[FanFic] Still Marry Me !! (Part 6)

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Other    : Park Gyuri (KARA), Lee Hongki, Choi Minho

Rating   : PG+15

Genre   : a bit Comedy, and Romance

– — – –

Jinki POV

“Cut !”

Semua kru we got married mulai mengeluh. Entah sudah berapa kali take untuk adegan aku menyuapkan potongan samgyupsal itu ke mulut Gyuri. Pikiranku melayang entah kemana, aku selalu menganggap dia itu Ji Kyo. Aku malah menyuapkan samgyupsal itu ke dalam mulutku sendiri.

“Jinki-ssi, lebih baik kau istirahat dulu,” seru manager hyung. Aku mengangguk, berdiri dari lesehan restoran samgyupsal itu.

“Hyung oppa, boleh aku bersama Jinki ?” tanya Gyuri. Aku tidak tahu apa jawaban yang diberikan manager hyung. Aku keluar dari restoran itu, mencari tempat untuk menenangkan diri.

Sebuah taman di dekat restoran akhirnya menjadi tempat tujuanku. Aku duduk di salah satu ayunan sambil memainkannya perlahan. Ji Kyo, apa yang sedang dilakukannya sekarang ? Aku tidak bisa marah padanya, aku tidak bisa membuatnya benci padaku.

“Sedang ada masalah Jinki-ya ?” tanya Gyuri sambil duduk di ayunan sebelahku.

“Yeah, seperti yang kau lihat,” jawabku acuh. Aku menatap langit malam yang entah kenapa sama seperti hatiku sekarang ini. Jeongmal, aku tidak rela Ji Kyo bersama Hongki.

“Kau bisa ceritakan masalah itu kalau kau mau. Aku disini sebagai sahabatmu,” balas Gyuri. Aku tersenyum pahit padanya.

“Mian, aku tidak bisa. Hanya masalah kecil dengan Ji Kyo,” aku beranjak dari ayunan itu. Hendak berjalan kembali ke lokasi shooting, tapi Gyuri menyergah tanganku.

“Kenapa kau jadi seperti ini ? tiba-tiba berubah acuh padaku dan orang-orang sekitar. Kita harus melakukan yang terbaik untuk acara ini Jinki. Anggap aku sebagai istrimu sendiri, sebagai wanita yang sangat kau cintai, atau sebagai Ji Kyo jika perlu,” ujarnya. Aku termenung, memang tidak ada gunanya aku bersikap acuh. Toh Hongki tidak akan pernah mengubah keputusannya, dan Ji Kyo tidak bisa jadi milikku sepenuhnya.

“Kajja, kita lanjutkan shootingnya Gyuri-ya,” ajakku sambil menarik tangannya.

Kami berdua kembali ke lokasi shooting. PD nim langsung tersenyum melihatku yang sepertinya sudah terlihat lebih baik. Ia menepuk-nepuk pundakku, kemudian menepuk pundak Gyuri.

“Ayo mulai lagi,” teriak PD nim pada semua kru. Aku duduk di meja restoran itu lagi. Memasang ekspresi terbaikku berhadapan dengan Gyuri. Come on Jinki, kau pasti bisa melupakan Ji Kyo sebentar saja.

***

Manager hyung mengantarku pulang. Selama di mobil tidak ada pembicaraan yang terlibat di antara kami. Haruskah aku membicarakan ini dengan manager hyung ? Aish, jangan Jinki. Ini masalah pribadimu dengan Ji Kyo dan Hongki. Dia tidak perlu tahu.

“Well, kapan konferensi pers Ji Kyo diadakan ?” tanya manager hyung membuka pembicaraan. Aku menoleh ke arahnya yang masih menatap jalanan.

“Tidak ada, dan tidak akan pernah ada,” jawabku sekenanya.

“Wae ? Kau sedang ada masalah dengannya ?” tanya manager hyung lagi.

“Ne,” jawabku singkat. Sepertinya manager hyung melihat perubahan raut wajahku. Ia tidak menyanyakan apa masalahku, seperti biasanya.

“Kau mau pulang kemana ?”

