[FanFic] Wrong Marriage (4th Part)

Title : Wrong Marriage

Author : Ima Tripleshawol

Cast       : Choi Minho, Choi Hyunmi, Kim Neul Rin

Other   : Cho Jino (S.M. The Ballad)

Rating : PG+15

Length : Series

Genre   : Comedy Romance

“Aku akan terus di sisimu Neul Rin,” dengan perlahan Jino menarik gadis itu ke dalam dekapannya.

Neul Rin menangis lagi, ia salah sudah menyukai seseorang yang bahkan tidak peduli padanya. Ia salah sudah mengkhianati Jino, yang jelas-jelas selama ini ada di sampingnya. Neul Rin semakin memperkeras tangisannya di dalam pelukan Jino. Mungkin bercerai dengan Minho adalah jalan terbaik, sebelum rasa suka itu semakin menjadi-jadi.

“Ayo kita kembali ke hotel,” ajak Jino sambil melepas pelukan hangatnya itu. Neul Rin mengangguk dan mengikuti tarikan Jino kembali ke hotel.

– — – –

Neul Rin POV

Sesampainya di Incheon, aku dan Jino naik bus kembali ke apartemen Minho. Sedangkan Minho mengantar Hyunmi ke apartemennya. Selama di perjalanan tadi, Minho tidak berbicara sedikit pun padaku. Dia sedikit menjaga jarak.

“Kau tidak apa-apa sendirian di apartemennya ?” tanya Jino ketika kami sampai di depan pintu apartemen Minho.

“Gwenchana. Hanya sebentar,” jawabku sambil membuka kunci. Ia membawa koper milikku masuk ke dalam apartemen.

“Kau yakin tidak mau tinggal di apartemenku ?” tanyanya lagi.

“Tidak Cho Jino. Aku masih bisa cari sendiri,”

Sementara aku membereskan baju ke lemari di kamar Minho, Jino melihat-lihat isi apartemen. Ia menyentuh setiap barang yang terlihat menarik. Tunggu ! Aku jadi ingat gelas yang dibelikan Minho. Dimana aku menyimpannya ?

Aku mengeluarkan isi tas dengan asal. Setelah sampai di paling bawah, gelas itu terselip di bagian bawah baju. Aku mengambilnya dan mengeluarkannya dari pembungkus Koran. Gelas bermotif itu kutaruh di meja kecil di dekat lemari.

“Selesai !” seruku senang, melihat hasil merapikan baju di lemari. Aku keluar dari kamar Minho, dan menemukan Jino sudah tertidur di sofa dalam posisi duduk.

“Tch, selama itukah aku membereskan baju ?” gumamku, duduk di sebelahnya. Aku akan membangunkannya, tapi tidak jadi karena melihat wajahnya yang terlihat lelah. Kusibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Aku akan berusaha melupakan Minho untukmu.

***

Sudah jam 9 malam, Minho belum pulang juga. Padahal aku sudah buat makan malam untuknya, mungkin ini makan malam terakhirku bersamanya. Aku sudah memutuskan, mulai besok aku akan tinggal di apartemen Jino untuk sementara. Tidak peduli perceraian itu sudah selesai atau belum.

Pintu apartemen terbuka, aku yang sedang duduk di meja makan segera berdiri menyambutnya. Ia menatapku sekilas lalu masuk ke kamarnya. Bahkan ia tidak mau melihatku sama sekali.

“Minho-ya, kau tidak makan dulu ?” teriakku.

“Tidak, aku sudah makan,” balasnya sedikit berteriak. Aku menghela napas pasrah. Makanan itu ku rapikan dan kusingkirkan ke dapur. Saat menaruh piring-piringnya, aku menangkap sesuatu yang asing. Cincin itu, cincin kayu yang Minho belikan masih melingkar dengan manis di jariku. Entah kenapa bibirku tertarik, membentuk sebuah senyuman kecil. Matanya yang besar, bibirnya yang bulat, dan ekspresinya yang terkadang konyol. Tch, aku akan merindukan semua ini.

“Neul Rin,” panggil Minho membuatku sedikit terkesiap. Aku menoleh ke arahnya yang sudah berdiri di depan kulkas dengan segelas air di tangannya.

“Ne ?”

“Besok kita ke pengadilan, mengurus perceraian kita. Ah iya, harus pagi-pagi,” Minho meminum air yang di pegangnya kemudian kembali masuk ke kamarnya. Senyuman di bibirku memudar begitu saja. Aku lupa kalau pernikahan ini akan segera berakhir.

Aku kembali ke ruang TV, bersiap-siap untuk tidur. Tapi tidak jadi ketika melihat Minho keluar dari kamarnya. Ia memandangku dengan matanya yang bulat dan besar itu.

“Waeyo ?” tanyaku heran. Ia menghampiriku, menatap kedua mataku dengan jarak yang cukup dekat.

“Temani aku di kamar,” ujarnya tiba-tiba. Keningku berkerut, ia berdiri tegak, melipat kedua tangannya di depan dada. Refleks aku menutupi dada dengan menyilangkan tangan.

“Mau apa kau ?” tanyaku penuh ancaman.

“Tch, kau biasa tidur dengan Jino kan ? Sekarang aku mau kau tidur denganku, hanya malam ini. Entah kenapa aku takut,” Minho menarik tanganku bangkit dari sofa.

Ia mendorongku masuk ke dalam kamarnya. Aku masih saja berdiri di belakang pintu yang sudah di tutup saat ia sudah duduk di tempat tidur. Dengan perlahan aku menghampiri tempat tidur. Duduk di sisi yang lainnya. Jantungku, ah, kenapa rasanya berdetak sangat cepat ? Aku tidak pernah merasa seperti ini saat tidur dengan Jino.

