[FanFict] Seizure (7th Part-End)

Title         : Seizure

Author   : Ima Shineeworld & Rezky

Casts        : SHINee members, Han Youngri

Length   : Series

Genre      : Family, Romance, AU

Rating     : PG-15

[Seizure] [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4] [Part 5] [Part 6]

Pengacara Park menatap kelima laki-laki itu dengan heran. Sesekali ia melemparkan tatapannya juga pada Youngri dan juga Hyeri yang duduk di sisi lain sofa. Ia menggeleng pelan kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya.

“Seperti yang ditulis disini. Jika salah satu dari kalian ada yang bertengkar, harta kalian sebesar 30% akan jatuh ke tangan Jung sajangnim. Dan jika kalian saling memutuskan tali persaudaraan, maka seluruh harta kalian bisa jatuh ke tangannya,” jelas pengacara Park, menyerahkan beberapa lembar kertas itu pada kelima cucu kakek Jung, “Tanda tangani surat penyerahan kekuasaan ini,”

Jonghyun menarik nafas panjang dan menjadi yang pertama membubuhkan tanda tangannya di atas kertas bermaterai itu. Disusul Jinki, Minho, Taemin, dan Key secara bergantian. Mereka melirik kakek Jung yang hanya menyeringai pelan melihat itu semua. Andai saja ada cara lain untuk menyelamatkan Youngri selain memindahkan harta mereka.

“Kenapa kalian bisa bertengkar?” tanya pengacara Park, mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang itu. Jinki segera tersadar lalu tersenyum pada pengacara Park.

“Urusan pribadi tentu saja,” jawab Jinki cepat. Pengacara Park tertawa pelan kemudian menoleh ke arah Youngri yang masih diam sejak kedatangannya.

“Aah, atau mungkin karena gadis itu ?” tanyanya. Seluruh tatapan pun beralih pada Youngri. Gadis itu mengangkat kepalanya, ia menghela nafas panjang kemudian mengendikkan bahu acuh. Lebih baik ia melakukan itu, daripada harus berbicara.

“Tentu saja. Gadis ini sudah membuat kelima cucuku galau, byeonhosa-nim,” jawab kakek Jung seraya menepuk pelan pundak Youngri. Youngri segera menyingkirkan –tangan kotor Itu dari pundaknya dan mendengus kesal mendengar tawaan –renyah dari kakek Jung.

“Kalau ada pertengkaran lagi, 30% harta kalian akan di serahkan pada Jung sajangnim lagi,” balas pengacara Park lalu berdehem kecil. Mungkin sebaiknya ia pergi dari sana, sebelum ketegangan yang ada merambat padanya. Ia memasukkan kembali kertas-kertas itu ke dalam tasnya kemudian berpamitan pergi.

Jonghyun mendesis pelan lalu bangkit dari sofa itu. Ia berjalan keluar rumah, tanpa berpamitan sedikit pun pada yang lainnya. Youngri mulai bangkit dari sofanya seraya menarik tangan Hyeri. Ia memandang kakek Jung jijik dan mulai melangkah keluar diikuti empat laki-laki di belakangnya.

“Aku tunggu janji kalian,” teriak kakek Jung, sontak membuat langkah mereka terhenti. Key merangkul Youngri dengan lembut dan segera membawanya keluar dari rumah –atau mungkin lebih pantas di sebut neraka itu.

***

Youngri merasakan kedua matanya memanas lagi. Kali ini kelima ‘oppa’ nya itu rela berkorban untuknya. Menyerahkan harta yang memang milik mereka pada kakek Jung hanya untuk menyelamatkannya.

“Kenapa oppa melakukan itu ?” tanya Youngri, setelah menyadari perjalanan pulang itu terasa sangat sepi karena tidak ada yang membuka pembicaraan. Key yang duduk tepat di sebelahnya hanya bisa menghela nafas lalu menepuk puncak kepala gadis itu.

“Aku tidak mau kau hidup dibawah perintah kakek Jung lagi,” jawab Key seraya tersenyum memberikan semangat. Youngri balas tersenyum dan membiarkan Key menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam pelukan laki-laki itu.

“Kau tahu ? Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya,” gumam Key pelan, berusaha agar suaranya itu tidak terdengar ke seluruh van itu, “Saranghae,”

Youngri sedikit tersentak lalu segera menghapus air matanya. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dan wajahnya memanas seketika. Apa yang di rasakannya itu, sangat berbeda dengan apa yang pernah di dengarnya dari Jonghyun atau pun Minho. Ia merasa lebih . . . Entahlah, sangat senang mungkin. Tapi ia masih belum yakin.

“Aku belum bisa memutuskannya, oppa,” Youngri perlahan melepas pelukan Key. Ia tahu bahwa hanya ada mereka berdua di kursi paling belakang van itu. Ia tidak mau Key melakukan seperti apa yang dilakukan Jonghyun tadi pagi. Ia sangat benci mendengar detak jantungnya sendiri ketika menatap kedua mata Key yang tajam itu. Apalagi yang lebih dari itu.

“Araseo,” jawab Key malas lalu menatap keluar jendela.

***

Youngri terbangun dengan kedua mata yang masih saling menempel rapat. Ia bahkan hampir menghabiskan malamnya itu dengan menangis. Dan ia lupa bahwa sekolahnya sudah mulai masuk hari itu setelah liburan musim panas. Kenapa juga ia harus menangis, mengingat semua hal yang dilakukan kelima ‘oppa’ nya itu.

