[FanFict] NYX

Title       : NYX

Author : Ima Shineeworld

Casts       : Kim Jonghyun, Lee Eun Ji, Kim Kibum (Key)

Genre      : Fantasy (?), a little bit thriller and action, Romance, AU

Rating      : PG-15

[NYX]

Gadis itu mengetuk-ngetuk kaca jendela mobilnya dengan kesal. Jalanan tampak ramai karena memang saatnya jam pulang sekolah dan kerja. Suara klakson cukup memekakkan telinga, walaupun jendela mobilnya tertutup dengan rapat. Ia sedikit memajukan tubuhnya ke bangku pengemudi dan memandang seorang laki-laki yang tengah membawa mobilnya.

“Ya. Kau tidak tahu jalan pintas apa ? Aku mau cepat sampai di rumah,” seru gadis itu.

Laki-laki yang tengah menyetir mobil itu pun segera mengotak-atik sebuah alat yang terletak di dashboard mobilnya kemudian menggeleng pelan. Ia membetulkan letak intercom yang ada di telinga sebelah kanannya lalu menggeleng lagi.

“Tidak ada,”

“Baiklah, aku tidur. Nanti bangunkan aku kalau sudah sampai rumah,” gadis itu meraih bantal yang ada di belakang kepalanya dan mengubahnya menjadi posisi senyaman mungkin untuk tidur. Dan akhirnya gadis itu pun terlelap dalam tidurnya.

Dalam sekali gerakan cepat laki-laki itu menyingkirkan mobil-mobil yang menghalangi jalannya. Hanya dalam sekali gerakan tangan, jalanan pun menjadi leluasa dan ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menyeringai kecil lalu berbelok menuju rumah nona mudanya.

“Kita sudah sampai nona,” laki-laki itu sedikit berbalik untuk membangunkan nona mudanya yang baru saja tidur beberapa menit yang lalu. Gadis itu membuka matanya perlahan dan mengerang pelan.

“Ah, cepat sekali,” gumamnya lalu menatap laki-laki di depannya, “Kau panggil apa tadi ? Nona ? Jonghyun-ah, sudah kubilang panggil saja namaku. Lee Eun Ji,”

Gadis bernama Eun Ji itu menggeram kesal karena lagi-lagi statusnya sebagai seorang anak pengusaha sukses di permasalahkan oleh Jonghyun. Ia membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Gadis berumur 16 tahun itu pun tidak peduli ketika beberapa pelayan menyambut kedatangannya dari sekolah.

Tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan siapa Jonghyun sebenarnya. Laki-laki itu terlihat seperti manusia, tapi bukan manusia sepenuhnya. Ia memiliki kekuatan pikiran yang kuat, sehingga apapun yang diinginkan bisa terjadi begitu saja. Bahkan mobil-mobil di jalanan pun dapat dengan mudah disingkirkan hanya dengan kedua jarinya. Atau secara singkatnya, ia bisa melakukan apapun, mengendalikan apapun, membaca pikiran orang lain, dan masih banyak lagi yang diluar perkiraan manusia. Dan tidak mungkin seorang manusia biasa, tidak bisa bertambah tua. Umur Jonghyun terhenti tepat di 20 tahun dan ia tidak akan bertambah tua bagaimanapun keadaannya. Tapi ia tetap bisa mati, hanya dengan terbunuh atau ketika ia harus beradu kekuatan pikiran dengan sesamanya.

***

Suasana rumah keluarga Lee itu terlihat lebih sepi dari biasanya. Hanya ada Eun Ji, beberapa pelayan, dan juga Jonghyun yang dengan setia menungguinya di depan pintu kamar. Kedua orangtuanya sibuk dengan urusan masing-masing dan belum menghubungi putrinya selama seminggu terakhir.

Jonghyun membuka pintu kamar Eun Ji perlahan, dan ia bisa melihat gadis itu tengah terisak kecil di sudut kamarnya. Memeluk kedua lututnya dan menelungkupkan kepala di antara lipatan tangannya. Entah bagaimana, Jonghyun bisa merasakan apa yang dirasakan gadis itu sekarang. Ia tahu bahwa Eun Ji merindukan kedua orangtuanya.

“Eun Ji-ya,” panggil Jonghyun pelan seraya berjalan mendekati gadis itu, “Kau harus berangkat les piano sekarang,”

Eun Ji mengangkat kepalanya dan menatap Jonghyun jengah, “Aku mau berhenti les piano. Appa dan eomma tidak pernah peduli apa yang kulakukan, jadi aku tidak mau menuruti perintah mereka untuk les,” ujarnya kesal. Ia bangkit dari duduknya lalu menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur.

“Eun Ji, tapi kau harus –,”

“Aku tidak mau Jonghyun ! Kenapa kau selalu memaksa huh ? Lebih baik kau keluar sekarang,” Eun Ji menutupi wajahnya dengan bantal dan kembali terisak di bawah sana. Hatinya sakit setiap kali ingat bahwa orang tuanya sama sekali tidak peduli.

Jonghyun membatasi pikirannya sendiri untuk tidak membaca isi pikiran gadis itu. Laki-laki itu hanya menginginkan kedua orang tua Eun Ji pulang, atau sekedar menelepon. Keadaan Eun Ji semakin memburuk akhir-akhir ini. Dan ia semakin khawatir akan hal itu.

***

Sudah hampir 2 jam Eun Ji menangis dalam diam di kamarnya. Ia mencoba menghentikan itu semua, tapi tidak berhasil. Ia memang menyukai semua kehidupannya sebagai seorang  tuan putri di rumahnya. Tapi tidak dengan kehidupannya. Kedua orangtuanya bahkan tidak peduli ketika ia sakit dan lebih memilih pekerjaan. Hanya Jonghyun yang selama ini menemaninya, menyemangatinya, dan mengantar kemanapun ia mau. Dan ia menyesal sudah membentak Jonghyun tadi.

Dengan telepon yang ada di dekat tempat tidurnya, ia segera memanggil Jonghyun. Eun Ji menghapus air matanya dengan cepat ketika melihat pintu kamarnya terbuka. Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Jonghyun yang berjalan semakin dekat ke arahnya.

“Mianhae Jonghyun-ah. Aku tidak bermaksud membentakmu tadi,” gumam Eun Ji. Jonghyun hanya tersenyum samar lalu mengacak rambut Eun Ji –yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.

“Gwenchana. Aku sudah tahu sifat labilmu itu,” balas Jonghyun, ia menatap kedua mata Eun Ji lekat kemudian menarik tangan gadis itu, “Ayah dan ibumu ada dibawah sekarang. Mereka mencarimu,”

Ucapan Jonghyun sontak membuat Eun Ji melebarkan senyumnya. Gadis itu melepaskan genggaman Jonghyun dan berlari menuruni tangga. Jonghyun hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku Eun Ji yang masih kekanak-kanakkan. Ia segera menyusul Eun Ji yang kini sudah memeluk kedua orang tuanya. Jonghyun membungkuk sopan pada tuan dan nyonya Lee dengan ekspresi dingin seperti biasanya.

“Eun Ji tidak nakal kan Jonghyun ?” tanya nyonya Lee masih tetap memeluk Eun Ji. Gadis yang tengah di bicarakan itu pun melepaskan pelukannya lalu menggembungkan pipinya kesal.