“Santai saja,” sahut Minho seolah tahu apa yang kupikirkan. Aku mulai meringkuk membelakanginya.

“Gomawo sudah membuat makan malam untukku. Mianhae karena aku tidak bisa memakannya,” bisiknya tepat di telingaku. Aku sedikit bergidik dan menjauhkan diri darinya. Dengan selimut tebal dan posisi membelakanginya, aku mencoba memejamkan mata.

***

“Eng ?” gumamku sambil mencoba menggeliat. Tapi tidak bisa, kenapa ini ? Aku membuka mata, dan menangkap Minho tengah memelukku ? Tanpa baju ?

“Kyaaa !!” aku berteriak dan secepat mungkin lepas dari pelukannya. Aku menarik selimut menutupi bagian atas tubuhku. Ya ! Kim Neul Rin, dia memang tidak pernah pakai baju kalau tidur. Kau terlalu takut, bahkan kau sendiri masih pakai baju.

“Waeyo ?” tanya Minho yang langsung terduduk sambil mengerjapkan matanya. Ia menolehkan kepalanya ke arahku dan mata besarnya itu terbuka.

“Apa yang kau lakukan ?” tanyaku, bersandar di tempat tidur menjauh darinya.

“Apa ? Aku memang biasa tidak pakai baju di musim panas seperti ini,” jawabnya polos.

“Ahni, maksudku. Kenapa aku bisa ada di dalam pelukanmu,” tegasku. Ia terkekeh kecil, mendekatkan wajahnya dan mengacak rambutku.

“Aku hanya mau membuatmu hangat. Sudah, ayo cepat mandi. Kita harus ke pengadilan,” ujarnya kemudian beranjak dari tempat tidur. Tidak, aku tidak mau bercerai dengannya. Tapi aku tidak mau menyakiti Jino yang selama ini selalu baik padaku. Apa yang harus aku lakukan ?

Hot times naega neoreul nun tteultae

All my life time

Ojik neoman gajyeodo dwae

Ponsel Minho berbunyi. Aku meraihnya yang tergeletak di atas meja. Telepon masuk dari Hyunmi ? Aku sedikit ragu untuk mengangkatnya. Haruskah ?

‘Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneun Choi Minho, saengil chukhahamnida,’ seru Hyunmi ketika aku mengangkatnya. Saengil ? hari ini ?

‘Happy birthday chagiya, Wish all the best for you and us. Aku mau kau datang ke café Gallery nanti malam. Special kita berdua, jam 7, jangan telat !’ tanpa memberi kesempatan aku berbicara, ia menutup teleponnya.

Aku menatap ponsel Minho heran. Hari ini Minho ulang tahun, dan aku tidak tahu apa-apa. Aku harus memberinya selamat, atau pura-pura tidak tahu saja. Haish ! Bagaimana ini ?

“Ada apa dengan ponselku ?” tanya Minho dari ambang pintu kamar mandi.

“Eng, tidak. Aku hanya melihatnya saja,” jawabku bohong. Ia mengangguk mengerti lalu menghampiriku.

“Kau terlihat pucat. Kau sakit ?” tanya Minho, duduk di sebelahku. Aku meraba wajahku sendiri, memang sedikit hangat.

“Yeah, sedikit pusing. Tidak apa-apa,” jawabku lalu beranjak dari tempat tidur. Entah kenapa kepalaku pusing, mungkin karena terlalu bersemangat di jeju kemarin. Aku hanya kelelahan, tidak lebih.

“Ya ! Ya !” Minho berteriak dan langsung menangkap tubuhku.

“Waeyo ?” tanyaku bingung, berdiri dari pelukannya.

“Kau hampir jatuh. Kita tunda saja ke pengadilannya. Kau sakit,” ujarnya. Hatiku sedikit lega, mendengarnya membatalkan rencana perceraian itu. Tch, sejak kapan aku jadi egois seperti ini huh ?

“Tidurlah, aku akan buat bubur untukmu,” Minho mendorongku kembali duduk bersandar di tempat tidur. Ia menyelimuti setengah badanku kemudian keluar dari kamar.

Egh, aku bingung harus mengatakan ini atau tidak. Tentang rencana Hyunmi, aku tidak mau ia bersama Hyunmi hari ini. Apa aku harus berpura-pura sakit agar ia tidak pergi seharian ini. Tidak ! tidak ! kau terlalu egois Neul Rin, mereka berdua itu sepasang kekasih, kau harus merelakannya pergi. Lebih baik kau telepon Jino dan menyuruhnya menemanimu disini.

Entah setan apa yang membisikanku saat itu. Aku meraih ponsel Minho, melepas baterai ponselnya. Rasa menyesal itu muncul, aku akan mengembalikan baterai itu ke dalam ponselnya, tapi Minho sudah membuka pintu kamar. Dengan segera kutaruh di laci meja.

“Igeo, kau makan dulu. Aku harus ke tempat Hyunmi,” ia menaruh semangkuk bubur di meja kecil di samping tempat tidur. Tidak lupa susu yang bertengger di samping mangkuk itu.

“Ke apartemen Hyunmi ? Kau tega membiarkanku sendirian disini huh ?” tanyaku penuh harap.

“Kau bisa telepon Jino kan ? Aku ada urusan dengannya,” jawab Minho sambil mencari-cari ponselnya di tempat tidur.

