[FanFict] Bridesmaid

Title       : Bridesmaid

Author  : Ima Shineeworld

Length  : Oneshot

Genre   : Family, AU, Romance

Cast       : Kang Yoon Mi, Kim Jonghyun, Lee Eun Ji, Choi Minho

[Bridesmaid]

Suara alarm dari sebuah ponsel membuat gadis itu tersadar dari tidur lelapnya. Gadis itu mengerjap bangun dan segera melirik jam di nakas dekat tempat tidurnya. Sontak ia melempar selimut yang menutupi tubuhnya dan berlari masuk ke kamar mandi. Hanya sekedar mencuci muka dan menggosok gigi, gadis itu segera berlari lagi keluar. Memilih baju apapun yang ditemukannya di lemari lalu berlari keluar lagi menuju dapur. Ia mengeluarkan sepotong roti tawar dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Aish,” umpat gadis itu pelan karena kesusahan memakai sepatu boots miliknya. Setelah terpasang sempurna ia pun segera melesat keluar dari apartemennya tanpa melepaskan roti itu dari dalam mulutnya, “YA ! Pabo-ya !” gadis itu kembali berbalik ke apartemennya. Beberapa map penting yang tergeletak di meja bahkan lupa dibawanya. Ia meraih map-map itu dan tas slempang miliknya di dalam kamar.

“Kenapa aku bisa telat di hari pertama menjadi bridesmaid ?” gumam gadis itu pelan. Tak lama kemudian ponsel gadis itu berdering, dengan cepat ia membuka flip ponselnya dan menempelkannya di telinga.

“Ne. Aku sedang dalam perjalanan. Mianhae Eun Jin-ah,”

Gadis itu turun dari bis dan bergegas masuk ke sebuah boutique khusus gaun pernikahan. Ia menaiki tangga ke lantai dua boutique itu lalu menghampiri seorang wanita yang tengah duduk di sofa.

“Annyeonghaseyo. Choneun Kang Yoon Mi imnida,” sahut gadis bernama Yoon Mi itu seraya membungkukkan badannya pada wanita yang tengah duduk itu.

“Ah, jadi kau yang jadi bridesmaid ku ? Aku Eun Ji. Eun Jin sudah memberitahumu tentang ini kan ?” tanya wanita yang baru saja memperkenalkan dirinya sebagai Eun Ji itu.

Yoon Mi mengangguk cepat kemudian duduk di sebelah Eun Ji seraya melepas jaket yang melilit shirt putihnya. Keadaan menjadi panas setelah tadi berlari-lari karena kesiangan.

“Yoon Mi-ssi. Aku harus pergi, kau bisa pilih gaun yang bagus kan ? Nanti calon suamiku akan kesini mengurus semuanya,” ujar Eun Ji, ia bangkit dari sofa membuat Yoon Mi yang baru saja melepas lelahnya ikut bangkit juga.

“Ne, semoga pekerjaanmu sukses,” Yoon Mi membungkukkan badannya lagi mengiringi kepergian Eun Ji keluar dari boutique. Eun Jin pernah memberitahunya kalau Eun Ji seorang wanita karir, jadi ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya untuk mengurus pernikahannya. Dan karena itu Eun Jin memilihnya untuk menjadi bridesmaid. Hitung-hitung untuk mengisi waktu di sela-sela liburan kuliahnya.

Yoon Mi beranjak menuju sebuah meja di dekat jendela lantai 2 boutique itu. Ia melihat-lihat isi buku yang penuh dengan berbagai macam gambar gaun pengantin. Sebuah senyuman pun terulas di bibirnya. Tiba-tiba bayangan seorang laki-laki yang sudah mengisi hari-harinya selama 1 tahun itu pun muncul begitu saja. Ia sangat berharap bahwa laki-laki itu akan melamarnya nanti.

Perhatian Yoon Mi pun bahkan tidak teralihkan ketika calon suami dari pelanggan pertamanya itu sudah datang. Laki-laki berambut coklat itu pun berjalan mendekat dan duduk di sebelah Yoon Mi. Namun sayangnya, gadis itu masih saja memandangi gambar sebuah baju pengantin di depannya seraya tersenyum.

“Permisi. Apa kau Kang Yoon Mi ?” ucapan dari laki-laki itu pun membuat Yoon Mi tersentak. Ia mengerjapkan matanya lalu tersenyum pada laki-laki yang sudah duduk di hadapannya.

“Ne,” jawab Yoon Mi sedikit gugup.

“Aku Kim Jonghyun. Calon suami dari Lee Eun Ji,” Jonghyun mengulurkan tangannya untuk sekedar perkenalan dan dibalas dengan baik oleh Yoon Mi.

