[FanFic] Curse Marriage (6th Part)

Title : Curse Marriage

Author : Ima Shineeworld

Cast : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

Other : Choi Jonghoon (FTI), Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD)

Rating : PG+15

Genre : Comedy, Romance

“Aku akan mulai membencimu Hyunmi. Kau selalu merebut apa yang seharusnya jadi milikku. Kau harus merasakan apa yang aku rasakan sekarang,” gumam Insa pelan seraya mengusap air matanya yang sudah turun dengan ujung kemejanya.

“Harus”

*******

a week later

Jonghyun baru saja selesai mengetik pekerjaannya ketika seseorang masuk ke dalam ruangannya. Ia mendongak dari laptop miliknya dan melihat Hyunmi berdiri di belakang pintu sambil menundukkan kepala. Jonghyun segera menutup laptopnya kemudian berjalan menghampiri Hyunmi.

“Ada apa ?” tanya Jonghyun khawatir. Hyunmi mengangkat kepalanya untuk menatap Jonghyun.

“Appa,” gumam Hyunmi pelan tapi cukup bisa di dengar oleh Jonghyun.

“Wae ?” tanya Jonghyun seraya mendorong Hyunmi ke sofa di dalam ruangannya. Jonghyun beringsut duduk di sebelah gadis itu.

“Keadaannya semakin parah. Sekarang eomma yang bekerja keras untuk mengembalikan perusahaan appa seperti dulu lagi,” Hyunmi menoleh ke arah Jonghyun dan menatap kedua matanya lekat, “Belum ada kabar dari pengacara itu ?”

Jonghyun menghela napas berat, “Sepertinya kau harus tahu sesuatu Ms.Kim,” sela Jonghyun beberapa saat, “Pengacara itu, tidak mau membantu kita,”

Ucapan Jonghyun berhasil membuat Hyunmi membulatkan kedua matanya tidak percaya. Gadis itu ikut menghela napas berat dan akhirnya bersandar di sofa dengan pasrah. Keduanya terdiam beberapa saat, memikirkan bagaimana caranya agar bisa membantu kedua orang tua Hyunmi.

“Ya ! Jangan murung seperti itu. Kita cari pengacara lain yang lebih hebat,” sahut Jonghyun sambil mengacak rambut Hyunmi lembut.

“Ne, araseo. Aku kembali ke meja kerjaku dulu,” Hyunmi tersenyum sekilas pada Jonghyun kemudian beranjak dari sofa. Tapi langkah Hyunmi terhenti karena tangan Jonghyun mencegahnya.

“Wae irae ?” tanya Hyunmi, berbalik pada Jonghyun.

Sedetik kemudian Jonghyun sudah menarik kembali Hyunmi duduk di sofa. Ia mendorong Hyunmi ke sudut sofa seraya mendekatkan wajahnya.

“Ya ! Ini kantor, kau mau apa huh ?” ancam Hyunmi. Ia makin terdesak ke sudut sofa, tapi Jonghyun belum mau melepaskan kedua tangannya dari bahu Hyunmi.

“Kim Jonghyun !” desak Hyunmi, ia memalingkan wajah sambil memejamkan mata dan menyilangkan tangan di depan dada.

KLEK

Mata Hyunmi terbuka lalu sedikit mendongak melihat ke arah pintu. Sontak Jonghyun pun ikut menoleh ke arah pintu kemudian menjauhkan wajahnya dari Hyunmi. Keduanya duduk tegak di atas sofa dan mencari kesibukan sendiri. Wajah keduanya memerah karena ketahuan hampir melakukan *——–*.

“Mianhae Jonghyun-ssi,” seru wanita yang baru saja masuk seraya membungkukkan badannya dalam-dalam. Hyunmi melirik ke arah wanita itu –Yoona yang tengah menatapnya dengan menaikkan sebelah alis.

“Ada tamu untukmu,” tambah Yoona lagi, ia beranjak keluar dari ruangan Jonghyun dan digantikan wanita lainnya.

Hyunmi yang melihat antusiasme di wajah Jonghyun ketika melihat wanita itu berhasil membuatnya menekuk wajah. Harus ia akui wanita yang saat itu baru masuk ke dalam ruangan Jonghyun memang cantik.

Hey ! tunggu ! Kenapa dia mencium pipi Jonghyun !

Dan kali ini Hyunmi merasakan wajahnya memanas. Ia bisa melihat ketika Jonghyun menoleh dan hanya tersenyum tipis menandakan maaf. Hyunmi memalingkan wajahnya lalu bersandar di sofa tanpa mau melihat kedua orang itu.

“Kenapa pegawaimu belum keluar dari sini ?” tanya Tiffany heran seraya menatap Jonghyun dan Hyunmi bergantian.

“Huh ?” Jonghyun menoleh ke belakang, melihat Hyunmi yang tengah menatapnya penuh ancaman.

“Uh, dia –,” jawabnya bingung.

“Sepertinya aku harus memberitahumu sesuatu,” Hyunmi bangkit dari sofa, berjalan menghampiri Tiffany dan berdiri berseberangan. Ia menyodorkan sebelah tangannya ke arah gadis itu, “Kim Hyunmi, pegawai di kantor ini, sekaligus istri dari seorang Kim Jonghyun,” ujar Hyunmi mewakili Jonghyun yang belum bisa menjawab pertanyaan Tiffany.

