[FanFic] Curse Marriage (4th Part)

Title       : Curse Marriage

Author  : Ima Shineeworld

Cast       : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

Other    : Choi Jonghoon (FTI), Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD)

Rating   : PG+15

Genre   : Comedy, Romance, Angst

—-

‘Wae ? Jeongmal ? Kenapa kau malah meneleponku ? Bukan melayani sikap ‘liarnya’ ?’ Hyunmi mengernyit mendengar tekanan nada Insa di bagian terakhir ucapannya. Ia menepuk kening sendiri, pasti sahabatnya itu memikirkan arti lainnya.

“Aniyo Insa, maksudku – Kyaa !”

Ucapan Hyunmi terputus karena Jonghyun sudah membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Hyunmi segera mematikan telepon Insa dan menyembunyikan ponsel itu ke bawah bantal. Jonghyun semakin mendekat, tapi terhenti ketika sebuah dering ponsel berbunyi. Hyunmi berdoa semoga bukan dering ponsel miliknya atau dia akan benar-benar tamat malam itu.

“Uh, mengganggu saja,” gerutu Jonghyun. Ia meraih ponselnya di atas meja dan beranjak ke balkon kamar. Melihat laki-laki itu mengobrol dengan serius, Hyunmi segera merebahkan diri. Mencoba memejamkan mata agar Jonghyun tidak mengganggunya lagi.

***

Tidur Jonghyun terganggu karena Hyunmi menggoyangkan tempat tidur yang serasa baru ditidurinya. Matanya terlalu berat untuk terbuka sedikit saja. Hampir semalaman ia menerima telepon dari Tiffany, mendengarkan curhat gadis itu. Sekitar jam 3 pagi ia baru menutup telepon dari Tiffany.

“Jonghyun-ssi, ayo kita sarapan,” ajak Hyunmi. Jonghyun membalikkan tubuhnya menghadap balkon, tapi matanya malah tertimpa sinar matahari. Akhirnya ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

“Baiklah, aku sarapan sendiri di bawah,” Hyunmi menghela napas sejenak kemudian menjauh dari tempat tidur.

Jonghyun mencoba tidur lagi setelah Hyunmi benar-benar sudah keluar dari kamar hotel. Tapi entah kenapa, walaupun matanya mengantuk, perasaan gelisah menyelimuti hatinya. Mungkin karena ia ditinggal sendirian, atau mungkin karena Hyunmi sarapan sendirian di restoran hotel. Jonghyun membuka selimutnya kasar, mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Ms.Kim, You’re annoyed,” laki-laki itu beranjak turun dari tempat tidur.

Setelah mencuci muka dan berganti baju, Jonghyun segera keluar kamar hotel kemudian menyusul Hyunmi di restoran hotel. Ia bisa melihat gadis itu tengah duduk di sudut restoran sambil mengaduk-aduk nasi goreng di piringnya. Jonghyun berlari kecil dan duduk di hadapan Hyunmi, membuat gadis itu mendongak dari piringnya.

“Wae ? Kau bilang masih ngantuk,” tanya Hyunmi heran. Sedangkan Jonghyun malah merapikan rambutnya tanpa mempedulikan pertanyaan Hyunmi.

“Ya~ ! Kim Jonghyun,”

“Ng ?” Jonghyun menurunkan tangannya dari rambut, ia menopangkan tangannya ke atas meja, “Aku gelisah, entahlah, takut kau malah keluar hotel dan diganggu laki-laki aneh lagi,”

“Mwo ? Takut atau cemburu ?” goda Hyunmi seraya mengacungkan sendok makannya ke arah Jonghyun. Laki-laki itu segera menurunkan sendok yang berada tepat di depan wajahnya.

“Aku hanya takut. Aku bisa dibunuh kedua orangtuamu kalau tidak membawamu kembali ke korea dengan utuh,” Jonghyun merebut piring Hyunmi dan mulai memakan nasi goreng yang ada. Hyunmi menggumam kesal, tapi sedetik kemudian ia memberhentikan gumamannya. Menatap Jonghyun yang tengah menyodorkan satu sendok nasi goreng ke arahnya.

“Open your mouth, please,”

Dengan sedikit enggan Hyunmi membuka mulutnya, menerima suapan nasi goreng dari Jonghyun. Berkali-kali seperti itu sampai nasi goreng di piring mereka habis. Keduanya langsung bersandar di kursi, merasakan perut mereka yang sudah terisi penuh.

“Hari ini kau akan membawaku kemana lagi ?” tanya Hyunmi sambil meminum orange juice miliknya. Jonghyun terhenyak, ia berpikir seraya berpikir mencari tempat terbaik di saipan.

“Parasailing ? Atau Banana boat ? Kau mau ?” tanya Jonghyun. Hyunmi mendongak, mencoba membayangkan parasailing dan banana boat.

“Sangat mau Jonghyun-ssi,” jawabnya cepat.

***

Jonghyun berdiri di samping boat yang akan membawa kedua orang itu ke tengah laut, sementara Hyunmi berganti baju di toilet. Laki-laki itu hanya memakai celana pendek selutut dan pelampung sebagai atasannya. Sedangkan Hyunmi, entahlah, Jonghyun berharap kalau gadis itu memakai pakaian renang sesuai keinginannya.

“Ya !” Jonghyun menoleh ke arah suara melengking Hyunmi yang sudah berdiri tidak jauh darinya. Ia menatap Hyunmi yang masih menggunakan kemeja besar yang tadi dipakainya, tapi tanpa memakai celana pendek karena kemeja itu cukup menutupi sampai pahanya.

“Wae ?” tanya Jonghyun bingung. Gadis itu melangkah mendekati Jonghyun dengan kesal.

“Kau menyuruhku memakai bikini eh ?” Hyunmi sedikit mendongak menatap Jonghyun. Sedangkan laki-laki yang di tanyanya hanya tertawa kecil lalu mengacak rambut Hyunmi yang masih di kuncir.

“Ne, banyak yang memakai bikini disini. Kenapa kau tidak mau ?”

Hyunmi mengacak rambutnya sendiri, ia seperti orang bodoh. Dipermainkan Jonghyun seperti itu, dan ia menyesal karena tidak membawa baju renang karena laki-laki itu bilang sudah membelikannya baju renang. Kalau tahu baju renang yang di maksudnya adalah bikini, ia akan membawa baju renang sendiri.

“Mana pelampungnya. Aku tidak akan melepas kemeja yang kupakai,” Hyunmi meraih pelampung yang ada di atas boat.

