[FanFic] Still Marry Me !! (Part 8)

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Other    : Park Gyuri (KARA), Lee Hongki, Choi Minho

Rating   : PG+15

Genre   : a bit Comedy, and Romance

“MWO ?!” teriak kami bersamaan.

“Minho-ya ! kau jangan bercanda !” teriak Ji Kyo pada namja yang berdiri di hadapanku, Minho.

“Aku tidak mungkin bercanda dalam keadaan seperti ini,” balas Minho.

***

Aku, Ji Kyo, dan namja bernama Minho itu terduduk diam. Entah apa yang ada di pikiranku sekarang ini, tidak percaya. Begitu juga Ji Kyo yang menatap kosong ke depan sambil memegangi perutnya. Minho yang duduk di sofa, di sebelahku menekuk tangannya ke atas lutut.

“Ehm,” aku mencoba memecah keheningan. Minho tersentak kaget, Ji Kyo juga tersentak kemudian mengangkat tangannya dari atas perut.

“Kau bisa keluar dulu Minho-ssi ?” tanyaku. Minho tersenyum padaku tanda mengerti. Ia melangkahkan kakinya keluar kamar rawat. Ji Kyo terdiam sambil menundukkan wajahnya.

“Bagaimana perasaanmu ?” tanyanya tiba-tiba.

“Entahlah, aku merasa senang, sedih juga,” jawabku, berjalan ke arahnya. Aku menarik kursi duduk di sebelah tempat tidurnya. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Waeyo ? Kenapa kau menangis ?” tanyaku lembut sambil mengusap pipinya.

“Apa kau akan meninggalkanku dalam keadaan seperti ini ?” tanya Ji Kyo.

“Ahni, aku janji tidak akan meninggalkanmu,” jawabku, memberikan senyuman terbaik padanya.

“Kau dan Gyuri ? Foto itu, ketika kalian di pub,” tanyanya terbata.

“Saat itu aku sedang mabuk. Ia mengambil sendiri gambar itu dan aku tidak tahu. Sudah puas ?” Ji Kyo tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Yakso ?”

“Ne, yakso,” jawabku kemudian saling menautkan jari kelingking. Ia tiba-tiba saja memelukku, dan aku balas memeluknya.

***

Aku dan namja bernama Minho itu duduk di sebuah bangku di halaman rumah sakit. Aku mengajaknya duduk sebentar, tapi aku malah terdiam tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia berdehem kecil membuatku akhirnya sadar juga.

“Err, Minho-ssi. Apa aku bisa titip Ji Kyo ? hanya sampai masalahku selesai,” ujarku memulai pembicaraan.

“Keurae, aku tahu bagaimana keadaanmu. Aku tahu tentang ancaman wartawan itu dan juga masalahmu dengan Gyuri,” aku sedikit tersentak mendengar jawabannya.

“Wae ? ottokhae araseo ?”

“Sebelum ke apartemen Ji Kyo tadi, aku melewati taman. Dan tidak sengaja aku mendengar percakapan dua orang yang membahas tentang kau dan Ji Kyo. Aku mendengarkan mereka, Gyuri yang menjebakmu dengan foto di pub. Wartawan itu yang memaksamu untuk bercerai dengan Ji Kyo,” jelas Minho. Aku ternganga mendengarnya, ia tahu semuanya.

“Baiklah, karena kau tahu semuanya, aku titipkan Ji Kyo padamu. Tapi ingat, kau tidak boleh macam-macam. Aku akan menghubungimu kalau sempat,” ucapku sambil menepuk pundaknya. Ia terseyum, sedikit terpaksa ke arahku.

“Ne,” jawabnya singkat kemudian bangkit. Ia berjalan meninggalkanku yang masih terduduk di kursi taman. Perasaanku sedikit lega karena ternyata ia tidak seburuk yang aku bayangkan. Aku tidak memerlukan mata-mata lagi.

