Against Together

Title          : Against Together

Author       : Ima (bling0320)

Cast           : Kim Jonghyun, Kim Hyo Jin

Length       : Oneshot

Genre         : Family, Fantasy, Angst, Romance, AU

Rating          : PG

[Against Together]

Ketika bumi sudah tidak berpihak pada manusia lagi. Hanya sekitar beberapa juta penduduk saja yang masih hidup. Saat virus mematikan itu menyerang dan membunuh hampir seluruh makhluk hidup dibumi ini. Dengan bernapas dan bersentuhan saja, virus mematikan itu bisa menular. Hanya orang-orang yang kuat, pintar, dan beruntunglah yang bisa menghindari virus –yang belum diketahui namanya itu. Tidak butuh waktu lebih dari 3 hari untuk membuat virus itu menyebar di dalam tubuh dan membuat yang tertular itu mati.

Sebuah jejeran rumah sederhana didaerah pinggiran kota Seoul itu tampak sangat sepi. Hanya terdengar suara hembusan angin dan ranting-ranting pohon yang saling bergesekan. Seorang laki-laki –salah satu penghuni rumah itu mulai terbangun dari tidurnya. Laki-laki itu membuka kedua matanya yang masih saling menempel satu sama lain. Ia merubah posisinya menjadi duduk lalu menatap ke sekeliling kamarnya yang terlihat sangat berantakan.

Dengan langkah gontai, laki-laki itu berjalan menuju sebuah almari kecil yang berada di sudut kamarnya. Ia membuka almari itu, memandangi puluhan rak-rak kecil berisi serum antibody di dalamnya. Ia mengambil salah satu botol kecil berisi serum antibody itu, melepaskan penutup karet yang melindungi jarum suntik steril botol kecil itu lalu meletakkan ujung jarum suntiknya tepat pada lekukan lengan. Tepat diantara saraf-saraf disana dan memastikan seluruh serum dalam botol kecil itu tersuntik ke dalam tubuhnya.

Setelah memastikan seluruh cairan serum antibody mengalir di seluruh tubuhnya, laki-laki itu menarik napas dalam-dalam. Ia kembali menutup pintu almari dan melangkah keluar dari kamarnya yang terletak dilantai dua. Tepat ketika menuruni tangga menuju lantai satu, sebuah teriakan menyerang telinganya.

“Kim Jonghyun !”

“Noona, aku tidak tuli,”

Laki-laki bernama Jonghyun itu menatap jengah pada seorang wanita yang berdiri di dapur dan tengah berkacak pinggang. Ia duduk pada sebuah deretan kursi yang tepat menghadap dapur seraya menumpukan kedua tangannya pada meja. Meja bartender itu memang tempat yang sangat menyenangkan bagi Jonghyun saat baru bangun tidur. Ia bisa memandangi wanita –yang berumur dua tahun diatasnya itu ketika sedang memasak.

“Kau sudah menyuntikkan serum itu ‘kan ?”

“Seperti yang kau minta, noonaku sayang,”

“Berhenti memanggil kakakmu sendiri seperti itu, Kim Jonghyun,”

“Ne~, Kim Hyo Jin noona,”

Nada Jonghyun yang setengah merajuk membuat Hyo Jin bergidik ngeri. Wanita itu kembali berbalik menghadap sarapan yang tengah dibuatnya.

Kehidupan memang tidak akan selalu berada diatas. Perubahan alam yang drastis membuat beberapa orang tidak bisa bertahan hidup. Ditambah lagi penyebaran virus mematikan itu yang sangat cepat. Hyo Jin merasa beruntung karena sempat bekerja di laboratorium Negara sebelum virus itu mulai menyebar. Ia berhasil membawa seluruh persediaan serum antibody untuk dirinya dan juga Jonghyun. Jangan menilai ia seorang criminal karena telah mencuri serum itu.

Serum antibody itu adalah hasil rancangannya sendiri. Ia merancang sebuah serum yang akan membuat antibody tubuh manusia kebal terhadap virus-virus mematikan. Awalnya ia merancang serum itu untuk melawan virus flu biasa, namun setelah melihat beberapa berita kematian yang aneh karena sebuah virus –yang tidak diketahui namanya, ia mulai merancang serum yang lebih kuat. Dan ia tidak memberikan serum antibody itu pada pemerintah, ia hanya menggunakan fasilitas Negara saja untuk membuatnya. Dan pada akhirnya serum itu ia gunakan sendiri bersama Jonghyun.

“Nasi goreng ?” tanya Jonghyun heran, melihat setumpuk nasi berwarna merah kecoklatan dalam piring sarapannya. Hyo Jin mengendikkan bahu acuh kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Jonghyun.

“Kau harusnya bersyukur sudah bisa makan dalam keadaan seperti ini. Kita sudah sangat beruntung karena bisa bertahan dari serangan virus itu. Ayo makan,” jawab Hyo Jin seraya menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.

Jonghyun memandangi Hyo Jin yang tengah menghabiskan nasi goreng itu. Tangan kanan wanita itu sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulut, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah majalah. Majalah yang terbit hampir setahun yang lalu. Semenjak virus itu menyerang dunia selama beberapa tahun terakhir, tidak ada kantor yang beroperasi. Termasuk media cetak maupun media visual. Dan Jonghyun merasa beruntung karena bisa hidup bersama Hyo Jin dalam keadaan seperti itu. Wanita itu adalah kakak terbaik baginya.

***

Langit semakin gelap, pertanda siang akan kembali berganti menjadi malam. Hyo Jin mulai sibuk mengunci dan menutup tirai jendela kemudian menyalakan lampu-lampu. Ia mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Dalam keadaan kritis seperti sekarang, orang akan melakukan apapun untuk tetap bertahan hidup.

“Noona, aku mau ke toko kaset dulu,”

Tatapan Hyo Jin tertuju pada Jonghyun yang tengah terburu-buru menuruni tangga. Ia menghentikkan kegiatannya sejenak dan menatap heran pada laki-laki itu.

