[FanFic] Curse Marriage (5th part)


Title       : Curse Marriage

Author  : Ima Shineeworld

Cast       : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

Other    : Choi Jonghoon (FTI), Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD)

Rating   : PG+15 – NC

Genre   : Comedy, Romance

“Bagaimana kalau kita membuatnya ?” pertanyaan Jonghyun sontak membuat makanan yang di pegang Hyunmi terjatuh ke atas meja dapur. Ia menoleh dengan perlahan ke arah Jonghyun.

“Eh ?”

“Kita membuatnya. Yeah, maksudku membuat anak kecil. Kau tahu ? melakukan apa yang seharusnya kita lakukan,”

“Uh O.o ?”

****

“Huh O.o ?”

“Kau bercanda eh ? Aku belum siap untuk itu semua, menjadi seorang ibu yang bahkan belum pernah aku pikirkan sebelumnya,” Hyunmi segera menyibukkan dirinya sendiri untuk menghindari tatapan Jonghyun. Gadis itu tersenyum kecil sambil memasukkan makanan Ji Sook ke dalam lemari makanan di atasnya.

“Aku tidak bercanda kali ini Ms.Kim. Aku serius,” tambah Jonghyun lagi, dan sukses membuat Hyunmi menghentikan tangannya di udara. Keadaan hening sejenak, Jonghyun masih menatap wanita yang tengah membersihkan meja dapur, menunggu jawaban dari gadis itu.

“Mungkin tidak hari ini Jonghyun. Mungkin nanti, yang jelas aku tidak bisa memastikannya. Aku lelah hari ini, annyeong,” Hyunmi membalikkan tubuhnya kemudian berlalu masuk ke dalam kamar. Jonghyun menghela napas panjang, ia merutuki dirinya sendiri sudah mengatakan hal bodoh seperti itu.

“Aigo~, ada apa denganmu Jonghyun ? Kemana sifat arogan dan gengsimu itu ?” gumam Jonghyun seraya memukuli kepalanya sendiri. Ia duduk di sofa dan membuka laptopnya yang masih tergeletak disana. Mengerjakan pekerjaannya yang baru dikirim oleh Yoona lewat email. Yeah, walaupun ia sedang mengerjakan itu, pikirannya bahkan tidak terfokus disana.

***

Few days later

Entah hal apa yang membuat Hyunmi bangun lebih pagi dari biasanya. Ia merasa tidurnya tidak tenang. Kepalanya menoleh ke samping kanan, tempat Jonghyun tidur di sebelahnya. Tapi ia tidak menemukan laki-laki itu, ia malah melihat Ji Sook yang masih tertidur pulas. Hyunmi tersenyum kecil lalu mengecup kening Ji Sook lembut.

Hyunmi bangkit dari tempat tidur kemudian beranjak keluar kamar. Langkahnya terhenti ketika melihat Jonghyun tertidur di sofa dengan posisi meringkuk dan memeluk tubuhnya sendiri. Gadis itu melirik jam di ruang tengah yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Ia kembali masuk ke dalam kamar, mengambil selimut di dalam lemari. Dengan perlahan ia pun menyelimuti tubuh Jonghyun.

Sudah beberapa hari ji sook tinggal di apartemen Jonghyun dan Hyunmi. Dan selama itu juga Jonghyun tidur di sofa, dengan alasan tidak mau membuat ji sook terganggu dari tidurnya. Tapi karena itu semua, ia merasa hubungannya dengan Jonghyun semakin dekat. Karena apapun yang dilakukan olehnya selalu berhasil menarik perhatian Jonghyun dan akhirnya malah dikerjakan berdua.

“Eomma !!”

“Omo !” teriakan Ji Sook membuat panci berisi air panas yang sedang di pegangnya terjatuh. Beruntung panci itu jatuh ke tempat cuci piring, jadi Hyunmi tidak terkena semua tumpahannya. Tetap saja ia terkena cipratan air panas itu.

“Aigo !!” Jonghyun terbangun dari tidurnya setelah mendengar jeritan Ji Sook dan suara benturan dari arah dapur. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan segera sadar dengan keadaan yang terjadi. Refleks ia bangkit dari sofa, menghampiri Hyunmi yang tengah menatap buku-buku jarinya yang memerah.

“Gwenchana ?” tanya Jonghyun seraya meraih tangan gadis itu. Hyunmi hanya diam saja ketika melihat Jonghyun berubah menjadi panic.

“Gwenchana,” balas Hyunmi, menarik tangannya dari genggaman Jonghyun. Ia segera menghindar dan masuk ke dalam kamar untuk menghampiri ji sook.

“Annyeong ji sook-ah,” sapa Hyunmi sambil mengacak rambut ji sook lembut kemudian menggendong anak itu keluar dari kamar.

“Aigo, kau sudah bangun ji sook-ah ?” Jonghyun tiba-tiba datang dan bertanya pada ji sook. Anak itu malah sedikit takut ketika melihat Jonghyun ada di dekatnya.

“Sepertinya ia masih trauma dengan kejadian waktu itu,” sahut Hyunmi, sedikit terkekeh kecil. Ia membawa ji sook ke meja makan dan mendudukan anak itu di pangkuannya. Hyunmi baru sempat membuat makanan ji sook, jadi mungkin Jonghyun tidak akan sarapan pagi itu.

“Kau tidak buat sarapan ?” tanya Jonghyun heran. Ia melihat-lihat semua panci yang berada di atas kompor. Yang ditemukannya hanya makanan setengah jadi.

“Ahni, aku belum sempat. Kau makan diluar saja,” jawabnya masih tidak mengalihkan perhatiannya dari ji sook, secara tidak sadar jawabannya membuat Jonghyun merengut kesal.

“Ah ne, terima kasih Ms.Kim,” ujarnya kemudian berlalu masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.

Hyunmi mengangguk sekilas sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut ji sook. Ia menoleh ke arah pintu kamar ketika Jonghyun membanting pintunya dengan keras. Sontak kening gadis itu berkerut heran.

***

Perut Jonghyun mulai mengeluarkan bunyi-bunyi aneh. Rasa laparnya sudah tidak bisa di tahan lagi. Ia melirik jam tangannya sekilas, dan ia hampir telat untuk datang ke meeting pagi itu. Dengan menghiraukan rasa laparnya, Jonghyun memacu cepat mobilnya melewati mobil-mobil di depannya.

Konsentrasi menyetirnya bubar ketika sebuah telepon masuk ke dalam ponselnya. Jonghyun memakai earphone yang ada dan mengangkat teleponnya.

“Wae ? Ah, araseo. 2 jam lagi aku baru bisa bebas. Gwenchana, nanti aku kirim alamat kantorku. Bye,”

Jonghyun melepas earphone nya lagi dan kembali focus menyetir. Baru saja ia menerima telepon dari Tiffany. Dan entah kenapa perasaannya tiba-tiba berubah drastis. Rasa lapar yang dirasakannya malah sudah tidak ada lagi. Membayangkan bekal yang akan dibawakan Tiffany nanti.

2 hours later

Jonghyun keluar dari ruangan rapat itu bersama Yoona di sebelahnya. Rapat direksi tadi membuat kepalanya hampir pecah. Ia pusing karena hampir tidak ada sesuap makanan pun yang masuk ke dalam mulutnya. Di dalam ruangan rapat, ia hanya minum dan tidak sempat menyentuh snack yang di sediakan sama sekali.

