[FanFic] Curse Marriage (2nd Part)

Title       : Curse Marriage

Author  : Ima Shineeworld

Cast       : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

Other    : Choi Jonghoon (FTI), Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD)

Rating   : PG+15

Genre   : Comedy, Romance, Angst——

“Aku takut,” entah sudah keberapa kalinya Hyunmi menggumam kata-kata itu. Jonghyun masih saja duduk di sebelah Hyunmi dan tidak melakukan apapun. Banyak dorongan di dalam hatinya untuk memeluk gadis itu.

“Gwenchana, ada aku disini,” akhirnya Jonghyun berhasil melawan setan dalam hatinya dan memeluk Hyunmi. Ia mengusap rambut Hyunmi lembut, mencoba meredakan isak tangis gadis itu. Hyunmi menyandarkan kepalanya, membalas pelukan laki-laki itu dan menenggelamkan wajahnya di bahu Jonghyun.

Mereka dalam keadaan seperti itu selama 1 jam. Sampai akhirnya lift kembali menyala dan meneruskan perjalanannya ke lantai 8. Jonghyun melirik Hyunmi yang tertidur di bahunya. Entah kenapa ia tidak tega untuk membangunkan gadis itu. Jonghyun segera menepuk wajahnya sendiri dan membangunkan Hyunmi.

“Ms.Kim, ayo bangun,” seru Jonghyun sambil mengguncangkan bahu Hyunmi. Hyunmi membuka matanya kemudian memandang ke sekeliling yang sudah terang seperti semula. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari Jonghyun.

“Err, gomawo Jonghyun-ssi,” balas Hyunmi sedikit canggung. Ia bangkit dan merapikan bajunya yang sudah acak-acakan. Jonghyun juga bangkit, ia menepuk-nepuk bahunya bekas Hyunmi.

“Kau harus memijatku nanti. You know what ? Badanku pegal karena tidak bergerak selama 1 jam tadi,” Jonghyun menggeliat lalu menguap dengan lebar.

“Haha, gomawo Jonghyun-ssi,” ujar Hyunmi dengan memaksakan senyum di depan laki-laki itu.

Mereka berdua keluar dari lift. Sesampainya di depan pintu apartemen Ji Kyo, Hyunmi segera menekan belnya dengan cepat. Ji Kyo membuka pintu apartemennya dan refleks memeluk adik kesayangannya. Hyunmi menepuk punggung Ji Kyo keras agar melepaskan pelukan itu.

“Aigo~, kau tidak apa-apa ? Aku takut kau pingsan di dalam lift sana,” Ji Kyo melepas pelukannya lalu menatap Hyunmi, “Kau terlihat pucat saengie,”

“Gwenchana eonni. Aku sudah tidak terlalu takut lagi sekarang,” Hyunmi melirik ke arah Jonghyun, Ji Kyo  berdehem kecil melihat tatapan malu Jonghyun.

“Ayo masuk, semuanya sudah menunggu,” Ji Kyo menarik tangan Hyunmi memasuki apartemennya. Jonghyun mengikuti dengan langkah ringan di belakang kedua gadis di depannya.

Hyunmi tersentak ketika melihat Minho duduk di meja makan bersama Neul Rin dan Jinki. Ia segera menghentikkan langkah dan membiarkan genggaman tangan kakaknya terlepas. Selama 1 tahun dia mencoba melupakan laki-laki itu, mencoba merelakannya menikah dengan Neul Rin. Tapi ia tidak bisa membohongi hatinya sendiri, ia masih mencintai Minho. Sangat mencintainya.

“Tamu yang ditunggu sudah datang,” seru Ji Kyo kemudian duduk di sebelah Jinki. Meja berbentuk lingkaran itu sudah terisi 4 orang, ditambah Hyunmi dan Jonghyun akan terisi penuh semuanya.

“Oppa, Hyunmi,” sapa Neul Rin. Hyunmi membalas sapaan Neul Rin dengan senyuman lalu duduk di sebelah Ji Kyo. Sedangkan Jonghyun duduk di sebelah Neul Rin, tapi tetap di sebelah Hyunmi.

Mereka terus bertanya tentang kehidupan Jonghyun. Selama tinggal di Perancis, ketika kuliah di LA bersama Hyunmi. Jonghyun menceritakan semuanya pada orang-orang yang ada di meja makan malam itu. Tapi Hyunmi tidak mendengarkan itu semua, ia terus memandang Minho yang terlihat serius mendengar cerita Jonghyun. Ketika laki-laki itu tertawa, hati Hyunmi semakin sakit. Tapi di sisi lain, ia senang karena melihat laki-laki yang dicintainya bisa bahagia walaupun tidak bersamanya.