“Tidak bisa besok ? Sekarang sudah malam, Jonghyun-ah,”

Jonghyun menangkap raut kekhawatiran dari kedua mata Hyo Jin. Ia tersenyum simpul kemudian mengacak rambut gadis itu. Kakak perempuannya itu terlalu khawatir padanya.

“Aku hanya tinggal mengambil kaset saja. Semua toko di kota ini tidak ada penjaganya,” balas Jonghyun setengah mengejek. Hyo Jin memukul pelan puncak kepala laki-laki itu. Merasa tidak terima bahwa Jonghyun sudah mengacak rambutnya dan mengejeknya.

“Terserah kau saja,”

“20 menit ? Aku akan pulang lagi dalam 20 menit,” tawar Jonghyun. Dan dengan terpaksa Hyo Jin pun mengangguk setuju. Laki-laki itu terkekeh kemudian mengambil jaket miliknya yang tergantung di dekat pintu depan. Hyo Jin membantu Jonghyun memakai masker dan juga topi.

Hyo Jin membukakan pintu untuk laki-laki itu. Ia menatap kepergian Jonghyun dengan khawatir. Entah kenapa perasaannya sangat tidak enak. Ia mencoba menghiraukan pikiran itu dan menutup pintu rumah kembali. Belum sempat tangannya menggapai kunci, pintu yang terbuat dari kayu mahoni itu kembali diketuk. Hyo Jin tersenyum lebar lalu membuka pintu rumahnya kembali.

“Tidak jadi perg –akh ?!”

Sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram kuat lehernya. Hyo Jin meronta saat tubuhnya diseret secara paksa masuk ke dalam rumah. Pria bertubuh besar yang tengah mencekiknya itu mengunci pintu. Hyo Jin hampir kehabisan napas karena cekikan orang itu yang terlalu kuat.

“Dimana serum itu ?!” tanya pria itu. Hyo Jin menggeleng pelan, ia mencoba menelisik wajah pria yang tertutupi masker itu.

“DAMMIT ! Jangan berbohong padaku. Dimana kau sembunyikan serumnya ?!” pria itu menghempaskan tubuh Hyo Jin ke lantai. Hyo Jin meringis pelan, gadis itu terbatuk kemudian menghirup napas dalam-dalam. Mencoba mengisi paru-parunya yang sudah hampir kehabisan oksigen.

“Kalau kau tidak memberitahunya, aku akan cari sendiri,” ujar pria itu lalu meninggalkan Hyo Jin. Pria itu bergerak dengan sangat cepat memeriksa setiap sudut di lantai satu. Membuka setiap lemari dan memeriksa setiap botol-botol yang berada di dapur.

Hyo Jin masih terduduk. Kepalanya masih sangat pusing karena kekurangan oksigen. Dengan sisa tenaganya gadis itu pun melangkah mendekati pria bertubuh tinggi besar itu. Namun belum sempat ia mendekat, pria itu sudah berbalik dan kembali mencekiknya.

“Beritahu aku, atau hidupmu berakhir,” pria itu mulai mengancam Hyo Jin. Tapi bukan seorang Hyo Jin jika menyerah begitu saja hanya dengan ancaman kecil seperti itu.

“Brengs*k !” Hyo Jin menggunakan kakinya yang bebas untuk menendang pria itu. Tendangannya berhasil membuat pria itu tersungkur dan melepaskan cekikannya. Hyo Jin kembali terbatuk, ia berdiri dan berjalan menuju stik pemukul baseball yang ia letakkan di dekat pintu rumah.

Namun belum sempat Hyo Jin meraih stik pemukul itu, rambutnya ditarik secara tiba-tiba. Ia terpelanting ke belakang hingga akhirnya terjatuh. Pria itu duduk di hadapannya, masih tidak melepaskan cengkeraman pada rambutnya.

“Berikan serumnya padaku sekarang,” ujar pria itu. Hyo Jin menyeringai kemudian meludahi wajah pria itu.

“Kau orang yang dikirim Negara untuk mengambil serum itu dariku ? Maaf, tapi semua serum itu milikku,” lanjut Hyo Jin.

Pria itu mengusap wajahnya yang basah karena air liur Hyo Jin. Ia menarik rambut gadis itu semakin kuat. Bahkan sampai membuat Hyo Jin berteriak. Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan di telinga wanita berumur 23 tahun itu.

“Aku menyimpan semua rahasiamu, Kim Hyo Jin. Berhentilah memberontak dan serahkan serum-serum itu,”

Hyo Jin tergelak. Kedua matanya membulat tidak percaya. Ia segera mendorong tubuh pria itu menjauh lalu mundur sejauh mungkin. Namun ia kalah cepat, karena pria itu sudah lebih dulu mendaratkan sebuah tamparan di pipi kanannya.

“Hidupmu akan berakhir sekarang, Kim Hyo Jin,” pria itu menyeringai kemudian merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah pisau lipat dan pria itu pun kembali berlutut di hadapan Hyo Jin, “Kau yang memilih keputusan ini,”

Ketika pisau itu mulai menyentuh kulit lehernya, Hyo Jin hanya bisa menahan napas. Ia mencoba untuk tidak menangis, tapi air mata itu meluncur dengan sendirinya. Pria itu tidak main-main dengan ucapannya. Rahasia besarnya yang hanya diketahui pria itu. Yang bahkan tidak diketahui oleh Jonghyun sama sekali. Dan ia lebih baik mati, daripada harus melihat pria itu membongkar seluruh rahasianya. Pria itu. Park Tae Jun.

“Aaah !”

Pisau itu kini sudah mulai menembus kulit leher putih milik Hyo Jin. Gadis itu memegangi luka di lehernya dan kembali mengerang. Namun Tae Jun malah tertawa, ia melepaskan masker yang menutupi mulutnya dan menempelkan pisau itu tepat di depan wajah Hyo Jin.

“Kau pekerja ‘terbaik’ yang pernah kukenal, Hyo Jin-ssi. Selamat tinggal,”

“Jonghyun-ah !”

