[FanFic] Nothing Better than . . (Wrong Marriage After Story)

Title : Nothing better than . . [Wrong Marriage After Story]

Author : Ima Shineeworld

Cast       : Choi Minho, Kim Neul Rin

Rating : PG+15

Length : Oneshot

Genre   : Romance

 

Wrong Marriage [epilog]

Suara kicauan burung, menyambut datangnya matahari pagi itu. Para warga kota Seoul pun mulai bangun dari tidur mereka yang nyenyak dan memulai aktifitas seperti biasanya. Termasuk seorang wanita, yang pagi-pagi itu sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk suami tercintanya. Mungkin terlalu pagi baginya, tapi ia tidak peduli itu karena mencoba untuk menjadi istri yang baik.

Tatapan wanita itu beralih dari sup yang sedang dimasaknya, ke arah pintu kamar. Dimana seorang laki-laki –dengan keadaan yang berantakan baru saja keluar. Keduanya pun saling bertukar senyum selamat pagi dan kembali ke aktifitas masing-masing.

“Neul Rin-ah. Hari ini kau tidak kemana-mana kan ?” tanya laki-laki itu pada wanita yang tengah berdiri di dapur membelakanginya.

“Ne, waeyo ?” tanya Neul Rin seraya berbalik pada laki-laki yang kini sudah duduk di meja makan dengan menopangkan dagu di atasnya.

“Mmm, anniyo,” jawab Minho cepat. Ia melihat istrinya kembali berbalik dan kembali ke aktifitasnya. Minho mendesah napas panjang, ia merasa canggung setelah enam bulan ini menikah bersama Neul Rin. Bahkan sesekali Minho tidur di sofa dan tidak tidur bersama Neul Rin.

“Sudah jadi,” gumam Neul Rin seraya membawa semangkuk sup jagung ke meja makan. Ia segera menyadarkan Minho yang saat itu masih saja melamun, “Cepat bangunkan Minrin,” seru Neul Rin dan dijawab anggukan oleh Minho.

Kegiatan sarapan itu pun dilakukan dalam keadaan diam. Neul Rin memakan sarapannya seraya menyuapi Minrin. Sedangkan Minho hanya memakan setiap suapan sup jagung itu. Jujur, ia lebih suka makan makanan korea daripada harus memakan makanan perancis yang selalu dibuat Neul Rin setiap harinya.

“Ya. Apa kau tidak bisa buat makanan korea ?” tegur Minho membuka pembicaraan. Neul Rin mendongak kemudian sedikit berpikir.

“Bisa. Hanya bulgogi dan gimbap. Itu juga kalau aku sedang mood,” balas Neul Rin acuh.

“Jinjja ? kau tahu ? Hyunmi bisa membuat semua makanan korea apapun yang aku mau. Dia bahkan bisa membuat makanan perancis sepertimu,” jelas Minho, membayangkan ketika Hyunmi selalu memasak makanan enak untuknya.

“Woah. Sepertinya aku harus belajar banyak dari Hyunmi, benar kan ?” tanya Neul Rin semangat. Minho mengangguk setuju kemudian melanjutkan acara sarapan pagi mereka.

***

Pagi itu Neul Rin baru saja selesai memandikan Minrin ketika Minho memasuki kamar. Ia melihat laki-laki itu sudah berpakaian rapi.

“Kau mau kemana ?” tanya Neul Rin seraya menidurkan Minrin kembali di tempat tidurnya. Wanita itu berjalan menghampiri Minho kemudian sedikit merapikan kemeja yang dipakai laki-laki itu.

“Rin-ah. Tolong pakaikan aku dasi, “ seru Minho, menyerahkan sebuah dasi. Neul Rin mengangguk kemudian mulai memakaikan dasi di leher Minho.

“Kau mau kemana ?” tanya Neul Rin sembari melilitkan dasi itu.

“Appa mengajakku bekerja di kantornya. Hari ini ada interview,” jawab Minho. Laki-laki itu memandang Neul Rin yang terlihat kebingungan memakaikan dasi. Ia menunggu beberapa menit, tapi istrinya itu tidak selesai juga memakaikan dasi. Sesekali Minho melirik jam tangannya, ia sudah hampir telat tapi Neul Rin belum selesai juga.

“Ya. Kau tidak bisa memakaikan dasi ?” tanya Minho akhirnya. Neul Rin tertunduk sebentar kemudian mengangguk kecil, “Tch, kenapa kau tidak bilang dari tadi ? Kalau Hyunmi yang memakaikannya mungkin sudah selesai dari tadi. Aku sudah telat,” Minho menarik dasinya yang ada di genggaman Neul Rin lalu berlari keluar seraya membawa tasnya.

Sementara itu Neul Rin yang baru saja ditinggal Minho, segera mengangkat kepalanya kembali. Ia hanya melihat pintu apartemen tertutup dan tidak melihat Minho lagi. Entah kenapa pernikahannya dengan Minho tidak sebahagia apa yang pikirkan dulu. Bukan ‘tidak bahagia’ dalam arti kata Minho suka memukul Neul Rin, hanya saja sikap Minho terlihat berubah. Terkadang laki-laki itu melamun, lebih suka menyendiri dan tidak mempedulikan dirinya dengan Minrin. Dan satu hal lagi, Minho sering menyebut-nyebut Hyunmi dan membandingkannya. Atau mungkin gadis itu harus belajar banyak belajar pada Hyunmi untuk lebih mengerti Minho.

