[FanFic] Wrong Marriage (5th Part)

Title : Wrong Marriage

Author : Ima Tripleshawol

Cast       : Choi Minho, Kim Hyunmi, Kim Neul Rin

Other   : Cho Jino (S.M. The Ballad)

Rating : PG+15

Length : Series

Genre   : Comedy Romance

“Pacarnya ? Kau– ? Ya ! Adikku ini seorang ‘player’ huh ?” Minsuk memukuli Minho dengan tasnya.

“Tidak eonni ! Biar aku yang jelaskan !”

***

Suasana menjadi hening ketika semua hal yang terjadi sudah kujelaskan. Mulai dari pernikahan yang salah, Hyunmi, termasuk Jino. Hyunmi duduk di sebelah Minho di sofa bersama Minsuk. Sedangkan aku duduk di kursi meja makan yang kutarik ke dekat sofa. Sekarang Minsuk menatapku heran, aneh, kesal juga mungkin. Entahlah.

“Aku baru tahu bisa salah pernikahan seperti itu. Untung saja aku dan joong ki tidak salah pernikahan,” ujarnya memecah keheningan.

“Mianhae eonni, kau sudah menganggap aku istrinya Minho. Seharusnya Hyunmi yang menjadi adik ipar eonni, bukan aku,” balasku. Minsuk terkekeh pelan lalu mengacak rambutku kasar.

“Jujur, aku lebih suka Neul Rin daripada Hyunmi secara fisik. Tapi mau bagaimana lagi ? Aku harus bersiap menerima Hyunmi, bukan kau,” ucapan Minsuk membuat Hyunmi menundukkan kepalanya. Tapi Minho malah menggenggam tangannya lembut.

“Tapi hati tidak bisa di bohongi noona. Aku mencintai Hyunmi,” balas Minho. Minsuk tersenyum padaku. Seolah mengerti kalau hatiku tidak suka mendengarnya.

“Ne, aku mengerti. Sudah, aku pulang dulu. Sepertinya disini butuh ketenangan,” ujarnya, bangkit dari sofa. Aku mengantar Minsuk sampai ke depan apartemen Minho. Diikuti Minho dan Hyunmi.

“Ah iya Neul Rin. Lain kali aku boleh pergi denganmu kan ? Kita berjalan-jalan ?” tanyanya semangat. Aku mengangguk sekilas. Ia tersenyum lebar lalu melangkah meninggalkan apartemen Minho. Tubuhnya menghilang dibalik anak tangga yang semakin turun. Jujur, aku merasa tidak enak dengan Hyunmi.

Kami bertiga kembali masuk ke dalam apartemen. Hyunmi kembali ke dapur, sedangkan Minho menghalangi jalanku.

“Kenapa mengatakannya ?” tanya Minho.

“Kau mau ada salah paham lagi ? Sudah cukup appa dan eomma ku yang dibohongi,” jawabku lalu melengos meninggalkannya.

– — – –

Minho POV

Hyunmi meletakkan hasil masakannya di meja makan. Aku yang sedang menonton TV bersama Neul Rin langsung beranjak menghampiri meja makan. Hyunmi duduk di sebelahku, begitu juga Neul Rin. Aku merasa seperti punya dua istri ?

“Mm, besok Ji Kyo eonni mau kita pergi ke apartemennya. Mereka berdua harus ke Seoul beberapa hari untuk urusan kerja, jadi kita disuruh menjaga jinkyo dan ji sook,” seru Hyunmi sambil menaruh beberapa potong daging ke piringku.

“Jinjja ?” tanyaku memastikan, menyuapkan potongan daging itu.

“Ne, harus pagi-pagi,” tambahnya.

Kami bertiga makan malam dalam keadaan hening. Hyunmi sesekali melirik ke arah Neul Rin yang duduk di hadapannya. Kadang rasa kesal karena kejadian ulang tahunku kemarin kembali meluap. Tapi setelah melihat wajah Neul Rin, aku tidak bisa membuatnya kesal juga. Yang ada malah aku ingin membuatnya tersenyum. Mengerjainya, seperti tadi.

“Uhuk uhuk,” tiba-tiba suara batuk Neul Rin memecah keheningan diantara kami. Refleks kusodorkan gelas yang ada di dekatku ke arahnya. Dengan cepat ia meneguk air itu sampai habis. Ia menepuk-nepuk dadanya.

“Jangan menatapku seperti itu Choi Minho,” ujarnya sontak membuat Hyunmi menoleh ke arahku. Apa aku menatap Neul Rin ? Jinjjayo ?

“Mwoya ?” sergahku cepat. Tidak ada jawaban yang berarti dari Neul Rin. Ia hanya tersenyum kecil kemudan melanjutkan makannya.

***

Aku bersiap-siap untuk menjemput Hyunmi ke apartemennya. Seharusnya hari ini aku mengurus surat-surat perceraian dengan Neul Rin. Tapi Ji Kyo sudah meminta tolong, dan aku tidak bisa menolaknya. Karena itu, besok aku harus memulai mengurus perceraian kami.

Aku keluar dari kamar. Neul Rin masih tertidur pulas di sofa, dengan TV masih menyala dan remote di tangannya. Aku menghampiri Neul Rin, memungut selimut yang sudah tergeletak di lantai lalu menyelimutinya lagi. Setelah mengacak-acak rambutnya, aku segera keluar dari apartemen.