“Semoga kita bisa jadi partner yang baik Jonghyun-ssi,”

***

Di sebuah café di pinggir jalan menjadi tempat tujuan akhir laki-laki bertubuh tinggi itu. Laki-laki itu menyesap minuman miliknya sambil sesekali melirik jam yang ada di dalam café itu. Ia tengah menunggu seseorang. Seseorang yang sangat istimewa di hatinya tentu saja. Ia bahkan tidak akan mau menunggu lebih dari satu jam kalau saja bukan gadis itu yang ditunggunya.

“Chagiya,” panggil laki-laki itu, melihat seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam café. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa ia tengah duduk disana. Gadis itu pun tersenyum lalu berlari menghampirinya.

“Annyeong Minho-ya,” gadis itu mengecup pipi laki-laki bernama Minho itu kemudian duduk di depannya.

“Jadi, bagaimana kesan pertama Kang Yoon Mi menjadi bridesmaid ?” tanya Minho seraya menopang dagunya ke atas meja.

“Eeii, kau tidak menawarkan minuman dulu pada pacar tercintamu ini ?” tanya Yoon Mi balik membuat Minho tertawa pelan. Laki-laki itu memanggil pelayan yang ada dan memesan minuman kesukaan gadisnya.

“Jadi ?” tanya Minho berharap Yoon Mi menceritakan semuanya.

“Tidak buruk. Aku hanya memilih gaun pernikahan, selanjutnya memilih hall, mempersiapkan pernikahannya, mungkin menyebar undangan juga,” jawab Yoon Mi mempersingkat isi ceritanya lalu menyesap Vanilla Latte pesanannya yang baru saja datang.

“Baguslah. Kau jadi terbiasa untuk mempersiapkan pernikahan kita nantinya,”

“UHUK UHUK !” ucapan Minho sontak membuat Yoon Mi tersedak. Ia segera menyeka mulutnya dengan tissue dan menatap Minho heran.

“Wae ? Kau pasti akan jadi istriku nanti. Jangan menatapku seperti itu,” sahut Minho seraya tersenyum kecil.

“Jadi Choi Minho sudah beralih menjadi seorang perayu eh ?” tanya Yoon Mi tanpa bisa menyembunyikan perasaan senang di dalam hatinya. Hatinya sekarang dipenuhi berbagai macam kembang api dengan berbagai ekspresi Minho di dalamnya. Ia mulai membayangkan bagaimana menjadi istri seorang Minho nantinya.

***

Yoon Mi sudah memegang beberapa kandidat hall di tangannya. Ia baru saja keluar dari dalam hall terakhir yang dikunjunginya hari itu ketika melihat Jonghyun sudah berdiri di depannya. Sebuah senyuman canggung pun keluar dari bibir keduanya saat melihat satu sama lain.

“Ayo naik,” seru Jonghyun seraya membukakan pintu mobilnya untuk Yoon Mi. Gadis itu mencoba mencerna kejadian itu sejenak kemudian melangkah dengan ragu memasuki mobil Jonghyun.

Suasana aneh masih saja menyelimuti Yoon Mi. Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana bersama laki-laki di sebelahnya. Ini bahkan baru pertemuan kedua kalinya dengan Jonghyun. Memang Jonghyun termasuk orang yang ramah dan sedikit cerewet. Tapi ia merasa aneh kalau harus berjalan bersama calon suami orang lain bukan ?

“Jonghyun-ssi,”

“Yoon Mi-ssi,”

Keduanya saling memanggil bersamaan kemudian tertawa karena hal itu. Yoon Mi memutar bola matanya sejenak mencoba menghindari kontak mata dengan Jonghyun dan hanya bisa menatap dashboard mobil di depannya.

“Lebih baik aku yang duluan. Atau kasus seperti ini akan berakhir seperti di drama-drama romantis,” sahut Yoon Mi membuat Jonghyun kembali tertawa pelan.

“Baiklah. Silahkan,” balas Jonghyun masih tidak melepaskan pandangannya dari jalanan.

“Apa yang kau sukai dari Eun Ji ?” tanya Yoon Mi sontak membuat Jonghyun hampir membanting setir mobilnya, “Maksudku. Apa yang membuatmu menyukainya ?” ralat gadis itu sebelum mobil yang ditumpanginya semakin tidak tentu arah.

“Dia baik, cantik, dan tidak pernah putus asa. Yang membuatku menyukainya, karena dia mirip ibuku mungkin,” jawab Jonghyun kemudian tertawa pelan lagi. Yoon Mi menatap aneh laki-laki di sebelahnya karena selalu saja tertawa.

“Aaah, atau mungkin Eun Ji menyukaimu karena kau suka tertawa seperti ini ?” tanya Yoon Mi lagi membuat Jonghyun menoleh ke arahnya.

