[FanFic] Curse Marriage (1st Part)

Title       : Curse Marriage

Author  : Ima Shineeworld

Cast       : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

Other    : Choi Jonghoon (FTI), Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD)

Rating   : PG+15

Genre   : Comedy, Romance, Angst

Note      : Jonghun FTI disini diganti jadi Jonghoon, biar ga pusing. Thanks. Satu lagi ketinggalan, aku dapet ide ini dari Sinopsis Novel Hocus Pocus, lupa ketulis tadi. Cuma sinopsis doang buat awalnya, tapi jalan cerita aku yang bikin sendiri. Thanks

Hyunmi mengecek berkas-berkas penting di tangannya. Laporan kerja selama satu tahun terakhir dan akan dipakai untuk meeting hari ini. Ia terlalu focus memperhatikan berkas-berkas itu sampai tidak memperhatikan jalan. Setiap pegawai yang menyapanya tidak terlalu di acuhkan karena ia sudah terlambat masuk ke ruang meeting hari ini.

BRUGH

Seseorang menabrak Hyunmi hingga kertas yang dipegangnya berhambur kemana-mana. Hyunmi segera memunguti kertas itu dengan tergesa. Ia berdiri dan bersiap memarahi orang itu. Tapi segera terhenti melihat orang di hadapannya. Penabrak sekaligus orang yang sangat dibencinya.

“Argh Kim Jonghyun, kau membuat hasil kerjaku berantakan,” semprot Hyunmi. Jonghyun yang tengah menelepon mengacuhkan Hyunmi dan malah melewati gadis itu.

“Ya !” seru Hyunmi kesal. Jonghyun sedikit menoleh, ia melambaikan tangannya kemudian pergi. Hyunmi menggeleng lalu segera berlari masuk ke dalam ruang meeting.

Seluruh mata memandang ke arah Hyunmi yang baru saja masuk. Termasuk pemimpin tertinggi di kantor itu. Hyunmi membungkukkan badan lalu beralih duduk di sebelah pemimpin tertinggi itu.

“Kau telat Hyunmi-ssi,” bisiknya. Hyunmi sedikit tersenyum membalas ucapan laki-laki itu.

“Mianhamnida Choi sajangnim,” balas Hyunmi.

Rapat itu berlangsung dengan lancar. Sampai di akhir rapat, mereka membahas masalah ulang tahun kantor yang akan datang. Tidak ada rencana khusus, hanya acara makan-makan di ballroom sebuah hotel. Untuk menghormati semua jasa-jasa karyawan yang sudah membangun kantor itu menjadi hebat seperti saat itu.

“Jadi. . peramal itu akan datang kan ?” Hyunmi sedikit tersentak mendengar pertanyaan laki-laki yang duduk sebelahnya itu.

“Peramal ? Sajangnim mendatangkan peramal ?” tanya Hyunmi heran. Laki-laki yang dipanggil sajangnim itu menoleh ke arah Hyunmi, membetulkan letak kacamatanya lalu tersenyum kecil.

“Yeah, peramal itu aku datangkan dari Jerman. Untuk meramal nasib perusahaan ini nantinya,” jawab laki-laki itu. Hyunmi menghela napas, hampir saja ia tertawa kalau tidak banyak orang di ruangan meeting hari itu. Menurutnya, ramalan atau hal semacamnya hanya omong kosong. Semua itu tidak benar, karena kebanyakan peramal sekarang hanya memikirkan uang tanpa peduli bagaimana orang yang diramalnya. Dengan kata lain, ia meramal orang dengan asal-asalan.

***

Hyunmi duduk di kantin kantor itu. Selama 2 jam membahas laporan akhir tahun, dan satu jam lagi membahas si peramal yang di datangkan dari Jerman itu. Kalau ia bisa keluar dari ruangan itu, ia akan keluar dan tertawa sekeras-kerasnya. Ayolah, seorang pemimpin tertinggi  di kantornya percaya pada hal-hal mistis seperti itu.

“Ahjumma bibimbap satu porsi,” teriak Hyunmi. Baru saja ia menyeruput lemon tea miliknya, ketika teman satu seperjuangannya datang dan duduk di hadapan Hyunmi.

