[FanFic] Curse Marriage (7th Part)

Title       : Curse Marriage

Author  : Ima Shineeworld

Cast       : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

Other    : Choi Jonghoon (FTI), Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD)

Rating   : PG+15

Genre   : Comedy, Romance, and a bit Thriller for this part

———————

Keadaan di kantor pun semakin riuh saat mendengar kabar bahwa Jonghyun masuk rumah sakit. Terlebih lagi Yoona, Insa, dan Jonghoon yang mengkhawatirkan Jonghyun dan juga Hyunmi. Semuanya mengira bahwa Hyunmi juga dirawat di rumah sakit bersama Jonghyun. Entah darimana datangnya kabar itu, yang jelas bagian dimana Jonghyun dan Hyunmi bekerja tengah riuh membicarakan kapan mereka akan menjenguk kedua orang itu.

“Well, aku akan menjenguk Jonghyun hari ini. Aku pulang duluan,” seru Yoona pada semua karyawan di dekatnya –termasuk Insa untuk pulang lebih dulu dan menjenguk Jonghyun.

“Kau bisa bersamaku ke rumah sakit,” tiba-tiba Jonghoon sudah keluar dari ruangannya seraya membawa kunci mobilnya. Insa pun menatap heran ke arah dua orang yang saat itu sudah tergesa keluar dari sana. Ia mencoba tidak memikirkan hal itu, tapi sayangnya ia sama sekali tidak bisa focus mengerjakan pekerjaannya.

“Excuse me,” suara seorang wanita membuat Insa mendongak dari layar computer. Sebuah senyuman kecil pun muncul di bibir Insa dan gadis itu.

“Kau tahu kemana sekretaris Jonghyun ? Aku harus bicara hal penting pada Jonghyun,” tambah Tiffany sambil menunjuk ke belakang, dimana meja kerja Yoona sudah kosong dari beberapa saat lalu.

“Jonghyun masuk rumah sakit. Kau tidak tahu ? Sejak 2 hari yang lalu ia tidak masuk kantor,” jawab Insa, membuat Tiffany menahan napasnya sejenak.

“Rumah Sakit ? Dimana ?” tanya Tiffany tidak sabar.

Insa mengecek note yang tertempel di dekatnya, “Seoul Medical Center, VIP 231. Aku bisa mengantarmu kesana miss,” tawar Insa, memberikan senyum terbaiknya pada Tiffany.

“Jeongmal ? Kamsahamnida. Ah iya, chega Tiffany,” Tiffany menyodorkan tangannya pada Insa dan langsung disambut dengan baik oleh gadis itu.

“Yoon Insa,”

***

Hyunmi baru saja selesai membereskan tempat tidur Jonghyun, ketika laki-laki itu keluar dari kamar mandi. Keadaan Jonghyun jauh lebih baik dari saat pertama kali di bawa ke rumah sakit. Bahkan ia sudah boleh pulang 2 hari lagi kalau hasil pemeriksaan seluruhnya sudah keluar.

“Ms.Kim,” panggil Jonghyun seraya duduk di samping tempat tidur, memandang Hyunmi yang masih melipat selimut miliknya. Hyunmi hanya menjawab dengan gumaman kecil tanpa mengalihkan perhatiannya dari selimut itu.

“2 hari yang lalu. Kenapa kau berbohong pergi ke rumah Ji Kyo noona,” pertanyaan Jonghyun membuat kegiatan Hyunmi terhenti. Keadaan hening sejenak karena Hyunmi kembali merasa tidak enak pada Jonghyun, laki-laki itu sudah tahu bahwa dirinya berbohong.

“Ehmm. Aku ada urusan kantor dengan Jonghoon di Incheon,”

“Yang aku tanyakan, kenapa kau berbohong padaku,” desak Jonghyun. Hyunmi menaruh selimut yang sudah selesai dilipatnya kemudian duduk di sebelah Jonghyun.

“Aku hanya tidak mau membuatmu khawatir. Seandainya aku minta izin, apa kau mengizinkannya huh ?” tanya Hyunmi dan mencoba mencairkan suasana dengan mencubit pipi Jonghyun lembut.

“Nappeun neo. Sudah tahu aku tidak akan mengizinkannya, kau malah tetap pergi dengannya,” Jonghyun balas mencubit pipi Hyunmi lalu menyandarkan kepalanya ke pundak gadis itu.

Keduanya terkekeh pelan kemudian saling menggenggam erat. Perlahan Hyunmi memutar wajahnya bersamaan dengan Jonghyun. Masih sambil menggenggam satu sama lain, jarak di antara mereka pun semakin mengecil. Dengan lembut Jonghyun merengkuh bibir Hyunmi. Seperti sebuah obat bagi Jonghyun, rasa perih yang ada di sudut bibirnya pun sama sekali tidak terasa sakit lagi.

Suara pintu yang terbuka membuat keduanya saling menjauh. Secara bersamaan mereka menoleh ke arah pintu dan sedikit kaget melihat Jonghoon dan Yoona yang sudah masuk ke dalam. Hyunmi segera turun dari tempat tidur Jonghyun untuk menyambut keduanya.

“Darimana kalian tahu Jonghyun dirawat disini ?” tanya Hyunmi seraya menerima tas plastic yang diberikan Jonghoon. Hyunmi duduk di sofa bersama Jonghoon, sedangkan Yoona malah duduk di sebelah Jonghyun, tempat Hyunmi tadi duduk. Dan hal itu membuat perasaan Hyunmi seidkit terganggu (?)

Kali ini Hyunmi mencoba menghiraukan Jonghyun dengan Yoona dan memilih mengeluarkan makanan yang dibawa Jonghoon. Perut Hyunmi yang keroncongan semakin bertambah ketika melihat makanan menggiurkan yang ada di depannya.

“Aku duluan. Selamat makan,” seru Hyunmi seraya mengeluarkan sumpit dari bungkusnya lalu dengan cepat ia meraih satu kotak ttukbeogi.

“Chamkan !” sergah Jonghyun membuat tangan Hyunmi yang hendak menyuapkan ttukbeogi terhenti di udara. Gadis itu mendongak dan melihat Jonghyun turun dari tempat tidur dengan sedikit kesusahan. Jonghyun berdiri di hadapan Hyunmi lalu merebut ttukbeogi itu.

“Ya ! Jonghyun-ah ..” rengek Hyunmi karena merasakan perutnya benar-benar lapar.

