[FanFict] Seizure (1st Part)

Title         : Seizure

Author   : Ima Shineeworld & Rezky

Casts        : SHINee members, Han Youngri

Length   : Series

Genre      : Family, Romance, Angst (?)

Rating     : PG-15

[Seizure]

Sebuah ruangan tampak bercat dinding putih, dan terdapat beberapa rak buku berjejer dengan rapi di sudut ruangan. Seorang laki-laki tengah duduk di sebuah meja di dalam ruangan itu, berhadapan dengan seorang laki-laki lainnya. Keduanya tampak serius membicarakan sesuatu, dan sang pemilik perusahaan itu terlihat sedikit keheranan.

“Bagaimana bisa ? Perusahaan dan harta melimpah yang aku punya hanya milikku seorang, bukan mereka, para berandalan itu,”

“Sajangnim, aku tidak tahu. Pemilik perusahaan sebelum anda, menuliskan hal itu di surat terakhirnya ini. Bahwa harta, rumah, dan perusahaan milik kelima cucu laki-laki anda,”

“Byeonhosa-nim. Tolong di cek lagi, kakakku tidak mungkin menuliskan bahwa semua ini milik mereka. Aku yang lebih berhak, dan menyerahkan semuanya kepada mereka semua,”

“Anda harus sajangnim,”

“Tidak, sebelum aku mati. Aku tidak akan memberitahu dan menyerahkan hal ini pada kelima berandalan itu. Selama aku masih hidup, hartaku tidak akan jatuh kemana-mana,”

“Tapi, sajangnim. Ini hak mereka, milik mereka, dan anda tidak berhak mencegahnya karena wasiat ini sudah terbuka,”

“Jika mereka menolak, apa harta dan perusahaan ini tetap milik mereka ?”

“Tentu saja, ini hak mereka. Jadi mereka berhak memutuskan apa yang akan dilakukan pada harta dan perusahaan ini,”

“Mereka belum cukup umur untuk memegang perusahaan sebesar ini. Aku akan memberi tes pada mereka semua, apa ada syarat lainnya untuk kelima cucuku itu agar hartaku tidak jatuh ke tangan mereka ?”

“Hanya satu, kalau kelima cucu anda itu saling memutuskan tali persaudaraan mereka. Dan melepas nama besar Jung dari kehidupan mereka,”

Laki-laki yang sudah berambut putih itu mengangguk, ia tersenyum kecil menyadari sesuatu. Seringkaian rencana tiba-tiba berkelebat di otaknya.

***

Rumah besar yang terletak di pinggiran kota Seoul itu terlihat lebih sepi dari biasanya. Kelima laki-laki penghuni rumah itu tengah sibuk pada kegiatannya masing-masing di dalam kamar. TV yang menyala di tengah-tengah rumah besar itu pun, tidak menarik perhatian sama sekali.

“Ya ! Siapa yang mengambil susu pisangku !” teriak salah satu laki-laki yang paling muda, ketika membuka kulkas dan menemukan susu pisang kesukaannya menghilang.

Teriakan Taemin berhasil membuat keempat kakaknya keluar dari kamar dan segera menghampiri laki-laki itu yang masih berdiri di dekat kulkas. Taemin menatap keempat hyungnya curiga, dan melihat salah satunya tertawa kecil.

“Jonghyun hyung. Kau yang meminum susu pisangku kan ?” tanya Taemin penuh selidik pada laki-laki yang lebih pendek dari semuanya. Sontak keempat pasang mata tertuju pada laki-laki itu.

“Apa ? Aku tidak meminum susu pisangmu Taemin-ah,” jawab Jonghyun sambil menahan senyumnya. Taemin mendekat ke arah Jonghyun dan memicing ke arahnya.

“Jonghyun hyung ?” desak Taemin.

“Baiklah, aku mengalah. Aku meminum semua susu pisangmu, ara ? Aku tidak pernah menemukan minuman seperti itu di New York, jadi maklum kalau aku menghabisi semuanya,” jawab Jonghyun pasrah.

“Kenapa harus membahas hal seperti ini ? Kau hanya tinggal membeli lagi kan Taemin ?” ujar Minho menengahi situasi.

“Tidak, tidak. Jonghyun hyung yang harus membeli semuanya untuk Taemin,” bela Key pada anak kesayangannya itu.

“Ne, aku setuju dengan Key hyung,” tambah Taemin. Sedangkan Jinki, hanya bisa diam dan membiarkan semua adiknya meributkan hal tidak penting.

“Bagaimana kalau Jinki hyung yang membeli semuanya ?” usul Jonghyun.

PLETAK

Sebuah pukulan mendarat dengan mulus di puncak kepala Jonghyun. Jinki bersiap melayangkan pukulannya lagi, tapi Minho mulai mengambil alih kekuasaan (?).

