[FanFic] Let This Go . . (Curse Marriage Sequel – Spec. Edition) (END)

Title       : Let This Go . . (Curse Marriage sequel – Special Edition)

Author : (Still) Ima Shineeworld

Cast        : Kim Jonghyun and Kim Hyunmi of course *laugh

Other    : Shim Changmin, and other cameo

Rating   : PG+15

Genre    : Romance, a bit comedy, and Angst (?)

————————————————–

“Jangan menyentuhku dan jangan berharap kau bisa bertemu dengan mi hyun kalau laki-laki itu belum pergi,” Jonghyun menghentakkan tangan Hyunmi dengan kasar kemudian beranjak dari sana.

Hyunmi menatap kepergian Jonghyun dengan pasrah. Ia berbalik pada Changmin yang masih berdiri di tempatnya semula. Ia tersenyum pada Changmin seolah memberi isyarat kalau dirinya baik-baik saja.

“Kamsahamnida Changmin-ssi. Kau bisa pulang sekarang,” ujar Hyunmi sambil sedikit membungkukkan badannya.

“Gwenchanayo ?” tanya Changmin meyakinkan.

“Ne, gwenchana. Kalau kau terus disini, Jonghyun akan semakin salah paham. Jadi kau boleh pulang,” jawab Hyunmi seraya terkekeh kecil. Changmin balas tersenyum lalu menyerahkan blazer milik Hyunmi yang tertinggal di mobilnya tadi.

“Igeo. Tadi tertinggal di mobilku, semoga anakmu cepat sembuh Hyunmi-ssi,” seru Changmin lalu berbalik meninggalkan wanita itu.

“Dasi hanbon kamsahamnida Changmin-ssi,” lirih Hyunmi pelan.

Wanita itu menghempaskan tubuhnya ke kursi ruang tunggu itu. Kali ini ia tidak bisa menahannya lagi, air matanya keluar begitu saja mengingat tatapan kecewa dari Jonghyun. Ia sangat tidak mau terlihat rapuh di depan orang-orang termasuk Jonghyun. Ia mencoba untuk tidak menangis di depan Jonghyun, kecuali dalam keadaan terdesak. Dan satu hal lagi, ia paling benci ketika Jonghyun menjauhinya seperti sekarang.

***

Jonghyun terus saja membuka dan menutup slide ponselnya. Ia hanya melakukan itu untuk menghilangkan rasa kesalnya pada Hyunmi. Dalam keadaan seperti ini saja wanita itu masih sempat membawa laki-laki –yang tidak dikenalnya. Apalagi setelah Jonghyun meneleponnya, Hyunmi malah datang bersama laki-laki. Ia tidak akan bersikap seperti itu kalau saja wanita itu tidak pulang terlalu larut dan tidak terlalu mementingkan pekerjaannya.

“Appa. . Eomma . .” gumam mi hyun pelan. Jonghyun segera menyeka air mata dari kedua sudut matanya dan menghampiri anak itu, dengan duduk di sebelah tempat tidurnya.

“Wae ? Appa wasseo,” Jonghyun mengusap rambut mi hyun pelan, ia melihat mi hyun tersenyum kecil lalu menatapnya lekat.

“Eomma eodiseo ?” tanya mi hyun lirih. Jonghyun tersenyum seraya mengendikkan dagunya ke arah pintu.

“Sedang mencari makanan untukmu,” jawab Jonghyun bohong. Ia tidak mau melihat mi hyun kembali merenung kalau saja ia mengatakan bahwa Hyunmi belum datang. Memang sudah datang, tapi keadaan genting yang tadi terjadi bisa memicu pertengkaran. Dan Jonghyun tidak mau bertengkar dengan Hyunmi di depan mi hyun.

“Jinjjayo ?” tanya mi hyun lagi dan dijawab anggukan oleh Jonghyun, “Aku mau tidur lagi. Mataku berat sekali appa,”

“Gwenchana, tidurlah,” seru Jonghyun dan mulai bersenandung kecil mengiringi mi hyun ke dalam alam mimpinya. Ia menggenggam tangan anak itu erat dan perlahan-lahan sebulir air mata pun menuruni kedua matanya.

