[FanFic] Curse Marriage (3rd Part)

Title       : Curse Marriage

Author  : Ima Shineeworld

Cast       : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

Other    : Choi Jonghoon (FTI), Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD)

Rating   : PG+15

Genre   : Comedy, Romance, Angst

—–

“Ya ! Lepaskan Kim Jonghyun,” Hyunmi terus mencoba menarik tangannya.

“Ahni. Ayo masuk,” sahut Jonghyun sambil mengerling ke arah Hyunmi.

“Ya ! Ya ! Andwae !”

BRAK

Terlambat. Jonghyun sudah menarik tangan Hyunmi ke dalam kamar mandi. Ia langsung menutup pintunya dengan keras dan menyandarkan Hyunmi ke belakangnya. Jonghyun merebut tas yang di pegang Hyunmi, lalu melemparnya asal ke atas wastafel. Ia mengunci tangan Hyunmi ke samping paha gadis itu.

“Mwohae ? Jangan macam-macam Jonghyun-ssi,” seru Hyunmi seraya menelan ludahnya sendiri. Ia menghela napas lega ketika melihat laki-laki –gila di depannya masih memakai boxer.

“Haish, kita pernah melakukannya dulu. Kau tidak ingat ? Insa memberi kita hadiah bulan madu lagi, jadi kita tidak boleh menyia-nyiakannya,” balas Jonghyun menyeringai kecil lalu mulai mendekatkan wajahnya.

“Berani maju lagi, kau akan dapat balasannya,” ancam Hyunmi. Laki-laki itu tidak menggubris perkataan Hyunmi dan masih mendekatkan wajahnya.

“Jonghyun, ini ancaman terakhir. Kalau kau berani aku akan –,”

Kata-kata Hyunmi terhenti ketika Jonghyun benar-benar menciumnya. Ia mencoba berontak, tapi sungguh otaknya benar-benar tidak bisa bekerja dengan sempurna. Tubuhnya tidak bisa menjalankan apa yang diinginkannya sekarang. Mata Hyunmi membulat, ia mendorong tubuh Jonghyun dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Ia menatap laki-laki di depannya kesal.

“Aku benci Kim Jonghyun,” Hyunmi menghentakkan tangannya kemudian keluar dari kamar mandi.

Setelah menutup pintu, Hyunmi bersandar di depannya sambil menaruh tangannya di atas dada. Wajahnya memanas, jantungnya berdetak lebih cepat ‘lagi’, dan sepertinya ia harus memeriksakan diri. Otaknya sudah tidak berfungsi dengan baik. Kenapa disaat ia ingin melepaskan diri, tubuhnya malah tidak mau bergerak sedikit pun.

***

Jonghyun menyeringai seraya memegang tengkuknya sendiri. Ia kira gadis itu tidak akan menolak apa yang dilakukannya. Siapa tahu, dua kejadian –tidak sengaja yang dilakukannya akan terulang lagi. Kali ini dengan keadaan sadar, dan ia akan ingat semuanya. Ia tersenyum kecil kemudian kembali masuk ke dalam shower box.

Laki-laki itu keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kegiatannya terhenti saat melihat Hyunmi tidak ada di dalam kamar. Ia menaruh handuknya dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar president suite room itu. Matanya terhenti di arah pintu masuk ke dalam kamar, tempat dimana sebuah asap tipis berasal. Ia beranjak keluar dari kamar dan menemukan Hyunmi tengah berdiri di depan kompor sambil memasak sesuatu.

“Sedang masak apa ?” tanyanya sambil duduk di meja makan, menopangkan dagu memandang Hyunmi yang membelakanginya.

“Bukan urusanmu pendek,” jawab Hyunmi datar. Jonghyun mengerucutkan bibirnya, sesaat kemudian perutnya berbunyi karena belum ada sesuap pun makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

“Aku juga lapar. Buatkan aku makanan,” Jonghyun bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri gadis itu. Baru saja ia akan naik ke satu undakan untuk masuk ke dapur ketika Hyunmi membalikkan tubuhnya sambil mengangkat sumpit besi.

“Jangan berani-berani kesini, atau sumpit ini akan. .,” ucapan Hyunmi terputus. Jonghyun menaikkan sebelah alisnya heran saat melihat gadis itu bingung meneruskan ucapannya.

“Akan . . akan menembus kulitmu,” sambung Hyunmi akhirnya. Kekehan keluar dari mulut Jonghyun begitu saja. Ia mengangkat kedua tangannya dan berbalik kembali ke meja makan.

Beberapa menit kemudian, Hyunmi mematikan kompor dan membawa panci berisi ramen yang dimasaknya ke meja makan. Sontak Jonghyun yang sedang mengetuk-ngetuk meja beralih ke kursi di depannya, tempat Hyunmi duduk. Ia berlari ke dapur untuk mengambil sumpit dan kembali duduk di kursinya. Ia mengangkat sumpitnya untuk meraih ramen itu, tapi Hyunmi malah menjauhkan pancinya dari jangkauan Jonghyun.

“Wae ? Aku lapar,” seru Jonghyun masih dengan posisi setengah berdiri dari kursi. Hyunmi sedikit mendongakkan kepalanya, tanpa menjawab pertanyaan Jonghyun ia kembali memakan ramennya.

“Jangan paksa aku untuk mendekat kesana Ms.Kim,” ancam Jonghyun akhirnya. Ia berdiri, mulai berjalan menghampiri Hyunmi di sisi meja makan lainnya berbentuk bulat itu.

“Ini balasan karena kau sudah berani-berani menciumku,” Hyunmi masih saja sibuk tanpa sadar Jonghyun sudah mendekat ke arahnya. Ia mendongak ke depan dan tidak menemukan laki-laki itu duduk di sana.

