[FanFic] Jinki – Ji Kyo After Story

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Rating  : PG15 – NC

Length : Oneshot

Matahari pagi hari ini cukup menyengat. Membuatku harus mengerjapkan mata berkali-kali untuk menyesuaikan dengan cahayanya. Aku menolehkan kepala, menatap Ji Kyo yang masih tertidur. Aku mencium kilat bibirnya yang mungil itu. Ji Kyo membuka matanya perlahan, balas menatapku dengan senyuman di bibirnya.

“Morning,” sapaku, seperti biasanya. Ia bangkit duduk di tempat tidur. Kedua tangan Ji Kyo beralih menutup mulutnya. Ia segera berlari masuk ke dalam kamar mandi, muntah-muntah. Eng ya, aku baru ingat dia sedang hamil.

“Appa !! Eomma !!” teriakan Jinkyo membuatku terkesiap bangun. Uh, aku lupa kalau sudah ada Jinkyo.

Aku berlari menghampiri kamarnya di sebelah kamarku. Ia sudah duduk di tempat tidur, saat aku masuk ia langsung berlari memelukku. Menangis dengan sedikit terisak.

“Kau mimpi buruk lagi ?” tanyaku sambil menatap kedua matanya yang besar itu, sama seperti Ji Kyo. Ia mengangguk kecil. Aku menggendongnya keluar kamar, mendudukkannya di kursi khusus bayi di dekat meja makan. Tak lama kemudian Ji Kyo keluar dari kamar mandi. Ia langsung masuk ke daerah dapur untuk membuat sarapan.

Aku menghampiri Ji Kyo, memeluknya dari belakang dengan lembut. Aku menyandarkan kepala di bahunya, ia sedikit menggerakkan pundaknya.

“Jinki-ya, aku harus buat sarapan. Kita harus ke rumah eomma hari ini,” ujarnya. Aku pura-pura tidak mendengarnya dan masih tetap seperti itu.

“Lee Jinki ! atau kau mau mencoba pisau ini huh ?” Ji Kyo mengancamku sambil mengangkat pisau yang di pegangnya.

“Ya ! Kau jahat, sudah lama aku tidak seperti ini,” balasku masih tetap memeluknya.

“Lee Jinki,”

“Ne ne, aku lepas,” sahutku sambil melepas tanganku yang melingkar di pinggangnya. Aku kembali duduk di sebelah jin kyo, memandangnya yang terlihat asyik bermain dengan mainannya. Rambutnya yang pendek sebahu, memperjelas pipi chubbynya. Kau tahu ? aku beruntung memiliki keluarga kecil seperti mereka.

***

“Jinki !!!” teriak Ji Kyo dari arah dapur. Aku yang sedang menggendong Jinkyo, berlari ke arahnya.

“Kompornya tidak bisa menyala, ottokhae ?” tanyanya dengan wajah bersalah.

“Kita makan diluar saja,” usulku. Ji Kyo mengangguk semangat menanggapi ucapanku.

Akhirnya kami bertiga makan siang di restoran di ujung jalan apartemen. Restoran yang tidak terlalu penuh. Ji Kyo duduk sambil terus memutar bola matanya ke seluruh café.

“Aku pesan dulu ya,” aku berjalan ke arah kasir yang dijaga oleh wanita seumuran Ji Kyo. Aku memesan 2 steak dan 1 bubur untuk Jinkyo.

“Chamkanman, kau Jinki kan ?” tanya penjaga kasir itu.

“Ne,”

“Aku akan berikan diskon. Dengan syarat kau harus berfoto denganku,” ujarnya. Ia menyerahkan ponselnya, kami berpose seperti selca orang-orang biasa lainnya. Ia membungkukkan badan ketika ku serahkan kembali ponselnya.

Aku kembali ke meja Ji Kyo, dan yang kutemukan tekukan wajah darinya. Aku melambaikan tangan di depan wajahnya, tapi ia tidak pura-pura tidak lihat. Aku mencoba menghiraukannya dan bermain dengan Jinkyo sambil menunggu pesanan datang. Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Ji Kyo tidak mengucapkan apa-apa, ia langsung melahap makanan miliknya.

“Hey, kau kenapa ?” tanyaku. Ia menggelengkan kepalanya. Aku mengingat-ingat lagi, kesalahan apa yang sudah kuperbuat.

“Jinki !! Kyaaa~” aku menoleh ke belakang, dan beberapa wanita tengah berkerumun sambil memandangaku. Sedetik kemudian aku mendengar suara bantingan sendok. Ji Kyo mengelap mulutnya asal kemudian keluar restoran, membawa Jinkyo terburu-buru. Tanpa memikirkan makanan -yang bahkan belum ku sentuh sama sekali- aku mengejar mereka. Dengan cepat kuraih tangannya, membalikkan badannya ke arahku.

“Tch, kenapa mencegahku ? Bagus kan, kau lebih leluasa bersama fans mu itu,” ujar Ji Kyo ketus. Ia membalikkan badannya, kemudian berjalan menjauhiku.

Aku kembali ke restoran, memakan sisa steak yang bahkan belum kusentuh. Jinki, sikap cemburunya itu hanya sementara. Mungkin karena kehamilannya ia jadi sedikit sensitive, biarkan dia tenang. Berpikirlah positif.

***

Sampai esok harinya, Ji Kyo belum mau mengeluarkan sedikit pun suara dari bibirnya. Ia sibuk mengurus Jinkyo, entah itu mengajaknya main atau apapun.

