[FanFic] Curse Marriage (9th Part)

Title       : Curse Marriage

Author  : Ima Shineeworld

Cast       : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

Other    : Choi Jonghoon (FTI), Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD), and still hidden

Rating   : PG+15

Genre   : Comedy, Romance

“Tidak memanfaatkan ? Jonghoon melakukannya demi kau Hyunmi ! Dia juga ingin menikah denganku hanya untuk membebaskan keluarganya dari hutang budi terhadap keluargaku. Kalian hanya memanfaatkan kebodohanku. Aku kira ia benar-benar tulus menyatakan perasaannya kemarin,” balas Insa seraya mundur menghindari langkah Jonghoon yang semakin mendekat.

“Kau salah, aku benar-benar tulus saat mengatakannya. Aku memang mulai menyukaimu,” Jonghoon tidak menghentikan langkahnya dan terus mendekat ke arah Insa.

“Tulus ? That’s just a Bullsh*t !”

———

“Tulus ? That’s just a Bullsh*t ! Aku menyesal sudah memberikan ciuman pertamaku pada orang yang ternyata tidak ada rasa apapun !!” seru Insa kesal setengah mati. Ia masih tidak menyangka bahwa Jonghoon, hanya pura-pura mencintainya demi Hyunmi.

“Insa, dengarkan aku dulu. Ini salah paham, Jonghoon sedang mencoba menyukaimu,” seru Hyunmi. Insa menutup kedua kupingnya lalu menatap Hyunmi sekilas. Sedetik kemudian ia menampar Jonghoon kemudian melangkah keluar dari kamar rawat Hyunmi.

Sedangkan Jonghoon, masih berdiri di belakang pintu, belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.

“Kejar dia,” seru Hyunmi cepat. Jonghoon menoleh dan menatap Hyunmi heran.

“Hya ! kejar dia !” Hyunmi mendorong Jonghoon keluar dari kamarnya. Ia memalingkan wajah dari tatapan laki-laki itu lalu menutup pintu kamarnya. Ia memerosotkan tubuhnya di balik pintu seraya mengeluarkan air mata yang sedari tadi di tahannya.

Harusnya ia menolak ajakan Jonghoon untuk bertemu. Sudah lebih dari satu bulan ia tidak mengobrol dengan Jonghoon, dan harusnya itu tetap di pertahankan. Dan sekarang, ketika hubungannya dengan Insa sudah mulai membaik, gadis itu kembali salah paham akan apa pembicaraannya dengan Jonghoon tadi. Padahal Jonghoon hanya mau memberitahu tentang hubungannya dengan Insa, pendekatan yang dilakukannya. Jonghoon hanya bilang, bahwa ia tidak bisa mengikuti saran Hyunmi karena ia tidak mencintai Insa, baru menyukainya.

***

Jonghoon masih saja terus mengejar Insa yang sudah masuk lift melalui tangga darurat. Ia berusaha untuk sampai lebih dulu di lantai 1 sebelum gadis itu. Tapi sayang, ketika ia keluar dari pintu tangga darurat, ia sudah melihat Insa berjalan dengan tergesa keluar dari pintu rumah sakit. Dengan cepat ia berlari menerobos orang-orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.

“Insa !” teriak Jonghoon masih sambil mengejar gadis itu. Keramaian di depan rumah sakit, membuat Jonghoon kesulitan untuk mencari Insa. Ia terus saja berteriak memanggil nama Insa seraya mengitarkan pandangannya.

Setelah beberapa lama ia terus berteriak dan mencari Insa, hasilnya nol besar. Ia tidak menemukan gadis itu dimanapun. Akhirnya Jonghoon hanya bisa menghela napas pasrah dan duduk di depan sebuah toko. Ia masih mengitarkan pandangan ke sekeliling, siapa tahu Insa masih ada di sekitar sana. Tepat setelah ia menduga-duga keberadaan Insa, ia melihat gadis itu tengah duduk di seberang jalan. Sama seperti dirinya, duduk di depan toko seraya memeluk kedua lutut dan menenggelamkan kepala di antara keduanya.

Jonghoon bangkit dari duduknya lalu menyeberang menghampiri Insa. Ia duduk di sebelah gadis itu, tapi tidak membuat Insa tersadar akan kehadirannya.

“Ehm, tidak baik seorang wanita duduk sendirian di pinggir jalan seperti ini,” ujar Jonghoon sontak membuat Insa mendongak dan sedikit tersentak ketika melihat Jonghoon sudah duduk di sampingnya. Dengan cepat Insa berdiri kemudian meninggalkan Jonghoon lagi.

“Ya ! Yoon Insa !” kali ini Jonghoon berlari lebih cepat dan segera menghadang langkah gadis itu.

“Jangan menghalangi jalanku. Pikyeo !” seru Insa lalu menerobos Jonghoon yang ada di depannya. Tapi dengan cepat Jonghoon menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

“Ya ! Lepas ! Aku bukan perempuan bodoh yang bisa kau perlakukan seenaknya. Lepas !!” Insa mencoba memberontak, tapi Jonghoon malah semakin mempererat pelukan itu tanpa peduli orang-orang memperhatikan mereka.

“Kau harus dengarkan penjelasanku. Setelah itu kau mau pergi atau tidak, terserah. Aku hanya tidak mau ada salah paham,” ujar Jonghoon masih tetap memeluk Insa dengan erat. Insa mengangguk pelan dan pasrah karena tidak akan bisa melepas pelukan Jonghoon saat itu.

