[FanFic] Curse Marriage (8th Part)

Title       : Curse Marriage

Author  : Ima Shineeworld

Cast       : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

Other    : Choi Jonghoon (FTI), Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD), and still hidden

Rating   : PG+15

Genre   : Comedy, Romance

“Mari selesaikan masalah ini. Antara laki-laki, abeoji,”

Dan dengan sekali hentakan Jonghyun sudah melayangkan pukulannya ke arah Jong Il. Tidak peduli bagaimana status mereka, tidak peduli bahwa yang ada di depannya saat itu adalah ayah –tirinya. Ia akan menjalankan sumpah yang tadi dibuatnya, membunuh Jong Il. Walaupun tidak yakin bisa mengalahkan anak buah Jong Il yang sudah siap membunuhnya juga.

———————

Bayangan seseorang yang akan keluar dari gedung membuyarkan lamunan Minho yang saat itu tengah duduk di kap mobil milik Jonghyun. Ia segera berdiri tegak dan memperhatikan langkah terseok dari seseorang yang bahkan tidak bisa dilihat jelas olehnya karena kegelapan malam. Untuk beberapa saat Minho masih memperhatikan orang itu dari jauh sampai ketika ia melihat orang itu terjatuh, ia baru menyadari bahwa yang ada beberapa meter di depannya saat itu adalah Hyunmi.

“Hyunmi-ya !” pekik Minho lalu menghampiri Hyunmi yang sudah terduduk di aspal. Ia memegang kedua bahu gadis itu, mencoba menatapnya yang tengah menundukkan kepala.

“Jonghyun . . Di lantai terbawah gedung,”

Sedetik kemudian Hyunmi benar-benar kehilangan kesadarannya. Dengan cepat Minho menangkap tubuh gadis itu dan membawanya ke jok belakang mobil Jonghyun. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana pucatnya wajah Hyunmi dan sudut bibir yang berdarah.

Entah kenapa Minho kembali merasa bersalah atas apa yang pernah dilakukannya dulu. Ia merasa bersalah sudah menyia-nyiakan Hyunmi yang notabene sudah bersamanya selama 5 tahun. Dan hubungan itu berubah drastis hanya karena kecerobohan dirinya terhadap Neul Rin.

Suara sirine membuyarkan pikiran bersalah Minho yang saat itu masih memperhatikan Hyunmi dari luar mobil. Dengan setengah berlari ia menghampiri beberapa mobil polisi yang sudah terparkir di depannya.

“Dimana mereka,” tanya polisi itu cepat.

“Di lantai terbawah gedung ini,” jawab Minho cepat juga. Tanpa butuh waktu lama Minho sudah melihat para polisi itu menghilang masuk ke dalam gedung. Dan ia kembali masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi dan sedikit menoleh ke belakang untuk melihat Hyunmi. Tangannya terangkat dan berhenti di puncak kepala gadis itu.

“Kau harus kuat Hyunmi, aku yakin kau bisa demi Jonghyun dan anakmu,” gumam Minho menyemangati.

Ia mengulang kembali perintah Jonghyun ketika dalam perjalanan menuju gedung itu. Dalam keadaan apapun, ia harus membawa Hyunmi ke rumah sakit terdekat untuk mengecek keadaannya dan kandungannya. Tanpa peduli Jonghyun yang belum selesai mengurus masalah pribadinya dengan laki-laki bernama jong il –yang Minho bahkan tidak tahu.

Minho menaikkan transmisi otomatis mobil Jonghyun dan menginjak gasnya dengan dalam sehingga membuat ban mobil itu berdecit. Dan Minho pun, dalam keadaan khawatir membawa mobil Jonghyun menuju rumah sakit yang ada di dekat  sana.

***

Di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, dan kekurangan cahaya itu berubah seketika menjadi mencekam. Seseorang telah merubah ruangan itu menjadi saksi bisu atas apa yang sudah dilakukannya pada semua orang yang ada di sekitarnya. Menjadi saksi bisu atas pembunuhan berantai tanpa ampun pada sekumpulan gembong narkoba. Ia menjatuhkan pistol yang dipegangnya dan merasakan rasa sakit karena peluru yang menembus bawah bahu kanannya kini sudah menjalar hampir ke seluruh tubuh.

Ia mencoba menahan rasa sakit yang ada sampai melihat beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa pistol yang sama dengan pistol yang di pegangnya. Ia mendongak dan sedikit tersenyum pada polisi-polisi yang malah menatapnya heran.

“Maaf pak polisi. Tapi aku sudah membunuh mereka semua,” ujar orang itu kemudian ikut kehilangan kesadarannya.

Para polisi itu mengangkat mayat-mayat yang berserakan dan memanggil ambulans untuk mengangkat satu orang yang tersisa itu untuk membawanya ke rumah sakit. Identifikasi pun dilakukan untuk meneliti jejak kematian yang sudah dibuat laki-laki yang selamat itu. Dan akhirnya, setelah penelitian yang cukup dalam, para polisi itu menemukan dimana gudang narkoba yang selama ini tersembunyi. Para polisi menemukan alamat itu dari sebuah kartu identitas di salah satu mayat yang ada di dalam ruangan tadi. Satu masalah pun terselesaikan.

***

Sementara itu, di sebuah ruangan lainnya yang bercat dinding serba putih. Tampak seorang wanita, tengah tertidur dengan pulas di atas tempat tidur. Wajahnya pucat, masih terlihat sisa pukulan di sudut bibirnya yang mungil itu. Napasnya mulai teratur seiring dengan matahari yang mulai naik ke permukaan bumi.

Di sisi tempat tidur gadis itu, tepatnya di sebuah sofa. Seorang laki-laki tengah tertidur juga dalam posisi duduk. Menunggu gadis di depannya sadar selama hampir semalaman. Karena sebagian malamnya ia habiskan untuk memandangi gadis itu dan berdoa dalam hati agar gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu cepat sadar.

Hyunmi membuka matanya perlahan, sangat pelan karena tidak bisa menyesuaikan dengan cahaya yang tiba-tiba menyambutnya. Ia harus sedikit mengernyit agar membuat matanya focus menatap ke depan. Tangannya beralih ke kepala, dimana rasa pusing itu masih menderanya.

Beberapa saat kemudian, setelah matanya sudah mulai bisa menyesuaikan dengan cahaya ruangan itu. Ia bangkit dari posisi tidurnya, tapi kembali terhenti saat merasakan sakit di perutnya.

“Aish, kenapa perutku sakit sekali ?” tanya Hyunmi pada dirinya sendiri lalu kembali berbaring.