Jonghyun mengumpat dalam hatinya. Kenapa ia bisa membiarkan mi hyun terkena sebuah gejala yang sangat jarang di dunia. Mengingat mi hyun masih berumur 3 tahun, dan ia belum bisa menanggung semuanya sendirian. Seharusnya ia bisa menjaga mi hyun, seharusnya Hyunmi tidak mementingkan pekerjaannya, dan seharusnya ia bersama Hyunmi ada di sisi mi hyun selama ini.

‘Ataksia

Kata-kata itu terus mengiang di dalam kepala Jonghyun. Sebuah gejala yang bukan termasuk dalam syndrome maupun penyakit. Walaupun tidak parah, tapi mi hyun sudah menderita gejalanya. Ketika saraf otaknya terganggu dan menyebabkan ia tidak bisa melakukan gerak koordinasi dengan baik. Ia akan sulit mengendalikan gerak tubuhnya, sulit berbicara, dan sulit untuk menelan makanan. Dan Jonghyun harus menerima banyak kenyataan pahit dalam hidupnya.

***

Sudah hampir 3 jam Hyunmi duduk di depan kamar rawat mi hyun, tanpa mau beranjak dari sana. Tangisannya sudah mereda, namun ia sama sekali tidak berani untuk masuk ke dalam. Kecuali jika ia mau bertengkar dengan Jonghyun. Mengingat bahwa keduanya masih di rumah sakit, jadi lebih baik ia menyelesaikannya di apartemen nanti.

Hyunmi melihat pintu ruangan mi hyun terbuka, Jonghyun keluar lalu menutup pintu itu dengan sangat pelan. Tatapan keduanya bertemu. Tapi Jonghyun segera memalingkan wajahnya dan memilih untuk pergi tanpa berniat sedikitpun untuk bertanya.

“Jonghyun-ah. Neo wae irae ?” tanya Hyunmi tanpa beranjak dari tempat duduknya. Jonghyun berhenti sebentar mendengar suara bergetar dari Hyunmi. Ia menolak hatinya sendiri untuk berbalik dan meneruskan pergi dari sana.

“Setidaknya beritahu aku mi hyun sakit apa,” tambah Hyunmi seraya berdiri dari kursinya. Ia melihat Jonghyun sedikit berbalik dan hanya menggumam pelan.

“Ataksia,”

Ucapan Jonghyun berhasil membuat jantung Hyunmi mencelos seketika. Ia menatap punggung Jonghyun yang semakin menjauh dan hanya bisa menghela napas panjang. Ia berbalik dan memasuki kamar mi hyun lalu duduk di samping tempat tidur anak itu.

“Mianhae. Jeongmal mianhae Kim mi hyun,” Hyunmi menggenggam tangan mi hyun erat kemudian menumpahkan semuanya.

Tangisannya kembali pecah, ia tidak bisa melihat anak satu-satunya itu menderita dengan ataksia. Mungkin telat untuk menyesali semuanya. Semua sudah terjadi dan mi hyun sudah mengidap ataksia mulai sekarang. Hyunmi tidak bisa memungkiri kalau ia menyesali semua yang telah di lakukannya selama ini. Ia telah menyia-nyiakan kesempatannya bersama mi hyun selama 2 tahun dan lebih memilih untuk kuliah lagi. Perlahan ia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, menghubungi seseorang yang baru saja berjasa dalam hidupnya. Tapi tidak untuk sekarang.

“Changmin-ssi, bereskan ruanganku. Aku berhenti bekerja,”

***

Jonghyun mengambil dua gelas karton dan mengisinya dari mesin kopi di tengah-tengah koridor rumah sakit itu. Ia menatap satu gelas kopi yang lain di tangannya. Ia bahkan bingung kenapa bisa membeli dua gelas kopi. Tidak mungkin ia memberikannya pada Hyunmi –yang jelas-jelas sedang perang dingin dengannya.

“Eeissh, kenapa juga aku peduli padanya. She’s not care about me or mi hyun,” gumam Jonghyun. Tapi ia sama sekali tidak bisa membuang kopi itu sesuai perintah otaknya. Ia terhenyak sebentar lalu menghela napas panjang.