Hyunmi berdiri di depan gedung apartemennya sambil menggosok-gosokkan tangannya. Ia memakai jaket tebal, topi kupluk dan juga penutup kuping. Ia menghentikan kegiatannya ketika melihat mobilku berhenti di depannya. Dengan cepat ia masuk dan menghela napas lega.

“Kau tahu ? Subuh-subuh seperti ini udaranya sangat dingin,” keluhnya. Aku tersenyum kecil kemudian kembali menjalankan mobil. Ia mendekatkan tangannya ke penghangat. Sesekali ia menaruh kedua tangannya di pipi.

“Err, kau tidak mengurus perceraian itu ?” tanya Hyunmi.

“Seharusnya hari ini. Tapi kita harus membantu Ji Kyo dulu seharian, jadi mungkin besok,” jawabku setenang mungkin. Hyunmi mengangguk sambil membentuk huruf O di mulutnya.

1 jam yang cukup hening perjalanan menuju Incheon. Hyunmi tidak banyak bicara seperti biasanya. Ia hanya bernyanyi kecil mengikuti suara yang keluar dari radio di mobil. Menurutku sifatnya sedikit berubah akhir-akhir ini. Ia seperti menghindariku, mungkin.

“Kalian datang ?” tanya Jinki senang ketika kami sampai di apartemennya. Hyunmi dengan tergesa masuk ke dalam.

“Ne,” jawabku singkat lalu masuk mengikuti Hyunmi. Jinki dan Ji Kyo sudah siap dengan pakaian rapi.

“Kami berangkat dulu. Kalau ada hal-hal aneh menyangkut kedua anak kami, langsung telepon saja,” ujar Ji Kyo kemudian keluar dari apartemen bersama Jinki.

“Appa ! Eomma !” tepat setelah mereka berdua keluar, terdengar teriakan melengking dari sebuah kamar bertuliskan jinkyo di pintunya. Dengan sigap Hyunmi berlari memasuki kamar itu. Sesaat kemudian, ia keluar bersama anak kecil berambut pendek yang terlihat habis menangis. Aku berjongkok menyamai tinggi dengannya.

“Hello jinkyo,” sapaku. Ia menyeka kedua sudut matanya lalu memelukku.

“Oppa,” ujarnya manja. Aku melirik ke arah Hyunmi yang mengerucutkan bibirnya. Ia melipat tangannya di depan dada sambil menggelengkan kepalanya. Ayolah, jinkyo hanya anak kecil. Haruskah ia cemburu huh ?

Setelah aku pulang dari apartemen Ji Kyo. Minsuk noona mengajakku bertemu. Kami bertemu di restoran di daerah Dongdaemun. Saat aku masuk, ia langsung melambaikan tangannya dengan senyum yang lebar seperti biasanya.

“Waeyo noona ?” tanyaku sambil duduk di hadapannya.

“Ahni. Aku ingin bertemu adikku,” jawab Minsuk noona, menyeruput chocolate hangatnya.

“Uh ? Aku sengaja keluar malam-malam seperti ini hanya untuk bertemu kau. Kalau tidak ada yang penting aku pulang,” balasku, bangkit dari kursi. Minsuk noona langsung mencegah tanganku.

“Ini tentang pernikahanmu,” ucapnya sontak membuatku duduk lagi di hadapannya.

“Kenapa dengan pernikahanku ?”

***

Selama perjalanan pulang ke apartemen, omongan Minsuk noona masih terngiang-ngiang di pikiranku. Ia menasihatiku banyak hal. Termasuk menceritakan pernikahannya yang diatur oleh appa. Selama di Jepang, aku tidak pernah tahu ternyata ia dijodohkan. Appa menjodohkan Minsuk noona dengan anak rekan kerjanya, untuk menambah peluang bisnis. 5 tahun yang lalu saat ia pergi ke Jepang bersama appa, membuatnya harus berpisah dengan pacarnya. 3 tahun kemudian ia menikah dengan joong ki, saat umurnya 24 tahun. Perbedaan 2 tahun diantara kami yang membuatku merasa dekat dengannya.

‘Pilihlah yang terbaik, aku tidak mau kau bernasib sepertiku. Pilih wanita yang benar-benar kau cintai,’

Kata-kata itu yang masih melekat di kepalaku. Yang terbaik. Aku sendiri masih bingung siapa yang terbaik diantara Hyunmi dan Neul Rin. Aku menyukai keduanya, tapi lebih menyayangi Hyunmi karena dia yang selalu bersamaku.

“Sudah pulang ?” tanya Neul Rin ketika aku masuk ke dalam apartemen. Aku tersenyum sekilas padanya yang sedang mencuci piring kemudian melangkahkan kaki masuk ke kamar. Kepalaku berputar ke arah sofa. Seorang laki-laki tengah tertidur disana. Siapa lagi kalau bukan Jino.

“Dia belum pulang ?” tanyaku sambil memandangi Jino dari depan pintu kamar.

“Ne, nanti kalau sudah bangun aku suruh pulang,” balas Neul Rin sedikit berteriak. Aku melesat masuk ke dalam kamar masih tidak melepaskan pandangan dari Jino.