“Memang, aku melakukan ini semua demi Hyunmi. Agar kau dan dia bersahabat lagi, awalnya. Tapi setelah itu, semuanya berubah. Semua yang kulakukan karena ingin melihat Insa yang dulu kembali lagi, Insa yang kukenal tidak egois dan meledak-ledak seperti tadi. Karena aku menyukaimu,” jelas Jonghoon. Insa masih belum bisa meredakan tangisannya, ia memukul pelan punggung Jonghoon dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

“Gojitmal. Kau membohongiku lagi Jonghoon,” balas Insa sedikit terisak.

“Obrolan yang kau dengar tadi juga pasti salah paham. Hyunmi baru saja menolakku dan menyuruhku untuk melupakannya. Tch, bodoh sekali aku mengutarakan perasaan pada wanita yang sudah menikah huh ? Aku memang tidak mencintaimu untuk sekarang, tapi sungguh, aku akan belajar untuk itu. Aku hanya tidak mau terus berpura-pura mendekatimu, karena aku ingin serius,” Jonghoon melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Insa dengan lembut.

“Sekarang, terserah kau. Pergilah kalau memang itu yang terbaik, aku akan membatalkan pernikahan ini. Ah iya, satu hal lagi yang harus kau tahu. Semua yang kulakukan berawal dari keegoisan, pernikahan yang hanya untuk membayar hutang keluargaku. Tapi akhirnya malah aku sendiri yang terjebak di dalam situasi ini, jadi aku akan membatalkan pernikahan ini kalau kau tidak mau,” tambahnya. Jonghoon menurunkan kedua tangannya dari pundak Insa lalu berbalik meninggalkan gadis itu.

Untuk beberapa saat Insa masih mencerna penjelasan Jonghoon tadi. Di satu sisi ia masih belum bisa percaya sepenuhnya, mengingat bahwa tujuan pertama laki-laki itu meneruskan perjodohannya karena mau membayar hutang budi keluarganya. Di sisi lainnya, ia percaya bahwa Jonghoon tidak sejahat itu untuk hanya memanfaatkannya, ia tahu bahwa Jonghoon mulai menyukainya. Ia bisa merasakan ketulusan Jonghoon saat di everland seminggu yang lalu.

“Jonghoon-ah !” panggil Insa lalu berlari menyusul laki-laki itu. Ia menatap Jonghoon sebentar dan melihat bahwa laki-laki di depannya sudah berkaca-kaca.

“Wae ? Kau menangis eh ?” tanya Insa sambil menahan tawanya.

“Kenapa kau menyusulku huh ? Secepat itukah kau dapat jawabannya ?” Jonghoon menyusut air mata di kedua sudut matanya lalu memegang kedua bahu Insa.

“Aku tidak mau. .” ujar Insa. Sontak Jonghoon memerosotkan tangannya dari bahu gadis itu dan tertunduk lesu.

“Aku tidak mau pernikahan kita batal,” sambung Insa. Jonghoon mendongak lalu mengerjapkan matanya berkali-kali, masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu.

“Pabo-ya ! Aku bilang, aku tidak mau membatalkan pernikahan kita,” Insa tersenyum lebar seraya mendorong pelan dada Jonghoon dengan telunjuknya.

“AH ! Jinjja ?!” seru Jonghoon senang dan dibalas anggukan mantap oleh Insa. Dan dengan sekali gerakan cepat Jonghoon pun kembali memeluk gadis itu.

“Ah iya, kau sudah tahu tentang Hyunmi ?” tanya Jonghoon. Insa menjawab dengan sebuah gelengan masih tetap memeluk Jonghoon dengan erat.

“Ia sedang hamil sekarang,” jawab Jonghoon sontak membuat Insa melepas pelukannya.

“O ? Jinjja ?!” ^0^

***

Kali ini Yoona merasa dirinya semakin kesepian. Setelah menemukan bahwa Jonghoon dan Insa sudah tidak ada di tempatnya, yang ternyata sudah pulang duluan. Ia sekarang hanya sendirian di dalam ruangan itu. Ia berusaha menghubungi Jonghyun lagi, tapi tidak bisa. Ia juga mencoba menghubungi Insa, dan hasilnya sama. Akhirnya ia pulang dengan langkah gontai tanpa ada semangat.

Yoona menghentikan langkahnya di halte bus. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinganya lalu melirik ke kanan dan ke kiri, mencari tanda bahwa bus akan segera datang. Sudah jam 7 malam, dan akhirnya Yoona memutuskan untuk berjalan kaki ke halte bus berikutnya. Karena besok akhir pekan, ia akan menghabiskan sisa waktunya hari ini.

Tatapan Yoona selalu tertuju pada barang-barang antik di deretan toko-toko, di pinggir jalan. Ia masuk ke dalam sebuah toko antic dan melihat-lihat barang di dalamnya. Yoona sedikit bergumam kagum melihat sebuah gelas bercorak yang hanya tinggal satu di sebuah rak. Ia memastikan tidak ada orang yang mengincarnya lalu sedikit berlari ke arah gelas itu. Yoona memegang dan mengangkat gelas itu ke hadapan wajahnya.

“Ya !” seru seseorang sontak membuat Yoona menoleh. Seorang laki-laki tengah menatapnya skeptis, seolah dirinya adalah seorang pencuri yang sedang tertangkap basah.

“Mwoya ?” tanya Yoona heran. Laki-laki itu malah mengambil gelas di tangan Yoona lalu kembali menaruhnya ke dalam rak.

“Kau kira aku tidak tahu ? Kau mau mencuri huh ?” tanya laki-laki, yang Yoona duga sebagai pelayan di toko itu.

Yoona mendecak kemudian menatap laki-laki itu, “Hey, aku masih punya cukup uang untuk membeli ini,”

“Jinjja ? Lalu kenapa kau terlihat seperti pencuri ? Mengendap-endap, melihat kanan-kiri seolah memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatmu eh ?” tanya laki-laki di depannya lebih mengarah ke sebuah interogasi.