“Jangan harap aku akan memakainya di depanmu, dasar mesum,” seru Hyunmi lalu memakai pelampungnya. Jonghyun hanya diam, mencerna semua ucapan gadis itu. Belum sempat ia mencelanya, Hyunmi sudah menarik tangan Jonghyun naik ke atas boat.

Selama perjalanan ke tengah laut, kedua orang itu duduk berseberangan tanpa membuka pembicaraan. Keduanya sibuk memperhatikan pesisir yang semakin menjauh dari pelupuk mata mereka. Hyunmi menoleh ke arah Jonghyun, bersamaan dengan laki-laki itu juga.

“Mwoya ?” ancam Hyunmi.

“Tch, kau tahu ? Neul Rin yang membelikan bikini itu. Ia bilang kalau kau akan bagus memakainya,” ujar Jonghyun mencoba menyambung dengan masalah tadi. Ucapan Jonghyun membuat Hyunmi mengernyit, Neul Rin, kenapa gadis itu mencampuri urusan pernikahannya. Bahkan ia sendiri tidak pernah menghubungi Minho sejak pernikahan Neul Rin dan laki-laki itu. Dan entah kenapa ia tidak suka mendengarnya.

“Tidak usah membahas masalah ini lagi. Aku tidak akan memakai bikini itu,” sergah Hyunmi sambil berjalan ke bagian depan boat. Baru saja ia melangkah ketika boat itu berguncang, membuat tubuhnya sedikit terpelanting. Tapi dengan cepat Jonghyun meraih tangan Hyunmi dan menariknya ke dalam pelukannya.

“Aish, lepas,” Hyunmi mendorong Jonghyun lalu bangkit ke depan boat itu.

Boat yang mereka tumpangi pun akhirnya sampai di tengah laut, tempat untuk memulai parasailing. Dan parasailing itu pun dimulai. Hyunmi masih diam saja, membiarkan tubuhnya terangkat oleh parasut yang mengembang di atasnya. Bersamaan dengan angin yang menghembus ke arahnya, ia mencoba mengenyahkan Neul Rin dan Minho dari pikirannya. Kau tidak boleh membenci mereka Hyunmi, batinnya.

***

Jonghyun memandang Hyunmi yang sedari tadi hanya diam memandangi makan siangnya. Ia berusaha untuk mengajak gadis itu menatapnya sebentar saja. Restoran itu cukup ramai untuk membuat Hyunmi tersadar dari lamunannya. Jonghyun menatap sebuah piano yang ada di atas panggung kecil di sudut restoran itu.

“Ms.Kim, watch me,” Jonghyun beranjak dari kursinya dan menghampiri piano klasik itu. Sebelum memainkannya ia meminta izin pada salah satu pelayan yang ada.

Hyunmi memperhatikan bagaimana laki-laki itu duduk di belakang piano. Mulai menarik napas panjang dan menjetikkan jemarinya di atas tuts piano.

Jonghyun tersenyum ke arah Hyunmi dari balik microphone yang menutupi mulutnya. Hyunmi menundukkan kepalanya karena semua orang yang ada di restoran itu sudah beralih menatapnya.

“Ssh, kau memalukan Jonghyun,” gumamnya pelan.

Your perfume, sexy lingerie

Girl I remember it just like it was on yesterday

A Thursday you told me you had fallin’ in love

I wasn’t sure that I was

Hyunmi mendongak memandang Jonghyun. Entah kenapa Hyunmi malah mengingat ketika mereka di bukit, ia mengingat Minho tanpa memikirkan perasaan Jonghyun. Dan karena itu laki-laki itu memeluknya, mencoba mengatakan bahwa ia ada di sampingnya sekarang. Bukan Minho lagi.

I’ts been a year, winter, summer, spring, and fall

But being without you just ain’t living, ain’t living at all

If I could travel back in time

I’d relieve the days you were mine

Entah sejak kapan Hyunmi menikmati alunan indah piano dan suara Jonghyun. Ia merasa hatinya ikut terbawa ke dalam lagu itu. Satu hal, ia tidak pernah tahu kalau Jonghyun punya suara bagus seperti itu.

That without you girl

My life is Incomplete. .

Jonghyun mengakhiri lagu yang dinyanyikannya dengan tepuk tangan meriah dari para tamu yang hadir. Ia berdiri dari kursi di belakang piano itu dan membungkukkan badannya sopan. Sekilas ia melihat Hyunmi tengah bertepuk tangan juga dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.

“Bagaimana ?” tanya Jonghyun seraya duduk kembali di hadapan Hyunmi.

“Yeah, kau membuatku malu Jonghyun-ssi,” jawab Hyunmi, mencoba menghindari kontak mata dengan laki-laki itu.

“Ahni, maksudku penampilanku tadi. Bagus atau tidak ?” tanya Jonghyun.

“Ne-ne, bagus,” jawab Hyunmi sambil menghela napas panjang. Ia kira Jonghyun benar-benar tulus menyanyi untuknya.

“Wae ? Jangan menunduk terus, ayo makan,” Jonghyun mengacak rambut Hyunmi lembut dan meneruskan makan siangnya. Sedangkan Hyunmi masih sibuk merutuki dirinya sendiri, ia masih sibuk menormalkan detak jantungnya yang tidak berguna sama sekali. Toh laki-laki itu tidak menyanyi untuknya.

“Ah iya, kita ke toko souvenir dulu, Neul Rin minta aku membelikannya gelang di saipan,” tambah Jonghyun sontak membuat Hyunmi mendongak menatapnya. Lagi ? batinnya.

Entah kenapa nafsu makan Hyunmi hilang begitu saja. Ia mendorong piringnya menjauh dan keluar dari restoran tanpa menunggu Jonghyun. Dengan cepat ia berjalan menjauh dari restoran itu, tidak peduli teriakan Jonghyun di belakangnya.

“Ya ! Ms.Kim ! Chankaman !” teriak Jonghyun.

Hyunmi menghiraukan panggilan Jonghyun, sampai tiba-tiba tangannya di tarik oleh laki-laki itu. Ia sedikit berbalik menghadap Jonghyun, tanpa mau menatapnya.

“Kenapa pergi tiba-tiba huh ?” tanya Jonghyun dengan sedikit terengah. Hyunmi berbalik dan menatap Jonghyun sambil sedikit menaikkan alisnya.

“Ah, atau kau tidak suka aku menyebut nama Neul Rin ?” tebak Jonghyun sesuai dengan apa yang dirasakan Hyunmi.

