[FanFic] Wrong Marriage (7th Part)

Title : Wrong Marriage

Author : Ima Shineeworld

Cast       : Choi Minho, Kim Hyunmi, Kim Neul Rin

Other   : Cho Jino (S.M. The Ballad)

Rating : PG+15

Length : Series

Genre   : Comedy Romance

“Jonghyun oppa ?” tanyaku. Orang itu menurunkan ponselnya dan malah menaikkan sebelah alisnya heran.

“Nuguseyo ?” tanyanya lagi. Aku masih terpaku memandangnya yang berjarak beberapa langkah dariku.

“Kau Jonghyun oppa ?” tanyaku lagi. Ia mengangguk kecil. Sedetik kemudian aku berjalan mendekatinya, menatap matanya lekat-lekat.

“Cho-choiga Neul Rin iyeyo,” jawabku gugup. Ia terlihat sedikit berpikir mencerna namaku tapi kemudian memebelalakkan matanya.

“Neul Rin-ah ? Nae dongsaengi ?” tanyanya lagi. Sontak aku mengangguk semangat. Ia masih saja diam memandangiku dari atas sampai bawah.

“Jinjjayo ?” tanyanya lagi. Aku yang sudah sangat antusias kembali menghela napas pasrah. Orang ini, jangan anggap aku anak kecil tomboy seperti dulu lagi.

“Oppa, aku sudah besar sekarang. Bukan anak kecil tomboy seperti dulu lagi,” jawabku pasrah. Jonghyun menurunkan tangannya kemudian menyentuh kepalaku. Bibirku melengkung membentuk senyuman.

“Ya ! Kau benar-benar adikku !” serunya lalu langsung memelukku begitu saja. Dengan sangat erat sampai aku sulit bernapas.

“Uhuk uhuk, oppa lepaskan,” sahutku. Ia melepas pelukannya dan menarik tanganku keluar dari airport.

***

Jonghyun membuka sebuah pintu di hadapannya. Sebuah flat di daerah Paris yang akan menjadi tempat tinggalnya selama beberapa minggu ke depan. Selama perjalanan dari airport ke flatnya, ia menceritakan semua kejadian yang ia alami selama di LA. Sekarang ia memimpin perusahaan di Korea. Di perancis hanya survey untuk membuka cabang kantornya.
“Jadi kau tinggal di Korea juga ?” tanya Jonghyun sambil membawa dua gelas air lalu duduk di sebelahku.

“Ne. Calon suamiku juga disana,” jawabku kemudian meminum air itu.

“Menikah ? Anak kecil sepertimu ? Jinjjayo ?” tanyanya tidak percaya. Aku melirik sinis ke arahnya.

“Oppa !” bentakku. Ia terkekeh kecil sambil mengacak rambutku kasar. Uh, dia masih memperlakukanku seperti anak kecil.

“Kapan kau menikah ? Aku boleh datang kan ?” tanyanya lagi. Aku mengangguk cepat lalu menaruh gelas itu di meja.

“Kenapa oppa tidak pernah memberi kabar huh ?” aku memukul lengannya pelan. Jonghyun sedikit mengibaskan rambutnya yang sedikit panjang kemudian menarik napas.

“Aku kehilangan semua hal yang berbau tentang Perancis. Appa tidak membiarkan aku mengingat eomma di Perancis. Semuanya hilang, fotomu, foto kita, barang-barang yang selalu kita buat, nomor ponselmu, ah semuanya. Kau tahu ? Appa tidak membiarkanku membuka internet sekalipun,” jawabnya panjang lebar. Aku hampir tertawa melihat wajahnya yang terlihat frustasi.

“Kkk, ekspresi oppa lucu,” ujarku kemudian tertawa lagi.

“Tch, dasar anak kecil,” balasnya. Aku memberhentikan tawa dan mengerucutkan bibir kesal.

“Jangan panggil aku anak kecil oppa. I’m not a child again,” sahutku. Jonghyun merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel dan menyodorkannya padaku.

“Mwoya ? Oppa memberikan ponsel ini ?” tanyaku heran. Ia mengetuk puncak kepalaku dengan ponselnya.

“Pabo, simpan nomor ponselmu disini,” jawabnya. Aku meraih ponsel Blackberrymiliknya dan mengetik nomor ponselku disana.

