[FanFic] Wrong Marriage (3rd Part)

Title : Wrong Marriage

Author : Ima Tripleshawol

Cast       : Choi Minho, Choi Hyunmi, Kim Neul Rin

Other   : Cho Jino (S.M. The Ballad)

Rating : PG+15

Length : Series

Genre   : Comedy Romance

“Sudah datang ?” tiba-tiba Minho datang dan memotong ucapanku. Sontak eomma dan appa tersenyum melihatnya. OH ! Jangan ada salah paham lagi.

“Jadi dia ? Tampan, tinggi, tidak terlalu putih, sesuai dengan kriteriamu waktu itu,” seru eomma, menepuk pundak Minho pelan. Minho hanya tersenyum malu sambil mengusap tengkuknya.

“Appa, eomma, aku mohon dengarkan aku dulu. Dia ini memang suamiku tapi-,”

“Nanti saja perkenalannya. Appa dan eomma harus istirahat. Bawa kami ke apartemen kalian,” pinta appa. Aku menatap Minho ragu, dan ia mengangguk menyetujui permintaan appa. What the ?!

Appa dan eomma masuk ke dalam apartemen Minho. Mereka langsung menghempaskan diri ke sofa, menghela napas panjang. Minho membawakan minum dan juga makanan ke meja ruang TV. Ia terlihat sopan karena selalu membungkukkan badan. Hal itu pasti membuat eomma dan appa semakin yakin kalau ia memang suamiku.

“Jadi kalian tinggal di apartemen ini ? Kenapa tidak beli yang lebih luas ? Jadi kalau appa dan eomma kesini, kita bisa ikut menginap,” appa memandangku dan Minho secara bergantian yang berdiri di samping sofa.

“Ne, kami lebih suka tinggal di apartemen kecil. Lebih hangat,” jawab Minho. Aku melempar tatapan penuh ancaman padanya, tapi ia malah mengendikkan bahunya.

“Ah, aku mengerti. Ada kabar bahagia apa lagi ?” tanya eomma.

“Kabar apa ?” tanyaku bingung. Eomma tertawa, ia menggenggam tanganku lembut.

“Eomma tanya, apa kau akan memberikan kami cucu ?” aku langsung menarik tangan dari genggaman eomma. Appa hanya tersenyum, kalau ia memberikan pertanyaan yang sama. Andwae !! Tidak akan pernah !!

“Tidak,” jawabku cepat.

“AH ! maksudku, tidak secepat itu,” ralatku kemudian. Mereka mengangguk. Apalagi sekarang ?

***

Aku duduk di balkon kamar Jino dengan kesal. Walaupun appa dan eomma menginap di hotel, tapi setiap hari mereka selalu datang ke apartemen Minho. Alasannya untuk melihat perkembanganku, atau melihat kehidupan kami. Mereka sudah menganggap Minho sebagai suamiku, dan aku tidak bisa menyakiti mereka. Sudah 2 minggu juga mereka disini, tapi belum menunjukkan tanda-tanda akan segera kembali ke Perancis. Akta pernikahanku sudah keluar, dan perceraian itu harus ditunda.

“Jadi, mereka menganggap laki-laki itu suamimu ?” tanya Jino sambil menyodorkan segelas wine padaku.

“Ne, dia memang suamiku. Tapi tidak seperti itu. Ah, aku bingung bagaimana cara menjelaskannya,” jawabku, menerima sodoran wine darinya.

“Kau mau aku bantu menjelaskannya ? Bilang kalau dia hanya suami yang salah, sedangkan aku calon suamimu yang benar ?” tawarnya. Aku meneguk wine itu lalu menggeleng.

“Biarkan mereka seperti itu. Aku akan tunggu sampai mereka pulang,” jawabku. Jino mengacak rambutku lembut, ia beranjak duduk di sebelahku.

“Jangan khawatir, nanti mereka akan melupakan ini dan segera kembali ke perancis,” seru Jino menyemangati. Aku memeluknya dari samping, beberapa saat seperti itu, membiarkan hawa musim panas menerpa wajahku.

“Hhmm, kau tidak akan meninggalkanku lagi kan ?” tanyaku masih terus memeluknya. Ia balas memelukku sambil mengangguk kecil.

“Tidak, kecuali kau sendiri yang membuat masalah dan membuatku kecewa,” jawabnya, terkekeh kecil. Aku memukul lengannya pelan.

Sesaat kemudian bel apartemen Jino berbunyi. Ia melepas pelukannya dan berjalan ke arah pintu. Aku mengikutinya dari belakang, siapa tahu itu tamuku. Jino membuka pintunya tanpa mengecek lewat loud speaker di samping pintu.

“Ada apa kau kesini ?” tanya Jino dingin. Aku menelengkan kepala melihat orang dibalik pintu.

“Minho ? Waeyo ?” tanyaku, menerobos ke hadapan Jino. Ia langsung menarik tanganku keluar dari apartemen Jino.

“Ya ! Jangan bawa pacarku !” teriak Jino. Minho menghentikan langkahnya, berbalik menatap Jino dengan tajam.

