[FanFic] Wrong Marriage (6th Part)

Title : Wrong Marriage

Author : Ima Shineeworld

Cast       : Choi Minho, Kim Hyunmi, Kim Neul Rin

Other   : Cho Jino (S.M. The Ballad)

Rating : PG+15

Length : Series

Genre   : Comedy Romance

Gadis yang baru saja ditanya terdiam. Masih mencerna kejadian yang menimpanya tadi malam. Tangan gadis itu menarik selimut menutupi tubuh atasnya.

“Apa yang kita lakukan ?” tanya gadis itu bingung. Laki-laki bertubuh tinggi itu ikut duduk di tempat tidur. Menatap gadis di hadapannya heran.

“Tidak. Tidak seharusnya kita melakukan ini semua,” gumam gadis itu lagi.

“Wae ? Kita melakukannya karena dasar yang jelas. Kau mencintaiku kan ?”

“Aku-aku,”

“Aku akan bertanggung jawab kalau memang terjadi apa-apa padamu rin-ah,” potong laki-laki itu. Gadis berambut panjang itu menolehkan kepalanya menatap laki-laki yang sudah merebut ‘mahkota’nya tadi malam.

“I’m promise,” tambah laki-laki itu.

– — – –

Neul Rin POV

Aku masuk ke kamar mandi. Terduduk di belakang pintu sambil meremas ujung selimut yang masih kupakai. Aku menatap kemeja besar yang baru di berikan Minho sebelum masuk ke kamar mandi tadi. Gosh, apa yang aku lakukan bersamanya ? Bahkan dengan Jino aku tidak pernah berani untuk melakukannya. Dan satu hal yang penting, ia masih memakai cincin kayu itu di tangannya.

Aku membawa selimut itu keluar dari kamar mandi. Memasukkannya ke keranjang cucian kotor. Tanganku terhenti di atas keranjang itu ketika melihat baju Minho dan gaunku ada disana juga. Dengan cepat kulempar selimut itu asal, dan segera kembali ke ruang TV. Wajahku memanas mengingat kejadian tadi malam.

“Hey Neul Rin,” sapa Minho dari arah dapur ketika aku sampai di ruang TV. Ia menumpahkan air panas ke dalam dua cup ramen dengan pelan-pelan. Setelah selesai, Minho membawa ramen itu ke meja ruang TV. Di depan tempat ku duduk sekarang.

“Ayo makan,” serunya sambil mencoba menatapku. Dengan segera aku memalingkan wajah dari tatapannya dan meraih cup ramen itu. Karena terlalu panik, aku malah memegang di tengah cup itu, bukan di ujung cup tempat khusus agar tangan tidak kepanasan.

“Tteugeo !” refleks tanganku mendorong cup ramen itu. Membuat isinya tumpah dan airnya terpercik ke tanganku.

“Oh, gwenchana ?” tanya Minho khawatir. Ia langsung meraih tanganku, melihat jariku yang memerah karena air panas.

“Ne, gwenchana,” jawabku sambil menarik tanganku dari genggamannya.

“Igeo, makan ramen milikku. Nanti aku beli lagi,” balas Minho, menyodorkan ramennya. Aku menerima ramen dari Minho, tidak lupa membalasnya dengan sedikit menundukkan kepala.

“Aku keluar dulu,” Minho mengacak rambutku lembut kemudian beranjak keluar apartemen. Aku segera menaruh ramen itu lalu mengipas-ngipaskan tangan ke wajahku sendiri. Uh, kenapa aku sangat bodoh ? Terbawa suasana hanya karena udara dingin. Kau sudah merebutnya dari Hyunmi, Neul Rin bodoh. Bodoh.

“Ya ! Kenapa memukul-mukul kepalamu sendiri huh ?” tanya Minho yang ternyata sudah berdiri di sebelahku. Tanganku terhenti di udara yang sebentar lagi mendarat. Aku mendongakkan kepala melihatnya.

“Hai ?!” sapaku dengan sedikit terkekeh. Minho menggelengkan kepala lalu masuk ke kamarnya. Sesaat kemudian ia keluar dari kamar, membawa dompet dan keluar dari apartemen. Oke, kau harus tahan diri mulai dari sekarang Neul Rin.

***

Minho mengantar sampai ke depan pintu apartemenku. Apartemen yang baru kutempati sebulan yang lalu. Ia tertarik dan akhirnya kuajak masuk ke dalam. Saat masuk, matanya menjelajahi setiap sudut apartemenku. Memandangi foto yang banyak terpajang di meja dekat pintu masuk.

“Kau masih menyimpan fotonya ?” tanya Minho tiba-tiba.

“Eng ?” langkahku terhenti di belakang pintu. Ia menunjuk sebuah frame berisi fotoku bersama Jino.

“Akan segera kubuang,” jawabku singkat lalu masuk ke dalam untuk berganti baju. Sementara aku berganti baju, Minho melihat-lihat seluruh apartemenku. Uh, kenapa kejadia tadi malam selalu berputar-putar di kepalaku ? Kalau dipikir-pikir, aku lebih mengkhianati Jino. Aku mengkhianati Jino dan Hyunmi.

Ting Tong.

Bel apartemenku berbunyi. Semakin lama semakin cepat temponya. Aku yang sedang kerepotan memakai baju akhirnya berteriak pada Minho.

“Minho-ya ! Tolong buka pintunya !” teriakku.

Setelah selesai memakai baju dengan rapi. Aku menyusul Minho diluar untuk menyambut tamu yang datang. Satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Cho Jino dan Choi Minsuk. Tch, ada apa mereka kesini.

“Ada apa ?” tanyaku ketus. Minsuk menghampiriku, berdiri tepat di depanku. Aku sedikit mendongakkan kepala untuk menatapnya.

“Aku mohon, kemarin hanya salah paham. Aku dan Jino –,”

“Tidak perlu dijelaskan eonni. Aku mengerti, kalian dulu punya hubungan khusus kan ?” sergahku. Minsuk menggelengkan kepalanya lalu memegang kedua tanganku.

“It just goodbye hug. Pelukan perpisahan karena aku harus kembali ke Jepang,” Minsuk masih tetap menatapku dengan mata bulatnya, sama seperti Minho.

