[FanFict] Seizure (2nd Part)

Title         : Seizure

Author   : Ima Shineeworld & Rezky

Casts        : SHINee members, Han Youngri

Length   : Series

Genre      : Family, Romance, Angst (?)

Rating     : PG-15

[Seizure] [Part 1]

Laki-laki itu terus saja mondar-mandir di depan seorang laki-laki lainnya dengan kesal. Kegiatannya itu terhenti dan memandang laki-laki itu yang tengah duduk di sofa dengan tatapan penuh selidik. Ekspresi dingin dan kesalnya terlihat jelas ketika melihat laki-laki di depannya tidak menjawab pertanyaannya.

“Jadi kenapa kau bisa pergi dengan Youngri ?” ulang Minho lagi masih tetap berdiri di depan Jonghyun dan menginterogasinya.

“Aku hanya ingin mengajaknya jalan-jalan. Apa itu salah ?” tanya Jonghyun kesal. Minho mendecak kemudian menatap Jonghyun dengan jarak wajah yang cukup dekat.

“NE ! Kau sudah hampir menggagalkan rencana yang kita buat. Dengan sikap manismu itu, Youngri akan semakin suka tinggal disini dan susah untuk pergi,” Minho kembali menjauhkan wajahnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur milik Jonghyun.

“Apa kau cemburu ?” tanya Jonghyun tiba-tiba. Minho menautkan kedua alisnya heran kemudian terbahak karena pertanyaan laki-laki yang lebih tua satu tahun darinya itu.

“Kau bercanda hyung ? Aku cemburu ?” tanya Minho lebih pada dirinya sendiri kemudian tertawa lagi. Ia memegangi perutnya yang sudah mulai sakit karena tertawa lalu menyeka sudut matanya.

“Kau berlebihan Minho,” balas Jonghyun setelahnya.

“Dwaesseo. Tidak usah dibahas lagi. Ingat hyung, jangan bersikap manis lagi padanya. Aku tahu kau itu seorang playboy, tapi jangan Youngri, ara ?” Minho bangkit dari tempat tidur milik Jonghyun lalu keluar dari kamar hyungnya itu masih sambil tertawa kecil. Tepat ketika ia membuka pintu kamar Jonghyun, ia menemukan Youngri berdiri disana dengan tatapan heran. Minho menatapnya tajam dan beranjak dari sana tanpa berniat sedikit pun menanyakan kabar gadis itu.

***

Entah apa yang membuat Youngri mau melakukan apa saja yang dipinta kakek Jung. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa semua ancaman kakek Jung yang berhubungan dengan adiknya akan selalu dituruti. Jujur, ia sangat ingin menolak semuanya. Ia tidak mau menyakiti kelima cucu kakek Jung itu. Sangat tidak mau.

“Just do what I say. You’re my puppet now, do or your sister will die,”

Youngri hampir saja menjatuhkan panci berisi sup panas yang baru dibuatnya ketika mengingat ucapan kakek Jung itu. Ia menaruh panci itu lalu memijat keningnya secara perlahan. Kepalanya tiba-tiba menjadi pusing karena terlalu banyak hal yang dipikirkannya.

“Make them like you, miss Han,”

Gadis itu duduk di sudut dapur seraya memeluk kedua lututnya. Seharian kemarin dia sudah senang bisa pergi bersama Jonghyun, tapi ketika mendengar suara kakek Jung di telepon, rasa senangnya itu seolah terbang. Secepatnya juga ia harus pergi dari sana, membuat semua perjanjiannya selesai, dan bisa membawa adiknya pergi. Tapi bagaimana kalau ia tidak bisa melakukan itu. Bagaimana kalau hatinya tidak setega itu untuk melakukannya.

“Taemin-ah ! Biar aku yang pergi ! Kau jaga disini saja, ara ?”

Teriakan dari arah ruang tamu membuat lamunan Youngri buyar. Ia menghapus air mata –yang entah sejak kapan sudah menuruni pipinya dan berlari ke arah suara itu. Ia melihat Minho dan Jonghyun tergesa-gesa memakai sepatu lalu keluar begitu saja.