“Jinkyo,” panggilku. Ia yang tengah bermain bersama ibunya berlari kecil ke arahku. Aku menggendongnya, mengusap rambutnya lembut.

“Kita pergi ke taman sore ini. Kau mau ?” tanyaku.

“Ne appa,” jawabnya semangat.

Aku memakaikan jaket tebal pada Jinkyo, dan juga sarung tangan. Malam ini pasti sangat dingin, pertengahan musim dingin biasanya sering turun salju di malam hari. Tidak lupa aku membawa topi untuk menutupi kepalanya nanti.

“Eomma, ayo,” ajaknya meraih tangan Ji Kyo.

Kami bertiga jalan bergandengan di jalan menuju taman bermain. Seperti pasangan-pasangan lainnya yang juga sedang jalan-jalan. Hanya saja, di tengah-tengah kami sudah ada seorang anak kecil sekarang.

Aku melirik ke arah Ji Kyo, ia menatap jalanan dengan lurus. Ia balas menatapku, dan kau tahu apa yang ia lakukan ? Ji Kyo menjulurkan lidahnya mengejekku. Ia kembali menatap jalanan sambil tersenyum kecil.

“Well, kau masih marah ?” tanyaku ketika kami berdua duduk di salah satu bangku taman. Jinkyo sedang bermain ayunan kecil bersama teman sebayanya.

“Aku tidak marah, hanya sedikit jealous melihatmu foto bersama pelayan di restoran itu. Sudahlah, tidak usah di bahas,” jawabnya tanpa menatapku. Ia menggosok-gosokkan tangannya, kemudian memeluk tubuhnya sendiri.

“Kau kedinginan ?”

Ji Kyo mengangguk. Aku menggeser posisi duduk mendekat ke arahnya. Sedetik kemudian aku memeluknya dengan erat. Mencoba membuatnya hangat dan nyaman. Hampir setiap orang yang lewat memandangku sambil senyum-senyum tidak jelas.

“Aish Jinki. Lepaskan, aku malu,” pinta Ji Kyo. Aku tidak menghiraukannya dan tetap memeluknya.

“Aku janji tidak akan dekat dengan wanita lain lagi,” ucapku lalu mencium keningnya.

Aku melepas pelukan hangat itu. Ji Kyo mengelus perutnya di balik mantel tebal yang dipakainya. Ia tersenyum simpul. Aku mengacak rambutnya kasar, jeongmal, wajahnya lucu seperti itu.

“Appa !! Eomma !!” teriak Jinkyo. Aku tersentak ketika melihat Jinkyo menelungkup di tanah sambil menangis cukup keras. Kami berlari menghampirinya, dan langsung menggendongnya bangun dari tanah.

“Kenapa kau bisa jatuh ?” tanyaku, membersihkan kotoran di bajunya.

“Ayunannya terlalu kencang,” jawab Jinkyo sedikit terisak.

Ji Kyo menepuk-nepuk baju Jinkyo yang kotor kemudian menggendongnya. Akhirnya kami memutuskan pulang karena langit sudah mulai gelap. Melihatnya menangis, aku tidak jadi membawanya ke namsan tower.

***

Manager hyung tiba-tiba meneleponku. Aku segera mengangkatnya, dan suara manager hyung membuatku ingat kembali wajahnya. Terakhir kali aku bertemu dengan manager hyung, saat ia membantuku pindah apartemen 1 tahun yang lalu.

“Ne hyung,” jawabku bersemangat.

‘Kau tahu ? Salah satu channel TV meneleponku, menawarkan apakah kau mau jadi MC di acara Korea Film Awards minggu depan ?’

“Jeongmal ? Aku sangat mau hyung !!” sahutku.

‘Baiklah, 3 hari lagi aku akan kesana. Acaranya di Pulau Jeju, jadi kau harus datang lebih awal,’

“Ne. Ah iya, Ji Kyo dan Jinkyo boleh ikut juga ?”

‘Keurae, nanti aku minta tiket lebih untuk mereka. Annyeong,’

Aku menutup flip ponsel itu dan langsung berlari masuk ke kamar Jinkyo. Mereka bermain boneka, keduanya tertawa lebar memainkan boneka itu seperti tokoh kartun. Ya, aku beruntung punya dua malaikat seperti mereka.

“Ji Kyo, 3 hari lagi aku akan berangkat ke Pulau Jeju,” ujarku menghampiri mereka.

“Eh ? Untuk apa ?” tanya Ji Kyo sambil menaruh boneka yang di pegangnya.

“Aku jadi MC di Korea Film Awards minggu depan,” jawabku. Raut wajah Ji Kyo berubah, ia tidak senang mendengar jawabanku.

“Tapi aku harus di temani 2 orang baru boleh kesana. Jadi aku memutuskan untuk membawamu dan Jinkyo juga,” tambahku.

“Jinjjayo ?” tanyanya. mata Ji Kyo membulat menunggu jawabanku.

“Ne,”

Ji Kyo langsung memelukku. Jinkyo menatapku dengan mata besarnya heran. Aku akan anggap ini sebagai liburan, bahkan aku belum pernah merencanakan bulan madu dengannya.

***

“Mwo ?! Hanya sisa satu tiket ?” tanyaku tidak percaya.

‘Ne, mungkin hanya Ji Kyo atau Jinkyo yang bisa ikut. Kau dan aku termasuk dalam acara, jadi tidak perlu tiket. Dan untuk umum hanya sisa satu lagi,’

Ji Kyo atau Jinkyo ? Kalau aku membawa Jinkyo sendirian, aku pasti sibuk disana dan tidak akan sempat mengurusnya.