***

Neul Rin bermaksud untuk menemui Hyunmi, ia sekarang sudah berdiri di depan pintu apartemen Jonghyun. Tiba-tiba nyalinya menciut, mengingat ia sudah merebut Minho dulu. Tidak, bukan merebut. Tapi membuat Minho menyukainya, ia tidak yakin apakah Hyunmi masih akan menerimanya atau tidak.

Neul Rin menekan bel apartemen Jonghyun, awalnya hanya sekali. Tapi lama-kelamaan ia semakin memperbanyak frekuensi menekan bel itu sampai seseorang membuka pintu. Neul Rin tersenyum pada orang yang baru saja membukakan pintu apartemen untuknya.

“Oh, Hyunmi-ya,” sapa Neul Rin riang seperti biasanya. Ia melihat Hyunmi tersenyum kecil kemudian melebarkan pintu apartemennya.

“Ayo masuk,” ajak Hyunmi. Neul Rin balas tersenyum lalu melangkah masuk mengikuti wanita itu.

Untuk beberapa saat Neul Rin masih diam seraya menunggu Hyunmi mengambilkannya minum. Ia mengitarkan pandangannya ke seluruh apartemen Jonghyun. Sudah banyak berubah, tatanan barang-barang milik oppanya kini sudah tersusun rapi. Ia bahkan melihat foto oppanya dengan Hyunmi berjejer di dekat TV. Sangat mesra, bahkan sempat membuat ia iri.

“Dimana Jonghyun oppa ?” tanya Neul Rin, membuka pembicaraan. Hyunmi membawa sebuah nampan ke atas meja dan duduk di sebelah Neul Rin.

“Ia masih di kantor. Mungkin sebentar lagi pulang, ada apa ?” tanya Hyunmi to the point. Ucapan Hyunmi membuat Neul Rin sedikit tersentak, ia kembali menoleh ke arah wanita di sebelahnya.

“Err, sebenarnya aku mau bertanya tentang Minho,”

“Aah, Minho. Wae ?”

“Kau pasti tahu makanan apa yang dia suka kan ?”

“Aku tidak tahu apa yang dia suka,”

“Jinjja ?”

“Ne, dia tidak pernah mengkhususkan makanan. Tapi ia pernah bilang menyukai semua makanan yang aku buat, entahlah sekarang. Mungkin ia lebih suka makananmu,”

“Ahni, Hyunmi-ya. Bisa beritahu aku, makanan apa yang sering kau buat untuk Minho ?”

“Sup kimchi, gimbap, telur gulung, bulgogi, samgyupsal, jajangmyeon, bibimbap, ramyeon, dan masih banyak lagi. Hampir semua makanan korea yang aku buat Minho selalu suka. Memangnya kenapa ?” tanya Hyunmi sementara Neul Rin masih berusaha mengingat setiap nama makanan yang keluar dari mulut Hyunmi.

“Ahni. Aku harus belajar banyak tentang Minho darimu Hyunmi. Gomawo~,” Neul Rin tersenyum lebar pada Hyunmi dan dibalas lembut oleh wanita itu.

Keduanya menoleh ke arah pintu ketika mendengarnya terbuka. Dengan cepat Hyunmi bangkit dari duduknya dan menghampiri Jonghyun yang baru saja masuk. Neul Rin memperhatikan bagaimana Hyunmi bertanya tentang keadaan Jonghyun dan melepas dasi yang dipakai laki-laki itu. Dan satu hal, bagaimana ketika Hyunmi memberi ciuman selamat datang pada Jonghyun. Lagi-lagi Neul Rin merasa iri karena melihat Hyunmi terlihat mesra dengan Jonghyun. Ia ingin seperti itu bersama Minho.

“Ah iya, ada Neul Rin,” gumam Hyunmi lalu menarik tangan Jonghyun ke hadapan Neul Rin.

“Oppa,” Neul Rin bangkit dari duduknya kemudian membungkukkan badan pada Jonghyun. Mata Neul Rin selalu tertuju pada tangan Jonghyun dan Hyunmi yang saling merangkul satu sama lain.

“Mmm, Hyunmi, Jonghyun oppa. Aku harus pulang, sepertinya Minho juga pulang sebentar lagi,” ujar Neul Rin merasa tidak enak mengganggu acara kedua orang di depannya.

“Wae ? Kenapa buru-buru ? Tidak makan malam dulu disini ?” tanya Jonghyun heran. Neul Rin menggeleng dengan cepat kemudian meraih tas slempang miliknya.

“Aku pulang dulu. Annyeong,” Neul Rin membungkuk sekali lagi kemudian beranjak dari sana sebelum dicegah oleh keduanya.

Setelah menutup pintu apartemen Jonghyun, ia bersandar di depan pintunya sambil menundukkan kepala. Ia tidak pernah melihat Jonghyun tersenyum sebahagia itu. Neul Rin sudah bisa menarik satu kesimpulan, bahwa Hyunmi selalu bisa menularkan kebahagiaannya pada orang lain. Dan ia harus belajar itu.

***

Hari itu Neul Rin benar-benar berbelanja untuk membuat semua makanan yang tadi disebutkan Hyunmi. Ia akan memasak bibimbap, jajangmyeon, sup kimchi, dan samgyupsal. Sesuai dengan apa yang dilihatnya di internet. Ia mau membuat Minho kagum dan tidak marah lagi padanya karena kejadian tadi pagi.

“Eomma~ !!” teriak Minrin membuat Neul Rin terkesiap kaget. Sontak gadis itu segera berlari menuju kamar anak satu-satunya itu. Ia melihat Minrin sudah duduk di atas tempat tidur dengan mata sembap dan sedikit terisak. Wanita itu segera menggendong Minrin dan membawanya keluar dari kamar.