“Jonghyun hyung, sebaiknya kau yang pergi,” ujar Minho sama saja seperti yang lainnya.

“Aku padamu Minho,” tambah Key.

Jonghyun hanya mendesah napas panjang. Ia segera berbalik, mengambil blazer yang ada dekat pintu kemudian keluar tanpa sadar keempat saudaranya yang tengah tersenyum puas.

“Ia harus mendapat pelajaran sedikit hyung. Dia kan baru pulang dari Amerika, jadi harus tahu daerah sini bukan ?” tanya Taemin dan dijawab anggukan oleh semuanya.

***

Dengan langkah malas Jonghyun melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah. Lagi pula ia hanya minum satu botol susu pisang yang ada di kulkas, ia malah disuruh membeli lagi. Tapi ketika Jonghyun berpikir lagi, ia bisa berjalan-jalan di sekitar rumah. Dan satu hal lagi, ia bisa melihat siapa saja wanita yang tinggal di dekat rumahnya.

Jonghyun melangkah masuk ke sebuah supermarket yang berjarak cukup jauh dari rumahnya. Ia mengambil keranjang, dan segera beralih ke tempat makanan. Ia mengambil beberapa pack susu pisang untuk persedian Taemin dan dirinya juga. Beberapa menit kemudian keranjang yang dibawanya sudah penuh dengan makanan dan minuman. Ia segera membawanya ke meja kasir dan disapa dengan ramah oleh wanita penjaga kasir itu.

“Annyeonghaseyo,” sapa gadis itu sopan lalu mulai mengeluarkan makanan dari keranjang Jonghyun.

Untuk beberapa saat Jonghyun hanya diam seraya memainkan ponselnya. Ia melihat chat dari teman-teman lamanya di Amerika, dan itu membuatnya ingin kembali ke sana. Mengingat bahwa pacarnya masih belum resmi diputuskan olehnya.

“Permisi. Semuanya jadi 32.000 won,” kata penjaga kasir itu membuyarkan kegiatan Jonghyun. Ia merogoh saku celananya dan menyerahkan beberapa lembar puluhan ribu uang won pada penjaga kasir itu.

“Ini kembaliannya tuan,” ujarnya dan diterima oleh Jonghyun tanpa melepaskan pandangannya dari ponsel. Jonghyun membawa tas plastic belanjaannya, sebelum berjalan ia kembali berbalik dan melihat name tag yang dipakai penjaga kasir itu.

“Cheonmaneyo, Youngri-ssi,” gumam Jonghyun seraya tersenyum pada gadis itu. Ia berjalan keluar dari supermarket dan kembali pada kegiatan chattingnya itu.

***

Langkah Jonghyun terhenti di depan pagar rumahnya. Ia melihat mobil kakek Jung sudah terparkir di dalam halaman rumah dan dengan cepat ia berlari memasuki pintu rumah yang saat itu terbuka. Di ruang tamu sudah ada Jinki, Key, Minho, dan Taemin yang terlihat serius berhadapan dengan kakek Jung. Tatapan keempatnya langsung tertuju pada Jonghyun yang baru saja masuk.

“Kim Jonghyun,” sahut kakek Jung seraya bangkit dari kursinya dan memeluk Jonghyun singkat. Jonghyun tidak merespon dan membiarkan kakek Jung memperlakukannya seperti itu.

“Ada apa kau kesini ?” tanya Jonghyun dingin, tidak suka.

“Tentu saja menengok kelima cucuku. Kalian tidak senang ?” tanya kakek Jung, dijawab sorakan iya dalam hati kelima laki-laki muda itu.

“Ya, kami tidak senang,” jawab Key, membuat semuanya menoleh ke arahnya sekarang.

“Aaah, begitu. Padahal aku mau menawarkan sesuatu,” kakek Jung kembali duduk di sofa, dengan Jonghyun yang tetap berdiri di dekat pintu.

“Kami tidak butuh tawaranmu kakek Jung,” jawab Taemin dingin dan tidak terlihat childish seperti biasanya.

“Tidak, tidak. Dengarkan aku dulu. Apa kalian tidak berniat meneruskan perusahaanku ?” tanya kakek Jung, sementara kelima laki-laki itu hanya diam.

“Apa kalian tidak berniat untuk meneruskan perusahaanku ?” ulang kakek Jung dan melihat perubahan ekspresi kelima cucunya.

“Kalau itu tidak sebuah keharusan, aku  sangat tidak mau,” jawab Jinki, sebagai yang tertua dan mencoba menengahi situasi.

“Jadi kalian menolaknya ?” tanya kakek Jung sedikit khawatir. Jujur saja, ia tidak mau perusahaan dan harta yang pernah menjadi miliknya itu jatuh ke tangan orang lain.

“Tidak juga. Kami hanya butuh proses, mungkin,” jawab Minho sebijak dan sesopan mungkin.

