[FanFic] Wrong Marriage (Before story)

Title : Wrong Marriage

Author : Ima Tripleshawol

Cast       : Choi Minho, Choi Hyunmi

Rating : PG-15

Length : Series

Genre   : Comedy Romance

P.S  : Cerita sebelum part 1 nya . baca ini dulu baru yang part 1 :D

Aku menatap eomma yang memaksa masuk Ji Kyo eonni ke dalam rumah. Mereka mendorong Ji Kyo eonni ke dalam kamar dan mengunci pintunya.

“Apa yang kalian lakukan ?” tanyaku dingin.

“Memisahkannya dari namja brengsek itu. Jinki sudah mengecewakan Ji Kyo,” jawab appa. Aku menggeleng tidak percaya, Ji Kyo eonni sedang hamil dan mereka malah di pisahkan ?

“Secara kasar ?” tanyaku lagi. Eomma mengangguk.

Aku segera merebut kunci yang di pegang eomma dan membuka pintu kamar Ji Kyo eonni. Di lantai terdapat bercak darah, Ji Kyo eonni juga sudah tergeletak di lantai. Ia sudah tidak sadarkan diri.

“Eonni !!” teriakku berlari ke arahnya. Eomma dan appa berlari menghampiriku. Mereka membantuku mengangkat Ji Kyo eonni. Tanpa berlama-lama, aku segera menelepon ambulance dan juga Jinki.

***

Jinki terlihat gelisah menunggu kabar dari Ji Kyo eonni. Kami duduk di taman rumah sakit, menunggu teman Jinki datang.

“Kemana dia ?” gumam Jinki sedikit kesal. Tak lama kemudian, orang yang kami tunggu datang. Ia berlari kecil ke arah kami.

“Sudah lama ?” tanya namja yang baru saja datang itu.

“Yeah, sangat lama,” jawab Jinki. Namja itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kecil. BASH ! Jantungku seakan mau lepas melihat senyumnya. Oke aku berlebihan, tapi dia benar-benar lucu.

“Dia siapa ?” tanya namja itu sambil menunjukku yang berdiri tidak jauh di belakang Jinki.

“Dia adiknya Ji Kyo. Hyunmi ini Minho, Minho ini Hyunmi,” ujarnya memperkenalkan kami. Aku membungkukkan badan ke arahnya. Tunggu ! Dia bukannya namja yang mengantar Ji Kyo eonni ke apartemen kan ? Kenapa aku bisa bertemu lagi ? Ah, dunia memang sempit.

“Palli wa ! Sudah terlalu pagi, aku takut eomma dan appa sudah bangun,” ajakku yang melihat mereka malah saling membela.

Mereka mengikutiku ke kamar rawat Ji Kyo eonni. Aku mengintip dari balik jendela kecil di pintu. Seorang perawat tengah memeriksanya, dan sedikit mengobrol. Aku segera memberi isyarat pada Minho. Setelah perawat itu keluar, Minho segera masuk menyusul Ji Kyo eonni.

Beberapa menit kemudian, Minho keluar bersama Ji Kyo eonni. Memapahnya berjalan ke depan pintu. Jinki berdiri dari kursi dan langsung memeluk Ji Kyo eonni erat. Aku dan Minho berdehem kecil mencoba membuat mereka sadar. Tapi sepertinya percuma.

“Minho-ssi, lebih baik kita pergi dari sini,” ajakku. Minho mengangguk dan mengikutiku jalan meninggalkan kedua suami-istri yang baru jatuh cinta itu.

Langkah kakiku membawa kami –aku dan Minho- ke taman belakang rumah sakit. Sesekali aku melihat tempat tidur dorong yang di dorong dengan tergesa. Kebanyakan korbannya kecelakaan, dan aku sudah bisa tebak. Mereka kecelakaan karena mabuk. Ini sudah pagi, pub baru saja tutup.

“Awas !” Minho menarik tubuhku yang hampir terserempet tempat tidur dorong. Tubuhku tepat jatuh di lingkaran tangannya.  Ia memegang pinggangku, membuat kami bertatapan. Oh, sepertinya adegan ini sering aku lihat. Romeo and Juliet ?

“K-kamsahamnida,” ujarku gugup kemudian bangkit dari pelukannya. Wajahku memanas, dan aku yakin wajah Minho memerah. Ia menundukkan wajahnya, tapi ia terlalu tinggi sehingga aku bisa melihat wajah memerahnya.

