[FanFic] Let This Go . . (Curse Marriage Sequel – Spec. Edition)

Title       : Let This Go . . (Curse Marriage sequel – Special Edition)

Author : (Still) Ima Shineeworld

Cast        : Kim Jonghyun and Kim Hyunmi of course *laugh

Other    : Shim Changmin, and other cameo

Rating   : PG+15

Genre    : Romance, a bit comedy, and Angst (?)

—————————–

A few years later . .

Terlihat beberapa anak-anak berusia sekitar 3 tahun tengah berlarian memasuki halaman sebuah sekolah. Mereka baru saja memulai tahun ajaran baru di sebuah taman kanak-kanak. Terlihat juga beberapa orang tua yang ikut mengantar anaknya masuk ke dalam. Kebanyakan anak-anak itu diantar kedua orang tuanya, tapi tidak dengan seorang anak lainnya. Ia tampak menatap seorang laki-laki berambut coklat di depannya dengan mendongak dan tersenyum kecil.

“Appa, kau akan menjemputku kan ?” tanya anak laki-laki itu, pada laki-laki di depannya.

“Keurae, appa akan menjemputmu. Baik-baik di sekolah huh ?” tanya Jonghyun lalu berjongkok di depan anak laki-laki kesayangannya itu.

“Ne. Annyeong appa,” Jonghyun mengacak rambut mi hyun lembut dan terus memperhatikan anak itu sampai menghilang masuk ke dalam kelas.

Ia kembali berdiri dan segera masuk ke dalam mobil, bersiap pergi ke kantornya dan memulai aktifitas seperti hari biasa. Jonghyun melihat ponselnya bergetar, kemudian dengan sedikit malas mengangkatnya.

‘Jonghyun-ssi, tamunya sudah menunggu anda,’

“Tch, kau lupa tata krama mengangkat telepon yang baik ? Aku akan segera kesana,”

‘Jweisonghamnida, saya anjurkan anda cepat datang,’

“Ne~,”

Jonghyun mematikan telepon dari sekretaris barunya itu dengan kesal. Baru kali ini ia menemukan sekretaris yang tidak sopan seperti itu. Bahkan wanita itu tidak mengucapkan ‘yeoboseyo’ sama sekali. Dan ia harus menyalahkan Insa yang sudah memilihkan sekretaris buruk seperti itu. Insa mendeskripsikan bahwa wanita itu lebih baik dari Hyunmi, tapi itu tidak terbukti. Mengingat itu, Jonghyun merasakan rindu menyerang hatinya lagi. Ia merindukan, sangat merindukan Hyunmi.

***

Beberapa pasang mata tertuju pada Jonghyun yang baru saja masuk. Beberapa karyawan tampak membungkuk sopan pada Jonghyun dan hanya dibalas senyuman kecil olehnya. Ia melihat Insa tidak ada di meja kerjanya, dan sudah bisa ditebak kalau ia ada di ruangan Jonghoon. Seperti biasanya.

“Dimana tamunya ?” tanya Jonghyun pada sekretaris barunya di dekat pintu masuk ruangannya.

“Dia ada di dalam,” jawab wanita itu.

Jonghyun mengangguk kemudian melangkah masuk ke dalam ruangannya. Ia menaruh tas yang dibawanya kemudian menghampiri tamunya yang sudah duduk di sofa.

“Maaf sudah menunggu lama,” ujar Jonghyun cepat. Tamu yang sudah duduk itu pun kembali berdiri dan menghampiri Jonghyun yang masih berdiri di dekat sofa.

“Wae ?”

“Aku harus mengantar anakku ke sekolah,”

“Ah, jinjjayo ? Anakmu ?”

“Ne. Atau harus kusebut, anak kita ?”

Ucapan Jonghyun membuat Hyunmi terkekeh pelan. Dengan cepat ia memeluk Jonghyun dengan erat dan dibalas erat juga oleh Jonghyun. Mereka terus di dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat. Saling melepas rindu satu sama lain setelah hampir 2 tahun lebih tidak bertemu.

“Bogoshipeo,” gumam Jonghyun lalu mengecup puncak kepala Hyunmi lembut.