“Eomma-ya. Aku bukan anak kecil lagi,” sahut Eun Ji cepat.

“Dia tidak nakal sajangnim,” jawab Jonghyun seraya membungkukkan sedikit badannya. Tuan Lee mengacak rambut anak perempuan semata wayangnya itu dengan lembut.

“Tentu saja, Lee Eun Ji tidak akan menyusahkan orang-orang bukan ?” tanyanya dan dijawab sebuah anggukan semangat dari Eun Ji.

“Sudahlah, tidak usah dibahas. Ayo makan,” ajak Eun Ji, menarik kedua tangan orangtuanya menuju meja makan, karena memang sudah memasuki jam makan malam. Jonghyun mengikuti mereka dan berdiri di dekat meja makan. Sebuah senyuman pun menghiasi bibir Jonghyun saat melihat Eun Ji tertawa. Ia selalu menyukai tawaan itu.

***

Jonghyun melepas intercom yang terpasang di telinganya dan merapatkan punggungnya pada sandaran jok mobil. Ia baru saja mengantar Eun Ji ke sekolahnya dan itu berarti waktunya masih panjang untuk menunggu gadis itu. Perhatian Jonghyun teralihkan ketika melihat sebuah tas kecil tergeletak di jok belakang. Ia meraih tas itu dan melihat isinya.

Jonghyun memakai kembali intercom miliknya dan berjalan keluar dari mobil. Ia memasuki halaman sekolah Eun Ji, sontak membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Murid-murid yang tengah berolahraga di lapangan pun heran saat melihat laki-laki berpakaian formal memasuki sekolah mereka. Ditambah lagi wajah Jonghyun –yang memang tidak jelek dan termasuk tampan. Para murid pun ricuh membicarakan Jonghyun.

Tanpa bertanya pun, Jonghyun sudah tahu dimana kelas Eun Ji. Hanya dengan menerawang melalui pikirannya, ia tahu Eun Ji tengah melakukan apa di kelas. Jonghyun mengetuk pintu kelas gadis itu lalu membuka pintunya perlahan. Suara ricuh pun tidak terelakan ketika para murid perempuan melihat Jonghyun.

“Lee Eun Ji,” panggil Jonghyun setelah mendapat izin dari guru yang tengah menjelaskan pelajaran di kelas Eun Ji.

Gadis yang dipanggil namanya itu pun menoleh dan sedikit tersentak melihat Jonghyun berdiri di pintu kelasnya. Ia memandang ke sekeliling, dimana tatapan iri dari beberapa wanita tertuju ke arahnya. Eun Ji keluar dari bangkunya dan segera menghampiri Jonghyun.

“Bekalmu tertinggal di mobil nona,” ucapan Jonghyun pun membuat suasana kembali ricuh. Eun Ji segera merebut bekal di tangan Jonghyun lalu berlari kembali ke bangkunya. Gadis itu merasakan wajahnya memanas karena ledekan teman-temannya. Setelah memastikan Jonghyun sudah menghilang, ia menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Bagaimana bisa bekalnya tertinggal dan Jonghyun yang mengantarnya.

Sementara itu Jonghyun hanya bisa tertawa sendiri, melihat Eun Ji yang tengah tertunduk malu dari dalam pikirannya. Jonghyun segera memasuki mobil masih tidak bisa memberhentikan tawanya. Namun tawanya berhenti saat melihat beberapa laki-laki mencurigakan tengah berdiri tidak jauh dari pagar sekolah Eun Ji. Ia melepaskan intercomnya dan menerawang apa yang akan dilakukan oleh orang-orang itu.

“Sorry, but you can’t hurt my Eun Ji,” gumam Jonghyun pelan. Dan hanya sekali menggerakkan kedua bola matanya ke arah jalan, orang-orang itu melangkah dengan sendirinya ke tengah jalan. Membiarkan beberapa mobil menabrak tubuh mereka dengan frontal. Jonghyun menyeringai kecil lalu menyalakan lagu melalui tape di mobilnya.

***

Eun Ji mendengus pelan saat melihat Jonghyun tengah berdiri di dekat mobil. Membuat perhatian beberapa orang mengarah padanya. Gadis itu bukan kesal karena di tunggui Jonghyun, hanya saja ia tidak suka ketika beberapa orang melihat ke arah Jonghyun. Wajahnya memanas saat melihat beberapa wanita berusaha menggoda Jonghyun. Dengan cepat Eun Ji berlari menghampiri Jonghyun dan menyuruh laki-laki bergegas memasuki mobilnya.

“Jonghyun oppa,” panggil Eun Ji ketika mobil sudah melaju meninggalkan sekolahnya. Sontak Jonghyun menghentikan mobilnya secara mendadak dan menoleh ke arah Eun Ji.

“Kau memanggilku apa tadi ?” tanya Jonghyun, memastikan pendengarannya. Eun Ji menyembunyikan semburat merah di pipinya kemudian menggumam pelan.

“Oppa. Jonghyun oppa. Kau lebih tua 4 tahun dariku,” jawab Eun Ji, tapi kali ini tidak membuat Jonghyun shock. Laki-laki itu kembali menjalankan mobilnya dan sedikit berdehem untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba muncul.

“Baiklah, terserah kau saja nona,”

“Ya ! Jangan panggil aku nona !” pekik Eun Ji, membuat Jonghyun tertawa pelan. Baru saja ia membelokkan mobilnya ketika mendengar Eun Ji kembali memekik.

“Oppa, aku mau beli sesuatu dulu,”

Jonghyun memberhentikan mobilnya setelah mendengar ucapan Eun Ji. Gadis itu membuka pintu mobilnya dan menyebrang, memasuki sebuah supermarket. Ia mendengar bahwa besok Jonghyun ulang tahun dari beberapa pelayannya. Jadi ia akan membeli hadiah untuk Jonghyun, tidak terlalu mahal, tapi ia akan membuat hadiah itu berkesan dan akan diingat terus oleh Jonghyun.

Sebuah strap ponsel akhirnya menjadi pilihan terakhir Eun Ji. Ia mengambil sepasang strap ponsel itu dan membawanya ke kasir. Tapi seseorang malah menabrak tubuhnya hingga semua yang tengah dipegangnya itu terjatuh. Ia segera berjongkok dan memungutinya.

“Mianhae,” gumam seorang laki-laki –yang baru saja menabrak Eun Ji dan membantu gadis itu membereskan barang-barangnya yang terjatuh.

“Gwenchana,” balas Eun Ji seraya tersenyum dan membawa dua strap ponsel bersama dompetnya ke kasir.

Senyuman tidak pernah lepas dari bibir Eun Ji membayangkan bagaimana ekspresi Jonghyun nanti. Ia segera membuka pintu supermarket itu dan menyebrang untuk kembali ke mobilnya. Namun langkah gadis itu terhenti saat mendengar klakson yang sangat keras menusuk telinganya. Eun Ji menoleh ke samping dan melihat sebuah mobil melaju ke arahnya dengan kencang. Ia membulatkan kedua matanya kemudian berjongkok dan menutup mata serta kedua telinganya. Berharap ia tidak akan merasa sakit ketika mobil itu menghantamnya.