“Tenang Hyunmi, kau tidak apa-apa. Bayimu juga tidak apa-apa, dia masih ada di dalam perutmu,” gumam Hyunmi menyemangati dirinya sendiri. Tapi sungguh, ia sangat ingin menangis. Mengingat bahwa kemarin tubuhnya terbanting ke kursi dengan cukup keras. Belum lagi ketika ia terjatuh ke aspal, kecil kemungkinannya untuk kehamilan yang baru berumur 3 minggu untuk tidak terjadi apa-apa.

Hyunmi menyeka sudut matanya yang sudah mulai berair karena membayangkan berita dari dokter nanti. Ia menoleh dan hanya mendapati Minho tengah tertidur dalam posisi duduk.

“Minho-ya. . Choi Minho. .” panggil Hyunmi selembut mungkin agar tidak membuat kaget laki-laki itu. Karena belum melihat Minho bergerak sedikit pun dari tempatnya, Hyunmi meraih tissue yang ada di meja kecil di sampingnya. Meremas tissue itu kemudian melemparkannya tepat ke kepala Minho.

“Ya ! Haish. .” seru Minho saat menyadari bahwa kepalanya tertimpa kertas tissue. Ia menguap dengan lebar lalu mendongak, melihat ke arah tempat tidur dimana Hyunmi sudah menatapnya heran.

“Aigo. . kau sudah bangun ?” tanya Minho seraya bangkit dari sofa lalu menghampiri Hyunmi. Ia menarik kursi yang ada dan duduk di sebelah tempat tidur gadis itu.

“Kalau aku tidak melemparmu seperti tadi, kau pasti tidak akan bangun,” balas Hyunmi sedikit menggerutu. Minho tersenyum kecil mendengar ucapan Hyunmi yang terdengar semangat padahal ia tahu bahwa gadis itu khawatir.

Baru saja Hyunmi akan membuka mulutnya kembali, tapi Minho sudah mendahuluinya, “Kandunganmu tidak apa-apa Hyunmi. Jangan tanyakan hal itu,”

Sebuah senyuman pun langsung menghiasi wajah Hyunmi seketika. Ia mencoba memeluk Minho yang ada di sampingnya, tapi tidak bisa karena perutnya kembali terasa sakit.

“Geundae, kenapa perutku sakit ?” tanya Hyunmi lagi. Minho tersenyum lebar lalu mengacak rambut Hyunmi lembut.

“Hanya sedikit pendarahan, gwenchana,” jawab Minho setenang mungkin.

Hyunmi merasa lega akan hal itu, tapi tidak dengan Jonghyun. Ia langsung merubah tatapan bahagianya kemudian menatap Minho nanar.

“Dimana Jonghyun ?” pertanyaan Hyunmi membuat Minho menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa tentang Jonghyun.

“Ya ! Katakan dimana Jonghyun,” seru Hyunmi seraya mengguncangkan bahu Minho pelan.

“Lebih baik kau istirahat dulu. Biar aku panggilkan dokter untuk mengecekmu,” balas Minho mencoba mengalihkan pembicaraan. Minho pun beranjak dari sana, keluar dari kamar rawat Hyunmi untuk memanggil dokter.

Sedangkan Hyunmi kembali berpikiran buruk tentang keadaan Jonghyun. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Jonghyun atau dia tidak akan mau memaafkan para polisi yang telat datang ke gedung itu. Hyunmi pun bangkit dari tidurnya, mengacuhkan rasa sakit yang ada di perutnya dan meraih botol infuse. Ia turun dari tempat tidur kemudian berjalan ke arah pintu. Ia benar-benar mengacuhkan perutnya yang sakit hanya untuk mendengar bahwa Jonghyun baik-baik saja.

Hyunmi berjalan di koridor rumah sakit sambil berpegangan pada tembok yang ada. Ia segera memberhentikan perawat yang lewat dan menanyakan dimana Jonghyun dirawat.

“Dimana kamar Jonghyun ?” tanya Hyunmi panic. Perawat itu pun menggeleng tidak tahu kemudian berlalu meninggalkan Hyunmi.

“Ya ! Ya !” seru Hyunmi kesal pada perawat yang malah meninggalkannya. Dari kejauhan ia bisa melihat Minho sedang berjalan kembali ke arah kamar rawatnya. Dan Hyunmi tidak tahu bagaimana caranya menghindar karena ia memang tidak bisa berlari dalam keadaan seperti itu.

“Hyunmi-ya !” pekik Minho kemudian segera memegang tangan Hyunmi untuk membantunya berjalan.

“Beritahu aku dimana Jonghyun !!” seru Hyunmi dan setetes air mata pun meluncur di pipinya. Ia belum siap untuk kehilangan Jonghyun saat itu.

“Ulljima,” balas Minho lalu menarik Hyunmi ke dalam pelukannya. Bukannya berhenti, Hyunmi malah semakin terisak.

“Dimana Jonghyun ?” tanya Hyunmi sedikit terbata karena pengaruh isak tangisnya.

“Ia ada di kamar rawat sekarang. Harusnya aku tidak boleh mengatakan ini, Jonghyun sendiri yang meminta. Tapi aku tidak tega melihatmu menangis,” Minho melepas pelukannya lalu mengusap air mata Hyunmi dengan jemarinya

“Bawa aku ke sana sekarang,” pinta Hyunmi dan disambut anggukan kecil oleh Minho.

“Tunggu disini, aku ambil kursi roda dulu,”

Beberapa saat kemudian Minho sudah kembali dengan sebuah kursi roda. Hyunmi segera duduk di atas kursi roda itu dan membiarkan Minho membawanya entah kemana. Yang jelas mereka menaiki lift ke lantai 4 rumah sakit itu.

***

Mereka perlu melewati beberapa belokan untuk sampai di depan pintu kamar rawat VVIP yang bertuliskan nama Kim Jonghyun. Hyunmi merasa bulu kuduknya meremang ketika Minho mulai membuka pintu kamar rawat suaminya. Bahkan ia hampir kehilangan momen untuk mengambil napas ketika melihat Jonghyun terbaring dengan alat bantu pernapasan dan juga alat pendeteksi jantung di samping tempat tidurnya.

“Apa yang terjadi ?” tanya Hyunmi. Minho mendorong kursi roda Hyunmi sampai ke samping tempat tidur Jonghyun.

“Bawah bahunya tertembak, ada lebam di kepala belakangnya. Banyak bekas pukulan benda tumpul juga. Karena luka-luka sebelumnya belum sembuh, termasuk tulang rusuknya yang patah, ia belum bisa sadar dalam waktu dekat ini,” jelas Minho lalu berjongkok di sebelah kursi roda Hyunmi.

