[FanFic] Still Marry Me !! (Part 9-end)

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Other    : Park Gyuri (KARA), Lee Hongki, Choi Minho

Rating   : PG+15

Genre   : a bit Comedy, and Romance

“Ssst, berdoalah semoga Ji Kyo tidak apa-apa,” ujarku sambil mengelus rambutnya. Tak lama kemudian seorang uisa keluar dari ruang ICU. Membuat aku dan Hyunmi bangun dari kursi.

“Ottokhae uisa ?” tanya Hyunmi, menghapus air mata di pipinya.

“Kalian harus bersyukur karena ia masih bisa kuat, janin yang di kandungnya juga tidak perlu di gugurkan. Ia ada di kamar rawat sekarang,” jelas uisa itu kemudian pergi.

Aku dan Hyunmi berlari mencari kamar rawat Ji Kyo. Setelah menemukannya -dengan bantuan perawat- Hyunmi mencegahku untuk masuk.

“Oppa, lebih baik kau tidak menemuinya dulu. Sampai Ji Kyo eonni sedikit tenang, oppa baru boleh menemuinya,” seru Hyunmi. Aku mencoba mengerti keadaan Ji Kyo dan akhirnya mengangguk.

“Kamsahamnida oppa,” ujarnya sambil membungkukkan badan. Ia masuk dengan tergesa, sedangkan aku hanya bisa menatap Ji Kyo yang terbaring lemah dari balik kaca kecil di pintu. Semoga kau cepat sembuh.

***

Persiapan konferensi pers sudah siap sejak tadi siang. Ballroom hotel Hyatt sudah di penuhi berpuluh-puluh wartawan. Aku yang melirik dari balik tirai menarik napas panjang, menenangkan diri. Hanya ini satu-satunya jalan untuk membereskan masalah.

“Tenanglah Jinki,” sahut manager hyung, menepuk pundakku pelan. Aku membalasnya dengan sebuah senyuman ragu.

Waktu konferensi tiba, aku melangkahkan kaki ke atas panggung kecil yang terdapat meja menghadap para wartawan. Lampu blitz kamera, dan beribu pertanyaan langsung menyerangku. Tapi semua itu terkendali ketika manager hyung mulai berbicara. Aku mencoba duduk tenang di hadapan mereka semua.

“Hari ini, Jinki akan mengklarifikasi semua masalah yang ada. Harap satu-satu, siapa yang pertama ?” tanya manager hyung. Semua wartawan yang ada mengangkat tangan, manager hyung menunjuk asal seorang wartawan.

“Choneun Kim Jong Il dari majalah Daily News. Bagaimana keadaan istri anda sekarang Jinki-ssi ? Kapan anda akan memperkenalkannya ? Ehm, istri sungguhanmu. Kamsahamnida,” wartawan itu kembali duduk dengan tenang. Aku memajukan tubuhku menghadap mic yang tergeletak di meja.

“Istriku baik-baik saja sekarang, sangat baik. Di tambah lagi ia akan menjadi seorang ibu, tentu saja dia sangat senang,” para wartawan langsung riuh mendengar jawabanku. Mianhae, aku berbohong tentang ini.

“Dia sedang di rumah sakit sekarang, aku mohon doa kalian semua. Untuk pertanyaan kapan perkenalannya, entahlah. Mungkin aku akan tunggu sampai ia melahirkan,” tambahku sambil memberikan senyuman terbaikku pada mereka semua.

“Ada lagi ?” tanya manager hyung. Kali ini hanya ada beberapa wartawan, manager hyung menunjuk seorang wartawan wanita.

“Choneun Baek Ji Soo dari site newsen. Apa berita tentang pernikahan pura-pura untuk menaikkan popularitas itu benar ? Hubunganmu dengan Gyuri, apa itu benar ? Foto ciuman kalian yang tersebar juga, apa tanggapan istri anda tentang hal ini ? Kamsahamnida,” tanya wartawan itu bertubi. Aku menyiapkan beribu jawaban, untuk menjawab pertanyaannya.

“Pernikahan pura-pura. Yeah, awalnya aku memang berniat seperti itu. Tapi aku malah terjerat perangkap yang sudah kubuat sendiri, aku sudah jatuh cinta padanya. Hubunganku dengan Gyuri itu hanya masa lalu. Sebelum aku menikah, aku memang berhubungan dengannya. Foto ciuman itu diambil oleh Gyuri sendiri ketika aku sedang mabuk. Bahkan aku tidak tahu tentang hal itu,” jawabku. Tanpa disuruh manager hyung, salah satu wartawan sudah mengangkat tangannya.