Pintu depan rumah itu terbuka secara tiba-tiba. Hyo Jin mengalihkan pandangannya pada pintu yang baru saja terbuka itu dan melihat Jonghyun berdiri di sana dengan napas terengah. Hyo Jin segera menggunakan kesempatan yang ada, ketika Tae Jun memfokuskan pandangannya pada Jonghyun, ia memukul lengan Tae Jun dan membuat pisau yang berada di genggaman pria itu terhempas cukup jauh. Tae Jun menoleh dengan cepat ke arah Hyo Jin, ia berputar dengan cepat ke belakang tubuh Hyo Jin dan mengunci leher gadis itu dengan sebelah tangannya. Sementara tangan yang lainnya mengeluarkan pistol dari saku belakang celananya.

“Katakan dimana serumnya !” seru Tae Jun seraya menekankan ujung pistol itu pada pelipis Hyo Jin.

“Noona,” Jonghyun menjatuhkan kembali stik baseball yang baru di genggamnya. Dadanya terasa sesak ketika melihat darah yang mengalir di leher Hyo Jin. Virus mematikan itu akan sangat mudah masuk pada jaringan tubuh melewati luka. Walaupun kakak perempuannya itu sudah menyuntikkan serum, virus itu tetap lebih kuat jika sudah masuk melalui luka seperti itu. Dan ia tidak mau kehilangan Hyo Jin.

“Jangan beritahu dimana serumnya –aah !” pekik Hyo Jin ketika Tae Jun mulai mencekik lehernya lagi. Ia bisa merasakan bagaimana dinginnya besi pistol itu di pelipisnya. Tae Jun menyeringai pelan kemudian berbisik pelan di telinga gadis itu.

“Bersiaplah dengan reaksi adikmu saat aku mengatakan semuanya,”

Hyo Jin berada dalam kebingungan sekarang. Ia mau Jonghyun yang memakai seluruh serum itu agar tetap hidup. Bukan orang lain. Ia tidak mungkin bersikap egois dengan menyerahkan seluruh serumnya pada Tae Jun hanya untuk menjaga rahasia itu dan mengorbankan kehidupan Jonghyun. Mungkin lebih baik ia mati.

“Serumnya ada di dalam kamarku di lantai dua,”

“Kim Jonghyun !” Hyo Jin memekik ketika menyadari Jonghyun baru saja bertindak bodoh dengan memberitahu letak serum itu.

Tae Jun menyeringai puas lalu melepaskan lengannya dari leher Hyo Jin. Ia bergegas naik ke lantai dua dan meninggalkan Hyo Jin yang masih terduduk di lantai. Gadis itu menggeleng pelan seraya memegangi lehernya yang terasa semakin perih. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Jonghyun. Serum yang sudah susah payah dibuatnya dengan mudah menjadi milik orang lain.

“Hyo Jin noona, mianhae,” Jonghyun melangkah dengan pelan menghampiri Hyo Jin lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

“Kenapa ? Kenapa kau melakukannya ? Kau tidak bisa hidup tanpa serum itu, Jonghyun-ah,” Hyo Jin mulai terisak. Ia sudah tidak memedulikan lagi rasa sakit di lehernya karena luka goresan pisau itu. Bagaimana hidup Jonghyun nanti ? Ia tidak bisa membiarkan Jonghyun ikut mati bersamanya karena virus mematikan itu. Jonghyun tidak pantas mati bersama wanita sepertinya.

***

Kotak P3K itu dibiarkan terbuka di atas meja, sementara Jonghyun mengobati luka goresan di leher Hyo Jin. Tae Jun benar-benar membawa kotak berisi seluruh serum miliknya. Dan Hyo Jin tidak tahu bagaimana menjaga Jonghyun dari virus mematikan itu. Lebih baik ia yang mati bersama Tae Jun bukan ? Rahasia itu akan tetap terjaga. Dan Jonghyun tetap hidup.

“Kau tidak perlu khawatir, noona. Masih ada serum-serum di dalam kamarmu ‘kan ? Kita bisa memakai serum itu,” jelas Jonghyun seraya menutupi luka Hyo Jin dengan kasa dan plester. Ia merapikan alcohol dan kapas untuk membersihkan luka itu kembali ke dalam kotak P3K. Namun Jonghyun tidak beranjak dari sana, ia menoleh dan memandangi Hyo Jin yang tengah melamun.

“Lebih baik aku mati, daripada harus menyerahkan serum itu. Kau membutuhkan serum-serum itu untuk hidup,” ujar Hyo Jin tanpa mengalihkan tatapan kosongnya.

“Aku tidak butuh serum untuk hidup. Aku hanya butuh kau, noona. Kita harus terus bersama-sama. Appa dan eomma menitipkan pesan itu sebelum meninggal. Apa kau lupa ?”

Hyo Jin menatap Jonghyun dengan nanar. Ia bukan seorang gadis cengeng, tapi saat melihat tatapan tulus Jonghyun, dadanya menjadi sesak. Air matanya kembali meleleh setiap mengingat kebohongan besar yang ia simpan selama ini. Dan lagi-lagi Hyo Jin tidak bisa menolak ketika Jonghyun memeluknya.

“Kita semua pasti akan mati, tapi tidak tahu kapan. Jadi selama masih hidup, kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Aku hanya ingin hidup dengan noona,”

“Jonghyun-ah, mianhae,”

“Kenapa ? Aku yang harusnya minta maaf. Tidak apa-apa,”

Tidak ada jawaban dari Hyo Jin. Gadis itu tetap terisak di dalam pelukan hangat Jonghyun. Ia terus menggumam maaf dalam hatinya pada laki-laki itu. Seharusnya ia tahu bahwa Jonghyun sangat menyayanginya dan tidak akan membiarkannya dibunuh oleh Tae Jun hanya demi serum-serum itu. Dan seharusnya ia tidak bertindak bodoh dulu, yang akan membuatnya mempunyai perasaan bersalah pada Jonghyun.