BRAK

Eun Ji bisa mendengar suara keras di dekatnya, tapi ia tidak merasakan sakit apapun. Sesaat ia sempat berpikir bahwa nyawanya sudah lepas dari tubuhnya sebelum mobil itu menghantam. Dan pikirannya itu buyar ketika mendengar suara Jonghyun lalu tubuhnya itu ditarik ke dalam pelukan Jonghyun. Perlahan laki-laki itu membantunya berdiri. Eun Ji membuka kedua matanya, ia melihat sebuah mobil terbalik tidak jauh dari tempatnya berdiri.

“Oppa, mobil itu,” Eun Ji melepas pelukan Jonghyun dan menatap puing-puing mobil itu dengan setengah tidak percaya. Gadis itu menoleh pada Jonghyun, sontak Eun Ji memekik saat melihat darah keluar dari hidung Jonghyun, “Kau mimisan,”

Dengan cepat Eun Ji melepas dasi yang ada di kerahnya dan menutupi hidung Jonghyun. Laki-laki itu tersenyum, menandakan bahwa ia tidak apa-apa. Jonghyun hanya kaget karena tiba-tiba mobil itu hampir menabrak Eun Ji. Pikirannya itu refleks membuat pelindung di sekitar Eun Ji sehingga mobil itu seperti menabrak dinding dan akhirnya terguling. Karena refleksnya itu, pikirannya terlalu kaget dan menyebabkan hidungnya mengeluarkan darah.

Tatapan Jonghyun pun tiba-tiba terhenti pada seorang laki-laki yang memandangnya dari balik pintu supermarket. Ia tidak tahu kenapa. Tapi pikiran laki-laki itu terblok sehingga ia tidak bisa membaca pikirannya. Jonghyun melihat laki-laki berambut sedikit pirang itu menyeringai kecil kemudian menghilang begitu saja. Dan Jonghyun menduga, bahwa laki-laki itu berusaha mencelakai Eun Ji.

***

Hanya tinggal beberapa menit lagi menuju jam 12 malam. Eun Ji sudah selesai menyiapkan kue kecil dan hadiah untuk Jonghyun. Ia sekarang tengah berdiri di depan pintu kamar Jonghyun dan berkali-kali menarik napas, mencoba meredakan detak jantungnya yang meledak-ledak. Sudah 3 tahun ia selalu bersama Jonghyun, tapi baru kali ini ia merasa segugup itu.

Gadis itu pun segera membuka pintu kamar Jonghyun ketika jam di ruang tengah rumahnya berdentang, menandakan jam 12 sudah datang. Eun Ji bernyanyi pelan seraya membawa kue kecil yang dihiasi beberapa lilin di atasnya. Jonghyun yang sudah tertidur pun, terpaksa membuka kedua matanya lagi dan memandang Eun Ji dari kegelapan. Dengan segera Jonghyun menyalakan lampu kamarnya dan tersenyum saat melihat gadis itu membawakannya kue.

“Happy birthday oppa. Let’s make a wish,” Eun Ji menyodorkan kuenya dan melihat Jonghyun langsung menutup kedua matanya. Dan dalam sekali hembusan, lilin-lilin itu pun sudah mati diiringi tepuk tangan kecil dari Eun Ji.

“Gomawo Eun Ji-ah,” sahut Jonghyun dengan nada sedikit manja. Eun Ji memukul pelan lengan Jonghyun lalu menyerahkan hadiah yang sudah disiapkannya.

“Ige mwoya ?” tanya Jonghyun, mencoba membuka kotak berukuran kecil yang baru saja diterimanya. Ia mengangkat sebuah strap ponsel yang ada di dalam kotak itu kemudian tersenyum lebar, “EJ ?” eja Jonghyun, melihat inisial yang ada di strap ponsel itu.

“Ne, Eun Ji and Jonghyun,” jelas Eun Ji saat melihat Jonghyun mengernyit heran. Laki-laki itu mengangguk pelan kemudian duduk di sisi tempat tidurnya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan segera memakaikannya pada ponsel lalu tersenyum lagi.

“Aaah, yeppeuda,” Jonghyun melihat Eun Ji masih saja menundukkan kepalanya sambil sedikit mengacak rambutnya.

“Sebenarnya aku punya satu lagi. Tapi itu dipasang di ponselku,” balas Eun Ji. Jonghyun yang mendengar itu hanya bisa terkekeh pelan.

“Kita pakai strap kembar ?” tanya Jonghyun, dijawab anggukan kecil oleh Eun Ji. Setelah meredakan tawanya, Jonghyun menarik tangan gadis itu duduk di sebelahnya. Ia kembali mengambil kue ulang tahun yang disimpan di atas meja lalu menaruhnya di atas kasur.

“Ayo kita pesta !” seru Eun Ji senang dan mulai memotong kuenya.

***

Sudah beberapa hari ini Jonghyun selalu menemukan kejanggalan di sekitar Eun Ji. Setelah kejadian Eun Ji hampir tertabrak dan melihat laki-laki itu, pikiran Jonghyun menjadi tidak focus. Ia bahkan hampir tidak bisa membaca pikiran dan melihat keadaan gadis itu seperti dulu lagi. Ia sangat ingin tahu penyebabnya, dan itulah masalahnya. Ia tidak tahu bagaimana mencari penyebab masalahnya.

Jonghyun baru saja selesai mengancingkan kancing teratas kemejanya, saat melihat pintu kamarnya terbuka. Ia melihat tuan Lee masuk, sontak membuat Jonghyun segera merapikan rambutnya, ia menghampiri tuan Lee lalu membungkuk sopan.

“Wae sajangnim ?” tanya Jonghyun, setelah melihat tuannya itu terlihat khawatir. Tuan Lee tersenyum ramah lalu menepuk punggung Jonghyun pelan.

“Kau bisa jaga Eun Ji kan ?” tanya tuan Lee tiba-tiba.

“Ne, aku bisa. Tapi kenapa sajangnim menanyakan hal itu ?” tanya Jonghyun lagi, ia sedikit heran saat tuan Lee mengatakan itu. Tanpa disuruh pun ia sudah pasti akan menjaga Eun Ji.

“Ahni. Hanya saja, aku sering diteror akhir-akhir ini. Mungkin dari pesaing bisnisku, dan ia mengancam akan mencelakai Eun Ji,” jelas tuan Lee kemudian tersenyum lagi pada Jonghyun, “Jadi, tolong jaga dia. Kemanapun ia pergi, kau harus mengikutinya,”

Jonghyun mengangguk pelan dan membiarkan tuan Lee keluar dari kamarnya. Ia melirik jam yang tergantung di sudut kamarnya kemudian mengumpat pelan. Dengan cepat ia meraih jas hitam miliknya dan berlari keluar kamar. Ia sudah harus mengantar Eun Ji ke sekolah.

***

Setelah membungkuk pelan pada Jonghyun, Eun Ji segera berlari memasuki halaman sekolahnya. Sesekali ia memberi salam pada guru yang dilewatinya seraya tersenyum lebar. Moodnya sedang sangat bagus hari itu karena Jonghyun sudah memberinya senyuman.

