[FanFict] Seizure (6th Part)

Title         : Seizure

Author   : Ima Shineeworld & Rezky

Casts        : SHINee members, Han Youngri

Length   : Series

Genre      : Family, Romance, Angst (?)

Rating     : PG-15

[Seizure] [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4] [Part 5]

Mereka pun memutuskan untuk berpencar. Jonghyun bersama Hyeri menyusuri jalanan di dekat rumah kakek Jung, berjaga-jaga kalau saja Youngri akan benar-benar ke rumah kakek Jung. Dan kenapa yang lainnya memilih Jonghyun untuk bersama Hyeri, karena laki-laki itu yang paling bisa berkelahi diantara semuanya kalau saja ada salah satu penjaga kakek Jung yang memergoki mereka.

Jonghyun menyerahkan salah satu es krim yang tadi di belinya pada Hyeri, lalu duduk di salah satu bangku di taman bermain dekat rumah kakek Jung. Ia menatap anak perempuan itu kemudian tersenyum begitu saja. Anak itu sangat mirip dengan Youngri.

“Apa kalian tinggal berdua ?” tanya Jonghyun membuka pembicaraan. Hyeri menoleh pada Jonghyun yang duduk di sebelahnya lalu mengangguk kecil.

“Setelah eomma meninggal dan appa yang pergi entah kemana, kami hanya tinggal berdua,” Hyeri menurunkan es krim dari mulutnya kemudian mengingat kembali ketika semua keluarganya masih berkumpul.  Perlahan sebuah isakan pun memecah keheningannya bersama Jonghyun. Anak perempuan itu membiarkan es krim yang di pegangnya terjatuh kemudian menangis lebih keras lagi.

“Ya. Neo wae ? Apa aku menyakitimu ?” tanya Jonghyun sedikit panik. Ia sedikit menunduk untuk melihat Hyeri yang semakin memperkeras tangisannya.

“Hyeri !” Jonghyun menoleh dan sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat seorang wanita yang berlari ke arahnya –atau mungkin ke arah Hyeri. Gadis itu segera memeluk Hyeri dengan erat, bahkan mungkin tidak sadar ada Jonghyun di sebelah anak itu.

“Eonni. Nan niga bogoshipeo,” gumam Hyeri setelah menyadari bahwa wanita yang memeluknya adalah kakaknya. Youngri mengangguk dan ikut menangis bersama Hyeri yang masih dipeluknya dengan erat.

Jonghyun memandang pemandangan di depannya dengan terharu juga. Entah sudah berapa keduanya tidak bertemu karena keserakahan kakek Jung. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemudian berdiri, sedikit berjalan menjauh dari kedua kakak-beradik yang masih saling melepas kerinduannya itu.

“Aku menemukannya,”

***

Tidak ada yang membuka pembicaraan ketika makan siang –yang tiba-tiba itu terjadi. Youngri menepuk puncak kepala Hyeri yang duduk di sebelahnya dan menyuruhnya untuk makan banyak. Sementara Jonghyun yang duduk berhadapan dengannya, melipat kedua tangannya di depan dada dan melihat bagaimana Youngri sangat peduli pada adiknya.

“Kenapa kau tiba-tiba pergi ?” tanya Jonghyun akhirnya. Youngri hanya mengaduk makan siangnya dan tidak mau mengangkat kepalanya untuk menatap Jonghyun.

“Tugasku sudah selesai. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tinggal disana,” jawab Youngri sedikit acuh seraya menyuapkan makanannya dengan malas. Jonghyun menaruh kedua tangannya di atas meja dan sedikit memperdekat jarak diantara mereka.

“Kau tega membiarkan kami semua kelaparan huh ?” tanya Jonghyun sedikit bergurau. Youngri menyeringai pelan kemudian membantu Hyeri menghabiskan makan siangnya.

“Kau sudah selesai ? Ayo kita pulang,” Youngri sedikit memaksa adiknya bangkit dari kursi. Ia membungkuk sekilas pada Jonghyun kemudian keluar dari restoran itu. Jonghyun meletakkan uang untuk membayar di atas meja lalu segera berlari mengejar keduanya.

“Ya ! Han Youngri !” Jonghyun segera mencengkeram bahu Youngri, membuat gadis itu berbalik pada Jonghyun.

“Key oppa tidak lupa cara memasak ‘kan ? Aku masih ada urusan lain,” jawab Youngri cepat, ia membungkuk lagi pada Jonghyun lalu membawa adiknya segera pergi dari sana. Jonghyun menyeringai kemudian memukul udara kosong di sekitarnya karena kesal. Gadis periang dan ramah yang dikenalnya itu sudah berubah. Ia tidak mengerti kenapa Youngri menghindarinya seperti itu.

Dimana dia ?” Jonghyun menoleh dan mendapati keempat saudaranya tengah menatapnya dengan tidak sabar. Ia tersenyum tipis kemudian mendekat ke arah keempatnya.

“Dia sudah pergi,” balasnya lalu masuk ke dalam mobil Jinki, meninggalkan tatapan heran dari yang lainnya. Ia memijat keningnya perlahan, tiba-tiba saja ingatannya itu memutar kembali kejadian singkat pertemuannya dengan Youngri tadi. Ada sebuah dorongan di dalam hatinya untuk memeluk gadis itu tadi, dan mencegahnya untuk tidak pergi lagi.