“Aku lapar,” sontak Hyunmi menoleh ke samping, ke arah Jonghyun.

“Jonghyun, kembali ke tempatmu sekarang,” sergah Hyunmi. Jonghyun menggelengkan kepalanya, dengan sekali gerakan cepat ia merebut panci itu dari Hyunmi yang sedang sibuk menatapnya. Tanpa berlama-lama lagi ia segera menyeruput ramen itu dengan sumpit yang dibawanya.

“Ya ! Naui ramyeonnie !” seru Hyunmi ketika sadar laki-laki itu sudah memakan ramen miliknya. Kali ini Jonghyun yang berpura-pura tidak mendengar teriakan Hyunmi dan membawa panci berisi ramen itu ke dalam kamar kemudian mengunci pintunya.

“Jonghyun-ah ~ !!” kuping Jonghyun seolah tertutup. Ia menikmati setiap suapan ramen yang masuk ke mulutnya sambil duduk di balkon kamar. Sesekali Jonghyun menyeka mulutnya kasar dengan punggung tangannya.

“Sssh, gomawo Ms.Kim !” teriak Jonghyun lalu melanjutkan makannya tanpa mendengarkan balasan dari Hyunmi.

***

Teriakan Jonghyun menghentikan tangan Hyunmi yang akan mengetuk pintu kamar. Ia menggerutu kesal, baru beberapa suap ramen tidak akan membuat perutnya kenyang. Harusnya ia membiarkan Jonghyun ikut memakan ramen miliknya agar perut mereka berdua terisi. Dan karena ketakutannya sendiri, makan siangnya malah direbut laki-laki itu. Terpaksa Hyunmi harus makan diluar, karena ia hanya membawa satu bungkus ramen di kopernya.

“Jonghyun-ssi, aku makan diluar saja,” Hyunmi merogoh saku celananya, tapi tidak menemukan selembar uang yang sudah ditukarkannya kemarin.

“Pendek !! Buka pintunya ! Aku mau mengambil uang,” teriak Hyunmi sambil mengetuk pintu kamar dengan keras. Tak lama kemudian pintu di hadapannya terbuka. Ia sedikit mendongak untuk menatap Jonghyun yang sedang menutup mulutnya.

“Minggir, aku mau beli makan siang diluar,” gadis itu mendorong Jonghyun dan segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang di dalam tasnya.

Hyunmi keluar dari kamar setelah memakai jaket dan tentu saja mengambil uang. Gadis itu melengos tanpa peduli Jonghyun yang sedang memandangnya dari dapur.

“Ms.Kim !” lagi-lagi Jonghyun berteriak, padahal jarak mereka hanya beberapa meter. Hyunmi meringis, memegangi kupingnya yang mulai sakit karena teriakan Jonghyun.

“Uh, jangan berteriak pendek. Kupingku masih normal,” sahut Hyunmi, ia mengganti sandal hotel dengan sepatunya dan segera bergegas keluar.

Gadis itu melangkah keluar dari lobby hotel, menyusuri setiap trotoar di pinggir jalan. Mencari restoran atau tempat makan yang sekiranya menjual makanan yang ia kenal. Sialnya, ia tidak menemukan satupun restoran, yang ada hanya toko pernak-pernik, toko baju, dan semuanya yang tidak ia butuhkan sama sekali. Hyunmi mendengus, ia duduk di salah satu bangku di depan sebuah toko. Udaranya cukup terik, dan ia menyesal memakai jaket.

Akhirnya Hyunmi masuk ke sebuah coffee pot yang berhasil ia temukan. Hanya kedai kecil yang pengunjungnya tidak terlalu banyak. Ia memakan beberapa potong roti dan secangkir vanilla latte. Walaupun sedikit, tapi lumayan membuat perutnya kenyang.

“Excuse me, miss,” Hyunmi mendongak pada orang yang berdiri di sebelah mejanya. Dengan cepat ia menelan roti yang sedang dikunyahnya lalu menjawab orang itu.

“Ne . . ah, Yes ?” jawab Hyunmi canggung.

“This café will be closed soon. Please finish your lunch,” laki-laki itu membungkuk sopan kemudian kembali ke dapur.

“What the hell ? Dia mengusirku ?” gumam Hyunmi, ia menyeruput vanilla latte miliknya sampai habis dan keluar dari café tanpa menghabiskan rotinya. Gadis itu terus saja menggumam kesal sambil menendang benda yang menghalangi jalannya. Kenapa semuanya harus tutup ? batinnya.

Hyunmi memegangi perutnya yang belum terasa kenyang. Makanannya tadi tidak sebanding dengan jarak tempuh kembali ke hotel. Jadi bisa dipastikan dia akan kelaparan lagi. Langkah gadis itu terhenti saat seorang laki-laki menghalangi jalannya. Ia yang sedang menunduk menatap jalanan segera mendongak melihat laki-laki itu.

“Hello miss,” gumam laki-laki itu. Hyunmi memandang ke sekelilingnya, dan ia sama sekali tidak tahu ada dimana sekarang. Berjalan menunduk membuatnya melangkah tidak tentu arah. Sekarang, seorang laki-laki –yang entah siapa menghadang jalannya. Hyunmi menyadari sesuatu, jalan kecil yang dilewatinya sepi, jadi percuma saja ia teriak.

“W-what are you doing ?” Hyunmi mundur selangkah karena takut. Laki-laki di depannya, tiba-tiba mencoba menyentuh rambut Hyunmi, tapi gadis itu berhasil menepisnya.