“Bukan urusanmu. Aku tidak jadi membelinya, dasar aneh,” jawab Yoona kemudian melangkah keluar dari toko itu.

“Tch, sudah kuduga kau tidak punya uang,” gumam laki-laki pelayan toko itu seraya berkacak pinggang.

“Ya ! Joon-ah ! Cepat kesini !” teriak seseorang dari arah bagian dalam toko itu. Laki-laki yang dipanggil Joon itu pun berbalik dan masuk ke sebuah pintu, dimana seorang wanita memanggilnya.

***

Hyunmi baru saja selesai mengeluarkan baju-baju Jonghyun dari dalam tas besar, ketika laki-laki itu keluar dari kamar mandi. Sudah lebih dari sebulan, dan sekarang saatnya Jonghyun keluar dari rumah sakit. Sebenarnya Kibum memberi saran untuk membiarkan Jonghyun tetap di rumah sakit, sampai keadaannya benar-benar pulih. Tapi bukan Hyunmi dan Jonghyun kalau mereka tidak bersikeras, keduanya memaksa Kibum agar membiarkan mereka bisa keluar dari rumah sakit. Dan Kibum ? Ia lagi-lagi hanya bisa pasrah mengabulkan permintaan pasangan aneh itu.

“Akhirnya kita bisa kembali ke apartemen huh ?” tanya Jonghyun, duduk di tempat tidur dan memperhatikan Hyunmi yang masih sibuk membereskan barang-barang. Hyunmi menaikkan alisnya menjawab pertanyaan Jonghyun kemudian membereskan tas besar yang dipakainya untuk membawa baju Jonghyun ke dalam lemari.

“Haish, jinjja. Kau bukan membantuku Jonghyun,” gerutu Hyunmi kesal kemudian keluar dari kamar meninggalkan Jonghyun untuk mengambil minum. Ia membuka kulkas dan segera meneguk sebotol air dingin yang langsung membasahi kerongkongannya.

“Mianhae,” ujar Jonghyun seraya memeluk leher Hyunmi dari belakang, sontak membuat gadis itu tersedak karena kaget.

“Uhuk, uhuk. Hya ! kau mau membuatku mati ?!” balas Hyunmi keras sembari berusaha melepaskan tangan Jonghyun yang melingkari lehernya. Tapi sungguh, tenaga Jonghyun lebih kuat dari tenaganya.

“Biarkan seperti ini dulu. Kau tidak tahu aku merindukan saat-saat seperti ini ? Di rumah sakit selalu ada Kibum yang mengganggu,” Jonghyun tersenyum kecil dan malah menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Tanpa disadari, Hyunmi juga ikut tersenyum karena perlakuan Jonghyun.

“Ah iya, kehamilanmu sudah berapa bulan Ms.Kim ?” tanya Jonghyun tanpa melepaskan tangannya dari leher Hyunmi.

“Entahlah, 2 bulan mungkin. Kibum bilang, umur 2 bulan itu masih rawan. Well, tidak ada yang ‘aneh-aneh’  selama umur kehamilanku masih rawan, ara ?” jelas Hyunmi seolah tahu apa yang sudah ada di dalam otak mesum seorang Kim Jonghyun.

“Tch, kenapa lama sekali huh ?” gumam Jonghyun sedikit kesal seraya mengerucutkan bibirnya.

“Itu hukumannya karena kau selalu membuatku kesal akhir-akhir ini,” balas Hyunmi lalu menurunkan tangan Jonghyun dari lehernya. Ia pun berbalik kemudian mendorong kepala Jonghyun dengan telunjuknya, “Jauhkan pikiran mesummu itu Kim Jonghyun,”

Hyunmi menyeringai lalu beranjak dari sana untuk kembali ke kamar. Tapi Jonghyun kembali menahan pundak Hyunmi, membuat gadis itu berbalik lagi.

“Apalagi Jong –,” ucapan Hyunmi terputus saat bibir Jonghyun sudah menyentuh bibirnya dengan lembut. Ia segera mendorong laki-laki itu menjauh kemudian menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Kalau kiseu ? Tidak apa-apa kan ?” tanya Jonghyun seraya tersenyum licik. Ia pun mendekap Hyunmi ke dalam pelukannya.

Suara bel membuyarkan kedua pasangan aneh itu. Jonghyun menggerutu lagi, tidak di apartemen, tidak di rumah sakit. Selalu ada yang mengganggunya. Dengan terpaksa Jonghyun melepas pelukannya dan beranjak untuk membuka pintu. Ia membuka pintunya dengan cepat.

“Oh, Yoona-ssi ?” tanya Jonghyun heran. Hyunmi yang akan memasuki kamar pun segera menghentikan langkahnya dan sedikit menoleh ke arah pintu.

“Jonghyun-ssi ? Kau sudah kembali ?” tanya Yoona sedikit histeris seraya memegang kedua bahu Jonghyun. Semua itu membuat Hyunmi mengernyit, wajahnya tiba-tiba memanas melihat Jonghyun yang terlihat antusias juga dengan kedatangan Yoona.

Hyunmi mencoba menghiraukannya dan lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar. Ia tidak mau melihat bagaimana kelanjutan ceritanya antara Jonghyun dan Yoona. Keduanya pasti mengobrol panjang lebar mengingat Jonghyun sudah 1 bulan tidak masuk kantor. Tapi yang membuat Hyunmi bingung, kenapa Yoona selalu mencari-cari Jonghyun sama seperti Tiffany. Keduanya selalu mengejar Jonghyun, tidak peduli bahwa laki-laki itu sudah menikah, bahkan sebentar lagi akan punya anak.