“Minrin-ah, kau bisa tunggu sebentar di kursi ini kan ? Eomma harus masak,” seru Neul Rin seraya mendudukkan Minrin di kursi makan khusus bayi. Ia meletakkan biscuit dan membiarkan anaknya yang masih berumur satu tahun itu bermain sementara dirinya memasak.

Hampir satu jam kemudian, semua makanan yang sudah dibuat Neul Rin selesai. Ia menatap kagum hasil makanan yang sudah dibuatnya. Walaupun ia tidak tahu bagaimana selera rasa yang dimiliki Minho. Tapi ia yakin laki-laki itu akan menyukainya.

Tepat setelah Neul Rin memandang kagum hasil masakannya, ia mendengar pintu apartemen terbuka. Minho masuk sambil sedikit merenggangkan otot-otot lehernya. Neul Rin pun berlari menghampiri Minho dan melakukan apa yang tadi dilakukan Hyunmi.

“Bagaimana keadaan di kantor ?” tanya Neul Rin seraya melepaskan dasi yang dipakai Minho.

“Baru hari pertama, dan semuanya baik. Appa mengajariku banyak hal disana,” jawab Minho masih sambil meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku. Tidak pernah ia duduk di hadapan computer selama seharian dan mengerjakan tugas yang membosankan.

“Jinjja ?” baru saja Neul Rin sedikit berjinjit untuk memberi kecupan selamat datang, Minho sudah terlebih dulu meninggalkannya untuk duduk di meja makan. Neul Rin mematung di tempatnya berdiri kemudian melempar dasi milik Minho asal. Ia segera berbalik lalu duduk di sebelah Minho.

“Annyeong Minrin-ah,” sapa Minho seraya mengacak rambut Minrin lembut. Tatapan Minho langsung tertuju pada makanan yang ada di depannya, ia seperti déjà vu ketika melihat makanan yang sering dibuat oleh Hyunmi kini ada di depannya, “Kau pesan dimana semua ini ?”

“Ya ! Neo mworago (Apa yang kau bilang) ? Ini aku yang buat semuanya,” pekik Neul Rin sedikit kesal. Minho terkekeh kecil kemudian mulai mengambil sumpit besi yang ada di dekatnya.

“Selamat makan Neul Rin, Minrin-ah,” gumam Minho lalu menyumpitkan beberapa lauk yang sudah dibuat wanita itu ke dalam mangkuk nasinya.

Neul Rin merapatkan kedua telapak tangannya, berharap mendengar kata-kata yang bisa membuat hatinya senang. Ia berharap Minho memuji semua hasil masakannya.

“Otte ?” tanya Neul Rin penuh harap. Minho mengangguk kecil kemudian menyumpit lagi bibimbap dan samgyupsal yang ada. Neul Rin menganggap itu sebagai jawaban iya lalu ikut makan bersama Minrin di sampingnya. Akhirnya Neul Rin bisa melakukan apa yang dilakukan Hyunmi.

***

Malamnya, setelah Neul Rin membuat makanan yang enak dan banyak untuk Minho, ia duduk seraya bersandar di tempat tidur menunggu Minho selesai mandi. Ia mau mendiskusikan banyak hal dengan Minho, termasuk sikap laki-laki itu yang berubah. Apa harus dikatakan ? Bahwa Minho belum pernah ‘menyentuhnya’ sama sekali sejak pernikahan itu. Neul Rin hanya ingat ketika Minho melakukannya dulu di Perancis, sebelum dokter memvonis bahwa dirinya hamil. Entah kenapa ia merindukan semua perlakuan baik Minho padanya.

Pintu kamar mandi terbuka dan Neul Rin segera membenarkan posisi duduknya. Ia pura-pura sibuk membaca buku, mencoba mengalihkan perhatiannya agar tidak menatap Minho. Ia bisa merasakan Minho mulai menaiki tempat tidur dan segera memejamkan mata. Neul Rin menutup buku yang sedang dibacanya kemudian merubah posisi duduknya itu menjadi tidur, saling berhadapan dengan Minho.

“Minho,” panggil Neul Rin membuat kedua mata bulat milik Minho terbuka. Keduanya saling menatap satu sama lain, sampai akhirnya Minho kembali memejamkan mata.

“Ya~. Kau bisa dengarkan aku dulu sebentar ?” tanya Neul Rin lagi. Ia melihat Minho mengangguk kecil tanpa membuka kedua matanya, “Sebenarnya apa masalahmu ?”

“Masalahku ? Apa ?” tanya Minho tidak mengerti seraya membua kedua matanya menatap Neul Rin.

“Kau berubah,” jawab Neul Rin singkat. Minho mengernyit lalu mengacak rambut Neul Rin kasar.

“Apa yang berubah ? Selama ini aku masih tetap Minho, Choi Minho,”

“Ahni, maksudku. Sikapmu yang berubah. Let me ask you something, do you still love me ? I mean, like the first time you disclose it. When you proposed to me at that time ?” pertanyaan Neul Rin membuat Minho mematung seketika. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sementara hatinya berteriak bahwa ia sangat mencintai wanita di depannya. Tapi otaknya seakan belum yakin apa yang dirasakan hatinya saat itu.

“Tentu saja. Memangnya kenapa ?” tanya Minho sedikit takut akan perubahan sikap Neul Rin.