Gadis itu membanting tasnya ke atas meja kemudian memandang keluar jendela. Ia bisa melihat mobil Jonghyun terparkir disana dan pasti akan terus disana selama seharian. Entah kenapa, ia merasa sangat beruntung mempunyai seorang supir pribadi seperti Jonghyun. Bahkan sekarang sudah merambat menjadi bodyguard. Terlebih lagi ia sudah menganggap Jonghyun sebagai kakak laki-lakinya sendiri.

Lamunan Eun Ji buyar saat mendengar suara bel. Ia segera menegakkan tubuhnya dan mengalihkan pandangannya dari luar jendela karena melihat seorang guru sudah masuk ke dalam kelasnya. Helaan napas keluar dari bibir mungilnya ketika melihat tempat duduk di sebelahnya kosong. Temannya tidak masuk lagi hari itu.

“Kuharap kalian senang dengan kabar ini. Karena aku membawa seorang murid baru,” ujar seorang guru berambut setengah botak yang berdiri di depan kelas. Eun Ji berdehem pelan, ia sedikit mengangkat tubuhnya untuk melihat seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam kelasnya.

“Silahkan perkenalkan dirimu,” seru guru itu pada laki-laki di sebelahnya. Laki-laki itu tersenyum dan berhasil membuat semua wanita di kelas Eun Ji ricuh. Senyuman yang bisa membuat setiap wanita langsung terpikat, termasuk Eun Ji yang cukup terkagum akan hal itu.

“Namaku Kim Kibum. Bisa dipanggil Kibum, Key, atau terserah kalian. Apapun nama panggilan yang kalian pakai, aku tetap seorang Kim Kibum,” jelas laki-laki bernama Key itu lalu tersenyum pada teman sekelasnya.

“Baiklah, kau boleh duduk,”

Key mengangguk pelan kemudian berjalan menuju bangku yang terlihat kosong. Semua wanita yang ada pun berusaha mengusir teman sebangkunya dan berharap Key akan duduk disana. Tapi sayangnya tatapan Key selalu tertuju pada bangku kosong yang ada di barisan ketiga dari depan. Ia duduk di bangku itu lalu tersenyum pada seorang wanita yang menjadi teman sebangkunya mulai saat itu.

“Jadi, siapa namamu miss ?” tanya Key, berusaha menyadarkan teman sebangkunya yang masih melamun.

“Aaah. Namaku Lee Eun Ji. Kita bisa jadi teman yang baik Kibum-ssi,” jawab Eun Ji dengan sedikit membungkukkan badannya. Kali ini Key tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi itu pada Eun Ji.

“Yes, we’re friend from now,”

***

Jonghyun membungkuk pada seorang ahjumma penjaga kedai kopi lalu keluar dari kedai kopi itu. Ia kembali ke mobilnya yang terparkir di depan gerbang sekolah Eun Ji, tapi tidak masuk ke dalamnya. Ia hanya bersandar di pintu mobil sambil menatap ke dalam sekolah gadis itu. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Ia tidak bisa melihat apa yang dilakukan Eun Ji sejak tadi pagi dan tidak bisa membaca pikiran gadis itu. Seperti ada sebuah batas yang membuat Jonghyun tidak bisa melihat pikiran Eun Ji lagi.

Tiba-tiba saja kepalanya menjadi pusing karena memikirkan hal itu. Ia menyesap kopi yang ada di genggamannya kemudian beranjak masuk ke dalam mobil. Ia kembali memasang intercom ke telinganya dan terus menatap kelas Eun Ji. Ia tahu bahwa Eun Ji selalu duduk di dekat jendela. Dulu ia pernah menanyakan alasannya dan Eun Ji tidak pernah menjawab. Tapi Jonghyun malah tahu dari pikiran gadis itu bahwa ia hanya ingin melihat Jonghyun setiap saat.

Jonghyun tersenyum sendiri mengingat semuanya. Bahkan kejutan untuk ulang tahunnya saja ia sudah tahu dari pikiran gadis itu. Jadi ia hanya pura-pura tidur sebelum jam 12 dan pura-pura terkejut juga ketika Eun Ji memberinya surprise. Ia sangat suka melihat senyuman Eun Ji malam itu.

Bel pulang baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu. Tanpa menunggu lama Jonghyun sudah bisa melihat bahwa Eun Ji tengah berlari ke arah mobilnya. Gadis itu membuka pintu mobil penumpang di sebelah Jonghyun lalu menghela napas panjang.

“Kau tidak duduk di belakang lagi ?” tanya Jonghyun heran karena melihat Eun Ji malah duduk di sebelahnya, bukan di belakang seperti biasanya. Hal yang biasa terjadi untuk seorang supir dan tuannya.

“Tidak mulai hari ini. Ayo jalan, aku mau makan di restoran khusus makanan Korea,” seru Eun Ji. Dan Jonghyun sebagai supir pribadinya, hanya bisa mengangguk dan mengikuti perintah gadis itu.

Selama makan sore, Eun Ji tidak pernah berhenti menceritakan teman barunya. Jonghyun pun hanya menanggapi dengan senyuman kaku. Senyuman Jonghyun lenyap saat ia melihat laki-laki yang sama dengan laki-laki yang dilihatnya dulu di supermarket. Hanya sekilas saja, tapi berhasil membuat kepala Jonghyun tiba-tiba pusing. Sumpit yang tengah dipegangnya pun refleks terjatuh, membuat dentingan yang cukup keras ketika membentur piring dan lantai.

“Oppa, kau tidak apa-apa ?” tanya Eun Ji, melihat perubahan ekspresi Jonghyun. Jonghyun mengerjapkan matanya lalu menatap Eun Ji. Ia kembali tidak bisa membaca pikiran gadis itu lagi.

“Tidak apa-apa,” jawab Jonghyun, berusaha tidak membuat gadis itu khawatir.

“Ahjumma aku butuh sumpit,” teriak Eun Ji lalu kembali menyantap makan sore miliknya. Jonghyun sedikit memijat keningnya yang terasa pusing kemudian berusaha menggeser gelas hanya dengan pikirannya. Tapi tidak berhasil. Dan sejak saat itu Jonghyun tahu, laki-laki itu sama dengan dirinya. Bahkan lebih kuat, karena hanya dengan melihatnya, Jonghyun tidak bisa berbuat apa-apa.

***

‘Aku bisa membaca pikiranmu sekarang Jonghyun. See ? Kau jauh sangat lemah dibandingkan aku. Dengan mudahnya kau terganggu hanya dengan kedatanganku. Mungkin kau masih bisa melindungi Eun Ji. Tapi sayangnya sebentar lagi itu tidak akan terjadi. Aku yang akan menjaganya,’

Jonghyun membuka matanya dan segera duduk di tempat tidur. Keringatnya sudah membasahi baju yang dipakainya dan juga rambutnya. Ia kembali mimpi buruk tentang Eun Ji. Dalam beberapa minggu terakhir ia selalu mendapat mimpi buruk tentang gadis itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Eun Ji. Ia sangat khawatir kalau gadis itu mendapat masalah besar.

Jonghyun menyeka hidungnya yang lagi-lagi mengeluarkan darah. Ia mengumpat pelan lalu segera menghapusnya dengan tissue yang ada di meja kamarnya. Belum sempat Jonghyun turun dari tempat tidur, pintu kamarnya terbuka dan melihat Eun Ji tengah berlari kecil ke arahnya.