“Eomma mencarinya, dan menyuruhku untuk menjemputnya,” jawab Minho datar. Aku mencoba mengelak tapi Minho sudah menarik tanganku masuk ke dalam lift. Sejak kapan dia memanggil ibuku eomma ?

“Lepas ! Sakit Choi Minho !” aku melepas tangan Minho ketika sampai di samping mobilnya.

“Aku bisa masuk sendiri,” tambahku lalu masuk ke dalam mobil. Selama di mobil aku tidak mengeluarkan sepatah katapun padanya. Dia kira karena ia suamiku bisa seenaknya menarik-narikku menjauh dari Jino. Aku tidak pernah mengganggunya kalau bersama Hyunmi kan ? Tch, aku benci Minho.

“Kenapa diam ? Biasanya kau selalu merutuki kalau ditarik dari Jino,” sahut Minho. Aku melipat tangan di depan dada, memalingkan wajah keluar jendela.

“Tch, tidak penting memarahimu. Dan satu hal, sejak kapan kau memanggil ibuku eomma ?” tanyaku tanpa menatapnya.

“Sejak aku menjadi suamimu. Ia yang menyuruhku memanggilnya eomma, aku tidak bisa menolaknya,” jawabnya. Aku menolehkan kepala menatap Minho. Ia tidak bergeming ketika aku menghempaskan tubuhku sendiri ke kursi.

***

Kami berdua baru saja sampai saat melihat appa dan eomma tengah melihat-lihat apartemen kami –Minho. Mereka melihat-lihat rak buku di samping TV, mencari sesuatu. Refleks aku berlari menghampiri mereka dan menghalangi rak buku itu. Ada surat perceraian yang terselip, mereka tidak boleh melihatnya.

“Apa yang kalian lakukan ?” tanyaku sambil merentangkan tangan.

“Kami mau mencari album foto pernikahan kalian. Selama kesini kita belum pernah melihat satu fotopun terselip atau terpajang. Kami mau melihat gaun pernikahanmu Neul Rin,” jawab eomma, menatapku dengan memohon. Appa yang berdiri di sebelah eomma juga menatapku. Aku melirik Minho yang malah masuk ke dalam kamarnya. Apa yang ia lakukan ?

“Album fotonya belum jadi. Mungkin nanti,” balasku asal. Eomma tampak berpikir kemudian mengangguk.

“Kalau begitu eomma dan appa akan tunggu sampai album fotonya keluar,” eomma menatap appa yang tiba-tiba mengatakan pernyataan itu. Eomma, appa, sampai kapanpun album itu tidak akan pernah ada.

“Ini fotonya,” seru Minho tiba-tiba sambil menyerahkan selembar foto pada appa. Mereka langsung bergerumun melihat foto itu.

“Appa dan eomma tidak perlu menunggu sampai albumnya keluar. Kalian bisa menyimpan foto ini,” tambah Minho. Aku memandang heran padanya, ia hanya tersenyum dan mengendikkan bahu.

Aku menyelinap diantara mereka dan melihat foto itu. Foto ketika aku berdiri di hadapan Minho, sebelum aku tahu kalau ia bukan Jino. Aku masih menunduk, dengan penutup kepala yang sudah terbuka. Kami –aku dan Minho berekspresi senang ketika di foto. Apalagi ini ? Kenapa sampai bisa ada, dan ekspresinya. Ah !

“Oke, kami simpan foto ini. Besok kami harus pulang ke Perancis, tapi kalian tidak usah mengantar kami. Pihak hotel menyediakan angkutan ke Incheon,” ujar eomma sontak membuat hatiku bersorak sorai. Refleks aku tersenyum lebar.

“Kenapa ? Kau senang kami pulang lebih cepat huh ?” tanyanya lagi. Aku menggeleng dengan cepat.

“Sudahlah, kami berdua harus membereskan baju,” tambah appa kemudian beranjak keluar apartemen. Seperti biasa, aku mengantar mereka sampai ke depan gedung apartemen.

“Ah iya Neul Rin,” seru eomma lalu mengaduk-aduk isi tasnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar tiket –entah apa itu dan menyerahkannya padaku.

“Ige mwoya ?” tanyaku sambil menerima 4 lembar tiket pesawat itu.

“Ini tiket liburan ke Jeju Island. Untukmu dan Minho. Ada 4, tadinya kami berdua mau ikut, tapi ada panggilan mendadak. Jadi kalian simpan, untuk temanmu, atau orang tua Minho juga boleh. Terserah,” jawab eomma, menunjuk tiket di tanganku.

“Jinjja ? Kamsahamnida eomma !!” aku memeluknya erat. Appa sudah di dalam taksi jadi aku tidak bisa memeluknya juga. Mataku sudah mulai berkaca-kaca, berapa tahun lagi aku harus menunggu mereka kembali ke korea ?

“Eomma janji akan ke sini lagi tahun depan. Ulljima,” sahut eomma seolah tahu apa yang kupikirkan. Ia melepas pelukanku, dan mengusap rambutku pelan.

Eomma masuk ke dalam taksi. Sebelum pergi, mereka melambaikan tangannya ke arahku. Tepat saat itu juga air mataku jatuh. Lagi-lagi perpisahan, aku benci perpisahan.

