[FanFict] Irreplaceable (Bridesmaid’s side story)

Title       : Irreplaceable

Author  : Ima Shineeworld

Length  : Oneshot

Genre   : Friendship, AU, Romance

Cast       : Kang Yoon Mi, Kim Jonghyun, Lee Eun Ji, Choi Minho

Rating  : PG+15

Note      : Yang di quote itu flashback ya. Gomawo ^^

[Irreplaceable] [Bridesmaid]

_Byeong-nam Hospital – Seoul_

Laki-laki itu membulatkan matanya tidak percaya, melihat seorang dokter menggeleng ketika memeriksa gadis di depannya. Ia menggenggam tangan gadis itu dan berdoa dalam hati untuk menyalurkan kekuatannya pada gadis –berambut pendek di depannya itu. Tidak ada yang bisa dilakukannya ketika melihat alat pendeteksi jantung yang sudah berubah menjadi sebuah garis.

“Aku mohon Eun Ji. Kau harus bangun sekarang. Kita harus melanjutkan pernikahan ini,” pekik laki-laki itu dan tidak bisa membendung air matanya yang sudah mengaburkan kedua matanya. Akan percuma penantiannya selama satu tahun ini, kalau gadis di depannya benar-benar tidak akan bangun.

“Aku mencintaimu Eun Ji,” gumamnya pelan lalu melepaskan genggamannya dari gadis itu. Jonghyun baru saja akan beranjak pergi ketika sebuah suara menghentikan langkahnya. Alat pendeteksi jantung itu kembali membentuk sebuah garis-garis turun naik yang tidak beraturan.

“Astaga. Keajaiban apa ini ?” tanya seorang dokter yang menangani Eun Ji tidak percaya. Jonghyun mendekat ke arah tempat tidur itu dan segera mengelus puncak kepala Eun Ji. Ia tidak bisa menahan tangisnya melihat kedua mata yang selalu disukainya itu mulai terbuka perlahan-lahan.

“Jonghyun,” gumam Eun Ji pelan seraya memiringkan kepalanya sedikit. Ia sedikit kesusahan karena alat penyangga yang terpasang di lehernya. Jonghyun mengangguk pelan lalu sedikit mencondongkan tubuhnya, lebih mendekat ke arah gadis itu.

“Aku disini,” balas Jonghyun cepat. Eun Ji tersenyum lembut di balik alat bantu nafas yang dipakainya kemudian membalas genggaman tangan Jonghyun.

“Aku bermimpi kau meninggalkanku untuk perempuan lain. Kau tidak akan melakukan hal itu ‘kan ?” tanya Eun Ji dengan nada lemah. Jonghyun segera mengangguk dan mengecup puncak kepala gadis itu. Ia berjanji untuk tidak meninggalkan gadis itu lagi.

***

One Year ago

Eun Ji segera keluar dari restoran itu sambil sesekali menghapus air mata yang selalu keluar dari kedua matanya. Sudah hampir 3 botol soju yang diminumnya, dan sekarang kesadarannya sudah hampir hilang. Ia berjalan pelan menelusuri jalanan kota Seoul kemudian berhenti di depan sebuah boutique yang menjual berbagai macam gaun pengantin. Ia mendesis pelan lalu masuk ke dalam boutique –yang sudah hampir tutup itu.

“Maaf nona. Kami sudah mau tutup,” ujar salah satu pelayan wanita, pada Eun Ji yang masih memandang sebuah gaun pernikahan yang terpajang di dalam boutique itu.

“Apa aku salah sudah mengundur tanggal pernikahan kita hah ? Apa aku salah lebih mementingkan appa yang tengah sakit parah sekarang ? Aku tidak mungkin mengadakan pesta pernikahan, sementara appa sedang sakit dan tidak bisa menjadi pendampingku,” seru Eun Ji pada bayangan dirinya sendiri di sebuah cermin di dalam boutique itu.

“Kau lebih memilih wanita itu daripada aku yang sudah berpacaran selama hampir 3 tahun denganmu ? Cish~, hidupku miris sekali bukan ?” Eun Ji tertawa pelan lalu memukul cermin itu dengan kepalan tangannnya. Tetesan cairan berwarna merah pekat pun membasahi karpet boutique itu. Pelayan wanita yang tengah memandangi Eun Ji pun segera membantu gadis itu berdiri dan mendorongnya keluar boutique itu.