“Tch, untuk apa aku tidak suka mendengarnya ? Aku mau pulang, kau sendirian saja ke toko souvenirnya,” Hyunmi menyingkirkan tangan Jonghyun dan berlalu meninggalkannya.

Kening Jonghyun berkerut melihat Hyunmi berlari meninggalkannya menghilang di persimpangan jalan. Sikap gadis itu selalu membuatnya bingung, terkadang baik tapi sedetik kemudian berubah lagi. Mungkin ia hanya belum bisa melupakan sakit hatinya, batin Jonghyun.

***

Hyunmi membanting pintu kamar hotel dengan keras. Ia memerosotkan tubuhnya di balik pintu, membiarkan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang hatinya terasa lagi. Entah kenapa penyesalan selalu datang di akhir, ia merasakannya sekarang. Kehilangan Minho, laki-laki kedua yang di cintainya di kehidupannya selama ini. Ia rasa dirinya sudah gila karena masih memikirkan hal setahun yang lalu.

“Dan kenapa semua orang yang kukenal, berdekatan dengan Neul Rin ? Termasuk si pendek itu,” gumam Hyunmi kesal. Ia merasakan sakit di hatinya semakin menjadi-jadi ketika ingat kata-kata Jonghyun tadi.

“Ah damn ! Lebih baik aku tidur daripada harus mengingatnya,” Hyunmi bangkit dari belakang pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar.

Baru saja Hyunmi merebahkan diri ketika ponselnya berdering. Hyunmi segera meraih ponselnya dari dalam tas tangannya –yang sudah tergeletak di atas di tempat tidur karena gadis itu membantingnya. Ia mengangkat ponsel itu ke depan wajahnya dan melihat nama yang tertera.

“Yeoboseyeo ?” seru Hyunmi seraya menempelkan ponsel itu ke telinganya.

‘Kyaa ! Hyunmi-ya ? Ottokhae ? Lusa kau sudah pulang, awas kalau belum ada tanda-tanda aku akan dapat keponakan. Otte otte ?’ pertanyaan Insa terdengar cukup keras walaupun Hyunmi sudah menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Setelah mendengar tidak ada suara –memekakkan telinga itu lagi, Hyunmi kembali menempelkan ponselnya.

“Haish, kenapa kau cerewet sekali huh ? Mollayo, jangan tanya aku tentang hal itu,” Hyunmi duduk di samping tempat tidur dan memijat keningnya.

‘Kau tahu ? Yoona selalu menanyakanmu, dan pandangannya tidak pernah mau lepas dari ruangan Jonghyun. Haha, kurasa ia mengkhawatirkan kalian,’ terdengar suara kekehan Insa, membuat Hyunmi mengernyit heran.

“Ah iya, bagaimana pernikahanmu itu ? Kau jadi menerimanya ?” tanya Hyunmi seraya bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar. Ia beranjak ke dapur untuk mengambil minum.

‘Sssh, aku lupa memberitahumu. Mereka menjodohkanku dengan Jonghoon !! Haha ! Mimpi apa aku huh ? Dan mulai sekarang aku akan melakukan pendekatan dengannya sebelum menikah,’ seru Insa merubah nada bicaranya menjadi lebih riang. Hyunmi menempelkan ponsel itu di antara bahu dan telinganya sementara kedua tangannya memegang gelas dan botol air.

“Tch, dunia ini terasa sempit. Kau malah menikah dengan atasan kita sendiri,” Hyunmi meminum gelas yang sudah diisinya dan tangannya kembali memegan ponsel.

‘Ya ! Kau juga menikah dengan atasan kita. Jonghyun,’ balas Insa dengan menekankan nada di nama Jonghyun.

“Tch, kenapa selalu menyambungkannya dengan Jonghyun ? Ah iya. . .”

Obrolan kedua sahabat itu terus berlanjut selama 2 jam. Sakit yang dirasakan Hyunmi perlahan-lahan menghilang karena sahabatnya itu selalu berhasil membuatnya tertawa. Bahkan ia sampai lupa kalau Jonghyun masih ada diluar sana.

“Ne, annyeong !!” seru Hyunmi semangat kemudian menutup telepon sahabatnya. Ia merasakan telinganya sudah sangat panas karena menerima telepon dari Insa. Dan ia juga baru sadar kalau Jonghyun belum pulang.

“Kemana laki-laki itu ?” Hyunmi beranjak menaruh gelasnya di tempat cuci piring. Tatapannya terus mengarah pada ponsel yang masih ada di genggamannya. Bagaimana kalau Jonghyun mendapat masalah diluar sana ? Atau kecelakaan ? Ahni-ahni, batin Hyunmi seraya menggelengkan kepalanya cepat.

Telepon, tidak, telepon, tidak. Lagi-lagi Hyunmi menimbang-nimbang keputusannya, tapi ia harus menelepon Jonghyun atau ia akan terus penasaran seperti itu. Akhirnya, setelah rasa khawatir mengalahkan perasaan gengsinya, Hyunmi menekan panggilan cepat di ponselnya.

“Ya ! Neo odiseoyo ?” tanya Hyunmi dengan nada tinggi ketika Jonghyun mengangkat teleponnya.

‘Ms.Kim, t-tolong aku. .’ rintih Jonghyun. Hyunmi merasakan bulu kuduknya meremang mendengar suara Jonghyun yang terdengar menahan rasa sakit.

“W-wae ?” tanya Hyunmi lagi, kali ini dengan nada khawatir.

‘Aku ada di pinggir pantai dekat hotel. P-palli iriwa,’ Jonghyun masih saja merintih membuat Hyunmi memucat tanpa di sadari. Bagaimana kalau jonghyun dibalas laki-laki yang kemarin menggangguku ? Bagaimana kalau ia datang bersama teman-temannya juga ?

“N-ne, aku datang sekarang,” balas Hyunmi panic dan segera berlari keluar kamar hotel tanpa membawa apapun lagi.

***

Hyunmi melepas sepatu flatnya dan berlari di pesisir pantai. Matanya memutar mencari keberadaan Jonghyun. Ia merasa beruntung karena pantainya sepi, jadi tidak susah untuk mencari seorang Jonghyun. Ia membalikkan tubuhnya ke arah sebuah suara, suara yang hanya dimiliki Jonghyun tentunya.

“Ya !” sentak Hyunmi, ia berjalan ke arah Jonghyun yang tengah melipat tangan di depan dada.