“Uh tidak, aku bisa dibunuh Jonghyun karena memberitahumu hal ini,” tambah Minho, menepuk pipi Hyunmi pelan.

“Kalau kau di bunuh olehnya, aku akan membunuh Jonghyun juga. Apa-apaan dia, tidak boleh memberitahu keadaannya padaku,” sahut Hyunmi sontak membuat keduanya tertawa.

“Dia hanya tidak mau membuatmu khawatir. Ah iya, aku harus memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu dan Jonghyun. Jangan kabur lagi seperti tadi,” Minho menepuk puncak kepala Hyunmi kemudian beranjak keluar dari kamar rawat Jonghyun.

Setelah Minho keluar, Hyunmi masih saja diam di tempatnya dan tidak melakukan apapun. Ia ingin menangis terharu, tapi di sisi lain ia juga ingin tersenyum. Terharu karena Jonghyun rela berkorban demi dirinya, dan tersenyum karena melihat Jonghyun selamat tapi tidak dengan keadaannya saar itu.

“Tch, kau salah kalau tidak mau membuatku khawatir dengan cara seperti itu. Malah aku semakin khawatir karena tidak tahu keadaanmu, bodoh,” gumam Hyunmi lalu menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Tangan lain yang tidak digunakannya untuk memegang infuse, ia gunakan untuk meraih tangan Jonghyun. Menggenggamnya lembut.

“Kenapa tanganmu dingin ? Aku ingin Jonghyun yang hangat lagi. . cepatlah sadar,” kali ini Hyunmi tidak bisa menahan air matanya. Ia bersumpah, untuk tidak akan mau melihat Jonghyun seperti ini lagi untuk yang ketiga kalinya. Ia tidak mau melihat Jonghyun terbaring tidak berdaya seperti itu, dan tidak bisa menghiburnya.

Hyunmi masih saja seperti itu, menatap wajah Jonghyun yang bahkan sebagiannya tertutup alat bantu napas. Ia tidak sadar ketika Minho sudah kembali masuk bersama dokter dan terhenti di belakang pintu karena melihat gadis itu menggumam sendiri pada Jonghyun.

“Excuse me, miss. Saatnya periksa,” ujar dokter itu akhirnya membuyarkan pikiran Hyunmi. Hyunmi memutar kursi rodanya menghadap dokter itu dan membiarkan dirinya diperiksa.

“Daebak. Keadaanmu jauh lebih baik dibanding saat kemarin kau kesini. Tapi kau tidak boleh terlalu banyak gerak, kandunganmu masih rawan, ara ?” tanya dokter yang masih berumur 25 tahun itu, dan membuat Hyunmi terhenyak sebentar karena wajahnya.

“Ne. .” Hyunmi memotong ucapannya dan membaca name tag yang dipakai dokter itu, “Kim Kibum uisa,” jawab Hyunmi lalu tersenyum kecil. Dokter yang di panggil Kibum itu pun beralih memeriksa Jonghyun kemudian tersenyum juga karena melihat hasilnya.

“Jonghyun juga jauh lebih baik. Sepertinya dia tahu kalau istrinya sudah datang,” ucapan Kibum berhasil membuat wajah Hyunmi memerah. Sedangkan Minho berdiri di samping dokter itu dan hanya bisa menahan senyumnya.

“Nanti siang aku akan kesini lagi untuk membawa makan siang. Kau masih akan tetap disini Hyunmi-ssi ?” tanya Kibum dan dijawab anggukan oleh Hyunmi.

“Baguslah,” balas Kibum, ia menepuk pundak Minho kemudian keluar dari sana.

Hyunmi tersenyum kecil lalu memegang tangan Jonghyun kembali, “Kau dengar kata Kibum uisa ? Kau sudah membaik dan harusnya cepat sadar,” ujarnya.

Baru saja Hyunmi akan mengatakan sesuatu pada Minho, tapi pintu kamar rawat kembali terbuka. Ia menoleh ke arah pintu dan melihat Neul Rin masuk dengan sedikit tergesa.

“Neo gwenchana ?” tanyanya khawatir seraya memeluk Hyunmi yang masih duduk di kursi roda.

“Ne, gwenchana,” jawab Hyunmi sedikit canggung karena sudah beberapa bulan ini tidak pernah bertemu dengan Neul Rin. Gadis itu melepas pelukannya lalu beralih menatap Jonghyun.

“Jonghyun oppa, bagaimana keadaannya ?” tanya Neul Rin pada Minho yang berdiri berseberangan dengannya. Minho pun berdehem kecil kemudian mulai menjelaskan keadaan Jonghyun. Sontak Neul Rin menutup mulutnya tidak percaya.

“Separah itu kah ?” tanya Neul Rin dan dijawab anggukan oleh Minho dan Hyunmi. Keadaan pun menjadi hening seketika. Kecanggungan masih saja terasa disana. Bagi Hyunmi, itulah saat terberat baginya, dimana harus kembali berhadapan dengan Minho dan Neul Rin.

***

Kibum menatap hasil pemeriksaan setiap pasien yang dirawatnya dengan tatapan senang. Beberapa pasien itu sudah menunjukkan grafik yang baik. Apalagi ketika melihat grafik perkembangan pasiennya yang bernama Hyunmi. Baru kali ini ia melihat perkembangan seseorang yang sangat pesat hanya dalam waktu sehari.

Kegiatan memandang hasil pemeriksaan itu buyar karena tiba-tiba seorang perawat masuk ke dalam ruangannya. Ia melihat perawat itu sedikit menyembulkan kepala.

“Uisa, pasien bernama Kim Jonghyun sudah sadar,” sontak Kibum bangkit dari duduknya dan keluar melewati perawat yang masih berdiri di depan pintunya itu.

Dengan cepat ia memasuki kamar rawat Jonghyun yang hanya berjarak beberapa meter dari ruangannya.  Ia segera memakai stetoskop yang tergantung di lehernya dan memeriksa keadaan Jonghyun yang masih belum sepenuhnya sadar.

“Uh,” rintih Jonghyun lalu memegang kepalanya sendiri. Perlahan Jonghyun mencoba membuka alat bantu napas yang menutupi mulutnya tapi segera di cegah oleh Kibum.

“Andwae, andwae. Kau masih memerlukan alat ini, jangan dilepas sampai aku mengizinkannya,” sergah Kibum. Ia melihat laki-laki di depannya itu terlihat sedikit bingung kemudian sedikit menoleh menatapnya.