– — – –

Ji Kyo POV

Minho mengantarku sampai duduk di sofa di dalam apartemen. Ia sibuk membereskan barang-barang yang berantakan di apartemenku. Ekspresinya sedikit bingung, aku belum sempat membereskan semuanya.

“Minho-ya, tidak usah membereskan semuanya. Aku bisa sendiri,” seruku sambil berjalan ke arahnya.

“Ahni, kau masih lemah. Ayo duduk lagi,” perintah Minho, mendorong tubuhku kembali duduk di sofa. Aku tersenyum kecil melihatnya, dia lebih cocok di sebut suamiku sekarang. Bukan Jinki.

“Kau tahu kapan Jinki pulang ?” tanyaku, mencari-cari majalah untuk bahan bacaan.

“Dia sibuk mengurus masalahnya. Mollaseo,” jawabnya. Aku membuka-buka majalah yang baru kubeli beberapa hari yang lalu. Aku belum sempat membacanya karena terlalu sibuk menangis. Ya, tapi aku tidak perlu khawatir sekarang. Jinki tidak akan meninggalkanku lagi.

Minho beranjak dari membereskan rak-rak majalah. Ia berjalan ke arah pintu karena suara bel yang sepertinya sudah berbunyi dari tadi. Seseorang di baliknya masuk ke dalam apartemenku, berlari dan langsung memelukku.

“Eonni !” teriaknya hampir membuatku kaget. Pelukan hyunmi terlalu erat, membuat perutku sedikit sakit.

“Ssh, hyunmi kau terlalu menekan perutku,” rintihku sambil mendorong tubuhnya.

“Ups, mianhae,” ujarnya polos. Minho memandangiku dari ambang pintu, ia masih terpaku.

“Minho-ya, kenapa diam saja ?” tanyaku membuyarkan lamunannya. Ia sedikit tersentak, tapi kemudian kembali meneruskan pekerjaannya.

“Itu siapa eon ?” bisik hyunmi.

“Temanku, gwenchana. Dia baik,” jawabku. Hyunmi membentuk mulutnya menjadi O. Ayolah, tatapan hyunmi tidak biasa. Ia memandangi Minho kagum. Terakhir kali ia seperti ini, ketika menonton kakak kelas yang di kaguminya saat SMP dulu.

“Ji Kyo, vitamin, dan susu nya ada di lemari makanan. Aku pulang dulu, annyeong,” Minho mengacak rambutku kemudian keluar dari apartemen.

“Vitamin ? Susu ?” tanya hyunmi heran. Aku menarik tangannya memegang perutku.

“Kau merasakannya ?” tanyaku, hyunmi masih menatapku bingung.

“Eonni. . ? jangan bilang aku akan dapat keponakan ?” tanyanya cepat. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan jawabannya.

“Jeongmalyo ? Jinki oppa sudah membuatmu hamil ?” tanyanya lagi. Dengan segera aku memukul kepalanya.

“Kau pikir siapa yang menghamiliku huh ?”

Ia terkekeh kecil sambil mengelus perutku lembut. Entahlah, aku merasa senang karena ini.

***

Hyunmi menyiapkan semua makan malam hari ini. Semuanya sesuai keinginanku. Aku mau gimbap, bulgogi, kimchi, dan ttukbeogi. Hyunmi membuat semuanya, ia bilang orang hamil itu harus di turuti keinginannya. Aku makan sangat lahap, sekarang ada satu orang lagi yang harus aku beri makan.

Lagi-lagi hyunmi yang mencuci semua piring kotor. Ia tidak mau di bantu, dengan alasan lagi kalau aku sedang hamil.

“Kau cuci piring saja, aku mau keluar sebentar,” ujarku sambil mengambil jaket di sofa.

“Kemana ? Aku temani ya ?” tawarnya.

“Ahni, hanya jalan-jalan di depan. Kau disini saja,” jawabku kemudian keluar apartemen.