Jonghyun menyumpitkan sesuap ttukbeogi ke mulutnya kemudian menjauhkan ttukbeogi itu dari Hyunmi. Sontak semua yang ada di kamar rawat itu mengernyit heran ke arah Jonghyun, “Kau tidak boleh memakan ttukbeogi ini,”

“Ya ! Waeyo ?” tanya Hyunmi gemas karena melihat tingkah Jonghyun.

“Terlalu pedas. Tidak baik untuk perutmu, ara ?” jawab Jonghyun santai lalu menaruh makanan itu di meja dekat tempat tidurnya. Ia pun kembali duduk di tempat tidur, di sebelah Yoona.

“Tch, dasar pendek,” gumam Hyunmi pelan, ia terus menggerutu sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Melihat keakraban Yoona dan Jonghyun semakin membuat Hyunmi gerah. Mungkin pengaruh kehamilannya juga, tapi kedua orang itu seperti bukan seorang bos dan sekretarisnya.

“Baiklah, aku cari makan diluar,” Hyunmi bangkit dari sofa diikuti Jonghoon.

“Biar aku antar,” sergah Jonghyun. Hyunmi menggeleng cepat, meraih tas tangannya kemudian keluar dari kamar rawat suaminya itu.

Sementara itu di dalam ruang rawat Jonghyun, keadaan tiba-tiba berubah menjadi hening. Jonghoon yang sudah berdiri dari sofa akhirnya ikut menyusul Hyunmi keluar. Sedangkan Jonghyun, hanya bisa menatap kepergian Hyunmi dengan pasrah. Dalam keadaan seperti itu, membawa botol infuse, dia tidak mungkin bisa mengejar Hyunmi.

***

Jonghoon mencoba mengikuti langkah Hyunmi yang semakin cepat. Dengan langkah besar ia pun berhasil mengejar gadis itu dan berdiri di depannya.

“Jonghoon-ssi ?” tanya Hyunmi heran. Jonghoon mengatur napasnya kembali lalu mengangguk sekilas seraya tersenyum lebar.

“Aku mau menemanimu makan. Could I ?” tanya Jonghoon lagi dan dijawab sebuah anggukan kecil oleh Hyunmi.

Mereka berdua pun berjalan ke arah kantin rumah sakit sambil sesekali membicarakan sesuatu. Terkadang obrolan mereka mengarah ke pekerjaan, tapi terkadang obrolan mereka pun mengarah ke urusan diluar kantor. Semuanya terasa menyenangkan Hyunmi, tapi hal itu berubah ketika ia menabrak seseorang.

“Omo~, jwesonghamnida,” sahut Hyunmi, membungkukkan badannya. Ia pun menegakkan tubuhnya kembali. Tatapan lembut Hyunmi berubah seketika saat melihat orang di depannya.

Dan tatapan wanita yang baru saja di tabrak oleh Hyunmi mengarah pada dirinya dan Jonghoon. Begitu juga wanita lainnya yang berdiri di belakang wanita itu. Semuanya menatap Hyunmi.

“Jadi, kau meninggalkan Jonghyun sendirian di kamar rawat hanya untuk pergi dengan calon suamiku eh ?” tanya Insa to the point, atau lebih tepatnya menyindir Hyunmi. Sontak Tiffany membelalakkan matanya dan memandang Hyunmi meremehkan.

“Jangan katakan apapun tentang Hyunmi. Aku yang mengejarnya,” sergah Jonghoon sebelum terjadi pertengkaran diantara keduanya.

Insa terkekeh pelan kemudian menoleh ke belakang, ke arah Tiffany seraya menunjuk Hyunmi meremehkan, “See ? Bahkan calon suamiku sendiri membela Hyunmi,” ujarnya semakin membuat Tiffany berpikiran buruk tentang Hyunmi.

“Ya !” seru Hyunmi kesal. Ia sungguh tidak mengerti kenapa sahabatnya berubah sangat drastis seperti itu.

“Cukup. Lebih baik kita menjenguk Jonghyun daripada harus berdebat dengan wanita ini,” Tiffany pun mulai angkat bicara dan segera menarik tangan Insa untuk pergi dari sana.

“Ya ! Aku tidak mengizinkan kalian untuk menjenguk Jonghyun !!” teriak Hyunmi kesal. Ia segera menghampiri Insa dan mendorong tubuh gadis itu. Dan pertengkaran hebat pun akan terjadi. Insa bahkan sudah tahu bagaimana kalau Hyunmi meluapkan emosinya.

“Hyunmi  andwae !” sergah Jonghoon.

Tapi Hyunmi sudah menarik rambut Insa lebih dulu untuk memulai pertengkaran itu. Dengan cepat Insa membalas apa yang sudah dilakukan Hyunmi. Keduanya saling menjambak rambut dengan Tiffany dan Jonghoon yang mencoba melerai kedua orang itu.

“Kau menyebalkan Yoon Insa !!!!” Hyunmi mencoba mendorong Insa, tapi malah dirinya yang terdorong. Untung saja Jonghoon bersiap di belakang, dan dengan sigap menangkap Hyunmi agar tidak jatuh. Ia pun segera mengunci Hyunmi dengan tangannya agar pertengkaran itu tidak berlanjut lagi.

“Kajja,” ajak Tiffany sambil menarik tangan Insa yang masih sibuk membetulkan rambutnya.

“Andwae !!” teriak Hyunmi lagi membuat semua perawat yang ada menoleh ke arahnya.

Hyunmi hanya bisa melihat bagaimana kedua orang itu menghilang di belokan koridor rumah sakit karena Jonghoon masih mengunci tubuhnya. Mata Hyunmi pun mulai berkaca-kaca, bukan karena Jonghyun, tapi karena perubahan sifat sahabatnya. Ia tidak pernah menyangka Insa akan berubah sedrastis itu karena Jonghoon.

“Hentikan Hyunmi,” sergah Jonghoon seraya memeluk Hyunmi dari belakang.

“Lepas Jonghoon. Kau membuat hubunganku dengan Insa semakin buruk,” Hyunmi segera melepaskan tangan Jonghoon dari pinggangnya dan berlalu meninggalkan Jonghoon. Masih sambil mencoba mengendalikan air matanya yang akan keluar, ia hanya bisa menghela napas panjang.

***

Tawa pun meledak dari mulut Jonghyun ketika mendengar setiap gurauan yang keluar dari mulut Yoona. Ia merasakan perutnya mulai sakit karena terlalu banyak tertawa. Sedangkan Yoona masih saja meluncurkan setiap lelucon dari mulutnya yang membuat Jonghyun semakin terbahak.

“Jeongmal ?” tanya Jonghyun seraya menyusut air mata yang tergenang di sudut matanya.

“Ne,” jawab Yoona cepat.