Eun Ji masih saja berjalan dengan terseok dan tidak memedulikan darah yang terus mengalir dari jari-jari tangan kanannya. Beberapa orang tampak memandangnya khawatir, tapi ia mencoba menghiraukan itu semua.

Terasa sangat sakit di bagian dada gadis itu, ketika Jonghyun meluncurkan kata-kata –yang paling ditakutinya itu tadi. Rasanya kejadian menyedihkan itu baru beberapa menit berlalu, tapi sudah terasa sangat lama bagi Eun Ji. Ia memukul-mukul dadanya sendiri lalu duduk di sebuah halte bis.

“Kau bahkan tidak peduli kalau aku mati sekarang ‘kan, Kim Jonghyun,” gumamnya pelan lalu menyeringai kecil. Ia berjalan pelan ke tengah jalanan –yang sangat ramai itu kemudian memejamkan matanya. Mencoba mengenyahkan ingatan ketika Jonghyun memutuskan hubungan dengannya. Dan bersamaan dengan itu, tubuhnya terhempas entah kemana. Yang muncul di dalam pikirannya saat itu adalah kencan pertamanya bersama Jonghyun.

***

Eun Ji terus saja menatap Jonghyun yang terlihat serius memilih gaun pernikahan. Ada sebagian ingatan dari otaknya yang terhapus. Ia tahu itu. Tapi ia tidak tahu ingatan tentang apa, sampai membuatnya lupa dengan hal itu. Mungkin suatu kenangan buruk, atau mungkin kenangan yang paling indah. Tapi entah kenapa, dadanya terasa sesak setiap kali Jonghyun berbicara dengan wanita lain.

“Kau mau putih atau biru muda ?” tanya Jonghyun, membuyarkan lamunan Eun Ji tentang laki-laki itu. Eun Ji menatap sebuah buku berisi dekorasi hall untuk pernikahan dan menunjuk tema berwarna biru.

“Biru muda saja. Gomawo,” Eun Ji mengitarkan pandangannya pada seluruh bagian butik itu. Ia sering pergi ke butik pernikahan itu bersama Jonghyun. Tapi setelah kesadarannya satu bulan yang lalu dan kembali datang ke butik itu, ada sesuatu yang aneh. Dadanya juga terasa sesak dan ia selalu saja ingin menangis.

“Jonghyun-ah. Apa kita pernah punya kenangan buruk ?” tanya Eun Ji tiba-tiba. Jonghyun tersentak dan segera menoleh ke arah gadis itu.

“A-aniyo. Kita tidak pernah ada masalah,” jawab Jonghyun lalu mengacak rambut Eun Ji. Gadis itu tersenyum ragu kemudian kembali memandang gaun pernikahannya.

Jonghyun menggelengkan kepalanya sendiri ketika ingat apa yang dilakukannya bersama Yoon Mi dulu. Ia memang mencintai gadis itu. Tapi setelah Yoon Mi pergi, rasa cintanya itu perlahan memudar. Dan setelah tahu Eun Ji mengalami kecelakaan, ia tidak memikirkan apapun yang ada di sekitarnya. Ia hanya berlari menuju rumah sakit dan anehnya tidak merasa lelah sama sekali ketika menemukan Eun Ji tidak terluka parah, walaupun koma. Dan ia tahu bahwa ia hanya mencintai Eun Ji. Bukan Yoon Mi, karena gadis itu hanya lewat di hidupnya saja.

“Jonghyun-ah, apa ini bagus ?” tanya Eun Ji, membuat Jonghyun tersadar dari perjalanannya ke masa lalu. Ia berdiri dari kursinya dan memeluk Eun Ji dengan lembut, tidak peduli bahwa gadis itu tengah memegang sebuah gaun pernikahan.

“Jangan pernah bertindak bodoh lagi,” gumam Jonghyun tiba-tiba. Eun Ji terkekeh pelan kemudian membalas pelukan Jonghyun.

“Ne~. Saranghae,” balas Eun Ji, membuat senyuman di wajah Jonghyun semakin lebar.

“Nado~,” Jonghyun melepas pelukannya dan menatap Eun Ji lekat-lekat, “Bagaimana kalau kita latihan ciuman untuk pernikahan nanti ?”

PLETAK

Eun Ji memukul puncak kepala Jonghyun lalu melengos pergi begitu saja untuk menaruh kembali gaun yang tadi di ambilnya. Ia menjulurkan lidahnya pada Jonghyun kemudian menghampiri seorang wanita yang baru saja memanggilnya.