“Bagaimana keadaan Hyunmi ? Dia baik-baik saja ?” tanya Jonghyun bahkan tidak menanyakan keadaannya sendiri. Kibum menyeringai lalu duduk di sebelah laki-laki itu.

“Ayolah, keadaanmu lebih parah di banding Hyunmi. Ia masih tertidur di kamarnya, dan maaf, karena ia sudah tahu semuanya,” jawab Kibum santai.

“Tch, sudah kuduga. Pasti kau dan Minho tidak bisa menyimpan pesanku dengan baik,”  karena kesusahan berbicara dengan Kibum, akhirnya Jonghyun melepas alat bantu napasnya tanpa peduli Kibum yang tengah menceramahinya.

“Dasar aneh, sebelum masuk ruang operasi kau masih sempat mengatakan tidak boleh memberitahu keadaanmu ketika Hyunmi sadar. Kau tahu ? Ia menangis karena takut terjadi sesuatu yang parah padamu,” ujar Kibum melanjutkan ocehannya.

“Kenapa kau selalu cerewet huh ? Sejak SMA tidak pernah berubah, selalu bisa membuat kupingku sakit,” gerutu Jonghyun dan di sambut pukulan ringan oleh Key tepat di tangan kanan laki-laki itu.

“Aww. Dasar dokter bodoh. Sudah lupa kalau pasien di depannya habis terkena tembakan huh ?” tanya Jonghyun lemah. Kibum terkekeh kecil kemudian menoleh karena mendengar pintu kamar rawat Jonghyun terbuka. Seorang wanita duduk di atas kursi roda masuk ke dalam, dengan suster yang mendorong kursi rodanya. Senyumnya mengembang saat melihat suaminya sudah bangun yang masih belum bangkit dari posisi tidurnya.

“See ? Sepertinya istrimu sudah punya feeling huh ? Dia datang disaat yang tepat,” Kibum bangkit dari kursinya dan menghampiri Hyunmi, “Sunyeonim, biar aku yang mengambil alih,” ujarnya pada perawat yang mendorong kursi roda Hyunmi. Ia beralih ke belakang gadis itu dan mendorong kursi rodanya mendekati Jonghyun.

“Sepertinya kalian butuh privasi. Aku keluar dulu sebentar,” Kibum menunjuk dengan ibu jarinya ke arah pintu, dan dibalas anggukan lemah oleh Jonghyun. Ia tersenyum sekilas kemudian keluar dari sana, memberikan ruang untuk Hyunmi dan Jonghyun berbicara.

***

Sejenak keadaan hening melanda kamar rawat tersebut. Jonghyun masih sibuk mengumpulkan nyawanya kembali, setelah seharian tidak sadarkan diri. Sedangkan Hyunmi menundukkan kepalanya, tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Dan selama beberapa menit mereka masih dalam keadaan diam, hanya terdengar suara alat pendeteksi jantung yang meramaikan ruangan itu.

“Mian Ms.Kim,” sahut Jonghyun tiba-tiba sontak membuat Hyunmi mendongakkan kepalanya dan mengernyit heran, “Mian karena aku sudah membawamu ke dalam masalahku. Mian juga karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik, membahayakan kau dan. . . . bayi kita,” masih dengan nada yang lemah, Jonghyun mencoba mengungkapkan perasaan bersalahnya, tapi Hyunmi langsung menolak pendapat Jonghyun itu.

“Ya ! Kalau kau masih merasa bersalah seperti itu, aku akan keluar sekarang juga. Tch, harusnya aku yang meminta maaf karena sudah membuatmu seperti ini. Dia memang musuh appa sejak dulu, dan setelah tahu aku menjadi istrimu yang notabene adalah anak tirinya, ia menjadi lebih berkuasa atas kita. Tapi sudahlah, tidak usah dibahas. Yang terpenting, kau bisa selamat dari mereka,” Hyunmi tersenyum lebar menularkan semangatnya pada Jonghyun, laki-laki itu pun ikut tersenyum juga walaupun harus memaksakan diri.

“Gomawo. Aku beruntung sudah menikah denganmu, walaupun harus melewati kutukan aneh dari peramal tidak jelas itu. Sepertinya peramal itu sudah tahu bahwa kita akan seperti ini nantinya,” balas Jonghyun sontak membuat Hyunmi tersenyum kecil.

“Jinjja ? Kalau begitu kau harus cepat sembuh untukku, ara ? Jangan sia-siakan kesempatan yang sudah diberikan oleh peramal itu. Dan satu hal lagi, jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku. Termasuk keadaanmu yang ternyata separah ini, nan pabo cheorom,” ujar Hyunmi menceramahi lagi. Jonghyun belum bisa tertawa keras, ia hanya bisa menahan senyumnya mengingat bahwa Hyunmi hampir sama dengan Kibum tadi.

“Ne, ara,” jawab Jonghyun singkat lalu berusaha sekuat tenaga menoleh ke arah gadis itu.

“Saranghae,” ujarnya pelan. Hyunmi tersenyum lagi kemudian meraih tangan Jonghyun yang ada di depannya.

“Nado, saranghae Kim Jonghyun,”

***

Hari demi hari terus berlalu. Keadaan Jonghyun pun semakin membaik, begitu juga Hyunmi yang kini tidak perlu memakai kursi roda lagi. Bahkan ia sudah boleh pulang menurut Kibum, tapi ia bersikeras untuk tetap tinggal di rumah sakit sampai Jonghyun sembuh. Kibum pun hanya bisa menurut akan keinginan pasiennya yang satu itu.

Selama itu pula mereka –Jonghoon, Insa, Yoona, dan Tiffany mengkhawatirkan keadaan pasangan suami istri itu karena tidak ada kabar sama sekali. Mereka mencoba mencari informasi, tapi belum ada yang mendapat kabar apapun. Insa pun mencoba bertanya pada Minho, tapi laki-laki itu malah memberikan jawaban yang tidak jelas. Dan mereka hanya bisa duduk menunggu, untuk melihat kedua orang itu kembali lagi.

Hari itu, Tiffany bermaksud untuk kembali pergi ke kantor Jonghyun untuk mencari laki-laki itu tentunya. Tapi di tengah perjalanan ke kantor Jonghyun, ia malah mendapat sesuatu yang akan merubah moodnya seharian.

“Ya !!” teriak Tiffany kesal ketika mendapati kakinya kotor dan basah karena cipratan air. Sebuah mobil kembali mundur ke tempat Tiffany berdiri –terminal bus, dan membuka kaca mobilnya.

“Waeyo ?” tanya orang yang masih berada di dalam mobil itu dan tidak turun untuk menghampiri Tiffany.

