Jonghyun mengangguk pelan lalu melepaskan pelukan itu. Ia menatap mata Hyo Jin sejenak kemudian menurunkan kedua tangannya dari pundak gadis itu. Ia akan melepaskan Hyo Jin, walaupun sangat sulit tentu saja.

“Selamat ulang tahun, Song Hyo Jin,” seru Jonghyun seraya mengacak rambut Hyo Jin lembut, “Tunggu disini, aku punya kado untukmu,”

Jonghyun beranjak menuju lemari kecil yang berada di dekat tempat tidurnya. Mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah yang tidak terlalu besar dihiasi pita kecil di atasnya. Hyo Jin mencoba mengatur napasnya ketika melihat hal itu. Bahkan Jonghyun masih sempat membelikannya hadiah.

“Jangan pernah membuang kado dariku, arachi ? Atau kau tidak akan bisa hidup tenang nantinya,” ancam Jonghyun. Hyo Jin tertawa pelan lalu menerima kotak itu.

“Aku akan simpan ini sebagai tanda pertemanan kita,”

Keduanya saling menatap satu sama lain dengan senyuman di bibir mereka. Sebuah senyuman yang menutupi bagaimana perasaan sakit di dalam hati keduanya. Hyo Jin tidak pernah menghapus perasaan cintanya pada Jonghyun sedikit pun. Bahkan ketika mereka berpisah seperti sekarang. Namun hanya berpisah yang menurutnya jalan terbaik untuk saat ini.

“Kau harus ikut rehersal bersama yang lain. Pikirkan fansmu juga, Jonghyun-ssi,” titah Hyo Jin sebelum keluar dari kamar laki-laki itu. Jonghyun hanya menjawab dengan sebuah anggukan lemah.

Hyo Jin membuka pintu dan beringsut keluar dari kamar Jonghyun. Tepat ketika keluar dari sana, ia menemukan Jinki, Key, Minho, dan juga Taemin tengah duduk di sofa. Tatapan keempat laki-laki itu langsung tertuju padanya. Jinki yang pertama bangkit dan berjalan menghampirinya.

“Otte ?” tanya Jinki khawatir. Hyo Jin hanya tersenyum simpul.

“Kalian tenang saja. Dia sudah kusuruh untuk ikut rehersal, apapun yang terjadi,” jawab Hyo Jin membuat keempat laki-laki itu tersenyum.

“Woah, jinjja ?” tanya Taemin antusias, “Daebak. Kau memang yang terbaik, noona,”

“Aku harus pulang sekarang. Annyeong,” Hyo Jin membungkuk singkat, menatap keempat laki-laki itu sejenak kemudian dengan bergegas keluar dari dorm. Ia berjalan dengan cepat menuju lift yang berada di ujung lorong gedung apartemen itu.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika Hyo Jin masih duduk di atas tempat tidur dan memandangi kotak hadiah yang diberikan Jonghyun. Ia belum berani membukanya sejak kembali dari dorm SHINee tadi.

“Baiklah. Aku harus membukanya sekarang,” gumamnya. Tangan kanannya meraih dengan perlahan kotak berwarna merah itu. Hyo Jin mulai membuka tutupnya dan sedikit mengernyit ketika hanya menemukan serpihan kertas yang menutupi seluruh bagian di dalam kotak. Hanya ada sebuah kartu ucapan kecil yang tergeletak diatas serpihan kertas-kertas itu.

Dengan sedikit ragu Hyo Jin menjulurkan tangannya, meraih kartu ucapan itu dan membacanya dengan seksama. Sebuah senyuman pahit muncul di bibirnya. Kata-kata yang ditulis Jonghyun itu membuat hatinya kembali tergoyahkan.