“Ke apartemenku,”

Setiap deretan gedung-gedung membuatku mengingat Ji Kyo. Oh God, aku sangat ingin bertemu dengannya.

***

Jalanan sudah sangat sepi mengingat sekarang sudah lebih dari jam 12, malam. Manager hyung langsung pulang setelah mengantarku ke apartemen. Aku membetulkan tas ransel yang kugendong kemudian menekan tombol lift ke lantai atas. Sesaat kemudian pintu lift terbuka, aku masuk ke dalamnya. Tapi langkahku terhenti ketika melihat Ji Kyo berdiri, hendak keluar dari lift.

“O ? Jinki-ya ?” tanyanya heran. Aku mencoba untuk tidak tersenyum. Ancaman Hongki waktu itu, aku harus menepatinya. Aku sangat ingin memeluknya, na bogoshipeoyeo.

“Wae ?” tanyaku dingin. Ia tersenyum senang sambil menarik tanganku masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup, dan aku masih belum dapat ide bagaimana cara mengusirnya.

“Aku menunggu dari 2 jam yang lalu. Kenapa ponselmu tidak bisa di telepon huh ?” tanyanya sambil menyenggol lenganku.

“Bukan urusanmu. Lebih baik kau pulang sekarang, aku tidak mau di ganggu,” jawabku, keluar dari lift. Ji Kyo masih terpaku sampai pintu lift kembali tertutup. Dan saat itu juga aku merutukki diri sendiri.

“Kau bodoh,” rutukku. Mian Ji Kyo, hanya beberapa hari saja. Jangan membenciku karena ini.

– — – –

Ji Kyo POV

Jinki ? Ada apa dengannya sampai dia menjadi dingin seperti itu ? Dia mengusirku ? Aku berjalan keluar gedung apartemen Jinki masih dengan memikirkan sikap Jinki. Mungkin dia hanya lelah, kau memang salah mengganggunya.

Semua barang yang menghalagi jalan, aku tendang. Entah itu batu kecil, kaleng minuman, ataupun sampah-sampah lainnya. Aku merapatkan jaket, anginnya sangat dingin.

Uap-uap sudah mulai mengepul dari dalam mulutku. Udara malam semakin dingin, sedangkan aku masih diluar apartemen berjalan-jalan. Aku mencoba melupakan sikap dingin Jinki tadi.

Langkahku terhenti ketika melihat sebuah billboard besar di sebuah gedung. Iklan promosi we got married Jinki dan Gyuri. Aku terus menatap billboard itu yang masih saja memutar iklan Jinki. Jin-Gyu couple. Entah kenapa udara yang tadinya dingin menjadi panas. Aku segera mengalihkan pandangan dari billboard itu.

***

Sudah 2 hari sejak pertemuan dinginku dengan Jinki. Aku mencoba menghubungi ponselnya tapi selalu tidak bisa. Lusa sudah hari ulang tahunku, dan aku ingin mendapat kejutan darinya. Mungkin hanya harapanku.

Nareul neoryesseo, neoreul shoot ! shoot ! shoot !, naneun hoot ! hoot ! hoot!

Aku segera berlari mengambil ponsel di atas meja. Tanpa melihat nama yang tertera aku mengangkatnya.

“Yeoboseyeo,” ujarku penuh harap kalau itu Jinki.

‘Ji Kyo eonni !!’ suara nyaring hyunmi begitu terdengar jelas. Aku menjauhkan ponsel itu sebelum kupingku menjadi rusak karena teriakannya.

“Wae, wae ?” tanyaku. hyunmi terkekeh kecil.

‘Eomma mau kau dan Jinki oppa datang ke Daegu hari minggu besok. Eomma mau merayakan ulang tahunmu disini, kau bisa kan ?’

“Mmm, aku selalu bisa. Tapi entah dengan Jinki, nanti aku telepon lagi,”

‘Ne eonni. Annyeong,’ hyunmi menutup teleponnya.

Aku membanting ponselku ke sofa. Jinki, Lee Jinki. Dia benar-benar membuatku kesal. Seharusnya dia memberi kabar padaku.