“Baiklah, hatiku tidak mengijinkan untuk membuangnya,” Jonghyun menarik kembali tangannya yang sudah terhenti di atas tempat sampah dan memilih untuk memegang kopi itu. Ia terus berjalan di koridor untuk kembali ke kamar mi hyun.

Perlahan ia membuka pintu kamar rawat mi hyun. Jonghyun terhenyak sebentar dengan pemandangan yang ada di depannya sekarang. Hyunmi tertidur di sebelah mi hyun seraya memeluk anak itu erat. Keduanya tampak tenang dalam posisi seperti itu. Apalagi melihat ekspresi mi hyun yang sangat bahagia ketika berada di dalam pelukan Hyunmi seperti itu.

Oke, mungkin sikap Jonghyun berlebihan ketika melihat Hyunmi bersama laki-laki lain tadi. Ia tidak memikirkan mi hyun kalau saja ia bertengkar dan mungkin. . . bercerai. Dalam keadaan mi hyun yang seperti itu, ia tidak akan sanggup melihatnya tumbuh sendirian.

Jonghyun kembali meneruskan langkahnya lalu duduk di sofa yang ada di dekat tempat tidur mi hyun. Ia menaruh kopi yang dipegangnya ke atas meja kemudian membuka flip ponselnya. Diam-diam ia pun memotret kegiatan langka di depannya lalu tersenyum kecil.

***

Wanita itu hanya diam saja seraya memandangi seorang anak kecil yang makan dengan lahap di atas tempat tidurnya. Sesekali sang wanita harus memberi anaknya itu air putih, karena tiba-tiba saja tersedak. Hatinya miris setiap kali melihat mi hyun tersedak. Karena itu adalah salah satu gejala ataksia. Penderita akan tersedak setiap kali memasukkan sesuatu ke tenggorokannya.

“Eomma, aku sudah kenyang,” gumam mi hyun, menjauhkan mangkuk besi berisi bubur miliknya. Hyunmi mengambil mangkuk itu lalu menatap ke dalamnya heran.

“Kau bahkan baru makan beberapa suap mi hyun. Ayo makan lagi,” seru Hyunmi seraya menyodorkan sesuap lagi pada mi hyun. Tapi anak itu malah menutup mulut dengan kedua tangannya kemudian menggeleng cepat.

“Aku capek. Setiap di telan, bubur itu selalu membuat aku tersedak. Nan sirheunde,” mi hyun mendorong meja yang menutupi sebagian kakinya kemudian berbaring membelakangi Hyunmi. Wanita itu menghela napas, ia menurunkan meja kecil dari atas tempat tidur mi hyun, dan menaruh bubur di tangannya ke nakas.

Hyunmi mengelus lembut puncak kepala mi hyun. Dan matanya pun kembali mengeluarkan setetes cairan bening mengingat pembicaraannya dengan dokter kemarin. Bahwa tidak ada obat yang bisa menyembuhkan mi hyun. Bahkan terapi pun hanya kecil kemungkinannya. Ia selalu sedih setiap kali ingat kenyataan pahit itu. Hyunmi sangat ingin mengulang kembali waktu dan memperbaiki semuanya. Tapi itu sangat tidak mungkin.

“Eomma. Uljjima,” tiba-tiba mi hyun sudah kembali duduk dan menghapus air mata Hyunmi dengan jari-jari kecilnya. Hyunmi mengangguk lalu mendekap anak itu ke dalam pelukannya.

“Mianhae mi hyun-ah. Jeongmal mianhae,” ujar Hyunmi sedikit terisak. Mi hyun menggeleng lalu balas memeluk ibunya itu dengan erat.

***

Jonghyun terus saja melantunkan lagu untuk mi hyun yang berada di pelukannya. Tetapi matanya tidak pernah lepas dari Hyunmi juga yang tengah tertidur di sofa. Sudah hampir seharian wanita itu menjaga mi hyun, dan sekarang gilirannya. Jonghyun kembali menghela napas. Ia bahkan belum berbicara dengan Hyunmi setelah kejadian waktu itu. Tapi sungguh, ia sangat ingin melakukannya. Ia sangat ingin mengelus wajah wanita itu lagi, dan ingin memeluknya seperti dulu lagi.