“Kau mimisan lagi ?” tanya Eun Ji khawatir. Jonghyun hanya tersenyum lalu melempar tissue yang sudah penuh darah itu ke tempat sampah.

“Ada apa ?” Jonghyun duduk di sisi tempat tidurnya di ikuti Eun Ji. Ia melihat gadis itu sedikit bingung, namun sedetik kemudian tersenyum sembari mengeluarkan puppy eyes andalannya.

“Eiish, pasti kemauanmu aneh,” tebak Jonghyun lalu tertawa dalam hati ketika membaca pikiran Eun Ji.

“Temani aku ke pesta ulang tahun temanku, ya ?” tanya Eun Ji setengah merajuk. Jonghyun mengeluarkan tawanya lalu menatap Eun Ji yang kini sudah merengut kesal.

“Hanya itu ? Bukannya sudah biasa aku menemanimu nona ?” tanya Jonghyun, dibalas sebuah pukulan ringan dari Eun Ji.

“Oppa-ya ! Jangan panggil aku nona,” Eun Ji mengerucutkan bibirnya kesal kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain, “Bukan itu maksudnya. Kau mengantarku sebagai laki-laki, bukan sebagai supir, bodyguard, atau apapun itu,”

“Aku memang laki-laki Eun Ji,” potong Jonghyun. Eun Ji kembali memukul pelan lengan Jonghyun lalu memasang ekspresi datar.

“Tidak bisakah oppa peka sedikit ? Maksudku sebagai pa –,” Eun Ji memutus ucapannya kemudian berdiri dari tempat tidur Jonghyun, “Aish, sudahlah. Pokoknya oppa tidak boleh memakai baju formal seperti biasanya. Nanti malam kita berangkat,” gadis itu mendengus kesal kemudian berlari keluar dari kamar Jonghyun.

Sedangkan Jonghyun ? Laki-laki itu tertawa kecil mengingat ucapan Eun Ji yang terputus tadi. Jonghyun bahkan berharap bukan hanya malam ini saja ia dianggap seperti itu. Ia sangat ingin bisa berstatus seperti itu selamanya. Tapi tidak mungkin bukan ? Ketika Eun Ji bertambah tua, ia tidak akan bisa menyembunyikan semuanya lagi. Umurnya masih akan tetap 20 tahun, dan ia tidak menyakiti Eun Ji dengan kenyataan pahit itu. Atau mungkin Jonghyun yang harus menerima kenyataan pahit itu. Bahwa ia akan kehilangan Eun Ji nantinya.

***

Suara dentuman music sempat membuat Jonghyun urung untuk masuk ke dalam pesta itu. Tapi rasa urungnya itu berubah karena melihat Eun Ji yang sudah berdandan susah payah, dan ia tidak mungkin membatalkannya. Ia membiarkan Eun Ji menggamit lengannya dan membawanya masuk ke dalam sebuah hall besar, tempat pesta ulang tahun temannya itu berlangsung.

Jonghyun menyesap minuman yang diberikan Eun Ji. Ia mengitarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan, sambil sesekali membetulkan intercom yang masih setia menempel di telinganya. Ia akan langsung menghubungi salah satu teman laki-lakinya yang tengah berjaga diluar kalau saja tiba-tiba ada kejadian tidak terduga.

“Kau tidak ikut dengan yang lain ?” tanya Jonghyun pada Eun Ji, seraya memandang beberapa wanita yang sedang menggerak-gerakkan badannya di tengah hall sesuai dentuman music. Eun Ji terkekeh pelan lalu memukul pelan lengan Jonghyun.

“Tentu saja tidak. Aku tidak suka,” jawab Eun Ji, ia mengitarkan pandangannya pada pintu masuk hall. Berharap Key akan muncul dari sana, karena dari tadi ia belum melihat laki-laki itu. Laki-laki yang sudah menjadi teman sebangkunya selama 2 minggu terakhir dan sudah termasuk dekat dengannya.

“Ah, itu dia,” pekiknya senang. Gadis itu menaruh gelas wine miliknya ke atas meja lalu meninggalkan Jonghyun, untuk menghampiri Key yang baru saja memasuki hall.

Jonghyun menoleh ketika mendengar Eun Ji memekik. Pikirannya seketika buyar saat melihat laki-laki yang selalu menghantuinya akhir-akhir ini. Jonghyun segera memegangi kepalanya yang terasa pusing dan tanpa bisa dicegah menjatuhkan gelas yang tengah dipegangnya. Rasa pusingnya itu semakin menjadi-jadi ketika melihat Eun Ji mendekat bersama laki-laki itu.

Jonghyun mengerang pelan lalu memilih menghindar dari sana, memasuki toilet dan segera mencuci mukanya. Rasa pusingnya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali kemudian mengepalkan tangannya.

“Sh*t. Bagaimana bisa aku melindungi Eun Ji, kalau laki-laki itu ada di dekatnya,” umpat Jonghyun pelan. Ia mendongak dan menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin.

“Dasar makhluk bodoh ! Kenapa kau harus terlahir sebagai seorang Nyx hah !” teriak Jonghyun. Pikiran marahnya sontak membuat cermin dan wastafel yang ada di dekatnya menjadi retak seketika. Ia menjambak rambutnya sendiri lalu menatap retakan cermin itu dengan kesal.

PRANG

Serpihan cermin itu kini berterbangan, terlepas dari dinding dan menghantam tubuh Jonghyun. Tapi sayangnya Jonghyun sudah membuat perisai sendiri sebelum cermin-cermin itu menembus kulitnya. Ia benci harus menjadi lemah ketika berhadapan dengan sesama Nyx, yang jauh lebih kuat darinya. Kekuatannya sama sekali tidak bisa berfungsi.

Dengan meyakinkan hatinya sendiri, Jonghyun keluar dari kamar mandi dan kembali ke tempat Eun Ji. Ia mendapati gadis itu berdiri dengan bersandar pada meja. Mengerucutkan bibirnya dan sesekali memandang ke seluruh sudut hall. Jonghyun menghela napas lega saat melihat Eun Ji sudah kembali sendirian.

“Maaf membuatmu menunggu nona,” gumam Jonghyun, sontak membuat Eun Ji sedikit terlonjak kaget.

“Ya ! Kau kemana saja oppa ?! Aku mau mengenalkan Key tadinya. Tapi dia harus pulang karena ada keperluan mendadak,” Eun Ji kembali mengerucutkan bibirnya dan menatap Jonghyun yang terlihat pucat, “Oppa, kau sakit ?” tanyanya khawatir.

Jonghyun menggeleng pelan lalu menggenggam sebelah tangan gadis itu lembut, “Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing,”

TRACK

Terdengar sedikit ledakan kecil di sudut hall, tempat sound system berada. Beberapa saat kemudian lampu di dalam hall mati dan membuat keadaan menjadi gelap gulita. Jonghyun yang panik akan mimpi buruknya segera menarik Eun Ji ke dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu dengan sangat erat. Seolah setitik tubuh Eun Ji akan menghilang kalau saja ia tidak mendekapnya dengan erat. Dengan mengubah system penglihatannya menjadi night vision, Jonghyun bisa melihat semua orang di dalam hall menjadi panik. Ia semakin mempererat pelukannya pada Eun Ji kemudian mengerang pelan karena rasa pusing itu kembali menyerangnya.