Sontak Tiffany membulatkan kedua matanya. Ia merasa seperti sesuatu menerjang hatinya saat itu. Mengetahui laki-laki yang masih di cintainya itu sudah menikah. Tiffany merasakan lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan satu patah kata pun pada Jonghyun. Pandangannya tidak pernah lepas dari Jonghyun dan juga Hyunmi yang saat itu berada di depannya.

“Ch-chukhae,” gumam Tiffany akhirnya, “Sepertinya aku harus pulang. Ada yang harus kuselesaikan,”

Baru saja Jonghyun akan mencegah gadis itu ketika menyadari Tiffany sudah pergi dari hadapannya. Ia berlari keluar dari ruangannya untuk mengejar Tiffany tapi langkahnya kembali terhenti dan menoleh ke arah Hyunmi.

“Wae ?” tanya Hyunmi datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Gadis itu melengos keluar melewati Jonghyun yang masih berdiri di depan pintu. Semua mata karyawan yang ada di ruangan itu memandang ke arah Jonghyun dan Hyunmi. Mereka menduga bahwa akan ada kejadian menghebohkan setelah Tiffany masuk ke ruangan Jonghyun tadi. Termasuk Insa yang sempat menatap Hyunmi beberapa saat sebelum kembali melihat layar komputernya.

“Ya !”

Tepat seperti dugaan para karyawan disana, Jonghyun yang akan memulai pertengkaran hebat itu. Dengan cepat Jonghyun menarik tangan Hyunmi kembali masuk ke dalam ruangannya.

“Tch, lepaskan Kim Jonghyun !” seru Hyunmi seraya menghentakkan tangan Jonghyun.

Keduanya saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Jonghyun membuka pembicaraan.

“Kenapa kau mengatakan itu padanya huh ?” tanya Jonghyun tanpa duduk di sofa lebih dulu.

“Kenapa ? Apa ada seorang istri yang diam saja ketika melihat suaminya dicium oleh wanita lain eh ? Aku rasa tidak ada,” jawab Hyunmi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Tapi aku tidak mau ia tahu dulu,” sergah Jonghyun.

“Huh ? Karena dia ‘mantan’ pacarmu ? Dan kau masih menyukainya ?” Hyunmi menggelengkan kepalanya sekilas kemudian beranjak keluar dari ruangan Jonghyun.

“Ms.Kim ! Aku belum selesai !” teriak Jonghyun membuat Hyunmi membalikkan badannya.

“Kita bahas ini dirumah,” sahut Hyunmi dan benar-benar keluar dari ruangan Jonghyun. Sedangkan Jonghyun hanya bisa melongo, sebelum akhirnya sebuah telepon membuyarkan pikirannya.

“Yeoboseyo,”

***

Hyunmi kembali ke meja kerjanya dan mendapati Insa tengah menatapnya heran. Tanpa memedulikan Insa, ia duduk di meja kerjanya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya. Tapi ia malah tidak bisa focus karena masih bisa merasakan bahwa Insa masih menatapnya. Ia menoleh ke arah Insa, tapi gadis itu malah memalingkan wajah.

“In –,”

“Hyunmi-ssi,” Hyunmi mendongak dan melihat Jonghoon sudah berdiri di depan meja kerjanya. Dengan cepat Hyunmi bangun dari kursinya lalu sedikit membungkuk ke arah Jonghoon.

“Ne sajangnim ?” tanya Hyunmi.

“Kau bisa mengantarku ke Incheon hari ini ?” tanya Jonghoon berhasil membuat Hyunmi mengernyit heran. Ia menoleh ke arah Insa yang terlihat tidak memperhatikan sama sekali bahwa ada Jonghoon disana.

“Ne, aku bisa sajangnim,” jawab Hyunmi sepelan mungkin. Jonghoon tersenyum kecil kemudian menoleh ke arah meja Insa.

“Aku tunggu di depan kantor sepulang kerja nanti,” balas Jonghoon kemudian berlalu kembali ke ruangannya.

Hyunmi masih tidak mengerti, kenapa Jonghoon tidak meminta tolong pada Insa. Yang notabene adalah calon istrinya. Entahlah, mungkin ada masalah diantara mereka, batin Hyunmi.

Sepulang kerja, Hyunmi bergegas keluar dari ruangannya sebelum mendengar pertanyaan-pertanyaan yang akan meluncur dari mulut Jonghyun. Jonghoon sudah keluar sebelum jam kerja usai agar Jonghyun dan Insa tidak curiga. Sesuai ide Hyunmi tentunya.

“Uh, maaf sajangnim,” sahut Hyunmi ketika mendapati Jonghoon sudah merengut, berdiri di samping mobilnya. Tapi ekspresi Jonghoon berubah saat melihat Hyunmi berdiri di hadapannya.

“Gwenchana, ayo naik,” Jonghoon membuka pintu mobilnya kemudian menutup pintunya kembali setelah Hyunmi naik. Dengan cepat ia memutar ke belakang kemudi dan memacu mobilnya meninggalkan lapangan parkir kantor.

Tapi sayangnya seseorang tengah melihat kedua orang itu. Bagaimana ketika Hyunmi mengendap pergi keluar dari kantor untuk bertemu Jonghoon. Dan orang itu pun berbalik, seraya menyeringai kecil ia kembali naik dengan lift ke lantai dimana ia bekerja.

