[FanFic] Still Marry Me !! (Part 7)

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Other    : Park Gyuri (KARA), Lee Hongki, Choi Minho

Rating   : PG+15

Genre   : a bit Comedy, and Romance

“Kau benar-benar Lee Jinki ?” tanyaku sekali lagi.

“Ji Kyo . . Ini aku Hongki,” serunya membuyarkan lamunanku. Eh ? Hongki ? Kenapa Jinki-ku berubah jadi Hongki ? Aku terlalu berhalusinasi sekarang.

“Ah, silahkan masuk Hongki-ya,” seruku, melebarkan pintu untuknya masuk. Ia menaruh bunga yang dibawanya ke atas meja. Aku duduk di sebelahnya mencoba membuka pembicaraan.

“Ada apa kau datang kesini ?” tanyaku.

“Merayakan ulang tahun seseorang yang hari ini berumur 21 tahun,” jawabnya sambil tertawa kecil. Aku tersenyum, ya setidaknya masih ada yang ingat hari ulangtahunku.

“Gomawo Hongki-ya,”

***

‘Ffiuh’

Aku menghela napas panjang sambil memegang sebuah pulpen. Pulpen itu kutegakkan di atas kertas –perceraian ku dengan Jinki- siap menandatanganinya. Memang belum ada tanda tangan Jinki, tapi aku memutuskan ini memang jalan terbaik. Sudah cukup sakit yang aku rasakan selama ini.

Akhirnya kububuhkan coretan tanda tanganku di atas kertas itu. Di coretan terakhir, aku menahan pulpen itu sebentar. Air mataku menetes lagi, entah ini perasaan sedih, kecewa, ataupun bahagia. Sedih karena harus berpisah dengan Jinki, kecewa karena ia menyakitiku, dan bahagia karena akhirnya bisa terbebas dari predikat ‘istri seorang Lee Jinki’.

Aku membawa kertas-kertas yang sudah kutanda tangani ke café tempatku akan bertemu dengan Jinki. Ia menyuruhku datang ke café di sebuah jalan kecil untuk menyerahkan berkas perceraian kami. Café kecil itu akan menjadi saksi pertemuan terakhirku dengannya. Aku berjanji untuk tidak akan pernah mau bertemu dengannya lagi walau terpaksa sekali pun. Aku benci melihat wajahnya yang terlihat baik padahal sebenarnya, yeah kau tahu itu. Seenaknya menyakitiku dan mengucapkan ‘aku cinta, aku sayang’ atau apapun itu dalam waktu yang sangat dekat. Haruskah aku bilang dia tidak punya pendirian ? Ya, sepertinya.

Aku mengetuk-ngetukkan sepatu berhak 3 senti yang kupakai ke lantai kayu café itu. Sudah hampir 1 jam aku menunggu Jinki di café, dan sudah 2 gelas vanilla latte yang aku habiskan. Pakaian yang kupakai terlalu menyusahkan, syarat kalau aku harus bertemu dengan seorang artis. Syal yang menutupi sebagian wajah, baju tebal, topi kupluk, dan juga kacamata hitam. Pengunjung-pengunjung yang ada di café selalu memperhatikanku. Mereka heran mungkin, karena dandananku sudah seperti seorang artis atau bahkan teroris mungkin.

Pintu café terbuka, seorang namja masuk dengan dandanan sama sepertiku. Aku sudah bisa menebak kalau itu adalah Lee Jinki.

Ia menarik kursi di hadapanku. Meletakkan tangannya di atas meja, seperti meminta sesuatu. Aku mengangkat sebuah amplop coklat ke hadapannya. Ia merebut begitu saja amplop coklat itu.

“Tch,” decakku meremehkan. Jinki membuka sedikit syal yang menutupi mulutnya.

“Aku akan ingat pertemuan ini. Thank you,” ujarnya kemudian beranjak dari kursi.

Ah damn ! kenapa aku tidak rela dia pergi ? Ayolah Ji Kyo, kau sudah berjanji akan melepaskannya. Ia punya kehidupan sendiri, dan percintaan sendiri. Kau sudah membencinya ! Ayo benci Jinki, jangan pernah peduli lagi padanya.

Aku keluar dari café mengikuti Jinki yang melangkah masuk ke dalam mobilnya. Sebelum benar-benar masuk aku mencegah tangannya. Ia menatapku dari balik kacamata hitam yang dipakainya.