Tawaan keduanya pun terhenti ketika melihat pintu kamar rawat terbuka. Dengan cepat Jonghyun turun dari tempat tidur karena mengira bahwa yang datang adalah Hyunmi. Tapi langkahnya kembali terhenti saat melihat Tiffany masuk bersama Insa.

“Aigoo~,” seru Tiffany lalu memeluk Jonghyun erat, “Neo gwenchana ?” tanyanya kemudian melepas pelukan itu dan menatap Jonghyun khawatir.

“Ne, nan gwenchana . .” jawab Jonghyun kikuk.

Sejenak keheningan melanda kamar rawat itu karena Tiffany dan Yoona saling menatap. Yoona yang menyadari tatapan heran Tiffany segera turun dari tempat tidur lalu menghampiri Insa.

“Insa-ssi,” sapa Yoona. Insa hanya memberikan sebuah senyuman tipis kemudian ikut duduk di sofa, mengikuti Yoona. Sedangkan Tiffany masih sibuk menanyakan keadaan Jonghyun.

Dan baru kali ini Jonghyun merasakan kecanggungan. Dikelilingi tiga orang wanita dan salah satunya termasuk ke dalam daftar mantan pacar. Ditambah lagi tidak ada Hyunmi, yang malah pergi bersama Jonghoon. Mungkin ia harus sering-sering menarik napas panjang menerima rentetan pertanyaan dari Tiffany maupun Yoona. Sedangkan Insa, ia hanya sahabat Hyunmi yang termasuk cerewet juga. Jonghyun merasakan tubuhnya kembali pusing memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Ia berbaring di tempat tidur dan menghela napas panjang.

“Kau mau buah ini Jonghyun atau ttukbeogi. Ah ahni, itu terlalu pedas. Atau mau aku pesankan bubur ?”

***

Ketiga wanita yang berhasil membuat kepala Jonghyun pening akhirnya pulang. Laki-laki itu hampir loncat kegirangan tapi terhenti ketika Hyunmi memasuki kamar rawatnya bersama Jonghoon. Jonghyun kembali berbaring di tempat tidur membelakangi sofa dan memejamkan matanya.

“Mianhae Jonghoon-ssi, aku hanya tidak mau membuat Insa salah paham lagi,” seru Hyunmi seperti yang didengar Jonghyun.

“Gwenchana, aku mengerti. Semoga ia kembali lagi seperti dulu,” Jonghyun kali ini bisa merasakan Hyunmi menaikkan selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Ia juga bisa merasakan ketika Hyunmi mengusap rambutnya lembut lalu menjauh dan duduk di sofa.

“Jadi, kapan kau mulai bekerja lagi ?” tanya Jonghoon melanjutkan pembicaraan.

“Entahlah, aku akan tunggu sampai Jonghyun sembuh. Dan memastikan bahwa preman-preman tidak jelas yang memukulinya tidak akan datang lagi,” jawaban Hyunmi membuat Jonghyun kembali teringat ucapannya sendiri. Ia berbohong pada Hyunmi bahwa yang memukulinya adalah preman-preman pinggir jalan yang tidak sengaja tertabrak. Ia hanya tidak mau Hyunmi khawatir akan perlakuan ayah tirinya nanti.

“Ne, araseo. Mmm, sepertinya aku harus pulang Hyunmi-ssi. Mianhae kalau aku sudah membuat kau dan Insa semakin menjauh. Aku akan mencoba mendekatinya,” ujar Jonghoon diiringi bunyi sofa yang berdenyit.

“Gwenchaneunde. Kamsahamnida sudah mau menjenguk Jonghyun,” balas Hyunmi lembut dan jonghyun tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya bisa mendengar suara pintu kamar rawatnya tertutup dan merasakan langkah Hyunmi yang semakin mendekat.

“Hhh,” terdengar suara helaan napas panjang dan suara sofa yang di hempas, “Kenapa masalahku berat sekali akhir-akhir ini ? Semoga kau tidak apa-apa naui aegi,”

Sebuah senyuman kecil melengkung di bibir Jonghyun mendengar ucapan Hyunmi. Terdengar nada bahagia ketika Hyunmi mengucapkan ‘bayiku’ di ucapan terakhirnya. Jonghyun pun benar-benar memejamkan mata dan tertidur masih dengan senyuman di bibirnya.

***

Hyunmi terpaksa harus keluar dari rumah sakit karena menerima telepon bahwa keadaan tuan kim semakin memburuk. Appanya sudah sadar beberapa hari yang lalu bersamaan dengan Jonghyun yang masuk rumah sakit. Baru saja ia akan menjenguk appanya, tapi sudah terlebih dulu menerima telepon bahwa orang yang sudah membuat perusahaan tuan kim bangkrut datang ke rumahnya di Daegu. Tanpa berpikir panjang lagi Hyunmi pun melesat keluar dan mencari taksi.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam ketika Hyunmi sampai di depan rumahnya di Daegu. Dengan cepat ia keluar dari taksi dan masuk ke dalam rumah. Masih ada beberapa orang laki-laki yang tengah duduk di sofa bersama Ji Kyo dan Jinki. Ia segera menghampiri kumpulan orang-orang berbaju hitam itu. Semua yang ada di sana beralih menatap Hyunmi yang baru saja datang.

“Well, ini wanita yang bernama Kim Hyunmi ?” tanya salah seorang laki-laki yang duduk disana kemudian berdiri menghampiri Hyunmi.

“Aku Choi Jong Il, teman ayahmu,” seru laki-laki itu, menyodorkan tangannya. Sedangkan Hyunmi menepis tangan laki-laki itu dan beralih menghampiri Ji Kyo.

“Gwenchanayo eonni ?” tanya Hyunmi khawatir. Ji Kyo mengangguk seraya tersenyum kecil.

“Untuk apa mereka kesini ?” tanya Hyunmi lagi.

“Mereka akan menyita rumah ini,” jawaban Ji Kyo sontak membuat Hyunmi mengernyit. Ia berbalik pada Jong Il sekilas lalu kembali menatap Ji Kyo.

“Bagaimana dengan appa dan eomma ? Dimana mereka ?” tanya Hyunmi semakin khawatir. Jinki menunjuk ke arah lantai dua dengan dagunya. Baru saja ia akan melangkah ketika Jong Il menghalangi langkahnya.

“Ya ! Minggir dari jalanku, sir,” pekik Hyunmi kesal. Ia menabrak tubuh laki-laki itu dan berlari ke lantai 2.