Aku melangkahkan kakiku selangkah demi selangkah dengan pelan. Menikmati setiap helaan napas yang keluar masuk ke dalam paru-paruku. Ini bukan mimpi kan ? Lagi-lagi aku menggumam hal yang aneh, tentu saja ini bukan mimpi.

“Ji Kyo-ya !” Hongki melambaikan tangannya sambil berlari ke arahku. Ia memelukku erat, sama seperti beberapa hari yang lalu.

“Kau kemana saja ?” tanyanya, melepaskan pelukan eratnya.

“Aku ke daegu dengan Jinki,” jawabku. Raut wajah Hongki langsung berubah. Pegangan tangannya di pundakku melonggar.

“Ooh, kau mau ikut denganku ?” tanyanya lagi.

“Kemana ?”

“Kita ke 63 building. Kita lihat bintang-bintang dari sana,” ajaknya semangat. Aku tidak mau, tapi ada dorongan lain yang menyuruhku untuk ikut. Sepertinya bayi di dalam perutku yang menyuruhnya.

“Ne, aku ikut,” balasku. Ia menarik tanganku cepat. Membuatku berlari dengan sedikit kesusahan. Perutku sedikit sakit lagi.

“Aku tidak mau lari,” aku menarik tangannya agar berhenti.

“Waeyo ?”

“Bayiku terguncang-guncang,” jawabku berhasil mendapat tatapan tajam darinya.

“Aegi ? Kau ?” ia menatap perutku sekilas. Aku mengangguk kecil, dan wajahku memanas seketika. Satu orang lagi yang tahu tentang kehamilanku.

“Baiklah, kita pelan-pelan saja,” sahutnya kecewa.

– — – –

Jinki POV

Aku dan Hongki kembali bertemu, di bawah jembatan sungai Han ‘lagi’. Hanya tempat itu yang sepi dari orang-orang, dan tersembunyi. Ia sudah menungguku dengan membawa sebuah amplop coklat di tangannya.

“Ada apa ?” tanyaku berjalan menghampirinya. Pandanganku terus tertuju pada amplop yang di pegangnya.

Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat di pipiku. Napasnya menderu-deru seperti menahan marah. Aku yang tidak terima pukulan itu segera balas memukulnya.

“Apa masalahmu huh ?!” tanyaku sambil menarik kerah baju Hongki

“Masalahku ? Ji Kyo hamil !” teriaknya kembali memukulku. Aku terjatuh ke belakang, sudut bibirku sudah mengeluarkan darah.

“Tch, aku suaminya. Wajar aku ‘melakukannya’ kan ?” tanyaku, tertawa meremehkan. Ia kembali menarik bajuku dan melayangkan pukulannya lagi.

“Kau pikir dengan cara itu aku akan membatalkan semuanya ? Semua rahasiamu aku yang pegang, ingat itu !” Hongki kembali memukulku. Bibirku sudah sedikit robek karena pukulan bertubi-tubi darinya. Kali ini aku tidak tinggal diam, aku bangkit dan merebut amplop coklat yang ia pegang.

“Aku sudah tidak takut dengan semua ancamanmu ! Terserah kau mau bilang pada media, public, atau apapun itu tentang Ji Kyo dan pernikahan pura-pura ku. Nan sanggwan opso !” aku merobek amplop berisi berkas perceraian tidak penting itu di depan muka Hongki. Sisa-sisa kertas robekannya kubuang ke sungai Han, dan ia hanya menatapku.

“Now what ? Aku akan terus di sisi Ji Kyo, melindunginya dari fans fanatic itu dan juga para wartawan yang fanatic juga sepertimu,” tegasku sambil memukul Hongki sekali lagi.

Aku meninggalkannya yang masih terduduk di tanah. Ia diam, tidak mencegahku atau mengancamku seperti kemarin. Hal tadi membuatku sedikit lebih lega. Aku tidak peduli bagaimana nasibku nanti. Yang paling penting aku bisa terus di sisi Ji Kyo.