“Kenapa aku harus percaya ?” tanyaku. Jino yang tadi berdiri di sebelah Minho sekarang sudah berdiri di samping Minsuk. Menatapku penuh harap.

“Kau harus percaya. Karena aku mencintaimu Neul Rin,” jawab Jino. Aku menutup kuping, tidak mau mendengar apapun dari mulutnya.

“Pergi dari sini. Aku tidak mau melihat kalian lagi,” balasku ketus. Minsuk mundur beberapa langkah, tapi tidak dengan Jino. Ia masih tidak bergeming dari hadapanku.

“Kau tidak lihat cincin ini ?” tanya Jino sambil mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin bersayap yang terlingkar dengan manis disana, “Kita sudah terikat satu sama lain. Kau tidak bisa pergi lagi Neul Rin,”

Jino memegang kedua pipiku, menatap kedua mataku lekat. Air mataku mulai menggenang, dan entah sejak kapan aku sudah berada di dalam pelukannya.

Jino melepas pelukannya dan dengan lembut mengusap pipiku. Senyumnya mengembang, berharap aku mengikuti senyumannya. Bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman kecil.

“Kau percaya padaku ?” tanyanya.

“Ne,” jawabku, melebarkan senyum. Aku yang tidak bisa menjaga kepercayaanmu Jino. Mianhae.

***

Aku memperhatikan setiap detil hall itu. Jangan sampai salah hall lagi seperti dulu. Sekarang aku tahu perbedaan hall yang ada di Coex ini. Lantai hall milikku berwarna biru muda, sedangkan hall yang dipakai Minho berwarna merah muda. Walaupun aku tidak bisa melihat ke depan, sekarang aku sudah bisa membedakan lantainya.

“Sudah selesai chagi ?” teriak Jino dari pintu hall. Aku yang sedang memandang altar segera menoleh ke belakang melihatnya.

“Ne !” seruku semangat kemudian berlari menghampirinya.Kejadian malam itu, aku tidak bisa melupakannya. Aku merasa bersalah pada Jino.

Tepat saat pikiranku berkecamuk ponselku berbunyi. Aku segera menghentikan langkah dan mengambil ponsel di saku jaket. Langkah Jino terhenti beberapa lantai di depanku. Eomma ?

“Yoboseyeo,”

‘Kau keterlaluan Neul Rin,’ balas eomma tiba-tiba. Aku mengernyit heran.

“Apa maksud eomma ?”

‘Kau kira eomma tidak tahu ? Kau akan menikah lagi kan ?’ tanya eomma sontak membuat tubuhku menegang. Bagaimana dia tahu ?

“Otte ?”

‘Hall yang kau sewa itu milik teman eomma. Dia bilang seseorang menyewa hall itu dengan nama Kim Neul Rin dengan Cho Jino, siapa dia ?’ nada bicara eomma mulai meninggi. Aku menundukkan kepala mencoba mencari alasan. Sampai tiba-tiba eomma mencela lagi.

‘Kenapa kau melakukan itu semua ? Apa alasanmu bercerai dengannya ?’ desak eomma.

“Tidak eomma, aku dan dia hanya –,”

‘Eomma suka semua tentang Minho. Sifatnya, sikapnya, dan kau tidak menghargai itu,’

“Eomma, aku akan jelaskan nanti. Ini bukan saat yang tepat,”

Jino mendekat karena mendengar nada bicaraku yang sedikit gemas. Ia menggoyangkan mulutnya bertanya. Aku menggeleng dan menjauh dari Jino.

‘Aku tidak menyangka anakku sendiri seorang wanita murahan. Jangan hubungi aku sampai kau menjelaskan kenapa kau bercerai dengannya !”

Eomma menutup teleponnya. Aku terdiam, merenungkan kata-kata eomma. Wanita murahan. Kata-kata itu memang tepat untukku. Aku hanya seorang wanita murahan yang mencintai dua orang laki-laki, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Secara tidak langsung aku menyakiti Jino dan Hyunmi karena hubunganku dengan Minho. Sekarang apa ? Eomma akan membenciku ?

“Ada apa ?” tanya Jino yang sekarang sudah berdiri di sebelahku.

“Ahni, ayo pulang,” jawabku sambil tersenyum padanya. Aku segera menggamit lengan Jino dan membawanya keluar dari gedung.

Apa aku harus pergi ke Perancis untuk menyusul eomma ? menjelaskan ini semua ? Hanya itu cara agar eomma dan appa tidak salah paham. Aku tidak mau menyakiti mereka. Ya, aku harus pergi kesana bersama Minho.

Dengan perlahan aku berjalan menelusuri jalanan menuju taman di dekat apartemen Minho. Sambil mengirim pesan agar ia menemuiku di taman. Aku terlalu takut untuk satu ruangan lagi dengannya. Yeah, takut kalau kejadian kelewatan itu terjadi lagi.

Aku duduk di ayunan masih sambil memegangi ponsel, menunggu balasan darinya. Malam ini tidak turun salju. Udara juga tidak sedingin hari-hari kemarin. Semoga tidak ada badai tiba-tiba lagi seperti kemarin.

– — – –

Author POV

Hyunmi menatap pesan dari Neul Rin. Tanpa sadar ia menggenggam ponsel Minho erat saking kesalnya. Selama ini ia kira Minho tidak pernah berhubungan lagi dengan gadis itu. Karena itu kemarin saat bertemu dengan Neul Rin ia melemparkan senyum terbaiknya. Ia kembali membaca pesan dari Neul Rin.

From : Neul Rin ♥

Minho-ya ! Aku tunggu di taman dekat apartemenmu

Sekarang juga. Palli wa !! ^0^

Icon di ujung nama Neul Rin menjadi perhatian Hyunmi. Tanda hati, sama dengan namanya di phonebook ponsel Minho. Hampir saja ia menangis kalau saja Minho tidak keluar dari kamar mandi. Hyunmi segera mengerjapkan mata dan menaruh ponsel Minho ke atas meja.

“Minho-ya,” panggil Hyunmi. Minho yang baru keluar dari ruang cuci segera menghampiri Hyunmi dan duduk di sebelahnya.

“Wae ?”