Tiba-tiba Hyunmi merasakan kepalanya pusing. Ia segera duduk di sisi tempat tidur dan memijat kepalanya. Karena terlalu memikirkan Jonghyun, ia menjadi pusing lagi. Sepertinya memang susah menikah dengan laki-laki ‘bling-bling’ seperti Jonghyun, pikir Hyunmi.

***

Sore itu Hyunmi baru saja pulang dari kantor. Ia tidak pulang bersama Jonghyun karena laki-laki itu harus lembur dan menghadiri meeting di Daegu. Karena tidak masuk selama sebulan, banyak pekerjaan yang terabaikan. Alhasil selama beberapa hari terakhir, mungkin Jonghyun akan pulang malam. Atau mungkin tidak pulang.

“Ya. Hyunmi-ya, kau tidak takut Jonghyun berbuat macam-macam diluar sana ?” tanya Insa ketika mereka berdua tengah duduk bersebelahan di dalam bus saat jam pulang kerja. Refleks Hyunmi menoleh ke arah Insa dan tersenyum lebar.

“Ahni. Aku yakin Jonghyun tidak akan berbuat macam-macam. Dia kerja Insa-ya, bukan main,” jawab Hyunmi kemudian terkekeh. Ia melihat Insa mengerucutkan bibirnya seraya melipat tangan di depan dada. Entah kenapa, Hyunmi merasa persahabatannya dengan Insa kali ini lebih dekat. Sejak kejadian salah paham kemarin tentunya.

“Insa-ya, kau mau menemaniku ?” tanya Hyunmi tiba-tiba.

“Kemana ?”

“Membeli baju bayi. Otte ?” Hyunmi melihat mata Insa berbinar-binar kemudian mengangguk cepat.

“Keurae,”

Seoul Center Mall terlihat tidak terlalu ramai sore itu. Hyunmi dan Insa tidak perlu repot-repot berdesakan di lift karena pengunjung yang sepi. Keduanya keluar dari dalam lift di lantai 3 seraya tertawa lebar. Hyunmi benar-benar bahagia saat itu.

“Aigoo~, kenapa perlengkapan bayi lucu-lucu huh ?” Insa mengambil beberapa pasang sepatu yang ada di dalam toko bayi dan menunjukkannya pada Hyunmi. Hyunmi tersenyum kecil lalu menerima semuanya dari tangan Insa. Ia juga menyukai semuanya.^^

Hampir selama 2 jam mereka berbelanja perlengkapan bayi. Dan Hyunmi hampir membeli semua perlengkapan bayi yang lucu menurutnya, tapi tidak jadi ketika ingat kehamilannya masih 2 bulan. Ia terlalu menyukai warna-warna feminine, takut anaknya nanti malah laki-laki. Jadi ia tidak membeli semuanya.

Hyunmi merogoh tasnya dengan sedikit kesusahan karena banyak membawa tas belanjaan, ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi Jonghyun. Sekarang sudah jam 8, siapa tahu Jonghyun sudah pulang dari meetingnya dan bisa menjemput.

“O, Jonghyun-ah. Kau dimana ?” tanya Hyunmi seraya memperhatikan Insa yang masih sibuk melihat-lihat perlengkapan bayi.

‘Aku ? Eh ? Masih di tempat meeting, waeyo ?’

“Ahni. Aku kira kau sudah selesai. Gwenchana,”

‘Jinjja ?’

“Ne, sudah dulu. Annyeong,”

Percakapan singkat di telepon itu membuat Hyunmi sedikit lega. Bisa mendengar Jonghyun saja sudah bahagia, apalagi melihat langsung. Sepertinya ia akan langsung memeluk laki-laki itu.

“Ayo pulang,” tiba-tiba Insa berdiri di sebelahnya dan membantu Hyunmi membawa tas belanjanya. Mereka berdua pun berjalan menuju lift dengan langkah ringan. Saat sampai di depan pintu lift, Hyunmi berbalik dan melihat Insa memberhentikan langkahnya.

“Wae ?” tanya Hyunmi lalu berjalan menghampiri sahabatnya itu.

“Jonghyun ?” gumam Insa pelan, tapi cukup bisa terdengar oleh Hyunmi.

“Dia masih meeting bersama Yoona sekarang. Ayo pulang,” ajak Hyunmi seraya menarik tangan Insa untuk beranjak dari sana.

“Ahni. Jinjja, dia ada disana,” balas Insa, menunjuk ke sebuah restoran yang ada. Hyunmi mengikuti arah jari Insa dan melihat Jonghyun tengah duduk di sebuah meja bersama Yoona. Sontak gadis itu menjatuhkan tas belanjanya dan kembali mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia kembali menelepon Jonghyun lalu melihat laki-laki yang baru saja dilihatnya mengangkat telepon juga.

“Jonghyun-ah, kau dimana ?” tanya Hyunmi dengan suara sedikit bergetar, hampir menangis.

‘Masih di tempat meeting. Ada apa ? Ini pertanyaan yang sama seperti tadi kan ?’

“Jinjja ? Ahni, hati-hati di jalan,”

‘Ms.Kim, kau menangis ?’ tanya Jonghyun. Hyunmi menekan isak tangisnya kemudian menggumam kecil.

“Ahni, gwenchana. Annyeong,”

Hyunmi menutup telepon itu kemudian berlalu masuk ke dalam lift yang saat itu terbuka. Entah kenapa air matanya tidak bisa keluar saat itu. Ia hanya bisa menatap Insa nanar lalu tersenyum pahit.

“Bawa aku ke apartemenmu Insa. Aku tidak akan pulang malam ini,”

***

Untuk beberapa saat, Jonghyun masih menatap ponselnya heran. Ia baru saja mendapat telepon aneh dari Hyunmi. Tidak biasanya gadis itu menelepon dua kali dengan pertanyaan yang sama. Ia takut terjadi sesuatu pada istri dan anaknya juga tentu.