“Wae wae ? Kau terlihat kusut Insa-ya,” wanita yang dipanggil Insa olehnya mendongak. Gadis itu mengacak-ngacak rambutnya sendiri seperti orang frustasi. Sontak Hyunmi memundurkan wajahnya.

“Karirku hancur Hyunmi,” balas Insa lalu menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Hyunmi memiringkan kepalanya mencoba memandang Insa.

“Kau dipecat ?” tanya Hyunmi. Insa menggeleng kemudian meraih lemon tea milik Hyunmi.

“Aku akan menikah. Eomma dan appa menyuruhku berhenti bekerja. Uhuhu, aku tidak mau berhenti bekerja,” Hyunmi terkekeh. Ia menepuk kepala Insa pelan, membuat gadis itu menopang dagu di atas meja. Obrolan mereka sedikit tersendat karena bibimbap yang dipesan Hyunmi datang. Hyunmi menggumam kemudian menatap Insa lekat.

“Kau harus menerima pernikahan itu Insa, kedua orangtuamu pasti punya rencana baik. Mereka tidak akan menjerumuskan anaknya sendiri,” sahut Hyunmi bijak. Insa menggelengkan kepalanya.

“Mereka menjerumuskanku,” balasnya lagi. Insa kembali menelungkupkan kepalanya dan menyeruput habis lemon tea Hyunmi.

Hyunmi mengendikkan bahu kemudian mulai memakan bibimbap miliknya. Pandangannya tertuju pada laki-laki yang baru saja masuk ke kantin. Laki-laki itu mengedarkan pandangannya dan terhenti pada Hyunmi. Ia melambaikan tangan, membuat Hyunmi tersedak oleh bibimbap yang baru di telannya.

“Hi, boleh aku duduk disini ?” tanya laki-laki itu. Hyunmi menatapnya sebentar lalu mengangguk. Insa menolehkan kepala, ketika melihat orang itu ia langsung menegakkan duduknya.

“Mianhae Choi sajangnim,” seru Insa.

“Ahni, jangan panggil aku seformal itu diluar kantor. Panggil aku Jonghoon-ssi,” balas laki-laki yang dipanggil Choi sajangnim itu. Hyunmi melirik Insa sekilas, saling bertanya maksud laki-laki itu tiba-tiba duduk di meja mereka. Keajaiban apa yang membawa laki-laki itu.

“Ah ne Jonghoon-ssi,” balas Hyunmi memecah keheningan yang tiba-tiba muncul.

Ketiga orang itu memulai makan siang dalam keadaan hening, canggung. Tidak biasanya pemimpin tertinggi di kantor itu makan siang di kantin, biasanya ia akan diam di dalam ruangan dan memakan bekal. Insa yang sudah menyiapkan semua isi hatinya yang akan ia curahkan pada Hyunmi, akhirnya harus ia telan lagi. Hyunmi menatap Insa yang juga tengah menatapnya. Saling pandang heran karena orang di sebelah mereka makan bekal, bukan membeli makanan di kantin.

“Kalian harus datang ke ulang tahun kantor nanti,” seru Jonghoon tiba-tiba.

“Wae ? Ada acara special ? Atau Sajangnim mau mengundang Super Junior ? SHINee ?” tanya Insa semangat. Hyunmi segera menyuruh Insa membungkam mulutnya sedetik saja. Gadis itu benar-benar cerewet.

“Ahni, aku hanya mengundang peramal dari Jerman. Hyunmi sudah tahu tentang ini, kau harus datang Insa-ssi,” jawab Jonghoon.

“Jeongmal ? Waah, aku harus datang. Mungkin peramal itu bisa membaca masa depanku nanti,” Insa menepuk tangannya dan menerawang jauh tentang masa depannya. Hyunmi segera membekap mulutnya, menahan tawa karena kedua orang di depannya sangat tertarik pada peramal itu.

“Are you serious ? You’ll come to Seoul next month ?” mata Hyunmi melirik ke arah meja di seberang meja mereka. Jonghyun tengah menelepon seseorang menggunakan bahasa Inggris.

“Ok, bye,” Jonghyun mengakhiri percakapan itu. Ia menaruh ponselnya kembali ke dalam saku. Disaat yang sama matanya bertemu pandang dengan Hyunmi. Gadis itu langsung menjulurkan lidahnya dan kembali meneruskan memakan bibimbap.