“Ne~, nado. Aigoo~, bagaimana kabar mi hyun setelah aku tinggal ke Jepang selama dua tahun huh ?” tanya Hyunmi seraya menarik tangan Jonghyun duduk di sofa.

“Ya ! Kau tidak menanyakan kabarku dulu ? Aku ini suamimu, bodoh,” jawab Jonghyun gemas. Hyunmi terkekeh kemudian mengacak rambut Jonghyun kasar.

“Ne, ne. Bagaimana kabarmu, Kim Jonghyun ?” tanyanya sedikit manja.

“Tidak baik,” jawab Jonghyun singkat. Hyunmi mengernyit heran kemudian sedikit menjauhkan wajahnya.

“Waeyo ? Kau sakit ?” Hyunmi memegang kening Jonghyun, tapi tangan laki-laki itu sudah mencegah tangan Hyunmi.

Perlahan Jonghyun menurunkan tangan Hyunmi dari keningnya. Ia mengerling nakal ke arah Hyunmi dan mulai mendorongnya ke sandaran sofa.

“Ya. Ya. Jonghyun ini kantor. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh,” seru Hyunmi berusaha mencegah Jonghyun yang semakin menyudutkannya.

“Pintunya sudah aku kunci dan kau tidak bisa mengelak lagi,” balas Jonghyun seraya mengelus rambut Hyunmi lembut.

“Ya !”

PLETAK

Sebuah asbak yang menghiasi meja tamu mendarat dengan mulus di kepala Jonghyun. Laki-laki itu segera bangkit seraya meringis kesakitan. Hyunmi pun kembali menegakkan tubuhnya dan menaruh kembali asbak yang tadi dipakainya untuk memukul Jonghyun.

“Kau boleh melampiaskannya nanti di apartemen Jonghyun. Ini kantor dan bukan tempat yang tepat,” seru Hyunmi. Jonghyun hanya mengangguk kecil sembari memegangi kepala belakangnya yang masih berdenyut.

“Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang,” ajak Jonghyun tiba-tiba.

“Chamkan ! Kau harus kerja,” sergah Hyunmi cepat. Tapi Jonghyun sudah menarik tangan wanita itu dari sofa kemudian mengambil tasnya lagi dan berjalan keluar ruangan masih tetap menarik Hyunmi, “YA !” pekik Hyunmi sedikit kesal.

Jonghyun menghiraukannya dan tetap menarik tangan Hyunmi, “Hari ini aku izin,” ujar Jonghyun pada sekretaris barunya yang tengah menatap layar komputer. Wanita yang menjadi sekretaris itu pun hanya bisa mengernyit heran ketika melihat Hyunmi ditarik oleh Jonghyun dengan sedikit terpaksa.

“Hyunmi !! Bogoshipeo !” tiba-tiba Insa datang menghentikan langkah keduanya. Hyunmi melepaskan tangannya dari Jonghyun lalu memeluk Insa.

“Ne~, nado bogoshipeo,” balas Hyunmi. Keduanya masih seperti itu, sedangkan Jonghoon dan Jonghyun hanya bisa menatap iba ke arah dua sahabat itu.

“Baiklah, sudah cukup. Ayo kita pulang,” ajak Jonghyun seraya menarik Hyunmi, melepaskan pelukan itu. Ia pun kembali menarik tangan Hyunmi menjauh tanpa peduli tatapan heran dari Jonghoon dan Insa.

“Ah iya,” Jonghyun kembali berbalik pada Insa, “Kau bisa menjemput Mi hyun nanti ? Ia pulang jam 10, di TK Cheongdam,” serunya seraya tersenyum singkat. Belum sempat Insa mencela, Jonghyun sudah melengos pergi.

Sementara itu Insa hanya bisa menganga ketika mendengar perintah Jonghyun. Sejak kapan ia menjadi pesuruh Jonghyun untuk menjemput mi hyun. Padahal ia sendiri sudah punya acara sendiri dengan Jonghoon.

“Kita jemput bersama-sama ?” tanya Jonghoon tiba-tiba. Insa menatap Jonghoon sekilas kemudian mengangguk mantap.