“Don’t touch me !” geretak Hyunmi masih tetap mundur menghindari laki-laki itu. Dalam keadaan lapar seperti itu, ia tidak bisa berlari jauh untuk menghindar. Pikirannya kalut, antara berlari atau berteriak walaupun mungkin tidak akan ada yang mendengarnya.

“Why ? You’re alone, and me too,” laki-laki itu memegang kedua bahu Hyunmi dan menyandarkannya di tembok. Hyunmi memberontak, tapi percuma, tenaga laki-laki lebih kuat, di tambah lagi tenaganya belum terisi.

“Hey, hey. Don’t force my wife please,”

Entah darimana datangnya, Jonghyun sudah berdiri tidak jauh dari kedua orang itu. Laki-laki yang sedang memegangi Hyunmi segera melepaskan tangannya dan berjalan menghampiri Jonghyun. Hyunmi segera mundur menjauhi mereka.

“Your wife ? If I won’t give back her, what will you do, sir ?” tawar laki-laki itu. Jonghyun mendecak, ia melangkah mendekati laki-laki –skeptis itu dengan perlahan.

“I will give you a gift,”

BUGH

Laki-laki itu tersungkur karena pukulan telak dari Jonghyun. Ia menyiapkan kuda-kuda, bersiap menyerang laki-laki itu lagi.

“That’s the gift,” Jonghyun mengusap hidungnya ketika laki-laki itu kembali bangun.

Hyunmi memandangi perkelahian itu dengan takut. Setiap pukulan yang diluncurkan Jonghyun, berhasil membuat laki-laki brengsek itu tersungkur. Tapi semuanya berubah, saat pukulan Jonghyun meleset dan malah di manfaatkan oleh laki-laki itu. Laki-laki itu menendang Jonghyun sampai terjatuh ke tanah. Ia duduk di atas tubuh Jonghyun, memegangi kerahnya dan memukulinya dengan brutal.

“Andwae ! Andwae !” entah kenapa Hyunmi merasa sedih melihat laki-laki –yang berstatus sebagai suaminya itu dipukuli sampai berdarah. Ia merogoh saku celananya, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengalahkan laki-laki brengsek itu. Tangannya menangkap sesuatu, ia mengeluarkan peniti dan segera membuka jarumnya.

“Yaaaa !!” tepat setelah teriakannya berhenti, peniti yang dipegangnya sudah menancap di tengkuk laki-laki brengsek itu. Hyunmi mundur seraya memperhatikan laki-laki itu yang tiba-tiba pingsan.

“Aigo~, Jonghyun-ssi,” seru Hyunmi. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Jonghyun, dan melingkarkan tangan Jonghyun ke lehernya.

“Uhuk,” Jonghyun terbatuk dengan sedikit mengeluarkan darah. Hyunmi meringis melihatnya. Ia segera berdiri bersama Jonghyun dan kembali ke hotel.

***

Mata Jonghyun tidak pernah lepas memandangi Hyunmi yang terlihat sibuk mondar-mandir. Ia sendiri sudah duduk di sofa, menunggu gadis itu mengambil es dan sapu tangan. Tapi dari tadi yang dilihatnya, Hyunmi malah terlihat bingung.

“Aish, kemana sapu tangannya,” gumam Hyunmi sambil membuka setiap lemari makan yang ada di dapur. Jonghyun ikut terkekeh, gadis itu tidak tahu atau memang bodoh, batinnya.

“Pabo-ya ! Sssh, sapu tangannya ada di koperku. Kenapa kau malah mencarinya disana ?” ujarnya sedikit meringis. Hyunmi membulatkan mulutnya, ia segera berlari ke dalam kamar dan kembali dengan sapu tangan. Ia membawa mangkuk besar berisi es dan sapu tangan di tangannya ke meja di hadapan Jonghyun.

Tangannya mulai memasukkan es ke dalam sapu tangan itu. Dengan perlahan ia menempelkan sapu tangan itu di sudut bibir Jonghyun yang terluka cukup parah. Jonghyun meringis, terkadang ia menggerutu karena gadis itu terlalu menekan sapu tangannya.

“Tch, baru seperti ini sudah banyak meringis,” seru Hyunmi, melipat sapu tangannya. Jonghyun meraba sudut bibirnya, lukanya tidak terlalu sakit lagi. Hyunmi menggaruk kepalanya yang tidak gatal secara tiba-tiba.

“Err, gomawo Jonghyun-ssi,” gumamnya kemudian berlari ke dapur membawa mangkuk besar itu. Ekspresi malu-malu Hyunmi membuat bibir Jonghyun tertarik membentuk sebuah senyuman. Ia bangkit dengan sedikit tertatih ke arah dapur.

Jonghyun membuka pintu kulkas lalu mengambil sebotol air. Sambil meneguk air itu, ia melirik ke arah Hyunmi yang sedang membuat segelas susu. Sesaat mata mereka bertatapan, tapi gadis itu malah memalingkan wajahnya dan berlalu sambil meminum susu yang baru dibuatnya.

“Ms.Kim,” panggil Jonghyun, sedikit berbalik ke arah gadis itu. Hyunmi membalikkan tubuhnya masih sambil meminum susunya.

“Nado, gomawoyo,” Jonghyun sedikit tersenyum, dan entah kenapa Hyunmi malah tersedak melihat senyuman laki-laki itu. Menurutnya, senyum Jonghyun saat itu terlihat manis walaupun sedikit lebam di sudut bibirnya.