Sudah 1 tahun mereka –Jonghyun dan Hyunmi bekerja sama di satu kantor. Tetapi tidak ada perubahan di dalam keseharian mereka. Bertengkar, atau kalau bertemu pandang mungkin saling melirik sinis satu sama lain. Ada saja hal yang membuat mereka selalu bertengkar. Tapi satu kejadian nanti akan mengubah hidup mereka. Rasa kebencian itu akan membuat akibatnya sendiri.

***

Jonghyun memacu mobilnya meninggalkan kantor. Hujan sudah mulai turun membasahi musim semi tahun ini. Mobilnya berhenti di sebuah lampu merah di persimpangan jalan. Di halte di depan mobil Jonghyun saat itu, berdiri Hyunmi yang tengah menunggu bis. Gadis itu menggosok-gosok tangannya karena udara dingin yang semakin ekstrem.

Jonghyun menyeringai, ia memacu mobilnya dengan kencang melewati kubangan di depan gadis itu. Sontak air yang baru saja dilewatinya menyiram Hyunmi yang saat itu berdiri di samping kubangan. Hyunmi menggumam kesal kemudian berteriak memanggil mobil yang berhasil membuatnya basah kuyup.

“Ya ! Kau !” teriak Hyunmi. Jonghyun menghentikkan mobilnya dan mundur ke depan Hyunmi. Ia membuka kaca mobilnya perlahan. Sedikit menundukkan kepala untuk melihat Hyunmi.

“Waeyo ?” tanya Jonghyun dengan polosnya. Hyunmi ternganga, laki-laki itu sengaja melewati kubangan di depannya. Ia memandang bajunya yang basah, untung saja ia memakai blazer hitam kalau tidak orang-orang bisa melihat bagian dalamnya.

“Ya ! Kim Jonghyun !!” teriak gadis itu lagi. Baru saja Hyunmi akan menghampiri Jonghyun, tapi laki-laki itu malah memacu mobilnya.

“God, dia benar-benar membuatku kesal !”

Jonghyun mengintip dari spion mobilnya. Terlihat Hyunmi yang sedang mengusap wajahnya dengan kesal. Jonghyun terkekeh kecil kemudian melanjutkan perjalanan ke penthouse miliknya. Ia tidak habis pikir kenapa hatinya tidak ada rasa sedikitpun pada gadis itu. Hyunmi cantik, baik, menurutnya tapi entahlah. Ia tidak bisa berhenti membenci Hyunmi.

“I’m home,” seru Jonghyun sambil memasuki penthousenya. Ia langsung merebahkan diri di sofa dan melonggarkan dasi yang dipakainya.

Laki-laki itu bangkit ke arah dapur. Membuka kulkas dan mengambil sebotol air yang sudah tersedia. Ia membuka tutup botol itu kemudian meneguk isinya sampai habis. Jonghyun mengecek jadwal hariannya di depan pintu kulkas. Sekarang jadwalnya untuk membuat makan malam. Tapi di kulkasnya sedang kehabisan stock hari itu. Jonghyun masuk ke dalam kamar, mengganti baju dan keluar lagi dengan membawa payung untuk membeli beberapa bahan makanan.

Sebuah kerumunan orang di depan supermarket menjadi perhatian Jonghyun. Ia mencoba berjinjit melihat apa yang dilakukan orang-orang aneh itu. Uh ya, ingatkan dia kalau laki-laki itu terlalu pendek untuk mengintip dari belakang orang-orang yang lebih tinggi darinya.

Jonghyun menggumam kesal dan akhirnya menerobos orang-orang untuk sampai di barisan paling depan. Seorang wanita yang sudah cukup tua dengan dandanan gipsi khas seorang peramal tengah duduk di belakang meja. Diatasnya dilindungi payung besar agar barang-barang aneh di atas meja peramal itu tidak terkena air hujan.

Jonghyun memandangi orang-orang di sekitarnya yang terlihat antusias untuk bergantian diramal oleh wanita itu. Kebanyakan mereka –yang akan diramal berpasangan. Dan menanyakan masa depan hubungan mereka. Sayangnya Jonghyun tidak tertarik dengan hal-hal mistis seperti itu. Orangtuanya tidak mengajarkan untuk percaya dengan peramal atau apapun itu.