“Lebih baik kita kembali ke sana,” tambahku. Aku rasa suasana taman rumah sakit bukan saat yang tepat.

“Ne,” jawabnya singkat. Akhirnya kami kembali ke depan kamar rawat Ji Kyo eonni. Mereka masih saja berpelukan saling melepas rindu.

“Eonni, ayo masuk lagi. Nanti appa dan eomma bangun,” pintaku. Jinki melepas pelukannya, mengusap pipi Ji Kyo eonni sekilas. Mereka tersenyum sambil saling menatap satu sama lain. Harus aku akui mereka sangat lucu, pasangan paling lucu dan juga mengharukan.

***

Appa dan eomma tidak pernah keluar rumah selama seminggu sejak dari rumah sakit itu. Ponsel Ji Kyo eonni di sita oleh mereka, agar Ji Kyo eonni dan Jinki tidak bisa saling berkomunikasi. Aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau di pisahkan dari suamiku sendiri, dalam keadaan hamil seperti itu.

Tok tok tok

Seseorang mengetuk pintu rumah, eomma dengan sigap berdiri dari kursi dan membuka pintunya. Aku sudah menutup kuping, bersiap-siap mendengar teriakan eomma melihat Jinki disana. Tapi teriakan itu tidak aku dengar, eomma malah mempersilakan orang itu masuk ke dalam rumah. Minho ?!

“Hyunmi, ada tamu untukmu,” seru eomma. Aku yang tengah menonton TV beranjak dan menghampiri Minho. Ia terlihat membawa sebuah tas karton kecil yang tertutup rapat.

“Aku kesini-,” ucapannya terpotong karena melihat appa dan eomma yang masih berdiri di dekatku.

“Appa, eomma. Ini privasi,” ujarku. Mereka beranjak kembali ke ruang TV. Oke, tenang Hyunmi. Jangan biarkan dia mendengar detak jantungmu yang berlebihan itu.

“Ada apa ?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Jinki, dia menitipkan ini untuk Ji Kyo,” jawabnya sedikit berbisik. Aku mengangguk sambil menerima sodoran tas kartonnya.

“…”

“Kau-,” ucapku dan Minho bersamaan. Haish, kenapa aku jadi gugup seperti ini.

“Mianhae, atas kejadian di rumah sakit waktu itu. Aku tidak bermaksud-,”

“Gwenchana,” potongku. Ia tersenyum, dan hampir membuat jantungku berhenti.

“Keureom, aku pulang dulu,” ujarnya. Aku mengantar Minho sampai ke depan pintu. Ia naik ke dalam mobilnya, melambaikan tangan sebelum akhirnya menghilang dari pandanganku.

“Siapa itu ?” aku tersentak karena suara tiba-tiba. Kutolehkan kepala ke belakang, Ji Kyo eonni tersenyum ke arahku.

“Haish ! Aku hampir terkena serangan jantung kalau eonni sering muncul tiba-tiba seperti itu,” jawabku. Ia masih saja menaik-turunkan alisnya, menunggu jawabanku.

“Minho, dia menitipkan ini untuk eonni. Katanya dari Jinki oppa, agar kalian bisa berkomunikasi,” aku menyerahkan tas karton itu padanya. Ia merebut tas kartos itu kemudian masuk ke dalam rumah. Wajahku, apa terlihat konyol di depannya tadi ? Aaaah, kenapa aku jadi seperti ini.

***

Semuanya pergi mengantar Ji Kyo eonni cek ke dokter. Dari Daegu ke Seoul, membutuhkan waktu 3 jam satu kali perjalanan. Apa yang harus kulakukan selama itu ?

Tok tok tok

Lagi-lagi pintu rumahku di ketuk. Aku beranjak dari dapur, membawa sebilah pisau untuk berjaga-jaga. Tanpa melihat dari balik kaca, aku segera membuka pintu rumah sedikit. Orang itu berdiri membelakangi, aku menarik napas dalam lalu berlari keluar sambil mengangkat pisau itu.

“Yaaaaa !” aku berlari ke arahnya. Tapi orang itu menghindar, alhasil aku terperosok ke taman depan rumah karena tidak bisa mengerem langkahku sendiri.

“Aww,” ringisku. Orang itu berjalan ke samping, membantuku bangun.

“Gomawo Minho-ssi,” ujarku sedikit tertunduk. Aku terdiam sambil membersihkan baju yang kupakai dari sisa-sisa tanah. Sedangkan ia memandangku aneh. Kenapa aku harus jatuh ? Haish, aku malu.