***

“Kau mau anak kita laki-laki atau perempuan ?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Aku mau perempuan,” jawabnya tersenyum sambil menatapku yang duduk.

“Mmm, aku rasa dia akan cantik seperti ibunya,” ujarku.

“Jinjja ? Kalau dia laki-laki, aku tidak mau wajahnya sepertimu,” balasnya.

“Waeyo ?”

“Aku mau wajahnya seperti. . Onew SHINee, atau Minho SHINee,” tambahnya lagi.

“Ya ! Aku ayahnya, kenapa kau memilih mereka semua huh ?” tanyaku sambil memukul pelan kepalanya.

“Haish, kau tidak boleh memukulku. Aku ini sedang hamil,” elaknya mengerucutkan bibir. Aku memeluknya, menolak pernyataannya.

“Ne Ji Kyo eomma,” ujarku. Selama beberapa menit aku terus memeluknya. Sudah lama aku tidak memeluknya, mian selama ini aku mengacuhkanmu.

“Jinki,”

“Mm ?”

“Besok aku cek ke dokter, apa kau mau. ..”

“Ne, aku mau mengantarmu ke dokter,” jawabku memotong ucapannya.

Ji Kyo melepas pelukanku, ia menatapku lekat-lekat. Entah apa yang membuat jarak wajah kami sangat dekat, dengan mudahnya aku mengecup lembut bibir Ji Kyo. Semakin lama ciuman lembut itu berubah, menjadi semakin dalam.

Ting Tong

Ia mendorong tubuhku menjauh. Dengan segera Ji Kyo keluar dari kamar untuk membuka pintu apartemen. Sedetik kemudian aku mendengar Ji Kyo membentak seseorang. Aku terkesiap bangun kemudian berlari keluar. Aku melihat eomma, appa, dan juga Ji Kyo berdiri di depan pintu apartemen Ji Kyo.

“Eomma, appa ?” tanyaku heran. Ji Kyo berlari ke hadapanku, menggamit lenganku erat.

“Aku tidak mau ikut dengan appa dan eomma,” serunya. Aku memandang Ji Kyo heran.

“Kau menolak ajakan eomma dan appa hanya karena laki-laki brengsek ini ? Ia sudah selingkuh dengan artis itu, dia juga bilang akan bercerai denganmu. Untuk apa kau masih disini, ayo pulang !” balas eomma berjalan menghampiriku dan Ji Kyo.

“Ahni, aku mau disini,” Ji Kyo mempererat pegangan tangannya. Eomma langsung memandangku kesal, sesaat kemudian eomma menamparku dengan keras.

“EOMMA !” teriak Ji Kyo kaget.

“Lepaskan anakku,” perintah eomma sambil menatapku lekat.

“Aku tidak akan menyerahkan Ji Kyo, kecuali ia yang mau,” jawabku tegas. Mungkin aku salah melawan eomma, tapi aku tidak mau berpisah dengannya.

“Tch, lepaskan !” eomma memisahkan tangan Ji Kyo dengan tanganku.

“Sirheo eomma. Aku mau disini,” balas Ji Kyo mencoba meraih tanganku lagi.

“Laki-laki ini sudah mengkhianatimu Ji Kyo, kau harus ikut dengan kami,” kali ini appa mulai bicara. Aku melihat Ji Kyo sudah mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak mau,” jawabnya kemudian benar-benar menangis. Hongki hanya bersandar pada pintu sambil melipat tangannya di depan dada. Ia seperti sedang menonton sebuah drama.

Eomma mulai menarik tangan Ji Kyo menjauh dariku. Aku mencoba meraih tangannya, tapi appa memegang tangan Ji Kyo yang lainnya. Ji Kyo berontak, ia terus menoleh ke arahku berharap aku menolongnya. Ia menangis sambil mencoba melepaskan kekangan appa dan eomma.

“Andwae !” teriakku pada mereka yang mulai menjauh. Ji Kyo kembali menoleh ke arahku, ia hanya bisa menangis. Entah kenapa, kakiku tidak mau bergerak untuk mengejarnya. Hongki yang masih berdiri tidak jauh dariku menyeringai kecil.