Baru saja ia akan berbalik ketika wanita itu memanggilnya. Jonghyun berbalik, ia menunjuk dirinya sendiri sambil memperhatikan semua pasang mata yang sekarang memandanginya.

“Na ?” tanya Jonghyun heran. Wanita peramal itu mengangguk dan menyuruh Jonghyun untuk duduk di hadapannya. Jonghyun melirik ke kanan kirinya.

“ Mian ahjumma, aku buru-buru,” balasnya kemudian berbalik keluar dari lingkup mistis di sekitarnya.

“Kau akan dapat kejutan beberapa hari lagi !” teriak wanita itu tapi tidak dihiraukan oleh Jonghyun.

“Kejutan yang akan membuatmu terjebak di dalamnya !” Jonghyun menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang, melihat wanita itu yang tengah terkekeh senang.

Jonghyun menggeleng tidak percaya lalu berlari masuk ke dalam supermarket. Selama memilih makanan pikirannya tidak mau berhenti memutar omongan dari peramal itu. Kejutan, entah kejutan apa. Yang jelas ia tidak akan percaya pada hal itu. Ia hanya bisa berharap semoga kata-kata orang itu salah.

***

@Hye Hotel

7.48 pm

February 3rd 2011

Keriuhan para karyawan sudah memenuhi ballroom Hye hotel malam itu. Alunan music lembut mengalun dengan indah dari setiap sudut ballroom. Para tamu yang hadir mulai menyantap makanan yang dihidangkan. Tidak lupa gelas-gelas  berjejer yang sudah diisi dengan wine ternama dari hotel itu.

Seorang laki-laki disambut dengan baik oleh wanita yang tengah berkerumun di sudut ruangan. Kecuali salah satu dari mereka yang malah menatap sinis ke arah laki-laki itu.

“Dia semakin keren huh ? Kim Jonghyun, andai aku bisa menikah dengannya,” gumam Insa pelan tapi terdengar jelas oleh Hyunmi. Hyunmi terbahak mendengar impian teman baiknya itu.

“Hahaha. . Apa yang kau katakan ? Menikah ? Dengan orang itu ?” ledek Hyunmi kemudian tertawa lagi. Insa dan yang lainnya memandang aneh pada Hyunmi. Hanya wanita itu yang membenci Jonghyun sepertinya.

“Come on Hyunmi. Dia orang paling berpengaruh di kantor ini selain Jonghoon,” tambah Ji Won, wanita yang berdiri bersama mereka juga.

“I don’t care. Ingatkan aku untuk tidak pernah berbicara dengannya,” Hyunmi menepuk pipi Insa pelan kemudian beranjak dari sana. Ia mengambil segelas wine yang ada. Matanya menjelajahi setiap sudut ballroom, hiasan berwarna ungu muda menghias setiap dinding ballroom. Impiannya adalah menikah dengan orang yang sangat dicintainya, tentu yang mencintainya juga di ballroom hotel ini. Jangan sampai kejadian satu tahun lalu terulang lagi.

Hyunmi membalikkan tubuhnya untuk kembali pada teman-temannya di pojok ruangan. Tapi terhenti ketika melihat Jonghyun berdiri di hadapannya. Ia mendongak menatap laki-laki itu. Hyunmi segera menggeser kakinya, melewati Jonghyun dengan santai.

“Ms.Kim,” panggil Jonghyun sontak menghentikkan langkah Hyunmi.

“Mwo ?” tanya Hyunmi pelan tanpa menoleh ke belakang, “kau mau minta maaf soal kubangan itu ?”

“Tch, tidak. Aku hanya ingin menyapamu,” Jonghyun terkekeh kecil kemudian meninggalkan gadis itu. Hyunmi mendecak lalu kembali dengan teman-temannya.

Keriuhan itu menjadi hening ketika seorang wanita tua memasuki ballroom hotel. Semua mata tertuju pada wanita bergaya gipsi itu dengan heran. Jonghoon segera menyambut wanita itu dan membawanya ke atas panggung. Jonghoon mengambil alih microphone.