“Bawa aku ke Daegu hari ini,” pintaku. Ia menautkan sebelah alisnya heran. Tak berapa lama kemudian Jinki mengangguk menyetujui ucapanku.

***

Sesampainya di rumah eomma, aku langsung memeluknya erat. Aku menitikkan air mata sambil terus memeluk eomma. Ia juga balas memelukku penuh kasih sayang.

“Akhirnya kau datang. Ayo masuk,” seru eomma padaku dan Jinki. Appa dan Hyunmi sudah duduk di meja makan. Di atas meja, terhidang beberapa makanan special hari ulang tahun. Ternyata mereka masih menungguku datang. Padahal hari sudah sore, dan aku pikir eomma sudah menyiapkan ini sejak siang tadi. Kue tart dengan hiasan fotoku sendiri terpampang di tengah-tengah meja makan. Aku tersenyum sendiri melihatnya.

“Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneun uri Ji Kyo, saengil chukhahamnida,” mereka semua bernyanyi untukku, terkecuali Jinki. Aku meniup lilin berangka 21 itu dengan semangat. Akhirnya aku bisa merayakan hari ulangtahunku dengan appa, eomma, Hyunmi, dan . . .Jinki.

Jinki mengacak rambutku pelan, “Chukhahaeyo Ji Kyo,” ujarnya singkat. Hanya itu omongan yang kudengar sejak kami berangkat dari Seoul. Perjalanan 5 jam tanpa perbincangan sedikit pun.

“Ne,” jawabku singkat juga.

Makan sore menjelang malam pun berlangsung. Jinki terlihat biasa saja sambil memakan makanan yang ada. Sesekali ia tersenyum pada eomma yang bertanya tentang karirnya. Aku mencela omongan mereka.

“Eomma, appa. Aku sudah 21 tahun, apa boleh aku minum soju ?” tanyaku berhasil membuat appa tersedak. Eomma langsung menyodorkan segelas air pada appa. Mereka saling menatap meminta persetujuan.

“Ne, kau sudah dewasa. Sudah saatnya kau memilih jalan hidupmu sendiri,” seru appa. Aku tersenyum lebar mendengar jawaban darinya. Tanpa sadar aku mencubit kedua pipi Jinki saking senangnya. Ups.

Aku menurunkan tanganku dari kedua pipinya. Sedangkan Hyunmi malah tertawa melihat wajahku yang sedikit memblushing.

Acara makan malam selesai. Semuanya sibuk membereskan sisa-sisa makan malam kecuali aku dan Hyunmi. Hyunmi malah tidur-tiduran di kursi malas di teras belakang sambil membaca komik. Aku menghampiri Hyunmi dan duduk di sebelahnya.

“Ya !” aku merebut komik itu dari depan wajahnya.

“Ya ! Ya ! Andwae,” teriak Hyunmi sambil merebut komik itu lagi. Ia merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Hyunmi meneruskan kembali membaca komiknya.

“Eonni,” panggil Hyunmi tanpa mengalihkan pandangan dari komiknya.

“Em ?” tanyaku.

“Jinki oppa memberikanmu kado apa ?” tanyanya. Aku menggeleng, Hyunmi langsung menoleh cepat ke arahku.

“Wae ? Dia tidak memberikanmu apa-apa ?” tanya Hyunmi bingung.

“Yeah, mungkin dia lupa membeli kado untukku,” jawabku sambil memainkan rambut Hyunmi.

“Atau mungkin dia akan memberikan kado special malam ini,” Hyunmi terbatuk kecil sambil menaik-turunkan alisnya. Aku memukul kepalanya yang penuh dengan pikiran macam-macam itu.

“Aish. Appoyo eonni,” rintih Hyunmi sambil mengusap-ngusap puncak kepalanya.

Aku menoleh ke belakang, menatap Jinki yang tengah membantu eomma dan appa membereskan meja makan. Ia terlihat tidak memiliki beban sama sekali, berbeda denganku yang cukup stress karena memikirkan masalahku dengannya. Jujur, aku ingin dapat kado ‘spesial’ seperti yang di katakan Hyunmi. Aku sudah cukup dewasa untuk melakukannya. Untuk yang pertama dan terakhir kali bersama Jinki.

***

Kami mengunjungi sebuah kedai yang menjual soju di dekat rumah kedua orang tuaku. Entah sudah berapa botol soju yang kuteguk malam ini. Appa dan eomma juga Jinki yang ikut minum bersamaku tidak terlalu mabuk. Mereka hanya minum beberapa gelas, sedangkan aku sudah beberapa botol.