Aku memutuskan berjalan-jalan keluar, daripada harus diam menunggu kabar dari seseorang yang mungkin tidak memikirkanku sama sekali. Lalu-lalang kendaraan dan juga orang-orang membuatku sedikit minder. Seandainya mereka tahu kalau aku ini seorang istri dari Lee Jinki, mereka mungkin sudah menjambakku. Atau bahkan aku sudah tergeletak tidak berdaya disini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana brutalnya para ‘Jinkilicious’ itu ketika mengetahui identitasku.

“Kim Ji Kyo !” aku menoleh ke asal suara yang memanggilku.

Hongki berlari sambil melambaikan tangannya. Ia langsung merangkul bahuku, seperti biasanya. Ia terlihat keren dengan setelan kemeja dan celana hitam, di tambah kamera yang selalu menghiasi lehernya.

“Kau mau kemana ? Tumben sekali rapi seperti ini,” tanyaku. Ia tersenyum memamerkan deretan rapi gigi putihnya.

“Ikut denganmu ke konferensi pers drama terbaru Jinki. Kau mau kesana kan ?” tanyanya lagi. Aku mengerutkan kening heran. Pers drama terbaru Jinki ? Bahkan aku tidak tahu tentang itu.

“N-ne,” jawabku gugup.

***

Entah ada dimana aku sekarang. Yang jelas semua yang hadir hampir sama seperti Hongki, kemeja dan kamera. Aku melirik ke kanan kiri mencoba mencari ‘seseorang’ yang memang menjadi tujuanku datang kesini. Hongki pergi berkumpul bersama teman-temannya di dalam hall. Sedangkan aku berdiri diluar menunggu Jinki datang.

Semuanya langsung buyar ketika para security mulai berlari ke depan pintu masuk. Untuk apa kalau bukan menyambut si actor Lee Jinki bersama pasangannya di dalam drama. Aku mengikuti para security dan ikut berkerumun di antara wartawan.

Sebuah mobil hitam berhenti, para wartawan berdiri di belakang pagar pembatas untuk memberikan jalan. Aku menerobos ke barisan paling depan. Ketika Jinki keluar dari mobil, semua wartawan berhambur saling mendorong.

“Jinki-ya ! Apa istrimu ada disini ? Bisakah kau perkenalkan pada kami ?” semua wartawan hampir mengajukan pertanyaan yang sama. Ingin rasanya aku berteriak kalau aku ini istrinya. Istri yang mereka cari ada di depan mata mereka. Para wartawan semua terus mendorongku. Akhirnya hal yang aku takutkan terjadi, aku terjatuh ke hadapan Jinki yang saat itu hendak melangkah.

Aku mendongakkan kepala ke arah Jinki. Berharap ia akan menolongku dan membawaku masuk ke dalam. Kami bertatapan sebentar, tapi ia segera memalingkan wajah dan berjalan melewatiku. Aku tertunduk, menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja membuat nafasku sesak. Tenggorokanku serasa tercekat diperlakukan seperti itu. Aku ingin diakui oleh public, aku ingin dikenal sebagai seorang istri dari ‘Lee Jinki’

“Ji Kyo-ya ! Gwenchanayo ?” Hongki menarik kedua bahuku untuk berdiri. Aku mengangguk masih dengan tatapan kosong.

“Ayo kita masuk,” ajaknya. Ia menggenggam, dan menarik tanganku ke dalam hall.

Kenapa ? kenapa bukan Jinki yang menggenggam tangan ini ? Dan kenapa ia memperlakukan aku seperti itu ? Damn ! Kenapa aku harus menangis !

Aku segera menghapus bulir-bulir air mata yang sudah mengalir di pipiku. Hongki mengusap kedua pipiku dengan jemarinya. Aku mencoba tersenyum.

Kami duduk di bagian tengah hall. Menonton preview drama Jinki, dan juga pengenalan-pengenalan tokoh. Senyum tidak pernah luput dari mulut Jinki setiap kali ia berbicara. Wanita di sebelahnya pun ikut tersenyum mengimbangi Jinki.