“Ah  damn. Kenapa aku tidak bisa menyalakan lampunya,” gumam Jonghyun kesal, karena pikirannya itu tidak bisa membuat lampunya menyala. Pandangan night vision nya pun perlahan-lahan menghilang. Ia semakin merasakan pusing itu di kepalanya.

“Oppa ?” panggil Eun Ji sedikit khawatir. Jonghyun memejamkan matanya, ia melepas pelukannya dan mencengkeram kedua bahu Eun Ji dengan kuat.

“Maaf Eun Ji. Tapi hanya ini satu-satunya cara agar kita berdua bisa selamat,” ucapan Jonghyun benar-benar tidak dimengerti oleh Eun Ji. Baru saja gadis itu akan menyela, tapi sesuatu sudah menghentikkan ucapannya.

Kedua tangan besar Jonghyun kini berada di pipinya. Dan sesuatu yang lebih mengejutkan adalah ketika Jonghyun tiba-tiba menciumnya. Ia bisa merasakan hangatnya bibir Jonghyun mulai menjalari seluruh tubuhnya. Dan kini ia hanya bisa memejamkan mata, Eun Ji merasakan kakinya semakin lemas karena hal itu.

Jonghyun berhasil mengalihkan pikirannya tentang sesama Nyx karena ciuman itu bersama Eun Ji. Ia berhasil menyalakan kembali lampu hall. Dengan perlahan Jonghyun menjauhkan wajahnya, ia menatap wajah Eun Ji yang sudah sangat memerah saat itu.

“Maaf,” ujar Jonghyun pelan seraya menurunkan kedua tangannya dari pipi Eun Ji. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu memalingkan wajah karena sadar sudah mencium Eun Ji secara mendadak. Tapi ia lega karena caranya berhasil dan bisa melawan kekuatan Key –yang ternyata lebih kuat darinya.

Sedangkan gadis itu masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Jantungnya sudah hampir meloncat keluar karena hal itu. Ia menundukkan kepalanya dalam lalu menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa hangat. Oh my. . bahkan seluruh tubuhnya sudah menjadi sangat panas hanya karena ciuman dari Jonghyun. Ciuman pertama yang sangat berkesan bagi Eun Ji tentunya.

“Aku ke kamar mandi dulu oppa,” ujar Eun Ji, berusaha menghindar dan menenangkan pikirannya sejenak. Ia melewati Jonghyun dan sedikit berlari memasuki kamar mandi di sudut hall.

Jonghyun tersenyum kecil kemudian menyesap minuman –yang baru diambilnya lagi. Ia berbisik melalui intercom untuk memberitahunya kalau saja ada laki-laki dengan ciri-ciri seperti Key.

“Kyaaa !” Jonghyun segera mematikan intercomnya dan berlari menuju ke kamar mandi ketika mendengar teriakan Eun Ji. Ia tidak peduli beberapa wanita mencoba mencegahnya agar tidak masuk ke dalam toilet wanita, Jonghyun menabraknya dan membuka pintu kamar mandi itu.

Jonghyun hanya melihat serpihan cermin dan air kran wastafel yang terus menyala. Ia berjalan mendekat, menyentuh setiap serpihan cermin itu dan bisa melihat sosok Eun Ji di dalamnya. Ia melihat gadis itu tengah dibekap oleh Key dan dibawa ke sebuah tempat.

‘You’re tricked Kim Jonghyun,’

“Sh*t !”

Sebuah umpatan kecil dari Jonghyun membuat beberapa orang yang ada mundur menjauhinya. Key sengaja memancingnya untuk mencium Eun Ji ketika terdesak tadi. Ia seharusnya tahu bahwa Nyx yang lebih kuat akan bisa mempengaruhi Nyx yang lemah. Dan ia baru saja dikendalikan oleh Key tadi untuk mencium Eun Ji. Ketika Eun Ji malu dan berusaha menghindar, ia akan pergi ke kamar mandi. Dan itulah saat yang tepat untuk Key membawanya.

***

Ruangan gelap itu terasa semakin mencekam ketika seorang laki-laki baru saja muncul dengan menggendong seorang wanita di tangannya. Laki-laki itu segera menidurkan gadis itu di sebuah tempat tidur kecil. Sebuah suara sontak membuat laki-laki itu membalikkan tubuhnya. Ia melihat seorang laki-laki bertubuh tambun dan rambut sedikit memutih itu lalu membungkukkan badannya hormat.

“Aku tahu kau bisa melakukannya. Pengawalnya itu bahkan jauh sangat lemah dibawahmu. Dan sebentar lagi, dengan gadis ini, perusahaan itu akan jatuh ke tanganku,” laki-laki beumur sekitar 40 tahunan itu menyeringai kecil kemudian menepuk pundak Key pelan.

“Kalau pengawalnya itu datang, bunuh saja. Kita akan lebih mudah mengancam ayahnya kalau Jonghyun tidak ada,” laki-laki itu tersenyum menyeringai lagi lalu berjalan pergi dari ruangan itu.

“Tentu saja. Aku akan membunuhnya dengan senang hati,” gumam Key seraya memandang Eun Ji yang tengah tertidur atau mungkin pingsan karena pengaruh pikirannya. Ia tersenyum kecil lalu menyentuh rambut Eun Ji dengan lembut, “Sayang sekali kau harus berurusan dengan Jonghyun sweetie,”

Key segera mengalihkan pandangannya ketika system pikirannya melihat Jonghyun tengah berusaha masuk ke dalam ruangan itu. Ia segera bangkit dari samping tempat tidur Eun Ji dan menunggu Jonghyun untuk memasuki ruangan itu. Ia sudah sangat siap untuk melawan Jonghyun.

Pintu ruangan gelap itu terbuka, Jonghyun segera masuk ke dalamnya tanpa perlu takut lagi dengan Key. Ia sudah tahu bagaimana menghindar dari Key. Ia harus memblok pikirannya sendiri dan tidak berusaha melakukan apapun yang berhubungan dengan pikirannya. Termasuk membaca pikiran dan mengendalikan sesuatu.

“Aah, jadi kau sudah berani berhadapan denganku Kim Jonghyun ?” tanya Key seraya melepas kacamata yang dipakainya. Key mengumpat pelan ketika menyadari tidak bisa menyerang pikiran Jonghyun karena laki-laki itu sudah memblok pikirannya, “Cish~, memblok pikiranmu sendiri ? Ingat Jonghyun, kita sesama Nyx dan aku pasti bisa mempengaruhi pikiranmu,”

Jonghyun menyeringai pelan kemudian menatap kedua mata Key yang sudah berubah menjadi kemerahan. Sebuah tanda yang membedakan dirinya dengan Nyx yang jauh lebih kuat. Mata Nyx yang lebih kuat akan berwarna merah, sedangkan dirinya berwarna coklat, sama seperti manusia lainnya.

“Jadi kita akan bertanding dengan kekuatan ? Baiklah, as your wish,” Key meyeringai kecil lalu mengangkat tubuh mungil Eun Ji yang terbaring di tempat tidur hanya dengan pikirannya.