“See ? Kau mencari masalah denganku, aku bisa menyelesaikannya. Dengan cara yang lebih kejam, memisahkanmu dengan Ji Kyo secara paksa,” ujarnya kemudian pergi mengikuti appa dan eomma.

Aku berlari menyusul Hongki, mengejar eomma dan appa yang mulai memasukkan Ji Kyo ke dalam mobil. Mereka berdua menghalangi pintu mobil tempat masuk Ji Kyo. Appa menamparku lebih keras. Membuat bibirku yang memang belum sembuh kembali berdarah.

“Jangan pernah temui anakku lagi ! Aku menyesal sudah menyetujui pernikahan kalian,” seru appa. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Hongki melengos mendorong tubuhku lalu masuk ke dalam mobil di sebelah Ji Kyo.

Tak lama kemudian appa mulai menjalankan mobilnya. Aku mengetuk-ngetuk kaca mobil mereka sambil berlari mengikuti kecepatan mobil.

“Eomma, appa ! Aku mohon berhentikan mobilnya,” teriakku masih terus mengetuk kaca mobil. Appa menambah kecepatan mobilnya, meninggalkanku yang sudah terengah-engah.

“Jangan pisahkan aku dengan Ji Kyo !” teriakku lagi.

“Jangan pisahkan aku dengan anakku,” tambahku merendahkan suara. Aku terduduk di jalan di depan apartemen Ji Kyo. Merutuki diri sendiri sambil menjambak rambut frustasi.

“Aaaargh !”

– — – –

Ji Kyo POV

Aku tidak henti-hentinya menghapus air mata yang terus mengalir di pipiku. Tangisanku sudah berubah menjadi sesenggukan, sedangkan appa dan eomma tidak peduli.

“Turunkan aku disini, atau aku loncat,” ancamku. Mereka tidak mendengarku dan malah menambah kecepatan mobil.

“Silahkan,” jawab eomma singkat. Hongki meraih pundakku kemudian menyandarkannya. Mencoba mengunci tubuhku agar tidak bisa keluar.

“Lepas. Aku tidak pernah mengira kau sejahat itu,” aku menyingkirkan tangannya. Keadaan di mobil masih hening. Aku terus menatap keluar jendela sambil menangis kecil. Deretan gedung-gedung terlihat sangat cepat berlalu.

Eomma mendorongku masuk ke dalam kamar kemudian mengunci pintunya. Aku tidak berbuat apa-apa, kalau eomma atau appa sudah punya keinginan. Sama seperti ketika mereka memaksaku menikah.

Aku memegangi perutku yang terasa sakit lagi. Rasa sakit itu semakin manjadi-jadi ketika aku mencoba bangun. Aku menggigit bibir bawahku menahan rasa sakit itu. Aku berhasil bergeser dari posisi semula. Tapi aku malah menemukan sebercak darah di lantai. Aku bergeser lagi dan bercak darah itu ada lagi. Andwae, aku tidak mau keguguran. Perutku semakin sakit, tak lama kemudian kesadaranku mulai hilang.

***

Bip . . bip. . bip . .

Suara pendeteksi jantung semakin terdengar jelas di telingaku. Aku membuka mata, mengumpulkan kembali nyawaku yang sempat hilang. Atap yang putih bersih, rasa ngilu di tangan kananku, dan juga alat bantu nafas. Rumah Sakit.

“Jinki . .” rintihku pelan.

Aku sedikit memiringkan kepala mencari Jinki. Tapi aku hanya melihat eomma dan appa yang sedang tertidur. Aku memiringkan kepala ke arah lain untuk melihat jam. Sekarang jam 3 pagi, berarti aku sudah pingsan selama 12 jam ?