“Wae ? Kau tidak bilang bahwa kau sedang bersamaku disini kan ?” tanya Yoona. Jonghyun tersadar kemudian menggeleng.

“As your wish,” jawab Jonghyun lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Mianhae, kau tidak bisa cepat pulang karena aku. Jinjja, aku sangat butuh teman mengobrol sekarang,” balas Yoona lagi. Dan entah sudah keberapa kalinya Jonghyun mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Yoona.

“Ne, ara. Aku mengerti keadaanmu Yoona-ssi,” balas Jonghyun lalu menatap keluar restoran.

Ia merasa telah terjadi sesuatu pada Hyunmi, tapi tidak tahu apa itu. Ia tidak bisa meninggalkan Yoona –yang baru saja kehilangan ibunya. Ibunya sedang ada di Jepang ketika Yoona mendengar kabar bahwa ibunya sudah meninggal, jadi Yoona hanya bisa menangis dan mencurahkan semuanya pada Jonghyun. Laki-laki itu menerima semua apa yang dicurahkan Yoona, dan memenuhi syarat untuk tidak memberitahu Hyunmi. Yoona tidak mau membuat Hyunmi berpikiran buruk tentangnya karena menahan Jonghyun agar tidak pergi. Dan sekarang, Jonghyun hanya bisa menunggu sampai Yoona selesai menangis.

Sudah lebih dari jam 9 malam, Jonghyun kini berdiri di depan gedung apartemen Yoona setelah mengantar gadis itu tentunya. Ia segera kembali masuk ke dalam mobil dan dengan cepat melaju ke apartemennya. Ia tidak sabar untuk bertemu Hyunmi.

“Ms.Kim, aku pulang,” seru Jonghyun ketika masuk ke dalam apartemennya. Ia mencari ke setiap sudut apartemen tapi tidak menemukan gadis itu. Bahkan di atap penthouse pun, ia tidak menemukan Hyunmi. Dalam keadaan sedikit panic ia menelepon Hyunmi tanpa sempat melepas kemejanya.

“Yeoboseyo Ms.Kim, kau dimana ?”

‘Errr, Jonghyun-ah. Ini aku, Insa,’

Jonghyun mengernyit saat mendengar Insa yang malah menjawab pertanyaannya, “Dimana Hyunmi ?”

‘Ia ada bersamaku sekarang. Ia sedang tidur dan sepertinya akan menginap disini,’

“Jinjja ? Bilang padanya hati-hati,dan jangan lupa minum vitamin. Kalau mau sesuatu, telepon saja aku,”

‘Ne, ara. Sudah dulu, annyeong,’

Jonghyun menghempaskan tubuhnya ke sofa, masih tidak melepaskan genggamannya dari ponsel. Padahal ia sangat ingin mendengar suara gadis itu. Dan malam itu, ia terpaksa harus tidur sendirian.

***

Insa menatap Hyunmi yang masih saja duduk di atas tempat tidur dan memeluk lututnya sendiri. Ia tidak melihat gadis itu menangis dari semalam, setelah kejadian itu tentunya. Bahkan Hyunmi belum menyentuh sedikit pun sarapan yang sudah disiapkannya. Ia prihatin melihat sahabatnya yang berubah setelah tahu Jonghyun membohonginya.

“Hyunmi-ya, ayo makan dulu,” seru Insa seraya duduk di samping tempat tidur dan mengangkat nampan berisi sepiring nasi goreng ke atas pahanya. Hyunmi menggeleng kecil.

“Hyunmi-ah~. Aku bisa dibunuh Jonghyun kalau tidak memberimu makan, hanya sesuap, please?” Insa menyodorkan sesendok nasi goreng ke depan mulut gadis itu, dan lagi-lagi Hyunmi hanya menggeleng. Insa kembali menurunkan tangannya lalu tersenyum.

“Percaya padaku Hyunmi, Jonghyun melakukan itu karena ada alasannya. Lebih baik sekarang kau pulang dan minta penjelasan mengenai kejadian semalam,” saran Insa dan kembali menaruh nampan itu ke atas meja kecil di samping tempat tidur.

“Aku tidak yakin bisa melakukan itu semua. Aku pasti menangis,” balas Hyunmi dengan suara sedikit bergetar. Insa melihat mata sahabatnya itu mulai berkaca kaca. Dan sedetik kemudian, setetes air mata meluncur dari kedua sudut matanya. Hyunmi mulai terisak dan menelungkupkan kepalanya.

“Aku yakin Jonghyun akan kesini. Dia pasti sadar kita tidak masuk kerja hari ini,”

“Uh, tidak. Bisa kau bilang padanya aku tidak disini ?”

“Mian, tapi aku sudah mengatakannya tadi malam. Dia menelepon dan aku bilang kau ada disini,” Insa bangkit dari sisi tempat tidur lalu mengacak rambut Hyunmi kasar.

“Ya ! Mwohae !” pekik Hyunmi seraya membetulkan rambutnya. Insa terkekeh pelan melihat sahabatnya mengerucutkan bibir kesal.

“Himnae ! Jangan sedih terus Hyunmi, nanti bayimu ikut sedih juga,” balas Insa kemudian terkekeh lagi. Hyunmi tersadar sesuatu, ia meluruskan kakinya dan melihat perutnya sudah sedikit membesar. Terlihat jelas karena ia memakai baju milik Insa yang cukup ketat.