“Selamat pagi,” sapa Key, setelah melihat Youngri sudah berseragam dan siap sarapan bersama yang lainnya.

“Mana Hyeri ?” tanya Minho tiba-tiba.

“Dia masih tidur,” jawab Youngri seraya tersenyum lebar. Ia mulai mengambil makanan yang ada di atas meja dan memulai sarapannya itu dengan diam.

“Aigo~, matamu bengkak. Kau tidak bisa tidur semalam ?” tanya Jinki sontak membuat Youngri hampir tersedak makanan yang tengah di telannya. Ia mengangkat kepalanya kemudian menggeleng cepat.

“Ahni, oppa. Tadi malam aku tidur nyenyak,” Youngri kembali meneruskan sarapannya tanpa mengucapkan apapun lagi.

Selama beberapa saat, keadaan sarapan itu hanya hening. Tapi semuanya itu berubah ketika mendengar isakan kecil dari Youngri. Kelima laki-laki itu pun saling memandang satu sama lain lalu memandang ke arah gadis itu.

“Apa nasi gorengnya terlalu pedas ?” tanya Key khawatir. Youngri menggeleng pelan lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum pada semuanya. Ia hanya menangis bahagia, itu saja.

“Gomawo,” ucapnya pelan. Jonghyun tertawa pelan kemudian menepuk puncak kepala gadis itu dengan lembut.

“Jangan menangis lagi. Kau kira, kita rela berkorban seperti itu untuk melihatmu menangis ? Ayo tersenyum,” Jonghyun menarik kedua bibir Youngri membentuk senyuman. Yang lain hanya tertawa melihat Youngri yang lagi-lagi terisak sambil memukul lengan Jonghyun. Pagi yang cukup behagia di hari pertamanya sekolah bukan ?

***

Taemin menutup buku yang dipakainya untuk mencatat keperluan masa orientasi dan berlalu meninggalkan halaman kampusnya. Ia memilih berjalan kaki dan naik bus, daripada harus naik taksi dan membuang banyak uang. Ia harus belajar hidup sederhana, kalau saja nanti semua harta miliknya dan keempat ‘hyung’ nya itu benar-benar jadi milik kakek Jung.

“Taemin oppa ?” Taemin menolehkan kepalanya ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia segera bangkit dari bangku yang tengah di dudukinya di halte itu dan membungkuk sopan pada gadis itu.

“Kau baru pulang, Yoon Mi-ssi ?” tanya Taemin sedikit ragu. Yoon Mi mengangguk lalu mengambil tempat duduk di sebelah Taemin, “Dimana Youngri ?” tanyanya lagi.

“Dia masih ada urusan di sekolah. Karena dia sangat pintar di semua mata pelajaran, banyak guru yang meminta bantuannya,” jawab Yoon Mi seraya mengendikkan bahunya acuh. Taemin tersenyum samar kemudian lebih memilih memperhatikan jalan, mencari kedatangan bis yang ditunggunya.

“Kalian pasti kagum dengan Youngri ‘kan, oppa ?” pertanyaan Yoon Mi membuat Taemin kembali menoleh. Ia menaikkan sebelah alisnya seolah berpikir maksud gadis itu.

“Maksudmu ?” tanya Taemin heran.

“Youngri rela berkorban untuk adiknya, hanya untuk membayar hutang. Dan sekarang, kalian yang rela berkorban untuk Youngri hanya untuk membayar hutangnya,” Yoon Mi tersenyum ke arah Taemin kemudian menghela nafas panjang, “Sebenarnya, aku sempat iri dengan Youngri,”

“Wae ?” tanya Taemin lagi.

“Aku iri dengan sifatnya yang selalu sabar itu. Dia tidak pernah marah dan selalu baik pada semua orang. Oppa tahu ? Dia bahkan tidak berani membunuh semut sekali pun. Dia selalu berusaha tertawa walaupun hidupnya tidak sebaik apa yang selalu diharapkannya dulu. Dan yang membuatku semakin iri,” Yoon Mi menggantungkan ucapannya sejenak dan menatap kedua mata Taemin yang masih memperhatikannya.

“Dia tinggal bersama lima laki-laki yang rela berkorban untuknya,” lanjut gadis itu kemudian tertawa pelan melihat ekspresi Taemin yang sedikit terkejut, “Tapi rasa iri itu malah berubah menjadi kagum sekarang. Karena aku tidak bisa seperti dia,”

“Aigo~. Kau memang sahabat yang baik,” gumam Taemin pelan seraya menggelengkan kepalanya, “Mian. Karena hyung-hyungku, Youngri tidak jadi pergi ke China. Kau yang beli tiket pesawatnya, perlu ku ganti ?” tambahnya dan segera di jawab gelengan oleh Yoon Mi.

“Aku sudah bisa menebak kalau kalian akan mencegahnya. Tidak perlu diganti, oppa,” balas Yoon Mi seraya menepuk pundak Taemin pelan.

Obrolan keduanya pun terhenti ketika melihat sebuah bis berhenti di halte itu. Taemin berdiri dari bangku itu dan siap memasuki bis. Tapi laki-laki itu malah menoleh kembali ke belakang dan menatap Yoon Mi yang terlihat bingung.

“Kau tidak naik ?” tanya Taemin heran. Yoon Mi berjalan mendekat ke arah Taemin, ia menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal kemudian tersenyum pada laki-laki itu.