“My leg, sir. You made it dirty and wet,” jawab Tiffany singkat dan memasang wajah tidak sukanya. Sontak orang yang baru saja menyipratkan air itu, turun dari mobilnya dengan membawa tissue lalu menghampiri Tiffany.

“Sorry miss,” gumam orang itu kemudian berlutut, membersihkan cipratan air kubangan yang ada di kaki Tiffany yang saat itu memakai dress selutut. Ia segera berdiri dari posisi berlututnya setelah menyelesaikan tugas untuk menebus kesalahannya.

Lagi-lagi, untuk beberapa saat Tiffany terhenyak memandang wajah orang itu. Sama seperti Hyunmi ketika pertama kali melihat orang itu.

“Hello, miss ? Are you ok ?” tanya Kibum seraya melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu. Tiffany segera tersadar kemudian mengangguk, ia melihat kakinya yang sudah kembali bersih.

“K-kamsahamnida,” jawab Tiffany sambil sedikit membungkukkan badannya. Kibum tersenyum kecil, ia menyodorkan tangannya ke arah gadis itu.

“Tidak baik kalau tidak berkenalan bukan ? Kim Kibum, Key,” ujar Kibum memperkenalkan dirinya.

Tiffany membalas sodoran tangan Kibum, “Stephanie, Tiffany,” gumamnya pelan.

Keduanya saling menarik tangan masing-masing dan merasakan kecanggungan yang tiba-tiba muncul. Tiffany melihat kedatangan bus yang akan di tumpanginya kemudian membungkukkan badan pada Kibum yang masih saja diam.

“Aku pergi dulu, annyeong,” Tiffany masuk ke dalam bus yang saat itu sudah berhenti. Membuat Kibum segera tersadar dan terlambat mencegah gadis itu.

“Aigo, kenapa aku bodoh sekali huh ?” tanya Kibum pada dirinya sendiri saat melihat bus itu sudah pergi. Ia meremas tissue yang tadi dipakainya lalu membuangnya asal. Ia segera masuk kembali ke dalam mobil dan memacu mobilnya untuk ke rumah sakit.

***

Insa mengacak rambutnya frustasi. Tugas yang paling dibencinya sekarang harus dikerjakannya sendiri tanpa bantuan dari Hyunmi. Biasanya ia akan menyusun –laporan harian para pegawai selama sebulan, dibantu oleh Hyunmi. Belum sebulan, setelah ia memutuskan untuk tidak bersahabat dengan gadis itu lagi, dan sekarang ia sadar apa yang dinamakan sahabat. Selalu membantu disaat senang dan susah, dan sekarang ia sangat butuh untuk kesusahan yang dialaminya.

“Haish, jinjja. Wae irae ?!” gumam Insa kesal ketika melihat hasil kerjanya di dalam computer malah berantakan.

Tepat ketika Insa menggumam kesal dan memukul layar computernya dengan cukup keras, Jonghoon pun keluar dari ruangannya. Sontak ia menghentikan langkahnya dan menatap Insa heran sekaligus horror.

“Ya ! Apa yang kau lakukan ?” tanya Jonghoon seraya berjalan ke depan meja gadis itu.

“Mwoya ?!” balas Insa ketus membuat Jonghoon sedikit tersentak.

“Tch, melampiaskan kemarahan pada orang-orang sekitar. Itu salah satu sifat yang buruk Yoon Insa,” Jonghoon beringsut duduk di kursi Hyunmi, di sebelah Insa. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Insa yang frustasi saat itu.

“Waeyo ? Kau ada masalah huh ?” tanya Jonghoon lagi seraya mendekatkan kursinya ke arah Insa dan melihat layar computer gadis itu.

“Yeah, hal yang paling kubenci. Menyusun laporan pegawai selama sebulan terakhir,” Insa memijat kepalanya pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Tapi ucapan Insa hanya dibalas gelengan kepala oleh Jonghoon.

“Haish, minggir. Biar aku yang mengerjakan semuanya,” Jonghoon mendorong kursi Insa sedikit menjauh, dan mengganti dengan kursinya. Ia segera menyentuh keyboard yang ada di depannya dan mengerjakan dengan cepat tugas milik Insa.

Tidak butuh waktu lama, Jonghoon sudah menyelesaikannya dan mencetak tugas Insa itu. Ia tersenyum puas lalu menyerahkan hasilnya pada Insa yang saat itu masih memijat kepalanya.

“Ige ? Kau sudah selesai ? Omo, neomu palli,” gumam Insa, bangkit dari kursinya dan menerima tugas yang sudah di kerjakan Jonghoon dengan senyuman lebar.

“Tidak ada terima kasih ?” tanya Jonghoon menyindir. Insa melipat senyum yang penuh kekaguman itu lalu menatap Jonghoon aneh.

“Ne, kamsahamnida Jonghoon-ssi,” Insa menatap hasil kerja Jonghoon lagi dan segera menyelipkannya ke dalam map berwarna biru untuk di serahkan pada direktur utama kantor itu.

“Tidak cukup hanya dengan terima kasih,” sahut Jonghoon sontak membuat Insa mengernyit heran.

“Keurom ??” tanyanya sedikit takut akan perubahan sikap Jonghoon lagi.

“Ayo ikut aku,” ajak Jonghoon, tanpa menunggu balasan dari Insa, ia segera menarik tangan gadis itu keluar dan menaiki lift.

“Ya ! Ya ! Mau kemana bodoh ?” tanya Insa seraya mencoba melepaskan tangan Jonghoon yang menggenggamnya erat ketika di dalam lift.

“Bodoh ? Kau yang bodoh karena menolak ajakanku yang langka ini,” jawab Jonghoon santai.

Dan Insa pun hanya bisa menghela napas pasrah. Walaupun ia harus setengah mati meredam detak jantungnya hanya karena tangan Jonghoon menggenggam tangannya lembut. Ia benar-benar kekurangan oksigen saat itu.

***

Di sebuah taman bermain, tidak seperti biasanya, hari itu terlihat sepi pengunjung. Hanya ada beberapa orang yang tengah bermain beberapa wahana disana. Beberapa wahana lainnya tidak dijalankan karena memang tidak ada pengunjung yang menaikinya. Kedua orang yang baru saja memasuki arena taman bermain itu terlihat antusias karena sepi dari pengunjung.

“Omo, kau gila eh ? Untuk apa kita kesini ? Kau tidak lihat aku masih memakai baju kerja ?” tanya Insa heran dan sedikit malu karena beberapa orang yang tengah berkerumun memandang ke arahnya.