“Appa. Seharian ini eomma menangis,” gumam mi hyun pelan seraya melepas pelukannya dari Jonghyun.

“Jinjjayo ? Wae ulro ?” tanya Jonghyun sedikit kaget. Ia bahkan jarang melihat Hyunmi menangis di depannya.

“Nan molla. Eomma hanya bilang ‘Mianhae, mianhae, dan mianhae’,” jawab mi hyun, ia menoleh dan menatap Hyunmi yang tengah meringkuk di sofa.

“Itu karena eomma sayang padamu mi hyun-ah. Kau tidak boleh membuat eomma repot, ara ?” Jonghyun mengacak rambut anak itu lalu kembali memeluknya. Jonghyun terus saja memperhatikan Hyunmi. Menangis. Entah kenapa sulit membayangkan Hyunmi menangis, karena ia sudah lama tidak melihat tangisan itu lagi.

“Jonghyun oppa !” pekikan seorang wanita membuat Jonghyun tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah pintu dan melihat Minho bersama Neul Rin memasuki kamar rawat mi hyun. Sontak mi hyun yang berada di pelukannya pun meloncat dari tempat tidur dan menghampiri keduanya.

“Minho hyung, Neul Rin noona,” gumam mi hyun. Tapi pandangan anak itu menerawang ke belakang Minho dan Neul Rin, “Dimana min rin ?” tanyanya polos. Jonghyun terkekeh kemudian menghampiri dan menggendong mi hyun.

“Aigoo. Kau malah memikirkan min rin ? Ayo kembali ke tempat tidur,” serunya lalu mendudukkan kembali anak itu ke atas tempat tidur.

Jonghyun tersenyum sekilas lalu melemparkan pandangannya pada Hyunmi yang masih tertidur di sofa. Baru saja ia akan membangunkannya, namun Minho sudah mendahuluinya membangunkan wanita itu. Hyunmi terlihat sudah membuka matanya kemudian membenarkan posisi duduknya. Ia tersenyum pada Minho lalu merapikan rambutnya yang berantakan.

“O, Minho-ya. Sejak kapan ?” tanya Hyunmi seraya memandang Minho yang duduk di sebelahnya.

“Baru datang. Ah iya, bagaimana keadaan mi hyun ?” tanya Minho membuat Hyunmi yang baru saja melupakan masalahnya kembali teringat. Ia menundukkan kepalanya sekilas kemudian mendongak lagi, menatap Neul Rin dan Jonghyun yang tengah bermain bersama.

“Dokter bilang, mi hyun mengidap ataksia. Entahlah, aku tidak mengerti kenapa ia bisa menderita gejala itu,” jawab Hyunmi dengan sedikit memelankan suaranya. Minho menghela napas panjang lalu merangkul Hyunmi lembut.

“Kau selalu takut dengan hal itu kan dulu ?” tanya Minho lagi dan dijawab anggukan lemah oleh Hyunmi.

“Aku tidak pernah menyangka sebelumnya,” Hyunmi menoleh dan menatap Minho dengan kedua matanya. Ia tersenyum lemah dan Minho membalas dengan sebuah senyuman lebar.

“Aigoo~, Hyunmi yang kukenal tidak selemah ini. Fighting !” seru Minho seraya mengangkat kepalan tangannya ke udara. Hyunmi tertawa renyah lalu melepaskan tangan Minho dari bahu sebelah kanannya.

“Jonghyun bisa membunuhmu kalau dia melihat semuanya,” bisik Hyunmi sontak membuat keduanya terkekeh pelan.

Sementara itu, Jonghyun terus memandangi kedua orang itu. Ia tidak memperhatikan Neul Rin yang bermain dengan mi hyun, dan tidak melepaskan pandangannya dari Hyunmi. Bagaimana ketika wanita itu tertawa –yang bahkan sudah jarang dilihatnya akhir-akhir ini. Jonghyun menghela napasnya panjang. Mungkin rasa cemburunya itu terlalu besar, ia selalu membuat Hyunmi sedih dengan sikapnya.

“Ms.Kim, antar aku keluar sebentar,” ujar Jonghyun mencoba mencairkan perang dinginnya dengan Hyunmi sejak kemarin.

