[FanFic] Wrong Marriage (8th Part-End)

Title : Wrong Marriage

Author : Ima Shineeworld

Cast       : Choi Minho, Kim Hyunmi, Kim Neul Rin

Other   : Cho Jino (S.M. The Ballad)

Rating : PG+15

Length : Series

Genre   : Comedy Romance

– — – –

Neul Rin POV

Dia membenciku, meninggalkanku sendirian, membatalkan pernikahan. Apalagi ? Sudah cukup rasa sedih yang aku rasakan sekarang. Mungkin ini balasan karena aku pernah mengganggu hubungan Minho dan Hyunmi. Mungkin ini juga yang disebut karma huh ? Aku sudah merebut Minho dari Hyunmi, dan sekarang Jino yang pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Pernikahan Minho, lusa, dan aku tidak seegois itu untuk membatalkan pernikahan mereka. Mungkin aku harus kembali ke Perancis, tinggal disana bersama appa dan eomma. Membesarkan anak ini sendirian.

Telepon di apartemenku berbunyi. Dan entah kenapa, kakiku tidak bisa berdiri dari sini. Air mataku tidak mau berhenti keluar sekeras apapun aku menahannya. Aku menekuk kedua lutut, memeluknya, dan menopangkan dagu menatap testpect yang tergeletak di hadapanku. Percuma aku terus menyembunyikan kehamilan ini, kalau memang ia akhirnya tahu. Lebih baik ia tahu dari awal kan ?

‘Saengie, kau dimana ? Entah kenapa tiba-tiba aku merasa khawatir, telepon aku balik,’

Suara Jonghyun membuatku mendongak menatap telepon itu. Kakiku tergerak, mencoba berdiri dan berjalan ke arah telepon itu. Perlahan aku meraih telepon itu, menelepon Jonghyun.

“Oppa,” gumamku ketika ia mengangkat teleponnya.

***

Ia masih menatap lurus ke depan setelah aku menjelaskan semuanya. Minho, kejadian itu, kehamilanku, sampai calon suamiku sendiri –Jino memutuskan hubungannya. Semua hal itu kuceritakan sambil terus terisak. Dan sekarang aku berhasil membuat Jonghyun terdiam.

“Apa yang harus kulakukan oppa ?” tanyaku masih sambil terisak. Jonghyun menolehkan kepalanya, ia tersenyum memberikan semangat.

“Aku akan mengatakannya pada laki-laki itu. Siapa namanya ? Choi Minho ? Kau hanya perlu memberitahu alamatnya, aku akan kesana,” tawarnya. Aku menggeleng dengan cepat.

“Dia akan menikah lusa besok. Kalau dia tahu aku hamil, ia pasti akan membatalkan pernikahannya. Aku tidak mau membuat calon istrinya sedih oppa. Lebih baik aku menghindar sampai kepulanganku ke Perancis,” jawabku. Aku mulai meredakan isak tangis, mengatur napas mencoba menghilangkan sesak yang tiba-tiba muncul.

“Atau kau mau aku yang bertanggung jawab ?” tanya Jonghyun. Sontak aku menggeleng lalu menatap kedua matanya lekat.

“Aku tidak mau oppa menikah denganku hanya karena kasihan. Lagipula, aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri. Dan aku tidak mungkin menikahi kakakku kan ?” Jonghyun memalingkan wajahnya lagi.

“Tapi Neul Rin, bagaimana kalau kau –,”

“Tidak. Kau tidak boleh bertanggung jawab oppa. Lebih baik aku mengurus anak ini sendirian daripada harus menikah denganmu secara terpaksa. Aku tidak mau menghancurkan masa depan oppa,” ujarku memotong ucapannya. Jonghyun mengusap rambutku lembut seperti saat aku masih kecil dulu. Dulu ia yang selalu menenangkan kalau aku sedang sedih.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang,” tanyanya lagi. Aku mengendikkan bahu.

“Entahlah, mungkin aku kembali ke Perancis. Tinggal disana bersama appa dan eomma, mereka pasti menerimaku. Apalagi aku hamil anaknya Minho, mereka pasti senang,” jawabku sambil menghela napas panjang. Mereka tidak perlu tahu kalau aku melakukan hal itu setelah bercerai dengan Minho.

“Hhh, aku akan selalu mendukungmu Rin-ah,” ujarnya. Aku melebarkan senyum, dan ia lagi-lagi mengacak rambutku. Ia menarikku ke dalam pelukannya, dan hatiku menjadi lebih tenang karenanya.

– — – –

Author POV

D-1

Hyunmi menarik tangan Minho memasuki tempat perawatan kulit di daerah Insadong. Besok hari pernikahannya, jadi ia harus terlihat cantik di depan tamu-tamu yang hadir. Hyunmi memasuki ruang khusus wanita, sedangkan Minho menunggu di dekat kaca tempat itu. Sambil sesekali membaca majalah yang sama sekali tidak menarik baginya. Ia lebih baik menjemputnya nanti, daripada harus menunggu seperti ini. Ya, tapi ia sudah terlanjur menyetujuinya.