Jonghyun hanya bisa meringis dan merutuki Eun Ji. Tentu saja harus latihan dulu. Bagaimana kalau nanti, ia sangat gugup dan tidak bisa melakukannya dengan baik ? Memalukan bukan ?

Laki-laki itu mengeluarkan ponsel miliknya dan mencari sebuah nomor ponsel yang baru didapatnya seminggu yang lalu.

“Minho-ssi, aku mau mengundangmu ke pernikahanku. Ne, minggu depan. Jangan lupa datang,”

***

Tidak ada yang bisa dilakukan gadis itu selain menangis. Ia sangat ingat bagaimana ekspresi laki-laki itu ketika ia meninggalkannya. Sangat kecewa, sedih, dan sedikit tidak percaya. Mungkin ia tidak akan melakukan pelarian itu kalau saja hatinya tidak bingung. Ia tidak mau menyakiti keduanya dengan memilih salah satu di antara mereka. Apalagi mengingat Jonghyun yang memutuskan hubungannya dengan Eun Ji hanya untuk memilihnya. Dan mengingat Minho yang sudah bersamanya selama lebih dari 1 tahun.

Baby, kau sudah makan ?” tanya nyonya Kang seraya membuka pintu kamar anaknya dengan perlahan. Yoon Mi segera menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya lalu segera bangun dari posisi tidurnya. Ia tersenyum pada ibunya lalu beranjak bangun dari tempat tidur.

“Eomma masak apa hari ini ?” tanya gadis itu sedikit manja, menggamit lengan nyonya Kang dengan erat. Nyonya Kang memukul pelan puncak kepala Yoon Mi lalu mendudukkan gadis itu di meja makan.

“Kau masih berani manja seperti itu ? Harusnya kau sudah bermanja-manja dengan suamimu sendiri Yoon Mi,” ucapan nyonya Kang itu cukup membuat Yoon Mi tersedak susu yang tengah diminumnya. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri lalu mendelik ke arah ibunya sendiri. Jangan pernah bicarakan itu di depannya, ia tengah sensitive dengan hal yang berbau pernikahan setelah kejadian –kau tahu apa itu.

“Apa kau tidak punya pacar di Korea ?” tanya nyonya Kang seraya memotong steak ayam miliknya. Yoon Mi menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya secara asal kemudian mengendikkan bahu acuh.

“Jangan tanya tentang itu. Ah iya, dimana appa ?” tanya Yoon Mi berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Dia di kantor tentu saja. Kau tidak pergi dengan Amber hari ini ?” nyonya Kang menatap anaknya sedikit khawatir ketika melontarkan pertanyaan itu. Entah kenapa ia khawatir ketika mendapati anaknya sering pergi bersama Amber –anak seorang pemilik toko Roti di sebelah rumahnya sejak kembali ke Jerman. Melihat Amber yang terlihat seperti laki-laki, dan nyonya Kang khawatir anak gadisnya itu memiliki sedikit kelainan.

“Aku tidak suka padanya eomma. Aku masih normal dan suka laki-laki. Kau tidak perlu khawatir,” jawab Yoon Mi seolah tahu arti tatapan ibunya. Nyonya Kang sedikit menghela napas lega kemudian melanjutkan sarapannya. Mungkin saja bukan ? Apalagi Yoon Mi yang terlihat tidak peduli dengan kisah cintanya.

***

_Coffee Center, Berlin_

Entah apa yang harus dilakukan Yoon Mi untuk membunuh waktu siang itu. Ia hanya menatap cappucchino pesanannya dengan tidak berselera lalu menatap keluar jendela café itu. Selalu saja seperti itu setiap harinya dalam setahun terakhir. Mencoba melupakan semuanya yang berhubungan dengan masa lalunya.

“Yo~, Kang Yoon Mi. How are you today ?” tanya Amber dengan logat Amerika khas miliknya. Yoon Mi mendesis pelan kemudian memukul lengan Amber dengan cukup keras. Perempuan –yang lebih terlihat seperti laki-laki itu mengerang pelan dan siap membalas Yoon Mi, tapi segera terhenti ketika melihat gadis itu mengangkat sebuah sendok. Amber kembali menurunkan tangannya dan melipatnya ke atas meja.

“Kau mau curhat lagi ?” tanya Amber, sedikit menyindir Yoon Mi. Yoon Mi memekik pelan lalu menghela napas panjang.