***

Kakek Jung mengumpat kesal pada semua penjaga dan pengawal di rumahnya itu. Dengan cepat ia mengusir semua penjaga dan pengawal yang tidak berguna itu keluar dari ruang kerjanya. Setelah pintu tertutup, ia segera mengalihkan pandangannya pada sebuah bingkai foto.

“Keinginanku selalu terpenuhi. Dan kali ini juga,”

Kakek Jung masih terus saja menggumam sambil mengetuk-ngetukkan pulpen miliknya ke atas meja. Ia berpikir keras, memikirkan bagaimana cara untuk membuat kelima cucunya itu bertengkar.

“Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, dan Lee Taemin. Apa mereka tidak pernah berpikir panjang ? Sebentar lagi mereka akan bertengkar karena kehilangan Youngri,”

***

Beberapa orang tampak memperhatikan Youngri dan juga Hyeri yang tengah membersihkan meja-meja di sebuah restoran. Hyeri menaruh lap yang tengah dipegangnya lalu duduk di kursi dekat meja yang tengah dibersihkan oleh kakaknya itu. Ia mengusap pelan perutnya yang terasa sangat perih. Maag yang dideritanya tiba-tiba kambuh karena belum ada sesuap makanan pun yang masuk ke dalam perutnya, padahal hari sudah siang.

“Eonni, aku lapar,” gumam Hyeri membuat tangan Hyeri yang tengah membersihkan meja itu terhenti beberapa saat. Youngri segera berlutut di hadapan Hyeri lalu mengacak rambut anak itu lembut.

“Sabar Hyeri,” balasnya lalu kembali berdiri untuk membersihkan meja itu, “Tunggu sebentar lagi,”

Youngri berlalu ke arah dapur dan meninggalkan Hyeri yang masih diam di tempat duduknya. Anak perempuan itu menggigit bagian dalam bibir bawahnya karena merasakan perutnya semakin sakit. Entah sejak kapan penyakit maag-nya itu menjadi semakin parah. Pandangan Hyeri semakin mengabur dan detik berikutnya semua menjadi gelap begitu saja.

“AIGOO !!” pekikan dari pelayan restoran itu pun membuat langkah Youngri terhenti. Ia menoleh ke belakang dan melihat ke arah Hyeri yang sudah tergeletak di lantai restoran. Ia segera melepas celemek yang masih dipakainya dan berlari menghampiri adiknya.

“Hyeri-ya !” Youngri bergegas mengangkat tubuh Hyeri dan membawanya ke lantai dua restoran itu. Ia menidurkannya di sebuah tempat tidur –tempat biasanya salah satu pegawai menginap kemudian duduk di sisi tempat tidur.

“Igeo. Beri dia teh hangat Youngri-ssi,” Youngri menggumam terima kasih seraya menerima segelas teh hangat yang diberikan oleh wanita paruh baya yang menjadi juru masak disana. Ia menaruh teh hangat itu di sebuah nakas dekat tempat tidur lalu mengusap pelan rambut Hyeri untuk membangunkan anak itu sejenak.

Hyeri membuka matanya perlahan dan memandang Youngri yang sudah mulai berkaca-kaca. Ia berusaha bangkit untuk memeluk kakaknya itu dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tapi ia tidak bisa melakukan itu, perutnya masih terasa sakit ketika ia semakin mencoba bergerak.

“Eonni,” lirih Hyeri membuat jantung Youngri mencelos seketika saat melihat adiknya baik-baik saja. Ia menyodorkan teh hangat yang sudah mendingin itu pada Hyeri.

“Kambuh lagi ?” tanya Youngri setelah menaruh teh hangat itu kembali ke atas nakas. Hyeri mengangguk pelan dan segera merubah posisinya menjadi duduk, “Tunggu sebentar. Aku cari makanan dulu,”

Tidak butuh waktu lama untuk Youngri mengambil makanan yang ada di dapur dan kembali lagi duduk di dekat Hyeri. Ia membiarkan adiknya menyuapkan sendiri makanan itu, sedangkan ia kembali lagi ke restoran untuk meneruskan pekerjaannya. Dan pekerjaannya itu terhenti lagi ketika merasakan ponselnya bergetar di dalam saku. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengangkat telepon dari Yoon Mi.

“Yeoboseyo. . .Ne, aku masih di restoran . . Eumm, aku akan segera pulang. . . Annyeong,”

***

Youngri menatap dua tiket di tangannya dengan heran. Ia mengalihkan tatapannya itu pada Yoon Mi yang tengah bermain bersama Hyeri. Tiba-tiba saja ia di suruh datang ke rumah sahabatnya itu dan malah di sambut dengan dua lembar tiket pesawat. Gadis itu belum mengatakan alasan kenapa tiba-tiba memberi tiket pesawat itu.

Mulut Youngri mengatup kembali ketika sempat terbuka untuk memngucapkan sesuatu pada Yoon Mi. Mungkin, jika ada kata-kata yang lebih baik dari sekedar ‘terima kasih banyak’, ia akan mengatakan itu pada sahabatnya. Setelah keluar dari rumah –kau tahu siapa itu, ia dan Hyeri memutuskan untuk tinggal di rumah Yoon Mi sementara sampai ia kembali mendapatkan apartemen baru. Tapi ternyata, gadis itu malah memberinya tiket pesawat ke China dan menyuruhnya untuk pergi dari Korea sementara ini. Menghindar dari kakek Jung dan juga perasaannya.

