[FanFict] Seizure (3rd Part)

Title         : Seizure

Author   : Ima Shineeworld & Rezky

Casts        : SHINee members, Han Youngri

Length   : Series

Genre      : Family, Romance, Angst (?)

Rating     : PG-15

[Seizure] [Part 1] [Part 2]

“Apa yang kau lakukan disini ?”

Minho menatap Key yang sudah berdiri dengan menaikkan sebelah alisnya heran di sana. Dengan senyuman kikuk Minho menggumam pelan menjawab pertanyaan laki-laki itu, “Kenapa kau ada disini lagi ?”

“Kau lebih terlihat seperti pencuri Minho. Aku bahkan lupa mengingatkan, kau ada kuis hari ini,” seru Key membuat Minho menepuk keningnya. Ia segera berlari melewati Key dan melesat masuk ke kamarnya. Key hanya menggeleng tidak mengerti lalu keluar dari kamar itu

***

Pagi hari minggu yang tenang pun terusik ketika teriakan Key membahana ke seluruh rumah itu. Sontak keempat laki-laki lainnya –ditambah Youngri segera keluar dari kamar mereka masing-masing dan menghampiri Key yang terpaku di depan pintu rumah. Key segera berbalik menghadap Youngri, ia membawa beberapa lembar kertas di tangannya dan menatap Youngri.

“Apa maksudmu hah ?” tanya Key seraya menyerahkan kertas-kertas yang sudah keluar setengahnya dari amplop coklat itu pada Youngri secara paksa. Jonghyun menatap Jinki dan Taemin sekilas yang terlihat kaget dengan kejadian di pagi-pagi itu.

“Mwoya ?” tanya Youngri tidak mengerti lalu membaca beberapa lembar kertas di tangannya. Sontak kedua matanya membelalak dan secara refleks menjatuhkan kertas-kertas itu. Ia segera menatap Key yang masih saja melihatnya dengan geram.

“Aku tidak tahu ini oppa,” sergah Youngri cepat. Jonghyun yang menyadari adanya aura buruk dari Key segera meraih kertas-kertas yang berserakan itu dan membacanya bersama Jinki, Taemin, dan Minho. Keempatnya segera melemparkan pandangan heran pada Youngri, membuat gadis itu mundur selangkah.

“Apa maksudmu menikah dengan kami semua ?” tanya Minho datar. Youngri menggeleng tidak mengerti. Bahkan di kertas-kertas itu, sudah ada tanda tangan darinya dan juga kelima laki-laki itu.

“Oppa aku –,”

“Kau bahkan menandatangani surat pernikahan ini ? Tanda tanganku ? Ah ! Kenapa bisa ada disini ? Dan kenapa juga kantor sipil menyetujui pernikahan secara tertulis ini  ?” tanya Jinki masih bingung dengan pernikahan secara tertulis itu. Ia membaca perjanjian yang memang biasa dilakukan dalam pernikahan, hanya saja dalam bentuk tertulis. Dan tanda tangan mereka semua terbubuhi dengan rapi di setiap helai kertas. Di atas materai dan itu adalah sah.

“Kakek Jung ! Ya, dia pasti dibalik semua ini,” sahut Jonghyun cepat. Semua pandangan pun kini beralih padanya. Termasuk Youngri yang hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya. Ia memang pernah menandatangani surat perjanjian dengan kakek Jung dulu. Dan disana tertulis bahwa ia melakukan pendekatan selama sebulan. Dan sisanya . .  Dia tidak membaca lagi.

“Aku rasa kita harus ke kantor sekarang,” usul Taemin dijawab anggukan oleh semuanya. Youngri masih saja menatap kosong ke depan, tidak percaya dengan keadaan yang baru saja terjadi. Seorang gadis berumur 18 tahun, sudah berstatus menjadi istri dari lima orang laki-laki. Perlu penekanan, LIMA LAKI-LAKI.

***

Youngri duduk di sisi tempat tidurnya dengan gelisah. Setelah tahu pernikahan yang mendadak itu dan kakek Jung yang menghilang entah kemana. Mungkin ia salah sudah percaya pada laki-laki yang selama ini selalu membuatnya susah. Sejak dulu kakek Jung selalu mengejar-ngejar ayahnya dan juga dirinya. Dan ketika ayahnya pergi, Youngri terpaksa harus terkena imbasnya. Ia tidak bisa menghindari pengejaran itu. Harusnya ia sadar bahwa kakek Jung tidak akan memberikan syarat semudah itu.

Dan tanpa disadari, gadis itu sudah mengeluarkan air matanya. Ia bukan tipe gadis cengeng, tapi entah kenapa ia sangat ingin menangis. Mau tidak mau, hidupnya akan berubah setelah hal ini terjadi. Dan ia harus menerima kenyataan pahit lagi selain kematian ibunya.

“Eomma,” gumam Youngri pelan lalu menangis lebih kencang lagi. Ia segera meringkuk di atas tempat tidur, memeluk kedua lututnya dan mencoba agar tangisannya itu tidak terdengar orang lain.

“Youngri,” panggil seseorang sontak membuat Youngri menghapus kedua air matanya. Ia mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Setelah memastikan tidak ada air mata yang tersisa lagi, ia membuka pintu kamarnya perlahan dan melihat Jonghyun berdiri disana.

