[FanFic] Wrong Marriage (2nd Part)

Title : Wrong Marriage

Author : Ima Tripleshawol

Cast       : Choi Minho, Choi Hyunmi, Kim Neul Rin

Other   : Cho Jino (S.M. The Ballad)

Rating : PG-15

Length : Series

Genre   : Comedy Romance

“Aku. . sebagai suamimu,”

“Eh ?” tanyanya heran.

“Ahni, aku hanya bercanda,” sergahku lalu menjalankan mobil lagi.

“Ya ! Kau menyebalkan choi Minho !” teriaknya sambil memukul lenganku. Aku tersenyum kecil, ekspresi Neul Rin sangat lucu saat aku mengatakannya. Apa tadi wajahnya memerah ? Ya, kurasa.

***

Kami berdua –aku dan Neul Rin- bergegas pergi ke pengadilan untuk mendaftarkan perceraian kami. Tapi semuanya sia-sia, pernikahan kami belum seminggu, akta pernikahan pun belum keluar. Sekarang kami harus menunggu sampai akta pernikahan keluar, kira-kira 2 minggu lagi.

“Bagaimana kalau Hyunmi membenciku ?” tanya Neul Rin ketika kami dalam perjalanan pulang.

“Ahni, dia tidak membencimu. Dia pengertian, lagipula ada cincin ini sebagai pengikat kami,” jawabku, mengangkat jari manis yang terlingkari cincin. Ia mengangguk sambil tersenyum lega.

“Baguslah. Ah iya, aku harus ke supermarket dulu,”

“Untuk ?”

“Membeli majalah property. Aku harus cari apartemen baru dalam waktu dekat ini,”

Neul Rin membuka tas slempangnya, mencari-cari sesuatu. Ia mengeluarkan kertas kecil dan juga pulpen. Tangannya sibuk menulis-nulis sesuatu. Aku melirik sedikit melihat apa yang di tulisnya.

“Kau menulis apa ?” tanyaku sambil tetap menatap jalanan.

“Hal-hal prioritas dalam waktu seminggu,” jawabnya, memasukkan pulpen itu ke dalam tas. Baru aku akan bertanya ia sudah membuka mulutnya lagi.

“Pertama, membeli apartemen baru. Dua, ponsel baru. Tiga, mengurus perceraian kita. Empat, melupakan hal-hal tidak penting yang mengganggu pikiran,” jawab Neul Rin lalu memasukkan kertas itu kembali ke dalam tasnya.

Prioritas terakhir, Ia berusaha melupakannya ? Baguslah, aku tidak perlu melihat wajahnya yang selalu sedih itu.

“Stop ! stop ! Aku turun disini. Kau pulang duluan saja, aku masih lama,” perintahnya kemudian turun dari mobilku. Ia langsung berlari masuk ke dalam supermarket tanpa menoleh lagi. Sedangkan aku menatapnya heran.

“Dasar aneh,” gumamku.

Aku meneruskan lagi perjalanan ke apartemen. Tepat berhenti di persimpangan jalan, aku mencari-cari kartu parkir apartemen di dalam dashboard. Setelah menemukannya, aku menyimpannya di depan kemudi. Tapi mataku menangkap secarik kertas tergeletak di bawah, dekat kaki Neul Rin tadi. Aku memungutnya.

63 Building, Deongjun-Seoul

15th floor number 275.

Cho Jino address ^^

***

Aku masih saja memandangi alamat itu, menimbang-nimbang keputusanku. Neul Rin belum pulang, dan aku masih memikirkan alamat itu. Pintu apartemenku terbuka, aku segera beranjak keluar kamar.

“Ah, kau ada dirumah ?” tanya yeoja yang baru saja masuk ke dalam apartemenku.

“Hyunmi ?” tanyaku heran. Ia tersenyum sekilas lalu membawa tas plastic di tangannya ke dapur. Ia mengeluarkan beberapa bahan makanan, menyusunnya ke dalam kulkas.

“Kau heran kenapa aku kesini ?” tanyanya, tepat seperti apa yang kupikirkan. Ia membalikkan badannya dari kulkas, menatapku dengan menaikkan sebelah alisnya.

“Kau lupa hari apa ini ?” tanyanya lagi. Aku melirik kalender yang tergantung di dinding dekat pintu kamarku. Terdapat tanda Love disana, hari ini, 18 November 2010, 5th Anniversary. Damn ! kenapa aku bisa lupa ?