“Tunggu disini,” Jonghoon melepaskan tangan Insa dan berlari entah kemana, meninggalkan gadis itu sendirian. Seraya menunggu Jonghoon, ia duduk di sebuah kursi di bawah pohon sambil mengipas-ngipaskan tangan ke lehernya. Panas karena cuaca, dan juga panas karena harus sering berhadapan dengan Jonghoon seharian. Kenapa juga laki-laki itu malah mengajaknya ke everland, padahal masih jam kerja di tambah lagi ia masih memakai kemeja dan rok selutut. Pekerja kantoran yang main ke everland ? Yang benar saja ?

“Insa-ssi !” panggil Jonghoon seraya berlari ke arahnya dengan membawa sebuah tas karton. Ia melihat bahwa Jonghoon sudah mengganti bajunya dengan pakaian non formal, entah sejak kapan.

“Kau sudah ganti baju ? Ya ! Na otte ?” tanya Insa sambil berusaha memukul Jonghoon. Tapi laki-laki itu segera menyerahkan tas karton yang dibawanya.

“Igeo, ganti bajumu dengan ini,” Insa menerima tas kartonnya kemudian mengikuti langkah Jonghoon ke arah kamar mandi.

15 menit kemudian, Insa masih saja diam di dalam kamar mandi seraya memandangi baju yang tadi di berikan Jonghoon. Kaos berwarna abu-abu, dilapisi jaket berwarna putih, dan celana pendek. Tidak, celana sangat pendek. Bahkan jauh berada di atas lutut. Dengan tas yang tadi sempat dibawanya, ia merasa penampilannya cukup bagus, tapi memalukan ? Yeah, ia merasa tidak pantas memakai celana sependek itu jalan bersama Jonghoon.

“Insa ? Kau sudah selesai ?” teriak Jonghoon. Karena toilet yang sepi, Insa bisa mendengar teriakan Jonghoon yang jauh dari kamar mandi yang ia masuki. Insa segera membereskan baju kerjanya ke dalam tas karton tadi dan keluar dari kamar mandi itu.

Tatapan Jonghoon tidak pernah lepas dari Insa ketika keluar dari kamar mandi. Insa yang menyadari tatapan Jonghoon segera menutupi pahanya sendiri.

“Ya ! Kau sengaja menyuruhku memakai baju seperti ini huh ? Kau mau melihatku memakai celana sependek ini ?” tanya Insa dan mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Ahni, aku hanya minta pada pelayan toko, baju yang cocok dipakai untuk jalan-jalan di taman bermain. Aku tidak tahu kalau bajunya sependek ini,” jawab Jonghoon sedikit merasa bersalah.

“Aaah, jinjja ? Gwenchana,” Insa menepuk pundak Jonghoon yang terlihat semakin merasa bersalah. Ia memberikan senyuman lebarnya agar membuat Jonghoon tersenyum lagi.

“Ne, mianhae,” Jonghoon tersenyum sekilas lalu mengambil tas karton yang ada di tangan Insa. Ia melempar tas karton itu ke tempat sampah, sontak membuat Insa kembali kesal.

‘”Pabo-ya ! Kenapa bajuku di buang ? Tch,” Insa akan berbalik untuk mengambil tas karton itu lagi, tapi segera di cegah oleh Jonghoon.

“Nanti aku belikan lagi. Sudahlah, kajja,” Jonghoon menarik tangan gadis itu, membawanya ke wahana pertama yang akan dinaiki.

Selama seharian mereka bermain di everland, tidak peduli sudah berapa wahana yang mereka naiki. Bahkan ada wahana yang sampai beberapa kali di naiki karena seru menurut mereka. Hingga akhirnya, hanya satu wahana yang tersisa, komidi putar.

Langit sudah berubah menjadi kebiruan, pertanda bahwa matahari akan segera masuk ke peraduannya. Orang-orang pun sudah pulang dan hanya tersisa Jonghoon dan Insa yang naik komidi putar itu. Keduanya duduk bersebelahan di atas komidi yang berbentuk kuda, tanpa mau menatap satu sama lain.

“Kau masih menganggapku bodoh huh ?” tanya Jonghoon membuka pembicaraan di antara mereka. Insa menggeleng sepelan mungkin, mencoba agar Jonghoon tidak melihatnya.

“Tidak juga, kau masih bodoh karena sudah membuang bajuku,” Insa melemparkan pandangan kesalnya pada Jonghoon lalu pindah ke salah satu komidi yang berjarak cukup jauh dari Jonghoon.

“Ya . .” Jonghoon ikut turun kemudian berjalan menghampiri Insa yang sudah duduk di salah satu komidi berbentuk zebra. Ia berdiri di sebelahnya lalu merogoh saku celana untuk mengambil sesuatu.

Keduanya kembali terdiam, hingga Jonghoon menyentuh tangan Insa yang sedang berpegangan dan membuat gadis itu menoleh. Jonghoon mengeluarkan sesuatu dari dalam saku belakangnya, lalu melepaskan tangan Insa dari pegangan itu. Ia menyematkan cincin ke jari manis gadis itu, sontak membuat wajah Insa memerah.

“Aku tahu mungkin ini terlalu cepat. Tapi entah sejak kapan, sepertinya aku mulai menyukaimu Yoon Insa,” ujar Jonghoon pelan, masih sambil memegang tangan kiri gadis di depannya. Insa yang mendengar suara sepelan itu dari Jonghoon, mencoba memperjelas lagi pendengarannya.

“Kau bercanda ?” tanya Insa meyakinkan. Ia berusaha sekuat tenaga menahan letup-letupan yang ada di dalam dadanya dan berusaha sekuat tenaga juga agar kegugupannya tidak terlihat di depan Jonghoon.

“Dan aku memutuskan, akan mempercepat pernikahan kita,” ucapan Jonghoon membuat Insa membulatkan kedua matanya tidak percaya. Senyuman lebar menghiasi wajah Insa dan refleks memeluk Jonghoon.

“Kau sudah tahu perasaanku kan ? Dan aku menerimanya,”  balas Insa seraya melepaskan pelukannya. Ia menatap Jonghoon dengan kedua matanya yang bulat masih tidak melepaskan senyum.

Sedetik kemudian, jarak wajah diantara mereka pun semakin kecil. Insa memejamkan matanya dan membiarkan sebuah ciuman hangat dari Jonghoon mengiringi turunnya hujan malam itu. Semoga kebahagiaan ini tidak akan berakhir, batin Insa.