Sementara itu di ruang tamu, masih terasa hawa dingin karena kehadiran Jong Il. Laki-laki itu tidak kembali duduk di sofa, tapi tetap berdiri di tempatnya.

“Eumh ya, aku harus segera pulang. Aku senang bisa melihat Hyunmi langsung. Aku akan kembali lagi besok lusa untuk memastikan bahwa kalian sudah pergi dari sini,” serunya, lalu keluar dari rumah bersama anak buahnya. Ji Kyo hampir saja melempar laki-laki itu dengan vas bunga kalau tidak ingat bagaimana orang tuanya sudah lama bermusuhan dengan laki-laki itu.

“Tenang Ji Kyo, aku akan mencari apartemen baru untuk sementara appa dan eomma tinggal,” ujar Jinki mencoba menenangkan istrinya.

“Ne, araseo. Biarkan laki-laki brengsek itu melakukan yang dia suka,” Ji Kyo bangkit dari sofa kemudian naik ke lantai 2 mengikuti Hyunmi.

***

Beberapa hari kemudian, Jonghyun dan Hyunmi akhirnya kembali masuk kantor. Semua yang dekat dengan mereka pun bergumam senang karena kedua orang itu sudah kembali masuk kerja. Walaupun Jonghyun masih harus di perban pada bagian tulang rusuknya dan lebam yang masih membekas di wajahnya, ia tetap bersikeras untuk masuk.

“Jangan lupa minum vitaminnya. Telepon aku kalau kau menginginkan sesuatu, ara ?” seru Jonghyun ketika Hyunmi baru duduk di meja kerjanya.

“Ne Kim Jonghyun. Jangan menggangguku hari ini karena banyak pekerjaan,” balas Hyunmi ketus. Sedangkan Jonghyun hanya terkekeh, mengacak rambut Hyunmi kemudian berlalu masuk ke dalam ruangannya. Tidak lupa membalas salam dari Yoona.

“Ne, annyeong Yoona-ssi,” balas Jonghyun, mengambil koran harian di meja Yoona dan masuk ke dalam ruangannya.

Jonghyun duduk di meja kerjanya seraya melihat Koran yang baru dibawanya. Beberapa headline yang ada tidak menarik bagi Jonghyun, yang menarik baginya adalah berita yang terselip di bagian bawah headline.

‘Mereka kembali beraksi, kali ini Jong Il menyita rumah salah satu pesaing bisnisnya di Daegu’

Ia tidak bisa menahan rasa kecewanya melihat ayah tirinya kembali berbuat keji. Kali ini ia malah menyita rumah pesaing bisnisnya. Yang jelas-jelas tidak berhubungan dengan usaha ‘narkoba’ ayahnya. Mata Jonghyun kembali terhenti di foto rumah itu. Rumah kedua orang tua Hyunmi ? Ia kembali meneliti bagian depan rumah itu. Dengan cepat ia keluar dari ruangannya dan menghampiri meja kerja Hyunmi.

“Ms.Kim, apa rumah kedua orang tuamu disita ?” tanya Jonghyun sontak membuat Hyunmi mengerutkan keningnya.

“Ne, waeyo ?” tanya Hyunmi heran. Kali ini Jonghyun merasa bahwa penyitaan rumah kedua orang tua Hyunmi ada hubungannya dengan penolakan tawaran itu. Karena Hyunmi orang yang terdekat dengannya.

“Waeyo ?” tanya Hyunmi lagi membuat pikiran Jonghyun buyar seketika.

“Aku akan keluar sebentar untuk menemui seseorang. Jangan mencariku ara ?” Jonghyun menaruh Koran itu di meja Hyunmi kemudian beranjak ke arah lift.

“Tch, urus wanita-wanitamu diluar sana Kim Jonghyun,” gumam Hyunmi kesal. Seseorang itu pasti tidak jauh dari Tiffany atau mungkin Neul Rin.

Hyunmi melihat Jonghoon keluar dari ruangannya lalu tersenyum ke arahnya. Ia kira Jonghoon berjalan ke meja kerjanya, tapi ternyata ia menghampiri meja kerja Insa. Sebuah senyuman pun mengembang di bibir Hyunmi melihat Jonghoon mengerti keadaannya.

“Insa-ssi, kau ada acara malam ini ?” tanya Jonghoon seraya tersenyum lebar pada Insa.

Insa yang tengah memeriksa hasil pekerjaannya pun mendongak dan sedikit mengernyit karena perubahan sifat Jonghyun yang tiba-tiba.

“Ne ?” tanya Insa bermaksud mengulang pertanyaan Jonghoon. Siapa tahu pendengaran gadis itu yang salah.

“Kau ada acara malam ini ?” tanya Jonghoon lagi.

“Ahni, wae ?”

“Aku mau mengajakmu makan malam,” balas Jonghoon sedikit malu-malu. Sontak Hyunmi pun menahan tawanya karena melihat wajah Jonghoon yang memerah.

“Kau bercanda eh ?” tanya Insa lagi.

“Anniyo, kau mau tidak ?”

“K-keurae,” jawab Insa sedikit malu-malu juga.

Baru kali ini Hyunmi melihat keduanya mengobrol dengan wajah memerah. Tapi ia senang melihat Insa yang tidak meledak-ledak lagi seperti kemarin.  Mungkin persahabatannya akan kembali lagi seperti dulu kalau Jonghoon terus seperti itu.

***

Jonghyun menatap gedung yang ada dihadapannya. Dengan langkah mantap ia pun memasuki portal yang menjaga gedung tersebut. Ia sempat dihadang beberapa penjaga, tapi penjaga itu langsung mundur ketika mengatakan bahwa dirinya adalah anak dari seorang Jong Il. Dan para penjaga itu malah mengantar Jonghyun ke ruangan utama.

Untuk beberapa saat Jonghyun masih terpaku di depan pintu ruangan yang bertuliskan Choi Jong Il. Tapi ketika mengingat Hyunmi dan berita di Koran yang dibacanya tadi, ia segera membuka pintu di depannya dengan sekali hentakan. Ia berjalan dengan langkah lebar menghampiri meja Jong Il di sudut ruangan.

“Oh, Jonghyun-ah. Ada angin apa yang membawamu kesini ?” tanya Jong Il lalu melipat Koran yang sedang dibacanya.

“Kenapa kau membawa-bawa Hyunmi dalam masalahku huh ?” tanya Jonghyun. Jong Il bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Jonghyun.

“Ayo duduk dulu,” jawab Jong Il sambil memegang kedua bahu Jonghyun, tapi langsung di tepis oleh laki-laki itu.

“Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin tahu, kenapa kau membawa Hyunmi dan keluarganya ke dalam masalahku,”

“Hey, orang tua Hyunmi adalah musuhku sejak lama. Aku berhasil merebut perusahaannya, dan juga menyita rumahnya. Aku bisa lakukan lebih dari itu kalau kau masih menolak tawaranku untuk mengurus perusahaan,” Jong Il mengambil cerutu di meja kerjanya dan membakarnya. Ia beralih duduk di sofa, menatap Jonghyun yang membelakanginya.

“Sekarang, apa kau masih mau menolakku ? Kim Jonghyun ?” tanya Jong Il lalu menghisap cerutunya.

“Tch, aku tidak akan bergabung dengan perusahaan ini. Coba saja kau membawa Hyunmi lagi, aku tidak akan tinggal diam,”

“Ouuh, aku terharu mendengarnya. Kau rela berkorban demi istrimu itu ? Padahal kau hanya tinggal mengurus perusahaanku dan semuanya beres,”

“Aku tidak akan pernah mengurus perusahaan terhina seperti ini ! Jangan tanya kenapa, KARENA AKU MEMBENCIMU !!” Jonghyun berbalik dan hampir saja memukul Jong Il kalau para penjaga yang ada disana tidak menghadang Jonghyun.

“Uh, santai Jonghyun. Tahan emosimu, aku akan lakukan apapun agar kau menerima semua permintaanku. Hanya kau satu-satunya penerus perusahaanku,” Jong Il meraih obatnya di atas meja dan juga air putihnya. Jonghyun melihat bagaimana Jong Il meminum banyak obat-obatan, tapi tidak terselip sedikit pun rasa untuk meneruskan perusahaan itu.

“Tch, kau mencoba menarik perhatianku dengan meminum obat-obatan itu huh ? Maaf, tapi aku tidak tersentuh sedikit pun. Aku hanya ingin kau tidak mengganggu Hyunmi, dan selesaikan masalah ini hanya denganku,” seru Jonghyun seraya melepaskan tangan-tangan penjaga yang menahannya. Ia keluar dari ruangan itu tanpa menunggu balasan Jong Il.

Selama di mobil, Jonghyun tidak bisa focus pada jalanan. Yang di pikirkannya saat itu, ia takut jika Jong Il berbuat macam-macam pada Hyunmi yang tengah hamil. Dan ia berpikir, ia harus benar-benar menjaga Hyunmi mulai saat itu.

***

Hyunmi melihat bagaimana Jonghoon selalu mondar-mandir ke meja Insa hanya untuk menanyakan hal tidak penting. Padahal ia bisa menggunakan telepon kantor dan tidak mondar-mondar seperti itu. Selama itu juga Hyunmi memperhatikan pintu lift, entah kenapa ia khawatir dengan Jonghyun. Karena sudah hampir 2 jam dan Jonghyun belum kembali juga.

Suara Insa yang memanggil namanya membuat Hyunmi menoleh. Hyunmi mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak salah dengar. Seorang Insa, memanggilnya ?

“Ne ?” sahut Hyunmi cepat.

“Ehem, mianhae,” gumam Insa kemudian beranjak dari meja kerjanya. Hyunmi pun mengernyit, kenapa Insa tiba-tiba berubah seperti itu. Ia berusaha mengulang kembali ucapan Insa.

“Ia mengucapkan maaf ?” Hyunmi tersenyum simpul. Mungkin hubungannya dengan Insa akan semakin membaik.

Beberapa saat kemudian ia melihat Yoona menerima telepon dan beranjak dari mejanya. Sontak Hyunmi pun ikut berdiri, dan siap bertanya ketika Yoona lewat di hadapannya.

“Yoona-ssi,” panggil Hyunmi membuat langkah Yoona yang melewati mejanya berhenti.

“Wae ?” tanyanya dingin.

“Kau mau kemana ? Bersama Jonghyun ?” tanya Hyunmi bertubi.

“Aku akan hadiri rapat di Kyeonggi, entah Jonghyun datang atau tidak,” Yoona tersenyum sekilas –lebih tepat disebut seringaian lalu meninggalkan Hyunmi.

Ucapan Yoona membuat Hyunmi menghela napas. Baru saja ia akan duduk kembali ketika melihat ponselnya bergetar. Dengan cepat ia mengangkat telepon dari Jonghyun itu.

“Ya ! Kau dimana ?” tutur Hyunmi cepat bahkan sebelum Jonghyun mengucapkan halo.

‘Aku ada di Kyeonggi, akan ada rapat besar disini. Jadi mungkin akan sampai larut malam, kau tidak apa-apa pulang sendiri kan ?’

“Bersama Yoona ? Kenapa kau baru memberi kabar huh ?”

‘Ne. Mianhae, aku tidak sempat,’

“Tch, padahal aku ingin bersamamu nanti. Aku ingin makan galbi yang ada di dekat rumah Ji Kyo eonni,” entah kenapa tiba-tiba Hyunmi menginginkan makanan itu.

‘Kau ngidam eh ? Baiklah, aku akan coba pulang sedini mungkin. Err, saranghae,’

Hyunmi terkekeh sendiri mendengar gumaman Jonghyun, “Ne, nado saranghae,”

‘Kalau ada apa-apa langsung telepon aku. Hati-hati di jalan nanti,’

“Ne, annyeong,”

Sebuah senyuman pun mengembang di bibir Hyunmi. Ternyata hidup bersama Jonghyun tidak seburuk seperti yang di pikirkannya dulu. Walau laki-laki itu tidak romantis, tapi ia bahagia mendapat perhatian lebih. Tidak seperti bersama Minho dulu.

***

Seperti dugaannya, Insa dan Jonghoon sudah pulang duluan untuk persiapan makan malam mereka. Dan Hyunmi terpaksa pulang dari kantor terakhir, setelah semuanya pulang, karena ia yang bertugas piket. Sudah beberapa lampu yang dimatikan, hanya ada lampu-lampu kecil di setiap sudut. Seraya menunggu lift terbuka, Hyunmi bersenandung kecil mencoba menghilangkan ketakutan yang tiba-tiba menyergapnya.

“Haish, aku lapar,” gumam Hyunmi sambil mengelus perutnya yang sudah mulai keroncongan.

Dengan cepat Hyunmi masuk ke dalam lift ketika pintunya terbuka. Ia cukup lama menunggu untuk sampai di lantai 1 untuk perjalanan dari lantai 18. Setelah lift sampai di lantai 1, ia pun segera berjalan keluar dengan langkah cepat.