Aku bersandar di belakang pintu. Menghela napas panjang. Dadaku tiba-tiba terasa sesak, apa yang dilakukan Jino disini. Seharian bersama Neul Rin tanpa pengawasan. Bagaimana kalau mereka melakukan. . ah tidak tidak, kau berlebihan Minho.

“Eng ? Sudah malam ya ?” terdengar suara Jino dari balik pintu. Tak lama kemudian disusul suara Neul Rin yang menyambutnya.

“Ne, dan kau harus pulang,” balas Neul Rin.

“Aish, baik aku akan pulang,” setelah itu tidak ada suara lagi. Heran, yeah itu yang ada di pikiranku sekarang. Kenapa tidak ada suara lagi dari mereka. Aku membuka pintu kamar, dan langsung disambut pemandangan yang menyesakkan.

“Engh, Jino lepaskan,” kedua tubuh mereka menjauh. Begitu juga bibir mereka. Pandangan Neul Rin langsung terhenti padaku, sama dengan Jino. Jino tersenyum kecil, sedangkan Neul Rin menundukkan kepalanya.

“Ah, kau sudah pulang ?” tanyanya. Aku mengangguk sekilas masih tidak melepaskan tatapan pada Neul Rin. Tanganku terkepal keras, ingin rasanya memukul wajahnya.

“Maaf soal kejadian tadi. Anggap saja kau tidak melihatnya, atau kau mau –,”

BUGH

Tanganku yang terkepal mendarat dengan mulus di rahangnya. Aku memukulnya lagi sampai ia terjatuh ke lantai.

“Minho !!” teriak Neul Rin sambil menarikku menjauh. Ia mendorongku membuat tubuhku menabrak dinding. Aku terjatuh juga, dengan tangan memegang kepala belakang. Damn ! Kepalaku !

“Kau keterlaluan Choi Minho !” ujarnya sambil memeluk Jino.

“Itu pantas untuk laki-laki seperti dia !” balasku.

“APA URUSANMU ! Kau tidak suka melihatku berciuman dengannya ! Apa pedulimu huh ?!” tanya Neul Rin, diselingi isak tangis. Ia mengusap darah di sudut bibir Jino, lalu menatapku.

“Aku tidak pernah menampar Hyunmi, hanya karena melihatmu berdua dengannya kan ? Mulai sekarang urus hidup kita masing-masing !” tambahnya kemudian membantu Jino bangkit. Aku yang masih terduduk di dekat tembok segera bangkit menghampiri Neul Rin.

“Mau kemana kau ?” tanyaku, meraih tangannya. Ia menghentakkan tangannya.

“Pergi dari sini,” jawabnya lalu berlalu keluar apartemen. Aku menyusul Neul Rin, menghadang mereka untuk berjalan lebih jauh. Jino masih melingkarkan tangannya di pundak Neul Rin, membantunya berjalan.

“Pikyeo !” teriak Neul Rin sambil memukul lenganku keras. Aku menghiraukannya dan semakin mendekat, memperkecil jarak diantara kami. Dengan cepat aku merengkuh bibirnya, tidak peduli bagaimana ia memukul-mukul dadaku.

“Sh*t ! Get away from my lady,” Jino menarik tubuhku lalu melayangkan pukulannya. Ia memukulku bertubi-tubi, membuatnya melupakan rasa sakit di wajahnya. Aku melirik Neul Rin yang terlihat masih shock karena kejadian tadi.

“And this,” pukulan itu berakhir dengan tendangan di bagian perut. Membuat darah keluar dari mulutku. Neul Rin menutup mulutnya, tapi kemudian berlalu karena ditarik Jino. Matanya mengekor ke arahku yang masih tergeletak dengan darah berceceran di lantai. Mataku berkunang-kunang, dan saat itu juga mataku terpejam. Aku kira kau yang terbaik Neul Rin, tapi hari ini membuktikan semuanya. Kalau kau bukan yang terbaik.

– — – –

Neul Rin POV

Two Months Later

“Rin-ah !” seru Jino senang. Aku melambai padanya yang tengah berlari ke arahku. Ia mengecup pipiku sekilas kemudian merangkul pundakku lembut.

“Kemana kita hari ini ?” tanyanya. Kami mulai melangkah meninggalkan gedung apartemenku yang baru.

“Eng ? Ice cream ?” jawabku meminta persetujuan darinya.

“Sure,”

Kami duduk di bawah payung besar di pinggir jalan sambil memakan satu cup ice cream yang kami beli di kedai pinggir jalan. Ia menyuapkan satu sendok ice cream rasa cokelat ke dalam multuku. Angin berhembus menemani sore hari di musim dingin hari ini. Jino tertawa lalu mengusap sudut bibirku lembut. Membuat wajahku memanas seketika.

Disaat yang sama mataku menangkap sosok seorang wanita yang sangat kukenal. Wanita yang membantuku bercerai dengan Minho di persidangan satu bulan lalu. Refleks aku menjatuhkan sendok yang masih menempel di mulutku. Ia terlihat berjalan dengan seorang namja yang tidak kukenal. Suaminya mungkin.