“Attention please,” seru Jonghoon, membuat perhatian terfokuskan pada panggung. Hyunmi tidak mengikuti temannya maju mendekati panggung. Ia hanya diam di pojok, sama seperti Jonghyun yang juga tidak mengikuti yang lainnya.

Wanita peramal –yang baru datang dari Jerman itu maju selangkah ke depan microphone. Ia mulai mengambil mic itu, siap-siap mengeluarkan kata-kata ajaibnya.

“Mari kita hapus kebencian dari dalam hati kita. Hapus, buang rasa itu jauh-jauh dan sambutlah kebahagiaan. Terkadang kebencian itu akan membuat kita terjebak. Dan sekarang, aku mau kalian meminta maaf pada orang yang kalian benci –,”

“Puahahaha,” tawaan meledak dari setiap sudut ruang ballroom itu. Jonghyun dan Hyunmi terbahak mendengar mantra-mantra aneh dari wanita tua itu. Semua mata tertuju pada mereka.

Wanita peramal itu menatap dua orang skeptis yang masih saja tertawa. Ia menggumam kecil, mengucapkan sesuatu yang membuat tawaan dua orang itu berhenti. Kedua orang itu memegangi kepala mereka yang tiba-tiba terasa pusing.

Hyunmi keluar dari ballroom, begitu juga dengan Jonghyun. Kedua orang itu tidak sadar ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Seperti sihir, orang-orang yang ada di ballroom itu tiba-tiba melupakan kebencian antara Hyunmi dan Jonghyun kemudian kembali pada wanita tua itu.

“Ada akibatnya kalau kalian meremehkan aku,”

Kedua orang skeptis itu kembali ke dalam ballroom. Dua orang itu tidak sadar sepasang cincin sudah melingkari jari manis mereka. Kesadaran mereka seolah hilang karena mantra dari peramal itu. Dan semuanya berubah sejak saat itu. And the Curse Marriage is begin.

***

@ Jonghyun’s penthouse

8.00 am

February 28th 2011

Jonghyun membuka perlahan matanya. Ia menghalangi mata dengan sebelah tangannya karena matahari yang cukup menyengat. Tubuhnya terasa pegal, ia bangkit dan mulai menggeliat seperti biasanya. Matanya menelusuri setiap sudut kamarnya yang terlihat rapi pagi itu.

Hyunmi terbangun karena tempat tidur empuk yang di tempatinya bergoyang. Ia mengerjapkan mata berkali-kali kemudian bangkit duduk di atas tempat tidur. Dengan keadaan masih setengah sadar, ia menarik selimut menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun. Tunggu, tanpa baju ?!

Kedua orang itu menoleh bersamaan. Dan teriakan pun langsung memenuhi kamar Jonghyun, kedua orang itu berebut selimut untuk menutupi tubuh mereka masing-masing.

“What are you doing huh ?” tanya Jonghyun dingin. Hyunmi menarik selimut itu dengan keras.

“Aku tidak tahu. Kenapa kau bisa ada disini ?” balas gadis itu. Jonghyun memandangi setiap perabotan di kamarnya.

“This is my penthouse,” mata Hyunmi membelalak mendengar jawaban Jonghyun.

Ia segera meraih ponsel dan menghubungi teman yang bisa ditanya tentang keadaan sebenarnya. Jonghyun pun segera mengambil ponselnya, menghubungi sekretaris pribadinya di kantor.

“Insa-ya !” seru Hyunmi ketika Insa mengangkat teleponnya.

“Yoona-ssi,” seru Jonghyun ketika Yoona –sekretaris pribadinya mengangkat telepon.

“Apa bulan madu kalian sudah selesai ?” tanya kedua orang yang ada di telepon mereka bersamaan.

“MWO ?!”

Kedua orang itu segera menaruh ponsel mereka ke atas meja. Hyunmi dan Jonghyun mengangkat tangan kanan mereka, memandang sebuah cincin yang melingkar di jari manis mereka. Seperti sebuah puzzle, ingatan-ingatan itu mulai muncul ke permukaan. Pesta ulang tahun kantor, acara pertunangan itu, pernikahan mereka, dan terakhir kejadian saat bulan madu mereka.

“Tidak, tidak mungkin. Kenapa kejadian ini bisa terjadi ?” gumam Hyunmi. Ia menoleh ke arah Jonghyun yang juga tengah menatapnya.