“Mungkin. Ia terpesona oleh seorang bling-bling tentu saja,” jawab Jonghyun dengan penuh rasa percaya dirinya. Yoon Mi menjulurkan lidahnya diam-diam, ia hampir saja muntah kalau saja tidak ingat laki-laki itu adalah partnernya. Jonghyun tiba-tiba saja memberhentikan mobilnya di dekat halte bis.

“Kenapa berhenti ?” tanya Yoon Mi tidak mengerti.

“Kau belum memberitahu dimana rumahmu Yoon Mi-ssi,” jawab Jonghyun berusaha tenang karena gadis di sebelahnya tidak sadar juga.

“Aish. Aku lupa. Di daerah sungan Han, nanti aku beritahu lagi arahnya. Jalan saja,”

***

Yoon Mi kini sedang menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin memakai gaun pernikahan. Bukan mimpi, karena ia tengah mencoba gaun pernikahan milik Eun Ji. Jonghyun bertepuk tangan sekilas melihat Yoon Mi lalu menghampiri gadis itu.

“Andai Eun Ji bisa menyempatkan waktunya sedikit untuk mencoba gaun ini, aku pasti akan sangat senang. Melihat sikapnya seperti ini, bahkan membuatku berpikir kalau ia tidak mau menikah denganku,” ujar Jonghyun seraya menghela napas panjang.

“Ya. Kau jadi lemah seperti ini eh ? Eun Ji juga pasti tidak mau seperti ini kalau tidak terpaksa,” balas Yoon Mi mencoba menenangkan Jonghyun.

“Terima kasih untuk selama ini. Kau sudah mau menggantikan Eun Ji,” Jonghyun tersenyum lemah dan dibalas sebuah senyuman lebar oleh Yoon Mi, “Apa kau punya pacar Yoon Mi-ssi ?” tanya Jonghyun tiba-tiba berusaha mengalihkan pembicaraannya.

“Keurae. Dia mendukungku sepenuhnya untuk menjadi bridesmaid. Ia bilang, supaya aku terbiasa nantinya menyiapkan pernikahan,” jawab Yoon Mi dan tanpa sadar tersenyum mengingat ekspresi malu-malu Minho.

“Aigo~. Wajahmu memerah,” balas Jonghyun seraya menunjuk pipi Yoon Mi yang berubah menjadi merah padam.

“Ya !” pekik Yoon Mi melihat Jonghyun yang lagi-lagi tertawa.

Gadis itu berusaha mengejar Jonghyun yang semakin menjauh, tapi kakinya malah tersangkut di dalam gaun dan akhirnya terjatuh. Ia bahkan hanya sempat menarik tangan Jonghyun. Hingga pada akhirnya keduanya terjatuh bersama-sama. Saling menindih satu sama lain dan Jonghyun yang tepat ada di bawah gadis itu. Keduanya meringis bersamaan merasakan lantai yang keras membentur tubuh mereka. Atau lebih tepatnya tubuh Jonghyun.

“Omo~ !” Yoon Mi segera bangkit dari posisi anehnya bersama Jonghyun itu dan menepuk-nepuk gaunnya yang sedikit kotor. Jonghyun masih mencoba mencerna kejadian yang terjadi, ia bangkit dari posisi tidurnya di lantai kemudian memandang wajah Yoon Mi yang semakin memerah.

“Memerah lagi ? Apa pesona seorang bling-bling Jonghyun sudah membuatmu malu huh ?” tanya Jonghyun, dibalas sebuah pukulan ringan oleh Yoon Mi.

“Tidak. Karena aku rasa, pesona seorang flaming charisma Minho melebihi siapapun. Jadi aku tidak akan tergoda laki-laki manapun,” balas Yoon Mi seraya tertawa pelan dan kembali masuk ke dalam ruang ganti untuk melepas gaunnya.

Jonghyun menaikkan sebelah alisnya heran mendengar ucapan Yoon Mi tadi. Sepertinya ia mulai penasaran dengan sosok Minho yang selalu di bangga-bangga kan oleh Yoon Mi itu. Mulai saat itu, ia akan mencari informasi tentang Minho dan hal apa yang membuat gadis itu menyukainya. Hanya untuk membandingkan saja. Tidak lebih.

***

Akhir-akhir ini Yoon Mi lebih sering mendengar keluhan Jonghyun tentang Eun Ji. Ia tidak tahu lagi bagaimana menenangkan Jonghyun yang selalu saja berapi-api ketika menceritakan semuanya. Tidak jarang Jonghyun mengacak rambutnya frustasi karena hal itu. Dan sudah selama 2 minggu ini Yoon Mi selalu mendengarkan keluhan laki-laki itu.

“Silahkan dicoba,” ujar seorang pelayan mencoba menyadarkan Jonghyun dan Yoon Mi yang masih saja mengagumi cincin-cincin yang terpajang.