***

Insa mengeluh saat mendapati bahwa hujan sudah turun sebelum ia sampai ke apartemen. Masih di halte bus, dan sendirian. Entah kemana orang-orang saat itu, yang jelas ia sendirian duduk di halte sembari menunggu bus yang lewat. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, seharusnya ia membawa pekerjaannya ke rumah daripada harus pulang malam dari kantor.

Kali ini ia benar-benar merasa seperti orang bodoh. Kenapa ia diam saja ketika Yoona mengatakan bahwa Hyunmi mengendap pergi dari kantor untuk pergi berdua bersama Jonghoon. Harusnya ia marah dan memberitahu semuanya pada Jonghyun. Tapi Insa tidak akan memberitahukan langsung pada Jonghyun.

TIIIIINN

Suara klakson mobil yang keras berhasil membuat lamunan Insa buyar seketika. Gadis itu menatap ke depan, dimana sebuah mobil berhenti. Orang di dalam mobil itu pun membuka kacanya dan merendahkan kepala untuk melihat Insa.

“Ayo naik,”

Insa mencoba menyadarkan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Kim Jonghyun –bukan Jonghoon, mengajaknya pulang bersama ? Oke, ia menepuk keras wajahnya untuk memberikan bukti bahwa saat itu bukan mimpi.

“Ms.Yoon ?” Insa tersadar, dan dengan perlahan melangkah mendekati mobil Jonghyun.

“Ayo naik,” ajak Jonghyun sekali lagi seraya membuka pintu mobilnya dari dalam.

Dengan ragu-ragu Insa masuk ke dalam mobil Jonghyun. Mencoba duduk dengan manis kemudian memakai seat beltnya.

“Kamsahamnida Jonghyun-ssi,” seru Insa. Ucapan Insa malah membuat Jonghyun terkekeh.

“Gwenchana. Kau itu sahabatnya Hyunmi, jadi aku harus menganggapmu sebagai sahabatku juga,” balas Jonghyun.

Lagi-lagi Hyunmi. Semua kehidupannya saat ini selalu menyangkut Hyunmi. Mungkin karena ia ‘pernah’ menjadi sahabat gadis itu. Tapi kali ini, ia bahkan tidak punya niat untuk kembali bersahabat dengan Hyunmi.

“Kau tahu dimana Hyunmi ?” tanya Insa mencoba mengetahui dimana Jonghoon juga. Karena tidak mungkin ia menelepon Jonghoon setelah apa yang terjadi kemarin.

“Dia ada di Incheon. Di rumah kakaknya,” jawab Jonghyun.

Insa menaikkan sebelah alisnya heran. Incheon ? Di rumah kakaknya ? Lalu dimana Jonghoon ? Apa mungkin Yoona hanya berbohong padanya tadi sore ?

“Tidak bersama Jonghoon ?” tanya Insa semakin penasaran. Ekspresi Jonghyun berubah seketika mendengar nama Jonghoon.

“Kau kira aku akan membiarkannya bersama laki-laki itu ? Tentu saja tidak,” jawab Jonghyun kemudian terkekeh lagi.

Ucapan Yoona dan ucapan Jonghyun. Keduanya sangat bertolak belakang dan berhasil membuat Insa bingung dengan keadaan sekitarnya. Ia bingung harus mempercayai yang mana. Atau mungkin ia harus menanyakan pada Hyunmi besok. Dan membuatnya terpaksa kembali berhubungan dengan Hyunmi.

***

Jonghyun kembali menelepon ponsel Hyunmi. Entah sudah keberapa kalinya ia menghubungi Hyunmi hanya untuk menanyakan kepastian. Apakah gadis itu akan pulang atau tidak karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Ji Kyo. Ia mencari-cari nomor ponsel Ji Kyo di catatan nomor telepon milik Hyunmi. Beberapa lembar kemudian, ia menemukan nama Ji Kyo terselip disana. Dengan cepat ia menekan nomor itu.

“Yeoboseyo,” sahut Jonghyun ketika mendengar bahwa teleponnya sudah diangkat.

“Jonghyun-iga. Apa Hyunmi masih disana ? Mwo ? Ia tidak ke rumah noona ? Tapi tadi ia bilang ada dirumahmu. Jinjja ? Gomawo noona,”

Jonghyun melempar ponselnya ke sudut sofa. Hyunmi sudah berbohong padanya. Entah kenapa ia malah teringat kata-kata Insa. Bersama Jonghoon, apa mungkin Hyunmi bersama laki-laki itu ? Tidak tidak, kau tidak boleh berpikiran macam-macam, batin Jonghyun.

Ia memutuskan untuk menyibukkan diri daripada harus memikirkan Hyunmi. Dengan gontai Jonghyun berjalan ke dapur dan meminum satu gelas air. Yeah, dengan meminum segelas air pikirannya menjadi lebih tenang.

Suara bel membuat Jonghyun sedikit tersedak karena kaget. Dengan cepat Jonghyun menurunkan gelasnya ke meja dan berlari ke arah pintu. Dalam sekali gerakan cepat, pintu itu terbuka dengan lebar. Mata Jonghyun membulat tidak percaya, melihat seseorang yang saat itu berdiri di depannya.

“Jonghyun-ah,” seru orang itu. Jonghyun hendak menutup kembali pintu apartemennya, tapi orang itu mencegahnya. Kenapa Jonghyun bisa ditemukan olehnya ? Selama ini ia tidak pernah menghubungi laki-laki itu setelah kabur dari Amerika. Kenapa sekarang ?