Lagi-lagi Jonghyun terkekeh melihat Hyunmi berlalu masuk ke dalam kamar dengan semburat merah di pipinya. Ia menaruh botol kosong itu di atas meja dapur. Baru saja ia akan kembali ke kamar ketika melihat sebuah benda asing terselip di antara tumpukan gelas. Ia mengambil benda –yang ternyata sebuah cincin, terukir nama Jonghyun di dalamnya. Jonghyun melepas cincin yang dipakainya, terukir nama Hyunmi juga di dalamnya. Dan dia baru menyadari hal itu, cincin pernikahan mereka terukir nama pasangan mereka masing-masing.

Ia membawa cincin Hyunmi, menghampiri gadis itu yang sedang tidur-tiduran di balkon kamar. Jonghyun duduk di sebelahnya dan menyodorkan cincin itu ke hadapan Hyunmi.

“Wae ?” Hyunmi bangkit dari tidurnya, ia menerima cincin dari Jonghyun dan kembali memakainya di jari manis.

“Kenapa dilepas ?” tanya Jonghyun membuat Hyunmi sedikit salah tingkah. Hyunmi memalingkan wajahnya ke depan.

“Mian, tadi aku mengambil es di kulkas, jadi harus dilepas,” jawab gadis itu, ia akan beranjak dari kursi malasnya tapi terhenti karena tiba-tiba Jonghyun mencegahnya.

“Jangan menghindariku terus Ms.Kim,” ujar Jonghyun sambil sedikit mendongak menatap kedua mata Hyunmi lekat. Hyunmi melepaskan tangan Jonghyun perlahan.

“Aku hanya jaga jarak, takut kau melakukan hal ‘gila’ lagi seperti tadi,” Hyunmi membentuk tanda petik dengan kedua tangannya dan berlalu ke dalam kamar.

Helaan napas panjang terdengar jelas dari mulut Jonghyun. Ia memandangi punggung Hyunmi yang sedang tidur. Secara keseluruhan, ia mulai menerima gadis itu sebagai istrinya. Jangan tanya kenapa, ia sendiri tidak tahu. Saat melihatnya keluar kamar hotel tadi, ia langsung mendapat firasat buruk dan akhirnya mengikuti gadis itu. Ternyata benar, ada laki-laki yang mengganggu Hyunmi dan anehnya lagi ia rela lebam seperti itu hanya karena membela gadis itu. Jonghyun menarik satu kesimpulan, ia mulai menyukai Hyunmi.

***

Tidur Hyunmi terganggu karena suara berisik di belakangnya. Ia membuka mata, melihat jam kecil yang ada di depannya. Sudah jam 7 malam, selama hampir 8 jam ia tertidur. Sepertinya jet lag yang dialami Hyunmi cukup parah. Ia berbalik menghadap balkon masih dengan posisi tidur. Jonghyun sedang melakukan sesuatu disana, suara piring beradu dan suara sendok jatuh yang ternyata mengganggu tidur gadis itu. Hyunmi duduk di atas tempat tidur, ia mengucek matanya perlahan masih sambil meyakinkan kalau itu benar-benar Jonghyun.

“Jonghyun-ssi ?” gumam Hyunmi membuat laki-laki itu menoleh.

“Kau sudah bangun ?” tanya Jonghyun, ia berbalik dan menutupi sesuatu di baliknya. Hyunmi sedikit menelengkan kepalanya diikuti tubuh Jonghyun yang juga ikut bergeser.

“Apa yang kau lakukan ?” selidik Hyunmi masih tetap mencoba melihat sesuatu yang ditutupi Jonghyun.

“Ahni. Lebih baik kau mandi dulu, aku akan memberitahunya nanti,” Hyunmi menaikkan sebelah alisnya heran. Ia turun dari tempat tidur dan berlalu masuk ke kamar mandi sambil sesekali menoleh ke arah Jonghyun.

15 menit kemudian Hyunmi keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi. Mulutnya ternganga dan matanya membulat, melihat pemandangan –sangat langka yang pernah dilihatnya. Seorang Kim Jonghyun memakai kemeja, berpenampilan rapi,  tangannya terlipat di belakang tubuhnya, dan jangan katakan kalau ia membuat candle light dinner di balkon kamar. Hyunmi mencubit tangannya sendiri, ia berharap kalau yang dialaminya sekarang hanya mimpi. Mungkin ia belum bangun dari tidurnya.

“Hi,” sapa Jonghyun singkat berhasil membuat Hyunmi sedikit tersentak. Tangan Hyunmi beralih memegang kening laki-laki itu. Bukan mimpi, jadi kemungkinan laki-laki itu sakit atau mabuk mungkin.

“Ya ! Aku tidak sakit. Ini semua pengganti ramen yang kurebut tadi siang,” Jonghyun meraih tangan Hyunmi dan membawanya ke balkon kamar kemudian mendudukkannya di kursi, “Aku pesan sirloin steak, dengan sup jagungnya,” sambungnya kemudian duduk di hadapan Hyunmi.

“Sejak kapan ada meja makan berbentul bulat disini ?” tanya Hyunmi bingung ketika sadar kalau tadi siang hanya ada kursi malas dan meja kecil. Jonghyun sedikit berdehem.

“Aku minta pada pengelola hotel, lilin ini juga. Tapi jangan berpikiran aneh, aku hanya mau menebus kesalahanku hari ini,” elak Jonghyun cepat, dan mulai memakan steak miliknya.

Kedua orang itu saling menatap satu sama lain, sampai akhirnya suara bel membuyarkannya. Jonghyun bangkit dari kursi kemudian berlalu ke pintu kamar hotel. Hyunmi menepuk wajahnya sendiri, ia mencoba berpikir kalau Jonghyun hanya menebus kesalahannya. Bukan untuk mencari perhatiannya atau mencoba membuatnya suka pada laki-laki itu mungkin.