Acara makan malam pun berlangsung menyenangkan bagi orang-orang di sana, tapi tidak dengan Hyunmi. Ia tidak tahu bagaimana kehidupan Jonghyun selama ini, jadi ia hanya menjadi pendengar setia dan tidak mengatakan apapun. Lebih baik dia diam daripada berbicara dengan suara bergetar karena takut mendapat tatapan dari Minho. Ia takut, akan menangis lagi. Mengingat bahwa Neul Rin hamil oleh laki-laki itu setelah perceraian mereka. Hyunmi selalu berusaha menghapus ingatan itu.

Hyunmi berdiri di balkon apartemen Ji Kyo sambil menunggu yang lain membereskan meja makan. Ia menghela napas panjang, membiarkan okisgen mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Bersikap rela, padahal hatinya sama sekali tidak rela.

“Hai,” sapa seseorang membuat Hyunmi menoleh ke samping. Neul Rin berdiri di samping Hyunmi dan memegang pagar pembatas. Ikut menatap langit malam yang terlihat indah malam itu.

“Kau beruntung memiliki Jonghyun oppa,” seru Neul Rin tiba-tiba. Hyunmi masih saja menatap Neul Rin, kali ini ia menaikkan sebelah alisnya heran.

“Dia orang terbaik yang pernah kukenal,” Neul Rin tersenyum kecil, ia menepuk pagar pembatas itu pelan.

“Kau juga beruntung memiliki Minho, Neul Rin,” balas Hyunmi sambil menundukkan kepalanya. Ia memaksa bibirnya untuk membentuk senyum agar tidak membuat Neul Rin merasa bersalah. Ia terkekeh kecil dan menatap ke depan.

“Kau sangat beruntung Neul Rin,” tambah Hyunmi lagi.

Neul Rin menangkap sesuatu yang aneh di mata Hyunmi. Gadis itu memaksakan untuk tersenyum, tapi hatinya tidak. Ia sadar kalau ia sudah merebut Minho dari Hyunmi, merebut hati laki-laki itu. Tidak mudah untuk seseorang yang sudah mencintai laki-laki selama 5 tahun dan melupakannya begitu saja. Apalagi 3 tahun dengan Long Distance Relationship. Bahkan ia sendiri tidak yakin bisa berpacaran selama itu.

“Neul Rin-ah !” panggil Minho membuat Neul Rin menoleh ke belakang.

“Hyunmi, aku pulang dulu. Gomawo kau sudah mau menjaga Jonghyun oppa,” Neul Rin menepuk pundak Hyunmi pelan kemudian berlari menyusul Minho di dalam apartemen Ji Kyo. Hyunmi mendorong hatinya untuk tidak menangis, masih ada orang-orang yang mencintainya.

***

Jonghyun memandangi punggung Hyunmi dari dalam apartemen Ji Kyo. Ia melihat gadis itu memerosotkan bahunya setelah kepergian Neul Rin. Terlihat jelas kalau gadis itu masih mencintai Minho. Jonghyun melangkah mendekati Hyunmi dan berdiri di sebelahnya.

“Kau menyedihkan Ms.Kim,” seru Jonghyun. Hyunmi menyeka kedua matanya kemudian menatap ke depan.

“Yeah, aku munafik huh ?” Hyunmi tersenyum lalu berbalik meninggalkan Jonghyun.

Laki-laki itu mencoba menyadarakan dirinya sendiri. Untuk apa ia peduli pada wanita itu. Ia masuk dan menghampiri Jinki yang tengah menonton TV. Ia duduk di sebelah Jinki, mencoba memulai pembicaraan dengan kakak iparnya itu.

“Hyung,” sapa Jonghyun. Jinki melirik sekilas, menyunggingkan senyuman kemudian kembali menonton TV. Ia menoleh ke arah Ji Kyo dan Hyunmi yang terlihat seru bermain dengan Ji Sook. Laki-laki itu merasa asing ada di sana, orang-orang tidak memperhatikannya sama sekali. Mungkin pernikahan itu memang seharusnya tidak ada. Atau mungkin juga pernikahan itu terlalu cepat, jadi ia belum sempat mengenal keluarga Hyunmi.

“Jonghyun-ah,” Jonghyun menoleh ke belakang ke arah Ji Kyo yang memanggilnya. Ia menyuruh laki-laki itu untuk menghampirinya.