“Waeyo oppa ?” tanya Youngri berusaha terlihat senang. Jonghyun menghela napas panjang lalu menegakkan posisi berdirinya.

“Aku minta maaf atas kejadian tadi pagi. Harusnya aku sadar, kalau kau juga pasti tidak mau pernikahan ini ‘kan ?” tanya Jonghyun, membuat senyuman di bibir Youngri memudar. Ia menggigit kuat bibir bawahnya, mencoba menahan air matanya agar tidak keluar.

“Aku juga minta maaf oppa. Harusnya aku tidak datang kesini, kalau pada akhirnya malah seperti ini,” elak Youngri. Gadis itu berusaha berteriak dalam hatinya bahwa ia memang datang kesana untuk tujuan itu.

“Sudahlah. Lebih baik kau tidur siang, nanti malam kita coba  ke rumah kakek Jung,” seru Jonghyun dan dijawab anggukan lemah oleh Youngri. Gadis itu berbalik dan segera menutup pintu kamarnya.

Baru saja Youngri berbaring ketika melihat ponselnya yang ada di nakas bergetar. Ia bangkit dengan malas dan meraih ponselnya. Rasa malasnya itu pun berubah saat melihat nama adiknya tertera disana. Ia segera mengangkatnya dengan semangat. Tapi ternyata dugaannya salah.

‘Bagaimana kabarmu miss Han ?’ tanya kakek Jung membuat mood Youngri berubah seketika.

“Baik. Bagaimana kabar adikku ?” tanya Youngri lagi, nyaris tanpa ekspresi.

‘Dia sedang bersamaku di Jepang. Kau tidak perlu khawatir. Ah iya ! Apa surat pernikahan kalian sudah datang ?’

Youngri menggigit ujung bantal miliknya mendengar suara kakek Jung yang mengesalkan. Ia mengumpat pelan dulu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.

“Ne. Suratnya sudah datang,”

‘Baguslah. Kau hanya tinggal ikuti permainannya. Tujuannya sama seperti awal perjanjian. Aku tidak mau kelima berandalan itu tahu bahwa harta mereka ada di tanganku sekarang,’

“Ne, kau sudah mengatakan itu berkali-kali. Annyeong,” Youngri menutup flip ponselnya dan melemparnya ke atas tempat tidur. Ia menyesal kenapa menjadi seorang gadis lemah seperti ini. Ia mau saja menuruti semua perintah kakek Jung untuk melakukan semuanya. Sekali lagi saja, andai ia punya pilihan lain di dunia ini.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi ketika Taemin terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya pelan kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Sudah satu hari ia lewati setelah berganti status menjadi suami dari seorang wanita bernama Han Youngri. Bukan hanya dirinya, tapi keempat hyungnya pun terpaksa menyandang status yang sama.

Taemin mengacak-acak rambutnya sambil berjalan menuju dapur. Ia meneguk segelas air putih dan segera memutar bola matanya ke arah seorang gadis yang terlihat sibuk membawa cucian yang akan dilaundry keluar rumah. Tidak ada yang bergeming bahkan ketika melihat gadis itu kesusahan. Bahkan Taemin yang melihat itu pun hanya mengendikkan bahu bingung dan tidak berniat sedikit pun membantunya.

“Ya !” panggil Taemin, membuat langkah Youngri yang baru saja memasuki rumah terhenti. Ia menatap Taemin dengan kedua mata bulatnya seolah menanyakan maksud laki-laki itu memanggilnya.

“Hari ini jadwalmu menemaniku beli sepatu baru dan mengantarku les,” seru Taemin seraya berkacak pinggang dan menatap Youngri tajam.

“Kau juga temani aku ke kampus, setelah itu temani juga menonton pertandingan basket,” tambah Minho membuat Youngri membalikkan badannya ke arah empat laki-laki yang tengah duduk di sofa.

“Hari ini kau belikan bahan dapur dan cari resep baru. Jangan lupa temani aku ke café temanku,” tambah Key tanpa mengalihkan perhatiannya dari TV. Youngri mendengus pelan dan beralih menatap Jinki yang tengah berpikir juga.

“Kau cukup temani aku di perpustakaan kota,” Jinki tersenyum lebar, sedangkan Youngri semakin memerosotkan bahunya. Ia menatap Jonghyun dengan tatapan memohon dan berkata dalam hati semoga Jonghyun tidak meminta tolong juga.

“Jangan tatap aku seperti itu. Kau temani aku di rumah saja,” sahut Jonghyun membuat sedikit senyuman lega di bibir Youngri. Dan gadis itu, terpaksa menunda kepergiannya bersama Yoon Mi hari itu.

***

Beberapa pasang mata terlihat memandangi Youngri yang tengah duduk di lobby tempat les itu. Taemin memandangi Youngri dari kelasnya, yang memang tembus pandang ke arah lobby itu. Akhirnya ia bisa membuat gadis itu sedikit kesal karena menunggunya selama 2 jam.

“Baiklah. Hari ini hanya sampai disini, kalian pelajari lagi untuk tes masuk universitas nanti,” seru seorang laki-laki yang berdiri di depan kelas les itu mengakhiri pelajarannya. Beberapa siswa di dalam kelas itu –termasuk Taemin mengangguk dan mulai membereskan buku-buku mereka. Taemin segera beranjak keluar dan menghampiri Youngri yang sedang mendengarkan lagu dari earphone nya.