“Hug me,” pinta Hyunmi. Minho mengernyit heran, tapi sedetik kemudian mendekap Hyunmi ke pelukannya.

“Aku mau tidur. Kau tidak akan meninggalkanku kan ?” tanya gadis itu lagi, membuat Minho semakin heran.

“Ne, tidurlah,” jawab Minho sembari mengelus rambut Hyunmi lembut.

Beberapa saat kemudian Hyunmi sudah tertidur, masih di dalam pelukan Minho. Dengan tubuh Minho yang besar, ia dengan mudah menghangatkan tubuh Hyunmi. Laki-laki berambut cepak itu melonggarkan pelukannya dan menyandarkan kepala Hyunmi di pinggir sofa. Ia bangkit dari sofa, membetulkan posisi tidur gadisnya. Ia mengambil selimut dari dalam kamar kemudian menyelimuti Hyunmi dari udara dingin.

Minho menatap layar ponsel touch miliknya yang tergeletak di meja. Tak lama kemudian ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk. Minho segera meraih ponselnya dan membaca pesan dari Neul Rin.

From : Neul Rin ♥

Minho-ya, cepatlah datang.

Aku kedinginan.. *o*

Baru saja Minho akan beranjak ketika tangan Hyunmi mencegahnya. Gadis itu menggumam, membuat Minho mengurungkan niatnya. Mata Hyunmi masih terpejam, cengkraman tangannya dengan kuat mencengkram pergelangan tangan Minho.

“Gajima,” gumam Hyunmi lagi. Kali ini mata Hyunmi sudah terbuka, mendongak dan menatap Minho dengan tatapan memohon.

“Ahni, aku tidak pergi,” Minho duduk di sebelah Hyunmi. Tangan Hyunmi masih memegang tangan Minho agar ia tidak kemana-mana.

Minho menatap layar ponselnya yang masih menampilkan pesan dari Neul Rin. Ia menoleh dan menatap wajah polos Hyunmi yang tertidur. Hatinya sedang bingung sekarang, antara menemui Neul Rin yang sedang kedinginan diluar sana, atau menamani Hyunmi yang jelas-jelas kekasihnya dan tengah tertidur. Ia hendak membalas pesan Neul Rin ketika ponselnya tiba-tiba mati. Minho hanya bisa berharap, semoga Neul Rin tidak menunggunya semalaman.

***

Sementara itu, Neul Rin masih duduk di ayunan. Menunggu Minho datang, tidak peduli salju sudah mulai turun membasahi rambutnya. Neul Rin merapatkan jaket kemudian mendongak menatap langit malam yang semakin deras menurunkan salju. Ia menggumam kecil lalu menatap ponsel di tangannya. Udara dingin menyerang tubuhnya malam itu. Membuat ia terbatuk-batuk kecil.

Sebuah mobil berhenti di pintu masuk taman, membuat Neul Rin menoleh. Seorang laki-laki dengan membawa payung berlari menghampiri gadis itu. Laki-laki itu berdiri tepat di hadapan Neul Rin. Menatap khawatir gadis di depannya.

“Jino ? Kenapa kau bisa ada disini ?” tanya Neul Rin sambil mencoba meyakinkan kalau di hadapannya sekarang adalah Jino. Jino merendahkan kepalanya, menatap Neul Rin dengan jarak yang cukup dekat.

“Hatiku mengatakan kalau kau sedang kesulitan, di taman ini,” jawab Jino. Neul Rin terkekeh pelan kemudian mendorong kepala Jino menggunakan telunjuknya. Rasa bersalah muncul lagi ke permukaan hati Neul Rin. Ia merasa Jino sangat baik, tapi ia sudah mengkhianatinya.

“Ayo pulang,” ajak Jino, menarik tangan Neul Rin pelan. Gadis itu mengangguk dan mengikuti tarikan tangan Jino masuk ke dalam mobil.

Neul Rin menatap keluar jendela, menatap setiap orang-orang yang lewat, berharap kalau salah satu dari mereka adalah Minho. Tiba-tiba matanya menangkap satu sosok laki-laki bertubuh tinggi, sama seperti Minho, tengah berlari berlawanan arah. Kepalanya memutar mengikuti arah laki-laki itu berlari. Refleks ia menyuruh Jino memberhentikan mobilnya.

“Waeyo ?” tanya Jino sambil mengerem mobilnya mendadak. Neul Rin menghiraukannya dan segera turun dari mobil.

“Minho-ya !” teriak Neul Rin, berlari mengejar laki-laki itu. Minho memberhentikan langkahnya, ia menolehkan kepalanya ke belakang. Neul Rin melambaikan tangannya, Minho berbalik arah menghampiri Neul Rin.

“Hhh, neo gwenchana ?” tanya Minho sedikit terengah. Neul Rin mengangguk cepat.

“Ada apa ?” tanya Minho lagi sambil mencoba mengatur napas.

“Kita ke perancis besok,” jawab Neul Rin sontak membuat Minho menahan napasnya sebentar. Ia mengernyit heran.

“Perancis ?”

“Appa dan eomma marah padaku karena perceraian kita. Dan aku akan jelaskan semuanya di sana,”

“Baiklah. Jam berapa ?”

“7 pagi,”

“Eh ? sepagi itu kah ?”

“…”

Jino memandangi kedua orang itu dari dalam mobil. Tanganya terkepal keras memegang kemudi. Neul Rin rela menunggu di taman, kedinginan, hanya untuk menunggu laki-laki itu. Dan sekarang, mobilnya di berhentikan karena melihat laki-laki itu juga. Perasaan cemburu menyelimuti hati Jino, ingin rasanya ia memukul wajah Minho, membalas apa yang dilakukannya di café dulu. Tapi ia sadar, perasaan Neul Rin lebih berharga daripada hanya sekedar memukuli Minho.

“Annyeong,” seru Neul Rin kemudian masuk ke dalam mobil. Matanya memandang Jino yang tengah menatap jari-jarinya di kemudi. Neul Rin menutup pintu mobil, tapi tidak mengindahkan refleks apapun. Ia melambaikan tangan di depan wajah Jino, dan laki-laki itu akhirnya sadar juga.