“Jonghyun, biarkan abeoji masuk,” tambah orang itu. Jonghyun menggigit bibir bawahnya dengan keras seraya mempertimbangkan ucapan orang di luar pintu apartemennya. Dengan ragu ia kembali berbalik dan membuka pintu apartemennya lagi.

“Silahkan masuk,” balas Jonghyun dingin seraya melebarkan pintunya, membiarkan laki-laki –yang berstatus sebagai ayahnya itu masuk.

“Kenapa kau bisa ada disini ?” tanya Jonghyun datar, tanpa mau menatap kedua mata ayahnya.

“Ayolah Kim Jonghyun, aku ini ayahmu. Apa perlu aku memanggilmu dengan nama Choi Jonghyun ?”

“Tidak ! Aku tidak sudi memakai marga Choi. Jangan pernah anggap aku sebagai anak kandungmu. Ayah kandungku bermarga Kim, ingat itu,” Jonghyun kembali teringat masa kecilnya. Dimana ia harus dipisahkan dari ayah kandungnya secara frontal. Dimana ibunya rela menjual diri pada laki-laki yang sekarang duduk di hadapannya. Dan ia bersumpah, tidak akan pernah mengganti marganya dengan alasan apapun.

“Wae ? Kau sudah sah menjadi anakku sejak 20 tahun yang lalu. Sejak ibumu menikah denganku kan ?” jawab tuan choi seraya bangkit dari sofa dan berjalan mengitari sofa di sekitar Jonghyun. Langkahnya terhenti tepat di belakang Jonghyun.

“Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ayahku. Ayahku adalah seorang Kim, bukan Choi sepertimu,” jawab Jonghyun datar dan dingin. Menggambarkan bahwa dirinya sudah berbalut emosi.

“Kau masih marah karena kematian ibumu ? Atau karena aku menceraikannya dan hak asuhmu jatuh ke tanganku ?” tanya tuan choi lagi. Jonghyun mengerang pelan mencoba menahan emosinya.

“Tch. Selama di Amerika kau memang berhasil memperbudakku. Tidak membiarkan semua hal yang berbau Perancis dan eomma mempengaruhiku. Tapi sayang, rasa cintaku pada eomma tidak bisa menghapus semuanya begitu saja. Aku tidak marah padamu, hanya membenci semua yang telah kau lakukan,” ucapan Jonghyun naik setingkat menjadi lebih kasar. Tapi tuan choi hanya terkekeh pelan.

“Pikiranmu masih dangkal Jonghyun. Kau tidak mengerti apa yang terjadi. Alasanku menceraikan ibumu,” tuan choi duduk di samping Jonghyun dan menepuk pundak laki-laki itu pelan, “Setelah hampir 13 tahun pernikahan kami, ibumu tidak mencintaiku sama sekali. Ia mencintai suaminya yang dulu, yaitu ayahmu. Dan maaf sebelumnya, karena semua kematian ibumu aku yang merencanakannya,”

Jonghyun menoleh dengan cepat ke arah ayah tirinya itu. Matanya sudah memerah karena emosi yang hampir meledak, “Keluar dari sini,” seru Jonghyun dingin seraya menurunkan tangan tuan choi dari pundaknya.

“Hei hei, aku ini ayahmu,” sergah tuan choi.

“Kalau tidak ada yang harus dibicarakan lagi lebih baik kau keluar. Dan jangan harap aku akan menganggapmu sebagai ayahku ! Keluar dari sini atau aku akan lapor polisi,” ancam Jonghyun lalu meraih ponselnya yang ada di sudut sofa.

“Polisi ? Haha, bahkan polisi-polisi itu yang takut padaku Jonghyun,” tuan choi bangkit dari sofa kemudian melangkah ke pintu apartemen Jonghyun. Ia membuka pintunya, kemudian masuk beberapa orang berpakaian hitam mengerubungi tuan choi.

“Selama ini aku yang membiayaimu sekolah sampai sesukses sekarang. Aku hanya ingin tahu, apa kau mau kembali lagi untuk meneruskan semua cabang perusahaanku ?” tanyanya seraya memandang orang-orang berpakaian hitam yang berdiri di sampingnya.

“Tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah mau mengurus perusahaan terhina seperti itu,” Jonghyun bangkit dari sofa tapi tetap tidak beranjak dari sana. Ia hanya bisa menatap dengan jarak jauh terhadap ayahnya saat itu.

“Pikirkanlah lagi Jonghyun. Kau hanya perlu memantau distribusi barang-barang itu,” seru tuan choi sambil berjalan mendekati Jonghyun diikuti beberapa orang tadi di belakangnya.

“Memantau sebuah jaringan narkoba yang akan membahayakan diriku sendiri ? Tidak akan pernah !”

PLAK

Sebuah tamparan dari tuan Choi mendarat di pipi sebelah kanan Jonghyun dengan cukup keras. Laki-laki itu menyeringai kecil kemudian memberi sebuah isyarat pada orang-orang berpakaian hitam itu.

Dan seiring dengan isyarat itu sebuah pukulan mendarat telak di rahang Jonghyun. Membuat ia sedikit terpelanting ke belakang.