“Kajja,” ajak Taemin seraya melewati gadis itu keluar dari lobby. Youngri yang menyadari Taemin sudah mendahuluinya segera berlari menyusul laki-laki itu.

Keduanya berjalan beriringan menuju halte bus terdekat. Youngri tetap menatap jalanan tanpa mau menatap Taemin yang berjalan di sebelahnya. Ini pertama kalinya Youngri berjalan bersama salah satu oppanya selain Jinki. Itu pun karena ia tersesat waktu itu. Dan sekarang karena alasan ia sudah menjadi ‘istrinya’, ia harus menemani kemanapun para oppa-nya pergi.

Sudah berjam-jam Youngri mengikuti kemana Taemin melangkah untuk membeli sepatu barunya. Setiap toko sepatu yang di masuki oleh Taemin, ia hanya memilih-milih dan tidak membelinya. Mereka pun terpaksa berjalan ke toko selanjutnya dan berhasil membuat kaki Youngri pegal. Setiap di dalam toko sepatu, Youngri duduk dan memijat-mijat kakinya. Sudah terlambat untuk menolak ajakan Taemin memang, harusnya ia berusaha menolak dari awal. Tapi ia tidak bisa melakukan itu ketika melihat kelima oppa-nya meminta.

“Oppa~. Apa tidak ada sepatu yang cocok ?” tanya Youngri setengah merengek karena Taemin terus membawanya berkeliling ke setiap toko sepatu.

“Belum ada. Tunggu sebentar lagi,” Taemin memasuki satu toko sepatu lagi dan Youngri terpaksa mengikutinya. Ia kembali duduk dan memijat kakinya.

Youngri memperhatikan setiap gerak-gerik Taemin yang tengah memilih sepatu. Dengan senyuman ramah ia selalu bertanya pada pelayannya. Dan tanpa sadar Youngri sudah menghela napasnya panjang. Entah kapan Taemin dan yang lainnya –kecuali Jonghyun akan tersenyum seperti itu padanya. Ia sangat berharap bisa melihat senyuman itu.

“Woaah, johatda,” seru Youngri seraya mengangkat kedua ibu jarinya saat melihat Taemin memegang sepasang sepatu. Taemin mengernyit heran, ia menatap kembali sepatu di tangannya lalu segera menyerahkannya pada pelayan yang ada.

“Aku mau ini,”

***

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, tapi belum ada tanda-tanda bahwa  Minho akan segera datang. Di halte tempatnya menunggu, hanya ada dirinya dan beberapa orang saja. Ia memutuskan untuk tidak pulang dulu setelah mengantar Taemin. Gadis itu juga sudah berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Minho dan hasilnya nihil. Tidak ada jawaban.

Suara klakson membuyarkan lamunan Youngri saat itu. Senyuman pun mengembang dari bibirnya saat melihat mobil Minho berhenti tepat di depannya. Ia segera berdiri dari kursi di halte itu dan memasuki mobil Minho.

“Annyeong oppa,” seru Youngri dan dibalas sebuah gumaman malas dari Minho. Youngri mengerucutkan bibirnya kesal lalu memalingkan wajah keluar jendela. Perlahan ia menghela napasnya. Beruntung ia masih punya kesabaran untuk menghadapi keinginan para oppanya itu.

Youngri hanya bisa diam saat melihat Minho mengobrol dengan temannya. Ia menatap Minho dari jarak yang cukup jauh dan tidak boleh mendekat dalam jarak tertentu. Sebenarnya ia masih bingung dengan pernikahan mendadaknya itu. Ia masih tidak percaya bahwa sudah menikah dengan lima orang laki-laki, yang bahkan baru dikenalnya sebulan ini. Ia tidak mengerti bagaimana bisa pernikahannya itu terjadi.

Minho duduk di salah satu bangku yang mengelilingi lapangan basket itu diikuti Youngri di sebelahnya. Belum sempat Youngri mendudukkan dirinya, Minho sudah memegangi tangannya. Gadis itu menoleh heran.

“Kau beli popcorn dulu,” seru Minho dingin. Youngri menghela napas kemudian bangkit lagi.

Dengan setengah malas Youngri mengantri di bagian pembelian popcorn. Ia sesekali melirik jam di tangannya. Sudah jam 2 siang, dan pertandingan basket akan selesai satu jam lagi. Setelah itu ia harus membeli resep baru untuk Key dan pergi ke café temannya. Tidak berhenti sampai disitu, ia harus mengantar Jinki ke perpustakaan kota. Dan sebuah helaan napas keluar dari bibir Youngri. Ia memijat keningnya yang tiba-tiba pusing karena memikirkan semuanya. Ia benci keadaan seperti itu.

***

Key segera bergegas memakai sepatu sneakers miliknya setelah mendapat telepon dari Minho tadi. Urusannya dengan Youngri sudah selesai dan sekarang gilirannya. Sebelum berangkat, ia melirik ke arah Jinki yang tengah sibuk mempersiapkan diri juga.