“Uhuk uhuk, aku benci kau,” racauku, memukul kepala Jinki keras. Kesadaranku masih setengah-setengah, antara sadar dan tidak. Aku masih bisa mengontrol omonganku, dan melihat dengan jelas wajah orang-orang. Hanya saja aku sudah tidak bisa menahan berat tubuhku sendiri.

“Ji Kyo-ya, kau sudah sangat mabuk. Ayo kita pulang,” samar-samar masih bisa kudengar ajakan eomma. Aku menepis tangan eomma yang memegang pundakku.

“Ahni, aku masih mau disini,” balasku dengan sedikit berteriak.

Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan mereka semua. Yang aku lihat eomma dan appa keluar dari kedai ini. Aku mengangkat kepalaku dari atas meja, menatap Jinki yang duduk di sebelahku.

“Neo ! Nan niga sirheo,” ucapku sambil menunjuk wajahnya.

“Haish, ayo pulang,” Jinki memegang bahuku untuk berdiri. Aku menepis tangannya kasar.

“I can do it,” ujarku, bangkit dari kursi. Tapi aku malah terjatuh ke lantai. Sekarang pandanganku benar-benar kabur, diikuti kesadaranku.

– — – –

Jinki POV

Ji Kyo terjatuh ke lantai. Aku mengangkat tubuh Ji Kyo dan menggendongnya di punggungku. Ia terlihat sangat lemah akhir-akhir ini. Matanya yang selalu menampakkan keceriaan kini berubah. Menjadi sembap, sedih, dan juga marah. Itu semua karena aku, aku terlalu egois.

“Lee Jinki, kau tidak tahu hatiku sangat sakit huh ? Aku tidak suka melihatmu bersama wanita itu, kau selalu memujinya. Aku tidak mau kita pisah, aku mencintaimu Jinki-ya,” racau Ji Kyo. Aku tersenyum sambil membetulkan posisinya yang semakin merosot di punggungku.

“Ne, aku tahu itu. Nado saranghae,” balasku, mempercepat langkah.

Aku menidurkannya di atas tempat tidur di kamarnya. Kepalaku juga cukup pusing karena 2 botol soju tadi. Tempat tidur yang berukuran sempit membuatku memutuskan untuk tidur di karpet. Kasihan Ji Kyo yang harus tidur di satu tempat tidur sempit denganku.

Aku mencium lembut kening Ji Kyo kemudian menyelimutinya. Tersirat kesedihan di wajahnya yang membuatku sangat miris. Ia sudah terlalu sakit karena aku, aku juga tidak mau kita bercerai Ji Kyo.

Aku bangkit dari sisi tempat tidur Ji Kyo. Tapi tangan Ji Kyo mencegah tanganku, ia sudah membuka matanya. Aku kembali memasang wajah dingin padanya.

“Wae ?” tanyaku datar. Ia menarik tanganku keras membuatku jatuh ke atas tubuhnya. Sekarang wajahku tepat ada di atas wajahnya.

Ia mulai meraih bibirku dengan bibirnya. Entah perasaan apa yang bergejolak di dalam hatiku sehingga aku membalas ciumannya. Ji Kyo mulai membuka kancing kemeja yang kupakai. Aku segera mencegah tangannya.

“Apa yang kau lakukan ?” tanyaku sambil menatapnya.

“Hanya malam ini. Untuk yang pertama dan terakhir kali,” jawab Ji Kyo kemudian kembali menciumku.

><><><><><  SKIP > SKIP < SKIP ><><><><><

*Jangan di bayangin lagi lanjutannya*

***

Sinar matahari mulai memasuki celah kamar Ji Kyo. Tirai-tirai yang menutupi jendela tidak tertutup sempurna. Aku membuka mata mencoba mengumpulkan kembali nyawaku.

Aku masih memeluk Ji Kyo, di balik selimut yang menutupi tubuh –tanpa berbusana- kami. Tadi malam ? Apa yang sudah aku lakukan dengannya ? Benarkah ? Aku benar-benar melakukan ‘itu’ dengannya ?

Ji Kyo membuka matanya perlahan. Ia mendongakkan kepalanya ke arahku sambil tersenyum. Lingkaran tangannya di punggungku semakin terasa erat. Sedangkan aku masih menatap kosong ke depan.