***

“Jadi. . ceritakan apa yang kau alami selama di Jepang,” seru Jonghyun seraya memakan sepotong apel yang baru saja selesai di potong oleh Hyunmi. Ia menopang kedua tangannya ke atas meja dan menatap Hyunmi yang duduk di depannya.

“Hanya belajar seperti biasa. Kau tahu ? Kuliah S2 ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Aku sangat sibuk sampai tidak bisa pulang ke Korea,” jawab Hyunmi dan ikut memasukkan potongan apel ke mulutnya.

“Tapi kau sudah setingkat di atasku. S2, sedangkan aku masih lulusan S1,” balas Jonghyun, mengerucutkan bibirnya kesal. Hyunmi terkekeh kecil kemudian mengacak rambut Jonghyun.

“Tch, pikiranmu dangkal sekali. Walaupun sudah S2, aku hanya seorang istri yang harus menruti suaminya. Iya ‘kan ?” Hyunmi membetulkan letak kemeja besarnya yang sedikit merosot kemudian menatap Jonghyun lagi.

Dan entah kenapa Jonghyun tidak pernah mau melepaskan pandangannya pada wanita itu. Ia sangat beruntung menikah dengan wanita yang cantik, pintar, dan dewasa seperti Hyunmi. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana nasibnya kalau saja kehilangan Hyunmi nanti.

“Apa ? Kau selalu menatapku seperti itu. Belum puas huh ?” tanya Hyunmi cepat. Ia malah melihat Jonghyun tersenyum manis. Sangat manis bahkan membuat hati Hyunmi luluh seketika.

“Mmm, sebenarnya aku belum puas. Kebetulan mi hyun sedang dibawa jalan-jalan oleh Jonghoon dan Insa, bagaimana kalau kita lanjutkan lagi ?” tanya Jonghyun. Hyunmi mengernyit mendengar isi pikiran Jonghyun yang lagi-lagi mengarah ke ‘sana’.

“Sirheo. Aku harus istirahat karena jetlag,” elak Hyunmi.

“Aaah, chebal~,” rengek Jonghyun manja. Ia menggeser kursi makannya ke dekat Hyunmi dan mengeluarkan puppy eyes andalannya.

“Hush ! Menjauh sana. Dan jangan pernah keluarkan puppy eyes mu itu !” seru Hyunmi. Jonghyun menghiraukannya, dalam sekejap ia sudah merengkuh bibir Hyunmi lembut.

“Appa !!” teriakan seorang anak kecil di depan pintu menghentikan kegiatan Jonghyun. Ia segera menjauhkan wajahnya kemudian mengumpat kecil.

“Wae ? Kau tidak suka mi hyun datang ?” tanya Hyunmi heran, melihat Jonghyun cemberut dan mengumpat pelan.

“Ahni. Biar aku yang buka,” dengan malas Jonghyun beranjak dari kursinya dan membuka pintu apartemen. mi hyun pun segera memeluk kaki Jonghyun seraya terkekeh kecil.

“Appa, Insa noona mengajakku ke taman bermain tadi. Mereka sangat baik,” serunya. Kekesalan Jonghyun pun hilang ketika mendengar suara lucu mi hyun. Ia segera menggendong mi hyun dan mengacak rambut anak itu pelan.

“Lihat siapa yang datang,” ujar Jonghyun seraya membawa mi hyun ke meja makan.

“Eomma~ !!!” pekik mi hyun senang. Ia segera turun dari gendongan Jonghyun kemudian berlari ke arah Hyunmi. Wanita itu pun berlutut dan dengan cepat menangkap mi hyun ke dalam pelukannya.Tanpa sadar setetes air mata meluncur dari kedua sudut mata Hyunmi.

“Neomu neomu geuriwo. Neomu bogoshipda Mi hyun-ah,” gumam Hyunmi seraya mempererat pelukannya pada mi hyun.

“Nado eomma. Kenapa eomma pergi ? Kenapa eomma meninggalkan mi hyun waktu itu ?” tanyanya polos membuat Hyunmi semakin menangis.