Aku kembali masuk ke dalam apartemen Minho dengan membawa tiket-tiket itu di tanganku. 4 tiket, cukup untuk mengangkut kami berdua, Hyunmi, dan juga Jino. Semuanya berpasangan kan ? Baguslah.

“Kenapa senyum-senyum seperti itu huh ?” tanya Minho yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku. Aku mendongakkan kepala, masih tidak melepaskan senyuman dari bibirku.

“Apa itu ?” tanya Minho, menatap tiket-tiket yang kupegang.

“Ah ini. Tiket liburan ke Jeju, ada 4. Jadi kuberikan padamu 2, kau ajak Hyunmi, aku ajak Jino,” aku menyerahkan 2 lembar tiket padanya. Minho menaikkan sebelah alisnya sambil menerima tiket itu. Ia hanya diam dan memandangku yang berlalu ke ruang TV. Tidur-tiduran sambil memeluk tiket itu. Ah, aku tidak sabar menyerahkan tiket ini pada Jino.

– — – –

Minho POV

Aku memandang keluar jendela café yang tertetesi air hujan sambil memegang tiket liburan Jeju yang diberikan Neul Rin. Ia begitu senang saat bilang akan menyerahkan tiket itu pada Jino. Entahlah, aku sedikit tidak rela melihatnya bersama Jino. Tch, kau sendiri yang sudah buat mereka berbaikan.

“Minho ? Choi Minho !” seru Hyunmi membuyarkan lamunanku. Aku tersentak dan segera menegakkan posisi duduk. Ia duduk sambil mengerutkan keningnya heran.

“Melamun lagi ? Akhir-akhir ini kau selalu melamun. Bahkan tadi aku sudah memanggilmu beberapa kali, dan kau baru bergeming. Ada apa ?” tanya Hyunmi, menatapku aneh. Aku menggeleng dan menunjukkan tiket liburan ke Jeju itu.

“Jeju ! Jeongmal ? Darimana kau dapat tiket itu huh ?” ia merebut kedua lembar tiket itu dari tanganku. Matanya berbinar-binar menatap tiket itu.

“Dari Neul Rin. Ia dapat 4 tiket dari orangtuanya, ia memberikanku 2 tiket untuk mengajakmu. Sedangkan ia mengajak Jino,” jelasku. Hyunmi menatapku, ia tersenyum lebar.

“Antarkan aku beli baju renang, kajja !” tanpa aba-aba ia langsung menarik tanganku melesat keluar café. Sepertinya hatiku tidak seperti dulu lagi. Ada sesuatu yang menghapus perlahan-lahan hatiku padamu, Hyunmi.

***

9.00 am @ Jeju Island

“Hoaaa !! Lauut !!” seru Hyunmi dan Neul Rin bersamaan.

Hyunmi menggamit lenganku, sedangkan Neul Rin menggamit lengan Jino. Mereka jalan duluan di depanku, koper Neul Rin di bawa oleh Jino. Aku juga tidak mau kalah dan membawakan koper Hyunmi. Perjalanan menuju hotel, di dalam bus mereka juga duduk terpisah jauh di depanku. Yang terlihat hanya kepala mereka. Sesekali aku sedikit berdiri untuk melihat mereka. Ya, mereka tertidur, sama seperti Hyunmi yang duduk di sebelahku.

Di hotel, kamar yang dipesan eomma hanya 2. Guess what ? Neul Rin dengan Jino, dan aku dengan Hyunmi. Aku suaminya dan malah orang lain yang tidur dengan Neul Rin. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Hyunmi satu kamar dengan Jino. Apa aku harus pesan 2 kamar lagi, agar kami semua sendirian dalam satu kamar. Damn ! kenapa aku jadi memperhatikan mereka terus.

“Minho-ya !” sentak Hyunmi. Aku terkesiap kaget dan langsung menatapnya yang berdiri di sebelahku. Ia menaikkan sebelah alisnya heran. Aku menolehkan kepala ke depan, melihat Jino dan Neul Rin yang sudah masuk ke dalam kamar. Kami –aku dan Hyunmi masuk juga ke dalam kamar. Jeongmal, pikiranku tidak bisa teralihkan dari mereka. Apa yang mereka lakukan di dalam sana ?

“Choi Minho !” panggil Hyunmi sontak membuatku menoleh padanya.

“Waeyo ?” tanyaku lalu duduk di samping tempat tidur.

“Kau melamun lagi,” jawab Hyunmi sambil mengerucutkan bibir kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.

“Mianhae, aku hanya sedikit tidak enak badan,” balasku bohong. Hyunmi langsung duduk di atas tempat tidur. Ia memegang keningku dan menyamakan suhu dengan keningnya.

“Sedikit hangat. Kalau kau sampai sakit, kau akan rugi karena tidak bisa melihat pemandangan disini,” ia menurunkan tangannya dari keningku. Melihat pemandangan apa ? Pemandangan Neul Rin berdua dengan Jino ? Dan kenapa aku memedulikan hubungan mereka padahal aku sendiri sudah punya pacar.