“Ah iya, ayo masuk Minho-ssi,” seruku. Ia mengikutiku masuk ke dalam rumah. Tanpa kusuruh dia sudah duduk di sofa, memutar matanya menjelajahi isi rumah.

Aku membawa satu nampan berisi dua gelas air putih dan juga satu toples kue kering yang kemarin kubuat. Ia menggeser posisi duduknya untuk tempatku duduk. Aku meletakkan nampan itu kemudian duduk di sebelah Minho.

“Sepi sekali,” gumamnya sambil meminum air putih itu.

“Mereka mengantar Ji Kyo eonni eonni ke rumah sakit, cek rutin. Kau sedang apa disini ?” tanyaku. Ia tampak bingung menjawab pertanyaanku.

“Tadinya aku mau melihat Ji Kyo, tapi ternyata ia pergi ke Seoul. Aku boleh tunggu di sini sampai dia pulang ?” tanyanya, menatapku penuh harap dengan kedua mata besarnya.

“N-ne, anggap saja rumahmu sendiri. Tapi mereka baru pergi 1 jam yang lalu, jadi masih sekitar 5 jam lagi,” jawabku bangkit dari sofa.

Aku kembali ke dapur, meneruskan membuat kue, resep dari internet. Telur dan terigu yang belum sempat kukocok langsung ku kocok dengan mixer dengan kecepatan tinggi.

“Aish, gulanya ada di lemari atas,” keluhku. Aku sedikit berjinjit untuk meraih lemari itu sambil terus memegangi mixer. Tapi ada tangan yang lebih tinggi dariku, tangan itu mengambil gula yang paling dalam kemudian menyerahkannya padaku.

“Gomawo Minho-ssi,” ucapku, menerima gula itu.

“Lain kali kalau kau kerepotan panggil aku saja,” balasnya, tersenyum kecil. Ia tidak kembali ke sofa, tapi malah melihatku membuat adonan kue.

“Kue di depan itu buatanmu ?” tanyanya.

“Ne. Waeyo ? Tidak enak ?” tanyaku sedikit lesu. Minho menggeleng dengan cepat.

“Enak, sangat enak,” jawabnya sontak membuat wajahku memanas.

“Jeongmal ? Atau kau hanya mau membuatku senang huh ?” tanyaku penuh selidik.

“Aku tidak pernah bohong, kuenya enak,” tegas Minho. Ia tersenyum sambil mengangkat jempolnya.

“Gomawoyo Minho-ssi,” aku menunduk menatap adonan kue itu.

“Boleh aku coba membuatnya ?” tanya Minho lagi. Aku menoleh cepat, menatapnya –apa kau yakin ?-

“Sini,” ia langsung merebut mixer itu dari tanganku. Eonni, cepatlah pulang atau aku akan pingsan. Aku tidak kuat harus berdua dengannya.

Ia selalu menanyakan setiap bahan-bahan yang akan aku masukkan ke dalam adonan itu. Semuanya berlalu sangat cepat, sudah 2 jam kami bergelut dengan tepung untuk membuat cupcake. Minho tersenyum senang memandang hasil karyanya yang sudah jadi. Cupcake yang sudah diletakkan di atas meja itu terus di pandanginya.

“Jangan dipandangi seperti itu. Ayo makan,” ajakku. Aku meraih salah satu cupcake itu. Menggigitnya sedikit, mencoba mengecap rasanya. Ouch, pahit.

“Bagaimana ?” tanya Minho penuh harap.

“Enak,” jawabku. Aku menggigit cupcake itu lagi, dan rasanya semakin pahit. Tapi aku berusaha tersenyum, meyakinkannya. Semoga aku tidak sakit perut setelah ini.

***

Hari ini Ji Kyo eonni cek ke dokter lagi. Tapi eomma dan appa tidak bisa mengantarnya, jadi terpaksa aku. Aku dan Minho tepatnya. Minho membawa mobilnya, sedangkan aku yang jadi penunjuk jalannya di sebelah Minho.

“Di depan sana belok kiri,” ujarku sambil menunjuk jalan ke depan. Minho mengangguk kemudian membelokkan mobilnya ke kiri. Aku mendengar suara kekehan kecil dari belakang, ji kyo eonni terkekeh melihatku. Waeyo ?

Saat masuk lapangan rumah sakit, Jinki sudah berdiri disana, bersandar pada mobilnya. Ia tersenyum melihat mobil Minho masuk parkiran rumah sakit.