“Ada apa ?” tanya Youngri heran melihat ketiga oppa-nya sibuk. Taemin menoleh sekilas kemudian mengendikkan dagu ke arah lantai dua.

“Jinki hyung. Tiba-tiba saja badannya panas dan pingsan,” jawab Taemin panik. Youngri mengangguk mengerti lalu kembali ke dalam dapur, mengambil air hangat dan sapu tangan. Ia berlari melewati Taemin untuk masuk ke dalam kamar Jinki.

Dengan perlahan Youngri melangkah memasuki kamar Jinki. Namun langkahnya terhenti ketika Taemin menahannya dengan cukup kuat. Ia menoleh lalu memberikan tatapan memohon pada laki-laki itu. Hanya sekali saja, merawat Jinki seharian ini.

Akhirnya Taemin melepaskan tangannya, ia membiarkan Youngri memasuki kamar Jinki. Walaupun mungkin setelah bangun nanti, Jinki akan marah padanya karena hal ini. Jinki paling tidak suka ketika ada orang asing yang memasuki kamarnya. Apalagi itu adalah Youngri, wanita yang jelas-jelas dibencinya. Tapi melihat keadaan Jinki yang termasuk parah, ia hanya bisa membiarkan itu terjadi.

Youngri mengeringkan sapu tangan yang tadi dibawanya lalu menaruhnya di kening Jinki. Ia pun menyelimuti Jinki dengan perlahan tanpa bermaksud membangunkannya. Setelah cukup lama, ia mengambil sapu tangan itu dan mencelupkannya kembali ke dalam air hangat. Selama berulang-ulang seperti itu dalam skala waktu beberapa menit sekali.

Sementara itu Taemin menatap apa yang dilakukan Youngri dengan heran. Ia tidak tahu apakah gadis itu benar-benar melakukannya dengan tulus atau tidak. Tapi melihatnya seperti itu, Taemin cukup yakin bahwa gadis itu cukup tulus.

“Taemin ! Tidak ada dokter yang buka ! Key juga harus –,” ucapan Jonghyun terhenti ketika melihat pemandangan yang ada di dalam kamar Jinki. Ia membiarkan Minho ikut melihatnya dan entah kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

“Apa yang ia lakukan ?” tanya Minho dingin. Taemin menatap Minho beberapa saat kemudian mengendikkan bahu.

“Ia melakukan itu saat tahu Jinki hyung demam tinggi,” jawab Taemin. Jonghyun dan Minho mengangguk bersamaan kemudian memilih pergi dari sana. Membiarkan Youngri –alias dokter dadakan itu pun melakukan tugasnya.

Sudah lebih dari dua jam dan Youngri masih saja setia menunggui Jinki di samping tempat tidur. Ia tidak mau beranjak dari sana, bahkan ketika Jonghyun memaksanya untuk makan malam. Sungguh, ia hanya mau perjanjiannya dengan kakek Jung cepat beres agar ia bisa cepat pergi dari sana dan bersama adiknya lagi.

“Dwaesseo ! Biar aku yang jaga Jinki hyung sekarang,” seru Key seraya menarik tangan Youngri agar beranjak dari sana karena cara apapun tidak membuat gadis itu pergi. Youngri menarik tangannya dari pegangan Key dan lebih memilih tetap duduk disana.

“Baiklah. Terserah kau saja, karena aku dan yang lainnya akan tidur. Jangan salahkan aku kalau besok kau mengantuk di sekolah,” Key mengangkat kedua tangannya dan pergi dari kamar Jinki. Youngri menatap pintu yang tertutup itu kemudian kembali memandang Jinki.

“Mianhae oppa,”

***

Matahari bahkan belum menampakkan sinarnya ketika Youngri sudah sibuk dengan kegiatan memasaknya di dapur. Kelima laki-laki lainnya yang tengah tertidur pun terpaksa membuka matanya karena suara-suara ribut dari dapur itu tak kunjung hilang. Jonghyun yang merasa kesal karena tidurnya terganggu akhirnya keluar dari kamar. Namun langkahnya terhenti di dekat dapur dan segera melirik ke jam besar yang ada di tengah ruang tamu.