Minho melempar majalah –wanita itu ke meja di depannya. Ia meneguk teh yang disediakan lalu menatap keluar jendela. Memandangi salju yang mulai turun. Ia meniup kaca di depannya, lalu mengukir nama dirinya dan juga Hyunmi. Di atas namanya, ia juga menulis Neul Rin dengan tanda hati di sampingnya sama seperti Hyunmi. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Neul Rin, tidak parah, tapi ia yakin hal itu menyangkut dirinya. Tapi Minho tidak pernah tahu itu. Ia masih penasaran apa alasan Neul Rin datang ke apartemennya kemarin. Ia selalu berusaha menghubungi gadis itu, tapi hasilnya sama. Tidak bisa.

Pandangan matanya terhenti di dekat sebuah café. Seorang yeoja yang ia ketahui sebagai Neul Rin tengah berjalan bersama seorang namja yang tidak ia kenal. Minho menyesap tehnya sekali lagi kemudian keluar dari tempat itu. Matanya masih memandang kedua orang itu sambil mencoba mengejar mereka. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Neul Rin dan namja itu masuk ke sebuah toko peralatan bayi. Apa yang mereka lakukan ? batin Minho.

Ia melangkah ke depan toko itu. Memandang setiap gerak-gerik Neul Rin yang terlihat bahagia memilih-milih baju-baju bayi yang ada di dalamnya. Namja yang berdiri di sebelahnya hanya tersenyum dan mengangguk menyetujui semua pendapat Neul Rin tentang baju yang di pegangnya. Hati Minho terasa sesak, ia tidak mengerti kenapa Neul Rin bersama namja selain Jino, memilih-milih baju bayi.

Pandangan mata Neul Rin bertemu dengan Minho. Baju yang dipegang gadis itu terjatuh begitu saja.  Ia segera memalingkan wajah dan menggamit lengan namja itu bersembunyi di balik baju-baju yang ada. Tapi terlambat, Minho sudah melihat semuanya.

***

Neul Rin terus mencoba bersembunyi sambil mendorong Jonghyun ke pojok. Ia mendesaknya agar tubuh mereka berdua bisa masuk ke pojok rak baju itu. Neul Rin sesekali mengintip keluar, tempat Minho masih berdiri di luar kaca. Sedangkan Jonghyun hanya bisa menahan napas karena tempat berdebu itu menyesakkan dadanya.

“Neul Rin-ah ! Ada apa ?” tanya Jonghyun sedikit terbata. Neul Rin mendesis menyuruh laki-laki itu diam.

“Ada apa ?” bisik Jonghyun akhirnya. Neul Rin membalikkan tubuhnya ke arah Jonghyun.

“Minho, dia ada di depan,” balasnya sedikit berbisik. Jonghyun mengangkat tangannya dan mendorong kepala Neul Rin pelan.

“Pabo ! Aku teriak seperti ini juga dia tidak akan mendengarnya,” serunya dengan berteriak. Neul Rin segera membekap mulut Jonghyun dengan tangannya.

“Hmmphf,” berontak Jonghyun. Neul Rin mengintip lagi keluar dan tidak menemukan Minho di depan toko itu. Ia menghela napas lega kemudian menurunkan tangannya dari mulut Jonghyun dan melesat keluar pojok rak baju itu. Jonghyun menarik napas sebanyak-banyaknya dan segera menyusul Neul Rin keluar.

“Kenapa kau menghindariku Rin-ah ?” tubuh Neul Rin menegang ketika mendengar suara seorang laki-laki di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Minho tengah berdiri di dekat meja kasir. Menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Ia menatap Minho sebentar kemudian berbalik meninggalkannya.

“Neul Rin !” panggil Minho sambil mencoba mengejar gadis itu. Jonghyun segera mencegah Minho, menggelengkan kepalanya dan membiarkan Neul Rin keluar dari toko itu.

Minho menatap Jonghyun kesal. Ia menghentakkan tangan Jonghyun, tapi tangan laki-laki itu belum terlepas juga. Jonghyun melepaskan tangannya.

“Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu Minho-ssi,” ujarnya. Minho menegakkan tubuhnya menghadap Jonghyun.

“Kau sudah tahu namaku ? Tch, aku bahkan tidak tahu siapa kau,” balas Minho.

“Kim Jonghyun. Neul Rin-ui oppa,”

***

Kedua laki-laki itu duduk di sebuah café. Saling berhadapan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Jonghyun melipat tangannya di depan dada. Sedangkan Minho menyandarkan punggungnya sambil menatap keluar jendela.

