[FanFic] Wrong Marriage (1st part)

Title : Wrong Marriage

Author : Ima Tripleshawol

Cast       : Choi Minho, Choi Hyunmi, Kim Neul Rin

Other   : Cho Jino (S.M. The Ballad)

Rating : PG-15

Length : Series

Genre   : Comedy Romance

Hyunmi melambaikan tangannya pada Minho, memasuki ruang keberangkatan. Sekarang Minho hanya bisa merelakannya pergi kuliah ke Harvard. Akhirnya cita-cita Hyunmi tercapai, ia berhasil masuk ke Harvard University melalui tes online. Dia berhasil mengejar cita-citanya walaupun Minho harus menunggu selama 3 tahun.

Tapi setelah Hyunmi pulang nanti, mereka berdua berjanji untuk menikah. Hari yang bertepatan dengan kepulangannya dari Amerika. Ia mau, ketika tiba disini, pernikahan itu dilangsungkan. Tanpa menunggu apa-apa lagi. Bahkan hal itu masih 3 tahun yang akan datang. Tapi mereka berdua sudah memikirkannya matang-matang.

– — – –

Minho POV

3 years later

Seminggu lagi Hyunmi pulang, dan hari itu juga pernikahan kami dilangsungkan. Hari ini aku pergi ke butik untuk memilih baju di pernikahan kami nanti. Ah, pernikahan. Aku seperti bermimpi membayangkannya.

Satu pasang gaun pengantin yang terpasang di manekin depan toko berhasil menarik perhatianku. Aku menghampiri manekin itu, melihat gaun dan tuxedo itu baik-baik. Gaun tanpa tali yang hanya setengah paha tapi panjang di belakangnya, lengkap dengan penutup kepala. Aku rasa Hyunmi akan cantik memakai itu.

“Agasshi, aku mau sepasang gaun ini,” ucapku dan seorang yeoja, bersamaan ?

“Hey, aku yang lihat ini dulu,” seru yeoja itu itu. Seorang agasshi, pelayan di butik ini menghampiri  kami.

“Kalian pasangan yang cocok, silahkan dicoba gaunnya,” ujar pelayan itu.

“MWO ?!”

“Ahni, aku mau gaun ini. Aku rela bayar 2 kali kalau perlu,” aku menarik gaun itu.

“Ya !” ia kembali menarik gaun itu lagi.

“Tenang !” teriak pelayan itu, “masih ada satu lagi gaunnya, kalian tidak usah bertengkar,”

“Aku ambil itu,” sergahku sebelum yeoja itu mengambilnya.

Akhirnya aku membeli gaun dan tuxedo sepasang setelah berkutat dengan yeoja menyebalkan itu. Hall sudah aku pesan, cincin sudah, gaun sudah, apa lagi ? Sekarang pulang, istirahat, latihan untuk minggu depan, dan menyoba tuxedo itu.

“Kau yakin nanti akan langsung pergi ke hall ?”

‘Aku yakin, sesampainya di bandara aku akan kesana dan segera bersiap-siap. Setelah itu kita langsung menikah, kau tenang saja,’

“Aku takut kau terlambat,”

‘Ahni, pesawatku akan tiba 3 jam sebelum pernikahan kita, tenang saja,’

“….”

‘Kau tidak usah khawatir chagiya. Sudah, aku tutup dulu teleponnya,’

Hyunmi menutup teleponnya. Aku masih terdiam memikirkan kata-katanya. Mungkin aku memang terlalu khawatir, tapi wajar kan. Kalau ia tidak datang bagaimana ?

***

Hari ini tempat pengecekan hall untuk pernikahan kami. Ada dua hall di gedung ini, keduanya berhadapan, dan memiliki pintu yang sama. Mungkin orang yang tidak biasa kesini akan salah masuk hall. Termasuk aku, saat pertama kali kesini.

Aku keluar dari hall untuk memfoto bagian depannya. Entahlah, tapi bagian depan hall ini terlihat bagus. Aku akan mengirimkan foto ini pada Hyunmi, dia pasti senang.

BRAK

Sebuah benda –entah apa itu- menabrak dengan keras tubuhku, membuat kamera yang kupegang jatuh. Aku menolehkan kepala ke arah orang itu siap memarahinya.

“Uh, mianhae mianhae. Aku buru-buru,” tutur yeoja itu cepat.