“Sh*t ! Jangan ganggu Eun Ji !” seru Jonghyun kesal. Ia segera berlari menghampiri Key dan siap memukulnya. Tapi sialnya Key sudah membuat perisai di sekitar tubuhnya sehingga membuat tangan Jonghyun terhenti diudara.

Key menurunkan Eun Ji dengan perlahan di dekatnya. Ia segera menyerang pikiran gadis itu, sontak membuat Eun Ji membuka kedua matanya.

“Op – Arrgh !” Eun Ji mengerang ketika merasakan kepalanya sangat pusing. Dan sedetik kemudian pikirannya beralih. Ia menatap Jonghyun dengan tatapan kosong, lalu melihat Key yang tengah tersenyum padanya.

‘Serang dia princess,’

Eun Ji mengangguk pelan kemudian melangkah mendekati Jonghyun. Ia mengangkat tangannya dan segera mencekik Jonghyun dengan kuat.

‘Bunuh dia,’

Cekikan itu semakin keras, membuat urat-urat di sekitar leher Jonghyun timbul ke permukaan. Kedua mata Jonghyun memerah dan hanya bisa memekik. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berhadapan dengan seorang gadis yang dicintainya dan tidak bisa melawannya.

“Eun –ji, a-ku mo-ho-nn. No-na eun-ji,”

Sekelebat pikiran aneh mulai menganggu pikiran Eun Ji. Ia melepaskan cekikannya pada Jonghyun lalu mengerang karena pikirannya di serang dari berbagai arah. Ia mengingat kenangannya bersama Jonghyun, namun di sisi lain pikiran Key mulai mempengaruhinya dengan sangat kuat.

‘BUNUH DIA !’

Dalam sekali gerakan cepat, Eun Ji kembali mencekik Jonghyun bahkan sebelum laki-laki itu sempat menarik napas. Ia mengangkat tubuh Jonghyun –masih dalam posisi mencekik dan membanting Jonghyun ke sudut ruangan itu. Ia bisa mendengar suara tawaan puas Key dari dalam pikirannya.

Jonghyun merasakan sakit yang amat sangat menyerang punggungnya ketika terbentur lantai dengan keras. Pikiran Key terlalu kuat untuk mempengaruhi gadis lemah seperti Eun Ji. Akhirnya Jonghyun terpaksa membuka blok pikirannya dan berusaha melawan Key yang masih bersarang di pikiran Eun Ji.

“Aargh !” Eun Ji berlutut dan menjambak rambutnya sendiri. Ia menangis ketika melihat Jonghyun yang sudah tidak berdaya dan ia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Jonghyun.

“Aku mohon. Hentikan semua ini,” pinta Eun Ji karena tidak tahu harus melakukan apa ketika ia tidak bisa melawan pikiran Key untuk tetap membunuh Jonghyun.

Eun Ji kembali kehilangan pikirannya. Ia berdiri dari posisi berlututnya dan berjalan dengan pelan ke arah Jonghyun. Kali ini Eun Ji berlutut dan mencengkeram dada Jonghyun dengan kuat. Berusaha menembus kulit Jonghyun dan mengambil sumber kehidupan Jonghyun disana.

Tangan Jonghyun terangkat ketika merasakan hidungnya kembali mengeluarkan darah. Ia hanya bisa diam ketika Eun Ji berusaha menembus jantungnya. Perlahan Jonghyun memejamkan matanya, ia hanya berusaha menyalurkan pikiran positifnya pada Eun Ji.

Dan berhasil. Cengkeraman Eun Ji melemah. Jonghyun membuka kedua matanya dan melihat gadis itu tengah menangis. Ia melihat ke arah Key yang tertawa renyah. Key segera memandang Jonghyun dan kali ini berusaha menyerang pikiran laki-laki itu. Jonghyun mengerang seraya memegangi kepalanya. Darah yang keluar dari hidungnya semakin banyak dan ia tidak bisa menghentikkan itu.

Eun Ji segera mendapatkan kesadarannya lagi. Ia menatap Jonghyun yang tengah mengerang dan menjambak rambutnya sendiri. Gadis itu menggeleng pelan kemudian memeluk Jonghyun dengan erat, berusaha menenangkan laki-laki itu.

“Uuh, sweet moment,” desis Key tidak suka. Ia menaikkan sebelah alisnya dan membuat pelukan Eun Ji terlepas.

Tanpa menunggu Key kembali mensabotase pikirannya, Eun Ji merangkak dengan cepat ke arah Jonghyun lalu mencium bibir laki-laki itu. Erangan Jonghyun mulai berkurang. Eun Ji mencoba menyalurkan kekuatannya sendiri pada Jonghyun agar laki-laki itu tetap kuat. Sebuah ciuman lembut, sama seperti yang Jonghyun berikan tadi ketika di pesta. Ia tahu bahwa sakit Jonghyun akan berkurang dan akan menambah sedikit kekuatan Jonghyun.

Perlahan Eun Ji menjauhkan wajahnya. Gadis itu tidak peduli ketika darah dari hidung Jonghyun sudah membuat wajahnya kotor. Ia memberikan senyuman lalu terjatuh karena kesadarannya hilang. Ia bahkan sudah terlalu lemah untuk kembali bangkit karena tenaganya terkuras untuk melawan pikiran Key tadi.

Jonghyun menatap Eun Ji yang sudah terbaring lemah di dekatnya. Dengan cepat ia bangkit dan menghampiri Key. Dalam sekejap ia pun membuat tubuhnya transparan dan tidak terlihat oleh Key. Salah satu perbedaan dirinya dengan Key. Nyx yang lemah akan bisa menghilang, tapi tidak dengan Nyx yang kuat.

Key segera mengitarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu ketika tidak melihat Jonghyun. Ia mengumpat pelan karena ternyata Jonghyun bisa ingat kelebihannya. Key memejamkan matanya lalu sedikit menghentakkan kaki agar bisa tahu dimana Jonghyun berada.

“Mencariku Kim Kibum ?” tanya Jonghyun sontak membuat Key membuka kedua matanya dan menoleh ke belakang. Jonghyun menyeringai lalu mendorong Key sampai terpental ke belakang dengan pikirannya.

Masih dengan kesadaran penuh, Key bangkit dari posisi terjatuhnya, ia menatap Jonghyun dengan remeh dan segera menyerang pikiran laki-laki itu. Tapi entah kenapa ia tidak bisa melakukannya. Ia malah mendapati mata Jonghyun yang semakin memerah, pertanda bahwa tingkatan Nyx nya sudah meningkat. Key membelalak tidak percaya lalu segera melirik Eun Ji di sebelahnya. Hanya gadis itu yang bsia dijadikannya sebagai senjata saat itu.

“Pengecut,”

BRAK

Tempat tidur yang ada pun berhasil mendarat dengan mulus mengenai tubuh Key. Ia berhasil mencegah Key untuk kembali mensabotase pikiran Eun Ji dan sekarang ia yang akan berusaha membunuh Key. Karena sedikit dukungan dari Eun Ji tadi, kekuatannya sedikit bertambah. Ia merasakan kekuatan pikirannya semakin kuat dan tidak harus merasa pusing ketika berhadapan dengan Key.