Dengan langkah santai ia menyusuri jalanan menuju supermarket tempat pertemuannya dengan Youngri. Ia segera memasuki supermarket yang cukup besar itu dan melihat Youngri tengah berdiri di depan lemari bahan-bahan makanan. Keranjang di tangan gadis itu pun sudah sedikit terpenuhi oleh makanan lainnya.

“Hyaa~, kenapa kau membeli makanan tidak penting ?” pekik Key saat melihat beberapa makanan anak-anak memenuhi keranjang belanja itu. Youngri sedikit tersentak dan segera menoleh pada Key yang sudah memasang tatapan tajamnya.

“Oppa ? Onje wasseo ?” tanya Youngri, menghiraukan pertanyaan Key sebelumnya. Key melipat kedua tangannya di depan dada seraya menunjuk keranjang belanja yang ada di tangan Youngri dengan dagunya.

Youngri menunduk, sebuah senyuman tanpa dosa pun keluar dari bibirnya lalu menatap Key memohon, “Oppa, please. Aku akan makan berdua dengan Taemin,” rajuknya membuat Key sedikit luluh. Bukan karena ucapan gadis itu, hanya karena ada Taemin di dalamnya. Gadis itu bahkan sama kekanak-kanakkannya dengan Taemin.

“Aah, keuraeseo. Kau boleh membelinya,” sahut Key akhirnya. Ia segera merebut keranjang belanja itu dari tangan Youngri dan memasukkan beberapa sayuran ke dalamnya. Youngri yang tepat berada di belakang Key pun bersorak senang dalam hati.

“Jangan berlebihan. Aku membelinya karena ingat Taemin juga,” seru Key seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Youngri mengerucutkan bibirnya dan mengikuti langkah Key mengitari supermarket itu. Sepertinya perjalanannya bersama Key akan membosankan. Pergi bersama laki-laki dingin –yang cerewet dan juga terlalu jujur. -__-

***

Suasana perpustakaan bahkan membuat Youngri harus menahan rasa kantuknya. Ia menguap berkali-kali seraya menatap Jinki yang masih sibuk berkutat dengan buku-buku. Youngri memaklumi itu, karena Jinki –yang baru saja lulus dari jurusan kedokteran harus terus menambah ilmunya. Dan ia tidak pernah menduga bahwa perjalanannya bersama Jinki lebih membosankan daripada bersama Key tadi.

Gadis itu menutup buku –novel terjemahan yang tengah dibacanya. Perlahan tapi pasti, kepalanya mulai turun dan tergeletak di atas meja. Matanya sudah sangat berat dan ia tidak bisa menahannya lagi. Dengan buku yang menutupi wajahnya, Youngri dengan mudah melakukan kegiatan –tidurnya itu tanpa takut diketahui orang lain.

Sementara itu Jinki masih saja membuka buku bertebal ratusan halaman itu dengan seksama. Ia membetulkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya lalu sedikit melirik ke arah Youngri yang duduk di hadapannya. Jinki mengernyit heran saat mendengar dengkuran kecil dari gadis itu. Beberapa orang pun tampak memperhatikan Youngri yang tidak bergeming sedari tadi.

“Haish. Kenapa dia malah tidur ?” umpat Jinki pelan seraya menutup buku miliknya lalu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ia baru ingat kalau gadis itu harus sekolah besok.

“Youngri-ya, ireonna,” bisik Jinki. Dan suaranya –yang bahkan mungkin hanya bisa didengar kelelawar itu pun tidak membuat efek apapun pada Youngri. Jinki mengguncang perlahan bahu gadis itu, “Ya !” pekik Jinki dengan suara tertahan.

Youngri mengerang pelan sembari mengangkat kepalanya menghadap Jinki. Dengan cepat ia membuka kedua matanya lebar-lebar dan merapikan rambutnya yang berantakan –karena tertidur tadi. Gadis itu segera bangkit dan menaruh novel yang sudah di bacanya kembali ke tempatnya kemudian pura-pura sibuk mencari buku yang lainnya. Youngri memang pintar di semua mata pelajaran, tapi ia tidak suka kalau harus berurusan dengan banyak buku seperti saat itu.

“Ayo pulang,” ajak Jinki membuat Youngri cukup kaget karena kedatangan laki-laki itu yang tiba-tiba.

“Ah, keurae,” jawab Youngri seraya tersenyum lebar.

Jinki balas tersenyum lalu beranjak dari sana, diikuti Youngri di belakangnya. Mereka berdua keluar dari perpustakaan kota itu dan menaiki mobil Jinki yang terparkir di pelataran parkir perpustakaan itu. Suara-suara aneh tiba-tiba saja membuat tangan Jinki terhenti di udara yang sebentar lagi memindahkan kopling mobil. Ia menoleh pada Youngri yang tengah memegangi perutnya. Gadis itu menoleh juga, menatap Jinki dengan memohon kemudian tersenyum kecil.

“Mian oppa. Tapi aku lapar,” sahut Youngri. Jinki menggeleng pelan lalu memundurkan mobilnya keluar.

“Kita makan malam dulu,” balas Jinki dan membelokkan mobilnya di sebuah restoran tepat di sebelah perpustakaan itu.

***

Sudah hampir berjam-jam yang lalu Minho dan Key keluar dari kelas terakhir di kampus mereka. Tapi keduanya malah terlihat asyik mengobrol di cafetaria kampus dan tidak berniat pulang. Membahas tentang semua yang terjadi akhir-akhir ini di rumah mereka. Tentang kakek Jung, perusahaan, dan terakhir adalah Youngri.