“Kau masih mencintaiku Jinki. Aku tahu itu,” ujarnya tanpa menatapku. Aku merutuki diri sendiri, kenapa aku bisa sampai lengah tadi malam. Kejadian ini akan membuat aku susah melepaskannya.

“Aku tidak tahu. Perasaanku bercampur aduk sekarang,” balasku.

Ji Kyo masuk ke dalam kamar mandi sambil melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Aku memakai kembali celana dan bajuku yang sudah tergeletak di lantai. Ketika bangun, aku bisa melihat bercak darah di seprai milik Ji Kyo. Aish, ottokhae ? Hubungan itu memang wajar dilakukan, kau tidak perlu menyesali itu Jinki.

Ji Kyo keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai kimono tidur miliknya. Ia langsung keluar dari kamar tanpa mengajakku. Aku mengikutinya dari belakang untuk ikut sarapan.

Di meja makan, appa, eomma, dan Hyunmi sudah duduk bersiap sarapan. Mereka langsung tersenyum melihatku dan Ji Kyo jalan berdampingan ke meja makan. Tanpa mengucapkan selamat pagi, Ji Kyo langsung mengambil nasi goreng dan juga potongan telur ke piringnya. Ia terlihat begitu lapar, apa karena tadi malam ?

“Makan yang banyak. Kalian pasti lelah semalam kan ?” aku tersedak susu yang sedang kuminum. Begitu juga Ji Kyo yang tersedak nasi goreng. Aku menatap Ji Kyo dengan tatapan penuh tanya

***

Di dalam mobil menuju perjalanan pulang, aku mencoba mencairkan suasana dengan memutar lagu-lagu. Agar suasana tidak terlalu sepi, dan membuat bulu kudukku berdiri memikirkan kejadian semalam. Haish, kenapa selalu terpikirkan olehku ?

“Hari ini kau mau kemana ?” tanyanya memecah keheningan.

“Shooting dan memberikan berkas perceraian kita ke pengadilan,” jawabku. Ia mengepal tangannya keras, seperti menahan sesuatu.

“Ah ne. Aku sudah bisa tebak itu,” jawabnya bergetar. Ji Kyo memalingkan wajahnya keluar jendela.

“Ya ! Ya ! Aku turun disini saja,” seru Ji Kyo tiba-tiba sambil menunjuk keluar jendela. Aku memberhentikan mobil, ia langsung turun tanpa berpamitan. Aku menelengkan kepala, melihat orang yang baru saja menarik perhatian Ji Kyo. Namja itu lagi. .

Aku segera meraih ponsel dan menelepon manager hyung. Menyuruhnya menyewa seorang mata-mata untuk mengawasi Ji Kyo. Takutnya ia terlalu dekat dengan namja itu.

***

Aku memasuki sebuah ruangan di dalam gedung MBC. Manager hyung menyuruhku untuk ikut rapat, tentang rating We Got Married yang tidak sebagus pasangan-pasangan lainnya. Entahlah, padahal para fans sendiri yang memilihku untuk di pasangkan bersama Gyuri.

“Well, apa yang harus kita lakukan Jin Won-ssi ?” tanya manager hyung sedikit khawatir.

“Meningkatkan chemistry di antara Jinki dan Gyuri,” jawabnya, ia menoleh ke arahku, “dan kau Jinki, kau harus sering pergi bersamanya. Lupakan istrimu untuk sementara, dan buatlah acara ini seperti yang lainnya,” jelas PD jin won.

“Ne,” jawabku singkat sambil menyandarkan tubuh di sofa. Aku menoleh ke arah meja kerja yang terpampang sebuah foto keluarga. PD jin won bersama istrinya dan juga seorang anak kecil di tengahnya. Ah, aku ingat Ji Kyo lagi. Sudah 2 minggu aku tidak bertemu dengannya.

Aku dan manager hyung berjalan mengitari setiap sudut gedung MBC sambil mengobrol tentang masalahku. Ia sangat kaget mendengar ceritaku, tentang ancaman Hongki, sikapku terhadap Ji Kyo, dan terakhir kejadian tidak terduga  2 minggu yang lalu.

“Kau tahu hyung ? Surat perceraian yang sudah ia tanda tangani masih aku simpan di apartemen. Aku tidak punya nyali untuk menanda tanganinya,” ujarku sambil menyerahkan sekaleng jus yang baru saja keluar dari mesin.

“Hanya masalah kecemburuan. Kau harus menyelesaikannya secara baik-baik,” saran manager hyung, membuka kaleng jus miliknya.