“Ya ! Kameraku rusak, kau hanya minta maaf ? Sekarang juga kau harus ganti,” balasku emosi sambil berbalik ke arahnya. Yeoja itu mendongakkan kepalanya. Raut wajahnya berubah, lebih kejam dari sebelumnya. Aish, yeoja ini lagi.

“Kau lagi ! Tch, kenapa kau selalu cari masalah huh ?” aku menimpalinya lagi. Ia membetulkan letak topi rajutnya kemudian menatapku lurus.

“Kau yang selalu cari masalah. Kenapa kau berdiri disitu ? Aku mau masuk hall,” ujarnya, menunjuk pintu masuk hall di belakangku.

“Itu hall pernikahanku. Mau apa kau kesana ?” tanyaku. Ia menautkan alisnya heran, memiringkan kepala menembus pundakku yang lebih tinggi darinya.

“Hall itu ?” ia terlihat kebingungan, lalu menolehkan kepala ke belakang. Sedetik kemudian terlihat semburat merah di pipinya.

“Aku salah hall. Mianhae, mianhae,” ujarnya menyesal. Aku terkekeh kecil, ia menundukkan kepalanya kemudian berbalik ke hall pernikahannya.

“Minho-ya ! Cepat kesini,” teriak Ji Kyo. Aku berlari masuk mengejarnya ke dalam hall.

– — – –

Neul Rin POV


“Jino-ya !” panggilku, berlari memeluknya. Ia mengacak rambutku lembut, lalu menarik tanganku masuk ke dalam mobilnya. Hari ini ia mengajakku membeli cincin untuk pernikahan kami besok. Kau tahu ? Aku sangat beruntung mempunyai calon suami seperti dia.

“Kenapa menatapku seperti itu huh ?” tanyanya. Aku segera memalingkan wajah keluar jendela.

“Ahni,” sergahku cepat.

Kami berdua sampai di toko yang menjual berbagai macam perlengkapan pernikahan di daerah Apgujeong-dong. Pelayan toko itu berkali-kali memuji kami ‘kalian cocok sekali, jadi cincin manapun akan bagus’, dan wajahku blushing seketika. Jino hanya terkekeh kecil sambil merangkul pundakku erat.

Tunggu ! Namja itu ! Haish, kenapa aku selalu bertemu dengannya ? Kenapa juga ia harus beli cincin disini ? Siapa yeoja di sebelahnya ? Apa dia calon istrinya ? Ah, peduli apa aku.

“Ji Kyo, menurutmu cincin ini bagus ?” tanya namja itu pada yeoja di sebelahnya. Yeoja itu mengangguk kemudian mencoba cincinnya.

“Cantik, aku suka,” jawab yeoja itu kemudian melepas cincinnya. Aku memperhatikan mereka bedua, sampai tidak sadar kalau Jino memanggilku.

“Neul Rin ?” panggilnya sekali lagi. Aku segera tersadar, menatapnya yang tengah menaikkan sebelah alisnya.

“Ne ? Cincin yang mana chagi ?” tanyaku. Ia menyodorkan satu kotak berisi sepasang cincin. Hiasannya terlihat seperti sepasang sayap, yang akan menyatu kalau cincin itu disatukan. Biru langit, aku suka warnanya.

“Omo~, sangat cantik,” ucapku sambil mencoba cincin itu.

“Sama sepertimu,” bisik Jino. Wajahku memanas dan tanpa sadar melepas cincin itu. Jino segera mengambil kotak itu, membayarnya, kemudian kami pun keluar dari toko itu. Ia menggenggam tanganku lebih erat.

***

Hatchi !

Gosh ! Kenapa aku harus flu ? Tidak mungkin pernikahan nanti aku pakai masker kan ?

“Hatchi !” entah sudah keberapa kalinya aku bersin di perjalanan menuju hall. Kepalaku pusing, dan lebih parahnya badanku demam juga. Seandainya appa dan eomma bisa pulang dari Perancis sehari saja, di hari pernikahanku ini, aku tidak perlu menyetir sendirian ke hall.

Akhirnya kuputuskan memakai masker. Hanya sampai ruang rias, setelah itu semuanya akan kulepas. Kulangkahkan kaki memasuki gedung. Naik ke lantai dua kemudian masuk ke dalam ruang rias di sebelah hall.