TING TONG

“See ? Sepertinya Jonghyun sudah datang untuk menjemputmu,” Insa memberhentikan kekehannya, ia keluar dari kamar dan membuka pintu apartemennya. Sedangkan Hyunmi, ia menarik selimut dan kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar itu terbuka. Hyunmi memejamkan matanya dan pura-pura tidur agar tidak bertemu Jonghyun. Ia belum siap untuk mengatakan semuanya.

“Silahkan Jonghyun-ssi,” gumam Insa setelah mengantarkan Jonghyun ke dalam kamar. Ia tersenyum sekilas pada Jonghyun kemudian keluar dan menutup pintu kamar.

Perlahan Jonghyun melangkah mendekati Hyunmi, ia duduk di sisi tempat tidur. Hyunmi masih saja membelakanginya, dan Jonghyun tahu bahwa gadis itu tidak tidur sama sekali. Ia sudah tahu bagaimana kebiasaan Hyunmi saat tidur, tidak mungkin selurus dan serapi itu.

“Ms.Kim, aku tahu kau tidak tidur,” gumam Jonghyun. Hyunmi yang mendengar suara Jonghyun hanya bisa menekan rasa rindunya dalam-dalam dan terus mendorong dirinya untuk tidak berbalik.

“I don’t know why are you being like this. I don’t know what my fault, and I don’t know how to make you turn into me right now,” Jonghyun berdehem sebentar lalu mengelus puncak kepala Hyunmi lembut. Dan semua yang dilakukan Jonghyun hanya membuat Hyunmi semakin ingin menangis. Ia benar-benar merindukan Jonghyun.

“One thing that you must know Ms.Kim. I love you and our baby of course,” tambah Jonghyun. Ia menghela napas panjang lalu bangkit dari sisi tempat tidur.

“Mungkin aku belum tahu salahku apa. Dan kau jangan beritahu, karena aku akan mencarinya sendiri,” Jonghyun berbalik dan segera keluar dari kamar.

Hyunmi yang baru saja ditinggal Jonghyun, segera mengeluarkan air mata yang sedari tadi ditahannya. Ia memeluk guling yang ada dan menangis terisak. Ia belum bisa mempercayai Jonghyun, ia belum sanggup mendengar semua penjelasan Jonghyun, dan ia belum bisa menatap Jonghyun saat ini.

***

“Wanita hamil memang lebih sensitive Jonghyun,”

Setelah bertanya pada Jinki dan Minho, ia malah mendapat jawaban yang sama. Memang keduanya sudah lebih professional menangani wanita hamil, tapi ia hanya butuh saran. Bukan jawaban yang seperti itu.

Atau mungkin ia melihatku bersama Yoona kemarin ? Apa ia tahu aku berbohong ? Haish, tidak-tidak. bagaimana mungkin ia tahu.

Jonghyun berdiri di depan pintu apartemen Insa dengan gelisah. Ia sangat merindukan Hyunmi setelah 2 hari tidak bertemu dengan gadis itu. Dan sekarang, ia mau menjelaskan semuanya atas kebohongannya ketika bersama Yoona. Mungkin itu lebih baik, daripada harus terus di hantui rasa bersalah.

“Oh, Jonghyun-ah ? Ayo masuk,” sapa Insa ketika pintu apartemen gadis itu terbuka. Jonghyun mengangguk dan masuk ke dalam apartemen Insa.

“Kebetulan kau datang. Hari ini aku mau pergi dengan Jonghoon, jadi kau bisa menemani Hyunmi,” tambah Insa lalu meraih jaket yang tergantung di belakang pintu.

“Hya. Dia kan sedang marah padaku, mana mungkin –,”

“Aku pergi dulu, annyeong,” Insa memotong ucapan Jonghyun dan pergi begitu saja keluar dari apartemen. Jonghyun berpikir, mungkin Insa sengaja melakukan itu semua agar ia bisa berdua bersama Hyunmi dan membahas masalah ini.

Jonghyun membuka pintu kamar Insa perlahan. Ia sedikit menyembulkan kepala dan melihat Hyunmi tengah memakai earphone, berdiri di balkon kamar yang menghadap keluar. Jonghyun melangkahkan kakinya lalu berdiri tepat di sebelah gadis itu. Sontak Hyunmi menoleh,dan sedikit tersentak melihat Jonghyun sudah berdiri di sebelahnya. Ia hendak kabur dari sana, tapi percuma, toh Jonghyun akan lebih cepat mengejarnya.

“Ms.Kim, mianhae,” ujar Jonghyun dan tidak mendapat respon apapun dari Hyunmi. Gadis itu malah bersenandung kecil mengikuti lagu yang keluar dari earphone yang di pakainya. Jonghyun segera berdiri menghadap Hyunmi, membalikkan tubuhnya dan melepas earphone yang dipakainya.

“Mianhae. Dasi hanbon mianhae,” tambah Jonghyun seakan 3 kali meminta maaf tidak cukup baginya. Hyunmi memalingkan wajah kemudian mendecak kesal.

“Sudah tahu kesalahan apa yang kau buat ?” tanya Hyunmi tanpa mau menatap kedua mata Jonghyun. Jonghyun pun menghela napas panjang mendengar pertanyaan dingin dari istrinya itu.

“Yeah, aku sudah berbohong. Aku bilang masih meeting, padahal tengah makan malam bersama Yoona,” jawab Jonghyun membuat wajah Hyunmi semakin memanas. Ia selalu kesal ketika mengingat itu semua, di tambah Jonghyun yang lama menyadarinya.

“Keurom ?” tanya Hyunmi lagi.

“Keurom, mianhamnida. Sebenarnya Yoona yang meminta agar aku tidak memberitahumu bahwa aku sedang bersamanya. Ia tidak mau di ganggu, dan mencurahkan isi hatinya. Ia baru saja kehilangan ibunya yang sekarang tinggal di Jepang. Karena itu, ia mau aku menemaninya tanpa ada yang tahu,” jelas Jonghyun panjang lebar. Sedangkan Hyunmi hanya mendengus dan menaikkan sebelah alisnya heran.