“Yeah,”

Manager hyung meneguk jus kalengnya, tapi tiba-tiba saja ia langsung membelakangiku kemudian pergi begitu saja.

“Hyung, kau mau kemana ?” tanyaku berusaha mengejarnya yang berlari.

“Jinki-ya !” aku kembali menoleh ke belakang. Ah, ternyata Gyuri. Pantas saja manager hyung meninggalkanku sendirian. Aku berjalan ke arahnya yang sudah menatapku aneh.

“Bisa menemaniku sebentar ?” tanyanya.

“Sure, kemana ?” tanyaku lagi.

Gyuri mengajakku pergi ke sebuah pub di daerah Gyeongnam, Seoul. Pub yang tidak terlalu ramai, tapi sangat berisik di telingaku. Aku duduk di depan meja bartender diikuti Gyuri.

“Bawa minuman terbaik di pub ini,”seruku pada bartender itu.

Tak lama kemudian 2 gelas berisi minuman –yang entah apa namanya- di letakkan bartender itu. Aku meneguknya, dan hasilnya kepalaku langsung terasa pusing.

“Minuman apa ini ?” tanyaku sedikit berteriak. Ia hanya menjawab dengan menunjukkan sebotol cocktail. Aku melirik ke arah Gyuri yang belum sama sekali meneguk minumannya.

– — – –

Author POV

Jinki turun dari kursi bermaksud pergi ke kamar mandi. Tapi ia sama sekali tidak bisa menopang tubuhnya sendiri karena minuman itu. Gyuri segera menangkap tubuh Jinki yang hampir terjatuh. Ia segera meraih ponselnya.

“Sorry Jinki. But you’re mine,” Gyuri menegakkan tubuh Jinki. Ia mengecup bibir Jinki sekilas bersamaan dengan blitz yang keluar dari ponselnya. Setelah mengambil gambarnya, Gyuri mengupload gambar itu ke twitter miliknya.

Ia dan seorang laki-laki yang juga tamu pub itu, menopang Jinki masuk ke dalam mobil. Gyuri menjalankan mobil Jinki, sesekali ia melirik Jinki yang masih tidak sadarkan diri. Minuman yang diberikan bartender itu sebenarnya sudah dicampur obat penenang olehnya. Ia bekerja sama dengan bartender itu untuk mencampurkan sebuah bubuk penenang ke dalam minuman Jinki.

Gyuri memarkirkan mobil. Ia menopang sendirian masuk ke dalam apartemen Jinki. Ketika masuk, ia langsung mendudukkan Jinki di atas sofa. Melepas sepatu, dan juga jaket yang di pakai Jinki.

“Dasi hanbon mianhae, hanya ini caraku untuk membuatmu menceraikan wanita itu,” gumam Gyuri. Ia kembali berjalan ke arah pintu apartemen. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat sebuah amplop coklat di atas meja. Tanpa berlama-lama ia mengambil amplop coklat itu dan membaca isinya.

“Surat perceraian ? Jadi dia akan bercerai ? Nice,” Gyuri kembali memasukkan kertas itu. Ia membawa amplop coklat berisi berkas perceraian Jinki keluar apartemen. Hatinya sangat senang mengetahui hal itu. Ia berencana untuk menyerahkan kertas itu sendirian ke pengadilan.

***

“Temui aku di taman sekarang,”

“Baik,”

Hongki menutup flip ponselnya dan segera berlari ke taman. Ia melihat seorang wanita dengan kacamata berambut blonde sedang duduk sambil memeluk sebuah amplop. Ia berlari menghampiri wanita itu dan duduk di sebelahnya.

“Ada apa ?” tanya Hongki memulai pembicaraan. Wanita itu menyerahkan amplop coklat besar itu ke hadapan Hongki.

“Mwoya ?” tanya Hongki heran sambil menerima amplop dari tangan Gyuri.

“Aku tahu ini semua rencanamu. Kau yang memaksa Jinki untuk bercerai dengan Ji Kyo kan ?” tanyanya menyelidik. Damn, kenapa dia harus tahu ?, batin Hongki.

“Ahni, aku tidak sejahat itu,” jawab Hongki gugup. Gyuri mendecakkan lidahnya tidak percaya.

“Kalau kau melakukan itu, aku juga senang. Karena aku akan dapat Jinki. Semuanya dapat bagian,” jawab Gyuri. Hongki menatapnya tidak percaya, ia baru sadar kalau selama ini Gyuri tidak sebaik peran yang ada di layar TV.