“Eonni, Jinki oppa sudah menunggu,” ujarku. Ji kyo eonni sedikit tersentak, tapi kemudian mencondongkan tubuhnya melihat keluar jendela.

Sesudah mobil terparkir, Jinki langsung menghampiri mobil kami. Membukakan pintu ji kyo eonni dan menuntunnya keluar.

“Hello dear,” sahut Jinki dengan senyuman kelincinya. Mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit. Sedangkan aku masih memandangi mereka dari mobil.

“Ayo turun,” tiba-tiba Minho membukakan pintu mobilnya. Aku turun bersama Minho mengikuti mereka berdua.

“Mmm, aku rasa mereka pasangan terlucu. Kalau ada awards pasangan terlucu tapi mengharukan, aku rasa mereka akan menang,” seru Minho berhasil membuatku terkekeh. Ia juga tersenyum.

“Yeah, aku pernah berpendapat begitu. Awalnya pura-pura, tapi malah ‘menghasilkan’ seperti itu,” aku membentuk tanda petik dengan jari. Ia tertawa kecil, menyipitkan matanya membentuk lengkungan.

Kami berdua duduk di taman sambil menunggu pasangan aneh itu selesai memeriksa. Minho selalu mencoba membuat lelucon, tapi tidak lucu. Entahlah, tapi aku ikut tertawa juga.

“Pernikahan. Kata-kata yang sangat simple, tapi rumit. Apa kau pernah membayangkan, pernikahan seperti apa yang kau inginkan ?” tanya Minho sontak membuat wajahku memanas. Ia menatapku, berharap menjawab pertanyaannya.

“Yeah, menurutku juga begitu. Aku mau pernikahanku nanti di langsungkan di hall besar, dengan hiasan berwarna putih, kecupan lembut, cincin yang hiasannya akan bersatu kalau di satukan, dihadiri seluruh orang. Supaya mereka tahu, sebahagia apa aku di hari pernikahan itu. Dengan iringan lagu romantis, berdansa berdua. Aku mau semuanya sempurna !” entah sejak kapan jawabanku bernada semangat seperti itu. Minho menaikkan sebelah alisnya, heran kurasa.

“Aku tidak bisa mengingat semuanya,” balas Minho.

“Aku juga tidak bisa mengabulkan semuanya,” tambahnya. Kami saling bertatapan beberapa saat. Mengabulkan ?

“Bawa . . aku . . pulang. .” sahut seseorang tiba-tiba. Aku menoleh ke samping dan menemukan ji kyo eonni tengah berdiri sambil memegangi perutnya. Sedetik kemudian ia terjatuh, dengan segera Minho berdiri lalu menangkap tubuhnya.

Para perawat yang lewat pun menghampiri kami. Mereka langsung membawa ji kyo eonni ke ruang ICU dengan tempat tidur dorong.

“Kau tunggu disini,” aku mendorong tubuh Minho kembali duduk di bangku. Aku mengikuti tempat tidur dorong itu dengan tergesa. Setelah tempat tidur dorong itu masuk, aku terduduk lemas di kursi tunggu di depannya. Beberapa menit kemudian seorang uisa keluar. Dengan segera aku menghampirinya.

“Bagaimana keadaannya uisa ?” tanyaku khawatir.

“Kemungkinan terburuk, janinnya harus digugurkan,” jawab uisa itu singkat. Uisa itu kembali masuk ke dalam ruang ICU. Tenggorokanku tercekat, air mataku keluar begitu saja. Aku mohon, jangan buat ji kyo eonni sedih, jangan ambil keponakanku.

“Bagaimana keadaannya ?” tanya Jinki yang ternyata sudah duduk di sebelahku.

“Buruk. Uisa bilang kemungkinan janinnya harus di gugurkan. Keadaan Ji Kyo eonni terlalu lemah,” jawabku seadanya. Isak tangisku semakin keras, aku mencoba menahannya tapi tidak bisa. Tiba-tiba tubuhku di tarik, ke dalam dekapan Jinki.

“Ssst, berdoalah semoga Ji Kyo tidak apa-apa,” ujarnya sambil mengelus rambutku. Tak lama kemudian, uisa kembali keluar dari ruang ICU. Refleks aku lepas dari pelukannya dan berdiri menghampiri uisa.

“Ottokhae uisa ?” tanyaku, menghapus air mata di pipi.

“Kalian harus bersyukur karena ia masih bisa kuat, janin yang di kandungnya juga tidak perlu di gugurkan. Ia ada di kamar rawat sekarang,” jelas uisa itu kemudian pergi.