“Dia seperti serigala berbulu domba, kau tahu itu kan ?” tanya Minho pada Key yang tengah sibuk membolak-balik tugas kuliahnya. Key sedikit mendongak lalu membetulkan letak kacamata miliknya.

“Entahlah. Tapi aku merasa dia cukup baik. Dia tidak pernah protes walaupun kita memperlakukannya cukup kasar,” jawab Key seraya menutup buku yang tengah dibacanya. Ia menyesap minuman miliknya lalu memandang Minho yang sedang mengacak rambutnya frustasi.

“Aah, michigetda. Sikap Youngri membingungkan,” Minho segera menyantap makan sorenya tanpa berbicara lagi pada Key. Perhatian keduanya pun teralihkan ketika melihat Taemin berlari ke arah mereka. Sontak Minho pun tersedak saat melihat adiknya tiba-tiba muncul.

“Taemin-ah ? Kenapa kau bisa ada disini ?” tanya Key pada Taemin yang kini sudah duduk di sebelah Minho. Taemin tersenyum pada kedua hyungnya kemudian mengambil sepotong kentang goreng yang ada di piring Minho.

“Aku mau coba daftar di Universitas ini,” jawab Taemin, membuat Key dan Minho mengernyit heran.

“Kau akan satu kampus dengan kita ?” tanya Minho lagi dan dijawab sebuah anggukan oleh Taemin.

“Keurae. Kalau aku satu kampus dengan Jonghyun hyung, aku tidak bisa jamin tidak akan mengikutinya. Nanti aku tidak polos lagi,”

PLETAK

Sendok yang tengah dipegang Minho pun mendarat dengan mulus di puncak kepala Taemin. Ia meringis kesakitan lalu menatap memohon pada Key –yang selalu bisa membelanya. Tapi sepertinya, Key sedang tidak berpihak padanya saat itu.

“Kau merasa masih polos ? Kita bahkan sudah menikah Taemin-ah,” tambah Key seraya menggelengkan kepalanya. Ia menyeringai kecil lalu menyesap minumannya lagi.

“Aiya, walaupun sudah menikah, aku kan belum tersentuh apapun sebelumnya. Pacaran saja belum pernah,” Taemin mengerucutkan bibirnya kesal lalu menelungkupkan kepalanya ke atas meja.

“Aigoo~. Aku baru ingat kalau kita sudah menikah,” sahut Key setelah sadar dengan ucapannya tadi. Ia melihat Minho menghela napasnya lalu menaruh sendok yang tengah dipakainya ke atas meja.

“Selera makanku jadi hilang,”

“Ada siapa saja dirumah sekarang ?” tanya Key pada Taemin yang kini sudah mengambil alih –steak ayam milik Minho.

“Youngri dan Jonghyun hyung. Jinki hyung sedang tes di rumah sakit,” jawab Taemin acuh. Key dan Minho mengangguk pelan, namun kemudian saling memandang satu sama lain.

“Ayo pulang,” ajak Minho tiba-tiba, ketika sebersit perasaan khawatir muncul tentang Youngri dan Jonghyun. Key yang sepertinya berpikiran sama pun, segera menarik tangan Taemin bangkit dari kursinya. Ketiganya berjalan menuju mobil Minho dan meninggalkan pelataran parkir kampus.

***

Kakek Jung memandang gerak-gerik setiap kelima cucunya itu di dalam beberapa layar di depannya. Melihat rekaman dari CCTV yang dipasangnya. Sebenarnya dari pertama mereka tinggal pun, rumah itu sudah dipenuhi kamera pengintai. Tapi mereka semua masih tidak mengetahui dimana letak kamera pengintai itu sampai sekarang. Dan kakek Jung bersyukur karena idenya itu bisa membawa hasil.

“Cish~, gerak-gerik Youngri bahkan tidak terlihat seperti menggoda kelima cucuku itu,” gumam kakek Jung seraya menyesap kopi miliknya dengan perlahan. Seolah beberapa layar monitor itu adalah tontonan menarik baginya.

“Oh, sajangnim. Ada yang ingin bertemu dengan anda,” ujar salah satu sekretaris pribadinya yang kini sudah berdiri di depan pintu. Kakek Jung menaruh cangkir kopinya kemudian berjalan keluar dengan sedikit tergopoh.

Seorang wanita terlihat tengah menundukkan kepalanya. Kakek Jung menyeringai lalu menuruni tangga menghampiri gadis itu yang masih saja menatap ke bawah. Dengan penuh wibawa ia duduk di hadapan gadis itu dan berdehem untuk menyadarkannya.

“Oh, Jung sajangnim,” gumam gadis itu.

“Ne, ada apa ?” tanya kakek Jung seraya menyalakan cerutu miliknya. Gadis di depannya itu kembali menundukkan kepala dan memainkan jari-jarinya bingung.

“Aku ingin keluar dari perjanjian ini,” sahut gadis itu lalu menatap kakek Jung dengan mantap.