“Apa yang kita lakukan tadi malam huh ?” tanya Jonghyun heran. Hyunmi menggeleng tidak mengerti, ia bangkit dari tempat tidur membawa selimut.

“Ya !” Jonghyun meraih bantal yang ada di dekatnya dan menutupi tubuh bagian bawahnya.

“Kita menikah ? Yang benar saja, apa yang akan dikatakan orang-orang kantor nanti ?” seru Hyunmi. Jonghyun ikut berpikir mengenai hal ini. Entah kenapa, ia seperti baru menempati tubuhnya sendiri. Seolah selama 15 hari yang dilaluinya berlangsung dengan sangat cepat. Tapi ia tahu bahwa pernikahan telah terjadi diantara mereka. Kejadian malam itu, ketika bulan madu mereka pun masih terekam dengan jelas di dalam benak Jonghyun. Ketika gadis itu berhasil membuat Jonghyun kehilangan akal sehatnya.

“Well, aku sudah menyentuhmu huh ?” tanya Jonghyun polos.

PLAK

“Yeah, dan aku akan segera melupakan itu. Jangan ingatkan aku tentang malam itu,” wajah Hyunmi bersemu merah. Ia berlari masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras. Yang ada di pikirannya sekarang, kenapa pernikahan yang sangat tidak diinginkannya terjadi. Menikah dengan seorang Kim Jonghyun, orang yang paling ia benci.

***

Seluruh pasang mata karyawan di kantor itu memandangi Jonghyun dan Hyunmi yang baru saja masuk. Pasangan itu baru saja masuk kerja karena selama 14 hari bulan madu yang mereka lalui. Selama itu mereka menjalani cuti yang diberikan kantor. Cuti pernikahan, kedua orang itu baru mendapat hal itu.

“Hi pengantin baru,” sapa Insa ketika Hyunmi duduk di sebelahnya.

“Aku sangat kaget saat kau bilang akan menikah dengan Jonghyun. Di pesta ulang tahun kantor waktu itu kau bilang kalian sudah bertunangan. Guess what ? Besoknya kalian malah sudah menikah. Dengan persiapan yang sangat matang. Saat itu aku mengerti, kenapa kau tidak memperbolehkanku menikah dengan Jonghyun. Karena kau mencintainya kan ? Apa aku bilang, rasa benci itu –hmmph,” Hyunmi segera membekap mulut temannya yang seperti seluncuran itu. Tanpa bertanya gadis di hadapannya itu sudah mengoceh panjang lebar yang membuat kepalanya semakin pusing.

“Shut up girl. Aku butuh waktu,” balas Hyunmi kemudian kembali focus pada komputernya. Insa terkekeh, ia mengambil sesuatu dari dalam laci kerjanya dan menyerahkannya pada Hyunmi. Hyunmi menoleh, menatap sebuah tiket pesawat di tangan Insa.

“Mwoya ?” tanya Hyunmi heran. Insa menaruh tiket itu di meja kerja Hyunmi.

“Hadiah pernikahan dari kantor. Liburan ke Saipan selama satu minggu. Daebak huh ?” jawab Insa sambil tersenyum tipis.

“Hadiah ? Kau gila ?! Aku ? Pergi dengan dia ?” tanya Hyunmi lagi seraya menunjuk ke arah ruangan Jonghyun. Insa mengangguk, ia meraih tangan Hyunmi dan menggenggamnya lembut.

“Ayolah, aku ingin punya keponakan,” rayu Insa.

“Ya !” Hyunmi menarik tangannya dari genggaman Insa. Ia memalingkan wajah dan menatap layar computer di depannya.

Hyunmi masih merasa aneh dengan keadaan sekitarnya. Gerak gerik yang ia lakukan selalu diperhatikan oleh orang-orang. Apalagi oleh Yoona, sekretaris pribadi Jonghyun yang selalu mengawasi Hyunmi dari jauh. Menikah, kenapa hal itu bisa terjadi begitu saja.

DRRT DRRT

Ponselnya bergetar. Hyunmi segera mengambil ponsel itu dari dalam saku dan melihat nama yang tertera. Ia langsung mengangkatnya.