“Kau lupa ?” tanya Hyunmi membuyarkan lamunanku. Ia berjalan menghampiriku, berdiri di depanku, mendongakkan kepalanya lalu memegang kedua tanganku.

“Happy 5th anniversary chagiya,” ujarnya. Ia sedikit berjinjit. Aku merendahkan kepala, menyetarakan tinggi dengan Hyunmi yang sepertinya kesusahan meraih bibirku. Sesaat kemudian bibir kami menempel satu sama lain masih tetap saling menggenggam tangan. Tanganku beralih memegang kedua pipinya.

Beberapa menit kemudian bibirku terlepas dari ciuman itu. Senyumnya mengembang, lebih lebar dari sebelumnya. Ia menepuk-nepuk pipiku pelan kemudian kembali lagi ke dapur. Aku tersenyum, sudah 5 tahun kami pacaran, dan harusnya kami menjadi suami-istri sekarang.

“Kau mau masak ?” tanyaku, berjalan menghampirinya. Ia mengangguk kecil sambil memotong kentang-kentang yang baru dibelinya.

“Special Candle Light Dinner,”

“Mau kubantu ?” tawarku. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

“Ahni, kau hanya duduk manis di sofa. Aku yang akan masak semuanya,” Hyunmi mendorongku keluar dari dapur.

Belum sempat aku duduk di sofa, pintu apartemenku terbuka. Neul Rin masuk dengan tas plastic di tangannya juga. Hyunmi yang ada di dapur menoleh dengan cepat ke arah pintu. Mereka berdua bertatapan, tapi Neul Rin segera memalingkan wajahnya.

“Ah iya, aku lupa disini ada penghuni lain,” sahut Hyunmi dari arah dapur. Langkah Neul Rin terhenti, ia menaruh belanjaannya di atas meja ruang TV.

“Sepertinya ada yang tertinggal. Haish, aku pergi dulu,” seru Neul Rin sambil menepuk kepalanya. Ia meraih dompetnya di atas meja lalu keluar lagi dari apartemenku. Hyunmi menaikkan alisnya heran, tapi kemudian kembali mencuci sayurannya.

***

Hyunmi menyusun makanan yang sudah dibuatnya. Lampu-lampu besar dimatikan dan hanya menyalakan lampu kecil yang tergantung di atas meja. Membuat suasana lebih romantis, lilin pun di susun di atas meja makan berbentuk lingkaran itu.

“Kenapa kau yang siapkan semuanya ? Seharusnya aku ikut membantu,” ujarku, menarik kursi untuknya duduk.

“Setiap tahun kau yang selalu buat kejutan, walaupun aku di luar negeri. Video kembang api, foto-foto lucumu dengan lilin, dan terakhir pemandangan yang kau rekam di Jeju. Saat itu aku merasa kita seperti sedang kencan,” ia menopang dagunya di atas meja.

Aku menyuruhnya diam dan segera memulai makan malam romantis itu. Diawali dengan saling membenturkan ujung gelas yang berisi wine. Kemudian memakan steak yang dibuat Hyunmi. Waktu terasa sangat lama malam ini. Membuatku lebih leluasa memandang wajah Hyunmi dari jarak dekat. Ah, aku baru sadar kalau aku merindukannya.

“Minho-ya ? Jangan memandangku seperti itu,” seru Hyunmi. Aku terkekeh kecil lalu mengacak rambutnya lembut.

“Saranghae,” ujarku lembut.

“Ne, nado saranghae Choi Minho,” balasnya.

“Seharusnya kau memanggilku oppa. Kita berbeda 2 tahun kan ?” tanyaku.

“Ne Minho oppa,” jawabnya, “Haish, aku tidak biasa. Yang cocok itu Jinki oppa, kalau kau lebih pantas di panggil Minho tanpa embel-embel apapun,” lanjutnya.

“Haah,” aku mendesah napas panjang, “baiklah,” jawabku pasrah.

Lilin-lilin itu masih tersusun rapi di atas meja, lampu-lampu pun belum dinyalakan. Aku masih mau berdua dengannya, seperti ini, dan kalau bisa selamanya.

“Yeoja itu, apa kau sudah mengurus perceraian kalian ?” tanya Hyunmi setelah membersihkan mulutnya dengan tissue.

“Namanya Neul Rin. Pengadilan bilang, kita harus tunggu sampai akta pernikahannya keluar,” jawabku sambil menaruh garpu dan pisau saling menyilang di atas piring.