“Annyeonghaseyo. Choneun Lee Hongki iyeyo dari site Naver dan majalah 10 asia,” sapa Hongki. Aku menatap tajam ke arahnya, “Aku dengar kalau istri anda sekarang ini sedang di bawa orang tuanya karena berita anda dengan Gyuri, benarkah ? Beberapa waktu lalu, aku dengar juga dari salah satu perawat rumah sakit, bahwa ia melihat Gyuri memeriksakan diri ke dokter kandungan. Apa ia hamil anakmu Jinki-ssi ? Kamsahamnida,” aku mengepalkan tangan dengan keras. Ia menyeringai kecil di balik riuh para wartawan yang lainnya.

“Harap tenang,” seru manager hyung. Beberapa saat kemudian keadaan kembali hening.

“Istriku sedang menenangkan diri dari berita-berita hubunganku dengan Gyuri. Dan untuk hal terakhir itu, aku tidak tahu. Aku merasa tidak pernah melakukan apapun dengan Gyuri, kalau dia memang hamil, itu bukan anakku. Bukan anakku,” tegasku sekali lagi. Para wartawan mulai riuh, mereka berebut bertanya padaku.

“Pertanyaan terakhir,” ujar manager hyung sambil menyilangkan tangan menyuruh mereka diam.

“Choneun Park Yo Joon iyeyo dari allkpop. Tolong berikan kami kejelasan hubunganmu dengan Gyuri, kamsahamnida,” wartawan itu duduk kembali. Aku menarik napas panjang, menenangkan diri.

“Itu hanya masa lalu, sekarang aku sudah bahagia dengan istriku. Alasanku menghentikan we got married, karena aku mau focus merawat istriku. Chega neomu neomu saranghae naui buin. Berita kehamilan Gyuri aku tidak tahu, dan aku sama sekali tidak ada hubungan dengannya,” tegasku bangkit dari kursi. Aku memakai kacamata hitam yang sudah ku tenggerkan di kerah baju kemudian meninggalkan acara itu.

***

Manager hyung mengantarku ke depan gerbang rumah sakit. Ia menghela napas berat sepersekian detik sampai akhirnya mengeluarkan suara.

“Aku yang sudah membuat masalah ini. Berita kehamilan Gyuri biar aku yang urus. Aku juga akan coba menghubungi redaksi tempat wartawan yang mengancammu itu. Ia sudah mengancam dan mencoba melakukan pemerasan. Walaupun bukan uang, tapi hal itu menyangkut sesuatu yang berharga buatmu kan ? Aku hanya butuh nama wartawan itu,” seru manager hyung panjang lebar.

“Aigo~, gomapseumnida hyung !!” aku memeluknya erat. Sedangkan ia menepuk-nepuk punggungku berharap aku melepaskan pelukan ‘terlalu’ erat itu.

“Jinki, tolong lepaskan,” pinta manager hyung sambil mendorong tubuhku. Aku tersenyum lebar padanya, sementara manager hyung berbalik ke jok belakang mencari sesuatu.

Ia menyodorkan sebuket bunga lily putih dengan sekotak cokelat di tangan lainnya. Aku menautkan alis heran, manager hyung juga ikut menautkan alisnya.

“Ini untuk Ji Kyo. Ucapan selamat sekaligus maaf, igeo,” aku menerima kedua hadiah itu. manager hyung tersenyum kemudian menyuruhku turun dari mobil hanya dengan tatapan matanya.

“Aku masuk dulu hyung,” ujarku kemudian turun dari mobil.

Aku mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam lobby rumah sakit. Para perawat dan orang-orang memandangku yang tanpa penyamaran sedikit pun. Bahkan beberapa remaja yang sedang menjenguk pun mengikutiku di belakang. Aku semakin mempercepat langkah meninggalkan mereka.

Di depan kamar rawat Ji Kyo, aku melihat Minho sedang duduk bersama Hyunmi. Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu. Aku memperhatikan kedua sejoli itu beberapa saat. Tiba-tiba saja mereka berpelukan, dan Hyunmi tersenyum dengan sangat lebar. Pelukan itu cukup lama, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengganggu mereka.

“Ehem,” aku berdehem kecil, berdiri tepat di samping mereka. Pelukan mereka terlepas, dan langsung memunculkan semburat merah di pipi Minho dan juga Hyunmi.