“Keurae,” balas Hyunmi lalu bangkit dari sofa, “Minho-ya, Neul Rin-ah. Aku pergi dulu sebentar,”

***

Sesekali Jonghyun melemparkan pandangannya pada Hyunmi yang duduk di hadapannya. Ia membiarkan istrinya itu makan dengan lahap tanpa berniat membuka pembicaraan. Sejak keluar dari kamar rawat mi hyun pun Jonghyun belum mau berbicara dengan wanita itu.

“Kau tidak kerja lagi Ms.Kim ?” tanya Jonghyun akhirnya. Hyunmi mendongak lalu menyeka sudut bibirnya perlahan.

“Aku berhenti,” jawabnya sedikit acuh kemudian melanjutkan menghabiskan makan malamnya. Jonghyun menghentikan tangan wanita itu, membuat Hyunmi terpaksa mengangkat wajahnya lagi dan menatap Jonghyun.

“Wae ? Bukannya itu yang kau mau dari dulu ? Dengan itu aku bisa focus merawat mi hyun ‘kan ?” jawab Hyunmi sedikit kesal lalu melepaskan tangan Jonghyun dari pergelangan tangannya.

“Ahni. Sebenarnya aku mau minta maaf tentang masalah yang kemarin. Aku memang pencemburu, seharusnya aku tidak menyalahkan kau dan juga pekerjaanmu,” Jonghyun mendorong makanannya menjauh kemudian berdiri dari tempat duduknya. Ia beralih ke tempat duduk lain di sebelah Hyunmi dan menatapnya dengan jarak yang dekat.

“Aku hanya takut, istriku yang cantik ini direbut orang lain. Aku hanya takut, bahwa mi hyun tidak akan peduli padamu lagi karena kau juga kurang peduli padanya,” tambah laki-laki itu seraya menepuk puncak kepala Hyunmi lembut. Wanita itu balas menatap Jonghyun lalu menyunggingkan sebuah senyuman samar.

“Eiissh, kau merayuku eh ?” tanya Hyunmi sambil memukul lengan Jonghyun pelan. Laki-laki berambut sedikit merah itu terkekeh kecil.

“Keurae. Kau bisa jelaskan siapa laki-laki yang kemarin itu kan ?” tanya Jonghyun lagi lalu mengecup hidung wanita itu lembut.

“Dia hanya atasanku Jonghyun,” jawab Hyunmi seraya menghela napas panjang, “Aku akan tetap berhenti bekerja. Dan mulai focus merawat mi hyun mulai sekarang,” Hyunmi menurunkan tangan Jonghyun dari puncak kepalanya. Ia memandang kosong ke depan. Memikirkan bagaimana kehidupan mi hyun kalau saja ia masih tetap bekerja. Ia tidak akan menjadi egois lagi mulai sekarang. Umurnya sudah menginjak 25 dan ia sudah bukan anak remaja labil lagi.

***

Dengan semangat Hyunmi berjalan meninggalkan gedung apartemennya untuk pergi menjemput mi hyun. Ia senang karena ini merupakan hari pertamanya menjemput mi hyun ke sekolah. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Changmin berdiri di halaman depan gedung apartemennya. Ia berlari menghampiri laki-laki itu dan berdiri tepat di depannya.

“Changmin-ssi ? Apa yang kau lakukan disini ?” tanya Hyunmi heran. Ia malah melihat laki-laki itu tersenyum kecil kemudian menyerahkan sesuatu pada Hyunmi.

“Ini pesangon-mu Hyunmi-ssi. Kau bahkan belum mengambilnya,” jawab Changmin seraya menaruh amplop coklat ke telapak tangan Hyunmi. Wanita itu malah mengernyit heran lalu kembali menyerahkannya pada Changmin.

“Ahni. Aku yang mau keluar, jadi aku tidak bisa menerimanya,” sergah Hyunmi cepat. Laki-laki di depannya tidak peduli dan memasukkan amplop coklat itu ke dalam saku blazer yang dipakai Hyunmi.

“Aku sebagai atasanmu memaksa,” Changmin tersenyum lagi dan Hyunmi pun akhirnya tersenyum juga. Ia mengangguk pelan kemudian melirik jam tangannya.