Jonghyun melangkah ke arah meja ruang tamu tempat kedua wanita itu duduk. Ji Kyo merebut Ji Sook dari gendongan Hyunmi dan menyuruh Jonghyun untuk menggendongnya. Bayi berumur 1 tahun itu merentangkan tangannya meminta digendong oleh Jonghyun.

“Mwoya ?” tanya Jonghyun polos.

“Kau harus belajar menggendong bayi. Sebentar lagi kau pasti punya bayi kan ? Ayo belajar,” Ji Kyo masih saja menyodorkan Ji Sook untuk di gendong oleh Jonghyun. Hyunmi menatap Jonghyun beberapa saat.

“Ah, n-ne,” Jonghyun meraih Ji Sook dari tangan Ji Kyo. Ia menggendongnya dengan perlahan, mencoba menjaga keseimbangan bayi itu.

“Hati-hati kepalanya,” seru Ji Kyo. Jonghyun memegang tengkuk Ji Sook dengan sebelah tangannya.

“Hati-hati pinggangnya,” Jonghyun memindahkan tangannya ke pinggang bayi itu.

“Ya ! Coba pegang tengkuk dan pinggangnya,” kali ini Hyunmi angkat bicara karena gemas melihat Jonghyun. Laki-laki itu mencoba menjaga tengkuk dan pinggang Ji Sook.

“Ya ! Ya !”

***

Perjalanan pulang Jonghyun terasa sangat membosankan. Selama perjalanan Hyunmi terus mengomel karena kejadian Ji Sook –terkilir di bagian lehernya karena Jonghyun tidak benar menggendong bayi itu. Jonghyun mengunci mulutnya menerima setiap omelan dari istrinya itu.

“Aish, Ji Kyo eonni pasti marah padaku,” gerutu Hyunmi lagi, dan Jonghyun berharap itu kata-kata terakhir yang keluar dari mulut gadis itu.

“Jonghyun, kau dalam masalah –,”

“Uh, bisa kau berhenti bicara sebentar ? Kupingku sakit Ms.Kim,” sela Jonghyun akhirnya.

“I’m sorry. . Aku tidak sengaja, ia yang memaksaku untuk menggendong bayi itu kan ? Jangan salahkan aku sepenuhnya,” sambung Jonghyun. Hyunmi mendengus kesal dan menendang dashboard mobil laki-laki itu.

“Ya ! Jangan sentuh apapun yang ada di sini ok ?” Jonghyun mengusap dashboard mobilnya yang kotor.

“Neo ! Kau harus tanggung jawab Jonghyun-ssi,” seru Hyunmi. Jonghyun membekap mulut gadis itu dengan sebelah tangannya.

“Jangan katakan apapun,”

Hyunmi menarik tangan Jonghyun dari mulutnya. Ia memandang keluar jendela yang tertesi air hujan. Mimpi apa ia bisa menikah dengan laki-laki di sebelahnya.

“Hei pendek, aku lapar,” seru Hyunmi. Panggilan ‘pendek’ itu tiba-tiba muncul di otaknya, Hyunmi terkekeh ketika laki-laki itu tidak menyadari panggilan barunya.

“Mwoya ? Kau memanggilku apa ? Pendek ?” tanya Jonghyun akhirnya. Hyunmi melipat tangannya  di depan dada kemudian menganggukkan kepalanya.

“Kau kira kau tidak pendek ? Wanita seumuranmu hanya 165 senti, itu aneh,” balas Jonghyun.

“Ya ! 165 senti itu termasuk standar untuk orang Asia. Tapi laki-laki, standarnya sekitar 175. Dan kau tidak mencapai itu semua,” Jonghyun mengerem mobilnya mendadak, membuat tubuh Hyunmi sedikit terpelanting ke depan.

“Waeyo ?” tanya Hyunmi. Jonghyun membuka pintu di samping Hyunmi, menyuruh gadis itu keluar.

“Keluar,” seru Jonghyun. Hyunmi memandang Jonghyun sekilas kemudian keluar dari mobil laki-laki itu. Baru saja gadis itu keluar, Jonghyun sudah memacu mobilnya.

Hyunmi menutupi kepala dengan tangannya. Hujan semakin deras dan membuat ia terpaksa berteduh di bawah toko-toko yang sudah tutup. Memang salah juga ia memanggilnya dengan sebutan pendek, tapi itu memang cocok untuk Jonghyun.

“Hyunmi-ssi ?” Hyunmi menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Jonghoon berdiri dengan payung di tangannya. Ia menatap Hyunmi heran.

“Kenapa kau bisa disini ?” tanyanya. Hyunmi segera berpindah ke bawah payung bersama Jonghoon.