“Jam 4 ?” Jonghyun mengalihkan perhatiannya lagi pada Youngri yang sedang membelakanginya, “YA ! Kau tidak bisa lihat jam apa ? Ini masih sangat pagi !” seru Jonghyun seraya mengucek kedua matanya yang terasa masih sangat berat.

Youngri membalikkan badannya menghadap Jonghyun dan hanya membalas dengan sebuah senyuman tanpa dosa. Senyumnya itu tiba-tiba saja memudar melihat ketiga laki-laki lainnya menuruni tangga dan menatap ke arahnya dengan tatapan seolah ingin membunuh.

“A-annyeong oppa. Bagaimana tidurnya ?” tanya Youngri kikuk. Keempat laki-laki itu malah melipat kedua tangannya ke depan dada dan menggeleng.

Gadis itu menaruh hidangan terakhir yang dibuatnya ke atas meja makan kemudian duduk di salah satu kursinya. Ia menatap kedua kursi yang masih kosong dan melemparkan tatapan herannya pada Key yang duduk di depannya.

“As usual, Minho dan Jinki hyung masih di alam mimpinya,” jawab Key seraya mengangkat kedua bahunya acuh. Gadis itu mengangguk paham lalu memakan sarapan yang sudah dibuatnya.

Beberapa saat kemudian, Youngri sudah menyelesaikan sarapannya dan bergegas memakai sepatu sekolahnya di dekat pintu. Ia melirik sekali lagi ke dalam rumah dan melihat Minho menuruni tangga. Ia menghela napas lagi, dan mengambil kesimpulan bahwa Jinki masih sakit.

***

Bangku paling depan itu belum terisi oleh murid lainnya. Tapi hal itu sama sekali tidak menarik perhatian Youngri. Memang biasanya ia selalu duduk di depan dan selalu menjadi murid terpintar di kelasnya. Tapi entah kenapa, hari itu ia sangat malas duduk di depan dan memilih bangku paling belakang. Matanya sangat berat setelah tadi malam hanya tidur sekitar dua jam.

“Han Youngri !” sapa seorang wanita ramah lalu duduk di sebelah gadis itu.

“Oh, Yoon Mi-ya,” Youngri tersenyum ramah dan menatap sahabatnya itu dengan sedikit sayu.

“Kau tidak tidur lagi eh ? Matamu sangat hitam Youngri-ya,” ujar gadis bernama Yoon Mi itu seraya menunjuk kedua mata Youngri yang menghitam.

“Gwenchana, hanya kurang tidur,” Youngri mengambil ponselnya dari dalam tas, ia menatap wajahnya sendiri di pantulan layar ponsel itu dan mendesah napas panjang. Bahkan ia rela seperti itu hanya untuk melakukan hal yang tidak berguna.

“Kau sekarang tinggal dimana ? Masih pindah-pindah seperti dulu ?” tanya Yoon Mi membuat Youngri sedikit tersentak. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu tersenyum.

“Ahni. Sekarang aku sudah tinggal menetap. Tapi sayangnya kau tidak boleh tahu hal itu,” jawab Youngri kemudian memukul pelan lengan sahabatnya.

“Eiish, kau kira aku mau lihat rumah barumu itu ?” Yoon Mi menjulurkan lidahnya kesal lalu beranjak dari sana untuk kembali ke tempat duduknya. Youngri terkekeh dan balas menjulurkan lidah pada sahabatnya itu. Tatapannya kembali tertuju pada jendela. Dimana hujan rintik-rintik mulai turun. Gadis itu menguap dengan lebar. Ia hanya berharap semoga matanya bisa berkompromi sampai siang nanti.