Tanganku beralih memegang bagian kiri dadaku. Di bagian ini, rasa sakit itu terasa paling sakit disini. Kau tidak tahu kan Jinki ? Aku ingin pelukan hangat darimu lagi. Bukan sikap dingin dan acuh seperti itu. Air mataku kembali keluar mengingat semuanya.

“And this song, for my lovely wife,” aku mendongak, memandang Jinki yang sudah duduk di belakang sebuah piano berwarna putih. Aku tersenyum sambil menghapus air mata di pipiku.

*The Name I Loved*

Suara riuh tepuk tangan memenuhi hall. Semuanya berdiri memberikan apresiasi terbaik untuk Jinki. Aku tersenyum sendiri melihat Jinki yang membungkukkan badan dalam. Ia tersenyum ke arahku dengan memberikan winknya. Aku balas tersenyum padanya.

“Ah Jinki-ya. Itu lagu yang sangat bagus. Kalau tidak salah lagu itu salah satu soundtrack drama ini kan ?” tanya sang pembawa acara.

“Ne,” jawab Jinki sambil tersenyum lebar.

“Which wife ? Istrimu di acara reality show atau istrimu yang sebenarnya huh ?” tanyanya lagi. Jinki menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ayolah, tentu saja aku sebagai istrinya.

“Naui buin, Park Gyuri,”

GLEK

Seseorang berambut blonde yang duduk di depanku berdiri kemudian membungkukkan badannya. Aku memandang tidak percaya ke arah Jinki yang sedang tersenyum ke arah Gyuri.

Dia bukan tersenyum padaku ? Senyum hangat itu bukan untukku ? Lagu yang baru saja ia nyanyikan juga bukan untukku ? Cukup ! Aku tidak mau di perlakukan seperti ini ! Aku harus mengaku sebagai istrinya Jinki.

Aku berdiri di tengah-tengah hall. Sang pembawa acara yang sedang mengajukan pertanyaan pada Jinki pun menoleh padaku. Hongki mencegah tanganku agar dak berdiri. Tapi terlambat, aku sudah membulatkan tekadku.

“Ada pertanyaan agasshi ?” tanya sang pembawa acara. Semua yang ada langsung menatapku. Jantungku berdetak dengan sangat cepat.

“Aku mau mengaku. Kalau aku adalah . . hmmph hmmph,” Hongki menutup mulutku. Aku melepas tangan Hongki kemudian berlari keluar dari dalam hall. Aku tidak bisa menahan air mata yang sudah menggenangi pelupuk mataku sedari tadi.

Langkahku terhenti. Kepalaku tiba-tiba menjadi pusing. Pandangan di sekitarku menjadi kabur dan berbayang. Ah, kenapa kepalaku pusing ? Jangan bilang anemia ku kambuh lagi. Yang aku ingat terakhir kali seseorang menopang tubuhku yang hampir terjatuh.

***

Aku mengerjapkan mata berkali-kali untuk memperjelas pandanganku. Atap-atap putih bersih membuatku sedikit mengernyitkan mata karena lampu yang terlalu terang. Aku bangkit duduk di atas tempat tidur. Rasanya kepalaku masih pusing.

Kejadian tadi ? Itu bukan mimpi ? Jinki yang tidak menganggapku, bersikap dingin padaku, melewatiku padahal aku terjatuh di depannya ?

Aku mengangkat kedua tangan untuk menghapus air mata yang kembali keluar. Karena Jinki aku jadi lemah seperti ini. Penyakit anemia yang hampir tidak pernah kambuh, tiba-tiba kembali kambuh hanya karena Jinki.

“Kau sudah bangun ?” seorang namja masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas susu.

“Nuguji ?” tanyaku. Ia menaruh nampan itu di meja kemudian duduk di sisi tempat tidur.

“Nanti saja perkenalannya. Sekarang kau minum susu ini dulu, tubuhmu sangat lemah,” ujarnya sambil menyodorkan segelas susu yang tadi ia bawa. Aku menerima susu itu dan meminumnya setengah gelas. Ia mengambil kembali gelas susu yang kupegang.

“Namaku Choi Minho. Tadi kau pingsan di jalan, jadi aku membawamu kesini,” jawab namja itu, menaruh gelas yang di pegangnya ke atas nampan.

