[FanFict] Seizure (4th Part)

Title         : Seizure

Author   : Ima Shineeworld & Rezky

Casts        : SHINee members, Han Youngri

Length   : Series

Genre      : Family, Romance, Angst (?)

Rating     : PG-15

[Seizure] [Part 1] [Part 2] [Part 3]

Youngri memutar gagang pintu rumah itu dengan senyuman lebar di wajahnya. Akhirnya ia bisa menceritakan apa yang dialaminya selama ini pada Yoon Mi. Setidaknya dia tidak harus menanggung semuanya sendirian nanti. Langkahnya terhenti ketika melihat laki-laki yang tinggal di rumah itu –minus Minho tengah berkumpul bersama di meja makan.

“Oh, kau sudah pulang ? Ayo makan,” seru Jinki dijawab sebuah anggukan pelan dari Youngri. Ia berjalan menghampiri meja makan itu dan duduk di salah satu kursinya sebelum menaruh tasnya di sandaran kursi.

“Woah . . Key oppa masak banyak makanan hari ini. Apa ada yang harus dirayakan ?” tanya Youngri heran melihat banyak sekali makanan di meja makan itu. Ia melihat Key tersenyum kemudian memukul pelan bahu Taemin.

“Pengumuman hasil tes masuk universitasnya sudah keluar,” jawab Taemin sedikit ragu. Youngri mengernyit, menunggu kelanjutan ucapan Taemin, “Dan aku berhasil masuk Seoul University,”

Sontak Youngri menjatuhkan sumpit yang tengah dipegangnya. Ia menganga tidak percaya, namun sedetik kemudian berteriak setelah mendapatkan kesadarannya kembali.

“Hya ! Teriakanmu keras sekali,” pekik Jonghyun seraya menggosok-gosok telinganya. Youngri tersenyum lalu menggumam maaf.

“Untuk merayakan keberhasilan Taemin oppa ! Yeeeay !” seru gadis itu semangat membuat laki-laki yang tengah duduk di sekitarnya tertawa pelan akan hal itu. Oke, mulai malam itu, lupakan semuanya yang berhubungan dengan Youngri. Semua laki-laki itu bahkan sudah menerima kehadirannya sepenuhnya.

***

Minho memutar setirnya memasuki garasi rumahnya. Ia membanting pintunya keras kemudian masuk ke dalam rumah itu. Langkahnya terhenti ketika melihat Youngri tengah tertawa bersama yang lainnya. Kepalan tangannya yang keras itu pun perlahan melonggar. Ia menggelengkan kepalanya sendiri ketika merasakan seluruh tubuhnya memanas dan jantungnya yang berdetak menjadi lebih cepat. Rasa aneh –di dalam tubuhnya itu bahkan meredam semua apa yang sudah dipersiapkannya sejak tadi.

“Ya ! Choi Minho ! Kau kemana saja ? Ayo makan,” kali ini Key yang berteriak untuk mengajak Minho makan. Laki-laki bermata bulat itu pun berjalan dengan cepat ke arah meja makan dan mengambil satu kursi yang tersisa lagi.

“Taemin oppa diterima di Seoul University. Dan Key oppa masak sebanyak ini untuk merayakannya. Kau harus coba oppa,” Youngri menyumpit daging panggang yang ada dan segera menyuapkannya ke mulut Minho yang setengah terbuka. Gadis itu terkekeh pelan ketika melihat Minho kaget dengan apa yang dilakukannya tadi.

“Enak ‘kan ?” tanyanya polos dijawab sebuah anggukan oleh Minho. Keempat laki-laki lainnya pun terkekeh melihat hal itu.

“Kau harus melihat wajahmu sendiri Minho. Tidak jauh berbeda dengan kepiting yang ada di meja makan sekarang ini,” gurau Jonghyun sontak membuat Minho tersedak. Ia segera mencari minum di dekatnya dan meneguknya sampai habis.

“Jonghyun hyung !” pekik Minho tidak suka. Sedangkan tawa yang lain malah semakin keras akan hal itu. Youngri pun hanya berharap semoga kebahagiannya tidak akan cepat berakhir.

***

Entah sudah ke berapa kalinya Taemin menghentakkan kakinya karena kesal. Sesekali ia melirik jam tangannya dan menunggu Jonghyun yang janji akan menjemputnya. Berkali-kali juga ia menghela napasnya karena semakin kesal. Harusnya ia tidak menerima tawaran Jonghyun untuk dijemput dan lebih memilih naik bis sendirian.