***

Jinki terbangun dan mulai meraba sapu tangan di keningnya yang sudah dingin. Ia meraih sapu tangan di keningnya lalu menaruhnya ke nakas di samping tempat tidur. Perlahan laki-laki itu bangkit dari tempat tidurnya. Masih terasa sedikit pusing, namun ia memaksakan langkahnya keluar dari kamar.

Dengan gontai ia berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya. Matanya terus tertuju pada seluruh bagian rumah, tapi ia hanya melihat Key yang sedang menonton TV. Setelah menghabiskan seluruh air dalam gelas itu, ia menghampiri Key dan duduk di sebelahnya. Perhatian Key pun teralihkan karena kedatangan Jinki.

“Oh, kau sudah baikan hyung ?” tanya Key. Jinki mengangguk lemah kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

“Apa yang terjadi ?” tanya Jinki tidak mengerti. Key menoleh lagi, ia berpikir sejenak lalu mulai menceritakan semuanya.

“Badanmu panas, kau tiba-tiba pingsan di depan kamar, dan terakhir Youngri. .” Key memberhentikan ucapannya sejenak menunggu reaksi dari Jinki. Jinki menegakkan tubuhnya, ia menatap Key secara intens menunggu jawaban selanjutnya.

“Well, dia yang merawatmu semalaman,” jawab Key dengan sedikit mengendikkan bahunya lalu kembali menatap TV.

Jinki masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Key. Ia memegangi kepalanya sendiri mencoba mengingat semuanya. Memang, semalaman keningnya terus terasa hangat dan sapu tangan itu selalu diganti. Tapi ia tidak tahu bahwa yang melakukan semua itu adalah Youngri, yang bahkan cukup dibencinya saat ini.

“Ya ! Bau apa ini ?!” pekik Key tiba-tiba lalu mendelik ke arah Jinki, “Hyung. Kau belum mandi ?” tanya Key penuh selidik.

Jinki menggaruk kepalanya seraya tersenyum kecil, “Ahni,”

“HYA ! Dasar jorok !” Key melemparkan bantal sofa pada Jinki dengan frontal. Ia terus saja melemparkan bantal sampai akhirnya Jinki menyerah dan berlari masuk ke kamarnya.

***

“Oso oseyo,”

Sapa Youngri ramah pada seorang pelanggan yang baru saja masuk ke café tempatnya bekerja. Ia kembali mengelap meja di dekat pintu lalu membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Sebelum kembali ke dalam, gadis itu mengambil napas dalam-dalam. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, mungkin karena terlalu kelelahan dan kurang tidur, kepalanya menjadi sedikit pusing.

“Neo gwenchana Youngri-ssi ?” tanya salah satu pelayan yang ada, melihat wajah Youngri yang semakin pucat.

“Gwenchana,” Youngri tersenyum tipis kemudian keluar dari dapur untuk kembali bekerja.

Gadis itu mengepalkan tangannya ke udara lalu sedikit berlari menuju sebuah meja yang baru saja diisi. Ia mengeluarkan buku catatan kecil untuk mencatat pesanan, dan mencatat setiap pesanan yang dilontarkan tamu itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Youngri membungkukkan badannya pada tamu terakhir lalu merubah papan nama ‘Open’ menjadi ‘Closed’. Ia melepas celemek yang dipakainya kemudian berganti baju dengan seragam. Ia bahkan belum sempat pulang ke rumah karena pulang terlalu sore tadi.

Dengan langkah gontai gadis itu pun menyusuri jalanan menuju halte bus terdekat. Selama menunggu bus, Youngri mencoba menyibukkan diri dengan memainkan games di ponselnya. Sesekali ia mendesah kesal karena kalah, lalu kembali bersemangat. Setelah melihat busnya datang, ia segera memasukkan ponselnya lalu masuk ke dalam bus.

Tempat duduk paling belakang adalah tempat favorit Youngri. Disana ia bisa melakukan apa saja tanpa perlu takut di pergoki banyak orang. Dan sekarang, ia menyandarkan kepalanya pada jendela kemudian memejamkan matanya. Perlahan tapi pasti, Youngri mulai memasuki alam bawah sadarnya dan tertidur. Ia bahkan tidak terbangun ketika halte bus di dekat rumah kakek Jung sudah dilewatinya.