“Ne~,” jawab Yoon Mi akhirnya. Amber menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa seraya memandang Yoon Mi yang kembali murung.

“Ah ah, biar aku tebak apa yang akan kau katakan,” Amber sedikit mencondongkan tubuhnya, untuk menatap Yoon Mi dengan jarak yang cukup dekat, “’Astaga Amber. Kau sangat mirip dengan Jonghyun. Kalau melihatmu terus aku tidak bisa melupakannya. Kenapa juga aku harus punya sahabat yang mirip seperti laki-laki itu sih’” tambah Amber, dengan meniru-nirukan gaya berbicara Yoon Mi dengan sedikit dibuat-buat.

“Ya ! Amber Liu !” pekik Yoon Mi lalu memukul kepala Amber dengan sendok yang tengah dipegangnya. Ia mendengus pelan kemudian menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.

Kata-kata Amber sangat tepat. Setiap melihat perempuan tomboy di depannya itu, ia selalu ingat Jonghyun. Wajah keduanya sangat mirip dan Yoon Mi selalu membayangkan bahwa Amber itu adalah Jonghyun. Mungkin terdengar gila, ketika ia berusaha melupakannya, tapi ia malah semakin ingat karena Amber. Tapi ia bersyukur karena Amber seorang wanita.

Dan laki-laki bernama Choi Minho itu, Yoon Mi tidak pernah tahu bagaimana kabarnya. Walaupun pikirannya hampir penuh dengan semua ekspresi Jonghyun, ada satu wajah yang tidak pernah bisa dilupakan gadis itu dan menjadi yang paling besar diantara semuanya. Wajah seorang Choi Minho. Apa ia masih menyukainya ? Entahlah, ia sangat bingung.

“Kau melamun lagi eh ?” tanya Amber menyadarkan lamunan Yoon Mi lagi. Gadis itu segera tersadar kemudian menyesap cappucchino-nya yang sudah mulai dingin.

“Aku merindukannya,” gumam Yoon Mi pelan. Amber mengerutkan keningnya lalu mengacak rambut gadis itu dengan kasar.

“Kau harus bertemu dengannya –yang kau maksud itu Yoon Mi-ya,” balasnya lalu segera memesan kopi pada pelayan. Sedangkan Yoon Mi hanya memainkan cangkir kopinya seraya memikirkan kata-kata Amber tadi. Tidak ada salahnya juga. Tapi Minho mungkin tidak peduli padanya lagi. Dan Jonghyun, mungkin laki-laki itu sudah kembali lagi dengan Eun Ji. Jadi, siapa yang harus ditemuinya ?

***

Seorang laki-laki tampak memandangi cincin dalam sebuah kotak yang ada di genggamannya. Ia sudah membeli cincin itu sekitar dua tahun yang lalu, tapi belum diberikan pada gadis yang di cintainya. Dan gadis yang dicintainya itu sudah pergi satu tahun yang lalu, tepat sebelum ia memberikan cincin itu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan menyangkut cincin itu, menunggu gadis yang dicintainya datang kembali –walaupun tidak mungkin, atau menyerahkannya pada gadis lain.

“Oppa ! Kau sudah lama ?”  Minho segera memasukkan kotak kecil itu ke dalam saku jaketnya lalu tersenyum pada seorang perempuan yang duduk di hadapannya.

“Ahni, baru beberapa menit,” jawab Minho seraya mengacak rambut gadis itu, “Kau mau pesan makanan dulu ?”

“Keurae,”

Minho menatap gadis di depannya itu dengan sebuah senyuman. Mungkin ia memang harus membuka hatinya orang lain. Tidak peduli bahwa perasaannya itu tidak bisa menghapus Yoon Mi. Ia masih harus hidup bukan ? Dan tidak mungkin ia hidup dalam keterpurukan seperti itu.

“Ne, gomawo,” balas seorang pelayan setelah mencatat pesanan gadis itu. Gadis berambut panjang dan bergelombang yang duduk bersama Minho itu kini mengitarkan pandangannya ke seluruh penjuru café.

“Krystal-ah,” panggil Minho, membuat gadis itu menoleh ke arahnya.

“Aku menyukaimu,” ujar Krystal tiba-tiba bahkan sebelum Minho membuka mulutnya. Minho mengerutkan keningnya heran kemudian tertawa. Ia menepuk puncak kepala Krystal dengan lembut lalu menatap gadis yang lebih muda 3 tahun darinya itu.