“Apa alasannya agar aku percaya semua ceritamu Jonghyun ?”

“Haish, jinjja. Aku akan telepon Yoona kalau memang perlu,”

“Bagaimana kalau kalian sudah merencanakan semua ini ? Dan aku di ‘bodohi’ lagi, bagaimana ?” tanya Hyunmi kesal. Gadis itu kembali memasang ear phonenya dan menghiraukan Jonghyun.

“Ms.Kim, aku mohon. Kau juga pernah berbohong padaku saat pergi bersama Jonghoon dulu kan ? Dan kenapa kau malah seperti ini ketika aku berbohong saat pergi bersama Yoona ? Kita sama,” balas Jonghyun sedikit emosi. Hyunmi yang mendengar perkataan Jonghyun, segera melepas earphone nya dan menatap Jonghyun skeptis.

“Well, kau menyalahkanku sekarang ? Satu hal Jonghyun, aku benar-benar pergi untuk meeting waktu itu. Dan kau ? pergi meeting bersama Yoona dengan makan malam berdua ? Very romantic huh ?”

“Tch, masalah ini tidak akan selesai kalau kita terus berdebat seperti ini. Lebih baik kita bermaafan dan membahas masalah ini di apartemen kita,” Jonghyun meredakan emosinya, ia sadar bahwa menyelesaikan masalah dengan emosi tidak akan pernah selesai.

“What do you mean about ‘our apartment’ ? Aku akan tinggal di sini mulai sekarang,” jawab Hyunmi cepat. Ia mendecak meremehkan kemudian beranjak dari sana. Tapi langkahnya kembali terhenti ketika Jonghyun mencegah tangannya.

“Kim Hyunmi,” panggil Jonghyun membuat mata Hyunmi membelalak. Entah kenapa, gadis itu merindukan panggilan lengkap dari Jonghyun.

“Aku serius. Berbaliklah, tatap mataku, dan ungkapkan semuanya yang kau tidak suka. Aku akan coba memperbaiki itu,” seru Jonghyun. Hyunmi menghela napas panjang, perlahan ia kembali berbalik dan menatap kedua mata Jonghyun. Walaupun sebenarnya ia menahan tangis setengah mati karena merindukan laki-laki di depannya.

“Aku tidak suka ketika kau pergi ke luar kota meeting bersama Yoona. Dan kau selalu lupa memberi kabar, kau selalu lupa bahwa aku sedang hamil, kau egois, kau selalu berbohong, dan masih banyak lagi. Aku tidak suka semuanya, aku benci kau Jonghyun,” Hyunmi tidak bisa menahan air matanya lagi dan akhirnya menangis di depan Jonghyun. Laki-laki di depannya pun segera mendekap gadis itu erat. Mata Jonghyun mulai berkaca-kaca melihat Hyunmi melemah lagi.

“Kau membenciku ? Sekarang apa yang kau mau ? Aku minta maaf. Aku berjanji mulai sekarang, tidak akan mementingkan meeting lagi, dan aku akan membuat pengingat di ponsel untuk menghubungimu setiap satu jam sekali,” tambah Jonghyun. Hyunmi meredakan isak tangisnya dan balas memeluk Jonghyun.

“Aku takut Jonghyun, aku trauma dengan keadaan seperti ini. Aku takut apa yang terjadi dulu akan terjadi lagi sekarang. Kehilangan orang yang aku cintai lagi, kau tidak tahu sesakit apa aku ketika melihat Minho menyukai gadis lain. Hubunganku hancur berkeping-keping Jonghyun, dan sekarang, aku takut kau meninggalkan aku,” jawab Hyunmi semakin terisak. Jonghyun mempererat pelukannya dan ikut menitikkan air matanya juga.

“Aku berjanji, tidak akan pernah meninggalkanmu Hyunmi,” gumam Jonghyun lembut seraya mengusap rambut Hyunmi.

“Minho juga pernah berjanji sama sepertimu. Tapi kenyataannya, ia meninggalkanku,” balas Hyunmi lalu melepas pelukannya dan menghapus air matanya.

Tiba-tiba Jonghyun berlutut, menundukkan kepalanya menghadap Hyunmi, “I’m promise as a man, and our baby,”

“Jonghyun-ah, berdiri,” seru Hyunmi seraya membantu Jonghyun berdiri. Ia menatap Jonghyun yang sedikit lebih tinggi darinya itu kemudian tersenyum lebar. Perlahan Jonghyun mengangkat tangannya menyentuh wajah Hyunmi, menghapus air mata gadis itu dengan lembut.

“Ingatkan aku untuk tidak pernah menyakiti gadis di depanku lagi,” ujar Jonghyun dan keduanya pun tersenyum.

Sedetik kemudian, masih dalam posisi Jonghyun memegang wajah Hyunmi, laki-laki itu mulai mendekatkan wajahnya. Hyunmi memejamkan matanya, dan membiarkan Jonghyun mencium bibirnya dengan lembut. Rasa rindu gadis itu pun terobati, mengingat bukan pelukan lagi yang di dapat. Melainkan sebuah ciuman hangat yang sudah lama tidak dirasakannya. Dan entah kenapa Hyunmi yakin bahwa Jonghyun akan menepati janjinya.

***

Three months later. .