“Ahni, hanya saja. Aku. . .. A-anniyo, lupakan saja percakapan kita malam ini huh ? Selamat tidur,” jawab Neul Rin cepat kemudian berbalik membelakangi Minho. Entah kenapa ia tidak bisa mengungkapkan semuanya ketika menatap kedua mata Minho.

“Mianhae kalau aku berubah. Aku tidak tahu kenapa, jadi jangan salahkan aku,” Minho mendekap Neul Rin dari belakang dan memejamkan matanya seraya menyandarkan kepala ke kepala wanita itu.

“M-Minho,  neo mwohae ?” tanya Neul Rin sedikit canggung. Ia tidak mendengar balasan dari Minho, dan akhirnya ia pun mencoba tidur dalam keadaan seperti itu. Dengan senyuman mengembang di bibirnya.

***

Neul Rin lagi-lagi berusaha untuk menjadi istri yang baik. Ia sudah belajar cara memakaikan dasi dari Youtube dan pagi ini akan mempraktekannya. Bahkan sarapan kali ini bukan sup jagung dan roti, melainkan nasi goreng kimchi. Ia akan buat Minho terkagum lagi seperti tadi malam.

Ia melihat Minho keluar dari kamar dan tengah berusaha memakai dasi. Neul Rin yang sedang menata meja makan segera menghampiri Minho dan menyingkirkan tangan Minho dari dasi itu. Perlahan tapi pasti, ia mulai menyimpulkan dasi itu menjadi bentuk yang sesuai. Ia merapikan kerah kemeja Minho lalu tersenyum lebar.

“Aku sudah bisa memakaikan dasi sekarang,” ujar Neul Rin seolah mengerti maksud dari tatapan heran Minho. Wanita itu segera menarik tangan Minho duduk di meja makan.

“Nasi goreng kimchi ? Darimana kau tahu resepnya huh ?” tanya Minho seraya menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.

“Rahasia,” jawab Neul Rin singkat lalu memakan nasi goreng miliknya juga.

“Sepertinya ini terlalu pedas, aku lebih suka yang agak manis seperti buatan Hyunmi. Lagi pula, kalaupun pedas, Minrin tidak bisa memakannya kan ?” ucapan Minho sempat membuat Neul Rin menghentikan tangannya di udara. Sendoknya terhenti diantara piring dan mulutnya, ia merasa sesak ketika Minho harus mengatakan Hyunmi lagi.

“Yeah, aku harus belajar banyak dari dia kan ? Aku tahu itu,” Neul Rin tersenyum semanis mungkin dan Minho juga membalas senyumnya. Ia harus menyembunyikan rasa cemburunya agar tidak terlalu terlihat oleh Minho.

“Ah iya, hari ini ada acara di kantor appa. Ia menyuruhku mengajakmu, nanti malam sih. Kau harus tampil secantik mungkin,”

“Ah jinjja ? Nanti Minrin bagaimana ?”

“Dia bisa dititipkan pada Minsuk eonni dan Jino. Hanya semalam,” Minho tersenyum sekilas, ia melihat Neul Rin semakin memperlebar senyumannya dan dalam sekejap sudah memeluk Minho.

“Dimana acara appa ?” tanya Neul Rin seraya melepas pelukannya dan menatap Minho.

“Mmm, di hotel di daerah Kyeonggi. Nanti aku jemput,”

“Jinjja ? Gomawo~,”

***

Neul Rin menatap pantulan dirinya di cermin, tube dress berwarna hitam selutut dan rambut yang dikuncir dengan menyisakan sedikit rambutnya di depan. Sisa rambut itu sedikit ia buat keriting sehingga membuatnya wajahnya terlihat semakin kurus. Ia tersenyum sendiri lalu segera keluar dari apartemen, mengingat Minho yang akan menjemputnya sebentar lagi.

Tak lama setelah menuruni tangga, Neul Rin melihat sebuah mobil hitam berhenti dan ia pun segera naik ke dalamnya. Terlihat Minho yang sudah tampil rapi, dengan tuxedo berwarna hitam. Tampak serasi dengan dress yang digunakannya saat itu.

“Oh, yeppeuda,” ujar Minho sontak membuat Neul Rin bersemu.

Sesampainya di hotel, tempat acara berlangsung, Minho dan Neul Rin segera turun dan membiarkan mobilnya diparkirkan oleh valet. Dengan cepat Neul Rin menggamit lengan Minho dan dengan senyuman lebar memasuki hall hotel tersebut.

Beberapa pasang mata yang tertuju ke arahnya, sempat membuat Neul Rin sedikit gugup. Ia melihat Minho melangkah dengan mantap, sementara dirinya sedikit terseok karena heels yang dipakainya cukup tinggi. Ia harus sering-sering menegakkan duduknya agar tidak terpeleset.

“Rin-ah, itu appa. Ayo kita kesana,” ajak Minho seraya menarik tangan istrinya menuju sudut hall. Neul Rin sedikit gugup, ia tidak pernah berbicara secara intens dengan kedua orang tua Minho. Ia hanya bertemu dengan kedua orang tua  Minho ketika pernikahannya dulu.

“Appa,” gumam Minho dan memberhentikan langkahnya bersama Neul Rin di dekat laki-laki paruh baya itu.

“Ah. Neul Rin ?” tanya tuan Choi tampak kagum dengan penampilan Neul Rin.

“N-ne, appa. Annyeong haseyo,” jawab Neul Rin gugup lalu membungkukkan badannya sopan.

“Minho-ya, tadi appa lihat Hyunmi disini bersama suaminya. Ia terlihat sangat cantik walaupun dalam keadaan hamil. Sepertinya ia tambah cantik setelah tidak bertemu lagi selama beberapa bulan ini,” ujar tuan Choi pada anak laki-lakinya, Neul Rin melirik ke arah Minho yang terlihat antusias juga akan ucapan ayahnya.