“Mianhae. Eomma harus kuliah di Jepang karena paksaan dari halmeoni. Mianhae karena eomma meninggalkan mi hyun,” Hyunmi melepas pelukannya lalu menatap kedua mata bulat milik mi hyun.

“Eomma, ulljima,” gumam mi hyun pelan seraya menghapus air mata Hyunmi dengan jemari kecilnya.

“Oke, hentikan adegan terharu ini,” Jonghyun menyeka sudut matanya yang ternyata mengeluarkan air mata juga kemudian menggendong mi hyun.

“Besok kita pergi ke Everland. Hanya kita bertiga, otte ?” tanya Jonghyun dan dijawab anggukan senang oleh mi hyun. Anak itu memeluk leher Jonghyun, dan beberapa detik kemudian Hyunmi juga sudah memeluknya.

***

Beberapa orang tampak memperhatikan Jonghyun dan Hyunmi yang terlihat bahagia membawa mi hyun berjalan-jalan di sekitar Everland. Ketiganya memakai hiasan kepala berbentuk kelinci, yang jelas-jelas akan menarik perhatian orang-orang. Tidak jarang orang-orang tertawa melihat tingkah Jonghyun yang agak konyol ketika menghibur Hyunmi ataupun mi hyun.

Karena matahari yang cukup terik, akhirnya Jonghyun untuk memutuskan untuk makan siang dan beristirahat di sebuah café masih tetap di dalam everland. Terlihat beberapa keluarga yang juga tengah makan disana, tapi tetap saja Jonghyun dan Hyunmi yang tampak paling muda.

“Buka mulutmu, aaa~,” seru Hyunmi pada mi hyun yang tepat berada di sampingnya. Jonghyun hanya tersenyum kecil melihat kedua orang yang disayanginya sudah bersama lagi.

“Ah iya,” Hyunmi menghentikan kegiatannya sejenak lalu menatap Jonghyun, “Jonghyun-ah, ada perusahaan yang memintaku untuk bekerja. Apa aku boleh. . Mmm,” wanita itu tampak bingung mengatakannya. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal dan memalingkan wajahnya dari Jonghyun.

“Kau mau kerja lagi ?” tanya Jonghyun seolah mengerti maksud kegugupan Hyunmi yang tiba-tiba.

“Ne. Lebih tepatnya aku mau seperti dulu lagi,” tambah Hyunmi seraya tersenyum ragu pada Jonghyun.

Laki-laki itu tampak berpikir sejenak. Ia harus berpikir dua kali untuk membiarkan Hyunmi bekerja lagi. Yang menjadi masalah adalah mi hyun, sudah dua tahun Hyunmi meninggalkannya, dan sekarang harus ditinggal lagi karena pekerjaan Hyunmi. Memang secara waktu, Hyunmi pasti akan pulang setiap harinya dan tidak seperti ia di Jepang dulu. Tapi mi hyun masih terlalu kecil untuk dibiarkan tumbuh sendirian tanpa pengawasan ketat dari Jonghyun maupun Hyunmi.

“Mi hyun ?” tanya Jonghyun mencoba merubah pendirian Hyunmi untuk bekerja.

“Aku bisa minta tolong pada Neul Rin atau Ji Kyo eonni untuk merawatnya. Yeah maksudku, aku mau mencoba menerima tawaran ini. Kalau nanti aku tidak bisa, aku akan berhenti. Otte ?” tanya Hyunmi penuh harap dan secara tersembunyi mengeluarkan puppy eyes andalannya. Jonghyun mengerang pelan, ia tidak bisa menolak jika wanita di depannya itu sudah bertanya dengan nada senang ditambah sebuah puppy eyes.

“Baiklah, terserah kau saja,” jawab Jonghyun cepat, dibalas sebuah umpatan senang dari Hyunmi, “Jadi, mulai kapan kau kerja ?” tanya laki-laki itu lagi.

“Entahlah, tapi orang yang menelepon kemarin menyuruhku datang ke kantornya besok,” Hyunmi kembali menyuapkan bubur ke dalam mulut mi hyun kemudian tertawa kecil. Dan karena tawaan wanita itu, Jonghyun yakin bahwa Hyunmi tidak akan melupakan tugasnya sebagai seorang ibu untuk merawat mi hyun.