“Apa aku boleh masuk ?” tanyaku. Mereka berdua mengangguk bersamaan padahal mereka menoleh berlawanan arah.

“Gomawo,” ucapku kemudian membuka kamar rawat Ji Kyo.

Ji Kyo terbaring masih dengan mata terpejam. Aku menaruh bunga lily dan kotak cokelat dari manager hyung ke meja kecil. Kursi yang ada kutarik ke samping tempat tidur untukku duduk. Aku menggenggam tangan Ji Kyo lembut lalu menempelkannya di pipiku.

“Let’s wake up princess,” ujarku. Tak lama setelah aku mengucapkan itu, kelopak mata Ji Kyo bergerak. Refleks aku mendekati tubuhnya untuk memperjelas apa yang baru kulihat. Ia membuka perlahan matanya sambil meringis kecil. Matanya terhenti padaku yang duduk di sebelahnya. Tapi ia memalingkan wajahnya lagi ke arah lain.

“Ada apa ?” tanyanya dingin tanpa menatapku. Aku menunduk lemah sambil menghela napas panjang.

“Kenapa kau tidak urus si Park Gyuri itu huh ?” tanya Ji Kyo lagi dengan menekankan nada pada kata park Gyuri.

“Ahni, sirheunde,” jawabku singkat. Ia menarik tangannya dari genggaman tanganku.

“Na-ga,” serunya. Aku akan menjawabnya, tapi tiba-tiba Ji Kyo bangkit duduk di tempat tidur sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia langsung berlari ke kamar mandi. Sedetik kemudian aku mendengar suara muntah-muntah darinya. Aku menghampiri pintu kamar mandi kemudian mengetuknya.

“Ji Kyo-ya, gwenchana ?” tanyaku masih terus mengetuk pintunya. Ji Kyo keluar dari kamar mandi, menatapku yang berdiri tepat di depannya.

“Err,” ucapnya bingung. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil menunduk.

“Aku mau bubur,” ujarnya tiba-tiba. Aku tersenyum kecil melihat rona merah di pipinya.

“Kau mau aku membelinya ?” tanyaku, mengacak rambutnya lembut. Ji Kyo hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil.

“Keuraeyo, aku beli dulu di depan,” aku mengacak rambutnya sekali lagi kemudian keluar kamar rawat. Tadi ia dingin padaku. Tapi kalau ada maunya ia minta padaku dengan wajah polosnya.

– — – –

Ji Kyo POV

Jinki masuk dengan satu tas plastic di tangannya. Ia mengeluarkan isinya ke sebuah mangkuk yang tersedia di lemari kecil di samping tempat tidurku. Entahlah, aku tidak bisa benci padanya dalam keadaan seperti ini.

“Igeo,” ia menyerahkan mangkuk berisi bubur itu ke hadapanku.

“Sirheunde,” jawabku sambil memalingkan wajah.

“Wae ? Kau mau di suapi huh ?” tanya Jinki. Aku mengangguk kecil lagi.

“Aaa~” seru Jinki. Aku membuka mulut dan bubur itu masuk ke dalam kerongkonganku. Jinki tersenyum lebar sambil mengaduk-aduk bubur yang di pegangnya.

Sudah setengah mangkuk bubur itu habis, tiba-tiba saja perutku mual lagi. Aku berlari ke kamar mandi, menunduk di atas wastafel dan mengeluarkan semua yang baru kumakan. Jinki mengusap-ngusap punggungku kemudian membantuku kembali ke tempat tidur.

“Kau masih pusing ?” tanyanya khawatir.

“Sedikit,” jawabku. Ia menyelimuti tubuhku lalu keluar dari kamar. Aku menatap meja kecil di samping, sebuket bunga dan coklat ? Ia menyiapkan semua itu ?

“Waeyo aegi ? Kau mau coklat itu ? Baiklah,” aku beranjak dari tempat tidur, mengambil coklat itu. Coklat itu terbungkus rapi lengkap dengan pita merah dan hiasan lainnya yang membuat kotak coklat ini terlihat menarik. Aku membukanya, dengan lahap aku menyuapkan satu per satu potongan coklat ke dalam mulutku.

Sesaat kemudian Jinki kembali masuk ke dalam kamar. Sementara aku masih terpaku di sofa memakan coklat itu. Ia juga terpaku di belakang pintu, menatapku heran.