“Aku juga minta wine,” kedatangan Jonghyun membuat Hyunmi tersadar dari lamunannya. Jonghyun menuangkan wine itu ke dalam gelas berleher yang sudah tersedia sebelum akhirnya duduk kembali di kursinya.

Makan malam itu pun berlangsung hening. Tidak ada yang mengajak ngobrol, membuka pembicaraan sampai semua makanan yang mereka makan habis. Keduanya sibuk mencoba mencari topic untuk dibicarakan.

“Ms.Kim, maaf tentang kejadian di kamar mandi tadi siang. Aku hanya bercanda,” ujar Jonghyun, meminum wine miliknya. Ucapan Jonghyun lagi-lagi membuat Hyunmi memblushing, ia sampai lupa tadi siang laki-laki itu menciumnya.

“Ne, nado mianhae. Aku sudah membuatmu lebam seperti itu,” balas Hyunmi sambil menundukkan kepalanya.

“Yeah, kau harus merawatku sampai semua luka ini sembuh. Atau ada bayaran lainnya kalau kau mau, tanpa perlu merawatku,” tawar Jonghyun. Ia melipat tangannya ke atas meja, menatap kedua mata Hyunmi.

“Apa ? Kalau itu lebih mudah, aku akan melakukannya. Daripada harus merawat orang menyebalkan seperti kau,” Hyunmi ikut melipat tangannya ke atas meja dan menatap Jonghyun. Laki-laki itu mendekat, membisikkan sesuatu pada Hyunmi.

PLETAK

“Tidak jadi. Lebih baik aku merawatmu daripada harus ‘melakukannya’ lagi. Aku sudah selesai makan,” Hyunmi menyeka mulutnya cepat dan segera beranjak keluar. Wajahnya memanas karena tawaran Jonghyun tadi. Ia merinding sendiri membayangkannya.

***

Pagi harinya, Jonghyun bangun lebih awal dari Hyunmi. Tadi malam ia tidur lebih awal juga karena lelah menyiapkan semua makan malam. Ia berbalik menghadap Hyunmi yang tidur di belakangnya. Memandang cincin yang melingkar di tangan kanan gadis itu. Ia senang karena gadis itu menghormatinya, tapi masih ada satu hal yang mengganjal di hati Jonghyun. Barang yang ditemukannya di bawah bantal Hyunmi, ia tahu kalau gadis itu tidak mungkin menyukainya.

Jonghyun memaksa tubuhnya bangkit dari tempat tidur, walalupun kepalanya masih pusing karena jet lag yang dialaminya. Tapi hari ini ia harus menyiapkan rencana selanjutnya agar membuat Hyunmi ternganga lagi, dan melupakan sakit hatinya.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi ketika Jonghyun sudah menyiapkan roti untuk sarapan. Fasilitas hotel yang disewa Insa sangat lengkap. Kamar hotel yang sudah ada dapur, meja makan, bahkan roti dan selai untuk sarapan pun ada. Ia benar-benar harus berterima kasih pada sahabat Hyunmi itu.

Kegiatan mengoles selai itu terhenti karena pintu kamar terbuka. Jonghyun mendongak dari roti yang sedang diolesnya ke arah Hyunmi. Gadis itu berjalan ke dapur masih sambil memejamkan mata. Bahkan ketika mengambil botol air di kulkas, sampai habis meminum air itu ia belum juga membuka matanya. Jonghyun memperhatikan langkah Hyunmi kembali ke kamar, tanpa membuka mata sedikit pun. Sepertinya ia harus berteriak lagi untuk membangunkan gadis itu.

“Ms. Kim !” teriak Jonghyun. Hyunmi tidak bergeming, ia malah memegang gagang pintu kamar untuk kembali tidur.

“Kim Hyunmi !” pertama kalinya Jonghyun menyebut dengan lengkap nama gadis itu. Teriakan Jonghyun yang menyebut nama lengkap Hyunmi membuat langkah gadis itu terhenti. Ia menoleh ke arah Jonghyun, perlahan ia membuka matanya yang masih terasa berat.

“Waeyo ?” tanya Hyunmi seraya mengacak rambutnya.

“Kau tidak mau sarapan ?” tanya Jonghyun, ia sedikit memiringkan kepalanya menunggu jawaban gadis itu. Hyunmi membuka matanya lebar kemudian melangkah duduk di samping Jonghyun.

“Igeo,” ujar Jonghyun, menyodorkan setumpuk roti yang baru dioles olehnya. Hyunmi melirik Jonghyun sekilas, laki-laki yang ditatapnya hanya mengangguk meyakinkan.

“Gomawo,”gumam Hyunmi pelan sambil menerima roti dari suaminya.

Jonghyun memandangi Hyunmi yang tengah memakan roti buatannya. Cukup lama, sampai akhirnya ia menyadarkan diri sendiri agar tidak memandangi gadis itu. Ia mengalihkan perhatian dengan mengoles roti yang lainnya.

“Hari ini kita mau kemana ?” tanya Hyunmi, tidak jelas karena mulutnya dipenuhi roti. Pertanyaan Hyunmi terdengar tidak jelas di telinga Jonghyun, ia menoleh.

“Wae ?” tanyanya heran. Hyunmi menelan bulat-bulat roti yang dikunyahnya.

“Hari ini kita mau kemana Kim Jonghyun,” ulang Hyunmi dengan memperjelas setiap katanya.

“Surprise. Aku akan membawamu ke suatu tempat,” Jonghyun tersenyum kecil kemudian memakan rotinya. Sedangkan Hyunmi menatap laki-laki itu heran, dengan roti yang masih menempel di ujung mulutnya. Tidak biasanya Jonghyun memberikan kejutan, seperti tadi malam, ia kira candle light itu hanya mimpi, ternyata sungguhan.