“Jinjja ?” tanya Minho, membulatkan kedua matanya.

Minho berbalik dan meninggalkan Neul Rin begitu saja bersama appanya. Neul Rin mendesah napas panjang melihat kepergian Minho, menghilang di kerumunan orang-orang.

“Kau harus seperti Hyunmi, Neul Rin-ah. Ia sangat baik, ramah, dan keibuan. Kau harus lebih sering berdiskusi dengan aku dan ibunya Minho sama seperti Hyunmi,” seru tuan Choi kemudian meninggalkan Neul Rin juga.

“Aku bukan Hyunmi, appa,” gumam Neul Rin pelan. Ia mencoba menahan rasa sesak di dadanya, dan berusaha tidak menangis.

Neul Rin melangkahkan kakinya menuju tempat minuman. Ia mengambil satu gelas wine dan menyesapnya sedikit lalu mengitarkan pandangan ke seluruh hall. Terlihat beberapa wanita yang sama sepertinya tampil lebih elegan. Dan sepertinya hanya Neul Rin yang tampil dengan biasa-biasa saja disana. Ia membalikkan badannya bermaksud beranjak dari sana, tapi ia malah menabrak seseorang sehingga wine yang di pegangnya tumpah ke tuxedo yang dipakai laki-laki itu.

“Jweisonghamnida,” ujar Neul Rin seraya membungkuk berkali-kali. Ia meraih tissue yang ada dan mencoba membersihkan wine yang ada di tuxedo laki-laki itu.

“Ya ! Kau kira cukup hanya dengan meminta maaf huh ?” seru laki-laki di depannya, membuat perhatian beberapa orang di sekitar menatapnya heran.

“Mianhamnida sajangnim,” lagi-lagi Neul Rin hanya bisa menggumam terima kasih sambil membersihkan wine itu.

“Stop ! Jangan sentuh aku dengan tanganmu itu,” ujarnya. Laki-laki itu melengos meninggalkannya, tidak peduli kali ini puluhan pasang mata yang menatap ke arahnya.

Neul Rin menundukkan kepala, ia menitikkan air mata kesalnya. Ia tidak bisa melawan pada orang itu di pesta seperti ini. Atau ia akan mempermalukan dirinya sendiri dan juga Minho. Mungkin lebih baik ia pergi dari sana daripada membuat masalah lagi.

“Neul Rin-ah. Gwenchana ?” tanya Minho seraya memegang kedua bahu Neul Rin kuat. Wanita itu menggeleng kemudian melepaskan kedua tangan Minho dari pundaknya.

“Aku mau pulang,” jawab Neul Rin masih tetap menundukkan kepalanya.

“Baiklah, kita pulang sekarang,” Minho melepas jas dari tuxedo yang dipakainya dan menyelimuti bahu Neul Rin. Ia membawa wanita itu keluar dari kerumunan orang yang mengelilingi.

Sesaat setelah sampai di mobil, Neul Rin segera mengeluarkan tangisannya. Entah karena apa, tapi ia sangat ingin menangis. Rasa sesak di dadanya tiba-tiba muncul mengingat kejadian tadi. Ia tidak suka diremehkan di depan orang banyak seperti itu.

“Ada apa sebenarnya ?” tanya Minho seraya menatap jalanan di depannya.

“Ahni,” jawab Neul Rin lalu memalingkan wajah keluar jendela, memandangi setiap gedung-gedung tinggi yang dilewati dengan cepat.

“Kenapa kau tidak mau mengungkapkannya ? Kalau Hyunmi, mungkin ia sudah meledak-ledak memarahiku karena kesalahanku atau karena ia kesal. Tapi kau –,”

“Stop ! Aku bukan Hyunmi, dan jangan pernah membandingkan aku dengannya,” Neul Rin menatap Minho tajam kemudian terisak lagi.

“Wae ? Ada apa denganmu huh ? Kau itu seharusnya belajar banyak dari Hyunmi karena sikapnya yang baik. Dia –,”

“Berhenti membahas wanita itu Minho. Aku Neul Rin, dan aku punya sifat sendiri yang tidak bisa disamakan dengan Hyunmi. Berhentikan mobilnya disini sekarang juga,” seru Neul Rin marah. Ia melihat Minho menoleh dan mengernyit heran.

“Baiklah. As your wish, miss,” Minho menepikan mobilnya dan membiarkan Neul Rin turun. Wanita itu segera memberhentikan taksi tanpa mau peduli pada Minho yang masih diam di dalam mobil. Sedangkan Minho, ia juga kesal karena melihat Neul Rin tidak mau mendengarkannya. Seharusnya Neul Rin tahu, bahwa Minho tidak bisa melupakan Hyunmi sepenuhnya.

***

Selama beberapa hari Minho tidak menemukan tanda-tanda bahwa Neul Rin akan kembali ke apartemennya. Ia tidak mendengar kabar dari istri dan anaknya selama beberapa hari itu juga. Ketika pulang dari kantor ayahnya, ia selalu melihat ke sekeliling berharap Neul Rin pulang dan menyambutnya seperti dulu. Dan kali ini ia baru menyesal, seharusnya ia tidak membandingkan Neul Rin dan Hyunmi karena memang mereka berbeda. Dan mempunya sifat khas masing-masing.

“Ya ! Neo mworago ?! Ini aku yang buat semuanya !”