***

Entah apa yang membuat Key terus melirik jam di ruang tengah malam itu. Biasanya Youngri sudah pulang, tapi sampai jam 10 malam pun gadis itu belum menampakkan batang hidungnya. Kali ini Key tidak bisa mengampuni Youngri, kalau saja gadis itu pulang lebih dari jam 10. Ia terus saja melipat tangan di depan dada seraya memandangi pintu rumah.

“Key hyung ? Kau belum tidur ?” tanya Taemin seraya menuruni anak tangga lalu duduk di sebelah Key.

“Gadis itu belum pulang. Dia pikir bisa pulang di jam berapa pun seenaknya ? Aku akan langsung menghukumnya kalau ia membuka pintu itu,” jawab Key, menunjuk pintu rumah dengan dagunya. Taemin terkekeh kemudian menyalakan TV. Tiba-tiba saja ia menjadi memikirkan Youngri karena ucapan Key.

“HA ! Itu dia,” Key berdiri dari sofa melihat pintu rumahnya terbuka. Tapi langkahnya kembali terhenti melihat yang masuk bukan Youngri, melainkan Jonghyun. Ia sendiri lupa kalau Jonghyun belum pulang.

“Darimana hyung ?” tanya Key seraya menaikkan sebelah alisnya. Laki-laki di depannya malah tersenyum lalu berlalu naik ke lantai 2.

“YA !” umpat Key kesal melihat Jonghyun malah berlari meninggalkannya. Ia kembali duduk di sofa dan menatap pintu rumah itu terus.

Tiba-tiba saja Jonghyun sudah berlari lagi dari arah lantai 2 sambil membawa ponselnya. Dengan sedikit terengah Jonghyun menghampiri Key dan menyerahkan ponselnya pada laki-laki itu. Key mengernyit lalu menerima ponsel itu dan menempelkan di telinganya.

“Oppa. . . Aku tersesat. . .”

Key terus mendengar penjelasan dari Youngri, dimana tepatnya gadis itu berada. Ia menatap Jonghyun seraya mengulang setiap perkataan dari Youngri. Taemin yang ada di sana pun terpaksa ikut mendengarkan semuanya. Mendengar penjelasan yang cukup sulit, karena Youngri menjelaskannya dengan sedikit terisak.

“Aku tahu dimana tempatnya,” seru Jinki yang kini sudah berdiri di dekat mereka.

***

Ponsel berwarna biru itu semakin digenggam erat oleh Youngri. Gadis itu duduk di pinggiran trotoar dan menatap jalanan dengan hampa. Air mata terus saja mengalir tanpa bisa dihentikan olehnya. Baterai ponselnya tiba-tiba saja habis setelah menelepon Jonghyun tadi. Salahnya juga karena malah bermain game sebelum naik bus tadi. Dan salahnya juga karena sudah tertidur di dalam bus dan malah terbangun di daerah yang tidak dikenalnya.

Jalanan tampak sepi, membuat Youngri sedikit merinding melihatnya. Lampu remang-remang hanya meneranginya dan jalanan yang sepi itu. Hari sudah semakin malam dan tidak ada orang lain selain dirinya disana saat itu. Youngri hanya bisa berdoa semoga salah satu oppanya cepat datang dan menjemputnya.

Suara klakson membuyarkan lamunan Youngri. Gadis itu berdiri dari posisi duduknya, menghadap mobil Porsche hitam yang berhenti di dekatnya. Ia melihat pengemudi mobil itu keluar, sontak membuat Youngri terlonjak kegirangan. Gadis itu segera berlari dan memeluk Jinki erat.

“Oppa. . hiks. . aku takut,” ujar Youngri sedikit terisak. Jinki memandang Youngri sedikit kikuk kemudian mendorongnya menjauh.