“Jangan tanya apa-apa. Antarkan aku ke apartemen ya ? Please,” mohon Hyunmi tiba-tiba. Jonghoon mengangguk dan membawa gadis itu ke mobilnya.

“Kenapa  sajangnim masih ada diluar ?” tanya Hyunmi, membuka pembicaraan ketika mereka sudah di dalam mobil.

“Jangan sebut aku sajangnim di luar kantor,” sela Jonghoon, Hyunmi mengangguk tapi masih menunggu jawaban dari bosnya itu, “ Ah iya, aku mencari makan malam di sini. Tapi semuanya sudah tutup,” jawabnya sambil terkekeh kecil.

“Dimana Jonghyun ?” sambung Jonghoon.

“Jonghyun ? Aku sedang tidak bersamanya, ponselku mati, jadi tidak bisa meneleponnya. Antarkan aku ya ?” rayu Hyunmi lagi. Jonghoon mengangguk dan akhirnya ia menyetujui untuk mengantar gadis itu.

***

 

Hyunmi memandang layar komputernya tidak berselera. Insa tidak masuk kerja hari itu, jadi ia tidak bisa mencurahkan semuanya tentang Jonghyun. Hyunmi teringat sesuatu, ia membuka laci meja kerjanya dan menemukan tiket yang diberikan Insa. Hadiah dari kantor untuk pernikahan mereka. Ia bangkit lalu menghampiri ruangan Jonghyun, tapi langkahnya terhenti ketika mendapat teguran dari Yoona.

“Kau harus membuat janji dulu Ms.Kim,” seru Yoona. Hyunmi menghampiri meja Yoona, menopang tangannya dan menatap gadis itu lekat.

“Aku istrinya, jadi bisa bebas bertemu dengannya di rumah maupun di kantor,” Hyunmi berjalan ke dalam ruangan Jonghyun tanpa menunggu balasan dari Yoona.

Jonghyun mengangkat kepalanya dari majalah yang ia baca ketika mendengar pintu ruangannya terbuka. Ia melihat Hyunmi masuk sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Ia terus menatap Hyunmi sampai gadis itu duduk di hadapannya.

“Ada apa ?” tanya Jonghyun, melipat majalah yang dibacanya. Hyunmi menaruh tiket yang dipegangnya ke atas meja kerja Jonghyun. Tatapan laki-laki itu mengarah ke tiket pesawat yang disodorkan istrinya.

“Insa memberiku tiket ini. Ia bilang hadiah dari kantor karena pernikahan kita,”

“Saipan ? Kepulauan Mariana ?” Hyunmi mengangguk mengiyakan pertanyaan Jonghyun.

“Kau mau kan ?” rayu Hyunmi sambil mengeluarkan puppy eyes andalannya.

“Aku tidak akan terpengaruh dengan tatapanmu itu Ms.Kim,” Jonghyun memalingkan wajahnya dari tatapan menggelikan Hyunmi. Gadis itu menyandarkan tubuhnya pasrah.

“Kim Jonghyun, ayolah,” rayu Hyunmi lagi. Kali ini tangannya mengguncangkan tangan Jonghyun agar laki-laki itu menatapnya lagi.

“Sajangnim, ada –,” ucapan Yoona terhenti ketika melihat Hyunmi memegang tangan Jonghyun. Hyunmi menolehkan kepalanya bersamaan dengan Jonghyun.

“Waeyo ?” tanya Jonghyun sambil melepaskan tangan Hyunmi dari tangannya. Ia berdiri menghampiri Yoona.

“Hari ini sajangnim ada meeting di Daegu,” seru Yoona sambil mengawasi Hyunmi dari balik bahu Jonghyun.

“Ne,” jawab Jonghyun kemudian mengambil jasnya. Ia menatap Hyunmi sekilas, “Aku akan memikirkannya lagi,”

Yoona menutup map yang di bawanya bersamaan dengan langkah Jonghyun yang menjauhi kursi Hyunmi. Laki-laki itu keluar bersama Yoona dan menutup pintu ruangannya. Hyunmi mengambil tiket itu lagi dan segera keluar dari ruangan Jonghyun. Kenapa ia terlalu berharap pada laki-laki itu, dan kenapa juga ia sangat menginginkan liburan ke Saipan. Padahal ia bisa mengajak Ji Kyo, atau Neul Rin mungkin. Tapi kenapa ia masih bersikeras mengajak Jonghyun –yang notabene sibuk dengan pekerjaannya.