‘To : Naui yeoja, Song Hyo Jin

Happy birthday, honey ^^

Semoga kau menjadi lebih baik, semakin cantik, semakin setia, dan semoga di tahun selanjut dan selanjutnya kita bisa merayakan ulang tahunmu bersama-sama. Terima kasih karena kau sudah mau menjadi kekasihku selama ini. Kau selalu berada di sampingku bagaimana pun keadaannya. Kau adalah yang terbaik diantara yang terbaik lainnya. Semoga hadiah dariku ini akan membuatmu semakin mencintaiku, karena aku membuatnya dengan tanganku sendiri dan sepenuh hati  ^v^

Aku mencintaimu *kiss kiss kiss*

BIG HUG AND KISS FROM KIM JONGHYUN \ ( `3` ) /’

Hyo Jin mengusap kedua matanya dengan cepat sebelum air mata menetes dari sana. Sudah cukup ia menangis untuk Jonghyun selama seharian ini. Ia menaruh kartu ucapan itu di meja dan mulai mengeluarkan semua kertas yang menutupi hadiah utama dari Jonghyun. Jantungnya benar-benar mencelos ketika melihat hadiah itu.

Sebuah scrapbook yang berisi kenangan mereka berdua. Dimulai dari saat seorang Kim Jonghyun bertemu dengan gadis bernama Song Hyo Jin. Detik, jam, hari, sampai bulan yang mereka lewati bersama. Buku itu disusun sangat rapi, hiasan di setiap lembarnya memperkuat ingatan Hyo Jin tentang kejadian yang berada dalam foto itu. Terdapat juga beberapa foto random yang diambil Jonghyun saat gadis itu tengah melamun, marah, dan bahkan ketika tertidur juga. Hyo Jin tersenyum miris melihat semua foto yang berada di dalamnya.

Hyo Jin memeluk scrapbook itu dengan sangat erat. Hanya benda itu yang menjadi kenangan terakhirnya bersama Jonghyun. Ia kagum pada Jonghyun yang selalu berusaha membuatnya tersenyum ketika moodnya rusak karena pembatalan janji. Kagum pada sifat Jonghyun yang selalu memperhatikannya –walaupun terkadang dengan cara yang aneh. Jonghyun yang selalu bersikap kekanak-kanakkan dan sangat rapuh di dalamnya.

Dan masih dalam keadaan terisak, Hyo Jin mulai masuk ke alam bawah sadarnya. Ia terlelap. Perasaan dan fisiknya benar-benar lelah. Seluruh anggota tubuhnya tidak bisa bekerja dengan baik dan seluruh tenaganya benar-benar terkuras habis untuk menangis. Ia hanya berharap setelah bangun esok pagi, seluruh mimpi buruknya akan berakhir. Ia akan melupakan semua kenangannya bersama Jonghyun dan memulai lembaran baru.

***

Sebuah TV plasma berukuran besar yang berada di dalam ruang ganti itu tidak menarik perhatian Jonghyun sama sekali. Ia kini tengah duduk di sofa, menunggu member SHINee lainnya selesai menata rambut dan menunggu dipanggil untuk tampil di panggung. Ia kembali menghela napas panjang. Seolah setiap menit yang dilaluinya terasa sangat berat, tanpa kehadiran Hyo Jin di sisinya. Sekeras apapun ia mencoba untuk melupakan Hyo Jin walaupun hanya sebentar, perasaannya seolah menolak ia melakukan hal itu.

“SHINee, 5 menit lagi,” teriak salah satu kru, dijawab serempak oleh keempat member SHINee lainnya –terkecuali Jonghyun. Minho yang menyadari sikap Jonghyun segera beranjak dari kursi dan duduk di sofa. Ia menepuk pundak laki-laki itu, mencoba memberikan kekuatan.

“Anggap saja kau membebaskan dia dari sangkar, hyung. Terkadang keputusan yang kita pikir sangat buruk, akan menjadi sangat baik di mata orang lain,” ujar laki-laki bermata besar itu masih sambil menepuk kedua pundak hyungnya.

“Rasanya aku kesulitan bernapas sekarang. Tanpa Hyo Jin, seorang wanita yang selalu mendukungku setiap detiknya walaupun terpisah jarak yang jauh. Aku kehilangan oksigenku, Minho-ya,” balas Jonghyun seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan menatap langit-langit ruangan itu.

“Hyo Jin tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kalau kalian memang jodoh, Hyo Jin akan kembali,” Minho kembali menyemangati laki-laki yang lebih tua satu tahun darinya itu. Bagaimanapun keadaannya, Jonghyun harus tetap menjalani hidup.