“Jonghyun-ssi, satu jam lagi akan ada rapat di Gwangju,” seru Yoona seraya melihat berkas yang dibawanya.

“Cancel. Aku sedang tidak mau kemana-mana hari ini,” balas Jonghyun datar.

“Tapi Jonghyun-ssi, ini menyangkut –,”

Ucapan Yoona terputus karena tiba-tiba ponsel Jonghyun berdering. Laki-laki itu mengangkat teleponnya dan berjalan meninggalkan Yoona begitu saja.

Jonghyun masuk ke dalam ruangannya masih tidak melepaskan ponsel dari kupingnya. Entah sejak kapan obrolannya dengan Hyunmi menjadi lebih santai seperti itu. Tidak ada lagi teriakan-teriakan dari gadis itu menyangkut dirinya dan pernikahan mereka.

“Kau mau ke rumah sakit ?” tanya Jonghyun heran ketika Hyunmi menyebut rumah sakit di obrolan terakhirnya.

‘Ne, ji sook badannya panas. Jadi mungkin, aku masih tidak bisa masuk kantor. Kau bisa bilang pada Jonghoon kan ?’

“Ne, nanti aku beritahu dia. Semoga tidak ada apa-ada dengan ji sook,” Jonghyun tiba-tiba tersenyum mendengar kekehan dari mulut Hyunmi.

‘Ne, Jonghyun-ssi. Annyeong,’

Jonghyun menaruh ponselnya di atas meja. Suara Hyunmi tadi membuatnya seperti mendapat pencerahan. Ia merasa selalu senang ketika mendengar suara gadis itu. Dan sejak kedatangan ji sook, ia semakin yakin untuk merawat seorang anak nantinya.

“Jonghyun-ssi,” lamunan Jonghyun buyar saat Yoona tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.

“Ada yang mencarimu,” Yoona melebarkan pintu ruangan Jonghyun dan menampakkan seorang wanita tengah berdiri dengan sebuah bungkusan bekal di tangannya.

“Tiffany ?” wanita yang dipanggil Tiffany itu pun mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan Jonghyun. Yoona melirik tajam ke arah tamu itu, lalu segera keluar dari dalam sana.

Tiffany memberikan kecupan kilat di pipi Jonghyun. Membuat laki-laki itu mematung seketika. Sedangkan Tiffany hanya bersikap biasa dan duduk di sofa untuk tamu.

“Well, kau bekerja disini ?” tanya Tiffany berhasil membuat Jonghyun tersentak kaget.

“Ne. .” jawab Jonghyun singkat lalu duduk di sebelah gadis itu.

Satu persatu Tiffany membuka bekal yang dibawanya. Jonghyun menelan ludahnya ketika melihat makanan di hadapannya. Tanpa menunggu aba-aba dari Tiffany, Jonghyun segera menyambar sumpit yang ada dan mencicipi semua makanan itu. Lebih tepatnya, menghabisi semua makanan itu.

***

Insa ikut menyelip diantara beberapa orang yang menguping di depan pintu ruangan Jonghyun. Semuanya berebut tempat hanya untuk mengetahui apa yang dibicarakan kedua orang itu di dalam. Insa menggerutu kesal karena tidak ada suara sedikitpun yang terdengar dari dalam.

“Haish, apa yang dilakukan mereka ?” seru Insa kesal. Ia menjauh dari kerumunan para karyawan itu dan segera menelepon Hyunmi.

‘An –,’

“Hyunmi, kau kenal dengan seorang wanita bernama Tiffany ?” potong Insa sebelum Hyunmi sempat menjawab teleponnya.

‘Ahni, wae ?’

“Dia ada di dalam ruangan Jonghyun. Berdua, dan terlihat mencurigakan,”  seru Insa seperti seorang detektif.

Tidak terdengar jawaban dari seberang telepon Insa. Ia melirik layar ponselnya sekilas, masih menampakkan nama Kim Hyunmi.

“Hyunmi ?”

‘Ne, ah. Gwenchana, mungkin dia hanya temannya. Ah iya, bilang pada Jonghoon aku tidak bisa masuk ke kantor lagi hari ini. Ji Kyo eonni belum pulang, jadi aku masih harus merawat ji sook,’ entah kenapa Hyunmi malah mengalihkan pembicaraan yang dibuat Insa.

“Hyunmi, kau –,”

‘Omo, Insa-ya. Ji sook harus masuk sekarang, nanti aku telepon lagi. Annyeong,’

Lagi-lagi Hyunmi menutup telepon Insa tanpa menunggu jawaban dulu. Bahkan gadis itu tidak cemburu sama sekali. Apa yang harus dilakukannya sekarang ? Tidak mungkin ia masuk dan memarahi Jonghyun, dia tidak punya hubungan apa-apa dengan laki-laki itu.

Baru saja ia akan kembali ke meja kerjanya ketika melihat Jonghoon keluar dari ruangannya. Dengan cepat Insa menghampiri Jonghoon dan otomatis menghentikan langkah laki-laki itu.

“Jonghoon, tolong bantu aku,” mohon Insa seraya merapatkan kedua telapak tangannya.

“Wae ?” tanya Jonghoon heran. Insa mendongakkan kepalanya sekilas lalu menunjuk ke arah ruangan Jonghyun yang masih di kelilingi beberapa karyawan.

“Tolong masuk ke ruangannya. Suruh wanita yang ada di dalamnya keluar dan suruh Jonghyun kembali mengerjakan pekerjaannya,” pinta Insa lagi. Jonghoon mengernyit heran, ia menoleh ke arah ruangan Jonghyun. Tapi sebuah senyuman malah menghiasi wajahnya. Wanita selain Hyunmi ? Sepertinya bisa membuat hubungan mereka sedikit renggang, batin Jonghoon.

“Aku tidak punya wewenang untuk itu. Jonghyun sama derajatnya denganku di kantor ini, biarkan dia menerima tamunya sendiri,” jawab Jonghoon, membuat Insa menghela napas panjang, “Ah iya, kau tahu kemana Hyunmi ? beberapa hari ini dia tidak masuk kan ?”

“Dia merawat keponakannya yang sedang menginap, dan hari ini harus ke dokter karena keponakannya itu sakit,” pertanyaan Jonghoon mengingatkan Insa tentang pesan Hyunmi tadi. Jonghoon mengangguk dan meninggalkan Insa begitu saja. Tapi langkahnya kembali terhenti kemudian berbalik pada Insa.

“Insa, kau mau makan siang ?” tanya Jonghoon. Insa tersenyum lebar, ia segera berbalik dan menyusul Jonghoon.

“Sure,”

***

Hyunmi menggenggam ponselnya erat. Setelah mendengar telepon Insa tadi, ia tidak bisa berhenti memikirkan Jonghyun. Tentang wanita bernama Tiffany yang sekarang berada di dalam ruangan suaminya itu. Baru kali ini ia merasa hal aneh lagi yang menyerang tubuhnya selain Minho. Tidak mungkin ia cemburu kan ?

“Orang tua Ji Sook ?” tanya seorang perawat pada Hyunmi. Sontak lamunan Hyunmi buyar dan segera mengikuti perawat itu ke dalam ruang periksa.