“Jino sedang kerumah orangtuanya. Tidak bisakah kau seharian di rumah menemaniku ? Hanya hari ini, sebelum. . . perceraian kita ?” tanyaku ragu. Ia berdiri tegak, memutar bola matanya berpikir.

“Baiklah. Hanya karena kau sakit,” jawabnya. Aku menghela napas lega. Baguslah, ia tidak mencari ponselnya lagi.

– — – –

Author POV

Dengan semangat, Hyunmi menghias seluruh dinding di café gallery siang itu. Ia dibantu para pekerja di café itu membuat kejutan untuk Minho. Hatinya sangat senang, mengingat umur Minho yang sudah menginjak 24 tahun.

“Jangan lupa lilin dan bunganya Ri An-ssi !!” teriak Hyunmi. Dengan kedua tangan di tumpu pada pinggangnya, ia menatap hasil kerja seharian itu dengan bangga. Hiasan berbentuk bola di tembok-tembok, diselingi hiasan berbentuk bunga. Semuanya terlihat indah, perpaduan antara sport dan feminine. Para pelayan café itu pun memuji Hyunmi karena hasil pemikirannya.

“Sekarang sudah jam 4. Kalian siapkan makanannya, aku harus ganti baju,” seru Hyunmi dan langsung mendapat ledekan dari para pelayan itu. Mereka berdehem saling menyauti.

Jam 7 tepat, Hyunmi sudah siap dengan dress berwarna hitam selutut dan rambut panjangnya yang diikat satu. Dengan sedikit polesan make up, menambah kecantikannya malam itu. Para pelayan pun sudah siap berdiri di posnya masing-masing, bersiap menerima komando dari Hyunmi kalau nanti Minho datang. Café itu sengaja dipesannya malam ini hanya untuk merayakan ulang tahun Minho.

Lebih dari jam 7, Hyunmi berusaha menghubungi ponsel Minho. Tapi tidak bisa. Ia mencoba berpikir positif, mungkin Minho akan memberinya kejutan, dengan cara pura-pura marah. Mungkin beberapa menit lagi ia akan muncul di hadapan Hyunmi.

Tidak, jam 9 malam pun Minho belum datang. Para pelayan yang tadi berdiri, kini sudah duduk di kursi yang ada di café itu menghilangkan rasa lelah. Hyunmi menatap layar ponselnya, sambil sesekali membuka flipnya. Ia menatap foto mereka berdua ketika di jeju 2 hari yang lalu. Setetes cairan bening mengalir keluar dari mata Hyunmi. Make up yang dipakainya sudah mulai luntur karena keringat dan sekarang karena air matanya yang semakin deras.

Sekelebat pikiran negative muncul di pikiran Hyunmi. Bagaimana kalau seandainya Minho mengalami kecelakaan di jalan dan dibawa ke rumah sakit. Atau mungkin ia sedang bersama Neul Rin sekarang. Entahlah, perasaan Hyunmi sedang kalut malam itu. Ia kesal, semua kerja kerasnya seharian menghias café Gallery sia-sia. Orang yang akan diberi kejutan tidak datang, dan tidak memberi kabar sama sekali.

Hyunmi beranjak dari kursinya. Ia meraih tas tangannya lalu berlari keluar dari sana. Ia harus ke apartemen Minho sekarang juga.

***

Minho baru saja selesai mengganti kompresan di kening Neul Rin ketika bel apartemennya bunyi. Ia menaruh sapu tangan bekas kompresan itu di meja dan segera beranjak ke pintu apartemennya. Tangannya memegang gagang pintu, dan membuka pintu apartemennya perlahan. Mata besarnya menangkap seorang wanita, yang terlihat cantik sekaligus berantakan.

Keadaan Hyunmi sudah tidak karuan. Maskara dan eyeliner yang menghias matanya malam itu sudah luntur, membuat area sekitar matanya hitam. Ia menatap Minho nanar. Dan dengan sekali gerakan cepat memukuli Minho memakai tas tangan yang dibawanya.

“Ya ! Ya ! Ada apa denganmu Hyunmi ?” tanya Minho sambil mencoba menghalau pukulan dari Hyunmi.

“Ada apa ? Aku menunggumu berjam-jam di café Gallery kau tanya ada apa ? Tch,” jawab gadis itu masih terus memukuli kekasihnya. Minho menangkap tangan Hyunmi, membuat gadis itu menangis lagi.

“Kenapa kau menangis ?” tanya Minho, menatap gadis di hadapannya heran.

“Kau gila huh ?! Ini hari ulang tahunmu dan kau lupa ? Aku sudah meneleponmu untuk datang ke café Gallery !” Minho tersadar sesuatu karena ucapan Hyunmi. Ia baru sadar kalau hari ini ulang tahunnya, yang bahkan tidak ia ingat sama sekali. Hari itu dirinya terlalu sibuk mengurus Neul Rin yang sakit. Dan satu hal, ia tidak tahu kalau Hyunmi menyuruhnya datang ke café.

“Ulang tahunku ? Café ?”

“Ne ! Tch, seharian aku menghias seluruh café hanya untuk merayakan ulang tahunmu. Tapi kau malah, aargh ! Sudah tidak usah dibahas, aku pergi,” Hyunmi melepas pegangan tangan Minho, berlari meninggalkan laki-laki itu.

Minho yang menyadari hal itu segera mengejar Hyunmi. Ia mengejarnya menuruni anak tangga kemudian menghalangi jalan Hyunmi.

“Get out from my way !”seru Hyunmi kesal. Minho masih tidak bergeming, ia masih merentangkan tangannya.