“Ayo pulang,” ajak Neul Rin semangat. Jino mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya. Sesekali ia melirik Neul Rin yang menunjukkan ekspresi khawatir. Ia merasa, kalau sikap Neul Rin mulai berubah.

– — – –

Minho POV

Aku melangkahkan kaki memasuki apartemen. Saat aku masuk, Hyunmi sudah duduk di sofa, menatap kosong ke meja di depannya. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Ia segera mengusap pipinya cepat.

“Kau pergi menemui wanita itu ?” tanya Hyunmi dingin tanpa menatapku.

“Mian Hyunmi, ia menungguku di taman,”

“Kau lebih memilih dia daripada aku ? Pacarmu sendiri ?” desak Hyunmi. Ia menolehkan kepalanya, menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Dia kedinginan diluar sana Hyunmi, aku takut ia hypothermia lagi,” jawabku. Hyunmi mendecakkan lidahnya.

“Hypothermia ‘lagi’ ? Jadi selama ini kau selalu bertemu dengannya huh ?” nada bicaranya mulai meninggi. Aku menelan ludah keras-keras, hal paling bodoh yang kukatakan.

“Kenapa diam ? Kau mengakui itu semua kan ? Selama ini aku kira kau tidak pernah berhubungan lagi dengannya. Dan harus kau tahu, aku melihat semua yang kau lakukan dengannya ketika di Jeju waktu itu. Kau menciumnya di pinggir pantai,” ucapan Hyunmi membuatku sedikit tersentak. Isak tangisnya semakin tidak terkendali. Dengan cepat ia menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.

“Hyunmi. .” aku mencoba menyentuh pundaknya, tapi ia menepis dengan kasar tanganku.

“Apa lagi yang kau lakukan di belakangku huh ? Atau mungkin kau sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman ?” tanyanya lagi. Ya, ucapanmu benar Hyunmi.

“Tidak, aku hanya mencintaimu Hyunmi. Jangan desak aku seperti ini,”

“Tch, cinta ? Kau memberi tanda yang sama di belakang nama Neul Rin di ponselmu. Sama denganku kan ? Kau juga mencintainya,”

“Hyunmi, aku mohon jangan seperti ini. Aku akan menghapus tanda itu,”

“Untuk apa menghapusnya ? Kalau hatimu sendiri tidak bisa menghapusnya,”

“Aku tidak mau hubungan kita selama 5 tahun berakhir hanya karena hal kecil seperti ini. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama kau kuliah di LA, banyak laki-laki yang mungkin lebih dari pada seorang Choi Minho. Tapi aku percaya kalau kau tidak akan melakukan hal-hal aneh,”

“Sekarang kau mencoba menyalahkanku ? Baik, kalau memang tidak ada kepercayaan lagi disini, hubungan kita berakhir,” seru Hyunmi sambil bangkit dari sofa. Ia menyeka kedua matanya, kemudian berjalan menuju pintu apartemenku.

“Hyunmi,” panggilku. Ia tidak bergeming dan dengan tergesa memakai sepatunya. Aku berlari mengejarnya dan melingkarkan tanganku di lehernya dari belakang.

“Jangan seperti ini, aku tidak mau kehilanganmu,” bisikku pelan. Ia memegang tanganku dan menurunkan perlahan dari lehernya.

“Mian, kepercayaanku sudah hampir hilang padamu Minho. Hubungan kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi, you’re not love me again,” ucapnya kemudian beranjak. Aku mencegah tangan Hyunmi, tapi ia tidak berbalik seperti biasanya. Ia mulai membuka pintu, dengan cepat kutahan pintu itu dengan tanganku yang lain. Aku membalikkan tubuhnya, menyandarkannya di belakang pintu. Dengan lembut kuusap pipinya yang basah.

“Bagaimana membuktikan semuanya ? Aku masih mencintaimu Hyunmi,” desisku pelan sambil memegang kedua pipinya. Ia memegang kedua tanganku yang masih menempel di pipinya.

“Aku butuh waktu untuk memikirkan ini semua. Biarkan aku sendiri,” ujarnya pelan. Aku menggeleng cepat kemudian merengkuh bibirnya lembut.

“Lepas !” serunya sambil mendorong tubuhku.

“Kita selesaikan ini berdua. Bukan sepihak,” balasku lalu merengkuhnya lagi. Kali ini ia tidak bergeming, membiarkan bibirku menempel di bibirnya. Tangannya yang mencoba mendorong tubuhku sekarang terjatuh ke samping pahanya.

Hyunmi menundukkan kepalanya tiba-tiba. Membuat ciuman itu terlepas. Aku mengangkat wajahnya lagi dan menatap kedua matanya lekat-lekat.

“Kau percaya padaku sekarang ?” tanyaku lembut. Hyunmi menangis lagi mendengar ucapanku. Kutarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Ia masih saja terisak dan tidak membalas pelukanku seperti biasanya.

“Berikan aku beberapa hari untuk memikirkan ini semua,” ujarnya kemudian mendorong tubuhku. Dengan cepat ia membuka pintu apartemenku, dan keluar. Ia berlari menuruni anak tangga, tanpa menoleh lagi.

Aku memukul tembok di dekat pintu. Merutuki diri sendiri karena sudah membuatnya menangis seperti itu. Aku sudah menyia-nyiakan kepercayaannya selama ini. Semua ucapannya tidak ada yang meleset, semuanya benar dengan keadaanku sekarang. Kecuali hal terakhir, karena aku memang masih mencintainya.

***

6.30 am @ Incheon airport

Neul Rin duduk dengan gelisah di sebelahku. Ia sesekali menempelkan ponsel ke kupingnya, tapi kemudian menurunkannya lagi. Berulang-ulang seperti itu sampai aku sedikit risih.

“Ya ! Kenapa denganmu huh ?” tanyaku akhirnya. Ia menolehkan kepalanya.

“Eomma dan appa tidak bisa dihubungi. Mereka benar-benar marah padaku,” jawabnya. Neul Rin mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas kecil.

“Berapa hari kita disana ?” tanyaku ketika melihatnya membawa koper cukup besar.

“Aku mau 2 hari, tapi kalau keadaan tidak memungkinkan paling lama satu minggu,” jawabnya sontak membuatku terhenyak. Satu minggu ? Ayolah, aku harus menyelesaikan masalah dengan Hyunmi.