Kejadian itu kembali muncul di otakku. Jinki, eomma, appa, perpisahan itu, dan juga bercak darah yang kutemukan di lantai. Aku meraba perutku, hampir saja aku menangis kalau tidak ada yang masuk ke kamarku. Seorang perawat memeriksa infusan, dan juga detak jantungku. Ia tersenyum ke arahku sambil melipat stetoskop miliknya.

“Siapa namamu sajangnim ?” tanyaku.

“Ha ni, Oh Ha Ni,” jawabnya lembut. Ia hendak pergi, tapi dengan segera kucegah tangannya.

“Sajangnim, aku mau tanya. Apa keadaan bayiku baik-baik saja ?”

“Ne agasshi. Kau dan bayimu tidak apa-apa, hanya sedikit pendarahan. Kau perlu istirahat, diusahakan tidak tertekan, dan meminum vitamin yang diberikan uisa,” jawab perawat itu sambil mengangkat papan jalan di tangannya. Ia tersenyum kemudian keluar dari kamarku.

Aku sedikit bernapas lega, ternyata tidak seburuk yang aku pikirkan. Perasaan sesak masih terasa di kerongkonganku. Aku sangat ingin bertemu dengan Jinki. Kenapa mereka harus memisahkan aku dengan Jinki. Apa eomma tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta huh ? Dipisahkan dari orang yang ia cintai.

Seseorang kembali masuk ke dalam kamarku. Aku sedikit mengangkat kepala melihat orang yang baru saja masuk. Minho ?

“Minho-ya ?” bisikku. Ia menaruh telunjuk di bibirnya menyuruhku diam.

“Ottokhae ? Kenapa kau bisa disini ?” tanyaku masih dengan berbisik.

“Tidak penting aku bisa ada di sini. Ayo. .” ajaknya.

“Kemana ?”

“Jinki ada diluar,” jawabnya sontak membuatku tersenyum.

Minho membantuku jalan sampai ke depan kamar. Di depan kamarku, Jinki dan juga hyunmi sedang duduk. Mereka langsung menoleh melihatku yang baru keluar.

Jinki berlari kemudian memelukku erat. Aku balas memeluknya, membuat perasaanku jadi lebih tenang. Hyunmi dan Minho berdehem membuatku sadar. Tapi aku menghiraukannya dan masih terus memeluk Jinki.

“Minho-ssi, lebih baik kita pergi dari sini,” ajak hyunmi. Minho mengangguk menyetujui ajakannya. Tak lama kemudian mereka pergi dari hadapanku, entah kemana.

“Mianhae Ji Kyo,” aku melepas pelukan Jinki. Meraih dagunya lalu mengecup bibirnya sekilas.

“Na-do,” balasku, memeluknya lagi.

***

Sudah 1 bulan sejak pertemuanku dengan Jinki di rumah sakit. Aku sedikit lebih tenang karena perpisahanku tidak seburuk itu. Ia pernah mengirim Minho dengan alasan bertemu hyunmi padahal menitipkan ponsel. Ponselku di sita eomma, tapi sekarang aku bisa berhubungan lagi dengan Jinki karena ponsel kirimannya. Setiap minggu ia meneleponku lewat video call, memberi kabar kalau ia baik-baik saja.

Tentang beritanya dengan Gyuri, entahlah, aku tidak pernah peduli. We got marriednya dengan Jinki pun tidak pernah kudengar lagi beritanya. Mungkin acaranya sudah berakhir.

“Annyeong,” balasku kemudian menutup telepon darinya.

Tidak lama setelah aku menutup telepon, eomma masuk membawa sebuah nampan. Ia menaruh nampan berisi susu dan vitamin di meja. Aku segera menyelipkan ponsel ke bawah bantal.

“Hari ini jadwal cekmu, eomma dan appa tidak bisa antar. Jadi kau pergi dengan hyunmi,” seru eomma sambil membawa gelas berisi susu. Aku menerima susu itu dan meneguknya sampai habis.

“Ne eomma,” aku menyodorkan gelas yang sudah kosong itu. Eomma memberikan 2 kapsul vitamin padaku dan juga gelas yang berisi air putih. Aku meminum vitamin itu.