“Aku ambil tiket itu,”

Akhirnya Ji Kyo yang ikut denganku ke Pulau Jeju. Jinkyo terpaksa kami titipkan ke Soori ahjumma dan juga eomma. Mungkin lain kali aku akan mengajaknya.

Jeju Island, 3.00 pm. .

Sesampainya kami semua di Jeju, bus yang disiapkan panitia langsung berangkat ke hotel. Perjalanan selama 2 jam yang cukup membuat kami mengantuk. Yang kudengar hotelnya terletak di pinggir pantai, aku bisa membayangkan bagaimana suasana romantis disana.

Semuanya sudah masuk ke kamar masing-masing. Dan ternyata benar, hotelnya tepat di pesisir laut. Pintu belakangnya juga tepat mengarah ke laut. Warna biru laut yang terang seimbang dengan warna langit yang cerah juga sore ini.

“Ayo mandi dulu, kau harus lihat tempat acaranya kan ?” seru Ji Kyo. Aku membalikkan badan dari jendela. Ia mengeringkan rambutnya yang basah, sehabis mandi.

“Ne, tapi aku mau sesuatu sebelum mandi,” aku mendekat ke arahnya.

“Apa ? Berenang ?” tanyanya polos. Lama-kelamaan sudah tidak ada jarak lagi diantara kami. Ia bersandar di dinding, dan aku menghimpit tubuhnya.

“Jinki, aku masih lelah,” jawabnya, tahu apa maksudku.

“Hanya sedikit,” aku mulai mendekatkan wajahku. Kuangkat wajahnya yang sedikit menunduk itu.

Akhirnya bibirnya yang mungil itu kembali menyentuh bibirku. Awalnya hanya ciuman biasa seperti biasanya, tapi pikiranku mendorong untuk lebih dari itu. Ciuman kami semakin panas. Ji Kyo  mendorong tubuhku menjauh dari hadapannya.

“Mandi dulu !” perintahnya. Aku menghela napas pasrah kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah keluar dari kamar mandi, aku mendekati Ji Kyo yang sedang membereskan baju ke dalam lemari. Aku memeluknya dari belakang, membuat tubuhnya sedikit tersentak kaget.

“Jinki,” ia menggerakkan pundaknya berharap aku mengangkat kepalaku yang bersandar.

“Ahni, biarkan seperti ini dulu,” jawabku semakin memeluknya. Aku menciumi leher Ji Kyo yang sedikit tertutup rambutnya. Karena mengganggu, aku menyingkirkan rambutnya ke depan dan kembali menciuminya tanpa ada yang mengganggu.

Tok tok tok. .

Dengan kesal aku berjalan ke arah pintu dan membukanya secara kasar. Kulihat manager hyung sedikit bergidik melihat wajahku yang seperti singa kehilangan mangsanya. Ya, aku kehilangan mangsaku lagi hyung.

“Semuanya sudah menunggumu. Ayo,” ajaknya sedikit gugup.

“Ji Kyo, aku berangkat dulu,” teriakku ke arah Ji Kyo yang masih membereskan baju.

“Ne !” jawabnya. Aku menutup pintu kemudian mengikuti langkah manager hyung ke lapangan parkir.

Perjalanan ke gedung itu memakan waktu satu setengah jam, berjarak sekitar 90km dari hotel. Kami semua pulang dari gedung itu sekitar jam 9 malam. Dan mungkin akan sampai sekitar jam 10 ke hotel. Aku tidak yakin Ji Kyo masih bangun.

Benar dugaanku. Sesampainya di hotel, Ji Kyo tidak membukakan pintu walaupun aku mengetuknya berkali-kali. Akhirnya terpaksa aku memakai kunci cadangan yang ada di resepsionis.

Ji Kyo tertidur di tempat tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Hari pertama aku gagal berdua bersamanya. Tidak bisa memandang bintang, padahal langit cerah sekali. Tidak bisa melakukan itu di malam romantis seperti ini. Ffiuh, mungkin besok akan lebih romantis. ^^

***

Tubuhku terguncang-guncang dan aku segera membuka mata. Cahaya matahari dari jendela membuatku sedikit mengernyitkan mata karena terlalu terang. Tatapanku terhenti pada seseorang yang berdiri membelakangi cahaya itu.

“Sudah pagi. Semua sudah sarapan, mereka menunggu kita,” seru Ji Kyo. Aku terduduk di atas tempat tidur, mengerjapkan mata beberapa kali mengumpulkan kembali nyawaku. Kurasa, Ji Kyo tengah menatapku tidak sabaran. Tangannya sudah terlipat di depan dada, menyuruhku cepat mandi atau dia akan mati kelaparan.

Di restoran hotel itu, semua artis dan juga para bintang tamu, yang ikut hadir di acara itu, sedang sarapan sambil menatap pemandangan laut yang tersaji di depan mata mereka. Tidak terkecuali aku dan Ji Kyo yang baru saja datang. Ji Kyo menggumam kagum, aku segera menggenggam tangannya erat.

Aku menyuruhnya duduk di kursi yang tersisa, sementara aku mengambilkannya sarapan. Tidak butuh waktu lama mengantri di bagian makanan utama sarapan pagi itu. Hampir sebagian tamu sudah sarapan terkecuali aku dan Ji Kyo.

“Igeo,” ujarku sambil menyerahkan satu piring nasi goreng lengkap dengan omelette-nya. Ia menerimanya dengan sedikit kasar. Meletakkannya ke atas meja dan menyuapkan sesendok penuh nasi goreng.