PLAK

Sebuah tamparan mendarat di pipi Minho. Hyunmi menabrak dengan kasar tubuh Minho lalu meninggalkannya. Sesekali ia mengusap pipinya yang terus dialiri air mata. Ia membenci seseorang bernama Minho saat itu.

– — – –

Minho POV

Hyunmi masuk ke dalam taxi yang lewat. Aku masih memegangi pipiku yang baru saja di tampar olehnya. Ia pantas melakukan seperti itu untuk laki-laki sepertiku, tidak peduli dengan perasaan wanita. Aku terbawa perasaan, membiarkan Neul Rin menguasaiku. Neul Rin ? Gadis itu, apa mungkin ia yang menerima telepon Hyunmi ? Tapi tidak memberitahukan itu padaku ?

Aku berlari naik kembali ke lantai dimana apartemenku berada. Pintu apartemen yang masih terbuka langsung kuterobos. Tidak peduli lagi orang-orang akan bangun karena bantingan pintu yang kulakukan. Dengan kasar aku membuka pintu kamar, menghampiri Neul Rin yang tengah tertidur di balik selimut. Aku menarik selimutnya, membuat Neul Rin membuka matanya perlahan.

“Waeyo ?” tanyanya parau.

“Tch, kau yang menerima telepon Hyunmi ?” tanyaku to the point. Ia terlihat bingung, dan akhirnya mengangguk tanpa menatapku.

“Ia menyuruhku datang ke café Gallery ?” tanyaku lagi. Neul Rin mengangguk, kali ini ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Lihat aku Kim Neul Rin !” perintahku sambil memalingkan wajahnya lagi. Aku berjongkok di samping tempat tidur, menatapnya yang masih terbaring.

“Jawab, kenapa kau melakukan itu semua. Kenapa kau tidak memberitahuku huh ?” emosiku sudah mulai naik. Neul Rin memejamkan matanya menghindar dari tatapanku. Aku mengguncang pipinya cukup kuat, membuat gadis di hadapanku membuka matanya lagi.

“Kenapa ?! Kau senang melihatku pisah dari Hyunmi ?”

“Tidak ! Aku hanya ingin kau menemaniku seharian ini. Apa itu salah ?!”

“Ne ! Kau sudah membuat Hyunmi menyalahkanku karena semua ini,” aku bangkit dari hadapannya. Mengambil jaket dan kunci mobil yang tergeletak di meja belajar. Tanpa mengengok sedikit pun ke arahnya, aku keluar dari kamar dan membanting pintunya keras. Baru pertama kali aku bertemu wanita seperti itu.

Berkali-kali aku menekan bel apartemen Hyunmi. Tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda ia ada disana. Aku memandang langit yang semakin mendung. Sepertinya sebentar lagi salju turun, dan aku tidak tahu dimana Hyunmi sekarang.

Dengan sedikit berlari aku kembali masuk ke dalam mobil. Mulai menyalakan penghangat untuk menghilangkan udara dingin. Aku menjalankan mesin mobil, berjalan ke tempat mungkin ia berada sekarang. Rumah orang tuanya.

***

Perjalanan 3 jam ke Daegu sama sekali tidak terasa, karena yang ada di pikiranku sekarang adalah, bertemu dengannya dan menjelaskan kesalah pahaman ini. Hubunganku selama 5 tahun dengannya tidak mungkin berakhir hanya karena hal kecil. Bagaimanapun ia menolakku, aku akan terus berusaha menjelaskannya.

“Minho ? Ayo masuk,” ujar Ji Kyo ketika ia membuka pintu rumah eomma-nya. Aku menepuk-nepuk kepalaku yang sedikit basah karena salju lalu masuk ke dalam rumah itu. Aku duduk di sofa, Ji Kyo juga ikut duduk di sebelahku.

“Kau ada disini ? Kemana yang lainnya ?” tanyaku.

“Liburan dari rutinitas kota. Jinki sedang jalan-jalan bersama jinkyo dan ji sook. Eomma dan appa belum pulang kerja,” jawab Ji Kyo sambil beranjak ke arah dapur. Tidak ada tanda-tanda Hyunmi di sini, mungkin dia tidak kesini.

“Ah iya, sebelum kau datang Hyunmi juga baru sampai. Mungkin ia sedang berganti baju,” tepat setelah mengatakan itu, wanita yang sedang kucari-cari berjalan menuruni tangga dari kamarnya. Refleks aku berdiri dari sofa, membuat ia menoleh ke arahku. Matanya membelalak, kemudian kembali naik ke atas.

“Tidak Hyunmi. Tunggu !” aku berlari mengejarnya, naik ke lantai dua. Sebelum masuk ke kamar, aku mencegah tangannya. Membuat gadis itu sedikit berbalik, tapi tidak menghadapku.

“Aku mau jelaskan semuanya,” ujarku masih sambil memegangi tangannya. Hyunmi menghentakkan tangannya.

“Lepas Choi Minho, aku tidak mau bertemu denganmu lagi,” ia berjalan meninggalkanku. Dengan sekali gerakan cepat, aku menarik tangannya lagi. Lebih keras sehingga membuat tubuhnya terjatuh ke dalam pelukanku.

“Aku mencintaimu Hyunmi. Mianhae, aku tidak tahu kau menyuruhku datang ke café Gallery. Dan satu hal, aku benar-benar lupa hari ini ulang tahunku,” bisikku sambil mengusap rambutnya lembut. Hyunmi menundukkan kepalanya lalu dengan sedikit terisak memukul lenganku. Sedetik kemudian ia membalas pelukanku, membiarkan bajuku yang basah semakin basah karena air matanya.