“Kau mau tahu kenapa Neul Rin menghindarimu ?” tanya Jonghyun membuka pembicaraan diantara mereka. Minho menegakkan duduknya dan menatap Jonghyun.

“Yeah, aku harus tahu,” jawab Minho.

“Neul Rin menitipkan ini semua. Dan kau harus berjanji padaku,” Jonghyun menggantungkan omongannya. Minho menaikkan sebelah alisnya, “tidak akan membatalkan pernikahanmu,”

Minho berpikir sejenak. Dengan terpaksa ia mengangguk menyetujui syarat Jonghyun.

“Neul Rin. . Hamil,” mata Minho membulat mendengar jawaban Jonghyun.

“Jangan tanya anak siapa itu. Yang jelas bukan aku dan Jino. Karena dia langsung memutuskan hubungannya dengan Neul Rin ketika tahu ia hamil,” tambah Jonghyun ketika melihat perubahan ekspresi Minho. Minho memegang kepala dengan kedua tangannya yang bertumpu di meja.

“Sekarang apa yang harus kulakukan ? Aku harus bertanggung jawab Jonghyun-ssi,” balas Minho masih tetap menundukkan kepalanya. Jonghyun menggeleng dengan cepat dan memajukan tubuhnya.

“You can’t abort that wedding Minho-ssi. Neul Rin tidak mau kau membatalkan pernikahan itu. Dia sudah memutuskan untuk merawat anak itu sendirian,” ujarnya sambil menepuk tangan Minho pelan.

“Aku tidak yakin ia bisa menghadapinya sendirian. Aku harus bertemu dengannya, dimana dia sekarang ?” tanya Minho kemudian. Jonghyun melirik ke arah mobilnya, tempat Neul Rin tengah duduk memandangi mereka.

“Dia ada di dalam mobilku. Sepertinya kalian harus membahas masalah ini,”

Minho segera beranjak, keluar dari café dan masuk ke dalam mobil Jonghyun. Neul Rin sedikit heran, ia baru saja akan keluar dari mobil Jonghyun ketika tangannya di cegah oleh Minho. Gadis itu kembali duduk di kursinya, memandang ke depan tanpa mau menatap Minho.

“Kenapa kau tidak mengatakannya ?” tanya Minho memulai pembicaraan. Neul Rin terdiam, ia tidak mau menjawab pertanyaan Minho.

“Jawab aku Neul Rin-ah,” seru Minho sambil menoleh ke arah gadis itu.

“Karena aku tidak mau membatalkan pernikahanmu dengan Hyunmi. Pasti kau akan membatalkannya kalau tahu aku hamil kan ? Dan aku tidak mau itu terjadi,”

“Tatap aku Neul Rin,” Minho memegang dagu Neul Rin dan memutarnya menghadap dirinya.

“Kau yakin aku tidak perlu bertanggung jawab ?” tanyanya. Neul Rin menyingkirkan tangan Minho dan kembali menatap keluar jendela.

“Aku tidak seegois itu Minho. Hyunmi lebih membutuhkanmu, kau harus menikah dengannya,” jawab Neul Rin.

“Baiklah, terserah kau saja Neul Rin,” Minho beranjak keluar dari mobil. Jonghyun yang berdiri di samping mobil pun segera masuk menggantikan Minho. Ia menoleh ke arah Neul Rin yang masih tidak bergeming.  Jonghyun melambaikan tangannya di depan wajah Neul Rin, membuat gadis itu tersadar.

“Dia tidak akan membatalkan pernikahannya kan ?” tanya Neul Rin. Jonghyun menyalakan mesin mobilnya sambil mengendikkan bahu.

“As your wish. Dia sudah berjanji, tapi aku tidak tahu besok,” jawab Jonghyun kemudian menjalankan mobilnya.

“Oppa, pesawatku berangkat jam 9 pagi besok,” ujar Neul Rin. Jonghyun mengacak rambut gadis itu lembut.

“Mianhae, aku tidak bisa mengantarmu besok,”

“Gwenchana oppa,” Neul Rin tersenyum, dan kembali menatap keluar jendela mobil. Entah kenapa perasaan tidak yakin menyelimutinya.

***

Hyunmi memandang Minho yang terus menatap jalanan dengan kosong. Saat pulang dari tempat perawatan tadi, ia menemukan Minho dalam keadaan tidak baik. Berkali-kali ia memanggil laki-laki itu, tapi tetap tidak bergeming. Bahkan di jalan ia hampir menabrak mobil-mobil di depan karena tidak konsentrasi. Hyunmi harus memukul tangan Minho agar mobil itu tidak menabrak mobil di depan.

“Minho-ya,” panggil Hyunmi ketika jalan untuk ke gedung apartemennya dilewati begitu saja. Minho tidak bergeming dan masih menatap jalanan.