“Igeo,” ujarku seraya menyerahkan ponsel itu. Jonghyun tersenyum kecil kemudian menaruh ponselnya di atas meja.

“Kau sudah punya pacar ?” tanyaku mencoba mencari pembicaraan lagi.

“Ahni, aku belum punya pacar lagi sejak 3 tahun yang lalu. Di LA aku tidak pernah dapat wanita yang cocok, mereka egois, tidak pernah percaya padaku, entahlah. Yang jelas yeoja-yeoja disana sulit dimengerti,” jawabnya panjang lagi.

“Kau pernah datang ke Perancis lagi sebelum ini ?”

“Pernah, saat ibuku meninggal tahun lalu. Appa mengijinkanku datang ke pemakaman eomma, memberikan penghormatan terakhir,” raut wajahnya berubah. Sontak aku memukul lengannya yang berotot itu.

“Ya ! Jangan sedih lagi. Aku tidak akan bertanya hal-hal yang menyangkut ibumu lagi,” ucapanku berhasil membuat sebaris senyum di wajahnya. Tapi tidak dengan matanya. Mata Jonghyun menerawang jauh, entah memikirkan apa.

– — – –

Minho POV

Hyunmi duduk di pojok café sambil memainkan ujung cangkir minumannya. Aku masih berdiri diluar, menatap Hyunmi yang terlihat sedikit gelisah. Ia memandang kosong cangkir di hadapannya. Aku semakin merasa bersalah. Selama ini aku menyia-nyiakan kepercayaannya.

Aku masuk ke dalam café dengan cepat. Segera duduk di depan Hyunmi. Membuatnya mendongak dari cappuccino panas miliknya. Ia sedikit tersenyum padaku, tapi sedetik kemudian menundukkan kepalanya lagi.

“Kau sudah punya jawabannya ?” tanyaku mencoba menatap kedua matanya.

“Aku memutuskan. . tidak akan mengakhiri hubungan ini,” jawabnya sontak membuat mataku membulat tidak percaya. Belum sempat aku membalasnya, Hyunmi sudah membuka mulutnya lagi.

“Dengan syarat, kau harus mencoba melupakan Neul Rin. Aku tidak mau ia mengganggu hubungan kita lagi –,”

“I’m promise,” balasku cepat. Hyunmi mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Aku memegang kedua tangannya, menyatukan cincin yang masih melingkar di jari kami.

“Sekarang kita mau kemana ?” tanyanya senang. Aku menoleh ke arah meja kasir lalu mengangkat tangan memanggil pelayan. Sesaat kemudian pelayan café itu datang siap mencatat pesananku.

“Ice Cream 2,” ujarku. Pelayan itu mengangguk kemudian berlalu meninggalkan mejaku.

“Kau janji ?” tanya Hyunmi tiba-tiba. Aku menoleh dan menatap matanya yang terlihat ragu.

“Aku janji Hyunmi,” jawabku sedikit meledek. Ia tertawa kecil, membuat topi kupluk yang dipakainya merosot. Ia membetulkan letak topinya sambil mengerucutkan bibirnya. Refleks aku mencubit kedua pipinya yang sedikit chubby itu.

“Jangan seperti kemarin lagi. Ucapanmu salah, aku masih mencintaimu,”

“Mmm, kecuali kalau kau berhubungan dengannya lagi padahal aku sudah melarangmu seperti ini,” jawabnya sedikit mengancam. Aku menepuk kepalanya pelan.

“Haish, terserah kau saja. Besok kita cari gaun pernikahan ya ?” tanyaku mencoba merayu. Hyunmi mengangguk dengan semangat.

“Ne,” jawabnya. Minho, bagaimana caranya kau menepati janji dengan dua wanita huh ? Kata-kata ‘I’m Promise’ meluncur dengan mulus dari mulutmu.

***

Hari demi hari berlalu begitu saja. Aku tidak pernah mendengar kabar dari Neul Rin. Selama ini aku berusaha meneleponnya, mengirimnya pesan, email, semuanya. Tapi hal itu tidak membuahkan apa-apa. Hari pernikahanku tinggal 1 minggu lagi. Dan hatiku semakin bingung antara melanjutkan pernikahan ini atau tidak.

“Minho, makananmu sudah dingin,” seru Hyunmi membuyarkan lamunanku. Aku menunduk, menatap makanan yang tadi dibuatnya. Dengan sedikit ragu, makanan itu mulai masuk ke dalam mulutku. Ayam panggang, aku jadi ingat makanan yang dibuat Neul Rin. Hhh, entah kenapa aku merindukannya.