“Lalu siapa yang mengangkat teleponku tadi pagi ? Saat aku menyanyikan lagu ulang tahun untukmu ?” tanyanya dingin. Tidak, ia tidak boleh tahu.

“Tidak ada. Ponselku sedang rusak, mungkin terangkat karena memang sistemnya rusak. Aku mohon, jangan marah lagi,” aku melepas pelukan itu dan menatap Hyunmi lekat-lekat. Ia menyeka air matanya lalu tersenyum kecil.

“Saengil chukhae Minho,” ujarnya. Aku mengacak rambut Hyunmi kasar, membuat bibirnya mengerucut.

“Ehm ! Ya begitulah, dunia serasa milik berdua,” entah sejak kapan Jinki sudah berdiri di tengah-tengah ruang tamu di bawah. Aku tersenyum ke arahnya dan membawa Hyunmi turun ke bawah. Seorang anak kecil berambut pendek berlari ke arahku.

“Minho oppa !” serunya. Jinkyo menarik-narik ujung bajuku berharap menggendongnya. Tapi Hyunmi malah menatapku tidak suka, lalu menatap jinkyo yang lebih pendek darinya.

“Panggil aku eonni dulu baru kau boleh di gendong oleh Minho oppa,” syaratnya. jinkyo terlihat memutar bola matanya.

“Tidak, Hyunmi ahjumma,” ujarnya. Anak itu berlari menghampiri Jinki, bersembunyi di balik kakinya. Sedangkan Hyunmi mendengus kesal dan segera mengejar jinkyo. Dan, terjadilah aksi kejar-kejaran seperti biasanya. Uh, aku tidak bisa bayangkan bagaimana ia dengan anaknya nanti. Anaknya ? Atau mungkin, anak kami ? Entahlah.

***

Esok paginya kami –aku dan Hyunmi kembali lagi ke Seoul. Setelah mengantar Hyunmi ke apartemennya, aku pulang ke apartemenku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana berhadapan dengan Neul Rin. Keadaan kami pasti berubah, tidak seperti kemarin lagi.

Saat aku akan masuk ke apartemen, seseorang keluar dari dalam apartemenku. Langkahku terhenti di anak tangga  teratas, memandangnya heran sekaligus kesal. Kenapa laki-laki itu bisa ada di apartemenku, apa yang ia lakukan disana.

Jino masih diam di depan pintu, ia terlihat menghela napas panjang lalu melangkahkan kakinya. Tapi ia kembali berhanti, mendongakkan kepalanya dan menatapku. Tatapan matanya yang tadi suram sekarang berubah menjadi tajam. Syal yang menutupi sebagian mulutnya tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesal yang ada di baliknya.

“Kau meninggalkannya sendirian dalam keadaan sakit seperti itu. Ia menangis saat meneleponku, dan saat aku sampai di apartemenmu dia sudah tergeletak di lantai dekat kamar mandi. Badannya panas, dan wajahnya pucat. Aku –,”

“Aku tidak peduli. Ia sudah mencoba merusak hubunganku dengan Hyunmi. Tenang saja, aku akan segera menceraikannya,” potongku. Ia mendecak meremehkan kemudian berlalu meninggalkanku.

“Aku tunggu janjimu Mr.Choi,” ujarnya lalu benar-benar pergi.

Kata-kata Jino masih tidak mau pergi dari pikiranku. Neul Rin menangis, pingsan, dan semakin parah karena ditinggal olehku. Tapi itu wajar untuk wanita seperti dia. Aku masih tidak percaya ia tega membiarkan Hyunmi menungguku selama berjam-jam dengan tidak memberitahu telepon darinya.

“Kau sudah pulang ?” tanya Neul Rin ketika aku masuk. Ia, masih dengan wajah yang pucat menatapku dari arah dapur. Tangannya memegang gelas berisi air putih yang terisi setengah. Aku tidak menghiraukannya dan berlalu masuk ke dalam kamar. Baru saja aku akan berganti baju ketika melihat bungkusan aneh di meja dekat tempat tidur. Perlahan aku mendekati kotak berpita itu, mengambilnya dan membukanya perlahan. Terselip sebuah kartu di dalamnya, di atas sebuah CD Player.

To : Minho

A gift for your birthday

Happy birthday !!

Please, forgive me

“Hanya itu yang bisa aku beli,” sahut Neul Rin tiba-tiba dari arah pintu kamar. Aku segera menaruh kartu itu ke dalam kotak, menutupnya rapi seperti semula.

“Aku tidak butuh semua ini,” aku mengembalikan kotak merah berpita itu pada Neul Rin. Ia menaikkan sebelah alisnya heran.

“Ayolah, ini tanda maafku,” ujarnya, mendorong kotak itu kembali ke tanganku.

“Aku bilang tidak butuh hadiah darimu !” aku membanting kotak itu keluar kamar. Membuat tatapan Neul Rin beralih pada kotak itu. Tch, aku tidak akan pernah menerima hadiah darinya.

“CD Player itu aku beli dari tabunganku sendiri. Dan kau ! Membantingnya begitu saja ! Aku membelinya dalam keadaan sakit !”

“Uh ? Aku tidak peduli Kim Neul Rin. Ah iya, besok kita ke pengadilan, tidak ditunda lagi,”

Aku menutup pintu kamar dengan keras. Membiarkannya masih menatap pintu kamarku heran. Sikapnya, membuatku semakin mudah melupakannya. Atau ia memang sengaja melakukannya ? Agar aku membencinya ? Baiklah, aku turuti semua kemauanmu.