Entahlah, aku suka gaun yang akan kupakai hari ini. Penutup kepalanya juga sangat pas dengan gaunku hari ini. Tapi masalahnya, penutup kepala itu terlalu tebal. Mataku tidak bisa menembus itu, dan alhasil jeong min eonni menuntunku masuk ke dalam hall.

Di pintu masuk hall seseorang menyambutku, dan menggamit lenganku. Dengan tergesa ia menarik tanganku masuk ke dalam hall. Yang kulakukan hanya menunduk memperhatikan jalan. Entah siapa yang menjadi pendampingku hari ini, mungkin teman Jino. Yang penting hari ini aku akan menikah dengannya.

Aku berdiri di altar. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jino, pengucapan janji itu pun mulai begitu saja. Aku memutar menghadap Jino, ia maju selangkah lalu membuka penutup kepalaku. Aku mendongakkan kepala ke arahnya.

“Kau !” teriakku. GOD ! Kenapa namja ini ada di hadapanku ?!

“Kenapa kau bisa ada disini !” tanyaku bersamaan dengannya.

“Aku menikah disini. Tapi, kenapa kau yang berdiri disini !” tanyaku sambil mengacungkan telunjuk ke depan wajahnya.

“Tch, seharusnya aku yang bertanya seperti itu ! Dimana Hyunmi !” teriaknya. Aku memandang namja itu sejenak, mengitarkan pandangan ke seluruh hall. Siapa mereka ? Aku tidak kenal dengan tamu-tamunya.

“Ah damn ! Kita salah pernikahan !” teriakku karena menyadari kalau ini bukan hall pernikahanku. Tapi bagaimana bisa ? jeong min eonni yang meriasku, dan mengantarku ke hall. Dia tahu hall pernikahanku kan ? Aku juga tidak salah masuk ruang rias ? Tunggu, apa karena kepalaku pusing tadi, aku salah masuk ruang rias ? Tapi jeong min eonni juga ada di situ.

“Bagaimana bisa ?” tanyaku bersamaan dengannya.

“Kalian resmi menjadi sepasang suami istri,” ucap pastur di sebelahku tiba-tiba.

“Andwae !” sergahku.

“Tapi kalian sudah saling mengucap janji, dan tidak bisa mengelak lagi,”

“Andwae !!”

Tiba-tiba kepalaku pusing, semuanya berputar-putar. Aku mencoba berpegangan pada lengan namja itu. Tapi tidak bisa, semua pun terasa gelap.

– — – –

Author POV

Jino menatap kedua orang tuanya khawatir. Berkali-kali ia menghubungi ponsel Neul Rin, tapi hasilnya sama. Tidak aktif. Para tamu yang hadir sudah mulai keluar dari hall karena selama 2 jam mereka menunggu. Ia mendesah napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pastur yang ada pun keluar dari hall, Jino hanya bisa pasrah. Kau tidak kabur kan Neul Rin ? batin Jino.

Ia masuk ke dalam mobil, menutup pintunya dengan keras. Pikirannya mulai kalut, ia melepas tuxedo putih gading miliknya dengan asal kemudian menjalankan mobilnya. Ia menatap kotak berwarna merah berbahan beludru yang membungkus cincin yang baru ia beli beberapa hari lalu bersama Neul Rin. Tidak terasa air mata mulai mengaliri pipi Jino, kenapa kau tidak datang ?

Mobilnya diparkirkan di depan gedung apartemen Neul Rin. Ia segera turun dari mobil dan naik ke lantai dua. Pintu apartemen Neul Rin masih tertutup rapat, di pintunya tertempel sebuah note kecil. Jino meraih kertas itu, membacanya dengan teliti.

Ia terduduk di depan pintu apartemen Neul Rin. Tangisannya kembali pecah setelah membaca kertas itu. kemana dia pergi ? dengan siapa kau menikah Neul Rin ? Jino bertanya-tanya dalam hatinya. Ia menekuk lutut dan menenggelamkan kepala di antara kedua lututnya.

– — – –

Minho POV

Aku memandang yeoja –entah siapa dia- yang terbaring lemah di kamar rawat rumah sakit. Ji Kyo, Jinki, eomma, dan appa Hyunmi menemaniku, menunggu sampai yeoja itu sadar. Selama 2 jam kami menunggu tapi ia belum sadar juga, akhirnya semuanya pulang dan hanya aku sendirian menunggu yeoja itu.