“Makananku tidak enak ?”

“Tidak, makananmu enak neul –ah Hyunmi,” ralatku. Raut wajah Hyunmi berubah seketika, ia menaruh sumpitnya di atas piring.

“Kau ingat dia lagi ?” tanya Hyunmi sedih.

“Sedikit. Sudah jangan dibahas, ayo makan lagi,” ujarku mencoba mengalihkan pembicaraan. Hyunmi tidak merubah raut wajahnya dan melanjutkan makan malam itu.

Ting Tong

Bel apartemenku berbunyi. Hyunmi menatapku sekilas kemudian bangkit untuk membuka pintu. Ia membuka pintu apartemenku perlahan. Tapi tidak ada suara dari baliknya, Hyunmi diam memandangi tamu yang baru saja datang.

“Ada apa ?” tanya Hyunmi dingin. Aku yang masih diam di meja makan segera berdiri menghampiri Hyunmi. Melihat orang di baliknya. Uh tidak, Neul Rin ?

“Neul Rin ? Waeyo ?” tanyaku. Neul Rin menatapku dan Hyunmi bergantian. Ia terlihat ragu mengatakan sesuatu.

“Err, tidak. Sebenarnya tidak penting, aku hanya –,” omongannya terhenti. Aku menaikkan alis heran, “Err ya, aku hanya mau mengundang kalian ke pernikahanku,” sambungnya. Hyunmi sedikit tersenyum.

“Pernikahanmu ? Kapan ?” tanya Hyunmi. Neul Rin menggaruk-garuk kepalanya ragu.

“Minggu depan, di depan hall kalian,” jawabnya. Hyunmi menoleh ke arahku.

“Ia tahu hall pernikahan kita ?” bisik Hyunmi.

“Yeah, aku pernah memberitahunya dulu,” jawabku ragu.

“Mian kalau aku mengganggu. Aku pulang dulu,” potong Neul Rin. Aku dan Hyunmi menoleh ke arahnya. Menatap Neul Rin heran. Tiba-tiba datang ke apartemenku tanpa alasan yang jelas, hanya untuk mengundangku ke pernikahannya. Aku yakin bukan hal itu yang akan dibicarakannya.

“Ne, terima kasih sudah mengundang kami,” balas Hyunmi lalu menutup pintu apartemenku.

“Hyunmi-ya, Neul Rin belum beranjak dari sana. Kenapa kau tutup pintunya ?” tanyaku. Hyunmi tidak menggubris dan kembali duduk di meja makan.

“Omongannya sudah selesai kan ?” ia malah melemparkan pertanyaan lagi.

“Kau berubah Hyunmi,” sahutku dingin, masih berdiri di belakang pintu. Hyunmi menghentikan tangannya yang sebentar lagi menyuapkan sumpitan nasi ke dalam mulutnya. Ia menaruh sumpit itu lagi ke atas mangkuknya.

“Berubah apa ? Aku hanya mencoba melindungi pacarku,” balasnya. Aku masih menatapnya dari jarak yang cukup jauh. Ia tersenyum kecil lalu melanjutkan makannya. Kau berubah Hyunmi, kau egois.

– — – –

Author POV

Hyunmi menatap pantulan dirinya di cermin menggunakan gaun pernikahan. Ia tersenyum sendiri membayangkan dirinya berdiri di altar pernikahan. Mengucap janji dengan seorang laki-laki yang selama 5 tahun mengisi hatinya. Tiba-tiba senyuman Hyunmi lenyap. Ia terduduk di ujung tempat tidurnya. Ucapan Minho kemarin masih melekat di pikirannya.

‘Kau berubah Hyunmi,’

Hyunmi tersenyum kecil mengingat itu. Ia melakukan itu hanya untuk melindungi Minho dari Neul Rin. Ia tahu bagaimana perasaan Minho padanya saat ini. Perhatiannya tidak seperti dulu lagi setelah kehadiran gadis itu. Ia harus bekerja keras agar Minho tidak berhubungan lagi dengan Neul Rin. Hanya egois yang bisa ia gunakan sekarang.

Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Hyunmi, dengan cepat melepas gaunnya dan mengganti dengan baju biasa. Ia segera bergegas meluncur ke arah pintu. Membukanya dengan tidak sabar, karena ia berpikir Minho yang datang. Hyunmi langsung merengut melihat orang di baliknya.