“Tidak ! Aku tidak mau,” ralat Taemin.

“Kalian harus !,” tegas kakek jung, membuat semuanya tersentak kaget.

“Biarkan kami berpikir dulu,” sergah Jonghyun sebelum ketegangan yang ada semakin memuncak.

Kakek jung tersenyum puas akan keputusan Jonghyun. Ia bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Jonghyun sebelum keluar dari rumah itu. Dengan cepat kakek Jung memasuki mobil. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang kepercayaannya.

“Rencana B,”

***

Keheningan langsung menyeruak ketika kakek Jung keluar dari rumah kelima laki-laki itu. Jinki dan Minho terlihat tenang, tapi tidak dengan Key, Taemin, dan juga Jonghyun. Ketiganya mendengus bersamaan lalu menyandarkan tubuh di sofa.

“Kenapa laki-laki tua itu selalu memaksa sih ?” gerutu Key dan disusul anggukan oleh Taemin.

“Ne. Dan Jonghyun hyung, kenapa kau bilang kita akan memikirkannya ? Aku sudah jelas menolak permintaan itu,” tambah Taemin masih berapi-api.

“Aku terpaksa. Kecuali kalau kalian masih mau melihatnya ada disini dan memaksa. Setidaknya dia akan memberikan kita waktu,” balas Jonghyun lalu mengeluarkan susu pisang yang tadi di belinya. Sontak Taemin merebut susu pisang yang ada di tangan Jonghyun dan meminumnya.

“Permintaan maaf darimu hyung,” ujar Taemin terkekeh setelah mendapat tatapan gemas dari Jonghyun. Suasana tegang pun lama-lama mencair karena pertengkaran kecil dari Jonghyun dan Taemin.

***

Berbeda dengan sebuah apartemen kecil di pinggiran kota Seoul juga. Tempat seorang perempuan dan adiknya tinggal untuk sementara. Setiap harinya mereka harus berpindah tempat tinggal untuk menghindar dari kejaran para penagih hutang yang dulu mengejar ayahnya. Semenjak ayahnya melarikan diri dan ibunya meninggal, para penagih hutang itu kini mengejar-ngejar dirinya dan adiknya. Dan ia harus berpindah tempat tinggal setiap harinya agar tidak usah membayar hutang itu.

“Ya ! Hyeri-ah. Palli-wa, nanti orang-orang itu datang,” seru seorang gadis seraya menatap adiknya yang masih terlihat sibuk membereskan baju.

“Ne eonni. Chamkanman,” balas adiknya yang bernama hyeri itu.

Keduanya segera beranjak keluar dari apartemen yang saat itu mereka tempati. Namun langkah kedua kakak beradik itu terhenti saat melihat sebuah mobil mewah memberhentikan mobilnya di depan mereka.

“Youngri eonni. Mereka siapa ?” tanya Hyeri polos seraya menatap beberapa laki-laki berbaju hitam keluar dari dalam mobil itu dan mengedarkan pandangannya.

“Ah tidak,” gumam Youngri pelan dan segera menarik tangan adiknya berlari. Hyeri yang berbeda jauh tingginya dengan Youngri itu pun segera menyamai langkahnya.

“Ya ! Agasshi-ya !” teriak salah satu orang berbaju hitam tadi, berusaha mengejar gadis bernama Youngri itu.

“Eonni, aku capek,” keluh hyeri, setelah beberapa lama berlari menghindari para penagih hutang itu.

“Ah, nado. Sebentar lagi hyeri-ah,” Youngri terus menarik tangan adiknya berlari melewati setiap belokan gang kecil. Mereka segera bersembunyi di balik salah satu di belakang tempat sampah, untuk menarik napas sejenak.

“H-h-hh, eonni. Mereka siapa ? Kenapa kita menghindar ?” tanya hyeri sedikit terengah. Youngri menarik napas panjang, baru saja ia akan menjawab pertanyaan hyeri tapi segera terpotong karena beberapa penagih hutang yang mengejarnya tadi kini sudah berdiri di depannya.

“Oh, tidak. Hmmph –,”

***

Tidak ada yang berbeda dari hari-hari kelima orang cucu seorang kakek Jung itu. Kecuali Taemin yang mengurus masuk Universitas dan Jonghyun yang harus mengurus kepindahan kuliahnya. Dan Key yang berbelanja kebutuhan rumah. Bukan hal yang aneh kalau Key yang berbelanja kebutuhan rumah, karena memang ia yang bisa memasak dan tahu bahan-bahan apa saja yang harus dibeli. Kalau Jonghyun atau mungkin Jinki yang berbelanja, mereka malah lebih banyak membeli snack daripada bahan-bahan baku. -__-

Jinki terlihat serius memandangi laptopnya, sedangkan Minho tampak sibuk dengan stick playstation dan mimik serius memainkan permainan bola. Keseriusan keduanya buyar ketika mendengar suara bel. Namun tidak ada yang bergeming dari posisinya dan tetap mengerjakan pekerjaannya masing-masing.