Tanpa seizinku, bibirnya sudah menyentuh bibirku dengan lembut. Awalnya hanya seperti biasa, tapi lama kelamaan berubah menjadi lebih panas. Ia menyentuh kedua pipiku dan mendorong kepalaku agar menciumnya lebih dalam. Aku menikmatinya, tapi semuanya terbuyarkan ketika tiba-tiba saja sekelebat wajah Neul Rin muncul di benakku. Refleks aku mendorong tubuh Hyunmi menjauh, ia menatapku heran. Aku mengkhianati Neul Rin, aku tidak boleh seperti ini.

“Waeyo ?” tanya Hyunmi kecewa.

“Aku tidak enak badan. Sepertinya mau flu, aku tidak mau kau tertular penyakitku,” jawabku bohong ‘lagi’.

“Araseo, gwenchana,” balas Hyunmi lalu tidur-tiduran di tempat tidur. Aku menatap kosong ke depan. Membayangkan Neul Rin melakukan hal yang sama, tapi mungkin ia tidak memikirkanku sama sekali.

***

Setelah beristirahat lebih dari 2 jam, kami berempat keluar dari hotel untuk makan siang dan juga berjalan-jalan di pantai. Tanpa menoleh sedikit pun, Neul Rin pergi bersama Jino entah kemana. Sedangkan Hyunmi menarikku ke arah yang berlawanan dengan mereka.

“Kau mau makan apa ?” tanya Hyunmi. Aku menoleh ke arahnya. Ia tampak cantik dengan rok, baju pantai yang longgar, dan juga bunga di kupingnya. Tanganku merangkul pundaknya lembut.

“Terserah kau saja chagiya,” bisikku.

Restoran di daerah Jungmun beach menjadi tujuan final kami. Di restoran yang mengarah ke laut itu dengan jelas menunjukkan indahnya warna-warni pasir pantai Jungmun beach. Hyunmi terus berdecak kagum sambil menunggu pesanan kami datang.

“Aku merasa seperti bulan madu,” gumam Hyunmi tapi terdengar jelas di kupingku.

“Kau mau bulan madu kita seperti ini ? Aku akan buat lebih romantis,” balasku. Ia menoleh dengan cepat, wajahnya memerah. Aku terkekeh kecil.

Pesanan kami datang. Hyunmi menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya dengan cepat. Aku sampai tersenyum sendiri melihatnya. Dia benar-benar kelaparan.

“Hey lihat ! Itu Jino dan Neul Rin,” seru Hyunmi sambil menunjuk ke daerah pinggir pantai. Aku sedikit berbalik untuk melihat mereka. Main air, berlari-lari di pinggir pantai, saling merangkul satu sama lain, keserasian mereka membuat wajahku panas seketika. Ah gosh, ada apa denganku ? Kenapa semuanya menjadi panas disini ?

“Minho, ayo makan. Setelah itu kita main ke pantai,” ajak Hyunmi. Aku kembali menatap makanan itu, dan selera makanku hilang begitu saja. Aku memakan sedikit bagian dari kepiting itu.

Keadaan pantai sangat sepi karena memang ini bukan hari libur. Dengan leluasa kami berdua bisa main air di pinggir pantai tanpa ada yang mengganggu. Aku mendorong Hyunmi sampai ia terjatuh. Ia mengerucutkan bibirnya lalu menarikku sampai jatuh juga. Alhasil kami kembali ke hotel dengan baju yang basah.

“Hihi, aku senang bisa ke Jeju bersamamu,” sahut Hyunmi. Aku memeluknya kemudian masuk ke dalam kamar hotel.

Ia mandi, sedangkan aku berdiri di balkon kamar memandangi pesisir pantai Jungmun Beach. Terlihat jelas beberapa orang yang tengah memandang langit sore. Entah sudah berapa jam kami bermain di pantai, semua itu bisa membuatku sedikit melupakan Neul Rin.

“Choi Minho !!” seru Neul Rin dari balkon kamar di sebelahku. Ia tersenyum lebar sambil memandangku.

“Dimana Hyunmi ?” tanyanya. Aku menelengkan kepala ke belakang. Ia mengangguk mengerti maksudku.

“Dimana Jino ?” tanyaku lagi.

“Ia sedang mandi, sama seperti Hyunmi,” jawab Neul Rin sambil tersenyum kecil. Kami terdiam beberapa saat , menatap langit sore di Pulau Jeju.

“Mau pergi sebentar bersamaku ?” tanyaku. Ia menolehkan kepalanya.

“Ne ?”

“Pergi keluar, menunggu mereka mandi,” tambahku. Neul Rin mengangguk semangat lalu berlari ke dalam kamarnya. Aku juga masuk ke dalam kamar dan keluar dengan tergesa. Kami berdua bersamaan keluar dari kamar.

***

“Lihat ! Topi ini bagus kan ?” tanya Neul Rin sambil mencoba topi pantai di kepalanya.