“Kelaparan kim Ji Kyo ?” ejekku. Hanya senyum simpul, jawaban dari pertanyaanku.

“Dari tadi malam aku tidak makan. Menunggumu pulang, tapi tidak juga pulang. Akhirnya aku memilih tidur daripada harus berkutat dengan cacing dan bayi dalam perutku kan ?” sesuap lagi nasi goreng kembali memenuhi mulut Ji Kyo. Aku menangkap ucapan terakhirnya. Ah ! Kenapa aku sampai lupa kalau dia sedang hamil ?

“Boleh aku duduk disini ?” tanya seseorang berhasil mendapat tatapan aneh dari Ji Kyo. Aku menoleh ke belakang melihat wanita yang baru saja menanyakan tempat duduk yang tersisa di sebelahku.

“Sure, pakailah sesukamu,” jawabku sambil tersenyum ramah. Wanita itu duduk di sebelahku, memakan sepiring salad dengan anggun. Aku memandang wanita itu, mengingat-ingat kembali namanya. Im Yoona, kalau tidak salah ia salah satu member SNSD. Ya, ia salah satu anggotanya.

“Dimana yang lainnya ?” tanyaku mencoba membuka pembicaraan.

“Ah, maksudmu member SNSD lainnya ? Mereka sedang ke pantai, bermain-main disana sedangkan aku menolaknya. Aku tidak suka air, pasir, dan juga matahari,” jawabnya. Sesuap salad dengan sendokan kecil masuk ke dalam mulutnya. Berbeda sekali dengan Ji Kyo yang menyuapkan sesendok penuh nasi goreng, tanpa peduli keadaan sekitar. Tunggu, kenapa aku malah membandingkan mereka ?

“Ehm,” Ji Kyo berdehem kecil membuatku menoleh padanya.

“Aku sudah selesai makan, dan kau masih memandanginya huh ?” sindirnya. Yoona terlihat tidak senang mendengar ucapan Ji Kyo kemudian sedikit bergeser menjauh dariku.

***

Dentuman suara music di pesisir pantai semakin menggila saat hampir tengah malam. Keadaan yang tadinya aman, sekarang tidak terkendali karena adanya soju dan juga minuman beralkohol lainnya. Tentu saja artis-artis yang datang kesini, biasanya diatas 23 tahun. Dan aku sendirian, yang berumur 22 tahun.

Aku menyuruh Ji Kyo pulang ke hotel agar kehamilannya tidak terganggu. Sedangkan aku ikut manager hyung ke pesta itu. Ia entah pergi kemana, aku duduk di sebuah meja bar di café pinggir pantai. Hanya meminum air putih biasa, karena aku tidak mau mabuk malam ini.

“Jinki, kau tidak turun ?” tanya salah satu sunbaenim. Aku menggeleng menolak ajakannya.

Setiap orang yang berpapasan denganku selalu menyapa, mengajakku turun ke lantai dansa, atau mengajak minum-minum. Tapi aku menolak dengan tegas, dan lebih baik kalau aku kembali ke hotel. Terlalu bising disini.

Aku melihat manager hyung tengah mengobrol dengan seorang aktris. Ia terlihat tersenyum lebar sambil meneguk isi wine yang di pegangnya. Aku menghampiri manager hyung lalu membisikkan sesuatu padanya.

“Baiklah, kau boleh pulang,” jawabnya.

Perjalanan ke hotel itu terasa jauh menurutku. Padahal jaraknya hanya sekitar 200 meter. Dengan langkah ringan aku pulang ke kamar yang hanya berjarak beberapa meter lagi. Aku masuk ke dalam kamar yang tidak terkunci. Ji Kyo duduk di sebuah meja yang menghadap keluar, memandang ke laut.

“Ya !” seruku sambil menepuk pundaknya. Ia tersentak kemudian berbalik menghadapku.

“Haish, jantungku hampir lepas Jinki !” balasnya mengerucutkan bibir.

“Panggil aku yeobo,” ia menaikkan sebelah alisnya heran.

“Sejak pernikahan kita, kau bahkan belum pernah memanggilku yeobo. Mulai malam ini kau harus memanggilku yeobo,” perintahku.

“Ne, Jinki yeobo,” jawabnya.

“Kau mau ikut ?” bisikku pelan di kupingnya.

“Kemana ?” tanyanya sedikit tertawa.

“Ke tempat tidur, kita main-main disana,” jawabku langsung menggendongnya. Aku menidurkan Ji Kyo di atas tempat tidur. Sebelum sempat menciumnya, ia mendorong tubuhku agar tidak menindih tubuhnya.

“Wae ?”

“Perutku sedang sakit. Jangan sekarang,” balasnya.

Aku terduduk di samping tempat tidur pasrah. Ji Kyo tertunduk di sampingku, merasa bersalah. Aish, kenapa harus sekarang ? Lagi ?

“Gwenchana,” aku mengacak rambutnya lembut.

***

Sampai kembali lagi ke Incheon, apartemen kami, ia tidak mau melakukannya denganku. Aku menerima semua alasannya. Sepertinya keadaan Ji Kyo lebih lemah dari sebelumnya. Dan lebih manja dari sebelumnya.

“Jinki~ !!” entah sudah ke berapa kalinya aku mendengar teriakan Ji Kyo. Permintaannya selalu aneh-aneh, dan ini sudah kesekian kalinya. Hampir saja kesabaranku habis, tapi melihat wajahnya aku jadi tidak tega.