Aku berlari mencari kamar rawat ji kyo eonni. Setelah menemukannya, aku menghadang langkah Jinki di depan pintu. Mianhae, tapi kurasa ini yang terbaik.

“Oppa, lebih baik kau tidak menemuinya dulu. Sampai Ji Kyo eonni sedikit tenang, oppa baru boleh menemuinya,” seruku. Jinki terlihat berpikir, tapi akhirnya mengangguk.

“Kamsahamnida oppa,” ujarku sambil membungkukkan badan.

***

Esok harinya, aku masih menemani ji kyo eonni di rumah sakit. Eomma dan appa sedang ada proyek di luar kota, mereka tidak bisa menjenguknya. Hari ini terpaksa aku tidak pergi ke sekolah, mengingat keadaan ji kyo eonni yang masih lemah.

“Masih belum sadar ?” tanya Minho yang baru kembali beli sarapan. Aku menggeleng, beranjak dari samping tempat tidur kemudian duduk di sofa untuk sarapan.

“Aku berharap penderitaan ji kyo eonni cepat berakhir,” jawabku sambil melepas pembungkus sumpit kayu. Ramyeon itu terasa enak di mulutku. Ah mungkin karena aku belum makan dari kemarin.

“Aaah,” aku mendesah napas panjang sambil menaruh kotak yang sudah kosong itu ke meja. Minho memasukkan sampahnya ke plastic.

“Mmm, bisa ikut denganku sebentar ?” tanya Minho sedikit ragu. Aku menatapnya yang sudah berdiri dari sofa.

“Ne,” jawabku. Aku berjalan mengikutinya, tapi ia malah duduk di kursi di depan kamar rawat ji kyo eonni.

“Waeyo ?” tanyaku memulai pembicaraan.

Minho memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Ia menatapku dengan matanya yang bulat dan besar itu. Raut wajahnya berubah menjadi serius, membuatku jadi serius juga.

“Err, mungkin ini bukan saat yang tepat. Tapi-,” ucapannya terpotong, membuatku menaikkan sebelah alis penasaran.

“Nan joahaeyo,” sambung Minho sontak membuatku memalingkan wajah. Apa yang harus kulakukan ? Gosh, jantungku tidak bisa berdetak dengan normal.

“Well ?” tanyanya menunggu jawabanku. Aku kembali menatapnya serius.

“Kita bisa mencobanya,” jawabku. Ia tersenyum kemudian memelukku tiba-tiba. Aku balas memeluknya sambil tersenyum lebar. Bebanku seakan lepas begitu saja.

“Ehem,” suara berdehem itu membuatku melepas pelukan Minho. Kami menjauhkan diri, memalingkan wajah ke arah berlawanan. Wajahku pasti memerah sekarang.

“Apa aku boleh masuk ?” tanya Jinki. Aku mengangguk. Haish, mengganggu saja.

“Gomawo,” balasnya lalu masuk ke dalam kamar rawat.

Aku melirik Minho, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung karena pelukan tadi. Apa aku jadi pacarnya sekarang ? Waa, jeongmal ? Mimpiku jadi kenyataan😄

***

2 Years later

Minho masih memelukku, sangat erat. Ia tidak peduli bagaimana orang-orang yang hilir mudik di bandara ini. Pelukannya semakin erat, membuatku sedikit kesulitan bernapas.

“Kau janji akan pulang di hari pernikahan kita nanti kan ?” entah sudah keberapa kalinya ia menanyakan hal itu. Aku mengangguk sambil melepas pelukannya.

“3 tahun lagi, kau tidak senang aku kuliah di Harvard ?” tanyaku meyakinkan.

“Ahni, aku sangat senang. Universitas nomor satu di dunia, kenapa aku harus tidak suka ? Pergilah,” jawabnya. Aku melepas tangannya yang masih menggenggam erat tanganku. Kuseret koper memasuki pintu ruang keberangkatan.

“Hyunmi-ya ! Saranghae !” teriaknya. Orang-orang menoleh ke arahnya, membuat wajahku memanas seketika. Aku melambaikan tangan padanya.

Hari pernikahan, 3 tahun lagi saat kau pulang. Kau akan menikah dengan namja yang kau cintai Hyunmi. Hanya 3 tahun, bukan waktu yang lama.

-End Hyunmi POV-

Cerita bahagia mereka cukup sampai disini

ayo lanjut part 1 nya !! :D

2 thoughts on “[FanFic] Wrong Marriage (Before story)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s