Youngri menghela napas panjang ketika dadanya tiba-tiba terasa sesak. Pertemuannya dengan Jonghyun kemarin benar-benar mendadak. Ia tidak tahu apa yang harus dibicarakan dan hanya bisa menghindar. Ia tidak mau perasaan bersalahnya itu semakin menjadi-jadi. Dan ia tidak mau bertemu dengan keempat laki-laki lainnya. Karena ia yakin akan menangis ketika melihat tatapan khawatir dari kelimanya.

“Pesawatnya akan berangkat nanti malam. Jadi kurasa, kalian harus bersiap sekarang,” ucap Yoon Mi membuyarkan lamunan Youngri seketika. Gadis itu menoleh pada Yoon Mi yang tengah menatap sedikit khawatir ke arahnya.

“Kamsahamnida. Jeongmal kamsahamnida Kang Yoon Mi,” balas Youngri lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat. Kedua matanya mulai mengabur karena air mata. Ia sedih karena masih ada yang bisa mengerti keadaannya saat itu.

“Tadi ada salah satu orang suruhan kakek Jung kesini,” ucapan Yoon Mi membuat Youngri melepas pelukannya dan menatap gadis itu heran, “Dia menanyakanku tentang kau dan Hyeri. Tapi sepertinya aktingku cukup bagus karena mereka tidak curiga saat bilang bahwa kita tidak pernah bertemu lagi,”

“Hoaah, jinjja. Aku kira kau berkomplot dengan mereka,” balas Youngri lalu memukul pelan lengan sahabatnya. Keduanya terkekeh pelan kemudian terdiam lagi.

“Aku sudah mengurus kepindahan sekolahmu ke China. Orang suruhan ayahku juga sudah mengubah namamu kalau sampai di China nanti,”

Youngri segera menoleh ke arah Yoon Mi ketika mendengar –hal yang mengejutkan lagi, “Pindah sekolah ? Dan ayahmu. Kenapa dia bisa ikut-ikutan juga ?”

“Ayahku terharu mendengar semua ceritamu. Dia tidak bisa membantu –apa yang berhubungan dengan kakek Jung, jadi hanya bisa membantu kepindahanmu ke China,” Yoon Mi mengendikkan bahu acuh lalu melihat Youngri yang sudah menganga karena ucapannya.

“Hanya ? Kau bilang hanya ? Kau dan ayahmu itu sudah membantu banyak. Membolehkanku tinggal disini, mengurus kepindahanku ke China, mengubah namaku, dan semuanya yang tidak bisa disebutkan. Itu tidak bisa dibilang ‘hanya’, Kang Yoon Mi,” balas Youngri sedikit gemas mendengar Yoon Mi yang terlalu merendah.

“Aish. Sudahlah. Kau siap-siap sekarang. Aku akan mengantarmu ke bandara nanti,” Yoon Mi menepuk pelan pundak sahabatnya kemudian berlalu ke lantai dua untuk masuk kamarnya. Sementara Youngri masih sedikit kaget dengan semua penjelasan Yoon Mi. Ia menggeleng pelan lalu kembali menatap tiket pesawat di tangannya. Masih ada sebuah pertanyaan besar di kepalanya yang membuatnya agak ragu untuk pindah ke China.

***

Taemin memandang setiap gerak-gerik seorang gadis yang tengah memasukkan koper ke dalam sebuah mobil. Ia sedikit membuka kaca taksi yang tengah dinaikinya itu kemudian menggeleng pelan. Yang dilihatnya itu benar Youngri, atau mungkin hanya khayalannya saja. Darimana ia bisa membawa koper sebesar itu, sedangkan baju-baju gadis itu masih tersimpan rapi di rumahnya. Dan mau pergi kemana gadis itu dengan membawa koper sebesar itu.

“Ikuti mobil depan kisa-nim,” ujar Taemin pada supir taksi yang tengah membawanya, ketika melihat mobil yang baru saja dinaiki Youngri mulai melaju. Ia hanya berdoa semoga saja gadis itu tidak pergi ke Incheon.

Harapan Taemin sirna begitu saja ketika melihat mobil gadis itu benar-benar berhenti tepat di depan bandara Incheon. Ia memberhentikan taksinya dengan jarak yang cukup jauh dan tidak berusaha untuk turun dari sana. Ia hanya mengeluarkan ponsel dan menelepon Jonghyun yang sudah menunggunya sejak tadi.

Dimana dia ?’ tanya Jonghyun tidak sabar. Taemin sedikit menjauhkan ponselnya ketika mendengar pekikan ‘hyung’ nya itu lalu menempelkan ke telinganya lagi beberapa saat kemudian.

Bandara,” jawab Taemin cepat.

‘MWO ?! Aku akan kesana sekarang !’

Taemin menaruh ponselnya kembali ke dalam saku dan mengangkat kepalanya untuk melihat Youngri. Namun ia tidak melihat gadis itu di tempatnya semula. Bahkan mobil yang mengantarnya pun sudah tidak ada. Ia segera membayar taksi itu dan bergegas keluar untuk mengejar dan mencegah gadis itu.