“Kau tahu ? Sepertinya aku cemburu. Aku tidak suka melihatmu dekat dengannya, apalagi kalian tinggal bersama. Setiap malam aku tidak bisa tidur memikirkan kalian, apa yang kalian lakukan tepatnya. Aku selalu berusaha mengenyahkan pikiran negative itu, tapi aku tidak memungkirinya. Aku sangat cemburu. .” balas Hyunmi, menundukkan kepalanya. Aku menggenggam tangan Hyunmi dengan erat.

“Kau bisa percaya padaku. Atau kau mau tinggal disini juga ?” tawarku tanpa memikirkan pertanyaan itu sebelumnya. Tentu saja ia akan jawab iya, Minho pabo.

“Jinjja ? Aku boleh tinggal disini juga ?” tanyanya. Mata Hyunmi membulat, sorot matanya menandakan kalau ia sangat berharap.

“Ne, jinjja,” jawabku. Ia balas menggenggam tanganku lalu tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapi dan bersih.

– — – –

Neul Rin POV

Apa aku bilang. Hyunmi tidak suka aku tinggal di apartemen Minho. Siapa yang suka pacarnya tinggal bersama seorang wanita di satu apartemen. Aku harus lebih cepat cari tempat baru.

Akhirnya kuputuskan mencari apartemen daripada harus menunggu kedua orang itu. Hanya di sekitar Han river, apartemen yang murah dan cukup luas. Lagipula aku tinggal sendirian, ukuran 3×3 meter pun cukup.

“Tidak ada kamar kosong ?” tanyaku kecewa. Ahjumma di depanku menggeleng sambil mengipas-ngipaskan Koran ke lehernya.

“Ya, tadi baru ada yang sewa apartemen itu. Kau kurang cepat,” jawabnya. Aku tertunduk lesu, kemana lagi ? Sudah lebih dari 5 gedung apartemen yang aku tanya. Tapi semuanya sama, penuh.

“Kamsahamnida ahjumma,” aku membungkukkan badan sedikit kemudian keluar dari apartemen ahjumma itu.

Di depan gedung apartemen yang baru saja aku masuki, banyak kedai-kedai kecil yang menjual pernak-pernik dan juga makanan kecil khas korea. Aku menghampiri salah satu kedai pernak-pernik. Sedikit berdesak-desakkan untuk mencapai barisan paling depan.

Kalung, anting, gelang, kipas. Tapi yang membuatku masuk ke toko ini adalah gelang-gelangnya. Aku suka mengoleksi gelang-gelang yang bentuknya aneh. Atau yang warnanya aneh pun aku suka.

Aku mengambil sebuah gelang yang paling terlihat antic di antara semuanya.Tapi di saat yang sama seseorang juga menyentuh gelang itu. Aku menolehkan kepala ke arah orang itu. Jino !

“Buat kau saja,” sahutku cepat kemudian keluar dari kerumunan orang itu. Wajahnya membuatku kesal, kalau aku ingat beberapa hari yang lalu ketika ia jalan dengan yeoja lain. Apa urusanku ? Kita berdua bahkan sudah putus.

“Neul Rin !” panggilnya. Aku menghiraukan panggilan Jino dan berjalan secepat mungkin meninggalkannya.

“Stop,” ia menarik tanganku sehingga berbalik ke arahnya. Tenggorokanku semakin tercekat melihat ekspresinya, ia terlihat dingin.

“Waeyo ?” tanyaku ketus. Jino menyodorkan satu kotak merah berbentuk hati padaku. Alisku bertaut, apa maksudnya ?

“Apa ?” tanyaku sesingkat mungkin.

“Cincin kita. Simpan untuk pacar barumu itu, kalau kalian akan menikah, kabari aku,” jawab Jino dingin sambil memaksa kotak itu masuk ke tanganku. Ia pergi begitu saja. Aku menatap kotak itu, membukanya dan melihat sepasang cincin bersayap di dalamnya. Air mata yang mulai tergenang pun segera kutahan agar tidak keluar. Jangan menangis disini Neul Rin.

***

Film di bioskop tadi cukup membuatku terhibur. Setidaknya aku tidak harus memikirkan Jino, dan sikap dinginnya.

Aku segera meninggalkan gedung bioskop kembali ke apartemen Minho. Dengan berjalan kaki juga cukup karena hanya berjarak 500 meter. Sambil menikmati pemandangan mewah kota Seoul di malam hari. Yang membuatku kesal, hampir yang ada disini, semuanya berpasangan. Mereka saling menggenggam tangan, merangkul satu sama lain, bahkan saling menyuapi es krim.