Pada akhirnya mereka bertiga naik bianglala bersama dan memandang matahari terbenam dari atas bianglala itu. Hyunmi duduk bersebelahan bersama Jonghyun, sedangkan mi hyun tampak asyik duduk sendiri di depan mereka karena melihat pemandangan dibawah.

“Aku baru sadar kalau mi hyun mirip denganmu Jonghyun. Dia sedikit nakal dan suka membuatku kesal sama sepertimu,” seru Hyunmi tiba-tiba seraya terkekeh pelan.

“Ya ! Kau tidak tahu ? Suaranya juga bagus, jadi tidak semua hal jelek yang ada menurun padanya,” jawab Jonghyun lalu mengerucutkan bibirnya kesal.

“Ah jinjja ?” tanya Hyunmi sedikit tidak percaya. Ia menatap mi hyun lagi, dan entah kenapa malah ingat ketika Jonghyun menyanyikan lagu untuknya. Tanpa sadar ia tersenyum kecil membayangkan Jonghyun dan mi hyun yang secara bersamaan menyanyikan lagu.

“Tch, pasti kau membayangkan hal aneh kan ? Ya !” Jonghyun menyentil puncak kepala Hyunmi, sontak membuat wanita itu meringis kecil.

“Aish, ya ! Jangan menyentil kepalaku bodoh !” pekik Hyunmi dan berusaha membalas Jonghyun. Tapi laki-laki itu malah menghindar, membuat bianglala itu berguncang cukup kencang.

“Appa ! Eomma !” teriakan mi hyun membuat keduanya berhenti bergerak. Jonghyun dan Hyunmi menatap mi hyun yang tengah menatap keduanya heran.

“Mianhae,” gumam Jonghyun seraya tersenyum kecil.

“Kalian membuatku takut,” ujarnya polos. Keduanya hanya terkekeh pelan lalu mengacak rambut anak itu kasar.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika Jonghyun menjemput mi hyun di apartemen Neul Rin. Hari itu hari pertama Hyunmi kerja, tapi ketika Jonghyun meneleponnya, wanita itu belum bisa pulang karena kerjaan yang menumpuk. Kerjaan menumpuk di hari pertama kerja, Jonghyun meragukan itu.

“Kau mau makan apa malam ini ?” tanya Jonghyun seraya melihat-lihat setiap restoran pinggir jalan di daerah Insadong.

“Terserah appa,” jawab mi hyun asal. Jonghyun mengumpat pelan dan sedikit menunduk untuk mencari restoran yang cocok.

Akhirnya ia memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah restoran khas Jajangmyun. Jonghyun membuka seatbelt miliknya dan mi hyun kemudian turun bersamaan. Beberapa pelayan tampak menyapa ramah kedatangan Jonghyun, dan tanpa peduli itu Jonghyun segera duduk di pojok berdua bersama anak kesayangannya. Setelah memesan makanan, ia melipat kedua tangannya ke atas meja dan memandang mi hyun yang terlihat seru memainkan PSP.

“Bagaimana sekolahmu hari ini ?” tanya Jonghyun mencoba membuka pembicaraan dengan anak itu.

“Seperti biasa, membosankan. Aku heran kenapa orang-orang suka sekolah, sama seperti eomma,” jawab mi hyun bahkan tidak mengalihkan perhatiannya dari PSP.

“Ya. Kau itu masih TK. Jangan pernah berpikiran pendek seperti itu,” balas Jonghyun sedikit gemas.

“Ya, ya. Dan aku heran kenapa eomma selalu sibuk, sampai tidak sempat menjemputku ke rumah Neul Rin noona,” mi hyun semakin menundukkan kepalanya dan terlihat tidak menekan tombol PSP. Jonghyun melihat bahu anak itu sedikit bergetar dan terdengar sedikit isakan.

“Ulljima. Mungkin eomma masih sibuk karena sekarang hari pertama kerja, semoga besok eomma bisa menjemputmu,” serunya mencoba menghibur seraya mengacak rambut mi hyun lembut.