“Taemin oppa. Aku harus naik bis apa untuk pergi ke Apgujeong ? Apa searah denganmu ?”

Taemin menepuk pelan keningnya dan segera mendorong gadis itu masuk ke dalam bis. Ia memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sebuah kotak dan duduk bersama Yoon Mi.

“Aku sudah tahu rumahmu. Biar ku antar,” seru Taemin, membuat sebuah senyuman mengembang di bibir Yoon Mi. Selama ini ia selalu diantar jemput oleh supir atau ayahnya. Dan di hari pertamanya naik bis, ia malah bertemu Taemin dan diantar oleh laki-laki itu.

***

Minho terus saja memandang Key yang tengah bermain bersama Hyeri di ruang tengah. Sementara ia sibuk memotong sayuran yang akan dipakai untuk makan malam. Key sedang mogok masak hari itu. Jadi terpaksa Minho dan Jonghyun yang akan membuat makan malam, walaupun masih ada sedikit aura membara dari keduanya setelah kejadian sehari sebelumnya.

“Ya, Ya. Potong yang benar,” potong Jonghyun. Minho menoleh dan malah mendesis pelan ke arah laki-laki itu.

“Jangan coba untuk berdamai denganku, hyung,” balas Minho acuh dan kembali memfokuskan pikirannya pada sayuran-sayuran itu.

“Cish~. Sampai kapan kita perang dingin seperti ini terus, huh ?” tanya Jonghyun pelan seraya mengumpat pelan karena kesusahan mengupas bawang-bawangan –seperti apa yang disuruh Key.

“Mollayo,” jawab Minho singkat lalu beranjak dari meja makan menuju tempat cuci piring untuk mencuci sayuran-sayuran itu.

Sementara itu Key juga ikut memperhatikan Jonghyun dan Minho. Ia sengaja membuat keduanya dekat seperti itu untuk saling meminta maaf. Setelah kejadian berciuman kemarin –yang sempat membuat Key sesak nafas, ia malah didahului Minho untuk memukul Jonghyun. Lagipula ia tidak bisa memukul seperti Minho ataupun Jonghyun, jadi ia hanya bisa diam saja saat melihat kejadian itu.

“Aku pulang,” Youngri membuka pintu rumah itu dan langsung mendapatkan tatapan dari Jonghyun, Minho, dan juga Key. Ia menelan ludah keras-keras dan berjalan dengan menundukkan kepala untuk masuk ke dalam kamar. Sejak kejadian kemarin –saat ketiga laki-laki itu menyatakan perasaan padanya, keadaan menjadi sedikit canggung. Ia bingung harus melakukan apa.

“Youngri-ya,” panggil Key, membuat langkah Youngri yang sudah hampir masuk ke kamar terhenti.

“Bantu aku bereskan kamar Taemin lagi hari ini,” lanjut laki-laki itu bahkan sebelum Youngri berbalik dan memandang Key. Youngri mengangguk lemah kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya. Dan sekarang, setiap mendengar suara melengking Key yang menyebut namanya, jantung Youngri seperti akan keluar dari rongganya.

***

Youngri hanya membereskan buku-buku Taemin yang berserakan –hampir di seluruh kamar itu dengan diam. Walaupun Key ada di dalam kamar itu juga, ia belum bisa mengeluarkan suara untuk membuka pembicaraan. Jantungnya bahkan benar-benar tidak bisa terkendali sekarang. Sifatnya yang cerewet itu pun tiba-tiba menghilang ketika berada di lingkungan seorang Kim Kibum.

“Aigo~, dasar jorok,” gerutu Key seraya mengambil beberapa potong baju yang tergeletak dan segera menaruhnya di dalam keranjang dekat lemari. Youngri tertawa pelan saat melihat ekspresi Key yang terlalu berlebihan itu.

“Hya ! Jangan tertawa !” sahutnya, membuat mulut Youngri mengatup seketika. Gadis itu segera membalikkan tubuhnya lagi menghadap meja belajar dan membereskan buku-buku yang ada disana.

“Nah ! Sudah selesai,” seru Youngri lalu mundur beberapa langkah untuk duduk di tempat tidur, tanpa mau berbalik ke arah Key yang tengah sibuk membereskan tumpukan CD music yang tergeletak di atas tempat tidur.

Dan kali ini Youngri benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Key tepat duduk di sebelahnya dan terus memandanginya. Berkali-kali Youngri harus menelan ludah karena kegugupan yang tiba-tiba menderanya.

“Ah, aku lupa ada tugas dari sekolah,” gumamnya kemudian bangkit dari tempat tidur. Baru saja ia melangkah, tangan Key sudah mencegah tangannya. Youngri sedikit menoleh dan melihat Key sedikit memiringkan kepala seolah menyuruhnya untuk duduk lagi di sana. Ia pun menghela nafas panjang sebelum kembali duduk di sebelah Key.

“Gomawo,” ucap Key tiba-tiba. Youngri mengernyit heran dan berusaha tidak memalingkan wajahnya untuk menatap Key.

“Eii, aku yang harusnya berterima kasih, oppa,” balas Youngri seraya memukul pelan lengan Key –seperti pada ‘oppa’ nya yang lain. Key tersenyum samar lalu menoleh ke arah Youngri yang tengah sibuk memainkan kuku-kuku jarinya.