Akhirnya, setelah melihat pemandangan tidak enak itu aku sampai di depan pintu apartemen Minho. Dengan kunci cadangan yang ada, aku membukanya perlahan. Tapi tidak ada siapa-siapa. Sepertinya dia mengantar Hyunmi ke apartemennya. Baguslah.

“Kkkk, kau selalu bercanda Minho,” suara seorang yeoja terdengar dari kamar Minho. Aku membukanya perlahan, sedikit menyembulkan kepala melihatnya. Ternyata Minho dan Hyunmi, mereka saling memeluk satu sama lain di atas tempat tidur. Tenang, mereka masih pakai baju.

“Hey, kau tidak bisa ketuk pintu dulu ?” tanya Minho. Hyunmi menoleh ke arahku, tatapannya tajam seperti tadi.

“Apa yang kalian lakukan ?” tanyaku keceplosan. Ah ! Kenapa aku menyanyakan pertanyaan bodoh itu !

“Bukan urusanmu,” sergah Hyunmi semakin mempererat pelukannya.

“Hyunmi akan menginap disini. Tenang saja, dia akan tidur disini bersamaku. Tadi aku sedang menemaninya,” jawab Minho dengan sedikit senyuman.

“Ah ne, selamat tidur,” ucapku kemudian menutup pintunya. Hanya itu ? Hhh, aku juga suka menginap di apartemennya Jino. Aku juga tidur dengannya di kamar, tapi hanya tidur biasa, tidak lebih.

Aku meminum segelas air dengan cepat. Masih ada sisa-sisa lilin di atas meja makan dan juga piring kotor di tempat cuci piring. Tanpa berniat sedikit pun mencucinya, aku beranjak ke sofa. Merebahkan diri sampai akhirnya tertidur lelap.

***

Suara ribut-ribut di dapur membuatku membuka mata dengan terpaksa. Sinar matahari dari jendela  menyambut mataku dan langsung kusipitkan. Hyunmi berdiri di dapur, tengah mengaduk-aduk sesuatu di atas wajan. Dengan gontai aku berjalan menghampirinya.

“Sedang apa ?” tanyaku sambil menggeliat.

“Masak untuk sarapan. Err, bisa kau bangunkan Minho ? kami harus pergi pagi-pagi,” serunya masih sibuk dengan telur yang juga sedang di goreng. Aku berjalan masuk ke dalam kamar Minho, ia masih tidur terlelap disana. Seperti biasa, tanpa memakai baju atasan.

“Ya ! Choi Minho ! Ayo bangun, istrimu. Ah –calon istrimu- maksudku, sudah membuat sarapan. Ayo bangun !” teriakku, menendang-nendang punggungnya. Ia menggeliat kemudian membalikkan tubuhnya.

“Choi, ayo bangun,” panggilku sekali lagi. Ia membuka matanya perlahan, menatapku yang berdiri tepat di depannya.

“Ne,” jawabnya singkat, duduk di atas tempat tidur.

Aku segera keluar dari kamarnya. Hyunmi menata nasi goreng dan telur mata sapi yang dibuatnya di meja makan. Minho berlari menyusulku menghampiri Hyunmi. Ia mengacak rambut Hyunmi lalu mencium keningnya. Mereka saling mengucapkan selamat pagi. Kenapa rasanya jantungku berdetak kencang ? ah, ada apa ini ?

“Ayo makan Neul Rin-ssi,” panggil Hyunmi membuyarkan lamunanku. Mataku mengerjap, dan dengan cepat ikut duduk di meja makan.

Rasa aneh itu masih saja menyerangku ketika sarapan tadi. Melihat Minho dan Hyunmi yang saling menyuapi, walaupun hanya sesekali. Entah perasaan apa itu.

“Kita jadi ke rumah Ji Kyo eonni ?” tanya Hyunmi dari arah dapur yang tengah mencuci piring.

“Ne ! Aku siap-siap dulu,” jawab Minho dengan berteriak dari dalam kamar.

Aku membuka-buka majalah yang ada. Membolak-baliknya dengan kesal. Mereka tidak sadar aku ada disini ? Yeah, anggap saja aku tidak ada.