Gadis itu sedikit lega ketika dokter mengatakan bahwa ji sook hanya demam biasa. Dengan langkah ringan ia melangkah menyusuri koridor rumah sakit untuk keluar dari sana. Tapi entah kenapa, langkah Hyunmi terhenti di depan sebuah ruangan. Ruangan yang berlapis kaca dan di dalamnya terdapat beberapa bayi yang berada di dalam tempat tidur. Hatinya merasa tersentuh, ia jadi teringat kata-kata Jonghyun. Membuatnya ?

Hyunmi menunduk, menatap ji sook yang ada di dalam gendongannya, “Kau mau punya sepupu ?” tanya Hyunmi, sedangkan ji sook hanya bisa mengernyit heran.

“Sepupu, kau tahu ? Sama seperti adik,” jelas Hyunmi. Ji sook mengangguk dengan semangat, ia tersenyum lebar dan menoleh ke arah ruang bayi itu. Hyunmi ikut tersenyum lalu mengacak rambut ji sook lembut.

“Sepertinya aku harus memikirkan tawaran Jonghyun,” gumam Hyunmi pelan kemudian kembali meneruskan langkahnya keluar dari rumah sakit itu.

***

Jonghyun keluar dari ruangannya, sontak membuat karyawan yang masih berdiri di depan pintu ruangannya langsung bubar. Ia mengernyit heran ke arah para karyawan yang baru saja duduk di mejanya kembali. Laki-laki itu melangkah keluar bersama Tiffany. Ia akan pulang lebih awal hari ini, untuk mengantar Tiffany, dan untuk bertemu Hyunmi tentunya. Sepertinya perasaan Jonghyun sudah mulai berubah, sebentar saja tidak bertemu Hyunmi, ia merasa kesepian. Atau merindukannya mungkin.

“Kau mau kemana ?” tanya Tiffany ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.

“Mengantarmu pulang, lalu pulang ke apartemen,” jawab Jonghyun lalu memacu mobilnya meninggalkan tempat parkir.

“Gee ! Aku mau ke apartemenmu,” seru Tiffany tiba-tiba. Jonghyun terhenyak sebentar, ia belum mau memberitahukan statusnya. Entahlah, sepertinya hatinya masih bimbang sekarang.

“Tidak bisa hari ini. Mianhae, tapi apartemenku sedang berantakan,” elak Jonghyun cepat.

“Gwenchana, biarkan aku ke apartemenmu ? Please ?” Tiffany mengatupkan kedua tangannya dan memandang Jonghyun seraya mengeluarkan puppy eyes andalannya. Jonghyun mengerang pelan, ia tidak bisa menolak permintaan gadis itu kalau sudah memohon.

“Fany, mianhae. Tapi tidak bisa hari ini,” elak Jonghyun lagi. Tiffany mengerucutkan bibirnya kesal, ia menyandarkan tubuhnya pasrah ke sandaran kursi.

“Lain kali saja,” Jonghyun menepuk puncak kepala Tiffany seraya tersenyum kecil. Gadis itu tersenyum sekilas kemudian memandang keluar jendela mobil Jonghyun.

Jonghyun melambaikan tangannya dari dalam mobil mengiringi kepergian Tiffany masuk ke dalam gedung apartemennya. Ia memutar mobilnya dan kembali ke penthouse miliknya.

Baru saja ia keluar dari lift ketika matanya menangkap seseorang yang sudah tidak asing lagi. Ia melihat Minho juga baru saja keluar dari dalam apartemennya bersama Hyunmi. Mereka tampak tertawa berdua, dan sedetik kemudian Minho mengacak rambut Hyunmi lembut. Dengan perlahan Jonghyun mendekat ke arah kedua orang itu. Jonghyun berdehem kecil seraya melewati Minho dan Hyunmi.

“Oh, Jonghyun-ah,” panggil Minho membuat langkah Jonghyun terhenti. Ia berbalik dan sedikit mendongak untuk menatap Minho.

“Wae ?”

“Jangan lupa datang ke ulangtahun min rin hari minggu besok huh ?” serunya. Jonghyun mengangguk sekilas, tapi tidak mencoba beranjak dari sana. Takut Hyunmi tiba-tiba menangis, atau Minho yang memperlakukan gadis itu lebih baik darinya.

“Baguslah, aku pulang dulu. Annyeong,” Minho hendak menepuk kepala Hyunmi, tapi tangannya terhenti di udara ketika mendengar Jonghyun berdehem dengan cukup keras.

“Uh oke. Bye,” Minho melambai singkat kemudian meninggalkan kedua orang itu.

Jonghyun melirik ke arah Hyunmi yang terlihat biasa saja. Dengan tatapan lurus dan tanpa emosi ia melihat kepergian Minho dari hadapannya. Tapi setelah Minho masuk lift, Hyunmi terlihat menghela napas panjang.

“Ternyata acting susah. Apalagi di depan minho, aku merasa –,” ucapan Hyunmi terhenti karena ia, tiba-tiba di tarik ke dalam pelukan Jonghyun. Laki-laki itu mengusap kepalanya lembut.

“Jangan pernah memikirkan dia. Aku mohon, aku tidak mau melihatmu menangis lagi Ms.Kim,”  ucap Jonghyun lembut, tulus, dan berhasil membuat Hyunmi tersenyum kecil.

“Pegang janjiku untuk tidak pernah menangis lagi untuk dia,”

***

Gadis itu terus saja menatap keluar jendela mobil Jonghyun saat mereka dalam perjalanan pulang kembali ke apartemen. Jonghyun mencoba menerka apa yang terjadi pada Hyunmi di pesta ulang tahun Min Rin tadi sehingga membuatnya seperti itu. Dan sedari tadi ia memikirkan bagaimana caranya membuka pembicaraan agar menghilangkan kecanggungan yang ada.

“Ms.Kim,”

“Jonghyun,”

Ucap mereka bersamaan. Hyunmi menolehkan kepalanya, ia menatap Jonghyun yang juga tengah menatap ke arahnya. Keadaan hening sejenak, setelah menarik napas panjang, Hyunmi membuka mulutnya dan mengeluarkan hasil pemikirannya sejak kemarin.

“Tolong buat aku melupakan Minho,” pinta Hyunmi. Jonghyun mengernyit heran mendengar permintaan Hyunmi.

“Melupakannya ?  Untuk apa ? Kau tidak akan pernah bisa melupakan seorang laki-laki yang bahkan sudah berhubungan lebih dari 5 tahun denganmu. Tidak semudah itu Ms.Kim,”

“Geundae, aku benci keadaanku yang seperti ini,” ucap Hyunmi dengan sedikit bergetar karena menahan air mata yang hampir keluar.

“Bagaimana kau bisa melupakannya kalau barang-barang milik Minho masih kau simpan ? Kau masih menyimpan cincin pernikahan kalian kan ? Maksudku, calon pernikahan,” jawab Jonghyun sontak membuat Hyunmi membulatkan matanya, seolah menanyakan bagaimana laki-laki itu tahu mengenai cincin pemberian Minho yang disimpannya di bawah bantal, “Aku tahu ketika membereskan tempat tidur, tidak sengaja aku melihatnya dan sedikit kaget juga. Sekarang jawab pertanyaanku,”

Hyunmi merasa dirinya terdesak, “Aku masih mencintainya. Puas huh ?!”