“Hanya sebentar,” gumam Key tiba-tiba. Youngri menoleh dan segera di sambut sebuah pelukan hangat dari laki-laki itu. Ia tersenyum dalam pelukan Key dan perlahan membalas pelukannya.

***

Jinki menatap gedung perkantoran yang tidak terlalu besar itu dengan lurus. Ia menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali karena keputusannya. Setelah memastikan keputusannya itu yang terbaik, Jinki mulai melangkah masuk ke dalam gedung itu.

“Oh, Jinki-ssi. Silahkan masuk,” sahut seorang laki-laki bertubuh kurus dan berambut sedikit memutih ketika Jinki membuka salah satu ruangan yang ada di dalam kantor tersebut. Jinki membungkuk singkat kemudian mengikuti arahan laki-laki itu untuk duduk di sofa.

“Bagaimana prosedur untuk keluar dari keluarga Jung ?” tanya Jinki to the point, dan berhasil membuat pengacara Park tersedak oleh kopi yang tengah di minumnya. Ia menatap Jinki kaget lalu menaruh cangkir kopi yang masih dipegangnya ke atas meja.

“Kalau kau punya alasan yang kuat, kau bisa langsung menandatangani surat perjanjian. Tapi apa kau yakin ? Kalau kau melakukan ini, harta kalian akan benar-benar menjadi milik kakek Jung. Kau dan keempat laki-laki lainnya harus pergi dari rumah itu dan tidak mendapat uang sepeser pun hanya karena kau keluar dari keluarga Jung. Kenapa tidak berusaha membicarakan masalah kalian ?” jelas pengacara Park. Jinki mengusap wajahnya sendiri kemudian menundukkan kepala seolah berpikir. Ia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya mengangkat wajahnya kembali.

“Masalah ini sangat berat, byeonhosa-nim,” balas Jinki.

Pengacara Park berjalan ke arah meja kerjanya dan membuka salah satu laci yang ada. Ia tampak mencari-cari sesuatu di dalamnya dan kemudian kembali ke sofa di hadapan Jinki. Ia menaruh amplop cokelat yang tadi di ambilnya dari dalam laci itu dan menggesernya perlahan ke hadapan Jinki.

“Belum pernah ada yang melakukan ini sebelumnya. Silsilah keluarga Jung sudah sangat besar dan terhenti di kalian berlima hanya karena kau keluar. Kalian berlima penerus terakhir di keluarga ini, jadi pikirkan baik-baik,” ucap pengacara Park lagi, berusaha mengubah keputusan Jinki yang menurutnya terlalu cepat itu. Ia sudah menjadi pengacara keluarga Jung sejak kelima laki-laki itu lahir dan sampai sebesar ini.

“Byeonhosa-nim. Aku mohon, jangan memaksaku untuk membatalkannya. Aku tetap akan menandatangani surat perjanjian ini. Dan persetan dengan semua silsilah keluarga Jung. Aku tidak peduli,” balas Jinki dengan emosi yang hampir mencapai kepalanya. Pengacara Park mengangguk dan mulai membuka amplop coklat yang masih tersegel dengan rapi itu.

Tidak ada yang berubah sejak surat perjanjian itu di perbaharui terakhir kali olehnya sekitar 30 tahun yang lalu. Ia mungkin akan menyesal nantinya ketika Jinki benar-benar menandatangani surat itu sekarang. Tidak akan ada lagi penerus keluarga Jung nantinya kalau saja kakek Jung meninggal. Semua perusahaan dan harta akan jatuh ke tangan Lembaga Sosial.

“Jinki-ssi, ada satu hal yang belum kuberitahu,” ujar pengacara Park sesaat sebelum Jinki menggoreskan pulpennya ke atas kertas itu.

“Mwoya ?” tanya Jinki heran.

“Perusahaan Jung dan harta itu, akan jatuh ke tangan Lembaga Sosial kalau kakek Jung meninggal nantinya,”

Jinki menjauhkan pulpennya sejenak. Ia menatap kertas berisi perjanjian yang akan mengeluarkannya dari keluarga Jung. Ia sedikit tidak yakin ketika mendengar ucapan pengacara Park. Mengingat bahwa kakek Jung sudah tua dan tidak menutup kemungkinan akan meninggal dalam waktu cepat. Apa yang dilakukannya itu akan sia-sia karena tidak akan bisa kembali lagi masuk ke keluarga Jung.

***

Kakek Jung baru saja mengecek laporan keuangan perusahaan Jung, ketika mendengar pintu ruangannya diketuk. Ia sedikit menegakkan tubuhnya dan menggumam pelan untuk menyuruh –sekretaris pribadinya itu masuk. Hanya sekretaris pribadinya yang boleh memasuki ruangannya tentu saja.

“Ada tamu untukmu,” ujar sekretaris itu. Kakek Jung hanya menguap malas dan berdiri dari kursi kerjanya.

“Aku sedang malas menerima tamu. Bilang saja aku sedang tidak enak badan atau apapun,” balas kakek Jung kemudian berjalan menuju pintu ruangannya.

“Tapi dia Han Ji Hoon,” tambah sekretaris pribadinya itu, membuat langkah kakek Jung terhenti.

Kakek Jung menoleh sekilas ke arah laki-laki itu dan dengan sedikit tergopoh berjalan keluar dari ruangannya. Ia menuruni tangga dari lantai dua rumahnya menuju ruang tamu, dimana seorang laki-laki tengah duduk disana.