“Ms. Kim, hari ini kau tidak masuk lagi. Kau sudah banyak tidak masuk bulan ini,” seru orang itu. Tanpa melihat wajahnya pun Hyunmi sudah bisa menebak orang itu.

“Jonghyun-ssi. Aku harus  mempersiapkan pernikahanku beberapa hari lagi,” jawab Hyunmi mencoba tenang. Laki-laki yang dipanggil Jonghyun itu menggelengkan kepalanya.

“Besok kau harus masuk atau kau tidak usah masuk selamanya,” ancam Jonghyun. Hyunmi mendelik ke arah laki-laki itu. Mendengus napas kesal dan akhirnya melangkah mendekati Jonghyun.

“Neo ! Kau tidak berhak mengatur hidupku. Kau hanya atasanku di kantor Kim Jonghyun,” balas Hyunmi keras sambil mengacungkan telunjuk ke hadapan wajah bosnya. Jonghyun menyingkirkan tangan Hyunmi dan mengganti dengan telunjuknya. Kali ini Jonghyun yang mengacungkan telunjuknya ke depan wajah Hyunmi.

“Aku atasanmu, dan jangan pernah menunjukku dengan telunjukmu itu Ms. Kim,” Jonghyun sedikit mendorong kepala Hyunmi.

“Jangan pernah mengaturku !” Hyunmi mendorong dada Jonghyun dengan telunjuknya, “Aku akan datang ke kantor kalau sempat Jonghyun-ssi,”

“Sekarang juga kau harus ikut ke kantor,” seru Jonghyun sambil menarik tangan Hyunmi. Gadis itu memukul lengan Jonghyun dengan keras.

“Ya ! Ya ! Jangan tarik-tarik aku !” Hyunmi menjambak rambut Jonghyun sampai laki-laki itu terjengkang ke belakang. Hyunmi melepas pegangan tangan Jonghyun dan mendorongnya.

“Kau harus ikut atau karirmu berakhir Hyunmi-ssi,” ancam Jonghyun. Belum sempat Hyunmi menarik napas, tangannya sudah di tarik lagi oleh Jonghyun.

“Ya !”

BUGH

Sebuah tendangan mendarat dengan mulus di pinggang Jonghyun. Laki-laki itu melepas pegangan tangannya dan terduduk di lorong gedung apartemen Hyunmi. Ia memegangi pinggangnya yang di tendang gadis itu.

“Don’t force me to go with you Kim Jonghyun !” Hyunmi melengos meninggalkan Jonghyun yang masih memegangi pinggangnya. Langkah gadis itu terhenti ketika pergelangan tangannya di cegah seseorang. Ia menoleh dan mendapati Jonghyun memegangi tangannya.

Jonghyun mendongak menatap Hyunmi. Ia menarik tangan gadis itu dengan keras. Membuat tubuh Hyunmi terpelanting ke depan dan kehilangan keseimbangan.

Bibir mereka menempel satu sama lain. Hyunmi segera mendorong tubuh Jonghyun menjauh. Dan dengan sekali gerakan cepat menampar pipi laki-laki itu.

“This slap for brash men like you ! My lips just for Choi Minho !” teriak Hyunmi kemudian berlalu meninggalkannya. Ia segera masuk ke dalam apartemen untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia segera menyeka bibirnya dengan ujung baju yang dipakainya. Kau cari masalah denganku Kim Jonghyun, batin Hyunmi.

– — – –

Neul Rin POV

Kata-kata dokter itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Setiap mengingat itu, entah kenapa wajahku memanas. Aku tidak bisa mengatakan ini semua padanya. Pasti hubungannya dengan Hyunmi akan hancur karena masalah ini. Dan hubunganku dengan Jino, jelas akan hancur berantakan. Aku tidak seegois itu untuk memisahkan Hyunmi dan Minho.

‘You’re pregnant miss,’

Aku menepuk-nepuk wajahku sendiri. Lenyapkan pikiran itu Neul Rin, hapus omongan dokter yang di Perancis itu. Mungkin dokter itu keliru, kau tidak mungkin hamil hanya karena dua kali berhubungan dengan Minho. Jangan percaya kata-kata dokter itu.