“Choi Minho !” teriak Hyunmi akhirnya. Minho tersentak dan segera menoleh ke arah gadis itu.

“Wae ?” tanyanya polos.

“Jalan ke apartemenku sudah lewat,” jawab Hyunmi sambil menunjuk ke belakangnya. Minho menepuk keningnya sendiri kemudian berhenti ke pinggir. Dengan cepat ia memutar di jalanan yang sepi itu lalu belok ke jalan menuju gedung apartemen Hyunmi.

Minho memberhentikan mobilnya. Hyunmi melepas seat beltnya kemudian memandang Minho yang lagi-lagi melamun. Ia turun dari mobil, memasuki gedung apartemennya. Di dalam lobby ia bisa melihat Minho yang masih berhenti di depan gedung. Hyunmi menggelengkan kepalanya dan segera masuk ke dalam lift.

Hyunmi menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Perasaannya tidak tenang mengingat hari pernikahannya besok. Bukan membayangkan ia berdiri di altar, tapi tentang sifat Minho akhir-akhir ini termasuk tadi siang. Laki-laki itu seperti tidak mau menjalani pernikahan ini. Hyunmi duduk di atas tempat tidur. Menepuk-nepuk wajahnya sendiri mencoba menyadarkan dirinya sendiri.

“Kurasa kau egois Hyunmi,” gumamnya. Hyunmi terlalu memaksakan kehendaknya untuk menikah dengan Minho. Ia tahu pikiran laki-laki itu tidak memikirkan pernikahan sama sekali. Minho sudah mencintai Neul Rin, bukan dirinya lagi.

Mata Hyunmi mulai berkaca-kaca. Selama 5 tahun ia menjalin hubungan dengan Minho, baru kali ini laki-laki itu bersikap aneh. Seperti bingung menentukan pilihan setiap kali bertanya padanya. Yang jelas, setelah laki-laki itu bertemu dengan Neul Rin.

DRRT DRRT DRRT DRRT

Hyunmi merogoh ponselnya di dalam saku, melihat orang yang baru saja mengirimnya pesan. Siapa lagi kalau bukan atasan barunya, Kim Jonghyun.

From : Annoying People

Ms.Kim, besok aku akan datang ke pernikahanmu.

Hyunmi melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Laki-laki menyebalkan itu berhasil membuat moodnya berubah semakin jelek. Membayangkan pertengkaran mereka di kantor. Hyunmi lagi-lagi merenung. Memikirkan pernikahannya besok, antara merebut kebahagiaan Minho atau membiarkannya bahagia dengan Neul Rin.

***

Minho menatap dirinya di depan cermin menggunakan tuxedo putih. Pikirannya memutar kembali beberapa bulan lalu ketika ia memakai pakaian ini. Salah menikah dengan Neul Rin. Dan sekarang, karena pernikahan yang salah itu, ia terjebak dalam situasi seperti ini. Ia sangat ingin bertanggung jawab, tapi tidak mungkin ia pergi hari ini. Di hari pernikahannya sendiri meninggalkan Hyunmi.

“Minho-ya,” panggil Jinki membuat laki-laki itu menoleh menatapnya. Jinki masuk, menutup pintu ruang ganti dan duduk di sebelah Minho.

“Kau takut ?” tanyanya. Minho menggeleng, ia memutar kursinya menghadap Jinki.

“Jinki, aku tidak yakin,” seru Minho. Jinki tersenyum lalu menepuk pundak calon adik iparnya pelan.

“Kau harus yakin Minho-ya. Kau mencintainya kan ?” Minho menundukkan kepalanya. Ia mengucapkan itu karena tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Dia harus menanggung perasaan bersalahnya walaupun menikah dengan Hyunmi nanti.

“Ayo, kita harus keluar sekarang,” ajak Jinki sambil menepuk Minho lagi. Minho mengangguk dan berdiri mengikuti Jinki.

Minho menatap para tamu yang sudah duduk di hall itu. Ia semakin yakin untuk tidak membatalkan pernikahan ini, kecuali kalau ia mau mempermalukan keluarganya dan keluarga Hyunmi. Pintu hall itu terbuka, menampilkan satu sosok wanita cantik bersama pendampingnya. Jinki melangkah bersama Hyunmi masuk ke dalam hall. Minho bisa melihat dengan jelas wajah Hyunmi sekarang. Penutup kepalanya sangat tipis, memperlihatkan Hyunmi yang terlihat cantik. Dan entah kenapa ia kembali teringat Neul Rin.

Hyunmi berdiri di sebelah Minho. Mendongakkan kepalanya menatap pendeta yang berdiri di depannya. Minho tersenyum pada Hyunmi dan dibalas dengan manis olehnya.

“Kalian siap ?” tanya pendeta itu. Minho mengangguk, dan menoleh ke arah Hyunmi yang masih belum menjawab.