“Jonghyun, sejak dulu kau hidup dari uang hasil penjualan ‘barang haram’ yang kau bilang tadi. Sekarang kau malah menolaknya. Mungkin apa yang kulakukan sekarang bisa menyadarkanmu,” tuan choi menjentikkan jemarinya membuat orang yang tadi memukul Jonghyun kembali melayangkan pukulannya ke perut Jonghyun. Sedetik kemudian orang-orang yang sama sepertinya pun ikut memukuli Jonghyun dengan frontal.

Tuan choi menyeringai kemudian mengisyaratkan para orang suruhannya untuk tidak memukuli Jonghyun, “Well, kau mau merubah pikiranmu ?”

Jonghyun meludahkan darah yang ada di dalam mulutnya lalu menyusut sudut bibirnya dengan punggung tangan, “Aku bilang tidak akan pernah Tuan Choi !” ucapnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

“Kau cari mati Jonghyun. Habisi dia,” tuan choi beranjak dari sana dan memilih duduk di kursi meja makan. Melihat bagaimana anak buahnya memukuli Jonghyun tanpa rasa iba sedikitpun.

Apa yang dilakukan orang suruhan tuan choi berhasil membuat Jonghyun hampir tidak sadarkan diri. Ia hanya bisa berharap sebuah keajaiban datang menolongnya saat itu.

***

Hyunmi melambaikan tangan pada mobil Jonghoon yang semakin jauh dari pandangannya. Ternyata mengurus surat perizinan pendirian kantor tidak semudah yang di bayangkan Hyunmi. Selama hampir 2 jam ia harus berunding dengan laki-laki pemimpin perusahaan perizinan. Padahal hanya membangun 10×10 meter kantor cabang di dekat sana. Dan mungkin ia harus meminta maaf pada Jonghyun karena telah berbohong. Sebenarnya ia hanya tidak mau membuat Jonghyun khawatir karena kepergiannya bersama Jonghoon.

Dengan tergesa Hyunmi masuk ke dalam lobby. Setelah pintu lift terbuka, dengan cepat ia pun masuk ke dalamnya.

BRUGH

“Aw !” Hyunmi terjungkal ke belakang karena menabrak seseorang yang berpostur lebih besar darinya. Ia mendongak dan memandang orang yang saat itu sudah berlalu melewatinya.

“Ya ! Ya !” panggil Hyunmi pada beberapa orang berbaju hitam yang sudah membelakanginya. Untuk beberapa saat ia masih menyumpahi orang-orang yang tadi menabraknya sampai ia tersadar dan berdiri seraya membersihkan bajunya yang kotor.

Hyunmi masuk ke dalam lift lalu menekan lantai teratas di gedung itu. Dimana letak apartemen Jonghyun atau biasa disebut penthouse berada.

Entah kenapa ia merasa seperti mempunyai sebuah firasat buruk. Sedari tadi ia selalu terpikir Jonghyun, karena kebohongannya dan satu hal lain yang mengganjal hatinya. Suara dentingan lift membuat Hyunmi tersadar. Setelah pintu terbuka ia segera keluar dari sana dan berjalan ke satu pintu yang memang hanya ada di lantai teratas.

“Aku pulang,” seru Hyunmi sambil membuka pintu apartemen Jonghyun perlahan. Rasa heran menyelimutinya ketika tidak mendengar sahutan Jonghyun seperti biasa. Gadis itu mulai melangkah masuk ke dapur dan meneguk segelas air dengan cepat.

“Mungkin dia sedang mandi,” gumam Hyunmi lalu berjalan ke arah kamar. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar, pandangannya tertuju di dekat sofa. Di celah antara sofa dan meja yang menghadap TV. Sesaat kemudian ia menyadari bahwa dugaannya salah.

“Jonghyun-ah !” Hyunmi berlari ke arah Jonghyun yang tergeletak di dekat sofa. Dengan cepat ia mendorong meja yang menghimpit Jonghyun menjauh dari sana dan segera beringsut ke sebelah laki-laki itu.

“Ya ! Kim Jonghyun !” seru Hyunmi seraya memeluk kepala Jonghyun dengan sebelah tangannya. Tangan lainnya menepuk-nepuk wajah Jonghyun dengan sesekali mengusap darah yang ada di setiap sudut wajah Jonghyun.

Setetes air mata mengalir di pipi Hyunmi ketika menyadari bahwa Jonghyun tidak bergerak sedikit pun. Gadis itu mulai terisak seraya memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat.

“Aku mohon. Bertahanlah,”

***

Hyunmi masih saja menangis sambil menggenggam tangan laki-laki yang tergeletak tidak berdaya di depannya. Ia bersyukur karena tidak telat membawa laki-laki itu ke rumah sakit. Karena keadaannya cukup parah, Jonghyun terpaksa harus melewati beberapa tahapan pemeriksaan yang menyangkut tubuh bagian dalam. Dan dokter menemukan bahwa salah satu tulang rusuk Jonghyun patah dan rahang yang sedikit bergeser dari tempatnya. Semua hal itu hanya menambah semua rasa bersalah Hyunmi dan akhirnya malah membuatnya menangis semalaman.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, tapi Hyunmi belum bisa memejamkan matanya. Ia takut melewati setiap momen berharga yang akan terjadi nanti pada Jonghyun. Tangisannya sudah mereda seiring kabar dari dokter yang mengatakan bahwa Jonghyun tidak apa-apa.

“Aku tahu kau bisa mendengarku sekarang. Cepatlah bangun karena ada satu hal penting yang harus kau tahu,” gumam Hyunmi pelan seraya mengusap rambut Jonghyun dengan lembut.