“Aku mau itu,” Jonghyun menunjuk sepasang cincin ada di dekatnya. Tidak terlalu mahal, tapi terlihat glamour dan sangat indah. Yoon Mi bahkan mengagumi selera Jonghyun yang cukup tinggi itu.

“Kau tidak perlu repot-repot mencoba cincin satu lagi pada perempuannya,” sahut pelayan toko itu, membuat Jonghyun yang tengah mencoba cincin di jarinya mengalihkan perhatiannya.

“Ne ?” tanya Yoon Mi tidak mengerti. Pelayan toko itu mengeluarkan cincin yang berukuran lebih kecil –daripada yang tengah dipakai Jonghyun. Ia menyodorkannya pada Jonghyun sontak membuat Yoon Mi dan Jonghyun mengernyit.

“Coba di kelingkingmu tuan. Jika lingkar kelingking anda dengan lingkar jari manis calon istri anda sama, itu berarti kalian jodoh,” jawab pelayan itu. Jonghyun dan Yoon Mi saling melirik satu sama lain kemudian menuruti perkataan pelayan itu.

Jonghyun melepas cincin yang ada di jari manisnya. Lalu memasangkan cincin –untuk Eun Ji di jari kelingkingnya. Ia tersenyum sendiri melihat cincin itu terpasang dengan sempurnya. Jonghyun pun segera menoleh ke arah Yoon Mi dan memandangi gadis itu dari atas hingga bawah.

“Ayo coba. Sepertinya ukuran tubuh Eun Ji sama denganmu,” Jonghyun melepaskan cincin di jari kelingkingnya dan memaksakan cincin itu masuk ke dalam jari manis Yoon Mi. Gadis itu bahkan tidak bisa mencegah cincin –untuk Eun Ji yang sudah melingkari jari manisnya.

“Woaah. Kalian memang jodoh,” gumam pelayan itu ketika melihat Jonghyun memakaikan cincinnya dengan lancar. Jonghyun mengangkat kepalanya lalu memandang Yoon Mi yang wajahnya mulai memerah lagi.

“Ah-ahni. bukan aku calon istrinya. Aku hanya seorang bridesmaid,” sergah Yoon Mi sebelum pelayan toko itu semakin salah paham. Jonghyun tertawa pelan melihat wajah Yoon Mi yang salah tingkah lalu melepas cincin yang ada di jari gadis itu.

“Aku mau ini,” seru Jonghyun seraya menyodorkan sepasang cincin pada pelayan toko itu.

Keduanya keluar dari dalam toko, tanpa bicara sepatah kata pun. Yoon Mi masih sedikit kaget karena kejadian –cincin yang sangat pas di jari manisnya itu. Ia seperti sudah merebut calon suami orang lain. Secara tidak langsung ia sudah membuat Jonghyun semakin tidak yakin dengan pernikahannya.

***

Entah kenapa, Jonghyun mulai tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Ia selalu bersama Yoon Mi akhir-akhir ini dan semakin jarang bertemu dengan Eun Ji –yang notabene adalah calon istrinya. Ia semakin tidak yakin ketika cincin yang dibelinya itu sangat pas di jari manis Yoon Mi. Apalagi setelah mendengar ucapan pelayan toko itu.

Jonghyun sedang memandangi Yoon Mi yang sedang mengobrol dengan Minho sekarang. Ia sengaja tidak memacu mobilnya setelah mengantar Yoon Mi ke café. Akhirnya keinginannya untuk melihat Minho pun terkabul. Sekarang ia tahu kenapa Yoon Mi sangat mencintai Minho, karena memang laki-laki itu mempunyai charisma lebih darinya.

“Aiish, kenapa juga aku peduli. Lebih baik aku menjemput Eun Ji,” gumam Jonghyun seraya memundurkan mobilnya keluar dari pelataran parkir café itu. Ia segera berbelok di perempatan untuk segera menjemput Eun Ji.

Dengan segera Jonghyun memberhentikan mobilnya melihat Eun Ji yang sedang berdiri di depan kantornya. Laki-laki itu turun dari mobil, membuat Eun Ji hampir saja terlonjak melihat kedatangan Jonghyun yang tiba-tiba. Jonghyun memberikan sedikit kecupan di pipi lalu menarik tangan gadis itu menaiki mobilnya.

“Apa yang kau lakukan disini ?” tanya Eun Ji senang melihat calon suaminya itu menjemputnya.

“Ya~. Aku ini calon suamimu, ingat ? Jadi aku harus terbiasa mengantar jemput kemana pun istriku pergi nanti,” jawab Jonghyun seraya tersenyum lebar dan menatap Eun Ji yang duduk di sebelahnya. Ia melihat gadis itu menggigit bibir bawahnya seperti ragu untuk mengatakan sesuatu. Sedetik kemudian Jonghyun bisa mendengar Eun Ji menggumam pelan, hampir tidak terdengar bahkan. Tapi Jonghyun tahu itu adalah suatu hal buruk.