– — – –

Minho POV

Seminggu sudah pernikahan yang salah itu berlangsung. Hyunmi yang mau tinggal di apartemenku tidak jadi karena ada tugas dari kantornya diluar kota. Neul Rin belum dapat apartemen baru, dan sikapnya masih sama. Kadang ia menatap layar ponselnya bingung, seperti menimbang-nimbang sesuatu tapi kemudian menurunkannya lagi. Sikapnya membuatku bingung, cara apa lagi supaya sikap dinginnya berubah jadi ceria lagi. Apa aku harus mempertemukannya dengan Jino ? Haruskah ?

“Kau merindukannya ?” tanyaku. Neul Rin tersentak, ia mengalihkan pandangannya dari jendela menatap ke arahku yang berdiri di dekat pintu kamar.

“Merindukan apa ?” tanyanya lagi. Aku berjalan menghampiri Neul Rin, berdiri tepat di depannya.

“Kau mau bertemu dengannya ?” tanyaku sambil melipat tangan di depan dada.

“Bertemu siapa ?” tanya Neul Rin lebih heran. Keningnya berkerut menunggu jawaban dariku.

“Dengan Cho Jino. Aku tahu perasaanmu,” ia menundukkan kepalanya sekilas. Tapi kemudian mengangkatnya, menatapku dengan sebuah senyuman di bibirnya.

“Kalau kau tahu alamatnya,” syaratnya. Tanpa menunggu syarat-syarat yang akan di keluarkannya lagi, aku menarik tangan Neul Rin keluar dari apartemen. Aku tahu alamatnya.

Beberapa menit kemudian, kami sampai di depan gedung apartemen yang cukup mewah. Neul Rin menundukkan kepalanya, ia sama sekali tidak mau menatap gedung apartemen itu.

“Aku mohon, kita pulang sekarang,” pintanya. Aku menggeleng dan turun dari mobil. Membuka pintu mobil di dekat Neul Rin, menyuruhnya turun.

“Kau harus hadapi semuanya,” kutarik tangannya agar ia keluar dari mobil. Keluar dari mobil ia masih tetap menundukkan kepalanya. Aku menggenggam tangannya, memberikan semangat.

Ting

Pintu lift terbuka di lantai 15. Aku melangkah keluar dari lift, tapi Neul Rin masih diam di dalam. Lagi-lagi kutarik tangannya agar ia mau keluar. Ia sedikit tersentak, tapi kemudian mengikutiku mencari kamar nomor 275. Beberapa pintu setelah keluar dari lift, terpampang sebuah pintu bernomor 275. Aku menatap Neul Rin, ia balas menatapku dengan nanar. Perlahan ia menggelengkan kepalanya, menyuruhku tidak menekan bel yang ada di pintu itu.

“Aku harus melakukan ini,” aku menekan bel itu sekali. Tidak ada jawaban. Kedua kali akhirnya terdengar suara-suara dari dalam. Sebuah suara keluar dari loudspeaker kecil yang ada di samping pintu.

‘Siapa ?’ tanya suara di loud speaker itu. Aku menatap Neul Rin lagi, lalu ia berdehem kecil.

“Kim Neul Rin,” jawabnya sedikit bergetar. Tak lama kemudian pintu di hadapanku terbuka. Jino memandang kami satu per satu dari balik pintu yang masih terkunci dengan rantai kecil.

“Ada apa ? Mau mengirim undangan pernikahan ? Maaf, tapi aku-,”

Can you shut up for a while ?” tanyaku emosi. Ia melebarkan pintu apartemennya, memperjelas wajah dan seluruh tubuhnya. Ia menaikkan sebelah alisnya.

“Kalian punya waktu satu menit,” ujar Jino sambil melirik jam tangan yang dipakainya.

“Oke, pertama-tama. Kau salah paham tentang kami. Kami memang menikah, tapi itu ‘sama sekali’ tidak disengaja. Semuanya hanya miss komunikasi dan juga kesalahan teknis. Ia bukan pacarku, bahkan sebelumnya tidak pernah kenal-,”

“20 detik lagi,” potongnya.

“Kami hanya teman biasa ! Pernikahan yang salah !” teriakku. Ia melirik jam tangannya sekilas kemudian menutup pintu apartemennya tanpa merespon penjelasanku. Aku menendang pintu itu dengan kesal.

“Damn ! Kau akan menyesal meninggalkan Neul Rin !” teriakku lagi. Neul Rin menepuk pundakku pelan. Ia menggelengkan kepalanya, mengajakku pulang.