Setelah beberapa menit Hyunmi menunggu respon dari Jonghyun dan hasilnya nol besar. Jonghyun masih tidak bergerak. Hyunmi menghela napas panjang kemudian beranjak dari kursi di sebelah ranjang Jonghyun. Ia keluar dari kamar rawat untuk mencari minuman yang ada di rumah sakit itu.

Hyunmi memasukkan beberapa uang receh ke dalam sebuah mesin minuman yang di temukannya di koridor rumah sakit. Karena minuman yang dipilihnya belum juga keluar, ia menendang dengan sekuat tenaga kaca mesin minuman itu dan membuat minuman yang tadi di pilihnya keluar. Ia merogoh tempat keluarnya minuman tadi kemudian membuka penutup kaleng minumannya.

Sambil meminum susu strawberry kaleng yang tadi di dapatnya, ia menelusuri setiap koridor rumah sakit itu. Rumah sakit, ia jadi ingat bagaimana pertemuannya dengan Minho. Di rumah sakit hubungannya dengan Minho semakin dekat, dan di rumah sakit juga ia menerima semua pengakuan cinta Minho. Ingatan itu membuat Hyunmi menyunggingkan sebuah senyuman pahit. Tapi karena itu semua juga ia bisa bersama Jonghyun sekarang.

Tatapannya lagi-lagi terhenti di sebuah ruang perawatan bayi. Karena ruangan itu terbuat dari kaca, ia bisa melihat jelas begaimana bayi-bayi itu tertidur dengan wajah polosnya. Dan entah sejak kapan langkahnya semakin mendekat ke depan ruang perawatan bayi itu.

“Aiku, neomu kyeopta,” gumam Hyunmi seraya menyentuh permukaan kaca yang menjadi pembatas dirinya dengan bayi-bayi itu. Sebuah senyuman pun mengembang menghiasi bibir Hyunmi saat itu.

“Omo~, lihat bayi kita,” sontak Hyunmi menoleh ke arah suara seorang wanita yang berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu duduk di kursi roda dengan seorang laki-laki yang mendorong kursi roda wanita itu.

“Ne, dia cantik seperti kau,” balas laki-laki, yang menurut Hyunmi sebagai suaminya itu.

“Ne, keurae. Oppa, aku ingin menggendongnya,” wanita itu mendongak sambil memberikan tatapan memohon pada laki-laki yang sudah berlutut di sampingnya.

“Dia masih lemah, dan kau juga masih lemah. Mungkin beberapa hari lagi kau baru bisa menggendongnya,” laki-laki itu mengacak rambut gadisnya lembut kemudian memutar kursi rodanya menjauhi ruang perawatan bayi. Hyunmi tersenyum sendiri membayangkan Jonghyun memperlakukannya seperti itu.

Dan ketika Hyunmi menolehkan kepalanya kembali, sebuah tirai sudah menghalangi pandangannya. Ia menurunkan tangannya dari permukaan kaca sambil mengerucutkan bibir kemudian berjalan menjauh dari sana. Setelah sadar bahwa minuman kalengnya sudah habis, Hyunmi membuang kalengnya itu dengan sekali lemparan ke tempat sampah.

“Membosankan,” gumam Hyunmi lagi. Ia membuat langkahnya semakin lambat melewati setiap deretan pintu-pintu di sekitarnya. Tapi ia kembali terhenti dan memutuskan untuk berbalik ke arah pintu keluar.

“Kenapa aku tidak ke supermarket ?” tanya Hyunmi pada dirinya sendiri seraya mempercepat langkahnya ke pintu keluar. Dan karena hujan rintik yang turun, ia terpaksa harus sedikit berlari untuk sampai ke supermarket di depan rumah sakit itu.

***

Lagi-lagi Jonghoon hanya bisa menatap sedih melihat meja kerja Hyunmi kosong. Baru tadi malam ia pergi bersama Hyunmi, dan sekarang ia sudah menghilang lagi. Sudah beberapa kali juga ia mencoba menghubungi gadis itu, tapi tidak ada jawaban. Dan ia juga baru menyadari bahwa Jonghyun tidak ada di ruangannya ketika melihat Yoona sibuk menanyakan Jonghyun pada karyawan yang ada.

Jonghoon menoleh ketika mendengar suara pintu ruangannya terbuka. Ia melihat Insa masuk dengan sedikit ragu sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggung.

“Wae ?” tanya Jonghoon heran.

Insa berdehem kecil lalu menyodorkan barang yang tadi di sembunyikannya, “Jwesonghamnida. Kalau selama ini aku selalu kasar padamu. Ini coklat buatanku sendiri untuk merayakan hari valentine yang jatuh di hari ini. Terimalah,” seru Insa sambil menundukkan kepalanya.

Ucapan Insa tentang kata-kata valentine membuat Jonghoon sedikit heran. Ia melihat kalender yang ada di meja kerjanya dan melihat sebuah tanda hati melingkari tanggal 14. Hari ini.

“Jinjja ? Kau mau aku memaafkanmu ?” tanya Jonghoon sedikit mengerjai Insa.

“Tch, keurae~. Ambil saja coklat ini,” Insa menaruh coklat yang di taruhnya di dalam kotak berbentuk hati itu di atas meja kerja Jonghoon.