“OMO ! Aku pergi sekarang ! Annyeong Changmin-ssi,” seru Hyunmi lalu berlari dari sana. Tidak peduli Changmin yang berteriak memanggilnya.

Tepat ketika beberapa meter sebelum sampai di depan gerbang sekolah mi hyun, Hyunmi sudah melihat anak itu keluar dari sana. Sontak wanita itu pun berlari menghampiri mi hyun dan memeluknya erat. Ia melepas pelukan itu lalu mengecup puncak kepala mi hyun lembut.

“Eomma ! Aku malu,” ujar mi hyun lalu menundukkan kepalanya. Hyunmi berdiri dan memperhatikan beberapa pasang mata anak perempuan menatap ke arahnya dan mi hyun. Hyunmi terkekeh pelan lalu menggandeng tangan mi hyun berjalan meninggalkan sekolahnya.

“Waeyo ? Kau tidak suka dicium eomma huh ? Ireon !” Hyunmi mengacak rambut anak itu kemudian melanjutkan perjalanan ke gedung apartemen yang tidak seberapa jauhnya.

Tiba-tiba saja langkah mi hyun terhenti ketika sudah menyeberang jalan. Ia kembali menoleh ke belakang dan menemukan gantungan tas pemberian Jonghyun terjatuh di tengah jalan. Ia menarik-narik tangan Hyunmi berharap ibunya itu menghentikan langkah.

“Eomma, geugo,” mi hyun menunjuk ke arah sebuah gantungan berbentuk boneka yang tergeletak di tengah jalan, Hyunmi mengernyit lalu menatap mi hyun heran.

“Mwoya ?” tanya Hyunmi lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah gantungan boneka itu.

“Itu kado dari appa waktu aku ulang tahun. Dan terjatuh di tengah jalan,” jawab mi hyun setengah merajuk. Hyunmi menatap gantungan itu kemudian menghela napas.

“Kau tunggu disini, ara ? Eomma yang akan mengambilnya,” Hyunmi melepaskan genggaman tangan mi hyun dan menunggu hingga lampu kembali merah.

Dengan cepat Hyunmi melangkah ke tengah jalan itu. Tapi langkahnya tersendat ketika puluhan orang menyeberang berlawanan arah dengannya. Setelah berhasil meraih gantungan boneka itu, lampu sudah berubah kembali menjadi hijau. Sontak mobil-mobil pun melaju dan menjebak Hyunmi yang berdiri di tengah jalan.

“Eomma !” pekik mi hyun dan berjalan mendekat ke pinggir jalan. Hyunmi membulatkan matanya ketika melihat mi hyun semakin mendekat.

“Geuman ! YA !” pekik Hyunmi seraya melirik ke kanan dan segera berlari menyeberang untuk menghampiri mi hyun.

“EOMMA !”

***

Sudah lebih dari 2 jam Jonghyun dan mi hyun duduk di depan ruang IGD. Mi hyun terus menggenggam kuat gantungan boneka yang tadi diambil oleh Hyunmi, tanpa memberhentikan tangisannya. Ia merasa bersalah karena sudah merepotkan Hyunmi dan membuatnya sampai tertabrak mobil.

“Tuan Kim ?” suara seorang dokter membuyarkan Jonghyun dan mi hyun yang tengah memeluk satu sama lain. Jonghyun berdiri dari kursi ruang tunggu itu dan menatap dokter itu penuh harap.

“Bisa ikut aku sebentar ?” tanya dokter itu dan di jawab anggukan oleh Jonghyun. Ia menurunkan mi hyun dari gendongannya dan menggandengnya mengikuti dokter itu.

Keduanya duduk menghadap dokter berambut hampir botak itu. Mereka melihat dokter itu tersenyum seraya menopang kedua tangannya ke atas meja. Ia menatap Jonghyun dan mi hyun bergantian lalu menghela napas.

“Dia tidak apa-apa. Karena mobil itu menabrak tidak terlalu keras, ia butuh istirahat saja,” ujar dokter itu, membuat Jonghyun dan mi hyun menghembuskan nafasnya lega.

“Tapi dia keguguran,” ucapan dokter itu pun membuat Jonghyun kembali menahan napasnya.

“Keguguran ?” tanya Jonghyun tidak mengerti.