“Kenapa kau harus pakai gaun yang sama huh ? Aku tidak tahu kalau kau bukan Hyunmi. Sekarang apa ? Aku harus menceraikanmu ? Atau tetap mempertahankan pernikahan –yang salah- ini ?” tanyaku, padahal yeoja di depanku tidak akan menjawabnya. Damn ! Aku lupa menelepon Hyunmi ! Dimana dia ?

Segera kunyalakan ponsel yang kumatikan sejak di hall tadi. Beberapa telepon masuk dari Hyunmi. Aku baru sadar, pernikahanku gagal. Dan sekarang aku malah berstatus sebagai suami seorang yeoja yang bahkan aku pun tidak tahu namanya. Sedetik kemudian sebuah telepon masuk, aku segera mengangkatnya.

‘Kau dimana ?’ tanya seorang yeoja bernada lemah.

“Di rumah sakit,” jawabku. Hyunmi berdehem kecil, ia menahan isak tangisnya.

‘Kita bertemu di tempat biasa. Kita harus membahas masalah ini,’

KLIK

Ia menutup teleponnya sebelum aku membalas lebih lagi. Aku bangkit dari sofa, menatap yeoja itu sekilas lalu keluar dari kamarnya.

***

Dari luar café itu aku bisa melihatnya, melihat Hyunmi tengah menunduk menatap minuman di hadapannya. Berkali-kali tangannya terangkat, mengusap pipi yang sepertinya sudah terlintasi air mata. Aku memasuki café itu, bunyi dentingan lonceng membuat Hyunmi menoleh ke arahku.

Selama beberapa saat tidak ada pembicaraan diantara kami. Ia hanya diam, sibuk mengaduk-aduk vanilla latte miliknya. Sedangkan aku memandangnya, berharap ia mengeluarkan sepatah kata.

“Kenapa kau tidak datang ?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Pesawatku delay,” jawabnya singkat tanpa menatapku. Aku meraih tangannya yang tergeletak di atas meja, menggenggamnya erat. Perlakuanku membuat Hyunmi menangis, ia terisak sambil menundukkan kepalanya.

“Mianhae, aku tidak bermaksud menikah dengan yeoja lain,” ucapku, mengecup punggung tangannya sekilas. Ia menggeleng cepat, dengan segera Hyunmi menghapus air matanya lagi.

“Aku yang salah. Seharusnya aku tahu kalau semuanya tidak akan tepat waktu, pesawat pasti akan delay. Tapi aku masih tetap mau menikah denganmu hari ini juga,” ia mengangkat kepalanya. Sebelah tangannya yang masih kugenggam terlepas perlahan-lahan.

“Bagaimana dengan yeoja itu ?” tanya Hyunmi, menurunkan tangan ke atas pahanya.

“Dia masih di rumah sakit. Aku belum tahu siapa namanya,” jawabku. Hyunmi tersenyum pahit, ia mengambil tissue yang ada di atas meja kemudian menyeka matanya.

“Kau akan menceraikannya ?” tanyanya lagi.

“Ne ! Kau yang harusnya jadi istriku, bukan yeoja itu. Aku akan tunggu sampai dia sadar,” jawabku seraya mengacak rambut Hyunmi lembut. Lagi-lagi ia tersenyum pahit, menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

***

Esok paginya aku kembali ke rumah sakit. Melihat yeoja yang berstatus sebagai istriku saat ini. Ia masih terbaring, seorang uisa tengah memeriksanya ketika aku masuk. Uisa itu melepas stetoskopnya lalu tersenyum ke arahku.

“Flu nya sudah reda. Sebentar lagi dia sadar, jangan lupa suruh ia makan. Perutnya kosong sejak kemarin,” seru uisa itu. Uisa itu keluar dari kamar rawat, sedangkan aku masih berdiri di belakang pintu, masih heran apa yang baru saja ia katakan. Tch, kenapa aku harus peduli ?

“Ssh,” yeoja itu meringis. Kelopak matanya terbuka perlahan, ia mengernyit karena silau dari jendela di samping tempat tidurnya. Perlahan ia bangkit, duduk di atas tempat tidur sambil memegangi kepalanya.

“Baguslah kalau kau sudah sadar,” ia menoleh cepat ke arahku. Yeoja itu menggelengkan kepalanya, menepuk-nepuk wajahnya sendiri.