“Ada satu syarat yang harus kau penuhi,” pinta Jonghoon lalu menarik coklat itu mendekat. Insa mengangguk sekilas tanpa mau menatap Jonghoon.

“Kau harus kembali pada Hyunmi. Kembalilah menjadi sahabatnya,” tawar Jonghyun. Insa membulatkan kedua matanya heran, secara tidak langsung Jonghoon membela Hyunmi saat itu.

“Kenapa kau selalu peduli padanya,” tanya Insa dingin, menatap Jonghoon dengan tatapan lurus. Jonghoon berdehem kecil mencoba mencairkan suasana yang semakin memanas.

“Jangan memulai lagi Insa,”

“Kenapa Jonghoon-ssi ?” desak Insa.

“Baiklah, karena kau yang memaksa. Aku menyukainya. Puas ?” Jonghoon mendorong coklat yang diberikan Insa kembali mendekat ke arah gadis itu.

“Kenapa kau menerima perjodohan ini kalau memang kau menyukai Hyunmi huh ? Semua yang kau lakukan selalu membuatku bingung, kau sadar itu ?” tanya Insa seraya menahan air mata yang sudah menahan tenggorokannya.

“Karena keluargaku berhutang pada keluargamu. Dan semua yang kulakukan padamu hanya untuk memenuhi permintaan orangtuaku. Sekarang kau tidak perlu bingung Insa,”

“Aku kira kau memang menyukaiku. Dan satu hal, aku tidak akan pernah memaafkan Hyunmi. Ia selalu merebut apa yang seharusnya menjadi milikku, dan sekarang aku akan melakukan hal yang sama padanya,” Insa mengambil kembali coklat yang ada di meja Jonghoon kemudian keluar dari ruangan laki-laki itu.

“Apa maksud gadis itu ?”

***

Hyunmi merutuki dirinya sendiri ketika sadar bahwa yang dibelinya di supermarket tadi tidak penting. Mungkin snack-snack yang dibelinya penting, tapi satu hal yang menurut Hyunmi sangat tidak penting. Untuk apa ia membeli testpect ? Toh hasilnya pasti negative, sesuai dengan perasaannya.

Selama duduk di sofa di dalam kamar rawat Jonghyun, ia masih saja menatap tas plastic belanjaannya dengan bingung. Antara mencoba testpect itu atau membuangnya saja. Tapi ia kembali berpikir kalau harus membuangnya.

“Haish, baiklah. Akan kucoba,” Hyunmi mengambil tespect itu dan segera memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar. Sebelum mencobanya ia menarik napas dalam, takut hasilnya tidak terduga nanti.

Sebuah kekecewaan muncul di dalam hati Hyunmi ketika melihat hasilnya negative. Dengan kesal ia membuang testpect itu ke tempat sampah dan segera keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat Jonghyun sudah sadar dan berusaha meraih botol infus di samping ranjang.

“Ya !” sahut Hyunmi seraya berlari ke arah laki-laki itu.

“Oh ? Ms.Kim ?” tanya Jonghyun bingung karena penglihatannya yang belum sempurna.

“Kenapa kau tidak berteriak memanggilku atau menekan bel di dekat kepalamu itu huh ? Mau kemana ?” tanya Hyunmi, membantu Jonghyun duduk di atas tempat tidur.

“Aku mau ke kamar mandi,” jawab Jonghyun sambil menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya.

“Biar aku bantu,” Hyunmi menurunkan botol infuse dari tiangnya dan menggamit lengan Jonghyun, membantu laki-laki itu berjalan ke kamar mandi.

“Kau mau menemaniku ke dalam kamar mandi atau menunggu di luar ?” tanya Jonghyun ketika sudah sampai di depan pintu kamar mandi dan berhasil mendapat pukulan dari Hyunmi.

“Sedang sakit saja kau masih mesum. Aku tunggu di luar,” Hyunmi memalingkan wajahnya seraya menyerahkan botol infuse ke tangan Jonghyun.

Jonghyun hanya terkekeh kecil kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Hyunmi beralih duduk di sofa sambil menunggu Jonghyun keluar dari kamar mandi. Perasaan kecewanya tadi seketika berubah saat melihat Jonghyun sudah sadar.

“Ms.Kim !” teriakan Jonghyun membuat Hyunmi sedikit tersentak. Ia segera berlari ke kamar mandi, takut terjadi sesuatu pada Jonghyun karena belum sepenuhnya sadar.

“Ne ?” tanya Hyunmi ketika membuka pintu kamar mandi dan menemukan Jonghyun tengah menatapnya heran.

“Igeo mwoya ?” tanya Jonghyun seraya mengangkat sebuah alat yang baru dibuang Hyunmi tadi.

“Testpect. Tapi sayang hasilnya negative,” jawab Hyunmi dengan nada kecewa.

“Jinjja ? Tapi aku melihat dua garis merah disini, dan sesuai keterangan di kardusnya, hasilnya positif. Kau yakin ?” tanya Jonghyun sambil menyerahkan testpect itu ke tangan Hyunmi.

“Kau bercanda eh ?” tanya Hyunmi, menerima alat itu dan melihat dua garis merah di dalamnya, “Tapi tadi hanya ada satu garis,”

“Itu berarti kau . . ?” tanya Jonghyun menggantungkan ucapannya.

“Aku hamil ? Tch, mungkin alat ini salah,” Hyunmi membuang alat itu ke tempat sampah kemudian keluar dari kamar mandi.