Udara dingin langsung menyergap tubuhnya ketika keluar dari gedung. Ia melewati setiap deretan toko untuk menuju halte bus. Entah kenapa setiap orang memandanginya saat itu. Ia menoleh ke belakang dimana orang-orang masih saja menatapnya.

“Ada apa ?” tanyanya pada diri sendiri. Ia mengendikkan bahu dan naik ke bus yang saat itu berhenti.

Hyunmi mengambil tempat duduk paling pojok di bagian belakang. Ia merasa aneh saat melihat bahwa tidak ada penumpang selain dirinya di dalam bus itu. Masih ada sisa-sisa hiasan valentine di kaca-kaca bus, membuat Hyunmi tersenyum kecil.

Bus yang di tumpangi Hyunmi berhenti di halte berikutnya, tepat di depan sebuah restoran. Hyunmi beranjak dari kursinya kemudian berjalan menuju pintu depan bus. Tapi langkahnya terhenti ketika ada beberapa laki-laki menghadangnya. Ia mendongak dan menatap laki-laki yang memakai kacamata hitam itu.

“Minggir, aku mau –hemmph !!” salah satu laki-laki itu sudah membekap mulut Hyunmi dengan tangan kekarnya. Dengan cepat mereka menyuruh sopir bus sewaannya untuk membawa bus itu menuju sebuah tempat.

***

Jonghoon mematut dirinya sekali lagi di depan cermin. Seolah ada dorongan dalam dirinya untuk tampil serapi mungkin. Padahal hanya makan malam bersama Insa, tapi ia merasa akan sangat istimewa.

Sekali lagi sebelum benar-benar pergi, ia merapikan kemaja yang dipakainya lalu dengan sedikit berlari keluar apartemen. Sesegera mungkin ia membawa mobilnya meninggalkan lapangan parkir apartemen menuju café tempat ia akan melakukan dinner dengan Insa.

Lagu klasik sempat membuat Jonghoon sedikit terhenyak. Ia tidak salah tempat memilih restoran romantis itu untuk makan malamnya bersama Insa. Jonghoon melangkah ke sebuah meja di sudut ruangan yang sudah dipesannya tadi siang. Ia bisa melihat bahwa Insa sudah duduk disana. Sesaat ia masih terpaku menatap Insa yang terlihat berbeda malam itu. Insa memakai dress selutut berwarna hitam dengan rambut dikuncir satu dan sedikit di keriting.

“Insa-ssi,” panggil Jonghoon lalu duduk di depan gadis itu. Insa segera tersadar dari lamunannya dan membalas ucapan Jonghoon dengan sebuah senyuman manis.

“Sudah lama ?” tanya Jonghoon.

“Ahni, baru beberapa menit lalu. Ah iya, ada apa kau mengajakku makan malam disini ?” tanya Insa tanpa mau berbasa-basi.

“Aku mau meneruskan perjodohan ini,”

“Ne ?” tanya Insa meyakinkan, hampir tidak percaya.

“Aku mau meneruskan perjodohan ini. Jangan tanya lagi dan jawab aku,” Jonghoon menatap Insa lekat, menunggu jawaban dari gadis itu. Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening karena pertanyaan Jonghoon, makanan yang di pesan pun sudah datang dan lagu sudah berganti lagi.

“Apa ini semua karena Hyunmi ?” tanya Insa. Tatapannya kini berubah menjadi nanar mengingat Hyunmi. Jangan sampai ia mendengar jawaban iya atau ia akan menarik lagi kata-kata maafnya pada Hyunmi.

“Ahni, geu saram ahni. Untuk apa aku melakukannya untuk Hyunmi ? Kau hanya perlu jawab, mau atau tidak,”

“Jinjja ? Tch, kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini ? Kemarin-kemarin kau selalu bersama Hyunmi dan Hyunmi. Bahkan ketika di rumah sakit kau bersamanya kan ? Kau ingin aku kembali bersahabat dengannya ?” tanya Insa bertubi, karena merasakan perubahan drastis dari Jonghoon.

“Jadi kau mulai menginterogasiku huh ? Aku katakan sekali lagi, ini bukan untuk Hyunmi. Tapi untuk orang tuaku,” jawab Jonghoon, hampir semuanya berbohong. Karena ia benar-benar melakukan semuanya untuk Hyunmi.

“Baiklah, aku mau melakukan perjodohan ini kalau untuk kedua orang tua kita,” pasrah Insa akhirnya. Ia meraih ponsel untuk menyibukkan diri, tapi semuanya buyar karena tiba-tiba Jonghoon menggeser kursinya mendekat. Sontak Insa mengangkat kepalanya dan melihat Jonghoon  sudah berjarak sangat dekat.

“Ya ! Ya ! Apa yang kau lakukan ?!” pekik Insa seraya memundurkan wajahnya dan memandang ke seluruh sudut restoran.

“Aku hanya ingin dekat dengan calon istriku, tidak boleh ?” tanya Jonghoon lalu merangkul Insa lembut.

Insa mengangkat garpu dan pisau dari steak yang di pesannya dan mengacungkan keduanya ke arah Jonghoon, “Berani mendekat lagi, pisau dan garpu ini akan menembus kulitmu Choi Jonghoon,”

“Aigo, kau galak sekali chagiya,”

“Mwo ? Chagiya ? Kau terlalu agresif Jonghoon,”

Jonghoon terkekeh kecil kemudian menjauhkan kursinya. Masih sambil tersenyum geli melihat wajah Insa yang bersemu merah, ia pun mulai memakan makan malamnya.

***

Setelah berjam-jam menghadiri rapat di Kyeonggi, Jonghyun terpaksa mengantar Yoona ke apartemennya di Incheon. Kesempatan itu ia gunakan untuk membeli galbi di dekat apartemen Ji Kyo. Sambil membayangkan ekspresi Hyunmi ketika ia membawa galbi nanti, Jonghyun membawa mobilnya dengan cepat menembus malam.

Jonghyun mengunci mobilnya dan dengan cepat memasuki lift yang saat itu terbuka. Ia sengaja tidak memberi kabar pada gadis itu agar bisa memberi kejutan dengan datang secara tiba-tiba. Dan entah kenapa Jonghyun tidak bisa melipat senyumnya karena selalu teringat Hyunmi.

“Aku pulang,” seru Jonghyun semangat lalu menaruh tas plastic yang dibawanya ke meja makan.

“Chagiya ? Ms.Kim ?” panggil Jonghyun seraya membuka setiap pintu yang ada di apartemennya dan tidak menemukan Hyunmi di sudut manapun.