Entah apa yang ada di pikiran Taemin saat menemukan alamat rumah Yoon Mi tadi sore di kamar Youngri. Ia segera melesat pergi dengan taksi ke alamat itu tanpa memikirkan apapun lagi. Gadis itu dan Hyeri pasti akan tinggal bersama orang yang terdekat dengan mereka. Dan hanya Yoon Mi yang terdekat dengan Youngri untuk saat itu. Tapi ia malah menemukan Youngri yang tengah bersiap pergi.

“Damn !” umpat Taemin ketika tidak melihat Youngri di seluruh area bandara Incheon itu.

Langkah Taemin terhenti di depan terminal keberangkatan ke luar negeri. Ia melirik ke dalam area ruang tunggu keberangkatan dan melihat Youngri duduk di sana. Melihat papan jadwal penerbangan, ada penerbangan ke China 1 jam lagi. Apa mungkin gadis itu akan pergi ke China ?

“Youngri-ya !” Taemin segera berlari melewati pagar pembatas dan juga penjaga yang menghalanginya.

Youngri bergegas berdiri dari kursi melihat Taemin yang tengah berlari ke arahnya. Baru saja Youngri akan beranjak dari sana, Taemin sudah terlebih dulu sampai dan memeluk gadis itu. Ia tidak melepas pelukan itu walaupun Youngri memberontak.

“Ya ! Oppa !” pekik Youngri lalu mendorong Taemin menjauh dengan sisa tenaganya. Ia segera menarik tangan Hyeri pergi dari sana, tapi Taemin kembali mencegah tangan gadis itu.

“Jangan pergi,” serunya dengan nada sepelan mungkin. Hyeri menatap Taemin dan Youngri bergantian kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Youngri. Ia mencoba mengerti keadaan dan sedikit menjauh dari keduanya.

“Wae ? Kenapa kau malah kabur seperti ini ?” tanya Taemin lagi, tetap tidak membuat Youngri berbalik ke arahnya. Gadis itu melepaskan diri dari cengkeraman Taemin kemudian berbalik menghadap laki-laki itu.

“Kenapa kau mencegahku ? Kau sudah dengar semuanya ‘kan ? Aku disewa oleh kakek Jung untuk menghancurkan hidup kalian, membuat kalian bertengkar, dan dengan itu kakek Jung bisa memiliki harta kalian. Kedok kejahatanku sudah terbuka sebelum waktunya dan aku hanya –,” ucapan Youngri terhenti ketika Taemin tiba-tiba memeluknya lagi. Ia tidak menolak pelukan itu dan malah terisak kecil di dalam pelukan Taemin.

“Mianhae. Seharusnya sudah dari awal kita menyadari. Ini semua rencana busuk kakek Jung dengan menggunakanmu sebagai anak buahnya. Dan kalau kau tidak berhasil, adikmu menjadi taruhan atas semuanya. Aku tahu kau terpaksa melakukannya Han Youngri,” gumam Taemin pelan membuat tangisan Youngri semakin keras. Gadis itu mencengkeram kuat baju yang tengah dipakai Taemin lalu menggeleng pelan.

“Aku juga terlibat. Mianhae. Jeongmal mianhaeyo,” Youngri melepas pelukan Taemin kemudian menyeka kedua matanya, “Aku harus pergi untuk menghindar dari kakek Jung. Dan mungkin juga menghindari perasaanku,”

“Perasaanmu ?” tanya Taemin heran. Youngri mengangguk seraya menurunkan tangan Taemin yang masih memegang kedua bahunya.

“Aku masih merasa bersalah. Dan sangat munafik kalau aku bilang, tidak ada perasaan apapun pada kalian semua,” jawab Youngri, masih tidak mau mengangkat kepalanya untuk menatap Taemin.

Kembalilah,” potong Taemin, membuat Youngri mendongakkan kepalanya sejenak. Taemin tersenyum lebar kemudian mengacak rambut gadis itu.

“Aku tidak yakin bisa masuk ke rumah itu lagi. Kami berdua akan berada dalam bahaya kalau kakek Jung tahu aku tinggal bersama kalian lagi,” Youngri menarik napas dalam-dalam sebelum membungkuk pada Taemin dan menarik tangan Hyeri untuk memasuki pesawat karena pemberitahuan dari pengeras suara. Hatinya sedikit tenang saat mendengar bahwa kelima cucu kakek Jung sudah memaafkannya. Tapi sayang, ia harus menghindari kakek Jung untuk sementara ini demi adiknya.

Saranghae,”

Langkah Youngri terhenti dan segera membalikkan tubuhnya untuk menatap Taemin. Tidak, bukan Taemin yang mengatakan itu. Ia melihat Jonghyun berlari ke arahnya kemudian memeluknya begitu saja. Gadis itu bisa melihat ekspresi Taemin yang sedikit kaget dengan teriakan Jonghyun tadi. Entah kenapa dadanya menjadi sesak melihat Taemin yang tersenyum tipis kemudian berbalik begitu saja seolah tidak peduli.