“Aku tidak bisa lama-lama disana. Setelah 2 hari aku akan pulang ke Korea, ada masalah yang harus kuselesaikan,” ujarku. Ia menaikkan sebelah alisnya heran kemudian berdehem kecil.

“Dengan Hyunmi ?” tanyanya. Aku mengangguk kecil, Neul Rin menepuk-nepuk pundakku pelan.

“Araseo,” tambahnya.

Sesaat kemudian terdengar pemberitahuan, agar penumpang segera naik ke pesawat. Kami yang sudah duduk di ruang keberangkatan segera bangkit dan mulai beranjak. Neul Rin menggenggam tanganku dan sebelah tangannya terkepal ke udara.

“Fighting !” serunya semangat. Aku mengacak rambutnya kasar. Ia hanya terkekeh kecil kemudian dengan sedikit berlari berjalan duluan di depanku. Aku membetulkan tas yang kugendong, lalu menyusulnya. God, aku tidak tahu perasaanku sendiri sekarang. Kenapa aku tega meninggalkan Hyunmi yang sedang marah pergi ke Perancis bersama Neul Rin. Tapi ini semua demi kehidupanku juga, aku tidak mau dihantui rasa bersalah karena appa dan eomma Neul Rin. Aku yang membuat awal dari semua masalah ini.

***

7.00 pm @ Charles de Gaulle airport

Perjalanan 12 jam melelahkan dari Incheon.  Setelah keluar dari bandara kami berdua segera masuk ke dalam taksi. Pergi ke stasiun untuk menempuh perjalanan lagi dari Paris ke La Rochelle. Ya, disanalah kedua orang tua Neul Rin tinggal. Entahlah, aku hanya mengikuti Neul Rin.

“Ou vous voulez aller manqué ?” tanya supir taksi yang baru saja kami naiki. Aku menoleh ke arah Neul Rin berharap ia mengerti.

“Gare Montparnasse,” jawabnya fasih. Supir taksi itu mengangguk kemudian menjalankan taksinya.

“Kau bisa bahasa perancis ?” tanyaku heran.

“Ne, sebelum di korea aku tinggal disini. Dari kecil di perancis, orang tuaku biasa menggunakan bahasa korea di rumah. Tapi aku bisa sedikit-sedikit bahasa perancis,” jawabnya kemudian tersenyum lebar. Aku hanya bisa mengangguk kecil.

Selama di kereta, Neul Rin tertidur. Ia bilang perjalanannya membutuhkan waktu 4 jam dan kita bisa tidur. Tapi aku sama sekali tidak memikirkan itu, yang aku pikirkan sekarang adalah Hyunmi. Bagaimana keadaannya sekarang.

Kami berdua berdiri di depan sebuah rumah bergaya klasik di La Rochelle. Neul Rin tampak ragu, tapi sedetik kemudian melangkahkan kakinya memasuki pagar kecil ke dalam rumah itu. Udara dingin tidak menyulutkan niat Neul Rin untuk menemui kedua orangtuanya. Aku mengikutinya masuk ke dalam pagar kecil itu, melewati salju yang sedikit menumpuk di bawah kaki.

“Eomma,” ujarnya sambil mengetuk pintu rumah itu. Berkali-kali ia mengetuk pintu sampai akhirnya seseorang membukanya. Eomma membukanya lebar, menatapku dan Neul Rin bergantian kemudian sedikit menyingkir untuk kami masuk.

“Eomma, apa kabar ?” tanyaku, membungkukkan badan padanya.

“Duduk,” perintahnya tanpa menjawab pertanyaanku. Aku dan Neul Rin duduk di sofa. Sedangkan eomma duduk di hadapan kami.

“Apa maksud kalian seperti ini ? Bercerai tanpa memberitahuku dulu huh ?” tanya eomma to the point.

“Eomma, kami baru datang. Perjalanan 16 jam dari Korea ke sini, kami sedang mengalami jet lag. Kepalaku pusing,” jawab Neul Rin. Ya, entah apa namanya itu. Kepalaku pusing karena beradaptasi dengan waktu disini, mungkin itu yang dikatakannya.

“Baiklah, besok pagi kalian harus menjelaskan semuanya,” balas eomma kemudian bangkit dari sofa.

“Minho, kau tidur di kamar Neul Rin. Eomma harus tidur juga,” tambahnya lalu melangkah masuk ke dalam kamar di lantai yang sama.

“Kamarmu dimana ?” tanyaku. Neul Rin menunjuk ke arah lantai dua lalu berjalan menaiki tangga.

Di depan pintu di lantai dua, tertulis nama Neul Rin dengan hangul yang sedikit acak-acakan. Ia membuka pintu itu perlahan, udara dingin langsung menyergap kami ketika memasuki kamarnya. Neul Rin menaruh kopernya di dekat meja belajar kemudian duduk di sisi tempat tidur.

“Kapan terakhir kali kau tidur disini ?” tanyaku sambil melihat-lihat foto masa kecilnya di meja belajar.

“7 tahun yang lalu,” jawabnya. Ia mengeluarkan baju-bajunya dari dalam koper dan menaruhnya di dalam lemari di sudut ruangan.

“Jeongmal ? Kau sekolah di Korea juga ?” tanyaku masih tetap melihat fotonya.

“Ne,”

Neul Rin beralih ke tempat tidur. Merebahkan dirinya di atas kasur tanpa berganti baju. Aku masih memperhatikan foto-foto Neul Rin, sampai mataku terhenti di satu foto. Fotonya bersama seorang laki-laki. Ia terlihat bahagia, dengan senyuman lebar dan rambutnya yang sedikit tertiup angin.

“Siapa laki-laki ini ?” tanyaku, meraih foto itu. Tidak ada jawaban dari Neul Rin. Aku menoleh, ia sudah tertidur dengan pulas. Tanpa sadar bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman.

Aku kembali memandangi foto itu. Tidak ada tanda apa-apa, aku membalikkan frame foto itu. dibaliknya tertulis nama seseorang dengan hangul yang acak-acakan juga. Uh, ia buruk dalam menulis hangul ternyata.