“Ahjumma, tespect nya satu,” seruku pada seorang ahjumma penjaga apotek di dekat apartemenku. Ia mengambilnya di rak dan menyodorkannya padaku.

“Wah, kau masih muda. Ahjumma doakan semoga hasilnya positif,” ujar ahjumma itu sambil tersenyum senang. Aku membalasnya dengan senyuman ragu. Setelah membayarnya, dengan cepat aku melesat kembali ke apartemen. Aku berharap negative, jangan doakan seperti itu ahjumma.

Aku menggoyangkan testpect itu sambil masih terduduk di atas closet. Kutaruh testpect itu di wastafel, aku memejamkan mata menunggu hasilnya. Aku meraih testpect itu, membawanya ke depan wajahku. Perlahan mataku terbuka, penasaran dengan hasilnya.

PRAK

Refleks aku menjatuhkan tespect itu karena melihat hasilnya. Tidak mungkin. Tolong bangunkan aku dari mimpi aneh ini.

***

Langkahku terhenti di depan pintu apartemen Minho. Tanganku terangkat untuk menekan bel, tetapi entah kenapa tanganku kembali turun. Nyaliku mengecil begitu saja, bagaimana kalau ia menolakku mentah-mentah, dan tidak mengakui anak ini ? Tidak, ia sudah berjanji padamu Neul Rin.

Ting Tong

Dengan tangan gemetar aku menekan bel apartemennya. Tak lama kemudian pintu di depanku terbuka. Seorang wanita keluar menyambutku. Tatapannya lekat, memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah. Aku tidak mungkin memberitahu Minho kalau ada Hyunmi disini. Ottokhae ?

“Ada apa ?” tanya Hyunmi dingin. Aku meremas ujung baju mencoba mencari alasan. Belum sempat aku angkat bicara, Minho sudah muncul di balik Hyunmi.

“Neul Rin ? Waeyo ?” tanya Minho. Refleks kutatap Minho yang sekarang sudah berdiri di samping Hyunmi. Cari alasan, cari alasan Neul Rin.

“Err, tidak. Sebenarnya tidak penting, aku hanya –,” omonganku terhenti. Ottokhae ?, “Err ya, aku hanya mau mengundang kalian ke pernikahanku,” sambungku sekenanya. Senyum Hyunmi mengembang.

“Pernikahanmu ? Kapan ?” tanyanya. Aku menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

“Minggu depan, di depan hall kalian,” jawabku. Hyunmi terlihat menoleh ke arah Minho. Entah menanyakan apa, tapi Minho menjawabnya dengan sedikit takut.

“Mian kalau aku mengganggu. Aku pulang dulu,” ujarku memotong pembicaraan mereka. Mereka berdua menoleh ke arahku. Mulut Minho membuka akan mengucapkan sesuatu. Tapi Hyunmi sudah memotongnya.

“Ne, terima kasih sudah mengundang kami,” potongnya kemudian menutup pintu apartemen Minho. Aku masih berdiri, menatap kayu yang hampir menabrak wajahku. Itu pertanda kalau aku tidak boleh mengganggu hubungan mereka. Kehadiranku selama ini hanya pengganggu dalam hubungan mereka. Dan sepertinya aku harus menyembunyikan kehamilan ini.

Perjalanan dari apartemen Minho, otakku selalu berpikir bagaimana caranya membicarakan ini dengan Jino. Ia pasti tidak akan memaafkanku karena aku sudah mengkhianatinya. Ia akan meremehkan dan membenciku. Tapi hal itu wajar, aku hanya wanita murahan pengkhianat dan pengganggu hubungan orang lain.

Langkahku terhenti di depan sebuah toko yang menjual semua perlengkapan bayi. Entah kenapa kakiku melangkah memasuki toko itu. Seorang pelayan wanita menyambutku dengan ramah. Aku hanya membalas dengan senyuman dan melihat-lihat. Mulai dari baju, tempat tidur, kereta dorong, peralatan makan, sampai wallpaper untuk dinding kamar bayi juga ada. Aku tersenyum kecil melihat itu semua.

Entah setan apa yang mempengaruhiku saat itu, aku membeli beberapa potong baju bayi dan juga sepatunya. Uh, rasa menyesal itu muncul ketika aku membukanya di apartemen. Kenapa aku membeli ini semua ? Kehamilanku baru 2 minggu.