“Tch, kemana dia ?” Jonghyun membuka dua kancing teratas kemejanya kemudian meminum segelas air di dapur. Ia melirik pintu kulkas yang selalu tertempel note kecil kalaupun Hyunmi keluar dari apartemen, tapi ia hanya menemukan hiasan-hiasan pintu kulkas seperti biasa.

Kali ini Jonghyun duduk di sofa sambil sesekali melihat jam tangannya. Sudah hampir 15 menit tapi Hyunmi belum kembali juga. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel untuk menelepon Hyunmi. Dan ia baru sadar kalau ternyata ponselnya mati karena rapat tadi. Dengan cepat Jonghyun mengaktifkan ponselnya dan melihat beberapa pesan. Lebih banyak dari Tiffany, Yoona, dan satu telepon masuk dari Hyunmi. Ia menekan nama Hyunmi kemudian menempelkan ponsel ke telinganya.

“Hello Ms.Kim, kau dimana ?”

‘O, Jonghyun-ah,’

Hampir saja Jonghyun menjatuhkan ponselnya ketika mendengar suara yang membalasnya. Ia tidak salah dengar bukan ? Choi Jong Il ?

“Ya ! Kenapa ponsel Hyunmi ada di kau huh ?” seru Jonghyun panic. Sedangkan Jong Il di seberang sana hanya membalas dengan sebuah kekehan kecil.

‘Itu berarti, dia ada bersamaku sekarang,’ balas Jong Il santai.

“Dimana dia ?!”

‘Tenang Jonghyun, dia ada bersamaku sekarang. Atau kau perlu mendengar suaranya agar kau semakin terundang untuk datang kesini ?’

“Ya ! Jangan pernah menyentuh Hyunmi dengan ujung jarimu sekali pun ! Atau aku benar-benar tidak akan menerima tawaranmu ! kau –,” ucapan Jonghyun terputus ketika mendengar suara Hyunmi. Secara refleks Jonghyun menghentikan omongannya.

‘Jonghyun-ah, aku mohon. . Cepatlah datang kesini,’ pinta Hyunmi lebih terdengar seperti sebuah rintihan.

“Ms.Kim, aku akan segera kesana. Tahan dirimu ara ? Jangan melakukan apapun agar laki-laki brengsek itu tidak menyakiti kau dan . . . bayi kita,” ucap Jonghyun sedikit ragu.

‘Ne, araseo. Ingat untuk telepon polisi –,’

‘Sepertinya sudah cukup kalian mengobrol, jangan lupa untuk datang kesini dan sebuah jawaban ‘iya’ untuk tawaranku. Ah iya, kami ada di gedung bekas perkantoran ayah Hyunmi. Aku akan coba jaga Hyunmi dan anaknya,’

“Sh*t ! Damn ! Aku bersumpah Jong Il-ssi, kalau aku menemukan sedikit goresan pada tubuh Hyunmi, aku akan membunuhmu,”

‘Mmm, aku akan pikirkan ancamanmu itu. Annyeong,’

Tanpa berpikir lama lagi Jonghyun memasukkan ponselnya ke dalam saku dan segera berlari keluar apartemen dengan membawa kunci mobilnya. Ia bahkan tidak peduli ketika galbi yang di taruhnya di meja makan tumpah karena meja makan itu tertabrak oleh dirinya sendiri. Yang ada di dalam pikirannya saat itu, hanya cepat sampai di tempat Hyunmi. Ia pun menelepon seorang lainnya untuk membantu menyelamatkan Hyunmi.

“Yeoboseyo, Minho-ssi,”

***

Ketika terbangun dari pengaruh obat bius, Hyunmi merasakan pusing yang amat sangat dan tubuhnya yang terbaring di sebuah kursi kerja. Ia menatap ke sekeliling, dimana sebuah meja tepat di hadapannya memajang foto keluarganya. Refleks Hyunmi meraih foto itu, memandanginya terus menerus dan entah sejak kapan matanya sudah mulai berkaca-kaca.

“Good Night Kim Hyunmi,” sapa seseorang membuat Hyunmi menyeka matanya cepat lalu menaruh foto itu kembali. Ia sedikit tersentak saat melihat orang yang berdiri di depannya.

“Wae ? Kau sedikit kaget melihatku ?” tanya Jong Il kemudian beranjak ke depan meja yang menghalanginya dengan Hyunmi.

“Kenapa aku ada disini ? Kenapa kau menculikku huh ?” tanya Hyunmi emosi.

“Ayolah, jangan berbicara seperti itu pada mertuamu sendiri,” jawab Jong Il sontak membuat Hyunmi mengernyit heran. Sedetik kemudian Hyunmi meledakkan tawanya karena mendengar ucapan Jong Il.

“Kau ayahnya Jonghyun ? Bahkan kau tidak ada kemiripan apapun dengannya. Margamu Choi dan dia Kim, jangan bercanda denganku Jong Il-ssi,” balas Hyunmi lalu terkekeh lagi.

“Aku serius. Ia memang anak tiriku, tapi ibunya sudah menyerahkan Jonghyun sepenuhnya padaku. Sayangnya, Jonghyun bersikeras tidak menghilangkan marga ayah kandungnya,”

“Ouwh daebak ! Aku terharu mendengar ceritamu Jong Il-ssi, tapi aku tetap tidak akan percaya sampai mendengar sendiri dari mulut Jonghyun,” potong Hyunmi.

PLAK

Dengan cepat Jong Il menampar Hyunmi tanpa rasa kasihan sedikit pun. Ia bisa melihat bagaimana Hyunmi meringis kesakitan ketika sudut bibirnya terluka dan sedikit berdarah.

“Ikut aku,” Jong Il menarik tangan Hyunmi bangkit dari kursi kerja itu.

“Ya ! Lepaskan aku !” Hyunmi mencoba memberontak. Tapi sekali lagi ia malah mendapat tamparan dari Jong Il dan otomatis membuatnya terdiam. Hyunmi hanya bisa pasrah saat Jong Il membawanya ke sebuah gudang di lantai paling bawah. Ia di dudukkan di sebuah kursi dengan di kelilingi beberapa anak buah Jong Il.

Hyunmi sempat merasakan sakit menerjang perutnya saat itu. Ia belum makan sejak tadi siang, entah perutnya sakit karena belum makan atau karena Jong Il mendorongnya terlalu keras ketika duduk di kursi itu. Ia hanya bisa menggigit bagian dalam bibir bawahnya, menahan sakit di perutnya dan juga sudut bibirnya.

Beberapa saat Jong Il terdiam seraya mondar mandir di dalam ruangan itu. Sampai suatu dering ponsel membuyarkan lamunannya. Ia melihat Hyunmi mengeluarkan ponsel, dan dengan cepat Jong Il merebut ponsel itu lalu menjawab telepon dari Jonghyun.