“Aku tidak siap,” sahut Hyunmi membuat pendeta itu dan Minho membelalak tidak percaya.

“Waeyo ?” tanya Minho refleks. Hyunmi tersenyum kecil lalu berbalik ke arah Minho.

“Aku membatalkan pernikahan ini,” tambah Hyunmi membuat tamu yang hadir ricuh seketika. Minho memegang kedua bahu Hyunmi, menatap kedua mata gadis dihadapannya.

“Apa yang kau katakan huh ? Kita harus menikah hari ini,” balas Minho sambil mengguncangkan bahu Hyunmi. Hyunmi mendongak, menyingkirkan perlahan tangan Minho dari pundaknya. Ia menoleh ke arah pendeta kemudian menggelengkan kepalanya.

“Batalkan pernikahan ini,” serunya.

“YA ! Andwae ! lanjutkan pernikahan ini,” pinta Minho. Pendeta itu mundur dari tempatnya. Ia menatap Hyunmi dan Minho bergantian.

“Kita tidak bisa melanjutkannya. Calon pengantin wanita tidak menginginkan pernikahan ini,” ujar pendeta itu kemudian pergi meninggalkan hall itu. Minho kembali menoleh ke arah Hyunmi yang tengah menatapnya. Gadis itu lagi-lagi tersenyum.

“Kau yang mau pernikahan ini Hyunmi. Kenapa menghentikannya ?” tanya Minho. Hyunmi terkekeh lalu memegang kedua tangan Minho.

“Aku tidak akan memaksakan kehendak. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak mencintaiku Minho-ya,” ujarnya. Minho menggelengkan kepalanya dan beralih memegang kedua pipi Hyunmi.

“Aku mencintaimu Hyunmi. Lanjutkan pernikahan ini,” seru Minho sambil berusaha memanggil pendeta itu lagi.

“Ssst. Sekarang kau datangi Neul Rin. Aku tahu pernikahannya batal, entah karena apa, yang jelas kau harus menghiburnya,” balas Hyunmi, menyingkirkan kedua tangan Minho dari pipinya.

Jonghyun baru saja datang ketika melihat kedua orang itu tengah berdebat. Jonghyun memperhatikan wajah laki-laki di depan Hyunmi, ia sedikit tersentak ketika melihat laki-laki yang berdiri bersama Hyunmi saat itu adalah Minho. Laki-laki yang baru bertemu dengannya kemarin.

Minho tersenyum pada Hyunmi kemudian berjalan meninggalkan gadis itu. Langkahnya terhenti saat melihat Jonghyun berdiri di pintu masuk hall. Ia menatap Jonghyun sebentar lalu berlari ke hadapannya.

“Kau tahu dimana Neul Rin ?” tanya Minho panic. Jonghyun melirik jam tangannya sekilas.

“Pesawatnya lepas landas 30 menit lagi,” jawab Jonghyun. Minho menepuk pundak Jonghyun kemudian berlari keluar dari hall. Para tamu yang hadir memandangi kejadian langka itu. Beberapa menit kemudian para tamu keluar, meninggalkan hall yang menjadi saksi bisu pernikahan gagal Hyunmi yang kedua kalinya.

Jinki dan Ji Kyo memandangi Hyunmi masih dari tempat duduknya. Ji Kyo bangkit dan menghampiri adiknya, memeluk Hyunmi dengan sangat erat. Setelah Ji Kyo, Jinki, dan kedua orang tua mereka memeluk secara bergantian.

“You know what ? I’m so proud of you Dongsaeng,” seru Ji Kyo sambil menepuk puncak kepala Hyunmi pelan.

Mereka semua pergi meninggalkan Hyunmi yang masih berdiri di altar, tempat ia berdiri. Kedua orang tua Minho melirik Hyunmi sekilas kemudian menyusul yang lainnya keluar dari hall. Hyunmi langsung terduduk di altar itu. Menangis dengan kencang, mengeluarkan apa yang dirasakannya saat itu. Sakit, malu, semuanya bercampur di dalam tangisannya.

Jonghyun masih berdiri dengan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Perlahan ia berjalan menghampiri Hyunmi dan duduk di sebelah gadis itu. Ia sedikit memiringkan kepalanya mencoba memandang Hyunmi yang tengah menundukkan kepalanya.

“Ya ! Ulljima !” seru Jonghyun sedikit berteriak. Hyunmi mendongakkan kepalanya kemudian memukul lengan Jonghyun.

“Jangan ganggu aku,” balas Hyunmi ketus. Jonghyun terkekeh lalu menumpu dengan kedua tangannya di belakang. Memandang pintu masuk hall yang banyak dilalui orang-orang.

“Tch, kau merelakan dia untuk Neul Rin ?” tanya Jonghyun sontak membuat Hyunmi menoleh ke arahnya.