“Hyung. Tolong bukakan pintunya,” seru Minho tanpa mau melepaskan pandangannya dari beberapa orang yang dimainkannya tengah berebut bola.

“Kau saja” balas Jinki acuh.

Frekuensi bel di rumah itu pun semakin cepat. Minho mulai terganggu dan akhirnya meninggalkan game yang sedang dimainkannya. Dengan sedikit menggerutu ia pun membuka pintu.

“Ada apa ?” tanya Minho dingin pada seorang perempuan yang ada di hadapannya.

“Apa benar ini rumah kelima cucu kakek Jung ?” tanya gadis itu.

“Keurae. Aku salah satu cucunya, ada apa memangnya ?” tanya Minho lagi tetap bersikap dingin dan terkesan tidak suka.

“Ah, jinjja ? Aku Han Youngri, dan mulai hari ini akan tinggal disini,” jawab Youngri dan Minho bisa mendengar suara barang pecah dari dalam rumah. Laki-laki itu menoleh ke belakang dan melihat Jinki yang tengah memandang kosong ke arahnya dengan posisi tangan seperti memegang gelas.

“Seorang wanita ? Tinggal bersama kita ?” tanyanya heran. Minho kembali menatap gadis di depannya lalu mendecak meremehkan.

“Maaf miss. Tapi kita tidak membuka penginapan untuk wanita. Jadi kau tidak bisa tinggal disini,” balas Minho acuh kemudian hendak menutup pintu, tapi terhenti ketika tangan gadis itu menahannya dengan kuat.

“Tapi aku anak dari temannya kakek Jung. Dan ia menyuruhku tinggal disini sementara,” tambah Youngri seraya tersenyum lebar. Tapi sayangnya Minho tidak menyukai senyuman itu dan lebih memilih untuk menutup pintu rumahnya.

“Ya !” pekik Youngri, dan Minho pura-pura tidak mendengarnya.

“Bagus sekali. Jadi sekarang kakek Jung mengirim mata-mata ke sini ? Tch,” decak Minho kesal lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Jinki pun ikut duduk di sebelah Minho, setelah membereskan pecahan gelas itu tentunya.

“Jadi dia mata-mata yang dikirim kakek Jung ?”

“Aku rasa iya hyung,”

Baru beberapa menit mereka duduk di sofa, ketika mendengar suara bel lagi. Kali ini Jinki yang bergerak untuk membuka pintu.

“Annyeong Jinki oppa,” sapa Youngri ramah. Jinki menghela napas panjang, baru saja ia akan mengusir gadis itu tapi segera terhenti ketika ia menerobos masuk ke dalam rumah.

“YA !” pekik Jinki kesal melihat gadis itu masuk ke daerah teritorialnya.

“Mian, tapi hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa tinggal disini,” ujar Youngri seraya tersenyum tanpa dosa.

“Tunggu,” sergah Minho lalu berdiri di hadapan gadis itu.

“Kau tahu nama kami semua huh ?” tanyanya. Youngri hanya mengangguk lemah dan harus mendongak untuk menatap Minho.

“Keurae, kau Minho oppa kan ?” tanya Youngri memastikan. Laki-laki itu sedikit menyeringai kemudian menatap Youngri dari atas sampai bawah.

Minho meminggirkan badannya, membiarkan gadis itu lewat memasuki sebuah kamar di pojok ruangan lantai 1. Ia menoleh pada Jinki yang hanya menatapnya seolah bertanya ‘Apa kau gila ?’

“Kita lihat sekuat apa ia tinggal disini bersama kita,”

***

Kelima laki-laki itu kini tengah berkumpul di ruang TV dan merenungkan apa yang baru dikatakan oleh kakek Jung di telepon. Apa yang diduga Minho ternyata benar, gadis itu adalah mata-mata yang dikirim kakek Jung untuk mengawasi kegiatan mereka sehari-hari. Dan mereka semua tidak menyukai itu, karena berarti kehidupan mereka akan tercampuri orang lain. Ditambah lagi seorang mata-mata itu adalah seorang wanita, pasti akan ada yang berbeda.

“Well, gadis itu sudah masuk ke kamarnya di rumah ini ?” tanya Jonghyun memecahkan keheningan malam itu.

“Yeah, dan ia menerobosku tadi siang. Memaksa masuk walaupun Minho sudah menghalangi jalannya,” jawab Jinki seraya menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Taemin pun ikut menghela napasnya, ia benar-benar tidak suka dengan cara kakeknya yang seperti itu. Yang selalu memaksakan kehendak untuk meneruskan perusahaan walaupun jelas-jelas mereka semua menolaknya.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang,” tanya Key akhirnya mencoba bersikap dewasa dan menengahi situasi.