“Kamsahaeyo Minho-ssi. Tapi sepertinya aku harus pulang, ini sudah malam,” aku menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhku. Minho mencegah tanganku untuk membuka selimutnya.

“Namamu siapa ?” tanyanya.

“Aish aku sampai lupa. Namaku kim Ji Kyo,” jawabku sambil menyingkirkan tangannya. Aku membuka selimutnya. Beranjak ke sisi tempat tidur untuk bangun.

“Perlu ku antar ?” tanya Minho ketika melihatku berjalan dengan sedikit timpang.

“Ahni, aku sudah merepotkanmu. Kamsahamnida,” tambahku.

“Tapi ini sudah jam 11 malam,”

“Huh ?”

***

Minho mengantarku, tepat sampai di depan pintu apartemenku. Ia sedikit khawatir melihat jalanku yang masih sedikit oleng akibat pingsan tadi.

“Gomawo sudah mau menolong dan mengantarku pulang Minho-ssi,” ucapku sembari membungkukkan badan.

“Ne, cheonmaneyo. Kalau sempat aku akan sering main kesini,” ujarnya sedikit terkekeh.

“Apartemenku selalu terbuka untuk siapapun,” balasku.

“Annyeong,” tambah Minho sambil mengacak rambutku kasar. Ia pergi meninggalkan aku yang masih mengerucutkan bibir kesal karena tingkahnya.

Aku tersenyum sendiri, setidaknya dia bisa membuatku melupakan Jinki. Aku berbalik membuka kunci apartemenku. Sepertinya aku akan sendirian lagi hari ini. Ffiuh, kenapa nafasku jadi sesak lagi ?

“Hei, siapa namja itu ?” tanya seseorang di belakangku. Aku berbalik dan melihat Jinki sedang berdiri sambil menatap Minho yang sedang memarkirkan mobilnya di bawah.

“Haha, bukan urusanmu,” ledekku kemudian membuka pintu apartemen. Jinki menyergah tanganku yang satu lagi, membuat tubuhku berbalik menghadapnya. Ia mengunci tubuhku dengan kedua tanganya di samping kepalaku.

“Kenapa kau melakukan ini,” tanyanya dingin.

“Tch, melakukan apa ?” tanyaku balik.

“Kau selingkuh. Apa kau tidak sadar itu huh ?” tanyanya sambil memukul tembok di sebelah kepalaku.

“Aku ? Selingkuh ? Tidak ada yang melarang kita punya pacar kan ? Pernikahan ini hanya sementara. Ingat itu LEE JIN KI !” bentakku, melipat kedua tangan di depan dada.

“Tanda tangani surat ini. Besok aku akan mengambilnya kesini,” ia melempar beberapa lembar kertas ke hadapanku.

“Mwoya ?” tanyaku sambil menatap kertas yang berserakan di bawah.

“Kita bercerai !” jawabnya kemudian pergi meninggalkanku. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh, dan akhirnya tidak terlihat karena tertutup anak tangga. Kakiku bergetar, tubuhku rasanya semakin lemah. Aku terduduk menatap kertas itu tidak percaya.

Aku menangis ‘lagi’. Dia benar-benar akan pergi dariku. Aku memunguti kertas itu, membawanya ke dalam apartemen dan membantingnya asal ke atas meja ruang tamu. Aku beranjak ke dapur untuk meminum beberapa gelas air untuk menenangkan perasaanku. Tahun ini, akan menjadi hari ulang tahun terburuk dalam hidupku. Mungkin aku akan merayakannya sendiri di sini, di apartemen kecil ini.

– — – –

Jinki POV

Ji Kyo menangis. Ia menangis karena aku ? Aku mohon Ji Kyo, kau jangan menangis. Ini semua demi kebaikanmu, aku tidak mau kau semakin masuk ke dalam kehidupanku yang serba rumit. Mianhae.

Aku berjalan menghampiri Hongki yang sedang duduk di taman sambil melihat-lihat hasil foto di kameranya. Aku membanting tubuhku di sampingnya. Ingin rasanya aku memukul wajah Hongki. Andaikan dia tidak memegang semua rahasiaku dengan Ji Kyo.