“Ne !!” balasku. Aku berlari meninggalkan dapur menuju kamar.

“Waeyo ?” tanyaku sedikit terengah.

“Aku mau makan spaghetti, buatanmu sendiri,” serunya. Aku menghela napas pasrah kemudian mengangguk.

Dengan sedikit kerepotan aku menyiapkan semua bahan-bahan spaghetti. Untung saja Jinkyo sedang tidur siang, jadi aku sedikit lebih leluasa.

Aku membawa sepiring spaghetti ke dalam kamar Ji Kyo. Ia duduk bersandar di tempat tidur sambil melihat-lihat majalah. Kehadiranku membuatnya mendongak dari majalah yang dipegangnya. Ia tersenyum melihatku kemudian menyimpan majalahnya.

“Makan dulu chagiya,” ujarku, duduk di sampingnya.

Aku menyodorkan satu sendok spaghetti ke mulutnya. Ia membuka lebar mulutnya dan melahap spaghetti itu. Aku menunggu reaksi dari Ji Kyo, ia tersenyum sambil mengangkat jempolnya. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya. Spaghetti yang kubuat sudah habis di makan oleh Ji Kyo.

“Appa !!” belum sempat aku mencuci piring, Jinkyo sudah memanggilku. Aku segera melepas celemek dan berlari ke kamarnya.

“Ne,” jawabku sambil menggendongnya dari tempat tidur. Ia terisak kemudian memelukku erat.

Aku mendudukkan Jinkyo di kursi bayi, menungguku selesai mencuci piring. Selesai mencuci piring, aku melihat Ji Kyo keluar dari kamar. Ia duduk di sofa lalu bermain dengan Jinkyo. Pemandangan itu membuatku tidak bisa marah pada mereka.

Nae sarangi jerariro otji mothago

Heulin nunmul mankeum meolli ganeyo

Ponselku berdering dari arah kamar. Dengan tergesa kulepas celemek dan berlari ke arah kamar. mengangkat telepon dari managaer hyung.

“Kenapa hyung ?”

‘….’

“Ke kantor management ? Sekarang ? Uh, rapat apa lagi hyung ? Aku tidak bisa, Ji Kyo dan Jinkyo bagaimana ? Hhh, baiklah aku segera kesana,” aku menghela napas panjang lalu menutup telepon darinya. Baru kali ini aku dapat telepon lagi, setelah 1 tahun sejak aku mengundurkan diri dari dunia entertainment. Sekarang jam 5 sore, ke Seoul butuh waktu satu jam dan aku harus berangkat sekarang.

“Ji Kyo , aku harus berangkat ke Seoul. Kau tidak apa-apa sendirian bersama Jinkyo ?” tanyaku sambil berjalan menghampirinya. Ji Kyo memutar bola matanya tampak berpikir.

“Untuk apa ?” tanyanya dingin, penuh selidik.

“Manager hyung memanggilku. Dia bilang, pihak management akan membicarakan sesuatu,”

Ji Kyo akhirnya mengangguk. Dengan sekali gerakan cepat aku berlari ke kamar dan mengganti baju. Kuraih kunci mobil di dekat TV kemudian segera turun ke parkiran apartemen. Aku mau cepat sampai ke rumah nanti malam, jadi kubawa ngebut di jalan.

***

Mereka mengajakku untuk jadi MC acara Two Days One Night, awalnya aku menolak untuk ikut karena Ji Kyo dan Jinkyo. Tentu saja aku menolak, acaranya di Gwang Ju. Tapi manager hyung tahu bahwa keuanganku mulai menipis, dan aku menerimanya. Ternyata bukan rapat saja. Mereka membawaku survey ke daerah Gwang Ju, 2 jam dari Seoul. Alhasil perjalanan pulang ke Incheon membutuhkan waktu 3 jam.

Ketika sampai di apartemen, jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Aku masuk ke dalam apartemen yang ternyata belum dikunci. Semua badanku pegal, 6 jam di perjalanan dalam satu hari. Hari ini sungguh, kepalaku pusing, badanku sakit semua. Rasanya kepalaku akan pecah kalau tidak diistirahatkan sekarang juga.

Aku masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan diri di sebelah Ji Kyo yang sudah tertidur. Tubuhku sudah tidak kuat untuk berganti baju. Baru saja aku akan memejamkan mata ketika Ji Kyo memanggilku.

“Darimana kau ?” tanyanya datar. Aku berbalik menghadapnya.

“Dari Gwang Ju,” jawabku singkat mencoba mengakhiri pembicaraan yang malah menambah pusing kepalaku.

“Kau bilang ke Seoul. Kenapa sampai ke Gwang ju ? kau bohong padaku ?” tanyanya penuh selidik.

“Manager hyung membawaku survey kesana,” jawabku lagi sambil memejamkan mata tanpa menatapnya.

“Survei apa ?” tanyanya lagi.

“Acara baru,” aku mencoba menjawab lebih singkat. Ia memegang kedua pipiku, membuat mataku yang terpejam kembali terbuka. Uh, ayolah Ji Kyo jangan tanya aku lagi.

“Acara apa ?” tanya Ji Kyo dengan nada lebih kejam dari sebelumnya. Aku bangkit, duduk di atas tempat tidur.

“KAU BISA DIAM HUH ?! KEPALAKU PUSING KARENA BERJAM-JAM MENYETIR. BISA KAU MENANYAKAN HAL ITU BESOK SAJA ? DAMN ! SEHARUSNYA AKU TIDAK USAH PULANG KE APARTEMEN DAN MENGINAP DI RUMAH MANAGER HYUNG DI SEOUL !” kata-kata bentakan itu keluar dari mulutku. Aku sudah sangat kesal karena pertanyaan bertubi-tubi dari wanita ini.