“Ini bukan mimpi, kau istriku sekarang,” tambahku, berjalan ke samping tempat tidurnya. Ia kembali menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Menatap langit-langit kamar rawatnya tidak percaya.

“Dimana Jino ?” tanya yeoja itu. Jino ? Siapa lagi dia ?

“Ya ! Namamu saja aku tidak tahu, apalagi Jino-Jino itu,” jawabku emosi. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Bawa aku pulang,” pintanya tiba-tiba. Aku menautkan sebelah alis heran, masih ada yeoja aneh seperti dia.

“Oke, pertama-tama. Siapa namamu,” tanyaku dingin masih tetap berdiri di samping tempat tidurnya. Ia menurunkan tangan dari wajahnya, menatapku lurus dengan mata besarnya.

“Kim Neul Rin, kau ?” ia menyodorkan tangan ke arahku.

“Choi Minho,” balasku menyambut uluran tangannya.

Ia menyuruhku mengantarnya ke apartemen Hongik. Yeoja bernama Neul Rin itu terlonjak senang ketika melihat mobilnya terparkir di depan gedung. Aku mengikuti yeoja itu dari belakang, naik ke lantai dua gedung apartemen itu.

Langkahnya terhenti di anak tangga teratas. Ia menatap lurus ke depan, tangannya terkepal keras. Sedetik kemudian ia berlari menghampiri pintu apartemennya. Seorang namja tengah terduduk di depan pintu, menunduk, menenggelamkan kepala diantara kedua lututnya. Aku masih tetap mengekori Neul Rin menghampiri namja itu.

“Jino-ya ! Bangun,” seru Neul Rin pada namja di hadapannya. Ah, jadi ini Jino. Kenapa dia rela menunggu Neul Rin sejak kemarin ?

“Neul Rin,” gumam namja itu kemudian memeluk Neul Rin. Aura di sekitarku tiba-tiba berubah, sepertinya akan ada kejadian buruk.

“Kenapa kau tidak datang ?” pertanyaan yang sama terlontar dari mulut namja itu. Sama seperti pertanyaanku ketika bertemu Hyunmi kemarin.

“Aku-aku,” Neul Rin gugup. Ia tidak menjawab pertanyaan namja bernama Jino itu sampai pelukannya terlepas. Namja itu memandangku yang berdiri cukup jauh dari mereka.

“Karena dia ?” tanya Jino sambil menunjukku dengan dagunya. Neul Rin menoleh sekilas lalu menggelengkan kepalanya.

“Ahni, kemarin itu. Aku tidak bisa-,” ucapan Neul Rin terpotong karena tiba-tiba namja itu menghampiriku. Sesaat kemudian, aku bisa merasakan tubuhku terpelanting ke lantai. Namja itu memukulku.

“JINO-YA !!” teriak Neul Rin sambil mencegah tangan Jino yang akan memukulku lagi. Ia mendorong tubuh Neul Rin sampai membuatnya mundur beberapa langkah. Namja bernama Jino itu kembali memukulku. Damn ! Kenapa aku malah dapat pukulan seperti ini.

“Stop ! Jangan pukul dia lagi !” Neul Rin menghampiri kami dan menampar pipi Jino. Ia mendorong tubuh Jino menjauh dariku.

“Jadi sekarang kau membelanya ? Kalau itu yang kau mau, kita putus,” seru Jino kemudian pergi meninggalkan Neul Rin.

Neul Rin menatap kepergian namja itu, ia terduduk di lantai. Menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia menangis, suara isak tangisnya bisa kudengar jelas. Aku segera bangkit dan memeluknya. Mencoba meredakan tangisannya yang semakin keras.

***

Ia tidak bisa masuk ke dalam apartemennya. Sebuah kertas yang tergeletak di depan pintu apartemen Neul Rin, membuatnya tidak bisa tinggal disana lagi. Kedua orang tuanya sudah menjual apartemen Neul Rin, karena yang mereka tahu Neul Rin akan menikah dan tinggal dengan suaminya. Aku tidak bisa membiarkannya luntang-lantung di jalanan dalam keadaan kacau seperti ini. Akhirnya kuputuskan membawanya ke apartemenku, untuk sementara tinggal disana sampai ia dapat apartemen lagi.

“Mianhae,” seru Neul Rin ketika kami dalam perjalanan ke aprtemenku.