– — – –

Neul Rin POV

Perjalanan ke pengadilan di Itaewon. Dengan membawa surat-surat perceraian yang sudah dibubuhi tanda tangan kami berdua. Ternyata ideku kemarin membuat hubungan kami semakin renggang. Baguslah, aku jadi tidak perlu repot-repot menghindarinya.

“Ayo turun,” seru Minho dingin ketika kami sudah sampai di pengadilan. Dengan ‘sedikit’ malas, kulangkahkan kaki keluar dari mobil Minho. Tidak butuh waktu lama, kami sampai di dalam gedung. Menunggu giliran kami datang. Minho berdiri di dekat meja pendaftaran sedangkan aku duduk di sofa. Namja tinggi berambut cepak itu melirik sekilas tapi kemudian menghadap meja lagi.

“Minho-ya ?” suara seorang yeoja membuyarkan lamunanku. Yeoja –yang entah siapa itu menepuk pundak Minho pelan, menatapnya sebentar. Sedetik kemudian yeoja itu memeluk Minho erat, seolah-olah ia akan lepas. Entah kenapa, dadaku menjadi sesak.

“Eh, uh noona lepaskan aku,” seru Minho sambil menepuk pundak yeoja itu pelan. Ia melepas pelukan eratnya pada Minho. Wajahnya terlihat jelas sekarang, ia cantik. Ah tidak, sangat cantik.

“Sedang apa kau disini ?” tanya yeoja itu. Minho menggaruk kepalanya bingung, ia sedikit melirik ke arahku.

“Noona sendiri sedang apa disini ?” tanya Minho lagi. Yeoja yang di panggil noona olehnya itu membetulkan posisi berdirinya.

“Aku jadi pengacara sekarang,” jawabnya bangga. Laki-laki di hadapannya tertawa kecil, mendengar jawaban yeoja itu. Kenapa mereka terlihat sangat akrab ? Ah, cepat pisahkan mereka.

“Sekarang pertanyaanku, dengan siapa dan untuk apa kau kesini ?” tanya yeoja itu penuh selidik.

Aku menaruh map perceraian itu di meja dan tasku di sebelahnya. Sedikit demi sedikit kakiku mendekat ke arah mereka.

“Aku kesini bersama . .,” Minho menarik tanganku mendekat ke arahnya, “Istriku, kami mau bercerai,” sambungnya kemudian. Yeoja yang tingginya jauh di atasku itu memperhatikan penampilanku. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan sedikit senyuman mengembang.

“Dongsaeng-ah ! Kau gila mau menceraikannya huh ?! Aku tidak setuju,” sahut yeoja di hadapanku ini. Tunggu ! Dongsaeng~ah ?

“Waeyo noona ?” tanya Minho padanya. Ia memandangku lagi, kali ini mendekat dan memegang kedua pundakku.

“Kau tidak kenal aku ? Aku Choi Minsuk, kakaknya Minho,” yeoja bernama Minsuk itu mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya.

“Kim Neul Rin iyeyo, bangapseumnida Minsuk eonni,” balasku sambil sedikit membungkukkan badan.

“Kau tidak mengundangku ke pernikahanmu ? Tch, parah sekali Choi Minho,” ujar Minsuk, memukul lengan Minho pelan.

“Aku kira kau dan appa masih di Jepang. Kenapa juga kau tidak memberiku kabar kalau sudah pulang ke Itaewon,” balasnya. Minsuk terlihat melirik jam tangan yang dipakainya sekilas.

“Uh, aku harus pergi sekarang. Lain kali kita mengobrol lagi seperti ini, dan kau,” Minsuk mengangkat telunjuknya ke depan wajah Minho, “jangan ceraikan Neul Rin apapun alasannya. Kau tahu ? Perceraian itu merepotkan, aku sering mengurus masalah ini sebelumnya. Sudah, aku pergi dulu. Annyeong,” ujarnya. Sebelum pergi Minsuk menepuk pundakku pelan dengan lembut. Ah, ia kakaknya Minho ternyata. Satu hal, ia cerewet, tidak sama seperti namja di sebelahku ini.

“Kenapa kau tidak pernah bilang punya kakak perempuan ?” tanyaku.

“Haruskah aku menceritakan semuanya ?” jawab Minho malah bertanya lagi.

“Mana surat-suratnya ?” tanya seorang wanita di balik meja pendaftaran. Minho menatapku, menanyakan berkas-berkas yang tadi kubawa.

Baru saja aku berbalik untuk kembali ke sofa tempat map berisi surat-surat perceraian kami saat melihat hanya tasku yang tergeletak disana. Langkahku terhenti, memandang pemandangan mengherankan itu bingung. Seingatku tadi map itu ada disana bersama tasku. Bagaimana bisa ?

“Minho-ya ! “ aku menoleh dan menatap Minsuk yang sudah berdiri di anak tangga, “Aku tidak akan membiarkan kalian bercerai, sebelum aku mengenal Neul Rin lebih jauh. Surat-surat ini kusimpan, dan tidak akan menyerahkannya,”

Minsuk terkekeh kecil kemudian naik ke lantai atas dengan tergesa. Aku menatap Minho lagi, ia terlihat mengernyitkan dahi sambil tetap menatap anak tangga tempat kakaknya berdiri tadi.

“Apa-apaan dia ? Baru bertemu denganku sudah buat masalah, seenaknya mengambil surat perceraian kita. Kita buat lagi yang baru,” ucapan Minho membuatku sedikit bernapas lega. Tapi kembali tercekat mendengar kata-kata terakhirnya.