“Pabo gateun,” gumam Hyunmi kemudian duduk kembali di meja kerjanya. Ia menatap meja kerja Insa, lalu sedetik kemudian beralih duduk di meja kerja temannya itu. Ia melihat selebaran yang tergeletak di tumpukan paling atas kertas kerja. Hyunmi mengambil selebaran itu dan membacanya.

Selebaran itu memuat tentang nama hotel dan paket liburan di Saipan. Di kertas itu terlingkari paket travel yang paling mahal dengan hotel yang mahal juga. Hyunmi mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Insa.

“Ya ! Yoon Insa, kau bohong huh ?” semprot Hyunmi ketika teleponnya diangkat.

‘Bohong tentang apa ?’

“Kau bilang liburan ke Saipan ini hadiah dari kantor. Sebenarnya bukan huh ?”

‘A-ahni,’

“Ya !” desak Hyunmi akhirnya.

‘Haish. . Ne, itu memang aku yang merencanakannya. Aku sudah menyiapkan travel dan hotel yang paling bagus disana. Dan aku mau, kau tidak menyia-nyiakan itu semua. Kau harus menghasilkan ketika pulang dari sana,’

“Mwoya ? Kau memaksaku huh ?”

‘Ne, aku memaksamu untuk mengambil hadiah dariku,’

Hyunmi menghela napas sejenak. Ia merasa tidak enak dengan Insa, kalau hadiah dari kantor mungkin ia bisa menolaknya. Tapi hadiah dari sahabatnya sendiri, ia tidak bisa.

“Araseo, aku akan mengambilnya,”

‘Aaah !! Kamsahamnida Hyunmi-ssi,’ balas Insa sambil terkekeh kecil.

Obrolan mereka berlanjut. Hyunmi menanyakan kenapa alasan sahabatnya itu tidak masuk. Dan akhirnya mereka malah saling bertukar cerita. Kedua sahabat itu memang tidak pernah habis bahan untuk di bahas. Itulah yang membuat Hyunmi senang berteman dengan Insa. Gadis itu ramah, selalu mendukung apapun yang dilakukannya.

***

Hyunmi terus menatap laki-laki di depannya yang terlihat lahap memakan makan malamnya. Laki-laki itu menghentikan makannya dan balas menatap Hyunmi. Ia menaruh sumpit yang di pegangnya kemudian menyeka mulutnya.

“Hadiah itu dari Insa, bukan dari kantor,” sergah Hyunmi sebelum laki-laki itu menanyakan kenapa ia menatapnya.

“Lalu ? Kau mau aku menerimanya ?” tanya Jonghyun. Hyunmi memajukan kursinya semakin mendekat ke meja.

“Ne, aku akan menerimanya. Kalau kau tidak mau ikut aku bisa ajak Neul Rin, atau Minho ?” jawab Hyunmi. Ia menaikkan sebelah alisnya menunggu reaksi Jonghyun.

“Ya ! Ya ! Aku akan ikut, jangan ajak laki-laki manapun selain aku,”  balas Jonghyun sambil menyentil kening gadis di depannya. Hyunmi meringis kecil, memegang keningnya yang mulai memerah.

“Waeyo ? Kau cemburu ?” goda Hyunmi.

“Me ? Jealous ? Of Course. . not,” Jonghyun membawa mangkuk nasinya yang sudah kosong ke tempat cuci piring.

“Jonghyun-ssi, kau masih merasa aneh ?” tanya Hyunmi membuat Jonghyun menghentikan aktifitasnya yang tengah mencuci piring. Laki-laki itu membalikkan tubuhnya, bersandar di meja dapur dan menatap Hyunmi yang masih duduk di meja makan.

“Sangat aneh. Aku masih tidak percaya sudah menikah denganmu, orang yang paling aku benci,” jawabnya. Hyunmi menopang dagunya di atas meja sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

“Yeah. Impianku menikah dengan namja tinggi, tapi aku malah menikah denganmu. Yang jelas-jelas di bawah standar orang Asia,” balas Hyunmi, masih tetap memakan nasinya.

“Ya. . jangan mulai lagi,” Jonghyun kembali duduk di depan Hyunmi. Ia menggeser kursinya semakin mendekat ke arah gadis itu.

“Jangan mendekat lagi Kim Jonghyun. Aku tidak mau ada jarak dekat lebih dari setengah meter, jangan melakukan hal bodoh lagi,” sergah Hyunmi. Ia bangkit dari kursi dan masuk ke dalam kamar meninggalkan sisa makannya. Jonghyun menyeringai kemudian bangkit dari kursi makan.