“Eonni !” teriakku sambil melambaikan tangan ke arahnya. Ia balas melambaikan tangannya, dan dengan cepat sudah berdiri di samping mejaku. Ia melepas kacamata hitamnya kemudian memelukku erat. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.

“Kau pergi dengan siapa ?” tanyaku ketika melihat laki-laki yang bersamanya berdiri di belakang kursi Jino.

“Dengan suamiku. Kau sendiri ?” tanya Minsuk, melepas pelukannya. Aku menoleh ke arah Jino.

“Ah iya. Eonni ini Jino, Jino ini Minsuk eonni,” jawabku memperkenalkan mereka.

Senyum Minsuk lenyap ketika melihat Jino. Mereka bertatapan, begitu juga Jino yang balas menatap Minsuk dengan lembut. Tunggu, ada apa ini ?

“J-Jino ?” tanya Minsuk terbata. Jino berdiri dari kursinya, menyetarakan tinggi dengan Minsuk.

“Ayo kita pergi Neul Rin,” ajak Jino tiba-tiba sambil menarik tanganku dari sana. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Minsuk yang masih menatap tempat Jino duduk tadi. Aku melirik ke arah Jino, ia menatap jalanan dengan ekspresi kesal.

“Kenapa ? Kau mengenal Minsuk eonni ?” tanyaku, masih terus ditarik olehnya. Jino menggeleng dengan cepat kemudian menyuruhku masuk ke dalam mobil. Ia memutar dengan cepat ke depan kemudi.

Tanpa menoleh ke arahku ia membawa mobilnya meninggalkan tempat parkir di pinggir jalan. Jino meraih kacamata hitam di dashboard mobil lalu memakainya. Aku baru tahu ia suka pakai kacamata.

***

Soleim boutique.

Disinilah aku sekarang. Memilih-milih baju pengantin untuk pernikahanku ‘lagi’ bulan depan. Jino tidak bisa ikut karena sedang tidak enak badan. Aku baru sadar kalau butik ini adalah butik yang sama saat aku pertama kali bertemu Minho. Bagaimana kabar orang itu sekarang. Sudah satu bulan ini, sejak perceraian itu, aku tidak pernah bertemu dengannya. Jujur, aku merindukannya. Aku ingin melihat mata besarnya, senyumnya, ekspresi ketika ia kalah bertanding. Tapi sejak perkelahiannya dengan Jino dua bulan yang lalu, aku tidak bisa memaafkannya begitu saja. Ia sudah keterlaluan.

“Agasshi !” teriakku memanggil pelayan butik itu. Tunggu ! Kenapa bersamaan dengan namja lagi ?! Aku menoleh ke depan, dan melihat Minho juga tengah memegang gaun yang kupegang di manekin. What the ?!

“Ups, sorry. Kali ini aku yang akan mengalah,” sahutku sambil mengangkat tangan dari gaun itu. Aku beranjak akan keluar dari butik itu, tapi seseorang mencegah tanganku, membuatku berbalik menghadapnya. Aku terhenyak sebentar, menatap Minho.

“Ada apa ?” tanyaku dingin. Minho menarikku ke dalam pelukannya. Sangat erat sampai aku susah bernapas.

“YA ! Lepaskan aku,” dengan kuat aku mendorong tubuhnya yang besar. Setelah terlepas, aku kembali menatapnya.

“Jangan sembarangan peluk karena aku bukan istrimu lagi,” tambahku.

Kami duduk di sofa di dalam butik itu. Entah perasaan apa yang membuatku mengikuti ajakan Minho. Bibir kami saling terkunci rapat. Tidak ada yang membuka pembicaraan.

“Kau tahu ? kadang aku merindukan teriakanmu,” ujar Minho, membuka pembicaraan. Aku tersenyum kecil sambil menundukkan kepala.

“Kadang aku juga merindukan tidur di sofa,” balasku dengan sedikit terkekeh kecil.

“Mmm, kapan kau menikah dengan Jino ?” tanyanya. Aku memberhentikan kekehan kecil itu kemudian menoleh ke arah Minho.

“Bulan depan. Kau sendiri ?” tanyaku lagi

“Ne, aku juga bulan depan,” jawab Minho. Aku tersenyum bersamaan dengan Minho karena tersadar sesuatu.

“Coex ?” ucap kami bersamaan. Tawa meledak diantara kami. Hari yang sama, dan gedung yang sama. Memang terdapat beberapa hall di dalamnya, jangan sampai salah hall lagi seperti dulu.

“Kenapa kita selalu sama ya ?” tanya Minho setelah tawanya berhenti. Aku mengendikkan bahu heran. Selalu kebetulan juga tentunya.

“Aku juga heran,” jawabku singkat. Obrolan kami berhenti begitu saja ketika melihat Hyunmi turun dari taxi dan memasuki butik. Senyumnya mengembang ketika melihatku.

“Annyeong Neul Rin-ah. Jal jinaesseoyo ?” tanyanya sedikit membungkukkan badan.

“Jal jayo, kamsahamnida. Sepertinya aku harus pergi,” aku menatap Hyunmi dan Minho bergantian, “Annyeong,” tambahku kemudian berlalu dari hadapan mereka.