“Neo gwenchana ? Mana yang terluka, mana yang sakit,” Hyunmi memutar-mutar tubuh Jonghyun seraya mencari-cari luka atau apapun itu yang membuat Jonghyun merintih seperti tadi.

“Wae ? Nan Gwenchana,” Jonghyun meluruskan sikap tubuh Hyunmi yang masih saja memutar tubuhnya.

“Jangan bilang kau mengerjaiku lagi Jonghyun,” selidik Hyunmi sedikit kesal.

“Ahni, aku –,”

“Kau mengerjaiku lagi huh ?” desak Hyunmi, ia semakin mendekat ke arah Jonghyun dan terus menatapnya lekat.

“Ne, aku memang mengerjaimu. Agar kau mau datang kesini, aku sudah menyiapkan semuanya dan kau  pasti tidak akan datang kalau aku tidak meringis seperti tadi eh ?” tanya Jonghyun, mendorong kepala Hyunmi pelan menjauh dari wajahnya.

“Tch, aku pulang saja,” Hyunmi beranjak dari hadapan Jonghyun, tapi langkahnya terhenti ketika tangan Jonghyun mencegahnya.

“Ayo ikut,” tanpa menunggu jawaban gadis itu, Jonghyun sudah menarik tangan Hyunmi. Mereka berjalan di pesisir menuju sebuah karang besar, tempat Jonghyun membuat kejutannya.

“Apa yang kau lakukan Jonghyun !! Lepaskan !!” Hyunmi memberontak mencoba melepaskan genggaman Jonghyun. Tapi percuma, karena mereka berdua sudah sampai di tempat kejutan itu. Jonghyun melepas genggaman tangannya.

“Sudah aku lepas. Kau mau apa sekarang ?” tanya Jonghyun sambil tersenyum tipis meledek Hyunmi.

“Apa yang sudah kau buat memangnya ?” tanya Hyunmi penasaran juga.

Jonghyun sedikit menggeser tubuhnya, membuat Hyunmi bisa melihat kejutan yang sudah dibuat Jonghyun. Tidak istimewa, tidak membuat Hyunmi tercengang lagi, kali ini malah membuat Hyunmi mengernyit heran.

“Ige mwoya ?” Hyunmi mendekati kejutan yang dibuat Jonghyun, menelisik setiap sudutnya.

“Tenda. Kita menginap disini malam ini,” jawab Jonghyun, ia mendekati Hyunmi dan melipat pintu tenda itu ke atas.

“Masuklah,” seru Jonghyun dan Hyunmi malah mengintip dari luar.

“Kau yakin ? Kita berdua cukup masuk di dalam sana ?” Hyunmi memandang sekali lagi tenda itu. Hanya berbentuk kerucut biasa, kecil dan bahkan tidak cukup untuk tinggi kedua orang itu.

“Jangan banyak tanya, ayo masuk dulu,” Jonghyun masuk lalu duduk bersila di dalamnya. Dengan ragu Hyunmi mulai masuk dengan merangkak ke dalam tenda.

Keduanya diam setelah duduk berdua di dalam tenda. Langit-langit sudah mulai gelap karena matahari yang sebentar lagi tenggelam dan juga cuaca yang sedikit mendung. Hyunmi merasa beruntung karena tidak harus melihat sunset dan mengingat kejadian pahit itu lagi.

“Ms.Kim, apa kau sadar kalau pernikahan kita ada sangkut pautnya dengan peramal itu ?” tanya Jonghyun memecah keheningan yang ada. Hyunmi tertegun, ia menarik napas panjang sementara pikirannya memutar kembali kejadian yang selama hampir 2 bulan menimpanya.

“Entahlah, aku tidak mau percaya. Tapi ini terlalu aneh, dan entah kenapa aku jadi ingat kata-kata peramal itu,” jawab Hyunmi seraya menoleh ke arah Jonghyun.

“Kata-kata ?” tanya Jonghyun heran.

“Kita saling benci awalnya, dan peramal itu menyuruh kita menghapus rasa benci itu kan ? Tapi kita berdua tertawa dan ketika bangun esok paginya, aku malah sudah menemukanmu tidur di sampingku. Tidak, bukan esok paginya tapi 2 minggu kemudian,” jawab Hyunmi. Gadis itu kembali menatap keluar tenda.

“A~h, araseo. Dan aku pikir pernikahan ini semacam kutukan ? Atau mungkin hukuman karena kita saling benci ‘dulu’ ?”

“‘Dulu’ ? Kau kira sekarang aku menyukaimu huh ?” tanya Hyunmi sedikit terkekeh. Tapi kata-kata Hyunmi tidak membuat Jonghyun ikut terkekeh.

“Bagaimana kalau rasa benci itu tidak ada lagi ? Apa kita akan berpisah ?”

“Eh ?” Hyunmi menoleh dengan cepat karena mendengar pertanyaan aneh Jonghyun. Ia menatap laki-laki itu heran, bingung, dan aneh. Tatapan mata Jonghyun terlihat serius, lurus, dan penuh emosi.

“Aku bercanda,” Jonghyun tertawa kemudian mengacak rambut Hyunmi lembut.

“Ya !” Hyunmi mendorong tubuh Jonghyun membuat laki-laki itu terjengkang ke belakang. Tenda yang mereka tempati pun bergoyang karena Jonghyun mendorong sisi satunya.

“Ya ! Ya !” entah bagaimana ceritanya, Hyunmi ikut terdorong ke depan dan akhirnya terjatuh menindih Jonghyun.

Jonghyun menatap Hyunmi, begitu juga sebaliknya. Beberapa saat mereka terus seperti itu, sampai suara seseorang membuyarkan lamunan mereka berdua. Keduanya saling menjauhkan diri dan melihat keluar tenda.

“Excuse me sir. I’m here to send a few equipments that you’ve order,” laki-laki yang mengganggu Jonghyun dan Hyunmi itu pun membungkukkan badannya kemudian berlalu meninggalkan tenda. Jonghyun keluar dari tenda dan menghampiri sebuah kotak berwarna biru di samping. Ia memeriksa satu persatu isinya, bantal, selimut, korek api, dua botol air, panci kecil, dan satu bungkus ramen. Karena langit sudah mulai gelap, Jonghyun bersiap menyalakan api unggun.

“Ms.Kim, kau bisa bantu aku ?” tanya Jonghyun seraya membawa beberapa potong ranting dan batang pohon kecil ke depan tenda.

“Eh ? Ne-ne,” Hyunmi yang belum sepenuhnya sadar segera keluar dari tenda untuk membantu Jonghyun.