Ia menaiki tangga ke atap penthousenya. Menatap langit-langit malam yang tidak mendung seperti hari kemarin. Jonghyun bersandar di bagian miring atap itu. Ia melipat tangannya ke belakang kepala untuk dijadikan bantal. Mungkin ia harus menerima tawaran Hyunmi untuk liburan ke Saipan. Hitung-hitung untuk liburan dari urusannya di kantor.

***

Hari itu hari sabtu, hari libur bagi para pegawai di kantor. Hyunmi baru saja selesai melipat selimut ketika Jonghyun keluar dari kamar mandi. Jonghyun menaruh handuknya di tempat handuk kemudian loncat ke atas tempat tidur yang saat itu sedang di bereskan oleh Hyunmi.

“Ya ! Haish, minggir-minggir,” seru Hyunmi sambil mendorong Jonghyun agar turun dari tempat tidur.

“Ahni, aku mau tidur lagi,” balas Jonghyun kemudian melipat tangannya ke belakang kepala. Hyunmi mendengus dan membalikkan selimut yang baru dilipatnya. Menutup seluruh tubuh Jonghyun.

“Bangun Kim Jonghyun,” Hyunmi menggoyangkan Jonghyun yang ada di balik selimut. Jonghyun menggumam tidak jelas lalu menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Ia duduk di atas tempat tidur.

“Aku sudah memutuskan,” ujar Jonghyun tiba-tiba.

“Memutuskan apa ?” tanya gadis itu, masih tetap menjaga jarak dengan Jonghyun. Jonghyun menolehkan kepalanya kemudian tersenyum lebar.

“Kita pergi ke Saipan,” jawabnya sontak membuat Hyunmi membulatkan matanya.

“Jeongmal ?” tanya Hyunmi senang. Jonghyun mengangguk, refleks Hyunmi memeluk laki-laki itu.

“Kyaa !! Kamsahamnida Jonghyun-ssi,” balas Hyunmi lalu melepas pelukannya. Ia menatap Jonghyun sekilas kemudian melepas tangannya dari pundak Jonghyun. Ia kembali mundur dan berdehem kecil untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba muncul.

“Ehm, err, sebaiknya kau siapkan bajunya sekarang,” ucap Jonghyun menengahi situasi. Hyunmi mengangguk, ia beralih ke lemari dan mulai mengeluarkan baju untuk dimasukkan ke dalam koper.

“Kita tinggal seminggu disana, bawa baju yang banyak,” seru laki-laki itu sambil menurunkan kakinya dari tempat tidur.

Sementara Hyunmi membereskan baju, Jonghyun membereskan tempat tidur yang baru di acak-acak olehnya. Ia mengangkat bantal yang dipakai Hyunmi tadi malam, tapi tangannya terhenti ketika melihat sebuah kotak kecil. Jonghyun meraih kotak kecil itu kemudian menaruh bantal yang di pegangnya. Sebelum membukanya, ia menoleh ke arah Hyunmi yang masih membereskan baju dengan posisi membelakanginya.

Jonghyun membuka kotak berukiran bunga-bunga kecil itu. Napasnya sempat tertahan ketika melihat isinya. Ia menutup kembali kotak itu dan menaruhnya di bawah bantal Hyunmi. Jonghyun menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran aneh yang menyeruak muncul di otaknya.

“Ms.Kim,” panggil Jonghyun. Hyunmi menggumam tanpa menolehkan kepalanya ke arah laki-laki itu. Jonghyun membuka mulutnya, tapi segera ia tutup kembali. Ia merasa tidak pantas untuk menanyakan hal itu. Walaupun ia berstatus sebagai suami dari gadis itu, Jonghyun menghormati keputusan Hyunmi.

“Aku keluar sebentar. Membeli beberapa makanan untuk di  sana,” Jonghyun beranjak dari tempat tidur mengambil jaketnya yang tergantung di dekat pintu kamar. Tangannya terhenti di tempat kunci di sebelah tempat jaketnya. Bingung antara naik motor atau naik mobil.

“Naik motor saja,” ujar Hyunmi seolah tahu apa yang dipikirkan laki-laki itu. Jonghyun meraih kunci motor sport miliknya dan segera melesat keluar penthouse.

***

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di supermarket terdekat dengan naik motor. Apalagi Jonghyun membawa motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak lebih dari 5 menit pun ia sampai di supermarket yang jaraknya hampir 20km.