“Ne, kau terlihat cantik,” jawabku. Ia mengembalikan topi itu ke tempatnya dan berkeliling lagi di dalam toko pernak-pernik. Aku memandangi Neul Rin, ia menyentuh semua barang yang terlihat menarik. Tapi ia malah mengambil sebuah barang yang terkesan antik menurutku.

“Omo~, gelas ini lucu,” gumamnya, memegang gelas antik itu. Neul Rin menyerahkannya pada kasir lalu membayarnya. Tapi dengan cepat kusergah tangannya.

“Biar aku yang bayar,” aku menyerahkan beberapa lembar uang pada pelayan kasir itu.

Aku senang kalau melihatnya senang juga. Jadi apapun yang dia mau, dan membuatnya senang apapun itu –termasuk Jino, akan membuatku senang walaupun sedikit menyakitkan. Neul Rin menarik tanganku masuk ke toko baju masih di sekitar toko pernak-pernik itu. Ia melihat-lihat semua baju yang ada.

“Annyeong, kami punya hadiah special untuk yang berbulan madu,” sahut seorang pelayan toko itu tiba-tiba. Aku dan Neul Rin menoleh bersamaan.

“Bulan madu ?” gumamku bersamaan dengannya.

“Ah ne, kami sedang berbulan madu. Apa hadiahnya ?” sergahku. Neul Rin hanya menatapku heran.

“Diskon 50% untuk couple shirt, kami juga memberi bonus cincin pasangan yang terbuat dari kayu. Kalian mau ?” tanya pelayan itu.

“Aku ambil itu,” jawabku cepat.

Akhirnya kami berdua memakai couple shirt keluar dari toko itu. Dengan cincin kayu di jari manis kami juga tentunya. Kami berdua kembali lagi ke pantai, menunggu sunset. Hanya tinggal 30 menit lagi, jadi kedai pinggir pantai menjadi tujuan akhir kami.

“Mmm, kenapa kau menjawab kalau kita. . yeah, errr, bulan madu ?” tanya Neul Rin ragu. Ia menundukkan kepalanya, memainkan sedotan yang tertancap di jus jeruk miliknya.

“Waeyo ? Kita memang berbulan madu kan ?” tanyaku dengan sedikit mengerlingkan mata. Ia mendongakkan kepala dan menyeringai kecil.

Semua orang berkumpul di pesisir untuk melihat sunset yang hanya beberapa menit lagi. Aku membawa Neul Rin duduk di atas pasir, menatap ke arah laut yang sudah berubah warna menjadi jingga. Ia menyandarkan tubuhnya di pundakku, dan dengan refleks aku merangkul pundaknya. Aku akan mengungkapkan semuanya, malam ini juga.

“Neul Rin, kau tahu ? Aku–,”

“Minho-ya !” aku menoleh mendengar suara melengking Hyunmi. Ia menghampiriku bersama Jino di sampingnya. Oh, kenapa mereka selalu menggangguku.

“Kami berdua menunggu kalian di hotel,” sambung Hyunmi sambil menarik tanganku untuk bangun. Jino berlari menghampiri Neul Rin dan langsung memeluknya. Hyunmi menarik tanganku lagi menjauh dari mereka.

***

Jam 12 malam, aku masih berguling-guling di atas tempat tidur mencoba mencari posisi yang nyaman. Hyunmi sudah tertidur pulas di sampingku. Entahlah, aku memikirkan Neul Rin saat ini. Apa yang ia lakukan di dalam kamar bersama Jino.

“Psst, psst,” suara desisan dari luar membuatku duduk di tempat tidur.

“Aku tahu kau belum tidur,” desis suara itu lagi. Aku berjalan membuka pengunci pintu menuju balkon. Setelah terbuka, tubuhku langsung di terpa angin malam. Aku menerobos angin itu melangkah ke bagian paling depan balkon.

“Kau belum tidur juga Neul Rin ?” tanyaku ketika melihatnya sedang menopang dagu di tembok pembatas  balkon yang menghadap ke laut.

“Yeah, aku tidak bisa tidur,” jawabnya. Ia beranjak ke bagian pinggir balkon, mengarah ke tempatku berdiri.

“Waeyo ?” tanyaku heran.

“Andai saja aku bisa lompat kesana. Tapi tidak mungkin, jaraknya terlalu jauh,” jawab Neul Rin. Ia terkekeh kecil sembari memainkan ujung rambutnya. Ya, terlalu jauh sampai wajahnya tidak terlihat jelas.

“…”

Tidak ada pembicaraan di antara kami berdua. Suasananya sangat canggung, mengingat kalau kami tidak tinggal dalam satu ruangan seperti biasanya. Mungkin ia tidak aneh karena pernah melihatku tidur dengan Hyunmi. Tapi melihatnya tidur bersama Jino, aku tidak yakin kalau wajah Jino masih utuh.

“Seharusnya ini liburan kita berdua kan ?” tanya Neul Rin memecah keheningan.

“Ne, seharusnya. Sudahlah tidak usah dibahas,” aku berdiri menghadap laut. Membiarkan angin malam dari laut menerpa semua bebanku. Siapa wanita yang aku cinta sebenarnya ? Hyunmi atau Neul Rin, mereka semua berarti bagiku.