“Hehe, coklatnya enak. Jadi aku makan,” ucapku sambil terkekeh kecil. Ia berjalan menghampiriku dan duduk di tepat di sebelahku. Jinki menolehkan kepalaku dengan tangannya. Ia mulai mendekatkan wajahnya lalu mencium lembut bibirku. Rasa coklat tercampur begitu saja dengan rasa lain. Ia membersihkan setiap sudut bibirku dengan bibirnya.

“Sudah, bibirmu bersih lagi,” ujar Jinki setelah melepas ciumannya. Sedangkan aku masih terdiam, mencoba menjalankan kembali jantungku yang sempat terhenti. Sejak kapan ia suka mencium tiba-tiba ?

***

Eomma, appa dan Hyunmi menjemputku ke rumah sakit. Mereka membawaku kembali ke rumah, sepi, sendirian lagi. Walaupun ada Hyunmi, tapi saat ini aku sangat ingin bersama Jinki. T.T

“Eomma,” panggilku pada eomma yang tengah membereskan bajuku ke dalam lemari.

“Mmm ?” sahutnya.

“Apa aku boleh bersama Jinki ?” tanyaku penuh harap. Eomma langsung memberhentikan kegiatannya lalu menoleh padaku.

“Ayolah, aku ini sedang hamil eomma,” mohonku lagi. Desahan napas panjang terdengar dari mulutnya.

“Eomma hanya bisa mengiyakan, karena eomma tahu bagaimana rasanya. Tapi kau harus minta izin pada appa,” jawab eomma kemudian kembali membereskan baju.

Aku sedikit bernapas lega, hanya sedikit. Sifat appa lebih keras daripada eomma, dan mungkin tidak akan mengizinkan untuk bersama Jinki. Disaat yang sama pintu kamarku terbuka, appa masuk kemudian duduk di sebelahku.

“Waeyo ?”

“Di bawah ada Jinki, dia ingin bertemu denganmu,” jawab appa, menepuk kepalaku pelan. Ia bahkan tersenyum sambil menyuruhku untuk menemuinya.

“Appa tidak-”

“Sirho, temui Jinki sekarang,” seru appa. Aku memeluk appa sekilas lalu berlari keluar kamar menemuinya.

Jinki duduk di sofa bersama hyung oppa di sebelahnya. Ia menoleh melihatku yang berlari turun tangga menghampirinya. Aku langsung memeluknya dengan erat.

“Bagaimana kau bisa kesini ?” tanyaku, melepas pelukannya.

***

Jinki mengajakku ke bawah jembatan sungai Han sebelum nanti pulang ke apartemennya. Aku tidak tahu bagaimana cara Jinki membuat appa percaya dan memperbolehkanku tinggal bersamanya lagi. Dan aku juga tidak tahu, kenapa aku sendiri bisa percaya lagi dengan Jinki.

Ia menyuruhku bersembunyi di balik tembok sambil menunggu seseorang. Jinki berjalan menjauhiku, duduk di sebuah batang kayu. Aku mengintip dari balik tembok. Tak lama kemudian seorang laki-laki datang menghampiri Jinki. Hongki ?

“Ada apa lagi sekarang ?” tanya Hongki memulai pembicaraan di antara mereka.

“Appa dan eomma Ji Kyo sekarang percaya lagi padaku. Kau tidak bisa memisahkan kami lagi sekarang,” seru Jinki berdiri dari duduknya.

“Aku masih punya banyak cara. Tenang saja,” balas Hongki sambil melipat tangan di depan dada.

“Yeah, salah satu cara licikmu itu adalah membuat rencana dengan Gyuri kan ? membuat seolah-olah dia hamil dan mempublikasikannya dengan aku sebagai ayah anak itu,”

“Daebak ! Tebakanmu benar Jinki. Kau pintar,”

Aku membelalak tidak percaya. Seorang sahabat yang selalu bersamaku sejak kecil, melakukan hal itu ? Sejahat itukah Hongki, sampai ia tega melakukan itu semua ?

“Ini balasan karena kau tidak mau bercerai dengan Ji Kyo, apalagi dia sedang hamil sekarang. Aku sengaja menekan Ji Kyo supaya ia keguguran,”

Jinki melayangkan pukulan ke wajah Hongki. Aku hampir menangis, tidak percaya apa yang baru saja di katakannya. Perpisahanku dengan Jinki, kehamilan Gyuri, perceraian yang dibuat Hongki, dan ia bermaksud membuatku keguguran ? Apa lagi yang ia rencanakan ?