“Kau suka rencanaku ?” tanya Hongki meyakinkan.

“Ne, neomu neomu joaheyo,” jawabnya. Mereka berdua tertawa karena ternyata pikiran licik mereka sama.

“Aku sudah memalsukan tanda tangan Jinki. Ia pernah mengajarkan tanda tangannya padaku. Kau hanya perlu menyerahkannya ke pengadilan,”

“Kamsahamnida Gyuri-ssi,”

– — – –

Ji Kyo POV

-few hours before accident onew and Gyuri-

Ting Tong

Aku yang sedang membersihkan kamar langsung berlari ke arah pintu untuk membukanya. Ketika membuka pintu, yang kutemukan hanya sebuah boneka beruang besar yang hampir setinggiku. Aku melirik ke arah kaki boneka itu.

“Minho-ya,” tebakku. Ia menyembulkan kepalanya dari belakang boneka sambil tersenyum.

“Ige mwoya ?” aku merebut boneka beruang besar itu dari tangan Minho. Dengan sedikit kesusahan aku membawanya masuk dan mendudukkan boneka itu di sofa.

“Kado ulangtahunmu.Yeah, memang itu sudah 2 minggu yang lalu. Tapi aku baru sempat beli kado,” ujarnya terkekeh.

“Ne, gwenchana,” balasku sambil memeluk boneka itu. Hangat, seperti Jinki. Ah, kenapa aku jadi ingat dia ?

“Ya ! Kenapa boneka itu yang kau peluk ? Bukan aku yang membelikannya,” protes Minho, mengerucutkan bibirnya.

“Ne, ne. Gomawo~,” aku memeluk Minho dari samping.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Ia ikut menyandarkan kepalanya di atas kepalaku. Entah kenapa, sikap Minho selalu bisa membuatku tenang. Ia bisa mengerti keadaanku, dan selalu mencoba menghibur. Tidak seperti Jinki.

“Err, sebenarnya aku kesini mau memberitahu sesuatu,” ujarnya.

“Apa ?”

“Jinki. Dia bilang pada media, kalau kalian akan bercerai. Is that true ?” tanya Minho membuatku melepas pelukan itu.

“Ne, aku memang akan bercerai dengannya. Bahkan aku sudah menandatangani surat perceraiannya,” jawabku. Minho menatapku tidak percaya.

“Jinjja ?” tanyanya meyakinkan. Aku mengangguk lemah.

“Ayo pergi,” ajak Minho sambil menarik tanganku bangkit dari sofa.

“Eh ?”

***

Minho menunjuk sebuah kalung berinisial J yang terpampang di sebuah toko accesoris di daerah gyeongnam. Ia menarik tanganku paksa masuk ke dalam toko itu. Kalung itu langsung ia ambil dari manekin dan memakaikannya ke leherku.

“Ya ! ini belum dibayar,” protesku. Ia hanya mendorong tubuhku ke hadapan kasir. Mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya ke kasir. Tanpa menerima kembalian dari kasir itu ia menarik tanganku lagi keluar dari toko.

“Kenapa laki-laki selalu memaksa huh ?” tanyaku. Ia terkekeh kecil.

“Karena wanita itu berharga,” jawab Minho bahkan tidak ada hubungannya dengan pertanyaanku.

Entah kenapa setiap ucapan Minho membuatku tertawa. Senyumannya membuatku semangat, dan melupakan wajah Jinki beberapa saat. Ah, kenapa tiba-tiba aku ingin bertemu dengannya ?

“Stop,” perintahku memberhentikan langkah.

“Wae ?” tanyanya yang berhenti beberapa langkah di depanku.

“Err, aku lapar,” jawabku bohong.

“Oooh~, ayo kita makan disini saja,” ia belok ke sebuah restoran yang terletak tepat di dekat kami berhenti.

Aku mengikutinya dari belakang, tapi pandanganku tiba-tiba tertuju pada seseorang yang sedang membopong, berjarak  beberapa meter dari tempatku berdiri. Ia terlihat seperti Gyuri ? dan aku tidak tahu siapa yang ia bopong masuk ke dalam mobil. Ah, I don’t care.

Aku mulai melangkah masuk ke dalam restoran. Tapi langkahku kembali terhenti ketika menyadari sesuatu. Aku memundurkan tubuh ke belakang, melihat plat nomor mobil itu. Jinki ?