Ting Tong

Refleks aku menoleh ke arah pintu. Dengan cepat kumasukkan baju-baju bayi itu kembali ke dalam plastic. Plastik itu kulempar dengan asal ke dalam kamar yang saat itu pintunya terbuka. Orang di depan apartemenku semakin tidak sabar menekan belnya. Aku berlari ke arah pintu dan membukanya.

“Jino-ya ?” tanyaku heran. Jino tersenyum lebar kemudian memelukku erat.

“Mmm, neomu bogoshipda,” ujarnya. Aku tersenyum sambil membalas pelukannya. Ia melepas pelukannya lalu mengecup puncak kepalaku lembut.

“Ayo masuk,” ajakku, menarik tangannya.

Aku membawa 2 gelas wine ke meja ruang TV. Sementara ia sibuk memindah-mindahkan channel TV. Perhatiannya teralihkan padaku yang duduk di sebelahnya. Melihat wajahnya membuatku semakin merasa bersalah.

“Kau tidak lupa lusa hari pernikahan kita kan ?” tanya Jino. Aku yang sedang meminum wine segera menolehkan kepala ke arahnya.

“Tidak chagiya, aku tidak akan pernah lupa,” jawabku lalu menaruh gelas berleher itu di meja. Jino terus menatapku dengan ragu.

“Waeyo ?” tanyaku heran.

“Ahni,” jawabnya sambil memalingkan wajah, “Mmm, bagaimana perjalananmu dengan Minho di Perancis ? Apa kedua orangtuamu sudah memaafkan kalian ?” pertanyaan Jino membuatku ingat lagi ‘kejadian’ itu.

“Yeah, mereka sudah memaafkanku. Cukup membosankan karena Minho harus pulang dua hari setelahnya, jadi selama 3 minggu aku sendirian tinggal disana. Tidak juga sih, ada appa dan eomma,” elakku sedatar dan senormal mungkin.

“Kedua orangtuamu, apa mereka menyetujui pernikahan kita ?” tanyanya lagi. Gotcha ! Aku lupa mengatakannya pada eomma. Bagaimana ini ?

“A-err,” Jino menaikkan sebelah alisnya menunggu jawabanku, “ Sudah, mereka menyetujuinya. Tapi sayangnya mereka tidak bisa datang, banyak pekerjaan disana,” jawabku bohong. Jino tidak mau melepaskan pandangannya, seolah tahu kalau ucapanku tadi bohong.

“Tuxedo milikku masih ada di lemari, gaunmu masih ada kan ? Atau kau mau beli lagi yang baru ?” tanyanya sontak membuatku mengerutkan kening. Gaun ? Uh tidak.

“Masih, gaunnya masih tersimpan dengan rapi di lemariku,” jawabku bohong lagi.

“Jino-ya, aku harus mandi. Kau bisa tunggu sebentar kan ? Kita jalan-jalan keluar,” ujarku mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia mengangguk lalu mengacak rambutku lembut.

Aku segera masuk ke dalam kamar mandi. Bersandar di belakang pintunya sambil merutuki diri sendiri. Kejadian itu, kedua orangtuaku, gaunku, ah tidak. Semuanya menyangkut Minho. Aku harus menghindarinya sampai hari pernikahanku.

– — – –

Author POV

Jino memandangi pintu kamar mandi ketika Neul Rin menutupnya. Ia tersenyum kecil kemudian kembali focus menonton TV. Perhatiannya lagi-lagi teralihkan ketika melihat tas plastic tergeletak di lantai di dekat tempat tidur Neul Rin. Ia bisa melihat dengan jelas karena pintu kamar gadis itu terbuka dengan lebar.

“Dasar jorok,” gumam Jino sambil menggelengkan kepalanya. Ia beranjak dari sofa dan memungut plastic itu. Tapi isi dari tas plastic itu tumpah karena Jino memegang bagian bawah dari plastic itu.

Matanya membulat melihat isi dari tas plastic itu. Beberapa baju bayi dan sepatu bayi. Ia menatap barang-barang itu tidak percaya. Sedetik kemudian ia memungutnya dan memasukkannya kembali ke dalam plastic. Mungkin milik temannya, batin Jino.

5 menit kemudian Neul Rin masih belum selesai dari mandinya. Jino yang sedari tadi duduk di atas tempat tidur sudah mulai bosan. Ia membereskan kamar Neul Rin, memunguti sampah-sampah. Tangannya terhenti di atas tempat sampah, di dekat dapur. Ia menaruh plastic berisi sampah kertas yang dipegangnya dan memungut benda yang di temukannya di tempat sampah. Testpect, dan hasilnya positif.