“Aku merindukanmu. Sekarang aku yakin dengan perasaanku sendiri. Sebelum semuanya terlambat lagi. Dengarkan kata-kataku saja,” Jonghyun semakin menambah keintens-an pelukannya lalu berbisik pelan di telinga gadis itu, “Saranghae,”

“Jonghyun oppa. Aku . .,” Youngri menghentikkan ucapannya. Ia melepas pelukan Jonghyun dengan perlahan ketika melihat tiga laki-laki lainnya tengah berlari ke arah Taemin yang masih membelakanginya. Ia menatap Jonghyun kemudian menggeleng pelan, “Aku tidak bisa,”

“Eonni. Apa kita jadi pergi ke China ?” pertanyaan Hyeri membuat Youngri tersadar dari lamunannya. Gadis itu menunduk lalu mengangguk ke arah Hyeri dengan yakin.

“Keurae. Kita berangkat sekarang,” jawab Youngri dengan sedikit gugup lalu segera menarik tangan Hyeri. Ia masih bisa merasakan jantungnya menghentak keras dan berdetak lebih cepat. Wajahnya memanas bahkan sampai ke seluruh tubuhnya.

“Wae ?!” teriak Jonghyun lagi. Youngri berusaha tidak mendengarnya dan masuk ke dalam lorong yang akan membawanya ke pesawat. Ia tidak memedulikan teriakan lima laki-laki itu dan semakin mempercepat langkahnya.

“Eonni, apa kau yakin kita akan pergi ? Aku rasa, masalah eonni dengan mereka belum selesai,” sergah Hyeri setelah melihat kakaknya itu sedikit tergesa dan salah tingkah.

“Aku tidak seegois itu Hyeri-ya. Kita harus pergi dari kehidupan mereka. Atau kau mau hidup kita hanya menghindar dari para pengawal Jung sajangnim, seperti kita menghindar dari para penagih hutang dulu ?” tanya Youngri, dijawab gelengan dari Hyeri. Keduanya segera memasuki pesawat dan duduk di seat sesuai dengan nomor yang tertera dalam tiket pesawat mereka. Youngri hanya menarik napas dalam-dalam dan hanya tinggal menunggu pesawat itu berangkat.

***

Minho mendorong penjaga yang mencoba menghalanginya memasuki pesawat karena tidak memiliki tiket. Ia tetap menerobos masuk dan mencari tempat duduk Youngri walaupun mesin pesawat sudah menyala dan siap berangkat. Ia masih tidak memedulikan beberapa pramugari yang berteriak ke arahnya.

“Hyeri-ya !” pekik Minho seraya menggendong Hyeri yang sudah berhasil di temukannya. Ia menoleh pada Youngri dan menyuruh gadis itu turun hanya dengan tatapannya saja.

“Aku tidak bisa oppa. Turunkan Hyeri sekarang juga,” paksa Youngri membuat tatapan orang-orang yang berada di dalam pesawat itu pun terarah pada mereka.

“Astaga, pengantin muda ini. Kenapa tidak menyelesaikan masalah dulu sih ?” gumam seorang wanita yang duduk tepat di belakang tempat duduk gadis itu. Youngri membungkuk pada orang-orang di dalam pesawat itu kemudian menatap Minho gemas. Minho malah tersenyum kecil ketika sebuah ide terlintas di kepalanya.

“Yeobo. . Kenapa kau malah kabur seperti ini huh ?” ucapan Minho itu pun membuat suasana pesawat semakin ricuh. Youngri membelalakkan kedua matanya lalu membungkuk lagi pada para penumpang pesawat itu.

“Minho oppa ! Jangan berbicara yang aneh-aneh,” balas Youngri sambil berusaha menyembunyikan wajah merahnya karena malu.

“Sudahlah, nak. Selesaikan urusan kalian dulu. Dasar pasangan muda zaman sekarang, bisanya hanya lari dari masalah saja,” gumam seorang wanita tua yang duduk di pojok pesawat itu. Minho tersenyum senang lalu segera menarik tangan Youngri keluar dari pesawat.

Youngri menarik tangannya dari genggaman Minho ketika ketiganya sudah turun dari pesawat. Gadis itu hanya bisa menatap keberangkatan pesawatnya ke China itu dan tidak bisa melakukan apapun. Terkadang ia berpikir, apa wajahnya setua itu untuk dikatakan sebagai pasangan muda dan mempunyai anak sebesar Hyeri.

“Sekarang oppa puas huh ? Aku sudah ketinggalan pesawat,” Youngri menghentak-hentakkan kakinya ke tanah lalu mulai terisak kecil. Minho menurunkan Hyeri dari gendongannya kemudian menepuk pundak Youngri, membuat gadis itu menoleh ke arahnya.

“Urusan kita dengan kakek Jung belum selesai,”

***

“Masuk ke kamarmu dulu,” seru Jinki setelah mereka –kelima laki-laki itu, Youngri, dan Hyeri sampai di rumah. Youngri mengangguk pelan dan segera menarik tangan Hyeri untuk memasuki kamar yang pernah di tempatinya dulu.

Jinki memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian berlalu menuju teras belakang rumahnya. Ia duduk di sebuah bangku yang ada di taman belakang kemudian menghela napas panjang. Ia harus bisa bertindak cepat dengan apa yang sudah dilakukan kakek Jung. Ia harus bisa melindungi Youngri dan Hyeri dari semua ancaman kakeknya sendiri.