“Tch, sepertinya perjalanan dari korea ke sini membuat otakmu sedikit error huh ? Kenapa kau jadi baik seperti ini ?” tanya Hyunmi, ia sangat bingung kenapa orang menyebalkan di depannya berubah menjadi baik seperti ini.

“Ya . . Aku tidak mau menyia-nyiakan hadiah dari Insa,” Jonghyun memakan potongan terakhir rotinya lalu beranjak dari meja makan.

“Kemarin kau yang menolak, sekarang malah semangat. Pabo gateun,” gumam Hyunmi pelan, tapi cukup bisa di dengar oleh Jonghyun. Laki-laki itu menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Hyunmi yang –sepertinya tidak sadar kalau Jonghyun mendengarnya.

“Apa yang kau katakan Ms.Kim ?” selidik Jonghyun. Hyunmi tersedak karena pertanyaan Jonghyun yang tiba-tiba, ia tidak tahu kalau laki-laki itu mendengar kata-katanya tadi.

“A-ahni, tidak penting. Lebih baik kau mandi sekarang,” Hyunmi mencoba tersenyum semanis mungkin, tapi yang dilihat oleh Jonghyun malah senyuman terpaksa, ia berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Jangan macam-macam atau kita pulang ke Korea sekarang juga,” ancam Jonghyun, ia masuk ke dalam kamar, menutup pintunya kemudian masuk ke kamar mandi. Ia berdiri di depan wastafel, di depan cermin besar yang memantulkan seluruh sudut kamar mandi.

Jonghyun menghela napas panjang, ia mendongak sambil menggelengkan kepalanya, “Kau gila Jonghyun,”

***

Pandangan Hyunmi tidak mau lepas dari mobil –tracking yang ada di hadapannya sekarang. Ia menoleh ke arah Jonghyun yang tengah mengobrol dengan pemilik –penyewaan mobil tracking itu dengan serius. Sesaat kemudian laki-laki itu kembali dengan sebuah kunci di tangannya. Ia menyuruh Hyunmi masuk, tanpa lewat pintu. Mobil tracking tanpa pintu, bagaimana caranya seorang Hyunmi yang memakai dress selutut naik ke sana.

“Ya ! Aku tidak bisa naik,” seru Hyunmi seraya menatap Jonghyun yang sudah naik ke dalam mobil yang tingginya bahkan hampir sedada gadis itu.

“Haish,” umpat Jonghyun kemudian turun lagi. Ia beralih ke samping Hyunmi, memandang gadis itu yang sedang mengeluarkan puppy eyes andalannya.

“Ne, naik ke pundakku,” Jonghyun berjongkok di depan Hyunmi, ia menepuk bahunya agar Hyunmi naik. Tapi ia malah diam, memandang Jonghyun.

“Jangan intip, arachi ?” syarat Hyunmi sebelum naik ke pundak laki-laki itu. Jonghyun mengangguk asal.

Dengan perlahan Hyunmi menaikkan sebelah kakinya ke atas pundak Jonghyun. Kemudian menaikkan yang satunya lagi. Ia mencoba berdiri, bersamaan dengan Jonghyun yang juga ikut berdiri agar gadis itu sampai ke tempat pijakan. Hyunmi berpegangan kuat, ia melangkah ke pijakan kaki dan masuk ke dalamnya melewati jendela. Ia tersenyum samar ketika melihat Jonghyun meringis tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Jonghyun, kau bisa membawa mobil tracking seperti ini ?” tanya Hyunmi agak takut karena tahu tanah di Saipan itu seperti bukit-bukit kecil. Hyunmi terus menunggu jawaban Jonghyun sampai laki-laki itu naik dan duduk di sebelahnya.

“Aku bisa, ayo jalan,” Jonghyun memindahkan koplingnya dan mulai menjalankan mobil tracking itu.

Hyunmi memakai seat beltnya ketika mobil yang dikendarai Jonghyun sudah mulai memasuki jalan setapak. Jalan setapak yang hanya cukup mobil dan dikelilingi pohon-pohon yang cukup tinggi. Ia terus memegangi seat belt, panic karena Jonghyun tidak selancar yang ia pikirkan. Berkali-kali laki-laki itu menginjak gas secara mendadak membuat tubuh Hyunmi sedikit terpelanting. Di tambah lagi jalannya yang berkelok dan sedikit menanjak.

Laki-laki itu menghentikan mobilnya, membuat Hyunmi yang tengah memejamkan mata segera membukanya. Ia menoleh ke arah Jonghyun heran, lalu menatap ke depan mobil yang sedang di naikinya sekarang.

“Kenapa berhenti ?” tanya Hyunmi. Jonghyun menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan perjalanannya.

“Pegangan yang kuat miss,” Hyunmi sontak memegangi seat beltnya dengan kuat. Ia menatap kubangan air yang menghalangi jalan mobil tracking itu. Cukup besar, tapi Jonghyun tidak mengurangi kecepatan mobilnya malah menambah kecepatan sampai air kubangan itu menyembur kemana-mana termasuk ke dalam mobil.

“Yaa ! Ige mwoya !” teriak Hyunmi sambil menatap dress putihnya yang berubah menjadi bintik-bintik coklat karena cipratan air kubangan. Ia menoleh dengan cepat ke arah Jonghyun yang malah terbahak.

“Kim Jonghyun, kau benar-benar cari mati,” gumam gadis itu kesal. Ia sudah mengangkat tangannya akan memukul Jonghyun ketika laki-laki itu mengerem mobilnya dengan mendadak.