“Tch, wajahmu konyol Choi Minho,” sahut Neul Rin tiba-tiba.

“Ya ! Apa kau bilang !” balasku, menghampirinya. Ia menjulurkan lidahnya ke arahku. Untung saja jarak balkonnya jauh, kalau tidak aku sudah loncat ke sana dan memukul kepalanya.

“Apa ?” tanya Neul Rin dengan nada menantang.

“Tch, ayo kita ke pantai,” ajakku. Ia tampak berpikir lalu mengangguk semangat.

“Sst, pelan-pelan,” tambahku ketika melihatnya tidak tenang. Ia mengangguk lalu melangkah pelan masuk ke dalam kamar.

– — – –

Neul Rin POV

Ia menggenggam tanganku lembut. Membawaku menelusuri pesisir pantai yang airnya sedikit pasang. Walaupun sudah lebih dari jam 12 malam, tapi suasana sangat romantis menurutku. Baju tipis yang kupakai tertiup angin laut, begitu juga dengan Minho. Aku merasa seperti benar-benar bulan madu. Ketika bersama Minho, aku bisa melupakan semuanya termasuk Jino. Tidak ! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya.

“Neul Rin-ah,” panggil Minho. Ia memberhentikan langkahnya, beralih berdiri di depanku dan memegang kedua tanganku.

“Apa ?” tanyaku heran sambil menatap kedua matanya yang besar. Ia terlalu tinggi untuk kutatap.

Ia memegang daguku lalu mengangkat wajahku menatap ke arahnya. Wajahnya merendah untuk menyetarakan tinggi. Dan sedetik kemudian sebuah ciuman lembut mendarat dengan mulus di bibirku. Masih sambil memegang dagu dan tanganku, ia memperdalam ciumannya. Mian Jino, aku tidak bisa memungkiri hatiku sendiri.

Minho menjauhkan wajahnya dengan perlahan. Mataku yang terpejam ikut terbuka seiring dengan terlepasnya ciuman itu. Minho segera memalingkan wajahnya, terlihat semburat rona merah di pipinya. Dan sepertinya wajahku juga memerah.

“Apa kita mengkhianati mereka ?” tanyaku.

“Tidak. Kita melakukan apa yang seharusnya. Kita berdua sudah menikah, mempunyai status yang jelas,” jawab Minho. Ia menggenggam sebelah tanganku lagi. Kami berdua kembali ke hotel. Sebelum masuk ke kamar masing-masing ia mengecup keningku sekilas.

“Jangan pernah lupakan malam ini. Thank you,” ujarnya kemudian masuk ke dalam kamarnya. Aku terhenyak, mencerna apa yang baru saja kulakukan. Aku sudah mencium seorang choi Minho ?

***

“Neul Rin-ah ! Ayo bangun !” teriakan Jino akhirnya membuatku bangun juga.

“Emmh, jam berapa sekarang ?” tanyaku masih tetap meringkuk di tempat tidur.

“Jam 8,” jawab Jino sontak membuatku duduk di tempat tidur. Aku segera berlari masuk ke dalam kamar mandi, mencuci muka dan menggosok gigi dengan asal.

“Huuffmp fudah makannm ?” teriakku dari dalam kamar mandi. Dan aku yakin Jino tidak bisa mencerna kata-kataku.

“Selesaikan dulu gosok gigimu baru bertanya !” balasnya berteriak juga. Aku segera berkumur-kumur, menyabet handuk yang ada dan mengeringkan mulut asal.

“Minho dan Hyunmi, mereka sudah sarapan ?” tanyaku setelah keluar dari kamar mandi.

“Sudah, ayo kita sarapan,” Jino merangkul pundakku keluar dari kamar hotel.

Hyunmi dan Minho makan di café yang ada di hotel itu. Jino membawaku menghampiri mereka dan ikut bergabung sarapan. Hyunmi dan Minho duduk bersebelahan, sedangkan aku bersama Jino. Minho masih focus pada makanannya, tapi sedetik kemudian ia medongak, menatapku dan tersenyum kecil. Wajahku memanas seketika. Oh gosh, ada apa ini ? Jangan sampai wajah merahmu terlihat Jino.

“Kalian mau kemana setelah ini ?” tanya Hyunmi memecah keheningan sarapan kami berempat.

“Mungkin naik kereta gantung. Kalian ?” jawab Jino sekaligus bertanya. Tunggu ! Kereta gantung ? Jino kan takut ketinggian ?

“Jeongmal ? Kita juga mau naik kereta gantung. Ayo kesana bersama-sama,” seru Hyunmi senang. Aku melirik Jino yang terlihat panik. Dasar bodoh, kenapa dia mengatakan itu huh ?

Guess what ? Kita berempat benar-benar naik kereta gantung. Jino memegang tanganku kuat, sangat kuat sampai keringat dingin keluar dari tanganku. Minho dan Hyunmi terlihat senang melihat pemandangan yang tersaji di depan mereka. Aku mencoba menenangkan Jino agar ia tidak semakin pucat.

“Kita turun di persimpangan depan saja. Kau sangat pucat,” tawarku sambil menatap wajahnya yang semakin pucat.