“Miss Han, kau tidak bisa keluar perjanjian ini. Perjanjian hitam di atas putih yang harus kau selesaikan, atau kau harus terima konsekuensinya,” kakek Jung menopang kedua tangannya pada paha dan membiarkan asap cerutu yang keluar dari mulutnya di hembuskan ke arah gadis itu.

“Aku tidak bisa. Mereka terlalu baik untukku, aku tidak tega melakukannya,”

BRAK

Kakek Jung memukul meja kayu itu dengan keras. Ia berdiri dan membisikkan sesuatu pada pengawalnya yang ada. Setelah tersenyum puas ia pun kembali duduk di kursinya dan memandang gadis berambut panjang di depannya.

“Kau turuti atau adikmu taruhannya,” tawar kakek Jung, memberikan pihan sulit untuk gadis di depannya.

Gadis itu menghela napasnya. Ia mendengar teriakan adiknya dari lantai 2, sontak membuatnya hampir terlonjak dari kursi. Kakek Jung menyeringai lalu mematikan cerutunya ke sebuah asbak di meja ruang tamu.

“Buat aku puas dengan hasil kerjamu. Waktumu hanya 3 bulan dan sudah satu bulan kau membuang-buang waktumu. Ingat juga, adikmu masih ada disini dan menjadi jaminannya,”

***

Langit kota Seoul sepertinya kurang bersahabat sore itu. Rintik-rintik hujan mulai membasahi tanah dan menimbulkan wangi tanah kering ketika tersiram air hujan. Seorang gadis tampak berjalan menyusuri setiap deretan toko, memandangi setiap orang yang dilewatinya dengan nanar. Berkali-kali ia juga menarik dan mengeluarkan napasnya. Bingung apa yang harus dilakukan atas ancaman kakek Jung tadi.

“Ya ! Youngri !” langkah gadis itu terhenti ketika mendengar namanya dipanggil. Ia memasang kembali wajah cerianya dan menoleh ke belakang. Terlihat seorang laki-laki berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan.

“Oh, oppa !” pekik Youngri.

“Darimana ?” tanya Jonghyun yang kini sudah menyamai langkahnya dengan Youngri. Gadis itu tersenyum kemudian mengangkat tas plastic yang ada di tangan kanannya ke hadapan Jonghyun.

“Sedikit beli makanan,” jawabnya lalu kembali menurunkan tas plastiknya.

Tiba-tiba saja hujan rintik itu berubah menjadi deras. Jonghyun dan Youngri saling memandang satu sama lain kemudian berlari ke teras toko terdekat yang bisa melindungi mereka dari hujan untuk sementara. Terlihat juga beberapa orang yang mengikuti mereka berteduh di bawah teras toko itu sehingga sedikit berdesakan. Youngri memandang heran orang-orang yang terus saja mendorongnya, hingga tidak sadar tubuhnya kini sudah berhimpitan dengan Jonghyun.

“Aww. Ya ! Berhenti dorong-dorong,” seru Youngri kesal kemudian membalikkan wajah. Dan gotcha ! Bibirnya kini hampir bersentuhan dengan bibir Jonghyun. Keduanya saling menatap sesaat kemudian memalingkan wajahnya lagi.

Tidak ada pembicaraan yang terjadi antara Jonghyun dan Youngri. Keadaan berubah menjadi canggung sejak kejadian ‘hampir’ bersentuhan bibir itu. Youngri pun sesekali menggosok-gosokkan tangannya karena udara yang semakin dingin. Tiba-tiba saja tubuhnya menjadi hangat karena jaket Jonghyun sudah melingkari pundaknya. Baru saja Youngri akan mencela, tapi Jonghyun sudah menyumbat telinganya dengan headset.

“Gomawo oppa,” gumam Youngri pelan, tapi tidak membuat Jonghyun bergeming. Laki-laki tetap bergaya keren sambil memilih-milih lagu di dalam Ipod miliknya. Setelah menemukan lagu yang pas, ia mulai mendengarkannya. Headset di sisi lainnya ia lepas dan dipasangkan pada telinga Youngri. Gadis itu sedikit kaget lalu menoleh pada Jonghyun.

“Dengarkan saja,” jawab Jonghyun seolah mengerti arti tatapan heran dari gadis di depannya. Youngri mengangguk, ia tersenyum lalu memalingkan wajahnya lagi menatap hujan yang semakin deras. Hari sudah mulai gelap dan ia tidak tahu harus bagaimana. Tapi jika bersama Jonghyun, mungkin ia akan lebih aman.

***

Suasana rumah tampak muram ketika Youngri bangun esok paginya. Ia melihat Key hanya mengaduk-aduk makanannya tidak selera, tidak jauh berbeda dengan keempat laki-laki lainnya. Ia beringsut mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursinya, tanpa bisa melepaskan pandangan dari Jinki, Jonghyun, Key, Minho, dan juga Taemin.

“Kenapa tidak ada yang makan ?” tanya Youngri, mencoba menyadarkan kelimanya. Dan berhasil, kelima laki-laki itu tersentak dan menatap Youngri dengan heran.

“Kakek Jung baru saja menelepon tadi. Nafsu makanku hilang ketika kakek Jung menutup teleponnya,” jawab Taemin dijawab anggukan oleh kelima ‘hyung’ nya.

“Memangnya dia bilang apa ?” tanya Youngri lagi seraya mengambil nasi goreng yang ada di depannya.