“Taemin-ah, aku duluan ya,” ujar salah satu teman laki-lakinya. Taemin membungkuk singkat dan membiarkan temannya itu memasuki mobil. Oke, sepertinya Taemin akan mulai belajar mobil. Ia akan membawa mobil sendiri saat ke kampus dan tidak perlu menunggu di jemput seperti sekarang.

Rasa kesal Taemin pun akhirnya terobati ketika melihat mobil Jonghyun melaju ke arahnya. Ia segera berdiri di dekat jalan dan segera masuk ke dalamnya bahkan sebelum mobil Jonghyun benar-benar berhenti. Ia mendengus pelan seraya memakai seat beltnya.

“Kau kemana saja hyung ?” tanya Taemin datar berusaha menghilangkan rasa kesalnya pada Jonghyun. Jonghyun tertawa pelan kemudian mengacak pelan rambut Taemin.

“Biasa lah. Jiyeon tadi meneleponku,” jawab Jonghyun lalu menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran parkir kampus –baru Taemin.

“Aku sudah 1 jam menunggu,” balas Taemin, mengerucutkan bibirnya kesal.

“Mianhae. Tadi Youngri minta belikan Jajangmyeon dulu,” Jonghyun menunjuk ke belakang jok mobilnya, membuat Taemin ikut menoleh juga karena hal itu. Ia mengernyit lalu memperhatikan Jonghyun lekat.

“Hyung, kau menyukainya ?” tanya Taemin sontak membuat Jonghyun menoleh ke arahnya.

“Uh ?” tanya Jonghyun berusaha meyakinkan pendengarannya. Taemin tertawa pelan kemudian memalingkan wajah Jonghyun untuk menatap jalanan lagi.

“Aku masih mau hidup Jonghyun hyung. Jadi bawa yang benar,” balas Taemin acuh, seolah pertanyaannya tadi hanya sebuah ucapan tidak penting.

Sedangkan Jonghyun terus memikirkan pertanyaan tadi. Tiba-tiba saja wajahnya memanas ketika mendengar pertanyaan Taemin. Bahkan kali ini jantungnya berdetak lebih cepat ketika mengingat semua ekspresi Youngri. Ia menggeleng pelan lalu meluruskan kembali jalan mobilnya setelah sempat keluar jalur.

***

Youngri menutup ponselnya setelah menelepon Jonghyun tadi. Karena malas melangkah keluar, ia lebih baik menitip pada Jonghyun yang notabene sedang ada diluar sana. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar kamar. Gadis itu pun sedikit kaget ketika melihat Minho sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

“Uh oppa, waeyo ?” tanyanya setengah gugup. Minho hanya menatapnya lama kemudian berlalu begitu saja. Gadis itu mengendikkan bahu bingung dan berjalan menghampiri Key yang tengah menuruni tangga.

“Ya. Tolong bantu aku bereskan kamar Taemin,” seru Key tiba-tiba. Youngri menunjuk dirinya sendiri lalu beringsut menaiki tangga, berlawanan arah dengan Key yang baru saja membawa beberapa tumpuk baju.

Tanpa butuh waktu lama, Youngri sudah bisa menemukan kamar laki-laki itu. Tentu saja karena di setiap pintu kamar tertempel nama masing-masing. Youngri menghirup napasnya dalam-dalam ketika sampai di dalam kamar Taemin. Entah kenapa ia selalu menyukai wangi laki-laki seperti itu. Apalagi melihat tatanan kamar Taemin yang cukup rapi. Walaupun buku-buku masih terlihat tergeletak secara tidak beraturan di atas meja.

“Jangan melihat saja ! Bereskan buku-buku Taemin yang di atas meja !” teriak Key dari lantai bawah, seolah tahu apa yang tengah dilakukan Youngri saat itu.

Ia segera tersadar dari lamunannya itu dan mulai membereskan buku-buku Taemin. Menyusunnya dari buku terbesar sampai yang terkecil sehingga terlihat membentuk tangga. Ia tersenyum sendiri dan beralih membereskan CD music yang berserakan juga di sebuah meja dekat meja belajar. Well, sepertinya Taemin menyukai dance. Karena ia melihat lebih banyak music bergenre hip hop atau dance tergeletak disana.