“Apa yang akan kau lakukan kalau Ji Kyo tahu semua ini ?” tanya Jinki, berdiri jauh di depan Hongki yang masih duduk.

“Ia tidak tahu, dan tidak akan pernah,” jawab Hongki sambil menyeka sudut bibirnya. Aku berjalan menghampiri mereka dengan tertunduk.

“Sayangnya aku tahu semua itu,” ujarku berdiri beberapa meter darinya. Hongki menoleh padaku dan membelalakkan matanya tidak percaya.

“Bagaimana, ia bisa disini huh ?” tanya Hongki pada Jinki yang sekarang berdiri di sebelahku.

“Ia disini, untuk mengetahui yang sebenarnya,” jawab Jinki sambil tersenyum lebar.

“Aku tidak pernah menyangka, sahabatku sejak kecil, tega melakukan itu semua !” teriakku. Aku menampar pipinya keras, membuat bibirnya berdarah.

“Jangan pernah temui aku lagi. Nan niga sirheoyo !” aku menamparnya sekali lagi kemudian berlari meninggalkannya. Aku menyeka air mata yang mulai keluar. Bahkan panggilan Jinki tidak kuhiraukan lagi.

***

Kali ini Jinki menyuruhku menonton TV. Ia memasang channel KBS, menampilkan Gyuri yang sedang melakukan konferensi pers. Aku menatap Jinki heran, sedangkan ia menelengkan kepalanya menyuruhku tetap memandang TV.

“Aku tahu ini salah, semua yang kulakukan salah. Kehamilan bohonganku dan mengaku kalau Jinki sebagai ayahnya. Foto ciumanku di pub, yang sengaja aku ambil ketika ia mabuk. Itu semua aku lakukan karena aku terlalu cemburu. Aku hanya bisa meminta maaf, pada fans Jinki, fansku, wartawan, dan netizen. Mianhamnida,” Gyuri membungkukkan badan 90o. Lama sekali ia melakukannya, membuatku merasa bersalah. Aku tahu bagaimana perasaan cemburu, dan ia tidak perlu meminta maaf sedalam itu.

“Kenapa ia mau melakukan semua itu ?” tanyaku.

“Manager hyung, dan aku memaksanya. Untuk membuat kau percaya,” jawab Jinki mengusap rambutku lembut.

“Tapi itu terlalu memalukan, aku sudah percaya padamu Jinki,” balasku.

“Mianhae, tapi ini semua hanya untukmu,” Aku bangkit dari sofa meninggalkannya. Tapi Jinki malah menarik tanganku kembali duduk di sofa.

“Kau marah ?” tanyanya.

“Ahni, aku tidak suka caramu memaksa Gyuri,” jawabku sambil memalingkan wajah.

“Aku janji tidak akan melakukan itu lagi,” Jinki membalikkan wajahku ke arahnya.

Lagi-lagi ia menciumku. Ciumannya semakin memanas, dan tangannya mulai merayapi tubuhku. Aku mendorong tubuhnya menjauh.

“Jinki-ya, aku sedang hamil. Jangan lakukan itu,” ujarku masih tetap memegangi kedua pundaknya.

“Memang ada larangannya ?” tanyanya. Aku menggeleng, dan ia kembali menyerangku (?)

><SKIP><SKIP><

***

Aku terbangun di pagi hari, dengan keadaan masih memeluk Jinki. Aku memperjelas pandanganku, semuanya kini terlihat jelas.  Lee Jinki, suamiku seutuhnya sekarang. Apartemen baru, suasana baru tanpa kejaran media, dan terakhir…

“Eomma !!!” Jin Kyo berteriak. Aku terbangun dan segera memakai bajuku yang tergeletak di lantai. Segera kukuncir rambutku yang sudah mulai panjang dan juga lengket karena kejadian semalam.

“Ne Jin Kyo,” aku masuk ke kamarnya di sebelah kamarku. Ia terduduk di atas tempat tidur kecilnya, memandangku dengan mata berkaca-kaca.

“Waeyo ?” tanyaku sambil menggendongnya. Jin Kyo yang baru berumur 2 tahun, sangat mudah di gendong olehku.

“Aku mimpi buruk,” jawab Jin Kyo kemudian memelukku. Aku mengusap punggungnya dan membawanya keluar kamar.