“Yeoboseyo eonni,” sapa Hyunmi.

‘Aigo~ Hyunmi-ya. Aku merindukanmu,’ balas Ji Kyo. Hyunmi menjulurkan lidahnya, ia baru saja mendengar kata-kata yang sama sekali tidak pernah diucapkan kakaknya.

“Waeyo eonni ?” tanya Hyunmi.

‘Aku mengundangmu dan Jonghyun. Makan malam di apartemenmku nanti malam,’ Hyunmi membulatkan matanya. Bahkan kakaknya sudah mengenal Jonghyun, pernikahan itu benar-benar terjadi.

“Geundae, aku –,”

‘Hyunmi, aku mau bicara banyak dengan suamimu. Bawa dia,’ tanpa menunggu balasan dari Hyunmi, Ji Kyo langsung menutup teleponnya. Hyunmi memandangi layar ponselnya yang sudah tidak menampilkan nama Ji Kyo di layarnya. Ia menghela napas panjang dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

“Yeobo,” panggil seseorang membuat Hyunmi mendongak menatapnya. Jonghyun menopang dagunya di atas kayu pembatas meja kerja Hyunmi.

“Mwo ?! Kau memanggilku yeobo ? Jangan pernah sebut aku dengan panggilan itu,” Hyunmi mengerucutkan bibirnya. Ia baru saja akan mengajak Insa makan siang ketika melihat gadis itu sudah pergi meninggalkannya.

“Ayo makan siang,” ajak Jonghyun. Hyunmi menatap laki-laki itu aneh. Gadis itu beranjak dari kursinya dan melengos meninggalkan Jonghyun. Baru saja Hyunmi melangkahkan kakinya, Yoona sudah berlari menghampiri Jonghyun. Hyunmi yang melihat itu hanya menyeringai dan menjauh dari Jonghyun.

“Insa-ya !!” seru Hyunmi sambil duduk di hadapan gadis yang dipanggilnya. Insa yang sedang memakan gimbap mendongak melihat orang yang memanggilnya dengan suara melengking.

“Hyunmi ? Kau tidak makan bersama Jonghyun ?” tanya Insa. Hyunmi menunjuk ke belakang, ke arah Jonghyun dan Yoona yang berjalan berdampingan ke arah kantin.

“Tch, gadis itu. Ya ! Harusnya kau merebut Jonghyun dari Yoona, seenaknya membawa suami orang,” Insa semakin gemas ketika melihat Hyunmi malah santai dan Jonghyun yang telrihat biasa saja.

“Sepertinya aku yang harus bekerja,” gumam Insa. Ia berdiri dari kursi, berteriak memanggil Jonghyun. Sontak semua orang yang ada di kantin menoleh ke arah Insa, termasuk Hyunmi.

“Kim Jonghyun !!” panggil Insa lagi. Hyunmi bangkit dan membekap mulut gadis itu.

“Haish, kau membuatku malu Insa,” bisik Hyunmi kemudian mendorong Insa kembali duduk di kursi.

Jonghyun yang melihat itu menghiraukan kemudian duduk di pojok kantin bersama Yoona. Ia mencoba menghiraukan Hyunmi dan makan berdua bersama Yoona. Tapi Jonghyun tidak bisa melepaskan pandangannya dari Hyunmi, ketika Jonghoon duduk di antara mereka. Jonghyun menggelengkan kepala dan mulai memakan makanannya.

“Jeongmal ?” tanya Insa ketika Jonghoon menceritakan tentang peramal yang  pernah datang ke kantor mereka. Hyunmi menopang dagunya di atas meja sambil mengaduk-aduk lemon tea miliknya yang sudah mulai dingin. Obrolan kedua orang itu sangat tidak tertarik bagi Hyunmi.

“Err, Insa, Jonghoon-ssi, aku ke kantor dulu,” seru Hyunmi. Ia menyesap minumannya sebentar kemudian beranjak meninggalkan dua orang yang sangat addict dengan ramal-ramalan.

Hyunmi duduk di meja kerjanya seraya memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. Keadaan di sekitarnya membuat ia pusing. Tiba-tiba mendapat status istri seorang Kim Jonghyun, orang-orang dan keluarganya pun tahu siapa Jonghyun sekarang. Entahlah, semoga keanehan itu cepat berakhir.