“Untuk ?” tanyaku heran masih tetap menatap jalanan.

“Semuanya. Aku sudah membuat keadaan menjadi kacau dengan salah masuk hall,”

“Baguslah kalau kau sadar. Aku dapat pukulan untuk membayar yang bukan salahku,”

“Tch, aku kan sudah minta maaf,” balas Neul Rin, mengerucutkan bibirnya.

Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi ketika sampai di apartemenku. Tidak ada baju untuk yeoja disini, jadi aku memberinya kaus biasa milikku dan juga celana pendek kebesaran. Ia hanya memakainya dengan pasrah, tubuhnya terlalu kecil sampai kausku yang kecil juga terlihat kebesaran.

“Mulai hari ini kau tinggal disini. Dengan syarat, kau yang tidur di sofa, aku tidur di kamar,” tawarku. Ia menatapku yang duduk di hadapannya, di meja makan. Neul Rin meletakkan sendok yang ia pegang ke atas piringnya.

“Baiklah, aku terima syaratmu. Aku juga punya beberapa syarat, walaupun kita sekarang berstatus suami istri yang sah, tidak ada jarak dekat lebih dari 1 meter. Baju-bajuku nanti di simpan di dalam kamarmu, dan terakhir jangan pernah menyentuhku. Kecuali tadi karena aku sedang sedih, setelah itu tidak ada peluk-pelukan apapun alasannya,” syaratnya. Ia membereskan piring makan malam kami, membawanya ke tempat cuci piring. Aku bangkit dari meja makan, mengambil ponsel yang tergeletak di meja untuk menghubungi Hyunmi. Belum sempat aku mencari nomor telepon Hyunmi, bel apartemenku berbunyi. Neul Rin yang baru selesai mencuci piring segera berlari membuka pintunya.

“Cari siapa ?” tanya Neul Rin pada seseorang di balik pintu apartemenku. Aku menghampirinya, melihat tamu yang datang.

“Ji Kyo, Jinki, dan Hyunmi ?” tanyaku heran. Mereka menatapku dan Neul Rin secara bergantian. Jangan katakan mereka salah paham.

“Kenapa, yeoja ini ada disini ?” tanya Ji Kyo.

“Kita bahas ini diluar,” aku mendorong pelan Neul Rin masuk ke dalam apartemenku. Setelah itu menutup pintunya, aku menarik tangan Hyunmi pergi dari sana.

– — – –

Neul Rin POV

Kenapa ia malah mendorongku masuk ? Apa kejadiannya akan sama denganku ? Diputuskan oleh pacarnya ? Haish, aku jadi ingat Jino. Aku sangat tidak rela ia pergi, aku tidak mau putus dengannya.

Aku menangis lagi, entahlah, hatiku sakit mengingat kebaikan Jino selama ini. Aku kira ia akan mengerti keadaanku, tadi siang aku terlihat berantakan. Tapi ia tidak memperhatikan itu karena terlalu panik. Apa ia tidak sadar ? Kalau aku kabur dengan Minho, aku tidak mungkin masih pakai gaun kan ? Seharusnya ia bisa mengerti itu.

“Karena namja itu kau menangis lagi ?” tanya Minho tiba-tiba dari arah pintu. Aku segera menyeka air mataku dan berbalik ke arahnya.

“Ottokhae ? Apa hubunganmu sama sepertiku ?” Ia berjalan menghampiriku yang duduk di sofa.

“Ahni, ia mengerti keadaanku. Dia juga mengerti keadaanmu,” jawabnya. Minho meraih gelas yang ada di meja kemudian meneguk isinya sampai habis. Chamkan ?! Kenapa dia pakai cincin ?

“Cincin siapa itu ?” tanyaku, melirik ke arah jari manisnya. Ia menurunkan gelas yang sedang di teguknya, menatap cincin itu sekilas lalu tersenyum.

“Tadi aku mengusulkan cincin ini, tanda kalau aku tidak akan macam-macam denganmu. Di hadapan Ji Kyo dan Jinki,” jelasnya sambil tersenyum sekilas lagi.

“Aaaah, araseo. Andai saja Jino seperti itu,” balasku sambil mengendikkan bahu.

Minho bangkit dari sofa, masuk ke kamarnya. Sesaat kemudian ia kembali lagi, membawa sehelai selimut dan bantal di tangannya. Ia menyerahkannya padaku.