“Neul Rin ? Kau tahu dia ?” Jonghyun tersenyum kecil.

“Ne, dia adikku. Bukan adik kandung, hanya sudah kuanggap sebagai adikku sendiri,” jawab Jonghyun dan berhasil mendapat pukulan di lengan lagi dari Hyunmi.

“Kau mau tahu kenapa pernikahannya batal huh ?” tanya Jonghyun lagi dengan nada menggoda.

“Waeyo ?” tanya Hyunmi penasaran. Jonghyun bangkit dari duduknya kemudian berdiri di hadapan Hyunmi.

“Aku akan memberitahu kalau kau berhenti menangis,” ancam Jonghyun, melipat tangannya di depan dada. Hyunmi menatap laki-laki berambut spike di hadapannya lalu mengangguk dan menyeka kedua matanya.

“Err. Dia dan Jino. .” Jonghyun menggantungkan omongannya semakin membuat Hyunmi penasaran.

“Apa Kim Jonghyun,”

“Mereka putus,” jawab Jonghyun.

PLETAK

Tangan Hyunmi mendarat dengan mulus di kepala Jonghyun.

“Kalau itu aku tahu,” seru Hyunmi sambil mengerucutkan bibirnya. Jonghyun menepuk kepala Hyunmi lagi.

“Don’t be sad girl,” Jonghyun sedikit menundukkan kepalanya, menatap Hyunmi dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya. Hyunmi mengangguk lalu menyingkirkan tangan Jonghyun dari puncak kepalanya.

“Ah iya. Besok kau harus mulai masuk kerja,”

“Ya ! Kim Jonghyun !”

– — – –

Minho POV

8 Months Later

Aku berhenti di depan rumah bergaya klasik di daerah La Rochelle, Perancis. Rumah yang pernah kudatangi beberap bulan yang lalu bersama Neul Rin. Dan sekarang aku kesini untuk mencari seseorang, Kim Neul Rin.

Kakiku melangkah memasuki pekarangan rumah eomma dan appa. Setelah membetulkan letak topi yang kupakai, tanganku beralih mengetuk pintu rumah itu. Sedetik kemudian seseorang membuka pintu di hadapanku. Eomma menyembulkan kepalanya, kemudian disusul tubuhnya.

“Minho-ya ? Ada apa ?” tanya eomma semangat lalu membuka pintu rumahnya lebar.

“Neul Rin. Dia ada disini ?” tanyaku to the point. Eomma menggeleng, membuat badanku langsung lemas seketika.

“Dia tinggal di flat milik Jonghyun. Kau mau tahu alamatnya ?” pertanyaan eomma membuatku berdiri tegak menatapnya. Aku mengangguk dengan semangat lalu mengikuti eomma masuk.

Sejak pernikahanku yang gagal dengan Hyunmi, aku mengejar Neul Rin ke airport. Tapi sayangnya pesawat Neul Rin sudah lepas landas. Kau tahu berapa selang waktu dari pesawat Neul Rin dengan kedatanganku ? Hanya 5 menit, dan harusnya aku datang lebih awal.

Sejak saat itu aku mencari biaya untuk menyusul Neul Rin kesini. Karena appa dan eomma sama sekali tidak mau membantu. Jangan tanya kenapa aku tidak minta pada Hyunmi, aku masih punya malu untuk meminta pada mereka. Dan akhirnya aku harus bekerja part time, mengumpulkan uang, dan setelah 8 bulan baru uangku cukup untuk pesawat ke sini. Seharusnya aku kesini minggu lalu, tapi aku menjadi pendamping Minsuk noona di pernikahan keduanya dengan Jino. Aku masih tidak percaya sekarang menjadi adik iparnya Jino -___-.

‘Kau sudah bertemu dengannya Minho-ya ?’ tanya Hyunmi di telepon ketika aku dalam perjalanan ke flat Neul Rin. Aku memandangi secarik kertas yang menuliskan alamat Neul Rin sekarang.

“Dalam perjalanan tuan puteri,” jawabku sedikit meledek. Hyunmi terkekeh kecil membuatku tersenyum juga.

‘Ah iya, aku harus meeting dengan Jonghyun hari ini. Uh, kenapa aku harus bekerja dengan orang menyebalkan seperti dia. Sudah ya, annyeong Minho,’ ujarnya kemudian menutup telepon. Bibirku tertarik membentuk senyuman mendengar semua keluhan Hyunmi. Selama 8 bulan ini aku tidak pernah mendengar apapun yang baik tentang Jonghyun dari Hyunmi.

Aku menatap cincin kayu yang masih melingkar dengan setia di tanganku. Entah gadis itu masih memakainya atau tidak.