“Aku ingin menunda pernikahan kita,”

Dan Jonghyun, hampir saja kehilangan kesadarannya setelah mendengar ucapan Eun Ji. Pernikahan mereka bahkan hanya tinggal beberapa minggu lagi dan gadis itu membatalkannya. Tidak, bukan membatalkan, tapi menunda. Jonghyun mengeratkan genggaman tangannya pada stir mobil kemudian mengangguk lemah. Semua yang dilakukannya bersama Yoon Mi akhir-akhir ini, terpaksa ditunda. Entah sampai kapan, Jonghyun hanya berharap semoga Eun Ji tidak menunda lagi nanti atau perasaannya pada gadis itu akan benar-benar berubah.

***

Yoon Mi menatap sebuah kotak cincin berbentuk hati yang ada di tangannya. Ia mendongak, menatap Jonghyun yang terlihat sudah hampir putus asa. Tatapan Jonghyun kini lebih terlihat dingin dan terkesan tidak peduli. Bahkan ketika Eun Ji meneleponnya, laki-laki itu hanya membalas dengan singkat.

“Aku mau kau simpan cincin itu sampai Eun Ji memutuskan kapan pernikahan kami akan berlangsung. Atau kau boleh memakainya kalau memang mau, aku sudah tidak peduli lagi,” ujar Jonghyun seraya meminum perlahan coklat hangat miliknya.

“Ayolah Jonghyun. Kau menjadi selemah ini hanya karena Eun Ji menunda pernikahan kalian ?” tanya Yoon Mi berusaha menghibur Jonghyun lagi.

“Cincin itu bahkan tidak muat di jarinya. Terlalu kekecilan, jadi lebih baik kau simpan saja. Aku bisa beli lagi nanti,” jawab Jonghyun membuat jantung Yoon Mi berhenti berdetak sejenak.

“Dwaesseo. Aku tidak mau mendengarmu membicarakan tentang dia lagi. Sekarang urusannya adalah kau dan aku,” sambung Jonghyun lalu menatap kedua mata Yoon Mi, membuat gadis itu sedikit gugup.

“Urusan kita sudah selesai Jonghyun. Kita akan bertemu lagi nanti kalau Eun Ji sudah memutuskan kapan pernikahan kalian berlangsung. Tenang saja, aku pasti akan pergi,” jawab Yoon Mi lalu tertawa pelan. Jonghyun tidak tertawa dengan hal itu. Ia kembali menatap kedua mata Yoon Mi dengan yakin.

“Kau tidak bisa pergi,” sahut Jonghyun membuat senyuman di wajah Yoon Mi hilang dalam sekejap.

“Wae ?”

“Kau sudah membuat hatiku tidak yakin Yoon Mi. Seenaknya kau pergi hah ? Kau harus bertanggung jawab dan membuatku yakin kalau Eun Ji memang jodohku, dan bukan kau,” Jonghyun mengangguk yakin setelah menyelesaikan ucapannya. Ia memandang Yoon Mi yang terlihat bingung.

“A-apa ?” tanya Yoon Mi mencoba meyakinkan ucapan Jonghyun.

“Tetap bersamaku sampai Eun Ji memutuskan tanggalnya. Tolong buat aku yakin dengan perasaanku yang sekarang,”

***

Minho terus saja menggembungkan pipinya kesal mendengar semua cerita dari gadis di depannya. Sejak pertama duduk, dan sampai makanan mereka habis pun gadis itu tidak pernah berhenti membicarakan satu orang laki-laki. Kim Jonghyun. Kepalanya bahkan sudah sangat pusing karena menahan kecemburuannya yang hampir meledak.

“Bisa kau berhenti membicarakan Jonghyun itu ? Aku tidak suka,” potong Minho cepat. Yoon Mi mengangguk mengerti lalu menyesap minumannya.

“Maaf. Tapi laki-laki itu selalu membuatku repot,” balas Yoon Mi sedikit kecewa karena Minho memotong ucapannya yang berapi-api itu. Minho tampak melirik jam tangannya sekilas kemudian bangkit dari kursinya.

“Kau mau pulang tidak ? Aku harus kerja lagi,” tanya Minho seraya mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu. Yoon Mi menggeleng lalu menepis tangan Minho, “Baiklah, aku pergi dulu,” Minho mengacak rambut Yoon Mi kemudian berlari keluar.

Sementara itu Yoon Mi hanya bisa menggerutu karena Minho mengacuhkannya. Atau mungkin dugaannya, Minho cemburu ? Ia bahkan akan tertawa sepuasnya kalau saja mendengar satu kata itu dari mulut Minho. Laki-laki itu bahkan jarang mengungkapkan perasaannya sendiri.