Dengan langkah ringan aku melewati setiap deretan toko pernak-pernik di Apgujeong-dong. Toko cincin, butik, salon, café, semuanya ada disini. Minho, entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Perasaan itu sudah hilang, tapi sekarang muncul lagi karena melihatnya. Aku menatap cincin kayu pemberian Minho yang kujadikan kalung. Mungkin ia sudah melupakan cincin ini.

Langkahku terhenti di seberang jalan dari café Gallery. Aku memicingkan mata mencoba memperjelas wajah orang itu dari balik kaca. Jino ? Bukannya ia sedang sakit di apartemennya ? Dan dia, bersama Minsuk ?

Sesuatu yang aneh langsung menyerang hatiku saat itu. Sesak. Jino memegang tangan Minsuk dengan lembut, dan tatapannya. Ah ! Kenapa tatapan lembutnya ia berikan pada orang lain. Oke Neul Rin kau berlebihan, lebih baik kau menghampiri mereka dan menanyakan kejadian sebenarnya.

Aku menyebrangi jalan menuju café itu. Aku sudah tidak mempedulikan suara riuh orang-orang, yang terpenting adalah menghampiri mereka berdua. Menanyakan keadaan sebenarnya, dan membawa Jino pergi dari sana.

“Ya ! Neul Rin !” aku menoleh ke belakang ketika seseorang memanggilku. Aku tersenyum pada Minho, tapi senyuman itu lenyap saat melihat mobil melaju dengan kencang ke arahku. Kakiku terhenti, tidak bisa melangkah lagi.

Seseorang memeluk dan mendorong tubuhku ke depan. Kami terjatuh di aspal karena dorongan dari orang itu. Aku membuka mata, menatap mata Minho yang tepat berada di atasku sekarang. Dengan cepat kudorong tubuhnya menjauh. Kami duduk di aspal, membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel.

“Kenapa kau tidak mendengarku huh ?” protes Minho.

“Aku tidak tahu. Kakiku melangkah begitu saja, ingin cepat sampai di café Gallery. Kenapa kau bisa ada disini ?” tanyaku heran. Ia membantuku berdiri kemudian menyodorkan tas slempang kecil berwarna hitam ke arahku.

“Tasmu tertinggal di butik. Aku disuruh Hyunmi mengantar ini, karena takut kau tidak bisa pulang,” jawabnya. Aku merebut tas itu.

“Kamsahamnida Minho-ya,” aku membungkukkan badan padanya dan berbalik menghadap café Gallery yang hanya tinggal sedikit lagi.

DEG

Jantungku seperti berhenti melihat kedua orang itu. Haruskah aku jelaskan ? Mereka tengah berpelukan di samping meja yang tadi mereka duduki. Lututku terasa lemas dan akhirnya terduduk di pinggir jalan itu. Tidak peduli orang-orang yang lewat memperhatikanku.

“Minsuk noona ?” tanya Minho heran di belakangku. Aku masih menatap kedua orang itu. Pengkhianat. Hanya itu yang bisa aku katakan sekarang ini. Mereka sama-sama mengkhianatiku.

“N-Neul Rin, Neo Gwenchana ?” tanya Minho khawatir sambil menyentuh pundakku. Refleks kutepis tangannya.

“Aku butuh waktu sendiri,” jawabku sambil sedikit tersenyum pahit. Aku bangkit beranjak dari depan café itu. Memberhentikan taksi yang lewat. Tanpa menoleh lagi, aku menaiki taksi itu dan segera pergi dari sana. Jangan menangis, jangan menangis Neul Rin.

Kata-kata penyemangat itu sudah tidak berlaku. Di dalam taksi, air mataku sudah tidak terbendung lagi. Yang hanya bisa kulakukan sekarang hanya menangis. Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini.

“Kau mau kemana agasshi ?” tanya supir taksi itu. Aku mendongak, menatapnya dari kaca spion.

“Kemanapun yang bisa membuat hatiku tenang,”

Supir taksi itu sedikit heran tapi kemudian mengangguk. Aku menatap keluar jendela. Memandangi deretan gedung yang dilewati dengan cepat. Cinta. Tch, kata-kata paling bullsh*t yang pernah kudengar. Baru tadi pagi aku mendengar kata-kata itu dari mulut besar seorang Cho Jino.

– — – –

Author POV

“Kau yakin aku tidak perlu datang ke apartemenmu ?” tanya seorang gadis dengan nada khawatir di seberang telepon.

“Tidak Neul Rin-ah, aku masih bisa bangun dari tempat tidur,” jawab Jino. Gadis yang di panggil Neul Rin itu terkekeh kecil.

“Baiklah. Aku akan pilih gaun dan juga tuxedo yang terbaik. Annyeong,”

“Chamkanman !” sergah Jino cepat.

“Wae ?”

“Saranghae,” ucap Jino lembut.

“Kau sudah mengatakan itu berkali-kali. Geundae, nado saranghae,” balas Neul Rin lalu menutup teleponnya.

Laki-laki yang tengah duduk bersandar di jendela apartemennya itu menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Neul Rin, gadis itu sudah membuatnya hampir gila. Sejak kejadian Minho memukul dirinya 2 bulan yang lalu, Neul Rin menjadi lebih perhatian. Tidak pernah lagi datang ke apartemen Minho kecuali mengambil baju-bajunya. Jino sangat bersyukur akan hal itu. Dan sekarang gadis itu akan menjadi milik Jino seutuhnya.