“Ada apa lagi kau kesini ? Mau berhutang lagi padaku ?” tanya kakek Jung sarkastik. Laki-laki bernama Ji Hoon itu menyeringai pelan kemudian mengambil sebuah koper besar yang ada di sebelahnya. Ia menaruh koper besar itu ke atas meja dan membukanya.

“Berapa hutangku ? Akan kubayar lunas sekarang dan perjanjian kita tentang Youngri batal,”

Kakek Jung hampir saja kehabisan nafas ketika melihat koper besar itu terbuka. Koper besar itu dipenuhi oleh tumpukan-tumpukan uang ratusan ribu won. Bahkan ia yang selama ini mengurus perusahaan pun tidak pernah melihat uang sebanyak itu. Tapi sepertinya, harta kelima cucunya sendiri lebih banyak dari itu dan ia lebih baik mempertahankan Youngri.

“Sejak kapan kau peduli pada anak-anakmu, huh ?” sergah kakek Jung cepat.

“Sejak aku sadar kalau anakku ternyata lebih berharga daripada harta yang lama-kelamaan akan habis,” jawab Ji Hoon dengan nada lebih menyindir. Kakek Jung tertawa pelan, ia menggeleng pelan menolak semua alasan Ji Hoon.

“Perjanjian kita tidak bisa dibatalkan Ji Hoon-ssi. Youngri lebih menguntungkan daripada uang yang kau berikan sekarang,” kakek Jung menutup kembali koper itu dan mendorongnya ke hadapan Ji Hoon.

“Aku akan tambah lagi. Kau mau berapa ? Aku bisa membayar semua yang kau mau sekarang juga,” balas Ji Hoon cepat.

“Kau tidak bisa melakukan itu. Perjanjian kita adalah, Youngri sebagai jaminannya kalau kau tidak kembali dalam waktu satu bulan. Ini sudah empat bulan sejak kepergianmu,” kakek Jung menyeringai pelan kemudian mengisap cerutu –yang baru saja dinyalakan oleh sekretaris pribadinya.

“Baiklah. Kalau kau tidak mau uang ini, aku akan membawa Youngri pergi secara paksa dan kau tidak dapat apapun termasuk dari kelima cucumu itu,” ancam Ji Hoon dan mulai bangkit dari sofa. Kakek Jung mengangkat kepalanya dengan cepat ke arah Ji Hoon yang tengah membungkukkan badan.

“Kau ? Tahu darimana anakmu tinggal bersama lima cucuku huh ?” tanya kakek Jung heran.

“Tidak penting aku tahu darimana. Yang jelas, kau memanfaatkan anakku untuk mendapatkan harta dari kelima cucumu itu. Jadi, bagaimana ?” tanya Ji Hoon seraya memainkan koper berisi uang itu. Ia melihat kakek Jung sedikit kebingungan dan berpikir. Ia sangat tahu bagaimana sifat kakek Jung. Ia tidak mungkin kehilangan kesempatan emas untuk menerima banyak uang. Lebih rugi lagi ketika Youngri dibawanya pergi, dan kelima cucunya itu tidak akan menyerahkan hartanya. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana kakek Jung –yang serakah itu hidup tanpa uang nantinya.

“Baiklah. Perjanjian itu tidak penting lagi sekarang. Serahkan koper itu padaku,”

***

Suasana rumah tampak tidak seramai biasanya. Jinki hanya diam di meja makan sambil sesekali mengusap wajahnya. Berpikir mengenai keputusannya menandatangani surat perjanjian tentang perpisahan keluarga Jung. Semua saudara laki-laki nya tidak tahu tentang rencananya itu. Ia tahu bahwa mereka semua pasti akan menyetujuinya, apalagi menyangkut keselamatan Youngri.

Tatapan Jinki beralih pada Key yang tengah serius menonton acara TV dan Minho yang tertidur di sofa. Entah kenapa suasana di rumah itu menjadi canggung setelah Youngri kembali lagi. Semuanya seakan menahan diri untuk tidak dekat dengan yang lainnya. Menurutnya malah, suasana rumah itu menjadi dingin karena para penghuninya saling mengibarkan bendera perang.

“Ayo masuk,” suara Youngri membuyarkan lamunan Jinki saat itu. Jinki sedikit berbalik untuk melihat pintu rumah dan melihat gadis itu masuk bersama temannya.

Youngri menarik tangan Yoon Mi memasuki rumah itu. Ia mendapat tugas kelompok bersama Yoon Mi dan harus dikumpulkan besok. Sebenarnya tugas itu sudah di berikan oleh gurunya sebelum liburan musim panas. Tapi karena masalahnya dengan keluarga Jung, ia bahkan tidak ingat ada tugas dari gurunya. Dan sepertinya Yoon Mi akan menginap disana untuk mengerjakan tugas itu.

“Eonni !” pekik Hyeri lalu segera memeluk Youngri dengan erat. Yoon Mi tertawa pelan melihat tingkah Hyeri kemudian mengacak rambut anak itu dengan lembut. Keduanya kembali berjalan ke arah ruang TV dan segera memberi salam pada Key –yang terlihat masih membuka matanya.

“Apa kabar, oppa,” sapa Yoon Mi seraya membungkukkan badannya. Key segera tersadar dan bangkit dari sofa untuk membalas membungkuk.