“Otte ? Dia mau menandatanganinya ?” tanya Hongki masih sibuk dengan kameranya.

“Dia hanya menangis,” jawabku asal. Hongki menolehkan kepalanya ke arahku.

“Kau tahu ? Ini pertama kalinya aku melihat Ji Kyo menangis. Ia selalu tegar menghadapi masalah kan ?” tanyaku. Hongki menyeringai kecil.

“Ya ya, dia selalu tegar. Tapi kau sudah membuatnya menangis, itu berarti dia sudah membencimu. Aku akan coba menghiburnya. Kau tenang saja,” jawabnya kemudian beranjak dari kursi taman.

“Sh*t. Kau benar-benar membuatku kesal,” teriakku tertahan sambil meremas pinggir kursi taman.

“Apa gunanya rasa kesalmu itu ? Ji Kyo sudah terlanjur membencimu. Goodbye Lee Jinki,” ia melengos meninggalkanku. Aku memukul kursi taman dengan keras. Anehnya aku tidak merasa tanganku sakit sama sekali.

***

Percuma saja aku mencoba memejamkan mata. Selama semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan Ji Kyo. Terkadang aku menjambak rambutku sendiri, merutuki kebodohanku yang mau saja di perbudak Hongki.

Manager hyung menatapku lekat-lekat sambil menyesap cappuccino miliknya. Aku memandang keluar café, memperhatikan setiap orang yang sedang berkutat dengan udara dingin musim dingin. Aku yakin Ji Kyo sedang kedinginan sekarang. Aku tidak bisa membuatnya hangat, aku tidak bisa ada di sampingnya.

“Jinki, kopimu sudah mulai dingin,” tegur manager hyung membuyarkan lamunanku.

“Ne, gomawo hyung,” aku meminum kopi itu perlahan. Lagi-lagi aku memandang keluar jendela café. Setiap orang yang lewat, aku berharap salah satu dari mereka adalah Ji Kyo.

Aku menaruh cangkir itu kembali ke meja. Kemudian melirik keluar jendela café yang mulai berembun. Aku mengukir nama Ji Kyo dan namaku disana. Disaat yang bersamaan juga aku melihat Ji Kyo diluar jendela. Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Wanita itu memang Ji Kyo.

“Jinki-ya, bukannya dia istrimu ?” tanya manager hyung sambil menunjuk Ji Kyo. Aku mengangguk lemah.

“Kau tidak mengajaknya bersama kita disini ?” aku menggeleng cepat. Aku kembali menatap Ji Kyo. Ia bersama namja yang kemarin mengantarkannya ke apartemen. Langkahnya terhenti. Ji Kyo menoleh ke arahku, mata kami beradu sepersekian detik. Aku segera memalingkan wajah.

Aku menyesap kopi milikku cepat dan segera beranjak keluar café. Aku terlalu focus sampai tidak menghiraukan panggilan manager hyung. Aku menyampaikan jaket di tangan sebelah kiri kemudian menerobos kerumunan orang.

Sekarang aku berdiri tepat di hadapan Ji Kyo. Ia menatapku dengan kedua matanya yang bulat dan sedikit sembap. Aku terus menatap matanya mencoba mencari sesuatu yang bisa membuatku sedikit tenang. Ia tidak akan membenciku.

“Waeyo ?” tanya Ji Kyo dengan suara bergetar. Aku menarik tangannya menjauh dari kerumunan orang dan juga namja itu.

Aku membawanya ke sebuah taman yang cukup sepi dari para fansku dan juga namja yang bersamanya. Ji Kyo melepas tangannya dari genggamanku. Ia menyeka sudut matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.

“Kenapa kau melakukan ini huh !” teriaknya sambil mendorong tubuhku.

“Karena aku mencintaimu,” jawabku singkat. Ji Kyo menangis, ia menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Ini yang kau sebut cinta huh ! Kau membuatku sakit Jinki. Aku benci seorang LEE JINKI !” ia berlari meninggalkanku. Aku hendak mengejarnya, tapi namja yang tadi bersamanya sudah berdiri di hadapan Ji Kyo. Ia mendekap Ji Kyo dengan erat, menepuk-nepuk punggung Ji Kyo mencoba menenangkannya.