2 tahun yang lalu, ketika Jinki memperkenalkan aku sebagai istrinya, semuanya kecewa. Mereka membashing ku dengan kata-kata kasar, jelek, dan mengancam. Aku sempat terpuruk, tapi Jinki bisa mengatasi semuanya. Ia memutuskan mundur dari dunia entertainment untuk focus merawatku dan Jin Kyo yang baru lahir waktu itu. Semua fansnya tidak mau Jinki mundur, aku juga mencoba mendorongnya kembali ke dunia entertainment. Tapi ia tetap tidak mau, jadi kami memutuskan pindah apartemen ke daerah Incheon. Itu pun dengan diam-diam, agar tidak tercium media.

Dan Gyuri, wanita itu sekarang berubah. Ia menjadi sahabatku, hanya dia yang tahu tempat tinggalku dan jinki sekarang. Sebulan sekali ia selalu kesini untuk bermain dengan Jin Kyo. Aku beruntung memiliki sahabat seperti dia sekarang.

Hongki, entahlah. Aku tidak pernah peduli lagi padanya. Yang aku tahu dari manager hyung, ia sekarang di pecat dari profesinya. Ia pernah datang sekali ke apartemenku untuk meminta maaf, tapi setelah itu aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Kemungkinan besar dia pergi ke Jepang menyusul kedua orangtuanya.

Saat keluar kamar, Jinki tengah minum. Ia tersenyum melihatku yang keluar dari kamar bersama Jin Kyo.

“Good Morning Naui Princess,” ujarnya sambil mengelus rambut Jin Kyo lembut. Aku mengerucutkan bibir, ia hanya menyapa Jin Kyo.

“Hello dear,” ia mengecup bibirku sekilas yang masih mengerucut. Ia menggendong Jin Kyo, sedangkan aku menyiapkan sarapan.

Aku mulai menyiapkan bahan-bahan sarapan, tapi segera kuhentikan ketika kurasakan perutku sakit. Aku segera berlari ke kamar mandi, menunduk di atas wastafel dan muntah-muntah lagi. Aku segera menyabet tissue yang ada untuk menyeka mulutku. Aku melirik satu alat yang kubeli beberapa hari lalu, aku mengambil alat itu dan mencobanya.

– — – –

Jinki POV

“AAAA !!!” aku mendengar teriakan Ji Kyo dari kamar mandi. Segera kududukkan Jin Kyo di kursi bayi dan berlari menghampiri Ji Kyo. Aku membuka pintu kamar mandi, Ji Kyo terduduk di atas closet sambil memegang sesuatu. Benda yang di pegangnya jatuh, ia menatap kosong ke arahku.

“Waeyo ?” ia menunjuk benda yang baru saja di jatuhkannya. Aku memungut benda itu, dan malah membolak-baliknya.

“Ige mwoya ?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku-aku- ”

“Kau kenapa ?” tanyaku tidak sabar.

“Aku hamil ‘lagi’,” jawabnya sontak membuatku menjatuhkan benda yang kupegang.

“Huh ?”

-THE END-

Itu di atas gambar perannya hongki :D

cerita hyunmi dan minho ada di cerita selanjutnya nanti

other version lagi :)

 

Note :

Thanks to all readers

yang udah ngikutin sampe part terakhir

sangat dibutuhkan kritik dan sarannya supaya ff saya makin bagus :)

next episode cerita hyunmi dan minho

menurut aku ini part paling gagal

aneh ya ?

ayo comment-comment :D

5 thoughts on “[FanFic] Still Marry Me !! (Part 9-end)

  1. Waaa…akhirnya q komen…
    Mian,dr part1-9,q br komen dsni..mian…*bow*
    certanya bagus, cm..blh kritik?
    Bgni…terkadang adegan dsni trasa janggal…knp?karena:
    1. Kejadian yg terlalu kebetulan(mslnya wktu gyuri tb tb meluk jinki d tmn, koq dt tb tb bs ada dstu?)
    2. Kayaknya terlalu buru buru alurnya,
    n yg msh bikin aku bingung…koq minho bs bolak balik daegu-seoul dg gampangnya? Bukannya jauh?5jam perjalanan?klo d logika rasanya gmn y?ehm…agak janggal aja gtu…
    Mian y…sorry bgt aku ngomong gni, udah jarang komen..msh brni ngritik lh..mian..mian…mian…

  2. huah akhir yg bagus…aq suka bnget crita nya..akhir nya jinki ama ji kyo hidup bhagia….mian ya eonni aq baru comment di part ini aja..besok aq comment satu”….hehehe=D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s