“Baik,” jawab Key lalu tersenyum pada gadis itu. Youngri mengerutkan keningnya dan segera menarik tangan sahabatnya itu untuk masuk ke dalam kamar.

Tidak mungkin ‘kan ia mengatakan bahwa sedikit terganggu dengan pemandangan itu. Senyum Key itu terlalu manis menurutnya untuk Yoon Mi. Ia bahkan jarang melihat Key tersenyum manis padanya.

“Kita mulai darimana ?” tanya Yoon Mi, membuyarkan lamunan Youngri. Gadis itu mulai mengeluarkan pulpen dan sebuah buku catatan. Youngri mengangguk dan menyalakan computer yang berada di kamarnya.

“Membuat pokok permasalahan, setelah itu pembahasannya,” jawab Youngri lalu mencoba menyibukkan diri dengan computer.

***

Key memanggil seluruh penghuni di rumah itu, termasuk Yoon Mi yang akan menginap. Sudah waktunya makan malam, dan ia sengaja membuat makanan yang cukup istimewa untuk menyambut kedatangan sahabat Youngri. Dan karena mood-nya juga sedang baik untuk memasak.

“Wooaah, oppa yang masak semuanya ?” tanya Yoon Mi setengah tidak percaya pada Key yang masih berdiri di dekat meja makan. Semua yang ada di rumah itu pun mulai mengambil posisi masing-masing di meja makan. Hyeri tetap bersama Youngri, hanya saja Yoon Mi masih berdiri karena kursi meja makan itu hanya cukup untuk 6 orang.

“Uh ? Biar aku yang makan di sofa,” sahut Taemin seraya bangkit dari kursi dan membawa mangkuk berisi nasi serta lauk-pauk di dalamnya. Yoon Mi membungkuk terima kasih dan beralih mengambil tempat duduk Taemin.

Yoon Mi memejamkan matanya sejenak seraya mengatupkan kedua tangannya. Berdoa sejenak sebelum makan. Ia senang ketika bisa mengetahui kehidupan Youngri bersama lima laki-laki itu. Ternyata di sayangi oleh beberapa laki-laki saja sudah membuatnya senang. Selama ini ia hanya di sayangi oleh ayahnya dan juga supir pribadinya.

Suara bel rumah itu membuyarkan kegiatan makan malam keluarga Jung. Youngri dengan cepat menurunkan Hyeri dari pangkuannya dan mendudukkan anak itu di kursi. Ia sedikit berlari ke arah pintu dan segera membuka pintu itu.

Keadaan hening beberapa saat setelah Youngri membuka pintu rumah. Key mengangkat kepala dan sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat siapa tamu yang datang malam-malam seperti itu. Setelah tidak mendengar suara apapun dari Youngri, Jonghyun beranjak dari meja makan dan menghampiri gadis itu.

“Youngri-ya, nuguseyo ?” tanya Jonghyun ketika berdiri tepat di samping Youngri. Ia membungkuk sopan pada seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu dan mencoba menyadarkan Youngri yang masih saja diam.

“Kenapa appa datang lagi ke kehidupanku ?” gumam Youngri, sontak membuat Jonghyun membulatkan kedua matanya. Jonghyun menoleh pada laki-laki paruh baya di depannya lalu menggeleng pelan.

“Menjemput anak-anakku tentu saja,” jawab Ji Hoon seraya tersenyum pada anak gadisnya.

Jonghyun mendecak kesal lalu mendorong Ji Hoon menjauh dari pintu rumahnya. Ia tidak menghiraukan bahwa laki-laki itu lebih tua darinya. Ia tidak mengerti, kenapa laki-laki itu tiba-tiba datang kembali ke hadapan Youngri setelah menjualnya pada kakek Jung.

“Appa !” pekik Hyeri kemudian memeluk Ji Hoon yang berdiri di hadapan Jonghyun. Ji Hoon segera menggendong Hyeri dan menatap Youngri nanar, berharap gadis itu akan melakukan hal yang sama.

Youngri merasakan kedua matanya mengabur karena air mata. Ia menggeleng tidak percaya dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia memandang Yoon Mi sejenak yang masih berada di meja makan kemudian berlari lagi untuk masuk ke dalam kamarnya.

***

Ji Hoon menatap lima laki-laki yang duduk di hadapannya. Ia tengah duduk di sofa dan kelima laki-laki itu butuh penjelasan tentang kepergian Ji Hoon yang tiba-tiba. Meninggalkan Youngri dan Hyeri dalam balutan berbagai hutang.

“Kepergianku waktu itu hanya untuk mencari uang. Aku pergi ke Melbourne dan China untuk melakukan penelitian. Pekerjaanku diterima dengan baik, aku mendapat gaji yang sangat besar dan bisa melunasi hutang pada Jung sajangnim. Perjanjian kami batal karena hutangku sudah lunas. Dan sekarang aku akan membawa Youngri keluar dari rumah ini,” jelas Ji Hoon, membuat kelima laki-laki itu mematung sejenak.

Ketika menyadari Youngri akan pergi dalam waktu dekat, kelimanya tidak bisa bayangkan kehidupan mereka tanpa Youngri lagi. Sudah selama 3 bulan lebih mereka berkumpul bersama gadis itu, menghabiskan waktu bersama dan yang terpenting adalah ketika mereka bertengkar hanya karena menyatakan perasaan masing-masing.