Jonghyun mengambil keranjang di pintu masuk supermarket itu. Membawanya ke tempat buah-buahan, memilih buah terbaik yang ada disana. Setelah mengambil beberapa buah, ia beranjak ke tempat makanan ringan. Setiap snack yang menurutnya enak ia ambil. Terlebih lagi di bagian minuman, ia mengambil semua minuman yang disukainya termasuk wine. Kebetulan persediaan di penthousenya sudah mulai menipis, jadi ia membeli cukup banyak.

“Silyehamnida. Could you –,” Jonghyun menolehkan kepala ke arah gadis yang –kira-kira meminta tolong padanya. Tapi ucapan gadis itu malah terhenti ketika melihat Jonghyun.

“Fany?” tanya Jonghyun heran. Gadis itu tersenyum, menunjukkan eye smile terbaiknya.

“Jonghyun-ah !” balas gadis itu kemudian memeluk Jonghyun. Sedangkan laki-laki yang di peluknya hanya diam. Masih tidak percaya wanita yang ada di hadapannya saat itu.

“Omo~, kebetulan aku bisa menemukanmu disini,” gadis itu melepas pelukannya dan menatap Jonghyun masih tetap menunjukkan senyumnya. Jonghyun menggaruk kepalanya bingung, entah bagaimana membuka pembicaraan.

“Kapan kau sampai di korea ?” tanya Jonghyun akhirnya. Ia menaruh keranjang belanjaannya yang tiba-tiba terasa berat. Gadis itu menghela napas panjang.

“Hhh, aku pernah bilang lewat telepon 1 bulan yang lalu,” jawabnya. Jonghyun merutuki dirinya sendiri. Bulan kemarin ia menerima telepon dari gadis itu, memberitahunya kalau ia akan datang ke korea bulan depan. Dan ia malah melupakannya.

“Sorry, aku lupa,” Jonghyun kembali mengangkat keranjang miliknya, “Ah iya Tiffany, kenapa kau bisa ada disini ? Ah maksudku, di supermarket ini,”

“Di apartemenku tidak ada makanan,” jawab gadis bernama Tiffany itu singkat.

Kedua orang itu berjalan berdampingan sampai ke depan kasir. Jonghyun mencegah Tiffany yang akan membayar belanjaannya, ia mengeluarkan uang lebih kemudian membayar belanjaan gadis itu dan belanjaan miliknya.

“Kau naik apa ?” tanya Jonghyun sambil membawa tas plastic mereka keluar supermarket.

“Taksi,” jawabnya singkat lagi. Jonghyun menghentikan langkah tepat di samping motornya.

“Aku bawa motor. Well, kau tidak perlu naik taksi,” ia menyerahkan belanjaan itu pada Tiffany dan naik ke atas motor. Tiffany memandang heran laki-laki di hadapannya.

“Ayo naik,” ajak Jonghyun lalu memakai helmnya. Tiffany naik ke motor laki-laki itu sambil memegangi tas belanjaannya.

Jonghyun merasakan hal aneh ketika gadis itu memeluknya. Perasaan itu masih ada, ketika mereka masih menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Tapi sayangnya hubungan mereka sudah berakhir tiga tahun yang lalu. Ketika gadis itu, mengkhianati Jonghyun.

“Gomawoyo Jonghyun-ah,” seru Tiffany sambil menyerahkan belanjaan milik Jonghyun.

“Cheonmaneyo. Aku pulang dulu,” Jonghyun meraih tas plastic itu kemudian menaruhnya di depan dadanya. Ia tersenyum sekilas lalu memacu mobilnya meninggalkan gedung apartemen Tiffany.

Selama perjalanan pulang kembali ke penthouse-nya. Ia sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Sisa-sisa perasaannya masih ada. Sayangnya ia yang dulu memutuskan hubungan itu. Pikirannya kalut ketika melihat Tiffany pergi dengan laki-laki lain. Dan ia melontarkan kata ‘putus’ secara sepihak tanpa menunggu penjelasan dari gadis itu. Sepertinya ia mulai menyesal.

***

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di Saipan international airport. Jonghyun meregangkan otot lehernya, sama dengan Hyunmi. Tanpa memikirkan yang lainnya, mereka langsung naik ke dalam taksi dan pergi ke hotel.

Hyunmi meninggalkan kopernya di belakang pintu dan langsung menghempaskan diri ke atas tempat tidur. Tenaganya sudah habis karena perjalanan yang panjang. Jonghyun membuka pintu kaca yang mengarah ke laut. Ia merentangkan tangan, menghirup napas dalam-dalam membiarkan udara laut masuk ke dalam paru-parunya.

“Ya ! Kau tidak lelah huh ?” tanya Hyunmi tanpa bergerak sedikit pun dari tempat tidur. Jonghyun melangkah keluar, ke balkon kamar kemudian memegang pagar pembatas yang ada.