Eomma keluar dari kamarku membawa nampan yang sudah kosong. Aku mengambil kembali ponsel lalu menelepon Jinki lagi.

“Aku akan cek ke dokter dengan hyunmi. Kau bisa datang kan ?”

“…”

“Baiklah, kita bertemu di sana,”

***

Aku pergi bersama hyunmi dan juga Minho. Minho menyetir mobil, hyunmi penunjuk jalan, sedangkan aku duduk manis di kursi belakang. Akhir-akhir ini hyunmi dan Minho terlihat semakin dekat. Kadang-kadang Minho datang ke rumahku tanpa tujuan yang jelas. Ia hanya mengobrol dengan hyunmi kemudian pulang begitu saja. Aku berharap lebih tentang hubungan mereka.

“Eonni, Jinki oppa sudah menunggu,” seru hyunmi membuyarkan lamunanku. Aku melihat Jinki tersenyum padahal mobil kami belum berhenti. Setelah mobil berhenti, Jinki langsung berlari membukakan pintu mobi.

“Hello dear,” sahutnya sambil tersenyum memamerkan gigi kelincinya. Ia mengulurkan tangannya memberi tawaran. Aku menyambut uluran tangan Jinki.

Ia merangkul pundakku, membantu berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Aku menoleh ke belakang melihat hyunmi dan Minho. mereka saling tertawa yang entah membahas apa.

“Ji Kyo, perhatikan langkahmu,” sahut Jinki tiba-tiba. Aku mengangguk kembali menatap jalanan.

Aku dan Jinki masuk ke dalam ruang periksa. Kim uisa, yang memang sudah biasa memeriksaku terlihat senang melihat hasil USG terbaruku. Ia mencetak hasil USG itu dan menjelaskannya. Kami berdua –aku dan Jinki- mendengarkan penjelasan dokter itu dengan teliti. Ia bilang kalau keadaanku tidak boleh tertekan lagi atau aku akan keguguran. Keadaan janin di dalam perutku sangat lemah karena aku terlalu lemah.

“Gwenchana, selama kau masih minum vitamin itu,” ujar kim uisa mencoba menyemangatiku. Jinki mengacak rambutku lembut, memberikan tatapan semangat sama seperti Kim uisa.

“Kamsahamnida uisa, bulan depan kami akan datang lagi,” sahut Jinki, bangkit dari kursi. Aku ikut berdiri, membungkukkan badan pada uisa kemudian keluar dari ruangannya.

“Mianhae,” ucapku menyesal sambil berjalan di koridor rumah sakit.

“Untuk apa ?” tanya Jinki lembut.

“Aku tidak bisa menjaga anak kita dengan baik,” jawabku tertunduk.

“Ya ! Aku tidak menyalahkanmu, aku juga yang salah karena tidak ada di sisimu,” balasnya. Aku mendongak dan tersenyum pada Jinki.

“Kau mau makan apa hari ini ? Aku akan antar kemana pun itu,” tawar Jinki. Aku menggigit bibir bawahku mencoba mencari sesuatu yang enak.

“Aku mau semua yang berbau pasta,” jawabku. Kami masih saja berjalan dengan bertatapan. Tiba-tiba seseorang menabrak Jinki. Orang itu tersungkur dengan beberapa foto berceceran di lantai. Aku membantu Jinki membereskan foto-foto hasil USG milik orang itu.

“Mianhamnida agasshi,” ujarku sambil membungkukkan badan.

“Jinki ?” tanya orang itu. Orang yang baru tertabrak itu membuka kacamata hitam yang dipakainya dan juga masker yang menutupi mulutnya. Gyuri ?!

“Kenapa kau bisa ada disini,” tanya Jinki dingin kemudian menggenggam tanganku erat.

“Aku dari dokter,” jawabnya. Aku memandang foto-foto di tangan Gyuri. Hasil USG ? Siapa yang hamil ?