“Monsieur, nous sommes ici,” entah apa yang dikatakan sopir taksi itu. Yang jelas, sekarang taksinya sudah berhenti dan itu tandanya aku sudah sampai. Kuserahkan beberapa lembar uang padanya kemudian turun membawa tas gendong milikku. Aku memasuki gedung yang tidak terlalu besar itu, naik kelantai dua. Sesampainya di depan flat bernomor 23, aku menekan belnya.

Selama 15 menit aku berdiri disini, menekan bel dan tidak ada jawaban sama sekali. Aku sudah duduk di depan pintu flat Neul Rin. Sedetik kemudian seorang wanita menaiki anak tangga terakhir dengan membawa dua tas plastic besar di tangannya.

Haish, seharusnya aku minta tolong pada sopir taksi tadi,” wanita itu menggumam kecil. Langkahnya terhenti ketika melihatku duduk di depan pintu flat Neul Rin. Ia menurunkan belanjaannya. Berjalan menghampiriku kemudian membuka topi lebar yang dipakainya. Perlahan ia juga membuka kacamata hitamnya.

“Minho ?” tanyanya heran. Aku mencoba menelisik wajah gadis itu.

“Rin-ah ?” tanyaku lagi. Ia mengangguk, refleks aku berdiri dan langsung memeluknya erat.

“Minho-ya lepas. Kau menekan perutku,” ujarnya sontak membuatku melepas pelukan ‘lepas rindu’ itu. Neul Rin kembali membawa belanjaannya kemudian membuka pintu flatnya.

Aku mengikuti Neul Rin masuk. Ia menaruh tas plastic besar-besar itu di dalam kamarnya lalu keluar lagi. Ia menyuruhku duduk di sofa sementara ia membuat minum. Mataku menjelajahi setiap sudut ruangan ini. Tanpa sekat antara dapur, ruang TV, ruang tamu, kecuali dengan kamar tentunya. Ada beberapa foto Neul Rin terpampang di atas sebuah piano klasik di sudut ruangan.

“Piano ? Kau suka memainkannya ?” tanyaku heran sambil berjalan ke arah piano itu.

“Ahni, itu punya Jonghyun oppa. Dia suka mengarang lagu, dan entah kenapa pianonya malah ditinggal disini,” jawab Neul Rin sedikit berteriak. Aku duduk di depannya, membuka penutup tuts piano itu dan mulai memainkan jariku di atas tuts hitam putih itu.

Neul Rin membawa dua gelas teh hangat ke atas piano yang sedang kumainkan. Ia menyesap teh hangat itu sambil bersandar di ujung piano. Aku menatap kedua matanya masih sambil memainkan piano dengan lembut. Membuat nada-nada yang keluar dari piano terdengar lembut di telingaku.

“Kau mau anak kita jadi apa ?” tanyaku. Neul Rin menahan cangkir teh di depan mulutnya, memutar bola mata seperti berpikir sesuatu.

“Pianist ?” celetuknya. Aku terkekeh kemudian mengacak rambutnya lembut.

“Yeah, lucu juga,” balasku. Aku memejamkan mata dan meneruskan memainkan piano itu.

PRAANG

Suara gelas pecah membuatku membuka mata. Aku menoleh ke arah Neul Rin yang tengah mencengkeram ujung kayu piano. Ia memegangi perutnya sambil merintih menahan sakit.

“Ya ya ! Kau kenapa ?” tanyaku panic, mencoba menahan tubuhnya. Ia menarik bajuku dengan kuat.

“Kyaaa !! Bawa aku ke rumah sakit sekarang !” perintahnya. Ia memukul lenganku berkali-kali. Aku meninggalkannya keluar untuk mencari taksi.

“Ya ! Choi Minho ! Kenapa aku ditinggal !” teriaknya melengking. Aku kembali berbalik dan menopang tubuhnya.

“Sakit Minho-ya ! Palli-wa !” kali ini tangannya menjambak rambutku dengan kuat. Aku mencoba menahan rasa sakit itu sampai kami berdua sampai di depan gedung flat. Berkali-kali aku berteriak pada orang-orang yang menghalangi jalan karena terlalu panic.

“Palli-wa Choi Minho !” teriaknya lagi sambil menarik ujung bajuku di belakang. Aku segera memberhentikan taksi, tapi taksi itu malah tidak berhenti. Uh ayolah, aku sedang panic sekarang.

“Ya ! Taxi !” teriakanku membuat taksi tadi berhenti.

“Haish. Perutku sakit !” rintih Neul Rin sambil memegangi perutnya. Aku menggendong Neul Rin dan memasukkannya ke dalam taksi yang sudah berhenti. Dengan cepat aku masuk menyusul Neul Rin.

“Hospital, anywhere that not far from here,” seruku. Sopir taksi itu mengangguk kemudian menjalankan mobilnya.