“Kita biarkan orang suruhan kakek Jung itu tinggal disini. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang, kita atau kakek Jung,” usul Minho sedikit memelankan suaranya.

“Sepertinya seru hyung,” sahut Taemin.

“Baiklah, siapa yang setuju ?” tanya Minho kembali mengeraskan suaranya dan menatap keempat saudaranya penuh harap. Senyum Minho mengembang ketika melihat semuanya mengangkat tangan.

“Oppa, apa ada makanan ?” suara seorang wanita membuyarkan kegiatan rapat itu. Kelimanya menoleh ke arah gadis itu. Tatapan skeptis pun mengerubungi Youngri ketika para laki-laki itu melihatnya memakai piyama, memeluk boneka, dan rambut dikuncir dua tengah menatap ke arah mereka.

“Oppa, apa ada makanan ?” ulang Youngri lagi seraya memegangi perutnya yang dari tadi selalu mengeluarkan bunyi-bunyi aneh.

Tidak ada yang menjawab. Kelima laki-laki itu malah berjalan meninggalkan gadis itu sendirian, masuk ke kamarnya masing-masing. Youngri menurunkan boneka yang dipeluknya dan melihat ke lantai 2, dimana beberapa pintu tertutup dengan cukup keras. Ia menghela napas kemudian berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas untuk mencari makanan.

“Jangan ambil susu pisangku !” teriak Taemin dari dalam kamarnya membuat tangan Youngri terhenti di udara yang sebentar lagi meraih susu pisang itu. Ia mengalihkan tangannya pada makanan yang lain sebelum satu teriakan menghentikan tangannya lagi.

“Jangan menyentuh pie yang ada di kulkas !” teriak Key.

Dengan kesal Youngri menutup pintu kulkas itu dan membuka lemari makanan. Akhirnya ia menemukan satu bungkus ramen yang tersisa, setelah memastikan bahwa tidak ada teriakan lagi ia pun mulai mengisi panci dengan air dan mulai memasak ramen itu.

***

Youngri duduk di tepian jendela kamarnya seraya memeluk lutut. Untung saja jendelanya cukup besar dan memuat hampir seluruh tubuhnya. Ia menatap ke arah kolam renang yang tepat ada di depan matanya, merenungkan semua kejadian yang terjadi. Ia seperti wanita murahan sekarang. Kalau saja ada jalan lain untuk melunasi hutangnya pada kakek Jung atau menghindari adiknya dari semua ancaman kakek Jung.

Malah pada awalnya ia harus menandatangani surat kontrak dengan kakek Jung, dan di dalam kontrak itu tertulis bahwa ia harus menikahi kelima cucunya. Beruntung ia masih bisa menawar hal itu dan hanya harus membuat kelima laki-laki itu menyukainya. Mungkin terdengar gila karena ia mau saja melakukan hal itu. Yang jelas ia sekarang tengah membantu kakek Jung melaksanakan ‘rencana besar’ nya.

Lamunan Youngri buyar mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat ia turun dari jendela dan meraih ponselnya yang ada di atas meja belajar. Senyuman pun mengembang ketika melihat nama adiknya yang tertera disana.

“Yoboseyeo hyeri-ah,” jawab Youngri senang seraya menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.

‘Yoboseyeo eonni. Ottokhae ? Eonni baik-baik saja kan ?’ pertanyaan adiknya itu sontak membuat Youngri tersenyum.

“Baik. Kau sendiri ? Apa kakek Jung memperlakukanmu dengan baik ?” tanya Youngri lagi sedikit khawatir.

‘Ne~, dia baru saja mengajakku ke Lotteworld. Aku sedang istirahat sekarang,’ jawab hyeri semangat dan kembali membuat gadis itu tersenyum.

“Baguslah. Kalau ada apa-apa kau harus meneleponku, arachi ?”

‘Ne eonni. Hoaahm, aku ngantuk. Semoga eonni tidur dengan nyenyak,’

“Ne, annyeong,” Youngri menutup slide ponselnya dan menatapnya beberapa saat. Ia memeluk guling di sebelahnya kemudian mencoba tidur. Walau bagaimanapun ia masih harus sekolah dan kerja part time besok.

***

Suasana sarapan terasa tegang esoknya. Youngri duduk di tengah-tengah mereka dan ikut memakan sarapan yang dibuat Key. Tidak ada yang berbicara sejak sarapan dimulai. Kadang Taemin melirik ke arah gadis itu, tapi segera memalingkan wajahnya lagi.

“Aku sudah selesai. Minho-ya, kau akan berangkat bersamaku kan ?” tanya Key seraya menaruh sumpitnya ke atas meja dan mulai berdiri. Minho mengangguk singkat kemudian meninggalkan makanannya yang masih tersisa.