***

Hyo Jin terbangun dalam keadaan jauh lebih baik esok paginya. Saat membuka mata, ia sudah melihat Jonghyun duduk di sisi tempat tidurnya dan memegang satu botol serum. Hyo Jin tersenyum kemudian menyodorkan lengan kirinya, membiarkan Jonghyun menyuntikkan serum itu ke dalam tubuhnya.

“Ada pengumuman penting,”

Hyo Jin mengangkat kepalanya dan menatap Jonghyun heran. Hampir tidak pernah ada pengumuman di kota itu, kecuali jika benar-benar penting. Terakhir ada pengumuman, ketika seluruh Negara di dunia sudah terkena virus mematikan itu.

“PBB akan melakukan evakuasi. Semua yang masih hidup dan tidak terkontaminasi virus akan diungsikan ke sebuah tempat yang masih dirahasiakan. Tapi hanya beberapa ribu orang saja dari seluruh dunia. Korea akan mengirimkan 50 orang untuk ikut perpindahan itu,” jelas Jonghyun seraya mengusap pelan lekukan lengan Hyo Jin, bekas suntikan serum itu.

“Kau harus ikut, Jonghyun-ah,”

“Aku ? Kita berdua harus ikut evakuasi itu,”

Jonghyun menatap geram pada kakak perempuannya itu. Bagaimana bisa Hyo Jin berpikiran seperti itu, padahal hanya gadis itu yang dimilikinya sekarang. Ia melempar botol serum yang sudah kosong di tangannya ke tempat sampah lalu berdiri dari sisi tempat tidur Hyo Jin.

“Kau sudah pakai serum itu juga ?” tanya Hyo Jin sebelum Jonghyun melangkah keluar dari kamarnya.

“Ne. Ayo sarapan, noona,” ajak Jonghyun lalu menutup pintu kamar gadis itu.

Hyo Jin menghela napas panjang. Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya kemudian melangkah turun dari tempat tidur. Tangannya yang sebentar lagi membuka knop pintu terhenti, pandangannya tertuju pada almari berisi serum-serum miliknya –yang tidak dicuri oleh Tae Jun. Ia mendekati almari itu dan membuka pintunya.

Hanya tersisa 10 botol serum lagi. Jika ia dan Jonghyun memakainya, hanya untuk 5 hari ke depan. Dan untuk selanjutnya, ia tidak tahu lagi. Hyo Jin lebih mementingkan kehidupan Jonghyun untuk saat ini.

“Noona ! Cepat sarapan !”

Teriakan Jonghyun membuat Hyo Jin tersadar dari lamunan panjangnya. Gadis itu membuka pintu kamar dan dengan setengah berlari menuruni tangga, menghampiri Jonghyun yang sudah duduk di meja bartender. Ia memandangi dua piring omelet dan sepiring kimchi yang sudah tersaji di atas meja lalu menatap Jonghyun heran.

“Aku mengambil bahan makanan di supermarket. Masih ada kimchi yang terbungkus rapat, jadi aku bawa juga,” jawab Jonghyun seolah tahu arti tatapan heran itu seraya tersenyum lebar. Hyo Jin mengendikkan bahu acuh dan mulai menyantap sarapan itu dalam diam.

Hyo Jin dan Jonghyun hanya duduk di sofa ruang TV setelah menghabiskan sarapan. Jonghyun sibuk dengan permainan di PSPnya, sedangkan Hyo Jin tengah mengganti kasa yang menutupi luka lehernya. Gadis itu mencoba memakai sendiri plester untuk merekatkan kasa itu pada kulitnya. Tapi tangannya hanya dua, dan kedua tangannya sudah mempunyai tugas (?) masing-masing. Akhirnya ia pun menyerah dan mengganggu kesibukan Jonghyun.

“Aissh !” Jonghyun mengacak rambutnya frustasi saat tulisan game over muncul di layar PSPnya. Ia menoleh pada Hyo Jin dan bersiap untuk marah, namun kekesalannya itu menguap begitu saja saat melihat kedua puppy eyes gadis itu, “Uh. Aku benci tatapan itu,”

Hyo Jin tersenyum penuh kemenangan seraya menunjuk kasa, plester, dan juga gunting yang tergeletak di atas meja. Jonghyun menghela napas panjang, ia menyingkirkan PSPnya kemudian mengambil peralatan itu. Dengan hati-hati ia menempelkan kasa yang sudah dibubuhi antiseptic itu pada luka Hyo Jin. Ia ikut meringis juga saat mendengar gadis itu meringis. Ternyata luka goresan pisau itu cukup dalam.

Jonghyun terdiam dalam posisi yang sama –setelah selesai menempelkan kasa itu. Ia memandangi Hyo Jin yang tengah mengangkat kepala itu dengan lekat. Entah kenapa jantungnya berdetak semakin cepat. Ia segera memalingkan wajah, mencoba menghilangkan perasaan aneh itu. Ia hanya berharap semoga perasaan itu hilang. Ia tidak mungkin menyukai Hyo Jin, kakaknya sendiri.

Keadaan kembali hening. Hyo Jin memandang Jonghyun dari samping, bagaimana keseriusan laki-laki itu dalam bermain game. Dan entah kenapa ia menyukai ekspresi itu. Terkadang Jonghyun bisa bersikap lebih dewasa darinya dan terkadang bisa sangat manja. Bahkan sampai membuatnya bergidik ngeri. Hyo Jin tersenyum simpul kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu laki-laki itu.

“Kau harus tetap hidup sampai virus-virus itu sudah hilang dan bumi bisa ditinggali lagi seperti dulu,” gumam Hyo Jin pelan, namun tetap bisa didengar oleh Jonghyun. Jonghyun menghentikkan kegiatannya sejenak dan dengan cepat menoleh pada Hyo Jin.

“Ya~. Kau juga harus tetap hidup. Siapa yang menemaniku nanti ?” tanya Jonghyun, sedikit meninggikan nada suaranya.