“Ssh, pemandangannya bagus,” gumam Jonghyun sambil menatap ke seluruh pesisir pantai di depannya. Hyunmi duduk di atas tempat tidur, melipat tangannya di depan dada seraya memandangi laki-laki yang tengah berdiri membelakanginya. Baru saja ia akan membuka mulut ketika ponselnya berbunyi. Ia membuka tas kecil yang tadi dibawanya dan segera mengangkat telepon itu.

“Ne, aku sudah sampai. Iya, insa-ya, aku akan meneleponmu lagi. Mwo ? Menghasilkan apa ? Kkkk, sudah aku mau mandi dulu,”

Hyunmi melempar ponselnya ke tempat tidur disusul tubuhnya yang juga terlempar ke atas tempat tidur. Ia merasa tempat tidur itu sangat empuk. Entah hanya karena ia kelelahan atau memang tempat tidurnya sangat empuk.

Tempat tidur itu bergoyang karena Jonghyun ikut menghempaskan tubuhnya. Disaat yang sama, Hyunmi merasakan hal yang aneh ketika laki-laki itu ada di sebelahnya. Ia memang tidur membelakangi Jonghyun, tapi entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat.  Gadis itu berusaha menyadarkan dirinya sendiri, tidak mungkin jantungnya berdetak seperti itu hanya karena Jonghyun.

“Hey, aku mau mandi dulu,” seru Jonghyun kemudian beranjak dari tempat tidur. Hyunmi tidak menjawab dan malah memejamkan matanya.

Langkah Jonghyun terhenti saat melihat Hyunmi tengah tertidur. Ia menghampiri gadis itu dan berjongkok di depannya.

“Tch, baru datang sudah tidur lagi. Dasar tukang tidur,” Jonghyun mengacak rambut Hyunmi lalu pergi ke kamar mandi.

Mata Hyunmi terbuka saat pintu kamar mandi itu tertutup. Ia memegangi dadanya yang –lagi-lagi berdetak lebih cepat. Wajahnya memanas dan seluruh tubuhnya memanas hanya karena rambutnya di acak-acak oleh Jonghyun. Oke, kau berlebihan Hyunmi, batinnya.

“Ms.Kim !!” Hyunmi bangkit dari tidurnya. Pintu kamar mandi itu terbuka, Jonghyun sedikit menyembulkan kepalanya.

“Ya ! Sabunnya masih ada di koper. Could you take it out for me ?” seru Jonghyun. Hyunmi menatap ke arah koper yang masih tergeletak di belakang pintu. Ia beranjak dengan malas lalu menarik koper itu ke samping tempat tidur.

“Palli-wa !” teriakan Jonghyun membuat Hyunmi mengacak-acak isi koper milik Jonghyun. Ia mengeluarkan tas kecil yang berisi sabun dan segera berlari ke depan kamar mandi.

Jonghyun mengulurkan tangannya untuk meraih tas kecil yang diberikan Hyunmi. Dan lagi-lagi dia mendapat ide untuk mengerjai gadis itu. Bukannya meraih tas, ia malah memegang pergelangan tangan Hyunmi. Ia tidak melepaskan tangan Hyunmi walaupun gadis itu berontak.

“Ya ! Lepaskan Kim Jonghyun,” Hyunmi terus mencoba menarik tangannya.

“Ahni. Ayo masuk,” sahut Jonghyun sambil mengerling ke arah Hyunmi.

“Ya ! Ya ! Andwae !”

BRAK

-to be continued-

stress ceritanya -___-

kelamaan updatenya -___-

 

oke oke, apa yg terjadi selanjutnya ?

hohoho *evil laugh

tunggu part selanjutnya

secepatnya (?)

 

Please RCL + Vote Me

kamsahamnida

Leave Comment

 

^Ima^

7 thoughts on “[FanFic] Curse Marriage (2nd Part)

  1. Kyaaa seru banget critanya,….next part jangan lama2 ya thor??….udah dech hyunmi jangan dipikirin lagi minhonya,
    si hyunmi mulai ada rasa sukanich ma jjong.nice ff

  2. Waaa…itu jong usil bgt ya?
    Sbnernya mreka udah mulai tertarik sm sosok masing masing..cm mreka trus trusan mensegusti pikiran mreka kalo mreka saling benci…ckckck

  3. Doh, Jjong mulai nih pervertnya… kekeke
    Aduh, jadi ikutan bingung juga gimana itu kejadiannya hubungan mereka..
    peramalnya keren nih… keke
    daebak ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s