“Hyung, apa yang kau lakukan disini ?” Jinki menoleh dan tersenyum samar pada Taemin yang sudah duduk di sebelahnya.

“Aku khawatir,” jawab Jinki, membuat tatapan heran Taemin terarah pada ‘hyung’ nya itu.

“Tentang Youngri ?” tanya Taemin lagi. Jinki mengangguk pelan seraya menyandarkan punggungnya pada bangku itu, untuk merilekskan sedikit perasaannya.

Aku menyukainya. Aku tidak bisa biarkan kakek Jung menyakitinya lagi, Taemin-ah,”

Dan untuk kedua kalinya, Taemin merasakan sesuatu menyerang jantungnya. Ia sudah cukup sakit, ketika mengetahui bahwa Jonghyun juga mencintai Youngri. Dan sekarang, ia mendengar Jinki mengatakannya secara terang-terangan. Bahkan tidak peduli bahwa dirinya sudah dibakar (?) cemburu saat itu.

“Apa hyung mau mengalah untukku ?” tanya Taemin sedikit ragu seraya menatap taman belakang rumahnya itu.

“Keurae. Aku pasti mengalah padamu dongsaengi-ah,” jawab Jinki lalu mengacak rambut Taemin, seperti biasanya. Taemin menyingkirkan tangan Jinki dari puncak kepalanya. Ia sedikit memutar tubuhnya untuk menghadap Jinki kemudian menarik napas dalam sebelum mengatakan apa yang sudah disiapkannya sejak tadi.

“Termasuk Youngri ? Karena aku juga menyukainya,” balas Taemin seraya tersenyum lebar, dan menunjukkan puppy eyes pada ‘hyung’ nya itu. Jinki memejamkan matanya sejenak kemudian bangkit.

“Kecuali itu. Aku tidak yakin bisa melakukannya,” Jinki berlalu meninggalkan Taemin sendirian. Taemin hanya bisa menghela napas panjang kemudian mendongak untuk menatap langit malam yang –entah kenapa mendung seperti hatinya. Ia berpikir, Youngri lah yang memutuskan semuanya. Jadi ia hanya bisa berharap gadis itu memilihnya bukan ?

***

Key menaruh hidangan terakhir yang dibuatnya untuk sarapan di atas meja makan. Beberapa saat kemudian, kursi yang mengelilingi meja makan itu pun sudah penuh. Hyeri terpaksa duduk di atas pangkuan Youngri karena memang kursinya tidak cukup untuk ketujuh orang itu. Dan yang lainnya masih tetap di posisi semula.

“Akhirnya . . Kim Kibum kembali lagi seperti dulu,” gumam Jonghyun seraya menyumpit sebuah telur gulung yang terlihat lebih baik dari hari-hari kemarin. Jinki tersenyum lebar kemudian mengambil semua sarapan yang ada di atas meja makan.

“Hyeri-ya. . ayo makan,” Minho menyodorkan sesuap makanan pada Hyeri, dan diterima dengan baik oleh anak itu. Minho mengacak rambut Hyeri lembut kemudian beralih memandang Youngri yang terlihat bingung dan juga khawatir.

“Kau tidak makan ?” tanya Minho, membuyarkan lamunan Youngri seketika. Gadis itu mengangguk lalu memulai sarapannya dengan diam.

Minho hanya bisa menatap khawatir pada Youngri. Sepertinya ia semakin takut untuk berada di sekitar kehidupan mereka. Karena cepat atau lambat kakek Jung pasti akan tahu bahwa Youngri kembali tinggal di rumah itu.

Youngri menurunkan Hyeri dari pangkuannya dan mendudukkannya di kursi meja makan. Ia membawa piringnya yang sudah kosong ke tempat cuci piring kemudian memilih menyendiri di taman belakang untuk sekedar menenangkan pikirannya. Ia masih belum bisa beradaptasi dengan lima laki-laki itu, setelah apa yang dilakukannya dulu. Walaupun mereka sudah memaafkannya, ia tetap pernah berpikir untuk menghancurkan persaudaraan mereka dulu.

“Masalahmu tidak akan selesai kalau kau diam seperti ini,” ucapan Jonghyun sontak membuat Youngri mengangkat kepalanya. Gadis itu tersenyum kemudian sedikit menggeser tubuhnya, menyediakan tempat untuk Jonghyun duduk.

“Kita akan ke rumah kakek Jung, oppa ?” tanya Youngri ragu. Jonghyun mengangguk pelan kemudian mengacak pelan rambut gadis itu.

“Kau tidak perlu takut, Youngri-ya,” jawab Jonghyun seraya tersenyum lebar. Senyuman Jonghyun seketika lenyap ketika ingat apa yang sudah dikatakannya kemarin di bandara.

“Kata-kataku kemarin serius,” tambahnya kemudian. Youngri yang tengah memandang halaman belakang rumah itu pun mengalihkan perhatiannya pada Jonghyun. Laki-laki itu mengangkat kepalanya kemudian menatap Youngri lekat-lekat.

“Jonghyun oppa. Mianhae, tapi aku . . .”

“Ya ! Belum pernah ada yang menolakku sebelumnya,” potong Jonghyun lalu mengerucutkan bibirnya kesal, membuat Youngri tertawa pelan karena tingkah laki-laki itu.