“Kau ‘kan nanti punya istri, Kim Jonghyun,”

“Itu berbeda, noona. Kau satu-satunya keluargaku,”

“Cish~,”

Hyo Jin mengangkat kepalanya dari bahu Jonghyun. Ia memukul pelan kepala laki-laki itu kemudian tertawa pelan. Kebersamaannya dengan Jonghyun tidak akan pernah tergantikan oleh apapun. Ia akan mengorbankan apapun agar Jonghyun tetap hidup sampai bumi kembali seperti semula lagi. Bahkan mengorbankan kehidupannya sendiri.

***

Hanya tinggal menghitung hari menjelang evakuasi yang diadakan oleh PBB itu berlangsung. Jonghyun dan Hyo Jin berencana untuk sekedar berjalan-jalan di Seoul untuk menyegarkan pikiran dan juga melihat keadaan disana. Selama ini keduanya tidak pernah tahu bagaimana keadaan diluar rumah. Mungkin Jonghyun tahu sedikit, karena laki-laki itu sering keluar rumah untuk berbelanja. Tetapi Hyo Jin, sudah setahun terakhir ia lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Sesekali ia keluar rumah hanya untuk melihat keadaan jalan di sekitar komplek saja.

Keadaan kota Seoul tidak lebih baik dari daerah tempat tinggalnya. Daerah apgujeong yang dilewatinya sekarang bersama Jonghyun pun lebih terlihat seperti pemakaman. Beberapa tubuh manusia tidak bernyawa pun tergeletak begitu saja di depan etalase toko. Virus mematikan itu benar-benar membunuh sebagian warga dunia. Mungkin karena hanya dengan bernapas dan bersentuhan saja virus itu bisa menular, penyebaran virus ke seluruh dunia terjadi dengan sangat cepat.

Hingga pada akhirnya perjalanan mereka terhenti di taman kota. Hati Hyo Jin sangat miris melihat taman kota yang sangat disukainya itu kini berubah menjadi tempat pembuangan mayat. Tubuh-tubuh manusia tak bernyawa tergeletak begitu saja di dalam taman itu. Hyo Jin memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba untuk tidak terus melihat pemandangan memprihatinkan sekaligus menjijikkan itu. Ia segera berbalik dan memeluk Jonghyun yang berdiri tepat di belakangnya.

“Noona, kau tidak apa-apa ?” tanya Jonghyun khawatir, saat menyadari tubuh Hyo Jin bergetar.

“Ayo pergi,”

Jonghyun mengangguk pelan lalu membawa gadis itu pergi menjauh dari taman kota. Tidak ada pemandangan yang bagus untuk dilihat di Seoul. Hyo Jin sangat tahu bagaimana terpukulnya para anggota keluarga yang lain, jika salah satu keluarga mereka terkena virus mematikan itu. Lebih baik mereka membuang anggota keluarga yang tertulari itu, daripada mereka ikut terkena virus itu juga. Dan mereka akan melupakan kejadian itu lalu membiarkan anggota keluarga mereka yang tertulari mati di pinggir jalan. Hak asasi manusia sudah tidak dipikirkan lagi oleh semua orang di dunia ini untuk tetap bertahan hidup.

Setelah berjalan cukup jauh, keduanya memutuskan untuk duduk di dalam halte bus. Hanya tempat itu yang aman dari pemandangan mayat-mayat yang tergeletak di pinggir jalan. Hyo Jin membuka masker yang menutupi mulutnya kemudian mengipas-ngipaskan tangannya ke leher. Cuaca sangat panas, padahal seharusnya musim sudah memasuki musim gugur.

“Minum dulu,” suara Jonghyun membuat lamunan Hyo Jin buyar. Hyo Jin menatap sebuah botol air mineral di tangan Jonghyun yang sudah hampir habis setengahnya. Gadis itu menerima botol itu dan meneguk isinya sampai habis. Pemandangan tadi cukup membuatnya mual juga.

“Kau mau pulang tidak ?” tanya Jonghyun lagi. Hyo Jin menoleh pada laki-laki itu lalu mengangguk pelan.

“Tunggu sebentar,” Hyo Jin memijat kedua kakinya yang terasa lemas. Tidak hanya mual, tapi tubuhnya bergetar setiap kali melihat mayat-mayat manusia itu di pinggir jalan. Ia tidak sanggup lagi jika harus melewati itu semua untuk kembali ke rumah.

“Aah jinjja,” gumam Jonghyun seraya berjongkok membelakangi Hyo Jin. Hyo Jin mengerutkan kedua kening saat melihat apa yang dilakukan adiknya itu, “Langit sudah hampir gelap, noona. Kita harus sampai di rumah sebelum malam,”

“Kau kira aku tidak bisa jalan, huh ?!” tanya Hyo Jin merasa tidak terima Jonghyun meremehkannya seperti itu.

“Kau tidak akan bisa jalan kalau mayat-mayat itu masih tergeletak sepanjang jalan,” Jonghyun kembali berdiri, ia berbalik menghadap Hyo Jin kemudian berlutut di hadapan gadis itu. Kedua ibu jari tangannya menyentuh pelan kedua kelopak mata Hyo Jin, menutupnya perlahan membuat seluruh bola mata gadis itu tidak terlihat, “Jangan protes. Wajahmu sudah seperti mayat hidup. Ayo naik ke punggungku,”

Hyo Jin hanya mengangguk tanpa membuka kedua matanya. Gadis itu melingkarkan lengannya pada leher Jonghyun dengan kuat. Sedetik kemudian Hyo Jin bisa merasakan tubuhnya terangkat. Ia tersenyum lebar ketika mengingat Jonghyun sangat memedulikannya seperti itu. Ia berharap sikap Jonghyun tidak berubah dan ia bisa terus bersama laki-laki itu. Apapun yang terjadi nanti, ia harus tetap melindungi Jonghyun dari virus itu.

***

Tidak ada yang Hyo Jin lakukan selain duduk di lantai dan memeluk kedua lututnya. Ia menjambak rambutnya sendiri setelah melihat hasil tes darah di computer miliknya. Ia positif terkena virus itu. Sangat miris ketika mengetahui dirinya yang selama ini mati-matian membuat serum, namun ia sendiri malah terinfeksi virus yang sangat dihindari oleh semua orang didunia ini. Yang ada didalam benaknya kini adalah Jonghyun. Bagaimana hidup laki-laki itu tanpa dirinya nanti ?