“Ya ! Kau harus ikut aku,” sahut Jonghyun sambil menyergah tangan Hyunmi sebelum keluar dari kamar mandi. Hyunmi sedikit membalikkan tubuhnya dengan sebelah alis terangkat.

“Kita cek ke dokter disini. Jeongmal, aku sangat berharap hasil itu benar,” tanpa menunggu balasan dari gadis itu, Jonghyun segera menarik tangan Hyunmi keluar dari kamar rawat.

“Jonghyun, kau baru sembuh. Jangan terlalu semangat seperti ini,” sergah Hyunmi masih mencoba melepaskan Jonghyun yang terus menariknya.

“Aniyo, aku sangat bersemangat,” sebuah senyuman lebar menghiasi wajah Jonghyun saat itu. Rasa sakit yang ada pun tertutupi karena perasaan senang yang di rasakannya.

Langkah keduanya terhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan ‘Dokter Kandungan’. Jonghyun, dengan langkah mantap memasuki ruangan itu. Tapi tidak dengan Hyunmi, ia malah takut bahwa hasilnya mengecewakan Jonghyun nanti.

***

“Otte uisa ?” tanya Jonghyun pada seorang dokter di depannya seraya menggenggam tangan Hyunmi erat. Sedangkan Hyunmi mencoba meredakan detak jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat menunggu hasil pemeriksaannya.

“Chukhae, Ms.Kim. Kehamilannya sudah memasuki umur 3 minggu,” jawab dokter itu sontak membuat Jonghyun menganga tidak percaya.

“Kau serius ?” tanya Hyunmi tidak yakin.

“Apa aku terlihat sedang bercanda ? Kau benar-benar hamil Ms.Kim,” tegas dokter itu sekali lagi. Senyum Jonghyun pun semakin lebar mendengar penegasan dokter. Dan Hyunmi ikut tersenyum mendengarnya.

“Gomawo uisa. Jeongmal gomawoyo,” Jonghyun membungkukkan badan seraya menarik Hyunmi bangkit dari kursi.

“Nado gomawo,” tambah Hyunmi kemudian mengikuti tarikan Jonghyun keluar dari ruangan dokter itu.

“Aigo ! Berita ini adalah kado terindah di hari valentine seumur hidupku. Chukhae !!” seru Jonghyun sambil memeluk Hyunmi dengan erat lalu sedikit loncat-loncat masih sambil memeluk gadis itu.

“Valentine ?” tanya Hyunmi heran, melepas pelukan Jonghyun.

“Keurae ! Menurutmu nama apa yang bagus untuknya huh ? Sepertinya aku harus mencari referensi untuk nama anak kita nanti,” Jonghyun merangkul Hyunmi dengan lembut kemudian meninggalkan depan ruangan dokter itu.

“Ya ! Kau tidak berterima kasih padaku ?” tanya Hyunmi seraya menyikut perut Jonghyun lalu mengerucutkan bibirnya. Tiba-tiba Jonghyun meringis ketika merasakan bahwa tulang rusuknya tersikut oleh gadis itu.

“Sssh, tepat di tulang rusukku Ms.Kim,” rintih Jonghyun dan berhasil membuat Hyunmi panic seketika.

“Uh, mianhae mianhae,” sahut Hyunmi kemudian mengusap –ngusap bagian kanan tulang rusuk Jonghyun.

Dan dalam sekejap, berita kehamilan Hyunmi membuat masalah yang akan di bicarakan pun dilupakan begitu saja. Tapi sayang, sepertinya kebahagiaan itu akan segera lenyap. Diantara belokan setiap koridor rumah sakit itu, seseorang tengah memperhatikan kedua pasangan yang tengah berbahagia itu dengan ponsel yang menempel di kupingnya.

“Istrinya bernama Kim Hyunmi, anak dari Kim Oh Hyuk. Ia baru saja memeriksakan diri dan menerima kabar bahwa dirinya tengah hamil. Jonghyun dirawat di ruang VIP 231,”

-to be continued-

Dirajam readers *o*

Beneran seminggu sekali deh jadinya

Maaf ya kalau ga memuaskan

Sebenarnya part ini tadinya mau dibikin khusus valentine

Makanya ga terlalu ada konflik

Pekan ulangannya udah beres nih

Hari ini ulangan kimia sama computer

Doain semoga hasilnya bagus ya😀

——à dirajam readers lagi gara” kebanyakan curcol

Oke

Saya butuh comment biar ada semangat nerusinnya

Mau ada previewnya ga ?

Aku kasih deh

“Urus wanita-wanitamu diluar sana Kim Jonghyun,”

“KARENA AKU MEMBENCIMU !!”

“Ms.Kim ! Lari !”

Thanks to leave a comment

^Ima^

4 thoughts on “[FanFic] Curse Marriage (6th Part)

  1. Akhirnya akhirnya ohh akhirnyaaaa. lanjutannya ada juga !! Ak udah nunggu luama banget tp ternyata hasilnya terbayarkan.. Nambah seru.. Aplg hyuminya hamil.. Ahhh seneng bangeett. Langsung chaw k part brikut.a !!

  2. Finally….update jg…
    Udah agak lupa ma crta nya tentang ortu nya hyunmi. Emg knp sih?*amnesia
    ah…gak suka ama ayah tirinya jong. Jahat!ck!
    Chukkae…..udah hamil 3minggu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s