***

Langit sudah berubah menjadi gelap sejak beberapa jam yang lalu. Tapi Hyunmi masih duduk diluar tenda sambil memandangi api unggun yang berkoar di depannya. Ia memainkan ranting yang di pegangnya ke arah api unggun itu. Sekali lagi ia merasa menyesal sudah mengikuti ajakan Jonghyun untuk berkemah disana. Gadis itu bahkan lupa kalau dirinya sendiri phobia ruangan sempit dan gelap. Sedangkan tenda mereka yang tempati hanya di terangi api unggun.

“Mana mungkin aku kembali ke hotel sekarang. Jonghyun sudah tidur, aku tidak bisa minta diantar,” Hyunmi mengerucutkan bibirnya kesal masih sambil memainkan ranting kecilnya.

Gadis itu menekuk lutut dan menopangkan dagunya seraya menatap api unggun itu. Baru saja Hyunmi akan bangkit ketika melihat sesuatu ada di dekat kakinya. Sesuatu yang paling dibenci dan menjijikkan baginya.

“Kyaa !! Pergi kau tikus !!” Hyunmi loncat-loncat mencoba menghindari tikus itu. Ia mengayunkan ranting yang dipegangnya agar tikus itu pergi dari hadapannya.

“Ya ! Go away !! Hush hush,” seru Hyunmi, ia melempar sepatu yang dipakainya dan berhasil membuat tikus itu pergi. Hyunmi menghela napas lega, walaupun jantungnya masih berdebar karena kejadian itu.

Secara tidak sadar, teriakan Hyunmi tadi membuat Jonghyun terjaga dari tidurnya. Ia bangkit dan memandang Hyunmi yang sedang mengelus dadanya pelan. Jonghyun menyembulkan kepalanya lalu menoleh ke arah gadis itu.

“Ya ! Kau mengganggu tidurku Ms.Kim,” gerutu Jonghyun. Ia keluar dari tenda dan meregangkan otot-otot punggungnya karena tidur dengan posisi meringkuk.

Hyunmi menatap Jonghyun sekilas. Ia baru membuka mulutnya untuk membalas ucapan Jonghyun, tapi dengan segera mengatupkannya kembali karena tiba-tiba terlintas ide di pikirannya. Dengan cepat ia duduk di sebelah Jonghyun dan mendekatkan wajahnya.

“Jonghyun, ayo kita kembali ke hotel,” ajak Hyunmi kemudian menjauhkan wajahnya lagi. Jonghyun yang masih belum sepenuhnya sadar mencerna kata-kata yang baru keluar dari mulut Hyunmi.

Laki-laki itu akhirnya sadar dan menoleh dengan cepat ke arah wanita di sebelahnya, “Mwo ?!”

“Kau tahu aku takut gelap dan ruangan sempit kan ? Itulah alasannya kenapa aku tidak bisa tidur,” Hyunmi kembali menatap api unggun itu sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kita tidak bisa kembali ke hotel jam sekarang, kau tidak lihat keadaan gelap disana huh ?” tanya Jonghyun seraya menunjuk ke arah pesisir yang terlihat sangat gelap. Hyunmi bergidik sendiri membayangkan kalau ia harus melewati itu semua.

“Sekarang bagaimana ? Aku tidak akan bisa tidur sampai pagi,” jawab Hyunmi sambil menatap Jonghyun lekat. Ia menelungkupkan wajah ke atas lututnya yang dilipat. Anggap saja ia sudah terjebak dalam 2 pilihan sulit saat itu.

“Tidurlah,” seru Jonghyun sontak membuat Hyunmi mendongak dan mengernyit heran, “Aku akan menjagamu sampai pagi,”

“Jonghyun. Aku tidak akan bisa –,”

Ucapan Hyunmi terhenti karena tiba-tiba sebuah kecupan kilat mendarat di bibirnya. Hyunmi mengerjapkan matanya berkali-kali sampai akhirnya sadar apa yang baru saja terjadi. Dengan segera ia memalingkan wajahnya yang memerah.

“Kau bisa percaya padaku hari ini Ms.Kim,” ujar Jonghyun  sambil memberikan senyuman terbaiknya.

“Bagaimana aku bisa percaya, kalau kau terus mengerjaiku seperti tadi, kemarin, dan hari-hari sebelumnya ?” tanya Hyunmi lagi.

“Trust me,”

Perlahan Jonghyun menarik tangan Hyunmi agar ikut dengannya ke dalam tenda. Hyunmi menarik tangannya dari genggaman Jonghyun, ia masih menatap api unggun di depannya tanpa mau melihat laki-laki itu.

“Kim Hyunmi, ayo tidur atau kau akan sakit sesampainya di Korea nanti,” Jonghyun kembali memegang tangan Hyunmi mencoba meyakinkannya. Dan entah sejak kapan Hyunmi merasa senang ketika Jonghyun menyebutkan namanya dengan lengkap seperti tadi. Baru 2 kali ia mendengar Jonghyun menyebutkan namanya, dan hal itu membuat Hyunmi yakin kalau Jonghyun serius dengan kata-katanya.

Hyunmi akhirnya mengangguk dan masuk ke dalam tenda bersama Jonghyun. Ia duduk di atas matrasnya, seraya berpikir bagaimana caranya tidur di tenda sesempit itu.

“Bagaimana kita tidur disini ?” tanya Hyunmi heran dengan sedikit panic karena rasa takut akan gelap dan kesempitan mulai menyerang otaknya.

“Jangan panik,” Jonghyun menarik tangan Hyunmi dan mendekap tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, “Aku akan menjagamu dengan cara seperti ini. Sekarang tidurlah,”

Jonghyun mulai merubah posisinya menjadi tidur masih sambil mendekap Hyunmi dengan erat. Ia merasakan ketakutan yang di alami Hyunmi sekarang. Apalagi ketika ingat kejadian di lift beberapa minggu yang lalu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana pucatnya wajah Hyunmi sekarang.

“Gomawo Jonghyun-ssi,” gumam Hyunmi pelan sambil tersenyum kecil. Ia hanya bisa berharap semoga Jonghyun tidak mendengar detak jantungnya yang meledak-ledak saat itu. Hyunmi mulai memejamkan matanya, membiarkan alunan lagu yang dinyanyikan Jonghyun mengiringi tidurnya.