“Ya !” gerutu Hyunmi seraya memukuli lengan Jonghyun. Kegiatannya terhenti saat Jonghyun mengendikkan dagunya ke depan. Hyunmi menoleh ke arah tunjukkan dagu Jonghyun.

Lagi-lagi Hyunmi tercengang dengan apa yang di lakukan Jonghyun. Laki-laki itu membawanya ke atas bukit, dan sekarang di depan gadis itu terhampar padang rumput yang luas. Di sana juga terdapat sebuah meja, dengan beberapa jenis makanan di atasnya.

“Ayo turun,” ajak Jonghyun sontak membuat Hyunmi tersadar. Hyunmi mengangguk semangat dan keluar melalui jendela. Ia berhenti di tempat pijakan mobil itu, melihat tanah di bawahnya yang terlihat jauh.

“Jonghyun-ssi, aku tidak bisa turun,” seru Hyunmi, ia menoleh ke arah Jonghyun yang sudah berdiri di depan mobil. Jonghyun menolehkan kepalanya, ia berjalan ke hadapan Hyunmi. Gadis itu menundukkan kepalanya menatap Jonghyun sambil memegangi rok dressnya karena angin yang tiba-tiba berhembus.

“Ayo loncat,” Jonghyun merentangkan tangannya, memberikan ruang untuk menangkap Hyunmi.

“Eh ?”

“Kau takut aku melihat yang ada di dalam dressmu itu ? Tch, aku sudah pernah melihatnya, lebih dari itu malah. Ayo loncat,” ucapan Jonghyun sukses membuat wajah Hyunmi memerah. Ia menyiapkan ancang-ancang untuk loncat, dengan memejamkan mata akhirnya ia loncat ke rentangan tangan Jonghyun.

“Gotcha,” Hyunmi membuka matanya ketika laki-laki itu berhasil menangkapnya. Ia segera melepaskan diri, dan berlalu meninggalkan Jonghyun.

Jonghyun tersenyum kecil, ia mengikuti langkah Hyunmi ke puncak bukit. Berdiri di sebelah gadis itu dan menatap laut yang terbentang luas di ujung padang rumput itu. Ia beruntung karena Neul Rin memberikan rekomendasi yang ternyata jauh diluar bayangannya. Ia juga harus berterima kasih pada orang yang sudah mau menyiapkan makan siang seperti yang disuruhnya. Jonghyun duduk di atas padang rumput itu, meluruskan kaki dan menghela napas panjang.

“Omo~,” gumam Hyunmi kagum sambil merentangkan tangannya. Membiarkan dress dan rambutnya tertiup angin.

“Kau suka ?” tanya Jonghyun, ia melipat tangannya ke belakang kepala kemudian tidur di atas rumput sambil menatap Hyunmi yang membelakanginya.

“Neomu joahaeyo,” Hyunmi menurunkan tangannya lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia ikut duduk di sebelah Jonghyun dan masih saja menggumam kagum karena pemandangan di depan matanya.

“Aku sudah menyiapkan makan siang. Ayo makan,” Jonghyun bangkit dari tidurnya, ia memegang tangan Hyunmi, sontak membuat gadis itu menoleh.

Senyum Jonghyun mengembang melihat Hyunmi tidak menarik tangannya. Ia menggenggam tangan gadis itu erat lalu membantunya bangkit. Membawanya ke depan meja makan dadakan yang sudah disiapkannya. Jonghyun mendorongnya duduk, ia memutar ke sisi lain meja itu. Dan makan siang di atas bukit itu pun dimulai.

***

Selama berjam-jam mereka duduk di kursi meja makan itu. Kedua orang itu menunggu matahari tenggelam, karena permohonan Hyunmi tentunya. Gadis itu memohon pada Jonghyun, dan laki-laki itu hanya bisa mengangguk.

Sekarang mereka sudah duduk di atas padang rumput sambil memandang matahari yang sebentar lagi kembali ke peraduannya. Jonghyun mememeluk kedua lututnya sedangkan Hyunmi meluruskan kakinya seraya menopang tubuh dengan kedua tangan di belakang.

Jonghyun mendekat ke arah Hyunmi kemudian mengangkat sebelah tangannya untuk merangkul gadis itu. Sedetik kemudian tangannya berhasil mendarat di bahu Hyunmi. Dan gadis itu sama sekali tidak menolak tangannya seperti biasa. Jonghyun berdehem sambil menahan senyum bahagianya. Ia tidak bisa memungkiri perasaan senangnya kalau ternyata Hyunmi tidak menolak apa yang dilakukannya lagi.

“Lihat ! Sunsetnya,” seru Hyunmi. Gadis itu tersenyum lebar karena bisa melihat sunset lagi. Terakhir kali melihat sunset ketika ia bersama Minho di Jeju, dan saat itu juga ia merasakan pelukan hangat terakhir dari Minho. Sebelum sikap laki-laki itu berubah menjadi tidak peduli, dan menyukai Neul Rin. Entah kenapa ia malah sedih membayangkan hal itu.

“Waeyo ? Kenapa kau sedih huh ?” Jonghyun memiringkan kepalanya, melihat perubahan raut gadis itu. Hyunmi menyeka kedua sudut matanya dengan kasar kemudian tersenyum lagi.

“Ahni. Aku hanya ingat Minho,” Hyunmi menatap ke arah laut dengan kosong.

Laki-laki itu masih saja memiringkan kepalanya, mencoba mencerna kata-kata Hyunmi. Perubahan raut wajah, berarti gadis itu mengingat hal buruk tentang Minho. Jonghyun menguatkan cengkeraman tangannya di bahu Hyunmi mencoba memberikan semangat. Hyunmi menoleh dan tersenyum samar.