“Uisa bilang anak kita baik-baik saja,” tambah Gyuri. Sontak jantungku berhenti beberapa detik. Aku menoleh pada Jinki yang sama-sama tidak percaya. Sedetik kemudian Jinki tertawa, sedangkan aku dan Gyuri memandangnya serius.

“Kau jangan bercanda Gyuri. Kita bahkan belum pernah melakukannya,” jawab Jinki kemudian tertawa lagi.

“Aku tidak bercanda. Ketika kau mabuk waktu itu, kau tidak ingat ? Sebulan yang lalu,” ucapan Gyuri membuat tawa Jinki berhenti. Kali ini tatapan matanya berubah.

“Kau ?” tanyaku tidak percaya. Jinki menatapku dan menggelengkan kepalanya.

“Ahni, itu tidak benar Ji Kyo,” balas Jinki. Aku masih percaya dengan ucapannya sampai tiba-tiba Gyuri menyodorkan hasil foto itu.

“Igeo, hasil USG nya. Uisa bilang janinku sehat,” seru Gyuri sambil tersenyum. Aku mundur beberapa langkah menghindari Jinki. Langkahku semakin cepat, aku berlari meninggalkan Jinki dan Gyuri. Tak jarang aku mendapat peringatan dari para perawat karena berlari di koridor rumah sakit. Aku melihat Minho dan hyunmi yang duduk di bangku taman rumah sakit. Aku menghampiri mereka.

“Bawa . . aku . . pulang. .” sahutku terbata. Damn, kepalaku pusing lagi, semuanya berputar dan menjadi gelap.

– — – –

Jinki POV

“Kau bohong kan !” teriakku pada Gyuri yang tengah memasukkan foto-foto itu.

“Ahni, bukan bohong. Tepatnya mengarang cerita, we got married kita terhenti begitu saja karena kau lebih mempedulikan Ji Kyo,” serunya berbalik meninggalkanku.

“Sekarang kau harus benar-benar menikahiku atau berita ini akan tersebar,” ancamnya masih sambil berjalan.

“Hey bi*ch ! Aku tidak peduli dengan ancamanmu, aku tidak takut lagi dengan ancaman kau dan Ji Kyo. Dasar wanita murahan !” teriakku. Gyuri menghentikan langkahnya, ia menoleh sedikit ke arahku kemudian melengos pergi.

Aku berbalik mengejar Ji Kyo. Aku mencarinya ke taman rumah sakit, tapi ia tidak ada. Yang kulihat hanya Minho sedang duduk sendirian. Aku berlari ke arah Minho.

“Dimana Ji Kyo dan hyunmi ?” tanyaku to the point.

“Ji Kyo masuk ICU dan hyunmi menemaninya,” jawabnya tanpa menatapku. ICU ? Ia masuk ICU ? Damn, aku sudah membuat ia semakin lemah.

Aku meninggalkan Minho kembali masuk ke dalam gedung. Berkali-kali aku bertanya pada perawat yang lewat letak ruang ICU. Setelah menempuh beberapa belokan koridor, aku sampai di depan ruang ICU. Hyunmi tengah duduk sambil sedikit terisak. Aku menghampiri dan duduk di sebelahnya.

“Bagaimana keadaannya ?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Buruk. Uisa bilang kemungkinan janinnya harus di gugurkan. Keadaan Ji Kyo eonni terlalu lemah,” jawab hyunmi. Isak tangisnya semakin terdengar, aku memeluk hyunmi mencoba menenangkannya. Aku mohon, jangan biarkan ji kyo keguguran. Aku mohon . .

-to be continued-

Akhirnya update lagi

mian ya lama banget ngepostnya

udah gitu jelek lagi yg part ini

read, like, and comment :)

kalau commentnya banyak, part terakhir secepetnya di publish

sepatah dua patah kata cukup kok

gomawo

4 thoughts on “[FanFic] Still Marry Me !! (Part 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s