Mobil itu pergi menghilang dari pandanganku. Aku masih saja dengan posisi tubuh ke belakang padahal kakiku sudah ada di dalam restoran. Benarkah itu Jinki dengan Gyuri ? dan Jinki pingsan ?

“Ji Kyo-ya, ayo kita pergi dari sini,” tiba-tiba Minho menarikku. Ia tidak membiarkan aku melirik ke kanan ataupun ke kiri. Tangannya menutupi pinggir mataku, sedangkan tubuhnya menutupi pandanganku yang lainnya.

“Ada apa ?” tanyaku masih terus berjalan. Ia tidak menjawab, membuat perasaanku mendadak berubah tidak enak.

“Damn bi*ch . . Berani-beraninya dia mencium Jinki di pub seperti itu,” samar-samar aku mendengar suara seorang yeoja yang sedang berdiri memandang TV di depannya.

“Kalau aku jadi istrinya Jinki, pasti aku sudah menghabisi Gyuri. Tch, dasar perusak rumah tangga orang,” seru yeoja itu lagi. Aku menatap Minho yang sedang menundukkan kepalanya.

“Aku rasa kau mendengar itu,” seru Minho kemudian memberhentikan langkahnya. Ia menatapku dengan tatapan nanarnya. Ayolah Minho, tatapanmu membuatku semakin sedih. Aku tidak akan menangis, aku tidak akan menangis.

“Wae ? Aku tidak apa-apa, ayo kita pulang,” ajakku sambil mencoba tersenyum di hadapannya. Kali ini aku yang menarik tangannya.

***

Aku menatap selembar foto yang kini tergeletak di atas meja apartemenku. Air mataku tidak berhenti keluar sejak tadi sore. Ayolah, aku jadi selemah ini hanya karena dia. Kau memang akan bercerai dengannya, terserah Jinki mau berciuman dengan siapapun diluar sana.

*ceritanya ini fotonya*

Aku merasakan sesuatu yang sakit di perutku. Perutku bergejolak, aku ingat kalau aku belum makan dari tadi siang. Aku berjalan dengan gontai ke dapur untuk mengambil beberapa potong roti. Mengoles selai asal dan menyuapkannya ke dalam mulutku. Sesudah memakan 2 tumpuk roti rasa sakit itu belum hilang juga. Aku segera mengambil ponselku untuk menelepon Hongki ataupun Minho. Atau mungkin Jinki kalau perlu.

Untuk meraih ponsel saja tubuhku sudah tidak kuat. Aku terduduk lemas di lantai dekat dapur sambil memegangi perutku. Pandanganku semakin kabur, dan keadaan di sekitarku menjadi gelap.

– — – –

Jinki POV

Tubuhku kaku, kepalaku pusing, dan yang lebih parah aku tidak ingat apapun kecuali kejadian meminum minuman aneh itu tadi sore. Aku memegangi kepala mencoba mengingat semuanya, tapi percuma. Semoga tidak ada hal aneh-aneh lagi.

Aku bangkit dari sofa, mencoba mencari air untuk membasahi kerongkonganku. Beberapa teguk air berhasil membuat kepalaku sedikit lebih baik. Kenapa aku bisa sampai mabuk dan tidak ingat semuanya ? Siapa yang membawaku kesini ? Gyuri, apa dia yang membawaku kesini ?

Gelas yang masih berisi setengah itu kuletakkan di atas meja. Aku mencoba mencari ponselku, di antara tumpukan bantal di sofa. Aku merasakan ada yang aneh dari tatanan apartemenku. Seperti ada yang hilang.

“Berkas-berkas perceraianku ! Damn ! Kemana amplop itu pergi ?!” aku segera menundukkan kepala untuk mencarinya di bawah meja. Tidak ada. Aku mencoba mencarinya ke bawah kursi. Tidak ada. Aku mencarinya ke seluruh sudut apartemen sampai ke ruang pakaian. Dan hasilnya tidak ada.

“Gyuri ? dia yang melakukan semua ini,” gumamku, meraih kunci mobil.

Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi menuju rumah Gyuri. Di lampu merah, secara tidak sengaja aku melihat sebuah billboard yang ada di atas gedung. Dengan refleks kuinjak rem sampai mobilku berhenti mendadak. Apa lagi ini ? Fotoku dengan Gyuri yang tengah berciuman.

Semua mobil mengklaksoni karena mobilku berhenti di tengah jalan. Aku menggelengkan kepala tidak percaya kemudian melanjutkan perjalanan ke apartemen Gyuri.