“Oppa, sarapanmu belum habis,” sergah Youngri sebelum Minho melangkahkan kakinya dari meja makan.

“Apa urusanmu huh ? Ah iya, satu hal lagi. Jangan panggil aku dengan sebutan oppa, karena aku bukan oppamu,” balas Minho dingin kemudian menarik tangan Key keluar dari rumah.

Sementara itu Youngri memandang tiga orang laki-laki yang masih tersisa dan semuanya tampak tidak peduli. Tak lama kemudian Taemin bangkit diikuti Jinki dan Jonghyun. Ketiganya tidak menghabiskan sarapan mereka dan meninggalkan keadaan meja makan yang berantakan.

“Baiklah. Ujian di hari pertama, membereskan meja makan. Setelah itu baru pergi sekolah, fighting Youngri,” gumamnya menyemangati diri sendiri. Ia menumpuk piring-piring kotor itu lalu mencucinya dengan sedikit tergesa mengingat jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang 15.

Baru saja ia berbalik untuk mengambil tas dan berangkat sekolah. Pandangannya terhenti di sofa ruang tamu, dimana beberapa snack tergeletak dan terlihat berantakan. Youngri meletakkan kembali tasnya dan membereskan snack-snack itu ke tempatnya semula.

“Huaa ! Jam 7 kurang 5 menit !” pekiknya. Ia segera meraih tasnya dan berlari keluar rumah. Dengan cepat ia berlari menuju halte bus dan naik bus apa saja yang ada disana. Ia berdoa dalam hati semoga tidak harus berurusan dengan guru BK lagi.

Tepat jam tujuh bus yang di tumpanginya tiba-tiba berhenti. Ia melihat keluar dan melihat sebuah kecelakaan kecil di tengah jalan. Ia pun membuka pintu bus dengan paksa dan berlari menuju sekolahnya, walaupun masih sangat jauh.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang ketika rumah itu sudah tidak sepi lagi. Jonghyun dan Taemin tampak sudah asyik dengan kegiatannya masing-masing. Mereka tidak mempedulikan ketika Youngri sudah pulang dari sekolahnya.

Jonghyun sedikit melirik ketika Youngri tengah memakai sepatunya. Ia sebenarnya ingat pernah bertemu gadis itu di supermarket. Tapi setelah tahu gadis itu bersekongkol dengan kakek Jung, rasa suka itu berubah menjadi benci. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa seorang gadis mau menerima tawaran untuk tinggal bersama 5 orang laki-laki yang bahkan belum dikenalnya. Untuk saat ini ia hanya bisa menilai Youngri sebagai wanita murahan. Atau mungkin, ia harus memberi pelajaran padanya nanti.

“Hyung,” panggilan Taemin sontak membuat Jonghyun tersadar dari lamunannya. Ia mengalihkan tatapannya dari Youngri dan memandang Taemin yang sudah berdiri di depannya.

“Kau memandang gadis itu ?” tanya Taemin dengan wajah polosnya. Jonghyun menggeleng lalu kembali melihat TV plasma besar di depannya. Taemin mengendikkan bahu acuh kemudian mengambil tempat di sebelah hyungnya.

Tiba-tiba saja Taemin merebut remote yang ada di genggaman Jonghyun dan memindahkannya ke channel lain. Jonghyun mengangkat sebelah alisnya heran ketika melihat tontonan Taemin. Mungkin karena ia baru datang dari New York, ia baru tahu Taemin menyukai kartun. Tom & Jerry ? -___-

“Oppa, aku berangkat kerja dulu,” seru Youngri dari depan pintu. Jonghyun dan Taemin tidak merespon sama sekali, mereka malah terlihat asyik menonton TV. Youngri menghela napas lagi kemudian berlalu meninggalkan rumah itu.

Jonghyun menghentikan tawa ‘palsunya’ lalu melirik ke arah pintu dimana Youngri baru saja meninggalkannya. Tatapannya berubah ke arah Taemin. Ia menegakkan posisi duduknya lalu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

“Apa hyung rasa kita keterlaluan ?” tanya Taemin tepat seperti apa yang akan ditanyakan Jonghyun.

“Ne. Minho terlalu keterlaluan sebenarnya. Dan aku rasa Youngri perempuan yang baik, cantik, sexy, dan – YA !” Jonghyun memegangi kepalanya yang baru saja di pukul dengan remote oleh Taemin. Laki-laki itu segera merebut remote dari tangan Taemin, sebelum terjadi sesuatu lagi pada kepalanya.

“Dia itu baik sebenarnya. Hanya saja, karena ia berhubungan dengan kakek Jung, jadi aku tidak menyukainya,”  balas Taemin. Jonghyun mengangguk mengerti, lalu tiba-tiba saja menepuk keningnya sendiri.