‘With Kim Jonghyun’

Aku menaruh frame foto itu kembali ke tempatnya. Setelah sedikit meregangkan tubuh aku ikut berbaring di sebelah Neul Rin. Menatap wajahnya yang berjarak cukup dekat. Perlahan aku mengusap rambutnya lembut. Entah kenapa bibirku selalu tersenyum ketika melihatnya tidur. Aku yang membuatnya seperti ini. Bukan salah Neul Rin kalau selama ini membuat hubunganku dengan Hyunmi semakin renggang. This is my fault.

***

Eomma dan appa duduk dengan menyilangkan tangan di depan dada. Di sebelahku Neul Rin menundukkan kepalanya. Appa berdehem kecil membuat suasana hening sedikit mencair. Eomma menatapku dingin berharap mengatakan sesuatu.

“Kenapa kalian bercerai,” tanya eomma akhirnya.

“Karena pernikahan itu tidak seharusnya ada. Kita salah pasangan,”

“Kau bercanda ?” tanya appa. Neul Rin mengangkat kepalanya lalu menggeleng.

“Aku salah masuk hall. Alhasil aku malah menikah dengan Minho yang sama sekali belum kukenal. Aku menganggap kalau dia Jino, pacarku. Dan sekarang aku akan menikah dengan Jino,” jawab Neul Rin membuat appa dan eomma menaikkan sebelah alisnya heran.

“Now what ? Kenapa kalian tidak mengatakannya dari awal ?”

“Karena aku tahu eomma suka dengan Minho,” potong Neul Rin.

“Eomma lebih tidak suka kalian mengatakannya di akhir. Kau tahu ? Di akhir lebih menyakitkan daripada di awal,”

“Mianhae eomma. Aku yang salah, di awal pertemuan kita, aku malah mengaku suaminya Neul Rin. Tolong jangan benci Neul Rin,” belaku. Appa dan eomma saling melirik. Sedetik kemudian salah satu ponsel mereka berbunyi. Appa berdiri dan sedikit menjauh menerima telepon itu.

“Sekarang eomma tahu apa alasanku kan ?” tanya Neul Rin. Eomma menghela napas panjang. Baru saja eomma akan membuka mulut ketika appa kembali. Dengan sedikit khawatir ia membisikkan eomma.

“Ah tidak,” gumam eomma setelah dibisikkan appa, “Kami harus pergi, ada masalah di kantor. Kalian tunggu sampai eomma pulang, masih banyak hal yang harus dibicarakan,” tambahnya.

Mereka berdua beranjak dengan sedikit berlari memasuki kamar. Sedetik kemudian mereka keluar dengan baju yang rapi dan berlari keluar dari rumah. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah kami yang masih duduk di ruang tamu.

“See ? Mereka lebih mementingkan pekerjaan daripada anaknya sendiri,” ujar Neul Rin. Matanya mulai berkaca-kaca menatap minuman di meja.

“Aah, don’t cry. Mungkin ada masalah besar di kantor. Kau tahu ? Mereka melakukan semua itu untukmu. Kau bisa sebesar ini, bisa bolak-balik korea-perancis. Itu semua karena kerja keras mereka,” sahutku. Neul Rin terkekeh kecil kemudian memukul lenganku.

“Omonganmu terlalu tua Choi Minho,” ujarnya. Aku ikut terkekeh lalu mengacak rambutnya.

“Lebih bagus seperti itu kan ? Tersenyum,” tambahku sambil tersenyum lebar. Ia terkekeh lagi.

“Ah iya. Tadi malam aku lihat foto di kamar, dibelakangnya tertulis nama Kim Jonghyun. Siapa dia ?” tanyaku membuat kekehannya berhenti.

“Jonghyun oppa ? Dia temanku. Dulu tinggal disini, tapi saat umur 10 tahun dia pindah ke LA karena tugas appanya. Entahlah, kami sudah lost contact,” jawab Neul Rin, bangkit dari sofa.

“Mau kemana ?” tanyaku yang melihatnya masuk ke dapur.

“Kau tidak lapar ? Ini sudah jam 12 siang,” jawabnya. Aku melirik ke arah jam dinding di dekat pintu masuk. Waktunya makan siang.

“Kau mau masak apa ?” tanyaku, menghampirinya di dapur. Ia mengeluarkan dada ayam fillet, dan beberapa bumbu yang entah apa namanya. Yang jelas ia bukan memasak makanan khas korea.

Escalope de Poulet,” jawabnya kemudian. Aku mengernyit mendengar nama aneh itu. Semoga perutku bisa beradaptasi dengan makanannya.

– — – –

Author POV

Hyunmi duduk di atas tempat tidur miliknya dengan gelisah. Sudah seharian ini ia mencoba menghubungi ponsel kekasihnya, tapi tidak bisa. Air matanya sudah meleleh, mengingat sikapnya kemarin. Ia dengan gegabah mengatakan kalau hubungannya dengan Minho berakhir. Ia berpikir lagi, untuk apa selama 3 tahun ini menjaga hubungan jarak jauh kalau ujungnya berakhir seperti ini.

“Ponsel yang ada hubungi berada diluar jangkauan. Silahkan –,”

Hyunmi membanting ponselnya ke tempat tidur. Laki-laki yang dicarinya bahkan tidak memberi kabar sama sekali. Menanyakan keputusan gadis itu. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Atau mungkin laki-laki itu benar-benar menjalin hubungan dengan gadis lain. Neul Rin misalnya.

“Hyunmi ! Ayo makan,” teriak seseorang dari luar kamarnya. Dengan malas ia bangkit, menyeka kedua matanya cepat dan berjalan keluar dari kamar. Ketika menuruni tangga, semua pasang mata memandang ke arahnya. Semua orang menatap keadaan Hyunmi yang terlihat berantakan. Rambut acak-acakan, mata yang sembap, ditambah kulitnya yang semakin kusam. Seorang Hyunmi yang suka kebersihan, terlihat aneh dengan keadaan berantakan seperti itu.

“Uh, eonni. Jangan menatapku seperti itu,” seru Hyunmi sambil duduk di meja makan. Keluarga Kim tengah makan-makan besar merayakan ulang tahun Jinkyo.