“Dia membahas tentang pernikahan ‘aneh’ ini dan juga kau,” Key menjauhkan piringnya dan menoleh pada Youngri dengan tatapan tajam. Ucapan Key sontak membuat Youngri tersedak, gadis itu balas menatap Key dengan heran. Seolah bertanya apa yang dibicarakan kakek Jung pada mereka.

“Dia bilang kita harus menerima semua perlakuan baikmu, harus memperlakukanmu dengan baik dan bla bla bla, masih banyak lagi yang tidak penting. Yang jelas semuanya menyangkut kau,” jawab Minho.

Youngri menghela napas panjang kemudian menghabiskan sarapannya. Tapi ia sama sekali tidak bisa berhenti melirik ke arah Jonghyun. Ia masih sangat ingat bagaimana kejadiannya bersama Jonghyun kemarin sore. Dan Jonghyun malah balas menatapnya lalu tersenyum samar. Gadis itu hanya berdoa semoga semburat di pipinya tidak terlihat oleh kelimanya.

“Hari ini kau ajari aku matematika. Besok aku ada tes masuk Universitas,” seru Taemin tiba-tiba. Youngri segera mengangkat wajahnya kemudian tersenyum kikuk.

“Keurae. Apa ada lagi yang butuh bantuanku hari ini ?” tanya Youngri, berharap bahwa hari minggunya tidak seburuk minggu kemarin. Dimana ia harus mengantar kelima ‘oppa’ nya seharian penuh.

“Aku mau ke perpustakaan kota lagi. Apa kau mau ikut ?” tawar Jinki dijawab sebuah gelengan cepat oleh Youngri.

“Lebih baik aku mengajari Taemin oppa seharian,” balasnya lalu tersenyum lebar. Dan yang lain pun mencoba menahan tawanya ketika melihat wajah polos Youngri yang jelas-jelas menolak ajakan membosankan dari Jinki.

***

Taemin mengeluarkan semua soal latihan matematika yang didapatnya dari sekolah ke atas meja ruang TV. Ia segera mengeluarkan pensilnya dan menatap Youngri yang duduk berseberangan. Mungkin kalau tidak terpaksa atau Youngri yang bukan anak pintar, ia tidak akan meminta tolong pada gadis itu.

“Oppa bisa mengerjakannya sendiri kan ? Kalau tidak mengerti baru tanya aku,” Youngri memakai headset di kedua telinganya kemudian beranjak ke sofa. Memindahkan channel TV seraya menunggu Taemin mengerjakan soal-soal latihannya.

Untuk beberapa saat Taemin masih mengutak-atik soal tentang ingkaran. Ia mencorat-coret kertas untuk mendapatkan hasil, tapi ia sama sekali tidak menemukannya. Dengan cepat Taemin melepas headset yang tengah dipakai Youngri dan menyuruh gadis itu mengajarkannya tentang ingkaran.

“Baiklah. Perhatikan baik-baik,” Youngri beralih duduk di dekat Taemin dan mengambil pensil yang tengah dipegang laki-laki itu.

Taemin mengangguk mengerti dan segera merebut pensil dari tangan Youngri. Ia mulai mengerjakan soal yang lainnya lalu bersorak pelan setelah mengerjakan sepuluh soal yang berjenis sama. Ia pun tersenyum pada Youngri yang berhasil mengajarinya. Senyuman pertama yang diberikan Taemin setelah satu bulan ini ia tinggal bersama Youngri. Tapi Taemin kembali melipat senyumnya dan focus pada soal berikutnya.

“Aku mau ke supermarket depan. Kalian mau kubelikan apa ?” tanya Jonghyun tiba-tiba seraya menepuk pundak Youngri pelan. Taemin dan Youngri menoleh bersamaan kemudian sedikit berpikir.

“Susu pisang dan snack seafood,” jawab Taemin dan Youngri bersamaan membuat Jonghyun tertawa pelan akan hal itu.

“Baiklah. Belajar yang benar dongsaengi,” Jonghyun mengacak pelan rambut Taemin kemudian berlalu keluar rumah.

Dua orang itu saling melirik satu sama lain lalu tersenyum samar. Keduanya kembali melihat soal yang ada di buku Taemin dan mengerjakannya bersama-sama. Youngri terkekeh pelan melihat Taemin salah tingkah dengan salah menyilang jawaban yang ada. Ia menggeleng pelan kemudian membenarkan jawaban Taemin. Youngri merasa hubungannya mulai dekat dengan kelima cucu kakek Jung. Tapi entah kenapa, setiap kali ia mencoba dekat, ia semakin merasa bersalah karena janjinya pada kakek Jung.

***

Entah apa yang membuat Youngri sangat malas menatap gurunya yang tengah menjelaskan pelajaran itu. Ia menoleh pada Yoon Mi yang duduk di sebelahnya. Sebersit rasa bersalah tiba-tiba saja muncul ketika ia belum menceritakan tentang masalahnya pada sahabatnya itu. Lebih baik ia menceritakan masalah kakek Jung, kelima cucu kakek Jung, dan tentang adiknya –yang tidak memberi kabar akhir-akhir ini.