“Dwaesseo. Ayo naik,” Jinki kembali masuk ke dalam mobil dan tidak memedulikan Youngri yang berjalan dengan lesu. Tanpa menatap ke arah Youngri yang sudah duduk di sebelahnya, Jinki menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.

“Gomawo oppa,” gumam Youngri pelan seraya menghapus air mata di kedua pipinya.

Selama perjalanan pulang, Jinki masih bisa mendengar Youngri terisak. Ia memakai headset yang ada, mencoba tidak mendengar semuanya. Ingat, Jinki melakukan ini hanya karena merasa punya hutang budi pada gadis itu. Dan sekarang, ia tidak mau mendengar apapun dari Youngri. Karena merasa semua hutang budinya sudah lunas kali ini.

***

Matahari sudah menunjukkan sisi terangnya pagi itu. Tapi seorang gadis masih saja meringkuk di dalam selimutnya tanpa berniat bergerak sedikit pun. Hari minggu, dan ia akan menggunakan hari itu dengan baik. Setelah kemarin kurang tidur dan tersesat, tenaganya benar-benar habis. Kepalanya pusing, dan tubuhnya sangat sulit bergerak dari tempat tidur. Ia bukan seorang pemalas, hanya saja ia sangat ingin berisitirahat,

“Ya ! Bangun yeoja pemalas !” pekik Jonghyun seraya membuka pintu kamar Youngri. Langkah Jonghyun tiba-tiba saja berhenti melihat Youngri menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 kemudian mengendikkan bahu bingung. Baru saja ia akan mengajak gadis itu bercanda, tapi sepertinya tidak bisa.

Jonghyun pun berjalan ke arah meja makan dan ikut bergabung dengan yang lainnya untuk sarapan. Seperti hari-hari biasanya, ia selalu duduk diantara Jinki dan Key berhadapan dengan Minho dan Taemin. Keempatnya terlihat sibuk dengan makanan masing-masing dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kenapa jadi canggung seperti ini sih ?” tanya Jonghyun tidak mengerti, membuat semuanya yang tengah makan menatap ke arahnya, “Taemin. Biasanya kau yang paling cerewet, kenapa sekarang diam saja huh ?”

Taemin menunjuk dirinya sendiri lalu menelan bulat-bulat makanan yang sedang dikunyahnya, “Wae ? Hyung kangen suaraku yang merdu ini kan ? Baiklah, mulai sekarang aku akan terus bernyanyi di depan Jonghyun hyung,” jawab Taemin seraya terkekeh pelan melihat perubahan raut wajah Jonghyun yang seolah mengatakan –suaraku lebih bagus.

“Ah iya, Jinki hyung. Bagaimana tadi malam ?” tanya Jonghyun tiba-tiba membuat Jinki tersedak. Laki-laki itu segera meraih gelas yang ada dan meminumnya sampai habis.

“Bagaimana ? Hanya menjemputnya dan membawanya pulang, waeyo ?” tanya Jinki lagi, tanpa mau menatap Jonghyun. Entahlah, wajahnya memanas ketika ingat Youngri sudah memeluknya tadi malam.

“Aaah, araseo. Aku tidak akan tanya lebih jauh lagi. Kau tidak bisa menyembunyikan wajah merahmu itu hyung,” Jonghyun mengambil nasi gorengnya dengan acuh, tanpa menyadari tatapan tajam Jinki sudah mengarah padanya. Beberapa saat kemudian sebuah sendok makan pun mendarat dengan mulus di kepala Jonghyun.

“Jangan bicara sembarangan lagi atau piringku yang akan melayang,” ancam Jinki membuat Jonghyun mengunci mulutnya rapat-rapat. Minho, Key, dan Taemin yang melihat itu semua hanya bisa terkekeh.

“Atau jangan-jangan Youngri memelukmu karena terlalu senang ?” tebak Taemin, tepat dengan kejadian sebenarnya. Wajah Jinki semakin memerah dan berusaha menyembunyikannya dari yang lain.

“Oh oh. Lihat-lihat, wajah Jinki hyung semakin merah,” tambah Minho kemudian tertawa lagi bersama yang lainnya.