“Oh damn. Aku lupa ada janji dengan Ji Yeon hari ini,” gumam Jonghyun kemudian berlari masuk ke kamarnya. Taemin memandang hyungnya itu dengan heran. Baru beberapa hari di Korea sudah dapat wanita baru, sepertinya ia harus belajar pada Jonghyun cara cepat mendapatkan pacar.

***

Langkah Youngri terhenti di depan pintu rumah kelima cucu kakek Jung itu. Ia menghela napas panjang sebelum memasuki rumah yang bahkan ia anggap sebagai kandang singa sekarang. Bahkan hawa dingin dari kelima laki-laki itu sudah mulai merasuk ke dalam hatinya. Hatinya seperti tertusuk ketika melihat tatapan tajam dari kelimanya.

“Oke, fighting Youngri !” gumamnya menyemangati diri sendiri.

Gadis itu melangkah perlahan memasuki rumah itu. Dan ia hanya menemukan ruang tamu dalam keadaan gelap. Ia menyalakan lampu jam tangan miliknya, melihat jarum pendeknya sudah menunjuk pukul 11 malam lebih. Perlahan ia pun melepaskan sepatunya, dan berjalan berjinjit untuk masuk ke dalam kamarnya. Langkahnya pun terhenti ketika tiba-tiba saja lampu ruang tamu menyala. Ia mengumpat pelan lalu berbalik menghadap orang yang baru saja memergokinya.

“Darimana kau ?” tanya laki-laki itu seraya melipat tangannya di depan dada.

“Mianhae Key oppa. Restoran tempat aku bekerja baru tutup, jadi aku baru bisa pulang,” jawab Youngri tanpa mau menatap laki-laki bermata sipit di depannya.

“Ingat miss, kau tinggal di rumah kami sekarang. Jadi ada aturan bahwa penghuni rumah ini tidak boleh pulang lebih dari jam 10 malam. Dan kau sudah menjadi penghuni rumah ini bukan ?” tanya Key dan dijawab anggukan lemah dari Youngri.

“Aku janji tidak akan pulang malam lagi besok,” jawab Youngri pelan. Key mengangguk acuh kemudian kembali naik ke kamarnya.

Youngri mengusap dadanya lalu menghela napas ‘lagi’. Ia berbalik dan berjalan memasuki kamarnya tanpa semangat. Walaupun seperti itu, setidaknya Key memberinya perhatian. Atau lebih tepatnya sebuah peringatan.

***

Langit masih gelap ketika Youngri terbangun dari tidurnya. Ia mengusap keningnya yang sudah basah dengan keringat kemudian menggeleng tidak mengerti. Ia selalu mendapat mimpi buruk akhir-akhir ini. Sejak ia tinggal di rumah kelima cucu kakek Jung itu tentunya.

Tanpa berniat tidur lagi, Youngri akhirnya bangkit dari tempat tidur dan memilih untuk menunggu sampai pagi. Walaupun ia pulang sangat larut, tapi matanya sama sekali tidak mengantuk. Jadi ia memutuskan untuk mandi dan menyiapkan sarapan untuk kelima oppa barunya.

Youngri melepas handuk yang melilit rambutnya dan sedikit berlari ke dapur. Karena hari minggu, ia pun bebas berkreasi tanpa takut kesiangan masuk sekolah. Sejelek apapun nanti komentar kelimanya, ia akan tetap membuat sarapan dan membuat kelima laki-laki itu sedikit menghormatinya. Hanya sedikit.

Dua jam kemudian Youngri sudah menaruh hidangan terakhir yang dibuatnya ke meja makan. Bersamaan itu juga terdengar beberapa bunyi pintu yang terbuka dan tertutup dari arah lantai dua. Gadis itu segera menyusun piring-piring yang berisi makanan yang sudah dibuatnya, dan duduk di salah satu kursi yang ada.

“Selamat pagi oppadeul,” sapa Youngri seraya tersenyum lebar pada ketiga laki-laki yang baru saja menuruni tangga. Jonghyun, Taemin, dan Key menghampiri meja makan dan duduk berseberangan dengan Youngri.

Gadis itu merapatkan kedua tangannya, menunggu tanggapan yang baik dari ketiganya. Ia melihat Taemin mengangguk kecil seolah mengatakan ‘tidak buruk’, Jonghyun yang bahkan langsung melahap semua yang ada, dan Key yang terlihat biasa saja. Mungkin karena ia yang sering memasak, jadi sudah biasa dalam hal mencicipi makanan.

“Neomu mashitda,” gumam Jonghyun pelan tapi cukup bisa didengan oleh Youngri. Tanpa sadar pipi gadis itu pun bersemu merah.

Youngri mengangkat kepalanya dan memulai sarapannya bersama Jonghyun, Key, dan Taemin. Tidak ada kesan buruk, ia malah mendapat kesan baik karena mendengar ucapan Jonghyun barusan. Mereka sudah bisa sedikit menghargainya.