“Ya ! Apa yang kau lakukan dengan kamarku ?!” pekik Taemin sontak membuat Youngri tersentak dan menoleh ke arah Taemin yang sudah berdiri di depan pintu.

“Apa ? Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab gadis itu polos. Taemin segera masuk ke dalam kamarnya dan melepas beberapa wallpaper aneh yang menempel di atas tempat tidurnya.

“Ini apa ?” tanya Taemin kesal karena Youngri sudah mendekor ulang hampir seluruh kamarnya.

“Bukan aku. Tadi aku hanya disuruh Key oppa membereskan kamarmu, dan aku baru sempat membereskan meja belajar dan tumpukan CD ini,” jawabnya cepat.

Taemin mendengus dan segera melempar kertas wallpaper yang sudah menjadi gulungan itu ke tempat sampah.

“Cish~, Key hyung kira aku masih kecil apa ?” gumam Taemin pelan membuat Youngri tertawa pelan. Taemin mengernyit melihat Youngri malah tertawa kemudian keluar dari kamarnya begitu saja.

“Ya ! Anae-ya !” panggilan Taemin sontak membuat Youngri menghentikkan langkahnya. Ia berjalan mundur kembali ke depan pintu Taemin.

“Kau memanggilku apa tadi ?” tanya Youngri heran, mendengar Taemin memanggilnya anae.

“Anae. Waeyo ? Kau memang anae-ku dan juga anae hyung-hyungku kan ?”

“Ah ya, terserah,” balas Youngri acuh lalu menuruni tangga. Ia segera berlari ke meja makan ketika melihat Jonghyun mengeluarkan jajangmyeon pesanannya.

“Woah. Oppa benar-benar membelikannya ?” tanyanya setengah tidak percaya. Jonghyun tersenyum lalu mengacak rambut Youngri lembut.

“Keurae. Kau sudah kuanggap adik, jadi semua yang adikku mau akan aku beli,” jawab Jonghyun seraya menyerahkan semangkuk jajangmyeon pada gadis di depannya. Youngri bergegas mengambil dua pasang sumpit besi dari dapur dan menyerahkan yang satunya pada Jonghyun.

“Ayo makan berdua,” ajaknya seraya tersenyum lebar. Jonghyun balas tersenyum dan menerima sumpit dari Youngri. Mereka makan bersebelahan dari mangkuk yang sama. Bahkan keduanya terus seperti itu ketika empat pasang mata tengah menatap aneh pada mereka.

***

Minho memalingkan wajahnya dari pemandangan menjijikkan –menurutnya itu. Kenapa juga Youngri harus makan berdua dengan Jonghyun. Kenapa Jonghyun tidak memindahkan sebagian mie itu ke mangkuk lain dan lebih memilih makan berdua dengan jarak yang sedekat itu. Minho mendengus pelan lalu mengacak rambutnya frustasi.

“Astaga Minho. Aku rasa kau sudah mulai gila,” gumamnya pada diri sendiri. Ia kembali menoleh ke arah meja makan dan melihat keduanya tengah tertawa bersama.

“Andai saja kau tidak ada hubungan dengan kakek Jung. Mungkin aku akan. .” Minho menggantungkan ucapannya kemudian menghela napas panjang. Ia kembali menatap TV dengan datar, “Ah ! Kenapa kau jadi menggumam hal tidak jelas Choi Minho ? Memangnya kau akan apa hah ?!” tambahnya lagi.

“Kenapa berisik sekali sih ?” tanya Jinki –berpura-pura baru saja bangun dari tidur. Padahal ia sendiri sudah memandangi Jonghyun dan Youngri sedari tadi. Ia segera berdiri di dekat Jonghyun dan Youngri yang masih memakan jajangmyeon mereka.

“Woah, sepertinya enak,” gumam Jinki seraya menjilat bibirnya sendiri seolah tergoda untuk mencicipi jajangmyeon itu. Youngri terkekeh pelan lalu menyerahkan sumpitnya pada Jinki.

“Makan saja oppa. Aku sudah kenyang,” Youngri bangkit dari kursinya dan digantikan oleh Jinki. Ia memandang Jonghyun yang tiba-tiba menjadi sedih. Ia mencoba tidak peduli dan melahap habis jajangmyeon yang tersisa. Kapan lagi ia mendapat jajangmyeon gratis ?