Minsuk.

Tiba-tiba nama itu terlintas di benak Jino. Wanita yang pernah singgah di hatinya beberapa tahun yang lalu. Jino mencintai gadis itu, begitu juga sebaliknya. Dan sekarang, setelah 5 tahun menghilang ia kembali datang ke kehidupan Jino. Dengan status sebagai istri orang lain. Perasaan Jino terusik, ia mencoba melupakan wajah gadis itu tapi tidak bisa. Apalagi setelah kemarin ia bertemu dengannya.

“Kenapa kau datang lagi noona ?” gumam Jino pelan. Ia berpikir sejenak, antara mencari gadis itu atau tidak. Ia meraih jaket dan kunci mobil lalu bergegas keluar apartemen.

Matanya melirik ke kanan kiri di daerah Apgujeong-dong. Tempat Jino bertemu dengan Minsuk 2 hari yang lalu ketika di perkenalkan oleh Neul Rin. Matanya terhenti di sebuah cafe. Ia segera memberhentikan mobilnya dan turun memasuki café itu.

“Ahjumma, roti coklatnya satu dan –,” ucapan Minsuk yang sedang memesan terhenti karena seseorang menarik tangannya. Minsuk menatap laki-laki yang menarik tangannya heran sekaligus kaget. Bagaimana bisa ?

“Jino ? Ada apa ?” tanya Minsuk mencoba tenang.

Kedua orang itu duduk di pojok café. Terdiam satu sama lain, karena sibuk memikirkan apa yang harus dibicarakan. Jino memandang keluar café sedangkan Minsuk menunduk.

“Kenapa kau pergi waktu itu ?” tanya Jino memulai pembicaraan. Minsuk mendongak, menatap Jino yang sekarang tengah menatapnya juga.

“Aku harus pergi ke Jepang. Ikut appa,” jawabnya.

“Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa ? Putus atau semacamnya ? Agar aku tidak menunggumu,” balas Jino berhasil membuat Minsuk terdiam.

“Kau masih menungguku ?” Jino meraih kedua tangan Minsuk kemudian menatap kedua matanya lembut.

“Selama 2 tahun menunggu. Aku sudah putus asa mencari jejakmu yang bahkan tidak ada sama sekali. Sekarang, setelah berhasil bertemu dengan noona, kau sudah menikah dan aku yang akan segera menikah,” ucap Jino. Minsuk mencoba menghindari tatapan laki-laki di depannya. Ya, ia memang salah pergi begitu saja ke Jepang. Minsuk kira ia tidak akan lama tinggal di Jepang, ternyata ayahnya mempunyai rencana dibalik itu semua. Ia harus menerima, di jodohkan dengan seorang laki-laki.

“Aku tidak pernah menginginkan pernikahan itu Jino-ya. Appa yang mengatur pernikahanku, ia menjodohkanku,” jawab Minsuk masih tetap menunduk. Jino mempererat genggaman tangannya.

“Sekarang apa yang harus aku lakukan ? Jujur, aku masih mencintai noona. Tapi Neul Rin, aku mencintainya juga,”

“Tidak ! Jangan putus dengan Neul Rin, dia termasuk orang penting dalam hidupku. Kita hidup masing-masing, kau dengan Neul Rin, dan aku dengan suamiku,” sergah Minsuk. Jino bangkit dari kursi, menarik tangan Minsuk bangun dari kursi juga. Dengan cepat ia menarik Minsuk ke dalam pelukannya.

“Perasaanku lebih lega sekarang. Aku tidak perlu menunggu noona lagi, anggap ini pelukan perpisahan,” ujar Jino. Minsuk tersenyum kecil dan membalas pelukan Jino. Perasaannya terhanyut, perbedaan 2 tahun tidak terlihat diantara mereka.

“Minsuk noona !!” teriakan seseorang membuat pelukan itu terlepas. Minsuk menelengkan kepalanya ke samping untuk melihat suara yang memanggilnya.

“Minho, ada apa ?” tanya Minsuk sambil berjalan menghampiri adiknya. Minho tidak menggubris, ia menatap Jino dengan tajam sambil menggertakan gigi, sedetik kemudian sebuah pukulan berhasil membuat Jino tersungkur. Minho duduk di atas Jino dan meraih kerah bajunya kasar. Ia memukul Jino lagi dengan keras, membuat sudut bibirnya berdarah. Orang-orang yang ada di café Gallery pun memperhatikan perkelahian dua laki-laki itu.

“Minho ! Berhenti !” Minsuk menarik pundak Minho. Jino yang sudah sedikit tidak sadarkan diri mencoba bangkit.

“Sh*t !! Lepas !” seru Minho. Ia melepaskan tangan Minsuk dari pundaknya dan kembali memukul Jino.

“Aku akan jelaskan semuanya !!”

Tangan Minho terhenti karena teriakan kakaknya. Ia bangkit dari atas tubuh Jino, berdiri menghadap Minsuk.

“Ada hubungan apa kau dengan laki-laki itu huh ?” kata-kata yang meluncur dari mulut Minho termasuk kasar untuk bicara dengan orang yang lebih tua. Tapi ia tidak mempedulikan itu kalau memikirkan bagaimana shocknya Neul Rin tadi.