Gadis itu kembali menatap keluar jendela yang tertesi air hujan. Tatapannya itu berubah menjadi keheranan ketika menyadari mobil yang dinaikinya menepi ke pinggir jalan. Ke sebuah taman kecil yang berada tidak jauh dari tempat mereka berhenti.

“Ayo turun,” ajak Jonghyun lalu turun dari mobil. Laki-laki itu berlari tanpa peduli hujan yang membasahi bajunya. Jonghyun membuka pintu di samping Hyunmi, ia menelengkan kepalanya menyuruh gadis itu keluar.

Tanpa menunggu Hyunmi berpikir, Jonghyun segera menarik tangan Hyunmi keluar dari mobil. Masih tetap memegang Hyunmi, kedua orang itu berlari masuk ke dalam taman kecil itu. Hujannya cukup deras sampai membuat baju mereka basah seketika.

Jonghyun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Hyunmi. Ia menyentuh kedua pipi gadis itu dengan lembut.

“Sekarang berteriaklah disini, keluarkan semua yang kau rasakan selama ini. Tentang sakit hati yang kau rasakan, atau rasa tidak suka dengan pernikahan kita. Terserah, kau boleh menangis sepuasnya. Aku hanya tidak mau melihatmu menangis dengan jelas, di bawah hujan ini aku tidak akan tahu kau menangis atau tidak,” Jonghyun menepuk kedua pipi Hyunmi pelan kemudian menjauh dari gadis itu. Hyunmi mengangguk kecil, ia menarik napas panjang.

“Aku benci Choi Minho ! Aku ingin melupakannya. Aku ingin melupakanmu, dan aku tidak tahu bagaimana caranya !” Hyunmi berlutut seraya mengatupkan tangan menutupi wajahnya. Sedetik kemudian ia kembali mendongak menatap langit, “Dan aku rasa, aku tidak membenci pernikahanku dengan Jonghyun. Malah aku bersyukur, karena hal itu aku bisa sedikit melupakanmu Choi Minho. Laki-laki itu, berhasil mengubah perasaanku. Aku menyukainya,” ujar Hyunmi sambil tersenyum kecil dan memejamkan matanya.

Jonghyun menatap ucapan terakhir Hyunmi tidak percaya. Walaupun hujan sangat deras malam itu, ia bisa mendengar dengan jelas ucapan yang diteriaki Hyunmi. Termasuk kata-kata terakhir yang diucapkannya. Sebuah senyuman pun mengembang di bibir Jonghyun. Perlahan ia mendekati gadis itu. Memegang kedua bahunya dan membantunya berdiri dari posisi berlutut itu. Ia kembali menyentuh pipi Hyunmi dengan kedua tangannya.

“Aku menyukaimu juga Kim Hyunmi,”

Dan dalam hitungan detik, Jonghyun sudah merengkuh bibir Hyunmi dengan lembut. Tidak peduli bagaimana hujan terus membasahi tubuh mereka. Ciuman hangat itu mampu membuat tubuh kedua orang itu tetap hangat. Dan semuanya berubah mulai malam itu.

***

Jonghyun sedang menyiapkan coklat hangat ketika Hyunmi masih berada di dalam kamar mandi. Karena ide hujan-hujanannya tadi, ia bisa tahu bagaimana perasaan gadis itu. Membayangkan kejadian tadi membuat bibir Jonghyun melengkung membentuk sebuah senyuman kecil.

Laki-laki itu membawa dua gelas coklat hangat yang baru selesai dibuatnya ke meja ruang TV. Entah kenapa pikirannya masih tidak mau berhenti memikirkan bagaimana sikap Hyunmi tadi.

Jonghyun menoleh ketika mendengar pintu kamarnya terbuka. Hyunmi keluar sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Kegiatannya terhenti saat melihat Jonghyun tengah memandangnya seraya tersenyum lebar.

“Mwoya ? Jangan memandangku seperti itu,” Hyunmi menatap coklat panas yang terlihat masih mengepul di hadapan Jonghyun. Dengan cepat ia beralih ke sebelah laki-laki itu dan meraih salah satu gelas yang ada.

“Hati-hati, masih panas,” seru Jonghyun memperingati. Hyunmi mengangguk dengan asal kemudian menyeruput coklat hangat itu. Jonghyun menepuk puncak kepala Hyunmi lalu meminum coklat hangat miliknya juga.

“Ah iya,” Hyunmi menaruh coklat hangat yang di pegangnya dan menoleh ke arah Jonghyun. Ia seharusnya memberi jawaban atas tawaran Jonghyun waktu itu. Dan  sekarang ia malah ragu untuk mengatakannya.

“Wae ?” tanya Jonghyun. Tatapan ragu Hyunmi membuat Jonghyun semakin penasaran apa yang akan diucapkan gadis itu.

“Tentang tawaranmu waktu itu,” jawaban Hyunmi membuat sebelah alis Jonghyun terangkat kerena heran.

“Yeah, kau tidak ingat ? Aku mau membuatnya,”

“Uhuk uhuk,” Jonghyun tersedak coklat hangat yang baru diminumnya. Ia memberikan tatapan seolah mengatakan apa-kau-yakin pada gadis itu.

“Aku yakin,” jawab Hyunmi tanpa mau menatap Jonghyun. Karena ia yakin wajahnya memerah saat itu.

“Hyunmi, aku –,”

“Hey, kita sudah pernah melakukan ini dua kali. Jadi sekarang, kau tidak perlu ragu lagi,” Hyunmi meraih tangan Jonghyun dengan lembut, “Just do it,”

Jonghyun masih saja berpikir akan perubahan sikap Hyunmi yang tiba-tiba seperti itu. Akhirnya ia mengangguk dan memulai permainannya. Diawali hanya dengan sebuah ciuman lembut yang semakin kelamaan berubah menjadi panas. Tapi Jonghyun perlahan mendorong tubuh Hyunmi menjauh darinya.

“Jangan memaksakan diri Hyunmi,” seru Jonghyun meyakinkan. Hyunmi pun menggelengkan kepalanya cepat.

“Ahni, lakukan apa yang seharusnya kita lakukan,”

Hyunmi tersenyum kecil lalu meneruskan kegiatannya. Tanpa berlama-lama lagi, Jonghyun menggendong Hyunmi dari sofa. Ia membawanya ke dalam kamar tanpa melepaskan ciuman hangat itu. Dengan sekali gerakan cepat ia menutup pintu kamar dengan kakinya.

*Don’t Disturb*

***

Gadis itu terduduk di atas tempat tidur seraya menarik selimut menutupi hingga atas dadanya. Pagi-pagi sekali ia sudah terbangun dalam keadaan kacau balau. Kejadian tadi malam membuat tidurnya tidak cukup nyenyak. Harusnya ia tahu, ia belum siap untuk melakukannya. Bahkan kecanggungan yang terjadi semalam, membuat ia malu sendiri. Entah kenapa gadis itu malah menjerit saat melihat Jonghyun tanpa baju.