Entah kenapa, Jonghyun melah menarik Hyunmi ke dalam pelukannya. Ia mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut. Jonghyun melepas pelukan itu dan menatap kedua matanya lekat. Dengan perlahan jarak wajah di antara mereka semakin kecil. Sedetik kemudian Jonghyun sudah menyapu bibir gadis di depannya dengan lembut.

***

Sudah berjam-jam berlalu, tapi Hyunmi masih merasakan hentakan keras di dalam dadanya sejak kejadian tadi. Dan sekali lagi tubuhnya tidak bisa menerima perintah dari otak untuk menolak semua itu. Ia bisa merasakan kecanggungan yang terjadi ketika perjalanan pulang kembali ke hotel. Apalagi laki-laki itu terus menatapnya, membuat Hyunmi semakin salah tingkah. Apalagi hari ini ia harus tidur dalam satu tempat tidur yang sama dengannya.

“Ms.Kim,” panggil Jonghyun, membuat Hyunmi mendongak dari majalah yang sedang dibacanya.

Gadis itu sedang tidur-tiduran sambil membaca majalah ketika Jonghyun baru saja keluar dari kamar mandi. Hyunmi segera menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, melihat laki-laki itu hanya memakai boxer tanpa memakai atasan. Hyunmi menahan napasnya, ia tidak siap untuk melakukannya lagi. Apa mungkin ia meminta bayaran karena berhasil membuatku tidak jadi menangis tadi sore ? Aish, bagaimana ini ? batin Hyunmi.

“Wae ? Aku hanya mau –,”

“Andwae ! Jangan sekarang Jonghyun-ssi, aku tidak siap,” gumam Hyunmi. Jonghyun tidak bisa menahan senyumnya, ternyata gadis itu mengira ia akan melakukan hal-hal aneh. Padahal ia hanya mau mengambil baju yang ada di bawah Hyunmi. Sekalian saja ia mengerjai gadis itu.

“Ms. Kim, aku mohon,” Jonghyun mendesah mencoba menggoda Hyunmi. Ia mendekat dan membuka selimut yang menutupi tubuh gadis itu. Tangannya memegang bahu Hyunmi, ia mulai memajukan wajahnya sambil menatap kedua mata wanita di depannya. Jonghyun masih terus mendorong hyunmi, sedangkan tangannya yang lain meraih baju di bawah punggung gadis itu.

“You’re tricked baby,” seru Jonghyun seraya menarik bajunya. Sontak Hyunmi membelalakkan matanya dan memandang Jonghyun yang tengah tertawa lebar. Hyunmi mengambil bantal di dekatnya, ia melempar bantal itu tepat ke wajah laki-laki –gila itu.

“Sh*t ! You !! Ah !” Hyunmi mengacak rambutnya sendiri. Ia beranjak dari tempat tidur, menghampiri Jonghyun yang sedang memakai baju masih dengan tertawa.

“Jonghyun,” panggil Hyunmi dingin seraya mengepalkan tangannya.

Jonghyun menghentikan tawa sejenak, ia menoleh ke arah Hyunmi, “Mwoya ?”

BUGH

Entah darimana datangnya kekuatan itu, kepalan tangan Hyunmi mendarat dengan cukup keras di sudut bibir Jonghyun. Laki-laki yang terkena pukulannya meringis, untung pukulan Hyunmi tidak cukup untuk merobek sudut bibir Jonghyun.

“O-o, s-sorry,” gumam Hyunmi seraya mundur beberapa langkah ketika melihat ekspresi Jonghyun berubah. Hyunmi mengangkat kedua tangannya, ia loncat ke atas tempat tidur dan menyelimuti  seluruh tubuhnya.

“Try to hide from me ? You must pay for this Ms.Kim,” suara Jonghyun semakin mendekat. Hyunmi mulai merasakan sekujur tubuhnya terasa panas karena panic. Pay ? Dengan apa ? Hyunmi bergelut dengan hatinya sendiri, semoga yang dimaksud pay oleh Jonghyun bukan ‘pay’ dalam pikiran Hyunmi.

Hyunmi meraih ponsel miliknya yang ada di hadapannya, di atas meja kecil. Dengan cepat tentunya. Ia segera mencari nomor telepon yang bisa menolongnya dari sikap liar Jonghyun.

“Insa,” bisik Hyunmi ketika sahabatnya itu mengangkat telepon.

‘Ne ?’ dengan nada riang Insa menjawabnya.

“Insa. Uh, kau harus tahu. Jonghyun berubah menjadi liar,”

‘Wae ? Jeongmal ? Kenapa kau malah meneleponku ? Bukan melayani sikap ‘liarnya’ ?’ Hyunmi mengernyit mendengar tekanan nada Insa di bagian terakhir ucapannya. Ia menepuk kening sendiri, pasti sahabatnya itu memikirkan arti lainnya.

“Aniyo Insa, maksudku – Kyaa !”

-to be continued-

nah loh ?

kok TBC ? Hahaha *evil laugh

part ini ama selanjutnya nyeritain liburan mereka

jadi jangan aneh kalau ga ada pengganggunya :D

kayanya updatenya agak kelamaan

lagi sibuk ngurusin awal taun pelajaran

maklum, kelas 3 SMA

sekian, makasih yang udah mau sekedar comment

atau like

semoga silent readers digugah hatinya untuk ikutan comment :D

kamsahamnida

^Ima^

8 thoughts on “[FanFic] Curse Marriage (3rd Part)

  1. wkwkwk jjong evil, pervert but romantic…
    duh, geregetan sendiri baca ini fanfic…😀
    keren!!!
    lanjut deh ke next part ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s