“BAIK, KALAU AKU MENGGANGGU ! AKU AKAN PERGI DARI SINI BESOK. DAN SURUH WANITA YANG BARU SAJA KAU TEMUI TADI TINGGAL DISINI !” balas Ji Kyo tak kalah keras sambil ikut duduk di sebelahku. Wanita ? wanita mana ?

“KAU MENUDUHKU BERTEMU WANITA LAIN DILUAR SANA ?! ARGH ! KENAPA RASA CEMBURUMU ITU BERLEBIHAN ? SUDAH SEHARIAN INI KAU MENYUSAHKANKU. SEMUA PERMINTAAN ANEHMU ITU AKU TURUTI. TAPI PERMINTAANKU TIDAK PERNAH KAU TURUTI KAN !” nada bicaraku semakin meninggi karena tingkahnya. Ji Kyo memundurkan wajahnya. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“CUKUP ! Kalau memang seperti itu kenapa tidak menceraikanku dari dulu huh ? Aku pergi sekarang !” Ji Kyo beranjak dari tempat tidur. Ia keluar dari kamar lalu membanting pintunya dengan keras.

“Silahkan Ms. Lee !!” balasku. Aku merebahkan diri di tempat tidur. Mencoba memejamkan mata dan menghilangkan denyutan-denyutan yang semakin menjadi-jadi. Sungguh, aku tidak bisa berpikir jernih sekarang.

***

Aku membuka mata perlahan. Menatap ke samping tempat tidur dan tidak melihat Ji Kyo disana. Mungkin dia sedang menyiapkan sarapan. Aku beranjak keluar dari kamar, melihat kedapur, ruang TV, sampai ke arah kamar mandi yang tidak ditutup pintunya. Mungkin di kamar Jinkyo.

Aku beralih ke kamar Jinkyo. Tapi dia tidak ada juga. Bahkan Jinkyo tidak ada di tempat tidurnya. Semuanya rapi, sampai baju Jinkyo pun tidak ada di lemarinya. Kemana dia ?

Pikiranku memutar kembali kejadian tadi malam. Ketika aku pulang dari gwang ju, pertengkaran hebat itu, dan aku sudah mengusirnya. Aku terduduk di pinggir tempat tidur Jinkyo. Merutuki diri sendiri karena sudah membentaknya. Harusnya aku senang  dia mengkhawatirkanku seperti itu. Siapa yang tidak khawatir suaminya pergi sampai jam 2 malam tanpa memberi kabar.

Aku meraih frame foto yang berisi foto kami bertiga –aku, Ji Kyo dan Jinkyo. Memeluknya seperti saat aku sedang memeluknya. Mianhae Ji Kyo, aku tidak bermaksud seperti itu. Pikiranku sedang kacau semalam, aku bahkan tidak ingat kata-kata apa yang kukeluarkan sampai ia pergi seperti sekarang. Apa yang harus kulakukan ?

Ponsel Ji Kyo tergeletak di meja dekat frame foto tadi. Dan aku tidak tahu bagaimana mencarinya. Ia pergi jam 2 malam, bagaimana kalau ia diculik bersama Jinkyo ? Ia sedang hamil, aku takut terjadi apa-apa.

***

“Hyunmi, kita bisa bertemu hari ini ?”

‘…’

“Di Geongchuk café dekat apartemenmu. Sekarang,” aku turun dari mobil masuk ke dalam café Geongchuk. Tidak terlalu ramai, tapi itulah tujuanku. Agar para fans yang masih setia itu tidak menggangguku.

Hyunmi masuk dengan tergesa karena salju yang turun secara tiba-tiba. Ia mengetuk-ngetukkan sepatunya di depan pintu lalu menghampiriku yang sudah duduk. Ia membuka hoodie dan sarung tangan yang dipakainya.

“Ada apa oppa ?” tanyanya membuka pembicaraan.

“Aku sedang bertengkar dengan Ji Kyo. Apa kau tahu itu ?” tanyaku. Ia yang sedang focus membersihkan bajunya mengangkat kepalanya. Matanya membulat kaget sekaligus heran.

“Eh ? Selama 2 tahun pernikahan kalian, masalah terakhir yang kudengar hanya perpisahanmu dengan Ji Kyo eonni waktu itu,”

“Ya, aku salah. Tadi malam aku pulang jam 2 karena harus ke Gwangju. Kepalaku pusing karena menyetir selama 6 jam. Saat sampai di apartemen dia bertanya semua hal yang membuat kepalaku semakin pusing. Dan tanpa sadar, aku sudah–,” aku menghela napas.

“Mengusirnya,” sambungku kemudian. Hyunmi semakin membelalakkan matanya, ia mendecakkan lidah.

“Kau mengusirnya ?” tanyanya dengan nada lebih tinggi.

“Aku tidak bermaksud seperti itu. Setelah itu dia pergi, aku tidak tahu kemana. Ia juga membawa Jinkyo. Ponselnya sengaja ditinggalkan. Apa ia ke apartemenmu ?” tanyaku.

“Tidak. Mungkin ke rumah eomma, kalaupun datang ke apartemenku, aku tidak akan menerimanya. Seharusnya dia bisa membereskan masalahnya sendiri,” Hyunmi menyeruput chocolate hangat yang baru diantarkan pelayan.