“Kau memalukan Hyunmi,” gumam gadis itu sambil memukuli kepalanya. Ia melihat Jonghyun yang masih tertidur dengan pulas di sampingnya. Sedetik kemudian ia mulai bangkit dan memakai kimono tidur yang tergantung di dekat pintu kamar mandi. Dengan cepat ia keluar dari kamar dan menyibukkan diri di dapur.

Kegiatan memasak sarapan itu pun terhenti ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Sontak Hyunmi sedikit tersentak kemudian sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.

“Jonghyun, aku harus masak sarapan,” seru Hyunmi, mencoba melepaskan tangan Jonghyun dari pinggangnya. Jonghyun menggeleng dan malah menidurkan kepalanya di pundak gadis itu.

“Kau tahu bagaimana caranya kita akan cepat punya bayi huh ?” tanya Jonghyun, mengangkat kepalanya lalu mengecup rambut Hyunmi lembut.

“Ahni,” jawab Hyunmi sambil mengaduk-aduk sup ayam di depannya. Jonghyun menghentikkan tangan Hyunmi dan membalikkan tubuhnya. Saling berhadapan, saling menatap satu sama lain.

“Kita harus sering melakukannya,” Jonghyun mulai mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Hyunmi lembut. Sangat lembut sampai membuat lutut gadis itu terasa lemas seketika.

“Uh, stop !” Hyunmi mendorong Jonghyun menjauh ketika tangan laki-laki itu mulai menyusup ke dalam kimono yang ia pakai.

“Aku harus ke kantor pagi-pagi sekali. Hentikan kegiatan ini,” tanpa menunggu balasan dari Jonghyun, ia pergi dari sana kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia bersandar di belakang pintu, merasakan dadanya yang berdegup dengan sangat kencang. Semalam, dan hampir hari ini. Ia tidak pernah menyangka akan menyukai Jonghyun secepat ini.

***

Langkah Hyunmi terhenti di depan meja kerjanya. Ia tidak melihat Insa duduk di sana. Tidak seperti hari-hari biasanya dimana gadis itu selalu berteriak menyambut kedatangannya. Kepalanya menoleh saat mendengar pintu ruangan Jonghoon terbuka. Laki-laki di dalamnya keluar bersama Insa sambil menertawakan sesuatu.

“Insa-ya !” kali ini Hyunmi yang menyapa Insa dengan teriakan melengkingnya. Jonghoon maupun Insa menoleh ke arah Hyunmi dengan tatapan heran sekaligus kaget.

“Oh, Hyunmi-ssi,” bukannya Insa yang menghampiri Hyunmi, tapi Jonghoon dengan cepat sudah berdiri di hadapan gadis itu seraya tersenyum lebar.

Insa yang melihat itu semua langsung melipat senyumnya lagi dan menatap tidak suka ke arah kedua orang di depannya. Bagaimana Jonghoon memperlakukan Hyunmi dengan sangat baik. Bagaimana Jonghoon mengacak rambut Hyunmi lembut. Dan bagaimana ketika Jonghoon malah mengacuhkannya.

“Selamat bekerja Hyunmi-ssi,” seru Jonghoon kemudian berlalu kembali ke ruangannya. Hyunmi hendak memegang tangan sahabatnya itu tapi Insa malah melengos duduk di meja kerjanya. Hyunmi menautkan kedua alisnya heran, dan segera duduk di mejanya, di sebelah Insa.

“Bagaimana kabarmu Yoon Insa ?” tanya Hyunmi  dengan nada ceria.

“Baik, sebelum kau datang kesini,” jawab Insa datar tanpa menatap Hyunmi seperti biasanya. Senyuman di bibir Hyunmi memudar melihat sahabatnya berubah seperti itu.

“Waeyo ?” tanya Hyunmi heran. Insa memutar kursinya menghadap Hyunmi. Ia menatap Hyunmi dengan tatapan dingin dan penuh emosi.

“Sebelum kau membuat Jonghoon menjadi acuh padaku,” balas Insa kemudian bangkit dari meja kerjanya.

“Insa-ya ! Ya !” panggil Hyunmi, tapi sungguh panggilannya itu tidak membuat Insa menoleh sama sekali.

“Insa !” akhirnya Hyunmi mengejar Insa dan langsung berdiri di hadapan gadis itu, “Ada apa sebenarnya ?” desak Hyunmi.

“Pikirkan sendiri kenapa aku bersikap seperti ini. Dan jangan pernah berbicara denganku sebelum mengetahui apa masalahnya,” jawab Insa sesingkat mungkin kemudian sedikit mendorong Hyunmi agar membuka jalan untuknya lewat.

“Aku mohon, jangan seperti ini. Lebih baik aku berhenti bekerja daripada harus kehilanganmu Insa,” entah sejak kapan nada bicara Hyunmi menjadi bergetar. Insa menghentikan langkahnya lalu sedikit menoleh ke belakang untuk melihat Hyunmi yang tengah menundukkan kepalanya.

“Jeongmal ?” Insa berbalik dan berdiri di hadapan Hyunmi sambil menaikkan kedua alisnya, “Apa ada yang menjamin hubunganku dengan Jonghoon akan membaik kalau kau keluar dari kantor ini ? Ia bahkan selalu menanyakan semua tentangmu ketika kami berdua mengobrol. Kau tidak pernah tahu sesakit apa hatiku saat itu Hyunmi. Dia bahkan meninggalkanku hanya untuk menyambut kedatanganmu di kantor ini. .”

“Apa kau suka, ketika mendengar calon suamimu sendiri membicarakan wanita lain huh ? Apa kau suka ketika Minho membicarakan Neul Rin di depan wajahmu sendiri ? Dan ia malah mengajakmu berdiskusi tentangnya. Kau pasti tidak akan suka Hyunmi,” jelas Insa dengan nada tertekan, hampir menangis. Hyunmi membulatkan matanya mendengarkan semua perkataan Insa. Setiap ucapan Insa seolah menguak ingatannya saat bersama Minho dulu.

“Insa, aku tidak pernah tahu tentang hal itu. Aku tidak pernah tahu kalau Jonghoon –,”

“Shut up ! Biarkan aku pergi dan menenangkan diri,” Insa melirik ke sekelilingnya, ke arah para karyawan yang tengah menatap ke arah kedua sahabat –yang tiba-tiba bertengkar itu. Tanpa peduli apapun, ia pergi dari sana dan masuk ke dalam lift.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya ia kembali duduk di meja kerja dan bersandar di kursi kerjanya. Sungguh, ia sangat tidak mau kehilangan Insa apapun masalahnya. Satu hal yang membuat Hyunmi sedih adalah kehilangan sahabat terbaiknya. Sahabat yang selama ini selalu mendukungnya. Bahkan memberinya semangat ketika keadaannya terpuruk

***

Awan gelap menyelubungi kota Seoul sore itu. Membuat para karyawan yang baru saja pulang dari kantornya melangkah dengan sangat cepat agar tidak terkena hujan yang akan turun. Tapi tidak dengan Hyunmi, ia malah melangkah dengan perlahan menyusuri jalanan sore itu. Ia masih tidak percaya akan pertengkarannya dengan Insa tadi siang.

“Kalau jalan seperti itu, hujan akan menyusulmu,” Hyunmi menoleh dan sedikit mendongak menatap seorang laki-laki yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya. Bukan Jonghyun tentunya, karena laki-laki itu tengah ada pertemuan mendadak diluar kota bersama Yoona.