“Aku juga menyukaimu,” balas Minho membuat senyuman Krystal semakin melebar, “Sebagai adikku, tidak lebih,”

Setelah sempat terbang, Krystal malah jatuh kembali ke tanah ketika mendengar kelanjutan dari ucapan Minho. Ia mengerucutkan bibirnya kesal dan hanya bisa melampiaskan kekesalannya itu dengan meminum cokelat hangatnya. Kenapa Minho ‘oppa’ nya itu belum bisa melupakan masa lalunya. Padahal ia sudah menunggu momen Minho putus dengan kekasihnya itu sejak dulu.

“Kau masih belum melupakannya oppa ?” tanya Krystal, membuat Minho tersedak. Laki-laki itu menyeka mulutnya lalu tersenyum pada Krystal yang masih saja terlihat kesal.

“Aku tidak bisa menganggapmu lebih dari adik Krystal Jung,” jawab Minho, mencoba menghibur Krystal. Gadis itu hanya tersenyum tipis kemudian menyibukkan diri dengan minumannya lagi.

Minho menatap salju yang mulai turun. Sudah 1 tahun lebih ia tidak bertemu dengan Yoon Mi tentu saja. Ia masih tidak percaya bahwa hubungannya dengan Yoon Mi berakhir begitu saja. Ia masih ingin tahu apa penyebab gadis itu memutuskan hubungannya. Kalau memang selain Jonghyun.

***

Yoon Mi menghirup napasnya dalam-dalam ketika melangkahkan kakinya ke salah satu bandara terindah di dunia itu. Selama 1 tahun ia tidak merasakan hawa Negara itu. Ia sangat merindukan Negara itu, atau mungkin bahkan seseorang yang tinggal di dalamnya. Ia menggelengkan kepalanya lalu menarik koper keluar dari bandara Incheon. Sebuah senyuman muncul di bibirnya ketika akhirnya ia bisa naik bis lagi, walaupun harus membawa koper besar berisi bajunya.

Beruntung, ia tidak menjual apartemennya dulu. Jadi ia tidak perlu repot menyewa apartemen baru dan hanya tinggal merebahkan diri di atas tempat tidur. Walaupun mungkin sedikit berdebu karena ditinggal sudah sangat lama.

Yoon Mi menghela napas panjang ketika tubuhnya sudah menyentuh kasur. Perjalanan yang cukup panjang itu cukup membuatnya lelah. Ia menoleh ke arah nakas di dekat tempat tidurnya kemudian tersenyum. Ia segera bangkit dan meraih sebuah bingkai foto yang berisi fotonya bersama Minho ketika masih SMA dulu. Ia bahkan hampir lupa bahwa dulu pernah satu sekolah dengan Minho.

“Sepertinya jalan-jalan di sekitar sini bagus juga,” gumamnya lalu beranjak dari tempat tidur untuk berganti baju.

Tidak ada yang berubah di sekitar apartemen Yoon Mi, menurutnya. Ia melihat-lihat beberapa toko di sekitar apartemennya masih sama seperti dulu. Dan hanya ada beberapa yang sedikit diubah dekorasinya. Gadis itu menghela napas panjang kemudian tersenyum lebar. Sepertinya, suasana kota Seoul yang dirindukannya ketika di Jerman dulu.

“Agasshi, aku mau es krim cokelat satu,” serunya pada seorang wanita muda penjaga kedai es krim itu. Yoon Mi mengambil tempat duduk di sudut kedai itu seraya menunggu pesanannya datang. Ingatannya memutar kembali ketika Minho selalu mengajaknya ke kedai es krim itu dulu.

Tidak butuh waktu lama untuk menunggu pesanannya datang. Ia menggumam terima kasih pada pelayan wanita –yang menurutnya sangat cantik itu kemudian memakan es krimnya. Ia terus saja menatap pelayan wanita muda itu kemudian tersenyum kecil. Dari cara melayaninya saja, ia bisa menduga kalau gadis itu masih SMA.

Yoon Mi mengendikkan bahu lalu memperhatikan es krim yang sudah ada di hadapannya. Ia mendesis pelan ketika menyadari kedua matanya mulai mengabur karena air mata. Entah kenapa, ia sangat ingin bertemu Minho saat itu.