Tapi semuanya buyar karena sebuah telepon masuk. Aku mengaitkan earphone ke telingaku dan mengangkat teleponnya.

“Ne,” jawabku masih focus pada jalanan.

‘Jinki-ya ! Aku baru saja dapat telepon dari mata-mata yang kau sewa. Dia bilang Ji Kyo dibawa ke rumah sakit oleh namja itu,’ sontak aku mengerem mobilku lagi.

“Rumah sakit mana hyung ?” tanyaku tidak sabar.

‘Seoul Medical Center,’

Aku langsung memutar balik mobil. Damn, kenapa dalam keadaan seperti ini dia harus masuk rumah sakit ? Semoga bukan penyakit parah.

***

Keadaan di rumah sakit sangat sepi, mengingat kalau ini sudah jam 12 malam. Aku duduk di depan ruang ICU bersama namja yang selalu bersama-sama Ji Kyo. Ia duduk tepat di hadapanku dengan gelisah, sama sepertiku.

Seorang dokter keluar dari ruangan ICU. Sontak aku dan namja itu berdiri menghampirinya. Dokter itu menatapku dan namja –yang entah siapa namanya- itu secara bergantian.

“Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini ?” tanya dokter itu.

“Aku,” ucapku bersama-sama dengannya.

“Siapa ?” tegas dokter itu sekali lagi.

“Aku suaminya dan aku yang lebih berhak,” protesku. Namja di sebelahku tersenyum menyeringai kecil.

“Kau yang menyebabkan semua ini, kau tidak pantas ada di samping Ji Kyo,” ujarnya meledek. Ia mengikuti dokter yang sudah berjalan terlebih dulu. Sedangkan aku terdiam merenungi omongannya. Ya, memang aku yang sudah membuatnya seperti ini.

Beberapa perawat membawa tempat tidur dorong Ji Kyo masuk ke kamar rawat. Aku mengikuti mereka semua, dan akhirnya aku bisa melihat wajah Ji Kyo. Sudah 2 minggu aku tidak melihatnya, dan perasaanku kembali cerah setelah melihatnya.

Setelah para perawat itu keluar, aku masuk ke dalam kamar Ji Kyo. Aku memandanginya dari jauh, wajahnya sangat pucat. Dan harus aku akui ia terlihat semakin kurus. Aku berjalan mendekatinya, duduk di samping tempat tidur kemudian menggenggam tangan Ji Kyo yang dingin.

“Aku tidak mau melihatmu menangis lagi Ji Kyo. Aku mohon, jangan menangis hanya karena laki-laki brengsek sepertiku,” gumamku sambil terus menggenggam tangan Ji Kyo.

Aku menitikkan air mata, ya aku menangis. Entah hal apa yang membuatku menangis, tapi hatiku menyuruhku untuk menangis. Aku mencintaimu Ji Kyo, neomu neomu saranghaeyo.

“Ssssh,” Ji Kyo merintih pelan. Aku segera mengusap pipiku ketika melihatnya membuka mata.

“Ini dimana ?” tanya Ji Kyo lirih. Aku bangkit berdiri di hadapannya.

“Jinki ? Ada apa kau kesini ?” tanyanya lagi sambil mencoba bangun.

“Aww,” ia merintih lagi. Aku mendorong kedua bahunya pelan agar posisinya kembali tidur.

“Aku hanya ingin melihatmu saja. Kalau begitu aku pulang dulu,” ujarku berlalu meninggalkannya. Mungkin kalau aku pergi akan membuat keadaan Ji Kyo lebih baik.

“Chamkanman,” namja tadi mencegahku di depan pintu. Aku menautkan sebelah alis heran. Ia terlihat terengah-engah seperti habis berlari.

“Kau-kau harus bertanggung jawab,” serunya terbata.

“Eng ?”

“Tunda perceraian kalian. Tunggu sampai anak kalian lahir dulu,” jawab namja itu.

“Maksudmu ?” tanyaku heran.

“Haish, kau tidak mengerti ? Ji Kyo hamil dan itu anak kalian,” jelasnya. Aku menoleh ke arah Ji Kyo yang juga tengah menatapku.

“MWO ?!”

-to be continued-

untuk part ini ngga terlalu di konflik-in (?)

ga tau kenapa, tangan saya ngalir gitu aja bikin part ini

mian mian kalau jelek . .

5 thoughts on “[FanFic] Still Marry Me !! (Part 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s