Sesange mureup kkulgo nunmul heullilttae

Pokpong sok bal momchulttae geudaeman seo itdamyeon

Ireon apeum gotong jjeum gyeondil su itneun geolyo

Ojik geudaeman

Naege itdamyeon in my life

-SHINee – Life-

Jonghyun mengusap rambut Hyunmi lembut. ingin rasanya ia memeluk tubuh gadis itu selamanya. Sebenarnya alasan ia mengerjai Hyunmi selama ini, hanya untuk mendapat perhatiannya. Agar Hyunmi tertawa, dan kembali seperti dulu lagi ketika mereka pertama kali bertemu. Seorang gadis yang periang, tidak pernah putus semangat, dan selalu tersenyum pada orang di sekitarnya. Semuanya berubah sejak Minho menyakitinya.

“Maafkan Neul Rin, tidak seharusnya ia merebut Minho darimu. Tapi aku yakin, semuanya sudah punya jalan hidup masing-masing. Dan kau memang seharusnya hidup bersamaku Ms.Kim,” ujar Jonghyun tanpa bermaksud membangunkan Hyunmi dari tidurnya.

***

Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya di ujung lautan. Api unggun yang di buat laki-laki itu pun hanya tersisa sedikit kepulan asap. Disaat yang sama salah seorang gadis yang ada di dalam tenda, di bawah karang besar itu pun membuka matanya. Memandang ke arah langit tenda itu dan sadar bahwa hari sudah berganti pagi lagi. Gadis itu mendongak, menatap wajah yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya saat itu. Dan sebuah senyuman pun mengembang di bibirnya.

Perlahan Hyunmi melepaskan tangan Jonghyun yang masih memeluknya. Tapi tidak cukup pelan, karena apa yang dilakukannya membuat Jonghyun ikut terbangun juga. Laki-laki itu mengerjap dan menoleh ke arah Hyunmi seraya tersenyum manis.

“Morning,” sapa Jonghyun, ia bangkit dari tidurnya dan memandang Hyunmi yang masih dalam posisi tidur. Ia menarik Hyunmi agar sama dengan posisinya, duduk di atas matras.

“Atau perlu aku memberimu kecupan selamat pagi huh ?” tawar Jonghyun dengan mengerlingkan sebelah matanya.

“ANDWAE ! Ah –maksudku tidak usah,” Hyunmi membuka resleting yang berfungsi sebagai pintu tenda dan segera bergegas keluar.

Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Udara pagi hari mengisi paru-parunya yang seperti kosong. Semalaman tidur di dalam ruangan sempit. Apalagi di tambah Jonghyun, jelas ia kekurangan oksigen.

“Ayo pulang ke hotel,” ajak Jonghyun kemudian meraih tangan Hyunmi dan menggenggamnya. Dengan cepat Hyunmi menarik kembali tangannya.

“K-kajja,” balas Hyunmi gugup lalu berjalan duluan meninggalkan Jonghyun. Sedangkan laki-laki yang ditinggalkannya hanya tersenyum simpul kemudian menyusul Hyunmi.

***

Pagi itu, seperti biasanya para pegawai tengah sibuk menatap layar computer dan menjentikkan jemarinya di atas keyboard. Tapi ada yang berbeda, dua orang yang sempat menghilang selama seminggu dari sana akhirnya kembali dan memulai rutinitas mereka sebagai pekerja kantoran lagi. Semua pegawai menyapa Hyunmi dan Jonghyun dengan ramah. Seolah mereka adalah orang paling terhormat yang ada di kantor itu.

“Insa-ya !” pekik Hyunmi ketika melihat sahabatnya tengah memainkan sesuatu di ponselnya. Sontak Insa mendongak dan langsung membelalakkan matanya melihat Hyunmi yang berlari ke arahnya.

“Hyunmi-ya !” balas Insa, ia berdiri dari kursinya lalu menyambut pelukan gadis itu. Sangat erat, saling melepas rindu karena selama satu minggu lebih mereka tidak bertemu.

Hyunmi melepas pelukannya kemudian menatap Insa dengan mata berbinar-binar. Tidak lupa gadis itu memberikan senyuman terbaiknya pada Insa. Ia merasa sudah hampir satu tahun tidak bertemu sahabatnya. Bersama Jonghyun di saipan membuat waktunya terasa lama.

“Ceritakan semuanya,” seru Insa lalu mendorong Hyunmi duduk di kursi kerjanya. Ia pun segera menarik kursi yang tadi ia duduki ke hadapan Hyunmi. Menatap gadis itu lekat, sedangkan yang ditatapnya hanya diam tidak mengerti.

“Ceritakan apa ?” tanya Hyunmi pura-pura bodoh, padahal ia tahu kemana arah pembicaraan Insa.

“Tch, jangan berlagak bodoh seperti itu. Ayo ceritakan, apa yang kalian lakukan selama di Saipan,” jawab Insa seolah tahu apa yang dipikirkan Hyunmi. Hyunmi memutar bola matanya menghindari tatapan Insa.

“Ya~ ! Ayo bicara Hyunmi !!” desak Insa seraya mengguncangkan bahu gadis itu. Hyunmi membayangkan ketika Jonghyun memeluknya di dalam tenda, dan sepertinya hal itu membuat wajah Hyunmi bersemu merah.

“Kenapa wajahmu memerah eh ?” tanya Insa heran. Ia maju mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Hyunmi, “Ia romantis huh ?” tanyanya lagi kemudian kembali duduk dengan tenang.

“Sangat romantis. Dan jangan tanya apa yang aku lakukan disana. Yeah, kau tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sedang bulan madu kan ?” jawab Hyunmi terpaksa berbohong karena tidak mau melihat Insa kecewa. Insa mengernyit heran, otaknya susah mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh gadis di depannya.

“Kim Hyunmi, kau ‘melakukannya’ ?” Insa membentuk tanda petik dengan kedua jarinya sambil memiringkan kepalanya menunggu jawaban pasti dari Hyunmi. Hyunmi menundukkan kepalanya dan mengangguk kecil.

“Kyaa ! Jeongmalyo ? Kau akan memberiku keponakan huh ?” seru Insa, atau lebih tepatnya berteriak membuat semua pasang mata yang ada beralih ke arah mereka berdua.

“Ssshht, Insa. Kecilkan suaramu,” balas Hyunmi seraya membekap mulut Insa.

“Baik-baik, mianhae,” Insa menurunkan tangan Hyunmi dari mulutnya. Ia tersenyum simpul kemudian mendorong kursi yang di dudukinya dengan kaki kembali ke hadapan computer.