“Krystal-ah !” panggil seorang laki-laki yang baru saja memasuki kedai es krim itu pada wanita muda yang baru saja melayani Yoon Mi tadi. Yoon Mi mengangkat kepalanya sejenak dan memandang punggung laki-laki yang kini tengah berbicara dengan gadis itu. Jujur saja, ia merasa sedikit iri, melihat gadis itu tertawa bahagia ketika sang laki-laki mengacak rambutnya.

“Minho oppa. Bulan depan, sekolahku mengadakan study tour ke Hokkaido,” ujar gadis itu, sontak membuat Yoon Mi menjatuhkan sendok es krim yang tengah di pegangnya. Ia menatap punggung laki-laki itu dan sedikit tersentak ketika mendengar suaranya. Postur tubuhnya, suaranya, dan caranya memperlakukan wanita sangat sama dengan Minho. Apa mungkin. . ?

“Ah, selamat datang,” sapa Krystal pada seorang wanita paruh baya yang baru saja memasuki kedai es krim itu.

Minho menyingkir dari bagian depan kasir dan memilih mengitarkan pandangannya pada seluruh penjuru kedai itu. Sebuah senyuman pun muncul di bibirnya ketika ingat banyak kenangan yang dilaluinya bersama Yoon Mi maupun Krystal. Tapi senyumannya itu lenyap begitu saja saat melihat seorang wanita yang tengah menatapnya.

“Yoon Mi ?” gumam Minho tidak percaya.

Yoon Mi segera tersadar ketika menyadari bahwa ia terus menatap laki-laki –yang ternyata memang Minho itu. Ia meraih tas slempang kecil yang dibawanya kemudian keluar dari kedai itu dengan sedikit berlari. Ia melewati Minho yang masih saja menatapnya.

“Kang Yoon Mi !”

Yoon Mi mengacuhkan panggilan Minho itu dan terus melangkah dengan cepat. Ia berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh lagi. Hatinya cukup sakit melihat Minho memperlakukan gadis itu dengan sangat baik. Keduanya lebih terlihat seperti sepasang kekasih. Tapi kenapa ia menangisi itu ? Ia bahkan sudah tidak ada hubungan apapun dengan Minho.

Tubuh Yoon Mi sedikit terpelanting ke belakang ketika merasakan sesuatu mencengkeram bahunya. Ia segera menyeimbangkan berat tubuhnya dan berbalik untuk menghadap seorang laki-laki yang sudah menarik bahunya.

“Kau benar-benar Kang Yoon Mi ?” tanya Minho, masih tidak percaya seraya membulatkan kedua matanya. Yoon Mi menyingkirkan tangan Minho yang memegangi bahunya lalu berlalu dari hadapan laki-laki itu.

“Aku merindukanmu,” Minho memeluk gadis itu dari belakang dan melingkarkan kedua tangan besarnya di leher Yoon Mi. Ia tidak peduli orang-orang menatap ke arahnya. Ia hanya seperti sedang bermimpi –ketika akhirnya bisa melihat gadis itu di kehidupan nyata.

“Minho-ssi, tolong lepaskan. Aku bukan pacarmu lagi yang bisa seenaknya kau peluk,” balas Yoon Mi, mencoba melepaskan tangan Minho yang melilit lehernya. Minho tersenyum samar dan tetap tidak menggubris seluruh perintah gadis itu.

“Sebentar lagi. Aku sangat merindukanmu,”

***

Minho membawa dua gelas teh hangat yang selesai dibuatnya ke atas meja ruang tamu. Ia mengambil tempat duduk di seberang gadis itu. Mencoba menghilangkan kecanggungan, setelah satu tahun lebih mereka tidak bertemu. Minho hanya memandang Yoon Mi, tanpa melepaskan senyuman dari wajahnya. Tidak tahu kata-kata apa yang bisa melukis perasaannya saat itu.

“Kau darimana saja selama ini, chagiya ?” tanya Minho, sontak membuat Yoon Mi mengerutkan keningnya heran.

“Ah, ayolah. Aku bukan pacarmu lagi Choi Minho,” jawab Yoon Mi lalu meminum teh yang dibuat Minho untuknya. Ia mengitarkan pandangan ke seluruh bagian apartemen Minho dan sedikit kagum karena tidak ada yang berubah. Hanya saja, fotonya bersama Minho sudah tidak terpajang di ruangan itu lagi.

“Kau mencari foto kita, eh ?” tanya laki-laki itu lagi, tepat seperti apa yang dipikirkan Yoon Mi. Yoon Mi segera menggeleng kemudian menggosok-gosokkan tangannya.