“Jonghoon-ssi ?” tanya Hyunmi heran. Jonghoon menaikkan kedua alisnya kemudian berjalan beriringan bersama Hyunmi.

“…”

Tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali. Hanya suara bising kendaraan dan lalu-lalang manusia lainnya yang menemani perjalanan pulang Hyunmi dan Jonghoon. Tiba-tiba Hyunmi kembali teringat akan kata-kata sahabatnya tadi. Mereka berdua bertengkar karena laki-laki yang saat itu ada di sebelahnya. Dan sepertinya ia harus mulai menjauh dari Jonghoon.

“Ehm,” Hyunmi berdehem pendek mencoba mencairkan suasana, “Aku harus ke rumah sakit hari ini,” ujarnya masih sambil terus berjalan. Jonghoon menundukkan kepalanya ke arah Hyunmi seraya mengernyit heran.

“Siapa yang sakit ?” Jonghoon masih saja menatap Hyunmi, sementara yang di tatapnya hanya tersenyum kecil.

“Ahni, hanya cek kesehatan seperti biasa,” jawab Hyunmi, sesingkat mungkin. Ia tidak mau berbicara panjang lebar dengan laki-laki itu. Atau obrolan panjangnya itu akan membawa masalah lagi.

“Aku harus pergi sekarang. Annyeong,” Hyunmi melirik sekilas ke arah Jonghoon kemudian naik ke dalam taksi yang saat itu berhenti di depannya.

Jonghoon berusaha mencegah Hyunmi masuk ke dalam taksi. Tapi ternyata langkah gadis itu lebih cepat dan taksi yang dinaikinya pun sudah melaju meninggalkannya. Sekali lagi ia merasa pengecut karena sudah menyia-nyiakan kesempatan pulang berdua bersama Hyunmi. Dan entah kenapa, Jonghoon merasa bahwa Hyunmi semakin menjauhinya.

“Ouch sh*t. Kenapa harus disaat seperti ini ?” Jonghoon menoleh ke belakang, ke arah suara gumaman seseorang yang terdengar sedang kesusahan. Sontak ia menghampiri wanita –yang tengah berusaha melepaskan heels sepatunya yang tersangkut  di sebuah lubang saluran air.

“Gwenchana ?” tanya Jonghoon khawatir seraya berjongkok di depan wanita itu.

“Gwencha. .. na,” Jonghoon mendongak ketika mendengar suara yang sangat tidak asing itu di telinganya. Sontak wanita yang baru saja dilihatnya segera memalingkan wajah.

“Sabar Insa-ya, aku akan mengeluarkan sepatumu,” seru Jonghoon lalu kembali focus pada sepatu gadis itu.

“Uh, aw. Sepertinya kakiku terkilir Jonghoon-ssi,” keluh Insa ketika merasakan pergelangan kakinya tiba-tiba sakit. Ia memperhatikan Jonghoon beberapa saat, melihat bahwa laki-laki itu tengah berusaha melepaskan heels miliknya yang masih tersangkut.

“Kau harus melepaskan sepatunya. Atau kau akan seperti ini terus sampai besok,” seru Jonghoon setelah beberapa menit mencoba melepaskan heels itu.

Insa membulatkan matanya, “Melepasnya ? Nanti aku bagaimana ?” tanya Insa bingung seraya menunjuk sepatunya.

Tiba-tiba Jonghoon berdiri, berbalik, dan merubah posisinya berjongkok membelakangi Insa. Perlakuan Jonghoon sontak membuat Insa mengernyit heran.

“Ayo naik. Tinggalkan saja sepatumu yang tersangkut itu,” Jonghoon menepuk pundak sebelah kanannya menyuruh gadis itu agar segera naik ke punggungnya.

Perlahan Insa melepaskan kakinya dari heels yang tersangkut itu dan dengan ragu melingkarkan tangannya ke leher Jonghoon. Laki-laki itu menyuruh Insa memegangi tasnya kemudian berdiri dari posisi jongkoknya. Dan semua yang dilakukan Jonghoon membuat Insa tersenyum kecil. Berada di punggung seorang Choi Jonghoon adalah sebuah kebahagiaan baginya. Memang tadi ia sempat kesal melihat Jonghoon mengajak Hyunmi pulang bersamanya. Tapi setelah itu, ia malah dapat yang lebih. Digendong oleh Jonghoon.

***

Mata Hyunmi tidak pernah lepas dari ponsel yang berada di genggamannya. Sudah lebih dari jam 8 malam, tapi Jonghyun belum memberi kabar sama sekali. Yang menjadi masalah bagi Hyunmi, laki-laki itu pergi bersama wanita lain, atau lebih tepat sekretaris pribadinya, hanya berdua. Dan hal itu berhasil membuat jantung Hyunmi berdebar tidak karuan. Membayangkan sekelebat pikiran negative di pikirannya.

Hyunmi masih sibuk membayangkan apa yang dilakukan Jonghyun ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan cepat ia membuka flip ponselnya tanpa melihat nama yang tertera.

“Jonghyun-ah !!” seru Hyunmi senang sekaligus khawatir.

‘Uh, aigo~. Teriakanmu bisa membuat kupingku sakit Ms.Kim,’ tepat seperti dugaannya, yang meneleponnya saat itu adalah Jonghyun. Sontak Hyunmi membenarkan posisi duduknya dan segera merubah raut wajahnya yang tadi merengut.

“Ya ! Kau dimana Kim Jonghyun ?” desak Hyunmi  cepat.

‘Haish, kau bisa sabar sedikit ? Aku masih ada di Kyeonggi. Mobilku mogok dan tidak ada satupun mobil lain yang lewat. Jadi mungkin aku menginap disini,’ jawaban Jonghyun kembali membuat Hyunmi menekuk wajahnya. Ia kembali bersandar di sofa dan mengerucutkan bibirnya.

“Bersama Yoona ?” tanya Hyunmi sinis seraya memainkan kuku tangannya.

‘Keurae, aku bisa berdua dengannya malam ini. Hhh, kapan lagi aku bisa berdua dengan Yoona huh ?’ jawab Jonghyun. Lagi-lagi jawaban Jonghyun membuat Hyunmi merengut kesal. Sepertinya laki-laki itu mencoba memanas-manasinya.

“Tch, terserah. Jangan harap aku akan cemburu Kim Jonghyun,” balas Hyunmi dan bersiap menutup telepon itu.

‘Ya ! Ms.Kim !’ tangan Hyunmi terhenti ketika mendengar Jonghyun meneriaki namanya, ‘Aku akan tidur di mobil, sedangkan Yoona akan tidur di penginapan dekat sini. Jangan khawatir ara ?’

“Aku bilang aku tidak peduli. Terserah kau mau melakukan apapun dengannya, kau yang akan merasa bersalah nantinya,”

‘Baiklah kalau kau tidak peduli. Jangan sampai kau tidak bisa tidur karena memikirkanku,’ ancam Jonghyun.

“Tidak akan Jonghyun. Silahkan melakukan apa yang kau suka disana,” balas Hyunmi kemudian menjauhkan ponselnya.