Ia masih memandangi tespect itu saat Neul Rin keluar dari kamar mandi. Jino menoleh ke arah gadis itu, pikirannya berkecamuk karena melihat tanda positif di dalam alat yang dipegangnya. Ia menghampiri Neul Rin lalu menunjukkan tespect yang ditemukannya.

“Ige mwoya ?” tanya Jino, datar, dingin, tanpa emosi sama sekali. Neul Rin mundur beberapa langkah menghindari jarak Jino yang terlalu dekat. Ia menatap testpect yang dipegang Jino kemudian menggeleng.

“Ya ! Aku bukan laki-laki bodoh ! Siapa yang hamil !” teriak Jino sambil terus mendesak Neul Rin ke tembok. Neul Rin merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia lupa membakar testpect itu.

“Mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahumu Jino,” Neul Rin mendorong tubuh Jino sedikit menjauh, memberikan ruang diantara mereka, “I’m pregnant,” sambungnya.

Jino membelalakkan matanya tidak percaya. Ia menjatuhkan alat itu, tangannya beralih memegang kening, dan entah kenapa tubuhnya serasa ringan. Ia kehilangan kesadaran beberapa saat, tapi akhirnya kembali focus menatap Neul Rin.

“Hasil hubunganku dengan Minho,” sela Neul Rin seolah tahu apa yang di pikirkan Jino. Laki-laki itu tersenyum miris, ia berdiri tegak di hadapan Neul Rin masih sambil memegangi kepalanya.

“Kau, mengkhianatiku ?” tanyanya. Neul Rin menggeleng dengan cepat.

“Tidak Jino. Aku hanya –,”

PLAK

Tamparan dari Jino membuat ucapan Neul Rin terhenti. Jino menatap tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menampar Neul Rin.

“I’m so disappointed. Selama ini aku percaya padamu Neul Rin,” Jino menundukkan kepalanya berusaha menahan air mata yang sudah mulai menggenang. Neul Rin masih memegangi pipinya yang masih terasa panas. Entah kenapa, mata gadis itu berkaca-kaca, karena merasa bersalah dan rasa sakit yang menerubungi wajahnya.

“Jino-ya, aku hanya terbawa suasana waktu itu,” Neul Rin mencoba memegang kedua bahu Jino, tapi tangannya ditepis dengan kasar. Jino mendongak dan segera menyeka air matanya.

“Jangan sentuh aku ! Kenapa kau tidak mengatakannya dari kemarin ? Kenapa disaat sebentar lagi kita akan menikah Neul Rin ? Waeyo ?” tanya Jino dengan sedikit terisak. Neul Rin menatap Jino, ia baru saja akan membuka mulut ketika laki-laki itu menyelanya lagi.

“Kenapa hubungan kita harus berakhir seperti ini ? Kenapa kau melakukannya ?! Kenapa kau mengkhianatiku Neul Rin ?” nada bicara Jino naik turun seiring dengan isak tangisnya. Neul Rin menggeleng sambil menutup kupingnya.

“AKU TIDAK TAHU ! Aku tidak tahu kenapa ini semua bisa terjadi Jino. Perasaanku terombang-ambing, ketika aku berusaha untuk melupakanmu, Minho selalu ada memberikan semangat. Ia menolongku dari hypothermia karena shock melihatmu berpelukan dengan Minsuk eonni. Jangan desak aku terus,” Neul Rin memerosotkan tubuhnya, duduk di lantai. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Aaargh !” umpat Jino kemudian memukul tembok, tepat di atas kepala Neul Rin.

“Sekarang apa ? Hubungan kita berakhir ? Baik kalau memang itu yang kau mau,” tambah Jino lalu bangkit meninggalkan Neul Rin. Langkahnya terhenti di depan kamar Neul Rin, ia melirik sekilas ke dalam kamar itu.

“Jino-ya, jangan pergi dalam keadaan seperti ini. Aku mohon, hubungan kita jangan berakhir dalam suasana seperti ini. Aku akan jelaskan semuanya,” Neul Rin mengangkat kepalanya, mencoba memandang Jino. Laki-laki yang dipanggilnya sedikit menolehkan kepala ke belakang. Ia berbalik, kembali ke hadapan Neul Rin.