Sementara itu Key dan Minho hanya bisa terkekeh melihat bagaimana Jinki berusaha mengacaukan Jonghyun dan Youngri. Key keluar dari ruang cuci yang terletak di dekat dapur dan segera menghampiri Youngri yang tengah minum.

“Kau bisa bantu aku lagi ?” tanya Key dijawab sebuah anggukan oleh Youngri –karena gadis itu masih menghabiskan minumnya, “Kita belanja lagi hari ini,”

Youngri menurunkan gelas dari mulutnya kemudian menyeka bibirnya perlahan. Key meneguk ludahnya sendiri ketika melihat hal itu dan berusaha menormalkan pikirannya yang mulai menjalari hal-hal aneh. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum kembali menatap Youngri yang cukup jauh perbedaan tingginya.

“Keurae ! Aku suka belanja !”

***

Mungkin terdengar gila bagi Minho. Ia sama sekali tidak bisa mengatakan apa yang di dengarnya beberapa hari yang lalu. Ketika mata bulat milik Youngri menatapnya, seolah ada dorongan dalam hatinya untuk tidak mengatakan itu. Entah kenapa, ia ingin melihat Youngri ada di sekitarnya untuk beberapa saat ini. Lagipula ia mulai yakin kalau Youngri adalah gadis yang baik. Dan mungkin waktu itu, pendengarannya saja yang salah.

Siang itu terasa membosankan bagi Youngri. Ia tengah liburan musim panas dan sekarang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yoon Mi mengajaknya berenang, tapi ia sedang tidak mau liburan yang berhubungan dengan panas dan air. Pasti kulitnya akan sedikit menghitam nantinya. Well, dia bukan gadis yang terlalu memperhatikan penampilan. Hanya saja, terlihat sedikit aneh ketika melihat kulitnya sendiri berwarna coklat.

“Aish, kenapa semuanya harus pergi hari ini ?” tanya Youngri pada dirinya sendiri karena pada saat bangun tadi pagi rumah sudah dalam keadaan sepi.

Akhirnya gadis itu pun melangkah keluar kamar untuk mengambil cemilan dan sekedar menonton TV. Daripada harus terus berdiam diri di kamar dan ia tidak akan dapatkan hal apapun untuk itu. Namun langkah Youngri terhenti ketika mendengar suara dentuman music dari lantai dua. Dengan cepat ia berlari menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar Taemin –dimana suara itu berasal.

“Taemin oppa. Kau menari ?” tanya Youngri heran sontak membuat gerakan Taemin berhenti. Ia menyibakkan rambut yang menutupi matanya dan segera menoleh pada Youngri yang sudah berdiri di daun pintu kamarnya.

“Keurae. Kau mau ikut menari denganku ?” tanya Taemin seraya berjalan pelan ke arah Youngri dan menjulurkan tangannya.

Youngri tertawa pelan dan malah memukul tangan Taemin yang tertuju padanya. Ia menggeleng pelan sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar Taemin dan duduk di sisi tempat tidur laki-laki itu. Setelah mengamati kamar Taemin –yang sudah berantakan lagi, ia mendecak kesal lalu dengan segera beranjak ke meja belajar untuk membereskan buku-buku yang sudah berserakan lagi.

“Ya ! Jangan dibereskan !” seru Taemin cepat, membuat langkah Youngri terhenti. Ia membalikkan tubuhnya ke arah Taemin dan menaikkan sebelah alisnya.

“Ah ya, terserah saja,” lanjut Taemin. Youngri mengendikkan bahunya bingung dan mulai membereskan buku-buku milik Taemin.

Laki-laki itu masih saja menggerakkan tubuhnya sesuai irama lagu. Dan tanpa disadari Youngri juga mulai menggerakkan kepalanya, walaupun tangannya masih sibuk membereskan buku-buku milik Taemin. Ia tersenyum setelah membereskan buku-buku itu kemudian kembali duduk di sisi tempat tidur Taemin. Ia tertawa pelan ketika Taemin malah menggoda ke arahnya dengan gerakan-gerakan tertentu.

“Ssh, jinjja. Aku capek,” keluh Taemin lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, tepat di samping Youngri.

“Oppa berkeringat,” Youngri bangkit dari tempat tidur dan meraih handuk kecil yang tergantung di sandaran kursi dekat meja computer. Ia menyerahkannya pada Taemin lalu duduk di tempatnya semula. Ia terus saja memperhatikan bagaimana Taemin menyeka keringatnya. Sebuah senyuman pun muncul di bibir Youngri melihat wajah Taemin yang memerah karena kelelahan.