Beberapa menit kemudian Jinki dan Minho menuruni tangga dengan sedikit malas. Mereka ikut makan di meja makan, mengambil tempat duduk di sebelah kanan dan kiri Youngri. Dan kejadian itu berhasil membuat jantung Youngri seakan mau meledak. Ia merasakan aura kehangatan dari Minho dan Jinki yang duduk di dekatnya. Ia bisa merasakan bahwa sebentar lagi ia akan diterima.

***

Gadis itu duduk di teras belakang rumah setelah membersihkan piring-piring sisa sarapannya bersama kelima cucu kakek Jung. Ia kembali menghela napas setelah melewati pagi yang berat. Bahkan kelima laki-laki itu tidak ada yang mengucapkan terima kasih. Hanya Jonghyun yang ‘sedikit’ memuji masakannya, tapi tetap saja tidak berterima kasih.

“Kerjaanmu melamun eh ?” suara seseorang membuat Youngri tersentak dan menoleh. Ia mendapati Jonghyun tengah berdiri di ambang pintu seraya tersenyum kecil. Laki-laki itu berjalan mendekat dan duduk di sebelah Youngri.

“Ah-ahni,” jawab Youngri sedikit gugup karena tiba-tiba saja Jonghyun menyapanya. Ditambah sebuang senyuman yang pasti bisa membuat semua perempuan terkena sengatan listrik seketika.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ? Itu lebih baik daripada melamun,” tawar Jonghyun. Youngri menutup mulutnya tidak percaya. Ia mulai menepuk wajahnya sendiri, memastikan bahwa ini bukan mimpi. Dan seorang Kim Jonghyun tengah mengajaknya jalan-jalan ?

“Palli-wa, tawaranku tidak akan berlaku untuk yang kedua kalinya,” seru Jonghyun menyadarkan Youngri yang kembali melamun.

“Ah. Ne, oppa. Chamkanman,” Youngri bergegas memasuki rumah dan masuk ke dalam kamarnya. Bersiap pergi dengan Jonghyun, atau mungkin bisa di sebut kencan.

Jonghyun menatap kepergian Youngri ke kamarnya. Ia melipat senyum manisnya dan berubah menjadi sebuah seringaian yang sulit di artikan. Ia bangkit dari kursi lalu memasuki rumah, menghampiri Key dan Taemin yang tengah duduk di depan TV.

“Dimana Minho ?” tanya Jonghyun seraya duduk di sofa seraya memandangi Key dan Taemin yang duduk di karpet.

“Moreugesseo. Tadi dia bilang mau pergi ke supermarket depan,” jawab Taemin acuh karena masih focus dengan tontonannya bersama Key.

Jonghyun baru saja akan beranjak ketika melihat Youngri sudah keluar dari kamarnya. Ia tersenyum lagi lalu menghampiri gadis itu.

“Kajja,” ujarnya seraya menyodorkan tangan dan disambut dengan senang hati oleh Youngri.

“Taemin, Key. Kami pergi dulu,” seru Jonghyun, dijawab anggukan acuh dari keduanya.

Sementara itu Taemin dan Key, mereka segera menoleh ketika menyadari sesuatu. Keduanya saling menatap satu sama lain, mencoba meyakinkan apa yang baru saja dilihatnya.

“Jonghyun dan Youngri ?” tanya Key. Taemin mengangguk seraya menunjuk ke arah pintu rumah yang baru tertutup.

“Mereka pergi berdua,”

***

Minho membungkukkan badannya pada pelayan kasir di supermarket itu kemudian bergegas keluar dari sana. Ia mencoba menghiraukan beberapa wanita yang tengah menatap ke arahnya. Entah karena apa, tapi Minho tahu bahwa para wanita itu menatapnya kagum. Dengan ragu ia pun menyunggingkan senyuman dan para wanita itu pun menghela napas panjang. Seolah mendapatkan kembali oksigen mereka.

Langkah Minho terhenti. Ia menatap ke seberang jalan di mana seorang laki-laki tengah bercanda bersama seorang wanita. Minho mengeraskan genggaman tangannya lalu mendecak kesal.

“Harusnya aku tidak percaya pada Jonghyun. He’s a playboy, and I knew it,”

Minho menyeberang jalan itu tanpa melepaskan tatapannya dari Jonghyun dan Youngri yang tengah berada di sebuah café. Jonghyun tengah menggenggam tangan Youngri, dan keduanya terlihat saling tertawa. Minho kembali mengepalkan tangannya kesal. Ia kesal karena Jonghyun tidak menepati janji. Atau mungkin di sisi lain, ia kesal karena Jonghyun bersama gadis itu. Entahlah, ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri.

“Mati kau Kim Jonghyun,”

-to be continued-

One thought on “[FanFict] Seizure (1st Part)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s