Sedetik kemudian ia merangkul bahu Ji Kyo dan membawanya menjauh dariku. Aku menendang udara kosong dengan kesal.

Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Membuatku sedikit tersentak kaget. Aku menunduk mencoba melihat tangannya, gelang bertuliskan Park Gyuri.

“Aku mohon. Jangan siksa dirimu Jinki, dia tidak mencintaimu,” seru Gyuri masih tidak melepaskan pelukannya.

“I’m not judge myself,” aku menyingkirkan tangan Gyuri kemudian berbalik menghadapnya.

“Thanks Gyuri,” ujarku. Aku mengacak rambutnya lembut. Ia tersenyum melihatku yang juga tersenyum. Aku tidak mau membuat orang lain sakit lagi. Semuanya sudah terlibat dalam masalahku, dan aku tidak mau melibatkan Gyuri. Mian Gyuri, perasaanku tidak seperti dulu lagi.

– — – –

Ji Kyo POV

Minho mendudukkanku di sebuah kursi dekat kedai es krim. Ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Aku masih terisak sisa menangis tadi.

“Sudah baikan ?” tanya Minho. Aku mengangguk lemah menjawab pertanyaannya.

“Mau es krim ?” tanyanya lagi.

“Ya ! ini musim dingin. Aku tidak mau jadi beku karena makan es krim,” jawabku. Minho terkekeh kecil mendengar jawabanku.

“Mmm, kalau boleh aku tahu. Namja tadi itu siapa ? Sepertinya aku pernah melihat namja itu,” tanya Minho penuh selidik.

“Dia suamiku,”

“Huh O.o ?”

“Wae-waeyo ? wajahmu lucu sekali,”  tanyaku terkekeh.

“Kau sudah menikah ?” tanyanya bingung.

“Ne, tapi kau santai saja. Hanya pura-pura,” jawabku. Minho menghela napas lega mendengar jawabanku.

“Baguslah, ayo kita pulang,” ajak minho sambil menarik tanganku. Eh ? Baguslah ?

***

10 menit lagi menuju jam 12 malam. Aku sudah bersiap di depan meja ruang tamu dengan sebuah kue kecil dan juga lilin kecil. Walaupun sendirian, aku tetap senang masih bisa merayakannya.

3 . . 2. . 1. .

‘Saengil Chukhahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneun kim ji kyo, saengil chukhahamnida,’

Aku melantunkan lagu ulang tahun dengan rasa sedih. Aku memejamkan mata, mengucapkan permintaan sebelum akhirnya meniup lilin.

– Aku berharap jinki ada disini memberikan ucapan selamat dan kado

– Aku berharap pernikahanku dengan jinki tidak akan berpisah

– Semoga sikap aneh jinki kembali berubah seperti dulu

Aku membuka mata dan meniup satu buah lilin yang berdiri di atas cupcake itu. Aku bertepuk tangan sendiri dan mulai memakan kuenya. Kenapa aku selalu mengharapkan jinki ? Belum tentu dia memikirkanku sekarang.

Ting Tong.

Aku menoleh ke arah pintu heran. Apa mungkin Jinki ? Ahni ahni, dia bahkan baru marah-marah tadi sore. Aku beranjak dari sofa membuka pintu apartemen.

“Saengil chukhahaeyo,” seru orang di balik pintu.

“J-jinki ?” tanyaku tidak percaya. Cupcake yang kupegang terjatuh, aku terlalu kaget melihatnya berdiri di hadapanku. Memakai baju berwarna abu sambil membawa bunga berwarna putih.  Aku masih terpaku di depan pintu memandangnya.

“Kau benar-benar Lee Jinki ?”

-to be continued-

3 thoughts on “[FanFic] Still Marry Me !! (Part 6)

  1. Dag dig dug JDERR..
    ;-( aq kbawa suasana, sdih, kesel, mrah, lelah, letih, lesu, lapar #plakplakplak

    hiks.. Smoga mreka br2 bsa brsama” lg,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s