“Kau terlihat berantakan Hyunmi,” sahut Jinki dan langsung mendapat tatapan horror dari Hyunmi. Semuanya beralih memandang makanan di meja makan dan memulai makan siang itu.

“Dimana Minho ? Dia tidak datang ?” tanya Ji Kyo, memulai pembicaraan. Hyunmi yang akan mengambil ikan panggang segera menghentikannya.

“Eonni, tolong jangan bahas dia sekarang,” jawab Hyunmi kemudian mulai menyumpit ikan panggang itu. Jinki tersenyum kecil.

“Kau sedang ada masalah dengannya ?” tanya Jinki. Hyunmi kembali menghentikan tangannya yang akan menyuapkan nasi.

“Jangan bahas dia oppa,” jawab gadis itu lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

Baru saja Hyunmi memakan beberapa suap nasi ketika ponselnya berdering. Ia menaruh mangkuk nasi yang dipegangnya ke meja kemudian berlari dengan cepat ke kamarnya. Tanpa melihat nama yang tertera ia mengangkatnya.

“Yoboseyeo,” jawab Hyunmi semangat.

“Ms. Kim. Dimana kau ? Aku sedang membutuhkanmu sekarang. Aku harus pergi ke Perancis nanti malam. Kau harus menyiapkan semua berkas-berkas penting,” balas laki-laki dengan suara melengkingnya di seberang sana. Hyunmi menjauhkan ponselnya dan melihat nama yang tertera.

“Uh. Aku tidak bisa masuk kerja hari ini. Siapkan saja sendiri. Dan satu hal, aku tidak mau berdebat denganmu sekarang,”

“Ya ! Aku ini bosmu, beraninya mengatakan itu huh ?”

“Emh ya. Bye Kim Jonghyun,” Hyunmi menutup telepon itu. Dalam keadaan seperti ini ia tidak akan masuk kantor untuk menemui bosnya. Bos baru lebih tepatnya. Ia tidak yakin dalam keadaan berantakan seperti itu datang ke kantor. Entah kenapa ia membenci laki-laki itu.

– — – –

Neul Rin POV

Minho memandang ragu Escalope de Poulet yang kubuat di meja makan. Ia mengambil dengan sumpitnya perlahan kemudian menyuapkan ke dalam mulut. Matanya terpejam sambil mengunyah dada ayam panggang itu seperti menahan rasa tidak enak.

“Ya ! Kau berlebihan, itu hanya dada ayam panggang,” seruku. Ia membuka matanya dan mengunyah dengan santai.

“Enak. Kau pintar masak masakan Perancis juga,” ujarnya kemudian menyumpit potongan daging lagi. Aku yang melihatnya makan dengan lahap, jadi tergoda untuk mencobanya.

Selama beberapa menit, kami berdua memakan dalam keadaan hening. Potongan daging terakhir, aku beradu tatap dengan Minho. Dengan cepat aku menyumpit potongan daging itu bersamaan dengannya. Kami beradu sumpit, memperebutkan daging itu. Aku mendongak, menatap Minho kemudian sedikit mengerlingkan mata. Sumpitnya terhenti, dan dengan segera aku mengambil potongan daging itu.

Minho masih saja memandangku ketika potongan daging ayam terakhir itu masuk ke mulutku. Ia sedikit tersentak kemudian menaruh sumpitnya di piring. Ia beranjak sambil membawa piringnya ke dapur. Aku membawa piringku yang kotor ke dapur juga. Menaruhnya di tempat cuci piring, bersamaan dengan Minho lagi. Ia menoleh, menatapku lekat.

“W-wae ?” tanyaku gugup. Minho menggelengkan kepalanya kemudian berbalik meninggalkanku naik ke lantai dua. Tch, ada apa dengan anak itu ?

“Ya ! Choi Minho !” panggilku sambil berlari menyusulnya. Ia tidak menggubris dan masuk ke dalam kamarku. Aku masuk dan menutup pintu kamar. Langkahku terhenti di depan meja belajar, kepalaku menoleh ke arah sebuah frame foto. Seorang anak kecil sedang tertawa lebar, di sebelahnya berdiri seorang laki-laki yang lebih tua 2 tahun sedang mendengus. Ya, aku masih ingat saat itu. Ketika aku mengerjainya.

Anak itu, bagaimana kabarnya sekarang. Apa dia masih di LA ? Karena perceraian kedua orangtuanya ia harus pergi kesana. Hhh, my first love. Cinta anak kecil, aku selalu tertawa sendiri membayangkan wajah Jonghyun yang selalu tersenyum nakal ke arahku dulu. Haish, kenapa aku malah membayangkannya.

“Ya ! Kenapa melamun disana ?” tanya Minho. Aku menoleh ke arah rak buku tempatnya berada. Ia memegang buku cerita anak kecil milikku sambil menaikkan sebelah alisnya heran.

“Ahni,” jawabku kemudian loncat ke atas tempat tidur. Di atap kamarku masih tertempel bintang-bintang yang bisa menyala dalam gelap. Entah masih bisa berfungsi atau tidak.

“Kau buruk dalam menulis hangul,” sahut Minho tiba-tiba. Aku menoleh cepat ke arahnya, ia menaruh buku yang tadi di pegangnya kemudian mengambil yang lainnya lagi.

“Yang ini lebih parah. Menulis sagwa saja kau salah, bagaimana kalau –,”

Ucapannya terhenti karena bantal yang kulempar tepat ke wajahnya. Ia memandangku tajam, dengan cepat aku menarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Aku mengintip dari balik selimut, tapi tidak menemukannya di depan rak buku. Aku duduk di atas tempat tidur, mengedarkan pandangan ke seluruh kamar.

“Boo !” Minho muncul di belakangku.

“Ya !” dengan refleks aku memukulinya dengan bantal. Ia menghindar sambil tertawa kecil. Tanganku berhenti ketika tangannya menyentuh pergelangan tanganku. Mata kami beradu pandang, semakin lama entah kenapa wajahnya semakin dekat. Aku memundurkan wajah menjauh darinya. Tapi ia menarik tanganku mendekat. Dia menciumku lagi.

***

Suara eomma membuatku membuka mata. Aku bangkit duduk di atas tempat tidur. Refleks memegangi kepalaku yang sedikit pusing. Aku menoleh ke arah Minho yang masih tertidur.