Di mobil, Neul Rin hanya diam saja. Kami berdua masih berada di tempat parkir gedung apartemen Jino. Aku belum mau beranjak dari sini sampai Neul Rin memberanikan dirinya melawan Jino. Ia harus melakukan itu atau akan terus disakiti olehnya.

“Kau takut ?” tanyaku akhirnya. Ia mengangguk sekilas sambil menatap keluar jendela.

“Karena kau masih mencintainya kan ?” ia mengangguk lagi menjawab pertanyaanku. Aku mendesah napas panjang lalu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi mobil.

Sesaat kemudian Jino keluar dari gedung apartemennya. Ia memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobilku. Mobilnya berjalan dan kami pun mengikutinya.

***

Mobil Jino berhenti di sebuah restoran di daerah Insadong-gil. Ia memasuki restoran masih tidak lepas dari pandanganku. Ia sendirian, duduk di salah satu meja di café itu. Memesan makanan pada seorang pelayan wanita yang bekerja di restoran itu.

“Itu restoran favorit kami,” sahut Neul Rin tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya, ia menatap Jino dengan tatapan kosong. Aku kembali memandangi Jino, sampai makanan yang dipesannya sudah jadi. Neul Rin menutup mulutnya tidak percaya.

“Waeyo ?”

“Ia memesan makanan kesukaanku yang ia tidak suka. Bagaimana bisa ? Ia alergi makanan laut seperti itu,” ujarnya. Jino hanya memandangi makanan di depannya. Lobster berukuran cukup besar dengan makanan tambahannya yang juga berasal dari laut. Apa mungkin ?

“Jino masih mencintaimu juga Neul Rin. Sekarang juga kau harus menghampirinya, tanpa aku,” seruku. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

“Harus,” aku membuka pintu di sebelahnya masih dari dalam mobil. Setelah mengambil napas beberapa kali, ia akhirnya turun dari mobil.

Neul Rin memasuki restoran itu. Ia berjalan menghampiri meja Jino, mengobrol sebentar kemudian duduk di hadapan Jino. Beberapa saat mereka mengobrol dengan tenang. Sesaat kemudian setelah pembicaraan tenang itu, Neul Rin terlihat emosi. Ia beranjak dari meja Jino keluar dari restoran. Jino terdiam beberapa saat, tapi kemudian berlari mengejar Neul Rin yang sudah keluar restoran. Ia memeluk Neul Rin. Dan disaat yang sama, entah kenapa tiba-tiba wajahku memanas.

– — – –

Author POV

Neul Rin masuk ke dalam restoran itu dengan langkah perlahan. Dentingan bel di pintu membuat Jino yang duduk memandangi makanannya, menoleh ke arah pintu. Kedua pasang mata itu bertemu. Beberapa detik mereka terus seperti itu, sampai akhirnya Neul Rin mendekati meja Jino.

“Kau mengikutiku huh ?” tanya Jino. Ia melipat tangannya di depan dada sambil menatap keluar jendela. Neul Rin diam beberapa saat, lalu tersenyum lebar.

“Kau membohongi dirimu sendiri Jino,” Neul Rin duduk di hadapan Jino. Ia menatap makanan yang tersaji di meja itu satu per satu.

“Membohongi apa ?”

“Kau alergi makanan laut tapi kau memesan itu semua,” jawab Neul Rin. Jino tersadar sesuatu, ia memandangi makanan laut yang di pesannya. Apa yang ia pesan ? Ah tidak mungkin. .

“Apa urusanmu huh ? Aku sedang menunggu seseorang,” elak Jino. Tapi matanya tidak bisa membohongi Neul Rin.

“Kau salah paham Jino. Aku tidak sengaja terlibat pernikahan itu, ia –Minho- bahkan belum pernah aku kenal sebelumnya. Kau tahu saat pernikahan kemarin aku sakit ? Setelah pernikahan yang salah itu aku pingsan seharian. Saat aku menemuimu di depan pintu apartemenku, kau sudah salah paham. Eomma dan appa menjual apartemenku karena mereka tahu aku akan menikah. Dan sekarang, aku tinggal bersama namja yang baru kukenal seminggu yang lalu,” jelas Neul Rin panjang lebar. Sedangkan yang di ajak bicara hanya diam merenungkan kata-kata gadis itu.

“Aku tidak peduli dan tidak akan pernah peduli. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang,” Jino menatap wanita di hadapannya dengan dingin. Neul Rin menggelengkan kepalanya tidak percaya, laki-laki yang dulu di cintainya berubah hanya karena kesalahpahaman.