“Aku sedih kenapa eomma pergi dan selalu sibuk,” mi hyun menyeka kedua matanya kemudian meletakkan PSP miliknya ke atas meja ketika mendengar gumaman pelayan yang mengantar pesanan mereka.

“Jangan dipikirkan mi hyun-ah, sekarang makan dan kita akan lebih cepat sampai ke rumah,” sahut Jonghyun seraya mengacak rambut anak itu lagi dan memulai kegiatan makan malamnya. Mi hyun hanya mengangguk lemah kemudian mengikuti Jonghyun.

***

Entah sudah keberapa kalinya Jonghyun melirik jam dinding yang tergantung di ruang TV penthouse-nya itu. Ia sangat khawatir karena Hyunmi belum pulang padahal sudah lebih dari jam 8 malam. Dan yang lebih parah ponsel wanita itu malah tidak aktif dan Jonghyun tidak tahu dimana keberadaannya.

“Jangan coba mengerjaiku lagi seperti dulu Ms.Kim,” gumam Jonghyun pelan kemudian menatap mi hyun yang tengah mencorat-coret buku. Entah kenapa ia merasa mi hyun bersikap lebih tua daripada anak seumurannya, bahkan kata-kata yang dikeluarkannya sudah lancar dan terdengar seperti orang tua (?) Atau bahkan kata-katanya itu sering membuat Jonghyun kesal.

Jonghyun dan mi hyun menoleh bersamaan ketika mendengar pintu penthouse terbuka. Sontak mi hyun bangkit dan berlari menghampiri Hyunmi. Ia segera memeluk wanita itu dengan erat walaupun hanya bisa memeluk kakinya.

“Eomma, ottokhae ?” tanya mi hyun seraya menggandeng tangan Hyunmi menghampiri Jonghyun yang masih duduk di sofa.

“Baik. Teman-teman eomma di kantor baru juga baik,” jawab Hyunmi lalu menatap Jonghyun. Ia melihat laki-laki itu berdiri kemudian menghampirinya.

“Welcome home,” ujar Jonghyun lalu mengecup bibir Hyunmi sekilas, “And welcome kiss,”

“Ukh, appa, eomma. Kalian bisa tidak melakukan itu di depanku kan ?” tanya mi hyun seraya merengut kesal. Hyunmi terkekeh, ia berjongkok menyetarakan tinggi dengan mi hyun lalu mencium pipi anak itu.

***

Mungkin membolehkan Hyunmi bekerja lagi adalah hal bodoh yang sudah diputuskan Jonghyun. Ternyata keadaannya sama saja seperti ketika Hyunmi kuliah di Jepang. Pulang hanya tidur saja dan esok paginya sudah berangkat lagi. Setiap harinya pun Jonghyun yang masih tetap mengantar jemput mi hyun. Jonghyun melihat perubahan sifat mi hyun, bagaimana ketika anak itu selalu terlihat sedih jika melihat teman-temannya dijemput oleh kedua orang tuanya.

Untuk kesekian kalinya, Hyunmi terlambat pulang kerja. Mi hyun bahkan sudah tidur karena terlalu lelah menunggu Hyunmi pulang. Jonghyun hanya bisa menatap mi hyun yang terlihat kelelahan dan khawatir. Ia menghampiri anak itu lalu mengelus rambutnya lembut. Tapi tangannya terhenti ketika merasakan kening mi hyun berubah menjadi panas. Ia memegang seluruh tubuh anak itu dan mendapati keadaan yang sama.

Dengan cepat Jonghyun menggendong mi hyun dan membawanya keluar apartemen. Dalam keadaan demam tinggi, ia harus segera dibawa kerumah sakit. Tanpa peduli apapun, Jonghyun membawa mobilnya dalam kecepatan tinggi menuju rumah sakit.

Jonghyun masih tetap mencoba menghubungi Hyunmi sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter. Sudah berkali-kali ia menelepon, hingga akhirnya wanita itu menjawab teleponnya.