Neul Rin menggenggam tanganku dengan kuat. Ia terus merintih, berkali-kali menarik napas panjang. Keringat sudah mulai keluar dari pelipis dan telapak tangannya. Aku mencoba mendukung Neul Rin agar ia kuat sampai ke rumah sakit. God, selamatkan Neul Rin dan anakku.

– — – –

_EPILOG_

Neul Rin memandang laki-laki yang berdiri di sebelahnya. Ia terlihat serius mengucapkan janji di depan pendeta. Neul Rin kembali menatap pendeta di depannya. Ikut mengucapkan janji dengan tulus dan serius. Mereka seperti mengalami dejavu, karena pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya. Tapi berbeda, kali ini mereka mengucap janji dengan penuh cinta.

“Silahkan mencium pengantin anda,” seru pendeta itu pada Minho. Neul Rin membalikkan badannya menghadap Minho,  maju selangkah mendekat ke arah laki-laki itu.

Minho memegang wajah Neul Rin. Ia mulai mendekatkan wajahnya sampai suara seseorang membuyarkan kehikmatan kedua pengantin itu termasuk para keluarga yang hadir. Tangisan bayi.

“Uh tidak,” keluh Minho kemudian menurunkan tangannya dari wajah Neul Rin. Neul Rin terkekeh kecil lalu menghampiri seorang bayi yang tengah menangis di kereta dorong bayi.

“Aigo~, Min Rin-ah. Kau mengganggu eomma,” ujar Neul Rin sambil mengangkat bayi itu. Minho meninggalkan altar dan berdiri di sebelah Neul Rin.

“Titipkan bayi itu pada Jonghyun. Upacara pernikahan kita belum beres,” seru Minho. Neul Rin melirik ke arah Jonghyun yang tengah melirik sinis ke arah Hyunmi. Begitu juga sebaliknya. Neul Rin menggeleng.

“Aku takut Min Rin malah mereka banting,” jawaban Neul Rin membuat Minho terkekeh. Mereka berdua menatap minsuk yang terlihat sibuk juga dengan Jino. Eomma dan appa Minho sibuk mengotak-atik ponsel, sama seperti eomma dan appa Neul Rin. Semua yang hadir disini terlihat sibuk. Minho menoleh ke arah Neul Rin yang tengah mengerucutkan bibirnya.

“Gwenchana,” Minho membalikkan Neul Rin ke arahnya. Ia mendekatkan wajahnya dan merengkuh bibir Neul Rin lembut. Min Rin yang masih ada di gendongan Neul Rin pun hanya diam. Memandang tidak mengerti ke arah kedua orangtuanya.

“We’re not do wrong marriage again huh ?” tanya Minho ketika ciuman itu terlepas.

“Of course not,” jawab Neul Rin. Minho memeluk Neul Rin dengan erat.

And finally, they both come together again. No matter how hard people try to prevent, they will not be able to change destiny.

-THE END-

Credit Story :

-My sister imagination

-My Imagination

Cast :

-Neul Rin (My Sister)

-Hyunmi (Me)

 

Thanks to all readers and Silent readers too :D

Makasih yang udah mau menuangkan beberapa patah kata *halah* di ff ini, ngedukung author supaya cepet post. Mian kalau ga bisa nepatin :)

 

Buat Cerita Jong-Mi, meyusul

Title  : Curse Marriage

Cast : Kim Jonghyun, Kim Hyunmi

 

Dasi Hanbon Gomawoyo :D

Mian kalau akhirnya gagal, mengecewakan, atau apapun itu :)

*deep bow 90o*

Comment

^Ima^

3 thoughts on “[FanFic] Wrong Marriage (8th Part-End)

  1. Apa aku harus terus terang author? Kkkk~
    Sejujurnya aku kecewa..😦
    Gak setuju sama endingnya..pdahal ngarep bgt minho sama hyunmi..
    Sejak awal cerita aku udah sebel dan gk suka sm neul rin..Saat tau endingnya begini,aku jd bertanya tanya.. ”kenapa harus orang ketiga yg bahagia?”
    Dan aku ngerasa,ehm..minho penghianat..wkakaka.. *direbus*
    Tapi mau gimana lagi,author pengen ceritanya kayak begini,ya harus begini..
    Hanya bs berharap kisahnya jj0ng sm hyunmi berakhir manis..waiting for curse marriage author..🙂
    Dan mhon maaf hanya k0men di last part ini, *bow*

  2. Kyaaaaa
    aku bc part 1-end
    suka bgttttt dah
    si minho d awl keliatan jahat plin plan g bs mutusin mn yg mau di pilih untung hyunmi pengertian kkkee

    udh pny baby pula lengkap idup si minho hihi
    happy end sukaaa
    author daebakk

  3. Huwaa kenapa minho gak sama hyunmi..T_T pdhal aq brhp mereka happy ending,tp gak apalah yg penting hyunmi harus bahagia ma jjong.curse marriage jangan lama2 ya thor…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s