“YA ! Berhenti tertawa !” pekik Jinki kesal. Key memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa lalu sedikit memiringkan kepalanya, melihat Jinki yang duduk setelah Jonghyun.

“Aku tidak pernah lihat Jinki hyung semarah ini. Well, dia salah tingkah,” Key tertawa lagi dan kali ini Jinki melemparnya dengan serbet. Wajahnya semakin memerah karena tawaan dari yang lainnya dan memilih pergi dari sana. Tapi langkahnya terhenti ketika Youngri sudah ada di depannya.

“Annyeong oppa,” sapa Youngri membuat Jinki kembali salah tingkah. Ia melihat yang lainnya semakin puas tertawa. Dengan cepat ia menghindar dari sana dan menaiki tangga menuju kamarnya.

“AWAS HYUNG !” seru Taemin. Jinki menoleh ke belakang dengan asal karena seruan Taemin.

BUGH

“Awww,” Jinki meringis ketika kakinya terpeleset dan membuatnya terjatuh membentur tangga. Keningnya memerah karena benturan yang cukup keras itu lalu mengumpat pelan. Kenapa dalam keadaan seperti ini saja sifat ‘sangtae’ nya bisa keluar. Ia menoleh ke belakang dan melihat keempat adik laki-lakinya sudah tertawa terbahak-bahak. Begitu pun dengan Youngri yang menutup mulutnya sambil terkekeh kecil. Jinki bangkit dan berlari masuk ke dalam kamarnya.

***

Sudah hampir dua minggu semenjak Youngri tinggal bersama kelima cucu kakek Jung itu. Perlahan tapi pasti, kelimanya sudah mulai menerima Youngri walau tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Ketika mereka memberikan sedikit perhatian, tapi mencoba mengelaknya karena terlalu gengsi. Atau ketika sarapan bersama, Jinki yang selalu menjadi bahan tertawaan.

Youngri merasa hari itu adalah hari terbaiknya karena tiba-tiba saja sekolahnya dipulangkan. Matahari bahkan belum setengahnya menaiki bumi, tapi bel pulang sekolah sudah membuyarkan kebosanan siswa. Youngri pun berjalan bersama Yoon Mi keluar dari kelas. Mereka berencana untuk pergi bersama, menghabiskan seharian itu sebelum Youngri kembali harus bekerja.

Sebuah mall merupakan tempat tujuan akhir kedua sahabat itu. Mereka memasuki mall itu dengan semangat dan memasuki setiap toko baju yang ada. Tiba-tiba saja Youngri menghentikkan langkahnya ketika melihat Jonghyun ada di sebuah toko pernak-pernik. Tapi laki-laki itu tidak sendirian, ia bersama seorang wanita dan terlihat mesra.

“Ya. Waeyo ?” tanya Yoon Mi seraya menyenggol pelan perut Youngri. Gadis itu segera tersadar lalu menatap Yoon Mi yang sudah menatapnya heran.

“Ah-ahni, kajja,” Youngri menarik tangan Yoon Mi menjauh dari sana dan masuk ke sebuah restoran. Keduanya duduk di dekat jendela café lalu memesan makanan yang sangat bisa membuat perut Youngri penuh.

“Youngri ?” tanya seorang laki-laki sontak membuat Youngri menoleh ke arah suara itu. Ia melihat Jonghyun tengah menatapnya.

“Oh, Jonghyun oppa,” gumam Youngri pelan lalu memandang wanita yang tengah dirangkul Jonghyun.

“Ah. Jiyeon ini Han Youngri, dan Youngri ini Park Jiyeon,” ujar Jonghyun memperkenalkan keduanya. Youngri berdiri membungkukkan badannya sedikit ke arah gadis itu.

“Oppa, kita jadi makan disini kan ?” tanya gadis bernama Jiyeon itu sedikit manja. Youngri hampir sama muntah melihat sikapnya yang berlebihan itu.

“Keurae,” jawab Jonghyun lalu meninggalkan Youngri begitu saja. Keduanya duduk di salah satu meja, di dalam restoran yang sama, tapi sangat jauh dengan meja Youngri.