“He’s my ex-boyfriend,” jawab Minsuk sedikit keras.

“Haruskah kalian berpelukan semesra itu ?” tanya Minho mendesak.

“itu hanya pelukan perpisahan,”

“Yeah, bagaimana kalau Neul Rin melihat itu semua ? Ia tidak akan menganggap itu pelukan perpisahan,” mata Minsuk membulat mendengar ucapan Minho.

“Neul Rin ? Melihat ini semua ?” tanyanya tidak percaya. Minho mendecakkan lidah, kemudian berbalik menghadap Jino yang masih terduduk di lantai.

“Kau,” ujarnya sambil menunjuk wajah Jino, “Berdoalah semoga Neul Rin tidak berbuat macam-macam,”

Minho beranjak dari café itu. Meninggalkan Minsuk dan Jino yang masih menganga tidak percaya. Ia kembali ke Soleim butik, tempat Hyunmi menunggunya. Hyunmi yang sedang memilih-milih gaun, mendongak menatap pintu butik yang baru dimasuki Minho.

“Kenapa lama chagiya ?” tanya Hyunmi. Minho duduk di sofa sambil memijat kepalanya sedikit.

“Kita pulang sekarang. Aku tidak enak badan,” jawab Minho. Hyunmi menaruh kembali gaun yang sedang di pegangnya, menghampiri Minho.

“Kau pucat. Kita pulang saja,”

– — – –

Minho POV

8.00 pm

Ponsel Neul Rin belum bisa dihubungi. Aku menatap ke keluar jendela apartemen. Mencoba memikirkan cara bagaimana mencari Neul Rin. Ia tidak pernah mengatakan tempat favoritnya padaku. Tidak mungkin ia pergi ke apartemen Jino sekarang. Aku takut ia berbuat macam-macam diluar sana.

Baru saja berita di TV memberitakan badai yang akan terjadi malam ini. Segera kututup gorden menutupi jendela, dan merebahkan diri di sofa. Sambil menonton berita yang ribut membahas badai salju. Tak lama kemudian ponselku berbunyi. Tertera nama wanita yang sedang kucari. Kim Neul Rin.

“Ya ! Kau ada dimana ?” tanyaku cepat setelah mengangkat teleponnya.

‘Kau bisa jemput aku Minho-ya ?’ tanyanya sedikit menggigil.

“Dimana ?” tanyaku sedikit berteriak karena suara riuh di sekitar Neul Rin.

‘Di bawah Han river,’

Tanpa berlama-lama aku menutup telepon darinya. Segera kuraih kunci mobil dan dua jaket tebal di lemari. Dengan cepat aku menjalankan mobil ke daerah Han river.

Aku membawa turun jaket, dan juga payung yang ada di mobil. Salju turun semakin deras pertanda badai akan segera datang. Dengan sedikit berlari aku menuruni tangga ke bawah jembatan. Langkahku terhenti di anak tangga paling bawah. Memandang Neul Rin yang tengah menekuk lututnya. Rambutnya basah, bibirnya sedikit berwarna ungu dan kulitnya memucat. Aku berlari menghampirinya, langsung menyelimutinya dengan jaket tebal yang kubawa.

“M-Minho-ya ?” tanyanya sedikit terbata.

“Keaadanmu sudah parah Neul Rin. Kau hampir hypothermia,” jawabku sambil membantunya berdiri. Ia hanya memakai blazer tipis dan legging panjang yang sudah basah juga.

“Bawa aku ke apartemenmu,” pintanya dengan bibir yang bergetar. Aku mengangguk masih tetap memegang kedua pundaknya. Dengan langkah pelan kami menaiki setiap anak tangga kembali ke mobilku.

***

Ia menempelkan gelas berisi coklat hangat itu ke pipinya. Jaket dan selimut tebal membungkus seluruh tubuh Neul Rin untuk mengembalikan suhu tubuhnya. Aku duduk di samping Neul Rin dan menempelkan handuk hangat ke lehernya.

“Kemana kau seharian ini ?” tanyaku. Ia menaruh gelas itu ke meja lalu menyembunyikan tangannya di balik selimut.

“Entahlah, yang aku ingat hanya di bawah Han river tadi,” jawabnya. Neul Rin menurunkan kakinya ke lantai, mencoba bangkit dari sofa. Tapi dengan segera kucegah tangannya.

“Ya. Bajumu belum kering, kau masih tidak pakai baju,” sergahku. Ia kembali menaikkan kakinya ke sofa.

“Ne, aku lupa,” balasnya. Neul Rin menyeruput coklat hangatnya sedikit kemudian menoleh ke arahku, “Pinjam bajumu dulu,” ujarnya.

“Eh ?”

“Bajumu. Yang mana saja, ayolah aku kedinginan,” pinta Neul Rin sedikit merengek.

Aku beranjak masuk ke dalam kamar. Mencari baju yang sekiranya bisa dipakai Neul Rin. Mataku terhenti di  bagian tempat menggantung baju. Sebuah gaun berwarna putih tergantung rapi dengan plastic bening yang menutupinya.  Aku meraih gaun itu, mengeluarkannya dan memandangnya dari atas sampai bawah. Gaun pernikahan Neul Rin ?