“Ne, kau benar. Aku hanya laki-laki brengsek dan egois karena tetap menahan Hyo Jin di sisiku selama ini. Ia tidak bahagia, dan aku tidak menyadari itu,” Jonghyun menghela napasnya lagi lalu memejamkan kedua matanya rapat-rapat, mencoba menghalau air mata yang mendesak keluar dari sana. Ia tidak boleh menangis lagi.

“Kau sudah melakukan yang terbaik selama ini. Hyo Jin pasti cukup terpukul juga dengan keputusannya ini, tapi kau harus yakin dia pasti punya alasan yang kuat. Dia tidak akan memutuskan suatu hal tanpa memikirkannya matang-matang, kau tahu tentang itu, hyung,” jelas Minho, membuat Jonghyun malah benar-benar mengeluarkan air matanya. Jonghyun mengangkat tangannya, menghapus air mata yang sudah mengalir di pipinya saat itu. Ia menurunkan kepalanya dari sandaran sofa kemudian menoleh pada laki-laki yang duduk di sebelahnya.

“Gomawo, Minho-ya,” Jonghyun berdiri dari sofa kemudian menggerak-gerakkan tubuhnya, sekedar meregangkan otot karena sudah terlalu lama juga ia duduk disana.

“SHINee, bersiap di belakang di panggung sekarang,”

Kelima laki-laki itu mengangguk dan mulai meninggalkan kegiatan mereka masing-masing untuk bersiap perform acara akhir tahun. Baru saja Jonghyun akan melangkah keluar ruangan ketika sebuah tayangan berita di TV menarik perhatiannya. Ia kembali mundur memasuki ruang ganti, membesarkan volume TV itu, dan menyaksikan setiap gambar yang berputar di dalam berita.

Kebakaran. Dan yang membuat Jonghyun hampir terjatuh karena shock adalah, kebakaran itu melanda gedung apartemen Hyo Jin. Ia sangat ingat bagaimana bentuk gedung apartemen gadis –mantan gadisnya. Hampir setiap hari ia kesana –dulu sebelum benar-benar sibuk seperti sekarang. Tanpa memikirkan apapun lagi, Jonghyun segera berlari keluar ruangan itu. Ia tidak peduli teriakan melengking Key yang menyuruhnya untuk bersiap di belakang panggung. Ia tetap menerobos orang-orang untuk mencari pintu keluar.

***

Rasanya bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Diantara puluhan atau bahkan mungkin ratusan orang yang tengah panik menyelamatkan diri, Jonghyun berada disana. Berteriak seperti orang gila mencari satu nama. Api masih berkobar dan sudah melahap hampir sebagian gedung apartemen itu. Hawa panas yang ada tidak menyurutkan niat Jonghyun sama sekali. Ia tetap berjalan diantara kerumunan orang-orang, mencoba mencari Hyo Jin di dalam kepulan asap disana.

Rasa panik Jonghyun sudah mencapai puncak kepalanya. Ia sangat ingin melihat Hyo Jin sekarang. Hanya melihat wajahnya dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Dan setelah itu ia akan pergi, benar-benar meninggalkan Hyo Jin.

“Anakku masih didalam. Tolong aku,” suara tangisan –yang lebih pantas disebut jeritan itu menggema diantara kerumunan orang-orang yang tengah panik itu. Jonghyun menoleh dan menemukan seorang wanita paruh baya tengah menangis histeris seraya menatap seorang petugas kebakaran.

“Kami sudah pastikan tidak ada korban yang tertinggal di dalam. Mungkin anakmu ada diantara kerumunan orang-orang ini,” ucapan petugas pemadam kebakaran itu membuat perasaan Jonghyun sedikit lega. Hanya sedikit.

Jonghyun kembali berjalan dan kembali berteriak memanggil nama Hyo Jin. Langkah Jonghyun terhenti. Waktu serasa berputar dengan sangat lambat ketika melihat gadis itu. Song Hyo Jin, tengah terduduk di pinggir trotoar, menangis dengan wajah yang penuh debu. Di antara lipatan tangannya terdapat sebuah buku –yang Jonghyun tidak tahu apa itu. Baiklah, ia akan melupakan niat awalnya sejenak. Ia tidak akan setega itu untuk meninggalkan Hyo Jin sendirian tanpa tempat tinggal. Dengan setengah berlari ia menghampiri gadis itu.