***

Sudah lebih dari 2 minggu, Jonghyun berada di rumah sakit. Keadaannya sudah sangat baik, ia bahkan sudah bisa berlari-lari kecil di taman rumah sakit ketika mendapati bahwa Hyunmi meledeknya. Jonghyun merasa dirinya semakin membaik karena selalu ada Hyunmi di sisinya. Selalu mendukungnya setiap hari, memberikan senyuman terbaiknya, dan satu hal yang paling membuat Jonghyun berbunga-bunga, selalu mendapat kecupan kilat di bibir setiap pagi hari.

Kibum yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum simpul. Bagaimana ketika Hyunmi selalu mengerjai Jonghyun, begitu juga sebaliknya. Tapi keakraban Jonghyun dan Hyunmi membuatnya kembali teringat Soo Young dan Ji Yeon, dua orang yang pernah di cintainya sekaligus meninggalkannya. Ia tidak pernah mengira, bahwa kecelakaan dua tahun lalu membuat ia harus kehilangan Ji Yeon dan Yoo Geun. Dan hal itu membuat mata Kibum selalu berkaca-kaca, tapi segera ia hapus lagi sebelum di lihat oleh Jonghyun.

“Kibum-ah, kau harus mencoba ini,” seru Jonghyun ketika mereka –Hyunmi, dirinya, dan Kibum tengah makan di kantin rumah sakit. Kibum menatap sesuap makanan yang sudah ada di depannya dan terpaksa menerima suapan dari Jonghyun.

“Ck ck ck, sepertinya dokter kita haus kasih sayang,” ledek Jonghyun sontak membuat Kibum tersenyum menyeringai.

“Terserah kau saja Kim Jonghyun,” balas Kibum lalu menyeruput Cappucino miliknya.

Pandangan laki-laki itu terhenti di pintu masuk kantin, ia melihat wanita –yang dikenalnya seminggu yang lalu tengah berdiri di sana seraya mencari-cari sesuatu. Ia hampir saja tersedak saat melihat gadis itu berjalan ke arah mejanya.

“Jonghyun-ssi ?!” panggil Tiffany sedikit berteriak karena melihat Jonghyun malah tertawa bersama Hyunmi. Sontak tawaan itu berhenti, dan Jonghyun menoleh ke arah Tiffany.

“Fany ? What are you doing here ? How … ?” tanya Jonghyun heran. Tiffany menggelengkan kepalanya lalu menarik kursi untuk duduk diantara mereka bertiga.

“Aku menjengukmu, dan untuk pertanyaan ‘How’, itu tidak penting. Kenapa kau tidak memberitahu siapapun tentang hal ini huh ? Kau membuatku dan Insa kebingungan,” jawab Tiffany masih belum menyadari bahwa ada Kibum disana. Ia mendengar serentetan jawaban dari Jonghyun kemudian menatap Hyunmi dan Kibum bergantian. Tunggu ?! Ia baru saja melihat Kibum ?

“Oh, kau ? Kibum ? Key ?” tanya Tiffany lagi setelah menyadari kehadiran Kibum akhirnya. Laki-laki yang di tanyanya mengangguk sekilas lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Emm, jadi aku hanya tidak mau membuat kau, Insa, dan siapapun itu khawatir, ara ?” ujar Jonghyun mengakhiri jawabannya. Tiffany hanya bisa mengangguk tanpa bisa focus pada Jonghyun dan malah terus menatap Kibum.

“Well, aku sudah selesai makan,” ujar Hyunmi menengahi situasi. Ia melihat Jonghyun mengangguk dan berdiri dari kursi. Ia mengikuti Jonghyun lalu siap beranjak dari sana, tapi tidak dengan Kibum dan Tiffany.

“Kibum-ah, kau tidak akan kembali ke rumah sakit ?” tanya Jonghyun.

“Tidak, kalian duluan saja. Aku masih mau disini,” jawab Kibum santai seraya menyeruput minumannya. Jonghyun beralih menatap Tiffany.

“Bagaimana dengan kau, Tiffany ?” tanya Jonghyun lagi dan mendapat jawaban gelengan dari gadis itu.

“Baiklah, aku dan Hyunmi duluan,” tambahnya kemudian menarik tangan Hyunmi pergi dari sana.

Setelah kepergian Hyunmi dan Jonghyun, kedua orang itu masih saja diam. Kibum yang akhirnya menyadari bahwa Tiffany sengaja tinggal disana untuk berdua bersamanya, mulai membuka pembicaraan.

“Mmm, sepertinya pertemuan kita selalu kebetulan eh ?” tanya Kibum seraya memandang Tiffany yang tengah menundukkan kepalanya, tanpa mau berkontak mata.

“Yeah. . dan kau ? Dokter disini ?” tanya Tiffany, mendongakkan kepalanya dan saling menatap satu sama lain.

“Seperti yang kau lihat. Hanya seorang dokter umum yang baru lulus beberapa bulan yang lalu,” jawab Kibum merendahkan. Tiffany tertawa kecil lalu mengeluarkan ponselnya.

“Mungkin kita juga harus saling tukar nomor ponsel agar bisa bertemu lagi,” Tiffany menyerahkan ponselnya dan disambut baik oleh Kibum.

“Keurae,”

***

Sementara itu, Hyunmi yang baru saja memasuki kamar rawat Jonghyun, melangkahkan kakinya dengan kesal lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia tidak suka melihat Tiffany sangat peduli pada Jonghyun, bahkan rela mencari-cari informasi dimana Jonghyun. Dan ia rasa, kalau Tiffany sudah bertemu dengan Jonghyun sebelum ke Saipan, gadis itu mungkin menyusulnya juga.

“Chagiya, waeyo ?” tanya Jonghyun ketika menyadari perubahan raut Hyunmi kemudian duduk di sebelah gadis itu.

“Aku tidak suka melihat Tiffany terus menguntitmu, ara ?” jawab Hyunmi dingin. Tiba-tiba saja Jonghyun malah memeluknya dari samping.

“Bagaimana pun ia atau Yoona terus mengikutiku, itu tidak akan mengubah apapun. Aku hanya mencintaimu,” Jonghyun mencubit pelan hidung Hyunmi lalu kembali memeluknya seraya menyandarkan kepala di bahu gadis itu.

“Tch, jinjja ?” tanya Hyunmi meremehkan.

Jonghyun tidak menjawab dengan kata-kata, ia mulai melepaskan pelukannya dan menatap Hyunmi dengan jarak wajah yang sangat dekat. Belum sempat bibir mereka menempel satu sama lain, tiba-tiba ponsel Hyunmi berdering, membuat semuanya buyar seketika.