“Nasi goreng kimchi,”

“Aku bukan Hyunmi, dan jangan pernah membandingkan aku dengannya,”

Minho selalu menatap meja makan yang dulu selalu diisinya bersama Neul Rin dan Minrin. Ketika Neul Rin berusaha memasak makanan kesukaannya, dan belajar memakaikan dasi. Selama ini wanita itu selalu berusaha menjadi Hyunmi padahal ia tahu bahwa Neul Rin tidak menyukai itu.

Dan lagi-lagi ia tidak bisa menghubungi ponsel Neul Rin. Hasilnya selalu sama dan tidak pernah aktif. Sudah seminggu, dan ia benar-benar merindukan kehadiran sosok Neul Rin di sampingnya. Ia menyukai Neul Rin yang apa adanya, bukan dibuat-buat seperti Hyunmi. Ia menyukai itu, dan ia berharap semoga Neul Rin cepat menghubunginya lagi.

***

Wanita itu terlihat sangat buruk setelah pergi dari apartemennya. Ia terlihat lebih sering melamun dan kadang mengacuhkan anaknya sendiri. Minsuk hanya bisa menggeleng sendiri melihat adik iparnya seperti itu. Sudah seminggu wanita itu tinggal di apartemennya untuk menghindari Minho, dan sepertinya masalahnya sangat berat sehingga membuatnya seperti itu.

“Jino-ya, kau yakin tidak akan memberitahu Minho tentang hal ini ?” tanya Minsuk meyakinkan.

“Tidak. Aku tidak pernah melihat Neul Rin seperti ini, dan hanya Minho yang membuatnya seperti ini,” jawab Jino seraya menatap mantan pacarnya itu yang memandang kosong ke arah makanannya.

“Eonni,” gumam Neul Rin membuat Minsuk dan Jino yang duduk di depan wanita itu mendongak dari makanan mereka, “Apa yang kalian lakukan, kalau ada yang memaksa kalian melakukan ini itu. Atau mungkin, selalu mengungkit-ngungkit masa lalunya dan membandingkan antara kalian dengan masa lalunya ?”

“Tidak suka. Dan tidak akan pernah suka. Apa Minho mengungkit tentang Hyunmi ?” tanya Minsuk cepat. Neul Rin segera tersadar bahwa ia membocorkan masalah rumah tangganya sendiri, kemudian menggeleng.

“Ahni, aku bilang aku kesini untuk refreshing. Minho sedang pergi bersama appanya keluar kota, jadi aku lebih memilih tinggal disini,” jawab Neul Rin seraya tersenyum senormal mungkin.

“Tapi kenapa kau tidak bawa baju ? Atau mungkin kau kabur dari apartemen Minho ?” tanya Jino lagi. Neul Rin menggeleng lalu tersenyum lagi.

“Tidak. Aku baru tahu Minho pergi, dan apartemennya sudah dikunci. Jadi aku lebih memilh kesini,” jawab Neul Rin membuat Jino sedikit bingung. Biasanya apartemen mempunyai kunci cadangan, tapi wanita di depannya tidak memikirkan itu.

“Ya. Minrin sudah menunggu makanannya Neul Rin-ah,” ujar Minsuk menyadarkan Neul Rin yang terlihat melamun lagi. Wanita itu tersadar dan segera menyuapkan bubur yang ada di dekatnya pada Minrin.

“Apapun alasanmu, kau harus tetap meminta maaf pada Minho,” seru Jino tiba-tiba, Neul Rin menoleh dengan cepat dan mengernyit tidak mengerti. Atau lebih tepatnya, pura-pura tidak mengerti.

“Jangan memandangku seperti itu. Aku tahu kau mengerti,” Jino tersenyum menyemangati, dan Neul Rin balas tersenyum juga karena itu. Sekarang ia tahu kenapa Minho selalu membandingkannya dengan Hyunmi. Karena ia sadar, bahwa ia juga membandingkan Minho dengan Jino di dalam hatinya. Ada beberapa sisi yang tidak bisa dilupakan olehnya tentang Jino, begitu pun dengan Minho. Ia salah juga dalam masalah ini.

“Jadi. . kapan kalian akan memberi Minrin sepupu ?” tanya Neul Rin mengalihkan pembicaraan. Jino dan Minsuk saling memandang sekilas kemudian memalingkan wajah ke arah lain. Wajah keduanya memerah, dan hal itu membuat Neul Rin tertawa. Ia bahkan senang sudah bisa tertawa lagi sekarang.

***

Beberapa hari kemudian Neul Rin meyakinkan dirinya sendiri untuk bertemu Minho dan meminta maaf. Ia tidak mengerti kenapa Minho tidak mencarinya ke apartemen Minsuk dan Jino, padahal jelas-jelas hanya Minsuk yang bisa ditemuinya di korea selain Jonghyun. Dan kalau boleh jujur, ia sangat merindukan Minho. Ia juga sering mendapati Minrin menangis, ketika ia menunjukkan foto Minho yang ada di ponselnya tangisannya berhenti. Neul Rin tahu bahwa Minrin merindukan appanya juga.

“Gomawo ahjumma,” seru Neul Rin pada seorang wanita paruh baya, yang menjaga sebuah kasir supermarket. Ia keluar dari supermarket itu, dan segera menyeberang jalan untuk kembali ke apartemen Minsuk. Ia tidak bisa meninggalkan Minrin yang sedang tertidur sendirian terlalu lama. Karena Minsuk dan Jino tengah keluar juga, jadi ia harus kembali secepat mungkin.