“Hyo Jin-ah,” panggilnya membuat Hyo Jin mengangkat kepalanya.

“Jonghyun-ssi,” Hyo Jin berdiri dari duduknya seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya. Belum sempat ia membuka mulut, Jonghyun sudah menariknya ke dalam pelukan laki-laki itu. Dan tanpa bisa dicegah lagi, ia kembali menangis.

“Aku takut, Jonghyun-ssi. Api, panas, asap, semuanya membuatku takut,” isak Hyo Jin. Jonghyun mengangguk, mengerti dengan semua yang dikatakan Hyo Jin. Ia mengusap pelan kepala gadis itu, mencoba menyalurkan ketenangan lewat sana.

“Selama masih ada aku di dunia ini, kau tidak akan meniggalkan dunia ini juga,” balas Jonghyun seraya mengeratkan pelukannya, “Sssh, ulljima,”

Tatapan Jonghyun tertuju pada sebuah mobil van hitam yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia melepas pelukannya pada Hyo Jin kemudian menarik gadis itu untuk masuk ke dalam van SHINee. Ia tidak akan mungkin meninggalkan Hyo Jin dalam keadaan seperti itu. Semoga saja teman-temannya bisa menerima Hyo Jin selama beberapa hari di dorm mereka. Hanya sampai gadis itu menemukan apartemen baru.

– — – –

JONGHYUN POV

Acara akhir tahun berjalan cukup lancar. PD-nim tiba-tiba saja merubah jadwal tampil kami menjadi ke part 2. Beruntung aku sudah sampai di tempat sebelum part 2 dimulai. Mungkin member lain mengerti apa yang sedang aku rasakan sekarang. Hyo Jin baru saja mendapat musibah dan mereka tidak mungkin memaksaku naik ke atas punggung. Kecuali kalau SM memang mau dipermalukan karena seorang lead vocal sepertiku tidak bisa bernyanyi dengan baik.

“Hyo Jin bagaimana ?” tanya Onew hyung tiba-tiba ketika kami menaiki van untuk pulang ke dorm. Ketiga member lainnya juga ikut menatapku, menunggu jawaban dari pertanyaan Onew hyung.

“Aku harap kalian tidak kaget,” jawabku, tapi malah semakin mendapat tatapan heran dari mereka semua, “Dia ada di dorm sekarang,”

“Mwo ?” suara melengking Key membuat kami menutup telinga secara bersamaan. Aku menoleh ke arah Key yang sekarang duduk tepat di sebelahku.

“Waeyo ?” tanyaku, sedikit merasa kesal juga karena ekspresi yang berlebihan.

“Ya ! Bagaimana kalau SM tahu ?” respon Key cepat. Aku mengendikkan bahu heran. Tidak mengerti dengan semua yang sudah kuperbuat.

“Molla. Aku tidak setega itu untuk meninggalkannya disana. Dia sangat ketakutan karena kebakaran itu,” jelasku, mencoba membuat mereka semua mengerti.

“Semoga itu bukan keputusan buruk,” balas Onew hyung. Aku menoleh ke belakang dan tersenyum padanya. Setidaknya masih ada yang peduli dengan Hyo Jin sekarang.

***

Tidak ada suara apapun tepat ketika kami memasuki dorm. Aku mengganti sepatu dengan sandal rumah dan berkeliling ke seluruh sudut apartemen untuk mencari Hyo Jin. Sebuah helaan napas lega keluar dari mulutku saat melihatnya tengah tertidur di ruang perpustakaan. Ia memakai baju dan celana selutut milikku. Walaupun sedikit longgar, Hyo Jin akan lebih nyaman memakai baju itu.

Aku mendekat ke arah Hyo Jin kemudian duduk tepat di hadapannya. Ia sedang tertidur dengan posisi duduk dengan kepala berada di atas meja. Wajahnya terlihat sangat lelah. Ada lingkaran besar di kedua mata indahnya dan tulang pipi yang lebih menonjol dari sebelumnya. Gadis itu semakin kurus.