“Jangan menatapku terus. Lebih baik kau siapkan makan siang,” gumam Taemin seraya bangkit dari posisi tidurnya dan menatap Youngri yang sedikit salah tingkah. Ia mengacak rambut gadis itu sebelum beranjak masuk ke kamar mandi.

***

Berkali-kali Youngri membuka tutup sup kacang merah yang tengah dibuatnya. Ia mengambil sendok dan mencicipi rasanya untuk meyakinkan sekali lagi. Dan entah kenapa rasa sup kacang merah itu terasa sedikit aneh. Padahal ia sudah menambahkan bumbu yang sesuai dengan buku resep milik Key. Tapi sepertinya apa yang dibuat Key lebih enak.

“Kau sedang apa ?”

Suara seseorang sontak membuat Youngri tersentak kaget. Ia membalikkan tubuhnya dan menghela napas lega ketika melihat Key yang berdiri di belakangnya.

“Membuat makan siang. Oppa darimana ?” tanya gadis itu lagi seraya menaruh sendok yang tadi digunakannya untuk mencicipi ke tempat cuci piring. Key mengangkat tas plastic di tangannya kemudian menaruhnya di lemari dapur. Laki-laki itu membuka tutup sup yang tengah dibuat Youngri kemudian mengernyit.

“Kau sudah mencicipinya ?” tanya Key lalu mengambil sendok dan mulai mencicipinya, “Uhuk uhuk. Ya ! Ige mwoya ? Kenapa supnya pedas seperti ini ?”

“Mian. Tapi sepertinya aku terlalu banyak memasukkan merica,” jawab Youngri seraya tersenyum lebar untuk menutupi kesalahannya.

Key menutup kembali panci berisi sup kacang merah yang dibuat Youngri setelah menambahkan beberapa bumbu –untuk menormalkan rasanya. Ia mematikan kompor itu dan menatap Youngri yang masih diam di sudut dapur.

“Bawa panci ini ke meja makan,” serunya lalu berlalu begitu saja. Youngri segera mengangguk dan beralih mengangkat panci itu. Dan bodohnya, ia lupa memakai sarung tangan anti panas untuk mengangkat panci yang masih sangat panas itu.

“Aww !!” pekiknya sontak membuat Key kembali berbalik pada Youngri. Ia berjalan kembali ke arah gadis itu dan melihatnya tengah meniup jari-jarinya.

“Pabo-ya ! Kenapa tidak pakai sarung tangan ! Ini masih panas !” Key meraih sarung tangan yang tergantung di dekat tempat cuci piring lalu menyerahkannya pada Youngri.

“Mian oppa,” gumamnya seraya mengerucutkan bibirnya kesal dan menerima sarung tangan dari laki-laki itu.

“Kenapa kau selalu berkata mian huh ? Apa tidak ada kosakata yang lebih bagus lagi dari itu ?” tanya Key kesal. Youngri semakin mengercutkan bibirnya dan mulai mengangkat panci itu setelah menggunakan sarung tangannya.

“Kalau begitu Jwesonghamnida,” ujarnya pelan dan segera melesat berlalu ke meja makan. Key mendesis pelan kemudian tersenyum samar. Ia menggelengkan kepalanya ketika melihat gadis itu sedikit kerepotan menyiapkan nasi di beberapa mangkuk. Ia beruntung ada yang bisa membantunya memasak kali ini.

***

Youngri menutup telepon dari sahabatnya kemudian menghela napas panjang. Ia memutar-mutar ponselnya lalu meletakkannya begitu saja di atas meja belajar. Pandangannya terhenti di sebuah bingkai foto. Ia meraih bingkai foto itu dan terus memandangi foto di dalamnya dengan sebuah senyuman. Sebuah senyuman pahit yang mungkin mewakili hatinya saat itu.

“Aku merindukan Hyeri,” gumamnya seraya menyentuh permukaan bingkai foto itu.

“Hyeri adikmu ?” tanya seseorang sontak membuat Youngri tersentak. Gadis itu segera menoleh dan menatap kaget ke arah Minho yang sudah masuk ke kamarnya.