DEG

Apa yang kulakukan ? Oh Gosh, tidak mungkin. Tolong katakan ini semua hanya mimpi. Sudah cukup aku mengkhianati mereka kemarin. Kenapa hari ini harus terjadi lagi ? Kenapa aku bisa terbawa suasana lagi ?

“Rin-ah !!” teriak eomma. Aku segera tersentak dan berdiri di samping kasur. Memakai pakaianku yang tergeletak dengan asal. Aku membuka pintu kamar sedikit agar eomma tidak melihat Minho yang masih tidak memakai baju.

“Ada apa eomma ?” tanyaku, sedikit menyembulkan kepala.

“Ayo makan malam. Kita bahas masalah tadi siang,” jawab eomma lalu turun ke lantai bawah. Aku menutup pintu kamar dan berbalik. Damn, wajahku memanas. Uh, kenapa ia melakukannya lagi ?

Aku masuk ke dalam kamar mandi. Segera membersihkan badan. Pikiranku seperti merangkai puzzle-puzzle yang sudah hampir lengkap sekarang. Ia menyentuhku lagi. Hanya itu yang kupikirkan sekarang.

Aku menuruni tangga menghampiri appa, eomma, dan entah sejak kapan Minho sudah ada disitu. Aku duduk di sebelah Minho, berhadapan dengan appa dan eomma. Acara makan malam dimulai dengan hening. Tapi semuanya berubah ketika Minho mengambilkan lauk pauk padaku.

“Kalian sadar kalau kalian terlihat cocok ?” tanya appa. Sontak aku mendongak dari nasi yang sedang kumakan menatap appa.

“Ne ?” tanyaku heran.

“Kalian cocok,” tambah eomma. Aku dan Minho saling berpandangan sebentar kemudian memalingkan wajah.

“Jadi jelaskan, kenapa kejadian salah pasangan itu bisa terjadi,” sambung eomma. Aku menaruh sumpit ke piring, menarik napas panjang dan mulai bercerita.

Mulai dari awal pertemuanku dengan Minho di butik, berebut gaun. Hyunmi yang pulang dari luar negeri, tapi telat karena pesawatnya delay. Aku yang flu ketika hari pernikahan. Dan pernikahan yang salah itu, ketika jeong min eonni salah mengantarku masuk hall.

“Puas ?” tanyaku akhirnya. Appa dan eomma terdiam kemudian mengangguk. Kegiatan makan malam pun berlanjut dengan hening lagi.

Setelah makan, kami semua duduk di ruang TV. Duduk-duduk santai sambil menonton acara yang di TV. Minho melihat-lihat buku di pojok ruangan, sedangkan aku membaca majalah yang baru di beli eomma. Entah kenapa, Minho selalu melihat layar ponselnya. Ia sengaja pura-pura sibuk di rak buku, padahal aku tahu ia sedang bingung.

“Appa, eomma,” ujar Minho tiba-tiba kemudian duduk di sebelahku. Semua mata langsung beralih menatapnya, termasuk aku.

“Waeyo ?” tanya appa.

“Aku harus pulang ke Seoul besok. Ada urusan yang harus kuurus,” jawab Minho sontak membuatku menutup majalah.

“Pulang ? Tapi aku masih mau disini,” potongku. Minho tersenyum sambil mengacak rambutku lembut.

“Gwenchana, kau bisa pulang kapan saja,” ujarnya. Aku mencoba tersenyum membalas ucapannya.

“Kau tak apa pulang sendirian ? Atau harus kupaksa Neul Rin untuk pulang juga ?” tanya eomma. Minho menggeleng cepat.

“Tidak perlu. Tapi kau mau mengantarku ke bandara kan ?” tanyanya kemudian.

“Ne, aku akan mengantarmu,”

***

10.00 am @ Charles de Gaulle airport

Minho meletakkan kopernya sebelum masuk ke ruang keberangkatan. Dia berbalik dan meraih kedua tanganku lembut. Matanya menatap kedua mataku lekat. Wajahnya terlihat sedikit khawatir.

“Aku takut ini pertemuan terakhir kira,” ujarnya. Aku menepuk puncak kepalanya pelan.

“Ya ! Kalau ini pertemuan terakhir kita, aku akan marah padamu. Seenaknya melupakan semua yang kaulakukan padaku huh ?” ancamku. Minho menyingkirkan tanganku dari puncak kepalanya kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

“Kalau terjadi apa-apa padamu, telepon aku. Aku akan bertanggung jawab,” Minho mengelus kepalaku lembut. Ia melepas pelukannya lalu memegang kedua pundakku.

“Sudah, aku pergi dulu,” ujarnya. Ia berbalik dan membawa kopernya masuk ke dalam ruang keberangkatan. Meninggalkanku yang masih berdiri memandanginya. Aku tidak tahu akan kembali ke Korea lagi atau tidak. Aku terlalu takut untuk bertemu Jino. Aku tidak pantas lagi ada di sisinya.

Aku berbalik, berjalan keluar dari Roissy airport. Entah kenapa hatiku seperti terbawa oleh Minho, aku tidak ada semangat lagi tinggal disini.

BUGH

Seseorang menyenggolku sampai tubuhku sedikit terdorong ke depan. Aku yang sedang melamun segera tersadar dan memandang orang itu yang tengah menelepon seseorang. Ia memakai topi fedora, dan syal yang menutupi sebagian wajahnya. Hanya terlihat matanya.

“Ya !” seruku. Orang itu berbalik dan menatapku dengan ponsel masih menempel di kupingnya. Aku terpaku melihatnya, aku kenal mata itu.

“Jonghyun oppa ?”

-to be continued-

 

Read, Leave comment, and thank you :)

One thought on “[FanFic] Wrong Marriage (6th Part)

  1. huaaah saya suka ffmu ini , cerita gak bsa ditebak hahaha berasa nnton drama . saya readers baru slm kenal author . uda baca yg ini aku comment jd 1 dsini aj yak😀 pngen neulrin am minho aja , hyunmi am njjong huahaha/plak cptn update thor pnasaran bgt am kelanjutannya😀
    author aku panggil siapa ni ? o.O

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s