Jonghyun tersenyum ketika melihat gadis itu tertawa lagi. Ia mengangkat tangannya lalu menyentuh puncak kepala Youngri dengan lembut. Tangannya itu pun perlahan turun ke belakang, menyentuh tengkuk Youngri dan membuat gadis itu kembali menatapnya.

Tidak ada yang bisa menolak Jonghyun. Well, sepertinya itu yang tengah terjadi pada Youngri saat itu. Ia tidak bisa menolak ketika Jonghyun menatapnya dengan sangat lembut. Seolah memberikan semangat dan ketenangan untuknya. Bahkan ketika wajah keduanya semakin dekat, Youngri hanya diam dan memejamkan matanya.

Ia bisa merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Sesuatu menggelitik perutnya saat ciuman dari Jonghyun itu mulai sedikit bergerak. Youngri benar-benar tidak bisa menolak apa yang tengah dilakukan Jonghyun padanya saat itu. Suatu hal yang baru pertama kali dirasakannya. Dan Jonghyun yang membuatnya bisa merasakan hal itu sekarang.

“Jonghyun hyung !”

Mereka segera menjauhkan wajahnya masing-masing lalu beralih menatap Minho yang sudah berdiri di depan pintu. Laki-laki itu mendecak kesal kemudian segera menghampiri Jonghyun.

BUGH

Sebuah pukulan dari Minho pun membuat Jonghyun terjatuh dari bangku itu. Minho kembali berlutut dan memukul Jonghyun dengan lebih keras.

“Ya ! Kenapa kau memukulku ?!” tanya Jonghyun, merasa tidak terima dengan perlakuan dongsaeng-nya itu. Minho berdiri dari posisinya dan segera menarik Youngri untuk berdiri dari bangku itu.

“Apa kau mau tahu alasannya ?” Minho melirik ke arah Youngri yang terlihat sedikit takut, “Karena aku mencintainya,”

“Berhenti !” seru Youngri, membuat dua pasang mata itu menatap ke arahnya. Youngri menyeka kedua matanya yang sudah mulai mengabur kemudian melepaskan tangan Minho yang masih memegang pundaknya, “Jangan bertengkar lagi. Ini yang kakek Jung mau sejak awal. Mereka mau kalian bertengkar karena aku dan saling memutuskan tali persaudaraan. Jadi aku mohon, jangan bertengkar karena hal ini,”

“Tapi, Jonghyun hyung sudah menciummu Youngri. Aku tidak bisa menerima itu,” balas Minho tiba-tiba.

“Apa yang kalian lakukan ? Kita harus ke rumah kakek Jung sekarang,” seru Key memotong perseteruan antara Minho dan Jonghyun itu. Ia segera menarik tangan Youngri menjauh dari sana dan membawanya ke mobil yang sudah terparkir di depan rumah.

***

Youngri dan Hyeri saling menggenggam tangan dengan kuat. Mencoba menghilangkan rasa takut yang menyerang mereka. Tidak peduli sekarang atau nanti. Lebih baik ia menghadapi kakek Jung bersama-sama dengan kelima laki-laki itu daripada harus berdua saja dengan Hyeri. Dan lebih baik juga ia menghadap langsung daripada terus dikejar-kejar.

“Fighting !” seru Key menyemangati semuanya. Youngri tersenyum pada laki-laki itu kemudian mulai melangkah masuk ke dalam rumah besar itu, diikuti lima laki-laki di belakangnya

Kakek Jung tengah menikmati sarapannya pagi itu, ketika mendengar bel di rumahnya berbunyi. Ia tetap diam di meja makan dan membiarkan para pengawal yang membukakan pintu rumah itu. Perhatiannya teralihkan ketika melihat seorang gadis dan seorang anak perempuan tengah berjalan ke arahnya. Ia tersenyum senang, tapi senyumnya itu menghilang begitu saja melihat kelima cucunya yang mengikuti di belakang gadis itu.

“Baguslah kalian sadar. Kau masih punya hutang banyak denganku Han Youngri. Ditambah perjanjian kita yang belum selesai,” ujar kakek Jung seraya menatap Youngri yang terlihat ketakutan. Tatapannya beralih pada Hyeri, yang bahkan malah mengangkat dagunya seolah menyombongkan diri bahwa berhasil kabur dari sana, “Dan kau anak kecil. Berani juga nyalimu untuk kabur dari sini,”

“Jangan ganggu mereka,” sergah Jinki akhirnya seraya berdiri di hadapan Youngri, berusaha melindungi gadis itu.

“Oh astaga. Aku lupa ada kalian disini,” balas kakek Jung lalu tersenyum lebar pada kelima cucu laki-lakinya. Key menyeringai pelan lalu maju selangkah untuk lebih mendekat dengan kakek Jung.

“Berapa hutang ayahnya Youngri,” tanya Key dengan nada sedatar mungkin. Kakek Jung tertawa pelan kemudian menggelengkan kepalanya tidak percaya.

“Ia bukan hanya hutang uang. Dia juga berhutang budi banyak padaku. Seharusnya dia berterima kasih karena aku tidak menjual anak gadisnya, seperti di perjanjian dulu,” jawab kakek Jung, sontak membuat Youngri mengangkat kepalanya.