“Minho oppa ? Sejak kapan ada di kamarku ?” tanya Youngri cepat seraya menaruh bingkai foto itu kembali ke tempatnya. Minho tersenyum lalu duduk di sisi tempat tidur gadis itu.

“Sejak kau menutup ponsel tadi,” jawab Minho dan memusatkan perhatiannya pada bingkai foto yang baru saja ditaruh oleh Youngri, “Memangnya dimana adikmu ?”

Youngri menopang dagunya pada sandaran kursi yang menghadap tempat tidur kemudian menggelengkan kepalanya.

“Yang jelas ia sedang terancam sekarang,” jawab Youngri berusaha tidak membuat Minho bertanya lebih lanjut. Well, ia tidak mungkin memberitahu bagaimana keadaan adiknya sebenarnya bukan ? Atau kakek Jung akan membunuhnya karena memberitahu hal itu.

“Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari kami kan ?” tanya Minho lagi sontak membuat Youngri menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin Minho bisa tahu apa yang sedang disembunyikannya. Kecuali jika laki-laki itu bisa membaca pikiran atau memiliki kemampuan seperti detektif mungkin.

“Tentu saja tidak oppa. Ah iya, kau dan Key oppa satu universitas ?” tanya gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan. Minho mengangguk lalu beranjak dari sisi tempat tidur gadis itu.

“Tadi kakek Jung telepon. Ia menyuruh kita liburan musim panas ke Busan. Kita semua akan pergi tergantung dari keputusanmu. Kalau kau tidak mau, kita semua tidak akan pergi,” ujar Minho sebelum keluar dari kamar Youngri. Sedangkan Youngri memandangi punggung Minho yang menghilang di balik pintu. Gadis itu melihat ponselnya bergetar dan melihat sebuah panggilan masuk disana. Ia mengangkat telepon itu dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

“Yoboseyeo Jung sajangnim ?”

***

Beberapa orang tampak memperhatikan sebuah van yang berhenti di depan sebuah penginapan kecil yang terletak di dekat pantai itu. Para penumpang yang ada di dalam van itu pun keluar dan menghirup udara pantai sedalam-dalamnya. Ketujuh orang itu mengambil napas secara bersama-sama dan mengeluarkannya secara bersamaan juga.

“Apa kakek Jung sudah menyewa kamar untuk kita ?” tanya Youngri pada Taemin yang berdiri di sebelahnya.

“Dia menyewa 6 kamar, tapi karena kita datang bertujuh jadi harus ada yang tidur berdua,” jawab Taemin sontak mendapat pukulan dari Minho.

“Tentu saja Youngri tidur berdua dengan sahabatnya. Kau kira salah satu dari kita akan tidur dengannya ?” balas Minho membuat yang lainnya tertawa pelan. Youngri memalingkan wajahnya ke arah sebuah penginapan kecil di depannya kemudian segera menarik tangan Yoon Mi masuk ke dalam.

“Ini seperti villa,” gumam Jonghyun saat melihat penginapan itu sangat kecil dan telihat seperti rumah yang dibangun dengan banyak kamar. Tiba-tiba saja sebuah wanita paruh baya menghampiri mereka dan membungkuk untuk menyambut kedatangan mereka.

“Annyeonghaseyo. Selamat datang di villa kami,” ujar wanita itu sontak membuat Youngri dan Yoon Mi mengernyit.

“Villa ?” tanya Jinki tidak percaya. Wanita itu mengangguk dan menatap tujuh orang di depannya itu dengan heran.

“Kalian bahkan tidak tahu Jung sajangnim punya villa di daerah pantai Busan ?” tanyanya dijawab sebuah anggukan bersamaan dari ketujuh orang itu, “Villa ini memiliki 6 kamar. Jadi kalian bisa tidur sendirian di kamar masing-masing,”

Mereka mengangguk dan segera berpencar mencari kamar masing-masing. Youngri segera berlari menuju kamar yang bertuliskan kamar utama di pintunya dan memanggil Yoon Mi untuk mengikutinya. Ia tidak peduli ketika kelima ‘oppa’nya memprotes apa yang dilakukannya. Ia yang berhasil melihat kamar itu duluan dan akhirnya bisa tidur bersama Yoon Mi di kamar yang luas.

Yoon Mi duduk di sisi tempat tidur –berukuran King size itu sambil menatap Youngri yang tengah sibuk membereskan koper-koper miliknya ke sudut ruangan. Ia tersenyum sendiri kemudian menatap langit-langit kamar.