Wanita yang tadi baru menanyakan surat perceraian kami mengernyit heran. Ia menatapku dan Minho secara bergantian dengan pulpen yang terhenti di atas kertas yang sedang ditulisnya. Sedetik kemudian ia kembali menulis-nulis sesuatu di bukunya. Minho menatapku tajam, seolah-olah menyalahkanku karena map itu dibawa kakaknya.

“Mwoya ?!”

***

Jino menjemputku ke apartemen Minho. Bukan untuk pindah apartemen, hanya pergi berkencan dengannya seharian. Sambil berpikir lagi mengenai kepindahan apartemen itu. Minho sudah baik, sangat baik malah untuk masih memperbolehkanku tinggal di apartemennya. Setelah apa yang aku lakukan 2 hari yang lalu. Sebelum pergi, aku harus membalas kebaikannya selama ini.

“Neul Rin ?” panggil Jino heran. Aku yang duduk di hadapannya segera tersadar dari lamunan. Ia tersenyum sambil memegang kotak berwarna merah. Yang aku tahu itu kotak cincin yang aku kembalikan padanya saat baru berbaikan dulu. Kenapa lagi ?

“Wae ?”

Ia meraih tangan kiriku, mengeluarkan cincin dari kotak itu. Tapi pandangannya terhenti pada cincin kayu pemberian Minho yang masih melingkar di jari manisku. Ia menatapku sekilas lalu melepas cincin kayu itu.

“Ya ! Jangan dilepas !” sahutku cepat. Jino yang akan melemparkan cincin itu segera menolehkan kepalanya.

“Waeyo ? Aku memberimu cincin yang lebih bagus dari ini,” jawabnya, menatap cincin kayu yang di pegangnya.

“Itu sangat berharga bagiku. Tolong, jangan dibuang,” pintaku. Jino menyerahkan cincin bermotif bunga itu dengan sedikit menghela napas pasrah. Setelah cincin kayunya terlepas, cincin yang ia beli menggantikan posisi di tangan kiriku.

“Well, kapan kau bercerai dengannya ?” tanya Jino. Aku yang sedang memandangi cincin emas putih pemberian Jino langsung mendongak menatapnya.

“Entahlah, pengadilan bilang kami harus mengurus surat perceraian lagi. Kira-kira 3 hari,” jawabku sambil memasukkan cincin kayu Minho ke dalam saku.

“Yang kemarin ?”

“Ah itu, semua berkas-berkasnya di bawa kakaknya Minho. Ia tidak mau Minho bercerai denganku,” aku mengalihkan pandangan keluar café. Menatap langit yang sudah mulai menurunkan butiran-butiran salju ke bumi. Sebentar lagi natal, apa aku masih bisa bersama Minho di malam natal ? Eh ? Kenapa Minho ?

“Hey, ayo kita pergi dari sini,” seru Jino tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya, ia menyesap minumannya sekilas lalu menarik tanganku bangkit dari kursi. Sebelum keluar dari café, aku bisa melihat Minho bersama Hyunmi yang baru duduk. Kenapa ia menarikku keluar ?

“Ada apa ?” tanyaku, setelah kami berdua duduk di bangku taman. Jino duduk di sebelahku dengan sedikit ragu.

“Apa kau menyukainya ?” tanya Jino tanpa menatapku.

“Eh ?”

“Kau menyukai namja itu kan ?” tanyanya mendesak.

“Tidak ! Aku hanya mencintaimu Jino, tidak dengan Minho,” jawabku.

“Tapi tatapanmu beda Neul Rin. Saat kau melihat namja itu bersama kekasihnya, matamu mengatakan kalau kau cemburu. Apalagi ketika kita berempat berlibur ke Jeju, matamu tidak pernah lepas mengawasi mereka,” balas Jino masih terus mendesakku. Aku menggenggam pinggiran bangku taman, mencoba mengelak dari pernyataan Jino. Tapi aku tidak bisa memungkiri itu semua, itu benar, aku hanya sedikit cemburu.

“Ahni Jino-ya. Neoman saranghae, anjoha Minho,” balasku bohong. Ia tersenyum, tidak tulus, senyum keraguan yang pernah aku lihat ketika di Jeju. Ketika aku menangis karena Minho di pinggir pantai.

“Mmm, apa jaminannya kalau kau tidak akan menyukai namja itu ?” tanya Jino, menatapku lekat. Aku segera memalingkan wajah, menggigit bibir bawahku sendiri mencoba mencari barang untuk menjamin omonganku sendiri.

“Err, cincin ini,” jawabku sambil mengangkat tangan kiri tempat melingkar cincin pemberiannya. Jino tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi. Sedetik kemudian aku sudah ditarik ke dalam pelukannya, pelukan hangat yang selalu bisa menenangkanku selama 3 tahun terakhir ini.

“Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa seorang Neul Rin. Saat aku tahu kau menikah dengan orang lain, hatiku sakit, sangat sakit. Aku kira kau melupakan hubungan kita selama ini. Melihatmu bersama namja itu, tinggal bersama namja itu, aku sangat tidak suka. Kau tidak pernah berpikir, setiap malam aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu, apa yang kau lakukan bersamanya,”

“Kau bisa percaya padaku Jino,” balasku memotong ucapannya.

“Err, kapan kau pergi dari apartemennya ?” tanya Jino, melepas pelukannya.

“Entahlah,” jawabku sekenanya. Setiap ia mengungkapkan semua perasaannya ketika melihatku bersama Minho, entah kenapa aku merasa bersalah. Aku merasa kalau aku telah mengkhinatinya ?