“Tch, aku hanya mau menjelaskan apa yang tidak aku lakukan. Pernikahan itu bukan main-main, kalau aku bisa memilih, lebih baik aku pingsan sebelum hari pernikahan kita. Dengan begitu aku tidak akan terjebak situasi seperti ini. Dan satu hal, aku menyesal sudah berbicara dengan orang yang keras kepala sepertimu,” gadis itu beranjak dari kursinya meninggalkan restoran.

Sepeninggal Neul Rin, Jino merenungkan kata-katanya lagi. Ya, mungkin ia salah tidak mau mendengar penjelasan Neul Rin. Ia tidak mengerti keadaan Neul Rin saat itu. Ia tidak bisa memungkiri kalau hatinya masih tidak rela melihatnya bersama laki-laki lain. Hatinya masih bertaut pada Neul Rin, ia masih mencintainya.

Dengan cepat Jino bangkit dari kursinya. Berlari mengejar Neul Rin yang sudah keluar dari restoran. Ia mengejarnya keluar. Tepat setelah ia keluar dari sana, tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan Neul Rin. Membuat gadis itu menoleh. Tanpa berlama-lama Jino menarik Neul Rin ke dalam dekapannya. Pelukan hangat yang biasa ia berikan padanya.

“Aku minta maaf. Mianhae, kalau selama ini aku tidak mau mendengarkanmu,” seru Jino sambil mengelus rambut gadisnya lembut. Entah hal apa yang membuat Neul Rin membalas pelukan Jino. Beberapa saat mereka terlarut dalam pelukan itu. Neul Rin memuji dirinya sendiri, ia berhasil menjelaskan semuanya. Ia berharap kejadian hari ini bukan mimpi, dan ia mau waktu berhenti saat itu juga.

– — – –

Neul Rin POV

Setelah kejadian itu, kami kembali lagi seperti dulu lagi. Kami berpacaran lagi, dan ia mau menunggu sampai aku bercerai. Setelah menjelaskan semuanya, sejelas-jelasnya, ia meminta maaf. Berkali-kali sampai aku sendiri bingung harus membalas apa lagi. Dan sejak itu juga, hidupku kembali seperti dulu lagi. Perasaanku cerah lagi seperti dulu. Tapi ada satu hal yang meragukan itu semua, entahlah.

“Ya ! Choi Minho, hari ini aku akan pergi dengan Jino. Mungkin sampai malam, kau tidak usah menungguku. Ara ?” ujarku sambil berkaca di kamar Minho. Ia yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan majalah di tangannya hanya mengangguk-angguk. Beberapa menit lagi Jino akan menjemputku, untuk pergi ke Everland. Tempat kencan kami seperti biasanya.

“Selesai,” sahutku setelah memastikan penampilanku sekali lagi. Segera kuraih tas tanganku, menatap Minho sekilas lalu melesat keluar kamar.

“Ah iya ! Minho-ya, masih ada pie apel yang kubuat kemarin di kulkas. Kalau kau mau habiskan saja,” teriakku dari luar kamar.

“Ne, sudah pergi sana,” balasnya. Aku memakai sneakers putih milikku dan segera keluar dari apartemen Minho. Tepat saat aku keluar, Hyunmi juga memegang gagang pintu apartemen Minho. Ia mau masuk bersamaan denganku yang keluar.

“Hi Hyunmi-ya,” sapaku sambil tersenyum lebar. Tanpa menunggu balasannya, aku berlari turun ke bawah.

Jino berdiri, bersandar pada mobilnya. Ia tersenyum melihatku yang tengah berlari ke arahnya. Aku membuka pintu mobil dan masuk ke dalam bersamaan dengan Jino.

“Kita ke everland ?” tanyaku senang.

“Yap. Kencangkan sabuk pengamanmu princess,” jawabnya, meraih seat belt milikku. Jarak wajahnya sangat dekat, membuat jantungku berdetak kencang.

Ia terus diam dalam keadaan masih memegang seat belt di belakangku. Karena terlalu focus pada matanya, aku sampai tidak sadar wajahnya sangat dekat. Sehingga dengan mudah ia menyentuh bibirku. Ia mengecup lembut bibirku, sampai beberapa detik kemudian ia melepasnya dan memakaikan seat belt milikku dengan benar.

“Kau nakal Jino,” sahutku, memukul lengannya. Ia terkekeh kecil lalu mengacak rambutku lembut.

“Bogoshipeoyo,” ujarnya.