Sedangkan Hyunmi masih berada di posisi yang sama. Menatap cincin yang melingkar di jari manisnya dan mengingat semua perlakuan Jonghyun terhadapnya selama di Saipan. Sepertinya otak Jonghyun menjadi error selama disana.

“Hyunmi, jangan membayangkan ‘hal-hal-aneh-lagi’. Ayo kerja, banyak tugas yang harus kau selesaikan hari ini,” seru Insa, dengan menekankan kata-kata mutiaranya. Hyunmi tersadar lalu memutar kursinya menghadap computer. Lagi-lagi bibirnya melengkung membentuk senyuman karena melihat pintu ruangan Jonghyun.

***

Jonghoon membuka tirai di dalam ruangannya yang menghadap ke arah meja-meja kerja di luar. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang baru menempati kursinya lagi. Sebuah senyuman kecil pun mengembang di wajahnya.

“Welcome back Hyunmi,” Jonghoon tersenyum lebar kemudian membetulkan letak kacamatanya. Ia bergegas keluar ruangan dan menghampiri meja Hyunmi. Laki-laki itu menopang tangannya di atas kayu pembatas setiap meja kerja, dan menatap Hyunmi dari sana.

“Jonghoon-ssi !” pekik Insa senang ketika melihat laki-laki yang akan menjadi suaminya itu. Jonghoon hanya tersenyum simpul pada Insa dan kembali menatap Hyunmi yang masih focus memandang layar computer.

“Hey,” sapa Jonghoon membuat Hyunmi mendongak. Gadis itu segera berdiri dari kursinya dan membungkukkan badan pada Jonghoon.

“Annyeong sajangnim. Mianhamnida, aku baru bisa masuk hari ini,” ujar Hyunmi sopan.

“Gwenchana, aku mengerti,” balas Jonghoon tanpa menyelipkan perasaan cemburu di dalamnya.

“Kamsahamnida,” Hyunmi membungkuk lagi dan masih berdiri menunggu Jonghoon beranjak dari sana.

Insa memandang pembicaraan kedua orang itu dengan tatapan aneh. Bahkan Jonghoon tidak pernah sengaja keluar dari ruangannya hanya untuk menyapa seperti itu. Selama seminggu, semenjak pertemuan Insa dan Jonghoon di restoran dimana kedua orangtuanya mempertemukan mereka dengan alasan perjodohan, Jonghoon belum pernah mengajaknya mengobrol. Kecuali ia yang memulai pembicaraan.

“Ne sajangnim,” Insa melihat Hyunmi membungkukkan badannya sambil tersenyum lebar. Dan sedetik kemudian Jonghoon beranjak ke arah lift, Insa bisa melihat perubahan raut wajah Jonghoon karena pintu bagian tempat mereka bekerja terbuat dari kaca. Tatapannya beralih pada Hyunmi yang sudah duduk kembali di kursinya.

Baru saja ia akan membuka mulutnya ketika melihat Jonghyun sudah berdiri di depan meja Hyunmi. Laki-laki itu hanya menyapa sebentar lalu keluar bersama Yoona. Tanpa ada perubahan sedikit pun di wajah Hyunmi, tidak ada ekspresi cemburu ataupun helaan napas panjang. Ia merasa keadaan di sekitarnya berubah menjadi aneh.

***

Awan-awan mendung sudah terlihat di langit kota Seoul sore itu. Para pekerja maupun anak-anak sekolahan mulai mempercepat langkah kaki mereka ketika setetes air hujan mulai turun. Kemacetan lalu lintas juga menghiasi jalanan kota tersebut.

Termasuk kantor dimana Hyunmi bekerja, saat itu saatnya pulang kerja dan ia mulai membereskan barang-barangnya yang berserakan ke dalam tas. Hanya ada gadis itu, Insa, serta Jonghyun dan Jonghoon di dalam ruangan. Para pekerja lainnya sudah pulang sedari tadi termasuk Yoona.

“Kau pulang dengan Jonghyun ?” tanya Insa seraya mengaitkan tali tasnya ke bahunya. Ia menatap Hyunmi beberapa saat sampai gadis itu selesai membereskan barang-barangnya dan berdiri dari kursi.

“Entahlah. Tapi aku mau pulang denganmu hari ini, sudah lama kita tidak pulang berdua kan ?” jawab Hyunmi. Insa tersenyum lalu memeluk singkat sahabatnya.

“Kajja,” ajak Insa sambil meraih tangan Hyunmi keluar, menyelip melewati pembatas meja kerja mereka. Tapi langkah Insa terhenti saat melihat dua orang laki-laki tengah berjalan ke arah mereka.

“Ms.Kim, kau pulang denganku hari ini,” seru Jonghyun ketika berhenti tepat di depan kedua wanita itu.

“Haish, baiklah. Tapi aku mau Insa juga ikut dengan kita,” Hyunmi melirik ke arah Insa sambil tersenyum kecil.

“Andwae, aku bisa pulang dengan Jonghoon. Kalian pulang berdua saja, sana-sana,” Insa mendorong tubuh Hyunmi mendekat ke arah Jonghyun. Ia mendapati Jonghoon masih berdiri agak jauh tanpa mau mendekat.

“Jinjja, sudah sana pergi,” tambah Insa lagi ketika melihat Hyunmi menatapnya ragu.

Hyunmi yang masih terlihat berat hati akhirnya mengikuti Jonghyun keluar dari ruangan berukuran 5×5 meter itu. Senyuman mengembang dari mulut Insa, melihat sahabatnya sudah kembali lagi seperti dulu lagi. Belum sepenuhnya, tapi ia tahu bahwa gadis itu sudah bisa melupakan Minho. Ia menoleh ke arah Jonghoon dan mendapati tatapannya masih tertuju ke arah lift. Insa segera mendekatinya dan melambaikan tangan di depan wajah laki-laki itu.

“Ayo pulang Jonghoon-ah,” ajak Insa. Jonghoon mengangguk sekilas kemudian keluar meninggalkan Insa. Dengan cepat Insa menyusul langkah Jonghoon keluar dari ruangan itu.

***

Hyunmi menggerutu kesal, melihat bahwa mobil yang dikendarai Jonghyun tidak berjalan sedikit pun karena terjebak macet. Ia sudah berjanji pada Ji Kyo untuk datang ke apartemennya, mengurus Ji Sook karena Jinki ada acara diluar kota selama beberapa hari ke depan tanpa membawa anak keduanya itu. Jinki hanya membawa Ji Kyo dan Jinkyo pergi bersamanya. Dan selama beberapa hari itu juga ia harus merawat Ji Sook. Hyunmi teringat sesuatu, ia bahkan belum bilang pada Jonghyun.