Tiba-tiba langkah Neul Rin terhenti. Ia seperti melihat bayangan Minho yang tengah memasuki gedung apartemen Minsuk. Neul Rin menggelengkan kepalanya sendiri untuk menghilangkan bayangan itu. Mungkin hanya halusinasi-nya saja, karena ia merindukan Minho.

Dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam lift, dan butuh beberapa saat untuk sampai di lantai dimana kamar Minsuk berada. Ketika keluar dari dalam lift, Neul Rin hampir saja mendapat serangan jantung dan secara refleks menjatuhkan tas plastic yang dibawanya. Ia melihat Minho, berdiri dengan tegap, di hadapannya, dan menatap kedua matanya secara intens.

“Neul Rin,” gumam Minho pelan kemudian memeluk wanita itu erat. Neul Rin hampir kehabisan napas karena pelukan Minho yang terlalu erat itu. Ia segera mendorong Minho menjauh, dan kembali meraih tas plastic belanjaannya yang terjatuh. Tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Minho, ia berlari menuju apartemen Minsuk.

“Neul Rin, kita harus bicara,” sahut Minho sambil berusaha menyamai langkahnya dengan Neul Rin. Wanita itu tidak bergeming dan membuka pintu apartemen Minsuk dengan cepat. Ia kembali menutup pintu apartemen Minsuk, tanpa peduli Minho sedikit pun.

“Aww !” teriakan Minho membuat langah Neul Rin terhenti. Ia kembali berbalik dan membuka pintu apartemen.

“Wae ?” tanya Neul Rin sedikit khawatir. Minho tersenyum kecil kemudian sedikit mendorong Neul Rin ke dalam apartemen agar ia bisa masuk juga.

“Lepas !” seru Neul Rin kesal seraya melepaskan tangan Minho dari kedua pundaknya, “Keluar dari sini sekarang juga, atau aku teriak,” ancamnya.

“Aku tidak akan keluar dari sini sebelum masalah kita selesai. Dan silahkan teriak, aku hanya tinggal bilang kalau istriku yang cantik ini sedang kesal,” balas Minho, tersenyum meledek.

“Baiklah, aku akan teriak sekarang juga. Yaa ! Dowa jwoyo !! Hmmph –,” teriakan Neul Rin terhenti ketika tangan kekar Minho sudah membekap mulutnya.

“Diam sebentar. Aku kesini bukan untuk mencari masalah, tapi untuk menyelesaikan masalah,” Minho menurunkan tangannya dan menatap kedua mata Neul Rin. Wanita itu segera memalingkan wajahnya tanpa mau menatap Minho. Rasanya sesak sekali ketika mengingatnya selalu membandingkannya dengan Hyunmi.

“Nan niga saranghaeyo Neul Rin-ah. Maaf kalau selama ini aku selalu membandingkanmu dengan Hyunmi, aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf juga karena appa sudah membuatmu kesal di pesta waktu itu, dan juga aku yang sudah meninggalkanmu demi Hyunmi. Jeongmal mianhae,” sambung Minho seraya membungkukkan badannya dalam.

Neul Rin menolehkan kepalanya lagi dan melihat Minho sudah membungkukkan badannya dalam. Ia hampir menangis, kedua matanya sudah mengabur karena air mata. Dan sedetik kemudian air matanya benar-benar jatuh, ia berlutut di hadapan Minho lalu menangis terisak.

“Rin-ah. Gwenchanayo ?” tanya Minho panic seraya berlutut di hadapan wanita itu. Neul Rin tidak menjawab dan malah semakin terisak.

“Aku tidak pantas untukmu Minho. Hiks. Aku yang seharusnya minta maaf, karena tidak pernah mengerti. Seharusnya aku sadar kalau aku tidak bisa lebih baik dari Hyunmi. Semuanya menyukai Hyunmi, tapi tidak dengan aku. Aku tahu kau tidak bisa melupakan semua kebaikan Hyunmi selama ini, selama 5 tahun lebih menjalin hubungan dengannya. Aku sudah menghancurkan hubungan kalian, dan aku sadar itu . .”

“Mungkin aku memang cocok disebut wanita murahan, yang hanya bisa merebut pacar orang lain dan menelantarkan pacarnya sendiri. Kau tidak salah Minho, aku hanya malu untuk bertemu denganmu lagi. Aku tidak bisa menjadi istri yang baik, dan tidak bisa mengerti keadaanmu yang sebenarnya,”

Minho mendengar setiap ucapan Neul Rin dengan hati miris. Ia tidak pernah menyangka bahwa selama ini Neul Rin menganggapnya seperti itu. Ia tidak pernah tahu selama ini Neul Rin menyimpan perasaan bersalah dalam hatinya. Perlahan ia mengangkat wajah wanita itu dengan kedua tangannya dan menghapus setiap bulir air mata yang keluar dari kedua mata Neul Rin. Minho menatap lekat kedua mata wanita itu seraya tersenyum kecil.

“Kau tidak pernah salah Neul Rin. Lihat aku,” ujar Minho lembut, mencoba membuat Neul Rin semakin menatapnya, “Apa pernah aku mengungkit masalah itu ? Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Dan hubunganku dengan Hyunmi, mungkin memang harus berakhir. Dia bukan takdirku, dan kau adalah takdirku. Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan, dan Ia sudah merencanakan ini untuk kita. Kau tidak salah sama sekali,” ucapan Minho semakin membuat Neul Rin terisak. Dengan sigap Minho menarik Neul Rin ke dalam pelukannya.

“Minho-ya,” gumam Neul Rin pelan. Minho menggumam tidak jelas lalu mengelus rambut Neul Rin lembut.