“Pacarmu cantik juga,” ujar Yoon Mi tiba-tiba. Minho menaikkan sebelah alisnya seraya berpikir. Dan detik berikutnya, apartemen Minho dipenuhi tawa laki-laki itu. Yoon Mi hampir saja tersedak karena tawa Minho yang tiba-tiba.

“Pacarku ? Aku tidak pernah –”

“Minho oppa ! Aku datang,”

Yoon Mi menoleh ketika mendengar teriakan seorang wanita, disusul pintu apartemen Minho yang terbuka juga. Krystal menghentikkan langkahnya dan menatap Yoon Mi dengan heran. Ia membungkuk singkat pada gadis itu kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Minho.

“Sepertinya aku mengganggu,” Yoon Mi mengambil mantel dan tas miliknya lalu berdiri dari sofa. Ia membungkuk pada Minho dan Krystal kemudian keluar dari apartemen Minho.

“Yoon Mi,” langkah Yoon Mi terhenti ketika mendengar suara Minho di belakangnya. Baru saja ia akan melangkah, Minho sudah memeluknya lagi dari belakang. Entah kenapa ia sangat menyukai pelukan Minho yang seperti itu.

“Krystal bukan siapa-siapa. Dia sudah kuanggap adikku sendiri. Dan kau harus tahu, aku masih mencintaimu,” bisik Minho pelan. Yoon Mi merasakan dadanya menjadi sesak saat menyesali apa yang pernah dikatakannya dulu. Setitik cairan bening pun mulai menuruni kedua pipinya. Ia berbalik dan segera memeluk Minho dengan erat.

“Aku merindukanmu,” gumamnya lalu semakin mempererat pelukannya itu. Ia bisa mendengar detak jantung Minho yang berpacu lebih cepat.

“Jonghyun sudah menikah,” ucapan Minho sontak membuat Yoon Mi melepas pelukannya. Ia menatap Minho kemudian menggeleng pelan.

“Kapan ? Kenapa dia tidak mengundangku ? Apa dia menikah dengan Eun Ji ? Kenapa bisa secepat itu ?” tanya Yoon Mi bertubi. Minho tersenyum lebar lalu mengacak rambut gadis itu dengan lembut.

“Apa kita mau mengobrol berdiri seperti ini ? Ayo masuk,” Minho menarik tangan Yoon Mi untuk kembali masuk ke apartemennya. Gadis itu bisa melihat Krystal yang tengah sibuk menyusun makanan ke dalam kulkas. Krystal mengangkat kepalanya sejenak dan tersenyum pada Yoon Mi.

“Yoon Mi eonni. Mianhae, aku tidak bermaksud membuatmu cemburu tadi,” gumamnya, membuat semburat merah muncul di pipi Yoon Mi. Yoon Mi segera menggeleng kemudian kembali duduk di sofa apartemen Minho.

“Kau tahu, eonni ? Minho oppa sudah seperti orang gila ketika tahu kau menghilang tiba-tiba,” tambah Krystal lagi, dan kali ini membuat Minho malu. Yoon Mi terkekeh pelan lalu melirik ke arah Minho yang malah menundukkan kepala.

“Ya ! Dasar anak kecil !” pekik Minho tidak terima, karena merasa harga dirinya jatuh. Minho segera membekap mulut Yoon Mi yang masih saja tertawa.

“Itu karena aku mencintaimu, bodoh,” ujar Minho, dan berhasil membuat tawaan Yoon Mi berhenti. Gadis itu melepaskan tangan Minho dari mulutnya dan segera memberi kecupan di pipi laki-laki itu.

“Tebak sendiri apa maksud ciumanku tadi,”

“Hya ! Kang Yoon Mi !”

***

Yoon Mi terus saja menangis walaupun Minho sudah berusaha menenangkannya. Ia terus memukul dada bidang Minho dan tidak mau beranjak dari taman –yang sangat ramai di sore hari itu. Beberapa orang tampak memperhatikan mereka dan merutuki Minho karena membuat gadis itu menangis. Bahkan tidak jarang anak kecil memberi saran pada Minho untuk menenangkan gadis itu.

“Kenapa kau harus pergi huh ? Kenapa harus ke Jepang ?” tanya Yoon Mi sambil terus terisak. Minho mendekat dan mulai memeluk gadis itu. Tapi pelukannya itu malah membuat tangisan Yoon Mi semakin keras.