“Kau pengecut Kibum. Aku tidak akan membiarkan Eun Ji di manfaatkan lagi,” sebuah siluet berwarna putih tiba-tiba saja muncul di sekitar Eun Ji. Membuat pelindung di sekitar gadis itu agar tidak tertembus apapun termasuk pikirannya dan pikiran Key.

Puing-puing tempat tidur kayu itu pun bergerak, Key bangkit dari dalam reruntuhan itu dan berdiri menghadap Jonghyun. Ia menyeringai kecil lalu menatap kedua mata Jonghyun dengan tajam. Setiap tatapan dari keduanya pun seolah mempunyai senjata masing-masing, yang akan sangat mematikan kalau mereka benar-benar menyerang.

“Let’s begin this war. Both of Nyx,”

***

Jendela di sebuah kamar tampak membiaskan sinar matahari yang masuk ke arah tempat tidur yang ada di dalamnya. Gadis itu mengerang pelan karena merasakan sesuatu yang hangat menembus kulitnya. Dengan malas gadis itu membuka kedua matanya dan terduduk di atas tempat tidur.

Ia baru saja mengalami mimpi yang aneh. Menjadi seorang putri pengusaha, mempunyai supir pribadi tampan yang memiliki kemampuan tersembunyi. Gadis itu terkekeh pelan, mengingat bahwa kedua orangtuanya bahkan sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Lebih parah lagi, di dalam mimpinya ia masih berumur 16 tahun. Berkurang 4 tahun dari umur aslinya sendiri.

“Ya ! Eun Ji-ah ! Kau harus bantu kami di pasar !” terdengar suara teriakan dan suara ketukan pintu yang keras di pintu apartemennya. Eun Ji menggumam pelan lalu segera beranjak dari tempat tidur kecil miliknya.

Dengan hanya menggunakan jaket dan merapikan rambut seadanya, ia segera keluar dari apartemen itu. Menghampiri beberapa wanita yang tengah menunggunya di dekat tangga. Ia segera mengikuti langkah wanita-wanita –yang bahkan seumuran dengan ibunya itu menuju ke sebuah pasar pagi. Ia harus ikut membantu menjual ikan yang baru saja ditangkap para nelayan yang menjadi suami para wanita-wanita itu.

Suasana pasar tampak lebih ramai dari biasanya. Eun Ji harus berkali-kali menerobos orang-orang dan menggumam maaf. Ia segera berdiri di belakang stand penjualan ikan bersama para wanita yang tadi menunggunya dan mulai berteriak. Berlomba siapa yang paling keras berteriak.

“Kau tahu ? Pengusaha muda itu, dia akan datang ke pasar ini,”

Perhatian Eun Ji yang tengah berteriak teralihkan karena mendengar obrolan wanita di sebelahnya. Ia mengendikkan bahu bingung lalu kembali berteriak. Perhatian orang-orang di pasar itu pun teralihkan ketika mendengar teriakan yang cukup keras dari arah barat. Sontak para pembeli –termasuk yang tengah ada di stand nya berlari begitu saja ke arah suara itu.

Eun Ji mengernyit heran dan memilih untuk menyibukkan dirinya dengan merapikan ikan-ikan yang ada. Namun kegiatannya itu terhenti ketika melihat bayangan seorang laki-laki dari cermin kecil di dekatnya. Ia mengangkat kepalanya dan hampir saja terpeleset karena terlalu kaget dengan orang yang berdiri di hadapannya.

“Lee Eun Ji ?” tanyanya seraya melepas kacamata hitam yang dipakainya. Eun Ji meneguk ludahnya dengan keras kemudian mengangguk kecil. Ia memandang ke sekeliling, dimana tatapan orang-orang terarah padanya. Seolah bertanya –bagaimana bisa kau kenal pengusaha muda itu ? –.

“Ne, ada apa ?” tanya Eun Ji tidak mengerti. Dan kali ini dia bisa merasakan detak jantungnya sudah mulai tidak karuan. Ia bahkan baru bertemu pertama kali dengan laki-laki berambut coklat di depannya. Pertama kali, tapi ia merasa sudah mengenal laki-laki itu lama. Ia menatap kedua mata laki-laki itu kemudian menggelengkan kepalanya sendiri ketika mendengar sebuah suara aneh di kepalanya.

‘Aku Kim Jonghyun. Tentu kau tahu itu. Kita ada di mimpi yang sama tadi malam,’

Bisikan itu membuat Eun Ji mengernyit heran. Apa mungkin laki-laki itu memiliki kemampuan seperti di dalam mimpinya tadi malam ? Itu berarti dia harus menjaga jarak dengan laki-laki di depannya.

‘Aku tidak sehebat seperti di dalam mimpi kita semalam. Aku hanya manusia biasa, kemampuanku hanya bisa membaca pikiran dan memasuki pikiran orang lain. Tidak untuk mengendalikan apapun yang aku mau. Jadi kita bisa berteman bukan ?’

Sebuah senyuman mengembang di bibir Jonghyun dan Eun Ji. Jonghyun mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik oleh gadis itu. Ia segera menarik Eun Ji keluar dari stand dan memeluknya dengan erat. Membenamkan kepala Eun Ji diantara lipatan tangannya yang hangat dan terus dalam posisi seperti itu selama beberapa menit. Tidak peduli orang-orang yang sudah mulai ricuh karena melihat adegan pelukan itu di tengah-tengah pasar.

“Ahjumma, aku mau ikan ini,” seru seorang laki-laki, yang suaranya sudah mulai dikenali Eun Ji sejak mimpi semalam. Ia melepas pelukan Jonghyun dan menatap seorang laki-laki berambut sedikit pirang yang tengah berdiri di depan standnya. Tatapan Jonghyun pun terarah pada laki-laki berkacamata itu kemudian segera menarik Eun Ji ke dalam pelukannya.

“Aku tidak akan membiarkanmu terlihat laki-laki itu lagi dan membuat mimpi kita semalam benar-benar menjadi kenyataan,”

“Ayolah Jonghyun, dia hanya manusia biasa juga seperti kita,”

“Dia tetap Kim Kibum, Key. Dan akan mengganggu hubungan kita karena kita bertemu di waktu yang hampir bersamaan,”

“Ya ! Kita bahkan baru bertemu dan berkenalan beberapa menit yang lalu,”

“Tapi tidak dengan hati kita bukan ?”

“Maksudmu ?”

“Saranghae. Aku mencintaimu, nona Eun Ji,”

“Cish~. Kau masih saja memanggilku dengan sebutan itu. Seharusnya aku yang memanggilmu tuan –Aww !”

“Jawab pertanyaanku, bodoh,”

“Baiklah, baiklah. Aku juga mencintaimu, puas ?”

 

-FIN-

4 thoughts on “[FanFict] NYX

  1. Wwaaawww KEREN…
    Like This,,

    aku suka bgt. aku kira itu kenyataan, ternyata mimpi..
    hehe

    Lanjut ke ff selanjut nya.
    trus berkarya ya eonni..
    keren keren, ,

    Hwaiting…!

    oh iya aku readers baru
    mohon bimbingan nya.
    *bow
    aku juga udah baca ff-ff sebelum nya. dan semua nya DAEBAKK…

  2. uuu amazing. imajinasinya ngena banget apalagi pas key ngontrol pkirannya Eunji suruh bunuh si jonghyun. hohoho keep writting ya:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s