“Tolong bantu aku. Bantu aku untuk menjadi Hyunmi,” sambungnya, sontak membuat Minho menggeleng cepat.

“Tidak. Aku lebih suka Neul Rin yang apa adanya. Yang tidak bisa memasak makanan korea dan juga tidak bisa memakaikan dasi. Neul Rin yang selalu cerewet dan tidak pendiam seperti kemarin-kemarin. Neul Rin yang sangat bertolak belakang dengan Hyunmi. Tapi itu yang mambuatku suka padamu. Kembalilah menjadi Neul Rin-ku,” sahut Minho cepat. Ia melepas pelukannya lalu menatap Neul Rin lagi, kali ini dengan lebih dalam.

“Jinjjayo ?” tanya Neul Rin lemah.

“Jinjja,” jawab Minho seraya tersenyum lebar dan berhasil membuat Neul Rin tersenyum juga, “Kau tahu ? Biasanya aku dan Hyunmi, setelah menyelesaikan masalah akan ditutup dengan sebuah ciuman lembut,”

Neul Rin mengernyit heran kemudian terlintas sebuah ide di kepalanya, “Kalau denganku, setelah menyelesaikan masalah akan ditutup dengan . .,” ucapan Neul Rin di teruskan dengan berbisik pelan pada Minho, sontak membuat wajah keduanya memerah. Neul Rin menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian bangkit dari posisi berlututnya.

“Aku setuju,” sahut Minho seraya menyergah tangan Neul Rin.

Neul Rin kembali berbalik dan menatap Minho. Perlahan tapi pasti jarak diantara mereka pun semakin kecil. Baru saja kedua bibir mereka saling bertautan sebelum akhirnya sebuah suara membuyarkan kegiatan mereka.

“Minrin. Aigoo, aku sampai lupa ada dia disini,” ujar Neul Rin canggung lalu sedikit tergesa memasuki kamarnya. Minho mengikuti dan dengan segera menghampiri Minrin yang terduduk di atas tempat tidur. Tangisan anak itu pun terhenti melihat appanya ada di depan mata, bukan hanya foto. Minho pun meraih Minrin ke dalam pelukannya, menghilangkan rasa rindunya.

“Minrin-ah. Bogoshipeo,” seru Minho berhasil membuat anak itu tertawa kecil. Dan entah kenapa pemandangan itu membuat Neul Rin merasa sangat beruntung. Ia memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia.

***

Matahari tampak sudah menyinari kamar Minho dan Neul Rin pagi itu. Tapi keduanya tampak tidak terusik dengan cahaya itu dan masih saja tertidur. Saling memeluk satu sama lain, dan tidak mau terganggu sedikit pun.

Neul Rin menggeliat perlahan mencoba melepaskan tangan Minho yang memeluk tubuhnya. Ia mendongak sedikit lalu memberi kecupan kilat sebagai ucapan selamat pagi. Minho pun membuka matanya lalu sedikit menunduk untuk menatap Neul Rin yang masih berada di dalam pelukannya.

“Selamat pagi tuan,” seru Neul Rin sontak membuat keduanya tertawa kecil.

“Selamat pagi juga, tuan putri,” balas Minho kemudian mengecup puncak kepala wanita itu lembut.

“Ayo bangun. Ini sudah pagi, dan aku harus menyiapkan sarapan. Kau juga harus berangkat ke kantor kan ?” tanya Neul Rin.

“Ah, jinjja ? Sudah pagi lagi ? Kenapa cepat sekali, padahal aku masih mau tidur,” balas Minho malas tanpa mau melepaskan pelukannya pada Neul Rin.

“Ya. Lepaskan tanganmu. Aku harus bangun. Jangan karena Minrin menginap di rumah Minsuk eonni, kita jadi malas-malasan seperti ini,” seru Neul Rin seraya berusaha mendorong Minho menjauhinya, “Mandi sana. Badanmu bau Choi Minho,”

“Tapi kau suka bau badanku Kim Neul Rin, aku tahu itu. Mmm, kita mandi berdua bagaimana ?” tawar Minho semangat.

“Ya. Ya. Dasar mesum. Ternyata kau lebih mesum dari Jonghyun oppa huh ? Sirho, aku nanti saja mandinya. Ayo bangun !!” Neul Rin masih saja berusaha melepaskan pelukan Minho, tapi tetap tidak bergerak sedikit pun tangan Minho dari tubuhnya.

“Haish. Kajja,” Minho melepas pelukannya dan segera menggendong Neul Rin. Laki-laki itu melangkah dengan hati-hati, melewati baju-baju mereka yang berserakan di lantai.

“Choi Minho ! Ya ! Turunkan aku sekarang juga !” pekik Neul Rin kaget dan setengah malu-malu juga karena perlakuan Minho.

“Ssst,”

“Ya !”

BLAM

Pintu kamar mandi pun tertutup dan keduanya sudah masuk. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan kali ini Neul Rin sangat bersyukur karena Minho tidak pernah mengungkit lagi ingatannya bersama Hyunmi. Minho juga tidak pernah mempersoalkan makanan perancis yang selalu dibuatnya setiap hari. Ia juga telah membuat sesuatu yang berbeda dari Hyunmi. Ia tidak megikuti Hyunmi lagi, melainkan membuat cara tersendiri untuk membuat Minho suka padanya. Dan pada akhirnya mereka menjadi keluarga bahagia yang tidak kalah dengan keluarga Jong-Mi.

-FIN-

One thought on “[FanFic] Nothing Better than . . (Wrong Marriage After Story)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s