“Jangan pernah sebut namaku lagi. Bahkan aku, tidak pernah berani untuk menyentuhmu. Aku sangat kecewa Neul Rin. Keadaan seperti ini tidak pernah kuduga sebelumnya.,” Jino sedikit melunak. Ia bangkit lalu benar-benar meninggalkan Neul Rin.

“Jino,” desis Neul Rin dengan sedikit terisak.

***

Jino terus melangkah meninggalkan apartemen Neul Rin. Disaat yang sama juga, airmatanya tidak pernah berhenti keluar. Ia berkali-kali menyeka kedua matanya dengan kasar. Tanpa peduli orang-orang yang sedang berteduh di pinggiran toko memperhatikannya karena hanya ia yang berdiri di bawah hujan salju. Laki-laki itu menatap cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Hatinya benar-benar sakit mengingat gadis itu, kekasihnya sendiri hamil oleh orang lain.

Matanya menerawang ke seberang jalan. Tempat seseorang berdiri, dibawah halte karena hujan salju yang semakin deras. Ia menyebrangi jalan dengan cepat menghampiri gadis itu. Jino berdiri tepat disamping gadis itu, menatapnya dengan nanar. Gadis yang ditatapnya menoleh, dan membulatkan matanya ketika melihat Jino berdiri dalam keadaan berantakan.

“Jino ?” tanya gadis itu sambil berdiri dari duduknya lalu menghampiri Jino.

“Noona,” gumam Jino kemudian memeluk gadis itu. Tangisnya semakin keras, ia menenggelamkan kepalanya ke bahu gadis itu. Menangis sekencang-kencangnya, tanpa perlu khawatir dengan orang-orang karena malam sudah larut.

“Ada apa ?” tanyanya. Jino tidak bergeming dan masih saja menangis, “Hey, ada apa ?” tanyanya lagi.

“Neul Rin,” jawab Jino sedikit terbata.

“Ada apa dengannya ?”

“She’s pregnant,” mata Minsuk membelalak mendengar jawaban Jino. Ia melepas pelukan Jino dan menatap laki-laki itu.

“Hamil ? Seharusnya kau senang kan ?” tanya Minsuk. Jujur, ia sedikit cemburu ketika mendengar Neul Rin hamil.

“Senang ? Itu bukan anakku dan aku harus senang ?” tanya Jino sambil menyeka kedua matanya. Minsuk menurunkan tangannya dari pundak Jino. Ia mengerutkan kening heran.

“Ia hamil oleh adikmu noona,” jawaban Jino membuat Minsuk tersentak. Ia menggeleng tidak percaya, dengan apa yang baru dikatakan laki-laki di hadapannya.

“Minho ? Bagaimana bisa ?” tanyanya heran. Jino duduk di kursi di halte itu diikuti Minsuk.

“Entahlah. Mungkin mereka melakukannya ketika masih berstatus suami-istri,” jawab Jino sembari menundukkan kepalanya. Tangannya terkepal dengan keras.

“Yeah, nasib kita sama,” ujar Minsuk sontak membuat Jino menoleh ke arahnya. Minsuk tersenyum miris kemudian menoleh ke arah Jino juga. Membuat mereka bertatapan.

“Aku sudah bercerai dengan joongki,” tambahnya. Minsuk kembali menatap jalanan malam yang sepi. Lagi-lagi ia tersenyum miris, dan entah kenapa hatinya sakit mengingat hal itu. Selama 3 tahun bersama dengan laki-laki itu, perasaannya mulai berubah. Tapi kejadian menyakitkan itu sudah tidak bisa termaafkan lagi.

“Kau tahu ? Joongki selingkuh, di rumah kami, ketika aku baru pulang dari rumah kedua orangtuaku di Jepang. Miris huh ?” Minsuk segera menyeka kedua sudut matanya yang sudah mulai berkaca-kaca. Jino memandang gadis itu heran, di saat seperti ini ia masih bisa tersenyum. Dan kenapa ia tidak bisa melakukannya.

“Kita memang ditakdirkan untuk bersatu lagi kan ?” tanya Jino. Minsuk mengendikkan bahunya bingung.

“Mungkin,”

-to be continued-

yayayay

akhirnya bisa ngepost

part ini garing ya ?

kira-kira 1 part lagi deh

RCL ya :D

^Ima^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s