Fisik dan mentalnya berubah sangat drastis sebelum ia tahu tentang infeksi virus itu. Seluruh fungsi tubuhnya tidak bekerja dengan baik lagi. Bahkan akhir-akhir ini ia sering membentak Jonghyun hanya karena masalah kecil saja. Hyo Jin menyeka kedua matanya yang mulai basah karena air mata. Ia benci menjadi menyedihkan seperti itu. Yang menjadi hal terpenting dalam hidupnya sekarang adalah menjaga Jonghyun sampai evakuasi itu terjadi. Dan secepat mungkin memberitahu semua rahasia besar yang disimpannya.

Hyo Jin bangkit dari duduknya. Ia menatap layar komputernya sekali lagi sebelum hancur karena dilempar oleh vas bunga yang sudah menghias meja belajarnya selama bertahun-tahun itu. Sebuah senyuman miris muncul di bibirnya. Ia hanya perlu bersikap seperti biasa. Melupakan hasil tes itu seiring dengan hancurnya layar computer miliknya.

***

Hujan turun semakin deras siang itu. Sudah hampir setengah tahun langit tidak menumpahkan air. Dan entah kenapa ada sebersit perasaan senang dalam hati Jonghyun. Ia merasa bahwa hujan adalah sebuah pertanda baik. Setahunya, hanya air laut dan penghuni di dalamnya yang tidak terinfeksi virus. Ia berharap hujan itu bisa membawa virus mematikan itu ke tempat lain atau bahkan membunuhnya.

Jonghyun mengetuk pintu kamar kakak perempuannya lagi. Sejak pagi ia belum melihat gadis itu keluar kamar. Bahkan makanan untuk sarapan pun ia yang membuatnya sendiri. Setiap ia mengetuk  pintu kamar Hyo Jin, gadis itu hanya menggumam dan akan keluar nanti. Dan sekarang entah sudah yang ke berapa kalinya ia mengetuk pintu kamar Hyo Jin.

“Noona, kau mau keluar kapan ?”

Satu menit. Dua menit. Tidak ada jawaban dari dalam. Jonghyun mengetuk pintunya lebih keras lagi, namun tetap tidak ada jawaban. Ia menghela napas dalam-dalam seraya melangkah mundur. Bersiap mendobrak pintu itu. Tidak ada alasan lagi untuk tidak mendobrak pintu kamar Hyo Jin. Ia tidak bisa bersikap biasa saja, padahal sangat khawatir mengenai keadaan Hyo Jin.

Hanya dengan sekali dobrakan, pintu kamar Hyo Jin terbuka dengan lebar. Kedua mata Jonghyun membulat. Ia melihat kamar milik kakak perempuannya itu sangat berantakan. Barang-barang yang selalu berjejer rapi di atas meja belajar kini tergeletak dilantai. Begitu juga dengan computer yang bahkan sudah tidak berbentuk lagi. Dan jantung Jonghyun pun mencelos ketika melihat Hyo Jin tengah memeluk kedua kakinya di sudut kamar.

“Apa yang kau lakukan ? Kenapa kau masuk ke kamarku ?!” pekik Hyo Jin, membuat langkah Jonghyun yang akan mendekati gadis itu terhenti.

“­Hyo Jin noona,”

“Keluar dari kamarku sekarang,” potong Hyo Jin.

Jonghyun menggeleng dan tetap melangkah mendekati Hyo Jin. Gadis itu mengerang pelan ketika merasakan seluruh tubuhnya kembali sakit. Virus-virus itu kini sudah menyebar di seluruh tubuhnya. Keringat dingin mulai mengalir di wajah pucat Hyo Jin. Ia tidak mau Jonghyun tahu keadaan tubuhnya sekarang.

“Wajahmu pucat. Kau baik-baik saja ‘kan ? Apa kau mau kubuatkan bubur ? Mungkin karena kau belum sarapan tadi pagi, ini sudah waktunya makan siang,” Jonghyun berjongkok tepat dihadapan Hyo Jin dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gadis itu. Hyo Jin segera menepisnya.

“Berhenti mengurusiku, Kim Jonghyun,” balas Hyo Jin seraya mendongak dan menatap kedua mata Jonghyun dengan tajam.

Wae ? Kita harus saling menjaga, noona. Kau tidak ingat pesan appa dan eomma sebelum meninggal ?”

“Tidak,”

“Kenapa kau jadi seperti ini ?”

“Jangan campuri urusanku,”

“Hyo Jin noona !” seru Jonghyun setengah membentak. Ia semakin gemas ketika melihat perubahan sifat Hyo Jin. Gadis itu tidak pernah menutupi satu masalah dan akan bercerita padanya dengan panjang lebar. Bukan diam dan berbohong seperti ini. Ia tahu Hyo Jin dalam keadaan tidak baik.

“Kau hanya adik tiriku, Kim Jonghyun. Jangan pedulikan aku dan berhenti memanggilku noona,”

Suara petir yang menggelegar diluar sana hampir menyamai perasaan Jonghyun. Gadis itu tidak pernah mengungkit status saudara tiri mereka sejak awal pertemuan mereka. Entah apa yang terjadi pada Hyo Jin, sifat gadis itu sangat berubah.

“Tolong keluar sekarang,” mohon Hyo Jin lagi. Jonghyun kembali menggeleng, kedua matanya tetap menatap wajah gadis itu yang semakin pucat.

“Aku akan buatkan bubur,” balasnya seolah tidak mendengar seruan gadis itu. Jonghyun mendesah napas pelan kemudian bangkit. Sepertinya Hyo Jin membutuhkan waktu sendirian untuk menenangkan diri.

“Aku yang membunuh appa dan eomma,”

Ucapan Hyo Jin membuat Jonghyun menghentikkan langkahnya. Laki-laki itu kembali berbalik dan berjalan mendekati Hyo Jin yang masih beringsut di sudut. Ia memegang kedua bahu gadis itu kemudian tersenyum simpul.