“Ahni, aku mau kita sampai di puncak gunung,” Jino mencoba tersenyum, tapi malah membuatku miris.

“Jangan paksakan diri. Nanti turun dari puncak gunung kau begini lagi. Aku marah kalau kau tidak mau turun,” ancamku. Jino menoleh, ia sedikit tersenyum, lebih baik dari sebelumnya.

“Baiklah, terserah kau saja,” balasnya.

“Aku tidak mau ikut denganmu kalau malah membuatmu pucat seperti ini. Kau ah–,” kereta gantung berguncang karena melewati tiang penyangga. Genggaman tangan Jino terlepas dan membuat tubuhku sedikit terpelanting ke belakang. Seseorang menangkap tubuhku, bukan Jino, tapi Minho ?

“Gwenchana ?” tanyanya khawatir. Aku terhenyak sebentar lalu bangkit dari pelukannya.

“Ne, gomawo,” jawabku kikuk. Hyunmi menatapku dan Minho bergantian. Ia berpegangan pada pegangan di dekat pintu. Minho masih menatapku khawatir, dengan segera kupalingkan wajah darinya.

“Kau tidak apa-apa ?” tanya Jino lagi.

“Aku sudah bilang tidak apa-apa,”

***

Jino mengelus rambutku pelan, ia berdiri di sebelahku, di balkon kamar menunggu sunset. Di sebelah kamar kami, hyunmi dan minho juga sedang bersama-sama memandang sunset yang akan terjadi beberapa menit lagi. Terpaan angin sore membuat suasana semakin romantis.

“Kau tahu ? Konon, pasangan yang berciuman saat sunset, cintanya akan abadi. Kau percaya itu ?” tanya jino membuka pembicaraan. Aku menunduk menatap jari-jari tanganku yang memegang pagar pembatas.

“Ya, aku percaya,” jawabku.

“Kau mau mencobanya ?” tanya jino sontak membuatku membelalakkan mata.

“Ne ?” tanyaku sambil mendongak ke arahnya. Ia melirik jam tangannya.

“5. .4. .3. .2. .1. .,”

Jino memegang kedua pipiku, sebuah kecupan di bibirku menemani kembalinya matahari ke peraduannya. Tanganku memeluk pinggang jino, masih tidak melepas ciuman itu. Minho ? Apa dia melihat ini semua ? Tidak, aku tidak mau ia melihatnya. Stop !

“Hmmph,” aku mendorong pinggang jino mencoba melepas ciuman itu. Tapi tenaganya lebih kuat, ia masih saja memegang kedua pipiku. Aku tidak bisa janji cinta kita akan abadi nantinya.

– — – –

Minho POV

Semuanya terasa begitu cepat. Perkenalan itu, pernikahan yang salah, tinggal dalam satu apartemen, dan rasa suka yang tiba-tiba saja tumbuh. Aku tidak tahu seberapa besar hatiku untuk hyunmi sekarang. Aku mengkhianati hyunmi, cincin pengikat ini pun sudah tidak berlaku lagi. Janji yang kubuat sudah kulanggar sendiri. Di tangan kiriku terlingkari cincin kayu, yang aku beli sepasang dengan yang dipakai neul rin.

“Mataharinya indah,” seru hyunmi membuyarkan lamunanku. Aku memandang ke ujung lautan, tempat matahari sudah separuh tenggelam.

“Kapan kita pulang ke Seoul ?” tanya hyunmi lagi.

“Besok. Waeyo ?” tanyaku, menoleh ke arahnya yang berdiri di sebelahku.

“Jeongmal ? Aku mau lebih lama lagi disini,” jawab hyunmi sambil mengerucutkan bibirnya. Aku mengacak rambutnya kasar.

“Lihat, sebentar lagi sunsetnya,” ia menunjuk ke depan, membuatku kembali menoleh ke depan.

Matahari sudah kembali ke tempatnya. Sekarang aku melihat sisa-sisa bayangan berwarna ungu di langit. Aku menoleh ke arah neul rin, dan langsung terpaku memandang mereka. Tanpa kusadari, tanganku terkepal keras, menahan kesal karena melihat mereka berciuman. Aku mencoba mengalihkan pandangan. Tapi kepalaku kembali menoleh ke arah mereka. Damn ! Kenapa mereka harus melakukan itu di depanku ? Tch, peduli apa neul rin padaku huh ?

Aku hanya suami yang salah, dan seharusnya dia yang menjadi suami neul rin.

“Minho, kau kenapa ?” tanya hyunmi, mengibaskan tanganya di depan wajahku. Aku tersentak lalu menatap hyunmi yang berdiri dengan heran. Refleks aku memeluknya, erat, sangat erat sampai aku bisa merasakan deru nafasnya. Ia membalas pelukanku. Aku tidak peduli dengan neul rin, aku tidak menyukainya.

“Ya ! Kau kenapa chagiya ?” tanya hyunmi lagi. Aku menggeleng masih tetap memeluknya.

“Jangan pernah tinggalkan aku,” ucapku lembut.