“Hei, kau cemburu melihatnya ?” tanya Yoon Mi tiba-tiba. Youngri kembali menatap Yoon Mi kemudian terkekeh pelan.

“Omo~, aku cemburu padanya ? Itu tidak akan terjadi, dia sudah kuanggap oppaku sendiri. Kami bahkan –,” Youngri memutus ucapannya ketika sadar bahwa rahasianya akan terbongkar kalau saja ia melanjutkannya. Ia melihat Yoon Mi tengah menaikkan sebelah alisnya heran menunggu kelanjutan ucapannya.

“Kami bahkan sudah seperti kakak-adik sungguhan. Hehe,” Youngri tersenyum kikuk lalu menyeruput jus jeruknya yang baru saja datang. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinganya kemudian melihat ke arah Jonghyun lagi. Mungkin benar, tapi belum sampai tahap cemburu. Hanya saja perutnya tiba-tiba sakit melihat Jonghyun bersama wanita itu.

***

Minho mengambil Koran paginya di depan rumah lalu kembali masuk ke dalam, tanpa melepaskan pandangannya dari headline Koran itu. Tak seperti biasanya, kali ini perusahaan kakek Jung, atau lebih tepat disebut sebagai kakeknya menghiasi headline di depan Koran itu. Dengan tulisan yang sangat besar tertulis disana bahwa ‘Perusahaan Jung sudah menguasai pasar dunia’. Minho melempar Koran itu ke atas meja ruang TV dengan malas. Kenapa kakek-kakek menyebalkan itu selalu saja sukses.

“Minho-ya, aku keluar sebentar. Jangan buat yang macam-macam,” seru Key seraya keluar dari rumah dan hanya dijawab gumaman malas dari Minho. Lagi-lagi harus sendirian di rumah. Jinki sibuk mengurus kelulusan kuliahnya, Taemin sibuk mengurus masuk ke Universitas, dan Jonghyun. Laki-laki itu pasti tengah jalan bersama pacarnya, yang entah siapa sekarang ini.

“Aaah, aku bisa bebas tidur seharian ini !” teriak Minho seraya meregangkan tangannya lebar-lebar. Ia bangkit dari sofa ruang TV itu dan beranjak menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti bahkan sebelum naik tangga. Ia melirik ke arah sebuah pintu di pojok ruangan lantai satu itu lalu menggumam pelan.

“Kenapa aku penasaran dengan isi kamar gadis itu sih ? Aaah ! Andwae !” Minho memasang kembali wajah karismatik-nya kemudian berlari masuk ke kamarnya.

Tapi sungguh, otak cool-nya itu tidak bisa bekerja dengan baik. Ia kembali menuruni anak tangga dengan perlahan dan berjalan masuk ke kamar gadis itu. Ia duduk di atas tempat tidur Youngri dan memandang ke seluruh ruangan itu.

“Hanya ini ? Hhh, kenapa juga aku masuk ke kamar ini,” gumam Minho pelan lalu bangkit dari tempat tidur Youngri. Ia mulai melangkah keluar, tapi langkahnya itu terhenti ketika melihat sebuah foto yang ada di atas meja belajar. Ia kembali mundur, menghampiri meja belajar itu dan meraih sebuah foto yang terbingkai dengan rapi.

“Aku baru tahu kalau Youngri punya adik. Han Hyeri ?” gumam Minho pelan, melihat sebuah tulisan hangul di belakang bingkai foto itu. Ia mengendikkan bahu acuh lalu menaruh foto itu kembali ke tempatnya. Baru saja Minho berbalik, ia tiba-tiba mundur lagi karena melihat seseorang tengah menatapanya curiga.

“Apa yang kau lakukan disini ?”

-to be continued-

hayoo, siapa yang mergokin minho . kekke

please RCL nya buat ningkatin kualitas menulis xD

©Ima Shineeworld @ FFi

One thought on “[FanFict] Seizure (2nd Part)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s