Setelah beberapa hari tidak bertemu dan hidup secara tidak normal, akhirnya aku bisa melihat wajahnya lagi. Tanganku terangkat lalu menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutupi wajah Hyo Jin. Bolehkah aku mengatakannya secara terang-terangan ? Aku merindukannya. Sangat merindukannya.

“Jonghyun hyung. Bawa dia ke kamar kita saja. Aku akan mengungsi sementara ke kamar Onew hyung,” seru Key tiba-tiba seraya membuka pintu ruang perpustakaan.

“Ya~. Kau mau selingkuh dengan Onew hyung ? Kau hanya boleh tidur denganku, Kibum-ah,” balasku sedikit merajuk. Key hanya menjulurkan lidah dan menunjukkan seringaian khasnya.

“Kau juga selingkuh dengan Hyo Jin, hyung,” Key menutup pintu ruang perpustakaan dengan cukup keras. Aku terkekeh pelan kemudian kembali melihat Hyo Jin.

Aku mulai berdiri lalu beringsut ke sebelah Hyo Jin. Dengan perlahan aku mengangkat tubuhnya keluar dari ruang perpustakaan. Membawanya ke kamarku kemudian menidurkannya di atas tempat tidur. Aku menyelimutinya dengan pelan juga, mencoba tidak mengganggu tidurnya sedikit pun. Semoga hal ini menjadi sebuah pertanda baik untuk kami.

– — – –

AUTHOR POV

Sinar matahari yang masuk melalu jendela kamar, membuat Hyo Jin membuka kedua matanya.  Ia duduk di atas tempat tidur kemudian memandangi seluruh sudut kamar itu. Pikirannya kembali memutar kejadian semalam. Masih teringat jelas bagaimana si jago merah itu berkobar, hampir saja membakar tubuhnya kalau saja petugas pemadam kebakaran tidak segera datang dan menyelematkannya yang terjebak di dalam lift. Hyo Jin kembali membuka kedua matanya setelah mengingat kejadian mengerikan itu.

Hyo Jin merasa menjadi wanita paling bodoh semalam. Untuk apa ia kembali ke dalam apartemen ketika peringatan tentang adanya kebakaran sudah berbunyi dan malah mencari scrapbook pemberian Jonghyun. Ia bahkan seakan menutup telinga ketika orang-orang berteriak panik mencari jalan untuk menghindar dari api, sedangkan ia masih sibuk mencari scrapbook itu. Sangat bodoh bukan ?

“Oh, Hyo Jin-ah. Kau sudah bangun ?” Hyo Jin menoleh ke arah pintu kemudian tersenyum pada Key. Laki-laki itu membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu. Hyo Jin mengernyit heran ketika melihat semua yang dilakukan Key.

“Apa yang kau lakukan ?” tanya Hyo Jin, melihat Key menaruh nampan itu di nakas seraya duduk di sisi tempat tidur.

“Hanya menuruti semua yang diperintahkan seseorang bernama Kim Jonghyun sebelum ia pergi,” jawab Key membuat sebuah kekehan kecil keluar dari bibir Hyo Jin. Gadis itu menatap Key sejenak kemudian melirik semangkuk bubur yang berada di nampan.

“Dia tidak menyuruhmu untuk menyuapiku ‘kan ?” tanya Hyo Jin lagi. Key mengendikkan bahu acuh.

“Kau bukan sakit parah, Hyo Jin-ah. Jadi aku menghiraukan perintah Jonghyun yang satu itu,” jawaban Key lagi-lagi membuat Hyo Jin terkekeh, “Aku ada schedule sekarang. Kau tidak apa-apa sendirian di dorm ‘kan ?”

“Gwenchana,” sahut Hyo Jin seraya meraih mangkuk bubur itu dan mulai menyuapkannya ke dalam mulut.