“Kau beruntung bisa menikah dengan mereka semua Youngri-ya,” ucapan Yoon Mi sontak membuat Youngri kaget. Ia menoleh pada sahabatnya itu kemudian tersenyum menyeringai.

“Kau yakin ? Aku lebih memilih tidak pernah melakukan ini kalau tidak secara terpaksa. Kau tahu ? Terikat dengan sebuah perjanjian, dan salah satu orang yang kau sayangi menjadi taruhannya,” gumam Youngri lalu mengambil tempat duduk di sebelah sahabatnya. Ia memeluk Yoon Mi dengan erat lalu membisikkan sesuatu pada gadis itu.

“Ditambah lagi, aku yang selalu dihantui rasa bersalah,”

***

Jinki membuka sketchbook yang selalu dibawanya dan menaruhnya di sebuah kayu penopang khusus untuk melukis. Ia mengeluarkan pensil dan mulai membuat guratan-guratan membentuk sketsa sambil memperhatikan objek yang berada di depannya. Sedikit kesusahan bagi Jinki karena objek yang sedang dilukisnya selalu bergerak.

“Jinki hyung,” panggilan itu membuat Jinki menghentikkan tangannya sejenak. Ia melihat ke arah Key yang sudah berdiri di sampingnya dengan menaikkan sebelah alis.

“Kau melukis apa ?” tanya Key saat melihat guratan-guratan yang membentuk sketsa tidak jelas di atas sketchbook milik Jinki.

“Bukan urusanmu. Kau masuk saja sana, siapkan makan malam,” seru Jinki lalu meneruskan kegiatan melukisnya. Key mengendikkan bahu heran dan berlalu masuk ke dalam villa.

Jinki tersenyum puas saat melihat lukisannya itu sudah terbentuk sempurna. Walaupun hanya dari pensil, tapi lekukan lukisan itu terlihat sangat jelas. Memperjelas objek yang baru saja dilukisnya. Bahkan sampai lukisan itu selesai pun, objek yang menjadi pusat lukisan Jinki pun masih terlihat seru bermain dengan sahabatnya.

“Jinki oppa ! Kau melukis ?” tanya Youngri tiba-tiba seraya berlari menghampiri Jinki yang masih diam di tempatnya.

“Boleh aku lihat ?” rajuk Youngri membuat Jinki tertawa pelan karena melihat gadis itu mengeluarkan puppy eyes andalannya.

“Hm,” jawab Jinki singkat lalu memberikan sketchbook itu ke tangan Youngri. Gadis itu menggumam kagum kemudian menatap Jinki heran.

“Kenapa gambar wanita di lukisan ini mirip denganku, oppa ?” tanyanya polos. Jinki mengendikkan bahu acuh kemudian berlalu meninggalkan Youngri untuk masuk ke dalam villa. Langkahnya sempat terhenti, Jinki menoleh ke belakang kemudian menggeleng pelan ketika melihat gadis itu masih kebingungan.

“Pabo,” gumam Jinki pelan lalu menyusul Key yang tengah sibuk menyiapkan pesta barbeque untuk nanti malam.

***

Pesta barbeque itu baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Yang dilakukan mereka bertujuh sekarang hanya duduk dan mencoba menarik napas karena perut yang penuh. Youngri bersandar pada bahu Yoon Mi, begitu pun sebaliknya. Mereka hanya bisa menatap TV yang menyala tanpa niat sedikit pun. Tenaga mereka sekarang hanya tersisa untuk bangkit, berjalan ke kamar, dan tidur.

Youngri berguling di atas tempat tidurnya dan melihat Yoon Mi sudah tertidur pulas di sebelahnya. Perlahan ia pun bangkit dan menyalakan lampu yang menerangi seluruh kamarnya. Bahkan kamar yang ditempatinya saat itu jauh lebih besar daripada kamar yang ditempatinya di rumah kelima cucu kakek Jung.

Dan pada akhirnya ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah dapur untuk membuat segelas susu hangat. Sudah lewat tengah malam dan beberapa lampu tengah sudah dimatikan. Sedikit rasa takut mulai menyergapnya ketika melihat ternyata jalan yang dilaluinya untuk ke dapur sangat gelap

“Han Youngri,” gadis itu pun segera menghentikkan tangannya yang tengah mengaduk susu dan sedikit menolehkan kepala untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Well, bulu kuduknya mulai meremang ketika menyadari tidak ada siapa pun selain dirinya di sekitar dapur. Dengan cepat ia menaruh sendok yang dipakainya dan beranjak pergi dari dapur.