“Kau berpihak padaku ?”

“Tidak ! Kau sudah mengusirnya dan membentaknya,”

“Kau tahu dia pergi kemana ?”

“Tidak,” jawab Hyunmi singkat cenderung tidak peduli. Ia kembali meminum chocolate hangat miliknya sambil sesekali menggosokkan tangan karena hawa dingin. Apa mereka berdua kedinginan diluar sana ? Ji Kyo tidak membawa dompetnya juga. Ia tidak mungkin sampai ke rumah eomma, terlebih lagi menginap di hotel.

***

Kali ini aku mencarinya ke rumah eomma. Sedikit ragu saat akan mengetuk pintunya, takut-takut mereka akan langsung memarahi dan mengusirku dari sini. Setelah menghela napas beberapa kali akhirnya tanganku beralih ke depan pintu dan mengetuknya perlahan. Tak lama kemudian pintunya terbuka, eomma membukanya lebar. Senyuman di bibir eomma membuatku yakin ia tidak ada disini.

“Jinki ? Ada apa ? Ayo masuk,” ujarnya. Aku mengikuti langkah eomma masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa.

“Mana Ji Kyo dan Jinkyo. Kau tidak bersama mereka ?” tanya eomma.

“Ah, tidak. Aku hanya ingin berkunjung ke sini,” jawabku bohong. Eomma mengangguk. Ia terlihat melirik jam tangannya sesekali sambil menemaniku duduk di sofa.

“Eomma mau pergi ?” tanyaku karena melihatnya sibuk mengotak-atik ponselnya.

“Eh, uh. Iya, tapi aku akan menggagalkannya,”

“Jangan, eomma pergi saja. Aku juga mau pulang,” aku mencegah tangannya. Eomma tersenyum padaku kemudian meraih tasnya.

“Baiklah, aku pergi. Kalau kau pergi tidak usah dikunci, ada pembantu yang akan datang. Eomma pergi dulu,” eomma mengacak rambutku pelan. Ia, dengan sedikit berlari keluar rumah. Sedangkan aku masih diam memandanginya.

Aku keluar dari rumah eomma, menutup pintunya serapat mungkin. Segera kunaiki mobil yang terparkir di depan rumah. Atau mungkin dia pergi ke rumah di dekat rumah Soori ahjumma ? Disana aku pertama kali bertemu dengannya. Dari sini ke tempat ahjumma butuh waktu 2 jam, apa aku telepon ahjumma saja ?

“Ahjumma,” ujarku ketika ia mengangkat teleponnya.

“Apa Ji Kyo ada di rumahnya di sana ?” tanyaku.

‘…’

“Tidak ? Kamsahamnida ahjumma,”

Aku sudah putus asa mencarinya. Kemana dia, aku tidak tahu mereka sudah makan atau belum. Darimana mereka makan, pergi, kalau Ji Kyo tidak membawa dompetnya. Gosh, cepat pertemukan aku dengan mereka.

***

Dengan gontai aku melangkah memasuki gedung apartemenku. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Karena kesalahanku sendiri, hidupku jadi seperti ini.

Saengil chukhahamnida

Saengil chukhahamnida

Saranghaneun Lee Jinki

Saengil chukhahamnida

Para pelayan yang ada di gedung apartemen itu menghampiriku dengan sebuah kue di tangan salah satunya. Tidak terlalu besar, tapi cukup membuatku terharu. Bahkan aku lupa hari ini ulangtahunku sendiri. Mungkin Ji Kyo tidak ingat ulang tahunku juga.

Aku menghampiri beberapa pelayan itu. Meniup lilinnya satu persatu, angka 23 terpampang jelas di atas kue kecil itu. Mataku sedikit berkaca-kaca. Di hari ulangtahunku, kado terbesarnya adalah pertengkaran hebat aku dan Ji Kyo.

“Maaf kami tidak bisa memberi apa-apa. Hanya kue ini,” ujar salah satu resepsionis wanita yang memegang kuenya.

“Gwenchana, ini semua sudah membuatku terharu,” balasku.

Kami semua duduk di sofa di lobby gedung apartemen itu. Memakan kue kecil itu bersama-sama sambil tertawa membicarakan hal yang tidak penting tapi berhasil membuatku tertawa. Tawa palsu, hatiku tidak berbahagia sekarang. Ponselku berdering lagi. Dengan cepat ku angkat dan menjauh dari acara makan-makan kue itu.

“Yeoboseyo,” jawabku.

‘Jinki ! Ji Kyo dalam keadaan kritis sekarang ! Cepat datang ke Seoul Medical Center kamar 235 sekarang juga !’

Teriakan panic Minho di seberang sana membuatku berlari keluar dari gedung apartemen. Tanpa menutup teleponnya aku memasuki mobil, memasukkan ponselku ke dalam saku kemudian menjalankan mobilnya. Bertahanlah Ji Kyo, aku akan segera datang.

***

45 menit kemudian aku sampai di rumah sakit. Lebih cepat karena yang aku ingat hanya Ji Kyo. Ruangan bernomor 235 itu tidak terlihat apa-apa. Hanya ruangan gelap yang bahkan tidak ada cahaya sedikitpun. Dengan ragu aku memasuki kamar rawat itu, mencari saklar lampu di belakang pintu.

KLIK

“SAENGIL CHUKHAHAMNIDA !!!” suara riuh terompet langsung terdengar ketika aku menyalakan lampu. Confetty berterbangan memenuhi kamar rawat itu.