“YA ! Kau dimana !.. . . Masih di kantor ? . . Mi Hyun masuk rumah sakit, dan aku mau kau cepat menyusul kesini . . Eh ? Kau lebih mementingkan pekerjaan daripada anakmu sendiri ? . . Baiklah, terserah. Aku tidak peduli lagi,”

Jonghyun menutup slide ponsel miliknya dengan kesal. Ia tidak menyangka bahwa Hyunmi lebih mementingkan pekerjaannya ‘yang sebentar lagi selesai’ daripada keadaan anaknya yang cukup parah. Mungkin ia harus menyuruh Hyunmi untuk berhenti bekerja. Kesabarannya sudah hampir habis.

“Jonghyun-ssi ?” tanya seorang dokter membuat Jonghyun tersadar dari lamunannya. Ia berdiri dari kursi ruang tunggu dan menghadap dokter itu dengan yakin.

“Anak anda, mengidap ataksia,”

***

Hyunmi bergegas membereskan ponsel dan barang-barangnya ke dalam tas. Ia segera keluar dari ruangannya, namun langkahnya terhenti ketika melihat teman laki-lakinya ada di depan pintu. Ia segera keluar dan tidak peduli dengan laki-laki itu.

“Hyunmi-ssi !” panggilan laki-laki itu membuat Hyunmi kembali menoleh.

“Mian, aku harus ke rumah sakit sekarang,” balas Hyunmi kemudian membalikkan badannya.

“Biar aku antar,” tawar laki-laki itu. Hyunmi memberhentikan langkahnya lagi, ia berpikir sejenak. Mungkin tidak ada salahnya dalam keadaan terdesak seperti ini.

“Ne, palli-wa Changmin-ssi,” Hyunmi segera menarik tangan laki-laki itu keluar dari kantor.

Beberapa belokan koridor sudah dilewati Hyunmi, dengan Changmin yang mengikuti di belakangnya. Sesekali ia bertanya pada perawat yang ada, menanyakan dimana kamar rawat anaknya. Hyunmi memperlambat langkahnya ketika melihat Jonghyun tengah duduk di jejeran kursi tunggu dan terlihat tengah merenung. Ia menghampiri laki-laki itu kemudian duduk di sebelahnya.

“Bagaimana mi hyun ?” tanya Hyunmi cepat. Jonghyun mendongakkan kepalanya. Baru saja ia akan membuka mulutnya, tapi kembali terhenti ketika pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka.

“Kau masih peduli pada mi hyun, Ms.Kim ?” tanya Jonghyun seraya menaikkan alisnya ke arah Changmin yang tengah menatapnya. Hyunmi segera tersadar lalu menoleh ke belakang. Ia kembali menatap Jonghyun bingung, tidak tahu apa yang harus dijelaskan mengenai hal itu. Ia bahkan tidak tahu bahwa Changmin mengikutinya.

“Keurae. Dia anakku, mana mungkin aku tidak peduli Jonghyun,”  jawab Hyunmi mencoba mengalihkan pembicaraannya.

“Jinjjayo ? Kalau begitu suruh ‘pacar barumu’ itu pulang dan jangan ganggu kita,” seru Jonghyun lalu berdiri dari kursinya. Ia menatap Changmin dan Hyunmi bergantian kemudian mendecak kesal. Ia berbalik untuk kembali ke ruang rawat mi hyun.

“Jonghyun-ah. Chebalyo, kau jangan bersikap seperti ini,” Hyunmi menyergah tangan Jonghyun dan membuat laki-laki itu kembali berbalik.

“Jangan menyentuhku dan jangan berharap kau bisa bertemu dengan mi hyun kalau laki-laki itu belum pergi,”

-to be continued-


hahahaha *evil laugh

aku juga gatau kenapa bisa sepanjang ini

jadi dijadiiin dua (?) part aja ya :)

konfliknya ada lagi dan ada lagi kekeke

kebetulan juga lagi kena demam changmin xD

sesuai saran beberapa readers, jadi nama anaknya mi hyun aja :)

Just need your like and Comment guys

© Ima Shineeworld @FFI

4 thoughts on “[FanFic] Let This Go . . (Curse Marriage Sequel – Spec. Edition)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s