“Igeo,” aku menerima selimut dan bantal itu lalu mulai menyusunnya di sofa. Sebelum itu aku berdiri di hadapannya.

“Jangan macam-macam, atau kau akan dapat tendangan dariku,” ancamku. Minho hanya menyeringai kecil kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya. Aku harus waspada, jangan sampai lengah Neul Rin.

***

“Ya ! Ireonna !” aku terkesiap bangun. Alhasil tubuhku malah terguling ke bawah, jatuh ke lantai. Seluruh tubuhku langsung kaku, sakit terlebih lagi di bagian bokong. Haish.

“Bisa pelan-pelan tidak ? Badanku sakit semua,” keluhku sambil bangkit kembali duduk di sofa.

“Mianhae,” ujarnya. Aku mengerjapkan mata berkali-kali mencoba memperjelas pandanganku. Mataku membelalak ketika melihat Minho. Ia tidak pakai baju !

“Ya !!! Pakai bajumu !” aku menaikkan tangan ke depan mata berusaha menutupinya.

“Haish, hanya atasnya. Ini kan musim panas, semuanya terasa panas,” sahut Minho, mengipas-ngipaskan tangannya ke leher. Aku menurunkan tangan dari mataku, ia menyodorkan segelas susu putih.

“Hyunmi bilang, wanita itu suka susu putih di pagi hari. Kau mau minum ini ?” tanyanya. Aku menerima sodoran susu itu lalu meneguknya. Minho duduk di sebelahku, menunggu susu yang kuminum habis.

“Sepertinya kau harus beli baju,” tambahnya lagi, menatapku lekat-lekat dari ujung rambut sampai kaki. Gelas susu yang sudah kosong kuserahkan padanya. Kening Minho berkerut, matanya menelisik ke dalam mataku.

“Apa ?” ancamku. Ia menggeleng, beranjak dari sofa membawa gelas itu ke tempat cuci piring.

Kami berdua pergi ke daerah myeong dong untuk membeli beberapa potong baju untukku. Tidak terlalu mahal, tapi cukup untuk ganti seminggu ke depan. Untuk mengurus perceraian dan mencari apartemen. Tidak akan lebih dari itu.

Dengan santai kami berdua jalan kembali ke apartemennya. Sesekali ia melontarkan lelucon yang sama sekali tidak lucu. Tapi anehnya bisa membuatku tersenyum dan melupakan wajah Jino. Terlalu sakit kalau aku mengingat semuanya.

“Minho !” panggil seseorang membuat kami menoleh bersamaan. Seorang yeoja berlari ke arah kami –Minho maksudku dengan wajah berseri-seri. Ia langsung menggamit lengan Minho. Seingatku bukan yeoja ini yang membeli cincin bersama Minho. Ji Kyo, ya orang itu. Kenapa malah yeoja ini ?

“Kita jadi pergi hari ini ?” tanyanya. Minho terlihat ragu, ia melirik ke arahku sekilas.

“Gwenchana, pergilah. Aku bisa pulang sendiri,” sahutku. Ya, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan choi Minho.

“Keurom, aku pergi dulu. Jangan lupa kunci pintunya,” pesan Minho kemudian pergi bersama yeoja itu.

Aku tertunduk lesu, memandangi punggung Minho yang semakin menjauh. Perjalanan yang membosankan, masih cukup jauh bisa sampai di apartemen Minho. Aku berjalan sambil menggoyang-goyangkan tas plastic berisi baju yang kubawa. Melewati berbagai macam toko yang ada. Langkahku terhenti di depan toko perlengkapan pernikahan. Di tempat ini aku membeli cincin itu, cincin yang seharusnya sekarang melingkar di jariku, cincin pengikat hubungan di antara kami –aku dan Jino-. Andai waktu bisa mundur kembali, aku tidak akan menyia-nyiakan hari itu. Aku tidak akan ceroboh, semua ini tidak akan terjadi.

Minho sangat beruntung, hubungannya tidak seburuk apa yang aku alami. Aku mendesah napas panjang, mencoba menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba saja muncul. Ayo benci Jino, kau harus membencinya Neul Rin.

***

‘Dear, appa dan eomma belum bisa pulang. Kami hanya bisa mendoakan pernikahanmu baik-baik saja,’ ujar eomma ketika aku meneleponnya memakai ponsel Minho.