Hyunmi berlari menghampiriku dan langsung memakaikan topi berbentuk kerucut di atas kepalaku. Mereka masih saja riuh, sedangkan aku masih diam, heran.

“Ya ! Kenapa diam saja ?” seru Ji Kyo lalu menghampiriku. What the ?! Dia tidak sakit sama sekali ?

“Kau tidak apa-apa ?” tanyaku panik. Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar lalu mengecup pipiku sekilas.

“Saengil chukhahamnida naui nampyon Lee Jinki,” bisiknya lembut. Aku masih saja diam di belakang pintu. Ji Kyo menarik tanganku menghampiri eomma, appa, Soori ahjumma, Minho, Hyunmi, Jinkyo dan manager hyung. Sejak kapan mereka ada disini ?

“Make a wish !!” Ji Kyo merebut kue yang dipegang Minho dan menyodorkannya ke hadapanku.

“Kalian merencanakan ini semua ?” tanyaku heran. Ia mengangguk semangat.

“Appa !! ayo tiup lilinnya !” seru Jinkyo yang sudah berdiri di atas tempat tidur. Aku menggendong Jinkyo.

“Kita berdua tiup lilinnya. Hana, tul, set,” tepat setelah hitungan ketiga, lilin kecil yang menghiasi kue itu mati. Jinkyo bertepuk tangan kecil disusul yang lainnya.

Pesta kecil-kecilan itu berlangsung di kamar rumah sakit. Kue yang berukuran cukup besar itu bisa memenuhi mulut semua orang yang hadir. Hal ini membuatku kesal sekaligus terharu. Kesal karena mereka semua berhasil mengerjaiku, senang karena ternyata mereka masih ingat hari ulangtahunku.

***

Aku menyelimuti tubuh kami berdua –aku dan Ji Kyo yang tanpa berbalut pakaian. Ji Kyo memeluk pinggangku erat dan menyandarkan kepalanya di dadaku. Kecupan di bibirnya kilat mengakhiri ‘hubungan’ kami malam itu.

“Harusnya aku marah padamu Ji Kyo,” sahutku masih tetap memeluknya.

“Waeyo ?”

“Karena kau berhasil membuatku kebingungan, kesal, semuanya dalam waktu seminggu ini. Sejak kapan kau mulai mengerjaiku huh ?”

“Sejak kita bertiga makan di restoran waktu itu. Aku sengaja pura-pura marah, di Jeju ketika aku pura-pura tidur saat malamnya. Kau tahu ? Rencana ke jeju itu rencana hyung oppa, dan aku sengaja tidak mau melakukannya untuk membuatmu kesal. Karena kau belum kesal juga akhirnya rencana terakhirnya adalah membuatmu kesal, dan lelah,”

“Kejadian kemarin kalian juga yang merencanakannya ?”

“Ne, hyung oppa sengaja membawamu ke Gwangju, dan pulangnya aku menanyakanmu segala hal. Hasilnya, kau memarahiku, sekaligus mengusirku,”

“Setelah itu kalian pergi kemana ?”

“Ke apartemen Minho. Ia menjemputku dan Jinkyo malam itu, jadi aku tidak perlu membawa ponsel ataupun dompet. Kau tidak memikirkan apartemen Minho kan ?”

PLETAK

Aku menyentil kepalanya cukup keras. Ji Kyo meringis sambil mengusap kepalanya pelan.

“Ya !”

“Apa ?” tanyaku menantang. Ia mengerucutkan bibirnya masih sambil mengelus kepalanya.

“Kau tidak sadar kalau orang-orang menghindarimu huh ? Eomma itu pergi ke rumah sakit tadi siang, Hyunmi setelah menemuimu juga langsung pergi ke rumah sakit, dan Soori ahjumma. Secepat itukah ia mencariku ke rumah yang berjarak cukup jauh dari rumahnya ?” ucapan Ji Kyo menyadarkan aku tentang keanehan-keanehan yang bahkan tidak aku sadari. Ya, eomma pergi, Hyunmi tidak peduli, dan Soori ahjumma yang langsung menjawab tidak ketika aku meneleponnya. Uh, aku terlalu bodoh.

“Haish ! Kenapa aku sampai tidak tahu rencana kalian semua ?” tanyaku sedikit frustasi.

“Karena kau terlalu bodoh,” jawab Ji Kyo. Aku mengacak rambutnya kasar.

“Kau cari mati Ji Kyo !!”

Aku mencium bibirnya lagi. Tidak butuh waktu lama untuk merubah ciuman itu menjadi lebih panas. Baru saja aku akan memulainya lagi ketika terdengar suara dari kamar Jinkyo.

“Eomma !!” teriaknya kencang. Sontak Ji Kyo bangkit dari tidurnya. Aku mencegah pergelangan tangan Ji Kyo.

“Sst, biarkan dia seperti itu,”

“Tapi ini masih malam, dia pasti –hmmph,”

Teriakan Jinkyo kuhiraukan. Aku menarik selimut itu menyelimuti tubuh kami berdua. Tidak boleh ada yang menggangguku malam ini. Dan manager hyung, siap-siap dapat balasan dariku karena rencana konyolnya itu.  Readers . Leave comment after read our story. –Jinki*Ji Kyo–

-The End-

aku ga bakat bikin ff NC

berhubung masih dibawah umur /PLAK

jangan lupa RCL nya :D

cr pic : weareshining

sedikit manipulasi umur :D

mestinya 22 tapi disini 23, disesuaikan sama ff :D


 

3 thoughts on “[FanFic] Jinki – Ji Kyo After Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s