“Jangan bercanda, Hyo Jin-ssi. Mereka mati karena terinfeksi virus itu,”

Hyo Jin menatap kedua mata sayu Jonghyun. Ia akan menceritakan semua rahasia besar yang telah disimpannya selama ini. Walaupun evakuasi itu terjadi besok, ia tetap tidak akan bisa bertahan hidup. Ketika Jonghyun membenci dirinya, laki-laki itu tidak akan merasa kehilangan jika saja ia meninggal nanti.

Hening. Itulah yang terjadi sesaat setelah Hyo Jin menceritakan semuanya. Gadis itu mencoba menahan sesak yang mengganjal di dadanya saat perasaan bersalah itu kembali menyeruak. Tatapan Jonghyun terlihat kecewa dan marah. Ya, ia bahkan pantas dipukul oleh laki-laki itu. Ia tahu Jonghyun tengah menahan amarahnya. Dan mungkin tidak lama lagi, Jonghyun akan keluar dan membanting pintu kamarnya dengan keras.

“Kau bohong ‘kan ?”

“Tidak, Jonghyun. Ini semua rahasia besar yang kusimpan selama ini,”

“DAN KAU TENANG SEPERTI INI ?!”

Tatapan lembut Jonghyun kini berubah menjadi tajam. Hyo Jin meremas perutnya yang semakin terasa sakit kemudian tertawa pelan.

“Kau baru tahu sebagian hidupku, Kim Jonghyun,”

PLAK

“Berhenti memanggil nama lengkapku. Aku tidak sudi nama pemberian ayahku keluar dari mulut gadis pembunuh sepertimu,”

Benar seperti dugaannya tadi. Jonghyun menggeleng pelan sebelum akhirnya keluar dari kamar Hyo Jin dan membanting pintunya. Setetes cairan bening meluncur keluar dari kedua mata Hyo Jin. Rasa sesak di dadanya itu akhirnya membuncah keluar. Rasa perih di pipinya kini sudah menyamai rasa perih di dalam hatinya. Hanya cara itu yang bisa digunakan untuk membuat Jonghyun membenci dirinya. Mengatakan hal sebenarnya, walaupun itu sangat menyakitkan. Ia lebih rela mati saat Jonghyun membencinya, daripada harus melihat adik tirinya itu menangis berhari-hari.

“Mianhae Jonghyun-ah. Aku menyayangimu,”

Dan mungkin, tadi adalah kesempatan terakhirnya untuk melihat Jonghyun.

***

Jonghyun memutar-mutar jarinya pada bibir cangkir teh hangatnya. Ia hanya menatap miris pada bagian dasar cangkir. Pikirannya memutar kembali bagaimana Hyo Jin menceritakan penyebab kematian kedua orangtuanya. Ia masih tidak percaya dengan kata-kata yang meluncur keluar dari bibir gadis itu. Hyo Jin menceritakan dengan mudahnya tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Tangan Jonghyun terangkat, menyentuh dadanya yang terasa sesak. Harusnya ia merasa sedih karena ayah kandungnya dibunuh oleh seorang wanita yang bahkan baru dikenalnya dalam 10 tahun terakhir. Entahlah, ia lebih merasa kecewa sekarang. Seorang wanita yang selama ini dikaguminya ternyata tidak lebih dari seorang pembunuh.

Tatapan Jonghyun tertuju pada sebuah kalender yang terpampang di dekat kulkas. Ada sebuah tanggal yang dilingkari dengan spidol merah. Hari dimana seluruh manusia yang beruntung di bumi akan di evakuasi ke tempat yang lebih aman dan hanya tinggal menghitung jam saja untuk sampai di hari itu.

Apa ia harus mengajak Hyo Jin untuk ikut evakuasi itu bersamanya ? Hanya pertanyaan itu yang sedari tadi berputar di kepala Jonghyun. Gadis itu sudah banyak berkorban dalam hidupnya. Termasuk membawa serum milik pemerintah untuk digunakan bersama. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia sudah terlanjur membenci gadis itu.

Jonghyun menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan diatas meja, memikirkan kembali seluruh kejadian yang sudah dilaluinya bersama Hyo Jin. Bagaimana ketika mereka pertama kali bertemu dan tinggal bersama sebagai saudara tiri. Seulas senyum muncul di bibir Jonghyun saat mengingat momen itu. Ketika ia malah mengira bahwa Hyo Jin adalah adik tirinya.

Entah kenapa perasaan benci yang tadi menyesakkan dadanya kini perlahan menghilang. Ia harusnya tahu Hyo Jin gadis baik. Gadis itu mungkin tidak bermaksud membunuh ayah kandung dan ibu tirinya. Bahkan menurut Jonghyun, Hyo Jin sudah baik karena bermaksud memberikan kesempatan kedua orangtuanya untuk mencoba pertama kali serum antibody untuk virus itu. Namun sayangnya serum yang belum sempurna itu malah membunuh kedua orangtuanya. Well, itu bukan kesalahan Hyo Jin. Itu hanyalah sebuah takdir dan seharusnya ia bisa menerima itu semua. Bukan menyalahkan Hyo Jin.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi ketika Jonghyun terjaga dari tidurnya. Ia menegakkan punggungnya yang terasa pegal karena tertidur dalam posisi duduk di meja bartender dapur. Setelah mengumpulkan kesadarannya kembali, Jonghyun beranjak dari kursi. Ia menaruh cangkir tehnya yang sudah kosong ke tempat cuci piring lalu membereskan beberapa peralatan dapur yang berantakan. Pukul 7 pagi nanti, evakuasi akan dilakukan dan ia harus membereskan rumah sebelum meninggalkannya.

Jonghyun menaiki tangga dengan perlahan. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Hyo Jin. Ia menghela napas panjang lalu meraih kenop pintu kamar gadis itu. Ia sudah memutuskan untuk memaafkan Hyo Jin dan mengajaknya untuk ikut evakuasi itu. Bagaimana pun juga, hanya Hyo Jin satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki sekarang. Sebuah helaan napas keluar dari mulutnya lagi sebelum benar-benar membuka pintu kamar Hyo Jin.