“Karena kehamilannya baru beberapa minggu, tidak membuat kondisinya terlalu drop,” ucapan dokter itu semakin tidak mengerti oleh Jonghyun.

“Kamsahamnida uisa,”

Jonghyun segera bangkit dari kursi itu dan membawa mi hyun keluar dari sana. Ia menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar rawat Hyunmi. Ia masih saja berpikir, bagaimana ia bisa tidak tahu tentang kehamilan Hyunmi. Dan ia mengetahui kabar bahagia itu setelah kehilangannya.

“Appa ? Wae ulro ?” tanya mi hyun. Jonghyun yang menyadari tetesan air mata keluar dari kedua matanya, segera menghapusnya. Ia menarik mi hyun memasuki kamar rawat Hyunmi dan mendudukkannya di sofa.

Beberapa saat kemudian mi hyun sudah tertidur dalam pelukan Jonghyun. Laki-laki itu segera menidurkannya di sofa dan beralih duduk di samping tempat tidur Hyunmi. Tidak butuh waktu lama, tiba-tiba saja Hyunmi mengerang pelan dan membuka kedua matanya.

“Ms.Kim,” gumam Jonghyun lalu mengelus wajah Hyunmi lembut.

“Oh, Jonghyun-ah,” Hyunmi tersenyum kemudian menolehkan kepalanya ke arah Jonghyun. Ia melihat Jonghyun tersenyum pahit dan memberhentikan sentuhan lembut di wajahnya itu.

“Kenapa kau tidak bilang ?” tanya Jonghyun. Hyunmi menautkan kedua alisnya tidak mengerti melihat ekspresi Jonghyun yang tiba-tiba berubah.

“Kenapa tidak bilang kalau kau sudah hami lagi eh ?” tanya Jonghyun lagi sontak membuat Hyunmi mengernyit. Ia meraba perutnya sendiri dan terasa sedikit ngilu disana.

“Aku tidak pernah tahu hal itu. Memang akhir-akhir ini aku sering mual, tapi aku tidak tahu kalau. . .  . itu tanda-tanda kehamilan. Sekarang bagaimana ?” Hyunmi masih saja menyentuh perutnya dan terus bertanya pada Jonghyun.

“Kau keguguran,”

“Mwo ?”

Jonghyun mendesah napas panjang lalu memeluk Hyunmi. Ia membiarkan Hyunmi menangis di balik punggungnya dan memeluknya erat. Ia tidak mau melihat Hyunmi menangis, ia tidak mau melihat air mata itu keluar dari kedua mata istrinya. Perlahan Jonghyun melepas pelukan itu dan menatap kedua mata Hyunmi yang terlihat sembap.

“Mianhae. Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu Jonghyun, aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk mi hyun, aku tidak –,”

Ucapan Hyunmi terhenti ketika bibir Jonghyun sudah merengkuh bibirnya lembut. Hyunmi yang awalnya kaget, kini mulai membalas ciuman lembut itu. Sebuah ciuman yang terselip perasaan sayang di dalamnya. Sebuah perasaan yang bahkan tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.

***

Suara deru pesawat memenuhi ruang keberangkatan di bandara Incheon siang itu. Beberapa orang tampak sibuk menarik koper mereka keluar-masuk bandara. Ada juga beberapa orang yang terlihat hanya duduk, sekedar menunggu orang yang mereka sayangi. Suara pemberitahuan dari pengeras suara pun menyadarkan orang-orang bahwa sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan berangkat.

“Appa, eomma. Pesawatnya sudah mau berangkat ! Palli-wa !” teriak seorang anak laki-laki mencoba menyadarkan kedua orang tuanya yang masih sibuk membeli makanan di sebuah counter.

“Ne, chamkanman,” jawab ibunya lalu menggenggam tangan anak itu erat.

“Finish ! Ayo berangkat,” sang ayah membawa dua tas karton di tangannya dan dengan setengah berlari memasuki ruang keberangkatan. Istri dan anaknya pun dengan lincah mengikuti langkah laki-laki itu.

Setelah berlarian, akhirnya mereka duduk di salah satu barisan dalam pesawat seraya menghela napas lega. Ketiganya mengelus dada dan merebahkan diri dengan bersandar pada kursinya. Anak laki-laki itu mengambil minuman yang tadi dibelinya dan meminumnya, tanpa mengingat bahwa ia akan tersedak kalau minum terlalu mendadak.