“Mianhae. Appa sedang sakit, jadi sementara aku akan mengurus peternakan miliknya dulu disana,” jawab Minho, berusaha membuat Yoon Mi sedikit lebih tenang.

“Berapa lama ? Aku baru pulang seminggu yang lalu, tapi kau sudah mau pergi lagi ?” Yoon Mi melepas pelukan Minho dan menatap laki-laki itu dengan kesal.

“Satu tahun sampai dua tahun mungkin. Mian, aku baru dapat kabar tadi pagi,” balas Minho dengan nada selembut mungkin. Yoon Mi menghentakkan kaki kanannya ke tanah kemudian berlari meninggalkan Minho.

“Ya !” Minho segera mengejar gadis itu. Ia menabrak beberapa orang yang menghalangi jalannya dan menarik tangan Yoon Mi untuk mengikutinya ke daerah pinggir sungai Han –yang berjarak tidak terlalu jauh.

Keduanya duduk di sebuah kursi. Tangisan Yoon Mi sudah mulai mereda, dan kini hanya isakan kecil yang terdengar. Minho menoleh pada Yoon Mi lalu menepuk puncak kepala gadis itu dengan tangan kirinya. Ia menarik kepala Yoon Mi untuk bersandar di bahunya sejenak.

“Aku janji akan sering menghubungimu, tidak akan selingkuh, dan bekerja dengan baik supaya kita cepat menikah,” papar Minho, tapi tetap tidak membuat hati Yoon Mi lega.

“Apa kita harus berpisah lagi ? Aku sudah sangat tersiksa ketika tidak bisa melihatmu di Jerman, Choi Minho,” balas Yoon Mi. Minho terkekeh pelan mendengarnya dan semakin merapatkan kepala Yoon Mi ke bahunya.

“Siapa suruh kau menghilang tiba-tiba, huh ? Beralasan untuk menenangkan pikiran karena bingung. Jelas-jelas kau mencintaiku,”

PLETAK

“Aww, Ya !” pekik Minho ketika sebuah batu kecil melayang tepat mengenai kepalanya. Yoon Mi bersorak senang ketika tendangan kecil dari kakinya berhasil membuat sebuah batu mengenai kepala Minho. Sepertinya ia harus bertanding sepak bola dengan Minho sesekali.

“Aish, dwaesseo ! Aku tidak peduli lagi. Kau boleh pergi ke Jepang. Tapi jangan salahkan aku, kalau nanti kau pulang aku sudah berstatus istri orang lain,”

“Ya ! Neo mworago ?!”

“Benar ‘kan ? Apa ada yang salah ?”

“Keurae ! Kau hanya akan berstatus nyonya Choi. Bukan yang lainnya !”

“Itu pemaksaan namanya,”

“Tapi kau mencintaiku Kang Yoon Mi !”

“Aku tidak pernah mengatakan itu,”

“Tapi kau selalu mencium pipiku, bodoh,”

“Apa itu berarti aku mencintaimu ?”

“Aaargh ! Ya, terserah kau saja,”

Yoon Mi terkekeh pelan melihat wajah Minho yang memerah karena kesal. Perdebatan seperti itulah yang selalu dirindukannya bersama Minho. Dan pada akhirnya laki-laki itu yang selalu kalah. Yoon Mi sedikit berdiri dari kursi kemudian mengecup pipi Minho lagi.

“Aku percaya. Kau boleh pergi ke Jepang,”

[Irreplaceable end]

5 thoughts on “[FanFict] Irreplaceable (Bridesmaid’s side story)

  1. aaa eoni cerita’a seruu🙂 .. like yoon mi – minho couple hhehe ..

    tpi lihat di cast’a Kang Yoon Mi, Kim Jonghyun, Lee Eun Ji, Choi Minho. apa nanti’a yoon mi – jjong ?? haah gk relaa😦

  2. Omo! aku komen brisedmaid ama brisedmaid side story-nya disini aja yaaa
    kyaaaa~
    aku suka bangetttt huaaa feelnya kerasa, ini ff bikin aku galau. sedikit dukung yoonmi sama jjong abis itu lgsg ganti yoonmi sama minho kyaaaa daebakk

  3. Swiiiiit swiiiit ~
    Khekhekhe #plak
    Sukaaaa banget ending nyaaaaa un, tapi naggung kenapa gak sampe nikah aja skalian😀 kkkkk ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s