“Noona, aku –,”

Suara Jonghyun tercekat. Kedua kakinya melemas melihat lantai kamar Hyo Jin yang dipenuhi bercak darah. Laki-laki itu berlari mengikuti langkah bercak darah itu yang berakhir di depan pintu kamar mandi. Dengan cepat ia membuka pintu kamar mandi itu, menerobos masuk ke dalamnya dan segera membuka tirai yang menutupi bathtub.

Tubuh Hyo Jin tenggelam dalam bathtub yang terisi penuh air. Warna air yang jernih itu sudah bercampur dengan darah yang keluar dari mulut, kedua telinga, dan juga hidung gadis itu. Jonghyun segera membuka penutup saluran air dalam bathtub lalu mengangkat tubuh pucat Hyo Jin yang terbalut gaun putih itu keluar dari sana. Ia menidurkan Hyo Jin di atas tempat tidur dan menghangatkannya dengan selimut setebal mungkin.

Air mata meluncur dari kedua matanya saat memeriksa denyut nadi Hyo Jin yang sudah tidak berdetak lagi. Tangan Jonghyun yang bergetar kali ini memeriksa hidung gadis itu. Tidak ada desahan napas yang keluar dari sana. Jonghyun membuka sedikit mulut Hyo Jin dan menempelkan bibirnya disana, memberikan napas buatan.

“Kumohon, Hyo Jin-ssi,”

Dengan tergesa-gesa dan panik Jonghyun terus melakukan hal itu. Air mata belum berhenti keluar dari kedua matanya dan membuat wajah Hyo Jin basah karena air matanya juga.

“Aku memaafkanmu. Ayo bangun, kita harus ikut evakuasi itu,”

Jonghyun mengguncangkan bahu Hyo Jin dengan kencang, berharap gadis itu akan terbangun, tersenyum padanya dan mengatakan tidak apa-apa. Namun hasilnya nihil. Hyo Jin tetap memejamkan kedua matanya, terlihat tenang dan tidak terganggu dengan apa yang dilakukan Jonghyun.

“Aku mohon, Kim Hyo Jin. Jangan membuatku khawatir,”

Tetap tidak ada jawaban. Laki-laki berumur 21 tahun itu kini memeluk tubuh Hyo Jin dengan erat. Isak tangisnya semakin keras. Hanya satu permintaan Jonghyun kali ini. Ia ingin memutar waktu dan memanfaatkan setiap waktu yang dilewatinya bersama Hyo Jin. Tidak peduli dengan pembunuhan kedua orangtuanya dan sebisa mungkin memperlakukan Hyo Jin dengan sangat baik. Ia menyesal sudah membentak dan menampar gadis itu.

“Hyo Jin-ssi !” gumam Jonghyun seraya mengeratkan pelukannya. Ia mengusap puncak kepala Hyo Jin dengan lembut.

“Ada sebuah rahasia besar yang harus kau ketahui juga,”

Jonghyun melepaskan pelukan itu, ia menyandarkan punggung Hyo Jin pada kepala tempat tidur. Tubuh Hyo Jin yang sudah lemas itu tidak mampu berdiri tegak lagi. Kedua tangan Jonghyun memegangi kedua bahu Hyo Jin. Kedua mata sayunya menatap wajah pucat gadis itu.

“Aku mencintaimu, Kim Hyo Jin. Sejak kita hidup bersama 10 tahun yang lalu,”

***

Kapal itu berlabuh dengan sempurna di sebuah pelabuhan yang ada di Busan. Hampir sekitar 50 orang keluar dari dalam sana dengan menarik koper besar, berisi baju-baju mereka. Jonghyun termasuk dalam 50 orang itu dan ikut berjalan keluar dari dalam kapal. Sudah lebih dari 5 tahun ia tidak menginjak tanah Korea setelah hari evakuasi itu. Yeah, hari yang sama dimana Hyo Jin menghembuskan napas terakhirnya.

Jonghyun menghentikkan taksi yang membawanya di depan sebuah rumah duka. Ia melangkah keluar kemudian memasuki rumah duka –yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang meninggal karena terinfeksi virus. Terdapat beberapa pintu di dalamnya yang berisi foto korban beserta beberapa rangkaian bunga. Seulas senyum muncul di bibir Jonghyun, melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong. Dengan setengah berlari ia memasuki pintu itu dan menutupnya.

“Noona ! Aku merindukanmu !” pekiknya seraya menghampiri sebuah bingkai berisi foto Hyo Jin. Ia memeluk bingkai itu kemudian tertawa pelan.

“Kau bahagia ‘kan diatas sana ? Aku selalu berdoa untukmu setiap hari,”

Jonghyun merapikan rangkaian bunga di sekitar bingkai foto Hyo Jin. Senyuman bahagianya itu berubah menjadi senyuman miris. Tanpa bisa dicegah, setetes cairan bening mengalir dari kedua sudut matanya.

“Kau harusnya bisa menemaniku sekarang. Virus itu sudah mulai menghilang dari bumi,”

Selama beberapa saat Jonghyun hanya terdiam. Laki-laki yang kini hampir berumur 26 tahun itu terus mengusap permukaan bingkai foto Hyo Jin. Sekeras apapun ia mencoba melupakan gadis itu, ia tidak akan pernah bisa melakukannya. Walau pun ia tinggal selama lima tahun di tempat evakuasi. Terlalu banyak kenangan Hyo Jin dalam ingatannya. Dan terlalu banyak perasaan bersalah dalam hatinya pada Hyo Jin.

Perasaan cinta di dalam hatinya tidak pernah pudar sedikit pun. Ia tahu, perasaan itu tidak mungkin tersampaikan sampai kapan pun. Dan Jonghyun hanya berharap, ia akan bisa menemukan pengganti Hyo Jin nantinya.

[Against Together End]

 

Leave Comment Please ^^

Critics and suggestion via twitter

 

^Ima^

5 thoughts on “Against Together

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s