‘Ms.Kim ! Neoman saranghaeyo –,’

BIP

Hyunmi sudah menekan tombol reject di ponselnya, membuat kata-kata Jonghyun terputus seketika. Ia menatap tidak percaya ke arah layar ponselnya. Masih tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya. Seorang Jonghyun mengatakan ‘saranghaeyo’, dengan embel-embel ‘neoman’. Dan sebuah senyuman pun menghiasi bibir Hyunmi kembali.

“Neoman saranghae-do Kim Jonghyun,”

***

Seorang laki-laki turun dari pesawat yang baru saja mendarat di Incheon Airport. Ponsel masih setia menempel di kupingnya membicarakan suatu hal penting. Laki-laki paruh baya bertubuh tegap itu melangkahkan kakinya memasuki sebuah taksi yang terparkir di depan bandara. Sebuah senyuman melengkung di bibirnya ketika mendengar jawaban dari seberang teleponnya.

“Kau tahu dimana ia kerja dan tinggal ?”

‘…..’

“Kirimkan semuanya hari ini juga,” balas laki-laki itu dingin kemudian menutup telepon dari sekretarisnya.

Ia menatap setiap deretan gedung yang ada di depan matanya. Sudah hampir 15 tahun ia tidak kembali ke negeri ginseng itu karena sibuk mengurus pekerjaannya di Amerika. Sekarang ia kembali ke korea untuk mencari seseorang yang akan meneruskan kembali bisnisnya. Sekaligus mencari seorang lainnya yang sudah berhasil membuat perusahaannya hampir bangkrut.

***

Jonghyun membuka matanya dan menatap ke sekeliling dimana seluruh kaca mobilnya berembun. Ia menguap lebar seraya meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Perlahan ia mengangkat tangannya lalu mengukir beberapa nama di kaca yang berembun itu. Semua yang dilakukan Jonghyun membuat dirinya tersenyum sendiri.

Konsentrasi menulis di atas embun itu buyar karena ponselnya yang tiba-tiba berdering. Jonghyun menoleh dan melihat sebuah tanda pesan masuk. Ia meraih ponsel miliknya kemudian membuka pesan yang baru masuk itu.

From : Lovely Hyunmi

Jonghyun !! Hari ini aku akan ke Daegu . .

Appa sedang sakit L

Jangan khawatir, kerjakan urusan di kantor dengan baik

Mungkin aku seminggu disana, Don’t miss me ara ? kkkk

Kening Jonghyun berkerut membaca pesan dari istrinya itu. Ke Daegu ? Itu berarti ia tidak akan dapat ‘jatah’ lainnya selama seminggu ini. Padahal ia mau membuat kejutan untuk Hyunmi saat pulang nanti. Sayangnya ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Andai saja ia bisa cuti lagi.

“Haish, Jonghyun-ssi,” Jonghyun menoleh ke kanan dan sedikit merendahkan kepalanya untuk melihat seseorang yang baru saja mengetuk kaca mobilnya. Ia melihat Yoona berdiri sambil menutupi kepalanya dari hujan rintik yang tiba-tiba turun. Sontak Jonghyun membuka kunci pintu mobilnya dan membukakan pintu untuk Yoona dari dalam.

“Uh, kamsahamnida,” seru Yoona sopan setelah duduk di dalam mobil. Yoona sibuk memindahkan barang-barangnya ke jok belakang dan bersiap dengan memasang seat belt.

“Kajja,” ajak Yoona tapi malah membuat Jonghyun mengernyit heran.

“Kemana ? Mobilku mogok, aku harus cari bantuan dulu,” balas Jonghyun tenang dan berhasil membuat wajah Yoona memerah seketika.

Jonghyun keluar dari mobil lalu berdiri di sisi jalan menunggu mobil lain yang lewat. Tidak butuh waktu lama karena beberapa menit setelah ia berdiri, sebuah mobil pick up kecil menghampirinya. Sopir mobil itu sedikit mengeluarkan kepalanya dan menatap Jonghyun dari bawah hingga ujung kepala. Jonghyun yang menyadari tatapan sopir itu pun ikut menunduk, memperhatikan penampilannya sendiri. Kemeja yang digulung sampai siku dan sudah keluar dari dalam celana.

“Kau butuh tumpangan anak muda ?” tanya sopir mobil itu, membuat Jonghyun mendongak menatapnya

“Ah ne,” jawab Jonghyun. Sopir itu pun memiringkan kepalanya menyuruh Jonghyun naik ke bagian terbuka mobil itu.

“Aku bisa mengantarmu sampai terminal bus,” tambah sopir itu meyakinkan. Jonghyun mengangguk semangat dan berlari kembali ke mobilnya

“Ayo turun, kita bisa pulang sekarang,” seru Jonghyun seraya mengambil jas dan ponselnya yang ada di dalam mobil. Yoona memperhatikan Jonghyun yang terlihat semangat untuk segera kembali ke seoul. Dengan langkah malas ia ikut keluar dari dalam mobil Jonghyun dan naik ke bagian belakang mobil laki-laki tua itu.

Selama perjalanan, Jonghyun terus bernyanyi kecil mengikuti alunan lagu yang di dengarnya melalui headset. Sedangkan Yoona sibuk membereskan map-map yang dibawanya. Sesekali gadis itu melirik ke arah Jonghyun dan memandang wajahnya dari samping. Ia merasa kesal karena Hyunmi sudah mendahuluinya menikah dengan Jonghyun. Harusnya ia masih punya banyak kesempatan dekat dengan laki-laki di sebelahnya saat itu. Atau mungkin ia harus gunakan cara lain agar Jonghyun tidak memikirkan Hyunmi lagi.

***

@Daegu

Hyunmi memandang khawatir kondisi ayahnya yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Dokter sudah memeriksa kondisi tuan Kim dan keadaannya semakin memburuk. Dokter mengatakan bahwa tuan Kim hanya sedikit shock karena suasana di kantor yang semakin menurun. Tapi melihat keadaan ayahnya yang seperti itu, Hyunmi tidak yakin kalau penyakitnya hanya sedikit shock.

“Hyunmi,” panggil Ji Kyo membuat Hyunmi sedikit menoleh ke belakang. Hyunmi membenarkan posisi berdirinya yang bersandar di pintu dan berbalik menghadap Ji Kyo.

“Kau bisa tidur sekarang. Biar aku yang menjaga appa,” Ji Kyo menepuk pelan pundak adiknya itu kemudian duduk di samping tempat tidur tuan Kim.

“Dimana eomma ? Kenapa sampai jam segini ia belum pulang ?” tanya Hyunmi dengan menyelipkan nada khawatir di setiap katanya. Ia melirik jam kecil yang ada di dekat Ji Kyo lalu perlahan mendekati kakaknya.

“Eomma masih sibuk mengurusi kantor,” jawab Ji Kyo setenang mungkin. Tapi Hyunmi menyangkal dalam hatinya. Ia yakin terjadi sesuatu di kantor milik ayahnya, tapi ia tidak tahu hal itu.

“Ada apa sebenarnya ? Kenapa appa bisa sampai seperti ini ? Dan tidak mungkin eomma mengurus kantor, sekarang sudah jam 11 malam eonni,” desak Hyunmi seraya duduk di sebelah Ji Kyo.