Hyunmi tengah sibuk membereskan meja-mejanya yang penuh kertas. Satu bulan yang lalu ia baru saja berganti jabatan. Pekerjaannya sekarang bisa dibilang lebih sibuk, karena ia harus menyusun jadwal-jadwal meeting dan menyusun laporan setiap harinya. Kalau dulu, ia hanya menyusun laporan sebulan sekali, itu pun bersama-sama dengan Insa. Tapi sungguh, ia sangat menyukai pekerjaannya sekarang tanpa perlu takut Jonghyun akan mengingkari janji.

“Apa jadwalku hari ini ?” tanya seseorang. Hyunmi yang sedikit kerepotan karena perutnya yang sudah besar, segera bangkit dari kursinya.

“Tidak ada jadwal hari ini sajangnim,” jawab Hyunmi sopan seraya menatap laki-laki bertubuh tidak terlalu tinggi di depannya.

“Keurom, aku bisa pulang lebih cepat ?” tanyanya lagi. Hyunmi mengangguk kemudian tersenyum sendiri.

“Hya ! Kenapa tersenyum geli seperti itu ? Kau menyeramkan Ms.Kim,” pekik laki-laki itu dan Hyunmi malah terkekeh pelan.

“Aku hanya belum terbiasa dengan jabatan baruku Jonghyun. Menjadi sekretaris pribadi seorang Kim Jonghyun, suamiku sendiri,” balas Hyunmi lalu terkekeh lagi.

“Tch, kau senang kan ? Setelah Yoona pergi ke Jepang, kau yang malah menggantikan posisinya,” Jonghyun beringsut duduk di kursi Hyunmi dan menatap gadis itu yang masih mencoba meredakan kekehannya.

“Ayo kita pergi,” ajak Jonghyun tiba-tiba.

“Kemana ?”

“Membeli tempat tidur bayi ? Atau mainan untuk bayi kita nanti, otte ?” tanya Jonghyun dan dijawab anggukan semangat oleh Hyunmi.

“Keurae, kajja,” ajak Hyunmi seraya menarik tangan Jonghyun untuk segera bangkit dari kursi.

Jonghyun pun merangkul Hyunmi lembut dan segera keluar dari ruangannya. Langkah keduanya terhenti saat melihat Insa tidak ada di mejanya dan pandangan keduanya pun langsung tertuju ke arah ruangan Jonghoon.

“Bagaimana kalau kita lihat dulu mereka ?” usul Jonghyun. Hyunmi mengangguk kemudian melangkah duluan mendekati ruangan Jonghoon. Keduanya mengintip melalui sela-sela pintu yang sedikit terbuka.

“Ahni, bagaimana kalau putih ? Aku suka warna putih,” terdengar suara Insa seperti mengusulkan sesuatu.

“Tidak, biru saja. Putih itu sudah biasa untuk pernikahan Insa,” ucapan Jonghoon membuat Jonghyun dan Hyunmi terkekeh kecil. Ternyata kedua orang itu sibuk membicarakan pernikahan.

“Biru dan putih. Itu lebih bagus,” ujar Insa akhirnya.

Jonghyun dan Hyunmi menegakkan kembali posisi berdirinya. Mereka saling melirik satu sama lain sebelum akhirnya meneruskan perjalanan keluar dari kantor itu.

***

Langkah Hyunmi terhenti di depan sebuah restoran jepang, sontak membuat Jonghyun yang sudah berjalan duluan juga menghentikan langkahnya. Gadis itu mengeluarkan puppy eyes andalannya dan berhasil membuat Jonghyun luluh. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam di restoran jepang itu.

“Itu, Kibum kan ?” tanya Hyunmi setelah mereka berdua duduk di sebuah meja dan melihat Kibum tengah duduk beberapa meja di depan.

“Jinjja ? Dan dia, bersama Tiffany ?” tanya Jonghyun juga ketika menyadari wanita yang duduk bersama Kibum adalah mantan pacarnya.

“Haish, jinjja. Sepertinya mereka berdua punya hubungan khusus,” balas Hyunmi melihat Kibum yang kadang tertawa bersama Tiffany.

“Hyunmi ?” tanya seseorang membuat keduanya mendongak. Seorang laki-laki berambut agak blonde berdiri di samping meja mereka. Jonghyun mengernyit sedangkan Hyunmi menutup mulutnya tidak percaya.

“Joon oppa ?” tanya Hyunmi lagi. Sontak Jonghyun menatap Hyunmi dan laki-laki yang dipanggil Joon itu bergantian.

“Nugu ?” tanya Jonghyun pada Hyunmi, gadis itu menatap Jonghyun lalu tersenyum.

“Dia kakak kelasku saat SMP,” jawab Hyunmi kemudian kembali memandang Joon.

“Kau sudah menikah ?” tanya laki-laki bernama Joon itu seraya menunjuk perut Hyunmi yang sudah membesar. Refleks Jonghyun pun bangkit dari kursinya dan menyodorkan tangan pada laki-laki itu.

“Kim Jonghyun, suami dari Kim Hyunmi,” ujarnya. Joon memandang Jonghyun sekilas kemudian membalas uluran tangan laki-laki itu.

“Lee Joon, cinta pertamanya seorang Kim Hyunmi,” jawab Joon sontak membuat Hyunmi tersedak. Jonghyun pun menoleh ke arah Hyunmi yang malah tersenyum innocent. Ia mengumpat dalam hati, sepertinya akan ada pengganggu kehidupannya lagi. Melihat Hyunmi yang sedikit berbinar-binar memandang cinta pertamanya.

-to be continued-

2 thoughts on “[FanFic] Curse Marriage (9th Part)

  1. Ho ho ho kayanya kehidupan JongMin couple selalu d bumbui dgn kecemburuan karna adanya orang ketiga yg lewat (?) kekeke
    akhirnyaa mreka baikan lg !! Ak kira bkalan lama mereka pisah2hannya tp ternyata enggak. Syukurlaaahhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s