“Ne. na-do,” balasku sambil membetulkan rambutku yang baru diacak-acaknya. Hhh, aku merindukan keadaan seperti ini.

***

Setelah seharian puas bermain di Everland, wahana yang terakhir kami naiki adalah roller coaster. Akhirnya ia mau naik itu, karena setiap ke everland ia menolaknya. Tapi hari ini dia mau, walaupun setelah itu wajahnya sangat pucat dan tidak mau mengobrol denganku.

“Wajahmu masih pucat chagi,” ujarku ketika kami dalam perjalanan pulang.

“Yeah, aku takut ketinggian dan kecepatan. Kau berhasil merayuku,” Jino mencubit pipiku pelan.

“Sorry,” balasku singkat.

Ia mengantarku sampai ke depan pintu apartemen Minho. Sebelum masuk, ia menahanku sebentar. Tapi yang ia lakukan hanya menatapku ragu.

“Kenapa ?” tanyaku heran. Ia menggelengkan kepalanya.

“Ahni, kau tidak apa-apa tinggal bersamanya ? Kau bisa tinggal di apartemenku kalau kau mau,” tawar Jino. Aku menatapnya kemudian memegang kedua tangannya.

“Gwenchana, aku akan tinggal disini sampai perceraiannya selesai. Kau tidak usah khawatir,” balasku. Ia mengangguk, tapi masih tetap ragu.

“Aku masuk dulu,” ucapku lalu masuk ke dalam apartemen Minho.

Ketika hendak merebahkan diri di sofa, Minho juga sedang disana. Ia tertidur sambil memegang remote. Sudah jam 11 malam, biasanya ia sudah tidur di kamar. Apa ia menungguku ?

“Minho-ya,” panggilku sedikit berbisik sambil menggoyangkan tubuhnya. Ia membuka mata perlahan, menatapku kemudian tersenyum.

“Kau sudah pulang ?” tanyanya. Ia bangkit dari sofa, beranjak masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan aku masih diam memandangi punggungnya yang menghilang dibalik pintu.

Sesaat setelah duduk di sofa, ponselku berbunyi. Aku mengaduk-aduk isi tas mencari ponsel yang berbunyi nyaring itu. Segera setelah menemukannya, aku mengangkatnya.

“Yeoboseyo,” jawabku.

‘Neul Rin, appa dan eomma akan terbang ke Korea sekarang juga. Di sana malam kan ? Jadi kemungkinan kita sampai pagi besok. Kau bisa jemput di bandara ?’ balas eomma sontak membuatku duduk tegak. Apa eomma bilang ?

“Ke sini ? Kenapa eomma baru meneleponku ?”

Sorry. Bagaimana ? Kau bisa ?’

“Ne, aku bisa,”

***

Pagi-pagi sekali aku pergi ke Incheon bersama Minho. Jino tidak bisa mengantarku karena ada keperluan di kantornya. Selama di perjalanan aku tertidur, semalaman aku berpikir bagaimana menjelaskan semuanya pada eomma dan appa.

Minho duduk di bangku di dalam Incheon sambil memakai earphone miliknya. Aku mondar-mandir di depannya gelisah. Sesekali aku melirik ke dalam pintu kedatangan dari luar negeri tapi eomma dan appa belum keluar juga. Sesaat kemudian, aku bisa melihat dua orang berpakaian rapi setengah baya yang baru keluar dari sana. Walaupun sudah 4 tahun aku tidak bertemu mereka, tapi aku masih bisa mengenali gerak-gerik kedua orang tuaku sendiri.

“Eomma, appa !” teriakku sambil berlari menghampiri mereka. Eomma berhambur memelukku, kemudian disusul appa.

“Kau semakin cantik Neul Rin-ah,” ujar appa, melepas pelukannya. Aku tersenyum kecil, eomma membuka kacamata hitam yang dipakainya. Ia memandang ke sekeliling.

“Dimana suamimu ?” tanya eomma masih mencari-cari ke sekeliling bandara. Apa yang harus kukatakan ? Jujur ? Atau nanti saja ?

“Eomma, dia, ah maksudku kami–,”

“Sudah datang ?” tiba-tiba Minho datang dan memotong ucapanku. Sontak eomma dan appa tersenyum melihatnya. OH ! Jangan ada salah paham lagi.

-to be continued-

berhubung banyak ff married akhir-akhir ini

mungkin bakal aku terusin kalau responnya banyak

thank you :)

comment

Ima Shineeworld !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s