“Tapi kenapa ahjussi malah menjual Youngri pada kakek Jung ? Youngri sangat terpukul saat tahu ahjussi menjualnya,” tanya Taemin dengan wajah polosnya dan sedikit penasaran.

“Menjualnya ? Astaga . . Aku tidak pernah berpikiran sepicik itu, anak muda. Aku malah meminta tolong pada Jung sajangnim untuk menjaga Youngri sementara aku pergi untuk melunasi hutang. Dan aku mengatakan, kalau dalam waktu satu bulan hutang itu belum lunas, Jung sajangnim bisa membawa Youngri sebagai jaminannya agar aku cepat kembali,” Ji Hoon menghela nafas panjang ketika kelima laki-laki itu menggelengkan kepalanya tidak percaya.

“Apa kakek Jung sejahat itu ?” tanya Taemin tidak mengerti.

“Ia mau membuat seolah-olah Youngri dalam posisi terancam. Kakek Jung tahu kita pasti peduli padanya dan akan melakukan cara apapun untuk menyelamatkannya,” jawab Jinki seraya mengepalkan kedua tangannya.

“Termasuk menyerahkan seluruh harta kita padanya,” tambah Minho.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang ?” tanya Key, lalu bangkit dari sofa dan menatap yang lainnya. Taemin beranjak dari sofa dan berlari memasuki kamarnya di lantai dua. Jinki hanya bisa menundukkan kepalanya dan tidak melakukan apapun. Bukan mengenai kakek Jung sekarang, tapi mengenai kepergian Youngri.

***

Sudah berhari-hari berlalu sejak kedatangan Ji Hoon dan tentang keputusannya itu. Selama Ji Hoon tinggal di rumah mereka untuk menunggu keputusan Youngri, masih belum ada yang berani mengatakan apapun pada gadis itu. Setidaknya itu akan membantu mereka untuk lebih rela untuk melepas Youngri nantinya. Dan tidak bisa di pungkiri kalau mereka sangat tidak ingin hal itu terjadi.

Dan Youngri, sepertinya ia perlu memikirkan tawaran ayahnya itu dua kali. Mungkin jika ia pergi, ia tidak harus memilih salah satu diantara kelima ‘oppa’ nya itu. Keputusan yang sangat sulit ketika ia diharuskan memilih itu. Tapi jika ia pergi juga, ia tidak akan bisa melihat kelima laki-laki itu dan juga sahabatnya.

From : Taemin oppa

Aku tunggu kau di taman kota sekarang

Youngri menutup flip ponselnya dan mencoba menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak melamun lagi. Ia sudah terlalu banyak melamun karena memikirkan keputusannya sendiri.

“Kau mau kemana ?” tanya Ji Hoon ketika melihat anak gadisnya keluar dari kamar.

“Keluar sebentar, appa,” jawab Youngri seraya membungkukkan badannya.

“Jangan lama-lama, pesawat kita akan berangkat nanti malam,” balas Ji Hoon seraya menggendong Hyeri yang tertidur dan berjalan masuk ke dalam kamar Youngri.

Ucapan ayahnya sempat membuat Youngri tidak bisa bernafas. Secepat itukah ia harus pergi ? Bagaimana ia harus mengucapkan perpisahan pada kelima laki-laki itu ? Tidak mungkin ia berpura-pura kuat dan tidak menangis ketika melambaikan tangan pada kelimanya.

***

Taemin mengangkat kepalanya ketika melihat Youngri berjalan memasuki taman itu. Ia membiarkan gadis itu mendekat dan duduk di sebuah ayunan tepat di sebelahnya. Keduanya hanya diam sambil sesekali mengayun pelan ayunan yang mereka naiki.

“Kau akan pergi ?” tanya Taemin membuka pembicaraan. Youngri menghela nafas sejenak sebelum menoleh pada Taemin dan menatap kedua mata laki-laki itu.

“Keurae. Appa sudah susah payah mencari uang untuk melunasi hutang dan aku harus membalasnya. Aku akan membantu appa di Melbourne setelah lulus SMA nanti,” jawab Youngri seraya tersenyum dan mencoba terlihat senang dengan keputusannya.

“Kau menghindari kami ‘kan ?” tanya Taemin lagi, membuat Youngri sedikit tersentak. Gadis itu memalingkan wajahnya kemudian menggeleng pelan.

“Ahni. Lagipula, aku hanya akan merepotkan kalian kalau tetap tinggal di Seoul,”

“Kau sama sekali tidak merepotkan Han Youngri,” potong Taemin. Ia bangkit dari ayunannya dan berdiri tepat di hadapan ayunan gadis itu, “Berdiri,”

“Mwo ?” tanya Youngri tidak mengerti dengan seruan Taemin.

“Berdiri aku bilang,” seru Taemin lagi. Youngri segera berdiri dan sedikit mendongak untuk menatap Taemin yang jauh lebih tinggi darinya.

Tanpa memberikan aba-aba, Taemin sudah menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Taemin mulai terisak kecil ketika merasakan pelukannya itu adalah pelukan perpisahan. Ia tidak akan bisa memeluk Youngri lagi di kemudian hari. Ia tidak akan bisa melihat senyuman dan ocehan Youngri lagi setiap harinya. Dan ia tidak akan bisa melupakan perasaannya sendiri.

“Oppa. .” gumam Youngri pelan seraya mengelus punggung Taemin, mencoba menenangkan laki-laki itu.

“Jangan pergi,” balas Taemin lalu semakin mempererat pelukannya.