“O, Jonghyun-ah,”

***

Jonghyun menghentikkan mobilnya dengan sekali injakan rem. Ia menyuruh Minho tetap di mobilnya untuk menunggu hingga polisi datang. Dengan cepat Jonghyun berlari ke dalam gedung dan mengikuti anak buah Jong Il untuk sampai ke tempat Hyunmi berada.

Laki-laki itu masuk kesebuah ruangan di lantai terbawah gedung dan menemukan Hyunmi duduk di sebuah kursi tanpa pengikat apapun dengan sudut bibir yang sudah berdarah. Dengan cepat ia menghampiri Hyunmi dan berlutut di depan gadis itu. Jonghyun memegang wajah Hyunmi dengan kedua tangannya dan coba menatapnya yang sudah terlihat lemah.

“Ya ! Kim Hyunmi, lihat aku,” seru Jonghyun. Hyunmi hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil kemudian menyentuh tangan Jonghyun yang ada di pipinya.

“Nan gwenchana,” balas Hyunmi lembut.

“Perutmu tidak apa-apa ? Kau merasa sakit ?” tanya Jonghyun bertubi semakin khawatir.

“Hanya sedikit sakit, gwenchana,” Hyunmi tersenyum sekali lagi, kemudian sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap Jong Il yang sudah berdiri di belakang Jonghyun.

Sebuah senyuman mengembang di bibir Jonghyun ketika mendengar jawaban dari Hyunmi. Ia mengikuti arah tatapan Hyunmi dan menemukan Jong Il sudah berdiri di belakangnya sambil melipat tangan di depan dada.

“Ck ck, aku terharu melihatnya,” sahut Jong Il diikuti Jonghyun yang berdiri dari posisi berlututnya. Ia menyetarakan tinggi dengan Jong Il, dan sengaja berdiri di depan Hyunmi, menghalangi Jong Il untuk menyakiti gadis itu lagi.

“Aku sudah bersumpah untuk membunuhmu jika kau menyakiti Hyunmi. Dan kau benar-benar melakukannya,” geram Jonghyun. Ia masih saja melindungi Hyunmi dan tak menghiraukan beberapa penjaga yang sudah menyiapkan ancang-ancangnya.

“Jinjja ? Kenapa kau sangat ingin membunuhku ? Aku hanya perlu mendengar kata-kata ‘iya’ dari mulutmu, dan semua ini tidak akan terjadi. Kau tidak perlu masuk rumah sakit, dan tidak perlu melihat istrimu duduk di sini dengan sudut bibir berdarah. Haruskah aku melakukan yang lebih kejam lagi agar kau menerima tawaranku huh ?” tanya Jong Il penuh emosi. Ia mengisyaratkan sesuatu pada anak buahnya untuk menarik kursi yang di duduki Hyunmi menjauh. Jonghyun menoleh ke belakang, melihat bahwa Hyunmi sudah tidak di belakangnya lagi.

“Sekarang, jawab pertanyaanku dan istrimu akan baik-baik saja,”

Kali ini Jonghyun berpikir dua kali untuk menjawab tidak pada orang di depannya. Ia sungguh tidak mengerti kenapa ayah tirinya bersikeras memberikan perusahaan narkoba pada dirinya, padahal masih banyak anak buahnya yang jelas-jelas siap menerima jabatan itu. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menerima tawaran sesat (?) ayahnya untuk mengurus perusahaan distribusi narkoba. Kecuali kalau ia mau membahayakan diri.

Jonghyun sengaja berpikir cukup lama agar para polisi datang ketika ia belum menjawab. Tapi sudah lewat dari 1 menit, dan Jong Il sudah menatapnya tidak sabar.

“Kyaaa !!!” terdengar teriakan Hyunmi, refleks membuat Jonghyun berputar ke arah suara itu.

Sudut ruangan yang kurang terkena cahaya pun menyulitkan Jonghyun untuk melihat keadaan gadis itu. Sontak ia berlari ke arah Hyunmi, memukuli setiap anak buah Jong Il yang ada disana. Ia membantu Hyunmi berdiri dari kursinya, merangkul kedua bahunya dan membawanya menjauh dari sana kemudian berdiri di depan Jong Il. Ia melonggarkan cengkeraman pada bahu gadis itu, memberikan gerak yang lebih leluasa baginya.

“Dalam hitungan ketiga, kau harus pergi dari sini. Diluar ada Minho dan kau pergi bersamanya,” bisik Jonghyun dibalas anggukan kecil dari Hyunmi.

“Hana. . dul . . set,” Jonghyun sedikit mendorong Hyunmi menghindar dari Jong Il. Dengan cepat ia menahan tubuh Jong Il yang sudah hampir berputar melihat kepergian Hyunmi.

“Ms.Kim ! Lari !” teriak Jonghyun saat melihat Hyunmi berjalan dengan sedikit terseok menuju pintu keluar. Hyunmi yang mendengar teriakan Jonghyun pun segera mempercepat langkahnya keluar dari sana.

Sedetik kemudian para anak buah yang tadi baru saja dilumpuhkan Jonghyun kini sudah berdiri mengitari kedua orang berstatus –anak dan ayah itu.

“Mari selesaikan masalah ini. Antara laki-laki, abeoji,”

Dan dengan sekali hentakan Jonghyun sudah melayangkan pukulannya ke arah Jong Il. Tidak peduli bagaimana status mereka, tidak peduli bahwa yang ada di depannya saat itu adalah ayah –tirinya. Ia akan menjalankan sumpah yang tadi dibuatnya, membunuh Jong Il. Walaupun tidak yakin bisa mengalahkan anak buah Jong Il yang sudah siap membunuhnya juga.

-to be continued-

 

banyak pertanyaan yang belum kejawab di part ini

jadi tunggu part selanjutnya ya :D

di post hari sabtu atau minggu depan

dimohon commentnya juga

soalnya sangat berpengaruh

 

gimana insa, tiffany, sama yoona kayanya ada di part selanjutnya

just wait ok ? :D

Thank you

jongmal gomawoyo

 

^Ima^

4 thoughts on “[FanFic] Curse Marriage (7th Part)

  1. Ehm….sebel sm si jong il…jahat!
    Ehm…curse marriage….
    Ini nnt endingnya mreka bakal sadar klo mreka kena sihir gak sih?

  2. jong il jahat banget ><
    untung si insa ga terlalu berubah jahat… jangan sampe pihak jahatnya bertambah deh u.u
    lanjuuuut ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s