Bel pulang sekolah segera menghentikkan kegiatan guru yang ada di sekolah itu. Semua murid segera membereskan buku mereka dan berhambur keluar kelas. Youngri segera menggamit lengan Yoon Mi untuk mengikutinya. Ia membawa sahabatnya keluar gerbang sekolah dan naik ke dalam taksi yang ada di depan sekolahnya.

“Ya ! Kau mau menculikku hah !” pekik Yoon Mi sontak membuat supir taksi yang membawa mereka mengernyit heran. Youngri menggeleng lalu menyuruh supir taksi itu untuk tetap menjalankan mobilnya.

“Ahni. Aku mau membicarakan hal penting. Tapi nanti di restoran,” jelas Youngri. Yoon Mi mengangguk lalu segera memeriksa tas miliknya.

Beberapa saat kemudian Youngri memberhentikan taksi itu. Belum sempat tangannya terjulur untuk membayar, Yoon Mi sudah mendahuluinya memberi uang pada supir taksi itu. Youngri menggumam terima kasih dan membawa sahabatnya itu keluar dari taksi.

Keduanya duduk di salah satu meja yang ada di pojok restoran itu. Setelah memesan makanan, Youngri segera melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Yoon Mi sedikit ragu. Ia mulai ragu untuk menceritakan masalahnya.

“Ada apa ?” tanya Yoon Mi, membuat Youngri tersadar dari lamunannya. Terdengar helaan napas dari Youngri lalu menatap Yoon Mi dengan yakin.

“Aku sudah menikah,”

TRING

Sontak sendok yang tengah dimainkan oleh Yoon Mi pun terjatuh begitu saja ketika mendengar satu kata itu dari sahabatnya. Ia mengernyit dan memberi tatapan seolah memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Ia melihat Youngri menggeleng pelan menjawab pertanyaan verbal darinya.

“Dan lebih parah lagi, aku menikah dengan lima orang laki-laki,”

Kali ini Yoon Mi kehilangan beberapa helaan napasnya saat mendengar itu. Ia tertawa pelan lalu memukul pelan lengan Youngri. Beberapa orang yang ada di café itu pun tampak memperhatikan kedua sahabat itu.

“Ya. Leluconmu tidak lucu Han Youngri,” gumam Yoon Mi  masih belum memberhentikan tawanya.

“Aku tinggal bersama mereka sekarang. Bersama lima laki-laki itu dan aku sedang tidak membuat lelucon Kang Yoon Mi,” balas Youngri sedikit kesal. Yoon Mi menghentikan tawanya dan kembali menatap Youngri.

“Pasti ada alasan dibalik semuanya kan ? Aku tahu kau tidak mungkin mau menikah dengan lima orang laki-laki itu tanpa alasan yang jelas,” tanya Yoon Mi. Youngri mendesah napasnya panjang dan mulai membuka mulutnya untuk menceritakan semuanya.

“Yeah, kau tahu ayahku pergi meninggalkanku setelah membuat hutang dimana-mana bukan ? Ayahku mempunyai hutang yang besar dengan perusahaan Jung dan pemilik perusahaan itu ingin aku membayar hutangnya. Aku hanya bisa mengangkat tangan ketika melihat jumlah hutangnya, aku tidak punya uang sebanyak itu,”

“Ayo cepat ceritakan intinya,” potong Yoon Mi.

“Jung sajangnim menyuruhku menikah dengan kelima cucu laki-lakinya, karena dengan begitu hutang ayahku lunas. Awalnya hanya bertujuan membuat mereka suka saja dan adikku sebagai taruhannya. Tapi ternyata Jung sajangnim mendaftarkan pernikahanku dan dengan otomatis aku berstatus sebagai istri kelima cucunya. Ia juga punya tujuan lain dibalik itu semua yang tidak diketahui kelima cucunya,”

Yoon Mi semakin memajukan tubuhnya karena semakin penasaran dengan cerita Youngri –yang sudah seperti dongeng. Gadis itu bahkan tidak peduli ketika makanan pesanannya sudah datang.

“Harta Jung sajangnim ternyata milik kelima cucunya. Dan ia tidak mau menyerahkan semua hartanya itu. Ada satu syarat untuk membuat hartanya itu tidak jadi milik kelima cucu laki-lakinya. Mereka saling memutuskan persaudaraan dan keluar dari keluarga Jung. Tujuanku sebenarnya adalah itu, membuat mereka menyukaiku dan memutuskan persaudaraan mereka. Dengan begitu harta Jung sajangnim tidak jatuh ke tangan kelima cucunya,”

Youngri menutup ceritanya seraya menyesap minuman miliknya yang baru saja datang. Cerita rumit itu sulit dimengerti Yoon Mi, namun akhirnya gadis itu mengangguk juga.

Dan tanpa disadari sepasang mata tengah memandangi keduanya. Ia mengepalkan tangannya kesal setelah mendengar cerita sebenarnya. Sebuah seringaian pun muncul di bibirnya. Ia segera berbalik, keluar dari restoran itu untuk memberitahu keempat saudaranya tentang kenyataan yang disembunyikan Youngri.

“Dan satu hal. Aku terpaksa melakukan ini hanya untuk Hyeri. Aku pasti akan menyesal ketika semuanya berakhir dan semua rencana kakek Jung terjadi,”

-to be continued-

One thought on “[FanFict] Seizure (3rd Part)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s