***

Jonghyun mengantarkan Hyunmi ke apartemennya. Dan yang mereka temukan hanya seonggok gedung yang habis terbakar tanpa sisa sedikitpun. Hyunmi melemaskan tubuhnya ke sandaran kursi mobil. Mau tidak mau ia harus tinggal bersama di apartemen Jonghyun. Bagaimana pun ia tidak bisa tinggal bersama Ji Kyo, kecuali kalau ia mau mencari masalah dengan keluarganya.

“Sekarang kau mau apa Ms.Kim ?” tanya Jonghyun ketika mereka dalam perjalanan pulang.

“Ke apartemen Ji Kyo eonni di Incheon. Kau mau kan ?” Hyunmi memiringkan kepalanya mencoba menatap Jonghyun yang sedang menyetir.

“Yeah, dengan terpaksa atau mereka akan terus mendesak kita,” jawab Jonghyun dan langsung mendapat pukulan dari Hyunmi.

“Kalau kau tidak mau mengantarku, aku bisa naik bis,” seru Hyunmi kesal. Jonghyun terkekeh kemudian memacu mobilnya dengan cepat.

Kedua orang itu memasuki gedung apartemen Ji Kyo. Selama di lift mereka hanya diam, tidak bertengkar seperti biasanya. Jonghyun sesekali melirik ke arah Hyunmi yang terlihat tidak sabar menunggu sampai di lantai 8.

“Jangan memandangku terus Jonghyun-ssi,” sahut Hyunmi tiba-tiba. Jonghyun segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Memandang angka di atas pintu lift yang sudah menunjukkan angka 6.

BRAK

Lift berhenti tiba-tiba. Lampu di dalamnya juga mati. Entah karena mati lampu atau kerusakan system. Yang jelas mereka berdua terjebak di dalam lift sekarang.

“Ya ! Ya !” teriak Hyunmi panic sambil menekan tombol emergency di samping pintu lift. Jonghyun hanya diam saja, ia melihat jam tangannya.

“Kira-kira 2 jam lagi baru lift ini bisa terbuka,” gumam Jonghyun. Hyunmi memukul tombol emergency itu. Ia terduduk di sudut lift sambil memeluk lututnya. Jonghyun yang melihat Hyunmi seperti itu ikut duduk di sebelahnya.

“Aku takut,” Hyunmi menundukkan kepalanya. Gadis itu terisak, ketakutannya dengan ruangan gelap dan sempit. Ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang kecuali menunggu lift menyala lagi.

“Ya ! Jangan menangis seperti itu !” seru Jonghyun mencoba menenangkan. Tapi yang dilakukannya bukan menenangkan Hyunmi, teriakannya membuat Hyunmi semakin memperkeras tangisannya.

“Aku takut,” gumam Hyunmi lagi. Jonghyun menggaruk-garuk kepalanya bingung. Yang ia harus lakukan sekarang adalah memeluk gadis itu dan menenangkannya. Tapi ia tidak bisa melakukan itu. Terlalu gengsi bagi seorang Jonghyun untuk memeluk gadis yang dibencinya.

-to be continued-

yeay, finally poublished

menurut kalian ceritanya gimana ?

Mau diterusin atau ngga ?

thanks for waiting Jongmi’s part

kamsahamnida ^^

Comment Please

^Ima^

11 thoughts on “[FanFic] Curse Marriage (1st Part)

  1. D terusiiiin….keren…
    Msh penasaran gmn crtanya mreka bs nikah…n herannya…jonghyun bahkan inget bulan madu n malam pertmanya…ckckck…dasar mesum..

  2. eonni .. aku kayak pernah baca ff ini deh kalo gk salah di ffindo ..

    eonni aku izin share di FP Kumpulan Sinopsis K-Drama yah .. gk ada perubahan sedikitpun kok .. cuma biar kalo pas baca gk perlu bayar pulsa .. kalo fb kan bisa gratis klo google enggak hhehe .. boleh yah .. please .. gomawo🙂

  3. Baru nemu nih…
    anyeong, salam kenal ima-ssi ^^
    wah, fanficnya keren nih… aku suka …
    lanjut deh baca next partnya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s