“Uhuk uhuk,”

“Mi hyun-ah,” Hyunmi menepuk punggung anak itu lembut lalu merebut minuman di tangannya. Ia melemparkan tatapan merajuk pada laki-laki yang duduk di sebelahnya seraya tersenyum kecil.

“Ya ya. Kau selalu begitu Ms.Kim,” balas Jonghyun, ia melepas kacamata hitam yang dipakainya lalu bertukar posisi dengan Hyunmi, menjadi duduk di sebelah mi hyun.

Perlahan ia menggendong mi hyun dan memeluknya. Dengan sentuhan lembut Jonghyun, anak itu berhenti tersedak. Jonghyun tersenyum lalu mendudukkan kembali mi hyun di kursinya.

“Kenapa kita harus pergi ke Amerika sih ? Aku tidak mau belajar bahasa aneh disana,” gumam mi hyun pelan seraya mengetuk-ngetukkan jarinya ke kaca pesawat.

“Eeii, ini semua demi kebaikanmu hyun-ah. Kau tidak akan tersedak lagi nanti,” jawab Hyunmi setelah mendengar gumaman mi hyun –yang bahkan tidak bisa disebut pelan itu.

“Aah, araseo,” balas mi hyun acuh, masih tidak melepaskan tatapannya dari kaca.

Jonghyun dan Hyunmi saling menatap kemudian mengendikkan bahu heran. Tangan Jonghyun terangkat dan melingkarkannya ke pundak wanita itu. Ia menyandarkan kepalanya ke kepala Hyunmi dan memejamkan matanya. Ia merasa nyaman dengan posisi itu lalu tersenyum lembut.

“Kau selalu membuatku gila Ms.Kim,” gumam Jonghyun seraya mengecup puncak kepala wanita.

“Yeah. Dan kau selalu membuatku melakukan kegiatan gila itu,” Hyunmi mencubit pelan lengan Jonghyun kemudian terkekeh.

“Apapun yang terjadi, kita harus mempertahankan janji saat pernikahan dulu. Saling menjaga dalam keadaan suka maupun duka. I love you,” bisik Jonghyun lembut membuat senyuman Hyunmi mengembang.

“It’s about us, our life, and our marriage. I love you too Kim Jonghyun,” Hyunmi membalikkan wajahnya dan mengecup bibir Jonghyun.

“Appa ! Eomma ! Kenapa kalian melakukan itu di depanku lagi !”

-FIN

sekarang terserah readers deh mau ngapain

ceritanya geje banget gini

melow pula halaah -__-

kalau mau protes jangan disini ya

ke twitter aja hehe @bling0320

Please, I need comment and critic

Give some words to this fanfic :)

©Ima Shineeworld @ FFi

11 thoughts on “[FanFic] Let This Go . . (Curse Marriage Sequel – Spec. Edition) (END)

  1. iiia eonni .. makasih hehehe🙂 .. sebenar’a udh dishare😦 .. mau aku kirim link’a ??

    gomawo y eonni🙂

  2. eonni maaf baru blz hhehe ^^ ini link-nya diposting via album biar gk berantakan🙂 :: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.392964814062233.98794.260805827278133&type=3

    Nama FP-nya Kumpulan Sinopsis K-Drama – admin haftiani (ini nama asliku) .. sbenarnya udh pernah diposting tpi karena susah dimasukin album jadi aku buat aja yg baru gk pp’ kan eonni .. makasih karena udh ngizinin share di fp ^^

    Eonni boleh izin share juga yg fanfic wrong marriage gk ?? soalnya di FFindo gk boleh katanya ..😦 .. jebal .. salam kenal y eonni .. ^^

  3. kyaaaa jjongie with marriedlife story
    aku sukaaa banget disini, ceritanya keren bgt, suka sama ide ceritanya
    ah, ya! dan meskipun aku ga ngikutin curse marriage-nya tp aku msh ngerasa nyambungnyambung aja baca ini hihiiu
    btw, salam kenal (: aku newbie reader, here~^^
    -mels

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s