“Jangan buka pintu untuk siapapun. Jangan keluar dorm juga, aku takut kau tidak selamat ketika akan kembali ke sini, arachi ? Itu juga pesan Jonghyun hyung tadi,”

“Ne~,”

Key mengangguk sekilas kemudian beranjak dari kamar Hyo Jin –atau mungkin bisa disebut kamarnya juga. Ia meninggalkan Hyo Jin sendirian yang masih menyantap sarapannya. Tidak ada yang salah untuk menolong Hyo Jin sekarang. Ia sangat tahu bagaimana trauma gadis itu terhadap kejadian semalam.

***

Setelah menyesaikan sarapannya, Hyo Jin membawa mangkuk kotor itu ke tempat cuci piring dan mencucinya. Secepat mungkin ia harus keluar dari dorm itu sebelum membawa masalah. Lagi. Ia tidak mau merepotkan Jonghyun dan semua member SHINee karena ia menumpang tinggal disana. Lebih baik ia menelepon kedua orangtuanya sekarang dan meminta uang untuk membeli apartemen baru. Atau bahkan meminta uang untuk membeli tiket pesawat dan menyusul kedua orangtuanya yang berada di Rusia.

Tunggu. Kenapa ia tidak pernah memikirkan hal itu sejak dulu ? Untuk menghindari Jonghyun dan kehidupannya, seharusnya ia sudah pergi ke Rusia sejak hubungan mereka putus. Dan sepertinya memang itu satu-satunya jalan terbaik untuk menghilang dari pandangan laki-laki itu.

Suara debuman pintu membuat Hyo Jin sedikit terkesiap. Ia mematikan kran di tempat cuci piring itu lalu berbalik, berjalan menuju ruang TV dan melihat seseorang yang baru saja masuk. Ia bisa menghela napas lega ketika menyadari laki-laki berjaket tebal itu adalah Minho. Kenapa juga ia harus sepanik itu. Pintu dorm SHINee harus memakai password bukan ? Dan hanya member SHINee, manager mereka, serta dirinya yang tahu kombinasi angka itu.

“Kau sudah sarapan ?” tanya Minho tiba-tiba seraya berjalan menuju dapur. Hyo Jin mengangguk pelan kemudian berlalu untuk duduk di sofa.

“Jangan bilang itu pesan dari Jonghyun juga,” tebak Hyo Jin.

“Ne~. Kau tidak tahu seheboh apa dia tadi pagi. Semua member diberi pesan yang sama,” Minho masih mencoba mengatur napas lalu menyeka keringatnya setelah hampir dua jam berlari di sekitar gedung apartemen.

Keadaan tiba-tiba berubah menjadi hening. Minho memandang Hyo Jin sekilas sebelum berjalan menuju kamar mandi. Namun belum sempat tangannya menyentuh kenop pintu, ucapan Hyo Jin menghentikkan langkahnya.

“Apa aku harus pergi dari sini ?” tanya gadis itu tiba-tiba.

Minho kembali berbalik, menatap Hyo Jin yang masih tetap duduk di sofa. Kedua mata mereka saling bertemu, saling menatap satu sama lain.

Laki-laki itu menghela napas sejenak sebelum membuka mulutnya, “Kami semua sangat senang kau ada disini karena Jonghyun hyung bisa bersemangat lagi dan menjalani aktivitasnya seperti biasa. Tapi, SM benar-benar tidak akan mentoleransi lagi kalau mengetahui hal ini. Youngmin sajangnim tidak pernah main-main dengan ancamannya,”

“Dan jujur, kami semua –minus Jonghyun ingin kau pergi secepat mungkin sebelum fans atau bahkan SM tahu mengenai hal ini dan menghancurkan SHINee,” lanjut Minho kemudian.

Hyo Jin tersenyum lega. Ia hanya butuh satu pendapat untuk mengetahui tentang keberadaannya disana. Setelah ini ia akan benar-benar pergi dari kehidupan Jonghyun dan juga SHINee. Ia sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka semua. Dan dengan keberadaannya disana, sudah sangat jelas akan membawa banyak masalah. Ya, ia harus pergi. Walaupun sangat bertolak belakang dengan keinginan hatinya saat ini.

[Believe in Love Continued]

4 thoughts on “Believe in Love (1st Part)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s