“Maksudmu ?” tanya gadis itu tidak percaya, ketika mendengar kata-kata tentang ayahnya dari kakek Jung.

“Selama ini aku selalu mengatakan, karena kau anak dari Han Ji Hoon, kau harus melunasi hutangnya. Tapi itu hanya untuk menutupi kejahatan ayahmu saja. Dia bahkan mengatakan ‘Pakai saja anak gadisku sesukamu kalau hutangku tidak bisa lunas nantinya. Atau kalau kau mau menjualnya, silahkan saja. Aku tidak peduli,’. CIsh~, ayah macam apa yang menjual anak gadisnya seperti itu,”

“Berhenti ! Ayahku tidak sejahat itu,” potong Youngri seraya berlutut dan memeluk Hyeri yang berdiri di dekatnya. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi, dan akhirnya menangis.

“Menjualmu pun, aku tidak akan pernah mendapatkan banyak keuntungan. Jadi aku hanya menyuruhmu untuk masuk ke kehidupan kelima cucuku, tidak teralu berat bukan ?” kakek Jung tertawa pelan kemudian beralih memandang kelima cucunya yang terlihat kaget dengan penjelasannya, “Harusnya kau menyalahkan ayahmu yang sudah membuat perjanjian itu. Kau harus tetap melunasi hutangnya sampai titik darah penghabisan. Kau milikku sekarang,”

“Ya ! Jangan katakan apapun lagi tentang ayahnya Youngri !” seru Taemin lalu dengan segera memeluk Youngri dan membantu gadis itu berdiri.

“Apa menyerahkan semua harta kami, bisa membuat Youngri lepas dari lilitan perjanjian itu ?” tanya Minho, membuat semua perhatian tertuju padanya.

“Kalau harta itu bisa di pindah tangan, aku sudah melakukan itu dari dulu. Harta milik kalian tidak bisa pindah ke tangan orang lain termasuk aku, kecuali tali persaudaraan kalian putus. Bukannya Youngri sudah menjelaskannya ?” kakek Jung segera berdiri dari kursinya. Ia melirik Jinki yang masih berdiri di depan Youngri dan Hyeri.

“Serahkan gadis itu,” serunya. Jinki menghiraukan seruan kakek Jung dan beralih memeluk gadis itu, sementara Taemin membawa Hyeri menjauh.

“Baiklah. Kami akan berpisah,” ucap Key akhirnya. Jonghyun mendecak tidak percaya lalu mencengkeram kuat kerah baju laki-laki itu.

“Kau gila ?” tanya Jonghyun tidak percaya. Key menyingkirkan tangan Jonghyun dari kerahnya dan mendorong laki-laki yang lebih tua darinya itu sedikit menjauh.

“Kau rela membiarkan Youngri di jual olehnya ? Kau mau melihatnya tersiksa hanya demi melunasi hutang ?” tanya Key, setelah kesal yang lainnya tidak berpikir tentang nasib Youngri selanjutnya. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya. Ia menatap kakek Jung yang masih terlihat shock.

“Aku keluar dari keluarga Jung mulai sekarang. Lagi pula, kami bukan cucu kandungmu yang berhak atas harta itu,” tambah Key lalu menatap keempat saudaranya dan juga Youngri yang masih berpikir.

“Key oppa. Kau tidak perlu melakukan itu. Aku yang harus menanggung semuanya, ayahku yang sudah membuat perjanjian ini,” sergah Youngri lalu menyeka kedua matanya yang –lagi-lagi berair. Key tersenyum lalu beranjak untuk memeluk gadis itu.

“Aku rela melakukannya demi seorang Han Youngri. Saranghae,” Key melepaskan pelukannya lalu menatap Youngri lembut. Gadis itu menggeleng pelan kemudian kembali memeluk Key dengan erat.

“Hajima oppa. Jangan melakukan itu untuk perempuan jahat sepertiku,” balasnya lalu kembali menangis mengingat pengorbanan Key padanya. Key melebarkan senyumnya dan melepaskan pelukan Youngri perlahan. Ia mengacak rambut Youngri kemudian kembali ke posisinya semula.

“Aku akan pergi secepatnya dari rumah itu. Aku tidak akan berhubungan dengan semua yang menyangkut keluarga Jung,” tambah Taemin akhirnya.

“Tch, apa kalian sangat mencintai Youngri sampai rela berkorban seperti itu ? Sebenarnya, ini tidak semudah yang kalian pikirkan,” balas kakek Jung seraya tersenyum menyeringai, kemudian kembali duduk di kursi meja makan itu, “Tidak ada bukti yang bisa menguatkan Park byeonhosa-nim,”

“Apa harus ada bukti ?” tanya Jinki lalu menoleh ke arah Jonghyun. Ia menghampiri laki-laki itu lalu memukulnya begitu saja, “Seperti ini ?” Jinki memukul lagi Jonghyun dengan keras sampai membuat laki-laki itu tersungkur.

“Astaga ! Apa yang kalian lakukan ?” tatapan semua orang itu pun beralih ke arah pintu rumah, dimana seorang laki-laki baru saja masuk. Youngri melepaskan genggaman tangan Hyeri lalu menutup mulutnya tidak percaya.

“Byeonhosa-nim ?!”

[Seizure continued]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s