Ia tercengang ketika melihatku malah membawa gaun pernikahannya. Tangannya yang sedang memegang gelas segera menaruh gelas itu di meja. Menatapku dan gaun yang kupegang bergantian.

“Gaun itu ?” tanyanya heran. Neul Rin bangkit dari duduknya. Selimut yang di pakainya terjatuh di lantai. Ia hanya memakai jaket tertutup yang menutupi sampai sebagian paha.

“Kau mau pakai gaun ini lagi ? Hanya malam ini, untukku ?” tanyaku memastikan. Neul Rin mengangguk semangat dan segera merebut tube dress itu dari tanganku.

Sesaat kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan gaun pernikahannya. Berjalan dengan pura-pura anggun seolah sedang di dalam pernikahan. Aku yang hanya memakai kaus santai mengulurkan tangan menyambut kedatangannya. Ia terkekeh kecil kemudian menyambut uluran tanganku.

Aku memutar lagu milik Beethoven dari tape. Neul Rin melingkarkan tangannya ke leherku, sementara tanganku melingkar di pinggangnya. Langkah demi langkah bergerak mengikuti irama lagu. Selama 15 menit, lagu milik Beethoven lengkap yang ada di CD menemani setiap gerakan yang tercipta di antara kami. Neul Rin selalu tersenyum, membuatku sedikit lega karena ia sudah bisa melupakan Jino.

Lagu berhenti dan langkah kami terhenti. Neul Rin tersenyum sekilas kemudian kembali duduk di sofa. Aku ikut duduk di sebelahnya, menghilangkan peluh karena berdansa. Ia meminum coklat hangat miliknya dan menyelimuti tubuhnya lagi dengan selimut.

“Hhh, tubuhku sedikit hangat karena berdansa,” sahutnya sambil menghela napas panjang.

“Hari ini kau tidur di kamar saja. Aku tidur di sofa,” balasku. Ia menolehkan kepalanya cepat.

“Di kamar ? Ahni, aku di sofa saja,” jawabnya tak mau kalah.

“Kalau di kamar berdua ?”

PLETAK

Tangannya dengan mulus mendarat di puncak kepalaku. Bibirnya mengerucut dan bola mata hitamnya menatap kedua mataku. Aku menggenggam tangan Neul Rin lembut. Membuat wajahnya sedikit bersemu merah. Mata kami saling bertukar pandang sampai sedetik kemudian tidak ada jarak lagi. Wajahku semakin mendekat dan bibirku menyentuh bibirnya yang tipis itu. Aku memegang tengkuk Neul Rin dengan tanganku yang besar, mendorong kepalanya untuk memperdalam ciuman itu.

– — – –

Author POV

Sinar matahari menerobos masuk menerangi sebuah kamar yang bercat dinding putih. Menyinari dua orang, laki-laki dan perempuan yang masih tertidur dengan pulas di atas tempat tidur. Sebuah gaun putih, kaus santai berwarna abu-abu, dan celana panjang training tergeletak tidak beraturan di kamar itu. Seolah ikut terkena badai salju yang semalaman melanda kota Seoul malam itu.

Sang gadis membuka matanya perlahan. Memicingkan mata menghindari sinar matahari yang cukup menyakitkan mata pagi itu. Gadis itu beranjak duduk di atas tempat tidur. Sedikit memijat keningnya yang pusing karena kehujanan salju kemarin. Ia menoleh ke samping, matanya membelalak melihat seorang laki-laki tanpa baju yang masih tertidur dengan wajah polosnya. Gadis itu menghela napas lega karena memang sering melihatnya tidak pakai baju di pagi hari.

Tunggu ! Gadis itu menyadari sesuatu. Ini musim salju, dan laki-laki itu seharusnya memakai baju agar tidak kedinginan. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tidur, menatap baju-baju yang tergeletak. Ia memandang jam yang ada di samping tempat tidur.

8.00 am

Gadis itu melirik ke dalam selimut. Tanpa baju ? Gotcha ! Refleks ia kembali menatap laki-laki di sebelahnya. Pikirannya memutar kembali kejadian ‘mengejutkan’ tadi malam. Ketika ciuman itu berubah menjadi kejadian yang tidak terduga. Ketika laki-laki itu menyentuhnya. Wajah gadis itu memucat, tangannya mengeluarkan keringat dingin.

“Eng,” laki-laki itu membuka matanya perlahan dan langsung menatap gadisnya yang sedikit terhalang sinar matahari.

“Kau sudah bangun ?” tanya laki-laki itu.

Gadis yang baru saja ditanya terdiam. Masih mencerna kejadian yang menimpanya tadi malam. Tangan gadis itu menarik selimut menutupi tubuh atasnya.

“Apa yang kita lakukan ?” tanya gadis itu bingung. Laki-laki bertubuh tinggi itu ikut duduk di tempat tidur. Menatap gadis di hadapannya heran.

“Tidak. Tidak seharusnya kita melakukan ini semua,”

-to be continued-

masih pada bingung akhirnya sama siapa ?

saya juga /PLAK

Comment please :D

One thought on “[FanFic] Wrong Marriage (5th Part)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s