“Ne, aku tahu. Aku hanya butuh uang,” balasku sedikit berbisik menjauh dari Minho.

‘Memangnya suamimu kemana ? Seharusnya ia yang-,’

“Eomma, ayolah. Aku sedang marah dengannya,”

‘Baiklah, eomma akan kirim,’ ucapan singkat penutup telepon itu. Aku menatap layar ponsel Minho kesal. Mereka yang menjual apartemenku, sekarang tidak bertanggung jawab.

“Sudah ?” tanya Minho memiringkan kepalanya sambil menengadahkan tangan meminta ponselnya.

“Ne, kamsahamnida,” jawabku. Aku menyerahkan ponsel itu kasar tanpa menatapnya.

Angin sore di musim panas membuat rambutku tertiup angin. Apalagi dia atas jembatan seperti ini, anginnya membuat rok yang kupakai berkobar kencang.

“Sekarang apa ?” tanyanya. Aku mengendikkan bahu bingung.

Ucapan eomma masih terngiang di kepalaku, ‘Semoga pernikahanmu baik-baik saja,’

Ya, pernikahanku sangat baik. Tapi sayangnya bukan orang yang tepat. Sampai sekarang aku masih heran kenapa kejadian –salah masuk hall itu bisa terjadi. Kejadian tidak terduga yang membuat hidupku berantakan.

“Pacarmu itu, apa kau sudah bertemu lagi dengannya ?” tanya Minho lagi sambil menyeruput jus kaleng yang di pegangnya.

“Sirho,” jawabku singkat.

Minho membuatku ingat Jino lagi. Aargh ! Sampai kapan aku berharap laki-laki brengsek itu. Tatapan dinginnya, kata-kata ‘putus’ yang terdengar lurus tapi berhasil membuat perasaanku kalut.

– — – –

Minho POV

Ia segera menyeka sudut matanya yang tergenang air mata. Apa pertanyaanku membuat hatinya sakit ? Gosh, jangan buat ia menangis hanya karena mantan pacarnya itu.

“Sorry,” ucapku sembari menatapnya yang berdiri tepat di sebelahku. Rambutnya tertiup angin, raut sedihnya terlihat begitu jelas.

“Aah, sudah lupakan saja,” ia mencoba tertawa, tapi malah membuat hatiku semakin merasa bersalah.

“Ayo pulang,” ajaknya. Ia masuk ke dalam mobil masih dengan senyuman terpaksa di bibirnya. Aku hendak melangkah masuk ke dalam mobil. Tapi terhenti ketika melihat Jino, sedang berjalan bersama seorang wanita. Baru beberapa hari lalu ia putus dengan Neul Rin, sekarang sudah punya wanita lain.

Aku memandang Neul Rin yang tengah memandang orang yang sama. Orang yang sudah membuat hatinya sakit, dan sekarang terlihat biasa saja. Ia malah tertawa bersama wanita, memandang tenggelamnya matahari. Neul Rin tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum dan menyuruhku masuk ke dalam mobil.

“Ayo pulang,” ajaknya lagi. Aku mulai menjalankan mobil meninggalkan jembatan itu.

Neul Rin menyibukkan diri, ia sibuk mengotak-atik radio mencari saluran yang bagus. Tapi matanya tidak focus, ia terus menekan tombol next sampai berulang. Aku mencegah tangannya, membuat ia menoleh padaku.

“Jangan kasihani aku,” ujarnya. Air mata yang menggenangi matanya pun keluar. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Kenapa ia jadi selemah ini ? Saat ia selalu bertemu denganku secara tidak sengaja, semangatnya tidak selemah ini. Ia selalu merutukku dengan ekspresi cerahnya, tapi tidak sekarang.

“Lupakan dia. Lihat orang terdekatmu,”

“Apa ? Maksudmu ?” tanya Neul Rin sambil mengusap pipinya yang basah.

“Lihat aku. Aku disini sebagai suamimu, tumpahkanlah semuanya,” aku memberhentikan mobil di jalanan yang cukup sepi.

“Huh ?”

“Aku. . sebagai suamimu,”

“Eh ?”

-to be continued-

Comment Please

promosi ya :)

like video http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=kqqu4a5M3OM

kalau bisa comment juga

makasih :D

2 thoughts on “[FanFic] Wrong Marriage (1st part)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s