***

“Aku pulang,” seruku ketika memasuki apartemen Minho.  Aku mengitarkan pandangan ke seluruh apartemen mencoba mencari keberadaan Minho. Dari hawa di sekitarku sepertinya ia tidak ada disini.

Aku melangkahkan kaki memasuki apartemen. Membuka kulkas dan mencari air yang bisa membasahi kerongkonganku. Setelah menuangkannya ke gelas aku berbalik sambil meminum air itu.

“Ya !”

BYUUR

Tiba-tiba Minho berdiri disana. Mengangetkanku dan otomatis menyemburkan air yang sedang kuminum. Ia memejamkan matanya, lalu menyeka dengan sebelah tangannya yang besar. Dengan sekali usap, air yang membasahi wajahnya sudah bersih. Aku masih saja diam mematung dengan mata membelalak dan memegang gelas itu di depan mulut.

“M-mianhae, aku tidak bermaksud –,”

Ia terus mendekat, membuatku bersandar di pintu kulkas. Aku menelan ludah kuat-kuat, mencoba menormalkan detak jantung yang tiba-tiba menjadi dua kali lebih cepat. Aku terus menatapnya sampai tidak ada jarak lagi diantara kami.

“Gomawo minumnya,” ia merebut gelas di tanganku dan berbalik sambil meminum air itu. Aku masih memandangi punggungnya yang berlalu masuk ke dalam kamar. Kenapa wajahnya dekat sekali ? Tunggu, dia mengambil apa tadi ?

Aku menatap jari-jari tangan yang masih berbentuk bulat bekas gelas itu. Dan disaat yang sama aku sadar kalau gelas yang tadi kupegang di ambil olehnya.

“Choi Minho !!”

Baru saja aku akan mengejarnya ke dalam kamar, ketika pintu apartemen terbuka. Aku menghentikan langkah, menoleh ke arah pintu. Dengan sedikit tergesa Hyunmi masuk ke dalam. Ia menepuk-nepuk kupluk hoodienya yang basah karena salju. Langkahnya langsung terhenti, melihatku yang berdiri di depan pintu kamar Minho.

“Apa yang kau lakukan ?” tanyanya sambil menunjuk tanganku yang sudah memegang gagang pintu kamar Minho. Guess what ? Belum sempat aku mengangkat tanganku dari sana, Minho membuka pintu kamarnya dengan cepat. Membuatku terjatuh ke pelukan Minho. Oh no. .

“Mian,” ucapku sambil melepas tangan Minho yang memegang tubuhku. Hyunmi mengernyit heran, tapi ia mencoba tidak peduli dan malah masuk ke dapur. Minho menatapku sekilas lalu menyusul Hyunmi ke dapur. Mereka sudah berbaikan, baguslah.

Aku beranjak duduk di sofa. Menyalakan TV, mencari acara yang bagus. Sebenarnya hanya alih-alih agar aku tidak perlu melihat Minho dan Hyunmi di dapur.

Ting Tong

“Biar aku yang buka,” sergahku cepat. Aku berjalan ke arah pintu apartemen, tidak lupa melirik Minho yang ternyata tengah merangkul Hyunmi.

Pintu apartemen Minho kubuka lebar. Hampir saja jantungku lepas karena melihat Minsuk berdiri disana. Ia melambaikan tangan padaku, tidak lupa memberikan senyuman terbaiknya. Aku membalas senyumnya sambil sedikit membungkuk. GOSH ! Ada Minho dan Hyunmi di dalam. Ottokhae ?

“Boleh aku masuk ?” tanyanya.

“Eh ? Tentu saja boleh eonni,” jawabku gugup, dan sedikit berteriak agar Minho mendengarnya. Minsuk masuk ke dalam apartemen Minho. Langkahnya terhenti tepat di depan dapur, melihat laki-laki dan perempuan yang tengah bercanda melempar terigu. Haruskah aku katakan mereka terlihat mesra ?

“Choi Minho !” teriakan melengking Minsuk membuat kedua orang itu berhenti. Sambil berkacak pinggang, ia mendengus napas kesal.

“Sini !” perintahnya. Dengan langkah perlahan Minho mendekati Minsuk, tapi tidak dengan Hyunmi. Wajahnya penuh dengan terigu, membuatku sedikit terkekeh pelan.

“Siapa gadis di dapur itu !” tanya Minsuk keras. Minho menolehkan kepalanya sekilas ke arah Hyunmi yang tengah mengaduk-aduk sesuatu, kemudian kembali menatap kakaknya. Ia terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Minsuk. Sampai akhirnya aku yang menjawab pertanyaannya itu.

“Pacarnya Minho,” jawabku sontak membuat ketiga pasang mata yang ada beralih menatapku. Minsuk mengernyit heran, Minho menatapku –tarik kembali ucapanmu –, dan Hyunmi yang mengernyit juga.

“Pacarnya ? Kau– ? Ya ! Adikku ini seorang ‘player’ huh ?” Minsuk memukuli Minho dengan tasnya.

-to be continued-

aduuh, mian lama updatenya

pada nunggu ya ? /PLAK *siapa juga*

 

di tunggu comment, kritik, saran, semuanya boleh

abis itu like juga boleh

gomawo :D

2 thoughts on “[FanFic] Wrong Marriage (4th Part)

  1. annyeonghaseo chingu. niken imnida
    udah 3 hari ini aku pagi-siang-malem baca ff chingu..
    3 hari juga aku jadi silent reader kekeke miaann ^^v
    aku suka banget sama semua ff yg ditulis chingu.. sampe jadi ketagihan -__-
    keep writing chingu!!! tulisanmu akan selalu ku tunggu~ :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s