“Aku tidak bisa, oppa. Hyeri tidak mungkin hidup sendirian dengan appa di Melbourne,”

“Kalau begitu, tinggal di sini demi aku,” potong Taemin kemudian. Youngri membulatkan kedua matanya dan mendorong tubuh Taemin menjauh.

“Saranghae,”

Untuk yang keempat kalinya ia mendengar kata-kata yang sama dan untuk keempat kalinya juga ia tidak tahu harus berbuat apa. Merasa gugup dan takut kalau apa yang dikatakannya nanti akan menyakiti Taemin. Ia benar-benar belum bisa menentukan siapa yang di sukainya saat itu.

“Aku tidak tahu, oppa,” gumam Youngri. Hanya itu yang bisa dikatakannya sekarang.

“Wae ?” tanya Taemin tidak mengerti. Youngri menggeleng pelan kemudian melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Omo~. Pesawatku berangkat dua jam lagi,” sahut Youngri mencoba menghindari jawabannya. Ia menatap Taemin sejenak lalu berlari dari sana. Tidak ada lagi yang harus di bicarakannya dengan Taemin. Bahkan ia berlari sambil menangis karena tidak yakin dengan perasaannya sendiri.

***

Mungkin benar, dimana ada pertemuan maka akan ada perpisahan. Tapi Minho tidak pernah menyangka perpisahannya dengan gadis itu secepat ini. Ia jarang berbicara dengan Youngri, tidak pernah menunjukkan perasaannya, dan selalu bersikap dingin. Harusnya ia bisa bersikap lebih baik ketika gadis itu masuk ke dalam kehidupannya.

“Kau harus baik disana, arachi ? Jangan lupa makan, tidur yang cukup, dan belajar. Ah, aku rasa kau tidak perlu belajar. Dan satu lagi ! Jangan memilih pacar sembarangan, atau aku akan terbang kesana untuk menyusulmu,” ujar Key panjang lebar, berusaha menasehati Youngri. Gadis itu hanya terkekeh pelan kemudian mengangguk semangat.

“Kamsahamnida, oppa. Aku selalu merepotkan dan membuat kesal selama ini,” sahut Youngri seraya tersenyum lebar pada kelimanya.

Jinki balas tersenyum kemudian melangkah mendekati gadis itu. Ia menepuk puncak kepala Youngri lalu memeluk singkat tubuhnya.

“Kau kakak terbaik yang pernah kukenal, oppa. Aku merasa seperti punya kakak laki-laki yang selalu bisa melindungiku,” ucap Youngri, setelah Jinki menurunkan tangannya dari puncak kepala gadis itu. Senyum Jinki menghilang begitu saja. Ia baru akan menyatakan perasaannya, tapi ternyata Youngri hanya menganggapnya sebagai seorang kakak.

“Keurae. Aku menyayangimu sebagai adik,” balas Jinki, mencoba tersenyum walaupun terlihat aneh. Ia tidak mau merusak momen itu, kalau saja ia menyatakan perasaannya.

“Yoon Mi-ya. Aku akan merindukanmu,” gumam Youngri seraya memeluk erat sahabatnya. Yoon Mi mengangguk pelan, ia menghapus air matanya yang sudah keluar dan balas memeluk gadis itu. Perlahan Youngri melepas pelukannya dan mencoba tersenyum.

“Youngri-ya ! Palli, pesawatnya sudah mau berangkat !” teriakan Ji Hoon mengalihkan perhatian Youngri yang masih melakukan ritual perpisahan itu.

“Ehm. Aku harus berangkat sekarang, oppadeul,” Youngri membungkuk singkat dan mulai berbalik. Rasanya air matanya sudah mendesak ingin keluar. Hatinya sangat sesak saat itu, harus berpisah dengan kelima laki-laki itu dan juga sahabatnya secara mendadak.

“YA ! Dimana pelukan perpisahan kami ?” teriak Jonghyun lagi, menghentikan kembali langkah Youngri. Gadis itu berbalik dan dengan cepat memeluk Jonghyun, disusul keempat laki-laki lainnya yang ikut memeluk Youngri secara bersamaan.

“Aigo~, aku sedih saat melakukan pelukan perpisahan seperti ini,” gumam Minho seraya melepaskan pelukannya.

“Aku akan ingat pelukan perpisahan ini,” ujar Taemin, membuat senyuman Youngri mengembang. Gadis itu terus menatap Taemin untuk beberapa saat. Seolah menyuruh Taemin untuk tidak membencinya karena kejadian tadi sore.

“Annyeong. Fighting !” Youngri membungkuk lagi dan kali ini berlari untuk mengejar ayahnya dan juga Hyeri. Ia sudah sangat ingin menangis dan tidak mau menangis di hadapan kelima laki-laki itu.

Kelimanya menatap Youngri yang menghilang di balik pintu masuk Boarding Room. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mereka. Youngri sudah pergi dan tidak ada yang bisa mencegahnya. Gadis itu sudah pergi dan mungkin akan menetap di Melbourne karena pekerjaan ayahnya. Jadi sekarang, apa yang harus dilakukan mereka ? Menunggu gadis itu kembali dari Melbourne ? Tapi pada akhirnya hanya satu yang akan menjadi milik Youngri nantinya. Atau bahkan mungkin tidak akan ada yang menjadi milik gadis itu.

[Seizure End]

One thought on “[FanFict] Seizure (7th Part-End)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s