Ji Kyo menggeleng pelan dan memegang tangan ayahnya lembut, “Tidak ada apa-apa Hyunmi. Hanya keadaan kantor yang semakin memburuk,” jawabnya.

Entah kenapa Hyunmi masih belum percaya akan apa yang sudah di katakan Ji Kyo. Hyunmi merasa semua orang masih menganggapnya seperti anak kecil dan tidak pantas mengetahui masalah sebenarnya. Mungkin ia harus mengecek sendiri keadaan kantor ayahnya.

Setelah kepulangan ibunya, ia langsung melesat ke kantor tanpa menunggu hari berikutnya. Keadaan kantor tuan Kim sangat berada jauh diluar bayangan Hyunmi. Saat sampai disana, ia bahkan tidak menemukan siapapun yang bisa di tanya tentang keadaan kantor saat itu. Tidak ada lagi nama perusahaan ayahnya yang dulu terpajang di depan gedung. Bahkan pintu utama masuk ke dalam gedung pun terkunci. Tidak ada akses masuk ke dalam gedung. Dan ia sudah bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi, perusahaan ayahnya bangkrut.

Entah bagaimana mendeskripsikan perasaan Hyunmi saat itu. Sedih, kecewa, heran, ia bisa merasakan semuanya sekaligus. Hyunmi menatap layar ponselnya beberapa saat sampai akhirnya memutuskan untuk menelepon Jonghyun. Mungkin laki-laki itu bisa menjelaskan penyebab perusahaan ayahnya menjadi bangkrut seperti itu.

***

Hyunmi menyesap coklat hangat miliknya seraya menunggu jawaban yang keluar dari mulut Jonghyun. Café yang mereka duduki baru saja buka ketika Jonghyun datang untuk memenuhi panggilan Hyunmi. Dan sekarang Jonghyun tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan wanita di depannya.

“Semuanya sudah tidak ada. Seperti gedung yang baru jadi, tidak ada pegawai satu pun, dan lebih parah lagi, tidak ada security lagi,” jelas Hyunmi menambahkan pertanyaannya tadi. Jonghyun membenarkan posisi duduknya lalu menopang dagu di atas meja.

“Kemungkinan ada yang membeli seluruh saham ayahmu dan menjadikannya kantor baru. Bisa juga kantor ayahmu bangkrut karena kehilangan beberapa proyek besar. Atau mungkin karena memang keadaannya sudah buruk dan semakin buruk karena para pegawai mengundurkan diri. Entahlah, banyak kemungkinan yang bisa terjadi Ms.Kim,” jawab Jonghyun sesuai yang bisa dipikirkannya saat itu.

Hyunmi menaikkan sebelah alisnya heran. Mungkin ia sebaiknya tidak tahu daripada harus terpikir tentang masalah itu. Ia bahkan belum tidur semalaman hanya karena memikirkan masalah yang menimpa kedua orangtuanya.

“Sepertinya aku harus kembali ke Seoul. Ji Kyo eonni dan eomma masih bisa mengurus appa. Aku harus mencari tahu tentang masalah ini,” Hyunmi menyesap coklat hangatnya sekali lagi dan segera menarik Jonghyun keluar dari sana.

“Ya ! Kita mau kemana ?” tanya Jonghyun sambil berusaha melepaskan tangan Hyunmi. Langkahnya terhenti ketika sampai di samping mobil.

“Jonghyun, cepat nyalakan mobilnya. Omo, kenapa –,” rasa panic Hyunmi berubah ketika Jonghyun merengkuh bibirnya lembut.

“Calm down, sweety. Aku akan bantu kau mencari tahu dan menyelesaikan masalah ini. Itulah gunanya aku, ada di sampingmu, ara ?” seru Jonghyun, memegang kedua tangan Hyunmi lembut. Hyunmi hanya bisa mengangguk karena masih shock akan apa yang dilakukan Jonghyun tadi.

“Masuklah. Kita datangi pengacara terbaik yang ada di Seoul,” Jonghyun mengacak rambut Hyunmi lembut kemudian mendorong gadis itu pelan masuk ke dalam mobil.

***

Entah kenapa, hari itu Insa merasa bahwa dirinya kesepian. Melihat Hyunmi tidak duduk di sampingnya lagi. Kali ini ia merasa benar-benar bersalah karena sudah menyalahkan Hyunmi. Tidak seharusnya ia mengatakan seperti itu pada sahabatnya sendiri.

“Insa-ssi ?” Insa mendongak dari tatapannya pada meja kerja Hyunmi. Ia melihat Jonghoon tengah menatapnya, dengan sebelah alis terangkat dan menunjuk ke arah tempat dimana Hyunmi biasa duduk.

“Kemana lagi gadis itu ?” tanya Jonghoon. Insa mengendikkan bahu asal kemudian memandang layar komputernya lagi.

“Kau tidak tahu kemana ia pergi ? Atau kabarnya mungkin ?” tanya Jonghoon seraya menopang dagunya di atas pembatas meja kerja. Insa mengacak rambutnya tiba-tiba. Ia berdiri dari kursinya dan menatap Jonghoon dengan jarak yang sangat dekat.

“Jangan pernah bicarakan dia lagi. Get off !” Insa mendorong Jonghoon menjauh dari meja kerjanya. Mood Insa berubah drastis karena pertanyaan Jonghoon tentang Hyunmi. Ia meraih tasnya dan menerobos Jonghoon untuk keluar dari sana.

Kali ini Insa merasa penyesalannya tadi sia-sia. Ia tidak akan pernah menyesal membentak Hyunmi seperti kemarin.

Pemikiran itu berhasil membuat air mata Insa terbendung. Kalau ia boleh jujur, ia sangat tidak mau persahabatannya hancur hanya karena Jonghoon. Tapi sungguh, baru kali ini ia merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta. Ia hanya mau menjaga Jonghoon, agar tidak menyukai wanita lain sebelum pernikahan mereka. Hanya itu, tapi Jonghoon bahkan tidak pernah menyinggung soal pernikahan itu. Ketika ada kesempatan mengobrol berdua, Jonghoon malah membicarakan Hyunmi.

“Aku akan mulai membencimu Hyunmi. Kau selalu merebut apa yang seharusnya jadi milikku. Kau harus merasakan apa yang aku rasakan sekarang,” gumam Insa pelan seraya mengusap air matanya  yang sudah turun dengan ujung kemejanya.

 

“Harus”

 

-to be continued-

9 thoughts on “[FanFic] Curse Marriage (5th part)

  1. Akhirnya ff fav q nich keluar juga……makin seru critanya…insa jahat,jd gag suka aq ma kamu…ok thor next part jangan lama2 ya😀
    Fighting thor!!!

  2. wuuaah…
    hanya krna mslh cinta, hub pershbtan t’ancam merenggang….
    tpi, lucu liat psangan jonghyun n hyunmi, makin mesra aja.. kekeke…
    pengen tau kelanjutan crta’a ni. . .

    smgat ya author… ^^

  3. insa ku berubah, hnya karena percintaan..
    jonghoon sadarlah hyunmi itu sudah menikah…

    sbnarnya say msh penasaran knpa hyunmi dan jjong bisa menikah scra m’dadak sprti itu…

    ayo author, lanjuuuuutkaannn…
    fighting… ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s