“Boo !” Youngri hampir saja menjatuhkan gelas susu yang tengah dipegangnya ketika Key secara tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Astaga oppa ! Kau hampir membuatku mati ketakutan,” pekik Youngri seraya memukul pelan lengan Key. Laki-laki itu hanya tertawa pelan lalu mengacak rambut gadis di depannya.

“Kau tidak bisa tidur eh ?” tanyanya dijawab sebuah anggukan oleh Youngri. Gadis itu menyalakan lampu tengah dan beranjak duduk di sofa daripada harus mengobrol dengan Key dalam posisi berdiri.

“Masih dua hari lagi kita pulang. Apa yang akan kau lakukan besok ?” tanya Key lagi lalu mengambil tempat duduk di sebelah gadis itu. Youngri melirik Key sejenak kemudian mengendikkan bahu untuk menjawab pertanyaannya. Mulutnya tengah dipakai untuk meminum susu saat itu.

Youngri menjauhkan gelas yang sudah kosong itu dari mulutnya lalu menoleh pada Key yang terus saja menatapnya. Gadis itu segera membersihkan mulutnya karena sadar Key terus menatap ke arah bibirnya. Ia menaruh gelas yang sudah kosong itu ke atas meja, berusaha mengalihkan perhatian tatapan Key.

“Jadi, oppa tidak bisa tidur juga ?” tanyanya mencoba membuka pembicaraan.

Key menyadarkan dirinya sendiri lalu tersenyum mengingat apa yang baru saja di bayangkannya tadi. Sesuatu pikiran aneh baru saja menyerangnya ketika melihat bibir Youngri yang sedikit kotor karena sisa susu yang diminumnya. Sudah kedua kalinya ia membayangkan hal aneh itu, tapi ia berhasil membuyarkannya sendiri.

“Hoaahm,” Youngri menguap lebar seraya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Ia menoleh pada Key yang terlihat masih melamun lalu melambaikan tangan di depan wajah laki-laki itu, “Oppa, aku ke kamar duluan,” ujarnya kemudian bangkit begitu saja tanpa menunggu respon dari Key.

“Geuman,” Key segera menyergah tangan gadis itu dan menariknya. Ia kembali mendudukkan Youngri di sampingnya dan menatap gadis berambut sebahu itu dengan lembut.

“Baiklah. Aku akan temani oppa sampai pagi,” sahut Youngri akhirnya. Ia melepaskan tangan Key yang masih memegangi pergelangan tangannya dan bersandar pada sofa.

“Ahni. Aku sudah ngantuk sekarang,” sergah Key lalu tersenyum pada Youngri yang sudah mengernyit heran. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa dan merubah posisinya menjadi tidur dengan kepala yang bertumpu pada paha gadis itu.

Youngri berusaha menolak Key yang tidur di atas pahanya. Tapi ia sama sekali tidak bisa melakukan itu ketika melihat Key yang sudah memejamkan matanya dan terlihat tenang dengan posisi seperti itu. Youngri beralih mengusap puncak kepala laki-laki itu lalu menyandarkan kepalanya sendiri pada sandaran sofa yang cukup tinggi.

“Selamat tidur, oppa,”

***

Jinki mengelus perutnya yang terasa lebih lega setelah keluar dari kamar mandi. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Ia tersenyum bangga setelah tahu rekor bangun paginya adalah jam 4. Setelah menghabiskan barbeque yang pedas tadi malam, ia terbangun hanya karena sakit perut. Dan sepertinya sekarang tidak bisa tidur lagi.

Akhirnya Jinki keluar dari kamarnya dan dengan sedikit berlari menuruni anak tangga. Ia mengambil sebotol air di dalam kulkas dan meneguknya sampai habis. Masih sambil meminum air dari botol itu ia pun berbalik untuk kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti begitu saja. Sontak botol air yang tengah dipegangnya itu terjatuh. Ia menggeleng tidak percaya setelah melihat pemandangan di depannya.

“Mereka ? Kenapa mereka bisa tidur dengan posisi seperti itu ?”

-to be continued-

One thought on “[FanFict] Seizure (4th Part)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s