***

Jonghyun tidak mengerti dengan arah perasaannya sendiri sekarang. Ia sangat tidak suka ketika melihat Yoon Mi pergi bersama Minho. Ia tidak suka ketika perjalanannya bersama Yoon Mi terganggu karena Minho yang tiba-tiba menelepon gadis itu. Tapi disisi lain, ia sangat merindukan kehadiran Eun Ji, bahkan membuatnya sudah hampir gila.

“Yoon Mi. Apa bisa kau tidak membicarakan Minho sekali saja ? Aku tidak suka mendengarnya,” tanya Jonghyun setelah merasakan telinga dan wajahnya memanas karena cemburu. Ia melihat Yoon Mi mengerucutkan bibirnya kesal.

“Hubunganku dan Minho jadi jauh karena mengurus masalah ini. Haish, kenapa juga aku harus peduli pada orang sepertimu hah ?” gerutu Yoon Mi seraya bangkit dari ayunan di taman bermain itu. Baru saja ia akan beranjak, tangan Jonghyun sudah mencegahnya lagi, “Ayolah Jonghyun, aku harus bertemu Minho hari ini. Tidak ada waktu lagi nanti,”

Tiba-tiba saja Jonghyun berdiri dari ayunan miliknya dan mendekap Yoon Mi ke dalam pelukannya. Ia tetap dalam posisi seperti itu selama beberapa menit dan membiarkan angin musim gugur menerpa tubuh mereka.

“Jonghyun. Tolong lepaskan atau akan ada yang salah paham nanti,” seru Yoon Mi seraya mendorong tubuh Jonghyun. Namun, laki-laki itu tetap tidak bergeming.

“Ini terlalu cepat mungkin. Tapi, aku menyukaimu,” balas Jonghyun lembut, ia tersenyum lalu mengelus kepala seorang gadis yang masih ada di dalam pelukannya.

BRAK

Pelukan keduanya terlepas begitu saja mendengar suara –yang cukup keras terjatuh di dekat mereka. Keduanya menoleh dan mendapati seorang wanita berpakaian kerja baru saja menjatuhkan tas plasticnya dan  menatap mereka bingung. Sontak gadis itu pun mundur dan berlari menjauh dari sana. Jonghyun kembali menatap Yoon Mi, meyakinkan kalau ia tidak akan mengejar gadis itu.

“Kejar dia Jonghyun. Dia pasti salah paham, ayo kejar dia,” Yoon Mi mendorong pelan tubuh Jonghyun agar beranjak dari sana.

“Aku akan kesini lagi. Kau jangan kemana-mana,” tambah Jonghyun sebelum benar-benar pergi dari taman itu.

Yoon Mi tersenyum kecil. Ia masih bisa merasakan wangi parfum Jonghyun di dekatnya. Setetes cairan bening pun tiba-tiba saja keluar dari kedua matanya dengan perlahan. Ia segera menghapusnya lalu beranjak pergi dari sana.

“Maaf Jonghyun. Maaf juga Minho, aku tidak bisa bersama kalian mulai besok,”

***

Jonghyun terus menatap Eun Ji yang tengah menangis di depannya. Ia sudah mengatakan perasaan yang sebenarnya sekarang. Beberapa pengunjung di dalam café pun tampak memperhatikan mereka dengan aneh. Jonghyun segera mengelus puncak kepala Eun Ji lembut mencoba menenangkannya.

“Eun Ji. Aku tidak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya,” gumam Jonghyun masih tetap mengelus puncak kepala gadis itu. Eun Ji menurunkan tangan Jonghyun dari kepalanya kemudian mendongak.

“Aku tahu. Kau tidak bisa menunggu lama lagi. Jadi lebih baik kita berpisah saja. Lebih menyakitkan ketika tahu orang yang kita cintai selingkuh. Kalau hubungan ini tidak ada, kau bisa bebas dan aku tidak tersakiti lagi kan ?” Eun Ji menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan kasar lalu menunduk lagi. Jonghyun menggenggam tangan Eun Ji dengan lembut.

“Eun Ji-ah. Maaf, neomu jweseonghaeyo,” balas Jonghyun, menekankan nada bersalah di setiap kata-katanya.

“Kau menyukai Yoon Mi dan itu satu hal yang wajar. Kau lebih sering bersamanya daripada aku kan ? Aku bisa mengerti itu,” sahut Eun Ji. Gadis itu mencoba memberhentikan isak tangisnya dan memberikan sebuah senyuman pada Jonghyun.

“Aku sudah merasa bahagia ketika bersama Jonghyun. Dan sekarang aku sedih juga karena laki-laki bernama Jonghyun. Perasaan itu sudah seharusnya diberikan untuk orang lain, dan orang lain itu adalah Yoon Mi ‘kan ? Pergilah,” lanjutnya. Jonghyun tersenyum mendengar ucapan Eun Ji.