“Jonghyun-ssi,” panggil Hyunmi pelan.

Tatapan Jonghyun dari jalanan beralih pada Hyunmi, “Ne ?”

“Ji Kyo eonni memintaku datang ke apartemennya untuk menjemput Ji Sook,” jawab Hyunmi sesingkat mungkin dan berharap kalau laki-laki di depannya mengerti maksud ‘menjemput Ji Sook’.

“Eh ? Untuk apa ?” tanya Jonghyun tidak sesuai dengan harapan Hyunmi.

“Mereka menyuruhku merawat Ji Sook selama 2 hari. Di apartemen kita,” jawaban Hyunmi sontak membuat Jonghyun membelalak kaget. Bukan karena tidak mau merawat balita itu, hanya saja ia masih trauma dengan kejadian beberapa minggu yang lalu. Ketika ia malah membuat Ji Sook terkilir di bagian lehernya.

“Wae ? Kau tidak mau ? Kalau kau tidak mau, aku bisa minta Minho menemaniku merawatnya. Setidaknya dia lebih bisa mengatasi anak kecil di bawah tiga tahun itu tanpa mengeluh ataupun berpikir sepertimu Kim Jonghyun,” tambah gadis itu. Jonghyun segera tersadar dan mengulang perkataan Hyunmi. Mendengar kata-kata Minho terselip di dalamnya, ia langsung menggeleng dengan cepat.

“Ahni. Aku mau merawatnya,” Jonghyun tersenyum ragu untuk meyakinkan Hyunmi. Ia merasa hatinya ikut senang ketika melihat senyuman lebar meghiasi wajah Hyunmi.

***

Butuh waktu lama untuk keduanya sampai di depan pintu apartemen Ji Kyo dan Jinki. Jalanan benar-benar macet, bahkan sampai di Incheon pun mobil-mobil masih padat. Syukur-syukur mereka berdua tidak sampai disana lebih dari jam 7 malam.

Perjalanan kembali ke Seoul pun tidak lama seperti perjalanan sebelumnya. Karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan jalanan sudah cukup sepi. Bahkan Jonghyun membawa mobilnya menembus malam dengan kecepatan di atas rata-rata.

“Jonghyun, kurangi kecepatannya. Kau tidak lihat Ji Sook ketakutan seperti ini huh ?” seru Hyunmi sambil melirik ke arah Ji Sook yang berada di dalam gendongannya.

“Aku ingin cepat sampai di penthouse. Masih banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan,” balas Jonghyun. Hyunmi semakin mempererat pelukannya pada Ji Sook mencoba menenangkannya.

“Kau harus bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan Ji Sook. Mungkin setelah ini ia akan menangis terus, dan kau harus menenangkannya,” ancam Hyunmi. Jonghyun menoleh dengan cepat lalu memandang Ji Sook yang terlihat ketakutan. Akhirnya Jonghyun meminggirkan mobilnya ke jalur lambat dan mengurangi kecepatan mobilnya.

Setelah menempuh perjalanan yang  lama dan membosankan –menurut Jonghyun, akhirnya mereka bertiga sampai di apartemen. Membosankan menurut Jonghyun, karena Hyunmi sama sekali tidak membolehkannya menyalakan radio di dalam mobil. Alasannya tentu saja karena Ji Sook. Sudah berbagai cerita keluar dari mulut Hyunmi. Dan semuanya membahas Ji Sook, termasuk bahwa anak itu tidak menyukai music.

“Jonghyun, tolong gendong Ji Sook sebentar. Kuncinya ada di dalam tasku,” Hyunmi memberikan tatapan memohon pada Jonghyun karena Ji Sook tertidur dalam gendongannya. Setelah melihat ekspresi memohon Hyunmi, Jonghyun hanya bisa pasrah dan membiarkan Hyunmi memaksanya menggendong Ji Sook.

Jonghyun memandang wajah Ji Sook yang terlihat lucu saat tidur. Wajahnya polos, seperti malaikat kecil yang belum tersentuh dosa apapun juga. Tanpa sadar, bibir Jonghyun melengkung membentuk senyuman melihat balita di dalam gendongannya.

Laki-laki itu menidurkan Ji Sook di atas kasur, di dalam kamarnya. Ia menyelimutinya perlahan tanpa mau membuat keributan sedikitpun. Perlahan ia beranjak keluar dari kamar, menghampiri Hyunmi yang tengah mengeluarkan peralatan makan Ji Sook di dapur. Ia bersandar pada meja dapur, menatap Hyunmi yang berdiri di sebelahnya dan terlihat serius memandangi bungkus-bungkus makanan milik Ji Sook.

“Kau suka anak kecil ?” tanya Jonghyun. Hyunmi mengangguk semangat tanpa mengalihkan perhatiannya dari bungkus makanan itu.

“Neomu ?” tanyanya lagi.

“Neomu joahaeyo,” jawab Hyunmi singkat sambil tersenyum lebar. Dan laki-laki itu pun mengikuti senyuman Hyunmi.

“Bagaimana kalau kita membuatnya ?” pertanyaan Jonghyun sontak membuat makanan yang di pegang Hyunmi terjatuh ke atas meja dapur. Ia menoleh dengan perlahan ke arah Jonghyun.

 

“Eh ?”

 

“Kita membuatnya. Yeah, maksudku membuat anak kecil. Kau tahu ? melakukan apa yang seharusnya kita lakukan,”

 

“Uh O.o ?”

 

-to be continued-

 

stress . .

part ini ancur asli .

 

alurnya kaga maju-maju lagi .

ah iya, diperkirakan konfliknya part selanjutnya

mohon bersabar

 

mian ya kalau postnya kelamaan

please comment

sepatah dua patah kata juga gapapa

Thanks *bow

 

^Ima^

7 thoughts on “[FanFic] Curse Marriage (4th Part)

  1. Ah!!!!jonghyuuuuunnn…knp santai bgt ngomongin hal se sensitive itu??bikin anak? Err….-.-
    insa kurang peka kayaknya…bukannya jelas klo jonghoon punya perasaan yg sedikit istimewa sama hyunmi.masa ttp gak bs liat?

  2. Aduuuuuh jjong ngajakin ‘begituan’ kayak mau ngajak maen kelereng… kkk~
    kayaknya 2″nya udah saling suka deh ya… kapan nih sama2 jujur u.u
    next part deh ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s