“Tidak, tidak akan pernah,” balas hyunmi. Tolong, hentikan waktu sekarang juga sebelum aku benar-benar tidak mencintai hyunmi lagi.

***

Lagi-lagi aku tidak bisa tidur. Baru jam 11 malam tapi hyunmi sudah tidur dengan tenang di sebelahku. Entah memikirkan apa aku ini. Pikiranku terlalu kacau akhir-akhir ini. Sejak kedatangan neul rin, semuanya berubah. Sikapku pada hyunmi, kehidupanku, termasuk perasaanku. Aaargh ! Tolong keluarkan aku dari situasi ini.

Aku memakai jaket tipis yang digantung di dekat pintu, kemudian keluar dari kamar hotel. Keadaan di lorong hotel sudah sangat sepi. Tapi aku tidak mempedulikan itu, yang penting sekarang bisa menghirup udara di luar sana.

Suara demburan ombak membuat perasaanku lebih tenang. Sambil sesekali menendang pasir yang ada. Hanya ada beberapa orang yang tengah duduk di kedai kecil, meminum soju. Aku berdiri menghadap laut, merentangkan tangan sambil memejamkan mata. Mencoba menghilangkan beban, dan kalau bisa perasaanku terhadap neul rin. Aku hanya mau hatiku ini milik hyunmi, bukan orang lain.

“Tch, kau kesini lagi,” seru seseorang tiba-tiba. Sontak aku membuka mata, menurunkan tangan dan menoleh ke samping. Neul rin melipat tangannya di depan dada, menatap ke laut sama sepertiku.

“Kenapa kau ada disini ?” tanyaku heran.

“Entahlah, hatiku menyuruhku kesini,” jawabnya.

Kami terdiam masih tetap memandang laut yang bahkan tidak terlihat sama sekali. Yang ada hanya airnya yang menyentuh punggung kaki kami.

“Well, kita pulang ke Seoul besok ?” tanya neul rin mencoba memecah keheningan.

“Ne, setelah itu aku akan segera mengurus perceraian kita,” jawabku ragu. Ia menoleh cepat ke arahku. Perceraian, sepertinya lidahku terlalu sulit mengucapkan itu.

“Yeah, kau benar,” balasnya, dengan nada sedikit kecewa. Aku berbalik, dan mulai melangkahkan kaki meninggalkan pantai untuk kembali ke hotel. Tapi tidak dengan neul rin, ia masih berdiri sambil menundukkan kepalanya.

“Rin-ah ! Kau tidak mau kembali ke hotel ?!” teriakku karena jarak kami yang cukup jauh. Ia menoleh sekilas lalu menggeleng.

Aku meninggalkan neul rin kembali ke hotel. Saat pintu lift terbuka, jino akan keluar bersamaan denganku yang akan masuk lift. Kami terpaku, saling menatap satu sama lain dengan pintu lift masih terbuka.

“Dimana neul rin,” tanyanya datar, dingin.

“Di pantai,” jawabku singkat kemudian masuk ke dalam lift. Sampai pintu lift tertutup, aku masih bisa melihatnya berlari ke pintu lobby.

– — – –

Author POV

Jino berlari keluar dari lobby hotel. Ia ingin sesegera mungkin sampai di pantai, menemui neul rin. Tepat saat ia akan memasuki wilayah pantai, neul rin sudah berjalan kembali ke hotel. Jino segera mencegahnya, ia sedikit terhenyak ketika melihat sebulir air mata di pipi neul rin.

“Apa yang minho lakukan ?” tanya jino penuh selidik. Neul rin mengusap air matanya dan tersenyum sewajar mungkin ke arah jino.

“Apa ? Ia tidak melakukan apa-apa,” jawabnya. Jino masih tidak percaya apa yang dikatakan gadis di hadapannya.

“Kau bohong,” sergah jino. Neul rin merutuki dirinya sendiri, kenapa ia harus menangis hanya karena laki-laki yang sama sekali tidak dicintainya. Hanya menyukainya.

“Tidak, aku hanya ingat appa dan eomma,” elak neul rin. Ia masih berdiri didepan jino, menatapnya dengan yakin. Jino mengangguk, mencoba tidak mengetahui lebih jauh lagi alasan kenapa neul rin menangis. Ia menggenggam kedua tangan gadisnya.

“Aku akan terus di sisimu neul rin,” dengan perlahan jino menarik gadis itu ke dalam dekapannya.

Neul rin menangis lagi, ia salah sudah menyukai seseorang yang bahkan tidak peduli padanya. Ia salah sudah mengkhianati jino, yang jelas-jelas selama ini ada di sampingnya. Neul rin semakin memperkeras tangisannya di dalam pelukan jino. Mungkin bercerai dengan minho adalah jalan terbaik, sebelum rasa suka itu semakin menjadi-jadi.

-to be continued-

ga bisa ninggalin dunia ff :D

jadi dimohon comment nya :D

 

P.S :

ultah minho udah lewat . .

bentar lagi kan onew

rencananya aku mau bikin ff special jinki-ji kyo

kayanya sedikit NC sih

pada mau ga ?

Comment !

One thought on “[FanFic] Wrong Marriage (3rd Part)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s