“Gomawo. Saranghae,” Jonghyun berdiri lalu mengecup pipi Eun Ji sekilas. Ia segera berlari keluar dari dalam café itu. Meninggalkan Eun Ji yang kembali menangis. Gadis itu bahkan menyesal sudah memutuskan hubungannya dengan Jonghyun.

***

Yoon Mi tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat Minho tengah menatap kesal ke arahnya. Gadis itu hanya bisa menggigit bibirnya, menahan sebuah tangisan yang benar-benar ingin membuncah keluar. Ia tidak tega mengatakan ini pada Minho.

“Kenapa kau memutuskan hubungan ini ? Satu alasan yang jelas, please,” rajuk Minho. Gadis itu mendongak sebentar kemudian menghela napasnya.

“Entahlah. Aku hanya tidak mencintaimu lagi. Bukan karena Jonghyun tentunya,” jelas Yoon Mi singkat. Ia berbalik untuk meninggalkan Minho dan tidak memperpanjang lagi masalahnya.

“Kang Yoon Mi. Tolong, jangan bercanda seperti ini,” seru Minho, masih tidak percaya bahwa seorang gadis lembut yang selama ini dicintainya tiba-tiba mengambil keputusan sepihak. Yoon Mi kembali berbalik dan menggeleng pelan.

“Aku tidak bercanda Minho. Jangan terus mendesakku seperti ini, aku –,” ucapan gadis itu terhenti ketika Minho sudah memeluknya dengan erat. Dan akhirnya pertahanan yang ia buat pun luntur begitu saja. Ia mulai terisak kecil dan terus menangis di dalam pelukan Minho.

“Wae irae ? Kau bohong. Kenapa kau menangis huh ?” tanya Minho seraya mempererat pelukannya pada gadis itu. Yoon Mi menghentikkan isakannya sejenak dan berusaha mendorong tubuh Minho. Tapi sia-sia.

“Aku benci mengatakan ini. Aku benci ketika harus mengatakan ‘kita putus’ atau semacamnya. Tapi aku harus Minho-ya,” jawab Yoon Mi. Gadis itu membiarkan Minho melepas pelukannya, memegangi kedua bahunya, dan perlahan mengangkat wajahnya.

“Apa alasanmu sebenarnya. Aku tahu kau tidak bisa berbohong,” desak Minho. Yoon Mi menurunkan kedua tangan Minho dari bahunya lalu menundukkan kepalanya lagi.

“Aku tidak bisa mengatakannya. Hanya ini satu-satunya jalan agar aku bisa . .  . Ah ! Dwaesseo ! Jangan paksa aku lagi,” Yoon Mi menghapus kedua air matanya dengan cepat lalu berlari meninggalkan Minho.

Laki-laki itu hanya bisa menatap kepergian gadisnya itu dengan nanar. Dan demi apapun di dunia ini, Minho baru saja meneteskan air matanya. Ia mengepalkan tangannya dengan keras dan menggeram kesal. Sebuah teriakan pun memecah keheningan malam di taman itu. Pada akhirnya ia terduduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya.

***

Jonghyun berlari menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya. Ia berlari memasuki sebuah gedung apartemen dan menaiki tangga menuju apartemen Yoon Mi. Namun langkahnya terhenti saat melihat gadis itu tengah menuruni tangga juga sambil membawa sebuah koper. Keduanya menghentikkan langkah dan saling menatap satu sama lain. Yoon Mi segera menurunkan koper besar yang ada di tangannya lalu tersenyum canggung pada Jonghyun.

“Hai. Kau mau kemana ?” tanya Yoon Mi berusaha membuka pembicaraan dengan laki-laki itu. Jonghyun menatap gadis itu dari atas hingga bawah kemudian melangkah maju mendekatinya.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau mau kemana ?” tanya Jonghyun lagi seraya menunjuk koper besar yang ada di dekatnya.

“Aku mau pergi. Appa dan eomma menyuruhku ke Jerman, jadi akan menetap disana. Waeyo ?” tanya Yoon Mi balik lalu mengangkat kopernya menuruni tangga lagi.

“HYA !” sergah Jonghyun kemudian berdiri di hadapan Yoon Mi, “Seenaknya kau pergi hah ? Aku baru saja putus dengan Eun Ji dan kau malah pergi ?” tanya Jonghyun sontak membuat Yoon Mi membelalakkan kedua matanya.

“Kau gila ? Bagaimana bisa kau putus dengan Eun Ji ? Kalian sebentar lagi menikah,” Yoon Mi menurunkan kembali kopernya lalu berkacak pinggang karena kesal.