“Uh, aku jawab telepon dulu,” seru Hyunmi sedikit salah tingkah kemudian melangkah keluar kamar rawat untuk mengangkat telepon dari Jonghoon.

“Ne Jonghoon-ssi ? Café di dekat kantor ? Tapi aku. .” ucapan Hyunmi terputus saat melihat dirinya masih memakai pakaian seorang pasien, dan tidak membawa perbekalan apapun.

“Aku tidak bisa. Atau mungkin, kau bisa datang ke rumah sakit. VIP 24. Ne,kamsahamnida,” Hyunmi menutup flap ponselnya lalu sedikit menggigit bibir bawahnya, bingung antara memberitahu hal ini pada Jonghyun atau tidak. Akhirnya ia kembali berbalik ke kamar Jonghyun dan membuka pintunya sedikit.

“Hyun-ah, aku ke kamar dulu sebentar,” serunya kemudian segera pergi tanpa menunggu balasan dari Jonghyun.

***

Insa memandang layar ponselnya bingung. Setelah mendengar kabar dari Tiffany bahwa Jonghyun dan Hyunmi ada di rumah sakit, ia merasa harus menjenguk keduanya. Tapi di sisi lain, ia masih merasa malu karena pernah bersikap kasar pada Hyunmi. Apalagi mengingat bahwa ia pernah menjambak rambut Hyunmi di rumah sakit juga.

Akhirnya, setelah lama berkutat dengan hati dan pikirannya, ia memutuskan untuk menjenguk Hyunmi. Tidak peduli kalaupun nanti ia harus di usir oleh ‘mantan’ sahabatnya itu. Ia tidak mau nanti malah tidak bisa tidur karena memikirkan Hyunmi dan juga rasa bersalahnya.

Gadis itu melangkah memasuki gedung rumah sakit. Ia melihat seorang perawat berdiri di belakang meja yang cukup tinggi, di belakang beberapa computer mengenai data-data pasien. Ia pun segera menghampiri perawat itu dan menanyakan ruangan seseorang bernama Kim Hyunmi dan Kim Jonghyun.

“Kim Hyunmi, VIP 24. Kim Jonghyun, dia tidak ingin kamar rawatnya diketahui orang lain. Mianhamnida agasshi,” jawab perawat itu sontak membuat Insa mengernyit. Ia baru tahu kalau ternyata rumah sakit bisa seperti itu juga.

“Ne, kamsahamnida sunyeonim,” ia membungkuk sekilas kemudian melesat masuk ke dalam lift yang saat itu terbuka. Sesekali ia menatap sekeranjang buah-buahan yang tadi dibelinya di jalan. Semoga ia mau memaafkanku dengan buah-buahan ini, batinnya.

Ketika sampai di lantai 2, ia sedikit melongokan kepalanya keluar. Memastikan bahwa ia tidak salah lantai untuk menuju kamar rawat Hyunmi. Setelah melihat penunjuk arah yang menunjukkan ruang VIP, ia pun turun dari lift dan menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari ruangan yang bernomor 24. Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar yang bertuliskan nomor 24. Ia harus benar-benar menarik napas panjang untuk meredakan detak jantungnya yang meletup-letup, sama seperti ketika bersama Jonghoon. Dan dengan gerakan pelan ia pun mulai membuka pintu kamar rawat Hyunmi.

“Aku tidak bisa berpura-pura seperti ini terus Hyunmi-ssi. Aku tidak mencintai Insa,”

BRAK

Sontak keranjang buah-buahan yang dibawanya pun terjatuh saat mendengar Jonghoon –orang yang baru saja menyatakan perasaan padanya, mengatakan hal sebaliknya. Insa masih berdiri di belakang pintu, shock akan apa yang di dengarnya barusan. Ternyata selama ini, ketika Jonghoon selalu bersikap baik padanya, itu semua hanya palsu. Itu semua hanya untuk mengabulkan permintaan Hyunmi, dan membuat Insa kembali simpati terhadap Hyunmi ?

“Insa ? Chogi, aku bisa jelaskan semuanya,” ujar Jonghoon setenang mungkin seraya melangkah mendekati Insa.

“STOP ! Aku tidak pernah mengira kalau kau melakukan ini semua demi Hyunmi. Tch, seharusnya aku sadar bahwa kalian hanya memanfaatkanku !” Insa mendorong tubuh Jonghoon menjauh, ia tidak bisa menahan air matanya lagi dan akhirnya tumpah saat itu juga. Ia melihat Hyunmi mulai mendekat kearahnya dengan mata berkaca-kaca juga.

“Tidak Insa. Kami tidak memanfaatkanmu, kami hanya –,” ucapan Hyunmi terpotong, ia tidak sanggup melihat sahabatnya seperti seorang mayat hidup yang hanya menatap kosong ke depan.

“Tidak memanfaatkan ? Jonghoon melakukannya demi kau Hyunmi ! Dia juga ingin menikah denganku hanya untuk membebaskan keluarganya dari hutang budi terhadap keluargaku. Kalian hanya memanfaatkan kebodohanku. Aku kira ia benar-benar tulus menyatakan perasaannya kemarin,” balas Insa seraya mundur menghindari langkah Jonghoon yang semakin mendekat.

“Kau salah, aku benar-benar tulus saat mengatakannya. Aku memang mulai menyukaimu,” Jonghoon tidak menghentikan langkahnya dan terus mendekat ke arah Insa.

“Tulus ? That’s just a Bullsh*t !”

-to be continued-


Akhirnya, ngepost lagi dengan banner baru ?

Haha —> abaikan

 

Maaf ya, kalau part ini ga memuaskan

Lagi banyak yang bikin bad mood minggu ini

:D

Tenang aja, tapi tetep di lanjutin kok dan gatau sampe part berapa

 

Soal pertanyaan, WGM Key sama Taemin

Mereka udah di bikini dulu

Pertama banget, tapi ga ada hubungannya sama yg Jinki, Minho

Tapi disini ada, haha

 

Yg mau baca Key dan Taemin, klik aja

Key sequelnya juga ada Klik

Taemin

 

Kamsahamnida

Sorry for misstypo

Bow 90o

Leave comment guys :)

3 thoughts on “[FanFic] Curse Marriage (8th Part)

  1. Apa ya….bener deh kayaknya klo si insa ngucapin bullshit buat jonghoon.omongannya bnr bnr gak bs d pegang.seriously…..
    Aku bingung,gak paham wktu jong bilang soal yoona yg nguntitin dy..LOL

  2. weeehhh, cetaaarrr membahana… (?)
    knpa masalahnya balik complicated lagi u.u
    tapi as usual, daebak ^^ like this yo~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s