“Dan aku rasa kegilaan ini disebabkan oleh seorang gadis bernama Kang Yoon Mi. Ia seenaknya mengacak-acak perasaanku dan akan pergi begitu saja,” ucapan Jonghyun membuat Yoon Mi menurunkan tangan dari kedua pinggangnya dan hanya bisa menganga. Ia segera memukul pelan kepala Jonghyun dan pergi dari sana sambil membawa kopernya.

“Aku tidak ada waktu lagi kalau harus berurusan denganmu Jonghyun,” seru Yoon Mi seraya memasukkan koper besarnya itu ke dalam taksi yang sudah menunggunya. Baru saja ia akan memasuki taksi itu, Jonghyun sudah menarik tangannya lagi.

“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang hah ? Kalau memang tidak bisa menghentikanmu untuk pergi ke Jerman. Aku tidak mungkin mengemis pada Eun Ji untuk kembali lagi,” tanya Jonghyun, ia menatap mata Yoon Mi lekat berharap sebuah harapan muncul dari dalam sana.

“Tidak ada. Kau bisa kembali pada Eun Ji. Aku dan Minho juga sudah putus, jadi tidak ada yang dirugikan. Lepas ! Pesawatku lepas landas 30 menit lagi. Kau –,”

Yoon Mi merasakan sesuatu menyentuh bibirnya dengan lembut. Ia hanya bisa membelalak ketika Jonghyun sudah menempelkan bibirnya dan otomatis menghentikkan ucapannya. Bahkan ia belum pernah melakukan hal seperti itu dengan Minho. Dan ternyata Jonghyun lah yang merebut first kissnya.

“Damn !” Yoon Mi mendorong Jonghyun menjauh dan dengan segera menampar pipi laki-laki itu dengan keras. Ia mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati dari dalam saku mantelnya lalu menyerahkan paksa pada Jonghyun. Ia memasuki taksi yang tengah menunggunya itu kemudian menatap Jonghyun dari balik kaca. Gadis itu menyentuh bibirnya sendiri dan hanya bisa mengumpat pelan.

***

Entah sudah keberapa kalinya laki-laki itu melirik jam yang melingkar di tangan kananannya. Ia menatap pintu masuk hall pernikahannya dengan gelisah. Sesekali ia meminta maaf pada tamu yang ada karena ketelatan calon istrinya itu.

Kegelisahannya itu pun mereda melihat seorang wanita yang sudah memakai gaun dan penutup kepala tengah berjalan ke arah altar. Dengan segera laki-laki itu membenarkan posisi berdirinya dan menatap kedatangan calon istrinya. Sebuah senyuman bahagia pun mengembang dari bibir keduanya.

“Kalian resmi menjadi suami istri,” sahut pendeta itu setelah laki-laki dan gadis itu saling mengucap janji. Keduanya saling mendekat dan menyematkan cincin di jari manis pasangan mereka masing-masing.

Tanpa diberi aba-aba pun, keduanya sudah saling mendekatkan wajah dan mengecup bibir pasangannya sekilas. Sebuah tepuk tangan pun mengiringi adegan teromantis itu.

“Ya ! Kang Yoon Mi !” teriak seorang laki-laki yang hadir diantara tamu itu seraya menunjuk wanita yang tengah berdiri di altar itu. Wanita yang baru saja resmi menikah itu menoleh dan hampir terlonjak melihat laki-laki itu.

“Aku mengundangnya. Gwenchana ?” tanya laki-laki di sebelahnya itu seraya tersenyum. Yoon Mi balas tersenyum dan kembali menatap laki-laki itu. Ia sangat ingat bagaimana perpisahan mereka 3 tahun yang lalu.

“Haish. Laki-laki itu selalu saja merepotkan,” gerutu Yoon Mi lalu mendekat ke arah laki-laki berambut coklat itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang anak kecil sedang menarik-narik baju laki-laki itu dan menggumam satu kata, “Eeeii. Ternyata itu anakmu Kim Jonghyun-ssi ?” tanya Yoon Mi seraya menunjuk laki-laki bernama Jonghyun itu dan anak kecil di sebelahnya.

“Ne~. Perkenalkan, ini anakku. Kim Sang Hyun,” ujar Jonghyun, memperkenalkan anak laki-lakinya. Perhatian Yoon Mi pun teralihkan melihat seorang wanita yang duduk di dekat Jonghyun dan anaknya.

“Aaah, apa kabar Eun Ji-ssi,” tanya Yoon Mi seraya membungkuk pada Eun Ji yang kini sudah berubah menjadi lebih dewasa. Eun Ji hanya menjawab dengan sebuah senyuman.

Yoon Mi sedikit tersentak ketika merasakan tangan besar melingkari pundaknya. Ia menoleh pada laki-laki tinggi di sebelahnya kemudian tersenyum, “Tidak perlu kukenalkan lagi bukan ? Ini suamiku, Choi Minho,”

[Bridesmaid End]

2 thoughts on “[FanFict] Bridesmaid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s